0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
268 tayangan85 halaman

Modul Teori Hamburan

Modul ini membahas teori hamburan kuantum dengan 3 kalimat: Modul ini menjelaskan konsep-konsep dasar mekanika kuantum seperti fungsi gelombang dan operator, kemudian membahas teori hamburan kuantum dengan menggunakan hampiran Born dan analisis gelombang parsial untuk menghitung amplitudo serta tampang lintang hamburan."

Diunggah oleh

haykalarriawy
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
268 tayangan85 halaman

Modul Teori Hamburan

Modul ini membahas teori hamburan kuantum dengan 3 kalimat: Modul ini menjelaskan konsep-konsep dasar mekanika kuantum seperti fungsi gelombang dan operator, kemudian membahas teori hamburan kuantum dengan menggunakan hampiran Born dan analisis gelombang parsial untuk menghitung amplitudo serta tampang lintang hamburan."

Diunggah oleh

haykalarriawy
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

i

ii
Kata Pengantar
Alhamdulillah, puji syukur kehadirat Allah SWT atas nikmat dan
rahmat-Nya, karena modul pembelajaran Mekanika Kuantum tentang
Teori Hamburan ini telah terselesaikan. Modul ini disusun sebagai
sumber belajar bagi mahasiswa S-1 Pendidikan Fisika dan siapapun
yang ingin mendalami Teori Hamburan. Penulis mengembangkan
pokok bahasan ini karena menarik dan penting untuk dipelajari,
namun tidak diperoleh saat perkuliahan (di luar silabus). Modul ini
juga diharapkan dapat menjadi referensi cepat (quick reference) untuk
mempelajari Teori Hamburan.

Modul disajikan secara ringkas, menarik praktis, dan menggunakan


bahasa Indonesia, serta isi modul disusun dengan menggunakan
format Schaum’s Outline Series (SOS) yang berisi ringkasan materi,
contoh-contoh soal yang diberi penyelesaiannya, dan latihan soal
beserta kunci jawaban. Konsep-konsep dasar yang diperlukan
sebelum masuk ke dalam inti pokok bahasan disajikan tersendiri
dalam Bab 1 Pendahuluan, kemudian pada Bab 2 dibahas Teori
Hamburan Kuantum.

Yogyakarta, 21 Desember 2021

Alim Mustofa
Dr. R. Oktova

iii
Daftar Isi

Kata Pengantar................................................................................. iii


Daftar Isi ........................................................................................... v
Spesifikasi Modul ........................................................................... vii
Tinjauan Mata Kuliah .................................................................... viii
Capaian Pembelajaran ..................................................................... ix
Pedoman Penggunaan Modul ........................................................... x
Daftar Lambang ............................................................................... xi
Daftar Gambar ............................................................................... xiii
Bab 1. Pendahuluan .......................................................................... 1
1.1 Ringkasan Konsep-konsep Dasar Mekanika Kuantum .......... 1
1.2 Fungsi Gelombang untuk Partikel Bebas ............................... 6
1.3 Momentum Sudut Orbital ...................................................... 8
1.4 Potensial Sentral .................................................................. 10
Contoh Soal dan Penyelesaian .................................................. 12
Latihan Soal .............................................................................. 35
Bab 2. Teori Hamburan Kuantum................................................... 39
2.1 Teori Hamburan secara Mekanika Kuantum ....................... 39
2.2 Hampiran Born .................................................................... 41
2.3 Analisis Gelombang Parsial ................................................. 43
Contoh Soal dan Penyelesaian .................................................. 46
Latihan Soal .............................................................................. 61
Daftar Pustaka ................................................................................ 63
Indeks Istilah .................................................................................. 64

v
Lampiran A. Polinomial Legendre ................................................. 66
Lampiran B. Fungsi Bessel ............................................................. 68
Lampiran C. Fungsi Delta............................................................... 70

vi
Spesifikasi Modul
▪ Modul disusun untuk digunakan dalam pembelajaran
mandiri mahasiswa dan lulusan S-1 Pendidikan Fisika,

▪ untuk mahasiswa, syarat minimal agar dapat menggunakan


modul ini adalah sudah menempuh mata kuliah Mekanika
Kuantum.

vii
Tinjauan Mata Kuliah
Mata kuliah Mekanika Kuantum merupakan mata kuliah yang
membekali mahasiswa dengan wawasan tentang bagaimana mencari
keadaan-keadaan kuantum sistem fisis dengan menggunakan
persamaan gelombang. Berdasarkan silabus, mata kuliah ini terdiri
atas beberapa pokok bahasan, yaitu

1. Dualitas Partikel-Gelombang,

2. Persamaan-persamaan Gelombang,

3. Postulat-postulat Mekanika Kuantum,

4. Aplikasi pada Sistem Sederhana: Potensial Sumur Kotak


dan Osilator Harmonik, Degenerasi,

5. Momentum Sudut Orbital,

6. Momentum Sudut Spin,

7. Mekanika Kuantum Relativistik.

Teori hamburan yang disajikan dalam modul ini merupakan materi di


luar silabus atau pengayaan.

viii
Capaian Pembelajaran
Setelah mempelajari modul ini, pengguna diharapkan mampu:

▪ memahami konsep teori hamburan kuantum,

▪ menghitung amplitudo serta tampang lintang diferensial dan total


hamburan dengan metode Hampiran Born dan Analisis
Gelombang Parsial.

ix
Pedoman Penggunaan Modul
▪ Baca dan pelajari dengan seksama uraian setiap materi,

▪ salinlah konsep-konsep dan persamaan-persamaan ke dalam


buku catatan Anda,

▪ perhatikan dan pelajari dengan baik contoh soal dan


penyelesaian,

▪ kerjakan semua latihan soal, kemudian cocokkan jawaban Anda


dengan kunci jawaban, karena latihan soal akan mengukur
tingkat pemahaman Anda dalam mempelajari materi.

x
Daftar Lambang
𝐴 = Observabel (besaran fisika) umum

𝐴̂ = Operator observabel umum 𝐴

𝑎 = Eigennilai operator umum 𝐴̂

𝛿𝑖𝑗 = Delta Kronecker

𝛿ℓ = Pergeseran fase

𝐸 = Eigennilai energi keadaan

𝐸𝑘 = Energi kinetik

𝑒 = Besar muatan elementer = 1,6 × 10−19 C

𝑓 = Amplitudo hamburan sebagai fungsi sudut

ℎ = Konstanta Planck = 6,63 × 10−34 J.s


ℏ = = 1,056 × 10−34 J.s
2𝜋

𝐻 = Hamiltonian (energi total)

̂
𝐻 = Operator Hamiltonian

𝑖 = Bilangan imajiner

𝑗ℓ = Fungsi Bessel bola

𝑘 = Angka gelombang

ℓ = Bilangan kuantum momentum sudut orbital

𝐿⃗ = Momentum sudut orbital

xi
𝐿𝑧 = Komponen momentum sudut orbital pada arah sumbu Z

𝑚 = Bilangan kuantum magnetik orbital

𝑛 = Bilangan bulat

𝑛ℓ = Fungsi Neumann bola

𝛻⃗ = Operator nabla

𝛻⃗ 2 = Operator Laplace

Ω = Sudut ruang

𝑃 = Peluang

𝑃ℓ𝑚 = Polinomial Legendre terkait

𝑝 = Momentum linier

Φ = Eigenfungsi umum (tidak hanya mengandung posisi)

𝜑 = Eigenfungsi sebagai fungsi posisi

𝜑𝑖𝑛 = Fungsi gelombang datang

𝜑𝑘 = Fungsi gelombang monokromatik

𝜑𝑠𝑐 = Fungsi gelombang terhambur

𝑅 = Eigenfungsi sebagai fungsi radial

𝑟 = Vektor posisi

𝜎𝜃 = Tampang lintang diferensial

𝜎𝑡𝑜𝑡 = Tampang lintang total

𝑉 = Potensial (energi potensial)

𝑌 = Fungsi Harmonik Bola

xii
Daftar Gambar
Gambar 1. 1 Paket gelombang pada saat 𝑡 tertentu .......................... 7
Gambar 1. 2 Paket gelombang pada saat 𝑡1 dan 𝑡2 ........................... 7
Gambar 1. 3 Penyajian vektor momentum sudut orbital .................. 9
Gambar 1. 4 Diagram vektor 𝐿 untuk orbital 2p ............................. 30
Gambar 2. 1 Gelombang datang dan gelombang terhambur .......... 39
Gambar 2. 2 Partikel terhambur dalam sudut ruang 𝑑Ω ................. 40
Gambar 2. 3 Jarak target ke detektor 𝑟 dan ukuran target 𝑟′........... 41
Gambar 2. 4 Transfer momentum ................................................... 42
Gambar 2. 5 Daerah momentum sudut orbital ................................ 43
Gambar 2. 6 Partikel datang melalui luas 𝑑𝜎 ................................. 47

xiii
Bab 1 Pendahuluan

1.1 Ringkasan Konsep-konsep Dasar Mekanika


Kuantum
▪ Apa Itu Mekanika Kuantum?
Menurut hipotesis de Broglie (1924), partikel materi yang
bergerak memiliki sifat sebagai gelombang.
Mekanika kuantum merupakan alat matematis yang
digunakan dalam fisika dan ilmu-ilmu terkait untuk mempelajari
sistem fisis dengan menggunakan sifat gelombang yang dimiliki oleh
partikel.

▪ Beberapa Asumsi Dasar (Postulat) Mekanika Kuantum


− Mekanika kuantum mendeskripsikan keadaan suatu sistem
dengan suatu fungsi gelombang.
− Fungsi gelombang terkait dengan peluang menemukan suatu
sistem pada suatu posisi atau keadaan kuantum tertentu.
− Fungsi gelombang mengandung semua informasi besaran fisika
(observabel) terkait: energi, momentum sudut, dan sebagainya.
− Fungsi gelombang secara umum kompleks, serta mengandung
waktu dan variabel bebas posisi, spin, dan sebagainya.

• Untuk setiap observabel terdapat suatu operator.


• Operator diterapkan pada fungsi gelombang maka hasilnya sama
dengan fungsi gelombang itu lagi dikalikan sebuah konstanta.
Fungsi gelombang tersebut disebut eigenfungsi.
• Fungsi gelombang dan nilai-nilai observabel yang mungkin
dapat diperoleh dengan menyelesaikan persamaan eigennilai
untuk operator yang bersesuaian (lihat Tabel 1.1),
𝐴̂𝜑 = 𝑎𝜑, (1.1)
dengan
𝐴̂ = operator,
𝜑 = eigenfungsi,

1
BAB 1] PENDAHULUAN

𝑎 = eigennilai.
• Eigennilai adalah nilai-nilai yang mungkin (dapat) dimiliki oleh
sistem.
Tabel 1.1 Observabel dan operatornya
Besaran/Observabel Operator
Koordinat posisi, 𝑥 𝑥̂ = 𝑥
Momentum linier, 𝑝𝑥 𝜕
𝑝̂𝑥 = −𝑖ℏ
𝜕𝑥
Energi kinetik, 𝐸𝑘 =
𝑝2 ℏ2 𝜕 2
2𝑚 𝐸̂𝑘 = −
2𝑚 𝜕𝑥 2
Energi (Hamiltonian), ℏ2 𝜕 2
𝐻̂=− + 𝑉(𝑥)
𝐸 = 𝐸𝑘 + 𝑉 2𝑚 𝜕𝑥 2
𝜕
𝐻̂ = 𝑖ℏ
𝜕𝑡

Keterangan:
𝑖 = √−1 = bilangan imajiner,
𝑚 = massa partikel,

ℏ = = konstanta Planck tereduksi, dengan h adalah
2𝜋
konstanta Planck,
V = energi potensial (untuk selanjutnya disebut potensial saja).

− Fungsi gelombang dapat dicari dengan menyelesaikan


persamaan gelombang, yang secara umum berbentuk
̂ Φ(𝑟, 𝑡, 𝑠) = 𝑖ℏ 𝜕 Φ(𝑟, 𝑡, 𝑠),
𝐻 (1.2)
𝜕𝑡
dengan
̂
𝐻 = operator Hamiltonian (energi total),
Φ(𝑟, 𝑡, 𝑠) = eigenfungsi lengkap (mengandung posisi, waktu
dan spin).

2
PENDAHULUAN [BAB 1

Untuk selanjutnya, hanya akan dibahas fungsi gelombang


yang tidak mengandung spin. Jadi:
𝜑 = fungsi gelombang yang mengandung posisi saja (bebas
waktu), misalnya seperti pada Pers. (1.1),
Φ = fungsi gelombang lengkap (mengandung posisi dan waktu).

Arti fisis fungsi gelombang sebuah partikel (Φ)


− Kuadrat nilai mutlak fungsi gelombang merupakan kerapatan
peluang persatuan volume
𝑑𝑃
|Φ|2 = . (1.3)
𝑑𝑉𝑜𝑙
− Peluang (total) menemukan sebuah partikel diseluruh ruang
sama dengan 1 (satu)

 dP = 1. (1.4)

Fungsi gelombang (pada umumnya) harus memenuhi


syarat normalisasi
∫|Φ|2 𝑑𝑉𝑜𝑙 = 1. (1.5)
Fungsi gelombang yang memenuhi syarat tersebut disebut
fungsi gelombang yang ternormalisasi.
Untuk kasus khusus di mana partikel hanya dapat bergerak
sepanjang sumbu X dan potensial hanya merupakan fungsi 𝑥
saja, jadi 𝑉 = 𝑉(𝑥), volume dapat diganti jarak atau panjang,
sehingga Pers. (1.3) menjadi
𝑑𝑃
|Φ|2 = , (1.6)
𝑑𝑥
dan syarat normalisasi (1.5) menjadi
∫|Φ|2 𝑑𝑥 = 1. (1.7)

▪ Jenis-jenis Persamaan Gelombang


Jenis-jenis persamaan gelombang dalam mekanika kuantum meliputi
➢ Persamaan Schrödinger
Persamaan gelombang nonrelativistik tanpa spin.
➢ Persamaan Klein-Gordon
Persamaan gelombang relativistik tanpa spin.

3
BAB 1] PENDAHULUAN

➢ Persamaan Dirac
Persamaan gelombang relativistik dengan spin.

Mulai di sini, dalam lanjutan bab ini hingga akhir Bab 2 hanya
akan dibahas persamaan Schrödinger saja.

▪ Sifat Ortonormal Eigenfungsi


Keadaan stasioner (stabil, eigenstate) merupakan suatu
keadaan sistem yang merupakan (salah satu) penyelesaian
persamaan Schrödinger. Pada keadaan stasioner ke-n, berlaku
̂ 𝜑𝑛 = 𝐸𝑛 𝜑𝑛 .
𝐻 (1.8)
Eigenfungsi-eigenfungsi suatu sistem 1 ,  2 ,... membentuk
sebuah himpunan fungsi ortonormal yang memenuhi:

∫−∞ 𝜑𝑖∗ 𝜑𝑗 𝑑𝑥 = 𝛿𝑖𝑗 . (1.9)
𝛿𝑖𝑗 disebut delta Kronecker.
Ortonormal artinya saling ortogonal (tegak lurus) dan
ternormalisasi.
1 jika 𝑖 = 𝑗,
𝛿𝑖𝑗 = { (1.10)
0 jika 𝑖 ≠ 𝑗.

