Anda di halaman 1dari 48

LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA

An.G DI RS BETHESDA YOGYAKARTA

DISUSUN OLEH

Nama : Stefanus Adi Wahyu Ardana

Nim : 2002071

PROGRAM STUDI SARJANA KEPERAWATAN

STIKES BETHESDA YAKKUM YOGYAKARTA

TAHUN 2022
LEMBAR PENGESAHAN

Laporan Pendahuluan dan Asuhan Keperawatan ini sudah diteliti dan disetujui oleh
pembimbing akademik untuk disampaikan ke Program Studi Sarjana Keperawatan

Sebagai laporan.

Laporan Keperawatan Dasar Manusia (KDM) ini disetujui pada :

Yogyakarta, 24 Januari 2022

Pembimbing klinik Pembimbing Klinik

RAHAYUNINGSIH, Amd.Kep Ns.Suprihatiningsih, S.Kep

Pembimbing

Ethic Palupi, S.Kep., Ns, MNS


BAB 1

PENDAHULUAN

A. KONSEP MEDIS
1. Definisi
Kejang merupakan suatu perubahan fungsi pada otak secara medadak da
sangat singat atau sementara yang dapat disebabkan oleh aktifitas yang abnormal
serta adanya pelepasan listrik serebal yang sangat berlebihan. Kejang demam
adalah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh (suhu rektal
diatas 38 ˚C ) yang disebabkan oleh proses ekstrakranium (barara & jaumar
2013 ).

Kejang Demam adalah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu
tubuh (suhu rektal di atas 38ºC) yang disebabkan oleh proses ekstrakranium.
Kejang demam merupakan kelainan neurologis yang paling sering dijumpai pada
anak terutama pada golongan anak berumur 6 bulan sampai 4 tahun. Hampir 3%
dari anak yang berumur dibawah 5 tahun pernah mengalami kejang demam
(Ngastiyah, 2014).

Menurut wulandari & erawati (2016) kejang demam merupakan kelainan


neurologis yang sering ditemukan pada anak, terutama pada golongananak umur
6 bulan sampai 4 tahun.
2. Anatomi fisiologi
Otak berada di dalam rongga tengkorak (cavum cranium) dan dibungkus oleh
selaput otak yang disebut meningen yang berfungsi untuk melindungi struktur
saraf terutama terhadap resikobenturan atau guncangan. Meningen terdiri dari 3
lapisan yaitu duramater, arachnoid dan piamater.
Sistem saraf pusat (Central Nervous System) terdiri dari :
a. Cerembrum (otak besar)
Merupakan bagian terbesar yang mengisi daerah anterior dan superior
rongga tengkorak di mana cerebrum ini mengisi cavum cranialis anterior
dan cavum cranial. Cerebrum terdiri dari dua lapisan yaitu : Corteks
cerebri dan medulla cerebri. Fungsi dari cerebrum ialah pusat motorik,
pusat bicara, pusat sensorik, pusat pendengaran / auditorik, pusat
penglihatan / visual, pusat pengecap dan pembau serta pusat pemikiran.
Sebagian kecil substansia gressia masuk ke dalam daerah substansia alba
sehingga tidak berada di corteks cerebri lagi tepi sudah berada di dalam
daerah medulla cerebri. Pada setiap hemisfer cerebri inilah yang disebut
sebagai ganglia basalis termasuk termasuk padaganglia basalis ini adalah :
 Thalamus
Menerima semua impuls sensorik dari seluruh tubuh, kecuali
impuls pembau yang langsung sampai ke kortex cerebri.Fungsi
thalamus terutama penting untuk integrasi semua impuls
sensorik.Thalamus juga merupakan pusat panas dan rasa nyeri.
 Hypothalamus
Terletak di inferior thalamus, di dasar ventrikel III hypothalamus
terdiri dari beberapa nukleus yang masingmasing mempunyai
kegiatan fisiologi yang berbeda. Hypothalamus merupakan daerah
penting untuk mengatur fungsi alat demam seperti mengatur
metabolisme, alat genital, tidur dan bangun, suhu tubuh, rasa lapar
dan haus, saraf otonom dan sebagainya. Bila terjadi gangguan pada
tubuh, maka akan terjadi perubahan-perubahan. Seperti pada kasus
kejang demam, hypothalamus berperan penting dalam proses
tersebut karena fungsinya yang mengatur keseimbangan suhu
tubuh terganggu akibat adanya proses-proses patologik
ekstrakranium.
 Formation Riticularis
Terletak di inferior dari hypothalamus sampai daerah batang otak
(superior dan pons varoli) ia berperan untuk mempengaruhi
aktifitas cortex cerebri di mana pada daerah formatio reticularis ini
terjadi stimulasi / rangsangan dan penekanan impuls yang akan
dikirimke cortex cerebri.
b. Serebellum
Merupakan bagian terbesar dari otak belakang yang menempati fossa
cranial posterior.Terletak di superior dan inferior dari cerebrum yang
berfungsi sebagai pusat koordinasi kontraksi otot rangka. System saraf
tepi (nervus cranialis) adalah saraf yang langsung keluar dari otak atau
batang otak dan mensarafi organ tertentu. Nervus cranialis ada 12 pasang :
 N. I : Nervus Olfaktorius
 N. II : Nervus Optikus
 N. III : Nervus Okulamotorius
 N. IV : Nervus Troklearis
 N. V : Nervus Trigeminus
 N. VI : Nervus Abducen
 N. VII : Nervus Fasialis
 N. VIII : Nervus Akustikus
 N. IX : Nervus Glossofaringeus
 N. X : Nervus Vagus
 N. XI : Nervus Accesorius
 N. XII : Nervus Hipoglosus

System saraf otonom ini tergantung dari system sistema saraf pusat
dan system saraf otonom dihubungkan dengan urat-urat saraf aferent
dan efferent. Menurut fungsinya system saraf otonom ada 2 di mana
keduanya mempunyai serat pre dan post ganglionik. Yang termasuk
dalam system saraf simpatis adalah :
1) Pusat saraf di medulla servikalis, torakalis, lumbal dan
seterusnya.
2) Ganglion simpatis dan serabut-serabutnya yang disebut trunkus
symphatis.
3) Pleksus pre vertebral : Post ganglionik yg dicabangkan dari
ganglion kolateral.

System saraf parasimpatis ada 2 bagian yaitu :


1) Serabut saraf yang dicabagkan dari medulla spinalis
2) Serabut saraf yang dicabangkan dari otak atau batang otak.
3. Etiologi
a. Demam yang disebabkan oleh infeksi saluran pernafasan atas, otitis media,
pneumonia, gastroenteritis, dan infeksi saluran kemih, kejang tidak selalu
timbul pada suhu yang tinggi.’
b. Efek produk toksik daripada mikroorganisme.
c. Respon alergik atau keadaan umum yang abnormal oleh infeksi.
d. Perubahan keseimbangan cairan dan elektrolit.
e. Ensefalitis viral (radang otak akibat virus) yang ringan, yang tidak diketahui
atau enselofati toksik sepintas

