Anda di halaman 1dari 36

BAB I

STATUS PASIEN

I. IDENTITAS
Nama : Tn. S
Usia : 66 tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Agama : Islam
Alamat : Batu Ampar RT 09/01 No.26 Kec. Kramat Jati
Pendidikan : S1
St. Pernikahan : Menikah
No. RM : 756463

II. ANAMNESIS
Autoanamnesis dengan pasien dilakukan di poliklinik mata RSUD Budhi Asih
tanggal 25 Maret 2011, pukul 11.00 WIB.

Keluhan Utama
Mata kiri sudah tidak bisa melihat sejak 2 tahun ini dan mata kanan menjadi
buram sejak 1 bulan SMRS.

Keluhan Tambahan
Penglihatan berkabut dan silau.

Riwayat Penyakit Sekarang


Os datang dengan keluhan mata kiri sudah tidak bisa melihat sejak 2 tahun
dan penglihatan mata kanan menjadi buram sejak 1 bulan SMRS. Os mengaku
penglihatan mata kiri sudah mulai buram sejak 3 tahun yang lalu, sedangkan

7
penglihatan kanan awalnya dirasa baik-baik saja tetapi lama-lama penglihatan dirasa
seperti berkabut dan mulai mengganggu aktivitas pasien.
Sejak 3 tahun yang lalu, pasien sering mengeluh pandangan menjadi lebih
silau jika keluar rumah pada siang hari atau jika melihat cahaya lampu yang terang.
Pasien menyangkal melihat gambaran pelangi bila melihat cahaya terang tersebut. Os
pernah memeriksakan dirinya ke dokter spesialis mata di RS UKI November 2010
saat Os mengeluh mata kirinya sakit. Mata merah (-), berair (-), gatal (-). Lalu Os
diberi obat sebanyak 2 macam (Os lupa nama obatnya) tanpa diberi tahu oleh dokter
tentang diagnosis penyakitnya, kemudian keluhan menghilang. Kemudian 2 bulan
yang lalu Os check up ke rumah sakit di Condet, saat itu Os sempat mengeluh silau
pada kedua matanya jika melihat cahaya. Sempat didiagnosis katarak dan dikatakan
bahwa Os telat berobat untuk mata kirinya. Pasien mengaku tidak pernah ada riwayat
trauma baik tumpul maupun tajam pada kedua mata.

Riwayat Penyakit Dahulu


Hipertensi (+) tapi tidak rutin kontrol dan minum obat, Diabetes Mellitus (-),
Asthma(-). Os memiliki kacamata baca +2,50D, tetapi tidak menghilangkan keluhan.

Riwayat Penyakit Keluarga


Ayah Os : Hipertensi (+), DM (-), Asthma (-), glaucoma (-). Ibu Os :
Hipertensi (-), DM (-), Asthma (-), Glaukoma (-).

Riwayat Kebiasaan
Merokok (-), alkohol (-), konsumsi obat-obatan tertentu (-).

III. PEMERIKSAAN FISIK


Status Generalis
Keadaan umum/kesadaran : Tampak sakit ringan / compos mentis
Tanda vital
Tekanan darah : 160/80 mmHg

8
Nadi : 84 x/menit
Suhu : afebris
Pernapasan : 20 x/menit
Mata : Lihat status oftalmologis
THT : Dalam batas normal
Cor/Pulmo : Dalam batas normal
Abdomen : Dalam batas normal
Ekstrimitas : Dalam batas normal

STATUS OFTALMOLOGIS
Occuli Dekstra Occuli Sinistra
1/300 Visus 1/300
Ortoforia Kedudukan Bola Eksoforia
Mata
Bola mata baik bergerak Pergerakan Bola Bola mata baik bergerak
kesegala arah Mata kesegala arah
Edema (-), Hematoma (-), Edema (-), Hematoma (-),
Enteropion (-), Ekteropion Palpebra Superior Enteropion (-), Ekteropion
(-), Trikiasis (-), (-), Trikiasis (-),
Distrikiasis (-) Distrikiasis (-)
Edema (-), Hematoma (-), Edema (-), Hematoma (-),
Enteropion (-), Ekteropion Palpebra Inferior Enteropion (-), Ekteropion
(-), Trikiasis (-), (-), Trikiasis (-),
Disthikiasis (-) Disthikiasis (-)
Hiperemis (-), Folikel (-), Konjungtiva Tarsal Hiperemis (-), Folikel (-),
Papil (-), Litiasis (-) Superior Papil (-), Litiasis (-)
Hiperemis (-), Folikel (-), Konjungtiva Tarsal Hiperemis (), Folikel (-),
Papil (-), Litiasis (-) Inferior Papil (-), Litiasis (-)
Injeksi silier (-), Injeksi silier (-),
Injeksi Konjungtiva (-), Konjungtiva Bulbi Injeksi Konjungtiva (-),
Subconjungtival Bleeding Subconjungtival Bleeding
(-), Pinguekula (-), (-), Pinguekula (-),

9
Pterigium (-) Pterigium (-)
Jernih, Arcus Senilis (+) Kornea Jernih, Arcus Senilis (+)
Dalam COA Dalam
Warna cokelat, Kripti baik Iris Warna cokelat, Kripti baik,
Iris tremulans
Tepi reguler, RCL (+), Pupil Tepi reguler, RCL(-),
RCTL (-) RCTL (+)
Keruh, Shadow test (-) Lensa Keruh, Shadow test (-)
Tidak dapat dinilai Vitreus humor Tidak dapat dinilai
Refleks Fundus (-) Funduskopi Refleks Fundus (-)
Papil, Arteri/Vena, Papil, Arteri/Vena,
macula, retina sulit macula, retina sulit
dinilai dinilai
14,1 mmHg TIO 49,2 mmHg

Proyeksi sinar :
OD OS
+ -

+ + - +

+ -
IV. RESUME
Seorang pria, 66 tahun, datang dengan keluhan mata kiri tidak dapat melihat
sejak 2 tahun SMRS dan pandangan mata kanan kabur dan berkabut sejak 1 bulan
SMRS. Awalnya pandangan mata kiri kabur sejak 3 tahun SMRS tetapi semakin lama
pandangan semakin berkabut dan akhirnya menjadi gelap. Mata kanan juga awalnya
dirasakan baik-baik saja, tetapi 1 bulan terakhir keluhan seperti pada mata kiri
muncul. Os sering mengeluh silau pada kedua matanya jika melihat cahaya terang.
Keluhan-keluhan tersebut membuat aktivitas Os menjadi terganggu. Pada riwayat
penyakit dahulu terdapat riwayat hipertensi, dan Os sebelumnya sudah memiliki
kacamata baca +2,50D tetapi hal tersebut tidak menghilangkan keluhan. Pada riwayat

10
penyakit keluarga, terdapat riwayat hipertensi pada ayah Os. Os tidak merokok, tidak
konsumsi alkohol, dan tidak konsumsi obat-obatan tertentu dalam jangka panjang.
Pada pemeriksaan fisik, ditemukan adanya hipertensi, dengan tekanan darah 160/80.
Pada pemeriksaan status oftalmologis, didapatkan kedua lensa tampak keruh, Shadow
test (+). Pada funduskopi tidak ditemukan adanya reflex fundus; papil, arteri/vena,
macula, dan retina sulit dinilai. Dan pada pemeriksaan TIO, didapatkan TIO OS 49,2
mmHg.

