TIBIAL PLATEAU FRACTURE
DIBAWAKAN DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KLINIK
BAGIAN RADIOLOGI
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS SAM RATULANGI
MANADO
2022
LEMBAR PENGESAHAN
Referat dengan judul:
“Tibial Plateau Fracture”
i
DAFTAR ISI
LEMBAR PENGESAHAN ................................................................................... i
DAFTAR ISI .......................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN ...................................................................................... 1
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ........................................................................... 2
A. Proses Terjadinya Fraktur ........................................................................ 2
B. Klasifikasi Fraktur ..................................................................................... 3
C. Penyembuhan Fraktur............................................................................... 5
D. Anatomi ....................................................................................................... 8
E. Mekanisme Trauma ................................................................................. 10
F. Klasifikasi Fraktur Tibialis Plateau ....................................................... 12
G. Diagnosis ................................................................................................... 14
H. Penatalaksanaan....................................................................................... 17
I. Prognosis ................................................................................................... 20
J. Komplikasi ................................................................................................ 20
BAB III KESIMPULAN ..................................................................................... 22
DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 23
ii
BAB I
PENDAHULUAN
Fraktur adalah hilangnya kontinuitas tulang, tulang rawan sendi, tulang rawan
epifisis, baik yang bersifat total maupun parsial. Kebanyakan fraktur terjadi karena
kegagalan tulang menahan tekanan terutama tekanan membengkok, memutar, dan
tarikan.1
Fraktur tibialis plateau atau tibial plateau fracture terjadi pada 1% kasus dari
semua fraktur dan 8% kasus terjadi pada pasien yang tua. Fraktur yang terjadi pada
pasien tua merupakan hasil dari trauma energi rendah. Sebagai contoh kecelakaan
pejalan kaki yang rendah energi mengenai bumper mobil. Ada pun contoh lainnya
kecelakaan sepeda motor dengan kecepatan tinggi dan jatuh dari ketinggian Fraktur
pada medial plateau terjadi pada 23% kasus dan fraktur pada lateral plateau terjadi
pada 70% kasus.2
Faktor risiko terjadinya fraktur tibialis plateau adalah pasien-pasien yang
memiliki risiko terjadi trauma dengan kecepatan tinggi yakni pasien usia muda,
laki-laki, pengguna minuman beralkohol, serta pecandu obat, juga pada pasien usia
lebih tua dengan kualitas tulang yang jelek.2
Fraktur tibialis plateau dapat menyebabkan kerusakan yang lebih parah. Oleh
karena itu, pemahaman akan fraktur tibialis plateau sangat berperan pada
penegakkan diagnosis serta penentuan rencana penatalaksanaannya.
1
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Proses Terjadinya Fraktur
Tulang kortikal mempunyai struktur yang dapat menahan kompresi dan
tekanan memutar (shearing). Trauma bisa bersifat:1
− Trauma langsung. Trauma langsung menyebabkan tekanan langsung pada
tulang dan terjadi fraktur pada daerah tekanan. Fraktur yang terjadi
biasanya bersifat komunitif dan jaringan lunak ikut mengalami kerusakan.
− Trauma tidak langsung. Trauma dihantarkan ke daerah yang lebih jauh dari
daerah fraktur, misalnya jatuh dengan tangan ekstensi menyebabkan
fraktur klavikula. Pada keadaan ini biasanya jaringan lunak tetap utuh.
Tekanan pada tulang dapat berupa:1
− Tekanan berputar yang menyebabkan fraktur bersifat spiral atau oblik.
− Tekanan membengkok yang menyebabkan fraktur transversal.
− Tekanan sepanjang aksis tulang yang dapat menyebabkan fraktur impaksi,
dislokasi, atau fraktur dislokasi.
− Kompresi vertikal dapat menyebabkan fraktur komunitif atau memecah
misalnya pada badan vertebra, talus, atau fraktur buckle pada anak-anak.
− Trauma langsung disertai dengan resistensi pada satu jarak tertentu akan
menyebabkan fraktur oblik atau fraktur Z.
− Fraktur oleh karena remuk.
