Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang


Berbicara mengenai kapan dan siapa yang membawa islam di Sumatra selatan, bisa
dikatakan sebuah pertanyaan yang di anggap sacral. Why? Penulis berasumsi bahwasanya,
sampai detik ini belum ada bukti yang otentik akan masuknya islam di nusantara terkhusus di
Sumatra-selatan. Penulis berasumsi bahwa bukti-bukti dari sejarawan semisal, Hamka,
Snowk, dan lain-lain hanya meneliti berdasarkan bukti peninggalan saja dan kemudian di
musawarohkan atau diseminarkan oleh berbagai tokoh-tokoh sejarawan, semisal di medan
pada tahun 1963 yang kemudian dari berbagai hasil seminar dipergunakan sebagai
documenter hasil penelitian.
Apakah para sejarawan itu salah dalam meneliti? Saya kira tidak. Sebab, masuk dan
berkembang islam di bumi nusantara ini tidak meninggalkan kitab, atau manuskrip-
manuskrip dan hanya meninggalkan Nisan, dan sebuah cultur. Sudah sangat bisa dipastikan
bahwasanya. Sejarawan pun lumayan kesulitan untuk menafsirkan atau meneliti secara
otentik. Bagitu pula dengan sebuah nisan, bagi penulis, Nisan pun perlu sekiranya mendapat
perhatian secara khusus. Alat yang mampu digunakan untuk meneliti barang kali di antaranya
metode dealektika dengan orang-orang terdahulu.

B.     Rumusan Masalah


1. Sejarah masuknya islam di bumi Sumatra?
2. Kerajaan-kerajaan Islam di Sumatera serta masa kejayaan dan runtuhnya kerajaan
tersebut ?

C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian dapat
merumuskan sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui Sejarah masuknya islam di bumi Sumatra.
2. Untuk mengetahui Kerajaan-kerajaan Islam di Sumatera serta masa kejayaan dan
runtuhnya kerajaan tersebut.
BAB II
PEMBAHASAN

A.    Sejarah Masuk Dan Berkembangnya Islam di Sumatera


Bukti tertulis mengenai adanya masyarakat Islam di Indonesia tidak ditemukan sampai
dengan abad 4 H (10 M). Yang dimaksud dengan bukti tertulis adalah bangunan-bangunan
masjid, makam, ataupun lainnya.
Hal ini memberikan kesimpulan bahwa pada abad 1-4 H merupakan fase pertama
proses kedatangan Islam di Indonesia umumnya dan Sumatera khususnya, dengan kehadiran
para pedagang muslim yang singgah di berbagai pelabuhan di Sumatera. Dan hal ini dapat
diketahui berdasarkan sumber-sumber asing.
Dari literature Arab, dapat diketahui bahwa kapal-kapal dagang Arab sudah mulai
berlayar ke wilayah Asia Tenggara sejak permulaan abad ke– 7 M. Sehingga, kita dapat
berasumsi, mungkin dalam kurun waktu abad 1—4 H terdapat hubungan pernikahan anatara
para pedagang atau masyarakat muslim asing dengan penduduk setempat sehingga
menjadikan mereka masuk Islam baik sebagai istri ataupun keluarganya.
Sedangkan bukti-bukti tertulis adanya masyarakat Islam di Indonesia khususnya
Sumatera, baru ditemukan setelah abad ke– 10 M. yaitu dengan ditemukannya makam
seorang wanita bernama Tuhar Amisuri di Barus, dan makam Malik as Shaleh yang
ditemukan di Meunahasah Beringin kabupaten Aceh Utara pada abad ke– 13. M.

