Anda di halaman 1dari 13

PERKEMBANGAN DAN MANFAAT INDUSTRI KOSMETIK BAGI MASYARAKAT

INDONESIA

Putri Dhea S, Shafira Dwi I, dan Suci Lestari ND.

Ekonomi Syariah
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, UIN Sunan Ampel Surabaya

Abstrak
Penulisan ini bertujuan untuk memberi informasi dan mengetahui perkembangan yang terjadi di Indonesia
mengenai industri kosmetik. Untuk itu penulisan tentang perkembangan dan manfaat kosmetik saat ini
perlu dipahami guna mengetahui manfaat, pembuatan, serta zat kimia apa yang terkandung didalam
kosmetik itu sendiri, sehingga kita dapat memilih produk mana yang aman untuk kulit dan kesehatan
konsumen. Kosmetik sendiri merupakan salah satu produk yang selalu trend sepanjang masa dikalangan
masyarakat terutama pada kalangaan wanita. Hal tersebut dapat dikatakan menjadi kebutuhan pokok bagi
kalangan remaja hingga dewasa. Industri komestik juga sudah sangat berkembang diseluruh dunia tetapi
tidak semua brand diminati oleh masyarakat. Di era modern ini industri kosmetik yang banyak diminati
di Indonesia yakni wardah, garnier, pixy, emina, dan masih banyak brand produk kosmetik yang dikenal
oleh masyarakat Indonesia. Faktor-faktor yang sering mempengaruhi konsumen dalam
mempertimbangkan memilih kosmetik, antara lain kepercayaan terhadap produk, keamanan produk,
perusahaan yang memproduksi dan efek dalam pengaplikasian produk. Dalam perindustrian kosmetik kita
dapat meningkatkan perindustrian dengan pemasaran yang bagus, bahan baku yang berkualitas dan
menjaga nama baik perusahaan. Untuk membangun perindustrian kosmetik yang diminati konsumen tidak
hanya menggunakan bahan yang berkualitas saja, namun harus memperhatikan daya saing, pengemasan
yang menarik dan Teknik marketing yang digunakan.
Kata kunci: Kosmetik, Manfaat, perilaku konsumen, pembuatan kosmetik.
PENDAHULUAN
Kosmetik berasal dari Bahasa Yunani, kosmetike tekhne yang mempunyai arti berhias diri. Kosmetik juga
memiliki definisi menurut FDA (food and drug administration) yaitu kosmetik merupakan produk yang
digunakan pada tubuh manusia salah satunya pada wajah guna mempercantik, membersihkan serta
mengubah penampilan dari konsumen.di era modern ini, kosmetik hampir menjadi salah satu kebutuhan
pokok yang cukup penting bagi masyarakat khususnya pada kalangan wanita, karena berpenampilan dan
berparas cantik menjadi dambaan setiap wanita.
Perkembangan dan pertumbuhan kosmetik di Indonesia sudah dapat dikatakan cukup baik karena tingkat
permintaan pasar dan penjualan setiap tahunnya meningkat sebesar 10 % - 13%. Produk kecantikan yang
berupa kosmetik cukup digemari oleh masyarakat dimana permintaan masyarakat akan produk kecantikan
dari brand kosmetik lokal mampu menunjang perekonomian negara. Pada tahun 2009, 2011, dan 2012
bangsa pasar produk PT Uniever Tbk, Mandom Indonesia Tbk, PT Martina Berto Tbk dan Mustika Ratu
besarnya lebih dari 70% pasar. Empat pasar yang terdaftar di BEI ini memiliki kemampuan
mempengaruhi kerja industri baik dengan memanfaatkan usaha diferensiasi produk, riset dan
pengembangan pasar, kepunyaan relasi jaringan, distribusi yang luas. Kolaborasi dalam asosiasi dalam
industri kosmetik ini ikut serta dalam perancangan pembuatan peraturan perdagangan 1
Indonesia sebagai negara mayoritas muslim dapat dikatakan bahwa negara Indonesia sangat besar
potensinya untuk produk kosmetik yang berlabel halal. Bagi konsumen pengguna produk kosmetik di
Indonesia sangat sensitive mengenai status kehalalan terutama mayoritas wanita muslim karena hal ini
saling berhubungan dengan kehidupan spiritualis masyarakat muslim.
Perusahaan yang besar sekalipun dalam waktu singkat kemungkinan bisa kehilangan pasar Ketika produk
yang mereka tawarkan terbukti mengandung bahan yang tidak halal. Semakin tinginya masyarakat
terhadap kehalalan produk dan di sisi lain pemerintah juga menyiapkan undang-undang mengenai
jaminan halal.jika kata halal mengacu pada hukum boleh atau tidaknya suatu produk dikonsumsi, konsep
thayyib pada sebuah produk yang berlabel halal mensyaratkan perusahaan tersebut agar dapat
menghasilkan produk yang benar-benar memiliki kualitas dan manfaat bagi konsumen.

