Anda di halaman 1dari 9

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Darah merupakan salah satu komponen sistem transport yang sangat vital keberadaannya.

Fungsi vital darah di dalam tubuh antara lain sebagai pengangkut zatzat kimia seperti hormon, pengangkut zat buangan hasil metabolisme tubuh, dan pengangkut oksigen dan karbondioksida. Selain itu, komponen darah seperti trombosit dan plasma darah memiliki peran penting sebagai pertahanan pertama dari serangan penyakit yang masuk ke dalam tubuh. Gambaran darah suatu organisme dapat digunakan untuk mengetahui kondisi kesehatan yang sedang dialami oleh organisme tersebut. Penyimpangan fisiologis ikan akan menyebabkan komponen-komponen darah juga mengalami perubahan. Perubahan gambaran darah dan kimia darah, baik secara kualitatif maupun kuantitatif, dapat menentukan kondisi kesehatannya

1.2. Tujuan Tujuan dilakukannya praktikum ini yaitu untuk mengindetifikasi keadaan ikan lele terserang penyakit atau dalam keadaan sehat, melalui tes hemoglobin serta identifikasi sel darah putih untuk mempelajari cara penganbilan sampel darah ikan dan dapat mengaplikasikkan kepada mmasyarakat tentang kesehatan ikan..

II. TINJAUAN PUSTAKA 2. 1. Klasifikasi Ikan Lele Dumbo Menurut Sanin (1984) dan Simanjuntak (1989) dalam Rustidja (1997) klasifikasi ikan lele dumbo adalah sebagai brikut: Kingdom Sub Kingdom Phylum Class Sub Class Ordo Sub Ordo Family Genus Spesies : Animalia : Metazoa : Vertebrata : Pisces : Teleostei : Ostariophysoidei : Siluroidea : Claridae : Clarias : Clarias gariepinus

2. 2 Morfologi dan Biologi Ikan Lele Dumbo Ikan lele dumbo adalah jenis ikan hibrida hasil silangan antara Clarias gariepinus x C. fuscus dan merupakan ikan introduksi yang pertama kali masuk ke

Indonesia pada tahun 1985. Ikan lele dumbo dicirikan oleh jumlah sirip punggung yaitu D.68-79, sirip dada yaitu P.I.9-10, sirip perut V.5-6, sirip anal A.50-60 dan jumlah sungut 4 pasang, 1 pasang diantaranya lebih besar dan panjang. Perbandingan antara panjang standar terhadap tinggi badan adalah 1:5-6 dan perbandingan antara panjang standar terhadap panjang kepala 1:3-4. Ikan lele dumbo memiliki alat pernapasan tambahan berupa aborescen yang merupakan kulit tipis, menyerupai spon dan dengan alat ini ikan lele dumbo dapat hidup pada lingkungan dengan kondisi oksigen yang cukup rendah. . Sebagaimna halnya ikan dari jenis lele, lele dumbo memiliki kulit tubuh yang licin, berlendir, dan tidak bersisik. Jika terkena sinar matahari, warna tubuhnya otomatis menjadi loreng seperti mozaik hitam putih. Mulut lele dumbo relatif lebar, yaitu sekitar dari panjang total tubuhnya. Tanda spesifik lainnya dari lele dumbo adalah adanya kumis di sekitar mulut sebanyak 8 buah yang berfungsi sebagai alat peraba. Saat berfungsi sebagai alat peraba saat bargerak atau mencari makan (Khairuman, 2005). Pada lele, menurut Najiyati (1992), alat pernapaasan tambahan terletak di bagian kepala. Alat pernapasan ini berwarna kemerahan dan berbentuk seperti tajuk pohon rimbun yang penuh kapiler-kapiler darah. Mulutnya terdapat di bagian ujung moncong dan dihiasi oleh empat pasang sungut, yaitu 1 pasang sungut hidung, 1 pasang sungut maksilan (berfungsi sebagai tentakel), dan dua pasang sungut mandibula. Insangnya berukuran kecil dan terletak pada kepala bagian belakang. 2. 3 Habitat dan Penebaran Lele Dumbo Lele dumbo merupakan ikan asli dari afrika yang di datangkan pada tahun 1945, ikan lele juga mudah beradaptasi dengan lingkungan yang tergenang air. Bila sudah dewasa, lele dumbo juga dapat beradaptasi pada lingkungan perairan yang bersuhu rendah sekali pun. Parameter kualitas air yang disukai oleh lele dumbo adalah bersuhu sedang (2225 0C), keasaman (pH) normal (6,5-7,5) kandungan oksigen cukup (<3) Menurut Najiyati (1992), lele dumbo termasuk ikan air tawar yang menyukai genangan air yang tidak tenang. Di sungai-sungai, ikan ini lebih banyak dijumpai di tempat-tempat yang aliran airnya tidak terlalu deras. Kondisi yang ideal bagi hidup lele dumbo adalah air yang mempunyai pH 6,5-9 dan bersuhu 2426 0C. Kandungan O2 yang

