Anda di halaman 1dari 33

LAPORAN PENDAHULUAN

DAN LAPORAN KASUS

ASUHAN KEPERWATAN PADA PASIEN TENTANG KEJANG DEMAM

(KEPERAWATAN ANAK)

OLEH :

Emillia Sabrini, S.Kep


NPM : 102322004

PROGRAM STUDI PROFESI NERS

FAKULTAS ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS BATAM

2023
BAB I
LAPORAN PENDAHULUAN

A. Defenisi
Kejang demam merupakan tipe kejang yang paling sering dijumpai pada
massa kanak-kanak (American Academy of Pediatrics,2008;Johnston, 2007).
Kejang demam biasanya menyerang anak dibawah umur 5 tahun, dengan insiden
puncak yang terjadi pada anak usia antara 14 dan 18 bulan. Kejang demam
jarang terjadi pada anak dibawah 6 bulan dan di atas 5 tahun. Kejang demam
lebih sering terjadi pada anak laki-laki dan terjadi peningkatan risiko pada anak
yanga memiliki riwayat kejang demam pada keluarga. Kejang demam berkaitan
dengan demam, biasanya terkait penyakit virus. Kejang tersebut biasanya jinak,
tetapi dapat sangat menakutkan baik bagi anak maupun keluarga. Pada sebagian
besar kasus, prognosis sangat baik. Kejang demam ini terjadi tanpa adanya
infeksi intracranial, gangguan metabolik, (Reese C, et al, 2012).

B. Epidemiologi
Angka kejadian kejang demam pada 2-4% anak berumur 6 bulan- 5 tahun.
Anak laki-laki dibandingkan anak perempuan, dengan perbandingan sekitar 1,4 :
1. Kejang demam pertama paling sering terjadi pada usia 1 hingga 2 tahun
(Pusponegoro dkk,2006, Lumbantobing,2007).

C. Etiologi
Faktor penting dalam kejang demam adalah demam, umur, genetik, riwayat
prenatal dan perinatal. Infeksi saluran napas atas merupakan penyakit yang
paling sering berhubungan dengan kejang demam. Gastroenteritis terutama yang
disebabkan oleh Shigella atau Campylobacter, dan infeksi saluran kemih
merupakan penyebab lain yang lebih jarang (Moe, et al, 2007).

D. Patofisiologi
Patofisiologi kejang demam sampai saat ini belum jelas. Diduga penyebab
kejang demam adalah respon otak imatur terhadap peningkatan suhu yang cepat.
Penyebab kejang diduga berhubungan dengan puncak suhu. Hipertermia
mengurangi mekanisme yang menghambat aksi potensial dan meningkatkan
transmisi sinaps eksitatorik. pada penelitian hewan didapatkan peningkatan
ekstabilitas neuron otak selama proses maturasinya. Suhu yang sering
menimbulkan kejang demam adalah 38,5%0C (Basuki, 2009).
Penelitian pada kejang demam berhasil mengidentifikasi febrile seizures
susceptibility genes pada 2 lokus, yaitu FEB1 (kromosom 8q13-q21) dan FEB2
(kromosom 19p13.3), bersifat autosomal dominan dengan penetrasi tidak
lengkap. Hal ini menjelaskan mengapa kejang demam lebih sering terjadi dalam
satu keluarga. Mutasi genetik dari kanal ion natrium atau Na’channelopathy dan
gaminobutiric acid A receptor merupakan gangguan genetik yang mendasari
terjadinya kejang demam.
Penelitian pada hewan coba menunjukan kemungkinan peran pirogen
endogen seperti interleukin 1β yang dengan meningkatkan eksitabilitas neuron,
mungkin menghubungkan demam dengan bangkitan kejang. Penelitian
pendahuluan pada anak mendukung hipotesis bahwa cytokine network
teraktivasi dan diduga berperan dalam pathogenesis kejang demam. Namun,
segnifikansi klinis dan patologis pengamatan ini masih belum jelas (Gatti, 2002).
Beberapa faktor yang mungkin berperan dalam menyebabkan kejang demam
antara lain:
1. Demam itu sendiri
2. Efek produk toksik dari mikroorganisme terhadap otak
3. Respon alergik atau keadaan imun yang abnormal oleh infeksi
4. Perubahan keseimbangan atau elektrolit
5. Ensefalitis viral
Dari beberapa faktor diatas yang menyebabkan kejang demam maka masalah
yang bisa muncul diantaranya ialah:
Perfusi jaringan serebral yang tidak efektif disebabkan karena rangsang mekanik
dan biokimia yang menyebabkan perubahan konsentrasi ion di ruang
ekstraseluler difusi Na dan K yang akhirnya terjadi kejang kurang dari 15 menit
atau lebih dari 15 menit yang menimbulkan resiko kerusakan sel neuron, selain
itu resiko cedera juga terjadi dikarenakan adannya inkordinasi kontraksi otot
mulut dan lidah saat anak mengalami kejang, hipertermi pada anak terjadi setelah
kejang saat aktivitas otot meningkat, metabolisme dan suhu juga mengalami
peningkatan dan kurangnya pengetahuan orang tua dalam menangani dan
mencegah kejang demam pada anak.
E. Pathway

Infeksi bakteri Rangsang mekanik dan biokimia.

