Anda di halaman 1dari 20

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Permintaan

2.1.1. Teori Permintaan

Permintaan suatu barang di pasar akan terjadi apabila konsumen

mempunyai keinginan (willing) dan kemampuan (ability) untuk membeli, pada

tahap konsumen hanya memiliki keinginan atau kemampuan saja maka

permintaan suatu barang belum terjadi, kedua syarat willing dan ability harus ada

untuk terjadinya permintaan (Turner, 1971) dalam (Salma, 2004).

Teori permintaan menerangkan tentang sifat permintaan para pembeli

terhadap suatu barang. Teori permintaan menerangkan tentang ciri-ciri hubungan

antara jumlah permintaan dan harga. Menurut Sadono Sukirno, (2005)

permintaan adalah keinginan konsumen membeli suatu barang pada berbagai

tingkat harga tertentu selama periode waktu tertentu.

Para ahli ekonomi lainnya yaitu Lincolin Arsyad (1997:125),

mengemukakan bahwa “Dalam ilmu ekonomi istilah permintaan menunjukkan

jumlah barang dan jasa yang akan dibeli konsumen pada periode waktu dan

keadaan tertentu”. Permintaan terdiri dari :

1. Permintaan Langsung, yaitu permintaan akan barang dan jasa yang dapat

memuaskan keinginan konsumen secara langsung.

2. Permintaan turunan, yaitu permintaan barang dan jasa yang digunakan

sebagai input penting dalam pengolahan dan pendistribusian produk

Universitas Sumatera Utara


lainnya, misalkan permintaan akan pekerjaan, tenaga penjual, dan lain-

lain.

Sedangkan dari segi kemampuan dan daya beli maka permintaan dibagi

atas (Arsyad, 1997) :

1. Permintaan potensial, yaitu permintaan yang hanya menunjukkan adanya

intensitas kebutuhan seseorang akan guna barang tanpa disertai dengan

daya beli

2. Permintaan efektif yaitu permintaan selain menunjukkan adanya intensitas

kebutuhan juga disertai dengan daya beli.

Fungsi permintaan seorang konsumen akan suatu barang dapat

dirumuskan sebagai berikut :

Dx = f ( Y, Py, T, u ) …………………………………… (2.1 )

Dimana : Dx = Jumlah barang yang diminta

Y = Pendapatan Konsumen

Py = Harga Barang Lain

T = Selera

U = Faktor-faktor Lainnya

Persamaan tersebut di atas berarti jumlah barang X yang diminta

dipengaruhi oleh harga barang X, pendapatan konsumen, harga barang lain,

selera dan faktor-faktor lainnya. Dimana DX adalah jumlah barang X yang

diminta konsumen, Y adalah pendapatan konsumen, Py adalah harga barang

selain X, T adalah selera konsumen dan U adalah faktor-faktor lainnya. Dalam

Universitas Sumatera Utara


kenyataannya permintaan akan suatu barang tidak hanya dipengaruhi oleh harga

barang itu sendiri namun juga oleh faktor-faktor lain (Sukirno, 2005).

Dalam analisa ekonomi, permintaan individu maupun pasar terutama

dipengaruhi oleh tingkat harganya. Oleh sebab itu teori permintaan, harga

merupakan faktor yang terutama dianalisis, analisis permintaan ini dapat

ditunjukkan dalam bentuk tabel atau grafik. Apabila ditunjukkan dalam bentuk

tabel, analisis ini disebut dengan skedul permintaan (Demand Schedule),

sedangkan apabiola ditunjukkan dalam bentuk grafik, analisis ini disebut kurva

permintaan (Demand Curve). Skedul permintaan dapat didefinisikan sebagai

suatu tabel yang menunjukkan daftar berbagai kemungkinan harga produk itu.

Sedangkan kurva permintaan dapat didefinisikan sebagai suatu grafik yang

menunjukkan hubungan antara kuantitas permintaan dan harga produk, apabila

semua variabel lain penentu permintaan produk itu dibuat konstan (cateris

paribus)

2.1.2. Hukum Permintaan ( The Law of Demand)

Hukum permintaan menjelaskan sifat keterikatan diantara permintaan

sesuatu barang dengan harganya. Hukum permintaan pada hakikatnya merupakan

suatu hipotesa yang menyatakan semakin rendah harga suatu barang, makin

banyak barang yang diminta (Sukirno, 2005). Pada hakikatnya makin rendah

harga suatu barang maka makin banyak permintaan terhadap barang tersebut.