▪ Persamaan Schrödinger
Persamaan Schrödinger (nonrelativistik, tanpa spin) hanya
mengandung variabel posisi (𝑟) dan waktu 𝑡:
ℏ2 𝜕
[− 𝛻⃗ 2 + 𝑉(𝑟 )] Φ(𝑟, 𝑡) = −𝑖ℏ Φ(𝑟, 𝑡). (1.11)
2𝑚 𝜕𝑡
Untuk potensial bebas waktu seperti pada Pers. (1.11),
eigenfungsi lengkap 𝛷(𝑟 , 𝑡) dapat dicari dengan pemisahan variabel
(lihat contoh soal 1-1), sehingga diperoleh persamaan Schrödinger
bebas waktu
ℏ2
[− 𝛻⃗ 2 + 𝑉(𝑟)] 𝜑(𝑟) = 𝐸𝜑(𝑟 ). (1.12)
2𝑚

4
PENDAHULUAN [BAB 1

▪ Keadaan Kuantum Umum


Keadaan stasioner (stabil, energi tetap) adalah kebalikan dari
keadaan nonstasioner/tak stabil (memancarkan atau menyerap
tenaga).
Keadaan kuantum umum suatu sistem dapat dinyatakan
sebagai kombinasi linier atau superposisi keadaan-keadaan stasioner
𝑓 = 𝑎1 𝜑1 + 𝑎2 𝜑2 + ⋯ 𝑎𝑖 𝜑𝑖 + ⋯ = Σ𝑖 𝑎𝑖 𝜑𝑖 . (1.13)

Fungsi gelombang 𝑓 ternormalisasi, sehingga


|𝑎1 |2 + |𝑎2 |2 + ⋯ |𝑎𝑖 |2 + ⋯ = 1, (1.14)
2
di mana |𝑎𝑖 | = peluang sistem berada pada keadaan ke – 𝑖. (lihat
contoh soal 1-3).

▪ Degenerasi
Jika beberapa keadaan kuantum (eigenfungsi) berbeda
mempunyai eigennilai energi yang sama, maka eigennilai energi
tersebut mengalami degenerasi.
Tingkat degenerasi suatu eigennilai energi merupakan cacah
keadaan kuantum (eigenfungsi) berbeda yang mempunyai eigennilai
energi sama.

▪ Komutator
Komutator dua operator (misalkan 𝐴̂ dan 𝐵̂ ) dapat dituliskan
sebagai
[𝐴̂, 𝐵̂ ] = 𝐴̂𝐵̂ − 𝐵̂ 𝐴̂, (1.15)
jika komutatornya = 0, kedua operator dikatakan komut (commute)
satu sama lain. Kedua operator mempunyai eigenfungsi
persekutuan. Sebagai contoh hubungan komutasi operator
momentum sudut orbital dapat dituliskan sebagai
[𝐿̂𝑥 , 𝐿̂𝑦 ] = 𝑖ℏ𝐿̂𝑧 ; [𝐿̂𝑦 , 𝐿̂𝑧 ] = 𝑖ℏ𝐿̂𝑥 ; [𝐿̂𝑧 , 𝐿̂𝑥 ] = 𝑖ℏ𝐿̂𝑦 , (1.16)
[𝐿̂2 , 𝐿̂𝑥 ] = [𝐿̂2 , 𝐿̂𝑦 ] = [𝐿̂2 , 𝐿̂𝑧 ] = 0, (1.17)
beberapa sifat komutator selain Pers. (1.15), antara lain
[𝐴̂, 𝐵̂ + 𝐶̂ ] = [𝐴̂, 𝐵̂ ] + [𝐴̂, 𝐶̂ ], (1.18)

5
BAB 1] PENDAHULUAN

[𝐴̂ + 𝐵̂, 𝐶̂ ] = [𝐴̂, 𝐶̂ ] + [𝐵̂, 𝐶̂ ], (1.19)


[𝐴̂, 𝐵̂ 𝐶̂ ] = [𝐴̂, 𝐵̂ ]𝐶̂ + 𝐵̂ [𝐴̂, 𝐶̂ ], (1.20)
[𝐴̂𝐵̂, 𝐶̂ ] = [𝐴̂, 𝐶̂ ]𝐵̂ + 𝐴̂[𝐵̂, 𝐶̂ ]. (1.21)

1.2 Fungsi Gelombang untuk Partikel Bebas


Partikel bebas adalah partikel dengan potensial sama
dengan nol di mana pun. Dalam sistem koordinat Cartesius,
persamaan Schrödinger bebas waktu (1.12) untuk partikel bebas yang
dapat bergerak sepanjang sumbu X dapat dituliskan sebagai
ℏ2 𝑑 2 𝜑(𝑥)
− = 𝐸𝜑(𝑥), (1.22)
2𝑚 𝑑𝑥 2
di mana Pers. (1.22) adalah persamaan diferensial orde dua, dan
penyelesaiannya untuk partikel dengan energi tunggal 𝐸 dapat
dituliskan sebagai fungsi gelombang monokromatik
𝜑𝑘 (𝑥) = 𝐴𝑒 𝑖𝑘𝑥 + 𝐵𝑒 −𝑖𝑘𝑥 , (1.23)
√2𝑚𝐸
di mana 𝑘 = adalah angka gelombang (bernilai tunggal),

sedangkan 𝐴 dan 𝐵 adalah konstanta. Berdasarkan Pers. (1.23), fungsi
lengkap yang memenuhi Pers. (1.11) dapat dituliskan sebagai
ℏ𝑘2 ℏ𝑘2
𝑖(𝑘𝑥− 𝑡) 𝑖(−𝑘𝑥− 𝑡)
Φ(𝑥, 𝑡) = 𝐴𝑒 2𝑚 + 𝐵𝑒 2𝑚 . (1.24)
Fungsi gelombang partikel bebas monokromatik (Pers. 1.23)
merupakan superposisi dua fungsi gelombang: suku pertama
menyajikan gelombang yang merambat ke kanan (partikel bergerak
ke kanan) dan suku kedua menyajikan gelombang yang merambat ke
kiri (partikel bergerak ke kiri).
Fungsi gelombang paling umum sebuah partikel bebas yang
bergerak ke arah sumbu X merupakan kombinasi linier (superposisi)
fungsi-fungsi gelombang monokromatik (suku pertama Pers. 1.24)
ℏ𝑘2
𝑛 𝑖(𝑘 𝑥− 𝑡)
Φ(𝑥, 𝑡) = ∑+∞𝑛=0 𝑎𝑛 𝑒
2𝑚 , (1.25)
di mana 𝑎𝑛 adalah koefisien ekspansi. Pers. (1.25) mewakili sebuah
paket gelombang, di mana nilai 𝑘𝑛 positif menunjukkan gelombang
yang merambat ke kanan dan 𝑘𝑛 negatif menunjukkan gelombang
yang merambat ke kiri. Dalam kasus paling umum ini, gelombangnya

6
PENDAHULUAN [BAB 1

polikromatik dengan berbagai nilai angka gelombang, sedangkan


posisi, momentum linier dan energi partikel tidak diketahui dengan
pasti. Pada Gbr. 1.1 disajikan sebuah paket gelombang pada saat 𝑡
tertentu yang mewakili sebuah partikel yang merambat ke kanan,
dengan kerapatan peluang maksimum terletak pada titik asal (𝑥 = 0).
Bentuk kurva putus-putus disebut bungkus gelombang (wave
envelope).

Gambar 1. 1 Paket gelombang pada saat 𝑡 tertentu

Pada Gbr. 1.2 disajikan sebuah paket gelombang yang merambat ke


kanan, di mana bungkus gelombang berubah terhadap 𝑡.

Gambar 1. 2 Paket gelombang pada saat 𝑡1 dan 𝑡2

Jika angka gelombang 𝑘 bervariasi cukup mulus dan


dianggap kontinu (sifat diskrit diabaikan), maka kombiniasi linier
fungsi-fungsi gelombang (1.25) dapat dinyatakan dengan integral
ℏ𝑘2
1 +∞ 𝑖(𝑘𝑥− 𝑡)
Φ(𝑥, 𝑡) = ∫ 𝑓(𝑘)𝑒 2𝑚 𝑑𝑘 , (1.26)
√2𝜋 −∞

7
BAB 1] PENDAHULUAN

1
di mana 𝑓(𝑘)𝑑𝑘 berperan seperti 𝑎𝑛 pada Pers. (1.25). Fungsi
√2𝜋
gelombang 𝑓(𝑘) dituliskan sebagai
1 +∞
𝑓(𝑘) = ∫ 𝜑(𝑥)𝑒 −𝑖𝑘𝑥 𝑑𝑥 .
√2𝜋 −∞
(1.27)

1.3 Momentum Sudut Orbital


Secara klasik, momentum sudut orbital sebuah partikel dapat
didefinisikan sebagai
𝐿⃗ = 𝑟 × 𝑝, (1.28)
dengan 𝑟 adalah vektor posisi dan 𝑝 adalah momentum linier. Dalam
sistem koordinat Cartesius, dapat dibuktikan bahwa operator-operator
yang terkait dengan momentum sudut orbital adalah
𝜕 𝜕
𝐿̂𝑥 = 𝑦𝑝̂𝑧 − 𝑧𝑝̂𝑦 = −𝑖ℏ (𝑦 − 𝑧 ), (1.29)
𝜕𝑧 𝜕𝑦
𝜕 𝜕
𝐿̂𝑦 = 𝑧𝑝̂𝑥 − 𝑥𝑝̂𝑧 = −𝑖ℏ (𝑧 −𝑥 ), (1.30)
𝜕𝑥 𝜕𝑧
𝜕 𝜕
𝐿̂𝑧 = 𝑥𝑝̂𝑦 − 𝑦𝑝̂𝑥 = −𝑖ℏ (𝑥 −𝑦 ), (1.31)
𝜕𝑦 𝜕𝑥
𝐿̂2 = 𝐿̂2𝑥 + 𝐿̂2𝑦 + 𝐿̂2𝑧 , (1.32)
(lihat contoh soal 1-8).
Dalam sistem koordinat bola (𝑟, 𝜃, 𝜙), dapat dibuktikan
bahwa operator-operator momentum sudut orbital (1.29 s.d. 1.32)
dapat dituliskan sebagai
𝜕 cos 𝜙 𝜕
𝐿̂𝑥 = 𝑖ℏ (sin 𝜙 + ), (1.33)
𝜕𝜃 tan 𝜃 𝜕𝜙
𝜕 sin 𝜙 𝜕
𝐿̂𝑦 = 𝑖ℏ (− cos 𝜙 + ), (1.34)
𝜕𝜃 tan 𝜃 𝜕𝜙
𝜕
𝐿̂𝑧 = −𝑖ℏ , (1.35)
𝜕𝜙
𝜕2 1 𝜕 1 𝜕2
𝐿̂2 = −ℏ2 ( + + ), (1.36)
𝜕𝜃 2 tan 𝜃 𝜕𝜃 sin2 𝜃 𝜕𝜙2
(lihat contoh soal 1-9).
Dapat dibuktikan bahwa eigennilai operator 𝐿̂2 (1.36) adalah
𝐿2 = ℓ(ℓ + 1)ℏ2 , (1.37)
sehingga panjang vektor 𝐿⃗ adalah
|𝐿⃗| = √ℓ(ℓ + 1)ℏ, (1.38)

8
PENDAHULUAN [BAB 1

di mana ℓ adalah bilangan kuantum momentum sudut orbital


(disebut juga bilangan kuantum orbital saja) yang mempunyai nilai
ℓ = 0, 1, 2, … , 𝑛 − 1, (1.39)
(lihat contoh soal 1-10).

Dapat dibuktikan bahwa eigennilai operator 𝐿̂𝑧 (1.35) adalah


𝐿𝑧 = 𝑚ℏ, (1.40)
di mana 𝑚 adalah bilangan kuantum magnetik orbital yang
mempunyai nilai
𝑚 = 0, ±1, ±2, … , ±ℓ, (1.41)
(lihat contoh soal 1-11). Pada Gbr. 1.3 disajikan vektor momentum
sudut orbital 𝐿⃗, |𝐿⃗|, dan 𝐿𝑧 . Arah 𝐿⃗ membentuk sudut 𝜃 terhadap
sumbu Z.

Gambar 1. 3 Penyajian vektor momentum sudut orbital

Kedua operator 𝐿̂2 dan 𝐿̂𝑧 komut (lihat contoh soal 1-12),
sehingga mempunyai eigenfungsi persekutuan. Dalam sistem
koordinat bola (𝑟, 𝜃, 𝜙), eigenfungsi tersebut dikenal sebagai fungsi
harmonik bola (spherical harmonic function atau spherical harmonic
saja) berbentuk
2ℓ+1(ℓ+𝑚)!
𝑌ℓ𝑚 (𝜃, 𝜙) = √ 𝑃ℓ𝑚 (cos 𝜃)𝑒 𝑖𝑚𝜙 . (1.42)
4𝜋(ℓ−𝑚)!

di mana 𝑃ℓ𝑚 adalah polinomial Legendre terkait (associated


Legendre polynomial). Syarat normalisasi untuk fungsi harmonik
bola berbentuk

9
BAB 1] PENDAHULUAN

2𝜋 𝜋
∫0 ∫0 |𝑌 (𝜃, 𝜙)|2 sin 𝜃 𝑑𝜃𝑑𝜙 = 1, (1.43)
(lihat contoh soal 1-13).
Keadaan momentum sudut orbital yang bersesuaian dengan
bilangan kuantum untuk ℓ = 0,1,2,3,4, … berturut-turut disebut
keadaan s, p, d, f, g, …. Eigennilai besar momentum sudut orbital
(Pers. 1.38) untuk nilai ℓ tertentu mengalami degenerasi dengan
tingkat degenerasi sebesar
𝑔ℓ = 2ℓ + 1. (1.44)

1.4 Potensial Sentral


Pada Pers. (1.11), ∇ ⃗ 2 (dibaca “nabla kuadrat” atau “del
kuadrat”) adalah operator Laplace (Laplacian), yang dalam sistem
koordinat Cartesius dituliskan sebagai
𝜕2 𝜕2 𝜕2
⃗ 2=
∇ + + . (1.45)
𝜕𝑥 2 𝜕𝑦 2 𝜕𝑧 2
Dalam lanjutan bab ini hingga akhir Bab 2 hanya akan
dibahas sistem dengan potensial sentral 𝑉 = 𝑉(𝑟) dan digunakan
sistem koordinat bola, di mana operator Laplace dapat dituliskan
sebagai
𝜕2 𝜕2 𝜕2
⃗ 2= 1
∇ 𝑟+
1
( +
1 𝜕
+
1
). (1.46)
𝑟 𝜕𝑟 2 𝑟 2 𝜕𝜃 2 tan 𝜃 𝜕𝜃 sin2 𝜃 𝜕𝜙2
Dengan pemisahan variabel eigenfungsi posisi 𝜑(𝑟 ) pada
Pers. (1.12) dapat dituliskan sebagai perkalian sebuah fungsi radial
𝑅(𝑟) dan sebuah fungsi sudut, sehingga diperoleh persamaan radial
ℏ2 𝑑 2 ℓ(ℓ+1)ℏ2
− 𝑟𝑅(𝑟) + [𝑉(𝑟) + ] 𝑟𝑅(𝑟) = 𝐸𝑟𝑅(𝑟) (1.47)
2𝑚 𝑑𝑟 2 2𝑚𝑟 2
(lihat contoh soal 1-17), dan suku-suku energi di dalam kurung
merupakan potensial efektif,
ℓ(ℓ+1)ℏ2
𝑉𝑒𝑓𝑓 = 𝑉(𝑟) + , (1.48)
2𝑚𝑟 2
di mana suku pertama merupakan potensial statis dan suku kedua
disebut potensial sentrifugal.
Penyelesaian persamaan radial (1.47) berupa fungsi radial
yang mengandung bilangan kuantum orbital ℓ, dan dapat ditulis 𝑅 =

10
PENDAHULUAN [BAB 1

𝑅ℓ (𝑟). Penyelesaian lengkap persamaan Schrödinger bebas waktu


dalam sistem koordinat bola dapat ditulis dalam bentuk
𝜑ℓ𝑚 (𝑟, 𝜃, 𝜙) = 𝑅ℓ (𝑟)𝑌ℓ𝑚 (𝜃, 𝜙), (1.49)

Dari Pers. (1.5), syarat normalisasi untuk bagian radial


eigenfungsi berbentuk

∫0 𝑟 2 |𝑅(𝑟)|2 𝑑𝑟 = 1, (1.50)
(lihat contoh soal 1-13).
Fungsi gelombang paling umum sebuah partikel dalam
potensial sentral dapat dinyatakan sebagai kombinasi linier
eigenfungsi-eigenfungsi 𝜑ℓ𝑚 ,
𝜑(𝑟, 𝜃, 𝜙) = ∑ℓ𝑚 𝑎ℓ𝑚 𝑅ℓ (𝑟)𝑌ℓ𝑚 (𝜃, 𝜙), (1.51)
di mana 𝑎𝑙𝑚 adalah koefisien ekspansi. Untuk sebuah partikel bebas,
fungsi gelombang paling umum dapat dituliskan sebagai
𝜑(𝑟, 𝜃, 𝜙) = ∑ℓ𝑚 𝑎ℓ𝑚 𝑗ℓ (𝑘𝑟)𝑌ℓ𝑚 (𝜃, 𝜙), (1.52)
di mana 𝑗ℓ (𝑘𝑟) adalah fungsi Bessel bola. (lihat contoh soal 1-6).