1
Y. Saftiana.”analisis hubungan rasio konsentrasi, intensitas iklan, dan profitabilitas industri kosmetik di
Indonesia”. 2016. Jurnal manajemen dan bisnis Sriwijaya. Vol 12 No 4, hal 243.
PEMBAHASAN

a) Pengertian pasar produksi

Pasar produksi merupakan semua organisasi yang membeli barang dan jasa untuk
dipergunakkan untuk memproduksi produk atau dengan tujuan dijual lagi atau disewakan
kepada pihak lain dengan mengambil untung. Ini artinya sang pembeli tidak menggunakan
langsung barang yang sudah dibeli, akan tetapi digunakan untuk produksi produk baru yang
akan di jual, disewakan, atau dipasok kepada pihak lain.

Produksi utama untuk membentuk pasar produksi adalah pertanian, kehutanan, perikanan,
pertambangan, manufaktur, kontruksi, transportasi, komunikasi, sarana umum, perbankan,
keuangan dan asuransi, distribusi dan jasa.

b) Ciri-ciri pasar produksi

Pasar produksi memliki beberapa ciri yakni:

a. Pembeli yang lebih sedikit. Pasar produksi biasanya menangani lebih sedikit pembeli
daripada yang dilakukan pasar konsumen.
b. Pembeli yang lebih besar. Banyak pasar produksi ditandai dengan rasio konsentrasi
pembeli yang tinggi.
c. Hubungan pemasok-pelanggan yang erat. Karena jumlah pelanggan yang lebih sedikit
dan tingkat kepentingan dan kekuatan pelanggan yang lebih besar, sehingga hubungan
antara pelanggan dan pemasok dalam pasar produksi sangat erat. Pemasok sering
diminta untuk menyesuaikan penawaran mereka dengan kebutuhan individu pelanggan
produksi.
d. Pembelian yang tekonsentrasi secara geografis. Konsentrasi geografis produsen
membantu mengurangi biaya penjualan. Pada saat yang sama, pemasar produksi perlu
memantau perpindahan regional industri-industri tertentu.
e. Permintaan turunan. Permintaan atas barang produksi benar-benar diturunkan dari
permintaan barang konsumsi. Jadi karet dibeli karena konsumen ingin membeli ban,
sepatu dan sebagainya. Jika permintaan barang-barang konsumsi berkurang, maka
permintaan barang produksi untuk produk tersebut juga berkurang.
f. Permintaan yang tidak elastic. Permintaan total atas banyak barang dan jasa produksi
tidak bersifat elastis yaitu tidak terlalu dipengaruhi oleh perubahan harga.
g. Permintaan yang berfluktuasi. Permintaan atas barang dan jasa produksi cenderung
lebih rapuh daripada permintaan atas barng dan jasa konsumen. Hal ini terutama bagi
permintaan atas pabrik baru dan peralatan baru.
h. Pembelian yang professional. Barang produksi dibeli oleh agen pembelian yang
terlatih, yang harus mengikuti kebijakan, Batasan, dan persyaratan pembelian
organisasi.
i. Beberapa pengaruh pembelian. Lebih banyak orang yang mempengaruhi keputusan
pembelian produksi. Komite pembelian yang terdiri dari pakar Teknik dan bahkan
manajemen senior yang umumnya ditemui dalam pembelian barang-barang utama.
j. Pembelian langsung. Pembeli produksi seringkali membeli langsung dari pabrikan
daripada melalui perantara, terutama untuk barang-barang yang secara teknis rumit
atau mahal seperti computer mainframe.
k. Imbal balik. Pembeli produksi sering memilih pemasok yang juga membeli dari
mereka.
l. Sewa guna usaha atau leasing. Banyak pembeli industrial menyewa usaha guna
peralatan mereka daripada membelinya. Leasing mendapatkan sejumlah keuntungan
seperti menghemat modal, mendapatkan produk terakhir penjual, mendapatkan
pelayanan yang lebih baik, dan mendapatkan beberapa keuntungan pajak.
c) Perilaku pembeli/ konsumen pada pasar produksi