4. Klasifikasi
Kejang yang merupakan pergerakan abnormal atau perubahan tonus badan dan
tungkai dapat diklasifikasikan menjadi 3 bagian yaitu : kejang, klonik, kejang
tonik dan kejang mioklonik.
a. Kejang tonik
Kejang ini biasanya terdapat pada bayi baru lahir dengan berat badan
rendah dengan masa kehamilan kurang dari 34 minggu dan bayi
dengan komplikasi prenatal berat.Bentuk klinis kejang ini yaitu berupa
pergerakan tonik satu ekstrimitas atau pergerakan tonik umum dengan
ekstensi lengan dan tungkai yang menyerupai deserebrasi atau ekstensi
tungkai dan fleksi lengan bawah dengan bentuk dekortikasi. Bentuk
kejang tonik yang menyerupai deserebrasi harus di bedakan dengan
sikap epistotonus yang disebabkan oleh rangsang meningkat karena
infeksi selaput otak atau kernikterus.
b. Kejang klonik
Kejang Klonik dapat berbentuk fokal, unilateral, bilateral dengan
pemulaan fokal dan multifokal yang berpindah-pindah.Bentuk klinis
kejang klonik fokal berlangsung 1 – 3 detik, terlokalisasi dengan baik,
tidak disertai gangguan kesadaran dan biasanya tidak diikuti oleh fase
tonik.Bentuk kejang ini dapat disebabkan oleh kontusio cerebri akibat
trauma fokal pada bayi besar dan cukup bulan atau oleh ensepalopati
metabolik.
c. Kejang mioklonik
Gambaran klinis yang terlihat adalah gerakan ekstensi dan fleksi
lengan atau keempat anggota gerak yang berulang dan terjadinya cepat.
Gerakan tersebut menyerupai reflek moro. Kejang ini merupakan
pertanda kerusakan susunan saraf pusat yang luas dan hebat.Gambaran
EEG pada kejang mioklonik pada bayi tidak spesifik.

Pedoman mendiagnosis kejang demam menurut Livingstone :


1) Umur anak ketika kejang antara 6 bulan dan 4 tahun
2) Kejang berlangsung hanya sebentar saja, tidak lebih dari 15 menit
3) Kejang bersifat umum
4) Kejang timbul dalam 16 jam pertama setelah timbulnya demam
5) Pemeriksaan saraf sebelum dan sesudah kejang normal
6) Pemeriksaan EEG yang dibuat sedikitnya 1 minggu sesudah suhu normal
tidak menunjukkan kelainan
7) Frekuensi kejang bangkitan dalam 1 tahun tidak melebihi 4 kali
Kejang demam yang tidak memenuhi salah satu atau lebih dari tujuh kriteria
tersebut (modifikasi livingstone) digolongkan pada kejang demam kompleks.
(Ngastiyah, 2012).

Widagno (2012), mengatakan berdasarkan atas studi epidemiologi, kejang


demam dibagi 3 jenis, yaitu :
a. Kejang demam sederhana (simple febrile convulsion), biasanya terdapat
pada anak umur 6 bulan sampai 5 tahun, disertai kenaikan suhu tubuh
yang mencapai ≥ 39⁰C. Kejang bersifat umum dan tonik-klonik, umumnya
berlangsung beberapa detik/menit dan jarang sampai 15 menit. Pada akhir
kejang kemudian diakhiri dengan suatu keadaan singkat seperti
mengantuk (drowsiness), dan bangkitan kejang terjadi hanya sekali dalam
24 jam, anak tidak mempunyai kelainan neurologik pada pemeriksaan
fisis dan riwayat perkembangan normal, demam bukan disebabkan karena
meningitis atau penyakit lain dari otak.
b. Kejang demam kompleks (complex or complicated febrile convulsion)
biasanya kejang terjadi selama ≥ 15 menit atau kejang berulang dalam 24
jam dan terdapat kejang fokal atau temuan fokal dalam masa pasca
bangkitan. Umur pasien, status neurologik dan sifat demam adalah sama
dengan kejang demam sederhana.
c. Kejang demam simtomatik (symptomatic febrile seizure) biasanya sifat
dan umur demam adalah sama pada kejang demam sederhana dan
sebelumnya anak mempunyai kelainan neurologi atau penyakit akut.
Faktor resiko untuk timbulnya epilepsi merupakan gambaran kompleks
waktu bangkitan. Kejang bermula pda umur < 12 bulan dengan kejang
kompleks terutama bila kesadaran pasca iktal meragukan maka
pemeriksaan CSS sangat diperlukan untuk memastikan kemungkinan
adanya meningitis.

5. Manifestasi klinis
Kebanyakan kejang demam berlangsung singkat, bilateral, serangan berupa
klonik atau tonik-klonik. Umumnya kejang berhenti sendiri. Begitu kejang
berhenti anak tidak memberi reaksi apapun untuk sejenak, tetapi setelah beberapa
detik atau menit anak terbangun dan sadar kembali tanpa adanya kelainan syaraf.
Kejang demam dapat berlangsung lama dan atau parsial. Pada kejang yang
unilateral kadang-kadang diikuti oleh hemiplegi sementara (Todd’s hemiplegia)
yang berlansung beberapa jam atau beberapa hari. Kejang unilateral yang lama
dapat diikuti oleh hemiplegi yang menetap.
Kejang demam terkait dengan kenaikan suhu tubuh yang tinggi dan biasanya
berkembang bila suhu tubuh mencapai 390 C atau lebih ditandai dengan adanya
kejang khas menyeluruh tionik kloni lama beberapa detik sampai 10 menit.
Kejang demam yang menetap ≥ 15 menit menunjukkan penyebab organic seperti
proses infeksi atau toksik, selain itu juga dapat terjadi mata terbalik keatas dengan
disertai kekakuan dan kelemahan serta gerakan sentakan berulang.
Tanda dan gejala :
a. Peningkatan suhu tubuh yang tinggi (suhu rektal diatas 38 °C).
b. Kejang yang bersifat kejang kolonik atau tonik - kolonik bilateral.
c. Mata terbalik keatas disertai kekakuan atau kelemahan.
d. Gerakan sentakan berulang tanpa di dahului kekakuan atau hanya
sentakan atau kekuatan fokal.
e. Pada sebagian kejang disertai hemiparesis sementara yang berlangsung
beberapa jam sampai beberapa hari atau juga bersifat menetap

6. Pathway
7. Pemeriksaan diagnostik
a. Elektroensefalogram (EEG)
dipakai unutk membantu menetapkan jenis dan fokus dari kejang.
b. Pemindaian CT
menggunakan kajian sinar X yang lebih sensitif dri biasanya untuk
mendeteksi perbedaan kerapatan jaringan.
c. Magneti resonance imaging ( MRI )
menghasilkan bayangan dengan menggunakan lapanganmagnetik dan
gelombang radio, berguna untuk memperlihatkan daerah – daerah otak
yang itdak jelas terliht bila menggunakan pemindaian CT.
d. Pemindaian positron emission tomography ( PET )
untuk mengevaluasi kejang yang membandel dan membantu menetapkan
lokasi lesi, perubahan metabolik atau alirann darah dalam otak.
e. Uji laboratorium
f. Pungsi lumbal : menganalisis cairan serebrovaskuler.
g. Hitung darah lengkap : mengevaluasi trombosit dan hematokrit.
h. Panel elektrolit
i. Skrining toksik dari serum dan urin.
j. GDA

8. Penatalaksanaan
Ngastiyah (2012), Dalam penanggulangan kejang demam ada beberapa faktor
yang perlu dikerjakan yaitu:
a. Penatalaksanaan medis
1) Memberantas kejang secepat mungkin
Bila pasien datang dalam keadaan status konvulsivus (kejang), obat
pilihan utama yang diberikan adalah diazepam yang diberikan secara
intravena. Dosis yang diberikan pada pasien kejang disesuaikan
dengan berat badan, kurang dari 10 kg 0,5-0,75 mg/kgBB dengan
minimal dalam spuit 7,5 mg dan untuk BB diatas 20 kg 0,5 mg/KgBB.
Biasanya dosis rata-rata yang dipakai 0,3 mg /kgBB/kali dengan
maksimum 5 mg pada anak berumur kurang dari 5 tahun, dan 10 mg
pada anak yang lebih besar.
Setelah disuntikan pertama secara intravena ditunggu 15 menit, bila
masih kejang diulangi suntikan kedua dengan dosis yang sama juga
melalui intravena. Setelah 15 menit pemberian suntikan kedua masih
kejang, diberikan suntikan ketiga denagn dosis yang sama juga akan
tetapi pemberiannya secara intramuskular, diharapkan kejang akan
berhenti. Bila belum juga berhenti dapat diberikan fenobarbital atau
paraldehid 4 % secara intravena. Efek samping dari pemberian
diazepan adalah mengantuk, hipotensi, penekanan pusat pernapasan.

