Anda di halaman 1dari 32

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah


Belajar merupakan peristiwa sehari-hari di sekolah maupun di luar sekolah.
Belajar merupakan hal yang kompleks. Kompleksitas belajar tersebut dapat
dipandang dari dua subjek, yaitu dari siswa dan dari guru. Dari segi siswa, belajar
dialami sebagai suatu proses. Dari segi guru, proses belajar tersebut tampak
sebagai perilaku belajar tentang suatu hal. Proses belajar tersebut dapat diamati
secara tidak langsung. Jadi yang dimaksud proses belajar tersebut merupakan
proses internal siswa tidak dapat diamati, tetapi dapat dipahami oleh guru.
Pengetahuan baru yang siswa peroleh dari proses belajar. Belajar tersebut
dapat terjadi dimana saja dan kapan saja, baik itu sejak dini dalam keluarga dan di
sekolah. Proses belajar atau pembelajaran di sekolah terjadi interaksi antara guru
dan siswa. Guru memegang peranan yang penting, antara lain guru berperan
sebagai sumber belajar (teacher centered). Peran guru sebagai sumber belajar
dalam menyampaikan materi pelajaran diduga kurang inovatif. Oleh karena itu,
hal tersebut bisa m engakibatkan pem belajaran yang konvensional.
Upaya untuk mengatasi permasalahan pem belajaran yang konvensional,
dapat menggunakan model-model pem belajaran yang inovatif. Menurut Kamus
Besar Bahasa Inggris Sub Tema Introduce My Self (offline) kata “inovasif” yang
bersifat memperkenalk an sesuatu yang baru; bersifat pem baruan (kreasi baru).
Jadi, pem belajaran inovatif merupakan pembelajaran yang menggunakan metode
atau model baru yang ditemukan sendiri atau dari sumber-sumber lain yang
diterapkan sedemikian rupa agar tercipta pem belajaran yang kondusif dan
berpusat pada siswa. Diharapkan melalui pembelajaran inovatif ini dapat
meningkatkan kualitas siswa.Download ptk bahasa inggris smp
Kualitas siswa yang dihasilkan menunjukkan berhasil tidaknya proses
pembelajaran. Keberhasilan proses pembelajaran siswa dapat dilihat dari hasil
belajar. Hasil belajar terbagi menjadi tiga aspek yaitu, kognitif, afektif dan psikom
otor. Ada dua faktor yang menyebabkan hasil belajar yaitu, faktor intern (dari diri
sendiri) dan faktor ekstern (dari luar atau lingkungan).
Perm asalahan yang ada di kelas VIISMPN 2 ... Kecamatan ... Kabupaten ...
yaitu hasil belajar belajar bahasa Inggris Sub Tema Introduce My Self yang
rendah khususnya dalam keterampilan menulis yaitu materi meringkas isi buku
dengan m em perhatikan beberapa mejaan. Hasil belajar bahasa Inggris Sub Tema
Introduce My Self yang rendah dapat dilihat dari hasil ulangan harian yang
terdapat nilai < 70 karena nilai 70 merupakan batas tuntas utau K KM . Dari 23
siswa diketahui hanya 10 siswa yang m em peroleh nilai t 70, sedangkan siswa
yang memperoleh nilai < 70 atau belum tuntas sejum lah 13 siswa. Data tersebut
menunjukkan bahwa yang mencapai K KM adalah 43,48%, sedangkan yang
belum dapat mencapai KKM adalah 56,52%.
Dilihat dari jumlah persentase siswa yang belum tuntas di atas, peneliti
menduga masalah tersebut dikarenakan dari faktor kognitif siswa, lingkungan
belajar siswa berupa dorongan atau motivasi orang tua kepada anak, atau
mungkincara mengajar guru yang konvensional, dan kurangnya interaksi antar
individu dalam kelompok belajar. Adapun dugaan masalah yang lainnya seperti
pandangan siswa terhadap mata pelajaran Bahasa Inggris Sub Tema Introduce My
Self yang mudah atau menyepelekan karena bahasa Inggris Sub Tema Introduce
My Self merupakan bahasa pengantar sehari-hari untuk perkenalan. Oleh karena
itu, agar hasil belajar bahasa Inggris Sub Tema Introduce My Self dapat
meningkat, maka seorang guru dituntut menguasai dan menerapkan beberapa
model pembelajaran yang ada sehingga pem belajarannya dapat bervariasi dan
berpusat pada siswa.
Salah satu model pembelajaran tersebut adalah model pembelajaran
kooperatif tipe Think Talk Write. Model pembelajaran kooperatif tipe Think Talk
Write dapat dinilai mampu meningkatkan hasil belajar bahasa Inggris Sub Tema
Introduce My Self karena model pembelajaran tersebut menekankan dalam tiga
tahapan penting, antara lain tahap berpikir, tahap berbicara, dan tahap menulis
yang cocok digunakan pada keterampilan menulis.
Berdasarkan dugaan masalah yang telah dijabarkan pada paragraf-paragraf
sebelum nya, peneliti tertarik m engadakan penelitian yang berjudul “Penerapan
model pem belajaran Think Talk Write untuk meningkatkan hasil belajar bahasa
Inggris Sub Tema Introduce My Self di kelas VIISMPN 2 ... Kecamatan ...
Kabupaten ... semester ganjil tahun ajaran 2015/2016”. Penelitian ini diharapkan
mampu meningkatkan hasil belajar melalui model pembelajaran Think Talk Write
sisw a kelas VIISMPN 2 ... pada mata pelajaran bahasa Inggris Sub Tema
Introduce My Self.

1.2 Identifikasi Masalah


Berdasarkan latar belakang masalah, permasalahan yang dapat teridentifikasi
dalam penelitian ini dirum uskan sebagai berikut:
a. Penyampaian materi masih menggunakan metode konvensional (ceramah).
b. Masih kurangnya interaksi guru dengan siswa, dan juga interaksi antar siswa
dalam kelom pok pembelajaran.
c. Faktor kognitif siswa dalam kegiatan pem belajaran.
d. Faktor lingkungan belajar siswa.
Dengan adanya temuan masalah tersebut, mengakibatkan siswa didalam
belajar mata pelajaran bahasa Inggris Sub Tema Introduce My Self kurang
memahami materi yang disam paikan oleh guru sehingga hasil belajarnya kurang
baik.

1.3 Pembatasan Masalah


Berdasarkan identifikasi masalah, maka batasan masalah yang akan diteliti
yaitu:
a. Nilai mata pelajaran bahasa Inggris Sub Tema Introduce My Self yang rendah
pada kelas VIISMPN 2 ... Kecamatan ... Kabupaten ...
b. Penerapan model pem belajaran kooperatif tipe Think Talk Write untuk
meningkatkan hasil belajar bahasa Inggris Sub Tema Introduce My Self
khususnya tentang meringkas isi buku dengan memperhatikan beberapa ejaan
di SMPN 2 ... Kecamatan ... Kabupaten ... semester ganjil tahun ajaran
2015/2016.Contoh ptk bahasa inggris smp kelas 7 pdf
1.4 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang m asalah dan identifikasi masalah, maka peneliti
merumuskan masalah sebagai berikut “Apakah melalui penerapan model
pembelajaran Think Talk Write, hasil belajar bahasa Inggris Sub Tema Introduce
My Selfdi SMPN 2 ... kelas VIIKecamatan ... Kabupaten ...dapat ditingkatkan?”

1.5 Tujuan Penelitian


Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk meningkatkan hasil belajar bahasa
Inggris Sub Tema Introduce My Self di SMPN 2 ... kelas VIIKecamatan ...
Kabupaten ...semester ganjil tahun pelajaran 2015/2016.