Terdapat berbagai pengertian tentang perilaku konsumen/pembeli, yaitu: persepsi yang


menimbulkan preferensi seorang konsumen terhadap suatu produk merek
tertentu.2Pengertian perilaku konsumen adalah sebagai tindakan yang langsung terlibat
dalammendapatkan, mengkonsumsi, dan menghabiskan produk dan jasa, termasuk proses
keputusan yang mendahului dan menyusuli tindakan ini. 3

a. Situasi pembelian
Pembeli produksi menghadapi banyak keputusan dalam melakukan suatu pembelian.
Robinson dan rekan-rekannya membedakan tiga jenis situasi pembelian, yaitu:
1) Pembelian ulang langsung

2
Sofian Assauri, Manajemen Pemasaran (Jakarta: Rajawali, 1992), 123.
3
Engel, J.F, Prilaku Konsumen, terjemahan, jilid I, budianto (Jakarta: Binarupa Aksara, 1994), 3.
Situasi pembelian dimana departemen pembelian memesan ulang secara rutin
seperti perlengkapan kantor, bahan kimia dalam jumlah besar. Pembeli
memilih pemasok dari “daftar yang disetujui” menilai kepuasan pembeli
sebelumnya dengan beragam pemasok.
2) Pembelian ulang yang dimodifikasi
Situasi dimana pembeli ingin memodifikasi spesifikasi produk, harga, syarat-
syarat pengiriman atau persyaratan lain. Pembelian ulang yang dimodifikasi
biasanya melibatkan peserta keputusan tambahan di pihak pembeli dan
penjual.
3) Tugas baru
Situasi pembelian dimana pembeli membeli suatu barang atau jasa untuk
pertama kalinya. Tahap dari tugas baru adalah kesadaran, minat, evaluasi, uji
coba dan pemakaian.
b. Pembelian dan penjualan system
1. Pembelian sistem
Banyak pembeli produksi lebih suka untuk membeli seluruh pemecahan masalah
mereka dari satu penjual.
2. Penjualan sistem
Penjualan sistem memiliki bentuk yang beragam. Pemasok dapat menjual satu set
produk yang saling berkaitan dan pemasok dapat menjual satu sistem produksi.
Contoh: pengontrakkan sistem, dimana sebuah sumber pasokan tunggal
menyediakan seluruh kebutuhan pembelian atau pasokan MRO (maintenance,
reapir, operating).
c. Peserta dalam proses pembelian industri
Menurut Wester dan Wind yang mengambil keputusan dalam membeli di suatu
organisasi adalah pusat pembelian. Pusat pembelian terdiri dari semua individu dan
kelompok yang berpartisipasi dalam proses pengambilan keputusan, 4 yang memiliki
beberapa sasaran umum yang sama dan Bersama-sama menanggung resiko yang timbul