Pemberian diazepan melalui intravena pada anak yang kejang


seringkali menyulitkan, cara pemberian yang mudah dan efektif
adalah melalui rektum. Dosis yang diberikan sesuai dengan berat
badan ialah berat badan dengan kurang dari 10 kg dosis yang
diberikan sebesar 5 mg, berat lebih dari 10 kg diberikan 10 mg. Obat
pilihan pertama untuk menanggulangi kejang atau status konvulsivus
yang dipilih oleh para ahli adalah difenilhidantion karena tidak
mengganggu kesadaran dan tidak menekan pusat pernapasan, tetapi
dapat mengganggu frekuensi irama jantung.
2) Pengobatan penunjang
Sebelum memberantas kejang tidak boleh dilupakan pengobatan
penunjang yaitu semua pakaian ketat dibuka, posisi kepala sebaiknya
miring untuk mencegah aspirasi isi lambung, usahakan agar jalan
napas bebas untuk menjamin kebutuhan oksigen. Fungsi vital seperti
kesadaran, suhu, tekanan darah, pernapasan dan fungsi jantung
diawasi secara ketat. Untuk cairan intravena sebaiknya diberikan
dengan dipantau untuk kelainan metabolik dan elektrolit. Obat untuk
hibernasi adalah klorpromazi 2-. Untuk mencegah edema otak
diberikan kortikorsteroid dengan dosis 20-30 mg/kgBB/hari dibagi
dalam 3 dosis atau sebaiknya glukokortikoid misalnya dexametason
0,5-1 ampul setiap 6 jam sampai keadaan membaik.
3) Memberikan pengobatan rumat
Setelah kejang diatasi harus disusul pengobatan rumat. Daya kerja
diazepan sangat singkat yaitu berkisar antara 45-60 menit sesudah
disuntikan, oleh karena itu harus diberikan obat antiepileptik dengan
daya kerja lebih lama. Lanjutan pengobatan rumat tergantung
daripada keadaan pasien. Pengobatan ini dibagi atas dua bagian, yaitu
pengobatan profilaksis intermiten dan pengobatan profilaksis jangka
panjang.
4) Mencari dan mengobati penyebab
Penyebab kejang demam sederhana maupun epilepsi yang
diprovokasi oleh demam biasanya adalah infeksi respiratorius bagian
atas dan otitis media akut. Pemberian antibiotik yang adekuat perlu
untuk mengobati penyakit tersebut. Secara akademis pasien kejang
demam yang datang untuk pertama kali sebaliknya dilakukan pungsi
lumbal untuk menyingkirkan kemungkinan adanya faktor infeksi
didalam otak misalnya meningitis.
b. Penatalaksanaan keperawatan
1) Pengobatan fase akut
 Airway
- Baringkan pasien ditempat yang rata, kepala
dimiringkan dan pasangkan sudip lidah yang telah
dibungkus kasa atau bila ada guedel lebih baik.
- Singkirkan benda-benda yang ada disekitar pasien,
lepaskan pakaian yang mengganggu pernapasan
- Berikan O2 boleh sampai 4 L/ mnt.
 Breathing
- Isap lendir sampai bersih
 Circulation
- Bila suhu tinggi lakukan kompres hangat secara
intensif.
- Setelah pasien bangun dan sadar berikan minum
hangat ( berbeda dengan pasien tetanus yang jika
kejang tetap sadar).

Jika dengan tindakan ini kejang tidak segera berhenti,


hubungi dokter apakah perlu pemberian obat penenang.
2) Pencegahan kejang berulang
 Segera berikan diazepam intravena, dosis rata-rata 0,3mg/kgBB
atau diazepam rektal. Jika kejang tidak berhenti tunggu 15
menit dapat diulang dengan dengan dosis dan cara yang sama.
 Bila diazepan tidak tersedia, langung dipakai fenobarbital
dengan dosis awal dan selanjutnya diteruskan dengan
pengobatan rumat.

9. Komplikasi
a. Kerusakan otak
Terjadi melalui mekanisme eksitoksik neuron saraf yang aktif sewaktu
kejang melepaskan glutamat yang mengikat resptor MMDA (M Metyl D
Asparate) yang mengakibatkan ion kalsium dapat masuk ke sel otak yang
merusak sel neuron secara irrevesible.
b. Retardasi mental
Dapat terjadi karena deficit neurologis pada demam neonatus.

10. Pencegahan
a. Pencegahan berulang
1) Mengobati infeksi yang mendasari kejang.
2) Penkes tentang : Tersedianya obat penurun panas yang didapat atas
resep dokter,Tersedianya alat pengukur suhu dan catatan
penggunaan termometer, cara pengukuran suhu tubuh anak, serta
keterangan batas-batas suhu normal pada anak (36-370 C)
b. Mencegah cedera saat kejang berlangsung kegiatan ini meliputi:
1) Baringkan pasien pada tempat yang rata.
2) Kepala dimiringkan untuk menghindari aspirasi cairan tubuh.
3) Pertahankan lidah untuk tidak menutupi jalan nafas.
4) Lepaskan pakaian yang ketat.
5) Jangan melawan gerakan pasien guna menghindari cedera.

11. Patofisiologis
Sumber energi otak adalah glukosa yang melalui proses oksidasi dipecah menjadi
CO2 dan air. Sel dikelilingi oleh membran yang terdiri dari permukaan dalam
yaitu lipoid dan permukaan luar yaitu ionik. Dalam keadaan normal membran sel
neuron dapat dilalui dengan mudah ion kalium (K+ ) dan sangat sulit dilalui oleh
ion Natriun (Na+ ) dan elektrolit lainnya, kecuali ion klorida (CI- ). Akibatnya
konsentrasi ion K+ dalam sel neuron tinggi dan konsentrasi Na+ rendah, sedang
diluar sel neuron terdapat keadaan sebaliknya. Karena perbedaan jenis dan
konsentrasi ion di dalam dan luar sel, maka terdapat perbedaan potensial
membran yang disebut potensial membran dari neuron. Untuk menjaga
keseimbangan potensial membran diperlukan energi dan bantuan enzim Na-K
ATP-ase yang terdapat pada permukaan sel. Keseimbangan potensial membran
ini dapat diubah oleh :
a. Perubahan konsentrasi ion diruang ekstraselular
b. Rangsangan yang datang mendadak misalnya mekanisme, kimiawi
atau aliran listrik dari sekitarnya
c. Perubahan patofisiologi dari membran sendiri karena penyakit atau
keturunan

Pada keadaan demam kenaikkan suhu 1⁰C akan mengakibatkan kenaikkan


metabolisme basal 10-15 % dan kebutuhan oksigen akan meningkat 20%.
Pada anak 3 tahun sirkulasi otak mencapai 65 % dari seluruh tubuh
dibandingkan dengan orang dewasa hanya 15%. Oleh karena itu kenaikkan
suhu tubuh dapat mengubah keseimbangan dari membran sel neuron dan
dalam waktu yang singkat terjadi difusi dari ion kalium maupun ion natrium
akibat terjadinya lepas muatan listrik. Lepas muatan listrik ini demikian
besarnya sehingga dapat meluas keseluruh sel maupun ke membran sel
disekitarnya dengan bantuan “neurotransmitter” dan terjadi kejang. Tiap anak
mempunyai ambang kejang yang berbeda dan tergantung tinggiu
rendahnyaambang kejang seseorang anak akan menderita kejang pada
kenaikan suhu tertentu.

