Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PENDAHULUAN DAN KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

PADA PASIEN DENGAN HIPEREMESIS GRAVIDARUM

A. Pengertian
Hiperemesis gravidarum adalah mual muntah berlebihan selama masa hamil.Muntah yang
membahayakan ini dibedakan dari morning sickness normal yang umum dialami wanita hamil
karena intensitasnya melebihi muntah normal dan berlangsung selama trimester pertama
kehamilan (Varney, 2006).
Hiperemesis gravidarum adalah morning sickness dengan gejala muntah terus menerus,
makan sangat kurang sehingga menyebabkan gangguan suasana kehidupan sehari-hari
(Nugroho, 2010).
Hiperemesis gravidarum merupakan mual muntah yang berlebihan dan merupakan salah satu
gejala paling awal, paling umum dan paling menyebabkan stres yang dikaitkan dengan
kehamilan (Tiran, 2008).
Hiperemesis gravidarum adalah gejala mual muntah yang wajar dan sering kedapatan pada
kehamilan trimester pertama, mual biasanya terjadi pada pagi hari, tetapi dapat pula timbul
setiap saat dan malam hari.Gejala-gejala ini kurang lebih terjadi 6 minggu setelah hari pertama
haid terakhir dan berlangsung selama kurang lebih 10 minggu (Wiknjosastro, 2007).
B. Etiologi
Penyebab hiperemesis gravidarum belum diketahui secara pasti. Tidak ada bukti bahwa
penyakit ini disebabkan oleh factor toksik, juga tidak ditemukan kelainan biokimia. Perubahan –
perubahan anatomic pada otak, jantung, hati, dan susunan saraf, disebabkan oleh kekurangan
vitamin serta zat – zat lain akibat inanisi. Beberapa factor predisposisi dan faktor lain yang
telah ditemukan oleh beberapa penulis sebagai berikut:
1. Faktor predisposisi : primigravida, overdistensi rahim : hidramnion, kehamilan ganda,
estrogen dan HCG tinggi, mola hidatidosa.
2. Faktor organik: masuknya vili khorialis dalam sirkulasi maternal, perubahan metabolik
akibat hamil, resistensi yang menurun dari pihak ibu dan alergi
3. Faktor psikologis: rumah tangga yang retak, hamil yang tidak diinginkan, takut terhadap
kehamilan dan persalinan, takut terhadap tanggung jawab sebagai ibu dan kehilangan
pekerjaan (Wiknjosastro, 2007).
C. Patofisiologi
Hiperemesis gravidarum yang merupakan komplikasi mual dan muntah pada hamil muda
terjadi terus menerus dapat menyebabkan dehidrasi dan tidak seimbangnya elektrolit dengan
alkalosis hipokloremik.
Hiperemesis gravidarum dapat mengakibatkan cadangan karbohidrat dan lemak habis terpakai
untuk keperluan energi.Karena oksidasi lemak yang tidak sempurna terjadilah ketosis dengan
tertimbunnya asam aseton – asetik, asam hidroksi butirik dan aseton dalam darah.Kekurangan
volume cairan yang diminum dan kehilangan karena muntah menyebankan dehidrasi
sehingga cairan ekstraseluler dan plasma berkurang.Natrium dan khlorida air kemih
turun.Selain itu jug adapt menyebabkan hemokonsentrasi sehingga aliran darah berkurang.
Kekurangan kalium sebagai akibat dari muntah dan bertambahnya ekskresi lewat ginjal
menambah frekuensi muntah – muntah lebih banyak, dapat merusak hati dan terjadilah lingkaran
yang sulit dipatahkan.
Selain dehidrasi dan terganggunya keseimbangan elektrolit dapat terjadi robekan pada selaput
lender esophagus dan lambung (Sindroma Mallory Weiss) dengan akibat perdarahan
gastrointestinal.Pada umumnya robekan ini ringan dan perdarahan dapat berhenti sendiri, jarang
sampai diperlukan transfusi atau tindakan operatif (Wiknjosastro,2007).
Hiperemisis gravidarum dapat mengakibatkan cadangan karbohidrat dan lemak habis
terpakai untuk keperluan energy karena oksidasi lemak yang tak sempurna, terjadilah ketosis.
Kekurangan cairan yang diminum dan kehilangan cairan karena muntah menyebabkan dehidrasi,
sehingga cairan ekstra seluler dan plasma berkurang. Demikian juga dengan natrium dan klorida
darah dan klorida air kemih turun. Selain itu dehidrasi menyebabkan hemokonsentrasi, sehingga
aliran darah kejaringan berkurang. Hal ini menyebabkan jumlah zat makanan dan oksigen ke
jaringan berkurang pula dan tertimbunlah zat metabolik yang toksik kekurangan kalium sebagai
akibat dari muntah dan bertambahnya eksresi lewat ginjal, bertambahnya frekuensi muntah-
muntah yang lebih banyak dapat merusak hati.
D. Patway
Ibu hamil