V. PEMERIKSAAN PENUNJANG
− Laboratorium darah
− Foto Rőntgen thorax
− EKG
− Konsul Penyakit Dalam

VI. DIAGNOSIS
− Katarak senilis stadium matur OD
− Glaukoma Sekunder OS e.c Katarak senilis stadium hipermatur

VII. PENATALAKSANAAN
− Bedah katarak : Phacoemulsifikasi + IOL OD
− Cendo Timol 0,5 % OS 2x1 tetes
− Cendo Carpine 2 % OS 4x1 tetes

VIII. PROGNOSIS
− Katarak senilis stadium matur OD
Ad vitam : Bonam
Ad fungtionam : Dubia ad bonam
Ad sanationam : Dubia ad bonam
− Glaukoma Sekunder OS e.c Katarak senilis hipermatur

11
Ad vitam : Bonam
Ad fungtionam : Malam
Ad sanationam : Dubia ad malam

ANALISA KASUS

Pada pasien ini saya tegakkan diagnosa kerja katarak senilis stadium matur
OD berdasarkan :
1. Usia pasien yaitu lebih dari 50 tahun.

12
2. Autoanamnesa didapatkan, pasien mengeluh penglihatan pada mata
kanan kabur seperti berkabut. Keluhan ini dirasakan pasien awalnya
kabut terlihat sedikit yang semakin lama semakin tebal. Hal ini sesuai
dengan teori, dimana pasien dengan katarak mengeluh penglihatan
berkabut, berasap, tajam penglihatan menurun.
3. Pada pemeriksaan oftalmologi didapatkan mata kanan visus 1/300.
Lensa keruh, Shadow test (-), reflex fundus (-), papil, arteri/vena,
macula, retina sulit dinilai.
Pasien ini didiagnosa dengan glaukoma sekunder OS e.c katarak hipermatur
karena pada pemeriksaan didapatkan adanya katarak hipermatur OS, pupil lebar,
edema kornea OS, tekanan intra ocular yang meningkat dan gangguan lapang
pandang. Lensa berwarna kecoklatan di bagian bawah. Hal ini sesuai teori karena
pada stadium hipermatur korteks lensa yang konsistensinya seperti bubur telah
mencair, sehingga nucleus lensa karena daya berat terdorong ke bawah yang tampak
melalui pupil sebagai tengah lingkaran di bagian bawah dengan warna yang lain
dibanding atas.
Prognosis ad vitam bonam, karena katarak tidak mengancam jiwa. Prognosis
ad fungtionam dan ad sanationam malam karena pasien juga menderita glaukoma
sekunder dengan no light perception pada mata kiri sehingga diduga telah terjadi
papil atrofi. Pembedahan merupakan solusi terbaik untuk mengobati katarak dengan
angka keberhasilan mencapai + 95 %. Sampai saat ini belum ditemukan obat yang
dapat menghilangkan, mengurangi atau memperlambat perkembangan katarak senilis.

BAB II
PENDAHULUAN

Katarak adalah perubahan lensa mata yang semula jernih dan tembus cahaya
menjadi keruh, sehingga cahaya sulit mencapai retina akibatnya penglihatan menjadi

13
kabur. Katarak terjadi secara perlahan-lahan sehingga penglihatan penderita
terganggu secara berangsur. Katarak tidak menular dari satu mata ke mata lain, tetapi
katarak dapat terjadi pada kedua mata pada waktu yang tidak bersamaan.Perubahan
ini dapat terjadi karena proses degenerasi atau ketuaan (jenis katarak ini paling sering
dijumpai), trauma mata, infeksi penyakit tertentu (Diabetes Mellitus). Katarak dapat
terjadi pula sejak lahir (cacat bawaan), karena itu katarak dapat dijumpai pada usia
anak-anak maupun dewasa.
Data badan kesehatan PBB (WHO) menyebutkan penderita kebutaan di dunia
mencapai 38 juta orang, 48% di antaranya disebabkan katarak. Untuk Indonesia,
survei pada 1995/1996 menunjukkan prevalensi kebutaan mencapai 1,5% dengan
0,78% di antaranya disebabkan oleh katarak, dan yang terbesar karena katarak senilis/
ketuaan.
Selain penglihatan yang semakin kabur dan tidak jelas, tanda-tanda awal
terjadinya katarak antara lain merasa silau terhadap cahaya matahari, perubahan
dalam persepsi warna, dan daya penglihatan berkurang hingga kebutaan. Katarak
biasanya terjadi dengan perlahan dalam waktu beberapa bulan. Daya penglihatan
yang menurun mungkin tidak disadari karena merupakan perubahan yang
berperingkat (progresif). Menurut Istiantoro, katarak hampir tidak bisa dicegah
karena merupakan proses penuaan sel.
Meskipun tergolong penyakit menakutkan, operasi katarak membutuhkan
waktu relatif singkat yaitu 30-40 menit saja. Bahkan, teknologi kedokteran terbaru
memungkinkan pembiusan dilakukan melalui tetes mata saja. Sehingga banyak orang
keliru menganggap katarak bisa diobati hanya menggunakan obat tetes mata.
Operasi katarak merupakan operasi yang mudah dan aman bagi kebanyakan
orang. Namun, sama seperti operasi lain, operasi katarak dapat menimbulkan
komplikasi seperti pendarahan dan kerusakan pada kornea atau retina yang
memerlukan pembedahan lebih lanjut.

14
BAB III
PEMBAHASAN

III.1 LENSA
III.1.1 Anatomi Lensa

15
Pada manusia, lensa mata bikonveks, tidak mengandung pembuluh darah,
transparan, dengan diameter 9 mm, dan tebal sekitar 5 mm. Lensa terdiri dari kapsul,
epitel lensa, korteks dam nucleus.

Gambar 1. Anatomi Lensa

Ke depan, lensa berhubungan dengan cairan bilik mata, ke belakang


berhubungan dengan badan kaca. Di belakang iris, lensa digantung pada prosesus
siliaris oleh zonula Zinii (ligamentum suspensorium lentis), yang melekat pada
ekuator lensa, serta menghubungkannya dengan korpus siliare. Zonula Zinni berasal
dari lamina basal epitel tidak berpigmen prosesus siliare. Zonula Zini melekat pada
bagian ekuator kapsul lensa, 1,5 mm pada bagian anterior dan 1,25 pada bagian
posterior.
Permukaan lensa pada bagian posterior lebih cembung daripada permukaan
anterior. Di sebelah anterior lensa terdapat humor akuous dan di sebelah posteriornya
korpus vitreus. Lensa diliputi oleh kapsula lentis, yang bekerja sebagai membran
semipermeabel, yang melalukan air dan elektrolit untuk makanannya. Di bagian
anterior terdapat epitel subkapsuler sampai ekuator.