Kejang demam yang berlangsung singkat pada umumnya tidak berbahaya


dan tidak meninggalkan gejala sisa. Tetapi kejang demam yang berlangsung
lama ( lebih dari 15 menit) biasanya disertai apnea, meningkatkanya
kebutuhan oksigen dan energi untuk kontraksi otot skeletal yang akhirnya
terjadi hipoksemia, hiperkapnia, asidosis laktat disebabkan oleh metabolisme
anerobik, hipotensi artenal disertai denyut jantung yang tidak teratur dan suhu
tubuh meningkat yang disebabkan makin meningkatnya aktifitas otot dan
mengakibatkan metabolisme otak meningkat. Rangkaian kejadian diatas
adalah faktor penyebab hingga terjadinya kerusakan neuron otak selama
berlangsungnya kejang (Lestari, 2016 & Ngastiyah, 2012).

12. Prognosis
a. Kemungkinan mengalami kecacatan atau kelainan neurologis
b. Perkembangan mental dan neurologis umumnya tetap normal pada pasien
yang sebelumnya normal
c. Kemungkinan berulang kejang demam
d. Kemungkinan terjadinya epeliepsi
Faktor resiko epilepsi meliputi :
 Kelainan neurologis atau perkembangan yang jelas sebelum kejang
demam pertama
 Kejang demam yang pertama adalah kejang demam kompleks
 Riwayat epilepsi pada orang tua atau saudara kandung

13. Asuhan keperawatan


a. Pengkajian
1) Identitas pasien
Biasanya berisikan tentang nama, umur, jenis kelamin, alamat,
diagnose medis dan tanggal masuk serta tanggal pengakajian dan
identitas penanggung jawab
2) Riwayat kesehatan
 Riwayat kesehatan sekarang
Demam, suhu > 38oC, muntah, kaku , kejang-kejang, sesak
nafas, kesadaran menurun, ubun-ubun cekung, bibir kering,
bak lidah ada, BAB mencret
 Riwayat kesehatan dulu
Umumnya penyakit ini terjadi sebagai akibat komplikasi
perluasan penyakit lain. Yang sering ditemukan adalah ISPA,
ionsililis, olilis nedia, gastroeniecilis, meningitis
 Riwayat kesehatan keluarga
Kemungkinan ada anggota keluarga yang mengalami penyakit
infeksi seperti ISPA dan meningitis.serta memiliki riwayat
kejang yang sama dengan pasien
3) Data tumbuh kembang
Data tumbuh kembang dapat diperoleh dari hasil pengkajian dengan
mengumpulkan data lumbang dan dibandindingkan dengan ketentua-
ketentuan perkembangan normal.Perkembangan motorik,
perkembangan bahasa, perkembangan kognitif, perkembangan
emosional, perkembangan kepribadian dan perkembangan sosial.
4) Data fisik
Pada penyakit demam kejang sederhana didapatkan data fisik :
 Suhu meningkat
 Frekuensi nafas naik
 Kesadaran menurun
 Nadi naik
 Kejang bersifat umum dan berlangsung sebentar
 Lemah, letih, lesu dan gelisah.
 Susah tidur
5) Pemeriksaan fisik persistem
 Sistem pernapasan
Karena pada kejang yang berlangsung lama misalnya lebih 15
menit biasanya disertai apnea, Na meningkat, kebutuhan O2
dan energi meningkat untuk kontraksi otot skeletal yang
akhirnya terjadi hipoxia dan menimbulkan terjadinya asidosis.
Akibat langsung yang timbul apabila terjadi kejang demam
adalah gerakan mulut dan lidah tidak terkontrol.Lidah dapat
seketika tergigit, dan atau berbalik arah lalu menyumbat
saluran pernapasan.
 Sistem sirkulasi
Karena gangguan peredaran darah mengakibatkan hipoksia
sehingga meningkatkan permeabilitas kapiler dan timbul
edema otak yang mngakibatkan kerusakan sel neuron otak.
Kerusakan pada daerah medial lobus temporalis setelah
mendapat serangan kejang yang berlangsung lama dapat
menjadi matang dikemudian hari sehingga terjadi serangan
epilepsi spontan, karena itu kejang demam yang berlangsung
lama dapat menyebabkan kelainan anatomis diotak hingga
terjadi epilepsi.
 Sistem pencernaan
Sensitivitas terhadap makanan, mual dan muntah yang
berhubungan dengan aktivitas kejang, kerusakan jaringan
lunak / gigi.
 Sistem perkemihan
Kontinensia episodik, peningkatan tekanan kandung kemih
dan tonus spinkter
 Sistem persyarafan
Aktivitas kejang berulang, riwayat truma kepala dan infeksi
serebra

6) Aktivitas istirahat
keletihan, kelemahan umum, perubahan tonus / kekuatan otot.
Gerakan involunter.
7) Integritas ego
stressor eksternal / internal yang berhubungan dengan keadaan dan
atau penanganan, peka rangsangan.
8) Riwayat jatuh/trauma
9) Data laboratorium
 Leukosit meningkat
 Pada pemeriksaan tumbal punksi ditemukan cairan jernih
glukosa normal dan protein normal.
10) Data psikososial
Hubungan ibu dan anak sangat dekat sehingga perpisahan dengan ibu
menimbulkan rasa kehilangan orang yang terdekat bagi anakanak
lingkungan tidak dikenal akan menimbulkan perasaan tidak aman,
berduka cita dan cemas.
Akibat sakit yang dirawat bagi anak menimbulkan perasaan
kehilangan kebebasan, pergerakan terbatas menyebabkan anak
merasa frustasi sehingga akan mengekspresikan reaksi kecemasan
secara bertahap yaitu proses, putus asa dan menolak.
11) Data sosial ekonomi
Demam kejang dapat mengenal semua tingkat ekonomi dan
sosial.Penyakit ini disebabkan oleh sanitasi lingkungan yang buruk
dan disebabkan oleh kurangnya perhatian orang tua.

b. Diagnosa keperawatan
Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul (Roger M.D.M.P.H diagnosis
pedriatri : 231) :
a. Resiko tinggi trauma / cidera b/d kelemahan, perubahan kesadaran,
kehilangan koordinasi otot.
b. Gangguan rasa nyaman b.d peningkatan suhu tubuh.
c. Resiko kejang berulang b.d peningkatan suhu.
d. Resiko Defisit volume cairan bd kondisi demam.
e. Kurang pengetahuan orang tua tentang kondisi, prognosis,
penatalaksanaan dan kebutuhan pengobatan bd kurangnya informasi.
c. Intervensi keperawatan
d. Implementasi keperawatan
Tindakan keperawatan ( implementasi ) adalah katagori dari prilaku
keperawatan di mana yang di perlukan untukmencapai tujuan dan hasil yang
di perkirakan dari asuhan keperawatn yang di lakukan dan di selesaikan .
implementasi mencakup melakukan, membantu, mengarahkan kinerja
aktivitas kehidupan sehari-hari, memberkan asuhan keperawtan untuk tujuan
yang berpusat kepada klien (Darto suharso 2013)

e. Evaluasi keperawatan
Evaluasi adalah respon pasien terhadap tindakan dan kemajuan mengarahkan
pencapaian hasil yang di harapkan. Aktivitas ini berfungsi sebagai umpan
balik dan bagian control proses keperawatan, melalui status pernyataan
diagnostic pasien secara individual di nilai untuk diselesaikan, di lanjutkan,
atau memerlukan perbaikan (Darto suharso 2013).

14. Discharge planing


Discharge planing adalah suatu proses yang sistematis dalam pelayanan
kesehatan untuk membantu pasien dan keluarga dalam menetapkan kebutuhan,
mengimplementasikan serta mengkoordinasikan rencana perawatan yang akan
dilakukan setelah pasien pulang dari rumah sakit sehingga dapat meningkatkan
atau mempertahankan derajat kesehatannnya (Nursalam,2015).

