Anda di halaman 1dari 10

Reproduksi Udang Putih (Litopenaeus vannamei)

A. INTERMEZZO
Udang putih (L. vannamei) merupakan spesies introduksi yang dibudidayakan di Indonesia. Udang
putih yang dikenal masyarakat dengan udang vannamei ini berasal dari Perairan Amerika Tengah.
Negara-negara di Amerika Tengah dan Selatan seperti Ekuador, Venezuela, Panama,Brasil, dan
meksiko sudah lama membudidayakan jenis udang yang dikenal juga dengan pasific white
shrimp ini.
Di Indonesia, udang vannamei baru diintroduksi dan dibudidayakan mulai awal tahun 2000-an
dengan menunjukkan hasil yang menggembirakan. Masuknya udangvannamei ini telah
menggairahkan kembali usaha pertambakan Indonesia yang mengalami kegagalan budidaya akibat
serangan penyakit, terutama bintik putih (white spot). White spot telah menyerang tambak-tambak
udang windu baik yang dikelola secara tradisional maupun intensif meskipun telah menerapkan
teknologi tinggi dengan fasilitas yang lengkap.
Udang vannamei mempunyai beberapa keunggulan dibanding spesies udang lainnya. Berdasarkan
penelitian Boyd dan Clay (2002), produktivitasnya mencapai lebih dari13.600 kg/ha. Produktivitas
yang tinggi ini karena udang putih mempunyai beberapa keunggulan dibanding spesies jenis
lainnya, antara lain : tingkat kelulushidupan tinggi, ketersediaan benur yang berkualitas, kepadatan
tebar tinggi, tahan Penyakit dan konversi pakan rendah.
Teknologi budidaya udang terus memerlukan penelitian dan pengembangan dari waktu ke waktu.
Walaupun dalam dua dasawarsa terakhir telah mengalami perkembangan yang sangat pesat,
namun jika dibandingkan dengan teknologi pertanian (misalnya hortikultura) atau peternakan
(misalnya unggas), teknologi budidaya udang masih sangat jauh ketinggalan. Teknologi pertanian
dan peternakan telah mencapai tahap genetic engineering (rekayasa genetika) dimana secara
genetik telah ditemukan bibit unggul yang lebih produktif dan tahan terhadap penyakit. Sedangkan
teknologi budidaya udang baru memasuki tahap genetic mapping(pemetaan genetika).
Perkembangan terakhir teknologi budidaya udang difokuskan pada genetic improvement (perbaikan
genetika) melalui proses seleksi induk secara ketat. Namun proses genetic improvement ini masih
berada pada tahap seleksi secara alami.
Tingkat keberhasilan dari penerapan teknologi budidaya udang sangat bergantung pada tingkat
penguasaan teknologi lingkungan perairan (sebagai tempat hidup udang) dan biologi udang itu
sendiri. Lingkungan perairan merupakan ekosistem yang sangat kompleks, yang terdiri dari
komponen biotik dan komponen abiotik. Oleh karena itu diperlukan pemahaman yang benar
tentang ekosistem perairan (tambak) sehingga dapat senantiasa menjaga keseimbangannya.
Disamping itu, pemahaman tentang biologi udang merupakan hal yang tidak kalah penting, mulai
dari anatomi, morfologi, fisiologi, habitat dan kebiasaan makan sampai pada pemahaman structure
genetiknya serta sistem reproduksi.
Udang vannamei, sebagai salahsatu komoditi andalan perikanan saat ini, keberlangsungan dan
ketersediaannya di alam harus selalu dipertahankan, baik untuk memenuhi kebutuhan domestic,
maupun untuk keperluan ekspor. Banyak cara yang bisa dilakukan untuk tetap mempertahankan
ketersediaan stok udang vannamei ini, salahsatunya adalah dengan melakukan berbagai kajian

yang berhubungan dengan Reproduksi komoditi tersebut. Diharapkan dengan kajian ini, dapat
mempertahankan keberlangsungan spesies udang vannamei.
B. BIOLOGI UDANG VANNAMEI
1) Morfologi Udang vannamei