16
Gambar 2. Lapisan Lensa

Di kapsul anterior depan terdapat selapis epitel subkapsular. Epitel ini


berperan dalam proses metabolisme dan menjaga sistem normal dari aktivitas sel,
termasuk biosintesa dari DNA, RNA, protein dan lipid.
Substansi lensa terdiri dari nukleus dan korteks, yang terdiri dari lamel-lamel
panjang yang konsentris. Nukleus lensa lebih keras daripada korteksnya. Sesuai
dengan bertambahnya usia, serat-serat lamellar subepitel terus diproduksi, sehingga
lensa lama-kelamaan menjadi lebih besar dan kurang elastik. Nukleus dan korteks
terbentuk dari lamellae konsentris yang panjang. Tiap serat mengandung inti, yang
pipih dan terdapat di bagian pinggir lensa dekat ekuator, yang berhubungan dengan
epitel subkapsuler. Serat-serat ini saling berhubungan di bagian anterior. Garis-garis
persambungan yang terbentuk dengan persambungan lamellae ini ujung-ke-ujung
berbentuk {Y} bila dilihat dengan slitlamp. Bentuk {Y} ini tegak di anterior dan
terbalik di posterior (huruf Y yang terbalik).
Sebanyak 65% bagian dari lensa terdiri dari air, sekitar 35% protein
(kandungan protein tertinggi di antara jaringan-jaringan tubuh), dan sedikit sekali
mineral yang biasa ada di jaringan tubuh lainnya. Protein lensa terdiri dari water
soluble dan water insoluble. Water soluble merupakan protein intraseluler yang
terdiri dari alfa (α), beta (β) dan delta (δ) kristalin, sedang yang termasuk
dalam water insoluble adalah urea soluble dan urea insoluble. Kandungan kalium

17
lebih tinggi di lensa daripada di kebanyakan jaringan lain. Seperti telah disinggung
sebelumnya, tidak ada serat nyeri, pembuluh darah atau saraf di lensa.

III.1.2 Embriologi Lensa


Mata berasal dari tonjolan otak (optic vesicle). Lensanya berasal dari
ektoderm permukaan pada tempat lensplate, yang kemudian mengalami invaginasi
dan melepaskan diri dari ektoderm permukaan membentuk vesikel lensa dan bebas
terletak di dalam batas-batas dari optic cup. Segera setelah vesikel lensa terlepas dari
ektoderm permukaan, maka sel-sel bagian posterior memanjang dan menutupi bagian
yang kososng. Pada stadium ini, kapsul hialin dikeluarkan oleh sel-sel lensa. Serat-
serat sekunder memanjangkan diri, dari daerah ekuator dan tumbuh ke depan di
bawah epitel subkapsuler, yang hanya selapis dan ke belakang di bawah kapsula
lentis. Serat-serat ini saling bertemu dan membentuk sutura lentis, yang berbentuk
huruf Y yang tegak di anterior dan Y yang terbalik di posterior. Pembentukan lensa
selesai pada usia 7 bulan penghidupan foetal. Inilah yang membentuk substansi lensa,
yang terdiri dari korteks dan nukleus. Pertumbuhan dan proliferasi dari serat-serat
sekunder berlangsung terus selama hidup tetapi lebih lambat, karenanya lensa
menjadi bertambah besar lambat-lambat. Kemudian terjadi kompresi dari serat-serat
tersebut dengan disusul oleh proses sklerosis.

III.1.3Fungsi Lensa
Fungsi utama lensa adalah memfokuskan berkas cahaya ke retina. Supaya hal
ini dapat dicapai, maka daya refraksinya harus diubah-ubah sesuai dengan sinar yang
datang sejajar atau divergen. Perubahan daya refraksi lensa disebut akomodasi. Hal
ini dapat dicapai dengan mengubah lengkungnya lensa terutama kurvatura anterior.
Untuk memfokuskan cahaya yang datang dari jauh, otot-otot siliaris relaksasi,
menegangkan serat zonula dan memperkecil diameter anteroposterior lensa sampai
ukurannya yang terkecil; dalam posisi ini, daya refraksi lensa diperkecil sehingga
berkas cahaya pararel akan terfokus ke retina. Untuk memfokuskan cahaya dari benda
dekat, otot siliaris berkontraksi sehingga tegangan zonula berkurang. Kapsul lensa

18
yang elastik kemudian mempengaruhi lensa menjadi lebih sferis diiringi oleh daya
biasnya. Kerjasama fisiologik antara korpus siliaris, zonula dan lensa untuk
memfokuskan benda dekat ke retina dikenal sebagai akomodasi. Seiring dengan
pertambahan usia, kemampuan refraksi lensa perlahan-lahan akan berkurang.
Secara fisiologis lensa mempunyai sifat tertentu, yaitu : kenyal atau lentur
karena memegang peranan terpenting dalam akomodasi untuk menjadi cembung;
jernih atau transparan karena diperlukan sebagai media penglihatan; terletak di
tempatnya. Lensa dapat merefraksikan cahaya karena indeks refraksinya, secara
normal sekitar 1,4 pada bagian tengah dan 1,36 pada bagian perifer yang berbeda dari
aqueous dan vitreous humor yang mengelilinginya. Pada keadaan tidak
berakomodasi, lensa memberikan kontribusi 15-20 D dari sekitar 60 D seluruh
kekuatan refraksi bola mata manusia. Sisanya, sekitar 40 D kekuatan refraksi
diberikan oleh udara dan kornea.
Pada foetus, bentuk lensa hampir sferis dan lemah. Pada orang dewasa
lensanya lebih padat dan bagian posterior lebih konveks. Proses sklerosis bagian
sentral lensa, dimulai pada masa kanak-kanak dan terus berlangsung secara perlahan-
lahan sampai dewasa dan setelah ini proses bertambah cepat dimana nukleus menjadi
lebih besar dan korteks bertambah tipis. Pada orang tua lensa menjadi lebih besar,
lebih gepeng, warna kekuning-kuningan, kurang jernih dan tampak sebagai “grey
reflex” atau “senile reflex”, yang sering disangka katarak, padahal salah. Karena
proses sklerosis ini, lensa menjadi kurang elastis dan daya akomodasinya pun
berkurang. Keadaan ini disebut presbiopia, pada orang Indonesia dimulai pada umur
40 tahun.

III.1.4Pemeriksaan Lensa
Pemeriksaan lensa dilakukan dengan menentukan visus, pemeriksaan dengan
lampu biasa, penyinaran fokal, slitlamp, oftalmoskop pada pupil yang dilebarkan
dahulu.
III.2 KATARAK
III.2.1 Definisi

19
Katarak adalah kelainan pada lensa berupa kekeruhan lensa yang
menyebabkan tajam penglihatan penderita berkurang. Kata katarak berasal dari
Yunani “katarraktes”, atau dalam bahasa Inggris (Cataract) dan Latin (Cataracta)
yang berarti air terjun, karena pada awalnya katarak dipikirkan sebagai cairan yang
mengalir dari otak ke depan lensa.
Katarak adalah setiap keadaan kekeruhan (opasitas) pada lensa yang tidak
dapat menggambarkan obyek dengan jelas di retina, yang dapat terjadi akibat hidrasi
(penambahan cairan) lensa, denaturasi protein lensa atau kedua-duanya.

Gambar 3. Perbandingan lensa normal


dengan lensa yang terkena katarak

III.2.2 Epidemiologi

Berbagai studi cross-sectional melaporkan prevalensi katarak pada individu


berusia 65-74 tahun adalah sebanyak 50% dan meningkat hingga 70% pada individu
di atas 75 tahun.
Diperkirakan 5-10 juta individu mengalami kerusakan penglihatan akibat
katarak setiap tahun (Newell, 1986). Di USA sendiri ada 300. 000 – 400.000
ekstraksi mata tiap tahunnya. Insiden tertinggi pada katarak terjadi pada populasi
yang lebih tua.

