Anda di halaman 1dari 29

PENDAHULUAN

Di Indonesia perikanan merupakan salah satu sumber devisa Negara yang sangat
potensial. Pengembangan budidaya air payau di Indonesia untuk waktu yang akan
datang sangat penting bagi pembangunan di sektor perikanan, serta merupakan salah
satu prioritas yang diharapkan menjadi sumber pertumbuhan di sektor perikanan.
Udang windu (Penaeus monodon ) merupakan komoditas unggulan Indonesia
dalam upaya menghasilkan devisa negara dari eksport nonmigas. Berbagai upaya telah
dilakukan dalam meningkatkan produksi udang windu. Salah satu diantaranya adalah
penerapan

sistem

budidaya

udang

windu

secara

intensif

yang

dimulai

sejak

pertengahan tahun 1986.


Semakin kurangnya ketersediaan induk dan benih udang windu di laut ditambah
adanya Keputusan Presiden tentang larangan penggunaan pukat harimau (trawl)
menyebabkan

semakin turunnya produksi udang hasil tangkapan, sehingga produksi

udang dari hasil budidaya harus ditingkatkan. Telah disadari bahwa peningkatan produksi
udang melalui budidaya tersebut hanya dapat dicapai bila disuplai faktor-faktor produksi,
khususnya

benih udang dapat terjamin

sepenuhnya. Pengembangan

teknik-teknik

pembenihan udang harus terus dilakukan untuk menunjang kegiatan budidaya udang
windu .
Guna menunjang usaha budidaya, yang harus dilakukan adalah dengan mendirikan
balai-balai

pembenihan

(hatchery)

udang windu. Usaha

pembenihan

udang

ini

berkembang pesat setelah ditemukannya teknik ablasi mata. Dengan teknik tersebut
maka masalah penyediaan induk matang telur dapat diatasi dan seluruh siklus hidup
udang dapat diusahakan dalam lingkungan yang terkontrol.
Dengan teknik tersebut maka masalah penyediaan induk matang telur dapat diatasi
dan seluruh siklus hidup udang dapat diusahakan dalam lingkungan yang terkontrol.
Keberhasilan usaha pembenihan udang windu merupakan langkah awal dalam sistem
mata

rantai

budidaya. Keberhasilan

pembenihan

tersebut

pada

mendukung usaha penyediaan benih udang windu yang berkualitas.

akhirnya

akan

PENGELOLAAN INDUK

Seleks i induk terus ditingkatkan dan hanya induk yang berukuran 25 - 30 cm untuk
betina dan 20 - 25 cm untuk jantan yang digunakan dengan perbandingan 1:2 dengan
berat 100 - 150 gram, warna induk yang baik untuk calon induk adalah warna cerah
atau hitam kecoklatan. Harga induk yang dibeli mencapai Rp.250, 000 per ekornya.
Umumnya induk yang dibeli tersebut adalah induk yang sudah matang gonad. Jadi
tidak perlu dipelihara dalam waktu yang lama, hal ini dapat menghemat biaya
pemeliharaan induk.
Induk yang digunakan diperoleh dari alam, yang diperkirakan telah melakukan
pemijahan di alam. Udang windu yang pada bagian abdomennya berwarna kemerahmerahan menunjukan bahwa udang tersebut berasal pada daerah kedalaman (pada laut
dalam) sedangkan induk yang pada bagian abdomennya berwarna kehitam-hitaman
menunjukan bahwa udang tersebut terletak pada daerah yang dangkal.
Induk yang ditangkap di alam sebelum dilepas ke dalam bak pemijahan yang
sekaligus bak pemeliharan telur, induk terlebih dahulu ditreatmen atau aklimatisasi
terhadap suhu dan salinitas air media tempat pemeliharan dengan tujuan agar induk tidak
mengalami stress karena perubahan lingkungan dan kualitas air yang mendadak.
Setelah mengalami aklimatisasi maka induk yang matang gonad dilepas ke dalam
bak konikel tank untuk pelepasan telur. Dalam satu bak konikel terdapat satu induk
udang, hal ini bertujuan untuk mengetahui jumlah telur yang dihasilkan perinduk setelah
pelepasan. Juga sekaligus mengetahu i jumlah nauplius yang dihasilkan setelah
penetasan.
Induk udang windu akan melepaskan telurnya pada malam menjelang subuh. Hal
ini merupakan kebiasaan yang dimilikinya sejak nenek moyangnya. Induk udang windu
dengan ukuran 90140 gram dapat menghasilkan telur ratarata 500.000 butir, jumlah
telur maksimum yang dapat dihasilkan induk udang windu sampai 1000.000 butir. Jika
penetasannya baik, maka satu induk dapat menghasilkan 600.0001000.000 butir telur
yang dapat menetas menjadi 400.000500.000 ekor nauplius.

Teknik Pemijahan Udang windu dengan ablas i mata


Ablasi Mata adalah usaha untuk mempercepat kematangan gonad dengan cara
merusak syaraf tertentu yang terdapat dalam tubuh udang. Bagian tubuh udang yang
dirusak adalah bagian mata sebab pada tubuh udang mata selain berfungsi sebagai alat
penglihatan juga merupakan tempat syaraf yang diantaranya sangat berpengaruh dalam
proses perkembang biakan.
Ablasi mata dilakukan pada udang yang belum matang gonad untuk meransang
penetasan telur. Fungsi larutan tersebut untuk menghindari terjadinya infeksi pada mata
udang yang telah diablasi serta menghilangkan ektoparasit yang ada pada tubuh udang.
Fungsi ablasi pada mata udang yaitu untuk mengilangkan hormon x yang dapat
menghambat pematangan gonad. Kemudian mengiiris mata udang menggunakan silet
lalu mengeluarkan isi dalam mata udang tersebut.
Ablasi mata dapat di lakukan dengan 4 cara, yaitu :
1. Pinching, yaitu menjepit salah satu tangkai mata udang tanpa pemanasan dan
tidak sampai putus.
2. Ligation, yaitu menjepit salah satu tangkai mata udang dengan
pemanasan dan mata tidak putus.
3. Cauttery, yaitu memencet tangkai mata udang sampai putus.
4. Cutting, yaitu memotong dengan gunting tangkai mata udang.
Tahap kegiatan Ablasi mata adalah sebagai berikut :
1.
2.

Siapkan alat berupa gunting yang steril.


Induk yang akan di Ablasi di tangkap dengan seser dan dipilih
induk yang berkulit keras.

3.

Induk di rendam ke dalam Malachite Green 25 ppm sekitar 2-3


menit, kemudian di masukan ke dalam larutan antibiotik yaitu Oxytetracyclin 25
ppm untuk mencegah infeksi.

4. Induk di lengkungkan badannya dengan cara meletakkan ibu jari diatas karapas
dan jari kelingking harus menekan ekor udang .
5. Potong salah satu tangkai mata udang dengan gunting yang steriil sampai
terputus .
6. Induk yang telah di ambil dimasukan dalam bak perkawinan dan di campur
dengan induk jantan untuk melakukan perkawinan.
7. Perbandingan jantan dan betina 1:2 atau 2:3 tergantung jumlah induk dan
kebtuhan.
CALON INDUK

Ciri-ciri Induk Jantan dan Betina


Perbedaan alat kelamin induk jantan dan induk betina dapat dilihat dari sisi bawah
(ventral) udang tersebut. Alat kelamin betina bernama thelicum dan terletak di antara
dasar sepasang kaki jalan atau periopoda yang berfungsi untuk menyimpan sperma.
(Soetomo, 2000).
Di bagian kepala sampai dada terdapat anggota-anggota tubuh lainnya yang
berpasang-pasangan.