1.6 Manfaat Penelitian


Penelitian ini diharapkan membawa manfaat secara teoretis dan praktis,
yaitu:
a. Manfaat Teoretis
Untuk memperkaya pengetahuan guru dalam menggunakan model
pembelajaran Think Talk Write.
b. Manfaat Praktis
1) Guru dapat mengetahui solusi untuk meningkatkan hasil belajar bahasa
Inggris Sub Tema Introduce My Self m elalui model pembelajaran
kooperatif tipe Think Talk Write.
2) Guru bisa menerapkan model pem belajaran kooperatif tipe Think Talk
Write dengan baik dalam pembelajaran bahasa Inggris Sub Tema
Introduce My Self.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA

2.1 Kajian Teori


Dalam kajian teori ini dipaparkan beberapa teori dari para ahli mengenai
pengertian belajar dan hasil belajar beserta faktor-faktor penyebabnya. Adapun
hal lain yang dipaparkan seperti mata pelajaran, model pembelajaran, serta
kerangka pikir.
2.1.1 Hakikat Belajar
Dalam dunia pendidikan, kegiatan belajar itu penting karena yang
menentukan berhasil tidaknya tujuan pendidikan tergantung dari bagaimana
proses belajar yang melibatkan objek pendidikan. Objek pendidikan disini adalah
siswa. Belajar itu penting untuk menyiapkan diri menjadi manusia yang
berpendidikan dan kompeten sehingga dengan belajar siswa kelak siap
menghadapi perkembangan zaman yang sem akin pesat.
Belajar menurut Gagne dalam Suprijono (2012 : 2) adalah “perubahan
disposisi atau kemampuan yang dicapai seseorang melalui aktivitas. Perubahan
disposisi tersebut bukan diperoleh langsung dari proses pertum buhan secara
alamiah”. Belajar menurut Gagne merupakan suatu perubahan kemampuan
seseorang melalui proses aktivitas dan kemampuan tersebut bukan didapatkan
secara langsung dari proses pertum buhan atau bertam bahnya um ur seseorang.
Sejalan dengan itu, menurut Skinner dalam Dimyati dan Mudjiono (2009:9)
berpandangan bahwa belajar adalah suatu perilaku. Pada saat orang belajar, maka
responnya menjadi lebih baik. Belajar dilakukan untuk mendapatkan perubahan
kemampuan yang dim iliki seseorang.
Menurut Slameto (20 10:2) “belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan
seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara
keseluruhan, sebagai hasil pengalaman sendiri dalam interaksi dengan
lingkungannya”. Dari ketiga pendapat menurut para ahli dapat disimpulkan bahwa
belajar merupakan suatu usaha untuk memperoleh perubahan kemampuan pada
diri seseorang, yang menjadi lebih baik melalui interaksi denganlingkungannya
dan perubahan itu bukan didapatkan secara langsung dari proses pertumbuhan.
2.1.2 Hasil Belajar
H asil belajar adalah pola-pola perbuatan, nilai-nilai, pengertian-pengertian,
sikap-sikap, apresiasi dan keterampilan. Menurut Gagne dalam Suprijono (2012 :
5), hasil belajar berupa :
a. Informasi verbal yaitu kapabilitas mengungkapkan pengetahuan dalam bentuk
bahasa, baik lisan maupun tertulis.
b. Keterampilan intelektual yaitu kemampuan mempresentasikan konsep dan
lambang. Keterampilan intelektual terdiri dari kemampuan mengategorisasi,
kemampuan analitis-sintesis fakta-konsep dan mengembangkan prinsip-
prinsip keilmuan. Keterampilan intelektual merupakan kemampuan
melakukan aktivitas kognitif bersifat khas.
c. Strategi kognitif yaitu kecapakan menyalurkan dan mengarahkan aktivitas
kognitifnya sendiri. Kemampuan ini meliputi penggunaan konsep dan kaidah
dalam memecahkan masalah.
d. Keterampilan motorik yaitu kemampuan melakukan serangkaian gerak
jasmani dalam urusan dan koordinasi, sehingga terwujud otomatisme gerak
jasmani.
e. Sikap adalah kemampuan menerima atau menolak objek tersebut. Sikap
berupa kemampuan menginternalisasi dan ekstenalisasi nilai-nilai. Sikap
merupakan kemampuan menjadikan nilai-nilai sebagai standar perilaku.
Hasil belajar menurut (B loom, dkk.) dalam Dimyati dan Mujiono
(2009 : 26) mencakup tiga ranah yaitu ranah kognitif, afektif, dan psikomotor.
Ketiga ranah tersebut, dikenal sebagai taksonomi bloom dengan kebaikan yang
terletak pada rincinya jenis perilaku yang terkait dengan kemampuan internal dan
kata-kata kerja operasionalnya. Adapun ketiga ranah tersebut sebagai berikut:
a. Ranah kognitif terdiri dari enam jenis perilaku, yaitu pengetahuan,
pemahaman, penerapan, analisis, sintesis, dan evaluasi.
b. Ranah afektif terdiri dari lima perilaku-perilaku, yaitu penerimaan, partisipasi,
penilaian dan penentuan sikap, organisasi, dan pembenntukan pola hidup.
c. Ranah psikomotor terdiri dari tujuh jenis perilaku, yaitu persepsi, kesiapan,
gerakan terbimbing, gerakan terbiasa, gerakan komplek, penyesuaian pola
gerakan, dan kreativitas.
Siswa yang belajar berarti memperbaiki kemam puan-kem am puan
kognitif, afektif, dan psikomotor. Dengan meningkatnya kemampuan-kemampuan
tersebut maka keinginan, kemauan, atau perhatian pada lingkungan sekitar
semakin bertam bah.
Berdasarkan pendapat yang telah dikemukakan oleh para ahli dapat
disimpulkan bahwa hasil belajar merupakan kemam puan atau hasil yang
diperoleh siswa setelah melakukan proses belajar yang berupa perubahan tingkah
laku. Kemampuan atau hasil yang diperleh berupa kognitif, afektif, dan
psikomotor. Hasil belajar juga tidak hanya bergantung pada lingkungan dan
kondisi belajar, tapi juga dari kemampuan awal pra-belajar. Hasil belajar ini dapat
diukur untuk mengetahui sejauh mana tujuan pendidikan dan pembelajaran
tersebut tercapai. Download ptk bahasa inggris smp kelas 7 doc Hasil belajar
biasanya dinyatakan dengan nilai. Maka dari itu, hasil belajar merupakan hasil
penilaian yang diperoleh siswa dari proses pembelajaran yang berupa angka untuk
mengetahui sejauhmana siswa tersebut paham terhadap materi yang telah
disampaikan.
2.1.3 Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Hasil Belajar
Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar menurut Slameto (2010:54)
digolongkan menjadi dua, yaitu:
a. Faktor intern adalah faktor yang ada dalam diri individu yangsedang belajar.
Faktor intern dibagi menjadi tiga faktor, yaitu:
1) Faktor Jasmaniah, terdiri atas: faktor kesehatan, cacat tubuh.
2) Faktor Psikologis, terdiri atas: inteligensi, perhatian, minat,bakat, motif,
kematangan, dan kesiapan.
3) Faktor Kelelahan, meliputi: kelelahan jasmani dan kelelahan rohani.
b. Faktor Ekstern adalah faktor yang ada diluar individu. Faktor ekstern yang
berpengaruh terhadap belajar, dikelompokkan menjadi tiga faktor, antara lain:
1) Faktor Keluarga, meliputi: cara orang tua mendidik, relasi antar anggota
keluarga, suasana rumah, keadaan ekonomi keluarga, pengertian orang tua,
dan latar belakang kebudayaan.
2) Faktor Sekolah, seperti: metode mengajar, kurikulum, relasi guru dan
siswa, relasi siswa dan siswa, disiplin sekolah, alat pelajaran, waktu
sekolah, standar pelajaran diatas ukuran, keadaan gedung, metode belajar,
dan tugas rumah.
3) Faktor Masyarakat, meliputi: kegiatan siswa dalam masyarakat, mass
media, teman bergaul, dan bentuk kehidupan masyarakat.
4) Faktor Metode, meliputi: metode mengajar dan metode b el ajar.
2.1.4 Pembelajaran Bahasa Inggris
Ciri-ciri pembelajaran menurut Darsono dalam Hamdani (2011:47) adalah
sebagai berikut :
a. Pembelajaran dilakukan secara sadar dan direncanakan secara sistem atis.
b. Pembelajaran dapat menumbuhkan perhatian dan motivasi siswa dalam
belajar.
c. Pembelajaran dapat menyediakan bahan belajar yang menarik perhatian dan
menantang siswa.
d. Pembelajaran dapat menggunakan alat bantu belajar yang tepat dan menarik.
e. Pembelajaran dapat menciptakan suasana belajar yang aman dan
menyenangakan bagi siswa.
f. Pembelajaran dapat membuat siswa siap menerima pelajaran, baik secara
fisik m aupun psikologi.
g. Pembelajaran menekankan keaktifan siswa.
h. Pembelajaran dilakukan secara sadar dan disengaja.
Pembelajaran mempunyai tujuan, yaitu membantu siswa memperolah
berbagai pengalaman dan dari pengalaman itu, tingkah laku siswa bertambah dan
berkembang, baik kuantitas maupun kualitasnya. Tingkah laku tersebut antara
lain: pengetahuan, keterampilan, dan nilai atau norma yang berfungsi sebagai
pengendali sikap dan perilaku siswa.
Bahasa memiliki peran penting dalam perkembangan intelektual, sosial, dan
emosional siswa dan merupakan penunjang keberhasilan dalam mempelajari
semua bidang studi. Pembelajaran bahasa diharapkan membantu peserta didik
mengenal dirinya, budayanya, dan budaya orang lain, mengemukakan gagasan
dan perasaan, berpartisipasi dalam masyarakat yang menggunakan bahasa
tersebut, dan menemukan serta menggunakan kemampuan menganalisis dan
imajinasi yang ada dalam dirinya.
Pembelajaran Bahasa Inggris diarahkan untuk meningkatkan kemam puan
siswa untuk berkomunikasi dalam Bahasa Inggris dengan baik dan benar, baik
secara lisan maupun tulis, serta menum buhkan apresiasi terhadap hasil karya
kesastraan manusia Indonesia (Permendiknas No.22 tahun 2006).
Tujuan mata pelajaran Bahasa Inggris dalam Permendiknas No.22 Tahun
2006 agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut:
a. Berkom unikasi secara efektif dan efisien sesuai dengan etika yang berlaku,
baik secara lisan m aupun tulis
b. Menghargai dan bangga menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa persatuan
dan bahasa internasional
c. Memahami bahasa Inggris dan menggunakannya dengan tepat dan kreatif
untuk berbagai tujuan
d. Menggunakan bahasa Inggris untuk meningkatkan kemam puan intelektual,
serta kematangan emosional dan sosial
e. Menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk memperluas wawasan,
memperhalus budi pekerti, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan
berbahasa
f. Menghargai dan membanggakan sastra sebagai khazanah budaya dan
intelektual manusia.
Dalam pelajaran bahasa Inggris ada empat keterampilan berbahasa, yaitu:
keterampilan Writing, Speaking, dan Listening. Tiga keterampilan berbahasa
dijelaskan sebagai berikut:
a. Keterampilan Listening
Keterampilan Listening adalah satu bentuk keterampilan berbahasa
yang bersifat reseptif. Menyimak bukan hanya kegiatan yang sekedar
mengumpulkan dan menyimpan pesan, tetapi juga mengklasifikasi,
membandingkan, dan menghubungkan pesan dengan pengetahuan awal yang
dim iliki sebelumnya.
b. Keterampilan Speaking
Keterampilan berbicara pada hakikatnya merupakan keterampilan
mereproduksi arus sistem bunyi artikulasi untuk menyampaikan kehendak,
kebutuhan perasaan, dan keinginan kepada orang lain. Dalam hal ini,kelengkapan
alat ucap manusia merupakan persyaratan alam iah yang memungkinkannya untuk
memproduksi suatu ragam bunyi artikulasi, tekanan, nada, kesenyapan dan lagu
bicara. Keterampilan ini juga didasari oleh kepercayaan diri untuk berbicara
secara wajar, jujur, benar dan bertanggung jawab dengan menghilangkan masalah
psikologis seperti rasa malu, rendah diri, ketegangan, berat lidah, dan lain-
lain.Contoh ptk bahasa inggris smp doc
Tujuan keterampilan berbicara akan mencakup pencapaian hal-hal berikut:
1) Kemudahan berbicara;
2) Kejelasan;
3) Bertanggung jawab;
4) Membentuk pendengaran yang kritis;
5) Membentuk kebiasaan.
c. Keterampilan Reading
Membaca adalah keterampilan reseptif bahasa tulis. Membaca juga
merupakan kegiatan untuk mendapatkan makna dari apa yang ada dalam teks.
Maka dari itu, seorang pembaca perlu menguasai bahasa yang digunakan.
Keterampilan membaca pada umumnya diperoleh dengan cara mempelajarinya di
sekolah.
d. Keterampilan Writing
Menulis merupakan keterempilan berbahasa yang dipergunakan untuk
berkom unikasi secara tidak langsung, tidak secara tatap m uka dengan orang lain.
Menulis merupakan suatu kegiatan yang produktif dan ekspresif. Dalam kegiatan
menulis ini, siswa harus memperhatikan grafologi, struktur bahasa, dan kosa kata.
Ketetam pilan menulis ini tidak akan datang secara otom atis, tetapi harus melalui
latihan dan praktik yang banyak dan teratur. (Tarigan, 2008 :3)
Menulis dapat dikatakan suatu keterampilan berbahasa yang paling rum it
diantara ketiga keterampilan berbahasa yang lainnya. M enulis bukan hanya
kegiatan menyalin kata-kata dan kalimat-kalimat melainkan juga mengembangkan
dan menuangkan pikiran-pikiran dalam suatu bentuk tulisanyang teratur. Berbeda
halnya dengan berbicara, menulis sulit untuk dilakukan secara spontan karena
harus memperhatikan kaidah penggunaan tata bahasa dan secara semestinya. Jadi
dalam menulis, unsur kebahasaan dan tata bahasa merupakan aspek penting yang
perlu dicermati, disamping isi yang diungkapkan.
Dengan standar kompetensi mata pelajaran Bahasa Inggris ini diharapkan:
a. Peserta didik dapat mengembangkan potensinya sesuai dengan kemampuan,
kebutuhan, dan minatnya, serta dapat menumbuhkan penghargaan terhadap
hasil karya kesastraan dan hasil intelektual bangsa sendiri;
b. Guru dapat memusatkan perhatian kepada pengembangan kompetensi bahasa
peserta didik dengan menyediakan berbagai kegiatan berbahasa dan sum ber
belajar;
c. Guru lebih mandiri dan leluasa dalam menentukan bahan ajar kebahasaan dan
kesastraan sesuai dengan kondisi lingkungan sekolah dan kemampuan peserta
didiknya;
d. Orang tua dan masyarakat dapat secara aktif terlibat dalam pelaksanaan
program kebahasaan daan kesastraan di sekolah;
e. Sekolah dapat menyusun program pendidikan tentang kebahasaan dan
kesastraan sesuai dengan keadaan peserta didik dan sumber belajar yang
tersedia;
f. Daerah dapat menentukan bahan dan sumber belajar kebahasaan dan
kesastraan sesuai dengan kondisi dan kekhasan daerah dengan tetap
memperhatikan kepentingan nasional.
2.1.5 Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran kooperatif (cooperative learning) merupakan bentuk-bentuk
pembelajaran dengan cara siswa belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok
kecil secara kolaboratif yang anggotanya terdiri dari em pat sampai enam orang
dengan kelompok yang bersifat heterogen.
Pembelajaran kooperatif menurut Nurulhayati dalam Rusman (2012:203)
adalah “strategi pembelajaran yang melibatkan partisipasi siswa dalam satu
kelompok kecil yang saling berinteraksi”. Pembelajaran kooperatif, siswa belajar
bekerja sama dengan siswa lainnya. Model pembelajaran ini siswa memiliki dua
tanggung jawab, yaitu siswa belajar untuk diri sendiri dan belajar bersama/saling
membantu dalam kelompok kecilnya untuk belajar.
Kooperatif learning merupakan kegiatan belajar siswa yang dilakukan
dengan cara berkelompok. Model pembelajaran kelompok adalah “rangkaian
kegiatan belajar yang dilakukan oleh siswa dalam kelompok-kelompok tertentu
untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan” Sanjaya dalam
Rusman (2012:203).
Menurut Hamdani (2011:30) model pembelajaran kooperatif adalah
rangkaian kegiatan belajar siswa dalam kelompok tertentu untuk mencapai tujuan
pembelajaran yang dirumuskan. Pembelajaran kooperatif diterapkan strategi
belajar dengan sejumlah siswa sebagai anggota kelompok kecil yang tingkat
kemampuannya berbeda. Dalam menyelesaikan tugas kelompoknya, setiap
anggota kelompok harus saling bekarja sama dan saling membantu untuk
memahami materi pelajaran.
Pembelajaran kooperatif menurut pendapat dari para ahli di atas dapat
disimpulkan sebagai pembelajaran yang mengutamakan kerjasama antar siswa
dalam mencapai tujuan pembelajaran. Diharapkan dengan penggunaan
pembelajaran kooperatif ini merubah peran guru yang dulunya belajar berpusat
pada guru (teacher centered) menjadi berpusat pada siswa dengan kelompok-
kelompok kecil. Jadi guru tidak mentransfer pengetahuan yang dimilikinya,
melainkan membantu dan menfasilitasi siswa untuk membentuk pengetahuannya
sendiri melalui kerja kelompok.
Beberapa ciri pembelajaran kooperatif menurut Hamdani (2011:31), sebagai
berikut:
a. Setiap anggota memiliki peran
b. Terjadi hubungan interaksi langsung di antara siswa
c. Setiap anggota kelompok bertanggung jawab atas cara belajarnya dan juga
teman-teman sekelompoknya
d. Guru membantu mengembangkan keteram pilan-keteram pilan interpersonal
kelompok
e. Guru hanya berinteraksi dengan kelompok saat diperlukan.
Dengan pembelajaran kooperatif terjadi interaksi secara langsung antar
siswa dalam pembelajaran. Pembelajaran kooperatif memungkinkan setiap siswa
memiliki peran dalam kelompoknya sehingga setiap anggota bertanggung jawab
terhadap kerja kelompok. Download ptk bahasa inggris smp Dengan adanya
pembelajaran kooperatif yang berpusat pada siswa maka peran guru disini sebagai
fasilitator.
2.1.6 Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think Talk Write (Berpikir
Berbicara Menulis)
M odel pem belajaran kooperatif tipe Think Talk Write m erupakan model
pembelajaran yang dikembangkan oleh Huinker dan Laughlin. Model ini
didasarkan pada tiga tahapan melalui berpikir, berbicara, dan menulis.
Pelaksanaan model Think Talk Write dimulai dari keterlibatan siswa dalam
berpikir secara individu setelah proses membaca ataupun menyimak, selanjutnya
berbicara dan membagi ide dengan teman sekelompoknya sebelum menulis.
Pembelajaran ini akan lebih efektif jika dilakukan dalam kelompok yang terdiri
dari 4-5 siswa. Kelompok ini siswa diminta membaca ataupun menyimak,
membuat catatan kecil, menjelaskan, dan membagi ide bersama teman kelompok,
kemudian mengungkapkannya melalui tulisan.
Ada tiga tahap yang dilakukan dalam model pembelajaran Think Talk
Write, yaitu sebagai berikut:
a. Tahap Think (Berpikir)
Tahap ini dilakukan pada siswa bahwa berpikir itu dim ulai dengan
proses membaca maupun menyimak terlebih dulu kemudian siswa dapat
mengungkapkan ide atau penyelesaian masalah secara tertulis dengan
membuat semacam catatan kecil. Proses berpikir pada tahap ini akan terlihat
ketika siswa membaca masalah atau lembar kerja yang diberikan guru
kemudian siswa menuliskan apa yang diketahuinya atau penyelesaian m
asalahnya.
b. Tahap Talk (Berbicara atau Berdiskusi)
Pada tahap ini siswa melakukan diskusi atau bertukar pendapat dalam
kelompok kecil. Ketika siswa dapat menyampaikan ide atau pendapatnya
dalam kegiatan diskusi, berarti siswa sudah mampu mengungkapkan idenya
secara lisan (Talk). Tahap ini juga memberikan kesempatan bagi siswa agar
lebih terampil berbicara dan membangun komunikasi yang baik antar siswa.
c. Tahap Write (Menulis)
Pada tahap ini merupakan tahap dimana siswa menuliskan hasil diskusi
kelompok kecil dan hasil dari catatan kecil masing-masing siswa.
Kemungkinan apa yang siswa tulis dalam tahap ini berbeda dengan apa
yang siswa tuliskan pada cacatan individual (tahap think ). Hal ini terjadi karena
setelah siswa melakukan diskusi dalam kelompok kecil, ia akan memperoleh ide
yang baru untuk menyelesaikan masalah yang telah diberikan.
Langkah-langkah umum pembelajaran Think Talk Write adalah
sebagaiberikut:
a. Guru membagi lembar kerja siswa yang memuat permasalahan dan petunjuk
pengerjaannya.
b. Siswa membaca teks dan membuat catatan kecil dari hasil bacaan secara
individual (think), untuk dibawa ke forum diskusi.
c. Siswa berinteraksi dan berkolaborasi dengan teman satu kelompok untuk
membahas isi catatan (talk). Guru berperan sebagai mediator lingkungan
belajar.
d. Siswa mengkonstruksikan sendiri pengetahuan yang memuat pemahaman
dalam bentuk tulisan (write).