20
Diketahui kebutaan di Indonesia berkisar 1,5 % dari jumlah penduduk
Indonesia. Dari angka tersebut presentasi angka kebutaan utama ialah :
- Katarak 0,78 %
- Kelainan kornea 0,13 %
- Penyakit glaukoma 0,20 %
- Kelainan refraksi 0,14 %
- Kelainan retina 0,03 %
- Kelainan nutrisi 0,02 %

III.2.3 Etiologi
a. Penyebab paling banyak adalah akibat proses lanjut usia/
degenerasi, yang mengakibatkan lensa mata menjadi keras dan
keruh.
b. Dipercepat oleh faktor lingkungan, seperti merokok, sinar
ultraviolet, alkohol, kurang vitamin E,radang menahun dalam bola
mata, polusi asap motor/pabrik karena mengandung timbal.
c. Cedera mata, misalnya pukulan keras, tusukan benda, panas yang
tinggi, bahan kimia yang merusak lensa.
d. Peradangan/infeksi pada saat hamil, penyakit yang diturunkan.
e. Penyakit infeksi tertentu dan penyakit metabolik misalnya diabetes
mellitus.
f. Obat-obat tertentu (misalnya kortikosteroid, klorokuin,
klorpromazin, ergotamine, pilokarpin)

III.2.4 Patofisiologi
Patogenesis katarak belum sepenuhnya dimengerti. Walaupun demikian, pada
lensa katarak secara karakteristik terdapat agregat-agregat protein yang
menghamburkan berkas cahaya dan mengurangi transparaninya. Perubahan protein
lainnya akan mengakibatkan perubahan warna lensa menjadi kuning atau coklat.
Temuan tambahan mungkin berupa vesikel di antara serat-serat lensa atau migrasi sel

21
epitel dan pembesaran sel-sel epitel yang menyimpang. Sejumlah faktor yang diduga
turut berperan dalam terbentuknya katarak, antara lain kerusakan oksidatif (dari
proses radikal bebas), sinar ultraviolet dan malnutrisi.
Secara umum ada dua proses patogenesis katarak, yaitu :
1. Hidrasi
Terjadi penimbunan komposisi ionik pada korteks lensa dan penimbunan
cairan di antara celah-celah serabut lensa
2. Sklerosis
Serabut-serabut lensa yang terbentuk lebih dahulu akan terdorong ke arah
tengah sehingga bagian tengah menjadi lebih padat (yang disebut nucleus),
mengalami dehidrasi serta penimbunan kalsium dan pigmen

III.2.5 Klasifikasi
Katarak dapat diklasifikasikan menurut beberapa aspek, yaitu :
1. Berdasarkan usia :
a.Katarak kongenital ( terlihat pada usia dibawah 1 tahun )
b. Katarak juvenil ( terlihat sesudah usia 1 tahun )
c.Katarak senile ( setelah usia 50 tahun )
2. Menurut lokasi kekeruhan lensa :
a. Nuklear
b. Kortikal
c. Subkapsular (posterior/anterior)  jarang
3. Menurut derajat kekeruhan lensa :
a.Insipien
b. Imatur
c.Matur
d. Hipermatur
4. Menurut kecepatan perkembangannya :
a.Stationary
b. Progressive

22
5. Menurut penampakan biomikroskopis :
a.Lamellar
b. Coralliform
c.Pungtata
6. Menurut etiologi :
a.Katarak primer
b. Katarak sekunder
7. Menurut konsistensinya :
a.Katarak lunak
b. Katarak keras

III.2.6 Katarak Berdasarkan Usia


a. Katarak Kongenital
Katarak Kongenital katarak yang mulai terjadi sebelum atau segera setelah
lahir dan bayi berusia kurang dari 1 tahun. Kekeruhan sebagian pada lensa yang
sudah didapatkan pada waktu lahir umumnya tidak meluas dan jarang sekali
mengakibatkan keruhnya seluruh lensa. Letak kekeruhan tergantung pada saat
mana terjadi gangguan pada kehidupan janin.
Dibagi menjadi 2 jenis :
a. Katarak kapsulolentikular
Katarak yang mengenai kapsul dan korteks.
b. Katarak lentikular
Katarak yang mengenai korteks atau nukleus saja, tanpa disertai kekeruhan
kapsul. Dalam kategori ini termasuk kekeruhan lensa yang timbul sebagai
kejadian primer atau berhubungan dengan penyakit ibu dan janin lokal atau
umum.

Katarak kongenital dapat dalam bentuk katarak lamelar atau zonular, katarak
polaris posterior (piramidalis posterior, kutub posterior), polaris anterior

23
(piramidalis anterior, kutub anterior), katarak inti (katarak nuklearis), dan katarak
sutural.
• Katarak Lamelar atau Zonular
Di dalam perkembangan embriologik permulaan terdapat
perkembangan serat lensa maka akan terlihat bagian lensa sentral yang lebih
jernih. Kemudian terdapat serat lensa keruh dalam kapsul lensa. Kekeruhan
berbatas tegas dengan bagian perifer tetap bening. Katarak lamelar ini
mempunyai sifat herediter dan ditransmisi secara dominan, katarak biasanya
bilateral.
Katarak zonular terlihat segera sesudah bayi lahir. Kekeruhan dapat
menutupi seluruh celah pupil, bila tidak dilakukan dilatasi pupil sering dapat
mengganggu penglihatan.
Gangguan penglihatan pada katarak zonular tergantung pada derajat
kekeruhan lensa. Bila kekeruhan sangat tebal sehingga fundus tidak dapat
terlihat pada pemeriksaan oftalmoskopi maka perlu dilakukan aspirasi dan
irigasi lensa.
• Katarak Polaris Posterior
Katarak polaris posterior disebabkan menetapnya selubung vaskular
lensa. Kadang-kadang terdapat arteri hialoid yang menetap sehingga
mengakibatkan kekeruhan pada lensa bagian belakang. Pengobatannya
dengan melakukan pembedahan lensa.
• Katarak Polaris Anterior
Gangguan terjadi pada saat kornea belum seluruhnya melepaskan
lensa dalam perkembangan embrional. Hal ini juga mengakibatkan
terlambatnya pembentukan bilik mata depan pada perkembangan embrional.
Pada kelainan yang terdapat di dalam bilik mata depan yang menuju kornea
sehingga memperlihatkan bentuk kekeruhan seperti piramid. Katarak polaris
anterior berjalan tidak progresif.