Berturut-turut

dari

muka

ke

belakang

adalah

sungut

kecil

(antennula), sirip kepala (scophocerit), sungut besar (antenna), rahang (mandibula), alatalat pembantu rahang (maxilla) dan kaki jalan (pereiopoda). Di bagian perut terdapat
lima pasang kaki renang (pleopoda). Ujung ruas ke-6 arah belakang membentuk ujung
ekor (telson). Di bawah pangkal ujung ekor terdapat lubang dubur (anus) (Suyanto dan
Mudjiman, 1994).
Perbedaan alat kelamin induk jantan dan induk betina dapat dilihat dari sisi bawah
(ventral) udang tersebut, Udang jantan biasanya lebih besar, tubuh langsing, ruang bawah
perut sempit, sedangkan udang betina gemuk karena ruang perutnya membesar. (Soetomo,
2000).
Alat Kelamin Betina :
a. Alat kelamin betina bernama thelicum dan terletak di antara dasar sepasang kaki
jalan atau periopoda yang berfungsi untuk menyimpan sperma.
b. Di bagian kepala sampai dada terdapat anggota-anggota tubuh lainnya yang
berpasang-pasangan. Berturut-turut dari
(antennula), sirip

kepala

muka

ke belakang adalah sungut kecil

(scophocerit), sungut

besar

(antenna), rahang

(mandibula),
c. alat-alat pembantu rahang (maxilla) dan kaki jalan (pereiopoda). Di bagian perut
terdapat lima pasang kaki renang (pleopoda).
d. Ujung ruas ke-6 arah belakang membentuk ujung ekor (telson). Di bawah
pangkal ujung ekor terdapat lubang dubur (anus) (Suyanto dan Mudjiman, 1994).

Alat Kelamin Jantan :

a. Alat kelamin jantan

disebut petasma yang terdapat pada pangkal periopoda

kelima, sedangkan alat kelamin betina disebut thelicum yang terdapat pada
pangkal/periopoda ketiga. (Suyanto dan Mudjiman, 1994).
Reproduksi
Toro dan Soegiarto (1979) mengemukakan bahwa udang penaeid termasuk hewan
yang heteroseksual yaitu mempunyai jenis kelamin jantan dan betina yang masingmasing

terpisah. Perkawinan udang terjadi di laut bebas dengan

jalan merapatkan

perutnya (ventral) masing-masing. Udang jantan biasanya lebih agresif dibanding betina,
perkawinan terjadi setelah betina mengganti kulit (moulting), udang jantan tertarik
kepada betina karena adanya hormon ektokrin yang keluar secara eksternal yaitu pada
saat telur dikeluarkan melalui saluran telur (oviduk). Martidjo (2003) menyatakan
udang windu memiliki lima tingkat kematangan gonad.
Pemilihan Calon Induk
Induk betina yang dipilih harus memiliki syarat-syarat sebagai berikut:
a.
b.
c.
d.
e.

Berat lebih dari 50 gram


Kandungan telur tinggi
Sudah matang telur (terlihat dari warna abu-abu di punggung)
Bentuk tubuh normal, tidak cacat
Bersih dari kotoran dan parasit.

Sedangkan persyaratan induk jantan adalah sebagai berikut:


a.
b.
c.
d.
e.

Berat lebih dari 40 gram


Kaki jalan kedua tidak terlalu besar
Tidak agresif
Bentuk tubuh normal, tidak cacat
Bersih dari kotoran dan parasit.

Persiapan kolam atau tambak


1. Penggantian air, Pembuangan air sebaiknya melalui bagian bawah, karena bagian
ini yang kondisinya paling buruk. Tapi apabila air tambak tertutup air hujan

yang tawar, pembuangannya melalui lapisan atas, sedangkan pemasukannya


melalui bagian bawah.
2. Pengadukan secara mekanis (belum biasa dilakukan). Dengan pengadukan, air
dapat memperoleh tambahan zat asam, atau tercampurnya air asin dan air tawar.
pengadukan dapat menggunakan mesin pengaduk, mesin perahu tempel, atau
kincir angin.
3. Penambahan bahan kimia (belum biasa dilakukan). Kekurangan zat asam, dapat
ditambah dengan Kalium Permanganat (PK/KMnO4). Takaran 5-10 ppm (5-10
gram/1 ton air), masih belum mampu membunuh udang. Kapur bakar sebanyak
200 kg/ha dapat juga untuk mengatasi O2.
4. Penambahan volume air. Bila suhu air tinggi, penambahan jumlah volume air
dapat dikurangi. Perlu diberi pelindung.
5. Menghentikan pemupukan dan pemberian pakan. Pemupukan dan pemberian
pakan dihentikan apabila udang nampak menderita dan tambak dalam kondisi
buruk.
6. Singkirkan ikan dan ganggang yang mati dengan menggunakan alat penyerok.
7. Penambahan

pemberian

pakan.

Udang

diberi

tambahan

pakan

apabila

menunjukkan gejala kekurangan makan, sampai pertumbuhan makanan alami


normal kembali.

Syarat konstruksi tambak:


1

Tahan terhadap damparan ombak besar, angin kencang dan banjir. Jarak
minimum pertambakan dari pantai adalah 50 meter atau minimum 50 meter

dari bantara sungai.


Lingkungan tambak beserta airnya harus cukup baik untuk kehidupan udang

sehingga dapat tumbuh normal sejak ditebarkan sampai dipanen.


Tanggul harus padat dan kuat tidak bocor atau merembes serta tahan terhadap

erosi air.
Desain tambak harus sesuai dan mudah untuk operasi sehari-hari, sehingga
menghemat tenaga.

5 Sesuai dengan daya dukung lahan yang tersedia.


6 Menjaga kebersihan dan kesehatan hasil produksinya.
7 Saluran pemasuk air terpisah dengan pembuangan air.
Perbaikan teknis yang diperlukan:
1. Perbaikan saluran irigasi tambak untuk memungkinkan petakan-petakan tambak
memperoleh

air

yang

cukup

kualitas dan dan kuantitasnya,

selama

masa

pemeliharaan.
2. Pompanisasi, bagi tambak-tambak di daerah yang perbedaan pasang surutnya
rendah (kurang dari 1 m), yang setiap waktu diperlukan pergantian air ke dalam
atau keluar tambak.
3. Perbaikan konstruksi tambak, yang meliputi konstruksi tanggul, pintu air
saringan masuk ke dalam tambak agar tambak tidak mudah bocor, dan tanggul
tidak longsor.
4. Perbaikan manajemen budidaya yang meliputi: cara pemupukan, padat penebaran
yang optimal, pemberian pakan, cara pengelolaan air dan cara pemantauan
terhadap pertumbuhan dan kesehatan udang.
Teknik

pembuatan

tambak

dibagi

dalam

tiga

sistem

yang

disesuaikan dengan letak, biaya, dan operasi pelaksanaannya, yaitu


tambak ekstensif, semi intensif, dan intensif.
Tambak Ekstensif atau Tradisional
1. Di bangun di lahan pasang surut, yang umumnya berupa rawa-rawa bakau, atau
rawa-rawa pasang surut bersemak dan rerumputan.
2. Bentuk dan ukuran petakan tambak tidak teratur.
3. Luasnya antara 3-10 ha per petak.
4. Setiap petak mempunyai saluran keliling (caren) yang lebarnya 5-10 m di
sepanjang keliling petakan sebelah dalam. Di bagian tengah juga dibuat caren
dari sudut ke sudut (diagonal). Kedalaman caren 30-50 cm lebih dalam dari bagian