− Trauma karena tarikan pada ligamen atau tendo akan menarik sebagian
tulang.
2
B. Klasifikasi Fraktur
Klasifikasi Etiologis1
1. Fraktur traumatik. Fraktur yang terjadi karena trauma.
2. Fraktur patologis. Fraktur yang terjadi karena kelemahan tulang
sebelumnya akibat kelainan patologis di dalam tulang.
3. Fraktur stres. Fraktur yang terjadi karena adanya trauma terus menerus
pada suatu tempat tertentu.
Klasifikasi Klinis1
1. Fraktur tertutup (simple fracture). Fraktur yang tidak mempunyai
hubungan dengan dunia luar.
2. Fraktur terbuka (compound fracture). Fraktur yang mempunyai hubungan
dengan dunia luar melalui luka pada kulit dan jaringan lunak, dapat dari
dalam (from within) atau dari luar (from without).
3. Fraktur dengan komplikasi (complicated fracture). Fraktur yang disertai
dengan kompllikasi misalnya malunion, delayed union, nonunion, atau
infeksi tulang.
Klasifikasi Radiologis1
1. Berdasarkan lokalisasi:
a. Diafisal
b. Metafisal
c. Intra-artikuler
d. Fraktur dengan dilokasi
3
2. Berdasarkan konfigurasi:
a. Fraktur transversal
b. Fraktur oblik
c. Fraktur spiral
d. Fraktur Z
e. Fraktur segmental
f. Fraktur komunitif, fraktur lebih dari dua fragmen
g. Fraktur baji, biasanya pada vertebra karena trauma kompresi
h. Fraktur avulse, fragmen kecil oleh otot atau tendon
i. Fraktur depresi, karena trauma langsung
j. Fraktur impaksi
k. Fraktur pecah (burst) di mana terjadi fragmen kecil yang berpisah
misalnya pada fraktur vertebra, patella, talus, kalkaneus
l. Fraktur epifisis
3. Berdasarkan ekstensi
a. Fraktur total
b. Fraktur tidak total
c. Fraktur buckle
d. Fraktur green stick
e. Fraktur garis rambut
4. Berdasarkan hubungan antara fragmen dengan fragmen lainnya
a. Tidak bergeser (undisplaced)
b. Bergeser (displaced), dapat terjadi dalam 6 cara yakni bersampingan,
angulasi, rotasi, distraksi, over-riding, dan impaksi.
4
Gambar 1. Klasifikasi fraktur.3
C. Penyembuhan Fraktur
Proses penyembuhan fraktur pada tulang kortikal terdiri atas lima fase: 1
1. Fase hematoma
Apabila terjadi fraktur pada tulang panjang, maka pembuluh darah
kecil yang melewati kanalikuli dalam sistem Haversian mengalami
robekan pada daerah fraktur dan akan membentuk hematoma diantara
kedua sisi fraktur. Hematoma yang besar diliputi oleh periosteum.
Periosteum akan terdorong dan dapat mengalami robekan akibat tekanan
hematoma yang terjadi sehingga dapat terjadi ekstravasasi darah ke dalam
jaringan lunak.
5
Osteosit dengan lakunanya yang terletak beberapa milimeter dari
daerah fraktur akan kehilangan darah dan mati, yang akan menimbulkan
suatu daerah cincin avaskuler tulang yang mati pada sisi-sisi fraktur segera
setelah trauma.
2. Fase proliferasi seluler subperiosteal dan endosteal
Pada fase ini terjadi reaksi jaringan lunak sekitar fraktur sebagai suatu
reaksi penyembuhan. Penyembuhan fraktur terjadi karena adanya sel-sel
osteogenik yang berproliferasi dari periosteum untuk membentuk kalus
eksterna serta pada daerah endosteum membentuk kalus interna sebagai
aktifitas seluler dalam kanalis medularis. Apabila terjadi robekan yang
hebat pada periosteum, maka penyembuhan sel berasal dari diferensiasi
sel-sel mesenkimal yang tidak berdiferensiasi ke dalam jaringan lunak.