11
BAB 1] PENDAHULUAN

Contoh Soal dan Penyelesaian

1.1 Ringkasan Konsep-konsep Dasar Mekanika


Kuantum
1-1 Buktikan persamaan Schrödinger bebas waktu (1.12).
Penyelesaian:
Misalkan eigenfungsi lengkap Φ(𝑟 , 𝑡) dapat dinyatakan
sebagai perkalian fungsi posisi saja dan fungsi waktu saja,
Φ(𝑟, 𝑡) = 𝜑(𝑟 )𝑇(𝑡), (1.53)
yang jika dimasukkan ke dalam Pers. (1.11) akan memberikan
ℏ2 𝜕
(− ⃗ 2 + 𝑉(𝑟)) 𝜑(𝑟 )𝑇(𝑡) = 𝑖ℏ
∇ [𝜑(𝑟)𝑇(𝑡)],
2𝑚 𝜕𝑡

atau
ℏ2
𝑇(𝑡) (− ⃗∇2 + 𝑉(𝑟 )) 𝜑(𝑟) = 𝜑(𝑟). 𝑖ℏ 𝑑𝑇(𝑡).
2𝑚 𝑑𝑡
1
Jika kedua ruas dikalikan dengan , diperoleh
𝜑(𝑟 )𝑇(𝑡)
ℏ2 ⃗ 2
(− ∇ +𝑉(𝑟 ))𝜑(𝑟 )
2𝑚 1 𝑑𝑇(𝑡)
= 𝑖ℏ . (1.54)
𝜑(𝑟 ) 𝑇(𝑡) 𝑑𝑡
Ruas kiri persamaan di atas adalah fungsi posisi saja,
sedangkan ruas kanan adalah fungsi waktu saja. Kedua ruas
tersebut selalu sama untuk semua nilai posisi dan waktu,
sehingga kedua ruas pasti sama dengan sebuah konstanta
berdimensi energi, misalnya E. Untuk ruas kiri,
ℏ2 ⃗ 2
(− ∇ +𝑉(𝑟 ))𝜑(𝑟 )
2𝑚
𝐸= ,
𝜑(𝑟 )
dan diperoleh persamaan Schrödinger bebas waktu (1.12).

1-2 Buktikan bahwa penyelesaian lengkap Pers. (1.11) dapat


dinyatakan dalam bentuk Φ(𝑟, 𝑡) = 𝜑(𝑟 )𝑒 −𝑖𝐸𝑡/ℏ .
Penyelesaian:
Dari Pers. (1.54), ruas kanan dapat dituliskan

12
PENDAHULUAN [BAB 1

1 𝑑𝑇(𝑡)
𝐸 = 𝑖ℏ ,
𝑇(𝑡) 𝑑𝑡
𝑖𝐸 𝑑𝑇(𝑡)
− 𝑑𝑡 = ,
ℏ 𝑑𝑡
jika kedua ruas diintegralkan, diperoleh
𝑖𝐸
− (𝑡 + 𝐶) = ln 𝑇(𝑡),

lalu, kedua ruas dieksponensialkan
𝑖𝐸
𝑒 − ℏ (𝑡+𝐶) = 𝑇(𝑡),
atau
𝑖𝐸 𝑖𝐸
𝑒 − ℏ 𝑡 . 𝑒 − ℏ 𝐶 = 𝑇(𝑡).
𝑖𝐸
Suku 𝑒 − ℏ 𝐶 tidak bergantung waktu dan dianggap sebagai
konstanta sehingga dapat diserap oleh fungsi posisi 𝜑(𝑟),
maka
𝑖𝐸
𝑇(𝑡) = 𝑒 − ℏ 𝑡 . (1.55)
Pers. (1.55) dimasukkan ke dalam Pers. (1.53) diperoleh
penyelesaian lengkap Pers. (1.11).

1-3 Buktikan syarat normalisasi fungsi gelombang nonstationer 𝑓


(1.14).
Penyelesaian:
Untuk menormalisasi fungsi gelombang nonstationer 𝑓 (1.13),
gunakan persamaan (1.9)

∫−∞ 𝜑𝑖∗ 𝜑𝑗 𝑑𝑥 = 𝛿𝑖𝑗 ,
atau
+∞
∫−∞ 𝑓𝑖∗ 𝑓𝑗 𝑑𝑥 = 𝛿𝑖𝑗 ,
+∞
Σ𝑖 𝑎𝑖 Σ𝑗 𝑎𝑗 ∫−∞ 𝜑𝑖 𝜑𝑗 𝑑𝑥 = 𝛿𝑖𝑗 ,
jika 𝑖 = 𝑗 (Pers. 1.10), maka 𝛿𝑖𝑗 bernilai satu, dan diperoleh
syarat normalisasi fungsi gelombang nonstationer 𝑓 (1.14),
Σ𝑖 |𝑎𝑖 |2 = 1.

1-4 Sebuah partikel bermassa 𝑚 terperangkap di dalam sebuah


potensial berbentuk sumur kotak tak terhingga satu dimensi

13
BAB 1] PENDAHULUAN

dengan lebar sumur 𝑎. Eigenfungsi partikel tersebut dituliskan


sebagai
𝑛𝜋𝑥
𝜑(𝑥) = 𝐴 sin .
𝑎
Hitunglah konstanta normalisasi 𝐴.
Penyelesaian:
Untuk memperoleh konstanta normalisasi 𝐴, gunakan
persamaan (1.7)
∫|Φ|2 𝑑𝑥 = 1,
karena 𝜑(𝑥) adalah salah satu eigenfungsi dari fungsi
gelombang lengkap Φ, dan partikel terperangkap pada daerah
0 ≤ 𝑥 ≤ 𝑎, maka
𝑎
∫0 |𝜑(𝑥)|2 𝑑𝑥 = 1,
𝑎 𝑛𝜋
𝐴2 ∫0 𝑠𝑖𝑛2 ( ) 𝑥𝑑𝑥 = 1,
𝑎
1 cos 2𝑝
gunakan identitas trigonometeri, sin2 𝑝 = − , sehingga
2 2
𝐴2 𝑎 2𝑛𝜋 𝑎
[𝑥 − 𝑠𝑖𝑛 ( ) 𝑥] = 1,
2 2𝑛𝜋 𝑎 0
𝐴2 𝑎
[𝑎 − 𝑠𝑖𝑛(2𝑛𝜋)] = 1,
2 2𝑛𝜋
𝐴2
𝑎 = 1,
2
dan diperoleh
2
𝐴=±√ .
𝑎

1.2 Fungsi Gelombang untuk Partikel Bebas


1-5 Sebuah partikel bebas yang bergerak sepajang sumbu X
dideskripsikan dengan fungsi gelombang 𝜑(𝑥) = 𝐴𝑒 −𝑖𝑘𝑥 .
Tentukan eigennilai energi partikel tersebut!
Penyelesaian:
Untuk memperoleh eigennilai energi, gunakan persamaan
eigennilai (1.1)
𝐴̂𝜑 = 𝑎𝜑,
𝐸̂ 𝜑(𝑥) = 𝐸𝜑(𝑥),

14
PENDAHULUAN [BAB 1

operator energi dapat diketahui melalui Tabel. 1.1, di mana


untuk partikel bebas 𝑉(𝑥) = 0 sehingga
ℏ2 𝑑 2
− 𝑒 −𝑖𝑘𝑥 = 𝐸𝜑(𝑥),
2𝑚 𝑑𝑥 2
ℏ2
− (−𝑖𝑘)2 𝑒 −𝑖𝑘𝑥 = 𝐸𝜑(𝑥),
2𝑚
ℏ2 𝑘 2
𝜑(𝑥) = 𝐸𝜑(𝑥),
2𝑚
dan diperoleh eigennilai energi
ℏ2 𝑘 2
𝐸= .
2𝑚

1-6 Tentukan penyelesaian persamaan radial untuk partikel bebas!


Penyelesaian:
Untuk partikel bebas Pers. (1.47) dapat dituliskan
ℏ2 𝑑 2 ℓ(ℓ+1)ℏ2
− 𝑢(𝑟) + 𝑢(𝑟) = 𝐸𝑢(𝑟),
2𝑚 𝑑𝑟 2 2𝑚𝑟 2
di mana 𝑢(𝑟) = 𝑟𝑅(𝑟). Jika kedua ruas dikalikan dengan
−2𝑚/ℏ2 , diperoleh
𝑑2 ℓ(ℓ+1) 2𝑚𝐸
𝑢(𝑟) − 𝑢(𝑟) = − 𝑢(𝑟),
𝑑𝑟 2 𝑟2 ℏ2
2 2
misalkan 𝑘 = 2𝑚𝐸/ℏ , maka
𝑑2 ℓ(ℓ+1)
𝑢(𝑟) − [ + 𝑘 2 ] 𝑢(𝑟) = 0. (1.56)
𝑑𝑟 2 𝑟2
Penyelesaian Pers. (1.56) untuk sembarang ℓ dinyatakan
dengan
𝑢(𝑟) = 𝐴𝑟𝑗ℓ (𝑘𝑟) + 𝐵𝑟𝑛ℓ (𝑘𝑟),
di mana 𝑗ℓ adalah fungsi Bessel bola dan 𝑛ℓ adalah fungsi
Neumann bola. Keduanya didefinisikan sebagai
1 𝑑 ℓ sin 𝑥
𝑗ℓ (𝑥) = (−𝑥)ℓ ( ) , (1.57)
𝑥 𝑑𝑥 𝑥
1 𝑑 ℓ cos 𝑥
𝑛ℓ (𝑥) ≡ (−𝑥)ℓ (− ) , (1.58)
𝑥 𝑑𝑥 𝑥
(lihat Lamp. B). Kedua fungsi (Pers. 1.57 dan 1.58) harus
berhingga di pusat koordinat, 𝑥 → 0, tetapi untuk fungsi
Neumann bola bernilai tak berhingga di pusat koordinat. Oleh
karena itu, konstanta 𝐵 dibuat sama dengan nol, sehingga

15
BAB 1] PENDAHULUAN

𝑢(𝑟) = 𝐴𝑟𝑗ℓ (𝑘𝑟),


karena 𝑢(𝑟) = 𝑟𝑅(𝑟) maka diperoleh penyelesaian persamaan
radial (1.59) untuk partikel bebas
𝑅(𝑟) = 𝐴𝑗ℓ (𝑘𝑟). (1.59)
Sebagai tambahan, apabila Pers. (1.59) dimasukkan ke dalam
Pers. (1.51) maka diperoleh Pers. (1.52).

1-7 Pada saat 𝑡 = 0, sebuah partikel bebas disajikan dengan paket


gelombang sebagai berikut
2
𝜑(𝑥, 0) = 𝐴𝑒 −𝑎𝑥 ,
di mana 𝐴 dan 𝑎 bernilai riil dan positif. Tentukan fungsi
gelombang pada saat 𝑡 > 0!
Penyelesaian:
Untuk memperoleh konstanta normalisasi 𝐴, gunakan
persamaan (1.7)
∫|𝜑(𝑥, 0)|2 𝑑𝑥 = 1,
+∞ 2
𝐴2 ∫−∞ 𝑒 −2𝑎𝑥 𝑑𝑥 = 1,
+∞ 2 𝜋
gunakan sifat integral khusus, ∫−∞ 𝑒 −𝑏𝑥 𝑑𝑥 = √ , maka
𝑏

𝜋
𝐴2 √ = 1,
2𝑎

atau
2𝑎 1/4
𝐴=( ) .
𝜋
Kemudian, menghitung 𝑓(𝑘) menggunakan Pers. (1.27)
1 +∞
𝑓(𝑘) = ∫ 𝜑(𝑥)𝑒 −𝑖𝑘𝑥 𝑑𝑥 ,
√2𝜋 −∞
𝐴 +∞ 2
= ∫ 𝑒 −𝑎𝑥 𝑒 −𝑖𝑘𝑥 𝑑𝑥 ,
√2𝜋 −∞
+∞ 2 +𝑑𝑥) 𝜋 2 /4𝑐
gunakan integral khusus, ∫−∞ 𝑒 −(𝑐𝑥 𝑑𝑥 = √ 𝑒 𝑑
𝑐

sehingga
1 2 /4𝑎
𝑓(𝑘) = (2𝜋𝑎)1/4 𝑒 −𝑘 .
Untuk menentukan Φ(𝑥, 𝑡) menggunakan Pers. (1.26)

16
PENDAHULUAN [BAB 1

ℏ𝑘2
1 +∞ 𝑖(𝑘𝑥− 𝑡)
Φ(𝑥, 𝑡) = ∫ 𝑓(𝑘)𝑒 2𝑚 𝑑𝑘,
√2𝜋 −∞
atau
ℏ𝑘2
1 1 +∞ 2 𝑖(𝑘𝑥− 𝑡)
Φ(𝑥, 𝑡) = ∫ 𝑒 −𝑘 /4𝑎 𝑒
√2𝜋 (2𝜋𝑎)1/4 −∞
2𝑚 𝑑𝑘 ,

1 1 +∞ −[( 1 +𝑖 ℏ𝑡 )𝑘 2 −𝑖𝑥𝑘]
= ∫ 𝑒 4𝑎 2𝑚 𝑑𝑘,
√2𝜋 (2𝜋𝑎) 1/4 −∞
dan diperoleh
2
2𝑎 1/4 𝑒 −𝑎𝑥 /(1+2𝑖ℏ𝑎𝑡/𝑚)
Φ(𝑥, 𝑡) = ( ) .
𝜋 √1+2𝑖ℏ𝑎𝑡/𝑚

1.3 Momentum Sudut Orbital


1-8 Dalam sistem koordinat kartesius, buktikan:
a) 𝐿̂𝑥 (1.29), 𝐿̂𝑦 (1.30), 𝐿̂𝑧 (1.31),
b) 𝐿̂2 (1.32).
Penyelesaian:
a) Untuk mencari momentum sudut orbital dalam sistem
koordinat Cartesius, gunakan Pers. (1.28),
𝐿⃗̂ = 𝑟̂ × 𝑝̂ ,
atau
𝑖̂ 𝑗̂ 𝑘̂
𝐿̂ = | 𝑟̂𝑥 𝑟̂𝑦 𝑟̂𝑧 |,
𝑝̂𝑥 𝑝̂𝑦 𝑝̂𝑧
diperoleh
𝐿̂ = (𝑟̂𝑦 𝑝̂𝑧 − 𝑟̂𝑧 𝑝̂𝑦 )𝑖̂ + (𝑟̂𝑧 𝑝̂𝑥 − 𝑟̂𝑥 𝑝̂𝑧 )𝑗̂
+(𝑟̂𝑥 𝑝̂𝑦 − 𝑟̂𝑦 𝑝̂𝑥 )𝑘̂, (1.60)
lalu gunakan informasi pada tabel 1.1 untuk mengganti
operator vektor posisi dan momentum linier pada Pers.
(1.60), sehingga
𝜕 𝜕 𝜕 𝜕
𝐿̂ = −𝑖ℏ (𝑦 − 𝑧 ) 𝑖̂ − 𝑖ℏ (𝑧 − 𝑥 ) 𝑗̂
𝜕𝑧 𝜕𝑦 𝜕𝑥 𝜕𝑧
𝜕 𝜕
−𝑖ℏ (𝑥 − 𝑦 ) 𝑘̂, (1.61)
𝜕𝑦 𝜕𝑥
atau Pers. (1.61) dapat dituliskan sebagai

17
BAB 1] PENDAHULUAN

𝜕 𝜕
𝐿̂𝑥 = −𝑖ℏ (𝑦 −𝑧 ),
𝜕𝑧 𝜕𝑦
𝜕 𝜕
𝐿̂𝑦 = −𝑖ℏ (𝑧 −𝑥 ),
𝜕𝑥 𝜕𝑧
𝜕 𝜕
𝐿̂𝑧 = 𝑖ℏ (𝑥 −𝑦 ).
𝜕𝑦 𝜕𝑥
dan diperoleh 𝐿̂𝑥 (1.29), 𝐿̂𝑦 (1.30), 𝐿̂𝑧 (1.31).

b) Untuk mencari 𝐿̂2 , gunakan perkalian titik


𝐿̂2 = 𝐿⃗̂ ⋅ 𝐿⃗̂ ,
dalam koordinat Cartesius, 𝐿⃗̂ = 𝐿̂𝑥 𝑖̂ + 𝐿̂𝑦 𝑗̂ + 𝐿̂𝑧 𝑘̂, maka
𝐿̂2 = (𝐿̂𝑥 𝑖̂ + 𝐿̂𝑦 𝑗̂ + 𝐿̂𝑧 𝑘̂) ⋅ (𝐿̂𝑥 𝑖̂ + 𝐿̂𝑦 𝑗̂ + 𝐿̂𝑧 𝑘̂),
dan diperoleh 𝐿̂2 (1.32).