sekitarnya yang disebut pelataran. Bagian pelataran hanya dapat berisi sedalam
30-40 cm saja.
5. Di tengah petakan dibuat petakan yang lebih kecil dan dangkal untuk mengipur
nener yang baru datang selama 1 bulan.
6. Selain itu ada beberapa tipe tambak tradisional, misalnya tipe corong dan tipe
taman yang dikembangkan di Sidoarjo, Jawa Timur.
7. Pada tambak ini tidak ada pemupukan.
Tambak Semi Intensif
1. Bentuk petakan umumnya empat persegi panjang dengan luas 1-3 ha/petakan.
2. Tiap petakan mempunyai pintu pemasukan (inlet) dan pintu pengeluaran (outlet)
yang terpisah untuk keperluan penggantian air, penyiapan kolam sebelum
ditebari benih, dan pemanenan.
3. Suatu caren diagonal dengan lebar 5-10 m menyerong dari pintu (pipa) inlet ke arah
pintu (pipa) outlet. Dasar

caren miring

ke arah outlet untuk

memudahkan

pengeringan air dan pengumpulan udang pada waktu panen.


4. Kedalaman caren selisih 30-50 cm dari pelataran.
5. Kedalaman air di pelataran hanya 40-50 cm.
6. Ada juga petani tambak yang membuat caren di sekeliling pelataran.
Tambak Intensif
1. Petakan berukuan 0,2-0,5 ha/petak, supaya pengelolaan air dan pengawasannya
lebih mudah.
2. Kolam/petak pemeliharaan dapat dibuat dari beton seluruhnya atau dari tanah
seperti biasa. Atau dinding dari tembok, sedangkan dasar masih tanah.

3. Biasanya berbentuk bujur sangkar dengan pintu pembuangan di tengah dan


pintu

panen

model

monik di

pematang

saluran

buangan. Bentuk

dan

konstruksinya menyerupai tambak semi intensif bujur sangkar.


4. Lantai dasar dipadatkan sampai keras, dilapisi oleh pasir/kerikil. Tanggul biasanya
dari tembok, sedang air laut dan air tawar dicampur dalam bak pencampur
sebelum masuk dalam tambak.
5. Pipa pembuangan air hujan atau kotoran yang terbawa angin, dipasang mati di
sudut petak.
6. Diberi aerasi untuk menambah kadar O2 dalam air.
7. Penggantian air yang sangat sering dimungkinkan oleh penggunaan pompa.
Adapun prasarana yang diperlukan dalam budidaya udang tambak meliputi:
Petakan Tambak
1. Sebaiknya dibuat dalam bentuk unit. Setiap satu unit tambak pengairannya
berasal dari satu pintu besar, yaitu pintu air utama atau laban. Satu unit tambak
terdiri dari tiga macam petakan: petak pendederan, petak glondongan (buyaran)
dan petak pembesaran dengan perbandingan luas 1:9:90.
2. Selain itu, juga ada petakan pembagi air, yang merupakan bagian yang terdalam.
Dari

petak

pembagi,

masing-masing

petakan

menerima bagian air

untuk

pengisiannya. Setiap petakan harus mempunyai pintu air sendiri, yang dinamakan
pintu petakan, pintu sekunder, atau tokoan. Petakan

yang berbentuk seperti

saluran disebut juga saluran pembagi air.


3. Setiap petakan terdiri dar i caren dan pelataran.
Pematang/Tanggul
Ada dua macam pematang, yaitu pematang utama dan pematang antara.
1. Pematang utama merupakan pematang keliling unit, yang melindungi unit yang
bersangkutan dari pengaruh luar. Tingginya 0,5 m di atas permukaan air pasang

tertinggi. Lebar bagian atasnya sekitar 2 m. Sisi luar dibuat miring dengan
kemiringan 1:1,5. Sedangkan untuk sisi pematang bagian dalam kemiringannya 1:1.
2. Pematang antara merupakan pematang yang membatasi petakan yang satu
dengan yang lain dalam satu unit.
3. Ukurannya tergantung keadaan setempat, misalnya: tinggi 1-2 m, lebar bagian atas
0,5-1,5. Sisi-sisinya dibuat miring dengan
dengan menggali saluran keliling yang

kemiringan 1:1. Pematang dibuat


jaraknya dari pematang 1 m. Jarak

tersebut biasa disebut berm.

Saluran dan Pintu Air


Saluran air harus cukup lebar dan dalam, tergantung keadaan setempat, lebarnya
berkisar antara 3-10 m dan dalamnya kalau memungkinkan sejajar dengan permukaan
air surut terrendah. Sepanjang tepiannya ditanami pohon bakau sebaga i pelindung.
1. Ada dua macam pintu air, yaitu pintu air utama (laban) dan pintu air sekunder
(tokoan/pintu air petakan).
2. Pintu air berfungsi sebagai saluran keluar masuknya air dari dan ke dalam
tambak yang termasuk dalam satu unit.
3. Lebar mulut pintu utama antara 0,8-1,2 m, tinggi dan panjang disesuaikan dengan
tinggi dan lebar pematang. Dasarnya lebih rendah dari dasar saluran keliling, serta
sejajar dengan dasar saluran pemasukan air.
4. Bahan pembuatannya antara lain: pasangan semen, atau bahan kayu (kayu besi,
kayu jati, kayu kelapa, kayu siwalan, dll)
5. Setiap pintu dilengkapi dengan dua deretan papan penutup dan di antaranya diisi
tanah yang disebut lemahan.
6. Pintu air dilengkapi dengan saringan, yaitu saringan luar yang menghadap ke
saluran air dan saringan dalam yang menghadap ke petakan tambak. Saringan
terbuat dari kere bambu, dan untuk saringan dalam dilapisi plastik atau ijuk.
7. Pelindung sebagai bahan pelindung pada pemeliharaan udang di tambak, dapat
dipasang rumpon yang terbuat dari ranting kayu atau dari daun-daun kelapa kering.
Pohon peneduh di sepanjang pematang juga dapat digunakan sebagai pelindung.

8. Rumpon dipasang dengan jarak 6-15 m di tambak. Rumpon berfungsi juga untuk
mencegah hanyutnya kelekap atau lumut, sehingga menumpuk pada salah satu
sudut karena tiupan angin.
Pemasangan kincir:
1. Kincir biasanya dipasang setelah pemeliharaan 1,5-2 bulan, karena udang sudah
cukup kuat terhadap pengadukan air.
2. Kincir dipasang 3-4 unit/ha. Daya kelarutan O2 ke dalam air dengan pemutaran
kincir itu mencapai 75-90%
A. Pemeliharaan Induk Udang Windu
Peralatan Utama
Hasil pembenihan udang windu yang memuaskan akan diperoleh bila ditunjang oleh
sarana yang komplit mulai dari bangunan (heatchery), bak, sarana aerasi dan sarana
pembenihan lainnya.(Badaruszaman, 2010)
Peralatan utama yang digunakan dalam hatchery udang windu adalah sebagai berikut :
Tandon air laut
Udang windu adalah merupakan

jenis udang air laut. Untuk itu, lokasi hatchery

cenderung mendekati lau t untuk memudahkan pengambilan air dan saluran untuk outlet.
Air yang masuk dari laut tidak langsung didistribusikan ke bak- bak guna menghindari
masuknya penyakit, terlebih lagi virus. Oleh karena itu, air melalui beberapa filter
sebelum masuk ke dalam bak pemijahan, pendederan dan indukan.( Claudia, 2011 )
Filter
Filter merupakan alat yang digunakan untuk menyaring benda- benda tertentu yang
tidak dikehendaki dan meloloskan benda lain yang dikehendaki. Benda- benda yang
tidak dikehendaki tersebut antara lain : amonia, bahan padat, dan bahan kimia lainnya.