terlalu tinggi akan menyebabkan timbulnya gelembung-gelembung dalam jaringan tubuhnya. Sebaliknya penurunan kandungan O2 secara tiba-tiba, dapat menyebabkan kematiannya. 2.1. Darah Darah merupakan salah satu komponen sistem transport yang sangat vital keberadaannya. Fungsi vital darah di dalam tubuh antara lain sebagai pengangkut zat-zat kimia seperti hormon, pengangkut zat buangan hasil metabolisme tubuh, dan pengangkut oksigen dan karbondioksida. Selain itu, komponen darah seperti trombosit dan plasma darah memiliki peran penting sebagai pertahanan pertama dari serangan penyakit yang masuk ke dalam tubuh. Hematokrit merupakan salah satu persentase volume eritrosit (sel darah merah) dalam darah ikan. Hasil pemeriksaan terhadap hematokrit dapat dijadikan patokan untuk menentukan keadaan kesehatan ikan, nilai hematokrit kurang dari 22% menunjukkan terjadinya anemia. Kadar hematokrit ini bervariasi tergantung pada faktor nutrisi, umur ikan, jenis kelamin, ukuran tubuh dan masa pemijahan (Kuswardani, 2006). Eritrosit (sel darah merah) merupakan sel yang paling banyak jumlahnya. Inti sel eritrosit terletak sentral dengan sitoplasma dan akan terlihat jernih kebiruan dengan pewarnaan Giemsa (Chinabut et al., 1991 dalam Mulyani, 2006). Pada ikan teleost, jumlah normal eritrosit adalah 1,05106 3,0106 sel/mm3 (Robert, 1978 dalam Mulyani, 2006). Seperti halnya pada hematokrit, kadar eritrosit yang rendah menunjukkan terjadinya anemia. Sedangkan kadar tinggi menandakan bahwa ikan dalam keadaan stress (Wedemeyer dan Yasutake, 1977 dalam Purwanto, 2006). Leukosit (sel darah putih) mempunyai bentuk lonjong atau bulat, tidak berwarna, dan jumlahnya tiap mm3 darah ikan berkisar 20.000-150.000 butir, serta merupakan unit yang aktif dari sistem pertahanan (imun) tubuh. Sel-sel leukosit akan ditranspor secara khusus ke daerah terinfeksi. Leukosit terdiri dari dua macam sel yaitu sel granulosit (terdiri dari netrofil, eusinofil, dan basofil dan sel agranulosit) dan sel granulosit (terdiri dari limfosit, trombosit, dan monosit) (Purwanto, 2006).

III.METODE PRAKTIKUM 3.1. Waktu dan tempat Kegiatan praktikum Manajemen Kesehatan Ikan ini dilaksanakan pada tanggal 9 Juni 2011 yang dilaksanakan di Laboraturium Terpadu Universitas Muhammadiyah Pontianak.
3.2.

Alat dan bahan Alat yang digunakan dalam praktikum ini meliputi pipet sahlinometer,

perangkat himasitometer, tabung mikrohematokrit, jarum suntik, tabung effendrof, gelas objek, kaca penutup dan mikroskop. Sedangkan bahan yang dipakai diantaranya HCL 0,1N, larutan hayem, larutan turk, larutan Giemsa, larutan metanol, akuadesa, anti koagulan (Na-sitrat 3,8 %), entelan dan ikan uji. 3.3. Prosedur kerja 3.3.1. Pengambilan sampel darah a. Siapkan sampel ikan sebanyak 10 ekor yang akan diambil darahnya, dan ikan harus dalam keadaan hidup.

b. Ikan sampel sebaiknya telah berumur > 2 bulan atau berukuran sekitar 100 150 g/ekor. c. Ambil darah ikan sebanyak 1 ml dengan menggunakan jarum suntik kecil yang telah diberi EDTA 10% pada arteri caudalis. d. Darah dimasukan pada tabung eppendorf, dan siap untuk diamati

