0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
715 tayangan36 halaman

Activity Based Costing untuk Pengambilan Keputusan

Dokumen tersebut membahas mengenai Activity Based Costing (ABC) sebagai pendekatan perhitungan biaya yang membebankan biaya sumber daya ke aktivitas dan objek biaya berdasarkan aktivitas. Dibahas pula mengenai biaya produk, biaya per unit, penentuan biaya per unit, kelebihan dan kelemahan sistem biaya berbasis aktivitas, serta merancang sistem ABC."

Diunggah oleh

Reka Afrianti
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
715 tayangan36 halaman

Activity Based Costing untuk Pengambilan Keputusan

Dokumen tersebut membahas mengenai Activity Based Costing (ABC) sebagai pendekatan perhitungan biaya yang membebankan biaya sumber daya ke aktivitas dan objek biaya berdasarkan aktivitas. Dibahas pula mengenai biaya produk, biaya per unit, penentuan biaya per unit, kelebihan dan kelemahan sistem biaya berbasis aktivitas, serta merancang sistem ABC."

Diunggah oleh

Reka Afrianti
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

AKUNTANSI MANAJEMEN LANJUTAN

ACTIVITY BASED COSTING : A TOOL TO AID DECISION MAKING


(PERHITUNGAN BIAYA BERDASARKAN AKTIVITAS : ALAT
PENGAMBILAN KEPUTUSAN)

DOSEN :
Dr. Baihaqi, SE., M.Si., Ak., CA., CAPM., ACPA.

KELOMPOK 3 :
 Indah Luckyta (C2C021011)
 Ika Sriyuliani (C2C021010)
 Andy Ferdian (C2C021001)
 Herliana (C2C021009)

PROGRAM STUDI MAGISTER AKUNTANSI


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS BENGKULU
TAHUN 2021
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ................................................................................................ i


DAFTAR ISI............................................................................................................. ii

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ............................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah .......................................................................................... 2
C. Tujuan ............................................................................................................ 2

BAB II PEMBAHASAN
A. Activity Based Costing ................................................................................... 3
B. Biaya Produk .................................................................................................. 3
C. Biaya Per Unit ................................................................................................ 4
D. Penentuan Biaya Per Unit .............................................................................. 5
E. Cara Mendapatkan Informasi Biaya Per Unit ................................................ 5
F. Metode Penentuan Biaya Produk ................................................................... 7
G. Kelebihan Sistem Biaya Berbasis Unit .......................................................... 10
H. Kelemahan Sistem Biaya Berbasis Unit ........................................................ 11
I. Istilah Penting Dalam Activity Based Costing ............................................... 12
J. Perincian Klasifikasi Aktivitas....................................................................... 17
K. Pembebanan biaya pada aktivitas .................................................................. 18
L. Merancang Sistem ABC................................................................................. 20
M. Biaya Produk Konvensional dan kontemporer .............................................. 28
N. Manfaat dan keterbatasan Activity Based Costing ......................................... 28
O. Manajemen Berdasarkan Aktivitas ................................................................ 30
P. Activity Based Costing dan Activity Based Management............................... 31

BAB III PENUTUP


A. Kesimpulan .................................................................................................... 33

DAFTAR PUSTAKA

ii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sejak awal tahun 1980-an banyak perusahaan Amerika Serikat seperti IBM,
Hewlett Packard, Allen Bradley, Westinghouse, General Motor, General Electric,
Eastman Kodak, dan Locheed telah mengadopsi teknologi pemanufakturan maju agar
dapat bersaing dalam persaingan global. Modernisasi pabrik-pabrik Amerika Serikat
meningkatkan kualitas dan menurunkan biaya. Dengan adanya perubahan-perubahan
ini maka praktek-praktek manajemen biaya juga mengalami perubahan dan
peningkatan.
Metode manajemen biaya yang canggih seperti Activity Based Costing (ABC)
dan Activity Based Management (ABM) banyak diterapkan pada perusahaan
perusahaan dunia. ABC membantu perusahaan mengurangi distorsi yang disebabkan
oleh sistem penentuan harga pokok tradisional, sehingga dengan ABC dapat diperoleh
biaya produk yang lebih akurat. ABC menyediakan pandangan yang jelas mengenai
bagaimana perusahaan membedakan produk, jasa, dan aktivitas yang memberikan
kontribusi dalam jangka panjang. Activity Based Management (ABM) menfokuskan
pada pengelolaan aktivitas untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas bisnis,
meningkatkan nilai yang diterima pelanggan, dan memberikan laba bagi perusahaan.
Sistem ABC/ABM telah dikembangkan dan diimplementasikan pada
banyakperusahaan seperti General Motor, Data Technologies, Hewlett-Packard,
Advances Micro Devices, Avery International, Cal Electronic Circuits, General
Electric, Siemens Electric Motor Works, John Deere Component Work, Merck,
Amtrak, Data Service, AT&T, Fireman' Fund, Tekronik, Texas Instrument, Alexandria
Hospital, Union Pacific Railroad, American Express, dan Naval Supply System
Command. Activity Based Costing (ABC) dan Activiy Based management (ABM)
mempunyai keterkaitan yang erat dengan manajemen biaya strategik. dimana ABC
merupakan sumber informasi utama dari pengembangan Activity Based Management.
Para manajer menerima informasi yang bermakna mengenai dampak potensial
terhadap penentuan harga jual dan keputusan tentang lini produk jika perusahaan
berubah dari sistem penentuan harga pokok tradisional dengan Activity-Based Costing
dan penghematan potensial yang dapat diperoleh jika perusahaan menggunakan ABM

1
untuk mengidentifikasi dan mengeliminasi aktivitas yang tidak bernilai tambah untuk
mencapai strategi cost leadership.

B. Rumusan Masalah
1. Apa itu Sistem Activity Based Costing (ABC) dan Activiy Based management
(ABM)?
2. Bagaimana Biaya Produk, Metode Penentuan Biaya Produk dalam ABC,
Perincian Klasifikasi Aktivitas, Pembebanan biaya pada aktivitas, dan
Manajemen Berdasarkan Aktivitas?
3. Bagaimana Biaya Per Unit, Penentuan Biaya Per Unit Produk, dan Cara
Mendapatkan Informasi Biaya Per Unit?
4. Apa Kelebihan dan Kelemahan Sistem Biaya Berbasis Unit?
5. Bagaimana Merancang Sistem ABC?
6. Apa Perbandingan Biaya Produk Konvensional dan Kontemporer?
7. Apa Manfaat dan keterbatasan Activity Based Costing?

C. Tujuan
1. Untuk Mengetahui Sistem Activity Based Costing (ABC) dan Activiy Based
management (ABM)
2. Untuk Mengetahui Biaya Produk, Metode Penentuan Biaya Produk dalam
ABC, Perincian Klasifikasi Aktivitas, Pembebanan biaya pada aktivitas, dan
Manajemen Berdasarkan Aktivitas?
3. Untuk Mengetahui Biaya Per Unit, Penentuan Biaya Per Unit Produk, dan Cara
Mendapatkan Informasi Biaya Per Unit?
4. Untuk Mengetahui Kelebihan dan Kelemahan Sistem Biaya Berbasis Unit?
5. Untuk Mengetahui Cara Merancang Sistem ABC?
6. Untuk Mengetahui Perbandingan Biaya Produk Konvensional dan
Kontemporer?
7. Untuk Mengetahui Manfaat dan keterbatasan Activity Based Costing?

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Activity Based Costing


ABC (Activity Based Costing) adalah suatu pendekatan perhitungan biaya yang
membebankan biaya sumber daya ke dalam objek biaya, seperti produk jasa atau
konsumen berdasarkan aktivitas yang dilakukan untuk objek biaya. Premis pendekatan ini
adalah produk atau jasa perusahaan merupakan hasil dari aktivitas dan aktivitas merupakan
pengunaan sumber daya yang menghasilkan biaya.
Perhitungan biaya berdasarkan aktivitas adalah metode perhitungan biaya yang
dirancang untuk menyediakan informasi biaya bagi manajer untuk keputusan strategis dan
keputusan lainnya sebagai pelengkap, bukan sebagai pengganti, sistem biaya yang biasa
dipakai perusahaan. Dalam hal ini akan membahas penentuan biaya per unit produk.
Perhitungan biaya produk dilakukan dengan menjumlahkan semua komponen biaya
produk, yaitu biaya bahan baku,biaya tenanga kerja langsung, dan biaya overhead. Oleh
karna itu sifat biaya overhead tidak jelas proposi penggunaannya dalam produk, maka
biaya overhead dibebankan kepada produk dengan menggunakan alokasi. Terdapat dua
pendekatan yang bisa digunkan, yaitu pendekatan konvensional (tarif tunggal dan
departemetal) dan pendekatan kontemporer (Activity Based Costing ).

B. Biaya Produk
Berdasarkan produk kepentingan pelaporan eksternal, biaya produk dapat
diklasifikasi menjadi 3 komponen, yaitu biaya bahan baku tunggal,biaya tenaga kerja
lagsung dan biaya overhead pabrik
1. Biaya Bahan Baku
Biaya bahan baku adalah penggunaan bahan-bahan yang dapat dilacak secara
langsung ke dalam produk atau jasa yang dihasilkan. Biaya ini dapat dialokasikan
langsung ke produk karena observasi secara fisik dapat digunakan untuk mengukur
kuantitas yang dikonsumsi oleh setiap produk. Bahan yang menjadi bagian dari produk
berwujud atas penyediaan jasa juga dapat diklasifikasikan sebagai bahan baku.
Contohnya bahan baku yaitu kayu di pabrik mebel, baja di pabrik mobil, terigu di pabrik
roti dan bahan bakar di maskapai penerbangan.

3
2. Biaya Tenaga Kerja Langsung
Biaya tenaga kerja langsung merupakan tenaga kerja yang dapat dilacak secara
langsung ke dalam produk atau jasa yang dihasilkan. Seperti bahan baku observasi fisik
dapat digunakan untuk mengukur jumlah penggunaan tenaga kerja untuk menghasilkan
sebuah produk atau jasa. Tenaga kerja yang mengubah bahan baku menjadi sebuah
produk atau menyediakan layanan kepada konsumen diklarifikasikan sebagai tenaga
kerja langsung. Misalnya tukang kayu di pabrik mebel, tukang las di pabrik mobil dan
pilot di maskapai penerbangan.
3. Biaya Overhead
Biaya overhead adalah semua biaya produksi selain bahan baku dan tenaga kerja
langsung. Dalam perusahaan manufaktur, biaya overhead sering disebut sebagai beban
pabrik atau factory burden atau overhead pabrik. Contoh gaji mandor pabrik, gaji
teknisi perawatan mesin pabrik dan biaya penggunaan bahan bakar mesin diesel untuk
kelistrikan pabrik.