Sebaliknya, makin tinggi harga suatu barang maka makin sedikit permintaan

terhadap barang tersebut. Dari hipotesa di atas dapat disimpulkan, bahwa :

Universitas Sumatera Utara


1. Apabila harga suatu barang naik, maka pembeli akan mencari barang lain

yang dapat digunakan sebagai pengganti barang tersebut, dan sebaliknya

apabila barang tersebut turun, konsumen akan menambah pembelian

terhadap barang tersebut.

2. Kenaikan harga menyebabkan pendapatan riil konsumen berkurang,

sehingga memaksa konsumen mengurangi pembelian, terutama barang yang

akan naik harganya (Sukirno, 2005).

Kurva permintaan umumnya menurun dari atas ke kanan bawah. Menurut

Alma (2000), hal ini disebut dengan The Law of Down Ward Sloping, dimana

jika harga suatu barang dinaikkan maka jumlah barang ditawarkan yang diminta

akan berkurang, atau bila suatu barang ditawarkan dalam jumlah yang lebih

banyak dipasar maka harga tersebut hanya dapat di jual dengan harga yang lebih

rendah. Hukum permintaan ini ada kalanya tidak berlaku yaitu kalau harga suatu

barang naik justru permintaan terhadap barang tersebut meningkat.

2.1.3. Elastisitas Permintaan

Elastisitas permintaan merupakan suatu ukuran kuantitatif yang

menunjukkan besarnya pengaruh perubahan harga atau faktor-faktor lainnya

terhadap perubahan permintaan suatu komoditas. Secara umum elastisitas

permintaan dapat dibedakan menjadi elastisitas permintaan terhadap harga (price

elasticity of demand), elastisitas permintaan terhadap pendapatan (income

elasticity of demand), dan elastisitas permintaan silang (cross price elasticity of

demand). Elastisitas permintaan terhadap harga, mengukur seberapa besar

perubahan jumlah komoditas yang diminta apabila harganya berubah. Jadi

Universitas Sumatera Utara


elastisitas permintaan terhadap harga adalah ukuran kepekaan perubahan jumlah

komoditas yang diminta terhadap perubahan harga komoditas tersebut dengan

asumsi ceteris paribus. Nilai elastisitas permintaan terhadap harga merupakan

hasil bagi antara persentase perubahan harga. Nilai yang diperoleh tersebut

merupakan suatu besaran yang menggambarkan sampai berapa besarkah

perubahan jumlah komoditas yang diminta apabila dibandingkan dengan

perubahan harga (Sugiarto, 2005).

Menurut Sukirno (2003) pengukuran elastisitas permintaan sangat

bermanfaat bagi pihak swasta dan pemerintah. Bagi pihak swasta pengukuran

elastisitas permintaan dapat digunakan sebagai landasan untuk menyusun

kebijakan perekonomian yang akan dilaksanakannya seperti misalnya kebjakan

impor komoditi yang akan mempengaruhi harga yang ditanggung rakyatnya.

Pengukuran elastisitas permintaan kerap dinyatakan dalam ukuran koefisien

elastisitas permintaan. Koefisien permintaan merupakan ukuran perbandingan

persentase perubahan harga atas barang tersebut. Koefisien elastisitas permintaan

dapat di rumuskan sebagai berikut (Sukirno, 2003, dalam Rahma, 2010) :

1. Elastis

Barang dikatakan elastis sempurna bila kurva permintaan mempunyai

koefisien elastisitas lebih besar daripada satu. Hal ini terjadi bila jumlah

barang yang diminta lebih besar daripada persentase perubahan harga barang

tersebut.

Universitas Sumatera Utara


2. Elastisitas Uniter

Barang dikatakan elastis uniter bila kurva permintaan mempunyai koefisien

elastisitas sebesar satu. Persentase perubahan harga direspon proporsional

terhadap persentase jumlah barang yang diminta.

3. Tidak elastis

Barang dikatakan tidak elastis bila persentase perubahan jumlah yang diminta

lebih kecil daripada persentase perubahan harga sehingga koefisien elastisitas

permintaannya antara nol dan satu.