Pada tahap awal dari penyembuhan fraktur ini terjadi pertambahan jumlah
dari sel-sel osteogenik yang memberi pertumbuhan yang cepat pada
jaringan osteogenik yang sifatnya lebih cepat dari tumor ganas.
Pembentukan jaringan seluler tidak terbentuk dari organisasi pembekuan
hematoma suatu daerah fraktur. Setelah beberapa minggu, kalus dari
fraktur akan membentuk suatu massa yang meliputi jaringan osteogenik.
Pada pemeriksaan radiologis kalus belum mengandung tulang sehingga
merupakan suatu daerah radiolusen
3. Fase pembentukan kalus (fase union secara klinis)
Setelah pembentukan jaringan seluler yang bertumbuh dari setiap
fragmen sel dasar yang berasal dari osteoblas dan kemudian pada
kondroblas membentuk tulang rawan. Tempat osteoblast diduduki oleh
6
matriks interseluler kolagen dan perlengketan polisakarida oleh garam-
garam kalsium membentuk suatu tulang yang imatur. Bentuk tulang ini
disebut sebagai woven bone. Pada pemeriksaan radiologi woven bone
sudah terlihat dan merupakan indikasi radiologik pertama terjadinya
penyembuhan fraktur.
4. Fase konsolidasi (fase union secara radiologis)
Woven bone akan membentuk kalus primer dan secara perlahan-lahan
diubah menjadi tulang yang lebih matang oleh aktivitas osteoblas yang
menjadi struktur lamelar dan kelebihan kalus akan diresorpsi secara
bertahap.
5. Fase remodeling
Bila union telah lengkap, maka tulang yang baru membentuk bagian yang
menyerupai bulbus yang meliputi tulang tetapi tanpa kanalis medularis. Pada
fase remodeling ini, perlahan-lahan terjadi resorpsi secara osteoklastik dan
tetap terjadi proses osteoblastik pada tulang dan kalus eksterna secara
perlahan-lahan menghilang. Kalus intermediat berubah menjadi tulang yang
kompak dan berisi sistem Haversian dan kalus bagian dalam akan mengalami
peronggaan untuk membentuk ruang sumsum.
Gambar 2. Proses penyembuhan fraktur.3
(a) Hematoma. Kerusakan jaringan dan perdarahan pada daerah fraktur. (b) Inflamasi.
Sel-sel inflamasi tampak apada daerah hematoma. (c) Woven bone. Populasi sel akan
berubah menjadi osteoblast dan osteoclast. (d) Konsolidasi. Wovern bone diganti oleh
tulang lamellar dan fraktur menyatu secara sempurna. (e) Remodeling. Terjadi perubahan
struktur tulang sehingga akan tampak seperti struktur normalnya.
7
D. Anatomi
Tibia terdiri dari: akhir proksimal yang disebut sebagai plateau (terbagi
menjadi medial yang berbentuk konkaf dan lateral yang berbentuk konveks),
tubercle, eminence (medial dan lateral), batang/shaft, dan akhir distal disebut
sebagai pilon (sendi dan medial maleolus).4 Tibial plateau merupakan
penopang massa tubuh bagian proksimal dari tibia dan melakukan artikulasi
dengan condylus femoralis untuk membentuk sendi lutut.2
Sebuah os longum, mempunyai corpus, ujung proximal dan ujung distal,
berada di sisi medial dan anterior dari crus. Pada posisi berdiri, tibia
meneruskan gaya berat badan menuju ke pedis. Ujung proximal lebar,
mengadakan persendian dengan os femur membentuk articulatio genu,
membentuk condylus medialis dan condylus lateralis tibiae, facies proximalis
membentuk facies articularis superior, bentuk besar, oval, permukaan licin. 5
Facies articularis ini dibagi menjadi dua bagian, dari anterior ke posterior,
oleh fossa intercondyloidea anterior, eminentia intercondyloidea dan fossa
intercondyloidea posterior. Fossa intercondyloidea anterior mempunyai bentuk
yang lebih besar daripada fossa intercondyloidea posterior. Tepi eminentia
intercondyloidea membentuk tuberculum intercondylare mediale dan
tuberculum intercondylare laterale. Eminentia epicondylaris bervariasi dalam
bentuk dan sering juga absen.5
Facies articularis dari condylus medialis berbentuk oval, sedangkan facies
articularis condylus lateralis hampir bundar. Condylus lateralis lebih menonjol
daripada condylus medialis. Pada facies inferior dari permukaan dorsalnya
terdapat facies articularis, berbentuk lingkaran, dinamakan facies articularis