2.2 Kerangka Berpikir


Pada kondisi awal pembelajaran di kelas 5 diduga masih tergolong
konvensional, dimana peran guru dalam pembelajaran sangat kuat, kurangnya
interaksi antara guru dengan siswa dan interaksi antara siswa dengan siswa
sehingga menyebabkan rendahnya hasil belajar bahasa Inggris. Adapun hal lain
seperti pikiran-pikiran yang ada dalam diri siswa bahwa bahasa Inggris sering
dianggap sebagai mata pelajaran yang membosankan dan sepele, mungkin hal ini
dikarenakan bahasa Inggris merupakan bahasa pengantar kita sehari-hari. Tapi
dilihat dari hasil ulangan bahasa Inggris ada 13 siswa dari 23 siswa yang nilainya
di bawah KKM. Maka untuk meningkatkan hasil belajar bahasa Inggris peneliti
menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Think Talk Write.
Model pembelajaran kooperatif tipe Think Talk Write merupakan salah satu
model pembelajaran kooperatif sebagai alternatif bagi guru dalam mengajar siswa
dengan variasi diskusi kelompok yang berciri khas, guru menyediakan atau m em
berikan siswa permasalahan kemudian siswa berpikir sendiri untuk menyelesaikan
masalah tersebut dengan membuat catatan kecil sebelum sharing dalam kelompok
dan kemudian menuliskannya. Cara ini menjamin keterlibatan semua siswa dalam
pembelajaran dan berdampak baik untuk meningkatkan hubungan atau kom
unikasi antar individual dalam kelom pok.
Penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe Think Talk Write
diharapkan terjadi perubahan sikap dan kemampuan siswa terutama dalam
menulis yang terlihat dari hasil belajar bahasa Inggris.