Virus dan parasit gangguan keseimbangan cairan&elektrolit

perubahan konsentrasi ion

Reaksi inflamasi di ruang ekstraseluler

Resiko Infeksi

Proses demam

Ketidakseimbangan kelainan neurologis

Hipertermia potensial membran perinatal/prenatal

ATP ASE

Resiko kejang berulang

difusi Na+ dan K+

Pengobatan perawatan

Kondisi, prognosis, lanjut kejang resiko cedera

Dan diit

Defisit pengetahuan keluarga kurang dari lebih dari 15 menit

15 menit

perubahan suplay

Tidak menimbulkan Darah ke otak

gejala sisa

resiko kerusakan sel

Neuron otak

Gangguan Perfusi jaringan cerebral


F. Faktor Risiko
Faktor risiko yang bisa mencetuskan kejang demam antara lain :
1. Faktor Demam
Anak dengan lama demam kurang dari dua jam untuk terjadinya bangkitan
kejang demam 2,4 kali lebih besar dibandingkan anak yang mengalami
demam lebih dari dua jam. Anak dengan demam lebih besar dari 390C
memiliki risiko 10 kali lebih besar untuk menderita bangkitan kejang demam
disbanding dengan anak yang demam kurang 390C.
2. Faktor Usia
Anak dengan kejang demam usia kurang dari dua tahun mempunyai risiko
bangkitan kejang demam 3,4 kali lebih besar disbanding yang lebih dari dua
tahun. (Fuadi,2010).
3. Faktor Riwayat Kejang dalam Keluarga
Keluarga dengan riwayat pernah menderita kejang demam sebagai faktor
risiko untuk terjadi kejang demam pertama adalah kedua orang tua ataupun
saudara kandung (first degree relative).
a) Bila kedua orangnya tidak mempunyai riwayat pernah menderita kejang
demam maka risiko terjadi kejang demam hanya 9%.
b) Apabila salah satu orang tua penderita dengan riwayat pernah menderita
kejang demam mempunyau risiko untuk terjadi bangkitan kejang
demam 20%-22%.
c) Apabila kedua orang tua penderita tersebut mempunyai riwayat pernah
menderita kejang demam maka risiko untuk terjadi bangkitan kejang
demam meningkat menjadi 59%-64%. Demam diwariskan lebih banyak
oleh ibu dibandingkan ayaj, 27% berbanding 7% (Fuadi,2010)

4. Faktor Perinatal dan Pascanatal


 Kehamilan pada umur lebih 35 tahun
 Barat lahir sangat rendah atau amat sangat rendah memudahkan
timbulnya bangkitan kejang demam (Fuadi,2010).
5. Faktor Vaksinasi/Imunisasi
Risiko kejang demam dapat meningkat setelah beberapa imunitas pada anak,
seperti imunisasi difteri, tetanus dan pertuasis (DPT) atau measles-mumps-
rubella (MMR). (Mayo Clinic, 2012).

G. Klasifikasi Kejang Demam


1. Kejang demam Sederhana (KDS)
Kejang demam yang berlangsung singkat, kurang dari 15 menit dan umumnya
akan berhenti sendiri. Kejang berbentuk umum tonik atau klonik, tanpa
gerakan fokal. Kejang tidak berulang dalam waktu 24 jam. Kejang demam
sederhana merupakan 80% dari seluruh kejadian kejang demam
(Pusponegoro, 2006).
2. Kejang Demam Kompleks (KDK)
Kejang demam kompleks merupakan kejang demam dengan salah satu ciri
kejang lama yang berlangsung > 15 menit, kejang fokal atau parsial satu sisi,
atau kejang umum didahului kejang parsial, atau berulang lebih dari 1 kali
dalam 24 jam. Kejang lama adalah kejang yang berlangsung lebih dari 15
menit atau kejang berulang lebih dari 2 kali dan diantara bangkitan kejang
anak tidak sadar. Kejang lama terjadi pada 8% kejang demam
(Pusponegoro,2006).

H. Tanda dan Gejala Klinis


 Kejang demam berlangsung singkat, serangan kejang klonik atau tonik klonik
bilateral.
 Seringkali kejang berhenti sendiri.
 Setelah kejang berhenti, anak tidak memberi reaksi apapun untuk sejenak.
 Setelah beberapa detik atau menit anak terbangun dan sadar kembali tanpa
deficit neurologis.
 Peningkatan suhu tubuh mendadak hingga ≥ 38OC

I. Pemeriksaan Fisik
Batas suhu yang bisa mencetuskan kejang demam 38OC atau lebih, tetapi suhu
sebenarnya pada waktu kejang sering tidak diketahui. Pemeriksaan fisik lainnya
bertujuan untuk mencari sumber infeksi dan kemungkinan adanya infeksi
intrakranial meningitis atau ensefalitis (Basuki, 2009)

J. Pemeriksaan Penunjang
1. Laboratorium darah
Untuk mencari etiologic kejang demam. Darah lengkap, kultur darah,
glukosa darah, elektrolit, magnesium, kalsium, fosfar, urinalisa, kultur urin
(The Barbara, 2011).
2. Urinalisis
Urinalisis direkomendasikan untuk pasien-pasien yang tidak ditemukan focus
infeksinya (Guidelines, 2010).
3. Fungsi Lumbal
Untuk menegakkan atau menyingkirkan kemungkinan meningitis.
4. Radiologi
Neuroimaging tidak diindikasikan setelah kejang demam sederhana.
Dipertimbangkan jika terdapat gejala klinis gangguan neurologis.
5. Elekroensefalografi (EEG)
Untuk menyingkirkan kemungkinan epilepsi.
K. Diagnosis
Diagnosis ditegakkan dari anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan
penunjang. Kriteria Livingstone untuk kejang demam:
1. Umur anak ketika kejang antara 6 bulan – 4 tahun
2. Kejang berlangsung sebentar, tidak lebih dari 15 menit
3. Kejang bersifat umum
4. Kejang timbul dalam 16 jam pertama setelah timbulnya demam
5. Pemeriksaan saraf sebelum dan sesudah kejang normal
6. Pemeriksaan EEG yang dibuat sedikitnya 1 minggu setelah suhu normal
tidak menunjukan kelainan.
7. Frekuensi bangkitan kejang dalam 1 tahun tidak lebih dari 4 kali.