1-9 Dalam sistem koordinat bola, buktikan:


a) 𝐿̂𝑥 (1.33),
b) 𝐿̂𝑦 (1.34),
c) 𝐿̂𝑧 (1.35),
d) 𝐿̂2 (1.36).
Penyelesaian:
a) Dalam sistem koordinat bola, operator momentum sudut
orbital dapat ditentukan dengan menelaah transformasi
berikut
𝑟 = √𝑥 2 + 𝑦 2 + 𝑧 2 , (1.62)
√𝑥 2 +𝑦 2
𝜃 = tan−1 ( ), (1.63)
𝑧
𝑦
𝜙 = tan−1 ( ), (1.64)
𝑥
dan
𝑥 = 𝑟 sin 𝜃 cos 𝜙, (1.65)
𝑦 = 𝑟 sin 𝜃 sin 𝜙, (1.66)
𝑧 = 𝑟 cos 𝜃. (1.67)
𝜕 𝜕 𝜕
Kemudian, mencari turunan , , dan dengan
𝜕𝑥 𝜕𝑦 𝜕𝑧
mengunakan aturan rantai,

18
PENDAHULUAN [BAB 1

𝜕 𝜕𝑟 𝜕 𝜕𝜃 𝜕 𝜕𝜙 𝜕
= + + , (1.68)
𝜕𝑥 𝜕𝑥 𝜕𝑟 𝜕𝑥 𝜕𝜃 𝜕𝑥 𝜕𝜙
𝜕 𝜕𝑟 𝜕 𝜕𝜃 𝜕 𝜕𝜙 𝜕
= + + , (1.69)
𝜕𝑦 𝜕𝑦 𝜕𝑟 𝜕𝑦 𝜕𝜃 𝜕𝑦 𝜕𝜙
𝜕 𝜕𝑟 𝜕 𝜕𝜃 𝜕 𝜕𝜙 𝜕
= + + . (1.70)
𝜕𝑧 𝜕𝑧 𝜕𝑟 𝜕𝑧 𝜕𝜃 𝜕𝑧 𝜕𝜙
Hitung masing-masing turunan parsial, dimulai dengan
turunan terhadap 𝑟 (1.62),
𝑥 𝑦 𝑧
𝑑𝑟 = 𝑑𝑥 + 𝑑𝑦 + 𝑑𝑧, (1.71)
𝑟 𝑟 𝑟
dari Pers. (1.71) diperoleh
𝜕𝑟 𝑥
= , (1.72)
𝜕𝑥 𝑟
𝜕𝑟 𝑦
= , (1.73)
𝜕𝑦 𝑟
𝜕𝑟 𝑧
= . (1.74)
𝜕𝑧 𝑟
Selanjutnya, untuk 𝜃 diambil turunan terhadap tan 𝜃
(1.63),
1 1 𝑥 1 𝑦
𝑑𝜃 = 𝑑𝑥 + 𝑑𝑦
cos 2 𝜃 2
√𝑥 + 𝑦 2 𝑧 √𝑥 + 𝑦 𝑧
2 2

√𝑥 2 +𝑦 2
− 𝑑𝑧, (1.75)
𝑧2
dari Pers. (1.67),
𝑧2
cos 2 𝜃 = , (1.76)
𝑟2
Pers. (1.76) dimasukkan ke dalam Pers. (1.75) maka
diperoleh
1 𝑥𝑧 1 𝑦𝑧
𝑑𝜃 = 2
𝑑𝑥 + 2
𝑑𝑦
√𝑥 2 + 𝑦 2 𝑟 √𝑥 2 + 𝑦 2 𝑟
√𝑥 2 +𝑦 2
− 𝑑𝑧, (1.77)
𝑟2
Pers. (1.77) dapat dituliskan sebagai berikut
𝜕𝜃 1 𝑥𝑧
= , (1.78)
𝜕𝑥 √𝑥 2 +𝑦 2 𝑟 2
𝜕𝜃 1 𝑦𝑧
= , (1.79)
𝜕𝑦 √𝑥 2 +𝑦 2 𝑟 2
𝜕𝜃 √𝑥 2 +𝑦 2
=− . (1.80)
𝜕𝑧 𝑟2

19
BAB 1] PENDAHULUAN

Kemudian, untuk 𝜙 diambil turunan terhadap tan 𝜙


(1.64),
1 1 𝑦
𝑑𝜙 = 𝑑𝑦 − 𝑑𝑥,
cos2 𝜙 𝑥 𝑥2
𝑥2
karena cos 2 𝜙 = , maka
𝑥 2 +𝑦 2
𝑥 𝑦
𝑑𝜙 = 𝑑𝑦 − 𝑑𝑥, (1.81)
𝑥 2 +𝑦 2 𝑥 2 +𝑦 2
dan dari Pers. (1.81), diperoleh
𝜕𝜙 𝑦
=− , (1.82)
𝜕𝑥 𝑥 2 +𝑦 2
𝜕𝜙 𝑥
= , (1.83)
𝜕𝑦 𝑥 2 +𝑦 2
𝜕𝜙
= 0. (1.84)
𝜕𝑧
Dari Pers. (1.68), (1.72), (1.78) dan (1.82), diperoleh
turunan terhadap 𝑥,
𝜕 𝑥 𝜕 1 𝑥𝑧 𝜕 𝑦 𝜕
= + − , (1.85)
𝜕𝑥 𝑟 𝜕𝑟 √𝑥 2 +𝑦 2 𝑟 2 𝜕𝜃 𝑥 2 +𝑦 2 𝜕𝜙
masukkan Pers. (1.65), (1.66) dan (1.67) ke dalam Pers.
(1.85),
𝜕 𝜕 1 𝜕
= sin 𝜃 cos 𝜙 + cos 𝜃 cos 𝜙
𝜕𝑥 𝜕𝑟 𝑟 𝜕𝜃
1 cos 𝜙 𝜕
− . (1.86)
𝑟 sin 𝜃 𝜕𝜙
Kemudian, dari Pers. (1.69), (1.73), (1.79) dan (1.83),
diperoleh turunan terhadap 𝑦,
𝜕 𝑦 𝜕 1 𝑦𝑧 𝜕 𝑥 𝜕
= + + , (1.87)
𝜕𝑦 𝑟 𝜕𝑟 √𝑥 2 +𝑦 2 𝑟 2 𝜕𝜃 𝑥 2 +𝑦 2 𝜕𝜙
masukkan Pers. (1.65), (1.66) dan (1.67) ke dalam Pers.
(1.87),
𝜕 𝜕 1 𝜕
= sin 𝜃 sin 𝜙 + cos 𝜃 sin 𝜙
𝜕𝑦 𝜕𝑟 𝑟 𝜕𝜃
1 cos 𝜙 𝜕
+ . (1.88)
𝑟 sin 𝜃 𝜕𝜙
Terakhir, dari Pers. (1.70), (1.74), (1.80) dan (1.84),
diperoleh turunan terhadap 𝑧,
𝜕 𝑧 𝜕 √𝑥 2 +𝑦 2 𝜕
= − , (1.89)
𝜕𝑧 𝑟 𝜕𝑟 𝑟2 𝜕𝜃

20
PENDAHULUAN [BAB 1

masukkan Pers. (1.65), (1.66) dan (1.67) ke dalam Pers.


(1.89),
𝜕 𝜕 sin 𝜃 𝜕
= cos 𝜃 − . (1.90)
𝜕𝑧 𝜕𝑟 𝑟 𝜕𝜃
Persamaan yang telah diperoleh dimasukkan ke dalam
operator momentum sudut orbital yang hendak dicari.
Dari Pers. (1.66), (1.67), (1.88), dan (1.90) dapat diperoleh
operator momentum sudut orbital arah sumbu X,
ℏ 𝜕 𝜕
𝐿̂𝑥 = (𝑦 − 𝑧 ),
𝑖 𝜕𝑧 𝜕𝑦
ℏ 𝜕 1 𝜕
= (𝑟 sin 𝜃 sin 𝜙 [cos 𝜃 − sin 𝜃 ]−
𝑖 𝜕𝑟 𝑟 𝜕𝜃
𝜕 1 𝜕 1 cos 𝜙 𝜕
𝑟 cos 𝜃 [sin 𝜃 sin 𝜙 + sin 𝜙 cos 𝜃 + ]),
𝜕𝑟 𝑟 𝜕𝜃 𝑟 sin 𝜃 𝜕𝜙
atau
ℏ 𝜕 cos 𝜃 cos 𝜙 𝜕
= ((− sin2 𝜃 sin 𝜙 − cos 2 𝜃 sin 𝜙) − ),
𝑖 𝜕𝜃 sin 𝜃 𝜕𝜃
ℏ 𝜕 cos 𝜙 𝜕
= (− sin 𝜙 − ),
𝑖 𝜕𝜃 tan 𝜃 𝜕𝜙
dan diperoleh 𝐿̂𝑥 (1.33).

b) Dari Pers. (1.65), (1.67), (1.86), dan (1.90) dapat diperoleh


operator momentum sudut orbital arah sumbu Y,
ℏ 𝜕 𝜕
𝐿̂𝑦 = (𝑧 − 𝑥 ),
𝑖 𝜕𝑥 𝜕𝑧
ℏ 𝜕 1 𝜕 1 sin 𝜙 𝜕
= (𝑟 cos 𝜃 [sin 𝜃 cos 𝜙 + cos 𝜙 cos 𝜃 − ]−
𝑖 𝜕𝑟 𝑟 𝜕𝜃 𝑟 sin 𝜃 𝜕𝜙
𝜕 1 𝜕
𝑟 sin 𝜃 cos 𝜙 [cos 𝜃 − sin 𝜃 ]),
𝜕𝑟 𝑟 𝜕𝜃
atau
ℏ 𝜕 sin 𝜙 𝜕
= ((cos 𝜙 cos 2 𝜃 − cos 𝜙 sin2 𝜃) − ),
𝑖 𝜕𝜃 tan 𝜃 𝜕𝜙
ℏ 𝜕 sin 𝜙 𝜕
= (cos 𝜙 − ),
𝑖 𝜕𝜃 tan 𝜃 𝜕𝜙
dan diperoleh 𝐿̂𝑦 (1.34).

c) Dari Pers. (1.65), (1.66), (1.86), dan (1.88) dapat diperoleh


operator momentum sudut orbital arah sumbu Z,

21
BAB 1] PENDAHULUAN

ℏ 𝜕 𝜕
𝐿̂𝑧 = (𝑥 −𝑦 ),
𝑖 𝜕𝑦 𝜕𝑥
ℏ 𝜕 1 𝜕
= (𝑟 sin 𝜃 cos 𝜙 [sin 𝜃 sin 𝜙 + sin 𝜙 cos 𝜃 +
𝑖 𝜕𝑟 𝑟 𝜕𝜃
1 sin 𝜙 𝜕 𝜕
] − 𝑟 sin 𝜃 cos 𝜙 [sin 𝜃 cos 𝜙 +
𝑟 sin 𝜃 𝜕𝜙 𝜕𝑟
1 𝜕 1 sin 𝜙 𝜕
cos 𝜙 cos 𝜃 − ]),
𝑟 𝜕𝜙 𝑟 sin 𝜃 𝜕𝜙
atau
ℏ 𝜕 sin 𝜙 𝜕
= ((cos 𝜙 cos 2 𝜃 − cos 𝜙 sin2 𝜃) − ),
𝑖 𝜕𝜃 tan 𝜃 𝜕𝜙

ℏ 𝜕
= ((cos 2 𝜙 + sin2 𝜙) ),
𝑖 𝜕𝜙

dan diperoleh 𝐿̂𝑧 (1.35).

d) Mulailah dengan mencari kuadrat operator momentum


sudut orbital masing-masing sumbu. Untuk kuadrat
operator momentum sudut orbital arah sumbu X,
𝜕 cos 𝜙 𝜕 𝜕 cos 𝜙 𝜕
𝐿̂2𝑥 = −ℏ2 (sin 𝜙 + ) (sin 𝜙 + ),
𝜕𝜃 tan 𝜃 𝜕𝜙 𝜕𝜃 tan 𝜃 𝜕𝜙
2 2 𝜕2 𝜕 𝜕
= −ℏ (sin 𝜙 − sin 𝜙 (cot 𝜙 cos 𝜙 )+
𝜕𝜃 2 𝜕𝜃 𝜕𝜙
𝜕 𝜕 𝜕2
cot 𝜃 cos 𝜙 (sin 𝜙 ) + cot 2 𝜃 cos 2 𝜙 ),
𝜕𝜙 𝜕𝜃 𝜕𝜙2
atau
𝜕2 𝜕
= −ℏ2 (sin2 𝜙 + sin 𝜙 [cos 𝜙 (− csc 2 𝜃) +
𝜕𝜃 2 𝜕𝜙
𝜕 𝜕 𝜕
cot 𝜃 cos 𝜙 ] + cot 𝜃 cos 𝜙 [ cos 𝜙 +
𝜕𝜃 𝜕𝜙 𝜕𝜃
𝜕 𝜕 𝜕2
sin 𝜙 ] + cot 2 𝜃 cos 2 𝜙 ),
𝜕𝜙 𝜕𝜃 𝜕𝜙2
dan diperoleh
𝜕2 𝜕
𝐿̂2𝑥 = −ℏ2 (sin2 𝜙 − sin 𝜙 cos 𝜙 csc 2 𝜃 +
𝜕𝜃 2 𝜕𝜙
𝜕 𝜕 𝜕
sin 𝜙 cot 𝜃 cos 𝜙 + cot 𝜃 cos 2 𝜙 +
𝜕𝜃 𝜕𝜙 𝜕𝜃
𝜕 𝜕 𝜕2
cot 𝜃 cos 𝜙 sin 𝜙 + cot 2 𝜃 cos 2 𝜙 ). (1.91)
𝜕𝜙 𝜕𝜃 𝜕𝜙2