Perubahan sistem endokrin

Sel- sel trofoblastosit Kadar HCG

melewati kontrol ovarium di hipofisi Meningkatnya kadar ekterogen

korpusluteum terus memproduksi HIPEREMIS


estrogen dan progesteron
Karena oksidasi lemak yang tak sempurna
Diambil oleh lapisan placenta
Ketosis dengan tertimbunnya asam asetonasetik,
Asam hidropsibutirik, dan aseton dalam darah

Kekurangan cairan dan kehilangan cairan

Gg keseimbangan
Robekan selaput lendir Dehidrasi
cairan & elektrolit

Esofagus dan lambung cairan ekstra seluler dan


Natrium dan klorida menurun
Berkurangnya perdarahan gastrointestinal
hemokonsentrasi

jumlah zat makanan & oksigen ke jaringan berkurang

kurang kalium

bertambahnya ekresi lewat ginjal

Gg istirahat tidur frekuensi muntah lebih banyak

Gg kekurangan nutrisi Merusak hati

Lemah lesu

Gg intoleransi aktivitas
E. Manifestasi Klinik
Batas jelas antara mual yang masih fisiologik dalam kehamilan dengan hiperemesis gravidarum
tidak ada; tetapi bila keadaan umum penderita terpengaruh, sebaiknya ini dianggap sebagai
hiperemesis gravidarum. Hiperemesis gravidarum menurut berat ringannya gejala dapat dibagi
dalam 3 tingkatan:
1. Tingkatan I : Muntah terus menerus yang mempengaruhi keadaan umum penderita,
ibu merasa lemah, nafsu makan tidak ada, berat badan menurun dan merasa nyeri pada
epigastrium. nadi meningkat sekitar 100 kali/menit dan tekanan darah sistolik turun,
turgor kulit mengurang, lidah mongering dan mata cekung.
2. Tingkatan II : penderita tampak lebih lemah dan apatis, turgor kulit mengurang, lidah
mengering dan Nampak kotor, nadi kecil dan cepat, suhu kadang-kadang naik dan mata
sedikit ikterik. Berat badan menurun dan mata menjadi cekung, tensi turun, hemokonsentrasi
oliguria dan konstipasi. Aseton dapat tercium dalam hawa pernafasan, karena pempunyai
aroma yang khas dan dapat pula ditemukan dalam kencing.
3. Tingkatan III : Keadaan umum lebih parah, muntah berhenti, kesadaran makin menurun
hingga mencapai somnollen atau koma, terdapat ensefalopati werniche yang ditandai
dengan : nistagmus, diplopia, gangguan mental, kardiovaskuler ditandai dengan: nadi kecil,
tekanan darah menurun, dan temperature meningkat, gastrointestinal ditandai dengan: ikterus
makin berat, terdapat timbunan aseton yang makin tinggi dengan bau yang makin tajam.
Keadaan ini adalah akibat sangat kekurangan zat makanan termasuk vitamin B kompleks.
Timbulnya ikterus menunjukkan adanya payah hati (Wiknjosastro,2007).