2.3 Hipotesis Tindakan


Dari kerangka berpikir yang telah dikemukakan dapat dirumuskan hipotesis
tindakan sebagai berikut: diduga penerapan model pembelajaran kooperatif tipe
Think Talk Write dapat meningkatkan hasil belajar bahasa Inggris khususnya
tentang meringkas isi buku dengan memperhatikan penggunaan ejaan di SMPN
2 ...kelas VIIKecamatan ... Kabupaten ...Semester Ganjil Tahun Ajaran
2015/2016.
BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Setting dan Karakteristik Subjek Penelitian


Dalam setting dan karakteristik subjek penelitian ini dipaparkan mengenai
tempat dilaksanakannya penelitian, waktu yang digunakan untuk penelitian, dan
karakteistik dari subjek penelitian tersebut.
3.1.1 Setting Penelitian
Peneliti melaksanakan penelitian ini di SMPN 2 ... Kecamatan ...
Kabupaten ...pada siswa kelas VII. Peneliti menggunakan waktu penelitian pada
semester ganjil tahun ajaran 2015/2016 mulai dari bulan September sampai bulan
Desember.
3.1.2 Karakteristik Subjek Penelitian
Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VIISMPN 2 .... Jumlah siswa kelas
VII adalah 23 siswa, terdiri dari 10 siswa perempuan dan 13 siswa laki-laki.
Semua siswa tersebut tergolong normal tidak ada siswa yang mengalami
gangguan ABK. Namun demikian, walaupun semua anak dibilang normal atau
mampu menerima pelajaran dengan baik, tetapi ada salah satu siswa yang bandel,
sulit diatur oleh guru sehingga siswa tersebut sering mendapat nilai yang rendah
karena selalu tidak memperhatikan pelajaran. Pekerjaan orang tua siswa sebagian
besar berprofesi sebagai petani dan sebagian kecil penambang pasir sehingga
orang tua siswa kurang memperhatikan anaknya dalam belajar. Contoh ptk bahasa
inggris smp kelas 7 pdf Hal ini dikarenakan latar belakang pendidikan orang tua
yang rendah.

3.2 Jenis dan Desain Penelitian


Jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK).
PTK ini bersifat kolaboratif. PTK kolaboratif yaitu kerja sama antara peneliti
dengan guru kelas. Dalam penelitian ini, peneliti mengambil lokasi di SMPN 2 ...
Kecamatan ... Kabupaten .... Tahapan awal peneliti menyiapkan materi, menyusun
RPP, menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan untuk mengajar, kemudian
guru kelas yang mengajarkan pada saatpelaksanaan penelitian. Untuk observer
dapat dilakukan oleh guru yang lain yang setara jabatannya.
Desain penelitian yang dipergunakan berbentuk siklus yang mengacu pada
model kemmis dan Mc Taggart. Siklus ini tidak hanya berlangsung satu kali,
tetapi beberapa kali hingga tercapai tujuan yang diharapkan. Tiap siklus
dilaksanakan sesuai dengan perubahan yang ingin dicapai, seperti apa yang telah
didesain dalam faktor yang diselidiki.
Desain penelitian model Kemmis dan Mc Taggart terdiri dari tiga tahapan
rencana tindakan, antara lain: perencanaan (planning), pelaksanaan (acting),
pengamatan (observing) dan refleksi (reflecting). Tahapan siklus diartikan sebagai
perputaran tahapan dalam penelitian tindakan kelas. Pada bagian ini dipersiapkan
segala sesuatu yang akan digunakan dalam kegiatan penelitian tindakan kelas
untuk meningkatkan hasil belajar. Desain yang dipergunakan dalam penelitian
tindakan kelas ini berbentuk siklus diambil dari Kemis dan MC Taggart yang
terlihat pada gambar di bawah ini.

Desain model PTK bentuk spiral dari Kemmis dan


Taggart
Pelaksanaan tiap siklus tersebut secara garis besar dapat dijelaskan dengan
gambar berikut.
Skema Tahapan yang Dilakukan dalam Setiap Siklus
Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah model
Kemmis dan Mc Taggart dengan melalui beberapa siklus tindakan dan terdiri dari
empatkomponenyaitu:
a. Perencanaan yaitu rencana tindakan apa yang akan dilakukan untuk
memperbaiki, meningkatkan atau perubahan perilaku dan sikap sebagai solusi.
Pada tahap perencanaan dilakukan dengan menyusun perencanaan tindakan
berdasarkan identifikasi masalah pada obeservasi awal sebelum penelitian
dilaksanakan. Rencana tindakan ini mencakup semua langkah tindakan secara
rinci pada tahap ini segala keperluan pelaksanaan penelitian tindakan kelas
dipersiapkan mulai dari bahan ajar, rencana pembelajaran, metode dan strategi
pembelajaran, model yang akan digunakan, subjek penelitian serta teknik dan
instrumen observasi disesuaikan dengan rencana.
b. Tindakan dan observasi yaitu apa yang dilakukan oleh guru atau peneliti
sebagai upaya perbaikan, peningkatan atau perubahan yang diinginkan.
Pelaksanaan tindakan disesuaikan dengan perencanaan yang telah dibuat
sebelumya. Pelaksanaan tindakan merupakan proses kegiatan pembelajaran
kelas sebagai realisasi dari teori dan strategi belajar mengajar yang telah
disiapkan serta mengacu pada kurikulum yang berlaku, dan hasil yang
diperoleh diharapkan dapat meningkatkan kerjasama peneliti dengan subjek
penelitian (siswa) sehingga dapatmemberikan refleksi dan evaluasi terhadap
apa yang terjadi dalam pembelajaran dikelas.
c. Hasil observasi yaitu mengamati atas hasil atau dampak dari tindakan yang
dilaksanakan terhadap siswa. Tahap observasi merupakan kegiatan pengamatan
langsung terhadap pelaksanaan tindakan yang dilakukan dalam PTK. Tujuan
pokok observasi adalah untuk mengetahui ada tidaknya perubahan yang terjadi
dengan adanya pelaksanaan tindakan yang sedang berlangsung.
d. Refleksi yaitu peneliti mengkaji, melihat dan mempertimbangkan atas hasil
atau dampak dari tindakan dari berbagai kriteria. Berdasarhan hasil refleksi ini,
peneliti bersama-sama guru dapat melakukan revisi perbaikan terhadap rencana
awal. Kegiatan refleksi ini, guru akan dapat menetapkan apa yang telah
dicapai, apa yang belum dicapai, serta apa yang perlu diperbaiki lagi dalam
pembelajaran berikutnya. Oleh karena itu hasil dari tindakan perlu dikaji,
dilihat dan direnungkan, baik itu dari segi proses pembelajaran antara guru dan
siswa, metode, model, alat peraga maupun evaluasi.

