Anda di halaman 1dari 5

HADITS MAUDHU’

Makalah ini disusun sebagai tugas mata pelajaran Ilmu Hadits yang dibimbing oleh
Bapak Diantriana,M.Pd.I

Oleh :

M. Arya Ananda Putra (13// XI IIK )

Nur Rahmat Faiz A (17 // XI IIK )

MADRASAH ALIYAH NEGERI 8 JOMBANG

KEMENTERIAN AGAMA REPUBLIK INDONESIA


2022
A. Pengertian Hadits Maudhu’

Pengertian Maudhu’ secara bahasa

‫ – اﻟﻤﻮﺿﻮع‬Al-maudhu’ – Secara bahasa adalah isim maf’ul dari ‫ وَ ﺿَ ـ َﻊ ﯾَﻀَ ـﻊ‬yang memiliki
beberapa arti, di antaranya: ‫ – اﻹﺳﻘﺎط‬menggugurkan atau membatalkan ‫– اﻻﺧﺘﻼق واﻻﻓﺘﺮاء‬
mengada-ada atau merekayasa dan memalsukan, membuat-buat dan mereka-reka.

Pengertian Hadits Maudhu’ secara istilah

Menurut istilah, hadits maudhu’ adalah suatu kedustaan dan kepalsuan yang disandar-
kan kepada Rasulullah yang tidak pernah dikatakan atau ditetapkan oleh Rasulullah.

B. Kedudukan dan hukum meriwayatkan Hadits Maudhu’

Hadits maudhu’ merupakan hadits dha’if yang paling rendah dan paling buruk dan se-
bagian ulama mengangapnya terpisah, bukan bagian dari jenis-jenis hadits dha’if. Para
ulama sepakat bahwa hokum membuat dan meriwayatkan hadits maudhu’ dengan sengaja
hukumnya haram. Rasulullah bersabda :

‫ﻣَﻦْ َﻛﺬَبَ َﻋﻠَ ﱠﻲ ُﻣﺘَ َﻌ ﱢﻤﺪًا ﻓَ ْﻠﯿَﺘَﺒَ ﱠﻮ ْأ َﻣ ْﻘ َﻌ َﺪهُ ﻣِﻦْ اﻟﻨﱠﺎ ِر‬
“Barangsiapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja maka hendaklah dia mengambil
tempat duduknya di Neraka”
C. Sejarah muncul atau terciptanya Hadis Maudhu’

Hadits maudhu’ atau hadis-hadis palsu muncul pada era sahabat, tepatnya tahun 41 H
pada masa Khalifah Ali Bin Abi Thalib . Berawal pada peristiwa terbunuhnya Usman bin
Affan yang berdampak terjadi kekacauan politik antara kedua golongan, yakni golongan
Ali bin Abi Thalib dan golongan Muawiyah hingga terjadinya perang Siffin yang berujung
pada peristiwa arbitrase (tahkim) dan menimbulkan perpecahan dalam kelompok-ke-
lompok Islam dan memunculkan Golongan-golongan Khawarij, Syiah dan Muawiyah.

Dalam kekacauan politik tersebut banyak bermuculan hadits-hadits palsu yang


digunakan untuk membela kepentingan-kepentingan golongan tertentu. Penyebaran hadits-
hadits palsu dilakukan melalui kegiatan-kegiatan dan ceramah oleh perorangan atau ke-
lompok tertentu. Hadits-hadits palsu digunakan untuk saling menyerang dan melawan
musuh atau golongan tertentu. Melihat banyak bermunculan hadits-hadits palsu, musuh-
musuh Islam memanfatkan kesempatan ini untuk menyebarkan fitnah yang diharapakan
dapat menimbulkan perpecahan sesama umat Islam.
D. Kelompok atau golongan yang menciptakan Hadits Maudhu’
Menurut Al-Qurtuby dalam kitab Al-Jami’li Ahkam Al-Qur’an, membagi empat ke-
lompok yang menciptakan hadits-hadits Maudhu’, yaitu :
1. Kelompok zindiq (musuh Islam)
Mereka membuat hadits palsu untuk menimbulkan kerisauan dan kebingungan umat
Islam.
2. Golongan fanatik suatu mazhab
Mereka membuat hadits palsu untuk menguatkan pendapat mazhabnya.
3. Orang-orang yang putus asa dalam menganjurkan kebaikan
4. Para pencari sedekah
E. Tempat berkembangnya Hadits Maudhu’
Menurut Muhammad Hasbi Ash-Shiddiqiey dalam Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadits,
Baghdad (Iraq) adalah kota yang pertama kali mengembangkan hadits-hadits palsu. Di-
mana Iraq merupakan pusat tempat kaum Syiah. Kaum Syiah merupakan kelompok yang
pertama dan paling baanyak menciptakan hadits maudhu’.
F. Penyebab munculnya Hadits Maudhu’

Beberapa alasan yang menjadi penyebab munculnya hadits-hadits palsu adalah:

1) Untuk sarana dalam pertikaian politik.