2.2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Permintaan Pembelian Air Isi


Ulang RO

Beberapa faktor yang mempengaruhi permintaan pembelitan air isi ulang

jenis RO yaitu sebagai berikut :

1. Kualitas Produk

Kotler (2008) mengatakan bahwa produk adalah segala sesuatu yang

dapat ditawarkan ke suatu pasar untuk memenuhi keinginan atau kebutuhan

konsumen. Kualitas produk merupakan hal penting yang harus diusahakan oleh

setiap perusahaan apabila menginginkan produk yang dihasilkan dapat bersaing

di pasar. Dewasa ini, dikarenakan kemampuan ekonomi dan tingkat pendidikan

masyarakat cenderung meningkat, sebagian masyarakat semakin kritis dalam

mengkonsumsi suatu produk. Konsumen selalu ingin mendapatkan produk yang

berkualitas sesuai dengan harga yang dibayar, walaupun terdapat sebagian

masyarakat yang berpendapat bahwa, produk yang mahal adalah produk yang

berkualitas.

Universitas Sumatera Utara


Kotler dan Armstrong (2008) menyatakan bahwa “Kualitas produk adalah

kemampuan suatu produk untuk melakukan fungsi-fungsinya yang meliputi daya

tahan, keandalan, ketepatan, kemudahan, operasi dan perbaikan serta atribut

lainnya”. Bila suatu produk telah dapat menjalankan fungsi-fungsinya dapat

dikatakan sebagai produk yang memiliki kualitas yang baik.

2. Harga

Harga merupakan salah satu faktor penting dari sisi penyedia jasa untuk

memenangkan suatu persaingan dalam memasarkan produknya. Oleh karena itu

harga harus ditetapkan Menurut Augusty Ferdinand (2006), harga merupakan

salah satu variabel penting dalam pemasaran, dimana harga dapat mempengaruhi

konsumen dalam mengambil keputusan untuk membeli suatu produk, karena

berbagai alasan. Alasan ekonomis akan menunjukkan harga yang rendah atau

harga terlalu berkompetisi merupakan salah satu pemicu penting untuk

meningkatkan kinerja pemasaran, tetapi alasan psikologis dapat menunjukkan

bahwa harga justru merupakan indikator kualitas dan karena itu dirancang

sebagai salah satu instrumen penjualan sekaligus sebagai instrument kompetisi

yang menentukan.

Harga menurut Kotler dan Amstrong (2008) adalah sejumlah uang yang

ditukarkan untuk sebuah produk atau jasa. Lebih jauh lagi, harga adalah sejumlah

nilai yang konsumen tukarkan untuk jumlah manfaat dengan memiliki atau

menggunakan suatu barang atau jasa.

Harga memiliki dua peranan utama dalam proses pengambilan keputusan

para pembeli yaitu:

Universitas Sumatera Utara


1). Peranan alokasi dari harga, yaitu fungsi harga dalam membantu para pembeli

untuk memutuskan cara memperoleh manfaat tertinggi yang diharapkan

berdasarkan daya belinya. Dengan demikian dengan adanya harga dapat

membantu para pembeli untuk memutuskan cara mengalokasikan daya

belinya pada berbagai jenis barang atau jasa. Pembeli membandingkan harga

dari berbagai alternatif yang tersedia, kemudian memutuskan alokasi dana

yang dikehendaki.

2). Peranan informasi dari harga, yaitu fungsi harga dalam “mendidik”

konsumen mengenai faktor-faktor produk, seperti kualitas. Hal ini terutama

bermanfaat dalam situasi dimana pembeli mengalami kesulitan untuk

menilai faktor produksi atau manfaatnya secara objektif. Persepsi yang

sering berlaku adalah bahwa harga yang mahal mencerminkan kualitas yang

tinggi. (Tjiptono,2008)

3. Tempat

Keputusan membeli suatu produk dapat juga dipengaruhi oleh kemudahan

memperolehnya desain peletakannya ataupun sarana tempat pembeliannya.