F. Diagnosis
Diagnosis hiperemesis gravidarum biasanya tidak sukar. Harus ditentukan adanya kehamilan
muda dan muntah terus menerus, sehingga mempengaruhi keadaan umum. Namun demikian
harus dipikirkan kehamilan muda dengan penyakit pielonefritis, hepatitis, ulkus ventrikuli dan
tumor serebri yang dapat pula memberikan gejala muntah.
Hiperemesis gravidarum yang terus menerus dapat menyebabkan kekurangan makanan yang
dapat mempengaruhi perkembangan janin, sehingga pengobatan perlu segera dilakukan
(Wiknjosastro, 2007).
G. Pencegahan
Prinsip pencegahan adalah mengobati emesis agar ridak terjadi hiperemesis gravidarum dengan
cara :
1. Memberikan penerapan tentang kehamilan dan persalinan sebagai suatu proses yang
fisiologik.
2. Memberikan keyakinan bahwa mual dan kadang – kadang muntah merupakan gejala yang
fisiologik pada kehamilan muda dan akan hilang setelah kehamilan4 bulan.
3. Menganjurkan mengubah makan sehari – hari dengan makanan dalam jumlah kecil tapi
sering
4. Menganjurkan pada waktu bangun pagi jangan segera turun dari tempat tidur, terlebih dahulu
makan roti kering atau biscuit dengan teh hangat
5. Makanan yang berminyak dan berbau lemak sebaiknya dihindarkan
6. Makanan seyogyanya disajikan dalam keadaan panas atau sangat dingin
7. Menghindari kekurangan kardohidrat merupakan factor penting, dianjurkan makanan
yang banyak mengandung gula (Wiknjosastro, 2007).
H. Penatalaksanaan
Apabila dengan cara diatas keluhan dan gejala tidak berkurang maka diperlukan:
1. Obat – obatan; Sedativa : Phenobarbital, Vitamin : Vitamin B1 dan B6 atau B – kompleks,
Anti histamine : dramamin, avomin, Anti emetik (pada keadaan lebih berat) : Dislikomin
hidrokloride atau khlorpromasine. Penanganan hiperemesis gravidarum yang lebih berat
perlu dikelola di rumah sakit.
2. Isolasi; Penderita disendirikan dalam kamar yang tenang, tetapi cerah
danperedaran udara yang baik, catat cairan yang keluar masuk, hanya dokter dan perawat
yang boleh masuk ke dalam kamar penderita sampai muntah berhenti pada penderita mau
makan. Tidak diberikan makanan atau minuman dan selama 24 jam. Kadang – kadang
dengan isolasi saja gejala – gejala akan berkurang atau hilang tanpa pengobatan.
3. Terapi psikologika; perlu diyakinkan kepeda penderita bahwa penyakit dapat disembuhkan,
hilangkan rasa takut oleh karena kehamilan, kurangi pekerjaan serta menghilangkan masalah
dan konflik.
4. Cairan parenteral; cairan yang cukup elektrolit, karbohidrat dan protein dengan glukosa 5%
dalam cairan fisiologis (2 – 3 liter/hari), dapat ditambah kalium dan vitamin (vitamin B
komplek, vitamin C), bila kekurangan protein dapat diberiakan asam amino secara intravena,
bila dalam 24 jam penderita tidak muntah dan keadaan umum membaik dapat diberikan
minuman dan lambat laun makanan yang tidak cair. Dengan penanganan diatas, pada
umumnya gejala – gejala akan berkurang dan keadaan akan bertambah baik.
5. Menghentikan kehamilan; Bila keadaan memburuk dilakukan pemeriksaan medik dan
psikiatrik, manifestasi komplikasi organis adalah delirium, takikardi, ikterus, anuria
dan perdarahan dalam keadaan demikian perlu dipertimbangkan untuk mengakhiri
kehamilan keadaan yang memerlukan pertimbangan gugur kandung diantaranya:
a. Gangguan kejiwaan ditandai dengan: delirium, apatis, somnolen sampai koma, terjadi
gangguan jiwa.
b. Gangguan penglihatan ditandai dengan: pendarahan retina, kemunduran penglihatan.
c. Ganggguan faal ditandai dengan: hati dalam bentuk ikterus, ginjal dalam bentuk anuria,
jantung dan pembuluh darah terjadi nadi meningkat, tekanan darah menurun.
(Wiknjosastro, 2007).
6. Diet
Menurut Runiari ( 2010 ) Tiga macam diet pada hiperemesis gravidarum yaitu:
a. Diet hiperemesis I
Diet ini diberikan pada hiperemesis tingkat III.Makanan hanya terdiri dari roti kering,
singkong bakar atau rebus, ubi bakar atau rebus, dan buah-buahan.Cairan tidak diberikan
bersama dengan makanan tetapi 1-2 jam setelahnya.Karena pada diet ini zat gizi yang
terkandung didalamnya kurang, maka tidak diberikan dalam waktu lama.
b. Diet hiperemesis II
Diet ini diberikan bila rasa mual dan muntah sudah berkurang.Diet diberikan secara bertahap
dan dimulai dengan memberikan bahan makanan yang bernilai gizi tinggi.Minuman tetap
tidak diberikan bersamaan dengan makanan.Pemilihan bahan makanan yang tepat pada tahap
ini dapat memenuhi kebutuhan gizi kecuali kebutuhan energi.Jenis makanan ini rendah
kandungan gizinya, kecuali vitamin A dan D.
c. Diet hiperemesis III
Diet ini diberikan kepada klien hiperemesis gravidarum ringan.Diet diberikan sesuai
kemampuan klien, dan minuman boleh diberikan bersamaan dengan makanan.Makanan pada
diet ini mengcukupi kebutuhan energi dan semua zat gizi.
I. Komplikasi
Komplikasi yang mungkin terjadi menurut Lockhart ( 2014) adalah sebagai berikut :
1. Penurunun berat badan yang cukup banyak.
2. Starvasi dengan ketosis dan ketonuria.
3. Dehidrasi dengan selanjutnya gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit (hipokalemia).
4. Gangguan keseimbangan asam basa.
5. Kerusakan retina, saraf, dan renal.
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN PADA IBU HAMIL
DENGAN HIPEREMESIS GRAVIDARUM.

