Anda di halaman 1dari 90

ISBN : 979-95483-5-7

BAB. I PENDAHULUAN Perikanan menjadi salah satu sektor andalan penting Indonesia dalam menghadapi era globalisasi ini. Hal ini dibuktikan dengan terbentuknya departemen tersendiri yaitu sumberdaya alam maupun Departemen Kelautan dan Perikanan. Kelebihan sektor perikanan dibandingkan sektor lainnya adalah potensinya yang sangat besar baik sumberdaya manusia. Selain itu, perikanan menyangkut pula hajat hidup orang banyak sehingga keberadaanya dapat dirasakan sebagian besar masyarakat Indonesia. Upaya peningkatan sumber devisa negara dari sektor perikanan adalah dengan pengembangan perikanan yang berbasis kerakyatan. Salah satu caranya yaitu dengan mengembangkan usaha budidaya ikan kerapu di karamba jaring apung (KJA). Ikan kerapu diketahui merupakan salah satu komoditas yang penting karena bersifat export oriented sehingga nilainya makin tinggi ketika nilai tukar US $ semakin menguat. Jenis-jenis ikan laut yang berhasil dibudidayakan adalah ikan kerapu macan (Epinephellus fuscoguttatus) dan kerapu tikus (Cromileptes altivelis). Budidaya kedua spesies tersebut telah berhasil diaplikasikan di perairan pesisir Lampung oleh masyarakat dengan bimbingan Balai Budidaya Laut. Penguasaan teknologi yang menyeluruh mengenai budidaya ikan kerapu di KJA merupakan kunci dari keberhasilan usaha itu sendiri. Penguasaan ini meliputi pengetahuan internal mengenai biologi dan kebiasan hidup ikan kerapu yang dipelihara serta beberapa faktor eksternal seperti teknik budidaya, pakan, lingkungan perairan serta hama dan penyakit ikan. Di samping itu, pengetahuan yang tepat mengenai lokasi budidaya serta penentuan sarana dan prasarana pendukung yang sesuai menjadi faktor lain yang dapat mengoptimalkan usaha budidaya ikan kerapu di KJA ini. Teknik budidaya ikan kerapu macan dan kerapu tikus di KJA relatif sama yaitu meliputi pendederan, penggelondongan serta pembesaran. Ketiga tahapan ini Fase dibedakan berdasarkan ukuran awal tebar serta ukuran akhir ikan dipanen.

pendederan memiliki ukuran awal tebar larva hari ke-40 s/d 60 (D-40 D-60) dan dipanen pada ukuran 25-30 gram/ekor untuk selanjutnya dijadikan ukuran awal fase penggelondongan. Fase penggelondongan dipanen pada ukuran 75 100 gram/ekor, untuk kemudian dijadikan awal fase pembesaran yang berakhir pada ukuran konsumsi yaitu antara 400 600 gram/ekor. Ketiga fase di atas memerlukan waktu yang berbeda untuk masing-masing ikan. Ikan kerapu macan memerlukan waktu 8 10 bulan untuk dipanen, sedangkan kerapu tikus 14 17 bulan. Pakan merupakan aspek eksternal penting dalam budidaya ikan, sebab pakan merupakan satu-satunya masukan gizi dan energi dari luar untuk menunjang pertumbuhannya. Pemberian pakan dengan kualitas dan kuantitas yang baik dapat mengoptimalkan usaha budidaya ikan kerapu di KJA. Hal ini disebabkan karena lebih dari 60% biaya produksi budidaya berasal dari pakan. Pakan utama ikan kerapu macan dan kerapu tikus adalah ikan rucah, sedangkan pakan alternatif yang sedang dalam tahap pengembangan adalah pakan buatan. Pemantauan kualitas perairan yang kontinyu merupakan faktor eksternal lain yang menentukan keberhasilan budidaya. Hal ini disebabkan oleh keterkaitan yang erat antara lingkungan perairan dengan timbulnya hama dan penyakit pada ikan yang dipelihara. Hama dan penyakit diketahui sering menjadi penyebab utama kegagalan budidaya ikan kerapu di KJA. Pencegahan merupakan alternatif terbaik dibandingkan pengobatan. Salah satu cara untuk mencegah terjangkitnya ikan kerapu oleh hama dan penyakit adalah dengan pemantauan kualitas perairan di lokasi beserta komponenkomponen pendukungnya. Selain itu, pengetahuan mengenai jenis dan dosis bahan kimia, obat-obatan dan cara pengobatannya dapat menjadi nilai lebih untuk meraih keberhasilan dalam usaha budidaya ikan. Teknik panen dan metode transportasi memegang peranan penting dalam kelancaran usaha budidaya ikan. Seperti diketahui bahwa ikan kerapu merupakan ikan komoditas ekspor yang memiliki nilai jual lebih bila berada dalam keadaan hidup. Berdasarkan

hal tersebut, penguasaan teknik panen dan pemilihan metode transportasi yang tepat dapat menjadi kunci peningkatan nilai jual komoditi yang sekaligus meningkatkan pendapatan perusahaan. Aspek-aspek pendukung budidaya di atas akan menjadi sia-sia bila usaha budidaya menghasilkan nilai akhir yang negatif dalam ekonomi. Oleh karena itu, perhitungan yang matang dan terencana atas komponen-komponen utama maupun pendukung perlu dilakukan. Perhitungan tersebut dijabarkan dalam sebuah analisis usaha yang secara langsung akan menentukan tingkat keberadaan dan prospek uasa tersebut di masa yang akan datang. Budidaya ikan kerapu di KJA merupakan usaha yang layak untuk dikembangkan berdasarkan hasil analisis usaha yang dijabarkan pada akhir bagian buku ini.

ISBN : 979-95483-5-7 BAB. II BIOLOGI KERAPU Evalawati, Maya Meiyana, dan Tiya Widi Aditya

A. Latar Belakang Ikan Kerapu merupakan salah satu jenis ikan laut yang mempunyai prospek yang bagus untuk dikembangkan sebagai ikan budidaya karena mempunyai nilai ekonomis yang tinggi baik di pasaran lokal maupun international. Ikan kerapu juga potensial untuk dibudidayakan karena pertumbuhannya relatif cepat, mudah untuk dipelihara, mempunyai toleransi yang tinggi terhadap perubahan lingkungan, dan tahan terhadap ruang terbatas atau dapat dikembangkan pada karamba jaring apung. Keberhasilan dalam usaha budidaya ikan tergantung pengetahuan tentang biologi ikan kerapu yang meliputi : Taksonomi, morfologi, penyebaran/distribusi, habitat, pakan dan kebiasaan makannya. Dengan mengetahui biologi Kerapu maka usaha pengembangan teknologi budidaya ikan kerapu yang dilakukan di karamba jaring apung akan cepat dicapai, sehingga hal ini dapat mendukung kegiatan budidaya ikan yang saat ini mulai berkembang.

B.

Taksonomi dan Morfologi Kerapu Menurut Randall, 1987, klasifikasi ikan kerapu macan adalah sebagai berikut : Phylum Subphylum Class Sub class : : : : Chordata Vertebrata Osteichtyes Actinopterigi

Ordo Sub ordo Family Genus Species:

: : : :

Percomorphi Percoidea Serranidae Epinephelus

Epinephelus fuscoguttatus

Ikan kerapu macan mempunyai banyak nama lokal. Di Australia orang mengenal kerapu macan dengan nama flowery cod. Di India dikenal dengan nama fana, chammamm, dan di Jepang orang mengenal dengan nama aka-madarahata. Bagi orang Philipina ikan kerapu macan dikenal dengan nama Garopa (Tagalog), Pugopa (Visayan), dan di Singapura dengan nama Tiger Grouper, Marble grouper. Sedangkan di Indonesia dan Malaysia dikenal dengan nama kerapu bebeh dan kerapu hitam. Heemstra (1993), telah mendiskripsikan morfologi ikan kerapu macan sebagai

berikut : Bentuk badan memanjang gepeng atau agak membulat, luasan antar pusat (kepala) datar cenderung cekung. Kepala bagian depan untuk ikan dewasa terdapat lekukan mata yang cekung sampai dengan sirip punggung. Pre operculum membundar dengan pinggiran bergerigi dengan tepi bagian atas cekung menurun secara vertikal ke hampir ujung operculum. Bagian tengah rahang bawah terdiri dari 3 atau 4 baris gigi dengan barisan bagian dalam dua (2) kali lebih panjang daripada bagian luar. Tapis insang terdiri dari 10 12 tungkai atas dan 17 21 tungkai bawah dengan bagian dasar tidak terhitung. Sirip punggung terdiri dari 14 15 tulang rawan dan 11 tulang keras dengan barisan ke-3 atau ke-4 lebih panjang sedangkan pada sirip anus terdapat 3 tulang keras dan 8 tulang rawan dengan panjang 2,0 2,5 bagian panjang kepala. Warna tubuh coklat muda dengan lima seri tompel coklat besar yang tidak beraturan. Badan, kepala dan sirip ditutupi oleh titik-titik kecil coklat dimana pada bagian tompel berwarna lebih gelap. Sirip ekor membundar dan mata besar menonjol. Panjang standar untuk ikan dewasa 11 55 cm.

Menurut Weber and Beofort, (1940) dalam Ahmad (1991), klasifikasi ikan kerapu tikus adalah sebagai berikut : Phylum Subphylum Class Sub class Ordo Sub ordo Family Genus Species: : : : : : : : : Chordata Vertebrata Osteichtyes Actinopterigi Percomorphi Percoidea Serranidae Cromileptes

Cromileptes altivelis

Ikan kerapu tikus juga mempunyai banyak nama lokal. Ikan ini di Australia dikenal dengan nama Barramundi cod, dan di Jepang dengan nama Sarasa-hata. Sedangkan di Philipina dikenal dengan nama Lapu-Lapung Senorita (Tagalog), Miro-miro(Visayan), serta di Singapura Polka-dotgrouper. Bagi orang Indonesia dan Malaysia kerapu tikus dikenal dengan nama kerapu tikus, kerapu belida dan kerapu sonoh. Istilah ikan hias kerapu tikus dikenal dengan nama Panther fish. Ikan kerapu tikus mempunyai ciri-ciri morfologi sirip punggung dengan 10 duri keras dan 18 19 duri lunak, sirip perut dengan 3 duri keras dan 10 duri lunak, sirip ekor dengan 1 duri keras dan 70 duri lunak. Panjang total 3,3 3,8 kali tingginya, panjang kepala seperempat panjang total, leher bagian atas cekung dan semakin tua semakin cekung, mata seperenam kepala, sirip punggung semakin kebelakang melebar, warna putih kadang kecoklatan dengan totol hitam pada badan, kepala dan sirip. Weber and Beofort (1940) dalam Ahmad (1991). Sedangkan menurut Heemstra and Randall (1993) seluruh permukaan tubuh kerapu tikus berwarna putih keabuan, berbintik bulat hitam dilengkapi sirip renang berbentuk melebar serta moncong kepala lancip menyerupai bebek atau tikus.

C. Penyebaran/Distribusi Ikan kerapu macan tersebar luas dari wilayah Asia Pasifik termasuk laut merah, tetapi lebih dikenal berasal dari Teluk Persi, Hawaii atau Polynesia. Terdapat pula di hampir semua perairan pulau tropis Hindia dan samudra Pasifik Barat dari pantai Timur Afrika sampai dengan Mozambika. Ikan ini dilaporkan banyak pula ditemukan di Madagaskar, India, Thailand, Indonesia, pantai tropis Australia, Jepang, Philipina, Papua Neuguinea, dan Kaledonia Baru (Heemstra, 1993). Di perairan Indonesia yang dikenal banyak ditemukan ikan kerapu macan adalah perairan pulau Sumatera, Jawa, Sulawesi, pulau Buru, dan Ambon (Weber dan Beaufort, 1931). Ikan kerapu tikus tersebar luas di Pasific Barat mulai dari bagian selatan Jepang sampai Palau, Guam, Kaledonia baru, bagian selatan kepulauan Australia, serta bagian timur laut India dari Nicobar sampai Broome (Heemsta and Randall, 1986). Di Indonesia ikan kerapu tikus banyak ditemukan di wilayah perairan Teluk Banten, Ujung Kulon, Kepulauan Riau , Kepulauan Seribu, Kepulauan Karimunjawa, Madura, Kalimantan dan Nusa Tenggara.

D. Habitat Ikan kerapu macan hidup di dasar perairan berbatu sampai dengan kedalaman 60 meter dan daerah dangkal yang mengandung batu koral (Heemstra, 1993). Dalam siklus hidupnya ikan kerapu macan muda hidup di perairan karang dengan kedalaman 0,5 3 meter pada area padang lamun, selanjutnya menginjak dewasa menuju ke perairan yang lebih dalam, dan biasanya perpindahan ini berlangsung pada siang dan senja hari. Menurut Tampubolon dan Mulyadi (1989), telur dan larva kerapu macan bersifat pelagis, sedangkan kerapu muda hingga dewasa bersifat demersal. Ikan kerapu merupakan organisme yang bersifat nocturnal, dimana pada siang hari lebih banyak bersembunyi di liang-liang karang dan pada malam hari aktif bergerak di kolom air untuk mencari makan.

Ikan kerapu tikus banyak dijumpai di perairan batu karang, atau didaerah karang berlumpur, hidup pada kedalaman 40 meter sampai kedalaman 60 meter. Dalam siklus hidupnya ikan kerapu tikus muda hidup di perairan karang dengan kedalaman 0,5 3 meter, selanjutnya menginjak dewasa menuju ke perairan yang lebih dalam, dan biasanya perpindahan ini berlangsung pada siang dan senja hari. Menurut Tampubulon dan Mulyadi (1989), telur dan larva kerapu tikus bersifat pelagis, sedangkan kerapu muda hingga dewasa bersifat demersal. Ikan kerapu termasuk kelompok ikan stenohaline (Breet dan Groves, 1979), oleh karena itu jenis ikan ikan mampu beradaptasi pada lingkungan perairan yang berkadar garam rendah. Ikan kerapu merupakan organisme yang bersifat nocturnal, dimana pada siang hari lebih banyak bersembunyi di liang-liang karang dan pada malam hari aktif bergerak di kolom air untuk mencari makan. Menurut Chua dan Teng (1978), parameter-parameter ekologis yang cocok untuk pertumbuhan ikan kerapu, yaitu Temperatur berkisar 24 31 C, salinitas berkisar 30 33 ppt, kandungan oksigen terlarut lebih dari 3,5 ppm dan pH antara 7,8 8,0. Perairan dengan kondisi tersebut pada umumnya terdapat pada perairan terumbu karang (Nybakken, 1988).

E. Pakan dan Kebiasaan Pakan Ikan kerapu macan dan kerapu tikus merupakan hewan karnivor, sebagaimana jenisjenis ikan kerapu lainnya. Ikan kerapu macan dan kerapu tikus dewasa adalah pemakan ikan-ikan kecil, kepiting, dan udang-udangan, sedangkan larvanya pemangsa larva moluska (trokofor), rotifer, mikro krustasea, kopepoda, dan zooplankton. Sebagai ikan karnivora, kerapu cenderung menangkap mangsa yang aktif bergerak di dalam kolom air (Nybakken, 1988). Tampubulon dan Mulyadi (1989), mengungkapkan bahwa ikan kerapu mempunyai kebiasaan makan pada siang hari dan malam hari, namun lebih aktif pada waktu fajar dan senja hari.

Kerapu

biasa

mencari

makan

dengan

menyergap

mangsa

dari

tempat

persembunyiannya. Kerapu macan mempunyai kemampuan menangkap mangsa lebih cepat daripada kerapu sunu (Anonymous, 1991). Sebagai ikan karnivora, kerapu bersifat kanibalisme. Kanibalisme biasanya mulai terjadi pada larva kerapu berumur 30 hari, dimana pada saat itu larva cenderung berkumpul di suatu tempat dengan kepadatan tinggi. Berdasarkan perilaku makannya, ikan kerapu dewasa memangsa ikan-ikan kecil, crustacea dan cephalopoda yang menempati struktur tropik teratas dalam piramida rantai makanan (Randall, 1987). Tidak bedanya dengan kerapu macan, sebagai ikan karnivora kerapu tikus juga mempunyai kecenderungan bersifat kanibal, namun sifat kanibal ikan kerapu tikus tidak seperti jenis kerapu lainnya dikarenakan lebar bukaan mulut kerapu tikus lebih kecil.

DAFTAR PUSTAKA Anonymous, 1991. Operasional Pembesaran Ikan Kerapu Dalam Keramba Jaring Apung. Balai Penelitian Perikanan Budidaya Pantai Maros. Balitbangtan, Deptan, Jakarta. Heemstra, P.C. and Randall, J.E., 1993. FAO Species Catalogue vol.16 : Groupers of the World (famili Serranidae, subfamily Epinephelinae). Rome, Food and Agriculture Organization of the United Nations. Nybakken, J.W., 1988. Biologi Laut : suatu pendekatan ekologi. Gramedia, Jakarta. Randall, J.E., 1987. A Preliminary Synopsis on the Groupers (Perciformes : Serranidae, Epinephelinae) of the Indo-Pacipic Region in J.J. Polovina, S. Ralston (Editors), Tropical Snappers and Groupers : Biologi and fisheries management. Westview Press, Inc. Boulder and London. Tampubulon, G.H. dan E. Mulyadi. 1989. Synopsis Ikan Kerapu di Perairan Indonesia. Balitbangkan, Semarang.