Gambar
Udang Vannamei
Litopenaeus vannamei, biasa juga disebut sebagai udang putih dan masuk ke dalam famili
Penaidae. Anggota famili ini menetaskan telurnya di luar tubuh setelah telur dikeluarkan oleh udang
betina. Udang Penaeid dapat dibedakan dengan jenis lainnya dari bentuk dan jumlah gigi pada
rostrumnya. Penaeid vannamei memiliki 2 gigi pada tepi rostrum bagian ventral dan 8-9 gigi pada
tepi rostrum bagian dorsal (Anonim 1, 2007). Secara lengkap klasifikasi Udang Vannamei secara
Taksonomi menurut Wyban dan Sweeney (1991) adalah sebagai berikut:

Kingdom

: Animalia

Filum

: Arthropoda

Kelas

: Malacostraca

Ordo

: Decapoda

Famili

: Panaeidae

Genus

: Litopenaeus

Spesies

: Litopenaeus vannamei

Umumnya, Tubuh udang dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu bagian kepala dan bagian badan.
Bagian kepala menyatu dengan bagian dada disebut cephalothorax yang terdiri dari 13 ruas, yaitu
5 ruas di bagian kepala dan 8 ruas di bagian dada. Bagian badan dan abdomen terdiri dari 6 ruas,
tiap-tiap ruas (segmen) mempunyai sepasang anggota badan (kaki renang) yang beruas-ruas pula.
Pada ujung ruas keenam terdapat ekor kipas 4 lembar dan satu telson yang berbentuk runcing.
Bagian kepala dilindungi oleh cangkang kepala atau Carapace. Bagian depan meruncing dan
melengkung membentuk huruf S yang disebut cucuk kepala atau rostrum. Pada bagian atas
rostrum terdapat 7 gerigi dan bagian bawahnya 3 gerigi untuk P. monodon. Bagian kepala lainnya
adalah :
1.

Sepasang mata majemuk (mata facet) bertangkai dan dapat digerakkan.

2.

Mulut terletak pada bagian bawah kepala dengan rahang (mandibula) yang kuat.

3.

Sepasang sungut besar atau antena.

4.

Dua pasang sungut kecil atau antennula.

5.

Sepasang sirip kepala (Scophocerit).

6.

Sepasang alat pembantu rahang (Maxilliped).

7.

Lima pasang kaki jalan (pereopoda), kaki jalan pertama, kedua dan ketiga bercapit
yang dinamakan chela.

8.

Pada bagian dalam terdapat hepatopankreas, jantung dan insang.

9.

Bagian badan tertutup oleh 6 ruas, yang satu sama lainnya dihubungkan oleh selaput
tipis. Ada lima pasang kaki renang (pleopoda) yang melekat pada ruas pertama sampai
dengan ruas kelima, sedangkan pada ruas keenam, kaki renang mengalami perubahan
bentuk menjadi ekor kipas (uropoda). Di antara ekor kipas terdapat ekor yang meruncing
pada bagian ujungnya yang disebut telson. Organ dalam yang bisa diamati adalah usus
(intestine) yang bermuara pada anus yang terletak pada ujung ruas keenam.