3.3 Variabel Penelitian


Sebelum menentukan penelitian, terlebih dahulu peneliti harus menentukan
variabel yang akan diteliti. Menurut Sugiono (20 10:60) variabel merupakan
“segala sesuatu yang berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh peneliti untuk
dipelajari sehingga diperoleh informasi tentang hal tersebut, kemudian ditarik
kesimulan”. Variabel penelitian berfungsi untuk pembeda dalam hubungan antar
variabel yang satu dengan yang lainnya. Download ptk bahasa inggris smp kelas 7
doc Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
a. Variabel Bebas (X)
Variabel bebas adalah variabel yang keberadaannya tidak dipengaruhi oleh
variabel yang lain. Variabel bebas kedudukannya tidak tergantung oleh
variabel yang lain dan sebagai penyebab variabel yang lain. Variabel bebas
dalam penelitian ini adalah model pembelajaran kooperatif tipe Think Talk
Write.
b. Variabel Terikat (Y)
Variabel terikat adalah unsur yang keberadaannya dipengaruhi oleh variabel
bebas. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah hasil belajar Bahasa
Inggris.Variabel yang digunakan mengandung arti bahwa model pembelajaran
kooperatif tipe Think Talk Write mempengaruhi hasil belajar Bahasa Inggris
siswa kelas VIISMPN 2 ....

3.4 Rencana Tindakan


3.4.1 Siklus 1
a. Tahap Perencanaan
1) Membuat rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), meliputi :
a) Menentukan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang akan
dilakukan penelitian
b) Mengembangkan standar kompetensi dan kompetensi dasar dalam
indikator
c) Indikator kemudian dikembangkan menjadi tujuan pembelajaran
d) Merumuskan kegiatan pembelajaran yang akan dilakukan guru
dengan model pembelajaran kooperatif tipe Think Talk Write
e) Menetapkan alat dan bahan yang akan digunakan dalam
pembelajaran sesuai dengan materi
2) Membuat evaluasi
3) Membuat lembar observasi guru dan siswa dalam pembelajaran
b. Tahap Pelaksanaan Tindakan dan Observasi
Pada pelaksanaan tindakan siklus I akan dilaksanakan 3 kali pertemuan.
Masing-masing pertemuan akan dilaksanakan tiga kegiatan, yaitu kegiatan
awal, kegiatan inti, dan penutup/akhir sebagai berikut :
Pertemuan pertama
 Pendahuluan/Kegiatan Awal
Guru :
o Orientasi
 Guru masuk ke kelas langsung menyapa dan menggunakan bahasa Inggris
agar English Environment dapat langsung tercipta
 Memeriksa kehadiran peserta didik sebagai sikap disiplin
 Menyiapkan fisik dan psikis peserta didik dalam mengawali kegiatan
pembelajaran.
o Apersepsi
 Peserta didik menerima informasi tentang keterkaitan pembelajaran
sebelumnya dengan pembelajaran yang akan dilaksanakan
 Mengingatkan kembali materi prasyarat dengan bertanya.
Mengajukan pertanyaan yang ada keterkaitannya dengan pelajaran yang
akan dilakukan.
o Motivasi
 Memberikan gambaran tentang manfaat mempelajari pelajaran yang akan
dipelajari.
Apabila materi ini dikuasai dengan baik, maka peserta didik diharapkan
dapat menjelaskan tentang :
 Menyampaikan tujuan pembelajaran pada pertemuan yang berlangsung
o Pemberian Acuan;
 Memberitahukan materi pelajaran yang akan dibahas pada pertemuan
saat itu.Contoh ptk bahasa inggris smp doc
 Memberitahukan tentang standar kompetensi, kompetensi dasar,
indikator, dan KKM pada pertemuan yang berlangsung
 Menjelaskan mekanisme pelaksanaan pengalaman belajar sesuai dengan
langkah-langkah pembelajaran.
 Kegiatan Inti
Peserta didik secara mandiri :
Observing
o Guru memperkenalkan kepada siswa materi perkenalan kepada siswa dengan
memperkenalkan identitas dari guru
o Peserta didik menirukan ucapan guru dan menyalin contoh-contoh teks
tersebut
Questioning
o Siswa menanyakan kepada guru hal-hal yang lebih jauh yang ingin diketahui
dari identitas diri yang disebutkan
Eksperimenting
o Membuat daftar identitas diri berdasarkan contoh yang diberikan
Associating
o Siswa menganalisis gambar yang diberikan dalam buku halaman 10 tentang
Edo dan menjawab beberapa pertanyaan
Networking
o Siswa melaporkan hasil pekerjaan yang sudah diselesaikan berdasarkan
identitas diri masing-masing
 Penutup
Peserta didik :
o Membuat resume dengan bimbingan guru tentang point-point penting yang
muncul dalam kegiatan pembelajaran yang baru dilakukan.
o Mengagendakan pekerjaan rumah.
o Mengagendakan materi yang harus mempelajari pada pertemuan berikutnya di
luar jam sekolah atau dirumah.
Guru :
o Memeriksa pekerjaan siswa yang selesai langsung diperiksa. Peserta didik
yang selesai mengerjakan soal dengan benar diberi paraf serta diberi nomor
urut peringkat, untuk penilaian portofolio.
o Memberikan penghargaan kepada kelompok yang memiliki kinerja dan
kerjasama yang baik

Pertemuan kedua
 Pendahuluan/Kegiatan Awal
Guru :
o Orientasi
 Guru masuk ke kelas langsung menyapa dan menggunakan bahasa Inggris
agar English Environment dapat langsung tercipta
 Memeriksa kehadiran peserta didik sebagai sikap disiplin
 Menyiapkan fisik dan psikis peserta didik dalam mengawali kegiatan
pembelajaran.
o Apersepsi
 Peserta didik menerima informasi tentang keterkaitan pembelajaran
sebelumnya dengan pembelajaran yang akan dilaksanakan
 Mengingatkan kembali materi prasyarat dengan bertanya.
Mengajukan pertanyaan yang ada keterkaitannya dengan pelajaran yang
akan dilakukan.
o Motivasi
 Memberikan gambaran tentang manfaat mempelajari pelajaran yang akan
dipelajari.
Apabila materi ini dikuasai dengan baik, maka peserta didik diharapkan
dapat menjelaskan tentang :
 Menyampaikan tujuan pembelajaran pada pertemuan yang berlangsung
o Pemberian Acuan;
 Memberitahukan materi pelajaran yang akan dibahas pada pertemuan
saat itu.
 Memberitahukan tentang standar kompetensi, kompetensi dasar,
indikator, dan KKM pada pertemuan yang berlangsung
 Menjelaskan mekanisme pelaksanaan pengalaman belajar sesuai dengan
langkah-langkah pembelajaran.