10

ISBN : 979-95483-5-7

BAB III PEMILIHAN LOKASI BUDIDAYA Syamsul Akbar, Sudjiharno dan Sunaryat

A. Latar Belakang Usaha budidaya ikan laut menggunakan karamba jaring apung dewasa ini terus berkembang, hal ini dimungkinkan karena semakin meningkatnya permintaan akan ikan laut tersebut oleh masyarakat baik dalam maupun luar negeri. Berdasarkan analisa usaha diperkirakan budidaya ikan laut menggunakan karamba jaring apung mempunyai prospek yang cukup menguntungkan. Berdasarkan kedua alasan tersebut investor mulai ramai melakukan usaha budidaya ikan laut ini. Beberapa jenis ikan laut yang diusahakan yang mempunyai peluang pasar cukup tinggi adalah ikan kerapu tikus dan ikan kerapu macan. Kedua ikan ini disamping harganya cukup mahal, juga permintaannya cukup tinggi. Namun demikian untuk mendapatkan hasil terbaik dari usaha budidaya ikan ini beberapa faktor penting yang menunjang keberhasilan dalam usaha budidayanya perlu mendapat perhatian. Salah satu faktor yang sangat menunjang keberhasilan pembesaran ikan kerapu tikus dan macan adalah pemilihan lokasi yang yang tepat. Keberadaan lokasi yang banyak mengandung resiko, bermasalah dan tidak memenuhi persyaratan ekologis hendaknya dihindari. Lokasi yang memenuhi persyaratan secara teknis, merupakan aset yang tidak ternilai harganya, karena mampu mendukung kesinambungan usaha dan target produksi. Faktor pemilihan lokasi yang tepat meliputi dua faktor, yaitu pertimbangan umum dan persyaratan kualitas air

11

B. Pertimbangan Umum Pertimbangan umum yang dimaksud antara lain meliputi : 1. Perairan harus terlindung dari angin dan gelombang yang kuat Perairan yang terbuka dan mengalami hempasan gelombang yang besar dan angin yang kuat tidak disarankan untuk lokasi pembesaran ikan kerapu tikus, karena lokasi tersebut selain akan dapat merusak konstruksi rakit yang digunakan juga dapat menggangu aktivitas yang dilakukan dirakit seperti pemberian pakan. Tinggi gelombang yang disarankan untuk menentukan lokasi pembesaran ikan kerapu tikus adalah tidak lebih dari 0,5 meter pada saat musim Barat maupun Timur. 2. Kedalaman perairan Kedalaman perairan yang ideal untuk usaha pembesaran ikan kerapu menggunakan karamba apung adalah 5 sampai dengan 15 meter. Kedalaman perairan yang terlalu dangkal (< 5 meter) dapat mempengaruhi kualitas air dari sisa kotoran ikan yang membusuk dan perairan yang terlalu dangkal sering terjadi serangan ikan buntal yang merusak jaring. Sebaliknya kedalaman > 15 meter membutuhkan tali jangkar yang terlalu panjang. 3. Dasar Perairan Walaupun tidak secara langsung berpengaruh terhadap pertumbuhan ikan pemilharaan, namun dalam pemilihan lokasi yang cocok untuk usaha budidaya ikan kerapu, dasar perairan lokasi perlu mendapat perhatian, hal ini dikaitkan dengan habitat asli ikan kerapu, khususnya kerapu tikus dan macan. Di alam ikan kerapu macan dan kerapu tikus menyukai daerah berkarang hidup dan dasar perairan berpasir. Pemilihan lokasi yang ideal untuk usaha budidaya kerapu macan dan kerapu tikus dasar perairannya sebaiknya berkarang hidup dan berpasir putih 4. Jauh Dari Limbah Pencemaran

12

Lokasi yang jauh dari limbah buangan, seperti limbah industri, pertanian, rumah tangga serta buangan limbah tambak sangat dianjurkan. Limbah-limbah ini dapat mempengaruhi kualitas air. Limbah rumah tangga, biasanya dapat menyebabkan tingginya konsentrasi bakteri di perairan, dan limbah buangan industri dapat menyebabkan tingginya konsentrasi logam berat, sedangkan limbah buangan tambak dapat meningkatkan kesuburan perairan yang berakibat suburnya pertumbuhan organisme penempel seperti teritip dan kekerangan lainnya yang banyak menempel dan menutupi jaring pemeliharaan. 5. Tidak Mengganggu Alur Pelayaran Untuk keamanan dalam usaha budidaya ikan, maka lokasi budidaya hendaknya jauh dari alur pelayaran. Hal ini untuk menghidarkan gangguan pelayaran, baik pelayaran untuk perahu nelayan ataupun kapal motor dan kapal penumpang. Lokasi yang berdekatan atau dialur pelayaran tidak hanya menggangu pelayaran, tapi juga dapat menggangu ikan peliharaan, akibat dari suara mesin motor atau perahu yang lalu lalang dan juga gelombang dan pusaran air yang ditimbulkan oleh perahu atau kapal motor tersebut. 6. Dekat Dengan Sumber Pakan. Dekat dengan sumber pakan merupakan lokasi yang diharapkan, karena pakan merupakan kunci keberhasilan pembesaran ikan kerapu tikus. Daerah penangkapan ikan menggunakan lift-net atau bagan merupakan lokasi yang baik karena memudahkan mendapatkan pakan berupa ikan segar dan murah dari hasil tangkapan bagan tersebut. Daerah yang dekat dengan tempat pelelangan ikan akan menjamin kontinuitas pengadaan ikan rucah.

7. Dekat dengan Sarana dan Prasarana Transportasi

13

Tersedianya Sarana dan prasarana transportasi berupa jalan darat menuju ke lokasi, merupakan lokasi yang sangat baik karena dapat membantu dan memudahkan transportasi benih dan hasil panen. Hal ini dapat melancarkan penjualan hasil panen ke pasar yang dituju. 8. Keamanan Keamanan lokasi merupakan faktor yang harus diperhatikan. Lokasi yang keamanannya kurang terjamin sebaiknya tidak dipilih untuk lokasi pembesaran karena akan mengakibatkan seringnya terjadi pencurian dan hal ini dapat berakibat kerugian. C. Persyaratan Kualitas Air. Persyaratan kualitas air yang perlu diperhatikan antara lain meliputi : kualitas fisik dan kimia air. 1. Kualitas fisik air Kualitas fisik air yang dimaksud dalam pemilhan lokasi pembesaran ikan kerapu tikus dan kerapu macan antara lain meliputi : a. Kecepatan arus : Kecepatan arus yang ideal untuk pembesaran ikan kerapu macan dan kerapu tikus adalah antara 15 30 cm/detik. Kecepatan arus > dari 30 cm/detik dapat mempengaruhi posisi jaring dan sistim penjangkaran. Kuatnya arus dapat menyebabkan bergesernya posisi rakit. Sebaliknya kecepatan arus yang terlalu kecil dapat mengurangi pertukaran air keluar masuk jaring dan ini berpengaruh terhadap ketersediaan oksigen dalam jaring pemeliharaan, serta mudahnya penyakit terutama parasit menyerang ikan yang dipelihara.

b. Kecerahan

14

Kecerahan perairan merupakan salah satu indikator sangat tinggi

yang digunakan untuk

menentukan lokasi untuk pembesaran. Perairan yang tingkat kecerahannya bahkan sampai tembus dasar perairan merupakan indikator perairannya cukup jernih dan perairan tersebut sangat baik untuk lokasi pembesaran. Sebaliknya perairan yang tingkat kecerahannya sangat rendah menandakan tingkat bahan organik terlarut sangat tinggi. Perairan ini dikategorikan cukup subur dan tidak baik untuk pembesaran ikan, karena perairan yang sangat subur menyebabkan cepatnya perkembangan organisme penempel seperti lumut, cacing, kekerangan dan lain-lain yang dapat menempel dan meyebabkan cepat kotornya media pemeliharaan. Kecerahan perairan lokasi yang cocok untuk pembesaran kerapu macan dan kerapu tikus adalah > dari 2 meter. 2. Kualitas Kimia Air Kualitas kimia air biasanya menjadi pertimbangan utama didalam pemelihan lokasi, karena berkaitan erat dengan organisme yang akan dipelihara. Oleh karena itu kualitas kimia air perlu untuk diketahui sebelum menentukan lokasi untuk pembesaran ikan. Ada beberapa paremeter kualitas kimia air yang perlu diketahui antara lain : a. Salinitas (kadar garam) Lokasi yang berdekatan dengan muara, tidak dianjurkan untuk pembesaran kerapu macan dan kerapu tikus, karena lokasi tersebut salinitasnya sangat berfluktuasi karena dipengaruhi oleh masuknya air tawar dari sungai. Fluktuasi salintas bisa mempengaruhi pertumbuhan dan nafsu makan ikan kerapu yang dipelihara. Disamping itu lokasi yang berdekatan dengan muara sering mengalami stratifikasi perbedaan salinitas yang dapat menghambat terjadinya difusi oksigen secara vertikal. Salinitas yang ideal untuk pembesaran ikan kerapu macan dan kerapu tikus adalah 30 33 ppt. b. Suhu

15

Perairan laut mempunyai kecenderungan bersuhu konstan. Perubahan suhu yang tinggi dalam suatu perairan laut akan mempengaruhi proses metabolisme atau nafsu makan, aktifitas tubuh dan syaraf. Suhu optimum untuk pertumbuhan ikan kerapu macan dan kerapu tikus adalah 27 29 0C. c. Konsentrasi Ion Hidrogen (pH) Tolok ukur yang digunakan untuk menentukan kondisi perairan asam atau basa disebut pH, nilai pH dapat digunakan sebagai indeks kualitas lingkungan. Kondisi perairan dengan pH netral atau sedikit kearah basa sangat idial untuk kehidupan ikan air laut. Perairan dengan pH rendah mengakibatkan aktifitas tubuh menurun atau ikan menjadi lemah, lebih mudah terkena infeksi dan biasanya diikuti dengan tingkat mortalitas tinggi. Ikan diketahui mempunyai toleransi pada pH antara 4,0 11,0. Ikan kerapu macan dan kerapu tikus diketahui sangat baik petumbuhannya pada pH normal air laut yaitu antara 8,0 8,2. d. Oksigen Terlarut (D.O) Konsentrasi dan ketersediaan oksigen terlarut merupakan salah satu faktor pembatas bagi ikan yang dibudidayakan. Oksigen terlarut sangat dibutuhkan bagi kehidupan ikan dan organisme air lainnya. Konsentrasi oksigen dalam air dapat mempengaruhi pertumbuhan, konversi pakan, dan mengurangi daya dukung perairan. Ikan kerapu macan dan kerapu tikus dapat hidup layak dalam karamba jaring apung dengan konsentrasi oksigen terlarut lebih dari 5 ppm.

DAFTAR PUSTAKA

16

Anonymous, 1998, Baku Mutu Air Laut Untuk Biota Laut (Budidaya Perikanan), Keputusan Menteri Kependudukan dan Lingkungan Hidup, No. 02/MENKLH/1. Handoko, D, Rahardjo, B, B, dan Muawanah, 1999, Persyaratan Lokasi dalam Buku Budidaya Ikan Kakap Putih di Karamba Jaring Apung. Imanto, P.T, dan Basyarie, 1993, Budidaya Ikan Laut ; Pengembangan dan Permasalahan, Prosiding Rapat Teknis Ilmiah Penelitian dan Perikanan Budidaya Pantai di Tanjung Pinang, Balai Penelitian Perikanan Pantai, 29 April 1 Mei 1993, Maros. Sudjiharno dan Cahyo, W, 1998, Pemilihan Lokasi Pembenihan Ikan Kerapu Macan, Balai Budidaya Laut, Lampung. Tiensongrumee, 1986, B, S, Pontjoprawiro, I, Sudjarwo, Pemilihan Lokasi Budidaya Ikan Laut Dalam Karamba Jaring Apung, FAO / UNDP Kerja sama dengan Balai Budidaya Laut, Lampung.

ISBN : 979-95483-5-7

BAB IV

17

SARANA DAN PRASARANA BUDIDAYA Syamsul Akbar, Sudjiharno dan Sunaryat

A. Latar Belakang Dewasa ini minat swasta/masyarakat untuk mengembangkan usaha budidaya ikan laut seperti ikan kerapu bebek dan macan cenderung terus meningkat, hal ini dikarenakan kedua jenis ikan kerapu tersebut merupakan ikan ekonomis tinggi dan berorientasi ekspor, disamping itu permintaan pasar baik dalam maupun luar negeri dari tahun ke tahun terus meningkat. Sampai saat ini pasokan ikan kerapu hidup masih didominasi dari hasil tangkapan alam, sedangkan produksi dari hasil budidaya masih belum mencukupi. Untuk mencukupi kekurangan pasokan tersebut pengembangan usaha budidaya merupakan alternatif yang dirasakan paling tepat. Dalam usaha pembesaran ikan kerapu, sarana dan prasarana untuk menunjang keberhasilan usaha mutlak perlukan diadakan. Ada beberapa bentuk keramba jaring apung yang bisa digunakan untuk budidaya ikan laut, antara lain karamba yang berbentuk empat persegi dan karamba yang berbentuk bulat lingkaran. Ukuran karamba juga bervariasi, ada yang berukuran 5 x 5 meter, 5 x 8 meter, dan 8 x 8 meter. Sedangkan untuk karamba yang berbentuk lingkaran biasaya terbuat dari bahan pipa galvanis dengan ukuran diameter 5 meter sampai dengan 15 meter. Keramba berbentuk lingkaran ini umumnya digunakan di negara-negara seperti Jepang dan Eropa. Di Indonesia, bentuk dan ukuran karamba yang umum digunakan adalah berbentuk persegi dengan ukuran 8 x 8 meter yang terdiri dari 4 kotak dengan ukuran 3 x 3 meter untuk masing-masing kotaknya. Dalam tulisan ini penulis mencoba memberikan informasi tentang sarana dan prasarana yang digunakan dalam budidaya ikan laut terutama ikan kerapu bebek dan macan. A. Sarana Pokok

18

1.

Rakit Rakit adalah bingkai atau frame yang dilengkapi dengan pelampung untuk tempat melekatkan atau mengikatkan waring dan jaring. Rakit dapat dibuat dari bambu, kayu, pipa galvanis ataupun dari paralon. Namun bahan pembuat rakit yang umum digunakan adalah dari bambu maupun kayu. Ada tiga jenis kayu yang baik dan tahan digunakan untuk pembuatan bingkai rakit yaitu kayu gelam, kayu serdang dan kayu dari batang kelapa yang tua. Kayu kelapa yang tua selain kuat, kayu kelapa ini mudah didapat dan murah harganya. Ukuran rakit bervariasi tergantung dari skala usaha. Untuk pembesaran ikan kerapu bebek, ukuran bingkai rakit yang umum digunakan adalah ukuran 8 x 8 meter yang terbagi menjadi empat kotak dengan ukuran 3 x 3 meter per kotaknya. Dari empat kotak ukuran 3 x 3 meter bisa dibagi lagi menjadi 16 kotak ukuran 1 x 1 meter yang biasa digunakan untuk penempatan waring dan jaring pendederan dan penggelondongan (gambar 1).

Gambar 1. Rakit untuk budidaya ikan kerapu

19

Untuk membuat 1 unit rakit dibutuhkan sebanyak 14 batang kayu balok dengan rincian 12 batang untuk bingkai rakit dan 2 batang dipotong-potong (ukuran 50 cm) untuk tempat pemakuan papan pijakan dan dibutuhkan 24 keping papan dengan tebal 3 4 cm untuk pijakan. Untuk mengapungkan rakit dapat digunakan pelampung. Ada tiga jenis pelampung yang umum digunakan yaitu pelampung dari sterofoam, dari drum plastik dan drum oli atau minyak . Dari ketiga jenis pelampung ini yang paling baik adalah pelampung dari sterofoam, karena daya apungnya tinggi (gambar 2. Pelampung styrofoam), namun harganya sangat mahal dibandingkan dengan dua jenis pelampung drum plastik dan drum oli/minyak. Untuk satu unit rakit ukuran 8 x 8 dibutuhkan 12 buah pelampung. Dalam pengoperasian, rakit dilengkapi dengan jangkar dan tali jangkar. Untuk satu unit rakit diperlukan 4 buah jangkar dengan berat 25 50 kg yang terbuat dari besi (lihat gambar 2).

Gambar 2. Pelampung Styrofoam dan Jangkar besi

20

yang diikatkan pada tiap sudut rakit dengan menggunakan tali jangkar yang terbuat dari bahan polyetheline (PE) berdiameter 4 cm. Panjang tali jangkar yang diperlukan untuk satu sudut rakit adalah 3 kali kedalaman perairan, sehingga untuk satu unit rakit yang terdiri dari empat sudut memerlukan panjang tali jangkar 4 X 3 kali kedalaman perairan. 2. Waring Waring adalah bahan yang digunakan untuk membuat kantong pemeliharaan. Kantong yang terbuat dari bahan waring ini umumnya digunakan untuk pemeliharaan kerapu bebek dan kerapu macan phase awal atau pendederan. Waring sering juga disebut hapa atau jaring bagan. Waring ini terbuat dari bahan polyetheline berwarna hitam dengan ukuran mata waring 4 mm. Bentuk kantong waring bervariasi ada yang berbentuk empat persegi panjang dan ada yang berbentuk empat persegi atau kubus dengan ukuran yang juga bervariasi. umumnya ukuran kantong waring yang digunakan untuk pemeliharaan pada phase pendederan dan penggelondongan adalah 1 x 1 x 1,5 meter. Untuk lebih jelasnya bentuk kantong waring pemeliharaan dapat dilihat pada gambar 3.
Tali Pengikat 1 meter

1,5 meter Tali Ris Waring

Gambar 3. Bentuk waring pemeliharaan 3. Jaring

21

Ada beberapa jenis jaring yang dapat digunakan untuk pembuatan kantong pemeliharaan. Namun yang biasa digunakan adalah jaring yang terbuat dari polyetheline. Tabel 1 menunjukkan beberapa jenis bahan jaring, kekuatan, lama waktu pemakaian, resistensi abrasi serta pertimbangan harganya. Tabel 1. Jenis bahan jaring, kekuatan, lama waktu pemakaian dan harga Type PE (polyetheline) PA(polyamide) PES (polyester) PP (polyproline) PVC(polyvinyl chlorid) PVD(polyvinylidene) PVA(polyvinyl alcohol) Kekuatan Kuat Sangat kuat Kuat Sangat kuat Rendah Rendah Sedang Lama Waktu Pemakaian Sedang Sedang Lama Rendah-sedang Sangat lama Tinggi Tinggi Resistensi Abrasi Tinggi Paling tinggi Tinggi Sedang Tinggi Tinggi Tinggi Perbandingan Harga Paling Murah Paling Mahal Paling Mahal Mahal Mahal Mahal Mahal

Kantong yang terbuat dari jaring digunakan untuk pemeliharaan pada phase penggelondongan dan pembesaran. Ukuran kantong jaring untuk pemeliharaan penggelondongan adalah 1 x 1 x 1,5 meter dengan ukuran mata jaring 0,5 inchi. Sedangkan untuk pembesaran menggunakan kantong jaring berukuran 3 x 3 x 3 meter dengan ukuran mata jaring 1 sampai dengan 1,25 inchi. Ukuran benang jaring yang digunakan untuk penggelondongan adalah D 12 dan D 21 untuk pembesaran. Desain bentuk pembuatan kantong jaring penggelondongan dan pembesaran tidak jauh berbeda dengan desain waring hanya beda bahan yang digunakan, untuk memastikan ukuran kantong jaring yang akan dibuat dan guna memastikan dalam memotong jaring sesuai dengan ukuran dapat digunakan rumus sebagai berikut:

L = --------1S d D = ----------2 S S2
22

Dimana : L : panjang jaring saat direntangkan (tarik) i : panjang jaring tidak direntangkan S : hang in ratio (30 %)

B. Sarana Penunjang 1. Perahu. Perahu atau motor tempel diperlukan sebagai alat transportasi setiap hari dalam rangka pembelian pakan, penggantian jaring, perbaikan rakit, membawa jaring kotor dan bersih dan membawa benih atau hasil penen. Besarnya perahu yang digunakan tergantung dari kebutuhan. Biasanya untuk penggunaan tarnsportasi dari darat ke karamba bisa digunakan perahu motor tempel dengan mesin 5 10 pk. 2. Freezer Freezer selain digunakan untuk mempertahankan kesegaran pakan ikan rucah, juga digunakan sebagai tempat penyimpanan stock pakan. 3. Mesin Penyemprot Jaring Mesin semprot jaring merupakan sarana penunjang yang sangat membantu dalam usaha budidaya ikan menggunakan karamba jaring apung. Mesin ini sangat efektif dan membantu dalam mempercepat pembersihan jaring sehingga penggantian jaring yang kotor selama pemeliharaan bisa cepat diganti. Adapan jenis mesin semprot jaring yang umum digunakan dapat dilihat pada gambar 4.