B.    Kerajaan Islam di Sumatera Serta Masa Kejayaan Dan Runtuhnya Kerajaan
1.      Kerajaan Perlak
Kerajaan Perlak adalah kerajaan Islam pertama di Nusantara. Kerajaan Perlak berdiri
pada abad ke-3 H (9 M). Disebutkan pada tahun 173 H, sebuah kapal layar berlabuh di
Bandar Perlak membawa angkatan dakwah di bawah pimpinan nakhoda khalifah. Kerajaan
Perlak didirrikan oleh Sayid Abdul Aziz (Raja Pertama Kerajaan Perlak) dengan gelar Sultan
Alaidin Sayid Maulana Abdul Aziz Syah. Pada akhir abad ke 12, di pantai timur Sumatera
terdapat negara Islam bernama Perlak. Nama itu kemudian dijadikan Peureulak, didirikan
oleh para pedagang asingg dari Mesir, Maroko, Persia, Gujarat, yang menetap di wilayah itu
sejak awal abad ke 12. Pendirinya adalah orang Arab suku Quraisy. Pedagang Arab itu
menikah dengan putri pribumi, keturunan raja Perlak. Dari perkawinan tersebut  ia mendapat
seorang anak bernama Sayid Abdul Aziz. Sayid Abdul Aziz adalah sultan pertama negeri
Perlak. Setelah dinobatkan menjadi sultan negeri Perlak, bernama Alaudin Syah. Demikian ia
dikenal sebagai sultan Alaidin Syah dari negeri Perlak.
     Angkatan dakwah yang dipimpin nakhoda khalifah berjumlah 100 orang, yang
terdiri dari orang Arab, Persia, dan India. Mereka ini menyiarkan Islam pada penduduk
setempat dan keluarga istana. Salah seorang dari mereka yaitu Sayid Ali dari suku Quraisy
kawin dengan seorang putri yakni Makhdum Tansyuri, salah seorang adik dari Maurah Perlak
yang bernama Syahir Nuwi. Dari perkawinan ini lahirlah Sayid Abdul Aziz, putra campuran
Arab Perlak pada tahun 225 H.
Kerajaan ini mengalami masa jaya pada masa pemerintahan Sultan Makhdum Alaidin
Malik Muhammad Amin Syah II Johan Berdaulat (622-662 H/1225-1263 M).Pada masa
pemerintahannya, Kerajaan Perlak mengalami kemajuan pesat terutama dalam bidang
pendidikan Islam dan perluasan dakwah Islamiah. Sultan mengawinkan dua putrinya: Putri
Ganggang Sari (Putri Raihani) dengan Sultan Malikul Saleh dari Samudra Pasai serta Putri
Ratna Kumala dengan Raja Tumasik (Singapura sekarang).
Perkawinan ini dengan parameswara Iskandar Syah yang kemudian bergelar Sultan
Muhammad Syah.Sultan Makhdum Alaidin Malik Muhammad Amin Syah II Johan
Berdaulat kemudian digantikan oleh Sultan Makhdum Alaidin Malik Abdul Aziz Syah Johan
Berdaulat (662-692 H/1263-1292 M). Inilah sultan terakhir Perlak. Setelah beliau wafat,
Perlak disatukan dengan Kerajaan Samudra Pasai dengan raja Muhammad Malikul Dhahir
yang adalah Putra Sultan Malikul Saleh dengan Putri Ganggang Sari.
Perlak merupakan kerajaan yang sudah maju. Hal ini terlihat dari adanya mata uang
sendiri. Mata uang Perlak yang ditemukan terbuat dari emas (dirham), dari perak (kupang),
dan dari tembaga atau kuningan.
2.   Kerajaan Samudera Pasai
Kerajaan Samudera Pasai terletak di Aceh  dan terletak di pesisir Timur Laut Aceh.
Kapan berdirinya Kesultanan Samudera Pasai belum bisa dipastikan dengan tepat dan masih
menjadi perdebatan para ahli sejarah. Namun, menurut Uka Tjandrasasmita (Ed) dalam buku
Badri Yatim, menyatakan bahwa  kemunculannya sebagai kerajaan Islam  diperkirakan mulai
awal atau pertengahan abad ke-13 M, sebagai hasil dari proses Islamisasi daerah-daerah
pantai yang pernah disinggahi pedagang-pedagang Muslim sejak abad ke-7 dan seterusnya.
Berdasarkan berita dari Ibnu Batutah, dikatakan bahwa pada tahun 1267 telah berdiri
kerajaan Islam, yaitu kerajaan Samudra Pasai. Hal ini dibuktikan dengan adanya batu nisan
makam Sultan Malik Al Saleh (1297 M), Raja pertama Samudra Pasai.
Malik Al-Saleh, raja pertama kerajaan Samudera Pasai, merupakan pendiri kerajaan
tersebut. Dalam Hikayat Raja-raja Pasai disebutkan nama Malik Al-Saleh sebelum menjadi