L. Penatalaksanaan
Pada tata laksana kejang demam, ada 3 hal yang perlu di kerjakan:
1. Pengobatan fase akut
Penanganan pada fase akut kejang demam antara lain:
a. Pertahankan jalan napas
b. Lindungi anak dari trauma/cidera
c. Posisikan anak tidur setengah duduk
d. Longgarkan pakaian atau lepas pakaian yang tidak perlu.
2. Mencari dan mengobati penyebab demam
Pemeriksaan cairan serebrospinal dilakukan untuk menyingkirkan
kemungkinan meningitis, pemeriksaan laboratorium lain dilakukan atas
indikasi untuk mencari penyebab.
3. Pengobatan profilaksis terhadap berulangnya kejang demam.
Pencegahan berulang kejang demam perlu dilakukan karena bila sering
berulang dapat menyebabkan kerusakan otak yang menetap. Ada dua cara
pengobatan profilaksi :
1) Profilaksi intermitten pada waktu demam
2) Profilaksis terus menerus dengan antikonvulsan setiap hari
Diazepam intrarektal tiap 8 jam sebanyak 5mg untuk pasien dengna berat
badan ≤ 10 kg dan 10mg untuk pasien dengan berat badan ≥ 10 kg, setiap
pasien menunjukan suhu 38,5OC atau lebih. Diazepam dapat pula
diberikan secara oral dengan dosis 0,5 mg/kgBB/hari dibagi dalam 3
dosis pada waktu pasien demam.
Untuk profilaksis terus menerus/jangka panjang dapat dengan pemberian
obat rumat. Pengobatan rumat hanya diberikan bila kejang demam
menunjukan ciri sebagai berikut:
a) Kejang lama > 15 menit.
b) Adanya kelainan neurologis yang nyata sebelum atau sesudah kejang,
misalnya hemiparesis, paresis Todd, cereberal palsy, retardasi
mental, Hidrosefalus.
c) Kejang fokal.
d) Pengobatan rumat dipertimbangkan bila:
 Kejang berulang dua kali atau lebih dalam 24 jam
 Kejang demam terjadi pada baiyi kurang dari 12 bulan
 Kejang demam ≥ 4 kali per tahun.

Obat pilihan adalah asam valproate adalah 15-40 mg/kgBB/hari. Untuk


fenobarbital 3-4 mg/kgBB/hari dalam 1-2 dosis. Pengobatan diberikan
selama 1 tahun bebas kejang, kemudian dihentikan secara bertahap
selama 1-2 bulan.

M. Prognosis
 Kemungkinan mengalami kecacatan atau kelainan neurologis.
 Perkembangan mental dan neurologis umumnya tetap normal pada pasien
yang sebelumnya normal.
 Kemungkinan berulang kejang demam.
 Kejang demam akan berulang kembali pada sebagian kasus. Faktor risiko
berulangnya kejang demam adalah: riwayat kejang demam dalam keluarga.
Usia kurang lebih 12 bulan, temperatur yang rendah saat kejang, cepatnya
kejang setelah demam
 Kemungkinan terjadinya epilepsi.

Faktor risiko menjadi epilepsi apabila :

1. Kelainan neorologis atau perkembangan yang jelas sebelum kejang demam


pertama
2. Kejang demam yang pertama adalah kejang demam kompleks
3. Riwayat epilepsi pada orang tua atau saudara kandung.
4.
A. Pengkajian
1. Anamnesis
a. Identitas pasien
Meliputi nama lengkap, tempat tinggal, jenis kelamin, tanggal lahir, umur,
tempat lahir, asal suku bangsa, agama, nama orang tua, pekerjaan orang
tua, penghasilan orang tua. Wong (2009), mengatakan kebanyakan
serangan kejang demam terjadi setelah usia 6 bulan dan biasanya sebelum
3 tahun dengan peningkatan frekuensi serangan pada anak-anak yang
berusia kurang dari 18 bulan.
b. Riwayat kesehatan
1) Keluhan utama
Anak mengalami peningkatan suhu tubuh >38,0⁰C, pasien mengalami
kejang dan bahkan pada pasien dengan kejang demam kompleks
biasanya mengalami penurunan kesadaran.
2) Riwayat penyakit sekarang
Orang tua klien mengatakan badan anaknya terasa panas, nafsu makan
anaknya berkurang, lama terjadinya kejang biasanya tergantung pada
jenis kejang demam yang dialami anak.
c. Riwayat perkembangan anak
Pada pasien dengan kejang demam kompleks mengalami gangguan
keterlambatan perkembangan dan intelegensi pada anak serta
mengalami kelemahan pada anggota gerak (hemifarise).
d. Riwayat imunisasi
Anak dengan riwayat imunisasi tidak lengkap rentan tertular penyakit
infeksi atau virus seperti virus influenza.
e. Riwayat nutrisi
Saat sakit, biasanya anak mengalami penurunan nafsu makan karena mual
dan muntahnya.
f. Pengetahuan keluarga
Pemahaman penyakit dan perawatan
2. Pemeriksaan fisik
a. Keadaan umum biasanya anak rewel
b. TTV
1) Suhu : >38,0⁰C
2) Respirasi: Pada usia 2- < 12 bulan : biasanya > 49 kali/menit
Pada usia 12 bulan - <5 tahun : biasanya >40 kali/menit
3) Nadi : >100 x/menit
c. BB
Pada anak dengan kejang demam tidak terjadi penurunan berat badan yang
berarti
d. Kepala
Tampak simetris dan tidak ada kelainan yang tampak
e. Mata
Biasanya simetris kiri-kanan, sklera tidak ikterik, konjungtiva anemis.
f. Mulut dan lidah
Mukosa bibir tampak kering, tonsil hiperemis, lidah tampak kotor
g. Telinga
Bentuk simetris kiri-kanan, keluar cairan, terjadi gangguan pendengaran
yang bersifat sementara, nyeri tekan mastoid.
h. Hidung
Penciuman baik, ada pernafasan cuping hidung, bentuk simetris, mukosa
hidung berwarna merah muda.
i. Leher
Terjadi pembesaran kelenjar getah bening
j. Dada
1) Thoraks
a) Inspeksi: gerakan dada simetris, tidak ada penggunaan otot bantu
pernapasan
b) Palpasi: vremitus kiri kanan sama
c) Auskultasi: ditemukan bunyi napas tambahan seperti ronchi.
2) Jantung
Terjadi penurunan atau peningkatan denyut jantung
I: Ictus cordis tidak terlihat
P: Ictus cordis di SIC V teraba
P: batas kiri jantung : SIC II kiri di linea parastrenalis kiri (pinggang
jantung),
SIC V kiri agak ke mideal linea midclavicularis kiri. Batas bawah
kanan jantung disekitar ruang intercostals III-IV kanan, dilinea
parasternalis kanan, batas atasnya di ruang intercosta II kanan linea
parasternalis kanan.
A: BJ II lebih lemah dari BJ I
k. Abdomen
Lemas dan datar, kembung
l. Anus
Tidak terjadi kelainan pada genetalia anak
m. Ekstermitas :
1) Atas : Tonus otot mengalami kelemahan, CRT > 2 detik, akral dingin.
2) Bawah : Tonus otot mengalami kelemahan, CRT > 2 detik, akral dingin.
3. Aktivitas kejang
Meliputi karakteristik kejang, lama kejang, dan frekuensi kejang
4. Penilaian tingkat kesadaran
a. Compos Mentis (conscious), yaitu kesadaran normal, sadar sepenuhnya,
dapat menjawab semua pertanyaan tentang keadaan sekelilingnya, nilai
GCS: 15-14.
b. Apatis, yaitu keadaan kesadaran yang segan untuk berhubungan dengan
sekitarnya, sikapnya acuh tak acuh, nilai GCS: 13 - 12.
c. Delirium, yaitu gelisah, disorientasi (orang, tempat, waktu), memberontak,
berteriak-teriak, berhalusinasi, kadang berhayal, nilai GCS: 11 - 10.
d. Somnolen (Obtundasi, Letargi), yaitu kesadaran menurun, respon
psikomotor yang lambat, mudah tertidur, namun kesadaran dapat pulih bila
dirangsang (mudah dibangunkan) tetapi jatuh tertidur lagi, mampu
memberi jawaban verbal, nilai GCS: 9 – 7.
e. Stupor (soporo koma), yaitu keadaan seperti tertidur lelap, tetapi ada
respon terhadap nyeri, nilai GCS: 6 – 4.
f. Coma (comatose), yaitu tidak bisa dibangunkan, tidak ada respon terhadap
rangsangan apapun (tidak ada respon kornea maupun reflek muntah,
mungkin juga tidak ada respon pupil terhadap cahaya), nilai GCS: ≤ 3.
5. Penilaian kekuatan otot
Respon Skala
Kekuatan otot tidak ada 0
Tidak dapat digerakkan, tonus otot ada 1
Dapat digerakkan, mampu terangkat sedikit 2
Terangkat sedikit < 45, tidak mampu melawan gravitasi 3
Bisa terangkat, bisa melawan gravitasi, namun tidak mampu melawan 4
tahanan pemeriksa, gerakan tidak terkoordinasi
Kekuatan otot normal 5