23

Gambar 4. Mesin Penyemprot Jaring

4. Peralatan kerja lapangan. Peralatan kerja lapangan meliputi : peralatan sampling yang terdiri dari timbangan, penggaris, skop-net, ember, gayung dan aerator . Timbangan peralatan penunjang kerja yang sangat membantu terutama dalam melakukan penyemplingan berat ikan yang dipelihara dan juga untuk menentukan dosis atau jumlah pakan yang diberikan selama pemeliharaan. Skop-net walaupun kelihatan sederhana, namun peralatan kerja yang satu ini harus ada, karena skop-net sangat membantu kerja pada saat seleksi atau grading ikan serta pada saat penggantian jaring serta untuk pemanenan ikan yang peliharaan. Skop-net yang digunakan untuk pembesaran ikan kerapu bebek dan macan ada dua jenis yaitu skop-net halus yang terbuat dari bahan yang halus, biasanya banyak dijual di toko-toko penjual aquarium dan ikan hias. Skop-net ini digunakan pada saat ikan masih kecil atau pada masa awal pemeliharaan. Skop-net kain kasa yang biasanya dibuat dari bahan kain kasa dengan ukuran besar. Skop-net ini biasanya digunakan untuk menseleksi atau menggreding ikan ukuran besar atau juga pada saat pemindahan ikan dari jaring yang lama ke jaring yang baru. Skop-net ini juga digunakan selama pemanenan. (lihat gambar 5).

24

Kawat

Kain Kasar

Kayu

Gambar 5. Skop-net 5. Aerator Aerator adalah alat penambah oksigen. Alat ini digunakan pada saat dilakukan pengobatan ikan yang terserang pennyakit. Aerator yang biasa digunakan selama pengobatan ikan umumnya adalah aerator baterai, karena aerator baterai ini lebih fleksible dan bisa dibawa kemana-mana. C. Prasarana Usaha pembesaran ikan kerapu bebek akan lebih baik bila didukung dengan prasarana yang meliputi : tersedianya jalan guna memperlancar transportasi darat. Tersedianya lisrtik baik dari perusahaan listrik negara ataupun generator listrik (Genset) untuk penerangan terutama pada malam hari dan untuk menghidupkan freezer serta menghidupkan aerasi selama penyemplingan. Tersedianya sumber air tawar untuk kebutuhan sehari-hari para pekerja, seperti untuk mencuci peralatan kerja, memasak, minum dan untuk mengobati ikan yang sakit. Tersedianya telpon untuk memudahkan komonikasi dengan dunia luar seperti untuk transaksi pengadaan benih, dan penjualan ikan hasil panen serta untuk memonitor harga benih dan harga jual ikan konsumsi.

25

DAFTAR PUSTAKA

26

Akbar, S, Sudjiharno, dan Sunaryat, 1998, Pendederan dan Penggelondongan Ikan Kakap Putih (Lates calcarifer, Bloch) di Karamba Jaring Apung, Warta Mina, No. X. Akbar, S, Sunaryat, dan Budi Kurnia, 1999, Penggelondongan Ikan Kerapu Macan Dengan Tiga Perlakuan Pakan di Karamba Jaring Apung, Bulletin Budidaya Laut, No. 12, Balai Budidaya Laut, Lampung. Akbar, S dan Sudaryanto, 2001, Penebar Swadaya, Jakarta. Pembenihan dan Pembesaran Kerapu Bebek,

Anonymous, 1988, Training Manual on Marine Finfish Netcages Culture in Singapore, Prepared For The Marine Finfish Netcages, Training Course, Conducted by Primary Production Departement (Republic of Singapore) and Organized by RAS/86/024 Coorporation With RAS/84/016. Anonymous, 1991, Operasional Pembesaran Ikan Kerapu Dalam Karamba Jaring Apung, Balai Penelitian Perikanan Budidaya Pantai, Maros. Budiman, A, A, dan Hadirini, E, R, 1991, Petunjuk Budidaya Ikan di Jaring Apung di Perairan Pantai Singapura, INFIS Manual Series, No. 24, Direktorat Jenderal Perikanan Kerja sama Dengan International Development Research Center. Rahardjo, B, B. P, Hartono, dan Runtuboy, N, 1999, Sarana dan Prasarana Budidaya Ikan Kakap Putih di Karamba Jaring Apung, Balai Budidaya Laut, Lampung.

ISBN : 979-95483-5-7

BAB V TEKNIK PENDEDERAN DAN PENGGELONDONGAN

27

Sunaryat, Maya Meiyana, dan Arif Prihaningrum

A. Latar Belakang Ikan kerapu tikus (Cromileptes altivelis) dan kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus) merupakan salah satu komoditi perikanan laut yang mempunyai nilai ekonomis tinggi. Disamping memiliki harga jual mahal juga permintaan pasar terhadap ikan kerapu cukup tinggi, baik dari dalam maupun dari luar negeri. Pasokan ikan kerapu untuk memenuhi kebutuhan pasar sebagian besar hasil tangkapan dari alam, sementara hasil dari budidaya masih sangat rendah. Setelah ikan kerapu tikus (Cromileptes altivelis) dan kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus) berhasil dibenihkan, maka kegiatan usaha pembesaran ikan kerapu di Karamba Jaring Apung (KJA) dibeberapa daerah seperti (Lampung, Kepulauan Seribu dan Kepulauan Riau) sudah banyak dilakukan, baik oleh pemerintah maupun oleh pihak swasta. Berkembangnya usaha pembesaran ini menuntut tersedianya benih yang siap tebar (ukuran 5 7 cm) dalam jumlah cukup dan berkesinambungan. Sampai saat ini penggunaan benih yang ukurannya terlalu kecil (kurang dari 3 cm) yang digunakan untuk kegiatan pembesaran, masih mempunyai banyak kendala yang menyebabkan rendahnya tingkat kelulusan hidup (SR) yang dicapai Hal ini disebabkan karena benih belum mampu beradaptasi dengan adanya perubahan perubahan kondisi lingkungan pemeliharaan. Kendala lain yaitu adanya sifat kanibalisme yang cukup tinggi pada benih kerapu ukuran antara 2 8 cm. (pada tahapan pendederan dan awal penggelondongan). Kiat yang dapat dilakukan untuk mengatasi kendala di atas yaitu dengan melakukan kegiatan pendederan dan penggelondongan ikan kerapu. Benih yang dihasilkan relatif lebih seragam dan lebih tahan terhadap kondisi lingkungan pemeliharaan .

28

Dalam penanganan selama operasional kegiatan pendederan dan penggelondongan, wadah pemeliharaan dapat menggunakan waring/jaring PE dengan ukuran 1mx1mx1,5m. Pakan di berikan 2 4 kali sehari berupa ikan rucah segar atau pellet. Masa pemeliharaan 2 3 bulan dengan ukuran panen pendederan (7 10 cm), dan panen penggelondongan (50 75gr) dan siap untuk di besarkan. Dengan demikian kegiatan pendederan / penggelondongan merupakan salah satu kunci sukses dalam menunjang keberhasilan kegiatan budidaya. B. Teknik Pendederan dan Penggelondongan Kegiatan pendederan dan penggelondongan merupakan sub sistem budidaya yang sangat penting, karena pemeliharaan pada tahapan ini banyak terjadi kematian sehingga diperlukan adanya penanganan yang serius. Beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain meliputi sumber benih, kepadatan, pakan dan pemberian pakan, grading, pertumbuhan dan kelulusan hidup serta adanya pengelolaan waring dan jaring. 1. Sumber Benih Benih yang digunakan dapat berasal dari hasil tangkapan di alam maupun dari hasil budidaya. Benih dari alam kurang baik bila dibandingkan dengan hasil budidaya, karena keseragaman ukuran sangat bervariasi, dan biasanya benih dari alam banyak terserang penyakit akibat luka pada waktu penangkapan dan pengangkutan. Benih yang baik untuk pendederan dan penggelondongan adalah benih yang dihasilkan dari hasil pembenihan, karena ukuran relatif seragam, jumlah cukup dan kesehatanya lebih terjamin. Benih yang sehat dapat dengan mudah dilihat dari ciri-ciri antara lain gerakan lincah, warna lebih cerah, dan tidak ada cacad pada sirip maupun ekor, serta responsip terhadap makanan. 2. Kepadatan Kepadatan ikan yang optimal di wadah pemeliharaan merupakan faktor yang menentukan keberhasilan pendederan dan penggelondongan. Padat tebar yang

29

terlalu tinggi sering menyebabkan pertumbuhan ikan terhambat dan tingginya angka kematian. Hal ini disebabkan adanya kompetisi untuk mendapatkan pakan dan ruang gerak. Kepadatan yang baik dan disarankan untuk pemeliharaan pendederan dan penggelondongan ikan kerapu tikus dan macan di Karamba Jaring Apung (KJA) seperti pada tabel berikut : Tabel 2. Kepadatan Benih Pendederan dan Pnggelondongan Ikan Kerapu Tikus dan Macan di Karamba Jaring Apung Masa Pemeliharaan JENIS IKAN Kerapu Macan Kerapu Tikus Kepadatan Kepadatan Ukuran Ukuran ekor/jaring ekor/ jaring 4 5 cm 9 12 cm 15 25 gr 25 50 gr 50 100 gr 200-250 150-200 100-150 100-125 75-100 3 5 cm 7 9 cm 9 12 cm 15 25 gr 25 - 45 gr 45 - 75 gr 75 100 gr 250-300 200-250 150- 200 100-150 100-125 100 75

D. PENDEDERAN Bulan 1 Bulan 2 Bulan 3 B. PENGGELONDONGAN Bulan 1 Bulan 2 Bulan 3 Bulan 4

3. Pakan dan Pemberian Pakan Pakan merupakan faktor produksi yang sangat penting ketersediannya baik dalam jumlah maupun mutu, dapat mempengaruhi keberhasilan panen akhir. Pakan yang diberikan dapat berupa ikan rucah segar atau pakan buatan. Pakan buatan (pellet) yang digunakan harus mengandung protein tinggi yaitu lebih dari 40 %. Untuk menggantikan cacahan ikan, supaya nutrisi yang dibutuhkan untuk pertumbuhan benih ikan kerapu dapat terpenuhi. Kebutuhan protein dan kalori ikan pada phase

30

awal pertumbuhan lebih tinggi dibandingkan pada ikan dewasa (Lovell, 1989) dalam Anonim (1999). Pakan buatan yang diberikan selama masa pendederan dan penggelondongan dapat dibuat dengan formula tertentu. Pakan rucah segar dapat diberikan berupa selar, petek, japuh, kembung dan kuniran. Sebelum diberikan, daging ikan harus dipisahkan dari sisik dan tulang keras, kemudian dicincang atau dicacah. Pakan diberikan 3 4 kali sehari untuk ikan pendederan dan 2 kali sehari untuk penggelondongan, pemberian pakan sampai kenyang (ad-libitum) dengan ukuran harus dibuat sesuai dengan bukaan mulut ikan. 4. Grading (Pemilahan ukuran) Ikan kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus) termasuk ikan buas, sifat kanibalismenya mulai kelihatan pada umur lebih 40 hari sampai ukuran gelondongan (1,5 10 cm). Sifat kanibalismenya sangat menonjol terutama pada kondisi tertentu seperti pada saat kekurangan makanan dan adanya perbedaan ukuran. Sifat kanibalisme ini sering menimbulkan kerugian, karena terlalu tingginya tingkat kematian terutama pada phase pemeliharaan pendederan. Ikan yang berukuran lebih besar akan selalu memangsa ikan yang lebih kecil dalam satu kurungan. Untuk mengatasi kanibalisme ini perlu dilakukan pemilahan ukuran atau grading, minimal setiap 1 minggu pada phase pendederan sedangkan pada phase penggelondongan, grading dilakukan bila dirasakan ukuran ikan sudah bervariasi atau sesuai dengan kebutuhan. Grading dapat dilakukan dengan memilah langsung ukuran ikan yang seragam dari setiap kurungan. Ikan hasil grading dari setiap kurungan yang memiliki ukuran seragam dapat ditebar langsung di kurungan yang sudah disediakan sebelumnya. Untuk menjaga ikan supaya tidak stres pada waktu grading harus dilakukan dalam air yang dilengkapi dengan aerasi. 5. Pertumbuhan dan Sintasan (SR)

31

Ikan kerapu mempunyai pertumbuhan yang cepat terutama untuk jenis kerapu macan (Epinephelus fuscogutatus). Sedangkan pertumbuhan ikan kerapu tikus (Cromileptes altivelis) agak lambat bila dibandingkan dengan kerapu macan. Hasil pendederan kerapu macan yang dilakukan di KJA Balai Budidaya Laut Lampung menunjukkan pertumbuhan relatif cepat. Benih yang berukuran 4 5 cm/ekor dapat mencapai 9 12 cm/ekor setelah 1 2 bulan masa pemeliharaan, tingkat kelulusan hidup yang dicapai berkisar antara 75 80 %. Kerapu tikus yang berukuran 3 5 cm/ekor dapat mencapai 9 12 cm/ekor setelah 2 3 bulan masa pemeliharaan, dengan tingkat kelulusan hidup yang dicapai berkisar antara 80 85 %. 6. Pengelolaan Waring dan Jaring Pengelolaan waring dan jaring pemeliharaan, merupakan hal penting yang harus dilakukan pada phase pendederan dan penggelondongan. Waring atau jaring pemeliharaan harus diganti minimal 2 minggu sekali atau apabila waring dan jaring sudah terlihat kotor dan dipenuhi banyak organisme penempel. Tujuan pergantian waring atau jaring untuk memudahkan sirkulasi air, meningkatkan oksigen terlarut serta mengurangi terjangkitnya serangan hama penyakit ikan. Untuk memudahkan pembersihan waring atau jaring yang kotor setelah diangkat, terlebih dahulu dijemur dibawah sinar matahari selama 2 3 hari, kemudian dibersihkan menggunakan sikat atau mesin penyemprot. Setelah bersih waring atau jaring dijemur kembali sampai kering dan siap untuk disimpan atau digunakan. DAFTAR PUSTAKA

Akbar,

S. (1991). Dietary Nutrient Requirement Review For Sea Bass (Latescalcalifer) a Gruper (Epinephelus spp). Institute of Aquacullture University of SterIing Scotland United Kingdom. 34 p.

Anonim, (1999). Budidaya Ikan Kakap Putih (Lates calcalifer, Bloch ) di Karamba Jaring Apung (KJA) Balai Budidaya Laut Lampung. 65. Halaman .

32

Sunaryat dkk, (1999). Laporan Rekayasa Pendederan dan Penggelondongan Kerapu di Karamba Jaring Apung (KJA) Balai Budidaya Laut Lampung.

ISBN : 979-95483-5-7

BAB VI TEKNIK PEMBESARAN Yuwana Puja, Evalawati, dan Syamsul Akbar. A. Latar Belakang

33

Produk ikan kerapu tikus (Cromileptes altivelis) dan Kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus) saat ini merupakan komoditi unggulan, karena bernilai ekonomis tinggi dan penyebarannya luas di perairan Indonesia. Dengan meningkatnya permintaan pasar baik lokal maupun pasar ekspor terutama Hongkong, Singapura, dan Jepang, maka tumpuan harapan dari usaha penangkapan ikan hidup tersebut belum dapat terpenuhi. Usaha pemeliharaan kerapu dengan karamba jaring apung di laut, diharapkan dapat menjadi prioritas utama dalam memenuhi kecukupan ekspor ikan laut hidup /mati segar. Balai Budidaya Laut Lampung sebagai Unit Pelaksana Teknis Ditjen Perikanan Budidaya bertugas melakukan perekayasaan teknologi pembesaran dan telah berhasil, serta diserap teknologinya oleh beberapa pengusaha dan petani ikan. A. Teknologi Pembesaran Kerapu. Aspek-aspek yang perlu diperhatikan dalam usaha pembesaran ikan kerapu di Karamba Jaring Apung antara lain : Ketersediaan peralatan kerja, Kualitas benih sebar, Teknik penebaran, Padat penebaran, Jenis pakan dan Teknik pemberian pakan, Monitoring pertumbuhan, Pergantian jaring, Pengamatan kesehatan ikan dan Pengukuran kualitas air media pemeliharaan.

1. Peralatan Kerja. Beberapa peralatan yang perlu dipersiapkan antara lain : peralatan lapangan seperti gunting, serok/scoop net, selang, batu aerasi, aerator, ember, timbangan, wadah pakan, cool box (freezer), perahu motor, dan alat ukur kualitas air : suhu, salinitas, oksigen terlarut, pH dan sebagainya. 2. Kualitas benih sebar.

34

a.