Pilihan tempat juga merupakan fungsi dari empat variabel, yaitu kriteria evaluasi,

karakteristik toko yang dirasakan, proses perbandingan dan toko-toko yang dapat

diterima dan tidak dapat diterima (Engel, et al, 1995). Keputusan tentang tempat

dimana konsumen akan membeli suatu produk dipengaruhi atribut yang

mencolok dari tempat tersebut, seperti harga, iklan dan promosi, personel

penjualan, pelayanan yang diberikan, atribut fisik, pelanggan toko, atmosfer toko,

dan pelayanan sesudah transaksi.

Universitas Sumatera Utara


4. Promosi

Promosi merupakan salah satu variabel bauran pemasaran yang digunakan

oleh perusahaan untuk mengadakan komunikasi dengan pasarnya, karena dengan

adanya promosi maka konsumen akan mengetahui hadirnya suatu produk.

Promosi juga dapat diartikan sebagai komunikasi, karena melalui komunikasi

yang efektif akan terjadi interaksi yang saling menguntungkan.

Promosi adalah sejenis komunikasi yang memberi penjelasan dan

meyakinkan calon konsumen mengenai barang dan jasa dengan tujuan untuk

memperoleh perhatian, mendidik, mengingatkan dan meyakinkan calon

konsumen (Alma, 2006). Di sisi yang lain menurut Tjiptono (2008) promosi

penjualan adalah bentuk persuasi langsung melalui penggunaan berbagai insentif

yang dapat diatur untuk merangsang pembelian produk dengan segera dan

meningkatkan jumlah barang yang dibeli pelanggan.

2.3. Air minum

2.3.1. Pengertian Air Minum

- Air minum adalah air yang melalui proses pengolahan atau tanpa proses

pengolahan yang memenuhi syarat kesehatan dan dapat langsung diminum.

Sedangkan yang dimaksud dengan air bersih adalah air yang digunakan untuk

keperluan sehari-hari yang kualitasnya memenuhi syarat kesehatan dan dapat

diminum apabila telah dimasak. Dalam peraturan perundang-undangan nomor 16

tahun 2005 tentang pengelolaan air minum, dijelaskan bahwa istilah air bersih

tidak digunakan lagi dan digantikan dengan istilah air minum. Beberapa jenis air

minum, antara lain (Sulistyawati, 1997) :

Universitas Sumatera Utara


1. Air kemasan

2. Air yang didistribusikan melalui pipa untuk keperluan rumah tangga

3. Air yang didistribusikan melalui tangki air

4. Air yang digunakan untuk bahan makanan dan minuman yang disajikan

kepada masyarakat, dimana harus memenui syarat kualitas air minum.

Air minum merupakan salah satu kebutuhan manusia yang paling penting.

Seperti diketahui, kadar air tubuh manusia mencapai 68 persen dan untuk tetap

hidup air dalam tubuh tersebut harus dipertahankan. Kebutuhan air minum setiap

orang bervariasi dari 2,1 liter hingga 2,8 liter per hari, tergantung pada berat

badan dan aktivitasnya. Namun, agar tetap sehat, air minum harus memenuhi

persyaratan fisik, kimia, maupun bakteriologis (Suriawiria, 1996). Menurut

Slamet (2004), syarat-syarat air minum adalah tidak berwarna, tidak berasa, dan

tidak berbau. Air minum pun seharusnya tidak mengandung kuman patogen yang

dapat membahayakan kesehatan manusia. Tidak mengandung zat kimia yang

dapat mengubah fungsi tubuh, tidak dapat diterima secara estetis, dan dapat

merugikan secara ekonomis. Selain itu kebutuhan kualitas dan kuantitas air

masyarakat harus dipenuhi untuk memenuhi syarat hidup sehat.

2.3.2. Persyaratan Kualitas Air Minum

Pemanfaatan air dalam kehidupan harus memenuhi persyaratan baik

kualitas dan kuantitas yang erat hubungannya dengan kesehatan. Air yang

memenuhi persyaratan kuantitas apabila air tersebut mencukupi semua kebutuhan

keluarga baik sebagai air minum maupun untuk keperluan rumah tangga lainnya.

Universitas Sumatera Utara


Sedangkan air yang memenuhi persyaratan kualitas air minum menurut

Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 907 /Menkes/SK/VII/2002, secara garis

besar dapat digolongkan dengan empat syarat :

1. Syarat Fisik

Air minum yang dikonsumsi sebaiknya tidak berasa, tidak berbau, tidak

berwarna (maksimal 15 TCU), tidak keruh (maksimal 5 NTU), dan suhu

udara maksimal ± 30C dari udara sekitar.