Tubuh udang vannamei dibentuk oleh dua cabang (biramous), yaitu exopodite danendopodite.
Udang vannamei memiliki tubuh berbuku buku dan aktivitas berganti kulit luar atau eksoskeleton
secara periodik (moulting). Kepala (thorax) udangvannamei terdiri dari antenula, antenna,
mandibula dan dua pasang maxillae. Kepala udang vannamei juga dilengkapi dengan 3
pasang maxilliped dan 5 pasang kaki berjalan (peripoda) atau kaki sepuluh
(decapoda). Maxilliped sudah mengalami modifikasi dan berfungsi sebagai organ untuk makan.
Endopodite kaki berjalan menempel pada cephalothorax yang dihubungkan oleh coxa.
Bentuk peripoda beruas ruas yang berujung dibagian dactylus. Dactylus ada yang berbentuk capit
(kaki ke-1, ke-2 dan ke-3) dan tanpa capit (kaki ke-4 dan ke-5). Diantara coxa dan dactylus
terdapat ruang yang berturut turut disebut basis, ischium, merus, carpus dan cropus. Pada
bagian ischium terdapat duri yang bisa digunakan untuk mengidentifikasi beberapa spesies
Pennaeid dalam taksonomi. Perut (abdomen) udang terdiri dari 6 ruas. Bagian abdomen terdapat 5
pasang kaki renang dan sepasang uropods (mirip ekor) yang membentuk kipas bersama sama
telson.
2) Habitat Udang Vannamei
Udang Vannamei adalah jenis udang laut yang habitat aslinya di daerah dasar dengan kedalaman
72 meter. Udang vannamei dapat ditemukan di perairan/lautan Pasifik mulai dari Mexico, Amerika
Tengah dan Selatan. Udang vannamei relatif mudah dibudidayakan. Sedangkan untuk pejantan
pada udang vannamei setelah menjadi dewasa memiliki ciri ciri sebagai berikut; petasma menjadi
simetris, agak terbuka, tak mempunyai penutup, kurangnya proyeksi distomedian, mempunyai
sirip costaeyang pendek sehingga tidak dapat menjangkau sampai tepi distal dan terbuka dengan
jelas.
Habitat udang Penaeid usia muda adalah air payau, seperti muara sungai dan pantai. Semakin
dewasa udang jenis ini semakin suka hidup di laut. Ukuran udang menunjukkan tingkatan usia.
Dalam habitatnya, udang dewasa mencapai umur 1,5 tahun. Pada waktu musim kawin tiba, udang
dewasa yang sudah matang telur atau calon spawner berbondong-bondong ke tengah laut yang
dalamnya sekitar 50 meter untuk melakukan perkawinan. Udang dewasa biasanya berkelompok
dan melakukan perkawinan, setelah udang betina berganti cangkang (Murtidjo1989).

Di dalam kondisi budidaya, udang vannamei hidup mendiami seluruh kolom air, dari dasar hingga
lapisan permukaan. Sifat tersebut memungkinkan udang tersebut dipelihara di tambak dalam
keadaan padat .
3) Makanan Udang Vannamei
Semula digolongkan ke dalam hewan pemakan segala macam bangkai (omnivorous scavenger)
atau pemakan detritus. Dari hasil penelitian terhadap usus udang menunjukkan bahwa udang ini
adalah karnivora yang memakan crustacea kecil, amphipoda dan polychaeta.
Secara alami L. vannamei merupakan hewan nocturnal yang aktif pada malam hari untuk mencari
makan, sedangkan pada siang hari sebagian dari mereka bersembunyi di dalam substrat atau
lumpur. Namun di tambak budidaya dapat dilakukan feedingdengan frekuensi yang lebih banyak
untuk memacu pertumbuhannya.
L. vannamei membutuhkan makanan dengan kandungan protein sekitar 35%, lebih kecil jika
dibandingkan udang-udang Asia seperti Penaeus monodon danPenaeus japonicus yang
membutuhkan pakan dengan kandungan protein hingga 45%. Dan ini akan berpengaruh terhadap
harga pakan dan biaya produksi.
4) Daur Hidup Udang Vannamei
Hidup udang penaeid sejak telur mengalami fertilisasi dan lepas dari tubuh induk betina menurut
Martosudarmo dan Ranoemihardjo (1983), akan mengalami berbagai macam tahap, yaitu :
1.

Nauplius

Stadia Nauplius terbagi atas enam tahapan yang lamanya berkisar 46-50 jam untuk Litopenaeus
vannamei, belum memerlukan pakan karena masih mempunyai kandungan telur
2.

Zoea

Stadia zoea terbagi atas tiga tahapan, berlangsung selama kira-kira 4 hari. Stadia zoea sangat
peka terhadap perubahan lingkungan terutama kadar garam dan suhu air. Zoea mulai
membutuhkan pakan berupa fitoplankton (Skeletonema sp.)
3.