24
Pengobatan sangat tergantung keadaan kelainan. Bila sangat
mengganggu tajam penglihatan atau tidak terlihatnya fundus pada
pemeriksaan oftalmoskopi maka dilakukan pembedahan.
• Katarak Nuklear
Katarak semacam ini jarang ditemukan dan tampak sebagai bunga
karang. Kekeruhan terletak di daerah nukleus lensa. Sering hanya merupakan
kekeruhan berbentuk titik-titik.
Gangguan terjadi pada waktu kehamilan 3 bulan pertama. Biasanya
bilateral dan berjalan tidak progresif, biasanya herediter dan bersifat dominan.
Tidak mengganggu tajam penglihatan. Pengobatan, bila tidak mengganggu
tajam penglihatan maka tidak memerlukan tindakan.
• Katarak Sutural
Katarak sutural merupakan kekeruhan lensa pada daerah sutura fetal,
bersifat statis, terjadi bilateral dan familial.
Karena letak kekeruhan ini tidak tepat mengenai media penglihatan
maka ia tidak akan mengganggu penglihatan. Biasanya tidak dilakukan
tindakan.
b. Katarak Juvenil
Katarak juvenil adalah katarak yang lunak dan terdapat pada orang muda,
yang mulai terbentuknya pada usia lebih dari 1 tahun dan kurang dari 50 tahun.
Merupakan katarak yang terjadi pada anak-anak sesudah lahir yaitu kekeruhan
lensa yang terjadi pada saat masih terjadi perkembangan serat-serat lensa
sehingga biasanya konsistensinya lembek seperti bubur dan disebut sebagai soft
cataract. Biasanya katarak juvenil merupakan bagian dari suatu gejala penyakit
keturunan lain. Pembedahan dilakukan bila kataraknya diperkirakan akan
menimbulkan ambliopia.
Tindakan untuk memperbaiki tajam penglihatan ialah pembedahan.
Pembedahan dilakukan bila tajam penglihatan seduah mengganggu pekerjaan
sehari-hari. Hasil tindakan pembedahan sangat bergantung pada usia penderita,
bentuk katarak apakah mengenai seluruh lensa atau sebagian lensa apakah disertai

25
kelainan lain pada saat timbulnya katarak, makin lama lensa menutupi media
penglihatan menambah kemungkinan ambliopia.
c. Katarak Senil
Katarak senil adalah semua kekeruhan lensa yang terdapat pada usia lanjut,
yaitu usia di atas 50 tahun kadang-kadang pada usia 40 tahun. Perubahan yang
tampak ialah bertambah tebalnya nukleus dengan berkembangnya lapisan korteks
lensa. Secara klinis, proses ketuaan lensa sudah tampak sejak terjadi pengurangan
kekuatan akomodasi lensa akibat mulai terjadinya sklerosis lensa yang timbul
pada usia dekade 4 dalam bentuk keluhan presbiopia.
Dikenal 3 bentuk katarak senil, yaitu katarak nuklear, kortikal, dan
subkapsular posterior.
• Katarak Nuklear
Inti lensa dewasa selama hidup bertambah besar dan menjadi sklerotik.
Lama kelamaan inti lensa yang mulanya menjadi putih kekuningan menjadi
cokelat dan kemudian menjadi kehitaman. Keadaan ini disebut katarak
brunesen atau nigra.

Gambar 4. Katarak Nuklear


• Katarak Kortikal
Pada katarak kortikal terjadi penyerapan air sehingga lensa menjadi
cembung dan terjadi miopisasi akibat perubahan indeks refraksi lensa. Pada

26
keadaan ini penderita seakan-akan mendapatkan kekuatan baru untuk melihat
dekat pada usia yang bertambah.

Gambar 5. Katarak Kortikal

• Katarak Subkapsular Posterior


Katarak subkapsular posterior ini sering terjadi pada usia yang lebih muda
dibandingkan tipe nuklear dan kortikal. Katarak ini terletak di lapisan
posterior kortikal dan biasanya axial. Indikasi awal adalah terlihatnya
gambaran halus seperti pelangi dibawah slit lamp pada lapisan posterior
kortikal. Pada stadium lanjut terlihat granul dan plak pada korteks subkapsul
posterior ini. Gejala yang dikeluhkan penderita adalah penglihatan yang silau
dan penurunan penglihatan di bawah sinar terang. Dapat juga terjadi
penurunan penglihatan pada jarak dekat dan terkadang beberapa pasien juga
mengalami diplopia monokular.

Gambar 6. Katarak Subkaspular Posterior

27
Katarak Senil dapat dibagai atas 4 stadium :
1) Katarak Insipien
Kekeruhan yang tidak teratur seperti bercak-bercak yang membentuk
gerigi dasar di perifer dan daerah jernih membentuk gerigi dengan dasar di
perifer dan daerah jernih di antaranya. Kekeruhan biasanya teletak di
korteks anterior atau posterior. Kekeruhan ini pada umumnya hanya
tampak bila pupil dilebarkan.
Pada stadium ini terdapat keluhan poliopia karena indeks refraksi yang
tidak sama pada semua bagian lensa. Bila dilakukan uji bayangan iris akan
positif.
2) Katarak Imatur
Pada stadium yang lebih lanjut, terjadi kekeruhan yang lebih tebal
tetapi tidak atau belum mengenai seluruh lensa sehingga masih terdapat
bagian-bagian yang jernih pada lensa.
Pada stadium ini terjadi hidrasi korteks yang mengakibatkan lensa
menjadi bertambah cembung. Pencembungan lensa ini akan memberikan
perubahan indeks refraksi dimana mata akan menjadi miopik.
Kecembungan ini akan mengakibatkan pendorongan iris ke depan
sehingga bilik mata depan akan lebih sempit.
Pada stadium intumensen ini akan mudah terjadi penyulit glaukoma.
Uji bayangan iris pada keadaan ini positif.
3) Katarak Matur
Bila proses degenerasi berjalan terus maka akan terjadi pengeluaran air
bersama-sama hasil disintegrasi melalui kapsul. Di dalam stadium ini
lensa akan berukuran normal. Iris tidak terdorong ke depan dan bilik mata
depan akan mempunyai kedalaman normal kembali. Kadang pada stadium
ini terlihat lensa berwarna sangat putih akibat perkapuran menyeluruh
karena deposit kalsium. Bila dilakukan uji bayangan iris akan terlihat
negatif.

28
Gambar 7. Katarak Matur

4) Katarak Hipermatur
Merupakan proses degenerasi lanjut lensa sehingga korteks mengkerut
dan berwarna kuning. Akibat pengeriputan lensa dan mencairnya korteks,
nukleus lensa tenggelam ke arah bawah (katarak morgagni). Lensa yang
mengecil akan mengakibatkan bilik mata menjadi dalam. Uji bayangan
iris memberikan gambaran pseudopositif.
Akibat masa lensa yang keluar melalui kapsul lensa dapat
menimbulkan penyulit berupa uveitis fakotoksik atau glaukom fakolitik.