Prinsip filterisasi adalah terjadi pemisahan antara air yang akan difiltrasi. Media
yang digunakan antara lain :

1. Filter kimia, berfungsi untuk membuang, meminimalisir bahan atau gas beracun
yang terlarut dalam air. Contohnya : arang
2. Filter biologi, filter hidup yang terdiri dari media tempat bakteri dapat hidup, dan
menjadi tempat kolonisasi bakteri nitrifikasi. Contohnya : tanaman air ( enceng
gondok), hewan air seperti kerang dan ikan bandeng. Udang windu merupakan
udang jenis air laut, oleh karena itu penggunaan filter yang baik adalah dengan
hewan laut seperti kerang- kerangan yang bersifat filter feeder.
Tandon distribus air
Setelah air difiltrasi dan dianggap bersih dari bahan kimia dan padatan- padatan lainnya,
air dapat didistribusikan ke masing- masing bak. Dengan air yang telah difiltrasi
kemungkinan udanng yang terserang penyakit dan virus akan berkurang.
Bak indukan, atau persiapan indukan.
Bak terbuat dari fiber ataupun beton. Digunakan untuk mempersiapakan induk yang
siap kawin dengan kadar garam 28 ppt hingga 30 ppt sedalam 70 80 cm sebagai
bentuk manipulasi lingkungan untuk udang windu, dimana udang windu memiliki
kebiasaan hidup diair yang dalam.
Dalam air dipompakan udara bersih dengan menggunakan blower yang cukup besar
tekanannya. Aerasi dimaksudkan untuk menambah kadar oksigen terlarut dan sekaligus
menimbulkan gerakan air untuk mencegah penggumpalan dan pengendapan telur.
Bak pemijahan,
Untuk udang windu, bak pemijahan harus berukuran sangat besar, dalam 10 m 3 hanya
bisa untuk 1 pasang induk udang, dengan kedalaman paling dangkal 1 meter,
diusahakan bak pemijahan dan bak indukan kondisi pencahayaannya harus redup,
karena udang termasuk hewan nokturnal yang aktif bergerak pada kondisi cahaya yang
tidak terang.
Perkawinan udang biasanya terjadi pada waktu malam, kalau kondisi hatchery sudah
sepi dari hiruk pikuk disekelilingnya, kadang kala dapat juga terjadi disiang hari jika
suasana hatchery lengang dan pencahayaan sangat kurang. Keberhasilan pemijahan
udang windu ditandai dengan adanya gelembung- gelembung berminyak seperti busa
yang mengapung dipermukaan. Jika pemijahan sudah berhasil, maka keesokaan harinya
indukkan harus dipindahkan dengan hati- hati agar induk tidak stres dan mati. Indukan
dipindahkan ke bak indukan kembali dan bak pemijahan berfungsi menjadi bak
penetasan telur.

Bak pemijahan kemudian berganti fungsi sebagai bak penetasan telur. Telur yang
dihamburkan oleh indukkan mula-mulanya akan melayang dideka t dasar air. Setelah 1216 jam pada suhu air 27- 29C telur akan menetas dan menjadi plankton yang
melayang didekat permukaan air, dan kemudian mengalami metamorfosa berulang kali.
Bak pendederan.
Sama halnya dengan ikan masa pendederan merupakan masa yang sangat rentan
terhadap penyakit dan virus, oleh sebab itu harus diperhatikan secara maksimal dan
teliti. Agar larva tidak kekurangan oksigen, dalam bak diberi aerator, ditempatkan 50 cm
dari dinding bak pendederan agar semburannya tidak membentur dinding terlalu keras
sampai mental kembali dengan kuat dan membunuh larva udang..

Kebutuhan Nutrisi Induk


Diterangkan oleh Joko dan Fairus, dibandingkan hasil budidaya, induk udang windu asal
laut memiliki performa lebih baik. Pasalnya, induk udang leluasa mendapatkan makanan
dari laut sesuai kebutuhannya. Di alam, induk udang jenis asli perairan Indonesia ini,
tanpa diablasi (teknik memotong tangkai mata untuk mempercepat kematangan organ
reproduksi) mampu bereproduksi hingga puluhan kali.
Sayangnya, jumlah induk udang di alam terus menurun dari waktu ke waktu. Sehingga
mau tidak mau, pengembangbiakkan induk udang dari hasil budidaya menjadi sebuah ke
niscayaan sekaligus keharusan. Dan menjadi pekerjaan rumah bagi periset perudangan
untuk mampu menghasilkan induk udang windu dari budidaya dengan performa produksi
setara induk-induk di alam.
Dikatakan Joko, kajian yang di lakukan bersama Fairus ini bertujuan meningkatkan
produktivitas nauplius (larva/anakan) dari induk udang windu hasil budidaya. Targetnya,
induk tambak mampu menghasilkan lebih dari 500 ribu nauplius/mijah/induk, sebutnya.
Sebelumnya, pakan induk udang windu yang biasa diberikan di masa produksi
nauplius adalah cumi-cumi, kerang, kepiting, rajungan, cacing laut dan hati sapi.
Komposisi pakan yang hampir sepenuhnya dari alam ini sangat sulit dilakukan
pengkayaan nutrisi.

Dikatakan Fairus, kebutuhan nutrisi induk udang windu tidak hanya protein. Tapi juga
keseimbangan asam lemak, asam amino, dan vitamin yang penting dalam sistem
reproduksi, seperti vitelogenesis membutuhkan keseimbangan DHA/EPA, katanya. Dan
spirulina, lanjut dia, kaya akan asam lemak esensial dan non esensial, mineral, vitamin,
caroten, serta enzim yang sangat dibutuhkan dalam sistem reproduksi.
Digaris bawahi Joko, pengkayaan

spirulina efektif diberikan melalui cacing, karena

dengan begitu udang akan menerima gizi terbaik. Lumbricus diketahui mengandung
protein tinggi, sekitar 63% dan komposisi asam aminonya sangat lengkap. Ini dibutuhkan
untuk kematangan reproduksi, termasuk dalam

spermatopor maupun perkembangan

ovarium, terangnya.
Kelemahannya, lanjut Joko, cacing ini merupakan hewan darat sehingga beberapa
komposisi asam lemak tidak selengkap organisme laut, khususnya arachidonic acid
(ARA). Dan kekurangan ini diisi oleh spirulina, microalgae dengan komposisi nutrisi
lengkap dan disebut-sebut sebagai superfood
Pengelolaan Kualitas Air
Sebagai faktor penting dalam operasional pemeliharaan larva, pengelolaan kualitas air
perlu dijaga agar tetap dalam kondisi prima. Kualitas air meliputi aspek fisik, kimia dan
biologi. Dari ketiga aspek tersebut ada beberapa parameter yang dapat dideteksi secara
langsung, seperti kekeruhan, dan warna gelembung , gelembung kecil dipermukaan air
sebagai akibat dari kelebihan pakan. Pengelolaan kualitas air pada masa pemeliharaan
larva udang windu dilakukan dengan beberapa cara, yaitu monitoring, pengecekan kualitas
air, dan penyiponan.
Monitoring kualitas air dilkukan setiap hari yaitu pada pagi hari, suhu optimal yang
butuhkan untuk proses metabolisme dan metamorfosis yaitu berkisar antara 29 - 32C.
Sedangkan untuk pengecekan parameter kualitas air selama pemeliharaan larva dilakukan
pada setiap pergantian stadia. Parameter pH berkisar antara 7,5 - 8,5, salinitas berkisar 29
- 34 ppt dan kadar nitrit 0,1 ppm hal ini sesuai dengan ketentuan SNI produksi benih
udang windu. Dalam pengelolaan kualitas air ada beberapa perlakuan agar air media tetap
sesuai untuk pertumbuhan dan kelangsungan hidup
pengaturan pencahayaan, dan pengaturan kedalaman.