Tujuan discharge planning adalah untuk mengidentifikasi kebutuhan khusu


untuk mempertahankan atau pencapaian fungsi kesehatan yang maksimal setelah
pemulangan (Taharuddin,2017).
BAB II

ASUHAN KEPERAWATAN

PENGKAJIAN KEPERAWATAN

Tgl pengkajian : 08 februari 2022 jam : .07.30 WIB oleh : Stefanus Adi Wahyu A

I. IDENTITAS
A. Pasien
Nama : An. G
Tempat/tgl lahir : 10 maret 2021 Yogyakarta
Umur : 11 bulan 5 bulan 7 hari
Agama : Islam
Status perkawinan : belum menikah
Pendidikan : belum sekolah
Pekerjaan : belum memiliki pekerjaan
Suku/bangsa : Jawa/Indonesia
Tgl Masuk RS : 06 Februari 2022
No. RM : 0209xxxx
Ruang : Galilea III 10 C
Diagnosa Medis : KDK (kejang demam kompleks), diare akut
Diagnosa Dedeferensial :
Diagnosa Defenifit : KDK (kejang demam kompleks)
Alamat : Bantul DIY

B. Keluarga / penanggungjawab
Nama : Ny. M
Hubungan : Ibu sambung
Umur : 30 Tahun
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : Pegawai Swasta
Alamat : Bantul

II. RIWAYAT KESEHATAN


A. Kesehatan pasien
1. Keluhan utama saat di kaji : ortu mengatakan pasien masih demam
2. Keluhan tambahan : orang tua mengatakan anaknya masih demam
3. Alasan masuk rumah sakit : sakit pada hari sabtu set 4 demam, kemudian pagi turun,
jam 22.00 WIB kejang dan pingsan kemudian di bawa ke Griha Mahardika,
kemudian pasien kejang kembali sekitar jam 16.00 WIB setelah itu pada jam 22.00
WIBpasien kejang kembali dan di langsung dirujuk ke Rumah Sakit Bethesda dari
IGD dilakukan vital sign tekanan darah nadi 120x/menit respirasi 25x/menit suhu 38
C° kemudian ke bangsal Galilea III Ruang anak
4. Riwayat penyakit yang lain : Ispa,diare akut
5. Alergi : tidak ada
B. Kesehatan keluarga
Genogram
Status pasien sebagai anak dan tinggal bersama orang tuanya

III. POLA FUNGSI KESEHATAN


A. Pola Nutrisi-Metabolik
1. Sebelum sakit
- Frekuensi makan : 3 kali
- Jenis makanan/diet : tidak ada
- Porsi yang dihabiskan : 1 piring kecil
- Makanan yang disukai : kentang dan pisang
- Makanan yang tidak sukai : buah naga
- Makanan pantang : bubur yang bersantan
- Makanan tambahan : tidak ada
- Kebiasaan makanan : di rumah
- Banyaknya minuman : (800-900 ml/24 jam)
- Jenis minuman : susu formula 400 gr
- Minuman yang disukai : susu
- Minuman yang tidak disukai : air putih
- Minuman pantang : tidak ada

2. Selama sakit
- Jenis diet : susu formula 400 gram
- Frekuensi makan : 4 kali
- Porsi makanan yang dihabiskan : 1 porsi piring kecil
- Banyak minum dalam sehari : (900-1000ml susu /24 Jam)
- Keluhan : tidak ada keluhan
- Berat badan : 10,5 kg

B. Pola Eliminasi
1. Sebelum sakit
a. Buang Air Kecil BAK
- Frekuensi : 5 kali
- Jumlah :-
- Warna : kuning,
- Bau : pengat
- Keluhan : tidak ada
- Upaya yang dilakukan : -
- Posisi BAK berdiri
b. Buang air besar BAB
- Frekuensi : (1-2x/24 jam )
- Jumlah :-
- Warna : kuning, coklat
- Bau : pengat
- Keluhan : tidak ada keluhan
- Posisi BAB : memakai pampers
2. Selama sakit
a. Buang Air Besar
- Frekuensi : (11x/BAB)
- Waktu : pagi dan sore
- Warna : kuning coklat
- Konsistensi : cair
- Keluhan : tidak ada keluhan
- Upaya yang di lakukan :
b. Buang Air Kecil
- Frekuensi : (4-5x/24 jam)
- Jumlah :-
- Warna : kuning
- Bau : bau urin
- Keluhan : tidak ada
- Upaya yang dilakukan :
C. Pola Aktifitas istirahat-tidur
1. Sebelum sakit
a. Keadaan aktivitas sehari-hari
- Alat bantu untuk memenuhi aktifitas setiap hari : tidak ada
- Apakah kegiatan sehari-hari dapat dilakukan sendiri, bantuan alat, orang lain:

AKTIFITAS 0 1 2 3 4

Mandi √

Berpakaian /berdandan √

Eliminasi √

Mobilitas di tempat tidur √

Pindah √

Ambulasi √

Naik tangga √

Memasak √

Belanja √
Merapikan rumah √

Keterangan. 0 = mandiri
1 = alat bantu
2 = dibantu orang lain
3 = dibantu orang lain dan alat
4 = tergantung total

b. Kebutuhan tidur
- Jumlah tidur dalam sehari
● Tidur siang : 2-3 kali
● Tidur malam : setiap hari (7-8 jam)
- Kebiasaan pengantar tidur : minum susu botol
- Apakah klien selalu tidur dengan teman atau seorang diri : pasien tidur
bersama orang tua
- Perangkat/alat yang selalu digunakan untuk tidur : bantal, guling, selimut
dan kasur
- Keluhan dalam hal tidur : -
c. Kebutuhan istirahat
- Kapan : malam dan siang
- Berapa lama : 7-8 jam
- Kegiatan untuk mengisi waktu luang : bermain bersama orang tua
- Apakah menyediakan waktu untuk istirahat pada waktu siang hari : 2-3 kali
- Dalam suasana yang bagaimana klien dapat istirahat dan mengisi waktu
luang : nyaman dan tenang
2. Selama sakit
a. Keadaan Aktifitas

Kemampuan perawatan diri 0 1 2 3 4

Makan.minum √

Mandi √

Toileting √
Berpakaian √

Mobilitas di TT √

Berpindah √

Ambulasi/ROM √

Keterangan. 0 = mandiri
1 = alat bantu
2 = dibantu orang lain
3 = dibantu orang lain dan alat
4 = tergantung total
b. Kebutuhan tidur
- Jumlah tidur dalam sehari
● Tidur siang : (2-3 kali )
● Tidur malam : 7-9 jam
- Penghantar untuk tidur : minum susu botol
- Keluhan tidur : tidak ada keluhan tidur