22
PENDAHULUAN [BAB 1

Lalu, kuadrat operator momentum sudut orbital arah


sumbu Y,
𝜕 𝜕 𝜕
𝐿̂2𝑦 = −ℏ2 (− cos 𝜙 + cot 𝜃 sin 𝜙 ) (− cos 𝜙 +
𝜕𝜃 𝜕𝜙 𝜕𝜃
𝜕
cot 𝜃 sin 𝜙 ),
𝜕𝜙
2 2 𝜕2 𝜕 𝜕
= −ℏ (cos 𝜙 − cos 𝜙 (cot 𝜃 sin 𝜙 )+
𝜕𝜃 2 𝜕𝜃 𝜕𝜙
𝜕 𝜕 𝜕2
cot 𝜃 sin 𝜙 (cos 𝜙 ) + cot 2 𝜃 sin2 𝜙 ),
𝜕𝜙 𝜕𝜃 𝜕𝜙2
atau
𝜕2 𝜕
= −ℏ2 (cos 2 𝜙 − cos 𝜙 [sin 𝜙 (− csc 2 𝜃) +
𝜕𝜃 2 𝜕𝜙
𝜕 𝜕 𝜕
cot 𝜃 sin 𝜙 ] − cot 𝜃 sin 𝜙 [− sin 𝜙 +
𝜕𝜃 𝜕𝜙 𝜕𝜃
𝜕 𝜕 𝜕2
cos 𝜙 ] + cot 2 𝜃 sin2 𝜙 ),
𝜕𝜙 𝜕𝜃 𝜕𝜙2
dan diperoleh
𝜕2 𝜕
𝐿̂2𝑦 = −ℏ2 (cos 2 𝜙 + cos 𝜙 sin 𝜙 csc 2 𝜃 −
𝜕𝜃 2 𝜕𝜙
𝜕 𝜕 𝜕
cos 𝜙 cot 𝜃 sin 𝜙 + cot 𝜃 sin2 𝜙 −
𝜕𝜃 𝜕𝜙 𝜕𝜃
𝜕 𝜕 𝜕2
cot 𝜃 sin 𝜙 cos 𝜙 + cot 2 𝜃 sin2 𝜙 ). (1.92)
𝜕𝜙 𝜕𝜃 𝜕𝜙2

Untuk kuadrat operator momentum sudut orbital arah


sumbu Z,
𝜕 𝜕 𝜕2
𝐿̂2𝑧 = (−𝑖ℏ ) (−𝑖ℏ ) = −ℏ2 . (1.93)
𝜕𝜙 𝜕𝜙 𝜕𝜙2

Dari Pers. (1.32), (1.91), (1.92), dan (1.93),


𝜕2 𝜕
𝐿̂2 = −ℏ2 [(sin2 𝜙 − sin 𝜙 cos 𝜙 csc 2 𝜃 +
𝜕𝜃 2 𝜕𝜙
𝜕 𝜕 𝜕
sin 𝜙 cot 𝜃 cos 𝜙 + cot 𝜃 cos 2 𝜙 +
𝜕𝜃 𝜕𝜙 𝜕𝜃
𝜕 𝜕 𝜕2
cot 𝜃 cos 𝜙 sin 𝜙 + cot 2 𝜃 cos 2 𝜙 )+
𝜕𝜙 𝜕𝜃 𝜕𝜙2
𝜕2 𝜕
(cos 2 𝜙 + cos 𝜙 sin 𝜙 csc 2 𝜃 −
𝜕𝜃 2 𝜕𝜙

23
BAB 1] PENDAHULUAN

𝜕 𝜕 𝜕
cos 𝜙 cot 𝜃 sin 𝜙 + cot 𝜃 sin2 𝜙 −
𝜕𝜃 𝜕𝜙 𝜕𝜃
𝜕 𝜕 𝜕2 𝜕2
cot 𝜃 sin 𝜙 cos 𝜙 + cot 2 𝜃 sin2 𝜙 )+ ],
𝜕𝜙 𝜕𝜃 𝜕𝜙2 𝜕𝜙2
atau
𝜕2
= −ℏ2 [ (sin2 𝜙 + cos 2 𝜙) + cot 𝜃 (cos 2 𝜙 +
𝜕𝜃 2
𝜕 𝜕2 𝜕2
sin2 𝜙) + cot 2 𝜃 (cos 2 𝜙 + sin2 𝜙) + ],
𝜕𝜃 𝜕𝜙2 𝜕𝜙2
𝜕2 𝜕 𝜕2
= −ℏ2 [ + cot 𝜃 + (cot 2 𝜃 + 1) ],
𝜕𝜃 2 𝜕𝜃 𝜕𝜙2
dan diperoleh 𝐿 (1.36). ̂2

1-10 Diketahui persamaan eigennilai 𝐿̂2 𝑌(𝜃, 𝜙) = 𝜆ℏ2 𝑌(𝜃, 𝜙),


hitunglah eigennilai 𝐿̂2 .
Penyelesaian:
Pers. (1.36) dapat juga dituliskan sebagai
1 𝜕2 1 𝜕 𝜕
𝐿̂2 = −ℏ2 [ + (sin 𝜃 )], (1.94)
sin2 𝜃 𝜕𝜙2 sin 𝜃 𝜕𝜃 𝜕𝜃
Masukkan Pers. (1.94) ke dalam persamaan eigennilai yang
diketahui,
1 𝜕2 1 𝜕 𝜕
[ + (sin 𝜃 )] 𝑌(𝜃, 𝜙) = −𝜆𝑌(𝜃, 𝜙), (1.95)
sin2 𝜃 𝜕𝜙2 sin 𝜃 𝜕𝜃 𝜕𝜃
gunakan pemisahan variabel untuk menyelesaikan Pers.
(1.95), dapat dimisalkan 𝑌(𝜃, 𝜙) = Θ(𝜃)𝐹(𝜙), sehingga
Θ(𝜃) 𝑑 2 𝐹(𝜙) 𝐹(𝜙) 𝑑 𝑑Θ(𝜃)
+ (sin 𝜃 ) = −𝜆Θ(𝜃)𝐹(𝜙), (1.96)
sin2 𝜃 𝑑𝜙2 sin 𝜃 𝑑𝜃 𝑑𝜃
sin2 𝜃
kedua ruas Pers. (1.96) dikalikan ,
Θ(𝜃)𝐹(𝜙)
1 𝑑 2 𝐹(𝜙) sin 𝜃 𝑑 𝑑Θ(𝜃)
+ (sin 𝜃 ) = −𝜆 sin2 𝜃,
𝐹(𝜙) 𝑑𝜙2 Θ(𝜃) 𝑑𝜃 𝑑𝜃
atau
sin 𝜃 𝑑 𝑑Θ(𝜃) 1 𝑑 2 𝐹(𝜙)
(sin 𝜃 ) + 𝜆 sin2 𝜃 = − , (1.97)
Θ(𝜃) 𝑑𝜃 𝑑𝜃 𝐹(𝜙) 𝑑𝜙2
Ruas kiri persamaan di atas adalah fungsi sudut 𝜃 saja,
sedangkan ruas kanan adalah fungsi sudut 𝜙 saja. Kedua ruas
tersebut selalu sama untuk semua nilai sudut 𝜃 dan 𝜙, sehingga

24
PENDAHULUAN [BAB 1

kedua ruas pasti sama dengan sebuah konstanta, misalnya 𝑚2 .


Untuk ruas kiri Pers. (1.97),
sin 𝜃 𝑑 𝑑Θ(𝜃)
(sin 𝜃 ) + 𝜆 sin2 𝜃 = 𝑚2 ,
Θ(𝜃) 𝑑𝜃 𝑑𝜃
atau
sin 𝜃 𝑑 𝑑Θ(𝜃)
(sin 𝜃 ) + 𝜆 sin2 𝜃 − 𝑚2 = 0,
Θ(𝜃) 𝑑𝜃 𝑑𝜃
Θ(𝜃)
kedua ruas dikalikan ,
sin2 𝜃
1 𝑑 𝑑Θ(𝜃) 𝑚2
(sin 𝜃 ) + (𝜆 − ) Θ(𝜃) = 0, (1.98)
sin 𝜃 𝑑𝜃 𝑑𝜃 sin2 𝜃
misalkan, Θ(𝜃) = 𝑃(𝑥), 𝑥 = cos 𝜃 dan 𝑑𝑥 = − sin 𝜃 𝑑𝜃 maka
Pers. (1.98) dapat dituliskan sebagai
𝑑 𝑑 𝑚2
− (−(1 − 𝑥 2 ) ) 𝑃(𝑥) + [𝜆 − ] 𝑃(𝑥) = 0,
𝑑𝑥 𝑑𝑥 1−𝑥 2
2 2 2
di mana sin 𝜃 = 1 − cos 𝜃 = 1 − 𝑥 ,
𝑑 𝑑𝑃 𝑚2
((1 − 𝑥 2 ) ) + [𝜆 − ] 𝑃 = 0,
𝑑𝑥 𝑑𝑥 1−𝑥 2
𝑑2𝑃 𝑑𝑃 𝑚2
(1 − 𝑥 2 ) − 2𝑥 + [𝜆 − ] 𝑃 = 0, (1.99)
𝑑𝑥 2 𝑑𝑥 1−𝑥 2
Pers. (1.99) dikenal persamaaan diferensial Legendre terkait
dengan 𝜆 = ℓ(ℓ + 1) (lihat Lamp. A), sehingga
persamaaan eigennilai menjadi
𝐿̂2 𝑌(𝜃, 𝜙) = ℓ(ℓ + 1)ℏ2 𝑌(𝜃, 𝜙),
dan diperoleh eigennilai 𝐿̂2 (Pers. 1.37)

1-11 Buktikan eigennilai operator 𝐿̂𝑧 (Pers. 1.40).


Penyelesaian:
Untuk ruas kanan Pers. (1.97),
1 𝑑 2 𝐹(𝜙)
𝑚2 = − ,
𝐹(𝜙) 𝑑𝜙2
atau
𝑑 2 𝐹(𝜙)
−𝑚2 𝐹(𝜙) = . (1.100)
𝑑𝜙2
kedua ruas Pers. (1.93) dikalikan 𝐹(𝜙),
𝜕 2 𝐹(𝜙)
𝐿̂2𝑧 𝐹(𝜙) = −ℏ2 , (1.101)
𝜕𝜙2

25
BAB 1] PENDAHULUAN

dari Pers. (1.100) dan (1.101),


𝐿̂2𝑧 𝐹(𝜙) = 𝑚2 ℏ2 𝐹(𝜙),
diperoleh eigennilai 𝐿̂2𝑧 ,
𝐿̂2𝑧 = 𝑚2 ℏ2 ,
dan eigennilai operator 𝐿̂𝑧 (Pers. 1.40).

1-12 Buktikan bahwa kedua operator 𝐿̂2 dan 𝐿̂𝑧 komut.


Penyelesaian:
Kedua operator dikatakan komut satu sama lain, jika
komutatornya = 0,
[ 𝐿̂2 , 𝐿̂𝑧 ] = 0, (1.102)
dari Pers. (1.32) dan (1.102),
[ 𝐿̂2𝑥 + 𝐿̂2𝑦 + 𝐿̂2𝑧 , 𝐿̂𝑧 ] = 0,
karena 𝐿̂2𝑧 selalu komut dengan 𝐿̂𝑧 , maka
[ 𝐿̂2𝑥 + 𝐿̂2𝑦 , 𝐿̂𝑧 ] = 0, (1.103)
gunakan sifat komutator Pers. (1.19) pada Pers. (1.103),
sehingga
[ 𝐿̂2𝑥 , 𝐿̂𝑧 ] + [𝐿̂2𝑦 , 𝐿̂𝑧 ] = 0,
atau
[𝐿̂𝑥 𝐿̂𝑥 , 𝐿̂𝑧 ] + [𝐿̂𝑦 𝐿̂𝑦 , 𝐿̂𝑧 ] = 0, (1.104)
gunakan sifat komutator Pers. (1.21) pada Pers. (1.104),
sehingga
𝐿̂𝑥 [𝐿̂𝑥 , 𝐿̂𝑧 ] + [𝐿̂𝑥 , 𝐿̂𝑧 ]𝐿̂𝑥 + 𝐿̂𝑦 [𝐿̂𝑦 , 𝐿̂𝑧 ] + [𝐿̂𝑦 , 𝐿̂𝑧 ]𝐿̂𝑦 = 0.
Dengan menggunakan hubungan komutasi (Pers. 1.16),
diperoleh
−𝑖ℏ𝐿̂𝑥 𝐿̂𝑦 − 𝑖ℏ𝐿̂𝑦 𝐿̂𝑥 + 𝑖ℏ𝐿̂𝑦 𝐿̂𝑥 + 𝑖ℏ𝐿̂𝑥 𝐿̂𝑦 = 0,
dan terbukti bahwa kedua operator 𝐿̂2 dan 𝐿̂𝑧 komut.

1-13 Buktikan syarat normalisasi untuk bagian radial eigenfungsi


(1.50) dan fungsi harmonik bola (1.43)!
Penyelesaian:

26
PENDAHULUAN [BAB 1

Untuk memperoleh syarat normalisasi dapat menggunakan


Pers. (1.5)
∫ |𝜑(𝑟, 𝜃, 𝜙)|2 𝑑𝑉𝑜𝑙 = 1,
dalam sistem koordinat bola 𝑑𝑉𝑜𝑙 = 𝑟 2 sin 𝜃 𝑑𝑟 𝑑𝜃 𝑑𝜙,
sehingga syarat normalisasi menjadi
2𝜋 𝜋 ∞
∫0 ∫0 ∫0 |𝑅(𝑟)𝑌(𝜃, 𝜙)|2 𝑟 2 sin 𝜃 𝑑𝑟 𝑑𝜃 𝑑𝜙 = 1, (1.105)
Pers. (1.105) dapat dipisahkan menjadi
∞ 2𝜋 𝜋
∫0 𝑟 2 |𝑅(𝑟)|2 𝑑𝑟 ∫0 ∫0 |𝑌(𝜃, 𝜙)|2 sin 𝜃 𝑑𝜃 𝑑𝜙 = 1. (1.106)
Kedua integral pada ruas kiri (Pers. 1.106) diambil sama
dengan satu, sehingga diperoleh syarat normalisasi untuk
bagian radial eigenfungsi (1.50) dan fungsi harmonik bola
(1.43).

1-14 Diketahui sebuah partikel dalam atom berada pada orbital d.


a) Berapakah bilangan kuantum momentum sudut orbital?
b) Berapakah nilai-nilai bilangan kuantum magnetik orbital
yang mungkin?
c) Hitunglah besar momentum sudut orbital, dinyatakan
dalam ℏ!
Penyelesaian:
a) Untuk orbital d, ℓ = 2.
b) Untuk ℓ = 2, nilai-nilai bilangan kuantum magnetik
orbital yang mungkin adalah 𝑚 = 0, ±1, ±2.
c) Untuk ℓ = 2, dari pers. (1.38) besar momentum sudut
orbital adalah
|𝐿⃗| = √ℓ(ℓ + 1)ℏ.
= √2(2 + 1)ℏ.
|𝐿⃗| = √6ℏ.

1-15 Diketahui kuadrat momentum sudut orbital elektron dalam


atom hidrogen yang terukur laboratorium kuantum besarnya
30ℏ2 .

27
BAB 1] PENDAHULUAN

a) Berapakah bilangan kuantum momentum sudut orbital?


b) Hitunglah nilai-nilai komponen momentum sudut orbital
pada arah sumbu Z yang mungkin!
Penyelesaian:
a) Dari pers. (1.37) kuadrat momentum sudut orbital adalah
𝐿2 = ℓ(ℓ + 1)ℏ2 = 30ℏ2 ,
sehingga diperoleh nilai ℓ = 5.
b) Untuk ℓ = 5, nilai-nilai bilangan kuantum magnetik
orbital yang mungkin adalah
𝐿𝑧 = 0, ±1ℏ, ±2ℏ, ±3ℏ, ±4ℏ, ±5ℏ.