C. Biaya Per Unit


Biaya per unit atau unit cost adalah biaya yang dikeluarkan untuk menghasilkan tiap
1 unit produk. Biaya yang dihitung berasal dari pembebanan biaya ke objek biaya seperti
produk, konsumen pemasok dan bahan mentah. Biaya per unit dihitung dengan cara
sebagai berikut :
𝐁𝐢𝐚𝐲𝐚 𝐓𝐨𝐭𝐚𝐥
Biaya Per Unit = 𝐉𝐮𝐦𝐥𝐚𝐡 𝐔𝐧𝐢𝐭 𝐝𝐢𝐩𝐫𝐨𝐝𝐮𝐤𝐬𝐢

Perusahaan mobil membuat 1.000 unit mobil, biaya total yang dikeluarkan sebesar
Rp100.000.000.000 maka biaya per unit sebuah mobil adalah Rp100.000.000.
Perhitungan biaya per unit produk terlihat sederhana, tetapi sulit dipraktikkan. Hal tersebut
karena beberapa hal. Pertama, harus ditentukan terlebih dahulu apa dan berapakah biaya
total. Perlu juga dibatasi apakah biaya total itu hanya berupa biaya produksi atau termasuk
biaya pemasaran. Kedua, harus ditentukan cara mengukur biaya yang akan dibebankan
dalam biaya total. Pengukuran akan dilakukan berdasarkan biaya sesungguhnya ataukah
biaya yang diestimasikan saja. Ketiga, pemilihan metode pembebanan suatu biaya ke
dalam biaya produk yang akan digunakan.

4
D. Penentuan Biaya Per Unit Produk
Manajemen perlu menentukan biaya per unit produk untuk berbagai kepentingan,
baik yang bersifat strategis maupun taktis, diantaranya sebagai berikut :
1) Dasar penentuan harga. Jika manajemen mengetahui biaya produksi maka mereka
akan dapat menentukan harga yang di sekitarnya tidak akan menimbulkan kerugian
bagi perusahaan.
2) Dasar pembuatan keputusan. Jika manajemen mengetahui biaya produksi sebuah
produk maka mereka dapat membandingkannya dengan harga jual produk pesaing.
Berdasarkan tersebut Manager akan dapat menentukan apakah sebaiknya produk
dihentikan produksinya atau dapat terus dilanjutkan.

Banyak keputusan strategis dibuat berdasarkan biaya per unit. Oleh karena itu,
akurasi dalam penentuan biaya unit menjadi penting. Contoh keputusan strategis tersebut
adalah keputusan penentuan volume position produk dan penentuan harga jual produk.
Penentuan biaya per unit dapat dihitung dengan cara berikut ini :

𝐵𝑖𝑎𝑦𝑎 𝐵𝑎ℎ𝑎𝑛 𝐵𝑎𝑘𝑢 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙+𝐵𝑖𝑎𝑦𝑎 𝑇𝑒𝑛𝑎𝑔𝑎 𝐾𝑒𝑟𝑗𝑎 𝐿𝑎𝑛𝑔𝑠𝑢𝑛𝑔 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙+𝐵𝑖𝑎𝑦𝑎 𝑂𝑣𝑒𝑟ℎ𝑒𝑎𝑑 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙
Biaya Per Unit = 𝑈𝑛𝑖𝑡 𝑑𝑖 𝑃𝑟𝑜𝑑𝑢𝑘𝑠𝑖 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙

Sebagai contoh, sebuah perusahaan kecap cap Mangga menghasilkan 15.000 botol
kecap menggunakan biaya bahan baku sebesar Rp100.000.000, upah tenaga kerja
langsung sebesar Rp150.000.000, dan biaya overhead sebesar Rp50.000.000. Biaya per
unit produk dihitung sebagai berikut :
𝑅𝑝100.000.000+𝑅𝑝150.000.000+𝑅𝑝50.000.000
Biaya per unit =
150.000 𝑏𝑜𝑡𝑜𝑙
Biaya per unit = Rp20.000/botol
Biaya produk setiap botol kecap di perusahaan tersebut adalah Rp20.000. Dengan
mengetahui angka biaya produksi produksi per unit tersebut, banyak kebijakan yang dapat
dibuat. Misalnya, jika perusahaan tidak ingin rugi maka harga jual kecap per botol harus
lebih dari Rp20.000. Selain itu, dapat diketahui pula apakah dengan produksi sekarang,
biaya tersebut kompetitif dibandingkan produk sejenis yang dihasilkan pesaing.

E. Cara Mendapatkan Informasi Biaya Per Unit


Pada aplikasi sesungguhnya, perhitungan biaya per unit sering menemukan masalah.
Sebagian besar permasalahan itu timbul karena karakteristik dari industri

5
ataupunkarakteristik dari biaya itu sendiri. Pada industri yang produknya merupakan
produk bersama (joint product) terdapat beberapa komponen biaya yang dikonsumsi
secara bersama oleh beberapa produk sekaligus. Dalam situasi tersebut, konsumsi biaya
untuk setiap produk tidak dapat diketahui dengan pasti.
Secara umum, masalah-masalah tersebut dapat dibedakan menjadi dua. Pertama,
biaya sesungguhnya total akan dapat diketahui saat semua proses produksi telah selesai.
Padahal, perusahaan manufaktur secara umum, terutama yang produksinya berdasarkan
proses (produk massal), proses produksi bisa dikatakan tidak pernah selesai.Produk akan
terus-menerus diproduksi oleh perusahaan. Hal tersebut menyebabkan biaya total akan
sulit dihitung. Jika perusahaan menentukan titik tertentu yang dianggap sebagai akhir
produksi, perusahaan akan memiliki tiga macam persediaan, yaitu barang jadi, barang
dalam proses, dan bahan.
Pendekatan Biaya Sesungguhnya adalah perhitungan biaya produk atau jasa
Menggunakan biaya yang sebenarnya terjadi untuk bahan baku, tenaga kerja langsung dan
overhead pabrik. Biaya sesungguhnya dalam kaitan produksi adalah semua biaya yang
dikeluarkan untuk menghasilkan produk, mulai tahap produksi sampai produk selesai
diproduksi. Hasilnya akan diperoleh biaya produksi yang benar-benar akurat perhitungan
biaya berdasarkan biaya sesungguhnya memiliki kelemahan, yaitu biaya baru dapat
diketahui jika semua tahap produksi selesai dilakukan. Hal tersebut berdampak pada
masalah ketepatan waktu karena proses produksi sehingga sebagian besar industri bisa
dikatakan tidak pernah selesai dan bersifat terus-menerus.
Pendekatan Biaya Normal adalah penentuan biaya produk atau jasa Menggunakan
biaya sesungguhnya dari bahan baku dan tenaga kerja, sedangkan biaya overhead
menggunakan pembebanan yang didasarkan pada estimasi biaya overhead yang digunakan
dalam satu periode. Pembebanan biaya overhead dilakukan dengan menentukan tarif
pembebanan terlebih dahulu, baru kemudian ditentukan biaya overhead yang dibebankan
dalam satu periode dengan cara mengalihkan tarif dengan aktivitas yang digunakan untuk
mendapat informasi biaya. Penentuan tarif dilakukan dengan cara berikut ini :
𝐴𝑛𝑔𝑔𝑎𝑟𝑎𝑛 𝐵𝑖𝑎𝑦𝑎 𝑂𝑣𝑒𝑟ℎ𝑒𝑎𝑑
Tarif Overhead =
𝐴𝑛𝑔𝑔𝑎𝑟𝑎𝑛 𝑃𝑒𝑛𝑔𝑔𝑢𝑛𝑎𝑎𝑛 𝐴𝑘𝑡𝑖𝑣𝑖𝑡𝑎𝑠

Contohnya : Jika perusahaan kecap cap Mangga tahun 2013 menganggarkan untuk
melakukan aktivitas produk sebesar 15.000 botol kecap dengan anggaran biaya overhead
sebesar Rp60.000.000. aktivittas yang dipilih sebagai dasar pembebanan biaya overhead

6
adalah unit produksi. Berdasarkan data tersebut, tarif biaya overhead di perusahaan kecap
cap Mangga adalah sebagai berikut.
𝑅𝑝60.000.000
Tarif Overhead =
15.000
Tarif Overhead = Rp4.000/botol
Jika pada Januari 2013, perusahaan memproduksi 2.000 botol kecap, maka biaya
overhead yang dibebankan sebesar Rp8.000.000 (Rp4.000 x 2.000).
Biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung pada biaya normal dapat
menggunakan biaya sesungguhnya karena pada umumnya perusahaan melakukan
pembelian bahan dengan menggunakan kontrak pembelian. Berdasarkan hal tersebut
bahwa harga bahan perusahaan akan dapat ditentukan terlebih dahulu. Hal tersebut tidak
berbeda dengan biaya tenaga kerja umumnya dalam kontrak tenaga kerja Sudah
dicantumkan besar upah dan cara pengupahannya. Pada kenyataannya biaya overhead sulit
dilakukan karena banyak komponen biaya overhead yang bersifat periodik dan besarnya
berfluktuasi.
Kesulitan dalam aplikasi biaya normal adalah adanya kecenderungan bahwa dengan
tarif yang ditentukan dimuka, hasil biaya overhead yang dibebankan berbeda dengan biaya
overhead yang sesungguhnya terjadi. Walaupun dalam perhitungan seringkali perbedaan
tersebut tidak signifikan tetapi akurasi dalam penentuan tarif adalah penting. Penggunaan
tarif memunculkan masalah pada saat dilakukan pembayaran biaya overhead ke dalam
produk terutama saat biaya overhead dipergunakan untuk berbagai produk yang berbeda
dengan konsumsi aktivitas yang berbeda pula.