Gambar 8. Katarak Hipermatur

29
Tabel 1. Perbedaan Stadium Katarak Senilis
Insipien Imatur Matur Hipermatur
Visus 6/6 ↓ (6/6 – 1/60) ↓↓ (1/300-1/~) ↓↓ (1/300-1/~)
Kekeruhan Ringan Sebagian Seluruh Masif
Cairan Lensa Normal Bertambah Normal Berkurang
Iris Normal Terdorong Normal Tremulans
Bilik Mata Depan Normal Dangkal Normal Dalam
Sudut Bilik Mata Normal Sempit Normal Terbuka
Shadow Test Negatif Positif Negatif Pseudopositif
Penyulit - Glaukoma - Uveitis + Glaukoma

III.2.7 Katarak Berdasarkan Etiologi


a. Katarak Primer
Katarak primer merupakan katarak yang terjadi karena proses penuaan atau
degenerasi, bukan karena penyebab yang lain, seperti penyakit sistemik atau
metabolik, traumatik, toksik, radiasi dan kelainan kongenital.

b. Katarak Sekunder
1. Katarak Metabolik
Katarak metabolik atau disebut juga katarak akibat penyakit sistemik,
terjadi bilateral karena berbagai gangguan sistemik berikut ini : diabetes
melitus, hipokalsemia (oleh sebab apapun), defisiensi gizi, distrofi miotonik,
dermatitis atopik, galaktosemia, dan sindrom Lowe, Werner, serta Down.
2. Katarak Traumatik
Katarak traumatik paling sering disebabkan oleh trauma benda asing
pada lensa atau trauma tumpul pada bola mata. Peluru senapan angin dan
petasan merupakan penyebab yang sering; penyebab lain yang lebih jarang
adalah anak panah, batu, kontusio, pajanan berlebih terhadap panas
(glassblower’s cataract), dan radiasi pengion. Di dunia industri, tindakan
pengamanan terbaik adalah sepasang kacamata pelindung yang bermutu baik.
Lensa menjadi putih segera setelah masuknya benda asing karena
lubang pada kapsul lensa menyebabkan humor aqueous dan kadang-kadang
vitreus masuk ke dalam struktur lensa. Pasien sering kali adalah pekerja

30
industri yang pekerjaannya memukulkan baja ke baja lain. Sebagai contoh,
potongan kecil palu baja dapat menembus kornea dan lensa dengan kecepatan
yang sangat tinggi lalu tersangkut di vitreus atau retina.
3. Katarak Komplikata
Penyakit intraokular atau penyakit di bagian tubuh yang lain dapat
menimbulkan katarak komplikata. Penyakit intraokular yang sering
menyebabkan kekeruhan pada lensa ialah iridosiklitis, glukoma, ablasi retina,
miopia tinggi dan lain-lain. Katarak-katarak ini biasanya unilateral.
Pada uveitis, katarak timbul pada subkapsul posterior akibat gangguan
metabolisme lensa bagian belakang. Kekeruhan juga dapat terjadi pada tempat
iris melekat dengan lensa (sinekia posterior) yang dapat berkembang
mengenai seluruh lensa.
Glaukoma pada saat serangan akut dapat mengakibatkan gangguan
keseimbangan cairan lensa subkapsul anterior. Bentuk kekeruhan ini berupa
titik-titik yang tersebar sehingga dinamakan katarak pungtata subkapsular
diseminata anterior atau dapat disebut menurut penemunya katarak Vogt.
Katarak ini bersifat reversibel dan dapat hilang bila tekanan bola mata sudah
terkontrol.
Ablasio dan miopia tinggi juga dapat menimbulkan katarak komplikata.
Pada katarak komplikata yang mengenai satu mata dilakukan tindakan bedah
bila kekeruhannya sudah mengenai seluruh bagian lensa atau bila penderita
memerlukan penglihatan binokular atau kosmetik.
Jenis tindakan yang dilakukan ekstraksi linear atau ekstraksi lensa
ekstrakapsular. Iridektomi total lebih baik dilakukan dari pada iridektomi
perifer.
Katarak yang berhubungan dengan penyakit umum mengenai kedua mata,
walaupun kadang-kadang tidak bersamaan. Katrak ini biasanya btimbul pada
usia yang lebih muda. Kelainan umum yang dapat menimbulkan katarak
adalah diabetes melitus, hipoparatiroid, miotonia distrofia, tetani infantil dan
lain-lain.

31
Diabetes melitus menimbulkan katarak yang memberikan gambaran khas
yaitu kekeruhan yang tersebar halus seperti tebaran kapas di dalam masa
lensa.
Pada hipoparatiroid akan terlihat kekeruhan yang mulai pada dataran
belakang lensa, sedang pada penyakit umum lain akan terlihat tanda
degenerasi pada lensa yang mengenai seluruh lapis lensa.
4. Katarak Toksik
Katarak toksik atau disebut juga katarak terinduksi obat, seperti obat
kortikosteroid sistemik ataupun topikal yang diberikan dalam waktu lama,
ergot, naftalein, dinitrofenol, triparanol, antikolinesterase, klorpromazin,
miotik, busulfan. Obat-obat tersebut dapat menyebabkan terjadinya kekeruhan
lensa.
5. Katarak Ikutan (membran sekunder)
Katarak ikutan merupakan kekeruhan kapsul posterior yang terjadi
setelah ekstraksi katarak ekstrakapsular akibat terbentuknya jaringan fibrosis
pada sisa lensa yang tertinggal, paling cepat keadaan ini terlihat sesudah 2 hari
pasca ekstraksi ektrakapsular. Epitel lensa subkapsular yang tersisa mungkin
menginduksi regenerasi serat-serat lensa, memberikan gambaran telur ikan
pada kapsul posterior (mutiara Elschnig). Lapisan epitel berproliferasi tersebut
dapat membentuk banyak lapisan dan menimbulkan kekeruhan yang jelas.
Sel-sel ini mungkin juga mengalami diferensiasi miofibroblastik. Kontraksi
serat-serat tersebut menimbulkan banyak kerutan kecil di kapsulposterior,
yang menimbulkan distorsi penglihatan. Semua faktor ini dapat menyebabkan
penurunan ketajaman penglihatan setelah ekstraksi katarak ekstrakapsular.
Katarak ikutan merupakan suatu masalah besar pada hampir semua
pasien pediatrik, kecuali bila kapsul posterior dan vitreus anterior diangkat
pada saat operasi. Dulu, hingga setengah dari semua pasien dewasa
mengalami kekeruhan kapsul posterior setelah mengalami ekstraksi katarak
ekstrakapsular. Namun, tehnik bedah yang semakin berkembang dan materi

32
lensa intraokular yang baru mampu mengurangi insiden kekeruhan kapsul
posterior secara nyata.

III.2.8 Gejala Klinis


Katarak berkembang secara perlahan dan tidak menimbulkan nyeri disertai
gangguan penglihatan yang muncul secara bertahap.
a) Penglihatan kabur dan berkabut
b) Fotofobia
c) Penglihatan ganda
d) Kesulitan melihat di waktu malam
e) Sering berganti kacamata
f) Perlu penerangan lebih terang untuk membaca
g) Seperti ada titik gelap didepan mata

Gambar 9. Perbedaan mata sehat dengan mata katarak

Gejala klinis katarak menurut tempat terjadinya sesuai anatomi lensa :


a. Katarak Inti/Nuclear

33
• Menjadi lebih rabun jauh sehingga mudah melihat dekat, dan
untuk melihat dekat melepas kaca mata nya
• Penglihatan mulai bertambah kabur atau lebih menguning ,
lensa akan lebih coklat
• Menyetir malam silau dan sukar
b. Katarak Kortikal
• Kekeruhan putih dimulai dari tepi lensa dan berjalan ketengah
sehingga mengganggu penglihatan
• Penglihatan jauh dan dekat terganggu
• Penglihatan merasa silau dan hilangnya penglihatan kontra
c. Katarak Subscapular
• Kekeruhan kecil mulai dibawah kapsul lensa, tepat jalan sinar
masuk
• Dapat terlihat pada kedua mata
• Mengganggu saat membaca
• Memberikan keluhan silau dan ”halo” atau warna sekitar
sumber cahaya
• Mengganggu penglihatan