B. Diagnosa Keperawatan
1. Ketidakefektifan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan peningkatan
sirkulasi otak
2. Hipertermia berhubungan dengan peningkatan laju metabolisme
3. Resiko cidera berhubungan dengan gangguan sensasi
4. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi
C. Rencana Keperawatan

No Diagnosa keperawatan Tujuan (NOC) Intervensi (NIC) Rasional


1. Ketidakefektifan Setelah dilakukan tindakan Terapi oksigen 3320 1. Memastikan jalan
perfusi jaringan serebral keperawatan diharapkan masalah 1. Pertahankan kepatenan nafas tidak terganggu.
berhubungan dengan ketidakefektifan perfusi jaringan jalan nafas 2. Agar suplay oksigen
gangguan afinitas Hb serebral dapat teratasi dengan 2. Berikan oksigen tambahan terpenuhi
Oksigen, penurunan Hb kriteria hasil: sesuai yang diperintahkan
oksigen, hipervolemia, Status neurologi 0909
hipoventilasi. 1. Kesadaran dari 3 (cukup Manajemen edema serebral
terganggu) menjadi 5 (tidak 2540
terganggu) 1. Monitor adanya 1. Mengkaji keluhan

kebingungan, perubahan yang dirasakan


2. Tekanan intrakranial dari 2
(banyak terganggu) menjadi 5 pikiran, keluhan pusing dan 2. Mengetahui status

pingsan. kardiorespirasi pasien


(tidak terganggu)
3. Meminalisir adanya
3. Pola bernafas dari 2 (banyak 2. Monitor tanda-tanda vital
tingkatan pada TIK
terganggu) menjadi 5 (tidak 3. Monitor TIK dan CPP
4. Kurangi stimulus dalam dan CPP
terganggu)
lingkungan pasien 4. Batasi kunjungan
4. Aktivitas kejang dari 3 (sedang)
5. Berikan anti kejang, sesuai pada pasien
menjadi 5 (tidak ada)
kebutuhan 5. Meminimalkan
adanya pembekuan
dara
2. Hipertermia Setelah dilakukan tindakan Perawatan demam 3740
berhubungan dengan keperawatan diharapkan masalah 1. Pantau suhu dan tanda- 1. Pemantauan tanda-
dehidrasi, suhu hipertermi dapat teratasi dengan tanda vital lainnya tanda vital dapat
lingkungan tinggi, kriteria hasil: 2. Monitor asupan dan menentukan
penyakit, peningkatan Termoregulasi 0800 keluaran,sadari perubahan perkembangan
laju metabolisme. 1. Tingkat pernafasan dari 1 kehilangan cairan yang tak keperawatan
(sangat terganggu) menjadi 4 dirasakan selanjutnya.
(sedikit terganggu) 3. Dorong konsumsi cairan 2. Pemantauan asupan
2. Hipertermi dari 1(berat) menjadi 4. Beri obat atau cairan IV dan keluaran untuk
4 (ringan) (antipiretik, agen anti mengetahui
3. Sakit kepala dari 2 (banyak bakteri dan agen anti kebutuhan cairan
mengganggu) menjadi 5 (tidak menggigil) yang dibutuhkan
terganggu) 5. Tutup pasien dengan sehingga pemberian
selimut atau pakaian ringan, cairan dapat diberikan
tergantung pada fase secara tepat.
demam (memberikan 3. Kebutuhan cairan
selimut hangat untuk fase meningkat karena
dingin, menyediakan adanya proses
pakaian atau linen tempat penguapan.
tidur ringan untuk demam 4. Antipiretik berfungsi
dan fase bergejolak/flush) untuk menurunkan
6. Fasilitasi istirahat, terapkan panas.
pembatasan aktivitas. 5. Proses hilangnya
7. Pantau komplikasi- panas akan terhalangi
komplikasi yang oleh pakaian tebal dan
berhubungan dengan tidak dapat menyerap
demam serta tanda dan keringat.
gejala kondisi penyebab 6. Aktifitas yang
demam (kejang, penurunan berlebihan dapat
tingkat kesadaran,dll) meningkatkan
metabolisme dan
panas.
7. Pemantauan yang
ketat untuk
menghindari
terjadinya kondisi
yang lebih buruk serta
dapat memberikan
intervensi secara
cepat dan tepat.
3. Resiko cidera Setelah dilakukan tindakan Manajemen Lingkungan 6480
Faktor-faktor risiko : keperawatan diharapkan masalah 1. Ciptakan lingkungan yang 1. Meminimalisir
Eksternal resiko cidera dapat teratasi dengan aman bagi pasien terjadinya cedera
1. Fisik (contoh : kriteria hasil: 2. Singkirkan benda-benda fisik bagi pasien.
rancangan struktur 1. Mampu menjelaskan cara berbahaya dari lingkungan 2. Meminimalisir
terjadinya cedera
dan arahan mencegah injury dari 1 (berat) 3. Sediakan tempat tidur dan fisik bagi pasien.