D. Pola kebersihan diri


1. Kebersihan kulit
- Kapan kebiasaan mandi : 2 sehari (pagi dan sore)
- Apakah mandi menggunakan sabun/kosmetik/krim : pasien menggunakan sabun
- Keluhan: tidak ada
2. Kebersihan rambut
- Kebiasaan mencuci rambut: setiap kali pasien mandi pagi dan sore
- Keluhan: tidak ada
3. Kebersihan telinga
- Kapan merawat/membersihkan telinga : 2-3 kali dalam seminggu
- Apakah menggunakan alat pendengar : tidak
- Keluhan: tidak ada
4. Kebersihan mata
- Kebiasaan membersihkan mata : setiap kali pasien mandi
- Keluhan: tidak ada
5. Kebersihan mulut
- Berapa kali menggosok gigi tiap hari : 2 x/hari menggosok gigi (pagi dan sore).
- Apakah menggunakan pasta gigi : pasien menggunakan pasta gigi khusus anak
- Keluhan: tidak ada
6. Kebersihan kuku
- Kapan memotong kuku : 1-2 kali dalam seminggu
- Apakah anda biasa menggunakan cat kuku : tidak menggunakan cat kuku
- Keluhan: tidak ada
E. Pola Managemen Mesehatan – Persepsi Kesehatan
1. Pemahaman tentang arti sehat
2. Promosi kesehatan: makanan dan minuman, latihan dan olah raga, managemen
stress
3. Perlindungan kesehatan: Program skrening, kunjungan ke pusat pelayanan
kesehatan, diet, latihan dan olah raga, istirahat
4. Pengetahuan tentang pemeriksaan diri sendiri
5. Riwayat medis, hospitalisasi, riwayat medis keluarga
6. Perilaku untuk mengatasi masalah kesehatan, diit, latihan dan olah raga, pengobatan,
terapi
7. Intelektual
- Pengetahuan tentang penyakit yang diderita : pasien mengatakan beliau tidak
tahu
- Pengetahuan tentang perawatan, pencegahan penyakit yang diderita :
8. Gaya hidup yang berhubungan dengan kesehatan:
a. Penggunaan tembakau
- Pasien tidak merokok
b. Penggunaan NAPZA
- Pasien tidak menggunakan NAPZA
c. Alkohol
- Pasien tidak minum alkohol
F. Pola reproduksi-seksualitas
1. Pemahaman tentang fungsi seksualitas dan reproduksi
2. Perkembangan karakteristik seks sekunde
3. Pola seksualitas:
G. Pola kognitif – persepsi/sensori
1. Keadaan mental
- Sadar : compos metis
- -
- Orientasi: Tn. G Galilea III Ruang 10 C
2. Tingkat Pendidikan : -
3. Tingkat ansietas : sedang
4. Kemampuan mengambil keputusan : pasien dibantu orang tua
5. Berbicara/ Berkomunikasi
a. Isi
- Jelas :
- Tidak jelas : -
- Relevan : -
- Bicara berputar-putar : -
- Mampu mengekspresikan pendapat :
b. Bahasa yang dikuasai
- Indonesia
- Lain-lain: jawa
c. Kemampuan membaca : belum bisa membaca karena masih balita
d. Kemampuan berkomunikasi : pasien bekum bisa komunikasi secara jelas
e. Kemampuan memahami informasi : pemahaman informasi dibantu oleh orang
tua
f. Ketrampilan berinteraksi : interaksi diwakili oleh orang tua
6. Pendengaran
- Alat bantu dengar – Tinitus : pasien tidak terpasang alat pendengaran
- Terganggu: -
- Tuli : pasien tidak tuli
7. Penglihatan
- Kacamata : pasien tidak memakai kacamata
- Lensa kontak : -
- Kerusakan: -
- Mata palsu: tidak ada
- Buta: pasien tidak buta
8. Penciuman
- Masalah : tidak ada
9. Perabaan
- Masalah : tidak ada
10. Pengecapan
- Masalah : tidak ada
11. Persepsi Ketidaknyamanan : tidak ada
12. Upaya yang dilakukan untuk mengatasi ketidaknyamanan : tidak ada
H. Pola Konsep Diri – Persepsi Diri
1. Pola Konsep diri
a. Gambaran diri: Sikap seseorang terhadap tubuhnya secara sadar dan tidak sadar.
b. Ideal diri: Persepsi individu tentang bagaimana ia harus berperilaku berdasarkan
standar, aspirasi, tujuan atau personal tertentu.
Contoh: “Saya sangat ingin menjadi ibu dan isteri yang baik, tapi dengan luka
ini apa mungkin saya melakukan tugas dengan baik?”
c. Harga diri
Penilaian pribadi terhadap hasil yang dicapai dengan menganalisis seberapa
jauh perilaku memenuhi ideal diri.
Contoh: “Saya merasa semua yang saya lakukan sia-sia , apalagi kondisi saya
sekarang penuh luka , sering aya merasa tidak berdaya dan tidak berharga”.
d. Peran diri: Sikap dan perilaku , nilai serta tujuan yang diharapkan dari seseorang
berdasarkan posisi di masyarakat.
Contoh: “Saya sudah satu minggu ini di rumah sakit, saya tidak bisa lagi jualan
bakso keliling dan tidak ada yang bisa menggantikan, bagaimana untuk makan
harian anak dan istri saya?”
e. Identitas diri: Kesadaran akan diri sendiri yang bersumber dari observasi dan
penilaian yang merupakan sintesis dari semua aspek konsep diri sebagai
kesatuan yang utuh. Contoh:
“Saya menyadari bahwa apa yang menjadi rencana manusia tidak selalu sama
dengan rencana manusia tidak selalu sama dengan rencana Tuhan, mungkin
saya buka isteri yang baik tetapi apapun yang telah terjadi saya harus menjadi
ibu yang baik bagi anak-anak saya”
2. Identitas personal : penjelasan tentang diri sendiri , kekuatan dan kelemahan yang
dimiliki
3. Keadaan fisik : segala sesuatu yang berkaitan dengan tubuh , yang disukai/ tidak
disukai
4. Riwayat berhubungan dengan masalah fisik dan atau psikologis
I. Pola Mekanisme Koping
1. Pengambilan keputusan : dibantu orang tua
2. Hal-hal yang dilakukan jika mempunyai masalah : orang tua yang bertangggung
jawab
J. Pola peran – Berhubungan
1. Masalah dan atau keprihatinan keluarga : tidak terkaji
2. Pola membesarkan anak : -
3. Hubungan dengan orang lain
a. Apakah klien berkecimpung dalam kelompok masyarakat (sebutkan):
b. Sistem pendukung
- Tidak ada / ada. Jika ada, siapa:
● Orang tua
Dengan menjaga dan mengatur kebutuhan pasien, membantu pasien
makan dan minum
4. Selama sakit
- Bagaimana hubungan dengan anggota keluarga : baik( dengan pasien dirawat
dirumah sakit keluarga turut menjaga di depan ruangan Galilea anak III ruang
10 C
- Bagaimana hubungan dengan masyarakat :-
- Bagaimana hubungan dengan pasien lain, anggota kesehatan lain : sangat baik
karena pasien lain juga sering menyapa atau menggoda pasien ketika di
ruangan
K. Pola Nilai dan Keyakinan
1. Sebelum sakit
- Agama: Islam
- Larangan agama : -
- Kegiatan keagamaan : -
- Selama sakit pasien tidak membutuhkan kegiatan kerohanian
IV. PEMERIKSAAN FISIK
A. Penimbangan BB Sebelum sakit 10.5 Kg, Setelah sakit Kg, BB Ideal 7,6-10,5 Kg
Persentase penurunan berat badan saat : - , tinggi badan 80 cm
B. Pengukuran tanda vital
1. Tekanan darah: mmHg, Nadi: 120 x/mnt, reguler, diukur di jempol pasien
2. Suhu: 36 oC, diukur di dahi
3. Respirasi :22 x/mnt, reguler,
4. Saturasi ; 99 %
C. Nyeri : pasien tidak mengeluh nyeri
D. Tingkat Kesadaran
1. Kualitatif : compos mentis (CM)
2. Kuantitatif dengan Glassgow Coma Skala (GCS) Respon buka mata (Eye=E),
respon bicara (Verbal=V), respon Motorik (M). Cara mendokumentasikan GCS =
E4 V5 M6
E. Urutan pemeriksaan Fisik
1. Integumen secara umum :
Warna kulit putih bersih , tekstur halus dan lembut, tidak ada bekas luka atau cacar

2. Kepala
- Bentuk kepala oval, kulit kepala bersih, tidak ada luka/bekas luka dan
ketombe.
- Pertumbuhan rambut tidak terlalu tebal, rambut hitam dan tipis
- Wajah simetris tidak kelainan bentuk
- keadaan umum kepala baik tidak ada bekas memar atau lebam-lebam