 Kegiatan Inti
Peserta didik secara mandiri :
Observing
o Guru memperkenalkan materi ajar tentang warna dan makanan favorit dengan
menanyakan warna kegemaran dan juga makanan kegemaran
Questioning
o Siswa menanyakan warna favorit guru dan nama-nama warna yg jarang
disebutkan dalam bahasa inggris
Eksperimenting
o Siswa mencari 3 orang di dalam kelas untuk mengetahui makanan favorit dan
warna kesukaan
Associating
o Memberikan gambar-gambar yang berkaitan dengan makanan disertai warna-
warna yang menarik, kemudian siswa diberikan pertanyaan “what is your
favorite food” atau “what kind of food do you like”
Networking
o Siswa kembali melaporkan nama temannya beserta warna dan makanan
kesukaan mereka
Catatan:
Selama pembelajaran berlangsung, guru mengamati sikap siswa dalam
pembelajaran yang meliputi sikap: disiplin, rasa percaya diri, berperilaku
jujur, tangguh menghadapi masalah tanggungjawab, rasa ingin tahu, peduli
lingkungan)

 Penutup
Peserta didik :
o Membuat resume dengan bimbingan guru tentang point-point penting yang
muncul dalam kegiatan pembelajaran yang baru dilakukan.
o Guru memberikan tugas di rumah dengan mencari 3 orang yang ditanyakan
apa warna kesukaan dan makanan favorit mereka.
o Mengagendakan materi yang harus mempelajari pada pertemuan berikutnya di
luar jam sekolah atau dirumah.Download ptk bahasa inggris smp
Guru :
o Memeriksa pekerjaan siswa yang selesai langsung diperiksa. Peserta didik
yang selesai mengerjakan soal dengan benar diberi paraf serta diberi nomor
urut peringkat, untuk penilaian portofolio.
a) Memberikan penghargaan kepada kelompok yang memiliki kinerja dan
kerjasama yang baik
Pertemuan ketiga
Digunakan untuk tes formatif siklus 1
c. Tahap Hasil Observasi
Pada kegiatan ini peneliti melakukan observasi terhadap:
1) Kegiatan guru dalam pelaksanaan pembelajaran
2) Kemampuan guru dalam mengelola kelas
3) Kegiatan peserta didik dalam pelaksanaan pembelajaran
4) Proses pembelajaran menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe
Think Talk Write
5) Hasil belajar peserta didik dalam evaluasi pembelajaran
d. Tahap Refleksi
Pada tahap ini semua data yang terkumpul dianalisis. Hasil analisis akan
digunakan sebagai bahan refleksi untuk melihat keberhasilan maupun
kekurangan proses pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran
kooperatif tipe Think Talk Write. Untuk mengetahui perubahan atas tindakan
yang telah diberikan, diadakan perbandinganantara hasil belajar bahasa Inggris
setelah diberi tindakan dengan hasil belajar bahasa Inggris pada tindakan
sebelumnya. Dari hasil tersebut, diadakan tindak lanjut apabila tindakan yang
telah dilakukan tidak menghasilkan perubahan yang dapat meningkatkan hasil
belajar bahasa Inggris. Kelebihan akan tetap dipertahankan, sedangkan
kekurangan akan diperbaiki pada tindakan berikutnya yang didiskusikan dengan
guru kelas VII.
3.4.2. Siklus 2
Siklus 2 dirancang apabila siklus 1 belum berhasil. Kegiatan yang dilakukan
pada siklus 2 merupakan penyempurnaan dari kelemahan atau kekurangan pada
siklus 1.

3.5 Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data


3.5.1 Teknik Pengumpulan Data
Kegiatan pengumpulan data merupakan bagian yang sangat penting dalam
setiap bentuk penilaian. Kesalahan dalam pengumpulan data akan sangat
berpengaruh terhadap hasil penelitian. Maka data yang diharapkan dalam setiap
penelitian adalah data yang benar dan dapat dipercaya.
Sesuai dengan pendekatan tindakan kelas dan sumber data maka teknik
pengumpulan data yang digunakan oleh peneliti dalam penelitian ini meliputi:
a. Tes
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah
tes kemampuan siswa dalam mengerjakan dan mencari kalimat atau ide
pokok dalam bacaan. Tes digunakan untuk menilai dan mengukur hasil
belajar siswa, terutama hasil belajar kognitif berkenaan dengan penguasaan
bahan pengajaran sesuai dengan tujuan pendidikan dan pengajaran.
b. Observasi
Untuk mengatahui perkembangan aktivitas belajar siswa dilakukan
teknik observasi. Observer bertugas untuk melakukan pengamatan
danpenilaian melalui pengisian lembar aktivitas siswa dan kegiatan mengajar
guru dalam proses pembelajaran.
c. Dokumentasi
Dokumentasi dalam penelitian ini digunakan untuk mendapatkan data
yang diperlukan sebagai data awal penelitian yang berupa jumlah siswa,
daftar nama siswa, dan daftar nilai siswa kelas VIISMPN 2 ... Kecamatan ...
Kabupaten ...
3.5.2 Instrumen Pengumpulan Data
Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data yang berkaitan dengan
hasil belajar bahasa Inggris adalah:
a. Tes
Tes diberikan kepada siswa setelah mempelajari bahasa Inggrissub tema
introduce my self. Tes yang diberikan berbentuk pilihan ganda.
b. Lembar Observasi atau Pengamatan
Lembar observasi digunakan untuk mengamati kegiatan mengajar guru
dan kegiatan siswa saat proses pembelajaran berlangsung sampai akhir
pembelajaran. dalam lembar observasi guru dan siswa, hal yang diamati pada
intinya adalah kemampuan siswa dalam memahami materi yang disampaikan
guru dengan model pembelajaran kooperatif tipe Think Talk Write dan
kemampuan guru dalam menerapkan pembelajaran kooperatif tipe Think Talk
Write sesuai dengan indikator dalam kisi-kisi lembar observasi di bawah ini.
Tabel 3.3
Kisi-kisi Lembar Observasi Aktivitas Guru

Tabel 3.4
Kisi-kisi Lembar Observasi Aktivitas Belajar Siswa

3.6 Validitas dan Reliabilitas


3.6.1 Uji Validitas
Sebelum soal diberikan kepada siswa, maka untuk menguji valid dan
tidaknya suatu item maka menggunakan validitas instrumen berkaitan dengan
sejauh mana suatu instrumen sesuai atau tepat untuk mengukur tujuan. Untuk
menetukan suatu item tertentu valid atau tidak digunakan pedoman dari Priyatno.
Menurut Priyatno (2010: 95) menyatakan suatu item instrumen penelitian
dianggap valid jika pada output Item-Total Statistics pada kolom Corrected Item-
Total Correlation nilainya ~ nilai r tabel. r tabel dicari pada signifikansi 0,05 dan
jumlah data (n) = 21, maka didapat r tabel sebesar 0,433. Validitas dihitung
dengan menggunakan penghitungan SPSS 17. 0 for Windows.
Tabel 3.5
Uji Validitas Siklus 1

Hasil penghitungan validitas item pada soal siklus 1 dengan menggunakan


SPSS 17.0 for Windows yang berdasarkan Corrected Item-Total Correlation
berdasarkan tabel r yang dikemukakan oleh Priyatno (2010: 95), maka dapat
disimpulkan bahwa hasil pengujian validitas dari 40 item yang diuji ada 23 item
yang valid dan 17 item yang tidak valid. Soal yang digunakan untuk tes evaluasi
pada siklus 1 diambil 20 soal dari 23 soal yang valid.Contoh ptk bahasa inggris
smp kelas 7 pdf
Tabel 3.6
Uji Validitas Siklus 2
Hasil penghitungan validitas item pada instrumen soal siklus 2 dengan
menggunakan SPSS 17.0 for Windows yang berdasarkan Corrected Item-Total
Correlation berdasarkan tabel r yang dikemukakan oleh Priyatno (2010: 95),
maka nomor item 3, 4, 5, 13, 14, 17, 19, 27, 29 dinyatakan tidak valid karena
nilai Corrected Item-Total Correlation < 0,433. Dengan demikian dapat
disimpulkan bahwa hasil pengujian validitas dari 30 item yang diuji ada 21 item
yang valid dan 9 item yang tidak valid. Soal yang digunakan untuk tes evaluasi
pada siklus 2 diambil 20 soal dari 21 soal yang valid.
3.6.2 Uji Reliabilitas
Reliabilitas instrumen dimaksudkan untuk mengetahui tingkat keajegan
instrumen dari variabel yang hendak diukur. Pengukuran realibilitas instrumen
dalam penelitian ini dengan menggunakan Sekaran dalam Priyatno (2010: 98)
sebagai berikut :
D < 0,6 : kurang baik
0,6 < D ~ 0,8 : dapat diterima
D > 0,8 : baik
Tabel 3.7
Uji Reliabilitas Siklus 1