larva, diantaranya penyiponan,

Penyiponan
Penyiponan dilakukan agar sisa-sisa pakan maupun sisa metabolic dari larva dapat
terbuang keluar dengan cara penyiponan. Tujuan dari dilakukannya penyiponan ini adalah
untuk menghindari pembusukan pakan yang tidak termakan dan kotoran dari larva-larva
tersebut. Penyiponan ini dilakukan setelah larva mencapai stadium mysis. Frekuens i
penyiponan 2 kali sehari yaitu pada waktu 2 jam setelah pemberian pakan

Faktor parameter kulitas air yang mempengaruhi kelangsungan udang windu, yaitu:
A. Suhu
Suhu air media pemeliharaan udang windu berkisar antara 28-320C, alat yang digunakan
untuk mengukur suhu air adalah Thermometer. Semakin tinggi suhu perairan, semakin
tinggi laju metabolisme di dalam tubuh udang. Kondisi ini akan diimbangi dengan
meningkatnya laju konsumsi pakan. Bila suhu meningkat, udang akan stres dan akan
mengeluarkan lendir yang berlebihan, sebaliknya bila suhu terlalu rendah, udang akan
kurang aktif makan dan bergerak, sehingga pertumbuhannya akan lambat (Sumeru dan
Anna, 1992).Sedangkan menurut (Soetomo H.A 2007 ) suhu yang baik di tambak untuk
kehidupan udang windu adalah berkisar antara 28-300C akan tetapi, kenaikan suhu
melebihi 350C dalam waktu yang lama aka n menambahkan daya racun air terhadap
udang yang akan menimbulkan kematian.
B. Salinitas
Kisaran salinitas berkisar antara 30-34 ppt. Jika salinitas terlalu rendah dan tinggi nafsu
makan masih ada tetapi konversi pakan menjadi tinggi karena energi tubuh banyak
terbuang. Alat yang digunakan untuk mengukur salinitas adalah Handre faktometer akan
tetapi salinitas yang cocok untuk pertumbuhan udang windu pada tambak adalah antara
10-300/00 bahkan 50 0/00 masih dapat hidup walaupun tidak dapat tumbuh dengan baik,
asal kenaikan itu terjadi secara bertahap karena pada umumnya kenaikan kadar garam
terjadi pada saat musim kemarau ( Soetomo H.A, 2007)

C. pH Air
Kisaran pH air berkisar antara 7-8,5 dan akan mematikan bila mencapai angka
kematian terendah yaitu 6 dan tertinggi yaitu 9 dan alat yang digunakan yaitu pH
meter (Soetomo H.A, 2007 ) .
D. Kelarutan Oksigen
Oksigen terlarut adalah salah satu jenis gas terlarut dalam air yang diperlukan untuk
pernapasan

hewan

dalam

air

termasuk

udang. Kelarutan oksigen

terlarut

yang

dibutuhkan adalah 5-7 ppm yang diukur dengan menggunakan DO meter sedangkan
menurut (Soetomo H.A, 2007) . Udang windu pada tambak membutuhkan oksigen
terlarut tidak kurang lebih dari 3 mg/liter karena ini berkaitan dengan sifat udang yang
suka membenamkan diri di dalam lumpur dan tidak suka muncul ke permukaan air untuk
mengambil oksigen bebas dari udara
Pengaturan Cahaya
Masalah cahaya perlu diperhatikan karena setiap stadium larva menghendaki cahaya
yang berbeda. Untuk stadium nauplius dan zoea, keduanya bersifat flanktonis yang aktif
berenang dipermukan air. Bagi kedua stadium ini diusahakan agar suasana bak
pemeliharaan gelap dengan cara menutup bak.
Matahari yang langsung masuk terutama pada siang hari maka akan membahayakan,
karena nauplius dan zoea tidak tahan terhadap panas. Akan tetapi penutup bak sekalikali harus dibuka, misalnya pada pagi hari pukul 07.00 - 09.00 dan sore hari pada
pukul 16.00 - 17.00. Dengan pengaturan cahaya ini sirkulasi udara segar akan tetap
terjadi, sehingga suhu air tetap stabil.
Pengaturan Kedalaman air Bak Pemeliharaan
Pengaturan kedalaman air media bertujuan untuk menghemat pakan buatan, menghemat
tenaga penyiponan dan untuk menjaga air tetap segar. Untuk itu bak di isi air media
secara bertahap, seperti untuk bak kapasitas 10 ton, pertama dimasukkan air sebanyak 8
ton setelah itu ditebar nauplius sebanyak 1.000.000 ekor. Setiap pergantian stadium air
bak diganti sebanyak 0,5 ton, dengan perlakuan ini penyiponan dapat dilakukan pada
stadium PL 3.

Pengamatan Kondisi Dan Perkembangan Larva


Pengamatan kondisi dan perkembangan larva penting dilakukan karena larva udang
dalam hidupnya mengalami beberapa stadia. Tujuan dari pengamatan ini adalah untuk
mengetahui kondisi fisik dan perkembangan tubuh larva yang dapat digunakan untuk
mengestimasi populasi sehingga dapat menentukan jumlah pakan yang akan diberikan.
Pengamatan dilakukan secara makroskopis dan mikroskopis.
Pengamatan secara makroskopis dilakukan secara visual dengan mengambil sampel
langsung dari bak pemeliharaan sebanyak 1 liter beaker glass kemudian diarahkan ke
cahaya untuk melihat kondisi tubuh larva.Stadium terakhir dari larva udang sebelum
menjadi udang muda. Untuk para pembenih dini dapat melihat dengan bantuan
mikroskop.
Pengendalian Penyakit
Usaha Pencegahan Penyakit
Untuk mengamati kesehatan larva perlu dilakukan dengan teliti baik dengan mata
telanjang

maupun dengan bantuan

ditempuh

dengan

mikroskop. Kalau

mengamati aktivitas

dengan

gerak, aktifitas

mata

telanjang dapat

makan, warna

tubuh

dan

perubahan stadium. Sebagai contoh, bila warna tubuh transparan dan bergaris merah
berarti larva sehat atau bila larva sudah waktunya berubah stadium tetapi belum berubah
berarti larva kurang sehat. Pengendalian penyakit dilakukan dengan menggunakan
prinsip dasar yaitu tindakan pencegahan dan pengobatan. Fluktuasi udara yang cepat
berubah mempengaruhi lingkungan pemeliharan larva udang windu yang sangat
sensitive terhadap perubahan lingkungan, terutama dari stadia nauplius ke stadia zoea.
Ada beberapa hal yang perlu dilakukan untuk mencegah penyakit yaitu:
1. Mengurangi kemungkinan

memburuknya

lingkungan

yang

dapat menyebabkan stress pada larva, seperti kandungan oksigen


rendah ,perubahan

suhu dan salinitas yang

begitu

mencolok, pH air

terlalu tinggi ataupun terlalu rendah serta amonia yang terlalu tinggi.
2. Pemberian pakan harus memperlihatkan jumlah, mutu,
maupun jenisnya sesuai dengan tingkat perkembangan larva

3. Mencegah

menyebarnya

orgenisme penyebab

penyakit,

dari satu bak kebak yang lainnya, dengan menggunakan alat alat
yang l ebih teratur dan bersih
4. Air yang digunakan untuk pemeliharan larva dan pakan alami
harus benar benar bebas dari polusi.