Benih ikan kerapu tikus

Benih yang digunakan dalam usaha pembesaran di Karamba Jaring Apung , dapat berasal dari tangkapan alam, maupun dari hasil pembenihan. Kelemahan benih hasil penangkapan alam biasanya ukuran kurang seragam. Beberapa kriteria kualitas benih sebar ikan kerapu tikus yang digunakan dalam pembesaran antara lain : Ukuran 50 75 gram dengan panjang badan 15 17 cm atau telah Warna tubuh : abu abu kecoklatan, cerah Bentuk tubuh : anggota organ tubuh lengkap, tidak cacat dan tidak Gerakan / perilaku : responsif, bergerombol, respon terhadap pakan dipelihara 6 bulan dari lepas pembenihan (7 9 cm) -

nampak kelainan bentuk, sehat serta bebas penyakit aktif, sangat responsif. b. Benih ikan kerapu macan Kriteria yang harus di perhatikan : Ukuran 50-75 gram dengan panjang badan 15-17 cm atau telah dipelihara 3 bulan dari lepas pembenihan (2-3 gram). Warna dan bentuk tubuh : kecoklatan, cerah, tidak bengkok, sirip lengkap. kelainan bentuk tubuh, sehat serta bebas penyakit. Gerakan/perilaku : aktif, lincah dan bergerombol. Respon terhadap pakan : aktif sangat responsif. - Kesehatan : anggota organ tubuh lengkap, tidak cacat dan tidak nampak

3. Teknik Penebaran Dalam melakukan penebaran benih,perlu di perhatikan hal-hal sebagai berikut : - Waktu tebar Penebaran sebaiknya dilakukan pada pagi hari atau sore hari. - Aklimatisasi/penyesuain diri

35

Aklimatisasi perlu dilakukan karena berkaitan dengan adanya perbedaan kondisi air seperti suhu, dan salinitas. Untuk benih yang berasal dari lokasi yang jauh dan pengepakannya menggunakan kantong plastik, cara/proses aklimatisasi dilakukan secara perlahan-lahan. Setelah kantong plastik di buka, ke dalam kantong, di tambahkan laut dari karamba sedikit demi sedikit. Jika perbedaan salinitas sekitar 1-2 permil, ikan dapat segera ditebar. Sedangkan untuk pengangkutan benih dari lokasi pembenihan yang dekat dan menggunakan wadah ember/baskom, maka proses adaptasi / aklimatisasinya dengan menambahkan air laut di karamba ke dalam ember, kemudian ember dimiringkan perlahan ke dalam jaring, dengan sendirinya. 4. Padat penebaran Padat penebaran yang diukur dalam satuan ekor/satuan volume, perlu di perhatikan karena berkaitan dengan berapa hasil optimum yang dapat diperoleh dengan padat penebaran tertentu. Besarnya padat penebaran yang dapat digunakan pada tabel berikut : Tabel 3 . Padat penebaran, lama pemeliharaan dan sintasan produksi dalam pembesaran ikan kerapu macan dan kerapu tikus No 1. 2 3. Kegiatan Padat penebaran ekor/m3 Lama pemeliharaan (bulan) Sintasan Produksi (%) Jenis ikan Kerapu tikus Kerapu macan 20-25 9 95 20-25 4 95 jika perbedaan salinitas sekitar 1-2 permil, kemudian dibiarkan agar ikan keluar

Jenis Pakan Pemilihan jenis pakan untuk pembesaran ikan kerapu harus didasarkan pada kemauan ikan untuk memangsa pakan yang diberikan, kualitas, nutrisi dan nilai ekonomis/ harga. Umumnya jenis pakan, berupa ikan rucah segar (ikan ikan non ekonomis penting), relatif lebih murah harganya, terutama pada musimnya, lebih

36

disukai oleh ikan serta nilai gizi biasanya sudah mencukupi untuk ikan ikan budidaya. Jenis pakan lain yang dapat diberikan adalah pellet, untuk mengganti pakan rucah. Keuntungan pakan pellet antara lain : Produksi dapat ditingkatkan dengan padat penebaran yang tinggi dan waktu pemeliharaan lebih pendek. Frekuensi pemberian pakan dapat ditingkatkan agar ikan cepat besar dan tidak tergantung persediaan dari alam. Dapat diatur formulasi pakan yang diberikan sesuai kebutuhan ikan peliharaan. 6. Teknik pemberian pakan a. Rasio pemberian pakan Rasio pemberian pakan pada usaha pembesaran di Karamba Jaring Apung, harus tepat agar pakan yang diberikan dapat efisien di konsumsi oleh ikan yang dipelihara dan memberikan kelangsungan hidup yang terbaik. Untuk jenis kerapu, rasio pemberian pakan berkisar 5 7,5 % untuk jenis pakan ikan rucah segar, sedangkan untuk jenis pakan pellet, rasio pakan berkisar 3-5 % per hari. b. Frekuensi dan waktu pemberian pakan Frekuensi pemberian pakan dan waktu pemberiannya yang tepat agar menghasilkan pertumbuhan yang baik dan pakan yang efisien. Hal ini

37

berhubungan dengan kecepeten pencernaan dan pemakaian energi. Untuk jenis ikan kerapu sebaiknya di berikan 2 hari sekali pada pagi dan sore hari. c. Penambahan Multivitamin pada ransum pakan Seperti ikan air tawar, ikan lautpun membutuhkan multivitamin. Pada ikan kerapu, penambahan multivitamin dapat menambah kekebalan tubuh, ikan dapat tumbuh secara normal, mencegah terjadinya lordosis dan scoliosis atau tumbuh bengkok karena perkembangan tulang belakang yang tidak sempurna, dapat meningktkan sintasan ikan, atau berperan dalam menurunkan angka kematian. Penambahan multivitamin juga berpengaruh terhadap kinerja ikan, warna tubuh ikan terlihat lebih cerah dan lebih agresif. Vitamin C dapat ditambahkan untuk melengkapi multivitamin. Vitamin C adalah tergolong vitamin yang larut dalam air, dan mudah rusak sehingga disarankan pemberian vitamin C pada ransum pakan dilakukan sesaat sebelum waktu pemberian pakan . Dosis vitamin C yang dapat digunakan adalah 2 gram/kg berat pakan dan diberikan 2 kali per minggu. 7. Monitoring pertumbuhan Kegiatan yang dilakukan antara lain, sampling untuk mengukur berat dan panjang total ikan, untuk menentukan pertambahan dosis pakan dan pencatatan kematian ikan. Sampling ikan dilakukan minimal sebulan sekali dengan mengambil ikan secara acak 10 % dari populasi atau minimal 30 ekor ikan. Ikan diukur berat per ekor dan panjang totalnya. Sebelum pengukuran, ikan yang akan diukur, dibius terlebih dahulu untuk memudahkan dalam pengukuran. Apabila terjadi kematian ikan selama pemeliharaan di pembesaran perlu di catat, hal ini dimaksudkan untuk memperoleh nilai SR (kelulus hidupan) ikan selama

38

pemeliharaan. Laju pertumbuhan ikan per hari/bulan biasanya dinyatakan dalam gram/kg dipengaruhi oleh jenis pakan, jumlah yang diberikan serta mutu pakan. Hasil kajian di Balai Budidaya Laut, laju pertumbuhan kerapu tikus adalah 1,3 gr/hari dan kerapu macan 2,5 3 gr/hari. 8. Pergantian jaring Pergantian jaring perlu di lakukan minimal 3 minggu sekali, atau disesuaikan dengan kondisi perairan setempat. Pergantian jaring dilakukan dengan maksud untuk menjaga sirkulasi air dan menjaga resiko terkena penyakit. Jaring yang kotor sebaiknya dijemur untuk kemudian di semprot dan dibersihkan agar dapat digunakan kembali. 9. Pengamatan pemeliharaan a. Pengamatan Kesehatan Ikan kesehatan ikan dan pengukuran kualitas air media 1

39

Dalam melakukam usaha pembesaran, pemeliharaan kesehatan perlu dilakukan. Pengamatan secara Visual dan Organoleptik di lakukan untuk pemeliharaan ektoparasit dan morfologi ikan. Sedangkan pengamatan secara mikroskopik dapat di lakukan di laboratorium, di lakukan untuk pemeriksaan jasad patogen (endo parasit, jamur, bakteri, dan virus ). b. Pengamatan Kualitas air Media Pemeliharaan Cara pengukuran kualitas air ( suhu, salinitas, pH, Oksigen terlarut, Phospat, Amoniak dan lain- lain ), di lakukan dengan menggunakan peralatan Thermometer untuk mengukur suhu, Refraktometer untuk mengukur salinitas, pH meter atau kertas lakmus untuk mengukur pH, DO meter untuk mengukur oksigen terlarut, dan beberapa test kid untuk mengukur phospat dan amonia. Frekwensi pengukuran di lakukan minimum 2 kali seminggu.

40

DAFTAR PUSTAKA

Anonimus, 2000. Produksi Pembesaran Ikan Kerapu Tikus (Cromileptes altivelis, Valenciennes) Kelas Pembesaran, Rancangan Standar Nasional Indonesia, Badan Standarisasi Nasional - BSN. Anonimus, 2000.Produksi Pembasaran Ikan Kerapu Macan (Ephinephelus fucoguttatus, Forskall) Kelas Pembesaran, Rancangan Standar Nasional Indonesia, Badan Standarisasi Nasional - BSN. Achmad T., dan Achmad Rukiyani, 1995. Teknik Budidaya Laut dengan Karamba Jaring Apung. Pusat Penelitiaan dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Jakarta. Imanto, Philip Teguh., 1988. Tinjauan Pada Kegitan Budidaya Kerapu di Indonesia, Sub Balai Penelitian Budidaya Pantai Bojonegoro, Serang. Mustahal, Bejo Slamet, Pramul Sunyoto,1995. Pemberian Pakan Ikan Laut di Karamba Jaring Apung. Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian , Jakarta.

41

ISBN : 979-95483-5-7

BAB VII NUTRISI DAN TEKNIK PEMBUATAN PAKAN Budi Kurnia, Syamsul Akbar dan Istiqomah

A. Latar Belakang Budidaya ikan kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus) dan kerapu tikus (Cromileptes altivelis) di karamba jaring apung (KJA) merupakan usaha strategis untuk meningkatkan penerimaan negara serta memberdayakan masyarakat sekitar pantai. Hal ini disebabkan karena komoditasnya yang berorientasi ekspor serta teknologinya yang relatif sederhana sehingga mudah untuk dikuasai. Pengembangan usaha ini telah banyak dilakukan terutama di perairan sekitar Teluk Lampung dengan memberikan manfaat yang besar baik bagi pengusaha maupun masyarakat sekitarnya. Pengembangan usaha budidaya ikan kerapu perlu memperhatikan beberapa aspek pendukung seperti benih, pakan, lingkungan perairan, manajemen kesehatan serta sistem dan teknologi budidaya. Di antara kelima unsur tersebut di atas, pakan merupakan bagian eksternal yang penting dan berkaitan langsung dengan biaya produksi. Dalam usaha budidaya perairan, pakan dengan nutrisi yang seimbang merupakan faktor terpenting. Sebab apabila tidak ada pakan yang dapat dimanfaatkan oleh ikan, maka tidak akan terjadi pertumbuhan bahkan menimbulkan kematian.

42

Saat ini pakan bagi budidaya ikan kerapu macan maupun tikus masih didominasi oleh ikan rucah. Ikan rucah memiliki berbagai kelemahan diantaranya ketersediannya yang semakin berkurang, tingkat kompetisi yang tinggi dengan konsumsi manusia, harga yang cenderung meningkat, penyimpanan yang tidak lama dan ketidakvariasian dalam kualitas sehingga perlu adanya alternatif pakan berupa pakan buatan. Pakan buatan mempunyai beberapa kelebihan yang tidak dimiliki pakan ikan rucah seperti kontinuitas baik, penyimpanan lama serta disesuaikan. B. Kebutuhan Nutrisi Ikan Kerapu Pertumbuhan ikan selalu dikaitkan dengan jumlah dan kualitas pakan yang dikonsumsi. Semakin baik dan sesuai jumlah serta kualitas pakan yang dikonsumsi ikan, semakin optimal pula pertumbuhan yang diperoleh. Oleh karena itu, kebutuhan nutrisi ikan yang dibudidayakan perlu diketahui untuk memperoleh hasil yang maksimal. Kebutuhan nutrisi ikan kerapu sama dengan ikan lainnya yaitu meliputi protein dan asam amino, lemak dan asam lemak, karbohidrat, vitamin, mineral serta energi. 1. Protein dan Asam Amino Hampir untuk semua hewan, kebutuhan protein didefinisikan sebagai jumlah dari kebutuhan untuk individu asam amino esensial dan nitrogen non-esensial. Protein diperlukan tubuh ikan secara terus menerus terutama untuk pertumbuhan dan perbaikan jaringan sel yang rusak. Pengetahuan mengenai kebutuhan protein dalam pakan mutlak diperlukan karena berkaitan erat dengan pertumbuhan dan nilai ekonomis yang dikeluarkan. Kekurangan protein dalam pakan akan menurunkan pertumbuhan untuk selanjutnya meningkatkan kematian. Sedangkan protein yang berlebihan dalam pakan akan meningkatkan biaya produksi budidaya ikan. Seperti diketahui pakan memegang hampir 60% lebih biaya produksi dan untuk pakan ikan kerapu komponen penyusun utamanya yaitu protein. nilai nutrisi dan ekonomis yang dapat

43

Tingkat kebutuhan protein pada ikan tergantung pada ukuran ikan, suhu perairan, laju konsumsi ikan, ketersediaan pakan alami, keseimbangan energi dan kualitas pakan (Watanabe, 1988). Ikan kerapu yang bersifat karnivora memerlukan kadar protein yang lebih tinggi dibandingkan ikan omnivora dan herbivora yaitu berkisar antara 47,8 60% dalam pakan (Giri dkk., 1998). Asam amino merupakan komponen struktural penyusun protein. Asam amino, yang terbentuk dari proses hidrolisis protein, terdiri dari dua macam yaitu asam amino esensial yang tidak dapat disintesa tubuh namun mutlak diperlukan serta non esensial. Informasi mengenai asam amino mutlak diperlukan karena kebutuhan kualitatif dan kuantitatif asam amino esensial menentukan tingkat protein dalam pakan (Lovell, 1988). Secara rinci kebutuhan asam amino esensial untuk ikan pendederan dan penggelondongan kerapu disajikan pada Tabel 4. Tabel 4. Kebutuhan Asam Amino Esensial bagi Pendederan dan Penggelondongan Ikan Kerapu Macan & Kerapu Tikus (Tacon, 1988) (% dry feed). Jenis Asam Amino Esensial Methionine Arginin Tyrosin Threonin Histidin Isoleusin Leusin Lysin Valin Phenilalanin B. Jenis Ikan Kerapu Macan Kerapu Tikus ( 50% P) ( 55%P) 2.96 2.15 1.45 1.15 0.91 1.40 2.55 2.96 1.66 0.35 3.25 2.37 1.60 1.27 1.06 1.54 2.81 2.96 1.83 0.35

44

2. Lemak dan Asam Lemak Lemak merupakan senyawa yang tidak larut dalam air namun larut dalam pelarut organik seperti bensin atau ether. Keberadaan lemak dapat digunakan sebagai sumber Asam Lemak Esensial (EFA), energi dan pembawa vitamin yang larut dalam lemak. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa tingkat kebutuhan lemak pada ikan berbeda untuk setiap spesies. Defisiensi asam lemak pada pakan dapat menimbulkan sifat- sifat pathologis seperti laju pertumbuhan yang rendah dan konversi pakan yang jelek yang akhirnya menimbulkan mortalitas. Bagi spesies ikan kerapu, asam lemak yang sangat dibutuhkan adalah Asam Lemak Linolenat (-3) terutama yang memiliki ikatan ganda tinggi (HUFA). Hal ini berkaitan dengan kemampuan ikan laut untuk menguraikan ikatan ganda pada asam lemak tersebut. Kebutuhan asam lemak pada ikan laut cenderung lebih tinggi dibandingkan dengan ikan air tawar. Hal ini disebabkan oleh kenyataan bahwa kebutuhan energinya yang lebih besar, sehingga asam lemak merupakan salah satu sumber utamanya. Sumber energi lemak lebih efisien dibandingkan dengan karbohidrat, sehingga kelebihan apalagi kekurangan lemak pada pakan ikan laut akan menurunkan pertumbuhan dan konversi pakan. Berdasarkan kenyataan di atas, penambahan asam lemak esensial terutama omega-3 mutlak diberikan pada pakan buatan ikan kerapu. Secara umum kebutuhan asam lemak esensial ikan laut 9-16% pakan dengan minimal 2% 3 HUFA (Deshimeru dkk., 1982 dalam Giri A.N, 1998). 3. Karbohidrat

45

Karbohidrat secara sederhana didefinisikan sebagai bahan organik yang mengandung unsur Carbon (C), Hidrogen (H) dan Oksigen (O) dengan perbandingan yang berbeda. karbohidrat. Monosakarida merupakan unit dasar penyusunan Jenis karbohidrat lainnya adalah disakarida yang terdiri dari 2

monosakarida, oligosakarida dari 3-6 monosakarida dan polisakarida yang memiliki lebih dari 6 monosakarida. Karbohidrat merupakan sumber energi yang murah dan umumnya melimpah pada pakan hewan. Meskipun karbohidrat merupakan sumber energi yang penting, namun diperlukan dalam jumlah yang relatif kecil dalam pakan. Karbohidrat dalam pakan dapat berupa serat kasar yang tidak dapat dicerna serta BETN (Bahan Ekstrak Tanpa Nitrogen) yang dapat dicerna (NRC, 1983). Ikan kerapu yang bersifat karnivora, relatif memerlukan jumlah karbohidrat dalam pakan yang lebih kecil dibandingkan ikan omnivora dan herbivora. rendah. Hal ini berkaitan dengan tingkat pemanfaatan karbohidrat dalam tubuhnya yang relatif Menurut Watanabe (1988) kebutuhan karbohidrat dalam pakan ikan karnivora berkisar antara 10-20% dan ikan omnivora 20-40%. 4. Vitamin Vitamin adalah bahan organik komplek yang memiliki ukuran molekul kecil dengan jumlah yang kecil dalam pakan. Vitamin dibutuhkan untuk pertumbuhan normal, maintenance dan reproduksi. Defisiensi vitamin pada pakan ikan dapat menimbulkan gangguan yang spesifik pada ikan. Vitamin dibagi dua bagian yaitu yang larut dalam air dan larut dalam lemak. Vitamin yang larut dalam air digunakan dalam bentuk langsung atau sebagai enzim tertentu. Misalnya Pyridoxal Phospate yang berfungsi sebagai koenzim pada seluruh transportasi asam amino dan Thiamine sebagai koenzim untuk co-