2. Syarat Kimia

Air minum yang akan dikonsumsi tidak mengandung zat-zat organic dan

anorganik melebihi standar yang ditetapkan, pH pada batas maksimum dan

minimum (6,5 – 8,5) dan tidak mengandung zat kimia beracun sehingga

menimbulkan gangguan kesehatan.

3. Syarat Bakteriologis

Air minum yang aman harus terhindar dari kemungkinan kontaminasi

Escherechia coli atau koliform tinja dengan standar 0 dalam 100 ml air

minum. Keberadaan E. coli dalam air minum merupakan indikasi telah

terjadinya kontaminasi tinja manusia.

4. Syarat Radioaktif

Air minum yang akan dikonsumsi hendaknya terhindar dari kemungkinan

terkontaminasi radiasi radioaktif melebihi batas maksimal yang

diperkenankan

2.3.3. Jenis Air Minum

Pada dasarnya jenis air dibagi dalam dua kategori (Mahani, 2012) :

Universitas Sumatera Utara


1. Air Pentagonal/Segi lina (molekul atomnya tak stabil dan tak beraturan)

Merupakan air biasa (air minum kemasan bukan RO) dan air ber Oxygen

(di pasaran biasa disebut air RO) adalah dua jenis air yang termasuk dalam

kelompok AIR PENTAGONAL. Perbedaan yang mencolok terdapat dalam

kandungan Oxygen terlarutnya dan kandungan mineral. Karena pada

pembuatan air ber oxygen, oxygen di paksa masuk kedalam air dengan

tekanan dan suhu tertentu. Pada air biasa dan air yang beroksigen hanya

lima molekul H2O yg berkelompok membentuk formasi pentagonal,

selanjutnya kelompok-kelompok tersebut membentuk rangkaian berupa air

yang kita jumpai sehari-hari

2. Air Hexagonal/Segi enam (molekul atomnya stabil dan beraturan)

Air Hexagonal seperti halnya air biasa, terbentuk atas susunan H2O. yang

membedakan air ini dengan air biasa atau air yang ber Oxygen adalah

Formasi kelompok molekul H2O nya. Rangkaian tersebut terjadi karena ada

sejumlah gaya yang bekerja sehingga memungkinkan molekul H2O

membentuk formasi yang khas. Pada air Hexagonal, enam molekul H2O

berkelompok membentuk formasi heksagonal (segi enam) fenomena ini

terjadi karena air di pengaruhi oleh gelombang magnet dan radiasi elektrik

tertentu (gelombang panjang infra merah).

2.4. Reverse Osmosis (RO)

2.4.1. Pengertian Reverse Osmosis (RO)

Reverse osmosis (RO) adalah suatu metode penyaringan yang dapat

menyaring berbagai molekul besar dan ion-ion dari suatu larutan dengan cara

Universitas Sumatera Utara


memberi tekanan pada larutan ketika larutan itu berada di salah satu sisi membran

seleksi (lapisan penyaring). Proses tersebut menjadikan zat terlarut terendap di

lapisan yang dialiri tekanan sehingga zat pelarut murni bisa mengalir ke lapisan

berikutnya. Membran seleksi itu harus bersifat selektif atau bisa memilah yang

artinya bisa dilewati zat pelarutnya (atau bagian lebih kecil dari larutan) tapi tidak

bisa dilewati zat terlarut seperti molekul berukuran besar dan ion-ion.

Reverse osmosis (RO) adalah proses pemurnian air hingga kandungan

TDS < 2 ppm dan dioksigenisasi hingga 80 ppm. Osmosis adalah sebuah

fenomena alam yang terjadi dalam sel makhluk hidup dimana molekul "solvent"

(biasanya air) akan mengalir dari daerah berkonsentrasi rendah ke daerah

Berkonsentrasi tinggi melalui sebuah membran semipermeabel. Membran

semipermeabel ini menunjuk ke membran sel atau membran apa pun yang

memiliki struktur yang mirip atau bagian dari membran sel. Gerakan dari

"solvent" berlanjut sampai sebuah konsentrasi yang seimbang tercapai di kedua

sisi membran.