4
Muhammad Yusuf Saleh, miah said. Konsep dan strategi pemasaran. (Makassar: CV Sah Media, 2019), hlm 45-53.
dari keputusan tersebut. Pusat pembelian terdiri dari semua anggota organisasi yang
memainkan salah satu dari tujuh peran dalam proses keputusan pembelian, yaitu:
1) Pencetus (initiators): mereka yang meminta sesuatu untuk di beli. Mereka bisa
pemakai atau pihak lain dalam organisasi.
2) Pemakai (users): mereka yang memakai barang dan jasa.
3) Pengambilan keputusan (deciders): orang yang memutuskan persyaratan
produk atau jasa.
4) Memberi persetujuan (approvers): orang yang mengotorisasi Tindakan yang
diusulkan oleh pengambil keputusan atau pembeli.
5) Pembeli (buyers): orang yang memiliki formal untuk memilih pemasok dan
Menyusun syarat-syarat pembelian.
6) Penjaga gerbang (gatekeepers): orang-orang yang memiliki kekuasaan untuk
menghalangi penjual dan informasi menjangkau anggota pusat pembelian. 5
d. Pengaruh utama dalam perilaku pembelian industrial
Pembeli produksi terkena banyak pengaruh saat mereka mengambil keputusan
pembelian. Pembeli produksi bereaksi baik terhadap ekonomi maupun faktor pribadi.
Saat terdapat kesamaan yang besar dalam penawaran pemasok, pembeli produksi
memiliki sedikit dasar untuk melakukan pilihan yang rasional. Karena mereka dapat
memuaskan persyaratan pembelian dengan setiap pemasok, mereka akan lebih
mementingkan perlakuan pribadi yang mereka terima.
Secara umum pengaruh atas pembelian produksi dapat digolongkan ke dalam empat
kelompok, yaitu lingkungan, organisasi, faktor antar pribadi dan faktor pribadi.
1) Faktor lingkungan
Pembeli produksi sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor lingkungan
ekonomi yang sedang berlangsung atau yang diperkirakan, seperti tingkat
permintaan atas produk mereka, ramalan ekonomi, dan tingkat bunga,
pembeli produksi juga dipengaruhi oleh lingkungan teknologi, 6 politik atau
peraturan, dan perkembangan kompetetif dalam lingkungan. Pemasar
produksi harus memantau semua kekuatan-kekuatan ini, menentukan