F. Metode Penentuan Biaya Produk


1. Tarif tunggal
Berdasarkan pendekatan tarif tunggal, biaya overhead diasumsikan hanya dipicu
oleh satu pemicu pada semua fasilitas produksi (Pabrik) dan produk. Terdapat 2 tahapan
dalam Perhitungan biaya overhead produk, yaitu :
a. Penentuan Tarif Pembebanan Overhead
Anggaran overhead diakumulasi menjadi satu untuk seluruh pabrik dengan
langkah-langkah berikut ini : biaya diakumulasikan secara sederhana dengan cara
langsung menambahkan semua biaya yang diharapkan akan terjadi selama satu
priode dalam satu fasilits pabrik dan setelah biaya diakumulasikan, dihitung tarif

7
pembebanannya berdasarkan satu pemicu level unit. Perhitungan tarif pembebanan
overhead dapat dilakukan dengan formula berikut ini :
Anggaran Biaya Overhead
Tarif Overhead = Anggaran Penggunaan Aktivitas

b. Pembebanan Biaya Overhead


Biaya overhead dibebankan ke dalam produk menggunakan dasar tarif yang
telah ditentukan. Pembebanan biaya overhead ke dalam produk dilakukan dengan
menggunakan formula berikut ini :
Tahapan Dalam Pembebanan Biaya Overhead dengan Tarif Tunggal :
Overhead Dibebankan Total = Tarif overhead × Aktivitas sesungguhnya

Contoh :
Perusahaan Petrogas menghasilkan produk Nozle Premium dan Nozle Solar.
Perusahaan tersebut memiliki data anggaran dan sesungguhnya untuk tahun 2012
sebagai berikut.
Anggaran biaya overhead Rp720.000.000
Aktivitas yang diharapkan (jam kerja langsung) Rp200.000
Aktivitas yang sesungguhnya (jam kerja langsung) Rp200.000
Biaya overhead sesungguhnya Rp760.000.000
Perusahaan menentukan dasar perhitungan tarif perhitungan tarif overhead adalah
jam kerja langsung, sehingga tarif overhead untuk tahun 2012 sebagai berikut.
𝐴𝑛𝑔𝑔𝑎𝑟𝑎𝑛 𝐵𝑖𝑎𝑦𝑎 𝑂𝑣𝑒𝑟ℎ𝑒𝑎𝑑
Tarif Overhead =
𝐴𝑛𝑔𝑔𝑎𝑟𝑎𝑛 𝑃𝑒𝑛𝑔𝑔𝑢𝑛𝑎𝑎𝑛 𝐴𝑘𝑡𝑖𝑣𝑖𝑡𝑎𝑠
𝑅𝑝720.000
Tarif Overhead =
200.000
= Rp3.600 per jam kerja langsung
Pembebanan overhead dihitung dengan cara berikut ini.

8
Overhead dibebankan total = Tarif overhead x Aktvitas sesugguhnya
= Rp3.600 x 200.000 jam kerja langsung
= Rp720.000.000
Tabel Data Produksi Petrogas
Keterangan Premium Solar
Biaya Utama Rp156.000.000 Rp1.476.000.000
Unit Produksi 20.000 200.000
Jam Kerja Langsung 20.000 180.000
Perhitungan Biay Per Unit Produk Dengan Metode Tarif Tunggal
Keterangan Premium Solar
Biaya Utama Rp156.000.000 Rp1.476.000.000
Biaya Overhead di Bebankan
Rp3.600 × 20.000 72.000.000 -
Rp3.600 × 180.000 - 648.000.000
Biaya Manufaktur Total Rp228.000.000 Rp2.124.000.000
Dibagi Unit di Produksi 20.000 200.000
Biaya Per Unit Rp11.400 Rp10.620

2. Tarif Departemental
Berdasarkan metode ini, pembebanan biaya overhead dilakukan pada setiap
departemen dalam pabrik. Pembebanan dilakukan dengan asumsi behwa setiap
departemen memiliki pemicu biaya overhead yang berbeda dengan departemen lainnya.
Tahapan perhitungan biaya produk dengan tarif departemental adalah sebagai berikut :
a. Biaya Overhead di seluruh pabrik dibagi dan dimasukkan ke dalam kelompok-
kelompok departemen produksi sehingga didapatkan kelompok biaya departemen.
Setelah itu, dihitung tarif pembebanannya menggunakan rumus berikut ini :
𝐴𝑛𝑔𝑔𝑎𝑟𝑎𝑛 𝐵𝑖𝑎𝑦𝑎 𝑂𝑣𝑒𝑟ℎ𝑒𝑎𝑑
Tarif Overhead = 𝐴𝑛𝑔𝑔𝑎𝑟𝑎𝑛 𝑃𝑒𝑛𝑔𝑔𝑢𝑛𝑎𝑎𝑛 𝐴𝑘𝑡𝑖𝑣𝑖𝑡𝑎𝑠

b. Biaya Overhead dibebankan ke produk dengan cara mengalihkan antara tarif biaya
overhead departemen dan jumlah pemicu yang digunakan oleh produk departemen
tersebut.

9
Contoh :
Data yang digunakan adalah data kasus di Petrogas. Apabila dalam proses
produksinya Petrogas menggunakan dua departemen yaitu pembentukan dan perakitan.
Di departemen pembentukan komponen dicetak sedangkan di department perakitan
membuat produk jadinya, data berikutnya disajikan dalam tahapan berikut ini :
Data Biaya Overhead dan penggunaan aktivitas perusahaan Petrogas.
Keterangan Pembentukan Perakitan
Anggaran overhead Rp. 504.000.000 Rp. 216.000
Aktivitas yang diharapkan dan sesungguhnya
Jam kerja langsung : 14.000 6.000
Premium 26.000 154.000
Solar 40.000 160.000
Jam mesin : 8.000 2.000
Premium 72.000 18.000
Solar 80.000 20.000

Di departemen pembentukan, tarif overhead dihitung berdasarkan jam mesin


sementara departemen perakitan berdasarkan jam tenaga kerja langsung, maka tarif
pembebanan overhead dihitung sebagai berikut :
𝐴𝑛𝑔𝑔𝑎𝑟𝑎𝑛 𝑂𝑣𝑒𝑟ℎ𝑒𝑎𝑑 𝐷𝑒𝑝𝑎𝑟𝑡𝑚𝑒𝑛 𝑃𝑒𝑚𝑏𝑒𝑛𝑡𝑢𝑘𝑎𝑛
Tarif overhead pembentukan =
𝐴𝑘𝑡𝑖𝑣𝑖𝑡𝑎𝑠 𝑑𝑖ℎ𝑎𝑟𝑎𝑝𝑘𝑎𝑛 𝐷𝑒𝑝𝑎𝑟𝑡𝑒𝑚𝑒𝑛 𝑃𝑒𝑚𝑏𝑒𝑛𝑡𝑢𝑘𝑎𝑛
Rp 504.000.000
=
80.000 Jam Mesin

= Rp 6.300 per jam mesin


𝐴𝑛𝑔𝑔𝑎𝑟𝑎𝑛 𝑂𝑣𝑒𝑟ℎ𝑒𝑎𝑑 𝐷𝑒𝑝𝑎𝑟𝑡𝑚𝑒𝑛 𝑃𝑒𝑟𝑎𝑘𝑖𝑡𝑎𝑛
Tarif overhead perakitan =
𝐴𝑘𝑡𝑖𝑣𝑖𝑡𝑎𝑠 𝑑𝑖ℎ𝑎𝑟𝑎𝑝𝑘𝑎𝑛 𝐷𝑒𝑝𝑎𝑟𝑡𝑒𝑚𝑒𝑛 𝑃𝑒𝑟𝑎𝑘𝑖𝑡𝑎𝑛
𝑅𝑝 216.000.000
=
160.000 𝐽𝑎𝑚 𝐾𝑒𝑟𝑗𝑎 𝐿𝑎𝑛𝑔𝑠𝑢𝑛𝑔

= Rp 1.350 Per Jam kerja langsung

G. Kelebihan Sistem Biaya Berbasis Unit


Ada kemudahan dalam aplikasi. Data yang dibutuhkan relatif sederharna sehingga
tidak memerlukan sistem informasi yang canggih dan mahal untuk mendapatkannya.
Walaupun sederhana, sistem ini masih memadai untuk digunakan pada bisnis yang

10
menghasilkan produk atau jasa yang seragam (satu jenis) atau tidak terdapat banyak variasi
proses produksi.
Perhitungan Biaya per Unit produk dengn metode tarif departemental
Perhitungan Biaya Tarif Departemen
Keterangan Premium Solar
Biaya Utama Rp 156.000.000 Rp 1.476.000.000
Biaya overhead dibebankan
Rp 6.300 x 8.000 50.400.000 -
Rp 6.300 x 72.000 - 453.600.000
Departemen perakitan
Rp 1.350 x 6.000 8.100.000 -
Rp 1.350 x 154.000 - 207.900.000
Biaya manufaktur total Rp 214.500.000 Rp 2.138.100.000
Dibagi : Unit diproduksi 20.000 200.000
Biaya per unit Rp 10.725 Rp 10.690.50

H. Kelemahan Sistem Biaya Berbasis Unit


Sistem ini sering mengakibatkan distorsi dalam penentuan biaya produksi.
Akibatnya, dalam kondisi persaingan yang ketat, perusahaan menjadi sering salah dalam
pembuatan keputusan yang berbasis pada informasi biaya produksi sehingga perusahaan
kalah dalam bersaingan.Permasalahn ini sering kali tidak didasari oleh manajemen.
Akibatnya manajemen menyalahkan penyebab lain untuk kekalahannya dalam persaingan
ini. Terkait dengan hal tersebut, manajemen sering mengambil kesimpulan bahwa ada
inefisiensi dalam produksi salah satu produk yang kurang laku karena harga jual pesaing
yang lebih rendah atau pemasaran yang tidak tepat. Kesalahan dalam pengambilan
kesimpulan ini, sebagian bsar disebabkan oleh sistem biaya mereka yang telah
ketinggalan zaman. Berikut ini beberapa indicator yang menunjukkan bahwa sistem biaya
berbasis unit telah ketinggalan zaman :
a) Hasil penawaran sulit dijelaskan. Produk yang ditawarkan dengan harga tinggi justru
terlihat sangat laku, tetapi sebaiknya produk yang ditawarkan dengan harga rendah
justru tidak laku.
b) Harga produk pesaing terlihat sangat murh dan tidak masuk akal padahal proses
produksi perusahaan sudah dilakukan seefisien mungkin.

11
c) Produk yang laku sulit menghasilkan laba yang tinggi.
d) Manajer operasional ingin menghentikan produk yang terlihat menguntungkan karena
produk mengonsumsi beragam aktivitas yang sulit dijelaskan kaitannya dengan biaya
produk.
e) Tingkat laba sulit untuk dijelaskan. Walaupun beberapa produk mengalami kenaikan
penjualan tetapi tidak diikuti dengan kenaikan laba.
f) Perusahaan memiliki ceruk pasar yang menghasilkan laba tinggi yang hanya dikuasai
sendiri. Pesaing tidak tertarik masuk ke ceruk tersebut karena harga yang mereka
tawakan cenderung lebih tinggi.
g) Konsumen tidak protes saat terjadi kenaikan harga produk tertentu karena harga masih
dibawah harga produk lain yang sejenis.
h) Departemen akuntansi menghabiskan banyak waktu untuk menyediakan data biaya
pada proyek khusus. Proyek-proyek khusus menggunakan aktivitas dan pemicu biaya
yang berbeda dengan produk yang sudah ada sehingga harus disiapkan laporan
tersendiri.
i) Beberapa departemen menggunakan sistem biaya sendiri karena merasa sistem biaya
yang ada tidak akurat.
j) Biaya produk berubah saat ada perubahan aturan pelaporan keuangan.
Ketidakakuratan sistem biaya konvesional disebabkan karena asumsi biaya hanya
berdasarkan aktivitas yang biayanya dipicu oleh factor lain.Penggunaan asumsi tersebut
mengakibatkan biaya overhead tidak dialokasikan secara akurat. Biaya overhead
dibebankan terlalu besar pada produk tertentu (produk yang tidak terlalu banyak
membutuhkan aktivitas dalam proses produksi). Sementara, produk yang lain (produk
yang membutuhkan banyak aktivitas dalam proses produksi), prmbebanan biaya overhead
terlalu rendah. Dampaknya, pada produk yang proses produksinya rumit, biaya
produksinya menjadi terlalu rendah sehingga harga jualnya terlalu tinggi. Sebaliknya, pada
produk yang proses produksinya relative relatif mudah, biaya produksinya terlalu tinggi
sehingga harga jualnya juga tinggi.