Usaha Pengobatan
Tindakan ini merupakan upaya terakhir, terutama jika tindakan pencegahan
tidak

memberikan

hasil yang

memuaskan. Pemberian

obatobatan harus

dilakukan secara tepat, sebab jika tidak dilakukan dengan tepat dapat
menimbulkan masalah sebagai berikut:
1. Berpengaruh

negative terhadap bakteri nitrif kasi

berperan dalam flter biologis


2. B e r p e n g a r u h n e g a t i f
t e rh a d a p
a l a m i . -Kemungkinan

meninggalkan

pertumbuhan
residu

yang

yang
p a ka n
sangat

berbahaya bagi kehidupan dan pertumbuhan larva yang dipelihara.


Proses Pematangan Gonad
Tingkat Kematangan Gonad
Ciri ciri Tingkat
udang windu
1.TKG I

kematangan

gonad
Merupakan tingkat belum matang, ovari
(kandungan telur)

tipis, bening

berwarna dan terdapat pada abdomen.

tidak

2.TKG II

Merupakan

tingkat

kematangan

awal,

ovari membesar, bagian depan dan tengah


mengembang.
3.TKG III
Merupakan tingkat kematangan lanjutan,
ovari berwarna hijau muda, dapat dilihat
dari eksoskeleton,

bagian

depan

dan

tengah berkembang penuh


4.TKG IV

Tingkat
berwarna

keempat
hijau

matang

telur,

ovari

tua, ovari

lebih

besar.

5.TKG V
Telur sudah dilepaskan (spent)
Untuk udang jantan kematangan gonad ditentukan oleh perkembangan petasma yang
sempurna dan biasanya mengandung spermat ophora. Dari tingkatan-tingkatan diatas,
dapat disimpulkan bahwa ciri-ciri induk udang betina yang matang gonad adalah jika
telah memasuki TKG III yaitu pada saat tingkat kematangan lanjutan, ovari berwarna
hijau muda, dapat dilihat dari eksoskeleton, bagian depan dan tengah berkembang
penuh.
Pemijahan di alam terjadi sepanjang tahun dengan puncak-puncak tertentu pada awal
dan akhir musim penghujan. Penurunan kadar garam pada awal dan kenaikan pada
akhir musim penghujan dibarengi dengan perubahan suhu yang mendadak diduga
memberi rangsangan pada induk yang matang telur untuk memijah.
Pada saat inilah benur dapat ditangkap pada jumlah yang besar. Sedangkan pada
pembenihan buatan prinsipnya diperlukan induk betina matang telur yang sudah
dikawini oleh udang jantan di dalam bak peneluran atau didalam bak larva. Langkah
berikutnya adalah menetaskan telur dan memelihara larva dari hasil tetasan tersebut
sampai mencapai tingkat post larva umur 5-10 hari (Prawidihardjo et al. dalam
Poernomo, 1976)
Pada stadia Zoea larva mulai makan dan mampu menelan pakan dengan diameter
kurang lebih 5 mikron, bisa diberikan ganggang kersik sebanyak 10.000 sel dalam 1 cc
air.

Pada tingkatan mysis, larva udang diberi pakan artemia sebanyak 75- 100 ekor
artemia per larva per hari, pada stadium ini air mula ditambah sedikit demi sedikit
hingga batas maksimum dan mulai dilakukan pendederan.
Ketika larva berubah menjadi post larva, air bak diganti dengan air yang baru.
Pergantian air dilakukan setiap hari dengan membuang 1/3 sampai 1/2 bagian dari seluruh
volume air yang ada.
Pada substadia post larva I dan II , benur udang masih melayang- melayang diatas
permukaan air, tetapi pada substadia berikutnya mereka lebih suka berdiam diri didasar bak
atau menempel pada dinding bak. Pakan diubah menjadi tepung nabati dan hewani.
Selama masa pendederan ini, pengawasan dilakukan secara rutin setiap pagi. Pengawasan
dilakukan untuk menghindari penggerombilan larva/benur udang.
Untuk mencegah jangan sampai populasi terlalu padat, perlu dilakukan pendugaan
berapa jumlah kepadatan mereka, dengan cara sampel dan gelas ukur.
Padat penebaran yang ideal bagi Zoea adalah 40 ekor per liter air, jika lebih maka
harus dipindahkan ke bak pendederan lainnya. Dan dalam 1 m3 air dapat menampung
2.000 ekor benur post larva.

Pemberian Pakan Alami ( Phytoplankton dan Zooplankton)


Pemberian Pakan
Makanan untuk tiap periode kehidupan udang berbeda-beda. Makanan udang yang

dapat digunakan dalam budidaya terdiri dari:


Makanan alami:
1. Burayak tingkat nauplius, makanan dari cadangan isi kantong telurnya.
2. Burayak tingkat zoea, makanannya plankton nabati, yaitu Diatomaeae (Skeletonema,
Navicula, Amphora, dll) dan Dinoflagellata (Tetraselmis, dll).
3. Burayak tingkat mysis, makanannya plankton hewani, Protozoa, Rotifera,
(Branchionus), anak tritip (Balanus), anak kutu air (Copepoda), dll.
4. Burayak tingkat post larva (PL), dan udang muda (juvenil), selain makanan di atas
juga makan Diatomaee dan Cyanophyceae yang tumbuh di dasar perairan (bentos),
anak tiram, anak tritip, anak udanng-udangan (Crustacea) lainnya, cacing annelida
dan juga detritus (sisa hewan dan tumbuhan yang membususk).

5. Udang dewasa, makanannya daging binatang lunak atau Mollusca (kerang, tiram,
siput), cacing Annelida, yaitut cacing Pollychaeta, udang-udangan, anak serangga
(Chironomus), dll.
6. Dalam usaha budidaya, udang dapat makan makanan alami yang tumbuh di tambak,
yaitu kelekap, lumut, plankton, dan bentos.

Makanan Tambahan
Makanan tambahan biasanya dibutuhkan setelah masa pemeliharaan 3 bulan. Makanan
tambahan tersebut dapat berupa:
1. Dedak halus dicampur cincangan ikan rucah.
2. Dedak halus dicampur cincangan ikan rucah, ketam, siput, dan udang-udangan.
3. Kulit kerbau atau sisa pemotongan ternak yang lain. Kulit kerbau dipotong-potong 2,5
4.
5.
6.
7.
8.
3.
1.
2.
3.
4.
5.

cm 2 , kemudian ditusuk sate.