3. Mata
- Dari hasil pengkajian daerah mata adalah klien tidak mengalami kelainan pada
mata, tidak ada katarak dan konjungtivitis
- Tidak terdapat kotoran atau benda asing di mata

4. Telinga
- Tidak terdapat cairan
- Keadaan umum telinga simetris
- Pasien tidak menggunakan alat bantu pendengaran
- Tidak ada kelainan bentuk telinga

5. Hidung
- Hidung simteris
- Mukosa lembab
- Tidak adanya benda asing dan sputum
- Tidak ada peradangan

6. Mulut dan tenggorokan


- Kemampuan berbicara : pasien dibantu orang tua
- Warna lidah merah muda agak pucat
- Gigi baru 2 yang tumbuh dibagian bawah dan bentuknya kecil
- Gigi berwarna putih
- Warna gusi merah muda agak pucat
- Rongga mulut bersih

7. Leher
- Tidak ada kelainan bentuk leher
8. Dada
a. Inspeksi
- Bentuk dada simetris
- tidak ada kelainan bentuk dada
- tidak terdapat luka atau bekas luka
- warna kulit pada dada putih bersih
b. palpasi
- tidak terdapat nyeri dada
- simetris saat bernapas
- tidak ada pembengkakan pada dada
- hantaran pada kedua tangan sama saat dilakukan palpasi vocal fermitus
c. auskultasi
- suara paru : suara napas vesikuler
- tidak ada suara napas tambahan ronchi,whezing, dll
9. Payudara
a. Inspeksi
- Bentuk : simetris
- Kebersihan : payudara bersih
- Berwarna kecoklatan

10. Punggung
- Tidak kelainan bentuk punggung pada pasien
11. Abdomen
a. Inspeksi
- Warna kulit putih bersih
- Tidak bekas luka atau luka
- Tidak ada bekas cacar

b. Auskultasi
- Frekuensi peristaltik : 25 x/menit
c. Palpasi
- Palpasi ringan dan dalam pasien tidak merasa nyeri atau sakit
- Tidak nyeri dibagian abdomen
- Tidak teraba masa
12. Anus dan rektum : tidak ada hameroid
13. Genetalia pasien memakai pampers
14. Ekstremitas
a. Atas
- Kelengkapan anggota gerak: lengkap
- Kelainan jari (Syndactili, polidactili)): tidak terdapat kelainan pada jari
b. Bawah
- Anggota gerak lengkap
- Tidak ada kaki gajah

c. Perubahan bentuk tulang: tidak terkaji


15. Reflek-reflek Neurologi : babinski ( ekstensi ibu jari ketika diberi goresan)

V. DIAGNOSTIK TEST LABORATORIUM


Pemeriksaan Hasil Satuan Nilai Rujukan

Hemoglobin 11.8 Gr/dl L.13-17 P.11-15

Eritrosit 4.49 Juta/mm3 L.4.5-6.2P.4-5.4

Trombosit 250 ribu/mm3 150-400


Leukosit 17,5 Ribu/mm3 Newborn :9-30
an/Dws ;4-11

Lym 19.4 % 20-50

Mid 4.2 % 3-15

Gran 76.4 % 40-75

MCV 74.0 fl 82-100

MCH 26.3 pg 27-34

MCHC 35.5 p/dl 31.6-35.4

Hematocrite 33.2 % 35-50

Glukosa sewaktu 99 mg/dl -125

Rontgen Thorax
VI. PROGRAM PENGOBATAN DAN ANALISA OBAT

N Nama obat Indikasi Kontra indikasi Efek samping Implikasi


o keperawatan

1. Paracetamol Indikasi pada pasien dengan Apabila dikonsumsi Monitoring suhu


4 x 5 cc paracetamol adalah riwayat berlebihan di luar setiap 1 jam
untuk meredakan hipersensitivitas dan dosis yang
gejala demam dan penyakit hepar aktif dianjurkan, paracet
nyeri pada derajat berat. amol bisa
berbagai penyakit Penggunaan menyebabkan gejala
seperti demam paracetamol, terutama overdosis obat,
dengue, tifoid, dan dalam jangka seperti sakit perut,
infeksi saluran panjang, perlu mual, muntah,
kemih. Pada pasien diperhatikan pada gangguan liver,
anak, paracetamol pasien dengan: kejang, sampai
digunakan saat Penyakit hepar kronis koma. Orang yang
suhu > 38,5 C dekompensata. overdosis paraceta
mol bisa mengalami
kegagalan organ
liver dan ginjal
dalam waktu dua
sampai empat hari
2. Cefriaxon adalah untuk pada individu dengan Nyeri, mual muntah Mengkaji nyeri
2x 350 mg mengatasi infeksi riwayat dan pusing
bakteri gram hipersensitivitas
negatif maupun terhadap obat ini atau
gram positif. golongan sefalosporin
Dosis ceftriaxone lainnya. Penggunaan
yang diberikan harus hati-hati pada
biasanya berkisar pasien dengan riwayat
antara 1–2 gram alergi penicillin
per 12 atau 24 jam, karena bisa terjadi
tergantung pada reaksi silang.
penyakit dan
tingkat keparahan
infeksi.

3. Ampicilin infeksi saluran Hipersensitiv Diare, merasa mual Observasi efek


350mg/8jam kemih, otitis terhadap penisilin dan muntah, mulut samping obat
media, sinusitis, atau lidah terasa
infeksi pada mulut sakit.
(lihat keterangan di
atas), bronkitis,
uncomplicated
community-
acquired
pneumonia, infeksi
Haemophillus
influenza,
salmonellosis
invasif; listerial
meningitis.
4. Orizinc 1 x Terapi pelengkap Hipersensitivitas Penggunaan zinc Mengobservasi
1 mg diare pada anak dengan dosis tinggi jika pasien
yang dalam periode yang merasa mual dan
dikombinasikan lama dapat muntah
dengan ORS (Oral menyebabkan
Rehydration Salt) penurunan
konsentrasi
lippoprotein plasma
dan absorbsi
tembaga. Efek
samping lain yang
dirasakan adalah
mual, rasa pahit,
muntah dan iritasi
pada mulut

5 Injeksi Pemakaian jangka riwayat Sulit tidur dan Observasi faktor


diazepam pendek pada hipersensitivitas dan gelisah, mengantuk, sulit tidur,
2,5 mg ansietas atau pasien pediatri usia pusing dan linglung gelisah, pusing
insomnia, <6 pasien
tambahan pada bulan. Diazepam dike
putus alkohol akut, tahui dapat
status epileptikus, menyebabkan
kejang demam, ketergantungan,
spasme otot. gejala putus obat, dan
harus hati-hati
diberikan pada pasien
yang menggunakan
opioid dan alkohol.
VII. PROGRAM TINDAKAN
 Menerapkan standar risiko pasien jatuh
 Bantu kebutuhan pasien saat mobilisasi
 Mengontrol/monitoring suhu pasien setiap jam

VIII. RENCANA PULANG


 Edukasi mengenai cuci tangan
 Menjaga kebersihan tangan
 Pemberian Obat racikan 3 x 1 10 bungkus
 Pemberian sirup Orizinc
 Bebas gerak

ANALISA DATA

TGL/ PENGELOMPOKAN DATA MASALAH PENYEBAB

NO

1. 8/02/2022 Hipertermi Proses infeksi

Pukul 09.00

DS ;

 Ortu mengatakan badan


anaknya panas

DO :

 Pasien merengek/menangis
 Infus rl di kaki kanan
 Kesadaran compos metis
 Suhu 38 C°
 K/U lemah
 Kulit teraba hangat

2. 8/02/2022 Defisit Kurang terpapar


Pukul : 10.00 pengetahuan informasi

DS :
 orang tua mengatakan tidak
tahu cara penganan/apa yang
harus dilakukan jika anaknya
kejang kembali