2.4.2. Cara Kerja Reverse Osmosis

Sebuah membran semi-permeable, seperti halnya membran yang tersusun

dari dinding-dinding sel atau seperti susunan sel pada kantung kemih, bersifat

selektif terhadap benda-benda yang akan melaluinya. Umumnya membran ini

sangat mudah untuk dilalui oleh air karena ukuran molekulnya yang kecil; tapi

juga mencegah kontaminan-kontaminan lain yang mencoba melaluinya. Sebagai

percobaan, air diisikan di kedua sisi membran, dimana air di salah satu sisinya

memiliki perbedaan konsentrasi mineral-mineral terlarut, karena air memiliki

Universitas Sumatera Utara


sifat berpindah dari larutan berkonsentrasi rendah menjuju larutan berkonsentrasi

lebih tinggi, maka air akan berpindah (berdifusi) melalui membran dari sisi

konsentrasi rendah ke sisi konsentrasi yang lebih tinggi. Sehingga, tekanan

osmotik akan melawan proses difusi, dan akan terbentuk kesetimbangan

(Pratama, 2012).

Proses Reverse Osmosis menggerakkan air dari konsentrasi kontaminan

yang tinggi (sebagai air baku) menuju penampungan air yang memiliki

konsentrasi kontaminan sangat rendah. Dengan menggunakan air bertekanan

tinggi di sisi air baku, sehingga dapat menciptakan proses yang berlawanan

(reverse) dari proses alamiah osmosis. Dengan tetap menggunakan membran

semi-permeable maka hanya akan mengijinkan molekul air yang melaluinya dan

membuang bermacam-macam kontaminan yang terlarut. Proses spesifik yang

terjadi dinamakan ion eksklusi, dimana sejumlah ion pada permukaan membran

sebagai sebuah pembatas mengijinkan molekul-molekul air untuk melaluinya

seiring melepas substansi-substansi lain. Sistim kerja reverse osmosis dapat

digunakan untuk (Pratama, 2012) :

1. Low Pressure System (biasa digunakan di perumahan). Sistem Reverse

Osmosis bertekanan rendah adalah yang bertekanan kurang dari 100 psig.

Biasanya digunakan di area perumahan yang menggunakan sistem

penampungan. Cara kerja sebagai berikut : Tangki penampungan penempatan

di atas (countertop) biasanya tidak bertekanan; namun jenis tangki

penampung terbenam (undersink) biasanya bertekanan yang akan bertambah

seiring bertambahnya isi tangki. Sistem bertekanan ini mampu menyediakan

Universitas Sumatera Utara


tekanan yang cukup untuk menggerakkan air dari tangki penampungan

menuju kran. Tapi sayangnya, hal ini juga akan menciptakan tekanan balik

melawan membran, yang dapat menurunkan efisiensi sistem. Beberapa unit

mengatasi masalah ini dengan menggunakan tangki tidak bertekanan dengan

pompa untuk mendapatkan air yang telah dimurnikan saat dibutuhkan. Unit-

unit bertekanan rendah biasanya mampu menghasilkan 2 – 15 galon per hari,

dengan efisiensi besar jumlah air limbah (reject water) sebanyak 2 – 4 galon

untuk setiap galon air murni yang dihasilkan. Kemurnian air yang dihasilkan

mampu mencapai 95%. Sistem jenis ini sangat terjangkau. Unit jenis ini

memerlukan pemeliharaan berupa penggantian pre dan post filter (biasanya 1

hingga 4 kali per tahun); dan penggantian membran Reverse Osmosis setiap 2

hingga 3 tahun sekali, tergantung penggunaan.

2. High Pressure System (biasa digunakan untuk komersial dan industri). Sistem

tekanan tinggi biasanya beroperasi pada tekanan 100 – 1000 psig, tergantung

membran yang digunakan dan air yang akan diolah. Sistem ini biasanya

digunakan untuk industri dan komersial dimana dibutuhkan volume yang

besar namun tetap pada standar kemurnian yang tinggi.