8
fibularis, mengadakan persendian dengan capitulum fibulae. Di sebelah
inferior dari condylus tibiae terdapat tonjolan ke arah anterior, disebut
tuberositas tibiae. Di bagian distalnya melekat ligamentum patellae. 5
Corpus tibiae mempunyai tiga buah permukaan, yaitu (1) facies medialis,
(2) facies lateralis dan (3) facies posterior. Mempunyai tiga buah tepi, yaitu (1)
margo anterior, (2) margo medialis dan (3) margo interosseus. Fossa medialis
datar, agak konveks, ditutupi langsung kulit dan dapat dipalpasi secara
keseluruhan. Facies lateralis konkaf, ditempati oleh banyak otot. Bagian
distalnya menjadi konveks, berputar ke arah ventral, melanjutkan diri menjadi
bagian ventral ujung distal tibia. Facies posterior berada di antara margo
medialis dan margo interosseus. Pada sepertiga bagian proximal terdapat linea
poplitea, suatu garis yang oblique dari facies articularis menuju ke margo
medialis.5
Margo anterior disebut crista anterior, sangat menonjol, di bagian proximal
mulai dari tepi lateral tuberositas tibiae, dan di bagian distal menjadi tepi
anterior dari malleolus medialis. Margo medialis, mulai dari bagian dorsal
condylus medialis sampai ke bagian posterior malleolus medialis. Margo
interosseus mempunyai bentuk yang lebih tegas daripada margo medialis,
tempat melekat membrana interossea. Di bagian proximal mulai pada condylus
lateralis sampai di apex incisura fibularis tibiae membentuk bifurcatio. 5
Ujung distal tibia membentuk malleolus medialis. Malleolus medialis
mempunyai facies superior, anterior, posterior, medial, lateral dan inferior.
Pada facies posterior terdapat sulcus malleolaris, dilalui oleh tendo m.tibialis
posterior dan m.flexor digitorum longus. Pada permukaan lateral terdapat
9
incisura fibularis yang membentuk persendian dengan ujung distal fibula.
Facies articularis inferior pada ujung distal tibia membentuk persendian dengan
facies anterior corpus tali.5
Gambar 3. Anatomi tibia fibula.4
E. Mekanisme Trauma
Fraktur tibialis plateau biasanya terjadi sebagai akibat dari kecelakaan
pejalan kaki yang rendah energi mengenai bumper mobil. Sebagian besar
kejadian fraktur tibialis plateau ini juga dilaporkan terjadi akibat dari
kecelakaan sepeda motor dengan kecepatan tinggi dan jatuh dari ketinggian.
Fraktur tibialis plateau terjadi akibat kompresi langsung secara axial, biasanya
dengan posisi valgus (paling sering) atau varus (jarang) atau trauma tidak
10
langsung yang besar. Aspek anterior dari kondilus femoralis berbentuk baji,
dengan terjadinya hiperekstensi dari lutut maka kekuatan ditimbulkan oleh
gerakan kondilus ke tibial plateau. Arah, besar, dan lokasi dari kekuatan yang
ditimbulkan, serta posisi lutut pada saat trauma akan menyebabkan perbedaan
dari pola fraktur, lokasi, dan tingkat pergeseran. Faktor lain seperti usia dan
kualitas tulang juga berpengaruh pada konfigurasi fraktur. Pasien yang lebih
tua dengan tulang yang osteopeni akan lebih cenderung menjadi tipe fraktur
depresi karena tulang subkondral nya lebih kaku untuk mengikuti beban.6
Usia muda dengan tulang yang kaku memiliki angka kejadian lebih tinggi
untuk terjadinya robekan ligamen sedangkan usia tua dengan kekuatan tulang
yang menurun memiliki angka kejadian lebih rendah untuk robekan ligamen. 7
Gambar 4. Ilustrasi mekanisme trauma pada fraktur tibialis plateau. 6
11
F. Klasifikasi Fraktur Tibialis Plateau
Klasifikasi fraktur tibialis plateau menggunakan klasifikasi Schatzker
yang terdiri atas 6 tipe, yaitu:8
1. Tipe 1. Fraktur biasa pada kondilus tibia lateral. Pada pasien yang lebih
muda yang tidak menderita osteoporosis berat, mungkin terdapat retakan
vertikan dengan pemisahan fragmen tunggal. Fraktur ini mungkin
sebenarnya tidak bergeser, atau jelas sekali tertekan dan miring, kalau
retakannya lebar, fragmen yang lepas atau meniscus lateral dapat terjebak
dalam celah.