Stadia mysis

Terbagi atas tiga tahapan, yang lamanya 4-5 hari. Bentuk udang stadia mysis mirip udang dewasa,
bersifat planktonis dan bergerak mundur dengan cara membengkokkan badannya. Udang stadia
mysis mulai menggemari pakan berupa zooplankton, misalnya Artemia salina.
4.

Post larva

Stadia larva ditandai dengan tumbuhnya pleopoda yang berambut (setae) untuk renang. Stadia
larva bersifat bentik atau organisme penghuni dasar perairan, dengan pakan yang disenangi berupa
zooplankton.

Gambar Siklus hidup udang Penaeid (Stewart, 2005)

C. Sistem Reproduksi
1) Organ Reproduksi Udang vannamei
Organ reproduksi udang vannamei betina terdiri dari sepasang ovarium, oviduk, lubang genital, dan
thelycum. Oogonia diproduksi secara mitosis dari epitelium germinal selama kehidupan reproduktif
dari udang betina. Oogonia mengalami meiosis, berdiferensiasi menjadi oosit, dan dikelilingi oleh
sel-sel folikel. Oosit yang dihasilkan akan menyerap material kuning telur (yolk) dari darah induk
melalui sel-sel folikel (Wyban et al., 1991).

A. Petasma
jantan B. Satu dari sepasang appendix masculine
C. Satu dari sepasang terminal ampoule D. Open thelycum
Gambar Struktur Reproduksi Eksternal Udang Vannamei
Organ reproduksi utama dari udang jantan adalah testes, vasa derefensia, petasma, dan
apendiks maskulina. Sperma udang memiliki nukleus yang tidak terkondensasi dan bersifat
nonmotil karena tidak memiliki flagela. Selama perjalanan melalui vas deferens, sperma yang
berdiferensiasi dikumpulkan dalam cairan fluid dan melingkupinya dalam sebuah chitinous
spermatophore (Wyban et al., 1991). Leung-Trujillo (1990) menemukan bahwa jumlah
spermatozoa berhubungan langsung dengan ukuran tubuh jantan.
2) Proses Perkawinan (mating) Induk Udang vannamei
Udang vannamei melakukan mating (perkawinan) apabila udang betina telah matang telur yang
ditandai dengan warna orange pada punggungnya, udang jantan segera memburu oleh rangsangan

feromon yang dikeluarkan oleh betina dan terjadilah mating. Dari hasil mating tersebut sperma
akan ditempelkan pada telikum, 4-5 jam kemudian induk betina tersebut akan mengeluarkan telur
(spawning) dan terjadilah pembuahan (Wyban and Sweeney, 1991)