raja adalah Merah Sile atau Merah Selu. Ia masuk Islam setelah mendapat mendapatkan
seruan dakwah dari Syaikh Ismail beserta rombongan yang datang dari Mekkah.
Pendapat bahwa Islam sudah berkembang di sana sejak awal abad ke-13 M, didukung
oleh berita China dan pendapat Ibn Batutah yang mengunjungi Samudera Pasai pada
pertengahan abad ke 14 M (tahun 746 H/1345 M). Dalam kisah perjalanannya ke Pasai, Ibnu
Battutah menggambarkan Sultan Malikul Zhahir sebagai raja yang sangat saleh, pemurah,
rendah hati, dan mempunyai perhatian kepada fakir miskin. Meskipun ia telah menaklukkan
banyak kerajaan, Malikul Zhahir tidak pernah bersikap sombong. Kerendahan hatinya itu
ditunjukkan sang raja saat menyambut rombongan Ibnu Battutah.
Samudera Pasai ketika itu merupakan pusat studi agama Islam dan tempat berkumpul
ulama-ulama dari berbagai negeri Islam untuk berdiskusi berbagai masalah keagamaan dan
keduniaan. Selain itu, Sultan Maliku Zhahir juga mengutus para ulama untuk berdakwah ke
berbagai wilayah Nusantara.
3.    Kerajaan Aceh
Kurang diketahui kapan kerajaan ini sebenarnya berdiri. Anas Machmud berpendapat,
sebagaimana yang dikutip dalam buku Badri Yatim, bahwa kerajaan Aceh berdiri pada abad
ke-15 M, di atas puing-puing kerajaan Lamuri, oleh Muzaffar Syah (1465-1497 M). Dialah
yang membangun kota Aceh Darussalam.
Pada awalnya, wilayah kerajaan Aceh ini hanya mencakup Banda Aceh dan Aceh Besar
yang dipimpin oleh ayah Ali Mughayat Syah. Ketika Mughayat Syah naik tahta
menggantikan ayahnya, ia berhasil memperkuat kekuatan dan mempersatukan wilayah Aceh
dalam kekuasaannya, termasuk menaklukkan kerajaan Pasai. Saat itu, sekitar tahun 1511 M,
kerajaan-kerajaan kecil yang terdapat di Aceh dan pesisir timur Sumatera seperti Peurelak (di
Aceh Timur), Pedir (di Pidie), Daya (Aceh Barat Daya) dan Aru (di Sumatera Utara) sudah
berada di bawah pengaruh kolonial Portugis. Mughayat Syah dikenal sangat anti pada
Portugis, karena itu, untuk menghambat pengaruh Portugis, kerajaan-kerajaan kecil tersebut
kemudian ia taklukkan dan masukkan ke dalam wilayah kerajaannya. Sejak saat itu, kerajaan
Aceh lebih dikenal dengan nama Aceh Darussalam dengan wilayah yang luas, hasil dari
penaklukan kerajaan-kerajaan kecil di sekitarnya.
Peletak dasar kebesaran Kerajaan Aceh adalah Sultan Alauddin Riayat Syah. Pada
masa pemerintahannya, wilayah kekuasaan Aceh Darussalam semakin meluas sampai di
Bengkulu di pantai Barat, seluruh Pantai Timur Sumatera, dan Tanah Batak di pedalaman.
Kegiatan perdagangan berkembang dengan pesat, terutama dengan Gujarat, Arab, dan Turki.
Puncak kekuasaan kerajaan Aceh terletak pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda
(1608-1637 M). Pada masa ini merupakan masa paling gemilang bagi Aceh, di mana
kekuasaannya meluas dan terjadi penyebaran Islam hampir di seluruh Sumatera.
Runtuhnya Kerajaan Aceh usai Sultan Iskandar Muda wafat pada Desember 1636, para
penggantinya kurang mampu mempertahankan kebesaran kerajaan. Kedudukan Aceh yang
sempat dijadikan salah satu kerajaan terbesar Asia Tenggara mulai melemah dan semakin
mudah dipengaruhi oleh luar. Kesultanan Aceh Darussalam terus menjadi incaran asing,
ketika bangsa barat mulai menguasainya dengan perjanjian Traktat London dan Traktat
Sumatera. Sikap penguasa bangsa asing untuk mendapatkan Aceh menjadi lebih nyata,
tepatnya pada 26 Maret 1873 saat Belanda menyatakan perang kepada Sultan Aceh. Perang
Sabi berlangsung selama 30 tahun itu membuat Kesultanan Aceh berakhir. Sultan Aceh
terakhir, Sultan Muhammad Daud Syah terpaksa harus mengakui kedaulatan Belanda di
Aceh. Setelah kejadian itu, wilayah Aceh masuk secara administratif ke Hindia Timur
Belanda (Nederlandsch Oost-Indie) dan menjadi Hindia Belanda sebagai nenek moyang
Indonesia.