2) Untuk membela pendapat dan fanatisme pada kelompok atau golongan tertentu.
3) Untuk merusak atau memecah keutuhan Islam dari dalam.
4) Untuk mendekati penguasa.
5) Untuk mencari harta.
6) Untuk mencari popularitas.
7) Untuk memotivasi ibadah.
G. Cara mengetahui Hadits Maudhu’ / hadits palsu

Hadits maudhu’ atau hadits palsu dapat diketahui melalui beberapa cara berikut ini:

1. Pengakuan dari pembuat hadits madhu’ / hadits palsu itu sendiri.


Seperti pengakuan Abu ‘Ishmah bi Abi Maryam bahwa dia telah membuat hadits
maudhu’ / hadits palsu mengenai keutamaan surat-surat al-Quran dari Ibnu ‘Abbas.
2. Diperoleh dari penelusuran tahun kelahiran perawi dan wafat gurunya.
Misalnya, Jika perawi hadis lahir setelah wafat gurunya, maka hadis tersebut bisa
dikategorikan hadits palsu. Karena dipastikan keduanya tidak mungkin pernah bertemu.
3. Melalui ideologi sang perawi.
Misalnya, jika sang perawi adalah seorang Syiah rafidhah yang fanatic terhadap
ideologinya, maka hadis-hadis yang disampaikannya terkait keutamaan ahlul bait tidak
dapat diterima kebenarannya.
4. Melalui kandungan matan hadits dan bahasanya.
Biasanya, hadis palsu secara tata bahasa tidak fasih. Sehingga ahli bahasa sadar
kalau isi bahasanya tidak fasih apalagi disabdakan dari Nabi Saw. dan terkadang mak-
nanya bertentangan dengan Al-Qur‟an, Hadis mutawatir atau dengan ijma‟.
H. Contoh Hadits Maudhu’ dan artinya

Berikut ini beberapa contoh dari hadits maudhu’:

1. Hadits Maudhu / hadits palsu tentang jihad

‫ إﻟﻰ اﻟﺠﮭﺎد اﻷﻛﺒﺮ‬،‫رﺟﻌﻨﺎ ﻣﻦ اﻟﺠﮭﺎد اﻷﺻﻐﺮ‬

“Kita telah pulang dari jihad ashghor (yang paling kecil) menuju kepada jihad akbar
(yang paling besar).”

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “ini adalah ucapan Ibrahim bin ‘Ablah
(seorang Tabi’in) dan bukan hadits.”
2. Hadits Maudhu / hadits palsu tentang mencari rezeki

ِ‫ﺐ اﻟﺤﻼل‬
ِ ‫إنﱠ ﷲَ ﯾﺤﺐﱡ أن ﯾﺮى ﻋﺒﺪَه ﺗﻌﺒًﺎ ﻓﻲ طﻠ‬

“Sesungguhnya Allah suka melihat hamba-Nya yang lelah dalam mencari rezeki yang
halal.”

Riwayat hadits tersebut adalah maudhu’. Al-Hafizh al-Iraqi mengatakan bahwa da-
lam sanadnya terdapat Muhammad bin Sahl Al-Aththar. Ad-Daruquthni menyatakan
bahwa al-Aththar adalah pemalsu hadits.
3. Hadits Maudhu / hadits palsu tentang cinta tanah air

‫ﺣﺐ اﻟﻮطﻦ ﻣﻦ اﻹﯾﻤﺎن‬

“Mencintai tanah air sebagian dari iman.”

Dinyatakan oleh Ash-Shaghani bahwa hadits ini maudhu’. Disamping itu maknanya
tidak benar. Sebab mencintai tanah air sama dengan mencintai jiwa raga dan harta
benda. Itu adalah hal yang naluriah bagi setiap insan dan tidak perlu diagung-agungkan.
4. Hadits Maudhu / hadits palsu tentang ikhtilaf ummat

‫اﺧﺘﻼف أﻣﺘﻲ رﺣﻤﺔ‬

“Perselisihan (ikhtilaf) di antara umatku adalah rahmat.”

Imam As-Subki mengatakan, “Hadits tersebut tidak dikenal di kalangan para pakar
hadits dan saya pun tidak menjumpai sanadnya yang shahih, dha’if ataupun maudhu’
5. Hadits Maudhu / hadits palsu tentang mengenal diri sendiri

ُ‫ﻣَﻦْ ﻋَﺮَ فَ ﻧَ ْﻔ َﺴﮫُ ﻓَﻘَ ْﺪ ﻋَﺮَ فَ رَ ﺑﱠﮫ‬

“Barang siapa mengenal dirinya, berarti ia telah mengenal Tuhannya.”

Hadits ini tidak ada sumbernya menurut Imam Nawawi. Ibnu Taimiyah menyatakan
ini hadits maudhu’.
6. Hadits Maudhu / hadits palsu tentang tafakkur

‫ﻓﻜﺮة ﺳﺎﻋﺔ ﺧﯿﺮ ﻣﻦ ﻋﺒﺎدة ﺳﺘﯿﻦ ﺳﻨﺔ‬

“Berfikir sesaat lebih baik daripada beribadah selama 60 tahun.”

Hadits ini maudhu’. Diriwayatkan oleh Ibnul jauzi dalam kitab al-Maudhu’at
dengan sanad dari Utsman bin Abdullah al-Qurasyi dari ishaq bin Najih al-Multhi, dari
atha’ Al-Khurasani dari Abu Hurairah. Ibnul Jauzi berkata, “Utsman dan gurunya ada-
lah pendusta.”

Daftar Pustaka

Pabrikjammasjid.com.2021.”Hadits Maudhu dan Contohnya”. https://pabrikjammas-


jid.com/hadits/hadits-maudhu-dan-contohnya/. diakses pada 24 Juli 2022 pukul 09.00
Rifa’I, Muhamad. 2020. Ilmu Hadis kelas XI MA Peminatan Keagamaan. Jakarta : Direktorat
KSKK Madrasah
Tsaqafah. 2019. “Sejarah Kemunculan Hadits Maudhu”. https://umma.id/channel/for-
you/post/sejarah-kemunculan-hadits-maudhu-109916490563650. Diakses pada 24 Juli 2022
pukul 10.00

Anda mungkin juga menyukai