I. Pengkajian
1. Biodata
Meliputi nama ibu, umur, agama, pendidikan pekerjaan dan alamat ibu semua data ini untuk
mengetahui identitas, tingkat pengetahuan, serta status social ibu di masyarakat. Selain itu
juga mencakup data suami yang meliputi nama suami, umur, agama, pendidikan, pekerjaan
dan alamat.
2. Riwayat Keluhan Utama
Ibu mengatakan hamil muda dengan keluhan mual muntah yang berlebihan sampai
mengganggu aktivitas ibu.
3. Riwayat Kesehatan Yang Lalu
Ibu dengan penyakit gastritis.
4. Riwayat Kesehatan Keluarga
Ibu mengatakan dalam keluarga tidak ada yang menderita penyakit menular, menurun dan
menahun serta tidak ada riwayat Gemelly.
5. Riwayat Perkawinan
Umur pertama kali menikah : terlalu muda berhubungan dengan kesiapan untuk hamil, serta
kesiapan mengasuh dan mendidik anak.
6. Riwayat Kehamilan, Persalinan dan Nifas yang Lalu

7. Riwayat Kehamilan Sekarang
 Trimester I
 Hyperemesis Gravidarum
 Primi muda
 Mola hidatidosa, gemelly
8. Pola Kebiasaan Sehari-hari
a. Pola Istirahat
Dianjurkan banyak istirahat sehubungan dengan keadaan umum lemah akibat
hyperemesis gravidarum.
b. Pola Aktifitas
Aktifitas terganggu karena mual muntah yang berlebihan
c. Pola Eliminasi
 Oliguria
 Konstipasi
 Aseton dapat tercium saat BAK
d. Pola Nutrisi
 Asupan gizi kurang
 Ion-ion dalam tubuh berkurang sehingga terjadi dehidrasi
 Mual-muntah.
e. Personal Hygiene
f. Keadaan Psikosial
 Takut terhadap kehamilan dan persalinan
 Takut kehilangan pekerjaan
 Takut terhadap tanggung jawab sebagai ibu dapat menyebabkan konflik mental
sehingga memperberat mual-muntah.
g. Factor Spiritual
Kepercayaan dan keyakinan yang dianut dan dijalankan oleh ibu.