5
Muhammad Yusuf Saleh, miah said. Konsep dan strategi pemasaran. (Makassar: CV Sah Media, 2019), hlm 45-53.
6
Ferbianasari, H. N. (2012). Analisis Penilaian Financial Distress Menggunakan Model Altman ZScore pada
Perusahaan Kosmetik yang Tercatat di Bursa Efek Indonesia.
bagaimana mereka akan mempengaruhi pembeli, dan berusaha untuk
mengubah masalah menjadi peluang.
2) Faktor organisasi
Setiap organisasi yang melakukan pembelian memiliki tujuan, kebijakan,
prosedur, struktur organisasi, dan sistem yang spesifik. Pemasar produksi
harus akrab dengan semua ini. Pemasar produksi khususnya harus
mewaspadai trend organisasi dalam bidang pembelian seperti peningkatan
kelas departemen-pembelian, pembelian terpusat ataupun kontrak jangka
Panjang.
3) Faktor antar pribadi
Pusat pembelian biasanya terdiri dari beberapa peserta dengan minat,
wewenang, status, empati, dan daya bujuk yang berbeda-beda. Pemasar
produksi tidak mungkin mengetahui dinamika kelompok apa yang ada
selama proses keputusan pembelian, meskipun apa saja yang dapat
ditemukan tentang faktor kepribadian dan pribadi akan bermanfaat.
Informasi yang paling penting mungkin adalah informasi mengenai
hubungan pelanggan dengan wiraniaga perusahaan lain.
4) Faktor pribadi
Setiap peserta dalam proses pembelian memiliki motivasi, persepsi dan
prefensi pribadi. Mereka dipengaruhi oleh umur, penghasilan, Pendidikan,
jabatan, kepribadian, sikap terhadap resiko, dan budaya.
e. Proses pembelian
Terlalu sering pebisnis dan marketer berfikir bahwa proses pembelian oleh
konsumen terjadi secara acak dan bahwa produk tertentu menarik bagi pelanggan
tertentu, sehingga penjualan bisa saja terjadi atau tidak. Untuk membeli barang yang
dibutuhkan, pembeli produksi menjalani proses pembelian atau perolehan. Robinson
dan teman-temannya telah mengidentifikasi delapan tahap proses pembelian industrial
dan menamakan mereka fase pembelian (buyphases). Delapan Langkah dalam situasi
pembelian tugas baru adalah sebagai berikut:
1) Pengenalan masalah
Secara sederhana, sebelum pembelian terjadi, pelanggan harus mempunyai
alasan berfikir bahwa apa yang mereka mau atau apa yang mereka cita-citakan
berbeda dari apa yang sudah mereka miliki. Keadaan bahwa keinginan berbeda
dengan kenyataan menimbulkan masalah pada pelanggan.
Proses pembelian dimulai saat seseorang dalam perusahaan menyadari suatu
masalah atau kebutuhan yang dapat dipenuhi dengan memperoleh suatu barang
atau jasa. Pengenalan masalah dapat merupakan hasil rangsangan internal atau
eksternal. Secara internal kejadian-kejadian seperti perusahaan memutuskan
mengembangkan produk baru sehingga memerlukan peralatan dan bahan baku
baru, sebuah mesin rusak dan manager melihat sebuah peluang untuk
mendapatkan harga yang lebih rendah atau kualitas yang lebih baik. Secara
eksternal bisa didapatkan dari mendapatkan ide baru dari pameran dagang dan
melihat iklan. 7
2) Perumusan kebutuhan masalah
Pembeli mulai menetapkan karakteristik umum dan kualitas dari barang yang
dibutuhkan. Perusahaan dapat menetapkan karakteristik umum yang harus
dimiliki produk mereka seperti keandalan, daya tahan, harga dan lainnya.
3) Spesifikasi produk
Organisasi yang melakukan pembelian harus mengembangkan spesifikasi teknis
dari produk yang bersangkutan. Perusahaan dapat menugaskan tim rekayasa
Analisa nilai produk PVA (product value analysis). Analisa nilai produk adalah
sebuah pendekatan penurunan biasa di komponen-komponen dipelajari secara
mendalam untuk menentukan apakah mereka dapat dirancang ulang atau
distandarisasi atau dibuat dengan metode produksi yang lebih murah. Tim PVA
akan mengkaji komponen-komponen berbiaya tinggi dalam suatu produk
biasanya 20% dari bagian suatu produk bertanggungjawab atas 89% biaya
produksinya.
4) Pencarian pemasok