I. Istilah Penting Dalam Activity Based Costing


Sebelum membahas perhitungan biaya berdasarkan aktivitas lebih dalam, kita perlu
mendefinisikan beberapa istilah penting: aktivitas, sumber daya, penggerak biaya,
penggerak biaya untuk konsumsi sumber daya, dan penggerak biaya untuk konsumsi
aktivitas.
12
Aktivitas (activity) merupakan tugas atau tindakan spesifik dari pekerjaan yang
dilakukan. Aktivitas dapat berupa suatu tindakan atau batch dari beberapa tindakan.
Contohnya, memindahkan persediaan dari bengkel kerja A ke bengkel kerja B merupakan
aktivitas yang mungkin hanya membutuhkan satu tindakan. Aktivitas yang seringkali
dicatat pada apa yang disebut dengan kamus aktivitas. Suatu ilustrasi aktivitas utama
dalam rantai pasokan internal perusahaan ditunjukkan oleh supply chain council pada apa
yang disebut dengan SCOR (supply chain operations reference) pada situs council
(www.supply-chain.org/).
Sumber daya (resource) merupakan elemen ekonomis yang dibutuhkan atau
dikonsumsi dalam melaksanakan aktivitas. Gaji dan perlengkapan merupakan sumber
daya yang dibutuhkan atau digunakan dalam melaksanakan aktivitas produksi.
Penggerak biaya (cost driver) merupakan faktor yang menyebabkan atau
mengakibatkan perubahan biaya dari aktivitas. Penggerak biaya dapat berupa penggerak
biaya untuk konsumsi sumber daya atau penggerak biaya untuk konsumsi aktivitas.
Penggerak biaya untuk konsumsi sumber daya (resource consumption cost driver)
merupakan ukuran jumlah sumber daya yang dikonsumsi oleh suatu aktivitas. Penggerak
biaya ini adalah pengaruh biaya untuk mengembangkan daya sumber daya yang
dikonsumsi oleh atau berkaitan dengan suatu aktivitas ke aktivitas atau tempat
penampungan biaya tertentu. Contoh penggerak biaya untuk konsumsi sumber daya adalah
jumlah barang yang dibeli atau dijual perubahan desain produk dan jumlah jam mesin.
Penggerak biaya untuk konsumsi aktivitas (aktivity consumption cost driver)
mengukur jumlah aktivitas yang dilakukan untuk suatu objek biaya. Penggerak biaya
tersebut digunakan untuk membandingkan biaya aktivitas dari tempat penampungan biaya
ke objek biaya. Contohnya adalah jumlah jam mesin dalam proses produksi produk X atau
jumlah batch yang digunakan untuk memproduksi produk Y.
Perhitungan biaya berdasarkan aktivitas (activity based costing-ABC) merupakan
pendekatan perhitungan biaya yang membebankan biaya sumber daya ke objek biaya
seperti produk, jasa, atau pelanggan berdasarkan aktivitas yang dilakukan untuk objek
biaya. Anggapan dasar dari pendekatan perhitungan biaya ini adalah bahwa produk atau
jasa perusahaan merupakan hasil aktivitas dan aktivitas tersebut menggunakan sumber
daya yang menyebabkan timbulnya biaya.
Biaya sumber daya dibebankan pada aktivitas berdasarkan aktivitas yang
menggunakan atau mengonsumsi sumber daya (penggerak biaya untuk konsumsi sumber

13
daya) dan biaya aktivitas dibebankan ke objek biaya berdasarkan aktivitas yang dilakukan
untuk objek biaya (penggerak biaya untuk konsumsi aktivitas).
Sistem perhitungan biaya berdasarkan aktivitas (activity based costing-ABC) lebih
menekankan penelusuran langsung dan penelusuran penggerak (menekankan hubungan
sebab-akibat), sedangkan sistem biaya tradisional cenderung gencar dalam alokasi (sangat
mengabaikan hubungan sebab-akibat).

Prosedur pembebanan biaya ABC dua tahap (two-stage cost assignment)


membebankan biaya sumber daya seperti biaya overhead pabrik ke tempat penampungan
biaya aktivitas dan kemudian ke objek biaya untuk menentukan jumlah biaya sumber daya
bagi setiap objek biaya.
Tahap pertama, membebankan biaya overhead pabrik ke aktivitas dengan
menggunakan penggerak biaya untuk konsumsi sumber daya yang tepat.
Tahap kedua, membebankan biaya aktivitas ke objek biaya dengan menggunakan
penggerak biaya untuk konsumsi aktivitas yang tepat yang mengukur permintaan objek
biaya yang ditempatkan pada aktivitas.
Penyerapan biaya tradisional dirancang untuk menyediakan data untuk laporan
keuangan eksternal. Dalam hal lain perhitungan biaya berdasarkan aktivitas dirancang
untuk dapat digunakan dalam pembuatan keputusan internal sebagai konsekuensinya.
Perhitungan biaya berdasarkan aktivitas berbeda dari perhitungan akuntansi biaya
tradisional dalam tiga hal yaitu biaya produksi dan non produksi di bebankan ke produk,

14
namun hanya pada basis sebab akibat, beberapa biaya produksi mungkin tidak disertakan
dalam biaya-biaya produk, beberapa pul biaya overhead digunakan, setiap pul
dialokasikan ke produk dan objek perhitungan biaya lainnya dengan menggunkan ukuran
aktifitas masing-masing yang khusus.
1. Biaya Nonproduksi dan ABC
Dalam akuntansi biaya tradisional hanya biaya produksi yang dibebankan ke
produk. Beban penjualan,umum,dan administrasi diperlakukan sebagai beban periodik
dan tidak dibebankan ke produk. Meskipun demikian, beberapa biaya non produksi ini
juga merupakan bagian dari biaya, produk, penjualan, distribusi, dan pelayanan atas
produk sebagai contoh komisi yang dibayar kepada tenaga penjualan, biaya
pengiriman, dan biaya garansi dapat dengan mudah ditelusuri ke produk. Overhead
untuk menjelaskan biaya non produksi dan biaya produksi langsung dalam ABC produk
dibebani semua biaya overhead biaya non produksi dan biaya produksi langsung yang
disebabkan oleh produk tersebut.
2. Biaya Produksi dan Perhitungan Biaya Berdasarkan Aktivitas
Semua biaya produksi dibebankan ke produk. Bahkan biaya produksi yang tidak
disebabkan oleh produk. Sebagai contoh tarif overhead tunggal dihitung dengan
membagi semua biaya anggaran overhead pabrik dengan sebuah pengukuran dari
anggaran aktivitas seperti kerja langsung. Pendekatan ini memperluas penyebaran
semua biaya overhead pabrik kepada seluruh produksi berdasarkan penggunaan jam
kerja langsung untuk produk. Sistem perhitungan biaya berdasarkan aktivitas yang
tidak membebankan dua tipe biaya overhead produk produksi ke produk.
Overhead pabrik termasuk biaya seperti upah penjaga pabrik, penghasilan
pengontrolan pabrik, dan biaya dari barang-barang yang digunakan oleh sekretaris
pabrik. Tipe-tipe biaya di itu dibebankan ke produk dalam sistem biaya penyerapan
tradisional walaupun hal itu tidak terpengaruh sama sekali dengan produk yang dibuat
selama periode tersebut. Sistem perhitungan biaya berdasarkan aktivitas tidak
membebankan tipe-tipe biaya ini di mana disebut biaya pemeliharaan organisasi ke
produk perhitungan biaya berdasarkan aktivitas memperlakukan tipe-tipe biaya ini
sebagai pengeluaran secara berkala dibandingkan dengan biaya produk.
Sistem biaya penyerapan tradisional, biaya dari suatu yang tidak dipakai,
kapasitas beban kan ke produk. jika tingkat anggaran dari aktivitas menurun tarif
overhead dan biaya unit produk seiring dengan naiknya biaya dari kapasitas yang tidak
sedang beroperasi tersebar ke basis yang lebih kecil perhitungan biaya berdasarkan
15
aktivitas produk hanya dikenal biaya dari kapasitas yang mereka gunakan bukan untuk
biaya kapasitas yang tidak dipakai menyediakan biaya unit produk lebih stabil dan lebih
konsisten dengan tujuan akhir pembinaan ke produk hanya biaya bahan baku yang
dipakai.
3. Pul Biaya, Dasar Alokasi dan Biaya Berdasarkan Aktivitas
Selama abad ke-19 dan kebanyakan abad ke-20 sistem biaya perencanaan
bersifat sederhana dan praktis. Biasanya hanya digunakan 1 volt biaya overhead tunggal
atau satu departemen full biaya overhead dalam membedakan biaya overhead ke
produk. Pendekatan tarif tunggal dan departementalisasi selalu mempunyai satu hal
yang sama yaitu Mereka menggunakan dasar alokasi seperti jam kerja langsung dan
jam kerja mesin untuk mengalokasi biaya overhead ke dalam produk. Dalam proses
produksi intensif pekerja dari beberapa tahun lalu pekerja langsung adalah pilihan yang
paling umum untuk basis alokasi overhead karena mewakilkan jumlah besar komponen
dari biaya produk, jam kerja langsung yang dapat dengan mudah dimonitor dan banyak
manajer percaya bahwa jam kerja langsung, total volume unit yang diproduksi dan
biaya overhead sangat berkaitan.
Mengetahui bahwa sebagian besar perusahaan pada waktu bersamaan
memproduksi variasi produk yang terbatas membutuhkan bahan baku yang sama untuk
diproduksi, basis alokasi seperti jam kerja langsung atau malah jam kerja mesin, bekerja
dengan baik karena pada faktanya, pada saat itu hanya ada sedikit perbedaan dalam
biaya overhead yang disebabkan oleh produk yang berbeda. Dalam perhitungan biaya
berdasarkan aktivitas. Sebuah aktivitas adalah kegiatan apapun yang mengakibatkan
konsumsi bahan baku overhead. Sebuah Pul biaya aktivitas adalah sebuah wadah
dimana biaya diakumulasi dan berkaitan dengan sebuah pengukuran aktivitas tunggal
dalam sistem ABC. Ukuran aktivitas adalah basis alokasi dalam sebuah sistem
perhitungan biaya berdasarkan aktivitas. Istilah pemicu biaya cost driver adalah juga
dipakai untuk mengacu pada ukuran aktivitas karena kurang aktivitas harus
menggerakkan atau memicu biaya yang di alokasikan. Ada dua jenis ukuran aktivitas
yaitu penggerak transaksi atau transaksi driver dan penggerak durasi atau Duration
Driver. Penggerak transaksi adalah hitungan sederhana tentang beberapa kali suatu
aktivitas terjadi seperti jumlah tagihan yang dikirimkan ke pelanggan. Penggerak durasi
mengukur waktu yang diperlukan untuk melakukan suatu aktivitas seperti waktu yang
digunakan untuk menyiapkan tagihan.