9. Pemeriksaan Fisik
a. Inspeksi
Muka : Pucat
Mata : Cekung, sclera sedikit ikterus
Mulut : Bibir kering, lidah kering dan tampak kotor
Ekstremitas : Turgor kulit menurun
Warna kulit : Kuning pada stadium lanjut
b. Palpasi
Perut : - Nyeri epigastrium
Leopald I : < 3 jari bawah pusat
Leopald II:
Terjadi pada trimester I
Ekstremitas : Turgor menurun
c. Auskultasi
DJJ : Doppler pada umur kehamilan 12 minggu
d. Perkusi
Reflek patella +/+

II. Diagnosa Keperawatan dan Intervensi


A. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan nausea dan vomitus yang
menetap.
Tujuan : kebutuhan nutrisi terpenuhi
Kriteria hasil :
1) Klien akan mengkonsumsi asupan oral diet yang mengandung zat gizi yang adequat.
2) Klien tidak mengalami nausea dan vomitus.
3) Klien akan menoleransi diit yang telah di programkan.
4) Klien akan mengalami peningkatan berat badan yang sesuai selama hamil.
Intervensi :
1) Catat intake dan output.
R/ menentukan hidrasi cairan dan pengeluaran melalui muntah.
2) Anjurkan makan dalam porsi kecil tapi sering
R/ dapat mencukupi asupan nutrisi yang dibutuhkan tubuh.
3) Anjurkan untuk menghindari makanan yang berlemak
R/ dapat merangsang mual dan muntah.
4) Anjurkan untuk makan makanan selingan seperti biskuit, roti dan teh (panas)hangat
sebelum bagun tidur pada siang hari dan sebelum tidur.
R/ makanan selingan dapat mengurangi atau menghindari rangsang mual muntah yang
berlebih
5) Catal intake TPN, jika intake oral tidak dapat diberikan dalam periode tertentu.
R/ untuk mempertahankan keseimbangan nutrisi.
6) Inspeksi adanya iritasi atau Iesi pada mulut.
R/ untuk mengetahui integritas inukosa mulut.
7) Kaji kebersihan oral dan personal hygiene serta penggunaan cairan pembersih mulut
sesering mungkin.
R/ untuk mempertahankan integritas mukosa mulut.
8) Pantau kadar Hemoglobin dan Hemotokrit
R/ mengidenfifikasi adanya anemi dan potensial penurunan kapasitas pcmbawa oksigen
ibu. Klien dengan kadar Hb < 12 gr/dl atau kadar Ht < 37 % dipertimbangkan anemi
pada trimester I.
9) Test urine terhadap aseton, albumin dan glukosa.
R/ menetapkan data dasar ; dilakukan secara rutin untuk mendeteksi situasi
potensial resiko tinggi sepertiketidakadekuatan asupan karbohidrat, Diabetik
kcloasedosis danHipertensi (Doenges, 2001).