7
Damanik, B. T., Etnawati, K., & Padmawati, R. S. (2011). Persepsi remaja putri di Kota Ambon tentang risiko
terpapar kosmetik berbahaya dan perilakunya
dalam memilih dan menggunakan kosmetik. Berita Kedokteran Masyarakat, 27(1),
Pembeli perusahaan mengidentifikasi pemasok yang paling sesuai dengan cara
meneliti daftar perusahaan, melakukan pencarian dengan komputer, menelepon
perusahaan lain untuk mendapat rekomendasi, memperhatikan iklan dagang, dan
menghadiri pameran.
Pemasok yang memenuhi syarat akan dikunjungi oleh agen pembelian untuk
memeriksa fasilitas pabrik pemasok tersebut dabn bertemu dengan karyawannya.
5) Permintaan pengajuan proposal
Pembeli akan mengundang pemasok yang memenuhi syarat untuk mengajukan
proposal dan setelah mengevaluasi proposal pembeli akan menghapus beberapa
pemasok dan mengundang pemasok yang memenuhi syarat untuk melakukan
presentasi.
6) Pemilihan pemasok
Sebelum memilih pemasok, pusat pembelian akan menspesifikasi atribut
pemasok yang diinginkan dan menetapkan tingkat kepentingan relatif mereka.
Dan menilai pemasok berdasarkan atribut tersebut dan mengidentifikasi
pemasok yang paling menarik.pusat pembelian mungkin berusaha untuk
berunding dengan pemasok favorit mendapatkan harga dan persyaratan yang
lebih baik sebelum menetapkan pilihan akhir.
7) Spesifikasi rutinitas pesanan
Pembeli merundingkan pesanan akhir, merinci spesifikasi teknis, jumlah yang
dibutuhkan, waktu penyerahan yang diharapkan, kebijakan pembelian, garansi
dan seterusnya. Sistem pesanan dapat berupa pesanan pembelian periodik atau
kontrak Borongan atau blanket kontrak atau rencana tanpa persediaan.
8) Penilaian kerja
Melakukan penilaian kinerja pemasok yang dipilih dengan metode yang dapat
digunakan adalah;
a) Pembeli dapat menghubungi pemakai akhir dan menanyakan evaluasi
mereka.
b) Pembeli dapat menilai pemasok berdasarkan beberapa kinerja yang
menggunakan metode nilai tertimbang.
c) Pembeli dapat menjumlah biaya kinerja pemasok berdasarkan beberapa
kinerja yang menggunakan metode nilai tertimbang.
d) Pembeli dapat menjumlah biaya kinerja pemasok yang buruk untuk
mendapatkan biaya pembelian yang telah disesuaikan. Hasil dari penilaian
adalah:
e) Pembeli meneruskan pembelian.
f) Pembeli meneruskan pembelian dengan modifikasi.
g) Memberhentikan hubungan dengan pemasok.
d) Manfaat dan perkembangan industri kosmetik di Indonesia
Di Indonesia, dalam hal memilih produk kecantikan adalah sesuatu yang mudah
namun ada beberapa hal yang menyebabkan pemilihan itu menjadi susah. Hal tersebut
disebabkan para konsumen dihadapkan pada banyaknya pilihan yang ditawarkan dan
dan menyebabkan konsumen kebingungan dalam memilih produk manakah yang ramah
terhadap lingkungan tak lupa dengan memiliki kualitas baik serta aman untuk
digunakan dan memiliki label halal. Jika salah ketika memilih produk kecantikan, maka
ini akan berakibat yang cukup fatal bagi kesehatan dan keindahan kulit konsumen itu
sendiri. Namun jika sikap positif yang menggambarkan rasa puas konsumen terhadap
produk yang dibeli. 8 Rasa puas itu muncul ketika produk yang ditawarkan produsen
dapat memenuhi bahkan ditemui melebihi ekspektasi konsumen. Kosmetik berlabel
halal membawa dua ekspektasi konsumen yaitu dari sisi sebagai kosmetik itu sendiri
dan ekspektasi dari label halal yang digunakan.
Kosmetik itu sendiri menguasai dunia perdagangan sebanyak 5%. Untuk itu
peluang kosmetik sangat besar dan banyak orang yanag berlomba-lomba untuk
menciptakan inovasi kosmetik yang baru dengan banyak peminatnya. contoh
sederhananya adalah seperti lipstik yang dulu hanya ada satu dengan warna merah saja.
Tetapi sekarang telah ada inovasi lipcream, lipgloss, liptint dengan jenis dan warna yang
bervariasi pula. Kosmetik dibeberapa negara memiliki ciri khas masing-masing. Di
Korea Selatan terkenal dengan kosmetik no make up look dengan perpaduan warna yang
fresh. Hal itu menjadi daya tarik anak-anak remaja masa kini. Produk-produk dari Korea