masyarakat, ke 4 (Ringan) lingkungan yang bersih 3. Meminimalisir
bangunan dan atau 2. Mampu menggunakan fasilitas dan nyaman terjadinya cedera
perlengkapan; mode kesehatan yang ada dari 1 fisik bagi pasien.
transpor atau cara (sangat terganggu) ke 4( sedikit
perpindahan; terganggu) Manajemen Kejang 2680 1. Meminimalisisr rasa
Manusia atau 3. Mampu mengenali perubahan 1. Longgarkan pakaian tidak nyaman pada
penyedia pelayanan) status kesehatan dari 1 (sangat 2. Balikkan badan klien ke pasien
2. Biologikal ( contoh : terganggu) ke 4 (sedikit satu sisi 2. Mencegah
tingkat imunisasi terganggu) 3. Pandu gerakan klien komplikasi
dalam masyarakat, 4. Mampu memodifikasi gaya 4. Monitor arah kepala dan dekubitus
mikroorganisme) hidup untuk mencegah injury mata selama kejang 3. Meminimalisisr
3. Kimia (obat- dari 1 (berat) ke 4 (ringan) 5. Tetap di sisi klien selama adanya cedera
obatan:agen farmasi, kejang 4. Meminimalisir
alkohol, kafein, 6. Catat karakteristik kejang resiko cedera saat
nikotin, bahan kejang.
pengawet, kosmetik; 5. Melakukan
nutrien: vitamin, pengawasan saat
jenis makanan; pasien kejang
racun; polutan) 6. Mencatat frekuensi
4. Internal kejang
a. Psikolgik
(orientasi afektif)
b. Mal nutrisi
c. Bentuk darah
abnormal, contoh
:
leukositosis/leuko
penia
d. Perubahan faktor
pembekuan,
e. Trombositopeni
f. Sickle cell
g. Thalassemia,
h. Penurunan Hb,
i. Imun-autoimum
tidak berfungsi.
j. Biokimia, fungsi
regulasi (contoh :
tidak
berfungsinya
sensoris)
k. Disfugsi
gabungan
l. Disfungsi efektor
m. Hipoksia jaringan
n. Perkembangan
usia (fisiologik,
psikososial)
5. Fisik (contoh :
kerusakan
kulit/tidak utuh,
berhubungan dengan
mobilitas)

4. Kurang pengetahuan Setelah dilakukan tindakan Pengajaran: Proses Penyakit


berhubungan dengan keperawatan diharapkan masalah 5602
Gangguan fungsi kurang pengetahuan dapat teratasi 1. Kaji tingkat pengetahuan 1. Mengetahui
kognitif, gangguan dengan kriteria hasil: dengan proses penyakit sejauhmana

memori, kurang Pengetahuan:Proses penyakit yang spesifik pengetahuan yang

informasi, kurang 1803 2. Jelaskan patofisiologi dimiliki keluarga dan

sumber pengetahuan, 1. Faktor resiko dari 1 (tidak ada penyakit dan bagaimana kebenaran informasi

kurang minat untuk pengetahuan) menjadi 4 hubungannya dengan yang di dapat.

belajar. (pengetahuan banyak) anatomi fisiologi, sesuai 2. Menambah wawasan


2. Tanda dan gejala penyakit dari kebutuhan keluarga terkait faktor

2 (pengetahuan terbatas) 3. Jelaskan tanda dan gejala yang dapat

menjadi 4 (pengetahuan yang umum dari penyakit, menimbulkan kejang

banyak) sesuai kebutuhan demam.

3. Proses perjalanan penyakit 4. Jelaskan mengenai proses 3. Memberikan


biasanya dari 1 (tidak ada penyakit, sesuai kebutuhan informasi kepada
pengetahuan) menjadi 4 5. Jelaskan komplikasi kronik keluarga terkait gejala
(pengetahuan banyak) yang mungkin ada, sesuai yang timbul dari
4. Tanda dan gejala komplikasi kebutuhan kejang demam.
penyakit dari 1 (tidak ada 6. Edukasi mengenai tanda 4. Memberikan
pengetahuan) menjadi 4 gejala yang harus informasi kepada
(banyak pengetahuan) dilaporkan kepada petugas keluarga sehingga
5. Manfaat manajemen penyakit kesehatan. keluarga bisa
dari 1 (tidak ada pengetahuan) 7. Jelaskan alasan dibalik mengambil
menjadi 4 (banyak terapi yang sikap/tindakan secara
pengetahuan) direkomendasikan tepat.
5. Memberikan
informasi kepada
keluarga apabila
kejang demam tidak
segera dilakukan
penanganan.
6. Sebagai upaya
mendidik keluarga
dalam penanganan
terkait kejang demam.
7. Memberikan
informasi kepada
keluarga terkait tujuan
setiap tindakan
perawatan.
DAFTAR PUSTAKA

Andretty Rezy P. 2015. Hubungan Riwatar Kejang Demam Dengan Angka Kejadian
eplilepsi di Dr.Moewardi. Universitas Muhammadiah Surakarta

Aziz, H. 2008. Pengantar Konsep Dasar Keperawatan, edisi 2. Jakarta: Salemba


Medika

Fida & Maya. 2012. Pengantar Ilmu Kesehatan Anak. Yogyakarta: D-Medika .