2. Tipe 2. Peremukan kominutif pada kondilus lateral dengan depresi pada
fragmen. Tipe fraktur ini paling sering ditemukan dan biasanya terjadi
pada orang tua dengan osteoporosis.
3. Tipe 3. Peremukan komunitif dengan fragmen luar yang utuh. Fraktur ini
mirip dengan tipe 2, tetapi segmen tulang sebelah luar memberikan
selembar permukaan sendi yang utuh.
4. Tipe 4. Fraktur pada kondilus tibia medial. Ini kadang-kadang akibat
cedera berat, dengan perobekan ligament kolateral lateral.
5. Tipe 5. Fraktur pada kedua kondilus dengan batang tibia yang melesak
diantara keduanya
6. Tipe 6. Kombinasi fraktur kondilus dan subkondilus, biasanya akibat daya
aksial yang hebat.
12
Gambar 6. Klasifikasi frakturt tibialis plateau berdasarkan Schatzker.9
Ada pun klasifikasi tiga dimensi yang dapat ditentukan dari pemeriksaan
ccomputed tomography (CT-scan) pada regio yang memperlihatkan proksimal
dari tibia, beserta dengan karakterisasi dari anatomi yang terbagi menjadi
empat kuadran. Prinsip klasifikasi Schatzker tetap sama dan dimodifikasi
dengan penambahan “A” (anterior) dan “P” (posterior) untuk menentukan pada
kuadran mana terjadi fraktur tibialis plateau.
Gambar 7. Gambaran garis pembagi pada tibial plateau.9
Gambar 8. Pembagian kuadran anatomi dari tibial plateau. 9
13
G. Diagnosis
1. Anamnesis
Pada anamnesis didapatkan adanya keluhan nyeri, bengkak, atau
deformitas. Keluhan lain yang dipaparkan oleh pasien adalah tidak mampu
untuk menggerakkan lutut secara seluruhan ataupun sebagian. 2 Anmnesis
penting untuk mengetahui apakah pasien mengalami trauma dengan energi
tinggi atau tidak. Kecelakan motor, jatuh dari ketinggian lebih dari 10 kaki,
dan ditabrak dengan kendaraan sementara berjalan merupakan contoh
mekanisme trauma dengan energi tinggi. Anamnesis lainnya yang pertu
ditanyakan adalah faktor-faktor komorbid dari pasien yang akan
berpengaruh pada terapi ataupun prognosis.10
2. Pemeriksaan Fisik1
a. Inspeksi (Look)
i. Deformitas: angulasi (medial, lateral, posterior, dan anterior),
diskrepensi (rotasi, perpendekan atau perpanjangan).
ii. Bengkak atau kebiruan.
iii. Fungsiolesa (hilangnya fungsi gerak)
b. Palpasi (Feel)
i. Tenderness atau nyeri tekan pada daerah fraktur.
ii. Krepitasi.
iii. Nyeri sumbu.
c. Gerakan (Move)
i. Nyeri saat gerak aktif atau pasif.
ii. Gerakan tidak normal.