46

carboxylase. Sedangkan hampir tidak ada vitamin yang larut dalam lemak berfunsi sebagai koenzim. Vitamin A berfungsi sebagai pigmen penglihatan dan terlibat dalam metabolisma mucopolysaccharida. elektron. Kebutuhan terhadap suatu vitamin dipengaruhi oleh komposisi pakannya. Sebagai contoh, tingkat kebutuhan vitamin E akan meningkat dengan meningkatnya kandungan asam lemak tidak jenuh pada pakan. Dalam budidaya ikan, vitamin biasa diberikan dalam bentuk vitamin premix atau multivitamin. Dosis yang biasa diberikan dalam penyusunan pakan buatan adalah 0,2 0,5 % (Lovel, 1988). Secara garis besar fungsi dari bermacam vitamin dan kebutuhan pada ikan laut disajikan pada Tabel 5 sebagai berikut : Tabel 5. Jenis Vitamin, Kegunaan & Dosisnya Dalam Pakan (Watanabe, 1988) No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. Nama Vitamin Thiamine Riboflavin Pyridoxine Niacin Pantothenic Acid Ascorbic Acid (C) Choline Folic Acid Cyanocobalamine Biotin Inositol Retinol (A) Cholecalferol (D) Tocopherol (E) Vitamin K Kegunaan Koenzime pada metabolisma karbohidrat Koenzim berbagai enzim dan komponen Flavin Adenine Dinucleotide Berperan dalam metabolisme asam amino Komponen Nicotinamide Adenine Dinucleotide Komponen koenzim A Antioksidan Berperan dalam Transmethylation Berperan dalam metabolisme interkonversi Bagian integral dari enzim Cobamydes Koenzim pada reaksi carboxylasi Komponen Phospatydhyl Phospate Pigmen penglihatan dan menjaga membran mukosa Mineralisasi tulang dan homeostasis Kalsium Antioksidan pada biomembran Transpor elektron Dosis (mg/kg pakan) 10-12 20 10-20 50-100 10-40 100-150 800 5-10 0.01-0.02 0.1-0.2 200-400 1000-2000 IU 1600-2000 IU 30-50 Vitamin E merupakan antioksidan. Vitamin D untuk homeostasis Kalsium dan vitamin K yang berperan dalam transpot

47

5. Mineral Kurang lebih 20 jenis mineral dibutuhkan untuk mempertahankan struktur dan metabolisme fungsi tubuh pada vertebrata. Metabolisme mineral berbeda dengan metabolisme nutrien lainnya seperti protein, lemak dan karbohidrat, sebab mineral tidak diproduksi oleh tubuh. Kekurangan mineral pada tubuh dapat menyebabkan beberapa disfungsi pada sistem metabolisme tubuh ikan. Beberapa disfungsi tersebut diantaranya : struktur tubuh yang menyimpang, symptom tubuh umum, disfungsi mata, anemia dan menghambat fungsi beberapa vitamin di tubuh. Mineral-mineral yang diperlukan tubuh diantaranya Kalsium, Khlor, Magnesium, Phospor, Natrium, Besi, Tembaga, Iodin, mangan, Selenium dan Seng. Semua mineral tersebut dinamakan Trace Element. Sangat sulit untuk menentukan tingkat kebutuhan mineral pada tubuh, sebab keterbatasan konsentrasi dari mineral itu sendiri pada tubuh. (Watanabe, 1988). 6. Keseimbangan Energi Energi merupakan unsur penting dalam penyusunan pakan sebab pakan yang baik adalah pakan yang memiliki kandungan nutrisi dan energi yang seimbang serta sesuai dengan kebutuhan ikan. Energi diperlukan ikan untuk mempertahankan hidup (maintenance), aktivitas sehari-hari dan tumbuh normal. Kelebihan atau kekurangan energi dapat menurunkan pertumbuhan. Kelebihan energi dapat menyebabkan pemenuhan kebutuhan protein dari pakan tidak terpenuhi sebab ikan kenyang lebih cepat. Sedangkan kekurangan energi menyebabkan protein yang berfungsi untuk Dalam penyusunan komposisi pakan buatan ikan kerapu, mineral biasanya diberikan dalam bentuk mineral premix dengan dosis 0,2%

48

pertumbuhan digunakan terlebih dahulu untuk memenuhi kebutuhan energi sehingga ikan kekurangan protein. Sumber energi yang biasa digunakan dalam pembuatan pakan buatan adalah karbohidrat dan lemak. Diantara kedua jenis tersebut, lemak merupakan sumber energi yang lebih efisien pada pakan ikan kerapu (Lovell, 1988). Kebutuhan energi ikan sangat dipengaruhi oleh stadia ikan, daerah musim dan lingkungan perairan budidaya. Ikan daerah tropis kebutuhan energinya berbeda dengan subtropis, begitu pula ikan ukuran benih memerlukan energi yang lebih tinggi dibandingkan ukuran dewasa. Energi dalam pakan biasanya diukur berdasarkan energi yang dicerna (Digestible Energy). Energi yang dicerna merupakan energi yang berasal dari energi kotor (Gross Energy) yang terdapat dalam pakan. Selain diubah menjadi energi yang dicerna, energi kotor tersebut diubah pula menjadi energi untuk feses. Energi yang dicerna selanjutnya digunakan ikan untuk kebutuhan aktivitas sehari-hari ikan. Skema pemanfaatan energi oleh ikan disajikan di gambar 6.

Energi Dicerna Pakan yang Dikonsumsi

Energi Metabolisme & Sex Energi Ekskresi Insang, Urine & Tubuh Lainnya

Energi pemulihan

Energi untuk Feses

Energi Penunjang Aktivitas Tubuh Sehari-hari

Gambar 6. Skema Distribusi Energi Pada Ikan (Lovell, 1988)

Satuan energi dalam pakan biasanya berbentuk kalori atau joule. Lemak mengandung energi 8,1 kkal/gr ; karbohidrat 2,5 kkal/gr dan protein 3,5 kkal/gr (NRC, 1977). Kebutuhan energi ikan laut, terutama yang bersifat karnivora, lebih tinggi dibandingkan dengan ikan air tawar. Hal ini disebabkan oleh daya geraknya yang tinggi sehingga

49

memerlukan jumlah energi yang relatif lebih besar. Selain itu, kandungan energi yang besar digunakan pula untuk mengimbangi kadar protein dalam pakannya yang tinggi sehingga protein dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh ikan untuk pertumbuhan. Kebutuhan energi ikan kerapu adalah 8-10 kkal/gram protein. C. TEKNIK PEMBUATAN PAKAN 1. Bahan Pakan a. Jenis Bahan Pakan Bahan yang digunakan dalam pembuatan pakan terbagi atas dua jenis yaitu bahan utama dan bahan penunjang (feed additives). Bahan pakan utama adalah bahan yang secara langsung menjadi komponen utama pakan dan dalam proporsi yang besar. Bahan ini biasanya memiliki kadar nutrisi seperti protein, lemak dan karbohidrat yang menunjang pertumbuhan ikan. Termasuk dalam jenis bahan utama yaitu tepung ikan, tepung kedelai, tepung rebon dan tepung lainnya, serta minyak ikan. Bahan utama digunakan dalam pakan sebagai komponen yang memiliki

proporsi berbeda dari pakan satu dengan pakan lainnya. Dalam penyusunan formulasi pakan, bahan pakan yang secara umum sama, dapat disubstitusi satu dengan yang lainnya untuk menyesuaikan dengan harga pasar, ketersediaan bahan lokal serta komposisi. Dalam mensubstitusi bahan pakan merujuk pada kandungan nutrisi bahan dan keseimbangan nutrien dalam formulasi serta masukan dari pemelihara ikan. Proporsi yang berbeda dari bahan dikombinasikan untuk memperoleh keseimbangan nutrien yang diinginkan. Secara rinci kandungan nutrisi bahan pakan utama yang digunakan di Balai Budidaya Laut disajikan pada Tabel 6.

50

Tabel 6. Kandungan Nutrisi Bahan Pakan Utama di Balai Budidaya Laut Jenis Bahan T.Kepala Udang T.Rebon T. Ikan Shriding T. Ikan Tanjan T.Kedelai T.Jagung T. Darah T. Kulit Kepiting %Prot. 43.95 42.37 57.16 60.78 36.08 23.38 66.94 28.33 %Lemak 5.11 2.64 8.78 10.23 24.08 10.64 2.6 2.64 %Karbo 0.26 0 2.11 2.07 24.81 19.9 13.16 12.71 %Serat 17.45 7.54 0.96 0.86 5.37 12.34 1.14 5.02 %Air 6.53 21.58 5.74 7.43 3.65 4.11 12.2 19.87 %Abu 26.70 18.09 25.25 18.66 5.61 9.63 3.96 32.79

Bahan pakan penunjang adalah bahan yang ditambahkan pada pakan dalam jumlah yang kecil. Fungsi bahan penunjang adalah untuk mendukung (contoh antioksidan untuk mencegah oksidasi), karakteristik kimia pakan

mendukung karakteristik fisik pakan (contoh binder yang berfungsi sebagai bahan pengikat pakan agar tidak mudah terurai), mendukung pertumbuhan ikan (contoh antibiotik dan hormon pemacu pertumbuhan), mendukung kemampuan pakan untuk diterima atau dikonsumsi ikan (contoh pewarna pakan pada pakan ikan hias dan feeding stimulant yang memacu nafsu makan ikan) dan mensuplai kebutuhan nutrisi pakan sebagai penunjang bahan utama (contoh vitamin dan mineral). b. Seleksi Bahan pakan Seleksi bahan pakan meliputi seleksi fisik, kimia dan biologi. Seleksi fisik meliputi tekstur, bau dan penampakan. Pakan kualitas baik memiliki tekstur halus, bau yang khas bahan tersebut serta penampakan normal dalam arti tidak ada perubahan warna akibat serangan mikroorganisma. Seleksi fisik dapat

51

dilakukan secara kasar melalui panca indera misalkan penglihatan dan penciuman. Seleksi kimia meliputi kadar nutrisi bahan tersebut seperti protein (asam amino), karbohidrat dan lemak (asam lemak), abu dan air. Seleksi kimia dilakukan di laboratorium biokimia melalui analisis proksimat bahan. Sedangkan seleksi biologi berkaitan dengan seleksi fisik terutama adanya serangan organisma mikro dalam bahan sepert jamur atau kutu. Seleksi biologi dapat dilakukan secara langsung ataupun melalui pemeriksaan mikrobiologi. 2. Teknik Penghitungan Formulasi Pakan Ada beberapa macam cara untuk membuat formulasi pakan buatan ikan terutama ikan kerapu. Beberapa kunci yang harus dikuasai sebelum membuat formulasi pakan adalah sebagai berikut : Mengetahui kebutuhan nutrisi ikan yang dipelihara Mengetahui kandungan nutrisi bahan yang akan digunakan Mengetahui status bahan yang digunakan (harga, kuantitas, kontinuitas

dan kemudahan). Metode yang sering digunakan dalam penyusunan formulasi pakan adalah metode kuadratik, metode linier dan metode worksheet dengan komputer. Pada bab ini akan disajikan penyusunan formulasi pakan dengan cara sederhana yaitu metode kuadratik. a. Metode Kuadratik dengan dua bahan baku Formulasi pakan menggunakan metode kuadrat ini dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut : Misalkan menyusun pakan yang mengandung protein 50% dengan menggunakan bahan baku tepung ikan (66% protein) dan tepung dedak (16% protein).

52

Tahapan-tahapan yang dilakukan adalah : a. Gambarlah kotak persegi empat b. Tempatkan tingkat protein dalam pakan yang diinginkan di tengah kotak persegi empat tersebut c. Pada masing-masing sudut sebelah kiri kotak, tempatkan dua nilai protein bahan baku yang digunakan. d. Kurangkan jumlah protein yang terdapat dalam bahan baku dengan protein yang diinginkan dalam kotak secara diagonal dan tempatkan hasilnya pada sudut kanan (positif saja). e. Jumlahkan kedua hasil pengurangan tersebut. f. Hitung jumlah pada sudut kanan dalam bentuk persen dengan menggunakan angka poin c dibagi dengan angka poin e kemudian dikalikan 100% sehingga diperoleh sebagai berikut :

Tepung ikan 66% protein Tepung dedak 16% protein 50%

34

34/50 x 100 = 68%

16 _____ Jumlah 50

16/50 x 100 = 32%

Jadi jumlah bahan baku yang diperlukan untuk membuat 100 gram pakan dengan 50% protein adalah tepung ikan sebanyak 68 gram dan tepung dedak sebanyak 32 gram. b. Metode kuadratik dengan Lebih dari Dua Bahan Baku

53

Sebagai contoh kita akan membuat pakan yang memiliki kandungan protein 40% dengan bahan baku tepung ikan (60% protein), tepung daging/tulang (40% protein), tepung beras (8% protein) dan tepung jagung (11% protein). Proporsi protein tepung ikan : tepung daging /tulang = 3 : 1 sedangkan tepung beras : tepung jagung = 2: 1. Tahapan yang dilakukan adalah sebagai berikut : a. Gambar kotak persegi empat b. Tempatkan tingkat protein yang diinginkan di tengah-tengah kotak tersebut c. Kelompokkan bahan-bahan sesuai dengan sumbernya dan hitung rata-rata kandungan proteinnya, misalnya : Protein hewani Tepung ikan : 3 bagian x 60% = 180

Tepung daging/tulang : 1 bagian x 40% = 40

220 220 : 4 = 55%

Protein nabati Tepung beras Tepung jagung : 2 bagian x 8% = 16 : 1 bagian x11%= 11

54

27 27 : 3 = 9% d. Tempatkan kelompok protein pada sudut sebelah kiri kotak e. Kurangkan jumlah protein yang terdapat pada bahan baku dengan protein yang diinginkan secara diagonal dan tempatkan hasilnya pada sudut kana (nilai positif). f. g. Contoh : Tepung ikan dan tepung daging/tulang 55% protein tepungberas dan tepung jagung 9%protein Protein hewani 3 bagian tepung ikan = x 67,39% 1 bagian tepung daging/tulang =1/4 x 67,39% = 67,39% = 50,54% = 16,85% 15 46 15/46x100=32,61% 31 31/46 x 100 = 67,61% Jumlahkan kedua hasil pengurangan tersebut. Kalikan tiap bahan baku dalam kelompok sesuai dengan proporsinya.

40% Jumlah

Protein nabati 2 bagian tepung beras = 2/3 x 32,61% 1 bagian tepung jagung =1/3 x 32,61% Total

= 32,61% = 21,74% = 10,87% 100%

Jadi jumlah bahan baku yang diperlukan untuk membuat 100 gram pakan yang mengandung 40% protein adalah : Tepung ikan sebanyak 50,54 gram, tepung

55

daging/tulang sebanyak 16,85 gram, tepung beras sebanyak 21,74 gram dan tepung jagung sebanyak 10,87 gram. 3. Teknik Pembuatan Pakan Pakan buatan yang baik diperoleh dari teknik pembuatan pakan yang baik. Secara garis besar teknik pembuatan pakan meliputi penimbangan bahan, pencampuran pengadukan, penambahan unsur penunjang, pencetakan serta pengeringan. Teknik pembuatan yang baik harus pula memperhatikan efisiensi serta frekwensi pembuatan pakan yang dihubungkan dengan jumlah ikan yang dipelihara. Metode Pembuatan pakan disesuaikan dengan stadia ikan kerapu yang dibudidayakan. Metode pembuatan pakan buatan untuk stadia larva berbeda dengan stadia selanjutnya. Secara garis besar urutan pembuatan pakan pada stadi pendederan dan penggelondongan adalah sama namun berbeda pada diameter pakan yang dibuat. Urutan pembuatan pakan disajikan pada gambar 7.

PENYEDIAAN BAHAN PAKAN YANG AKAN DIPAKAI

IKAN YANG DIBUDIDAYA

MENGETAHUI KANDUNGAN NUTRISI BAHAN YANG DIPAKAI

MENGETAHUI KEBUTUHAN NUTRISI IKAN KERAPU

MEMBUAT FORMULASI PAKAN

56

PENIMBANGAN BAHAN

PENCAMPURAN BAHAN BESAR (TEPUNG IKAN DLL)

PENCAMPURAN BAHAN KECIL (VITAMIN DAN MINYAK CUMI)

PENCAMPURAN TOTAL

PENAMBAHAN AIR

PENCETAKAN

PELET BASAH (Moist Pellet) PENGERINGAN PELET KERING

Gambar 7. Skema Pembuatan Pakan Buatan D. EVALUASI PAKAN BUATAN IKAN KERAPU Pakan yang baik adalah pakan yang secara nutrisi memenuhi kebutuhan ikan dan secara ekonomis menguntungkan. Untuk mengetahui pakan yang baik perlu adanya evaluasi meliputi aspek fisik, kimia, biologi serta ekonomis pakan. Pakan yang siap diaplikasikan harus memiliki aspek fisik dan kimia seperti berikut : ukuran (size) yang sesuai dengan ukuran ikan yang dipelihara serta tekstur atau penampakan yang baik sesuai standar pakan dan kandungan nutrisi sesuai dengan kebutuhan ikan yang

57

dipelihara. Aspek lainnnya adalah ketahanan pakan untuk disimpan (durability) serta ketahanan pakan untuk terurai dalam air (water stability) yang berpengaruh terhadap kualitas perairan. Aspek biologi pakan berkaitan dengan pengaruhnya terhadap pertumbuhan ikan. Aspek tersebut meliputi kemampuan pakan untuk diterima ikan baik waktu dimakan maupun dicerna (acceptibility dan pelletability). Kedua hal tersebut berkaitan dengan karakter fisik bahan, bau (odour) dan rasa (taste) serta kesesuaian nutrisi pakan dengan daya cerna tubuh ikan. Secara keseluruhan, aspek-aspek di atas dikatakan berhasil bila ditunjang dengan manajemen pemberian pakan yang baik serta mampu memberikan keuntungan ekonomis yang tinggi. Untuk mencapai aspek-aspek tersebut di atas, maka perlu adanya pengujian dari pakan yang akan diaplikasikan. Pengujian tersebut terutama bertujuan memperoleh pertumbuhan ikan yang optimal dengan menggunakan formulasi-formulasi yang telah disusun. Pengujian pakan buatan untuk ikan kerapu macan dan kerapu tikus telah dilaksanakan di Balai Budidaya Laut pada tahun belakangan ini. Pengujian tersebut dilaksanakan di bak terkendali dan karamba jaring apung. Formulasi pakan buatan untuk ikan-ikan kerapu yang telah diujicobakan terutama pada ikan kerapu macan mulai pendederan sampai penggelondongan serta pendederan kerapu tikus. Dalam penyusunan formulasi tersebut, kandungan protein kasar yang digunakan berkisar antara 47,5 55,5% tergantung spesies. Sedangkan berdasarkan stadianya, formulasi untuk pendederan dan penggelondongan adalah sama, perbedaanya pada diameter pakan yang dicetak. Formulasi pakan ikan kerapu macan dan kerapu tikus disajikan pada Tabel 7. Berdasarkan hasil pengujian yang telah dilaksanakan, terdapat beberapa kelemahan penggunaan pakan buatan dibandingkan ikan rucah pada ikan kerapu. Kekurangan tersebut meliputi pertumbuhannya yang relatif lebih rendah dibandingkan pakan

58

buatan. Selain itu, pada awal adaptasi pakan buatan, tingkat kematiannya lebih tinggi dibandingkan ikan rucah. Namun selanjutnya, setelah ikan terbiasa dengan pakan buatan, tingkat kematiannya relatif rendah. Menurut Watanabe (1988), pakan untuk ikan laut sebaiknya berbentuk moist pellet. Di Jepang, pakan buatan terbukti telah berhasil digunakan untuk budidaya ikan yellow tail secara massal dengan telah diaplikasikannya pakan berbentuk soft dry pellet. Oleh karena itu, pengembangan secara kontinu pakan buatan untuk ikan kerapu perlu dilakukan karena budidaya belum dikatakan berhasil bila belum adanya pakan buatan sebagai pasokan eksternal pakan.