1-16 Sebuah elektron dalam atom berada pada orbital p.


a) Hitunglah besar momentum sudut orbital.
b) Hitunglah nilai-nilai komponen momentum sudut orbital
pada arah sumbu Z yang mungkin.
c) Berapakah sudut-sudut yang mungkin dibentuk vektor
momentum sudut orbital dan sumbu Z?
d) Gambarkan sudut-sudut tersebut dengan diagram vektor.
Penyelesaian:
a) Elektron pada orbital p memiliki bilangan kuantum
momentum sudut orbital ℓ = 1, sehingga dari pers. (1.38),
besar momentum sudut orbitalnya adalah
|𝐿⃗| = √ℓ(ℓ + 1)ℏ,
= √1(1 + 1)ℏ,
|𝐿⃗| = √2ℏ.
b) Untuk ℓ = 1, nilai-nilai 𝑚 yang mungkin adalah 𝑚 =
0, ±1, sehingga komponen momentum sudut orbital pada
arah sumbu Z menurut pers. (1.40),
untuk 𝑚 = 1
𝐿𝑧 = 𝑚ℏ,
= 1ℏ.
𝐿𝑧 = ℏ.
untuk 𝑚ℓ = 0

28
PENDAHULUAN [BAB 1

𝐿𝑧 = 𝑚ℏ,
= 0ℏ.
𝐿𝑧 = 0.
untuk 𝑚ℓ = −1
𝐿𝑧 = 𝑚ℏ,
= −1ℏ.
𝐿𝑧 = −ℏ.

c) Dari Gbr 1.4 terlihat bahwa sudut-sudut yang mungkin


dibentuk vektor momentum sudut orbital dan sumbu Z
adalah
𝐿𝑧
cos 𝜃 = ⃗|
,
|𝐿
𝑚ℏ
= ,
√ℓ(ℓ+1)ℏ
𝑚
= ,
√ℓ(ℓ+1)
𝑚
cos 𝜃 = .
√2
Untuk 𝑚 = 1,
1
cos 𝜃1 = ,
√2
1
= √2,
2
𝜃1 = 45°.
Untuk 𝑚 = 0,
0
cos 𝜃2 = ,
√2
= 0,
𝜃2 = 90°.

Untuk 𝑚 = −1,
−1
cos 𝜃2 = ,
√2
1
= − √2,
2
𝜃3 = 135°.

29
BAB 1] PENDAHULUAN

d) Diagram vektor yang menunjukan sudut-sudut antara 𝐿⃗


dan sumbu Z pada orbital 2p disajikan pada Gbr 1.4.

⃗ untuk orbital 2p
Gambar 1. 4 Diagram vektor 𝑳

1.4 Potensial Sentral


1-17 Buktikan persamaan radial (1.47).
Penyelesaian:
Hamiltonian partikel bermassa 𝑚 yang ditempatkan pada
potensial sentral 𝑉(𝑟),
𝑝2 ℏ2
𝐻= + 𝑉(𝑟) = − ⃗∇2 + 𝑉(𝑟), (1.107)
2𝑚 2𝑚
⃗ . Dari Pers. (1.46) dan Pers. (1.107),
di mana 𝑝 = −𝑖ℏ∇
diperoleh
ℏ2 1 𝜕2 1 𝜕2 1 𝜕 1 𝜕2
𝐻=− [ 𝑟+ ( + + )] + 𝑉(𝑟),
2𝑚 𝑟 𝜕𝑟 2 𝑟 2 𝜕𝜃 2 tan 𝜃 𝜕𝜃 sin2 𝜃 𝜕𝜙2
atau
ℏ2 1 𝜕 2 ℏ2 𝜕2 1 𝜕 1 𝜕2
𝐻=− − ( + + )
2𝑚 𝑟 𝜕𝑟 2 2𝑚𝑟 2 𝜕𝜃 2 tan 𝜃 𝜕𝜃 sin2 𝜃 𝜕𝜙 2
+𝑉(𝑟). (1.108)
Suku kedua ruas kanan (Pers. 1.108) dihubungkan dengan
Pers. (1.36),
ℏ2 1 𝜕2 ℏ2 𝐿2
𝐻=− 𝑟− (− 2 ) + 𝑉(𝑟),
2𝑚 𝑟 𝜕𝑟 2 2𝑚𝑟 2 ℏ
atau

30
PENDAHULUAN [BAB 1

ℏ2 1 𝜕2 ℓ(ℓ+1)ℏ2
𝐻=− 𝑟+ + 𝑉(𝑟), (1.109)
2𝑚 𝑟 𝜕𝑟 2 2𝑚𝑟 2
2 2
di mana 𝐿 = ℓ(ℓ + 1)ℏ . Masukkan Pers. (1.109) ke dalam
Pers. (1.1),
𝐻𝜑(𝑟, 𝜃, 𝜙) = 𝐸𝜑(𝑟, 𝜃, 𝜙),
dengan pemisahan variabel, 𝜑(𝑟, 𝜃, 𝜙) = 𝑅(𝑟)𝑌(𝜃, 𝜙),
diperoleh
ℏ2 1 𝜕2 ℓ(ℓ+1)ℏ2
{− 𝑟+ + 𝑉(𝑟)} 𝑅(𝑟)𝑌(𝜃, 𝜙) =
2𝑚 𝑟 𝜕𝑟 2 2𝑚𝑟 2
𝐸𝑅(𝑟)𝑌(𝜃, 𝜙),
atau
ℏ2 1 𝑑 2 ℓ(ℓ + 1)ℏ2
𝑌(𝜃, 𝜙) {− 2
𝑟+ + 𝑉(𝑟)} 𝑅(𝑟) =
2𝑚 𝑟 𝑑𝑟 2𝑚𝑟 2
𝑌(𝜃, 𝜙)𝐸𝑅(𝑟), (1.110)
1
kedua ruas (Pers. 1.110) dikalikan , sehingga
𝑌(𝜃,𝜙)
ℏ2 1 𝑑 2 ℓ(ℓ+1)ℏ2
{− 𝑟+ + 𝑉(𝑟)} 𝑅(𝑟) = 𝐸𝑅(𝑟),
2𝑚 𝑟 𝑑𝑟 2 2𝑚𝑟 2
atau
ℏ2 1 𝑑 2 ℓ(ℓ+1)ℏ2
− 𝑟𝑅(𝑟) + [ + 𝑉(𝑟)] 𝑅(𝑟) = 𝐸𝑅(𝑟),
2𝑚 𝑟 𝑑𝑟 2 2𝑚𝑟 2
dan diperoleh persamaan radial (1.47).

1-18 Bagian radial eigenfungsi atom mirip hidrogen berbentuk


𝑅 = 𝑁𝑒 −𝑍𝑟/𝑎0 ,
di mana 𝑎0 adalah jari-jari Bohr untuk atom hidrogen dan 𝑍
adalah nomor atom. Hitunglah:
a) konstanta normalisasi 𝑁,
b) kerapatan peluang radial 𝑃𝑟 = 𝑟 2 𝑅2 ,
c) pada jarak radial 𝑟 berapakah kerapatan peluang radial
mencapai nilai maksimum.
Penyelesaian:
a) Konstanta normalisasi dapat diperoleh dengan
menggunakan persamaan (1.50)

∫0 𝑟 2 𝑅2 𝑑𝑟 = 1,

31
BAB 1] PENDAHULUAN


𝑁 2 ∫0 𝑟 2 𝑒 −2𝑍𝑟/𝑎0 𝑑𝑟 = 1,
2𝑍 𝑎0 𝑎0
jika dimisalkan 𝑢 = 𝑟 maka 𝑟 = 𝑢, dan 𝑑𝑟 = 𝑑𝑢
𝑎0 2𝑍 2𝑍
maka
∞ 𝑎0 𝑢 2 𝑎
𝑁 2 ∫0 ( ) 𝑒 −𝑢 0 𝑑𝑢 = 1,
2𝑍 2𝑍
𝑎 3 ∞
𝑁 2 ( 0 ) ∫0 𝑢 2 𝑒 −𝑢 𝑑𝑢 = 1,
2𝑍

gunakan sifat fungsi Gamma 𝛤(𝑛) = ∫0 𝑥 𝑛−1 𝑒 −𝑥 𝑑𝑥 =
(𝑛 − 1)!, sehingga 𝛤(3) = 2! = 2,
𝑎 3
𝑁 2 ( 0 ) (2) = 1,
2𝑍
1 𝑎 3
𝑁 2 ( 0) = 1,
4 𝑍
diperoleh konstanta normalisasi 𝑁,
𝑍 3/2
𝑁 = 2( ) .
𝑎0

b) Kerapatan peluang radial 𝑃𝑟 = 𝑟 2 𝑅2 , sehingga


3 2
𝑍𝑟
2 𝑍 2 −
𝑃𝑟 = 𝑟 (2 ( ) 𝑒 𝑎0 ) ,
𝑎0
3 2𝑍𝑟
𝑍 −
𝑃𝑟 = 4 ( ) 𝑟 2 𝑒 𝑎0 .
𝑎0

c) Terdapat dua syarat agar kerapatan peluang radial


𝑑𝑃𝑟
mencapai nilai maksimum, yakni syarat perlu = 0 dan
𝑑𝑟
𝑑 2 𝑃𝑟
syarat cukup < 0.
𝑑𝑟 2
𝑑𝑃𝑟
(I) Syarat perlu = 0,
𝑑𝑟
3 2𝑍𝑟
𝑑 𝑍 −
[4 ( ) 𝑟 2 𝑒 𝑎0 ] = 0,
𝑑𝑟 𝑎0
3 𝑑 2𝑍𝑟
𝑍 −
4( ) [𝑟 2 𝑒 𝑎0 ] = 0,
𝑎0 𝑑𝑟
atau

32
PENDAHULUAN [BAB 1

2𝑍𝑟 2𝑍𝑟
− 2𝑍 −
2𝑟𝑒 𝑎0 − 𝑟2𝑒 𝑎0 = 0,
𝑎0
2𝑍𝑟
− 𝑍
𝑟𝑒 𝑎0 (1 − 𝑟) = 0, (1.111)
𝑎0
dan dari Pers. (1.111) diperoleh tiga hasil untuk nilai 𝑟,
𝑎
yakni 𝑟1 = 0, 𝑟2 = 0, 𝑟3 = ∞.
𝑍

𝑑 2 𝑃𝑟
(II) Syarat cukup < 0,
𝑑𝑟 2
2𝑍𝑟 2𝑍𝑟 2𝑍𝑟
𝑑2 𝑍 3 2 −𝑎 𝑑 − 𝑍 −
[4 ( ) 𝑟 𝑒 0 ]~ [𝑟𝑒 𝑎0 − 𝑟2𝑒 𝑎0 ],
𝑑𝑟 2 𝑎0 𝑑𝑟 𝑎0
2𝑍𝑟 2𝑍𝑟 2𝑍𝑟 2𝑍𝑟
− 2𝑍 − 2𝑍 − 2𝑍 2 −
~ (𝑒 𝑎0 − 𝑟𝑒 𝑎0 )−( 𝑟𝑒 𝑎0 − 𝑟2 𝑒 𝑎0 ),
𝑎0 𝑎0 𝑎02
2𝑍𝑟 2𝑍𝑟 2𝑍𝑟
𝑑 2 𝑃𝑟 − 4𝑍 − 2𝑍 2 −
~𝑒 𝑎0 − 𝑟𝑒 𝑎0 + 𝑟2𝑒 𝑎0 . (1.112)
𝑑𝑟 2 𝑎0 𝑎02
Masukkan ketiga nilai 𝑟 ke Pers. (1.112). Untuk 𝑟1 =
𝑎0
,
𝑍
2𝑍𝑎0 2𝑍𝑎0 2𝑍𝑎0
𝑑 2 𝑃𝑟 − 4𝑍 𝑎0 − 2𝑍 2 𝑎02 −
~𝑒 𝑎0 𝑍 − 𝑒 𝑎0 𝑍 + 2𝑒
𝑎0 𝑍 ,
𝑑𝑟 2 𝑎0 𝑍 𝑎02 𝑍
−2
~𝑒 − 4𝑒 −2 + 2𝑒 −2
,
𝑑 2 𝑃𝑟 −2
~−𝑒 (Negatif).
𝑑𝑟 2
Untuk 𝑟2 = 0,
2𝑍 2𝑍 2𝑍
𝑑 2 𝑃𝑟 − (0) 4𝑍 − (0) 2𝑍 2 − (0)
~𝑒 𝑎0 − (0)𝑒 𝑎0 + (0)𝑒 𝑎0 ,
𝑑𝑟 2 𝑎0 𝑎02
𝑑 2 𝑃𝑟
~𝑒 0 − 0 + 0,
𝑑𝑟 2
𝑑 2 𝑃𝑟
~1 (Positif).
𝑑𝑟 2

Untuk 𝑟3 = ∞, gunakan Teorema L’Hospital


𝑓(𝑥) 𝑓′(𝑥)
lim = lim ,
𝑥→∞ 𝑔(𝑥) 𝑥→∞ 𝑔′(𝑥)
2𝑍
𝑑 2 𝑃𝑟 − (∞) 4𝑍 𝑟 2𝑍 2 𝑟2
~𝑒 𝑎0 − lim + lim ,
𝑑𝑟 2 𝑎0 𝑟→∞ 2𝑍𝑟 𝑎02 𝑟→∞ 2𝑍𝑟
𝑒 𝑎0 𝑒 𝑎0
4𝑍 𝑎0 2𝑍 2 𝑎0 𝑟
~0 − lim 2𝑍𝑟 + lim 2𝑍𝑟 ,
𝑎0 𝑟→∞ 𝑎02 𝑟→∞
2𝑍𝑒 𝑎0 𝑍𝑒 𝑎0

33
BAB 1] PENDAHULUAN

4𝑍 𝑎0 2𝑍 2 𝑎02
~− ( )+ lim 2𝑍𝑟 ,
𝑎0 ∞ 𝑎02 𝑟→∞
2𝑍 2 𝑒 𝑎0
2𝑍 2 𝑎2
~0 + ( 0 ),
𝑎02 ∞
𝑑 2 𝑃𝑟
~0 (Nol).
𝑑𝑟 2
𝑑 2 𝑃𝑟
Jadi, nilai 𝑟 yang memenuhi syarat cukup <0
𝑑𝑟 2
𝑎0
adalah 𝑟 = 𝑟1 = .
𝑍

34
PENDAHULUAN [BAB 1

Latihan Soal

1.1 Ringkasan Konsep-konsep Dasar Mekanika


Kuantum
1-19 Sebuah partikel bermassa 𝑚 terjebak dalam suatu potensial
sumur kotak satu dimensi berkedalaman tak berhingga dengan
lebar sumur 𝑎. Suatu saat keadaan partikel dinyatakan dengan
sebuah fungsi gelombang ternormalisasi
√11 1
Φ = 𝐴𝜑1 + 𝜑2 + 𝜑3 ,
5 √5
di mana 𝐴 adalah suatu konstanta positif, dan secara umum 𝜑𝑖
adalah eigenfungsi ternormalisasi pada keadaan ke-𝑖.
Tentukan nilai 𝐴.
Kunci Jawaban: 3/5.

1-20 Sebuah osilator harmonik satu dimensi (−∞ < 𝑥 < ∞)


dinyatakan dengan fungsi gelombang:
𝑚𝜔𝑥2
𝜑(𝑥) = 𝐵𝑥𝑒 − 2ℏ ,
di mana 𝐵 adalah suatu konstanta positif. Hitunglah konstanta
𝐵.
𝑚𝜔 1/4 2𝑚𝜔
Kunci Jawaban: ( ) √ .
𝜋ℏ ℏ

𝑑
1-21 Sebuah operator 𝐵̂ = 𝑥 + memiliki eigenfungsi:
𝑑𝑥
𝑥2
𝜑(𝑥) = 𝐴𝑒 − 2 +𝑥 ,
hitunglah eigennilai.
Kunci Jawaban: 1.

1.2 Fungsi Gelombang untuk Partikel Bebas


1-22 Andaikan pada saat 𝑡 = 0, sebuah partikel bebas terlokaliasi
pada cakupan −𝑎 < 𝑥 < 𝑎,

35
BAB 1] PENDAHULUAN

𝐴, jika − 𝑎 < 𝑥 < 𝑎,


𝜑(𝑥, 0) = {
0, lainnya,
di mana 𝐴 dan 𝑎 bernilai riil dan positif.
a) Hitunglah konstanta normalisasi 𝐴,
b) Tentukan 𝑓(𝑘),
c) Tentukan Φ(𝑥, 𝑡) dalam bentuk integral.
1 1 sin(𝑘𝑎)
Kunci Jawaban: (a) ; (b) ;
√2𝑎 √𝜋𝑎 𝑘
ℏ𝑘2
1 +∞ sin(𝑘𝑎) 𝑖(𝑘𝑥− 2𝑚 𝑡)
(c) ∫ 𝑒 𝑑𝑘.
𝜋√2𝑎 −∞ 𝑘

1.3 Momentum Sudut Orbital


𝜕
1-23 Operator azimut dapat dituliskan sebagai 𝐿̂𝑧 = −𝑖ℏ .
𝜕𝜙
Tentukan eigenfungsi, apabila eigennilainya 𝑚ℏ.
1
Kunci Jawaban: 𝑒 𝑖𝑚𝜙 .
√2𝜋

1-24 Sebuah partikel dalam atom berada pada orbital d. Hitung


(a) nilai minimum 𝐿̂2𝑥 + 𝐿̂2𝑦 ,
(b) nilai maksimum 𝐿̂2𝑥 + 𝐿̂2𝑦 .
Kunci Jawaban: (a) 2ℏ2 ; (b) 6ℏ2 .