16
J. Perincian Klasifikasi Aktivitas
Perhitungan biaya berdasarkan aktivitas mendefinisikan tingkat aktivitas yaitu
tingkat unit, tingkat batch, tingkat produk, tingkat pelanggan,tingkat fasilitas dan aktivitas
pemeliharaan organisasi yang secara luas tidak terkait dengan volume unit yang
diproduksi. Biaya dan ukuran aktivitas yang merespon untuk aktivitas tingkat unit tidak
terkait dengan volume dari unit yang diproduksi tetapi kategori sisanya tidak termasuk.
Tingkatan tingkatan tersebut dijelaskan sebagai berikut :
a. Aktivitas Tingkat Unit (Unit-Level Activities)
Dilakukan untuk setiap unit produksi. Biaya tingkat unit adalah biaya yang
meningkat saat satu unit diproduksi, dimana biaya ini merupakan satu-satunya biaya
yang selalu dapat dibebankan secara akurat proporsional terhadap volume.
Contohnya: biaya listrik, biaya pemanasan, tenanga kerja inspeksi.
Pemicu tingkatan unit adalah ukuran aktivitas yang bervariasi dengan jumlah
unit yang diproduksi dan dijual. Pemicu ini merupakan satu satunya dasar alokasi yang
berkaitan dengan volume yang digunakan dalam ABC serta semua pemicunya
terhadap output. Contohnya Jam tenanga kerja langsung , biaya tenanga kerja
langsung, jam mesin, berat bahan baku langsung, total biaya utama, total biaya
langsung.
b. Aktivitas Tingkat Batch (Batch Level Activities)
Semua batch adalah jumlah dari dua unit identik yang menyusun serta
merupakan sub kelompok dari total output dari suatu produk. Biaya tingkat batch
adalah biaya yang disebabkan oleh jumlah unit yang diproduksi dan di jual. Biaya ini
merupakan biaya yang tidak akan meningkat apabila satu atau lebih unit itam bahkan
ke unit tersebut. Selain sangat dipengaruhi oleh jumlah batch tetapi tidak tergantung
pada jumlah unit. Contohnya biaya persiapan, biaya pembelian dan penerimaan,
inspeksi,biaya pemasaran dan administratif. Biaya pemicu tingkat batch adalah
ukuran aktifitas yang bervariasi dengan jumlah batch yang diproduksi dan dijual.
Contohnya persiapan, jam persiapan, pesanan produksi, peminatan bahan baku.
c. Aktivitas Tingkat Produk ( Product level Activities)
Aktivitas tingkat produk adalah aktivitas yang dilakukan bila diperlukan untuk
mendukung berbagai produk yang diproduksi perusahaan. Aktivitas ini menggunakan
input yang mengembangkan produk atau memungkinkan produk diproduksi atau
dijual. Aktivitas ini dan biayanya cenderung meningkat sejalan dengan peningkatan
jenis produk yang berbeda. Perubahan teknik, pengembangan prosedur, pengujian
17
produk, pemasaran produk, rekayasa, teknik produk, dan pengiriman adalah contoh-
contoh dari aktivitas tingkat produk.
d. Aktivitas Tingkat Fasilitas
Aktivitas tingkat fasilitas adalah aktivitas yang menopang proses umum
produksi suatu pabrik.aktivitas tersebut bermanfaat bagi organisasi pada beberapa
tingkat, tetapi tidak bermanfaat bagi setiap produk secara spesifik. Contohnya
meliputi manajemen pabrik, tata letak, dukungan untuk program masyarakat,
keamanan, pajak properti, dan penyusutan pabrik.
e. Aktivitas Tingkatan pelanggan (Customer Level Activities)
Berkaitan dengan pelanggaran khusus dan meliputi aktivitas seperti telepon dan
penjualan pengiriman katalog dukungan teknis yang tidak terpaku pada produk
tertentu.
f. Aktivitas Pemeliharaan Organisasi (Organization Sustaining Activities)
Yang dilakukan tanpa memperhatikan pelanggan mana yang dilayani barang
apa yang diproduksi berapa bit yang dijalankan atau berapa unit yang dibuat kategori
ini termasuk aktivitas seperti pemesanan di pabrik kebersihan kantor Executive
penyediaan jaringan komputer pengaturan pinjaman penyusunan laporan tahunan
untuk pemegang saham dan sebagainya.
Dalam hal ini menggunakan basis alokasi overhead berdasarkan jam kerja
langsung atau jam mesin. Biaya overhead dan jam keja langsung sangat terikat erat
atau dalam situasi di mana tujuan akhir dari proses alokasi overhead adalah untuk
menyiapkan laporan finansial eksternal. Namun jika biaya overhead tunggal tidak
bergerak searah dengan tarif tunggal jam kerja langsung, biaya produk akan
menyimpang jauh dimana akan menyebabkan pengambilan keputusan dalam
perusahaan

K. Pembebanan biaya pada aktivitas


Setelah aktivitas diidentifikasikan dan dideskripsikan tugas berikutnya adalah
menentukan berapa banyak biaya untuk melakukan setiap aktivitas. Aktivitas
menggunakan sumber daya seperti tenaga kerja bahan energi dan modal. Oleh karena itu,
biaya sumber daya pada aktivitas perlu dibebankan dengan menggunakan penelusuran
langsung dan penggerak. Sebagai contoh, manajer department kartu kredit SpringBanc
memperlihatkan penggunaan tenaga kerja berikut dengan aktivitas individual :

18
Persentase Waktu Setiap Aktivitas
Aktivitas Pengawas Staf Administrasi
Mengawasi karyawan 100% 0%
Memproses transaksi 0 40
Menyiapkan laporan 0 30
Menjawab pertanyaan 0 30

Waktu yang dihabiskan pada setiap aktivitas merupakan dasar untuk pembebanan
biaya tenaga kerja pada aktivitas. Jika waktunya 100%, maka tenaga kerja adalah
sepenuhnya pada aktivitas dan metode pembebanan adalah penelusuran langsung (sama
halnya pada biaya tenaga kerja pada pengawasan). Jika sumber daya dibagi oleh beberapa
aktivitas, seperti pada kasus sumber daya staf administrasi, maka pembebanan dilakukan
melalui penelusuran penggerak yang disebut penggerak sumber daya. Penggerak sumber
daya adalah faktor yang mengukur pemakaian sumber daya oleh aktivitas. Setelah
penggerak sumber daya diidentifikasi, biaya sumber daya dapat dibebankan pada aktivitas.
Contohnya, anggaplah gaji supervisor adalah $50.000 dan setiap staf administrasi
dibayar $30.000 ($150.000 jumlah biaya administrasi untuk 5 staf administrasi). Berikut
jumlah biaya tenaga kerja yang dibebankan pada setiap aktivitas:
Mengawasi karyawan $50.000 (dengan penelusuran langsung)
Memproses transaksi $60.000 (0,4 x $150.000)
Menyiapkan laporan $45.000 (0,3 x $150.000)
Menjawab pertanyaan $45.000 (0,3 x $150.000)

Kamus aktivitas menyebutkan aktivitas (biasanya menggunakan kata kerja tindakan


dan objek yang menerima tindakan), mendeskripsikan tugas-tugas yang menyebabkan
aktivitas, mengklasifikasikan aktivitas sebagai aktivitas primer dan sekunder, mendaftar
pengguna (objek biaya), dan mengidentifikasi ukuran output aktivitas (penggerak
aktivitas). Aktivitas primer adalah aktivitas yang digunakan oleh produk atau pelanggan.
Aktivitas sekunder adalah aktivitas yang digunakan oleh aktivitas primer lainnya atau
aktivitas sekunder. Pada akhirnya, aktivitas sekunder akan digunakan oleh aktivitas
primer.

19
Kamus Aktivitas: Departemen Kartu Kredit SringBanc
Nama Deskripsi Aktivitas Jenis Objek Biaya Penggerak
Aktivitas Aktivitas Aktivitas
Mengawasi Menjadwalkan, Sekunder Aktivitas Jumlah waktu
karyawan mengoordinasi, dan dalam tenaga kerja
mengevaluasi kinerja departemen untuk setiap
aktivitas
Memproses Memisahkan, mencatat Primer Kartu kredit Jumlah
transaksi dan memverifikasi transaksi
Menyiapkan Meninjau, mencetak, Primer Kartu kredit Jumlah
laporan mengepak, dan mengirim laporan
Menjawab Menjawab, melihat data, Primer Kartu kredit Jumlah
telepon meninjau basis data, dan panggilan
menelpon kembali telepon
Menyediakan Menggunakan rekening, Primer Kartu kredit, Jumlah
ATM menarik uang tunai rekening giro, transaksi ATM
dan tabungan

L. Merancang Sistem ABC


Dalam mekanisme ABC terdapat tahapan tahapan ABC :
Tahap 1 : Mengidentifikasikan Aktivitas, Pul Biaya Aktivitas, dan Pengukuran Aktivitas
Prosedur umum untuk melakukan tahap ini adalah melakukan wawancara terhadap
semua orang yang terlibat atau setidaknya semua supervisor dan manajer dalam
departemen yang menimbulkan dan meminta mereka untuk menggambarkan aktivitas
utama yang mereka lakukan. Biasanya akan diperoleh catatan aktivitas yang sangat
panjang. Panjangnya catatan tersebut juga menimbulkan masalah. Makin banyak jumlah
aktivitas yang dimasukkan ke dalam sistem ABC makin akurat perlakuan terhadap biaya.
Sebaliknya diperlakukan diperlukan biaya yang tidak sedikit untuk merancang,
menerapkan, memelihara, dan menggunakan sistem yang kompleks yang melibatkan
sejumlah besar aktivitas. Konsekuensinya, catatan aktivitas yang paling tersebut dikurangi
dengan penggabungan aktivitas-aktivitas yang sejenis.
Di perusahaan Classic Brass, tim ABC dalam konsultasinya dengan manajer
puncak, memilih pul biaya aktivitas dan ukuran aktivitas berikut:

20
Pul Biaya Aktibitas di Classic Brass
Pul Biaya Aktivitas Pengukuran Aktivita
Pesanan Pelanggan Jumlah Pesanan Pelanggan
Desain Produk Jumlah Desain Produk
Ukuran Order Jam Mesin
Hubungan Pelanggan Jumlah Pelanggan yang Aktif
Lainnya Tidak Berhubungan
Pul biaya aktivitas adalah sebuah “wadah” yang mengakumulasikan semua biaya
yang berkaitan dengan aktivitas tunggal dalam sistem ABC. Sebagai contoh, pul biaya
Pesanan Pelanggan akan dibebani semua biaya sumber daya yang dikonsumsi untuk
memproses pesanan tersebut termasuk kertas yang digunakan dan pengaturan peralatan
yang digunakan. Ukuran aktivitas dalam pul biaya ini adalah jumlah pesanan yang
diterima. Aktivitas ini adalah aktivitas tingkat batch karean setiap pesanan menyebabkan
pekerjaan tanpa memerhatikan apakah pesanan tersebut untuk satu unit atau 1000 unit.
Jumlah pesanan pelanggan yang diterima adalah contoh ukuran aktivitas. Ukuran aktivitas
adalah basis alokasi dalam sistem ABC. Istilah penggerak atau pemicu biaya (cost driver)
juga digunakan untuk menjelaskan ukuran aktivitas.
Ukuran aktivitas seharusnya “menggerakkan” biaya yang dialokasikan. Ukuran
aktivitas biasanya adalah perkiraan kasar dari penggunaan sumber daya. Mungkin tipe
ukuran aktivitas yang paling tidak akurat adalah yang dikenal sebagai penggerak transaksi
(transaction driver). Penggerak transaksi adalah hitungan sederhana tentang berapa kali
suatu aktivitas terjadi seperti jumlah tagihan yang dikirim kepada pelanggan. Ukuran
aktivitas ini memuaskan ketika semua tagihan membutuhkan waktu yang sama dalam
pembuatannya. Tetapi jika beberapa tagihan cukup sederhana untuk dibuat dan yang
lainnya sangat kompleks, ukuran aktivitas yang lebih akurat yang dikenal sebagai
penggerak durasi (duration driver) dapat digunakan. Penggerak durasi adalah ukuran
waktu yang dibutuhkan untuk melakukan suatu aktivitas seperti waktu yang digunakan
untuk menyiapkan tagihan. Secara umum, penggerak durasi adalah ukuran yang lebih
akurat untuk penggunaan sumber daya dibanding penggerak transaksi, tetapi lebih
memerlukan usaha untuk mencatatnya. Karena alasan tersebut, penggerak transaksi lebih
sering digunakan.

21
Pul biaya Desain Produk akan dibebani semua biaya dari sumber daya yang
dikonsumsi dalam rangka mendesain produk. Ukuran aktivitas untuk pul biaya adalah
jumlah desain. Ini adalah aktivitas tingkat produk, karena jumlah pekerjaan desain produk
baru tidak tergantung pada jumlah unit yang dipesan atau batch yang dijalankan.
Pul biaya Jumlah Pesanan akan dibebani seluruh biaya konsumsi sumber daya
sebagai konsekuensi jumlah unit yang diproduksi, termasuk biaya lain-lain perlengkapan
pabrik, tenaga untuk menjalankan mesin, dan penyusutan peralatan. Aktivitas ini adalah
aktivitas tingkat unit karena setiap unit membutuhkan sumber daya ini. Ukuran aktivitas
untuk pul biaya ini adalah jam mesin.
Pul biaya Hubungan Pelanggan akan dibebani biaya yang berkaitan dengan
pemeliharaan hubungan dengan pelanggan, termasuk telepon untuk kontak dengan
pelanggan dan menjamu pelanggan. Ukuran aktivitas untuk pul biaya ini adalah jumlah
pelanggan perusahaan yang masuk dalam daftar pelanggan yang aktif. Pul biaya Hubungan
Pelanggan merupakan aktivitas tingkat pelanggan.
Pul biaya lainnya akan dibebani semua biaya overhead yang tidak berkaitan dengan
pesanan pelanggan, desain produk, jumlah pesanan, atau hubungan pelanggan. Biaya-
biaya ini terutama berkaitan dengan biaya menjalankan organisasi dan biaya kapasitas
yang tidak digunakan atau menganggur. Biaya-biaya ini tidak akan dibebankan ke produk
karena biaya ini tidak menunjukkan sumber daya yang dikonsumsi oleh produk.

Tahap 2 : Membebankan biaya overhead ke pul biaya aktivitas


Biaya overhead diklasifikasikan dalam sistem akuntansi dasar perusahaan
berdasarkan departemen dimana biaya tersebut terjadi. Sebagai contoh, gaji, perlengkapan,
sewa, dan sebagainya yang terjadi di departemen pemasaran akan dibebankan pada
departemen tersebut. Dalam beberapa kasus beberapa atau semua biaya overhead dapat
ditelusuri secara langsung ke salah satu pul biaya aktivitas dalam sistem ABC. Langkah
ini merupakan tahap ketiga penerapan ABC. Sebagai contoh, jika sistem ABC memiliki
aktivitas yang disebut pemrosesan pesanan pembelian (purschase order processing),
seluruh biaya di departemen pembelian dapat ditelusuri ke aktivitas tersebut. Apanila
memungkinkan, biaya tersebut ditelusuri langsung ke pul biaya aktivitas. Meskipun
demikian, sangat umum overhead terkait dengan beberapa aktivitas yang ada dalam sistem
ABC. Dalam situasi seperti ini, biaya departemen tersebut dibagi dengan beberapa pul
biaya aktivitas menggunakan proses alokasi yang disebut alokasi tahap pertama (first-

22
stage allocation). Alokasi tahap pertama dalam sistem ABC adalah proses pembebanan
biaya overhead ke pul biaya aktivitas.
Sebagai contoh Di Classic Brass, objek biayanya adalah produk, pesanan pelanggan,
dan pelanggan. Biaya overhead pabrik perusahaan, penjualan, umum, dan administrasi
disajikan dalam Tampilan Biaya Overhead (Produksi dan Nonproduksi di Classic Brass).
Dalam sistem ABC pada Classic Brass, seluruh biaya ini ditentukan sebagai “overhead”
dan akan dibebankan ke objek biaya.
Salah satu biaya overhead – pengiriman – dapat ditelusuri langsung ke pesanan
pelanggan. Classic Brass menagihkan secara langsung ke setiap pesanan pelanggan yang
dikirimkan, sehingga sangat mudah untuk menelusuri biaya ini ke pesanan pelanggan.
Pelanggan tidak membayar biaya pengiriman aktual; mereka membayar biaya pengiriman
standar yang dapat sangat berbeda dengan tagihan biaya kiriman yang diterima oleh
Classic Brass dari perusahaan angkutan.
Tidak ada biaya overhead lainnya yang dapat ditelusuri secara langsung ke produk,
ke pesanan pelanggan, atau ke pelanggan. Akibatnya, sisa biaya overhead ditelusuri ke
objek biaya dengan menggunakan sistem ABC.
Tabel Biaya Overhead (Produksi dan Nonproduksi di Classic Brass)
Departemen Produksi
Upah Pabrik Tidak Langsung $500.000
Penyusutan Peralatan Pabrik 300.000
Utilitas Pabrik 120.000
Sewa Bangunan Pabrik 80.000 $1.000.000
Departemen Administrasi Umum
Gaji dan Upah Administrasi 400.000
Penyusutan Peralatan Kantor 50.000
Sewa Gedung Administrasi 60.000 510.000
Departemen Pemasaran
Gaji dan Upah Pemasaran 250.000 300.000
Beban PenJualan 50.000 300.000
Total Biaya Overhead $1.810.000

23
Tahap 3 : Menghitung Tarif Aktifitas
Tarif aktivitas yang akan digunakan untuk pembebanan biaya overhead ke produk
dan pelanggan dihitung dalam gambar di bawah ini. Tim ABC menentukan total aktivitas
sesungguhnya yang diperlukan untuk memproduksi bauran produk dan untuk melayani
pelanggannya pada saat ini. Angka ini ditunjukkan dalam tampilan gambar di bawah ini.
Sebagai contoh, tim ABC menentukan bahwa 400 desain produk baru dibutuhkan setiap
tahun untuk melayani pelanggan perusahaan saat ini. Tarif aktivitas dihitung dengan
membagi total biaya untuk masing-masing aktivitas dengan total aktivitasnya. Sebagai
contoh, sebanyak $320.000 total biaya tahunan untuk pul biaya pesanan pelanggan dibagi
dengan total pesanan pelanggan sebesar 1.000 untuk mendapatkan tarif aktivitas sebesar
$320 per pesanan pelanggan. Begitu juga $252.000 total biaya untuk pul biaya desain
produk dibagi dengan total jumlah desain(misalnya; 400 desain produk) untuk menentukan
tarif aktivitas $630 per desain. Perhatikan bahan tarif aktivitas tidak dihitung untuk
kategori lainnya. Hal ini karena biaya pemeliharaan organisasi dan biaya kapasitas yang
menganggur tidak dialokasikan ke produk dan pelanggan.
Angka dalam tampilan gambar di bawah ini mengindikasikan bahwa secara rata-rata
pesanan pelanggan membutuhkan sumber daya sebesar$320; desain produk membutuhkan
sumber daya sebesar $630; satu unit produk membutuhkan sumber dayasebesar $19 per
jam mesin; dan mempertahankan hubungan dengan pelanggan membutuhkan sumber daya
sebesar $1.470. Perhatikan bahwa angka di bawah merupakan angka rata-rata. Beberapa
anggota tim ABC di Classic Brass berpendapat bahwa adalah tidak adil untuk membebani
semua peroduk baru biaya desain produk yang sama yaitu sebesar $630 tanpa
memandandang berapa waktu desain yang diperlukan. Setelah mendiskusikan pro dan
kontra, tim menyimpulkan bahwa untuk saat ini tidak perlu menelusuri waktu desain aktual
yang digunakan untuk mendesain setiap produk baru. Mereka merasa bahwa keuntungan
dari meningkatnya akurasi tidak akan cukup besar untuk menutup biaya yang tinggi untuk
mengimplementasi dan mengelola sistem biaya yang lebih detail. Begitu juga beberapa
anggota merasa tidak nyaman membebani biaya yang sama sebesar $1.470 untuk setiap
pelanggan. Beberapa pelanggan tidak terlalu menyulitkan – memesan produk standar di
muka. Pelanggan lainnya memiliki keinginan yang sangat banyak dan menghabiskan
banyak waktu staf administrasi dan pemasaran. Mereka umumnya adalah pelanggan yang
memesan produk sesuai keinginan (customized), yang cenderung memesan di saat-saat
terakhir dan mereka yang berubah pikiran. Ketika semua orang setuju dengan pengamatan
ini, dta yang dibutuhkan untuk mengukur permintaan masing-masing pelanggan terhadap
24
sumber daya saat itu tidak tersedia. Dari pada menunda implementasi sistem ABC, tim
memutuskan untuk menunda perbaikan tersebut untuk kemudian hari.
Tabel Perhitungan Tarif Aktivitas
(a) (b) (a) : (b)
Pul Biaya Aktivitas Total Biaya Total Aktivitas Tarif Aktivitas
Pesanan Pelanggan $320.000 1000 Pesanan $320 Per Pesanan
Desain Produk $252.000 400 Desain $630 Per Desain
Ukuran Pesanan $380.000 20000 Jam Mesin $19 Per Jam Mesin
Hubungan Pelanggan $367.500 250 Pelanggan $1.470 Per Pelanggan
Lainnya $490.500 Tidak Berlaku Tidak Berlaku