Kebanyakan sistem komersial dan industri menggunakan banyak

membran yang diatur secara pararel untuk menghasilkan jumlah air yang

diinginkan. Air yang telah diproses dari stage pertama kemudian dilanjutkan

ke modul membran tambahan untuk mendapatkan tingkat pemurnian yang

lebih tinggi. Air limbah yang dihasilkan dapat juga diarahkan ke modul

membran berikutnya untuk meningkatkan efisiensi sistem (lihat diagram

Universitas Sumatera Utara


dibawah berikut), walau pembersihan (flushing) masih tetap diperlukan saat

konsentrasi meningkat mencapai tingkat kegagalan (fouling). Sistem High

Pressure untuk industri mampu menghasilkan 10 hingga ribuan galon air

perhari dengan efisiensi 1 – 9 galon air limbah. Kemurnian air bisa mencapai

95%. Sistem ini lebih besar dan leih rumit dibandingkan sistem Low Pressure.

Reverse Osmosis mampu menghilangkan banyak jenis kontaminan

kesehatan dan aestatik. Didesain dengan efektif sehingga mampu menghilangkan

rasa, warna dan bau yang tidak sedap, dan rasa asin atau soda yang disebabkan

oleh klorida atau sulfat. Reverse Osmosis juga efektif untuk menghilangkan

kontaminan kesehatan seperti arsenik, asbestos, atrazine (hebrisida/pestisida),

florida, timah, merkuri, nitrat, dan radium. Dengan menggunakan pre-filter

karbon yang sesuai (yang biasanya termasuk di banyak sistem reverse osmosis),

maka akan mampu menghilangkan kontaminan seperti benzene, trikloretilen,

trihalometana, dan radon. Beberapa sistem reverse osmosis juga mampu

menghilangkan kontaminan biologi seperti Crystosporidium. Peringatan dari

Water Quality Association (WQA), bahwa membran reverse osmosis secara

umum mampu menghilangkan semua mikro-organisme dan kontaminan

kesehatan, dengan perancangan sistem reverse osmosis yang dapat mencegah

kegagalan perlindungan pada sistem air minum (Santoso, 2009).

2.4.3. Manfaat Reverse Osmosis (RO)

Sistim RO memiliki kelebihan dibandingkan dengan sistem pengolahan

air minum yang lain, berikut ini beberapa alasan menggunakan reverse osmosis

sebagai air minum kesehari-harian yaitu sebagai berikut :

Universitas Sumatera Utara


1. Memiliki standar kualitas air Internasional dengan ukutan filter atau

membrane yang sangat halus yaitu 0,0001 mikron yang mampu membuang

seluruh bahan pencemar air seperti kimia, biologis, fisik, bakteri, virus hingga

logam berat.

2. Dengan mengkonsumsi air minum yang murni dari hasil mesin sistem reverse

osmosis atau sistem RO, maka kesehatan dan fungsi ginjal di dalam tubuh

dapat tetap terjaga dengan baik.

3. Menjaga kesehatan tubuh kita dari beberapa penyakit yang cukup berbahaya

seperti : gula darah (diabetes), darah tinggi (Hipertensi), asam urat, gangguan

fungsi ginjal, gagal ginjal maupun batu ginjal (kerusakan ginjal dapat terjadi

karena terdapatnya logam-logam berat yang banyak bersifat toksik/racun dan

pengendapan pada ginjal), sehingga dapat digunakan sebagi terapi kesehatan

terhadap penyakit tertentu.

4. Dilakukan tahapan proses analisa air baku sebelum pemasangan. Filter yang

digunakan disesuaikan dengan kondisi atau masalah air sehingga dilakukan

proses filterisasi sesuai dengan output yang diinginkan

5 Mampu membuang zat polutan berbahaya higga air menjadi murni 99,9%.

Hal ini polutan atau logam berat tidak dapat dihilangkan dengan system

pengolahan air minum yang lama misalnya pendidihan, ultraviolet, ozonisasi

dan lain-lain.

6. Baik untuk digunakan sebgai “Terapi Air Putih”, karena menggunakan air

murni lebih cepat diserap tubuh

Universitas Sumatera Utara


7. Memiliki nilai ekonomis yang tinggi dibandingkan membeli air minum

kemasan dan isi ulang. Biaya pertahun untuk produk reverse osmosis rumah

tangga yang digunakan hingga 10 orang tidak lebih dari Rp. 350.000.

8. Merupakan teknologi yang telah teruji secara internasional., karena digunakan

di berbagai Negara maju seperti Amerika Serikat, Inggris, Singapura,

Australia, Jepang dan negara lainnya.