Di masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda, Aceh Darussalam menjadi salah satu
pusat pengembangan Islam di Indonesia. Di Aceh dibangun masjid Baiturrahman, rumah-
rumah ibadah, dan lembaga-lembaga pengkajian Islam. Di Aceh tinggal ulama-ulama tasawuf
yang terkenal, seperti Hamzah Fansuri, Syamsuddin, Syaikh Nuruddin Ar-Raniri, dan Abdul
Rauf As-Sinkili.

4.   Kerajaan Minangkabau
Kerajaan Pagaruyung disebut juga sebagai Kerajaan Minangkabau yang merupakan
salah satu Kerajaan Melayu yang pernah berdiri, meliputi provinsi Sumatra Barat sekarang
dan daerah-daerah di sekitarnya. Kerajaan ini pernah dipimpin oleh Adityawarman sejak
tahun 1347. Dan sekitar tahun 1600-an, kerajaan ini menjadi Kesultanan Islam.
Munculnya nama Pagaruyung sebagai sebuah kerajaan Melayu tidak dapat diketahui
dengan pasti. Namun dari beberapa prasasti yang ditinggalkan oleh Adityawarman,
menunjukan bahwa Adityawarman memang pernah menjadi raja di negeri tersebut.
Pengaruh Islam di Pagaruyung berkembang kira-kira pada abad ke-16, yaitu melalui
para musafir dan guru agama yang singgah atau datang dari Aceh dan Malaka. Salah satu
murid ulama Aceh yang terkenal Syaikh Abdurrauf Singkil (Tengku Syiah Kuala), yaitu
Syaikh Burhanuddin Ulakan, adalah ulama yang dianggap pertama-tama menyebarkan agama
Islam di Pagaruyung. Pada abad ke-17, Kerajaan Pagaruyung akhirnya berubah menjadi
kesultanan Islam. Raja Islam yang pertama dalam tambo adat Minangkabau disebutkan
bernama Sultan Alif.
Dengan masuknya agama Islam, maka aturan adat yang bertentangan dengan ajaran
agama Islam mulai dihilangkan dan hal-hal yang pokok dalam adat diganti dengan aturan
agama Islam. Pepatah adat Minangkabau yang terkenal: "Adat basandi syarak, syarak basandi
Kitabullah", yang artinya adat Minangkabau bersendikan pada agama Islam, sedangkan
agama Islam bersendikan pada Al-Quran. Pengaruh agama Islam membawa perubahan secara
fundamental terhadap adat Minangkabau. Tetapi sejak kapan pengaruh Islam memasuki
tubuh adat Minangkabau secara pasti, masih sukar dibuktikan.
5.   Kerajaan Riau
Imperium Melayu Riau adalah penyambung warisan Sriwijaya. Kedatangan Sriwijaya
yang mula-mula sejak tahun 517 s/d 683 dibawah kekuasaan Melayu, dengan meliputi daerah
Sumatera tengah dan selatan. Sriwijaya-Sailendra bermula dari penghabisan abad ke 7 dan
berakhir pada penghujung abad ke 12. Kemaharajaan Melayu yang dimulai dari - Kerajaan
Bintan-Tumasik abad 12-13 M dan kemudian memasuki periode Melayu Riau yaitu - zaman
Melaka abad 14-15 m, - zaman Johor-Kampar abad 16-17 m, - zaman Riau-Lingga abad 18-
19 m. Paramesywara atau Iskandar Syah dikenal dengan gelar Sri Tri Buana, Maharaja Tiga
Dunia (Bhuwana, Kw, Skt berarti dunia), seorang pangeran, keturunan raja besar. Ia sangat
berpandangan luas, cerdik cendikia, mempunyai gagasan untuk menyatukan nusantara dan
akhirnya beliaulah pula yang membukakan jalan bagi perkembangan islam di seluruh
nusantara. Paramesywara adalah keturunan raja-raja Sriwijaya-Saildendra. Menurut M.Said
(dalam bukunya Zelfbestuur Landchappen) Raja Suran adalah keturunan Raja Sultan
Iskandar Zulkarnain di Hindustan yang melawat ke Melaka, beranak tidak orang laki-laki.
Diantara putranya adalah Sang Si Purba, kawin dengan Ratu Riau. Dari puteranya menjadi
turunan Raja Riau. Sang Si Purba sendiri pergi ke Bukit Sigantung Mahameru (Palembang)
menjadi Raja dan kawin disana. Ia melawat ke Minangkabau dan menjadi Raja Pagarruyung.
Memencar keturunannya menjadi Raja-Raja Aceh dan Siak Sri Indrapura.
Menurut Sejarah Melayu tiga bersaudara dari Bukit Siguntang menjadi raja di
Minangkabau, Tanjung Pura (Kalimantan Barat) dan yang ketiga memerintah di
Palembang..Yang menjadi Raja di Palembang adalah Sang Nila Utama. Sang Nila Utama
inilah yang menjadi Raja di Bintan dan Kemudian Singapura
Dalam hikayat Hang Tuah yang terkenal, ada disebutkan, raja di “Keindraan” bernama
Sang Pertala Dewa. Adapula tersebut seorang raja. Istri baginda hamil dan beranak seorang
perempuan yang diberi nama Puteri Kemala Ratna Pelinggam. Setelah dewasa diasingkan ke
sebuah pulau bernama : Biram Dewa.. Sang Pertala Dewa berburu di pulau Biram Dewa
tersebut. Akhirnya kawin dengan Putri Kemala Ratna PeLinggam. Lalu lahir anaknya yang