Harjaningrum, A. 2011. Smart Patient: Mengupas Rahasia Menjadi Pasien Cerdas.


Jakarta: PT. Linggar Pena Kreativa.

Jones, T., & Jacobsen, S. T. 2007. Childhood Febrile Seizures: Overview and
Implication. Int J Med Sci.

Mohammadi, M. 2010. Febrile Seizures: Four Steps Alogarithmic Clinical


Approch.Irania Journal of Pediatric, volume 20 (No1), page 5-15
http://journals.tums.ac.ir

Munir Badrul. 2015, Neurologi Dasar. Cetakan pertama, Universitas Brawijaya Malang,
Sagung Seto. Jakarta

Riandita, A. 2012. Hubungan Antara Tingkat Pengetahuan Ibu Tentang Deman Dengan
Pengelolaan Demam Pada Anak. Jurnal Media Medika Muda

Rahayu, S. 2015. Model Pendidikan Kesehatan Dalam Meningkatkan Pengatahuan


Tentang Pengelolaan Kejabg Demam Pada Ibu Balita Di Posyandu Balita.
Politeknik Kesehatan Surakarta

Suriadi, Rita. 2010. Asuhan Keperawatan pada Anak.Edisi 2. Sagung Seto. Jakarta
BAB II
LAPORAN KASUS
FORMAT PENGKAJIAN PADA ANAK

Nama Mahasiswa : Emillia Sabrini, S.Kep


NPM : 102322004
Tempat Praktek : Ruang Ar Rahman Rumah Sakit Bakti Timah
Tanggal Praktek : 29 Februari 2023
Tanggal Pengkajian : 03 Maret 2023
Tanggal Klien masuk RS : 01 Maret 2023
No RM : 09.35.40

I. Identitas Klien
Nama Anak : An. S
BB/TB : 8 Kg / 80 cm
Usia : 1 Tahun 2 Bulan
Jenis Kelamin : Laki-laki
Pendidikan anak :-
Anak ke :2
Nama ayah/ibu : Tn. D / Ny. A
Pekerjaan ibu : Mengurus Rumah Tangga Pekerjaan Ayah :Wiraswasta
Pendidikan ibu : SMA Pendidikan Ayah : SMA
Alamat :Kampung Baru Tebing
Dx medis : Kejang Demam

II. KELUHAN UTAMA

Ibu Klien Mengatakan anaknya sudah Demam 2 (dua) hari.


III. RIWAYAT KEHAMILAN DAN KELAHIRAN

1. Prenatal
Ibu klien mengatakan rutin melakukan pemeriksaan kandungannya sesuai dengan
jadwal yang sudah ditentukan, ibu klien mengatakan mengalami kenaikan berat
badan 2 kg selama kehamilan, ibu klien mengatakan telah melakukan imunisasi
TT saat kehamilan.
2. Natal
Ibu klien mengatakan melahirkan di Puskesmas, persalinan spontan dan penolong
persalinan Bidan, ibu klien mengatakan tidak mengalami komplikasi saat
persalinan.
3. Post Natal
Kondisi bayi dengan keadaan normal BB 3000 gram PB 50 cm, warna badan klien
pada saat lahir yaitu merah dan spontan menangis, tidak mengalami penyakit
kuning, ibu klien mengatakan tidak pernah memberikan obat bebas untuk
dikonsumsi klien, tidak ada masalah dalam menysusui.

IV. RIWAYAT KESEHATAN DAHULU


1. Penyakit yang diderita sebelumnya : Tidak Ada

2. Pernah dirawat di RS : Tidak Pernah

3. Obat-0batan yang pernah digunakan : Sanmol

4. Tindakan (operasi) : Tidak Ada

5. Alergi : Tidak Ada

6. Kecelakaan : Tidak Ada

7. Riwayat imunisasi :
Jenis Imunisasi Waktu Pemberian Reaksi Setelah Pemberian
BCG 3 hari Demam
DPT (I, II, III) 2, 3, 4 bulan Tidak demam
Polio (I, II, III, & IV) 1, 2, 3, 4 bulan Tidak demam
Hepatitis 6 dan 12 bulan Tidak demam
Campak 9 bulan Demam

V. RIWAYAT KESEHATAN SAAT INI


Ibu klien mengatakan klien demam kemudian mengalami kejang 1 kali, ibu klien
mengatakan tidak tahu mengenai penanganan yang harus dilakukan saat anaknya
mengalami kejang, ibu klien mengatakan memberikan paracetamol pada anaknya, ibu
klien mengatakan selera makan klien menurun, ibu klien mengatakan tidak tahu
masalah penyakit anaknya.

VI. RIWAYAT KESEHATAN KELUARGA


Genogram

Keterangan:

: laki-laki : garis keturunan

: perempuan : tinggal

serumah : klien X : meninggal

Bagan 3.1 Genogram keluarga klien An. S

Keterangan:

Generasi 1 : Orang tua dari ayah dan ibu klien sudah meninggal

Generasi 2 : Ibu klien anak ke 3 dari 5 bersaudara sedangkan ayah klien anak ke
2 dari 3 bersaudara
Generasi 3 : Klien anak ke 2 dari 2 bersaudara

VII. RIWAYAT TUMBUH KEMBANG


1. Pertumbuhan fisik
Berat badan 8 kg, tinggi badan 80 cm, waktu tumbuh gigi usia 7 bulan.
2. Perkembangan tiap tahap
Berguling pada usia 8 bulan, duduk pada usianya 11 bulan, merangkak pada saat
usia 9 bulan, berdiri usia 10 bulan, berjalan usia 11 bulan, senyum kepada orang lain
pertama kali pada usia 2 minggu, bicara pada usia 11 bulan.