14
d. Pemeriksaan trauma di regio lain seperti kepala, thorax, abdomen, dan
pelvis.
e. Pemeriksaan komplikasi fraktur seperti nerovaskular bagian distal
fraktur yang berupa pulsus arteri, warna kulit, temperatur kulit,
capillary refill test, sensasi motorik dan sensorik. Pada fraktur tibialis
plateau, perlu dilakukan pemeriksaan terhadap arteri popliteal yaitu di
antara proksimal dari adductor hiatus dan distal dari soleus serta
pemeriksaan nervus peroneal.
f. Haemarthrosis sering terjadi yaitu edema, nyeri pada lutut di mana
pasien tidak dapat memikul berat tubuh.
Gambar 9. Lipohaemarthrosis.11
3. Pemeriksaan Penunjang (Radiologis)
Pemeriksaan standar untuk trauma pada lutut adalah foto polos X-ray
dengan posisi anteroposterior (AP), lateral, dan oblik. Foto polos X-ray
digunakan untuk mengidentifikasi garis fraktur dan pergeseran yang
terjadi tetapi tingkat kominusi atau depresi dataran mungkin tidak terlihat
jelas. Foto tekanan (dengan anestesi) kadang-kadang bermanfaat untuk
15
menilai tingkat ketidakstabilan sendi. Bila kondilus lateral remuk, ligamen
medial sering utuh, tetapi bila kondilus medial remuk, ligamen lateral
biasanya robek. CT-scan digunakan untuk mengidentifikasi adanya
pergeseran dari fraktur tibialis plateau. CT-scan potongan sagital
meningkatkan akurasi diagnosis dan diindikasikan pada kasus dengan
depresi articular.3
CT-scan juga untuk penentuan klasifikasi tiga dimensi guna
membantu menentukan rencana penatalaksanaan berikutnya. 9 Tidak ada
indikasi yang jelas untuk penggunaan magnetic resonance imaging (MRI).
Berikut merupakan beberapa contoh kasus fraktur tibialis plateau.
Gambar 10. Kasus fraktur tibialis plateau tipe II A.9
16
Gambar 11. Kasus fraktur tibialis plateau tipe III P.9
Gambar 12. Kasus fraktur tibialis plateau dextra tipe VI. Foto polos X-ray genu dextra
posisi AP/Lateral.
H. Penatalaksanaan
Fraktur yang non-displaced dan stabil baik untuk diterapi non-operatif.
Pemakaian hinged cast-brace untuk melindungi pergerakan lutut dan beban
tubuh merupakan salah satu metode pilihan. Latihan isometrik untuk
quadriceps, pasif, aktif,dan pergerakan aktif dari lutut sebagai stabilitas dapat
dilakukan. Dibolehkan untuk memikul beban tubuh secara partial selama 8-12
minggu, dan progressif hingga memikul beban tubuh secara keseluruhan.
Terapi dengan long leg cast juga dapat digunakan.6,7
17
Fraktur yang tidak bergeser atau sedikit bergeser biasanya menimbulkan
haemathrosis. Haemathrosis diaspirasi dan pembalut kompresi dipasang.
Tungkai diistirahatkan pada mesin gerakan pasif kontinyu dan gerakan lutut
dimulai. Segera setelah nyeri dan pembengkakan akut telah mereda, gips
penyangga berengsel dipasang dan pasien diperbolehkan menahan beban
sebagian dengan kruk penopang.3
Gambar 13. Terapi non-operatif. Dilakukan pen traksi bawah dimasukkan dan gerakan
dilatih dengan tekun. Hasil pemeriksaan foto polos X-ray memperlihatkan reduksi sangat
baik dan hasil akhir sangat bagus.3
Indikasi operasi pada fraktur tibialis plateau adalah: 7,11
1. Depresi pada articular yang dapat ditoleransi adalah >3 mm.
2. Pelebaran condylar >5 mm.
3. Instabilitasi >10° dari lutut yang diperpanjang dibandingkan dengan sisi
sebaliknya. Fraktur yang retak lebih tidak stabil dibandingkan fraktur yang
hanya kompresi.