B. Defisit volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan akibat vomitus dan asupan
cairan yang tidak adequat.
Tujuan : kebutuhan cairan terpenuhi
Kriteria hasil :
1) Keseimbangan cairan dan elektrolit akan kembali ke kondisi normal, yang terbukti
dengan turgor kulit normal, membran mukosa lembab, berat badan stabil, tanda-tanda
vital dalam batas normal; elektrolit, serum, hemoglobin, hematokrit, dan berat jenis urin
akan berada dalam batas normal.
2) Klien tidak akan muntah lagi
3) Klien akan mengkonsumsi asupan dalam jumlag yang adequat.
Intervensi:
1) Tentukan frekuensi atau beratnya mual/muntah.
R/ Memberikan data berkenaan dengan semua kondisi. Peningkatan kadar hormon
Korionik gonadotropin (HCG), perubahan metabolisme karbohidrat dan penurunan
motilitas gastrik memperberat mual/muntah pada kehamilan.
2) Tinjau ulang riwayat kemungkinah masalah medis lain (misalnya Ulkus peptikum,
gastritis.
R/ Membantu dalam mengenyampingkan penyebab lain untuk mengatasi masalah
khusus dalam mengidentifikasi intervensi.
3) Kaji suhu badan dan turgor kulit, membran mukosa, TD, input/output dan berat jenis
urine. Timbang BB klien setiap hari.
R/ Sebagai indikator dalam membantu mengevaluasi tingkat atau kebutuhan hidrasi.
4) Anjurkan peningkatan asupan minuman berkarbonat, makan seseringmungkin dengan
jumlah sedikit. Makanan tinggi karbonat seperti : roti kering sebelum bangun dari tidur.
R/ Membantu dalam meminimalkan mual/muntah dengan menurunkan keasaman
lambung. (Doenges, 2001)

C. Ketakutan berhubungan dengan efek hiperemesis pada kesejahteraan janin.


Tujuan : ketakutan klien teratasi
Kriteria hasil : klien memverbalisasi perasaan dan kekhawatirannya tentang
kesejahteraan janin.
Intervensi:
1) Memperlihatkan sikap menerima rasa takut klien
R/ Sikap yang menerima takut klien akan memungkinkan komunikasi terbuka
tentang sumber ketakutan.
2) Mendorong untuk mengungkapakn perasaan dan kekhawatirannya.
R/ Pengetahuan tentang risiko potensial pada janin dapat
membantunya.menghilangkan rasa takut.
3) Memberi informasi yang berhubungan dengan risiko potensial yang dapat terjadi pada
janinnya.
R/ Strategi koping yang efektif dibutuhkan untuk memampukan klien mengatasi
penyakit yang dideritanya dan efek-efek penyakit tersebut (bobak,2004: 273).

D. Gangguan rasa nyaman : nyeri (perih) berhubungan dengan muntah yang berlebihan,
peningkatan asam lambung.
Tujuan : nyeri hilang/berkurang. Kriteria hasil :
1) Klien mengungkapkan secara verbal.
2) Nyeri hilang atau berkurang
3) pasien dapat beristirahat dengan tenang
Intervensi:
1) kaji skala nyeri, karakteristik, kualitas, frekuensi dan lokasi nyeri.
R/ menentukan perubahan dalam tingkat nyeri dan mengevaluasi nilai skala nyeri.
2) Mengidentifikasi sumber sumber multiple dan jenis nyeri.Anjurkan penggunaan tekhnik
relaksasi dan distraksi
R/ menggunakan strategi ini sejalan dengan pemberian analgesic untuk mengurangi
atau mengalihkan respon terhadap nyeri.
3) Yakinkan pada klien bahwa perawat mengetahui nyeri yang dirasakannya dan akan
berusaha membantu untuk mengurangi nyeri tersebut.
R/ ketakutan bahwa nyari akan tidak dapat diterima seperti peningkatan
ketegangan dan ansietas yang nyata dan menurunkan toleransi nyeri.
4) Berikan kembali skala pengkajian nyeri
R/ memungkinkan pengkajian terhadap keefektifan analgesic dan mengidentifikasi
kebutuhan terhadap tindak lanjut bila tidak efektif.
5) Catat keparahan nyeri pasien dengan bagan.
R/ membantu dalam menunjukkan kebutuhan analgesic tambahan atau pendekatan
alternative terhadap penatalaksanaan nyeri.
6) Kolaborasi pemberian analgesik sesuai indikasi.
R/ analgesic lebih efektif bila diberikan pada awal siklus nyeri. (Smeltzer. 2001)

E. Kurang pengetahuan tentang penyakit dan pengobatan berhubungan dengan keterbatasan


informasi.
Tujuan : klien mengerti tentang perubahan fisiologis dan pskologis yang normal
dan tanda-tanda bahaya kehamilan.
Kriteria hasil :
1) Klien menjelaskan perubahan fisiologis dan pskologis normal berkaitan dengan
kehamilan trimester pertama..
2) Klien menunjukkan perilaku perawatan diri sendiri yang meningkatkan kesehatan
3) Mengidentifikasi tanda-tanda bahaya kehamilan.