1-25 Diketahui sebuah elektron dalam atom berada pada orbital f.


Hitung
(a) besar momentum sudut orbital, dinyatakan dalam ℏ,
(b) nilai-nilai komponen momentum sudut orbital pada arah
sumbu Z yang mungkin,
(c) sudut-sudut yang mungkin antara vektor momentum sudut
orbital dan sumbu Z.
Kunci Jawaban: (a) 2ℏ√3; (b) −3ℏ, −2ℏ, −ℏ, 0, ℏ, 2ℏ, 3ℏ;
(c) 30°, 54,74°, 73,22°, 90°, 106,78°, 125,26°, 150°.

36
PENDAHULUAN [BAB 1

1.4 Potensial Sentral


1-26 Bagian radial eigenfungsi atom mirip hidrogen berbentuk
𝑅 = 𝑁𝑟𝑒 −𝑍𝑟/2𝑎0 ,
di mana 𝑎0 adalah jari-jari Bohr untuk atom hidrogen dan 𝑍
adalah nomor atom. Hitunglah konstanta normalisasi 𝑁.
1 𝑍 3/2 𝑍
Kunci Jawaban: ( ) ( ).
√3 2𝑎0 𝑎0

37
BAB 1] PENDAHULUAN

38
Bab 2 Teori Hamburan Kuantum

2.1 Teori Hamburan secara Mekanika Kuantum


Andaikan partikel datang disajikan dengan gelombang
datang berupa gelombang bidang (plane wave) 𝜑𝑖𝑛 (𝑟) = 𝐴𝑒 𝑖𝑘𝑧 , dan
gelombang terhambur berupa gelombang bola (spherical wave)
𝑒 𝑖𝑘𝑟
𝜑𝑠𝑐 (𝑟) = 𝐴𝑓(𝜃, 𝜙) (lihat Gbr. 2.1), di mana 𝑓(𝜃, 𝜙) disebut
𝑟
amplitudo hamburan yang berisi semua informasi tentang peluang
hamburan pada arah tertentu.

Gambar 2. 1 Gelombang datang dan gelombang terhambur

Pada titik yang jauh dari pusat hamburan, penyelesaiannya


adalah superposisi dari gelombang datang dan terhambur:
𝒆𝒊𝒌𝒓
𝜑(𝑟) ≈ 𝐴 [𝒆𝒊𝒌𝒛 + 𝑓(𝜃, 𝜙) ], (2.1)
𝒓
(lihat contoh soal 2-1).
Pada Gbr 2.2 disajikan partikel datang yang terhambur dari
suatu target (potensial) dalam sudut ruang 𝑑Ω. Sebagian besar
eksperimen hamburan dilakukan dalam kerangka laboratorium, di
mana target diam saat partikel datang bergerak.

39
BAB 2] TEORI HAMBURAN KUANTUM

Gambar 2. 2 Partikel terhambur dalam sudut ruang 𝒅𝛀

Tampang lintang (cross section) diferensial suatu


hamburan dapat didefinisikan sebagai
banyaknya partikel terhambur per satuan waktu per 𝑑Ω
𝜎𝜃 = , (2.2)
fluks partikel datang
di mana fluks partikel datang adalah banyaknya partikel datang per
satuan waktu per satuan luas, atau dapat dituliskan sebagai
𝜎𝜃 = |𝑓(𝜃, 𝜙)|2 , (2.3)
(lihat contoh soal 2-2).
Tampang lintang total (atau disebut tampang lintang saja)
suatu hamburan adalah luas permukaan efektif terjadinya interaksi
antara partikel,
𝜎𝑡𝑜𝑡 = ∫ 𝜎𝜃 𝑑Ω, (2.4)
atau dapat dituliskan sebagai
𝜎𝑡𝑜𝑡 = ∫ |𝑓(𝜃, 𝜙)|2 𝑑Ω. (2.5)
Terdapat beberapa metode untuk menghitung amplitudo
hamburan 𝑓(𝜃, 𝜙), antara lain Hampiran Born (Born
Approximation) dan Analisis Gelombang Parsial (Partial Wave
Analysis).
Mulai di sini, dalam lanjutan hingga akhir bab ini hanya akan
dibahas teori hamburan elastik dan non-relativistik secara mekanika
kuantum.

40
TEORI HAMBURAN KUANTUM [BAB 2

2.2 Hampiran Born


Hampiran Born adalah suatu pendekatan dalam hamburan
yang menganggap potensial 𝑉(𝑟 ) sebagai gangguan kecil atau
potensialnya lemah. Pada energi tinggi, hampiran Born lebih baik
digunakan dibandingkan analisis gelombang parsial karena
banyaknya gelombang parsial yang berkontribusi pada hamburan
(menghindari penguraian momentum sudut).
Persamaan Schrödinger bebas waktu yang sudah dibahas
pada Bab 1 (Pers. 1.12) diterapkan pada daerah di sekitar target (zona
hamburan) menjadi
2𝑚
(∇2 + 𝑘 2 )𝜑(𝑟 ) = 𝑉(𝑟)𝜑(𝑟 ), (2.6)
ℏ2
2𝑚𝐸
di mana 𝑘 2 = . Penyelesaian umum Pers. (2.6) dapat dituliskan
ℏ2
sebagai
𝑚 𝑒 𝑖𝑘|𝑟⃗−𝑟⃗′|
𝜑(𝑟) = 𝜑𝑖𝑛 (𝑟 ) − ∫ 𝑉(𝑟 ′)𝜑(𝑟′)𝑑 3 𝑟′, (2.7)
2𝜋ℏ2 |𝑟 −𝑟 ′|
di mana pada ruas kanan Pers. (2.7), suku pertama adalah
penyelesaian homogen berupa gelombang bidang dan suku kedua
adalah penyelesaian khusus yang memerlukan matematika tingkat
lanjut dalam penyelesaiannya.
Pada Gbr. 2.3 disajikan sebuah detektor yang terletak pada
jarak yang sangat jauh, dan apabila dibandingkan dengan ukuran
target maka 𝑟 ≫ 𝑟′, di mana 𝑟 adalah jarak target ke detektor dan 𝑟′
adalah ukuran target,

Gambar 2. 3 Jarak target ke detektor 𝒓 dan ukuran target 𝒓′

41
BAB 2] TEORI HAMBURAN KUANTUM

sehingga penyelesaian umum Pers. (2.7) menjadi


𝑚 𝑒 𝑖𝑘𝑟 ⃗ ′
𝜑(𝑟) = 𝜑𝑖𝑛 (𝑟 ) −
2𝜋ℏ2 𝑟
∫ 𝑒 −𝑖𝑘⋅𝑟 𝑉(𝑟 ′)𝜑(𝑟′)𝑑 3 𝑟 ′, (2.8)
apabila Pers. (2.1) dan (2.8) dihubungkan, maka diperoleh amplitudo
hamburan
𝑚 ⃗ ′
𝑓(𝜃, 𝜙) = −
2𝜋ℏ2
∫ 𝑒 −𝑖𝑘⋅𝑟 𝑉(𝑟′)𝜑(𝑟 ′)𝑑 3 𝑟 ′, (2.9)

Hampiran Born Pertama


Jika potensial 𝑉(𝑟 ) cukup lemah maka fungsi gelombang
terhambur akan berubah sedikit dari gelombang datang, dan
amplitudo hamburan dapat dituliskan sebagai
𝑚 ′
𝑓(𝜃, 𝜙) = −
2𝜋ℏ2
∫ 𝑒 −𝑖𝑞⃗⋅𝑟 𝑉(𝑟 ′)𝑑 3 𝑟′, (2.10)
⃗ −𝑘
di mana 𝑞 = |𝑘 ⃗ 0 | dan ℏ𝑞 adalah transfer momentum, serta ℏ𝑘 ⃗0
⃗ adalah momentum linier partikel datang dan terhambur (lihat
dan ℏ𝑘
Gbr. 2.4).

Gambar 2. 4 Transfer momentum

⃗ 0 | = |𝑘
Pada hamburan elastik, |𝑘 ⃗ |, sehingga
𝑞 = 2𝑘 sin 𝜃/2, (2.11)
(lihat contoh soal 2-3).
Untuk hamburan energi rendah (panjang gelombangnya
besar), faktor eksponensial dianggap konstan di luar daerah hamburan
sehingga amplitudo hamburannya
𝑚
𝑓(𝜃, 𝜙) = − 2 ∫ 𝑉(𝑟 ′)𝑑 3 𝑟 ′. (2.12)
2𝜋ℏ

42
TEORI HAMBURAN KUANTUM [BAB 2

Jika hamburan belum tentu pada energi rendah tetapi


potensialnya simetri bola, 𝑉(𝑟 ) = 𝑉(𝑟), maka amplitudo
hamburannya
2𝑚 ∞
𝑓(𝜃) = − ∫ 𝑟′𝑉(𝑟′) sin(𝑞𝑟′) 𝑑𝑟′, (2.13)
ℏ2 𝑞 0
(lihat contoh soal 2-4).

2.3 Analisis Gelombang Parsial


Analisis gelombang parsial adalah suatu metode dalam
menyelesaikan persoalan hamburan dengan menguraikan setiap
gelombang menjadi komponen momentum sudut penyusunnya.
Gelombang dengan nilai momentum sudut orbital yang berbeda
disebut sebagai gelombang parsial.

Gambar 2. 5 Daerah momentum sudut orbital

Pada Gbr. 2.5 disajikan partikel datang menuju daerah


dengan momentum sudut orbital tertentu. Partikel akan terhambur
keluar jika ℓ ≤ 𝑘 × 𝑏, di mana 𝑘 adalah angka gelombang dan 𝑏
adalah jarak tegak lurus lintasan partikel datang dengan sumbu Z.
Untuk energi yang sangat rendah maka 𝑘 sangat kecil dan hanya
partikel dengan ℓ = 0 yang akan terhambur. Kasus ini disebut
hamburan-s (s-scattering).
Asumsikan potensial bersifat simetri bola, 𝑉(𝑟 ) = 𝑉(𝑟),
sehingga fungsi gelombang tidak bergantung sudut azimut 𝜙 (𝑚 =
0). Fungsi gelombang pada Pers. (1.52) dapat dituliskan sebagai

43
BAB 2] TEORI HAMBURAN KUANTUM

𝑒 𝑖𝑘𝑧 = ∑∞ ℓ
ℓ=0 𝑖 (2ℓ + 1)𝑗ℓ (𝑘𝑟)𝑃ℓ (cos 𝜃), (2.14)
ℓ (2ℓ (cos
di mana 𝑎ℓ = 𝑖 + 1) dan 𝑌ℓ0 ~𝑃ℓ 𝜃) (lihat contoh soal 2-8).
Fungsi gelombang yang terdistorsi oleh 𝑉(𝑟) berbentuk
𝜑(𝑟, 𝜃) = ∑∞ ℓ=0 𝑎ℓ 𝑅𝑘ℓ (𝑟)𝑃ℓ (cos 𝜃). (2.15)
Dari Pers. (2.1) dan (2.14), fungsi gelombang total dapat dituliskan
sebagai berikut

𝜑(𝑟, 𝜃) = ∑ 𝑖 ℓ (2ℓ + 1)𝑗ℓ (𝑘𝑟)𝑃ℓ (cos 𝜃)


ℓ=0
𝑒 𝑖𝑘𝑟
+𝑓(𝜃) , (2.16)
𝑟
Untuk menentukan amplitudo dan tampang lintang
hamburan dapat dengan menghubungkan bentuk asimtotik Pers.
(2.15) dan (2.16).
Untuk nilai 𝑟 besar, fungsi Bessel bola 𝑗ℓ (𝑘𝑟) (lihat Lamp.
B) mempunyai bentuk asimtotik sebagai berikut
ℓ𝜋
sin(𝑘𝑟− 2 )
𝑗ℓ (𝑘𝑟) → . (2.17)
𝑘𝑟
Menghitung bentuk asimtotik fungsi radial 𝑅𝑘ℓ (𝑟) untuk
nilai 𝑟 besar maka potensial efektif bernilai nol karena jangkauannya
pendek sehingga Pers. (1.47) dituliskan sebagai
𝑑2
( + 𝑘 2 ) (𝑟𝑅𝑘ℓ (𝑟)) = 0, (2.18)
𝑑𝑟 2
penyelesaiannya adalah kombinasi linier fungsi Bessel bola dan
fungsi Neumann bola (lihat Lamp. B) sehingga bentuk asimtotik
fungsi radial Pers. (2.18) dapat dituliskan sebagai
ℓ𝜋 ℓ𝜋
sin(𝑘𝑟− 2 ) cos(𝑘𝑟− 2 )
𝑅𝑘ℓ (𝑘𝑟) → 𝐴ℓ − 𝐵ℓ , (2.19)
𝑘𝑟 𝑘𝑟
jika 𝑉 = 0 pada semua 𝑟 (partikel bebas) maka penyelesaian 𝑟𝑅𝑘ℓ (𝑟)
harus berhingga di semua daerah termasuk 𝑟 = 0. Karena fungsi
Neumann bola divergen pada 𝑟 = 0 maka penyelesaian asimtotik
perlu digeser dari titik 𝑟 = 0 sehingga
ℓ𝜋
sin(𝑘𝑟− 2 +𝛿ℓ )
𝑅𝑘ℓ (𝑘𝑟) → 𝐶ℓ , (2.20)
𝑘𝑟

44
TEORI HAMBURAN KUANTUM [BAB 2

di mana 𝛿ℓ adalah sudut riil yang akan hilang untuk semua nilai ℓ
ketika potensial efektif bernilai nol. 𝛿ℓ disebut sebagai pergeseran
fase.
Dari Pers. (2.15), (2.16), (2.17) dan (2.20), diperoleh
amplitudo hamburan
∞1
𝑓(𝜃) = Σℓ=0 (2ℓ + 1)𝑒 𝑖𝛿ℓ sin(𝛿ℓ ) 𝑃ℓ (cos 𝜃), (2.21)
𝑘
(lihat contoh soal 2-9).
dan tampang lintang total
4𝜋 ∞
𝜎𝑡𝑜𝑡 = Σℓ=0 (2ℓ + 1) sin2 (𝛿ℓ ), (2.22)
𝑘2
(lihat contoh soal 2-10).

45
BAB 2] TEORI HAMBURAN KUANTUM

Contoh Soal dan Penyelesaian


2.1 Teori Hamburan secara Mekanika Kuantum
2-1 Buktikan gelombang total pada Pers. (2.1).
Penyelesaian:
Pada daerah yang jauh dari pusat hamburan (𝑉𝑒𝑓𝑓 = 0), Pers.
(1.47) menjadi
ℏ2 𝑑 2 𝑢(𝑟)
− = 𝐸𝑢(𝑟),
2𝑚 𝑑𝑟 2
atau
𝑑 2 𝑢(𝑟)
+ 𝑘 2 𝑢(𝑟) = 0, (2.23)
𝑑𝑟 2
2𝑚𝐸
di mana 𝑢(𝑟) = 𝑟𝑅(𝑟) dan 𝑘 2 = . Pers. (2.23) adalah
ℏ2
persamaan diferensial biasa orde dua yang penyelesaiannya
dapat dituliskan
𝑢(𝑟) = 𝐶𝑒 𝑖𝑘𝑟 + 𝐷𝑒 −𝑖𝑘𝑟 , (2.24)
Pada Pers. (2.24), suku pertama merepresentasikan gelombang
bola keluar dan suku kedua merepresentasikan gelombang
datang. Untuk gelombang terhambur yang diinginkan adalah
gelombang keluar (𝐷 = 0), sehingga
𝑒 𝑖𝑘𝑟
𝑅(𝑟) = 𝐶 ,
𝑟
atau
𝑒 𝑖𝑘𝑟
𝜑𝑠𝑐 = 𝑓(𝜃) . (2.25)
𝑟
Pers. (2.25) dijumlahkan dengan gelombang datang, dan
diperoleh gelombang total pada Pers. (2.1).