III.2.9 Diagnosis
Diagnosis katarak dapat ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan
oftalmologi.
a. Anamnesis
Pada anamnesis didapatkan adanya keluhan yang merupakan gejala
utama yaitu : Penglihatan yang berangsur-angsur memburuk atau berkurang
dalam beberapa bulan atau tahun merupakan gejala utama. Penurunan
ketajaman penglihatan secara progresif (gejala utama katarak). Mata tidak
merasa sakit, gatal atau merah. Gambaran umum gejala katarak yang lain,
yaitu : berkabut, berasap, penglihatan tertutup film. Perubahan daya lihat

34
warna. Gangguan mengendarai kendaraan pada malam hari, lampu besar
sangat menyilaukan mata. Lampu dan matahari sangat mengganggu karena
silau. Sering meminta ganti resep kacamata. Penglihatan ganda. Menjadi baik
untuk melihat dekat pada pasien rabun dekat (hipermetropia).
b. Pemeriksaan oftalmologi
- Pemeriksaan visus atau ketajaman penglihatan
- Melihat lensa melalui senter tangan, kaca pembesar
Dengan penyinaran miring (45o dari poros mata) dapat dinilai kekeruhan
lensa dengan mengamati lebar pinggir iris pada lensa yang keruh (iris
shadow). Bila letak bayangan jauh dan besar berarti kataraknya imatur,
sedang bayangan kecil dan dekat dengan pupil terjadi pada katarak matur.
- Slit lamp
Pemeriksaan dengan menggunakan slit lamp tidak hanya ditujukan untuk
melihat adanya kekeruhan pada lensa, tetapi juga untuk melihat struktur
okular yang lain seperti konjungtiva, kornea, iris dan segmen anterior
lainnya.
- Pemeriksaan oftalmoskop, sebaiknya dengan pupil berdilatasi.
Pemeriksaan ini harus dilakukan terutama pada katarak imatur dimana kita
harus meluhat keadaan fundus.
Hal – hal yang perlu perhatian khusus:
- Tajam pengelihatan kadang sering masih sangat baik pada katarak
brunesen, walaupun terlihat kekeruhan sudah padat pada nukleusnya.
- Pengelihatan yang nyata berkurang pada miopia tinggi walaupun
katarak yang terlihat belum berarti. Hal ini mungkin disebabkan kelainan
makula lutea.

III.2.10 Penatalaksanaan
a) Katarak Kongenital
Katarak kongenital merupakan katarak yang terjadi sejak bayi dalam
kandungan dan segera dapat terlihat sesudah bayi lahir. Korteks dan nukleus lensa

35
mata bayi mempunyai konsistensi yang cair. Bila kekeruhan lensa sudah demikian
berat sehingga fundus bayi sudah tidak dapat dilihat pada funduskopi maka untuk
mencegah ambliopia dilakukan pembedahan secepatnya. Katarak kongenital
sudah dapat dilakukan pembedahan pada usia 2 bulan pada satu mata. Paling
lambat yang lainnya sudah dilakukan pembedahan bila bayi berusia 2 tahun.
Sekarang dilakukan pembedahan lensa pada katarak kongenital dengan
melakukan di sisi lensa, dengan menyayat kapsul anterior lensa dan
mengharapkan masa lensa yang cair keluar bersama akuos humor atau
difagositosis oleh makrofag. Biasanya sesudah beberapa waktu terjadi penyerapan
sempurna masa lensa sehingga tidak terdapat lensa lagi, keadaan ini disebut
afakia.

Penyulit di sisi lensa


Masa lensa yang telah keluar dari kapsulnya merupakan benda asing untuk
jaringan mata sehingga menimbulkan reaksi radang terhadap masa lensa tubuh
sendiri yang disebut uveitis fakoanafilaktik. Kadang-kadang massa lensa yang
keluat ini mengakibatkan penyumbatan jalan keluar akuos humor pada sudut bilik
mata sehingga terjadi pembendungan akuos humor di dalam bola mata yang akan
mengakibatkan naiknya tekanan bola mata yang disebut glaukoma sekunder. Bila
sisa lensa tidak diserap seluruhnya dan menimbulkan jaringan finrosis akan
terjadi katarak sekunder. Katrak sekunder yang kecil walaupun terletak di depan
pupil dapat tidak akan mengganggu tajam penglihatan. Kadang-kadang katarak
sekunder ini sangat tebal sehingga mengganggu perlihatan maka dalam keadaan
demikian dapat dilakukan di sisi lensa.

b) Pembedahan Katarak Senil


Pengobatan pada katarak adalah pembedahan. Untuk menentukan waktu
kapan katarak dapat dibedah ditentukan oleh keadaan tajam penglihatan dan
bukan oleh hasil pemeriksaan. Pembedahan dilakukan jika penderita tidak dapat
melihat dengan baik dengan bantuan kacamata untuk melakukan kegiatan sehari-

36
hari. Beberapa penderita mungkin merasa penglihatannya lebih baik hanya
dengan mengganti kacamatanya atau menggunakan kacamata bifokus yang lebih
kuat. Jika katarak tidak mengganggu biasanya tidak perlu dilakukan pembedahan.
Digunakan nama insipien, imatur, dan hipermatur didasarkan atas
kemungkinan terjadinya penyulit yang dapat terjadi. Bila pada stadium imatur
terjadi glaukoma maka secepatnya dilakukan pengeluaran lensa walaupun
kekeruhan lensa belum total. Demikian pula pada katarak matur dimana bila
masuk ke dalam stadium lanjut hipermatur maka penyulit mungkin akan tambah
berat dan sebaiknya pada stadium matur sudah dilakukan tindakan pembedahan.
Ekstraksi lensa sebenarnya suatu tindakan yang sederhana, namun resikonya
berat. Kesalahan pada tindakan pembedahan atau terjadinya infeksi akan
mengakibatkan hilangnya penglihatan tanpa dapat diperbaiki lagi. Pembedahan
biasanya dengan anestesi lokal. Hanya pada anak kecil, orang-orang yang tidak
tenang, neurosis atau takut dilakukan dalam narkosa umum.

Pembedahan katarak senil dikenal 2 bentuk yaitu :


1. Intracapsular Cataract Extraction (ICCE) atau ekstraksi intrakapsular.
Ekstraksi katarak intrakapsular merupakan tindakan umum pada
katarak senil karena bersamaan dengan proses degenerasi lensa juga
terjadi degenerasi zonula Zinn sehingga dengan memutuskan zonula ini
dengan menarik lensa, maka lensa dapat keluar bersama-sama dengan
kapsul lensa.
2. Extracapsular Cataract Extraction (ECCE) atau ekstraksi
ekstrakapsular.
Katarak ekstraksi ekstrakapsular dilakukan dengan merobek kapsul
anterior lensa dan mengeluarkan lensa dan korteks lensa. Dilakukan pada
katarak senil bila tidak mungkin dilakukan intrakapsular misal pada
keadaan terdapatnya banyak sinekia posterior bekas suatu uveitis sehingga
bila kapsul ditarik akan mengkibatkan penarikan kepada iris yang akan
menimbulkan perdarahan.