4. Fraktur medial plateau displaced.
5. Fraktur bicondylar.
6. Fraktur terbuka.
7. Sindrom kompartemen.
8. Adanya kerusakan vaskular.
18
Terapi pembedahan pada fraktur tibialis plateau disesuaikan berdasarkan
tipe frakturnya. Schatzker tipe I merupakan fraktur yang bergeser. Fragmen
kondilus yang besar harus benar-benar direduksi dan difiksasi pada posisinya.
Ini terbaik dilakukan dengan operasi terbuka.3
Schatzker tipe II merupakan fraktur komunitif. Pada dasarnya ini adalah
fraktur kompresi, mirip dengan fraktur kompresi vertebra. Kalau depresi ringan
(kurang dari 5 mm) dan lutut stabil atau jika pasien telah tua dan lemah serta
mengalami osteoporosis, fraktur diterapi secara tertutup dengan tujuan
memperoleh kembali mobilitas dan fungsi bukannya restitusi anatomis.3
Schatzker tipe III. Kominusi dengan fragmen lateral yang utuh. Prinsip
terapinya mirip dengan prinsip yang berlaku untuk fraktur tipe II. Tetapi, fragmen
lateral dengan kartilago artikular yang utuh merupakan permukaan yang
berpotensi mendapat pembebanan, maka reduksi yang sempurna lebih penting.3
Schatzker tipe IV. Fraktur pada kondilus medial. Fraktur yang sedikit
bergeser dapat diterapi dalam gips penyangga. Kalau fragmen nyata sekali
bergeser atau miring, reduksi terbuka dan fiksasi diindikasikan. Kalau ligament
lateral juga robek, ini harus diperbaiki sekaligus. 3
Schatzker tipe V dan VI. Merupakan cedera berat yang menambah resiko
sindrom kompartemen. Fraktur bikondilus sering dapat direduksi dengan traksi
dan pasien kemudian diterapi seperti pada cedera tipe II. Fraktur yang lebih
kompleks dengan kominusi berat juga lebih baik ditangani secara tertutup,
meskipun traksi dan latihan mungkin harus dilanjutkan selama 4-6 minggu
hingga fraktur cukup menyatu untuk memungkinkan penggunaan gips
penyangga. Jika terdapat beberapa fragmen yang bergeser, fiksasi internal
dapat dilakukan.3
19
I. Prognosis
Prognosis pada fraktur tibialis plateau bergantung pada tepatnya diagnosis
dan penatalaksanaan yang adekuat. Ilmu tentang tindakan terhadap fraktur
terus berkembang dan tingkat keberhasilan kesembuhan sangat menjanjikan.
Tujuan dasar penatalaksanaan antara lain exact articular reduction dan rigid
fixation serta pembentukan kembali keselarasan mekanik dari tungkai bawah
dengan memperhatikan jaringan lunak seharusnya dapat diikuti sebagai
pedoman menuju hasil akhir yang menjanjikan.11
J. Komplikasi
1. Komplikasi dini
a. Sindroma kompartemen. Pada fraktur bicondylar tertutup terdapat
banyak perdarahan dan resiko munculnya sindrom kompartemen.
Kaki dan ujung kaki harus diperiksa secara terpisah untuk mencari
tanda-tanda iskemia.3
b. Kerusakan dari nervus peroneal. Hal ini umum terjadi pada trauma di
aspek lateral dimana nervus peroneal berjalan dari proksimal ke
bagian atas dari fibula dan lateral dari tibial plateau.7
c. Laserasi arteri popliteal.7
2. Komplikasi lanjut
a. Kekakuan sendi. Pada fraktur komunitif berat dan setelah operasi
yang kompleks, terdapat banyak resiko timbulnya kekakuan lutut.
Resiko ini dicegah dengan (1) menghindari imobilisasi gips yang lama
dan (2) mendorong dilakukannya gerakan secepat mungkin.3
20
b. Deformitas. Deformitas varus atau valgus yang tersisa amat sering
ditemukan baik karena reduksi fraktur tak sempurna ataupun karena
meskipun telah direduksi dengan memadai, fraktur mengalami
pergeseran ulang selama terapi. Untungnya, deformitas yang moderat
dapat member fungsi yang baik, meskipun pembebanan berlebihan
pada satu kompartemen secara terus menerus dapat menyebabkan
predisposisi untuk osteoarthritis di kemudian hari.3
c. Osteoartritis. Bertentangan dengan kepercayaan umum, osteoarthritis
bukanlah akibat jangka panjang yang lazim dari terapi konservatif.