dinamai Sang Purba. Setelah itu mereka naik “keindraan”. Kemudian turun ke Bukit
Sigintang Mahameru. Sang purba dirajakan di bukit siguntang. Sang Purba kawin dengan
puteri yang berasal dari muntah seekor lembu yang berdiri ditepi kolam dimana sang puteri
sedang mandi. Lahir seorang putra dinamai Sang Maniaka dan kemudian lahir pula putera
yang kedua Sang Jaya Mantaka, yang ketiga Sang Saniaka dan yang keempat Sang Satiaka.
Sang Maniaka dirajakan di Bintan dan singapura.
6.   Kesultanan Palembang
Pada waktu daerah Palembang menjadi bagian dari Kerajaan Majapahit, di daerah ini
ditempatkan seorang Adipati bernama Ario Damar. (14—15 H/1447 M). Pada awalnya ia
beragama Hindu, lalu kemudian memeluk Islam. Hal ini menunjukkan bahwasanya pada
waktu itu, Islam sudah dominant di Palembang. Pada suatu hari, Ario Damar mendapat
hadiah salah seorang selir dari Prabu Kertabumi, yang bernama Putri Campa yang sedang
hamil tua. Yang kemudian lahir dari rahimnya seorang anak yang bernama Raden Patah.
Pada tahun 1473, raden Patah bersama adiknya Raden Kusen (Ario Dillah), menghadap
Prabu Kertabumi. Mereka mendapat kepercayaan untuk membangun desa Bintoro, yang
nantinya berkembang dengan pesat dan menjadi kerajaan Islam Demak yang pada akhirnya
menghancurkan Majapahit. Pada tahun 1528, Demak di serang oleh kerajaan Pajang dan
mengalami kekalahan. Para pembesar kerajaan dipimpin oleh Pangeran Sedo Ing Lautan
bermigrasi ke Palembang yang kemudian mendirikan kerajaan Islam Palembang. Pada
akhirnya kesultanan Palembang hilang karena dihapus status kesultanannya oleh colonial
Belanda
7.      Kerajaan Kesultanan Jambi
Kesultanan Jambi adalah Kerajaan Islam yang berkedudukan di Provinsi Jambi
sekarang. Kerajaan ini berbatasan dengan Kerajaan Indragiri dan Kerajaan - Kerajaan
Minangkabau seperti Siguntur dan Lima Kota dii utara. Di selatan kerajaan ini berbatasan
dengan Kesultanan Palembang (kemudian Keresidenan Palembang). Kesultanan Jambi juga
mengendalikan Lembah Kerinci, meskipun pada masa akhir kekuasaannya, kekuasaan
nominal tidak lagi diperdulikan. Ibukota Kesultanan Jambi terletak di Kota Jambi, yang
terletak di pinggir sungai Batanghari.
Wilayah Jambi dulunya merupakan wilayah Kerajaan Malayu dan kemudian menjadi
bagian dari Sriwijaya. Pada akhir abad ke-14 Jambi merupakan Vasal Majapahit, dan
pengaruh jawa masih terus mewarnai Kesultanan Jambi selama abad ke-17 dan abad ke-18.
Berdirinya Kesultanan Jambi bersamaan dengan bangkitnya Islam di wilayah itu. pada
tahun 1616 Jambi merupakan Pelabuhan terkaya kedua di Sumatera setelah Aceh, dan pada
tahun 1670 kerajaan ini sebanding dengan tetangga-tetangganya seperti Johor dan
Palembang. Namun kejayaan Jambi tidak berumur panjang, Tahun 1680-an Jambi kehilangan
kedudukan sebagai Pelabuhan Lada utama, setelah perang dengan Johor dan konflik internal.
Tahun 1903 Pangeran Ratu Martaningrat, keturunan Sultan Thaha, sultan yang terakhir,
menyerah kepada Belanda, Jambi digabungkan dengan Keresidenan Palembang. Tahun 1906
Kesultanan Jambi resmi dibubarkan oleh Pemerintah Hindia Belanda.
BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Apabila tulisan Suryadinegara adalah tulisan yang mendekati keotentkian sebuah
penelitian, itu artinya proses penyearan ajaran islam tidak hanya berakar dari para pendatang
atau para pedagang. Dapat disimpulkan bahwa pelaku dan cara masuknya islam disumatra-
selatan tidak ubahnya seperti terjadi pada wilayah Indonesia lainnya, dilakukan oleh putra
Indonesia dan tidak berjalan pasif. Dengan pengertian bangsa Indonesia tidak menunggu
kedatangan bangsa Arab semata dengan upayanya mencari tambahan pengetahuan tentang
agama islam.
Khusus untuk Sumatra-selatan, masuknya agama islam selain dilakukan oleh bangsa
arab, pedagang utusan kholifah Umayah (661-750) dan kholifah Abbasiyah (750-1268), juga
perdagangan dari Sriwijaya berlayar ketimur tengah. Hal yang demikian ini tidak
bertentangan, sekalipun Sriwijaya sebagai pusat pengembangan ajaran budha, tetapi, karena
watak Indonesia yang mempunyai kesanggupan yang tinggi dalam menghormati perbedaan
agama, maka, di wilayah kerajaan Sriwijaya di izinkan masuknya agama islam melalui jalur
perdagangan. Factor yang terakhir inilah yang memungkinkan Sriwijaya menempuh Sistem
pintu terbuka dalam menghadapi kenyataan masuknya agama islam.