Tabel 7. Formulasi Pakan untuk Ikan Kerapu Macan dan Kerapu Tikus Bahan Baku Tepung Ikan Tepung Rebon Tepung Kepala Udang Tepung Kedelai Tepung Kulit Kepiting Tepung Kerang Hijau Ekstrak Bawang Putih/Kunyit Ikan Rucah Minyak Cumi Jenis Ikan Kerapu Macan Kerapu Tikus 25 30 10 10 10 10 10 5 10 10 5 5 0,25 0,25 20 20 5 5

59

CMC Vitamin E Vitamin C Vit/Min Mix Lecithin Jumlah Protein Kasar Lemak Karbohidrat

4 100 IU/kg pakan 0,2 0,2 0,25 100 50,11 16,44 9,34

4 0,2 0,2 0,25 100 53,22 15,92 13,61

DAFTAR PUSTAKA Akbar, S. 1991. Dietary Nutrient Requirement Review for Sea Bass (Lates calcarifer, Bloch.) and Grouper (Epinephelus spp). Institute of Aquaculture, University of Stirling. Scotland. Akbar, S., Sunaryat dan Budi Kurnia. 1998. Penggelondongan Ikan Kerapu Macan (Epinephelus fuscoguttatus) dengan Tiga Perlakuan Pakan Berbeda. Makalah Lintas UPT Direktorat Jendral Perikanan 1998. Balai Budidaya Laut. Lampung Cho, C.Y., C.B. Cowey and T. Watanabe. 1985. Finfish Nutrition in Asia : Methodological Approaches to Research and Development. IDRC. Ottawa, Ontario. Direktorat Jenderal Perikanan. 1999. Mendukung Keberhasilan PROTEKAN 2003 melalui Pengembangan Budidaya Perikanan. Makalah Lintas UPT Ditjen Perikanan 1999. Direktorat Bina Produksi. Direktorat Jenderal Perikanan. 1999 . Program Peningkatan Ekspor Perikanan 2003. Makalah Lintas UPT Ditjen Perikanan. Direktorat Bina Program.

60

Direktorat Jenderal Perikanan. 1999 . Pengembangan Perekayasaan Teknologi Perbenihan untuk Keberhasilan Program Peningkatan Ekspor Perikanan 2003. Makalah Lintas UPT Ditjen Perikanan 1999. Direktorat Bina Perbenihan. Giri, A.N. 1998. Aspek Nutrisi dalam Menunjang Pembenihan Ikan Kerapu. Makalah dalam Seminar Teknologi Budidaya Pantai. Departemen Pertanian dan Japan International Cooperation Agency. Lovell, T. 1977. Fish Nutrition and Feeding of Fish. Van Nostrand Reinhold. New York. NRC. 1977. Nutrient Requirement of Warmwater Fish and Shellfish. National Academy of Sciences. Washington, D.C.

New, B.M. 1986. Aquaculture of Post Larvae Marine of Super Family Serranidae, WithSpecial Reference to Sea Bass, Sea Bream and Groupers. A Review Kuwait Institute for Scientific Research, State of Kuwait. Bull. Of Marine ISBN : 979-95483-5-7 Science, 7 : 75-157 . Watanabe, T. 1988. Fish Nutrition and Mariculture. Japan International Cooperation Agency BAB VIII PENYAKIT PADA BUDIDAYA IKAN KERAPU Oleh : Philipus Hartono, Julinasari Dewi dan Toha Tusihadi

A. Latar Belakang Budidaya laut di Indonesia menunjukkan perkembangan kearah pembudidayaan yang semakin intensif, terutama untuk jenisjenis ikan dengan nilai ekonomis tinggi antara lain Kerapu, Kakap Putih, Kakap Merah, dan Kuda Laut. Dan perkembangan tersebut beberapa tahun terakhir berjalan cepat. Intensifikasi pengembangan budidaya laut biasanya selalu diikuti kendala-kendala yang mungkin sangat merugikan pengusaha. Munculnya penyakit merupakan salahsatu kendala utama pada pembudidayaan tersebut. Beberapa penyakit, baik penyakit infeksi (serangan hama dan agen infeksi seperti bakteri dan virus) maupun noninfeksi (water

61

quality diseases, nutritional diseases) sangat merugikan, mulai dari serangan akut yang menyebabkan kematian massal hingga kasus-kasus kronis (tidak menunjukkan gejala sakit) dan subklinis (tidak menunjukkan perubahan) yang mengakibatkan gangguan pertumbuhan. Penanggulangan penyakit merupakan faktor penting dalam mengantisipasi kerugian akibat kegagalan maupun penurunan produksi. Diagnosa penyakit berfungsi sebagai alat bantu penyelesaian kasus pada ikan sakit/mati dan sebagai pertimbangan (pada tingkat laboratorium) dalam menghadapi kendalakendala budidaya, seperti studi mutu dan kualitas pakan pada tingkat jaringan dan kasus-kasus lain pada ikan-ikan budidaya yang tidak menunjukkan gejala sakit. Penanggulangan kendala-kendala budidaya yang dilakukan harus memperhatikan aspek-aspek lingkungan, serta secara sosial ekonomi menguntungkan dan diterima masyarakat. B. Penyakit dan Diagnosa Penyakit Penyakit muncul sebagai suatu proses yang dinamis hasil interaksi antara inang (host), jasad penyebab penyakit (pathogen) dan lingkungan (environtment). Keseimbangan ketiga faktor tersebut menyebabkan tidak munculnya penyakit. Hal sebaliknya akan terjadi apabila keseimbangan tersebut terganggu. Munculnya penyakit tersebut dapat dipicu oleh beberapa antara lain lingkungan yang kurang mendukung (fisik, kimia maupun biologi), kepadatan ikan yang melebihi daya dukung (carrying capacity), rendahnya mutu pakan yang diberikan, serta menurunnya daya tahan tubuh. Secara umum peyakit dapat digolongkan menjadi penyakit infeksi (infectious diseases) dan non infeksi (noninfectious diseases). Penyakit infeksi dapat disebabkan oleh virus, bakteri, jamur, protozoa, maupun metazoa. Sedangkan faktor-faktor noninfeksi antara lain variasi lingkungan (oksigen, temperatur, pH, dan salinitas), biotoksin (toksin alga,

62

toksin zooplankton, mikotoksin, dan toksin dari tumbuhan), obstruksi insang, polutan, rendahnya mutu pakan dan akibat penggunaan bahan kimia dalam pengobatan. Penanganan secara tepat tidak terlepas dari penetapan diagnosa yang akurat. Hal ini bisa dipahami karena diagnosa penyakit akan sangat membantu dalam penanganan/pengobatan yang rasional. Dengan demikian perlu diketahui dasar-dasar pelaksanaan diagnosa penyakit, khususnya penyakit ikan.

1. Diagnosa Penyakit Diagnosa merupakan suatu cara untuk mengetahui kejadian yang menyimpang dari sifat-sifat normal dan menentukan penyebabnya. Diagnosa tersebut meliputi diagnosa klinik dan diagnosa laboratorik. Hasil diagnosa akhir yang ditetapkan akan menjadi bahan pertimbangan dalam penanganan dan meramalkan akhir dari suatu penyakit (prognosa). Diagnosa klinik atau sering disebut diagnosa fisik dilakukan berdasarkan pada gejala-gejala khusus (symptom) yang nampak. Tingkat kepercayaan diagnosa sangat tergantung kepada keakuratan dalam pengumpulan data tentang sejarah ikan, kondisi perairan, dan penemuan symptom. Sebagai pendukung dilakukan pemeriksaan kualitas perairan dan diagnosa laboratorik terhadap ikan sakit. Dari seluruh hasil pemeriksaan tersebut kemudian ditetapkan diagnosa akhir. Sejarah ikan mempunyai arti diagnostik yang sangat penting, antara lain meliputi status ikan dan riwayat kejadian penyakit. Status ikan meliputi jenis/spesies, populasi, umur, kelamin, ukuran dan berat, asal daerah ikan, serta sistem manajemen pemeliharaan yang dijalankan. Dalam riwayat/sejarah kejadian penyakit perlu diketahui insidensi (keberlangsungan) penyakit serta derajat kematian dan kesakitan.

63

Data tersebut digunakan sebagai indikasi untuk menduga agen penyebab penyakit (kualitas air, virus, bakteri, parasit, pakan atau faktor lain). Diagnosa fisik dimulai dengan pemeriksaan luar, dilakukan sejak ikan masih di dalam bak/karamba jaring apung. Pemeriksaan diarahkan pada perubahan tingkah laku abnormal seperti mengendap di dasar, berenang dengan posisi terbalik, adanya gerak tak terkoordinasi ataupun menggesek-gesekkan badan pada dinding bak. Selanjutnya dilakukan pemeriksaan bagian luar tubuh secara menyeluruh terhadap kemungkinan adanya abnormalitas maupun perubahan abnormal tubuh dan organ tubuh. Pemeriksaan luar meliputi : pengamatan terhadap pertumbuhan, abnormalitas, warna kulit, produksi lendir kulit, sisik, parasit kulit, warna sirip dan keadaan sirip, warna insang, produksi lendir insang serta adanya parasit atau benda asing pada insang , kekeruhan mata dan eksoptalmia. Bedah bangkai dilakukan dengan membuka rongga perut sepanjang sisi bawah perut mulai dari rectum kearah depan sampai rahang bawah, kemudian dilanjutkan dengan sayatan kesamping sepanjang sisi rongga perut. Pemeriksaan dilakukan terhadap rongga tubuh dan dinding perut (warna, keadaan, dan timbunan cairan) diikuti dengan pengamatan ukuran, bentuk, warna, konsistensi dan letak/susunan anatomi organ dalam secara menyeluruh terhadap jantung, hati, limpa, usus, gelembung renang, dan terakhir ginjal. Setiap pemeriksaan organ tubuh masing-masing dapat diikuti dengan isolasi bakteri (hati, limpa dan ginjal) serta preparasi (persiapan) organ untuk pemeriksaan laboratorik lainya. Jumlah ikan yang diperlukan untuk pemeriksaan sampel tergantung pada agen kausatifnya. Penyakit yang disebabkan oleh bahan toksik memerlukan 2-3 ekor ikan sakit dari berbagai macam spesies. Sedangkan yang disebabkan oleh infeksi bakteri atau virus memerlukan 3-10 ekor ikan sakit, serta yang disebabkan oleh jamur dan parasit memerlukan 10-15 ekor ikan sakit.

64

Setelah pemeriksaan fisik, untuk keperluan peneguhan diagnosa, selanjutnya dilakukan pemeriksaan laboratorik. Jika pemeriksaan laboratorik tidak mungkin dilakukan dan memerlukan bantuan dari instansi lain, sampel ikan yang dikirim disertai dengan surat pengantar sampel. Surat pengantar tersebut antara lain berisi penjelasan tentang : tanggal, umur, jenis ikan, ukuran ikan, jenis kelamin, tempat, gejala penyakit yang ditunjukkan, perubahan makroskopik dari lesi yang ditemukan saat otopsi, perkiraan jumlah ikan dengan lesi yang sama atau yang mati, serta tentang kondisi lingkungan (misalnya sumber air, kualitas air, jumlah dan ukuran pakan, frekuensi pemberian pakan, pengobatan/penanganan yang telah dilakukan, dll). 2. Preparasi Jaringan Diagnosa laboratorik selain membantu peneguhan diagnosa dalam pemeriksaan fisik juga berfungsi untuk mendeteksi penyakit dan agen penyebab penyakit yang menyerang. Hal ini dapat dipahami karena beberapa kasus penyakit yang berbahaya bersifat subklinis. Sebagai contoh, serangan VNNV (Viral Nervous Necrosis Virus) pada induk tidak menunjukkan gejala klinik, akan tetapi dapat menyebabkan kematian massal pada larva ikan yang tertular. Keakuratan hasil pemeriksaan laboratorik sangat tergantung pada persiapan preparat sebelum pemeriksaan dilakukan. Ikan yang digunakan untuk pemeriksaan sebaiknya ikan yang masih hidup, atau baru saja mati. Ikan yang terlalu lama dibiarkan (walaupun disimpan dalam referigerator) tanpa dilakukan fiksasi (pengawetan) terlebih dahulu akan mengurangi keakuratan hasil pemeriksaan. Tiap-tiap pemeriksaan memerlukan perlakuan yang berbeda, dan untuk beberapa pemeriksaan memerlukan fiksasi. Dalam pemeriksaan Histopatologi (analisa perubahan jaringan ) fiksasi bertujuan untuk mematikan sel dan mengeraskan jaringan secara cepat. Jaringan akan dengan cepat mengalami autolisis segera setelah ikan mati. Apabila larutan fiksatif tidak tersedia, jaringan harus secepatnya disimpan dalam refrigerator. Adapun larutan

65

fiksatif yang digunakan adalah buffered formalin. Untuk pemeriksaan ikan yang berukuran kecil (panjang kurang lebih 10 cm) harus dilakukan sayatan memanjang dibagian ventral perut sepanjang rectum hingga mandibula dan melepas otot yang menutupi sisi perut. Bila ukuran besar tiap organ dipreparasi dengan potongan 0,5 X 0,5 cm. Selanjutnya seluruh sample dimasukkan dalam larutan buffered formalin. Larutan fiksatif yang digunakan untuk keperluan pemeriksaan virus dengan metode PCR (polymerase chain reaction) adalah Alkohol 80%. Organ-organ yang dipakai sebagai 66ample antara lain otak, mata, hati, limpa, dan ginjal. Seperti halnya untuk pemeriksaan Histopathologi, pemeriksaan bakteri hendaknya dilakukan sesegera mungkin. Jika hal itu tidak dapat dilakukan simpan di dalam refrigerator. Bakteri diisolasi dari luka-luka tubuh, hati, limpa, dan ginjal. 3. Diagnosa Laboratorik Mikroorganisme penyebab penyakit dapat berupa parasit, bakteri, jamur maupun virus. Diperkirakan terdapat lebih dari 20 penyakit kutaneus (penyakit yang menyerang kulit) dan penyakit sistemik, 30 penyakit virus, dan 100 penyakit parasiter (Mangunwiryo, 1993). Pemeriksaan laboratoris meliputi pengamatan terhadap parasit tubuh; uji bakteri, virus, dan interpretasi obat. Pelaksanaan diagnosa laboratorik sejauh mungkin dihindarkan dari kemungkinan adanya perubahan struktur dan fungsi sel serta kontaminasi selama penanganan. Diagnosa laboratorik pada ikan lebih kompleks dibandingkan dengan mamalia, sebab terdapat interaksi antara hospes, faktor infeksi dan noninfeksi dalam penempakan gejala penyakit. Dengan demikian, sangat penting pemeriksaan laboratorik dilakukan terhadap ikan sakit/mati yang masih segar. pemeriksaan meliputi : a. Pemeriksaan Makroskopik/Submakroskopik Prosedur

66

Pemeriksaan makroskopik berfungsi untuk mengamati adanya perubahan anatomi secara umum. Pemeriksaan ini telah dibahas lebih mendalam pada pemeriksaan fisik. Pemeriksaan submakroskopik antara lain meliputi penyiapan preparat apus pada lendir/kerokan kulit, penyiapan preparat usap insang, preparat tempel jaringan, preparat usap jaringan, dan preparat tekan jaringan. b. Pemeriksaan Histopatologi Pemeriksaan histopatologi berfungsi untuk mengetahui perubahan abnormal pada tingkat jaringan dan kemungkinan agen penyebab utamanya. Pemeriksaan ini hendaknya disertai dengan pengetahuan tentang gambaran histologi normal jaringan, respon jaringan terhadap etiologi, dan patologi komparatif terhadap hewan-hewan kelas tinggi. c. Pemeriksaan Bakteriologi. Hal yang menjadi pertimbangan dalam pemeriksaan bakteriologi adalah faktorfaktor yang mempengaruhi pertumbuhan bakteri, terutama pengaruh terhadap suhu. Penanaman bakteri patogen ikan dapat dibiakkan pada media rutin pada suhu rendah (sekitar 28oC). Jangan menginkubasikan pada suhu 37oC keatas. Beberapa perkecualian temperatur yang diperlukan untuk pertumbuhan bakteri: Renibacterium salmoninarum 15oC dan A. Salmonicida 37oC. Selain media rutin, ada beberapa media selektif untuk beberapa bakteri patogen antara lain TCBS (Thiosulphate Citrate Bile Salt ), Marine Blood Agar untuk vibrio spp.; Rimler-Shot Medium untuk A. hydrophila, Y. ruckeri, dan Edwardsiella sp; Kidney Disease Medium untuk R. Salmoninarum. Pemeriksaan untuk kasuskasus karier pada ikan menggunakan subsampling 2-5% dari populasi. Untuk mengetahui jenis bakteri yang menyerang pada suatu populasi, dilakukan identifikasi bakeri. Salah satu metode identifikasi adalah pengecatan gram dan dilanjutkan dengan uji biokimiawi. Sedangkan untuk menekan kegagalan pengobatan infeksi bakterial karena kesalahan pemilihan obat dapat dilakukan

67

pengujian obat yang akan digunakan terhadap bakteri yang menginfeksi. Uji biologi obat yang relatif sederhana dan mudah dilakukan antara lain Disc sensitivity test, Interpretasi sensitivity test, Minimum inhibitory concentration (MIC), minimum bactericidal concentration, dan minimum antibiotic concentration. Metode yang digunakan di Balai Budidaya Laut adalah disc sensitivity test dan interpretation of sensitivity test.

d.