9. Kualitas air langsung dapat diuji dari hari ke hari sehingga air yang diminum

terjamin kualitasnya,

10. Menggunakan komponen filter yang telah lolos uji kelayakan dari NSF dan

anggota Water Quality.

2.4.4. Perbedaan Sistem Depot Air RO dengan Depot Air Biasa

Pebedaan sistem pemurni atau filterisasi air minum (Depo) RO dengan

Depo Air biasa adalah sebagai berikut :

a. Dari segi harga

1. Sistem Konvendonal yaitu depot air minum UV – (dengan teknologi Ultra

Violet (UV) dan biasa dijual berkisar Rp. 2.500 – Rp. 4.000/galon)

2. Sistem Reverse Osmosis yaitu depot air minum RO (dengan teknologi RO

dan biasa dujual berkisar Rp 4.000 – Rp. 8.000/galon).

b. Dari segi mesin pemurnian

1. Sistem Konvensonal (Depot UV), proses pemurniannya dengan

Multimedia Macro Filter. Menggunakan Carbon Aktif, Silica/Sand,

Manganaise, Antracid, Zeloid dan lain-lain tergantung kondisi air baku

yang akan di olah.

Universitas Sumatera Utara


a. Pemurnian dengan Macro Filter yaitu menggunakan media

Catrige/Spon sedimen filter untuk menyaring endapat atau polutan air

dengan kerapatan 0,1 s/d 0,5 micron.

b. Sinar Ultra Violet (UV) gunanya untuk sterilisasi air dari bakteri

(untuk depo air minum isi ulang dianjurkan minimal kapasitas UV :

12 GPM yaitu 12 galon per menit), karena fungsi UV sangat vital

maka UV harus sesuai standar dan apabila UV tidak berfungsi jangan

menjual air tersebut.

c. Ozone (O3) : fungsinya untuk sterilisasi air dengan media Gas O3

yang dihasilkan dari proses generator Ozone atau injeksi langsung

dengan oksigen (O2) tabung yang melalui sistem pembakaran

generator mesin Ozone. Adapun air yang menggunakan sistem ozone

kualitas air akan lebih enak, fresh dan tahan lama walaupun disimpan

dalam jangka panjang tidak berubah atau berlumut.

2. Sistem Reverse Osmosis (Depo RO), proses pemurnian air dengan media

membrane sintetis yang sangat halus, kerapatannya mencapai 0,00001

micron, maka dengan filter membrane yang rapat sekali bakteripun tidak

bisa tembus ke dalam membrane tersebut dan air baku kandungan polutan

(TDS) tinggi akan di bolak balik oleh membrane sehingga proses RO ada

air yang terbuang, banyak sedikitnya air yang terbuang tergantung air

bakunya dan kualitas mesin RO tersebut.

Universitas Sumatera Utara


2.5 Penelitian Terdahulu

Penelitian yang berhubungan dengan analisa permintaan air minum isi ulang

terhadap minat beli telah banyak dilakukan dengan objek dan pendekatan yang

berbeda-beda. Bukti ini adalah bukti penelitian terdahulu sejenis dengan skripsi

yang saya teliti :

1. Penelitian yang dilakukan oleh Ritawati Tedjakusuma, Sri Hartini dan

Muryani (2001) berjudul “Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi

Perilaku Konsumen dalam Pembelian Air Minum Mineral di Kota

Surabaya”. Hasil penelitian ini menghasilkan kesimpulan bahwa secara

bersama-sama faktor pendidikan, penghasilan, harga, kualitas, distribusi dan

promosi berpengaruh signifikan terhadap perilaku konsumen, sedangkan

yang peling dominan adalah faktor harga

2. Penelitian yang dilakukan oleh Dheany Arumsari (2012) yang berjudul

Analisis Pengaruh Kualitas Produk, Harga dan Promosi Terhadap Keputusan

Pembelian Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) merek Aqua (Studi pada

Konsumen Toko Bhakti Mart Bhakti Praja Provinsi Jawa Tengah” dengan

hasil harga mempunyai pengaruh yang paling besar dibandingkan variabel

bebas lainnya.

Universitas Sumatera Utara

Anda mungkin juga menyukai