Tahap 4 : Membebankan Biaya Overhead ke Objek Biaya


Langkah keempat dalam penerapan ABC disebut alokasi tahap kedua (second-stage
alocation). Dalam alokasi tahap kedua, tarif aktivitas digunakan untuk membebankan
biaya produk dan pelanggan. Pertama, kita akan mengilustrasikan bagaimana
membebankan biaya ke produk yang ada di contoh dan kemudian bagaimana
membebankan biayanya kepada pelanggan.
Data diperlukan oleh tim ABC untuk membebankan biaya overhead ke dalam dua
jenis produk yang dihasilkan oleh Classic Brass, tiang penyangga dan Compass Housing
sesuai pesanan sebagai berikut :
a) Tiang penyangga Standar : Desain standar dan tidak membutuhkan desain baru,
Selama tahun berjalan dipesan 3.000 unit, terdiri dari 600 unit order terpisah, dan
Setiap tiang penyangga membutuhkan 35 menit jam mesin dengan total 17.500 jam
mesin
b) Compass Housing sesuai pesanan (pesanan khusus) : Produk khusus membutuhkan
desain baru , Terdapat 400 order untuk Compass Housing spesial order. Order untuk
produk ini dipisah dengan order dari tiang penyangga standar, Telah disisapkan 400
unit pesanan. Suatu desain disiapkan untuk satu unit, dan Karena beberapa pesanan
lebih dari satu unit, sejumlah 1.250 unit diproduksi. Compas Housing khusus
memerlukan rata-rata 2 jam mesin dengan menggunakan seluruhnya 2.500 jam mesin.

25
Biaya Overhead Untuk Tiang Penyangga Standar
(a) (b) (a) x (b)
Pul Biaya Aktivitas Tarif Aktifitas Aktivitas Biaya ABC
Pesanan Pelanggan $320 Per Pesanan 600 Pesanan $192.000
Desain Produk $630 Per Desain 0 -
Ukuran Pesanan $19 Per Jam Mesin 17,5 Per Jam Mesin 332.500
Total $524.500

Biaya Overhead Untuk Custom Compass Housing


(a) (b) (a) x (b)
Pul Biaya Aktivitas Tarif Aktifitas Aktivitas Biaya ABC
Pesanan Pelanggan $320 Per Pesanan 400 Pesanan $ 128.000
Desain Produk $630 Per Desain 400 Desain 252.000
Ukuran Pesanan $19 Per Jam Mesin 2.500 Per Jam Mesin 47.500
Total $427.500

Pembahasan Tabel
600 pesanan pelanggan telah dipesan untuk tiang penyangga standar dan 400
Compass Hosting khusus, Sehingga total menjadi 1000 pesanan pelanggan. Semua 400
desain produk berhubungan dengan kompas housing tidak satupun yang berhubungan
dengan tiang penyangga standar. memproduksi 30.000 tiang penyangga standar
membutuhkan 1.7500 jam mesin dan memproduksi 1250 Compass Housing membutuhkan
2.500 jam mesin, sehingga totalnya menjadi Rp20.000 jam mesin.
Sedangkan Biaya Overhead dibebankan ke tiang penyangga standar dan Compass
Housing khusus. contohnya ditabel menunjukkan $192.000 biaya overhead dibebankan ke
dalam full biaya aktivitas pesanan pelanggan ke tiang penyangga standar (320 persamaan
x 600 persamaan). Hal yang sama $128.000 biaya overhead dibebankan dari pul Biaya
aktivitas pesanan pelanggan ke Compass Housing khusus ($320 per pesanan x 400
pesanan), full biaya pesanan pelanggan terdiri dari total $320.000 dan jumlah total ini telah
dibebankan ke kedua produk ($192.000 + $128.000 = $320.000).
Tabel dibawah ini menunjukkan bahwa total $952.000 dari biaya overhead
dibebankan ke dalam 2 jenis produk yaitu $524.500 ke tiang penyangga standar dan

26
$427.500 ke Compass Housing spesial. jumlah ini kurang dari 1.810.000 biaya overhead
yang masuk dalam sistem ABC. Mengapa demikian karna total jumlah overhead
dibebankan ke produk tidak sama dengan jumlah biaya overhead di sistem ABC karena
tim ABC tidak membebankan $367.500 ke hubungan pelanggan dan $490.500 biaya
lainnya ke dalam produk. Aktivitas hubungan pelanggan adalah aktivitas level pelanggan
dan aktivitas lainnya adalah aktivitas pemeliharaan organisasi, tidak ada satupun Aktivitas
ini yang disebabkan oleh produk. Bisa dilihat pada tabel dibawah ini ketika hubungan
pelanggan dan biaya aktivitas lainnya ditambahkan ke $952.000 biaya overhead yang
dibebankan ke produk totalnya menjadi $1.810.000
Tabel Pembebanan Biaya Overhead ke Produk
Tiang Penyangga Compass Housing Total
Standar Khusus
Biaya Overhead Dibebankan ke Produk
Pesanan Pelanggan $192.000 $128.000 $320.000
Desain Produk 0 252.000 252.000
Ukuran Pesanan 332.500 47.500 380.000
Subtotal $524.500 $427.500 952.000
Biaya Overhead Tidak Dibebankan Ke Produk
Hubungan Pelanggan 367.500
Lainnya 490.500
Subtotal 858.000
Total Biaya Overhead $1.810.000

Tahap 5 : Menyiapkan Laporan Manajemen


Laporan manajemen umumnya yang dibuat dengan data ABC adalah produk dan
profitabilitas pelanggan. Laporan ini membantu perusahaan menghubungkan sumber
dayanya pada kesempatan pertumbuhan yang lebih menguntungkan sedangkan dengan
waktu yang sama memperbaiki produk dan pelanggan uyang dapat menghasilkan laba.
Kita memulai dengan mengilustrasikan suatu laporan profitabilitas sebuah produk
kemudian diikuti oleh laporan profitabilitas pelanggan.
Tim ABC Classic Brass menyadari bahwa laba dari sebuah produk, disebut margin
Produk adalah fungsi dari penjualan produk dan biaya langsung dan tidak langsung yang
menyebabkan sebuah produk. Alokasi biaya ditunjuk dalam tabel pembebanan Overhead

27
ke produk dimana hanya meringkas tiap-tiap biaya tidak langsung produk (overhead).
Sehingga untuk menghitung laba sebuah sebuah produk (margin produk), tim desain perlu
untuk mengumpulkan tiap-tiap penjualan produk dan biaya langsung sebagai tambahan ke
biaya overhead yang telah dihitung sebelumnya.

M. Perbandingan Biaya Produk Konvensional dan Kontemporer


Metode konvensional (tarif tunggal dan departemental) cenderung kurang akurat
dalam membebankan biaya overhead ke dalam produk. Ini karena pada pendekatan
konvensional terlalu menyederhanakan proses produksi suatu produk atau jasa. Produk
yang berbeda-beda diasumsikan hanya menggunakan satu aktivitas pada keseluruhan
proses produksi atau pada satu departemen tertentu. faktanya, suatu proses produksi
membutuhkan banyak aktivitas yang tingkat konsumsi sumber dayanya juga akan berbeda-
beda pada setiap jenis produk, dan dalam penggunaan aktivitas tersebut belum tentu
perbandingannya proporsional antar-aktivitas untuk setiap produk atau jasa.
Produk yang seharusnya dijual mahal dihargai terlalu murah, dan produk yang
seharusnya dijual murah menjadi terlalu mahal. Inilah yang sering kali menyebabkan
manajer menjadi bingung terhadap hubungan antara penjualan dan laba yang tidak sinkron.
Saat penjualan produk naik tinggi seharusnya berkontribusi pada kenaikan laba, tetapi
yang terjadi justru terjadi penurunan laba. Terjadi juga suatu produk tidak dapat bersaing
dengan produk lain karena dibebani harga terlalu tinggi padahal proses produksinya sudah
dilakukan secara efisien.
Metode kontemporer dikenal sebagai ABC (Activity Based Costing) lebih akurat,
dikarenakan biaya dibebankan ke produk secara langsung berdasarkan aktivitas yang
berkaitan dengan produk tersebut. Bahkan dengan mengamati trend biaya dan aktivitas

N. Manfaat dan keterbatasan Activity Based Costing


Metode perhitungan biaya produk berkembang sesuai dengan perkembangan dunia
bisnis. Saat suatu metode yang dikembangkan pasti membawa manfaat lebih bagi bisnis.
Seiring dengan perkembangan dunia bisnis yang kompleks, metode tersebut akan
memunculkan keterbatasan yang menyertainya. Demikian pula dengan metode ABC.
Metode ini tidak terlepas dari hal-hal tersebut.

28
Awalnya tujuan perusahaan menggunakan ABC adalah untuk mengurangi distorsi
dalam perhitungan biaya produk yang sering dijumpai dalam sistem biaya berbasis unit.
Berikut ini manfaat lain ABC bagi perusahaan :
1) Pengukuran profitabilitas yang lebih baik. Biaya tetap aktivitas dapat dibebankan
dengan lebih akurat dan terperinci le dalam produk atau jasa sehingga hasil penawaran
produk atau jasa menjadi mudah ditelusur. Selain itu, profitabilitas juga menjadi lebih
mudah diketahui kaitannya dengan suatu produk atau jasa.
2) Pembuatan keputusan yang lebih baik, informasi penggunaan aktivitas yang lebih
detail menjadikan manajemen dapat menganalisis dampak atau hasil dari suatu
aktivitas sehingga dapat member dasar pembuatan keputusan yang lebih akurat,\.
3) Perbaikan proses (process improvement). ABC memberikan informasi detail
mengenai penggunaan aktivitas. Hal ini memudahkan manajemen menelusur dan
meganalisis efektifitas dan efisiensi biaya aktivitas. Kemudian, aktivitas-aktivitas
dianggap tidak member nilai tambah dapat dihilangkan sementara aktivitas-aktivitas
yang belum optimal dapat dioptimalkan.
4) Estimasi biaya. Ketersediaan informasi penggunaan aktivitas dan biaya di masa lalu
yang terperinci dapat memberikan dasar yang akurat alam penentuan estimasi biaya
di masa depan.
5) Penentuan biaya kapasitas tak terpakai. Estimasi biaya yang akurat atas suatu aset atau
sumber daya pada suatu kapasitas yang dianggarkan dapat menjadi dasar penentuan
nilai biaya dari kapasitas yang tidak digunakan akibat inefisiensi produksi atau
pelayanan.