Sisa-sisa pemotongan katak.
Bekicot yang telah dipecahkan kulitnya.
Makanan anak ayam.
Daging kerang dan remis.
Trisipan dari tambak yang dikumpulkan dan dipech kulitnya.
Makanan Buatan (Pelet):
Tepung kepala udang atau tepung ikan 20 %.
Dedak halus 40 %.
Tepung bungkil kelapa 20 %.
Tepung kanji 19 %.
Pfizer premix A atau Azuamix 1 %.

Jenis pakan yang diberikan pada larva yaitu pakan alami dan pakan buatan ,pakan alami yang
diberikan adalah Skeletonema dan Artemia Salina . Pemberian pakan diberikan ketika larva
memasuki stadium nauplius 6 sampai mysis 3 diberipakan. Skeletonema yang dibarengi
dengan penambahan pakan buatan berupalarva Z Plus, larva ZM, Flake, dsb. Sedangkan setelah larva
mencapai setadiium Post larva pemberian pakan alami berupa Skeletonema diganti dengan pakan
alami yang lain yaitu Artemia Salina
Larva udang membutuhkan sejumlah pakan untuk kelangsungan hidupnya. Secara garis
besar pakan yang dimakan dipergunakan untuk kelangsungan hidup, selebihnya baru untuk
pertumbuhan. Dengan demikian dalam pemberian pakan untuk larva jumlahnya harus
melebihi kebutuhan untuk pemeliharaan tubuhnya, oleh karena itu seorang pembenih harus

mengetahui jumlah pakan, kebiasan dan cara makan dari setiap stadium agar tingkat
efisiensinya tinggi.
Dosis Pemberian Pakan
Dosis yang diberikan pada larva tidak dihitung berdasarkan jumlah populasi larva, tetapi
diukur dengan satuan ppm, sebab larva membutuhkan pakan yang tersedia setiap saat
(adlibitum). Maksud ppm di sini adalah

gram per

ton volume air media jika pakan

berbentuk tepung, sedangkan bila pakan yang diberikan dalam bentuk cair maka dihitung
dengan ml/ton.
Dosis tersebut hanya digunakan pada pakan buatan , sedangkan pada dosis pakan alami
sel/cc/hari atau individu/ekor larva/hari. Misalnya bak pemeliharaan berkapasitas 10 ton,
sedangkan jenis pakan 2 jenis yaitu Lansy MPL dan Flake dengan dosis 2 ppm. Dengan
demikian Lansy MPL dibutuhkan sebanyak 10 gram dan Flake juga dibutuhkan sebanyak 10
gram.
Frekuensi Pemberian Pakan
Untuk menghindari terbuangnya pakan dengan sia-sia sebaiknya frekuensi pemberian
pakan 4 - 6 kali/hari dengan selang waktu 4 - 5 jam. Karena larva mempunyai sifat suka
makan pada malam hari, maka frekuensi pemberian pakan pada malam hari lebih banyak
dibanding dengan siang atau pagi hari.
Pakan alami fungsinya bukan hanya sebagai pakan larva, juga sebagai peneduh dan
perombakan sisa sisa pakan yang tidak di manfaatkan. Pemberian pakan ini bersamaan antara
pemberian pakan alami dengan pemberian pakan buatan pada stadia zoea hingga mysis,
sedangkan memasuki masa PL pemberian pakan alami bergantian dengan pemberian pakan
buatan. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel dibawah ini.
Pakan yang digunakan:
Fripak # 1 CAR Fripak # 2 CAR BP Eguchi
Flek Top Larva Z + 100 - 150 Larva Z + 150 - 250 Larva ZM untuk Zoea Larva ZM
untuk mysis Larva ZM # 3 PL
Larva ZM # 4 PL Artemia Sceletonema.
Cara Pemberian Pakan

Setiap pemberian pakan, tangan dan peralatan yang digunakan harus dalam keadaan bersih, selain itu
semua pakan yang akan diberikan perlu disaring. Cara pemberian pakannya adalah sebagai berikut:
1. Pakan yang terdiri dari beberapa jenis, misalnya Lansy MPL dan Top Flake
keduanya dimasukkan ke dalam saringan sesuai dengan stadium..
2. Saringan dimasukkan ke dalam ember pakan yang berisi air tawar. Setelah
itu saringan diremas remas sampai pakan yang ada di dalam saringan tersebuthabis. Kemudian
tambahkan pakan alami ( skeletonema sp) secukupnya
3. Setelah semua pakan tercampur dengan rata, pakan langsung ditebar

merata didalam bak pemeliharaan larva.


Pengelolaan Nauplius

Penanganan telur
Udang windu akan melepaskan telurnya pada malam hari sekitar pukul 22.00 -

00.00

malam. Telur yang dilepas akan mengapung dipermukaan air dan melayang- layang
mengikuti pergerakan air. Setelah telur lepas dari induknya, maka induk diangkat dan
dipindahkan ke bak pemeliharaan induk yang telah disiapkan. Telur udang tersebut dibiarkan
di tempat bak konikel sampai menetas menjadi nauplius.

Tahap Metamorfosis Udang Windu


Telur udang windu akan menetas dalam jangka waktu 18-24 jam tergantung suhu

dan oksigen. Perbedaan suhu 4 0C ( 28 dan 32 0C) dapat berakibat penundaan penetasan
sampai 6 jam dan kekurangan oksigen dapat mengakibatkan larva cacat atau telur tidak
menetas. Bayi udang yang baru menetas, biasa disebut larva karena mengalami beberapa kali
perubahan bentuk sebelum mirip secara morfologis dengan udang dewasa. Perubahan stadia
dan substadia larva udang (metamorfosis) menunjukkan perubahan morfologi yang
berakibat pada perubahan cara makan, jenis makanan dan ukurannya.
Fase I disebut sebagai nauplius, tidak membutuhkan makanan dari luar karena masih cukup
tersedia kuning telur. Nauplius melewati 6 substadia nauplius1-6 yang mudah
dikenali dari ukuran panjangbadan dan panjang dan jumlah duri ekornya. Tahap berikutnya
adalah Zoea yang melalui 3 tahap. Zoea mudah dikenali dengan gerakan majunya dan
perkembangan rostrumnya. pada fase zoea larva sudah harus diberikan pakan karena pada
fase ini larva sudah mulai aktif mencari makanan sendiri di luar, terutama plankton. Oleh
karena itu pada fase zoea yang hanya berlangsung kira-kira hanya 3-4 hari, harus

diperhatikan sungguh-sungguh terutama kualitas air harus dijaga dengan baik jangan sampai
terjadi perubahan yang drastis. Sedangkan pakan Zoea memakan fitoplankton terutama
diatom sebagai sumber asupan biosilikat. Kemudian setelah itu larva udang akan memasuki
fase mysis dengan 3 substadia. Fase ini dicirikan dengan gerakannya yang melentik dan
munculnya kaki renang. Pada tahap ini larva masih tetap membutuhkan diatom dengan
jumlah yang tentu lebih banyak. Tahap terakhir adalah post larva, ditandai dengan
kemiripannya dengan bentuk udang dewasa, gerak maju larva dan adanya kaki renang
sempurna

dan

capit

di

kaki jalan.

Kecepatan

tumbuhnya

ditunjang

oleh

asupan protein tinggi dari mangsa nauplii artemia.


Nauplius

Ciri-ciri yang menonjol


Nauplius I
Badan masih berbentuk bulat telur tetapi sudah mempunyai anggota badan tiga pasang.
Nauplius II
Badan masih bulat, tetapi pada ujung antena utama terdapat serta (rambut) yang satu
panjang dan yang dua lainnya pendek.
Nauplius III
Tunas maxilla dan maxilliped mulai tampak, demikian juga furcal yang jumlahnya dua buah
mulai jelas terlihat, masing-masing tiga duri spina.
Nauplius IV
Pada antena kedua mulai tampak beruas-ruas dan setrip furscal terdapat empat buah duri
Nauplius V
Organ bagian depan sudah mulai tampak jelas disertai dengan tonjolan maxilla.