Adapun hasil uji tingkat reliabilitasnya dapat dilihat bahwa Cronbach`s


Alpha sebesar 0,899 dari 23 item yang diuji. Menurut Sekaran dalam Priyatno
(2010: 98), Cronbach`s Alpha 0,9 15 termasuk memiliki tingkat reliabilitas yang
baik. Ini berarti bahwa instrumen reliabel sudah dapat digunakan untuk penelitian.
Tabel 3.8
Uji Reliabilitas Siklus 2

Adapun hasil uji tingkat reliabilitasnya dapat dilihat bahwa Cronbach`s


Alpha sebesar 0,9 15 dari 21 item yang diuji. Menurut Sekaran dalam Priyatno
(2010: 98), Cronbach`s Alpha 0,9 15 termasuk memiliki tingkat reliabilitas yang
baik. Ini berarti bahwa instrumen reliabel sudah dapat digunakan untuk
penelitian.

3.7 Taraf Kesukaran


Untuk memperoleh kualitas soal yang baik, di samping memenuhi validitas
dan reabilitas juga harus memperhatikan keseimbangan dari tingkat kesukaran
soal tersebut. Tingkat kesukaran soal dipandang dari kesangggupan atau
kemampuan siswa dalam menjawab soal, bukan dilihat dari sudut guru sebagai
pembuat soal. Persoalan yang penting dalam melakukan analisis tingkat
kesukaran soal adalah penentuan proporsi dan kriteria soal yang termasuk mudah,
sedang, dan sukar. Menurut Arifin (2012: 272) cara melakukan analisis untuk
menentukan tingkat kesukaran soal adalah dengan menggunakan rumus sebagai
berikut :


Keterangan :
p = tingkat kesukaran
6B = jumlah peserta didik yang menjawab benar
N = jumlah peserta didik
Untuk menafsirkan tingkat kesukaran tersebut, dapat digunakan kriteria
sebagai berikut:
P > 0,70 = soal kategori mudah
0,30 d p d 0,70 = soal kategori sedang
P < 0,30 = soal kategori sukar
Hasil penghitungan tingkat kesukaran pada soal siklus 1 dapat dilihat pada
tabel 3.9
Tabel 3.9
Taraf Kesukaran Soal Siklus 1

Tabel 3.9 dapat dilihat bahwa tingkat kesukaran soal pada siklus 1 dari 23
soal yang termasuk kategori mudah sejumlah 4 soal, yang termasuk kategori
sedang sejumlah 19 soal, dan yang termasuk kategori sukar sejumlah 0 soal. Soal
pada siklus 1 yang termasuk dalam kategori mudah terdiri dari nomor 7, 16, 22,
26 dan yang termasuk kategori sedang terdiri dari nomor 1, 2, 3, 4, 5, 10, 11, 12,
13, 19, 21, 23, 24, 25, 29, 30, 32, 35, 36 sedangkan yang soal yang termasuk
kategori sukar tidak ada.Download ptk bahasa inggris smp kelas 7 doc
Hasil penghitungan tingkat kesukaran pada soal siklus 2 dapat dilihat pada
tabel 3.10
Tabel 3.10
Taraf Kesukaran Soal Siklus 2

Tabel 3.10 dapat dilihat bahwa tingkat kesukaran soal pada siklus 2 dari 21
soal yang termasuk kategori mudah sejumlah 6 soal, yang termasuk kategori
sedang sejumlah 15 soal, dan yang termasuk kategori sukar tidak ada. Soal
pada36siklus 2 yang termasuk dalam kategori mudah adalah soal nomor 2,
9,11,12,20,24 dan yang termasuk kategori sedang terdiri dari nomor 1, 6, 7, 8, 10,
15,16,18,21, 22, 23, 25, 26, 28, 30 sedangkan yang soal yang termasuk
kategori sukar tidak ada.

3.8 Indikator Keberhasilan


Indikator keberhasilan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dinyatakan dapat
berhasil apabila dapat meningkatkan skor kriteria hasil belajar siswa sebanyak
90% dari jumlah keseluruhan siswa kelas VII dengan mencapai nilai t 70.

3.9 Teknik Analisis Data


Jenis data yang peneliti peroleh dari penelitian tindakan kelas ini adalah data
kuantitatif yang berupa skor hasil belajar siswa dari kegiatan pembelajaran pada
siklus 1 dan 2. Data tersebut diolah dan dianalisis menggunakan r product
moment. Untuk memperoleh signifikasi tindakan yang dilakukan terhadap hasil
belajar dengan bantuan program SPSS versi 17.0 for Windows.
DAFTAR PUSTAKA

Arifin, Zainal. 2012. Evaluasi Pembelajaran. Bandung: PT. Rem aja Rosdakarya.
Arikunto, Suharsimi, dkk. 2009. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: PT.Bumi A
ksara.
Dimyati dan M udjiono. 2009. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.
H am dan n i. 2011. Strategi Belajar Mengajar. B an dung: Pu stak a Seti a.
Iskandarwassid & Sunendar, Dadang. 2011. Strategi Pembelajaran Bahasa.
Bandung: Rosdakarya.
M ulyati, Y eti. 2007. Keterampilan BerBahasa Inggris SD. Jakarta: U niversitas
Tebuka.
Priyanto, D uw i. 2010. Paham Analisis Statistik Data dengan SPSS. Y ogyakarta:
M ediaKom.
Rusm an. 2012. Model-model Pembelajaran. Jakarta: Raja G rafindo Persada.
Slam eto. 2010. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta:
Rineka Cipta.
S u djana, N an a. 2012. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. B an dung:
Rosdakarya.
S u g i y on o. 2010. Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif,
Kualitatif, dan R&D). Bandung : CV.ALFABETA.
Suprijono, Agus. 2012. Cooperatif Learning Teori dan Aplikasi PAIKEM.
Yogyakarta : Pustaka Pelajar
Tarigan, H enry Guntur. 2008. Menulis Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa.
Bandung : Angkasa.
Anggi, Nuraeni. 2012. “Pengaruh penerapan model cooperatif learning tipe Think
Talk Write (TTW) terhadap pemahaman konsep pada siswa kelas X SMA
Negeri 8 Bandung dalam mata pelajaran ekonomi”.
Istiqomah , Annas Nur . 2009. “Pembelajaran matematika dengan strategi Think
Talk Write (TTW) dalam upaya meningkatkan peran aktif dan prestasi
belajar siswa kelas VIII SM P Negeri 2 Bambanglipuro Bantul”.
Permen No.22 Tahun 2006 tentang Standar Isi.
Krizi.wordpress.com. 2011. “PTK model kemmis dan Mc Taggart”.
http://krizi.wordpress.com/201 1/09/12/ptk-penelitian-tindakan-kelas-model-
kemmis-dan-mc-taggrat/.D iakses pada tanggal 4 Januari 2013.
Lipurtriyoso.wordpress.com. 2012. “Skripsi Meningkatkan Aktivitas dan Hasil
Belajar Matematika dengan Strategi Think Talk
Write”.http://lipurtriyoso. wordpress. com/2012/06/05/contoh-skripsi-
meningkatan-aktivitas-dan-hasil-belajar-matematika-dengan-strategi-th ink-
talk-write-smp-muhammadiyah-1-metro-tahun-pelajaran-201 0201 1/.D
iakses pada tanggal 3 Januari 2013.

Anda mungkin juga menyukai