Gambar Perilaku Kawin Induk Udang vannamei


Perilaku kawin pada udang vannamei pada wadah pemijahan dipengaruhi oleh beberapa faktor
lingkungan seperti temperatur air, kedalaman, intensitas cahaya, fotoperiodisme, dan beberapa
faktor biologis seperti densitas aerial dan rasio kelamin (Yano et al., 1988). Menurut Dunham
(1978) dalam Yano, et al (1988), bahwa adanya perilaku kawin pada krustasea disebabkan adanya
feromon. Udang jantan hanya akan kawin dengan udang betina yang memiliki ovarium yang sudah
matang. Kontak antena yang dilakukan oleh udang jantan pada udang betina dimaksudkan untuk
pengenalan reseptor seksual pada udang (Burkenroad, 1974, Atema et al., 1979, Berg and Sandfer,
1984 dalam Yano, et al., 1988).
Proses kawin alami pada kebanyakan udang biasanya terjadi pada waktu malam hari (Berry, 1970,
McKoy, 1979 dalam Yano, 1988). Tetapi, udang vannamei paling aktif kawin pada saat matahari
tenggelam.
Spesies udang vannamei memiliki tipe thelycum tertutup sehingga udang tersebut kawin saat
udang betina pada tahap intermolt atau setelah maturasi ovarium selesai, dan udang akan bertelur
dalam satu atau dua jam setelah kawin (Wyban et al., 2005).
3) Peneluran dan Perkembangan Telur
Peneluran terjadi saat udang betina mengeluarkan telurnya yang sudah matang. Proses tersebut
berlangsung kurang lebih selama dua menit. Udang vannamei biasa bertelur di malam hari atau
beberapa jam setelah kawin. Telur-telur dikeluarkan dan difertilisasi secara eksternal di dalam air.
Seekor udang betina mampu menghasilkan setengah sampai satu juta telur setiap bertelur. Dalam
waktu 13-14 jam, telur kecil tersebut berkembang menjadi larva berukuran mikroskopik yang
disebut nauplii/ nauplius (Perry, 2008). Tahap nauplii tersebut memakan kuning telur yang
tersimpan dalam tubuhnya lalu mengalami metamorfosis menjadi zoea.
Tahap kedua ini memakan alga dan setelah beberapa hari bermetamorfosis lagi menjadi mysis.
Mysis mulai terlihat seperti udang kecil dan memakan alga dan zooplankton. Setelah 3 sampai 4
hari, mysis mengalami metamorfosis menjadi postlarva. Tahap postlarva adalah tahap saat udang
sudah mulai memiliki karakteristik udang dewasa. Keseluruhan proses dari tahap nauplii sampai
postlarva membutuhkan waktu sekitar 12 hari. Di habitat alaminya, postlarva akan migrasi menuju

estuarin yang kaya nutrisi dan bersalinitas rendah. Mereka tumbuh di sana dan akan kembali ke
laut terbuka saat dewasa. (Anonim, 2008).
D. Teknik Pembenihan Udang vannamei
1) Karakteristik Induk
Udang yang dijadikan sebagai induk (broodstock) sebaiknya bersifat SPF (Specific Pathogen Free).
Udang tersebut dapat dibeli dari jasa penyedia udang induk yang memiliki sertifikat SPF.
Keunggulan udang tersebut adalah resistensinya terhadap beberapa penyakit yang biasa
menyerang udang, seperti white spot, dan lain-lain. Udang tersebut didapat dari sejumlah besar
famili dengan seleksi dari tiap generasi menggunakan kombinasi seleksi famili, seleksi massa
(WFS) dan seleksi yang dibantumarker. Induk udang tersebut adalah keturunan dari kelompok
famili yang diseleksi dan memiliki sifat pertumbuhan yang cepat, resisten terhadap TSV dan
kesintasan hidup di kolam tinggi.
Karakteristik induk udang baik yang lain adalah udang jantan dan betina memiliki karakteristik
reproduksi yang sangat bagus. Spermatophore jantan berkembang baik dan berwarna putih
mutiara. Udang betina matang secara seksual dan menunjukkan perkembangan ovarium yang
alami. Berat udang jantan dan betina sekitar 40 gram dan berumur 12 bulan.
2) Proses Pembenihan Secara Konvensional
Proses pembenihan yang biasa dilakukan pada kebanyakan pembenuran (hatchery) udang
komersial adalah dengan cara perkawinan alami untuk menghasilkan larva. Keuntungan
perkawinan alami dibandingkan dengan inseminasi buatan adalah jumlah nauplii yang dihasilkan
tiap udang betina sekali bertelur lebih banyak dibandingkan nauplii yang dihasilkan dengan metode
inseminasi buatan (Yano et al., 1988).
Induk udang vannamei dikumpulkan dan dipelihara dalam kondisi normal untuk maturasi dan kawin
secara alami. Setiap sore dilakukan pemeriksaan untuk melihat udang betina yang sudah kawin lalu
dipindah ke tangki peneluran (spawning tank). Betina yang sudah kawin akan memperlihatkan
adanya spermatophore yang melekat. Saat pagi hari, betina yang ada di dalam tangki peneluran
dipindahkan lagi ke dalam tangki maturasi (maturation tank). Dalam waktu 12-16 jam, telur-telur
dalam tangki peneluran akan berkembang menjadi larva tidak bersegmen atau nauplii (Wyban et
al., 1991).
Menurut Caillouet (1972), Aquacop (1975), dan Duronslet et al., (1975), ovum pada udang betina
biasanya mengalami reabsorbsi tanpa adanya peneluran lagi. Masalah tersebut dapat dikurangi
dengan cara ablasi salah satu tangkai mata yang menyediakan hormon yang berfungsi sebagai
stimulus untuk reabsorbsi ovum (Arnstein dan Beard, 1975; Wear dan Santiago, 1977). Beberapa
peneliti telah menunjukkan bahwa ablasi juga dapat meningkatkan pertumbuhan udang (Hameed
dan Dwivedi, 1977). Ablasi dilakukan dengan cara membakar, mengeluarkan isi dari salah satu
batang mata keluar melalui bola mata, dan melukai batang mata dengan gunting (Wyban et
al., 2005).
Udang yang akan diablasi dipersiapkan untuk memasuki puncak reproduktif. Jika ablasi dilakukan
saat tahap premolting maka akan menyebabkan molting, ablasi segera setelah