VIII. RIWAYAT SOSIAL

Ibu klien mengatakan anak tinggal bersama ibu dan ayahnya, tinggal dirumah orang
tua, lingkungan rumah di daerah perkotaan, hubungan keluarga harmonis, pengasuh
anak yaitu keluarga.

IX. PEMERIKSAAN FISIK

1) Keadaan umum
Klien terlihat lemah dengan kesadaran composmentis
TTV: Suhu 38,5°c, pernafasan 26 kali/menit, nadi 80 kali/menit.
2) Antropometri
Tinggi badan 80 cm, berat badan 80 kg, lingkar lengan atas 12 cm, lingkar kepala
45 cm, lingkar dada 50 cm, lingkar perut 45 cm.
3) Sistem pernapasan
Hidung sismetris kiri dan kanan, tidak terdapat seket, tidak ada
suara nafas tambahan, tidak ada pernafasan cuping hidung dan tidak ada polip.
Leher tidak ada pembesaran kelenjar tiroid, tidak ada luka dan tidak ada tumor.
Dada, bentuk dada normo chest, gerakan dada simetris, tidak terdapat retraksi
dinding dada, tidak ada nyeri tekan, suara nafas vesikuler.
4) Sistem cardiovaskuler kongjutiva anemis, tidak ada pembesaran jantung, bibir
pucat dan pecah-pecah, ukuran jantung normal, suara jantung s1 s2 lup dup,
capillary refilling time 2 detik.
5) Sistem pencernaan sklera tidak ikterik, bibir pucat dan pecah-pecah, tidak terdapat
stomatitis dimulut, tidak ada kesulitan pada saat menelan, tidak terdapat nyeri
tekan diperut, tidak ada lukan dan benjolan pada perut, terdengar suara timpani
pada saat di perkusi.
6) Sistem indra mata, terlihat simetris antara kiri dan kanan, bulu mata tebal dan alis
tebal, ukuran pupil isokor, tidak dapat dilakukan lapang pandang karena anak
menangis. Hidung, tidak ditemukan kelainan pada hidung, tidak terdapat polip,
tidak ada secret, tidak ada mimisan. Telinga, terlihat simetris antara telinga kiri
dan kanan, tidak ada benjolan , terdapat serumen sedikit, tidak ada kesulitan saat
mendengar.
7) Sistem saraf tidak dilakukan pengkajian dikarenakan klien selalu rewel dan
menangis.
8) Sistem muskuloskletal bentuk kepala lonjong, tidak ada kesulitan bergerak, lutut
tidak bengkak dan kaku, kaki tidak bengkak dan kaku, tangan tidak bengkak dan
kaku, tidak menggunakan alat bantu untuk bergerak.
9) Sistem integumen rambut berwarna hitam lurus pendek, tidak terdapat ketombe,
kulit berwarna putih, tidak terdapat luka, suhu 38,5°c, kuku berwarna merah
pucat dan kotor.
10) Sistem endokrin tidak ada ekresi urin berlebih, suhu tubuh naik turun terakhir 38,
5°c, tidak ada riwayat air seni dikeliling oleh semut.
11) Sistem reproduksi tidak dapat dilakukan pengkajian dikarenakan klien rewel dan
menangis.
12) Sistem imun tidak ada alergi cuaca maupun alergi bulu binatang, tidak alergi
minuman seperti susu maupun coklat.
26

X. PEMERIKSAAN TUMBUH KEMBANG

1) Motorik kasar: klien dapat berdiri tampa pegangan, pada saat disuruh
berjalan klien dapat berjalan dengan baik, pada saat diberikan bola dan
pulpen klien dapat melempar bola dan pulpen.
2) Motorik halus: pada saat diberikan pulpen dan kertas klien dapat mencoret-
coret.
3) Bahasa: klien bereaksi dan tertawa pada saat diajak berbicara, pada saat
saat disuruh untuk memanggil mama dan bapak klien dapat memanggil
“ma” dan “pa”.
4) Personal sosial: ibu klien mengatakan klien selalu bermain dengan temam
sebayanya dan sepupunya.
XI. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Hematologi Lengkap Hasil Nilai Normal
Hemoglobin 11,5 g/dL 10,7-17.3
Leukosit 7.55 10^3/µL 5,00-19,00
Eritrosit 4.15 10^/µL 4.00-550
Hematokrit 32.8 % 37,0-43,0
Trombosit 157 103/µL 150-450
Indeks eritrosit
MCV 85,9 fl 82,0-96.0
MCH 28,3 pg 27.0-96.0
MCHC 33,0 g/L 32,0-37,0
Hitung jenis
Neutrofil 47 % 30-40
Limfosit 31,9 % 2,0-40,0
MXD 4.1% 2,0-8.0
Kimia darah
GDS 46 mg/Dl 60-100
27

XII. TERAPY
1) Paracetamol drop 3x0,8 cc
2) Obat oral sanbeflex drop 0,12 cc
3) Zins syn1x1 cth.
4) DN ½ 16 tpm

XIII. ANALISIS DATA


No DATA ETIOLOGI MASALAH

1. Data Subyektif Peningkatan Laju Metabolisme Hipertermia


- Ibu klien
mengatakan
anaknya demam
sudah 2 hari
- Ibu klien
mengatakan klien
kejang 1 kali
- Ibu klien
mengatakan klien
diberikan
paracetamol
Data obyektif

- Suhu tubuh 38,5

- Kulit teraba hangat


- Klien tampak
lemas
28

2. Data Subyektif Perubahan Sensasi Resiko cedera


- Ibu klien
mengatakan makan
klien menurun
- Ibu klien
mengatakanporsi
yang dihabiskan
klien 4-5 sendok