Pemeriksaan virologik Ada beberapa metode terhadap penyakit viral. Pemeriksaan terhadap kemungkinan infeksi secara histologi dilihat adanya cytopathic effect dan reaksi peradangan pada jaringan terinfeksi. Pemeriksaan cytopathogenic effect secara invitro dilakukan dengan pembiakan virus, kemudian diikuti dengan pemeriksaan mikroskpik. Identifikasi definitif lain anatara lain dengan metode netralisasi virus, fluororesensi antibodi, fiksasi komplemen dan ELISA. Penggunaan bioteknologi untuk pemeriksaan virus telah banyak digunakan. Salahsatunya adalah penggunaan metode PCR (Polymerase Chain Reaction). Metode lain yang lebih praktis dengan metode tersebut adalah penggunaan imuno(sito)histokimia, misalnya penggunaan pewarnaan dengan metode Immunoperoxidase Monolayer Assay (IPMA).

e.

Pemeriksaan Parasitologi Pemeriksaan parasit meliputi pemeriksaan mikroskopik pada preparat-preparat usap dan tekan jaringan (lihat submakroskopik).

f.

Pemeriksaan Lain

68

Uji-uji lain di laboratorium antara lain uji serologis untuk diagnosa cepat, uji aglutinasi, dan pemeriksaan darah. C. Penyakit Ikan yang Ditemukan di Balai Budidaya Laut 1. Parasit Parasit penyebab penyakit yang menyerang ikan Kerapu antara lain : Monogenia (termasuk dalam golongan Platyhelminthes) yang menyerang kulit, Diplectanum sp (sejenis cacing pipih golongan Trematoda) menyerang insang, Isopoda (golongan Crustacea) yang menyerang pangkal lidah dan insang, Cryptocaryon irritans (golongan Protozoa) yang menyerang kulit dan Trichodina sp (golongan Protozoa)yang menyerang kulit, insang dan sirip. Gejala-gejala yang ditimbulkan oleh serangan Monogenia, antara lain kehilangan nafsu makan, gerak renang lambat dan lesi pada kulit. Adapun serangan Diplectanum sp ditunjukkan dengan gejala berupa : nafsu makan berkurang, sering menggosok-gosokkan tubuh ke dinding bak pemeliharaan, tubuh dan insang pucat, produksi lendir tinggi serta berenang di permukaan air dengan megap-megap dan tutup insang terbuka. Serangan Cryptocaryon irritans ditandai dengan adanya bintik-bintik putih yang cukup dalam, ikan kehilangan nafsu makan, sisik lepas-lepas serta mata membengkak. Trichodina sp menjangkiti ikan dengan menimbulkan gejala yang hampir sama dengan serangan Cryptocaryon irritans, kecuali kerusakan pada kulit jarang terjadi. Akibat yang ditimbulkan oleh adanya serangan parasit biasanya tidak bersifat fatal, umumnya kematian terjadi dalam jangka waktu yang lama. 2. Bakteri

69

Hasil analisa dengan metode pewarnaan gram dan uji biokimiawi bakteri yang diisolasi dari luka-luka pada permukaan tubuh ikan dan organ-organ dalam ditemukan Vibrio sp, Pateurella sp, dan Pseudomonas sp. Untuk diagnosa cepat di lapangan terhadap kemungkinan infeksi oleh Vibrio sp digunakan media agar selektif TCBS. Hasil pembiakan pada media TCBS terhadap organ-organ dalam ikan sakit di BBL hampir selalu memberikan hasil yang positip. Beberapa bakteri batang gram negatif lain juga telah diketahui menyerang pada hati limpa maupun ginjal ikan kerapu. Beberapa kasus menunjukkan serangan tersebut bersifat subklinis. Bakteri yang terserang Vibrio sp menunjukka gejala antara lain; nafsu makan berkurang, terjadi kelesuan, pembusukan pada sirip, mata menonjol dan terjadi pengumpulan cairan pada perut. Kematian yang ditimbulkan oleh serangan bakteri akut mungkin tidak terjadi secara massal, dan berlangsung secara bertahap dalam waktu yang tidak lama. c. Virus Analisa virus dilakukan dengan metoda PCR (Polymerase Chain Reaction) dan ditemukan infeksi VNNV (Viral Nervous Necrosis Virus) pada ikan Kerapu Tikus. VNNV termasuk dalam golongan Donaviridae. Ikan Kerapu Bebek yang terserang VNNV ditandai dengan gejala sebagai berikut : Ikan mengendap di dasar, Keseimbangan renang terganggu (kadangkala berputar putar), Bagian luar tubuh dan organ dalam tetap dalam keadaan baik (tanpa luka).

Serangan pennyakit bersifat sporadik pada larva ikan, sedang pada pembesaran dan induk bersifat subklinis. d. Pemeriksaan Histopatologi

70

Pemeriksaan histopatologi terhadap organ-organ tubuh ikan sakit menunjukkan adanya perubahan-perubahan abnormal pada beberapa organ. Perubahan-perubahan tersebut antara lain degenerasi melemak (beberapa ikan menunjukkan degenerasi yang berat) serta hepatopankreatitis subakut pada hati ikan Kerapu Macan, Kerapu Malabar dan Kerapu Tikus. Disamping itu dijumpai pula adanya ensefalitis akutsubakut disertai vakuolisasi pada parenkim otak, glomerulonefritis subakut pada ginjal, serta akumulasi hemosiderin pada lien. Dari gambaran histologi ini perlu dipertimbangkan faktor-faktor infeksi dan mutu pakan dalam proses kejadian penyakit. Disamping itu ditemukan juga kista parasit pada jaringan otot benih Kerapu Bebek. D. PENANGANAN PENYAKIT Penanganan penyakit di BBL meliputi usaha-usaha pencegahan, pengobatan dan

pemberantasan. Usaha-usaha tersebut meliputi pemberian multivitamin, perendaman dengan kemoterapeutik, pemberian obat peroral (melalui mulut), pemusnahan ikan dan desinfeksi bak-bak pemeliharaan. Penanggulangan terhadap infeksi ektoparasit (parasit yang berada di luar tubuh) dilakukan dengan perendaman air tawar selama lima menit dengan dua kali pengulangan. Perendaman dapat juga dilakukan dengan H2O2 150 ppm selama 30 menit, Malachite Green dengan konsentrasi 1-3 ppm selama satu jam. Apabila telah terjadi luka yang disertai dengan infeksi sekunder pengobatan dilakukan dengan perendaman acriflavin konsentrasi 5-10 ppm selama 1-2 jam atau prefuran 1-2 ppm selama setengah sampai satu jam masing-masing dilakukan tiga hari berturut-turut. Untuk pencegahan di karamba jaring apung perendaman dengan air tawar dilakukan sekali sebulan. Pengobatan sekaligus pemberantasan terhadap infestasi Monogenia pada ikan-ikan yang dipelihara dalam bak pemeliharaan dilakukan dengan perendaman sekaligus pemindahan dari satu bak ke bak lainnya. Perendaman dapat dilakukan dengan H2O2

71

150 ppm selama 30 menit. Pada perendaman yang pertama diharapkan semua stadium parasit yang ada pada tubuh ikan, kecuali telur akan lepas. Setelah parasit lepas semua ikan dipindahkan dalam bak kedua yang bebas penyakit. Selama tujuh hari telur parasit yang tertinggal dalam tubuh akan berkembang menjadi oncomiracidium. Perendaman yang kedua dilakukan untuk melepaskan oncomiracidium dari tubuh ikan. Setelah perendaman ikan terbebas dari semua stadium Monogenia. Ikan-ikan ini dapat dipindahkan kembali ke dalam bak pemeliharaan yang pertama setelah sebelumnya dilakukan desinfeksi dan pengeringan selama tujuh hari. Pengobatan ikan terhadap infeksi bakteri dilakukan dengan perendaman antibiotik (antara lain Oxytetracyclin, Enrofloxacin, Gentamycin), pemberian preparat sulfa ataupun antiseptika ( misalnya: Prefuran, Acriflavin). Perlakuan dengan senyawasenyawa tersebut juga berguna untuk pencegahan terhadap infeksi. Dalam pengobatan, selain pertimbangan efektifitas obat terhadap agen penyakit tertentu juga harus mempertimbangkan pencemaran lingkungan. Untuk hal ini perlu dilakukan uji interpretasi obat terhadap sensitifitas bakteri yang berasal dari perairan bebas, air bak pemeliharaan dan bakteri dari organ dalam ikan. Uji interpretasi obat juga sebagai salah satu pertimbangan awal dalam penggunaan obat yang sebelumnya belum pernah digunakan di suatu lokasi. Uji alternatif penggunaan antibiotik dalam pengobatan terhadap bakteri yang diisolasi dari organ-organ dalam (hati, limpa, dan ginjal) ikan sakit di Balai Budidaya Laut dan wilayah sekitarnya telah dilakukan. Dengan metode Interpretation of sensitivity test, kemampuan antibakteri beberapa antibiotik berikut terhadap bakteri tersebut diatas semakin menurun, berturut-turut : Enrofloxacin, Klorampenikol, Gentamicin, dan terakhir Oxytetrasilin. Penanganan terhadap infeksi virus dilakukan dengan pemusnahan ikan-ikan terinfeksi, diikuti dengan desinfeksi dan pengeringan bak pemeliharaan. Pencegahan terhadap

72

kemungkinan terjadi penularan dari ikan yang baru didatangkan dari luar perlu dilakukan karantina sampai ikan dinyatakan sehat.

DAFTAR PUSTAKA Anonim. 1985. Patologi Klinik Pada Ikan, Diagnosa dan Pencegahan Penyakit Ikan. Sub Balai Penelitian Budidaya Pantai, Bojonegara. Serang. Anonim. 1993. Petunjuk Pelaksanaan Penanggulangan Penyakit Ikan. Direktorat Bina Sumber Hayati, Direktorat Jenderal Perikanan. Jakarta. Chang, Y.C. and T.M. Chao. 1986. Common Diseases of Marine Foodfish. Fisheries Hand Book No. 2. Primary Production Department Ministry of National Development Republic of Singapore. Mangunwiryo, H. 1993. Deskripsi dan Identifikasi Patogen Penyebab Penyakit Ikan oleh Virus. Balai Penelitian Veteriner (Balitvet) Bogor, Badan Litbang Pertanian, Departemen Pertanian. Bogor. Moller, H. and K. Andes. 1986. Diseases and Parasites of Marine Fishes. Verlog Moller Publications. Germany. Pitogo, C.L. 1995. Disease Development. Aquaculture Department, SEAFDEC Training and Information Division. Iloilo, Philippines. Zafran, Roza, D., Koesharyani, I., Johny, F., and Yuasa, K. 1998. Manual for Fish Diseases Diagnosis, Marine Fish and Crustacean Diseases in Indonesia. Gondol Research Station for Coastal Fisheries, Central Research Institute for Fisheries Agency for Agricultural Research and Development and Japan International Cooperation Agency (JICA). Indonesia. Anderson, D.P., 1974, Fish Imunology, T.F.H. Publication, Inc. Ltd., Neptune.

73

Robert, R.J., 1989, Fish Pathology, Second edition, Bailliere Tindal, Philadelphia. Phillips, P.H., 1988,Submission of and Post Mortem Examination of Fish, Fish Diseases Refresher Course for veterinarians, Proceeding 106, Post Graduate Committee in Veterinary Science, University of Sydney, NSW, Australia Humphrey, J.D.,1988, Laboratory aprocedur for the Identification of Fish Patogen, Fish Diseases Refreser Course for Veterinarians, Proceeding 106, Post Graduate Committee in Veterinarians Science, University of Sydney, NSW, Ausralia.

Kurniasih, 1999, Penunun Proses Jaringan dan Atlas Histologi Ikan, Pusat Karantina Ikan, Departemen Pertanian, Jakarta. Kurniasih, 1999, Deskripsi Histopatologi Ikan, Pusat Karantina Ikan, Departemen Pertanian, Jakarta.

74

ISBN : 979-95483-5-7

BAB IX PANEN DAN PENANGANAN PASCA PANEN Yuwana Puja, Sudjiharno, dan Syarifudin A. Latar Belakang

Hasil produksi ikan bagi sumber devisa negara dan pemenuhan kebutuhan konsumsi manusia antara lain berasal dari usaha penangkapan dan hasil budidaya. Tetapi hasil penangkapan masih belum dapat diandalkan dalam penyediaan ikan segar maupun ikan hidup jika dibandingkan dari hasil usaha budidaya. Budidaya laut di Karamba Jaring Apung merupakan suatu alternatif yang dapat dilakukan untuk meningkatkan produktivitas perikanan. Jenis-jenis ikan laut yang dapat dikembangkan antara lain ikan Kerapu Tikus dan ikan Kerapu Macan. Peluang ekspor ikan kerapu Indonesia di pasaran Internasional cukup baik. Menurut data statistik perikanan, beberapa negara konsumen utama adalah Singapura, Hongkong, Taiwan, China dan Jepang. Untuk memperoleh nilai tambah, maka produksi ikan kerapu lebih banyak di jual dalam bentuk hidup.

75

Hal-hal yang perlu diperhatikan untuk menjaga kualitas ikan kerapu dalam budidaya antara lain teknik pemanenan yang meliputi : penentuan waktu pemanenan, peralatan panen, sampling, metoda dan teknik panen serta pengelolaan pasca panen. B. TEKNIK PEMANENAN

Teknik pemanenan ikan pada unit Karamba Jaring Apung relatif mudah di lakukan dan dapat di lakukan panen total maupun panen sebagian sesuai dengan permintaan pasar, terutama pada waktu harga jual tinggi. 1. Waktu Pemanenan Waktu pemanenan ikan biasanya ditentukan oleh ukuran permintaan pasar. Ukuran Super biasanya berukuran 500gram 1000 gram/ekor dan merupakan ukuran yang mempunyai nilai jual tertinggi. Untuk jenis kerapu macan waktu pemanenan adalah 4 bulan setelah pemeliharaan dengan berat awal 50 75 gram /ekor. Sedangkan pada ikan kerapu Tikus dilakukan pemanenan setelah 9 bulan pemeliharaan dengan berat awal 75 gram-100 gram/ekor. Pemanenan ikan untuk calon induk, biasanya dilakukan setelah ukuran ikan mencapai ukuran diatas 1000 gram /ekor. Pelaksanaan panen sebaiknya pada pagi hari atau sore hari, agar dapat mengurangi stress pada ikan selama berlangsung pemanenan. Pengangkutan ke tempat tujuan penjualan, diusahakan pada malam hari, untuk memudahkan pengaturan suhu dan menghindari ikan stress. 2. Peralatan Panen Beberapa peralatan panen yang diperlukan antara lain : Scoop net, timbangan, alat tulis, kapal/perahu, bak transportasi volume 1 ton, bak pemberokan volume 4 ton dan peralatan aerasi.

76

3. Sampling Sebelum dilakukan pemanenan, terlebih dahulu dilakukan sampling yang bertujuan untuk mengetahui kondisi ikan dan estimasi hasil panen. 4. Metode Panen Metode panen dalam budidaya ikan Kerapu di Karamba Jaring Apung adalah : a. Panen Total Dalam metode ini, semua ikan yang dipelihara dipanen. Biasanya hal ini dilakukan karena permintaan pembeli dalam jumlah banyak atau semua ikan telah memenuhi persyaratan berat untuk pemanenan. b. Panen Sebagian Metode ini dilakukan karena beberapa alasan, yakni ukuran ikan yang dipelihara tidak seragam, permintaan pembeli yang mengklasifikasikan berat tertentu atau permintaan pembeli yang relatif sedikit. Panen selektif ini dilakukan dengan mengambil sebagian ikan yang sudah masuk ukuran tertentu, sedangkan sisanya dapat dipisahkan untuk dipelihara lagi. 5. Teknik panen 5.1. Produk ikan hidup Pemanenan ikan di Karamba Jaring Apung dapat segera dilakukan setelah semua peralatan yang akan digunakan untuk pemanenan telah tersedia. Biasanya ikan dipuasakan 24 jam sebelumnya. Hal ini dilakukan untuk menghindari ikan muntah selama pengangkutan. Tahapan panen, mula-mula jaring dibagi menjadi dua bagian dengan

menggunakan bambu atau kayu, agar memudahkan dalam pengambilan ikan. Untuk panen ikan hidup, perlu dipersiapkan bak penampungan sementara, volume 1 ton yang di isi air laut bersih.

77

Dengan menggunakan scoop net, ikan diambil dari jaring dan ditampung dalam bak penampungan tersebut. Satu bak penampungan dapat berisi 100 ekor ikan, sehingga untuk panen ikan total, memerlukan beberapa kali trip pengangkutan dari karamba ke darat. Setelah ikan ditampung dalam bak penampungan sementara, segera ikan dibawa ke darat menggunakan kapal / perahu. Selanjutnya dengan menggunakan ember/container kecil, ikan-ikan tersebut dipindahkan dari kapal ke bak penampungan di darat. Bak penampungan ikan di darat berukuran 4-10 ton yang terlebih dahulu di isi air laut bersih dan dilengkapi peralatan aerasi. 5.2. Produk ikan mati segar Cara pemanenan untuk produk ikan mati segar di KJA, relatif sama seperti pada pemanenan untuk produk ikan hidup, hanya saja kepadatan ikan di bak penampungan sementara (di kapal) dapat mencapai 300 ekor/bak. Ikan kemudian dibawa ke darat, dan dapat langsung dikemas dalam bak /box kayu yang sudah diberi es, atau ditampung sementara di bak penampungan volume 4-10 ton, yang telah diisi air laut, ditambah es dan garam dapur untuk mempercepat kematian ikan dan mengurangi akumulasi bakteri. C. PENGELOLAAN PASCA PANEN DAN PENGANGKUTAN 1. Produk Ikan Hidup Ikan hasil panen yang di tampung dalam bak penampungan di darat, biasanya dipuasakan 24 jam sebelum pengangkutan . Untuk pencegahan penyakit, dalam bak penampungan dilakukan perendaman dengan acriflavin 5 ppm selama 1 jam atau methyline blue 3 ppm selama 1 jam. Setelah perendaman, kemudian di alirkan air laut steril dan diusahakan dengan sistem air mengalir.