udang molting dapat menyebabkan kematian, dan ablasi selamaintermolt menyebabkan


perkembangan ovum (Adiyodi, 1970).
a. Sistem Maturasi
i. Gedung Maturasi
Induk udang membutuhkan suasana lingkungan yang tenang untuk maturasi yang baik. Oleh
karena itu, fasilitas maturasi harus dibagi menjadi tiga ruangan yang terpisah, yaitu ruang tangki
maturasi, ruang tangki peneluran (spawning tanks), dan ruang untuk persiapan makanan
(Wyban et al.,1991).
ii. Ruang Tangki Maturasi (Maturation Tanks)
Setiap tangki maturasi difasilitasi oleh pipa untuk penyediaan air laut. Flownwaterdigunakan
pada tiap jalur suplai untuk mengontrol pertukaran air. Saluran udara yang terletak di tengah
tangki menyediakan udara menuju tangki. Saluran udara tersebut juga digunakan untuk menjaga
kedalam air dalam tangki tetap pada 18 inchi (Wybanet al., 1991). Kotak lampu 75 watt
digantungkan diatas tangki. Plastik diffuser pada kotak lampu berfungsi untuk menyebarkan
cahaya, dan mencegah cahaya yang berlebihan masuk dalam tangki dibawahnya. Mesin
sunrise/sunset (lampu yang dikontrol oleh waktu dan rheostat) mengontrol fotoperiodisme dalam
masing-masing tangki dan meningkatkan cahaya secara bertahap dari keadaan gelap gulita
menjadi cahaya penuh pada pertengahan hari (Wyban et
al.,1991).

Gambar Tangki maturasi (Courtland, 1999)


iii. Ruang Tangki Peneluran (Spawning Tanks)
Spawning tanks memiliki dasar yang rata. Masing-masing tangki berisi air laut dan saluran
udara di tengah tangki. Kaca fiber ditambahkan dalam tangki sehingga enam ekor udang yang
sudah kawin dapat bertelur dengan segera (Wyban et al.,1991).
iv. Sistem Air
Kualitas air harus diatur dan dipelihara pada kondisi menyerupai lingkungan alami udang Penaeid.
Air laut yang dimasukkan ke dalam tangki maturasi dan spawning tanks harus mengalami beberapa
perlakuan dahulu, antara lain penghilangan materi organik yang terlarut dengan cara filtrasi dan
pengendapan, ozonisasi untuk menghilangkan sebagian besar mikroorganisme, dan pendinginan air