B.     Saran
Kami selaku penulis menyarankan bahwa setelah membaca makalah ini diharapkan
agar pembaca dapat mengetahui dan memahami tentang sejarah perkembangannya islam di
Sumatera Selatan.
DAFTAR PUSTAKA

Al-Usairy, Ahmad, Sejarah Islam: Sejak Zaman Nabi Adam Hingga Abad XX, Judul asli: At-
Tarikh Al-Islami, penerjemah: Samson Rahman, (Akbar Media, Jakarta: 2010), cet. 10
Amin, Samsul Munir , Drs., M.A., Sejarah Peradaban Islam (Jakarta: Sinar Media Grafika,
2009)
http://education.poztmo.com/2011/06/kesultanan-samudera-pasai.html, di unduh pada
tanggal 12 Mei 2012
http://geosejarah.org/index.php?option=com_content&view=article&id=65:kerajaan-
pagaruyung-hegemoni-melampaui-sekat-sekat kewilayahan & catid =34: artikel &
Itemid= 59…. diakses pada tanggal 12 Mei 2013.
http://www.minangforum.com/Thread-Sejarah-Islam-di-Minangkabau, di unduh pada tanggal
12 Mei 2013.
http://imagination-my.blogspot.com/2012/09/bukti-bukti-masuknya-islam-di-
indonesia_1.html, di akses pada tanggal 15 Mei 2013
Syamsu As, Muhammad , Drg., H., Ulama Pembawa Islam di Indonesia dan Sekitarnya,
(Jakarta: Lentera, 1996).
Yatim, Badri, Sejarah Peradaban Islam, (PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta: 2011), cet. 23.
MAKALAH
KERAJAAN ISLAM DI SUMATERA