Nauplius VI
Perkembangan bulu-bulu makin sempurna dan duri furkal makin panjang.
Zoea -1

Badan pipih, mata dan carapace mulai tampak, maxilla pertama dan kedua, maxilliped
pertama dan kedua mulai berfungsi, alat pencernaan makanan tampak jelas.
Zoea -2

Mata mulai bertangkal carapace sudah terlihat restum dan duri subraobital yang bercabang.

Zoea-3
Sepasang uropodha yang bercabang dua mulai berkembang dan duri pada ruas-ruas mulai
tumbuh.

Mysis-1
Bentuk badan ramping dan memanjang seperti udang muda, tetapi kaki renang sudah
tampak.

Mysis-2
Tunas kaki renang mulai tampak nyata tetapi belum beruas .

Mysis-3

Tunas kaki renang mulai bertambah panjang dan beruas-ruas.

PL-1
Post larva (PL) perubahan bentuk yang paling akhir dan sempurna dari seluruh metamorfosa
larva udang adalah saat larva tersebut mencapai fase post larva (PL). pada fase ini, larva tidak
mengalami perubahan bentuk, karena seluruh bagian anggota tubuh lengkap dan sempurna
seperti udang windu dewasa, dengan bertambah umur, larva hanya mengalami perubahan
panjang dan berat. Sedangkan paling menonjol dari mulainya post larva adalah tidak suka
melayang dalam air, tetapi lebih banyak menghuni bagian dasar, dengan makanan yang
disukai adalah zooplankton.Sutaman (1992).
Penebaran nauplius ke dalam bak pemeliharaan larva dilakukan denganpadat tebar 50 - 70
ekor / lt (hitungan berdasarkan volume air). Penebaran nauplius ini dilakukan pada pagi hari
dengan tujuan untuk menghindari perubahan suhu yang terlalu tinggi. Ciri lance nauplius
yang baik antara lain. Warna gelap kecoklatan, ukuran relative seragam, gerakan aktif, respon
terhadap cahaya, mengumpul dipermukaan bila aerasi dimatikan.
Penebaran nauplius ke dalam bak pemeliharaan larva harus dilakukan dengan hati agar
nauplius tidak stress dengan lingkungan barunya harus diaklimatisasi terlebih dahulu, juga
sebelum ditebar ke dalam bak pemeliharaan larva air media yang ada di bak pemeliharaan
larva harus dicek terlebih dahulu baik salinitas, pH, oksigen terlarut, juga suhunya. Hal ini
dilakukan agar nauplius udang dapat tumbuh dengan baik. Aklimatisasi dilakukan dengan
cara, air media yang ada di dalam bak pemeliharan larva dialirkan perlahan ke dalam baskom
yang berisi nauplius dengan menggunakan tangan secara perlahan dan hati hati.
Setelah itu nauplius dilepaskan ke dalam bak pemeliharaan dengan cara baskom
dijungkirkan perlahan – lahan ke dalam bak pemeliharaan larva sampai nauplius habis
keluar dari baskom. Setelah Nauplius berada di dalam bak pemeliharaan maka aerasi diatur
dengan baik dan diperiksa keadaan aerasi apakah berjalan dengan lancar.
Perkembangan dan Pemeliharaan Larva
Yang dimaksud larva disini adalah nauplius – mysis III (M-3). Bentuk tubuh dan
organ nauplius sampai mysis jauh berbeda dengan bentuk udang dewasa. Namun, jika sudah
masuk ke dalam stadia post larva bentuknya sudah menyerupai udang dewasa. Untuk

mencapai kesuksesan dalam pemeliharaan larva perlu penanganan yang serius dalam hal
pemberian pakan, pengelolaan kualitas air serta pengamatan perkembangan kesehatan larva.
Pengaturan Pakan.
Larva udang membutuhkan sejumlah pakan untuk kelangsungan hidupnya. Secara garis
besar pakan yang dimakan dipergunakan untuk kelangsungan hidup, selebihnya baru untuk
pertumbuhan. Dengan demikian dalam pemberian pakan untuk larva jumlahnya harus
melebihi kebutuhan untuk pemeliharaan tubuhnya, oleh karena itu seorang pembenih harus
mengetahui jumlah pakan, kebiasan dan cara makan dari setiap stadium agar tingkat
efisiensinya tinggi.

DAFTAR PUSTAKA
Efendy. MI. 1979. Metode Biologi Perikanan. Yayasan Dewi Sri Cikuray. Bogor
Muliani, A. Suwanto dan H. Lala. 2003. Isolasi dan Karakterisasi Bakteri Asal Laut Sulawesi
untuk Biokontrol Penyakit Vibriosis pada Udang Windu (Penaeus monodon Fab). Hayati,
Journal Biosasins.
Schmitton. HR. 1991. Budidaya Keramba ; Suatu Metode Produksi Ikan Di Indonesia. FRDP
Puslitbang Perikanan Jakarta. Indonesia.
Atmomarsono. M. Ahmat, Dan T. Sutarmat. 1979. Manajemen Lingkungan Tambak Udang.
Expose Hasil-Hasil Penelitian Komoditi Udang Tambak. 11 November 1977. Jakarta.
Cholik F. ZI. Azwar, T. Sutarmat Dan Ruchimat T. 1999. Teknik Rehabilitasi Dan
Penggunaan Lahan Bekas Budidaya Udang Intensif Pasca Operasional. Laporan Penelitian.
Dinas Perikanan Tingkat I Propinsi Daerah Istimewa Aceh. 1999. Statistik Perikanan Propinsi
Daerah Istimewa Aceh.
Dinas Perikanan Tingkat I Propinsi Daerah Istimewa Aceh. 1995. Statistik Perikanan Propinsi
Daerah Istimewa Aceh.
Dinas Perikanan Propinsi Daerah Istimewa Aceh. 1995. Penanggulangan Hama Dan Penyakit
Di Tambak Udang. Proyek Pengembangan Sumberdaya, Sarana Dan Prasaran Perikanan
Daerah Istimewa Aceh.
Efendy. MI. 1979. Metode Biologi Perikanan. Yayasan Dewi Sri Cikuray. Bogor

Muliani, A. Suwanto dan H. Lala. 2003. Isolasi dan Karakterisasi Bakteri Asal Laut Sulawesi
untuk Biokontrol Penyakit Vibriosis pada Udang Windu (Penaeus monodon Fab). Hayati,
Journal Biosasins.
Schmitton. HR. 1991. Budidaya Keramba ; Suatu Metode Produksi Ikan Di Indonesia. FRDP
Puslitbang Perikanan Jakarta. Indonesia.
Soetomo. 1990. Teknik Budidaya Udang Windu
Amri, K., 2003. Budidaya Udang Windu Secara Intensif. Agromedia Pustaka. Jakarta
Aquacop, 1976. Maturating and Spawning in Capacity of Penaeid Prawns, P. Marguensis and
Netapenaeus Entis. Proc. 6 th.
Annual Worksshop Worrld Marinculture Society. 123 Halaman.
Chen, J. C., Chin, T. S., and Lee, C. K. 1986. Effect of Ammonia and Nitrite on Larva