37
Ekstrakapsular sering dianjurkan pada katarak dengan miopia tinggi
untuk mencegah mengalirnya badan kaca yang cair keluar, dengan
meninggalkan kapsul posterior untuk menahannya. Pada saat ini
ekstrakapsular lebih dianjurkan pada katarak senil untuk mencegah
degenerasi makula pasca bedah.
Cara lain mengeluarkan lensa yang keruh adalah yang keruh adalah dengan
Phacoemulsification, yaitu dengan terlebih dahulu menghancurkan masa lensa
dengan gelombang suara frekuensi tinggi (40.000 MHz), dan masa lensa yang
sudah seperti bubur dihisap melalui sayatan yang lebarnya cukup 3.2 mm. Untuk
memasukkan lensa intraokular yang dapat dilipat (foldable IOL) lubang sayatan
tidak selebar sayatan pada ekstraksi katarak ekstrakapsulat. Keuntungan bedah
dengan sayatan kecil ini adalah penyembuhan yang lebih cepat dan induksi
terjadinya astigmatismat akan lebih kecil.

Gambar 10. Phacoemulsification

38
Keuntungan dari metode ini antara lain:
• Insisi yang dilakukan kecil, dan tidak diperlukan benang untuk menjadhit
karena akan menutup sendiri. Hal ini akan mengurangi resiko terjadinya
astigmatisma, dan rasa adanya benda asing yang menempel setelah operasi.
Hal ini juga akan mencegah peningkatan tekanan intraokuli selama
pembedahan, yang juga mengurangi resiko perdarahan.
• Cepat menyembuh.
• Struktur mata tetap intak, karena insisi yang kecil tidak mempengaruhi
struktur mata.
Operasi katarak sering dilakukan dan biasanya aman. Setelah pembedahan
sering sekali terjadi infeksi atau perdarahan pada mata yang bisa menyebabkan
gangguan penglihatan yang serius. Untuk mencegah infeksi, mengurangi
perdarahan, atau mempercepat penyembuhan, beberapa minggu setelah
pembedahan diberikan tetes mata atau salep. Untuk menghindari mata dari
cedera, pasien sebaiknya menggunakan kacamata atau pelindung mata yang
terbuat dari logam sampai luka pembedahan benar-benar sembuh.

Persiapan bedah katarak


Dilakukan pemeriksaan tajam penglihatan, Uji Anel, Tonometri dari ada atau
tidak adanya infeksi di sekitar mata.
Pemeriksaan keadaan umum penderita sebaiknya sudah terkontrol gula darah,
tekanan darah selain penderita sudah diperiksa paru untuk mencegah
kemungkinan batuk pada saat pembedahan atau pasca bedah.

III.2.11 Komplikasi
Glaucoma dikatakan sebagai komplikasi katarak. Glaucoma ini dapat timbul
akibat intumesenensi atau pembengkakan lensa.
Komplikasi katarak yang tersering adalah glaukoma yang dapat terjadi karena
proses fakolitik, fakotopik, fakotoksik.

39
• Fakolitik
- Pada lensa yang keruh terdapat kerusakan maka substansi lensa akan
keluar yang akan menumpuk di sudut kamera okuli anterior terutama
bagian kapsul lensa.
- Dengan keluarnya substansi lensa maka pada kamera okuli anterior
akan bertumpuk pula serbukan fagosit atau makrofag yang berfungsi
merabsorbsi substansi lensa tersebut.
- Tumpukan akan menutup sudut kamera okuli anterior sehingga timbul
glaukoma.
• Fakotopik
- Berdasarkan posisi lensa
- Oleh karena proses intumesensi, iris, terdorong ke depan sudut kamera
okuli anterior menjadi sempit sehingga aliran humor aqueaous tidak
lancar sedangkan produksi berjalan terus, akibatnya tekanan
intraokuler akan meningkat dan timbul glaukoma
• Fakotoksik
- Substansi lensa di kamera okuli anterior merupakan zat toksik bagi
mata sendiri (auto toksik)
- Terjadi reaksi antigen-antibodi sehingga timbul uveitis, yang
kemudian akan menjadi glaukoma.

Jika katarak ini muncul dengan komplikasi glaukoma, maka diindikasikan


ekstraksi lensa secara bedah. Selain itu uveitis kronik yang terjadi setelah adanya
operasi katarak telah banyak dilaporkan. Hal ini berhubungan dengan terdapatnya
bakteri pathogen termasuk Propionibacterium acnes dan Staphylococcus
epidermidis.

III.2.12 Prognosis
Prognosis penglihatan untuk pasien anak-anak yang memerlukan pembedahan
tidak sebaik prognosis untuk pasien katarak senilis. Adanya ambliopia dan kadang-

40
kadang anomali saraf optikus atau retina membatasi tingkat pencapaian penglihatan
pada kelompok pasien ini. Prognosis untuk perbaikan ketajaman penglihatan setelah
operasi paling buruk pada katarak kongenital unilateral dan paling baik pada katarak
kongenital bilateral inkomplit yang progresif lambat.
Sedangkan pada katarak senilis jika katarak dapat dengan cepat terdeteksi
serta mendapatkan pengobatan dan pembedahan katarak yang tepat maka 95 %
penderita dapat melihat kembali dengan normal.

III.2.13 Pencegahan
Umumnya katarak terjadi bersamaan dengan bertambahnya umur yang tidak
dapat dicegah. Pemeriksaan mata secara teratur sangat perlu untuk mengetahui
adanya katarak. Bila telah berusia 60 tahun sebaiknya mata diperiksa setiap tahun.
Pada saat ini dapat dijaga kecepatan berkembangnya katarak dengan :
• Tidak merokok, karena merokok dapat meningkatkan radikal bebas
dalam tubuh, sehingga risiko katarak dapat bertambah.
• Pola makan yang sehat, memperbanyak konsumsi buah dan sayur.
• Lindungi mata dari sinar matahari, karena sinar UV mengakibatkan
katarak pada mata.
• Menjaga kesehatan tubuh dari penyakit seperti kencing manis dan
penyakit lainnya.

41
DAFTAR PUSTAKA

1. Ilyas,Sidharta. Katarak Lensa Mata Keruh. Glosari Sinopsis. Cerakan Kedua.


Balai Penerbitan FKUI. Jakarta. 2007.
2. Ilyas, Sidharta; Mailangkay; Taim, Hilman; Saman,Raman;
Simarmata,Monang; Widodo,Purbo. Ilmu Penyakit Mata untuk dokter umum dan
mahasiswa kedokteran. Edisi kedua. Sagung Seto. Jakarto. 2002.
3. Ilyas, Sidharta. Ilmu Penyakit Mata. Edisi ketiga. Balai Penerbitan FKUI.
Jakarta. 2006.
4. Vaughan, Daniel; Asbury, Taylor; Riordan-Eva, Paul. Oftalmologi Umum.
Edisi 17. EGC. Jakarta. 2008.
5. Ilyas, Sidharta, dkk. Ilmu Penyakit Mata untuk Dokter Umum dan Mahasiswa
Kedokteran. Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia. Penerbit : Sagung
Seto. Jakarta. 2002.
6. Olver J, Cassidy L. Opthalmology at A Glance. Hongkong : SNP Best-set
Typesetter Limited. 2005. p36-9.
7. Victor V. Cataract Senile. Tersedia di : http://www.emedicine.com. Diambil
tanggal 31 Maret 2011.
8. Cataracts. Tersedia di http://www.nortwesteyeclinic.com. Diambil tanggal 31
Maret 2011.

42