Intervensi:
1) Jelaskan tentang Hiperemesis Grvidarum dan kaji pengetahuan pasien.
R/ untuk mengetahui seberapa dalam pengetahuan pasien tentang penyakitnya dan
tentang penatalaksanaannya di rumah.
2) Berikan pendidikan kesehatan tentang hiperemesis gravidarum.
R/ untuk meningkatkan pengetahuan pasien tentang hiperemesis gravidarum.
3) Buat hubungan perawat-klien yang mendukung dan terus menerus.
R/ peran penyuluh atau konselor dapat memberikan bimbingan antisipasi dan
meningkatkan tanggunmg jawab individu terhadap kesehatan.
4) Evaluasi pengetahuan dan keyakinan budaya saat ini berkenaan dengan perubahan
fisiologis/psikologis yang normal pada kehamilan, serta keyakinan tentang aktivitas,
perawatan diri dan sebagainya.
R/ memberikan informasi untuk membantu mengidentifikasi kebutuhan-kebutuhan dan
membuat rencana keperawatan.
5) Klarifikasi kesalahpahaman.
R/ ketakutan biasanya timbul dari kesalahan informasi dan dapat mengganggu
pembelajaran selanjutnya.
6) Tentukan derajad motivasi untuk belajar.
R/ klien dapat mengalami kesulitan dalam belajar kecuali kebutuhan untuk belajar
tersebut jelas.
7) Pertahankan sikap terbuka terhadap keyakinan klien/pasangan.
R/ penerimaan penting untuk mengembangkan dan mempertahankan hubungan.
8) Jawab pertanyaan tentang perawatan dan pemberian makan bayi.
R/ memberikan informasi yang dapat bermanfaat untuk membuat pilihan.
9) Identifikasi tanda bahaya kehamilan, seperti perdarahan, kram, nyeri abdomen
akut, sakit punggung, edema, gangguan penglihatan, sakit kepala dan tekanan pelvis.
R/ membantu klien membedakan yang normal dan abnormal sehngga membantunya
dalam mencari perawatan kesehatan pada waktu yang tepat. (Doenges,2001)

F. Resiko perubahan integritas kulit berhubungan dengan penurunan darah dan nutrisi
kejaringan-jaringan sekunder akibat dehidrasi
Tujuan : Tidak terjadi ganguan integritas kulit.
Kriteria hasil : mengidentifikasi dan menunjukkan perilaku untuk
mempertahankan kulit halus, kenyal, utuh.
Intervensi :
1) Observasi kemerahan, pucat, ekskoriasi.
R/ area ini meningkat risikonya untuk kerusakan dan memerlukan pengobatan lebih
intensif.
2) Dorong mandi tiap 2 hari 1x, pengganti mandi tiap hari.
R/ sering mandi membuat kekeringan kulit.
3) Gunakan krim kulit dua kali sehari dan setelah mandi.
R/ melicinkan kulit dan mengurangi gatal.
4) Diskusikan pentingnya perubahan posisi sering, perlu untuk mempertahankan aktivitas.
R/ meningkatkan sirkulasidan perfusi kulit dengan mencegah tekanan lama pada
jaringan.
5) Tekankan pentingnya masukan nutrisi/cairan adequat.
R/ perbaikan nutrisi dan hidrasi akan memperbaiki kondisi kulit. (Doenges,2001).

G. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakadekuatan sumber energi sekunder.