78

Pengangkutan ikan hidup sebaiknya dilakukan sore hari. Hal ini bertujuan untuk menghindari ikan stres karena suhu tinggi di siang hari. Sebelum di angkut, terlebih dahulu dilakukan penimbangan berat ikan, untuk mengetahui berat total panen, dan ikan siap diangkut dengan menggunakan mobil pengangkut ikan yang dilengkapi dengan bak volume 1-3 ton dan perlengkapan aerasi, kapasitas angkut ikan adalah 200 ekor/ton air. Pengangkutan produk ikan hidup dengan media air pemeliharaan dan dilengkapi sarana aerasi ini dapat dilakukan untuk jarak yang relatif jauh dengan batas waktu 2 hari. Selebihnya harus dilakukan pergantian air laut dibak transportasi tersebut dengan air laut yang bersih. Penanganan ikan ditempat tujuan, antara lain : mempersiapakan bak penampungan dan diisi air laut bersih, dan diusahakan sistem air mengalir. Ikan dipindahkan dari mobil pengangkut ikan , ke bak penampungan secara hati-hati. Untuk menjaga kesehatan ikan, dapat dilakukan pencegahan penyakit dengan perendaman acriflvin atau methyline blue. 2. Produk Ikan mati segar Wadah pengepakan dapat terbuat dari fibre glass, kayu, plastik atau styrofoam. Sebelum ikan dikemas, terlebih dahulu di lakukan penimbangan ikan untuk mengetahui total berat panen dan dilakukan pencucian, agar dapat menghilangkan / mengurangi lendir pada ikan yang mengakibatkan turunnya mutu produk. Penyusunan ikan produk mati segar di kotak/bak pengemasan, antara lain disusun berlapis, dengan es curah di dasar bak, kemudian susunan ikan beberapa lapis, ditambah es curah kembali, apabila kapasitas cukup,dapat ditambah susunan ikan lagi, kemudian ditambah es curah

79

DAFTAR PUSTAKA Anonimus, 1987. Petunjuk Teknis Pengangkutan Ikan Hidup . Direktorat Jenderal Perikanan, Departemen Pertanian, Jakarta. Anonimus, 2000. Rancangan Standar Nasional Indonesia : Produksi Pembesaran Ikan Kerapu Tikus (Cromileptes altivelis), Valenciennes Kelas Pembesaran. Anonimus, 2000. Rancangan Standar Nasional Indonesia : Produksi Pembesaran IkanKerapu Macan ( Epinephelus fuscoguttatus ), For skall, Kelas Pembesaran. Suparno dan Hari Eko Irianto , 1995. Teknologi Pasca Panen dan Transportasi Ikan Hidup. Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan ,Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian , Jakarta. Santos, Leonor M, 1995. Postharvest Technology. Southeast Asian Fisheries Development Center, Tigbauan, Iloilo , Philippines.

80

ISBN : 979-95483-5-7

BAB X ANALISA USAHA Nur Rausin, Agoes Soedarsono, dan Tiya Widi Aditya A. LATAR BELAKANG Dalam segala usaha soal keuangan dan modal lebih diutamakan disamping aspek pemasaran produksi, personalia (tenaga kerja) dan aspek teknis serta lingkungan.. Pengendalian keuangan pada setiap pengusaha atau perusahaan diperlukan analisis usaha. Analisa usaha merupakan pemeriksaan keuangan untuk mengetahui ssejauh mana keberhasilan yang telah dicapai selama usaha itu berkembang. Dengan analisa usaha ini, pengusaha membuat perhitungan dan menentukan tindakan untuk memperbaiki dan meningkatkan keuntungan dalam perusahaannya. Analisa usaha pembesaran ikan kerapu macan dan kerapu tikus ini menggunakan konstruksi rakit dari kayu dan pelampung dari drum plastik. Biaya investasi masingmasing usaha pembesaran kerapu macan dan kerapu tikus Rp. 94.565.000,- dan biaya produksi sebesar Rp. 107.498.150,- dengan kapasitas produksi 3.553 kg untuk ikan kerapu macan dan biaya produksi untuk kerapu tikus sebesar 176.991.863,- dengan kapasitas produksi 4.467,5 kg. Rp.

81

Penebaran awal (tahap pendederan) ikan kerapu macan dan kerapu tikus adalah sama yaitu 3 4 cm (1,2 2 gr) per ekor dengan takaran pakan setiap hari 15 20 % dari bobot biomassa. Untuk tahap penggelondongan padat penebaran 100 150 ekor/m 3 dengan ukuran 9 12 cm (15 25 gr) per ekor dengan takaran pakan setiap hari 10 15 % dari bobot biomassa dan tahap pembesaran padat penebaran 25 30 ekor/m3 dengan ukuran 15 17 cm (50 75 gr) per ekor dengan takaran pakan setiap hari 6 % dari bobot biomassanya. Lama pemeliharaan ikan kerapu macan 7 bulan mulai dari tahap pendederan, penggelondongan, dan pembesaran dengan sintasan masing masing 80 %, 85 %, dan 95 %, dipanen pada bobot 500 gr/ekor. Ikan dijual dalam keadaan hidup di lokasi panen (pemeliharaan) dengan harga rata rata sebesar Rp. 75.000,-/kg. Lama pemeliharaan ikan kerapu tikus 14 bulan, mulai dari tahap pendederan,

penggelondongan dan tahap pembesaran dengan tingkat sintasan masing masing 90%, 95 %, dan 95 %, dipanen dalam keadaan hidup di lokasi pemeliharaan dengan harga rata rata Rp. 250.000,-/kg. B. INVESTASI Investasi dalam suatu usaha adalah alokasi dana ke dalam usaha yang bersangkutan, dimana investasi tersebut meliputi penggunaaan dana untuk pengadaan sarana dan prasarana produksi (Kadariah, dkk, 1978). Biaya investasi awal sebesar Rp. 94.565.000,- dengan rincian sebagai berikut : 1. KJA dengan rumah kerja/jaga 4 unit = 2. Jaring Pemeliharaan dan pengganti a. Waring (1x1x1,5 m) mz 4 mm 56 bh x 40.000 = b. Jaring PE (1x1x1,5 m) mz 0,5 60 bh x 300.000 = c. Jaring PE (1x1x1,5 m) mz 1,25 18 bh x 700.000 = 3. Perahu motor tempel 5 pk 4. Freezer sanyo (Vol : 600 liter) Rp. 35.000.000,Rp. Rp. Rp. Rp. Rp. 2.240.000,18.000.000,12.600.000,6.500.000,6.000.000,-

82

5. Tabung gas oksigen Rp. 500.000,6. Aerator AC dan Accu Rp. 1.000.000,7. Rumah genset Rp. 1.500.000,8. Generator Listrik 5 KVA Rp. 7.250.000,9. Water pump Sanwa Rp. 600.000,10. Instalasi kabel dan penerangan Rp. 1.650.000,11. Mesin giling daging manual Rp. 225.000,12. Peralatan kerja (Serokan, gunting, keranjang, dll) Rp. 1.500.000,_____________________________________ Total Rp. 94.565.000,-

C. BIAYA PRODUKSI Biaya produksi merupakan modal yang harus dikeluarkan untuk membudidayakan ikan kerapu macan dan kerapu tikus, dari persiapan sampai panen. Dalam hal ini termasuk biaya perawatan, izin usaha, pengobatan benih, pakan, dan lain lain. Biaya produksi ini dapat dibedakan antara biaya tetap dan biaya variabel. a. Biaya tetap. Biaya tetap adalah biaya yang harus dikeluarkan dengan produksi nol, atau biaya tidak berubah meskipun volume produksi berubah. Pendapat lain mengatakan bahwa biaya tetap adalah seluruh jenis biaya yang selama satu periode produksi tetap jumlahnya dan tidak mengalami perubahan. Biaya tetap termasuk perawatan, izin usaha, penyusutan, dan gaji pegawai. Kerapu Macan Biaya tetap untuk pembesaran kerapu macan diperlukan sebesar Rp. 30.647.990,selama 7 bulan pemeliharaan, dengan rincian sebagai berikut : 1. 2. 3. 4. 5. Penyusutan 20 %/th Rp. 11.032.580,Perawatan (5 % investasi)/th Rp. 2.758.150,Izin usaha (2% investasi)/th Rp. 1.103.260,Gaji teknisi 3 orang @ Rp. 500.000,- X 7 bln Rp. 10.500.000,Gaji supervisor 1 orang Rp. 750.000,- X 7 bln Rp. 5.250.000,_____________________________________ Total Rp. 30.643.990,-

83

Kerapu Tikus Biaya tetap untuk pembesaran kerapu tikus diperlukan sebesar Rp. 61.287.980,selama 14 bulan pemeliharaan, dengan rincian sebagai berikut : 1. 2. 3. 4. 5. Penyusutan 20 %/th Rp. 22.065.170,Perawatan (5 % investasi)/th Rp. 5.516.290,Izin usaha (2% investasi)/th Rp. 2.206.520,Gaji teknisi 3 orang @ Rp. 500.000,- X 14 bln Rp. 21.000.000,Gaji supervisor 1 orang Rp. 750.000,- X 14 bln Rp. 10.500.000,_____________________________________ Total Rp. 61.287.980,-

b. Biaya Variabel. Biaya variabel merupakan biaya yang habis dalam satu kali produksi seperti biaya untuk benih, pakan, obat obatan, dan lain lain. Pendapat lain mengatakan bahwa biaya variabel adalah jenis biaya yang naik turun bersamaan dengan volume kegiatan, biaya produksi bertambah maka biaya variabel pun bertambah dan sebaliknya. Biaya variabel yang diperlukan sebesar Rp. 66.488.600,- dengan rincian sebagai berikut : Kerapu Macan 1. Benih ikan 3-4 cm = 11.000 ekor x Rp. 3.000,Rp. 33.000.000,2. Pakan Rucah a. Pendederan 20% x (1,2 x 11.000) x 30 h x 2.500 Rp. 201.600,b. Penggelond. 15% x (25 x 8.800) x 60 h x 2.500 Rp. 4.950.000,c. Pembesaran 6% x (75 x 7.480) x 120 h x 2.500 Rp. 10.098.000,3. Multivitamin, Vit. C dan obat-obatan (1 paket) Rp. 1.000.000,4. Bahan bakar a. Solar 24 liter/hari = 5.040 liter x 650 Rp. 3.276.000,b. Bensin =5.250 liter x 1.150 Rp. 6.037.500,5. Biaya lain-lain Rp. 1.000.000,_____________________________________ Total Rp. 59.663.100,-

Kerapu Tikus 1. Benih ikan 3-4 cm = 11.000 ekor x Rp. 6.000,2. Pakan Rucah a. Pendederan 20% x (1,2 x 11.000) x 90 h x 2.500 Rp. 66.000.000,Rp. 594.000,-

84

b. Penggelond. 15% x (25 x 9.900) x 120 h x 2.500 Rp. 11.137.500,c. Pembesaran 6% x (75 x 9.405) x 210 h x 2.500 Rp. 22.219.313,3. Multivitamin, Vit. C dan obat-obatan (1 paket) Rp. 1.000.000,4. Bahan bakar a. Solar 24 liter/hari = 8.640 liter x Rp. 650,Rp. 5.616.000,b. Bensin = 9000 liter x Rp. 1.150,Rp. 10.350.000,5. Biaya lain-lain Rp. 1.500.000,_____________________________________ Total Rp. 118.416.813,-

D. ANALISA KEUANGAN 1. Pendapatan. Pendapatan adalah seluruh unit produksi yang dapat dinilai dalam rupiah. Dalam perhitungan pendapatan dapat dibedakan menjadi dua bagian yaitu pendapatan kotor (marginal) dan pendapatan bersih atau disebut keuntungan/laba. Pendapatan marginal adalah seluruh penerimaan dikurangi biaya tetap dan biaya variabel. Perhitungan pendapatan atau laba rugi disajikan di bawah ini : a. Untuk kerapu macan 1. 2. 3. 4. 5. 6. Penerimaan (7.106 ekor x 0,5 kg x Rp. 75.000,-) Biaya tetap Biaya Variabel Pendapatan margin Pph (15 %) Pendapatan Rp. 280.800.000,Rp. 30.643.990,Rp. 59.663.100,Rp. 190.492.910,Rp. 28.573.940,Rp. 161.918.970,-

b. Untuk kerapu tikus 1. 2. 3. 4. 5. 6. Penerimaan (8.935 ek. x 0,5 kg x Rp. 250.000,-) Biaya tetap Biaya Variabel Pendapatan margin Pph (15 %) Pendapatan Rp. 1.116.875.000,Rp. 61.287.980,Rp. 118.416.810,Rp. 937.170.210,Rp. 140.575.530,Rp. 796.594.680,-

85

2. Break Event Point (BEP). BEP merupakan suatu nilai dimana hasil penjualan produksi sama dengan biaya produksi, sehingga pengeluaran sama dengan pendapatan dengan demikian pada saat itu pengusaha mengalami impas, tidak untung dan tidak rugi. Perhitungan BEP digunakan untuk menentukan batas minimum volume penjualan, agar suatu perusahaan tidak rugi. Selain itu BEP dapat dipakai untuk merencanakan tingkat keuntungan yang dikehendaki dan sebagai pedoman dalam mengendalikan operasi yang sedang berjalan. BEP dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut : a. Untuk kerapu macan BT BEP = BV 1Penjualan 1280.800.000 = 30.643.990 30.643.990 = 59.663.100 0,764189458

=Rp. 38.991.790,-

BEP (Q) = 38.991.790 : 75.000 = 519 kg b. Untuk kerapu tikus BT BEP = BV 1Penjualan 11.116.875.000 = 61.187.980 61.187.980 = = Rp. 68.556.715,118.416.810 0.89397487

BEP (Q) = 68.556.715 : 250.000 = 274 kg 3. Benefit Cost Ratio (B/C).

86

B/C dalam perhitungannya lebih ditekankan pada kriteria - kriteria investasi atau modal usaha yang pengukurannya diarahkan pada usaha untuk membandingkan, mengukur, serta menghitung tingkat keuntungan usaha budidaya kerapu. Dengan B/C ini dapat dilihat kelayakan suatu usaha. Bila nilainya 1, berarti usaha tersebut belum mendapatkan keuntungan sehingga perlu pembenahan. Semakin kecil nilai ratio ini, semakin besar kemungkinan perusahaan menderita kerugian. Fungsi nilai B/C ini sebagai pedoman untuk mengetahui seberapa besar suatu jenis ikan harus diproduksi pada musim berikutnya. Rumus B/C sebagai berikut :

a. Untuk kerapu macan Hasil penjualan B/C = Biaya produksi = 90.307.090 280.800.000 = 3,1

Nilai tersebut berarti dengan biaya produksi Rp. 90.307.090,- diperoleh hasil penjualan sebesar 3,1 kali. b. Untuk kerapu tikus Hasil penjualan B/C = Biaya produksi = 179.704.793 1.116.875.000 = 6,2

Nilai tersebut berarti dengan biaya produksi Rp. 179.704.793,- diperoleh hasil penjualan sebesar 6,2 kali. 4. Return of Invesment (ROI). Return of Invesment adalah nilai keuntungan yang diperoleh pengusaha dari setiap jumlah uang yang diinvestasikan dalam periode waktu tertentu.

87

Dengan analisis ROI,

perusahaan dapat mengukur sampai seberapa besar Pada

kemampuannya dalam mengembalikan modal yang telah ditanamkan. umumnya besar kecilnya nilai ROI ditentukan oleh : a. Kemampuan pengusaha dalam menghasilkan keuntungan (laba) b. Kemampuan pengusaha dalam mengembalikan modal c. Penggunaan modal dari luar untuk memperbesar perusahaan. Besarnya ROI dapat diperoleh dengan rumus sebagai berikut : ROI = Biaya produksi Artinya : Untuk kerapu macan Laba usaha = 90.307.090 161.918.970 = 1,79 atau 179%

Dari modal Rp 100,- yang diinvestasikan akan menghasilkan

keuntungan sebesar 179 %. Untuk kerapu tikus Laba usaha ROI = Biaya produksi Artinya : = 179.704.793 796.594.680 = 4,43 atau 443 %

Dari modal Rp 100,- yang diinvestasikan akan menghasilkan

keuntungan sebesar 443 %. E. KESIMPULAN Hasil analisa keuangan memperlihatkan bahwa usaha budidaya kerapu di KJA memperoleh keuntungan cukup baik dan investasi ini akan memberikan pengembalian dana secara baik serta dapat dipertanggung jawabkan. Nilai investasi pembesaran ikan kerapu sebesar Rp. 94.565.000,- dan biaya produksi untuk kerapu macan sebesar Rp.90.307.090,- akan menerima keuntungan bersih sebesar Rp.161.918.970,- sedangkan untuk kerapu tikus dengan biaya

88

produksi sebesar Rp. 179.704.793,- akan menerima keuntungan bersih sebesar Rp. 796.594.680,-. Rincian hasil analisis keuangan adalah sebagai berikut : 1. Kerapu Macan. BEP = Rp. 38.911.790,- atau 519 kg B/C = 3,1 ROI = 179 % 2. Kerapu Tikus. BEP = Rp. 68.556.715,- atau 274 kg B/C = 6,2 ROI = 443 % DAFTAR PUSTAKA Kadariah, dkk, 1978. Pengantar Evaluasi Proyek. Ekonomi UI, Jakarta. Lembaga Penerbit Fakultas

Pramu Sunyoto, 1994. Pembesaran Kerapu Dengan KJA. Penebar Swadaya, Jakarta. Rahardi, F, dkk, 1993. Agribisnis Perikanan. Penebar Swadaya, Jakarta. Suad Hasan, 1994. Manajemen Keuangan Teori dan Penerapan, BPEE, Jakarta.

89

90