3.3.2. Pengukuran hematokrit Hematokrit merupakan perbandingan antara volume sel darah dan plasma darah. Hematokrit berhubungan dengan jumlah sel darah (Bond, 1979) dan nilai hematrokit darah ikan berkisar 5-60% (Snieszko et al.,1960).
a. Masukan darah ikan yang ada dalam tabung eppendorf ke dalam kapiler

hematokrit.
b. Tutup tabung eppendorf dengan penutup lilin (vitrex) yang telah disediakan. c. Tabung disentrifuse selama 5 menit dengan kecepatan 11.000 rpm. d. Ukur panjang endapan eritrosit pada kapiler dengan penggaris dan dihitung

presentase volumenya.
e. Hitung hematrokit dengan rumus menurut Anderson dan Siwicki dalam Aliffudin

(1999) yaitu : Hematokrit =

3.3.3. Perhitungan sel darah merah (eritrosit) dan sel darah putih (Leukosit)

Perhitungan jumlah eritrosit dilakukan menurut Klontz (1994) sebagai berikut:


a. Ambil sampel darah dari tabung enppendorf dengan menggunakan alat hisap

dengan menggunakan alat hisap reitrosit berupa kapiler dengan batu kecil di dalamnya berwarna merah hingga garis menunjukan 0,5 ml.
b. Tambahkan sampel darah dengan larutan hayem hingga larutan mencapai 10,1 ml. c. Homogenkan larutan dengan cara menggoyangkannya dengan bentuk angka

delapan.
d. Buang darah sebanyak 2 (dua) tetes untuk membuang gelembung udara. e. Teteskan darah pada kamar hitung pada haemacytometer dan tutup dengan cover

glass. f. Amati dibawah mikroskop dengan oembesaran 10 x 40. g. Hitung eritrosit pada 5 lapang pandang di kotak kecil pada kamar hitung haemacytometer. h. Hitung jumlah total eritrosit dengan rumus

Jumlah eritrosit = n x 106 sel/mm3 Keterangan n 106 = jumlah sel eritrosit yang ada ada pada 5 kotak kecil kamar hitung = jumlah pengenceran

Perhitungan jumlah eritrosit dilakukan menurut Klontz (1994) sebagai berikut:


a. Ambil sampel darah dari tabung enppendorf dengan menggunakan alat hisap

dengan menggunakan alat hisap reitrosit berupa kapiler dengan batu kecil di dalamnya berwarna merah hingga garis menunjukan 0,5 ml.

b. Tambahkan sampel darah dengan larutan hayem hingga larutan mencapai 10,1

ml. c. Homogenkan larutan yang ada dalam alat hisap berupa pipa kapiler dengan cara menggoyangkannya dengan bentuk angka delapan.
d. Buang darah sebanyak 2 (dua) tetes untuk membuang gelembung udara. e. Teteskan darah pada kamar hitung pada haemacytometer dan tutup dengan

cover glass. f. Amati dibawah mikroskop dengan oembesaran 10 x 40. g. Hitung leukosit pada 4 lapang pandang di kotak besar pada kamar hitung haemacytometer.
h. Hitung jumlah total eritrosit dengan rumus :

Jumlah Leukosit = n x 500 sel/mm3 Keterangan n 500 = jumlah sel leukosit yang ada ada pada 4 kotak besar kamar hitung = jumlah pengenceran

VI. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Pengukuran Hematokrit Hematokrit merupakan perbandingan anatara volume sel darah dan plasma darah. Hematokrit berhubungan dengan jumlah sel darah merah (Bond, 1979) dan nilai hematokrit darah ikan berkisar 5-60% (Snieszko., 1960) Nilai hematokrit yang diperoleh dari hasil praktikum manajemen kesehatan Ikan terhadap pengamatan darah pada ikan lele adalah nilai hematokrit ikan tersebut dapat dikatakan rendah dibandingkan dengan ikan sehat karena nilai rata-rata hematokrit ikan sehat menurut Bastiawan dkk, (2001) adalah sebesar 30,8 45,5 4.2. Perhitungan sel darah merah (eritrosit) dan sel darah putih (Leukosit) Perhitungan jumlah eritrosit dan leukosit dilakukan menurut Blaxhall dan Daisley (1973) adalah Eritrosit = sel eritrosit terhitung x 104 sel/mm3. Jumlah normal eritrosit pada teleost adalah 1,05106 3,0106 sel/mm3 (Robert, 1978 dalam Mulyani, 2006). Menurut Bastiawan dkk, (2001), jumlah eritrosit ikan lele dumbo sehat sebesar 3,18 x 106. Hasil perhitungan pengamatan eritrosit menggunakan mikroskop pada praktikum manajemen kesehatan ikan diperoleh jumlah eritrosit ikan lele sebesar 1,8 106.