Data obyektif

- Klien terlihat sulit


makan
- Porsi makan tidak
di habiskan
- Bibir pecah-pecah
- BB 8 kg

3. Data Subyektif Kurang terpapar informasi Kurang


Pengetahuan
- Ibu klien tidak
mengetahui
mengenai penyakit
anaknya
- Ibu klien
mengatakan tidak
mengetahui
mengenai
penanganan ketika
anaknya kejang
Data obyektif
- Ibu Klien terlihat
binggung
- Ibu klien terlihat
bertanya mengenai
penyakit anaknya
29
30

XIV. RENCANA KEPERAWATAN DAN DIAGNOSA KEPERAWATAN

Diagnosa Tujuan dan Kriteria Hasil


No Intervensi (NIC)
Keperawatan (NOC)

1 Setelah dilakukan tindakan - Observasi tanda tanda vital


Hipertermia
keperawatan 3x24 jam - monitor suhu tubuh
berhubungan
diharapkan masalah - anjurkan kompres air hangat
dengan proses
hipertermia tidak efektif dapat - kolaborasi dengan dokter dalam
penyakit
teratasi dengan kreteria hasil : pemberian obat
- suhu tubuh dalam batas
normal 36.5 -37.5
- klien terlihat rileks

2 Setelah dilakukan tindakan - Identifkasi kebutuhan


Resiko Cedera
keperawatan 3x24 jam keamanan pasien, sesuai
berhubungan
diharapkan masalah resiko dengan kondisi fisik dan
dengan perubahan
cedera dapat teratasi dengan fungsi kongnitif pasien dan
sensasi
kreteria hasil : riwayat penyakit terdahulu
1. Klien terbebas dari pasien
cedera - Sediakan lingkungan yang
2. Mampu menjelaskan aman untuk pasien
cara/metode untuk - Pasng side rail tempat tidur
mencegah cedera - Anjurkan kelurga untuk
3. Menggunakan fasilitas menemani pasien
kesehatan yang ada
3 Setelah dilakukan tindakan - Identifikasi tingkat
Kurang
keperawatan 3x24 jam pengetahuan ibu klien
pengetahuan
diharapkan masalah kurang - Berikan penyuluhan tentang
berhubungan
pengetahuan dapat teratasi penyebab, tanda dan gejala
dengan kurang
dengan kreteria hasil : serta pencegahan
terpapar informasi
1. Keluarga menyatakan - Beri kesempatan ibu untuk
pemahaman tentang bertanya
31

penyakit,kondisi, dan - Anjurkan ibu klien


pengobatan mengulangi kembali
2. Kelurga mampu informasi yang diberikan
menjelaskan kembali apa
yang dijelaskan perawat
32

XV. Implementasi Keperawatan dan Evaluasi

Tanggal/Jam Dx Implementasi Evalu


asi
Senin 1 1. Observasi Tanda- S : Ibu klien mengatakan pasien masih
21/Feb/2023 tanda vital demam
O : S : 38.5 ̊ C, N : 70 x/ menit, RR :
2. Menganjurkan 25x/menit
Kompres air hangat - Klien tampak lemah
A : Masalah belum teratasi
P : Intervensi dilanjutkan

2 1. Mengidentifikasi S : Ibu Klien mengatakan anaknya aman


kebutuhan keamanan dan terjaga
klien O : - terpasang side rail tempat tidur klien
- Klien tampak gelisah
2. Menganjurkan keluarga A : Masalah teratasi sebagian
untuk menemani pasien P: Intervensi dilanjutkan
3 1. Menjelaskan penyakit S : Ibu Klien bertanya tentang penyakit
yang di derita klien yang di derita klien
O : Ibu Klien mengatakan klien tanpa
2. Menganjurkan ibu klien Gelisah
untuk tetap rileks saat A : Masalah Teratasi Sebagian
menangani klien P : Intervensi dilanjutkan

Selasa 1. 1. Observasi Tanda- S : Ibu klien mengatakan pasien masih


22/Feb/2023 tanda vital demam
O : S : 38.1 ̊ C, N : 65 x/ menit, RR : 24
2. Menganjurkan x/menit
Kompres air hangat - Klien tampak lemah
A : Masalah belum teratasi
P : Intervensi dilanjutkan

2 1. Mengidentifikasi S : Ibu Klien mengatakan anaknya aman


kebutuhan keamanan dan terjaga
klien O : - terpasang side rail tempat tidur klien
- Klien tampak lemah
2. Menganjurkan keluarga A : Masalah teratasi sebagian
untuk menemani pasien P: Intervensi dilanjutkan
33

3 1. Menjelaskan penyakit S : Ibu Klien bertanya tentang penyakit


yang di derita klien yang di derita klien
O : Ibu Klien mengatakan klien tanpa
2. Menganjurkan ibu klien Gelisah
untuk tetap rileks saat A : Masalah Teratasi Sebagian
menangani klien P : Intervensi dilanjutkan

Rabu 3 1. Menjelaskan penyakit S : Ibu Klien mengatakan mengerti


23/feb/2023 yang di derita klien dengan penyakit yang diderita klien
O : Ibu klien dapat menjelaskan kembali
2. Menganjurkan ibu klien tanda dan gejala dari demam kejang
untuk tetap rileks saat walaupun menggunakan bahasa sendiri
menangani klien A : Masalah Teratasi
P : Intervensi dihentikan

2 1. Mengidentifikasi S : Ibu Klien mengatakan anaknya aman


kebutuhan keamanan dan terjaga
klien O : - terpasang side rail tempat tidur klien
A : Masalah teratasi
2. Menganjurkan keluarga P: Intervensi dihentikan
untuk menemani pasien

1 1. Observasi Tanda- S : Ibu klien mengatakan pasien masih


tanda vital demam
O : S : 36.7 ̊ C, N : 60 x/ menit, RR : 24
2. Menganjurkan x/menit
Kompres air hangat - Klien tampak Rileks
A : Masalah teratasi
P : Intervensi dihentikan

Anda mungkin juga menyukai