Selain manfaat, ABC juga memiliki beberapa keterbatasan. Berikut ini keterbatasan-
keterbatasan yang tedapat dalam ABC :
1. Alokasi
Tidak semua biaya memiliki aktivitas atau pemicu konsumsi sumber daya yang
sesuai. Beberapa biaya perlu dialokasikan ke departemen dan produk berdasarkan
pengukuran volume arbiter karena mencari aktivitas yang memicu biaya tidak praktis.
Contohnya, biaya sistem informasi untuk pemeliharaan fasilitas pabrik, gaji manajer
pabrik, asuransi pabrik, dan pajak property pabrik.
2. Pengabaian Biaya
Biaya produk atau jasa yang diidentifikasi oleh sistem ABC, cenderung tidak
memasukkan semua biaya yang terkait dengan produk atau jasa seperti biaya untuk
29
aktivitas pemasaran, riset periklanan, pengembangan dan rekayasa produk. Meskipun
beberapa biaya dapat ditelusur langsung ke produk atau jasa individual. Biaya produk
tidak memasukkan biaya-biaya ini karena prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku
umum (PABU) untuk pelaporan keuanganan mengharuskan biaya tersebut
diperlakukan sebagai biaya periode.
3. Biaya dan Waktu
Salah satu kendala terbesar dalam penerapan ABC adalah besarnya biaya
aplikasi dan lamanya proses implementasi ABC. Hal ini karena ABC bukan masalah
menghitung biaya produk semata, tetapi lebih pada cara manajemen
mengidentifikasikan aktivitas-aktivitas dalam produksi, sumber daya yang
dikonsumsinya, hal-hal yang memicu biaya aktivitas tersebut, dan besarnya biaya
yang terjadi. Mungkin saja terdapat ratusan bahkan ribuan aktivitas yang harus
dilakukan dalam dalam rangka memproduksi satu jenis produk atau jasa. Setiap
aktivitas dapat mengonsusmsi satu, dua, atau bahkan lebih sumber daya. Sumber daya
dapat dikonsumsi oleh lebih dari satu aktivitas misalnya, kelistrikan pabrik.
Kelistrikan digunakan oelh aktivitas mesin pabrik, aktivitas penerangan pabrik, dan
aktivitas pendinginan pabrik. Selain itu, harus ditentikan pula pemicu penggunaan
sumber daya/biaya tersebut. penentuan pemicu aktivitas sangat penting karena
menentukan akurasi alokasi biaya dari aktivitas tersebut. sebuah aktivitas bisa saja
memiliki lebih dari satu pemicu, seperti aktivitas mesin pabrik yang menggunakan
kelistrikan di atas. Perlu diketahui apakah penggunaan biaya dipicu oleh lamanya
mesin menyala, banyaknya kelistrikan yang dikonsumsi, atau lamanya tenaga kerja
langsung bekerja.

O. Manajemen Berdasarkan Aktivitas


Manajemen Berdasarkan Aktivitas (Activity Based Management-ABM) merupakan
suatu metode pengelolaan aktivitas yang bertujuan untuk meningkatkan value (nilai)
produk atau jasa untuk konsumen, meningkatkan daya saing, dan meningkatkan
profitabilitas perusahaan. ABM mengandalkan ABC sebagai sumber informasi utama
yang berfokus pada efisiensi dan efektivitas dari proses dan aktivitas bisnis utama. Dengan
menggunakan manajemen berdasarkan aktivitas, pihak manajemen dapat menentukan
wilayah untuk melakukan perbaikan operasi, menurunkan biaya, atau meningkatkan nilai
bagi pelanggan.

30
Aplikasi ABM dapat dibedakan menjadi dua kategori, yaitu ABM operasional
(operational ABM) dan ABM stategis (strategic ABM).
1. ABM operasional, mengarah pada efisiensi operasi, utilisasi aset, dan penggunaan
biaya yang lebih rendah. Fokusnya adalah mengerjakan sesuatu dengan benar dan
melakukan aktivitas dengan cara yang lebih efisien. Aplikasi ABM menggunakan
teknik-teknik manajemen seperti manajemen aktivitas, perekayasaan proses bisnis
(business process reengineering), manajemen kualitas total (Total Quality
Management-TQM), dan pengukur kinerja.
2. ABM strategis mengarahkan manajemen untuk mendapatkan manfaat dari model
biaya ABC melalui pengendalian biaya dan pembuatan keputusan untuk produk
individual, layanan, dan konsumen. ABM strategis bekerja melalui pengubahan
kombinasi aktivitas menjauhi aplikasi-aplikasi mahal dan tidak menguntungkan
sehingga pendapatan akan lebih besar daripada biaya aktivitas yang dibutuhkan.
Aplikasi ABM strategis menggunakan teknik manajemen seperti desain proses,
analisis profitabilitas pelanggan, dan analisis rantai nilai.

P. Activity Based Costing dan Activity Based Management


Activity Based Costing (ABC) merupakan suatu teknik untuk memahami biaya dan
membatasi biaya dalam produk untuk konsumen. ABC sering disebut sebagai teknik untuk
meningkatkan profitabilitas perusahaan oleh karena itu :
1. Manajemen akan mendapatkan pemahaman mendalam mengenai proses bisnisnya
dan perilaku biaya dalam proses analisis ABC,
2. Manajemen akan mengaplikasikan pandangan yang diperoleh selama menjalankan
proses mendapatkan fakta dalam ABC. Hal tersebut bertujuan untuk meningkatkan
kualitas pengambilan keputusannya. Aktivitas manajemen ini disebut sebagai activity
based management.

ABC merupakan bagian ABM yang digunakan untuk hal-hal berikut :


1. Mendesain produk atau jasa untuk memenuhi bahkan melebihi keinginan konsumen
dan mampu menghasilkan laba yang lebih besar.
2. Memberi tanda untuk melanjutkan atau menghentikan perbaikan kualitas, kecepatan,
dan efisiensi yang berkelanjutan.
3. Mengarahkan penentuan bauran produk dan keputusan investasi.
4. Memilih pemasok.
31
5. Negosiasi produk, fitur, kualitas, dan layanan untuk konsumen.
6. Memanfaatkan proses distribusi dan layanan pada konsumen sasaran secara efisien
dan efektif.
7. Meningkatkan nilai produk dan jasa perusahaan.

Manajer harus menyadari bahwa ABC hanyalah sebuah metode perhitungan biaya
sehingga ia dapat menggunakan ABC seperti yang telah disebutkan. ABC memberikan
pandangannya terkait cara menghasilkan pendapatan secara tidak langsung. Oleh karena
itu, manajer harus dapat memicu permintaan konsumen. Bagian pemasaran harus
mengestimasi berbagai faktor, seperti harga, fungsionalitas, fitur-fitur, dan kenyamanan
yang dapat menciptakan permintaan produk dan jasa perusahaan. Manajer harus dapat
mengombinasi informasi mengenai pemicu biaya dan ketersediaan produk dan permintaan
pasar. Informasi mengenai biaya dapat diperoleh dengan menggunakan metode ABC,
sementara informasi ketersediaan produk dan permintaan pasar diperoleh dari bagian
pemasaran dan penjualan.

32
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Activity Based Costing (ABC) adalah pendekatan penentuan biaya produk yang
membebankan biaya kepada produk atau jasa berdasarkan konsumsi sumber daya yang
disebabkan karena aktivitas. Dasar pemikiran pendekatan penentuan biaya ini adalah
bahwa produk atau jasa perusahaan dilakukan oleh aktivitas dimana aktivitas yang
dibutuhkan tersebut menggunakan sumber daya yang menyebabkan timbulnya biaya.
Sumber daya dibebankan kepada aktivitas, kemudian aktivitas dibebankan kepada objek
biaya berdasarkan penggunaannya. ABC memperkenalkan hubungan sebab akibat antara
Cost driver dengan aktivitas. Banyak perusahaan mengelola aktivitas-aktivitas kedalam
empat kategori untuk memperbaiki penelusuran biaya yaitu : Unit level Activities, Batch
level Activities, Product-Level Activities, Facility Level Activities.
Activity Based Management (ABM) adalah pengelolaan aktivitas untuk
meningkatkan nilai (value) yang diterima oleh pelanggan dan untuk meningkatkan laba
melalui peningkatan nilai (value) tersebut. Dengan Activity Based Management (ABM),
suatu perusahaan dapat melakukan evaluasi baiya dan nilai (value) dari suatu aktivitas
proses sehingga akan terindentifikasi peluang (akan terjadi perbaikan posisi kompetitif)
dan meningkatkan efisiensi proses (Process Improvement).
Metode manajemen biaya yang canggih seperti Activity Based Costing (ABC) dan
Activity Based Management (ABM) banyak diterapkan pada perusahaan-perusahaan
dunia. ABC membantu perusahaan mengurangi distorsi yang disebabkan oleh sistem
penentuan harga pokok tradisional, sehingga dengan ABC dapat diperoleh juga biaya
produk yang lebih akurat. ABC menyediakan pandangan yang lebih jelas mengenai
bagaimana perusahaan membedakan produk, jasa, dan aktivitas yang memberikan
kontribusi dalam jangka panjang. ABM memfokuskan pada pengelolaan aktivitas untuk
meningkatkan efisiensi dan efektivitas bisnis, meningkatkan nilai yang diterima
pelanggan, dan memberikan laba bagi perusahaan.

33
DAFTAR PUSTAKA

Blocher, Edward J., Stout, David E., dan Cokins, Gary. 2014. Manajemen Biaya: Penekanan
Strategis, Edisi 5, Buku 1. Jakarta: Salemba Empat.
Garrison, Ray H., Noreen, Eric W., dan Brewer Peter C. 2016, Akuntansi Manajerial, Edisi Ke
14, buku 1. Jakarta: Salemba Empat,
Hansen, Don R., dan Mowen, Maryanne M. 2009. Akuntansi Manajerial, Edisi 8, Buku 1.
Jakarta: Salemba Empat.
Siregar, Baldric, dkk. 2013. Akuntansi Manajemen. Jakarta: Salemba Empat.

34

Anda mungkin juga menyukai