Guru Pembimbing :
EVY MANURUNG

Disusun Oleh :

Kelompok I
1. ANGGUN SAPITRI
2. DWI WAHYUNI
3. JULIAN REPALDO
4. AFRI SISWANTO GOMES

SMA NEGERI 1 SAROLANGUN


TAHUN AJARAN 2022/2023
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta
karunia-Nya kepada kami sehingga kami berhasil menyelesaikan Makalah ini yang
Alhamdulillah tepat pada waktunya yang berjudul “Kerajaan Islam Disumatera”.
Diharapkan Makalah ini dapat memberikan informasi kepada kita semua.
Kami menyadari bahwa ,makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik
dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi
kesempurnaan makalah ini. Dalam kesempatan ini penulis juga ingin mengucapakan banyak
terima kasih kepada semua pihak yang sudah memberikan kesempatan kepada penulis untuk
menyusun makalah ini, juga kepada Guru pembimbing yang sudah banyak membantu dan
menuntun penulis selama pembuatan makalah ini. Tidak lupa juga kepada teman-teman yang
selalu menemani, membantu dan mensuport selama pembuatan makalah ini. Maka, makalah
ini dapat terselesaikan tidak lepas dari kerjasama dari semuanya.

Akhir kata, kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan
serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga Allah SWT senantiasa
meridhai segala usaha kita. Amin.

Hormat Saya
Penulis

Kelompok I
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ……………………………………………………………………… i

KATA PENGANTAR ………………………………………………………………… …... ii

DAFTAR ISI …………………………………………………………………………………


iii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang ……………..……………………………………………………… 1


B. Rumusan Masalah ………….……………………..………………………………. 1
C. Tujuan Penulisan ……………..………………………………………………….….. 1

BAB II PEMBAHASAN
A. Sejarah masuknya islam di bumi Sumatra…………………………………………… 2
B. Esensi Nasionalisme Indonesia yang harus dibangun ……………………………… 2

BAB III PENUTUP


A.    Kesimpulan ……………………………………………………………,,,,,……… 8
B.    Saran …………………………………………………………………………….. 8

DAFTAR PUSTAKA

Anda mungkin juga menyukai