DO :
 Ibu sering bertanya tentang
keadaan anaknya dan
bagaimana penanganan saat
anak kejang apabila terjadi
kejang kembali pada anak
 Suhu 38 C°
 RR 28x/menit

3. 9/02/2022 Termoregulasi Berhubungan


tidak efektif dengan proses
Pukul 10.50
penyakit
DS :

 Ortu mengatakan anak nya


masih demam
DO :

 kesadaran Compos metis


 SPO2 99%
 Nadi 122x/menit
 Suhu 37 C°
 RR 26x/menit
 Kulit pasien berwarna
kemerahan

NO DIAGNOSIS KEPERAWATAN

1. Hipertermi berhubungan dengan proses infeksi

DS :

 Ortu mengatakan badan anaknya panas


DO :

 Pasien merengek/menangis
 Infus rl di kaki kanan
 Kesadaran compos metis
 K/U lemah
 Suhu 38 C°
2. Defisit pengetahuan berhubungan dengan kurang terpapar informasi

DS :

 Orang tua mengatakan tidak tahu cara penganan/apa yang harus


dilakukan jika anaknya kejang kembali

DO :

 Ibu sering bertanya tentang keadaan anaknya dan bagaimana


penanganan saat anak kejang apabila terjadi kejang kembali pada
anak
 Suhu 38 C°
 RR 28x/menit

3. Termoregulasi tidak efektif berhubungan dengan proses penyakit

DS :

 Ortu mengatakan anak nya masih demam


DO :

 kesadaran Compos metis


 SPO2 99%
 Nadi 122x/menit
 Suhu 37 C°
 RR 26x/menit
 Kulit pasien berwarna merah

Stefanus Adi Wahyu A


RENCANA KEPERAWATAN

Nama pasien : Tn. G


Ruangan : Galilea III 10 C
Tanggal : 08 Februari 2022
Nama mahasiswa : Stefanus Adi Wahyu Ardana

Diagnosis keperawatan Tindakan keperawatan


Rasional
dan data penunjang Tujuan dan kriteria hasil Tindakan
Selasa 8 Februari 2022 Rabu 9 Februari 2022 Rabu 9 Februari 2022
Pukul 09.20 Pukul : 10.40
Pukul : 10.40
D.0130 1. Monitor suhu tubuh, 1. Untuk
Hipertermi berhubungan Tujuan: setelah dilakukan pernapasan setiap 1 jam mengetahui
dengan proses infeksi tindakan keperawatan 1x1 keadaan pasien
jam diharapkan suhu tubuh 2. Observasi adanya kejang 2. Kejang dapat
klien dalam batas normal terjadi sebagai
dengan kriteria hasil : akibat dari iritasi
1. Suhu dalam serebral, hipoksia
rentang batas
normal 36 C

2. Kejang tidak
timbul dalam
waktu kurang dari
1 jam

3. Nilai pernapasan
normal 25-
60x/menit
Stefanus Adi Wahyu A Stefanus Adi wahyu A Stefanus Adi Wahyu A Stefanus Adi Wahyu A

Selasa 8 Februari 2022 Rabu 9 februari 2022 Rabu 9 Februari 2022 1. Untuk menambah
Pukul 10.30 WIB Pukul 11.30 pengetahuan
Pukul 11.30
D.0111 1. Jelaskan pada orang tua pasien
Defisit pengetahuan Tujuan: setelah dilakukan 2. keluarga pasien atau mengenai
berhubungan dengan tindakan kepetrawatan orang tua pasien penyakit kejang
kurang terpapar 1x30 menit diharapkan tentang penyakit demam
informasi tingkat pengetahuan kejang demam, 2. Mengetahui
keluarga tentang demam kondisi pasien dan tingkat
meningkat dengan kriteria pengobatan pengetahuan
hasil : 3. Evaluasi kembali keluarga pasien
1. Keluarga tingkat pengetahuan mengenai
menyatakan keluarga pasien penyakit kejang
pemahaman demam
tentang penyakit,
kondisi dan
pengobatan
2. Keluarga mampu
melaksanakan
prosedur yang
dijelaskan secara
benar
Stefanus Adi Wahyu A Stefanus Adi Wahyu A Stefanus Adi Wahyu A Stefanus Adi Wahyu A

Rabu 9 Februari 2022 Rabu 9 februari 2022 Rabu 9 Februari 2022 1. Sebagai data awal
Pukul : 11.00 WIB Pukul 12.00 Pukul 12.00 untuk melihat
D.0149 Tujuan : setelah dilakukan O: keadaan umum
Termoregulasi Tidak tindakan keperawatan  Monitor suhu tubuh pasien
Efektif berhubungan selama 3x 1 jam T: 2. Supaya pasien
dengan Proses penyakit 1. Kulit merah  Longgarkan atau tidak sesak
menurun 5 lepaskan pakaian 3. Menjaga suhu
2. Kejang menurun 5  Sediakan lingkungan tubuh pasien
3. Suhu tubuh yang dingin 4. untuk
menurun 5 E: mengurangi

 Anjurkan tirah baring aktivitas tubuh,

K: mengurangi

 Kolaborasi pemberian kebutuhan

cairan oksigen tubuh


sehingga tubuh
dapat fokus pada
proses
penyembuhan
5. Supaya
kebutuhan cairan
pasien tercukupi
Stefanus Adi Wahyu A Stefanus Adi Wahyu A Stefanus Adi Wahyu A Stefanus Adi Wahyu A
CATATAN PERKEMBANGAN

Nama pasien : Tn.G


Ruangan : Galilea III 10 C
Diagnosa Medis : KDK (kejang demam kompleks)

No No DK/MK Hari tanggal Perkembangan SOAPIE TTD

1 Hipertermia Selasa 8 Februari S:


berhubungan dengan 2022  ortu mengatakan pasien
proses infeksi Pukul : 09.50 tidak demam Stefanus Adi
O:
 Ku baik, cm
 Suhu 36 C
 Infus Rl
 RR 28x/menit
 Tidak ada perubahan
warna kulit
A : masalah cukup teratasi
P : melakukan monitoring suhu
setiap satu jam
I : mengukur suhu pasien
E:
 pasien rileks
 Pasien sudah lebih
tenang dari sebelumnya

2 Defisit pengetahuan Selasa 8 Februari S:


berhubungan dengan 2022  Keluarga/orang tua
kurang terpapar Pukul : 11.30 WIB pasien mengatakan sudah Stefanus Adi
informasi paham mengenai
informasi yang perawat
berikan

O:
 Keluarga pasien
merespon dengan
menganggukan kepala
 Tidak ada rasa khawatir
 Keluarga pasien terlihat
tenang

A : masalah teratasi

P: intervensi dihentikan
I:
 Menjelaskan kepada
orang tua pasien jika
dirumah pasien
mengalami kejang
kembali apa yang harus
dilakukan.
 Informasi kepada orang
tua mengenai pengobatan
rumatan (pada kejang
demam kompleks),

E:
 Orang tua pasien
memahami mengenai
penanganan kejang
demam jika sewaktu-
waktu dirumah, anaknya
mengalami kejang
kembali
3. Termoregulasi tidak 9 februari 2022 S:
efektif berhubungan Pukul 14.00 WIB  Keluarga mengatakan
dengan proses anaknya sudah tidak Stefanus Adi
penyakit demam
O:
 Kesadaran compos metis
 Suhu 36 C
 KU baik
 Infus Rl
 SPO2 99 %

A : masalah teratasi
P : intervensi dihentikan
I:
 Monitoring suhu
 Menjaga suhu
lingkungan pasien
E:
 Pasien sudah lebih ceria
 Kulit tidak teraba hangat
 Tidak ada perubahan
warna kulit