Tujuan : Pasien dapat beraktivitas secara mandiri.
Kriteria hasil :
1) Pasien dapat memperlihatkan kemajuan khususnya tingkat yang lebih tinggi.
2) Pasien mengidentifikasi faktor-faktor yang menurunkan toleransi aktivitas.
Intervensi :
1) Tingkatkan tirah baring/duduk. Berikan lingkungan yang tenang; batasi pengunjung
sesuai keperluan.
R/ meningkatkan istirahat dan ketenangan.
2) Ubah posisi dengan sering. Berikan perawatan kulit yang baik.
R/ meningkatkan fungsi pernapasan dan meminimalkan tekanan pada area tertentu untuk
menurunkan risiko kekurangan jaringan.
3) Tingkatkan aktivitas sesuai toleransi, bantu melakukan latihan rentang gerak sendi
pasif/aktif.
R/ tirah baring lama dapat menurunkan kemampuan. Ini dapat terjadi karena keterbatasan
aktivitas yang mengganggu periode istirahat.
4) Dorong penggunaan tekhnik manajemen stress. Contoh relaksasi progresif, visualisasi,
bimbingan imajinasi.
R/ meningkatkan relaksasi dan penghematan energy, memusatkan kembali perhatian
dan dapat meningkatkan koping.
5) Kolaborasi pemberian obat sesuai indikasi: sedatif, agen antiansietas, contoh diazepam
(valium); lorazepam(ativan).
R/ membantu dalam manajemen kebutuhan tidur. (Doenges, 2001).
DAFTAR PUSTAKA
Acy, (2012). Hubungan Antara Karakteristik Ibu Hamil dengan Kejadian Hiperemesis
Gravidarum di RSUD Ujung Berung pada 2010-1011, http://elibrary.unisba.ac.id. diunduh pada
tanggal 12 Februari 2015, jam 15.00.
Asfuah, (2009), Buku Ajar Gizi Untuk Kebidanan, Muha Medika, Yogyakarta.
Devi, N. (2010), Nutrition and Food Gizi Untuk Keluarga, Kompas, Jakarta.
Doengoes, Marilynn. E, (2001). Rencana Perawatan Maternal/Bayi. Edisi 2. Jakarta : EGC.
Gunawan et all, (2011), Asuhan Kebidanan Patologis, Yogyakarta, Yayasan Bina
Pustaka.
Hendi, A. (2009), Buku Ajar Asuhan Kebidanan, ECG, Jakarta.
Hidayat, Alimul A. (2007). Pengantar Konsep Asuhan Keperawatan. Salemba Medika,
Jakarta.
Lochart, Anita. 2014. Kebidanan Patologi. Tanggerang: Binarupa Aksara Publisher.
Mitayani, (2009), Asuhan Keperawatan Maternitas, Salemba Medika, Jakarta.
Mochtar, R. (2013), Sinopsis Obsteri: Obstetri Fisiologi, Obstetri Patologi Ed.3 Jilid 1, EGC,
Jakarta
Mullin, P M et all. (2011). Riks Factor Treatment and Outcomes Associated WithProlonged
Hyperemesis Gravidarum, Journal Of Maternal-Fetal and NeonatalMedicine.
Nugroho, Taufan, (2001). Buku Ajar Obstetri. Yogyakarta : Nuha Medika.
Rekam Medik RSUD Gambiran Kota Kediri. RM. (2014).
Runiari, Nengah. 2010. Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Hiperemesis Gravidarum.
Jakarta: Salemba Medika.
Tiran, Denise, (2008). Mual dan muntah kehamilan. Jakarta : EGC.
Varney, Helen, (2006). Buku Ajar Asuhan Kebidanan. Edisi 4. Jakarta : EGC.
Wilkinson Judith M, Ahern Nancy R. (2011), Buku Saku Diagnosis Keperawatan: Diagnosa
NANDA, Intervensi NIC, Kriteria Hasil NOC Ed.9, alih bahasa EstyWahyuningsih, EGC,
Jakarta.
Wiknjosastro, H. (2007), Ilmu Kebidanan Ed.3 Cetakan ke-9, YBP-SP, Jakarta.

Anda mungkin juga menyukai