(25oC 28oC) agar didapat suhu yang menyerupai habitat asli udang Penaeid. Thermostat diatur
pada suhu 27oC dan fluktuasi temperatur harian diatur agar kurang dari 0,5 oC.
v. Alarm
Sistem alarm mengawasi beberapa parameter yang penting dalam sistem maturasi. Satu alarm
terhubung pada kedalaman air dalam reservoir. Jika air turun sebanyak 15 cm dalam tangki, alarm
akan berbunyi. Sistem alarm lain terhubung pada suplai udara.
b. Manajemen Sistem Maturasi
i. Stocking
Setiap tangki maturasi ditempati oleh udang jantan yang lebih banyak daripada jumlah udang
betina (5-6 udang/m 2). Udang jantan seharusnya memiliki berat 40 gram atau lebih. Karena
pertumbuhan udang jantan yang lambat, berat udang dibawah 40 gram biasanya menyebabkan
udang tersebut kuran produktif. Udang jantan dengan melanisasi yang parah pada petasma atau
spermatophore tidak dimasukkan ke dalam tangki maturasi. Berat udang betina seharusnya
mencapai 48 gram atau lebih (Wyban et al., 1991).
ii. Penandaan (Tagging)
Setiap induk harus ditandai sehingga dapat dihitung dan diidentifikasi. Penanda diselipkan pada
batang mata. Sistem ini juga berfungsi untuk mencari beberapa hewan untuk dieliminasi (Wyban et
al., 1991).
iii. Ablasi
Setelah satu minggu dalam tangki maturasi, udang induk betina dilakukan ablasi pada batang
mata. Pemotongan menggunakan pisau atau gunting yang dibakar sebelumnya agar steril. Saat
udang betina sudah ditandai dan diablasi, sistem operasi menuju ke aktivitas rutin harian
(Wyban et al., 1991).

3). Pembenihan Dengan Cara Inseminasi Buatan


Inseminasi buatan biasa dilakukan oleh penyedia induk udang yang bersifat unggul, seperti udang
dengan sertifikasi SPF (Specific Pathogen Free).
Teknik ini dilakukan agar keturunan yang diperoleh dapat dipastikan dari induk yang unggul dan
tidak terjadi inbreeding. Teknik untuk menghasilkan induk unggul ini membutuhkan prosedur dan
peralatan yang sangat canggih dan mahal, salah satu caranya adalah menggunakan
teknik fingerprinting. Selain itu, jumlah telur dan nauplii yang dihasilkan lebih sedikit bila
dibandingkan perkawinan secara alami. Pertama-tama, udang betina ditangkap dan dilihat
perkembangan ovariumnya. Betina yang sudah memiliki ovarium berkembang akan memiliki warna
kehijauan pada lobus ovarium yang terletak pada bagian dasar carapace (Arce et al., 2008).

Gambar Udang dengan ovarium yang sudah berkembang


Spermatophore yang sudah berkembang dari udang jantan dikeluarkan secara manual dengan cara
menekan spermatophore secara hati-hati sampai spermatophore keluar dari lubang genital.
Spermatophore yang sehat tidak menunjukkan adanya melanisasi, berwarna putih, agak
bengkak,dan keras jika disentuh (Arce, 2008).
Udang betina yang ovariumnya sudah berkembang dipegang pelan sampai thelycum nya terlihat.
Thelycum tersebut dikeringkan dengan menggunakan kertas handuk. Spermatophore ditempatkan
di antara jari dan index finger lalu spermatophore ditekan dari ujung yang tertutup ke ujung yang
terbuka. Tekanan tersebut membuat pecah kantung sperma dan membebaskan sperma yang
membentuk tetesan antara jari dan index finger. Hal tersebut memisahkan massa sperma dari
bahan gelatin dan spermatophore (Arce et al., 2008).
Udang betina dipegang rapat-rapat lalu tetesan sperma diletakkan ke dalam thelycum. Setelah
sperma diletakkan pada posisi yang tepat, posisi poreopod dikembalikan ke posisi semula yang
membantu mengunci masa sperma. Udang betina tersebut ditempatkan pada spawning
tank selama satu malam. Proses ini harus diselesaikan dalam waktu kurang dari 1 menit untuk
mengurangi tekanan pada udang betina (Arceet al., 2008).

http://tuturanbermakna.wordpress.com/2011/04/29/reproduksipada-udang-putih-litopenaeus-vannamei/