Tindak lanjut pada serangkaian kasus besar yang dipantau selama 20
tahun, melaporkan hasil yang sangat baik atau baik pada 90% pasien
bila tidak ada ketidakstabilan ligamentum atau depresi nyata.
Sekalipun penampilan foto polos X-ray menunjukkan osteoarthritis,
lutut mungkin tidak terasa nyeri. Tetapi, jika timbul osteoarthritis
yang nyeri dan kondilus lateral terdepresi, operasi rekonstruktif dapat
dipertimbangkan.3
d. Malunion atau non-union. Hal in sering terjadi pada Schatzker VI
dimana terjadi fraktur diantara metafisis-diafisis, kominusi, fiksasi
tidak stabil, kegagalan implant, atau infeksi. 7
21
BAB III
KESIMPULAN
Pengenalan terhadap fraktur tibialis plateau dimulai dari mekanisme terjadinya
fraktur. Hal ini akan menjadi patokan saat pertama mendengarkan keluhan dan
cerita dari pasien atau pun dari keluarga pasien. Diagnosis dapat ditegakkan melalui
anamnesis, pemeriksaan fisik, serta pemeriksaan penunjang berupa pemeriksaan
radiologis. Pemeriksaan radiologis foto polos X-ray sudah cukup untuk
menentukan diagnosis kerja awal serta tipe fraktur tibialis plateau berdasarkan
klasifikasi Schatzker yang nantinya akan mengarahkan ke perencanaan
penatalaksanaan yang tepat.
Jika tidak ditatalaksana dengan adekuat, fraktur ini tentunya dapat
menyebabkan berbagai komplikasi yang dapat membahayakan fungsi juga
kesembuhan organ dan jaringan sekitarnya. Referat ini dibuat guna memahami
prinsip-prinsip dasar pengelolaan pasien fraktur tibialis plateau.
22
DAFTAR PUSTAKA
1. Rasjad C. Pengantar Ilmu Bedah Ortopedi. 4th ed. Jakarta: Yarsif Watampone;
2015. 559 hal.
2. Frassica F, Sponseller P, Wilckens J. The 5-Minute Orthopaedic Consult. 3rd
ed. Wolters Kluwer Health; 2019. 520 hal.
3. Solomon L, Warwick D, Nayagam S. Apley’s System of Othopaedics
Fractures. 9th ed. CRC Press; 2010. 992 hal.
4. Netter F. Netter Atlas of Human Anatomy: A Systems Approach. 8th ed.
Elsevier; 2022. 712 hal.
5. Luhulima J. Anatomi Systema Musculoskeletal. Jakarta: EGC; 2004.
6. Chapman MW. Chapman’s Comprehensive Orthopaedic Surgery. Jaypee
Brothers Medical Publishers; 2019. 5807 hal.
7. Egol KA, Koval KJ, Zuckerman JD. Handbook of Fractures. 5th ed.
Philadelphia: Wolters Kluwer Health; 2015. 896 hal.
8. Millar SC, Arnold JB, Thewlis D, Fraysse F, Solomon LB. A systematic
literature review of tibial plateau fractures: What classifications are used and
how reliable and useful are they? Injury [Internet]. 2018;49(3):473–90.
Available from: http://dx.doi.org/10.1016/j.injury.2018.01.025
9. Kfuri M, Schatzker J. Revisiting the Schatzker classification of tibial plateau
fractures. Injury [Internet]. 2018;49(12):2252–63. Available from:
https://doi.org/10.1016/j.injury.2018.11.010
10. Dirschl DR, Del Gaizo D. Staged management of tibial plateau fractures. Am
J Orthop (Belle Mead NJ). 2007;36(4 Suppl):12–7.
11. Chikate JMA. A review of the management of tibial plateau fractures.
Musculoskelet Surg. 2017;
23