8
Tarigan, E. D. S. (2016). Pengaruh gaya hidup, label halal dan harga terhadap keputusan pembelian kosmetik
wardah pada mahasiswa Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas
Medan Area Medan. JKBM (JURNAL KONSEP BISNIS DAN MANAJEMEN),
Selatan tidak membuat produk-produk asal negara lain kehilang pelanggannya. Negara
Amerika misalnya, dengan ciri khas yang glamour ala hollywood kosmetik Amerika
adalah pilihan yang sangat tepat. Kosmetik Indonesia sebenarnya cenderung meniru
kosmetik-kosmetik dari negara lain. Dilihat dari cara rias wanita di Indonesia yang
sedikit glamour, tentu dapat diketahui bahwasannya gaya kosmetik lndonesia tidak
terlepas dari gaya kosmetik Amerika. Perkembangan kosmetik Indonesia lebih
mengarah pada bahan dan warna yang sesuai kebutuhan masyarakat.

Kesimpulan
Persaingan yang terjadi pada industri kosmetik di Indonesia sangat ketat. Ketatnya
persaingan ini dikarenakan adanya peluang yang sangat besar di dalam industri tersebut.
Jumlah penduduk sekitar 250 juta jiwa, menjadikan Indonesia sebagai pasar yang
menjanjikan bagi perusahaan kosmetik. Kendati mayoritas industri kosmetik membidik
target konsumen utama kaum wanita, belakangan mulai berinovasi dengan produk-
produk pria.
Berdasarkan uraian diatas, penelitian-penelitian sebelumnya terfokus pada faktor
psikologis konsumen terhadap keputusan pembelian produk-produk yang original, maka
peneliti menganggap perlu dilakukannya penelitian lebih lanjut mengenai faktor
psikologis konsumen terhadap keputusan pembelian product counterfeits pada produk
kosmetik yang sekarang ini mengalami peningkatan dalam penjualannya.
Daftar Pustaka
Y. Saftiana.”analisis hubungan rasio konsentrasi, intensitas iklan, dan profitabilitas industri kosmetik di

Indonesia”. 2016. Jurnal manajemen dan bisnis Sriwijaya. Vol 12 No 4, hal 243.

Sofian Assauri, Manajemen Pemasaran (Jakarta: Rajawali, 1992), 123.

Engel, J.F, Prilaku Konsumen, terjemahan, jilid I, budianto (Jakarta: Binarupa Aksara, 1994), 3.

Muhammad Yusuf Saleh, miah said. Konsep dan strategi pemasaran. (Makassar: CV Sah Media, 2019), hlm 45-53.

Muhammad Yusuf Saleh, miah said. Konsep dan strategi pemasaran. (Makassar: CV Sah Media, 2019),

hlm 45-53.

Ferbianasari, H. N. (2012). Analisis Penilaian Financial Distress Menggunakan Model Altman ZScore pada

Perusahaan Kosmetik yang Tercatat di Bursa Efek Indonesia.

Damanik, B. T., Etnawati, K., & Padmawati, R. S. (2011). Persepsi remaja putri di Kota Ambon tentang risiko

terpapar kosmetik berbahaya dan perilakunya dalam memilih dan menggunakan kosmetik.

Berita Kedokteran Masyarakat, 27(1),

Tarigan, E. D. S. (2016). Pengaruh gaya hidup, label halal dan harga terhadap keputusan pembelian kosmetik

wardah pada mahasiswa Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas

Medan Area Medan. JKBM (JURNAL KONSEP BISNIS DAN MANAJEMEN),

Anda mungkin juga menyukai