2-2 Buktikan tampang lintang diferensial pada Pers. (2.3).


Penyelesaian:
Pada Gbr. 2.6 disajikan partikel datang melalui luas 𝑑𝜎 dalam
waktu 𝑑𝑡 dengan kelajuan 𝑣.

46
TEORI HAMBURAN KUANTUM [BAB 2

Gambar 2. 6 Partikel datang melalui luas 𝒅𝝈

Peluang partikel datang dapat dituliskan sebagai


𝑑𝑃 = |𝜑𝑖𝑛 |2 𝑑𝑉𝑜𝑙 ,
2
= |𝐴𝑒 𝑖𝑘𝑧 | 𝑣𝑑𝑡 𝑑𝜎,

𝑑𝑃 = 𝐴2 𝑣𝑑𝑡 𝑑𝜎. (2.26)


Pers. (2.26) harus sama dengan peluang partikel terhambur di
dalam sudut ruang 𝑑Ω,
𝑑𝑃 = |𝜑𝑠𝑐 |2 𝑑𝑉𝑜𝑙 ,
2
𝑒 𝑖𝑘𝑟
= |𝐴𝑓(𝜃) | 𝑣𝑑𝑡 𝑟 2 𝑑Ω,
𝑟

𝑑𝑃 = |𝐴|2 |𝑓(𝜃)|2
𝑣𝑑𝑡 𝑑Ω. (2.27)
Dari Pers. (2.26) dan (2.27), diperoleh tampang lintang
diferensial pada Pers. (2.3).

2.2 Hampiran Born


2-3 Buktikan 𝑞 bergantung pada sudut 𝜃 (2.11).
Penyelesaian:
Kuadratkan 𝑞, sehingga
2
𝑞 2 = |𝑘⃗ −𝑘 ⃗ 0| ,
= 𝑘 + 𝑘02 − 2𝑘𝑘0 cos 𝜃,
2

⃗ 0 | = |𝑘
pada hamburan elastik, |𝑘 ⃗ |,
𝑞 2 = 2𝑘 2 − 2𝑘 2 cos 𝜃,

47
BAB 2] TEORI HAMBURAN KUANTUM

atau
𝑞 2 = 2𝑘 2 (1 − cos 𝜃).
𝜃
Gunakan identitas trigonometri 2 sin2 = 1 − cos 𝜃, maka
2
𝜃
𝑞 2 = 4𝑘 2 sin2 ,
2
dan terbukti bahwa 𝑞 bergantung pada 𝜃 (2.11).

2-4 Buktikan amplitudo hamburan untuk kasus potensial simetri


bola (2.13).
Penyelesaian:
Karena 𝑞 = 𝑘 ⃗ −𝑘
⃗ 0 , maka Pers. (2.9) dapat dituliskan
𝑚 ⃗ ′
𝑓(𝜃, 𝜙) = −
2𝜋ℏ2
∫ 𝑒 −𝑖𝑘⋅𝑟 𝑉(𝑟 ′)𝜑(𝑟′)𝑑 3 𝑟′,
⃗ 0 ⋅𝑟 ′
𝑖𝑘
di mana 𝜑(𝑟′) = 𝜑𝑖𝑛 = 𝑒 ,
𝑚 2𝜋 𝜋 ∞ ′ ′
= − 2 ∫0 ∫0 ∫0 𝑒 𝑖𝑞𝑟 cos 𝜃 𝑉(𝑟 ′)𝑟 ′2 sin 𝜃′ 𝑑𝑟′𝑑𝜃 ′ 𝑑𝜙′,
2𝜋ℏ
atau
𝑚 2𝜋 𝜋 ′ ′ ∞
=− ∫ 𝑑𝜙′ ∫0 𝑒 𝑖𝑞𝑟 cos 𝜃
2𝜋ℏ2 0
sin 𝜃′ 𝑑𝜃 ′ ∫0 𝑉(𝑟 ′)𝑟 ′2 𝑑𝑟′,
′ ′ 𝜋
𝑚 𝑒 𝑖𝑞𝑟 cos 𝜃 ∞
=− 2
[𝜙′]2𝜋
0 [− ] ∫0 𝑉(𝑟′)𝑟 ′2 𝑑𝑟′,
2𝜋ℏ 𝑖𝑞𝑟 ′
0
𝑚 2 sin 𝑞𝑟 ′ ∞
=− (2𝜋) ( ) ∫0 𝑉(𝑟 ′)𝑟 ′2 𝑑𝑟′,
2𝜋ℏ2 𝑞𝑟 ′
dan diperoleh amplitudo hamburan untuk kasus potensial
simetri bola (2.13).

2-5 Dalam kasus hamburan pada bola lunak untuk energi rendah
berlaku
𝑉, 𝑟 ≤ 𝑎,
𝑉(𝑟) = { 0
0, 𝑟 > 𝑎.
Hitunglah:
(a) amplitudo hamburan,
(b) tampang lintang diferensial,
(c) tampang lintang total.
Penyelesaian:

48
TEORI HAMBURAN KUANTUM [BAB 2

(a) Untuk mencari amplitudo hamburan pada energi rendah,


gunakan Pers. (2.12)
𝑚
𝑓(𝜃, 𝜙) = − 2 ∫ 𝑉(𝑟)𝑑 3 𝑟 ,
2𝜋ℏ
𝑚 𝑎
=− ∫ 𝑉 (4𝜋𝑟 2 )𝑑𝑟 ,
2𝜋ℏ2 0 0
atau
2𝑚𝑉0 𝑎
=−
ℏ2
∫0 𝑟 2 𝑑𝑟 ,
𝑎
2𝑚𝑉0 𝑟3
=− [ ] ,
ℏ2 3 0
dan diperoleh amplitudo hamburan,
2𝑚𝑎3 𝑉0
𝑓(𝜃, 𝜙) = − . (2.28)
3ℏ2

(b) Untuk menghitung tampang lintang diferensial, masukkan


Pers. (2.28) ke dalam Pers. (2.3),
𝜎𝜃 = |𝑓(𝜃)|2 ,
2
2𝑚𝑎3 𝑉0
= |− | ,
3ℏ2
sehingga diperoleh
4𝑚2 𝑎6 𝑉02
𝜎𝜃 = . (2.29)
9ℏ4

(c) Untuk menghitung tampang lintang total, masukkan Pers.


(2.29) ke dalam Pers. (2.4),
𝜎𝑡𝑜𝑡 = ∫ 𝜎𝜃 𝑑Ω,
4𝑚2 𝑎6 𝑉02
= ∫ 𝑑Ω,
9ℏ4
di mana ∫ 𝑑Ω = 4π, maka
4𝑚2 𝑎6 𝑉02
= (4𝜋),
9ℏ4
sehingga diperoleh
16𝜋𝑚2 𝑎6 𝑉02
𝜎𝑡𝑜𝑡 = .
9ℏ4

2-6 Potensial Yukawa berbentuk


𝑒 −𝑟/𝑅
𝑉(𝑟) = 𝑉0 .
𝑟

49
BAB 2] TEORI HAMBURAN KUANTUM

Hitunglah:
(a) amplitudo hamburan,
(b) tampang lintang diferensial,
(c) tampang lintang total.
Penyelesaian:
𝑒 −𝑟/𝑅
(a) Masukkan 𝑉(𝑟) = 𝑉0 ke dalam Pers. (2.13),
𝑟
2𝑚𝑉0 ∞
𝑓(𝜃) = − ∫ 𝑒 −𝑟/𝑅 sin(𝑞𝑟) 𝑑𝑟,
ℏ2 𝑞 0
atau
2𝑚𝑉0 ∞
=−
ℏ2 𝑞
∫0 𝑒 −𝑟/𝑅 sin(𝑞𝑟) 𝑑𝑟, (2.30)
𝑒 𝑖𝑥 −𝑒 −𝑖𝑥
gunakan identitas trigonometri, sin 𝑥 = , sehingga
2𝑖
Pers. (2.30) menjadi
𝑟
2𝑚𝑉0 ∞ − 𝑒 𝑖𝑞𝑟 −𝑒 −𝑖𝑞𝑟
=− ∫0 𝑒 𝑅 ( ) 𝑑𝑟 ,
ℏ2 𝑞 2𝑖
1 1
𝑚𝑉0 ∞ −𝑟( −𝑖𝑞) ∞
=− {∫0 𝑒 𝑅 𝑑𝑟 − ∫0 𝑒 −𝑟(𝑅+𝑖𝑞) 𝑑𝑟 },
𝑖ℏ2 𝑞
1 ∞ 1 ∞
−𝑟(𝑅−𝑖𝑞) −𝑟(𝑅+𝑖𝑞)
𝑚𝑉0 𝑒 𝑒
=− {[− 1 ] − [− 1 ] },
𝑖ℏ2 𝑞 ( −𝑖𝑞) ( +𝑖𝑞)
𝑅 0 𝑅 0
𝑚𝑉0 1 1
=− {1 −1 },
𝑖ℏ2 𝑞 −𝑖𝑞 +𝑖𝑞
𝑅 𝑅
dan diperoleh amplitudo hamburan,
2𝑚𝑉0 𝑞
𝑓(𝜃) = − {1 }. (2.31)
ℏ2 𝑞 +𝑞 2
𝑅2

(b) Masukkan Pers. (2.31) ke dalam Pers. (2.3),


2
2𝑚𝑉0 𝑞
𝜎𝜃 = |− {1 }| ,
ℏ2 𝑞 +𝑞 2
𝑅2
Sehingga diperoleh tampang lintang diferensial,
4𝑚2 𝑉02 1
𝜎𝜃 = 2 . (2.32)
ℏ4 1 𝜃
[ 2 +4𝑘 2 sin2 ( )]
𝑅 2

50
TEORI HAMBURAN KUANTUM [BAB 2

(c) Untuk menghitung tampang lintang total, masukkan Pers.


(2.32) ke dalam Pers. (2.4),
4𝑚2 𝑉02 1
𝜎𝑡𝑜𝑡 = ∫ 𝜃 2
𝑑Ω,
ℏ4 1
[ 2 +4𝑘 2 sin2 ( )]
𝑅 2
𝜋 4𝑚2 𝑉02 sin 𝜃𝑑𝜃
= 2𝜋 ∫ 𝜃 2
,
0 ℏ4 1
[ 2 +4𝑘 2 sin2 ( )]
𝑅 2
atau
8𝜋𝑚2 𝑉02 𝜋 sin 𝜃𝑑𝜃
= ∫0 𝜃 2
,
ℏ4 1
[ 2 +4𝑘 2 sin2 ( )]
𝑅 2
𝜃 𝑥𝑑𝑥
misalkan, 𝑥 = 2𝑘𝑅 sin ( ) dan sin 𝜃 𝑑𝜃 = , sehingga
2 𝑘 2𝑅2
16𝜋𝑚2 𝑉02 1 2𝑘𝑅 𝑥𝑑𝑥
= ∫ ,
ℏ4 𝑘 2𝑅2 0 [1+𝑥 2 ]2
16𝜋𝑚2 𝑉02 𝑅 4 1
= ,
ℏ4 1+4𝑘 2 𝑅 2
diperoleh tampang lintang total,
16𝜋𝑚2 𝑉02 𝑅 4 1
𝜎𝑡𝑜𝑡 = .
ℏ4 1+8𝑚𝐸𝑅 2 /ℏ2

2-7 Sebuah partikel bermassa 𝑚 dengan energi 𝐸 terhambur dari


potensial delta simetri bola 𝑉(𝑟) = 𝐵𝛿(𝑟 − 𝑎), di mana 𝐵 dan
𝑎 adalah konstanta. Hitunglah tampang lintang diferensial.
Penyelesaian:
Untuk mencari amplitudo hamburan untuk potensial delta
simetri bola, gunakan Pers. (2.13),
2𝑚 ∞
𝑓(𝜃) = − ∫ 𝑟𝑉(𝑟) sin(𝑞𝑟) 𝑑𝑟 ,
ℏ2 𝑞 0
atau
2𝑚𝐵 ∞
=− ∫0 𝛿(𝑟 − 𝑎) 𝑟 sin(𝑞𝑟) 𝑑𝑟 ,
ℏ2 𝑞

gunakan sifat fungsi 𝛿 Dirac, ∫−∞ 𝛿(𝑟 − 𝑎) 𝑓(𝑎)𝑑𝑟 = 𝑓(𝑎)
(lihat Lamp. C), sehingga
2𝑚𝐵𝑎 sin(𝑞𝑎)
𝑓(𝜃) = − . (2.33)
ℏ2 𝑞
Dari Pers. (2.3) dan Pers. (2.33), diperoleh

51
BAB 2] TEORI HAMBURAN KUANTUM

2𝑚𝐵𝑎 sin(𝑞𝑎) 2
𝜎𝜃 = |− | ,
ℏ2 𝑞
atau
4𝑚2 𝐵2 𝑎2 sin2 (𝑞𝑎)
𝜎𝜃 = .
ℏ4 𝑞

2.3 Analisis Gelombang Parsial


2-8 Buktikan koefisien ekspansi 𝑖 ℓ (2ℓ + 1) pada Pers. (2.14).
Penyelesaian:
Karena fungsi gelombang tidak bergantung sudut azimut 𝜙
(𝑚 = 0), maka fungsi gelombang paling umum (1.52) dapat
dituliskan sebagai
𝜑(𝑟, 𝜃, 𝜙) = ∑ℓ0 𝑎ℓ0 𝑗ℓ (𝑘𝑟)𝑌ℓ0 (𝜃, 𝜙),
2ℓ+1
di mana 𝑌ℓ0 (𝜃, 𝜙) = √ 𝑃ℓ (cos 𝜃), sehingga
4𝜋

2ℓ+1
𝜑(𝑟, 𝜃, 𝜙) = ∑ℓ √ 𝑎ℓ0 𝑗ℓ (𝑘𝑟)𝑃ℓ (cos 𝜃),
4𝜋

2ℓ+1
dimisalkan √ 𝑎ℓ0 = 𝐴ℓ , maka
4𝜋

𝑒 𝑖𝑘0 𝑟 cos 𝜃 = ∑ℓ 𝐴ℓ 𝑗ℓ (𝑘𝑟)𝑃ℓ (cos 𝜃), (2.34)


di mana 𝜑(𝑟, 𝜃, 𝜙) = 𝜑𝑖𝑛 = 𝑒 𝑖𝑘0 𝑟 cos 𝜃 . Untuk mencari nilai 𝐴ℓ
pada Pers. (2.34), gunakan sifat ortogonal fungsi Legendre
(lihat Lamp. A),
1 2
∫−1 𝑃ℓ (𝑥)𝑃𝑚 (𝑥)𝑑𝑥 = 2ℓ+1 𝛿ℓ𝑚 ,
atau
1 2
∫−1 𝑃ℓ (cos 𝜃)𝑃ℓ′ (cos 𝜃)𝑑𝑥 = 2ℓ+1 𝛿ℓℓ′ , (2.35)
dan
𝑛
𝑓𝑛 (𝑥) = Σℓ=0 𝑐ℓ 𝑃ℓ (𝑥), (2.36)
dengan
2ℓ+1 1
𝑐ℓ =
2
∫−1 𝑓𝑛 (𝑥)𝑃ℓ (𝑥)𝑑𝑥 . (2.37)
Dari Pers. (2.34) dan (2.36), didapat hubungan bahwa
𝑓𝑛 (𝑥) = 𝑒 𝑖𝑘0𝑟 cos 𝜃 , (2.38)
𝑐ℓ = 𝐴ℓ 𝑗ℓ , (2.39)

52
TEORI HAMBURAN KUANTUM [BAB 2

masukkan Pers. (2.38) dan (2.39) ke dalam Pers. (2.37),


2ℓ+1 1
𝐴ℓ 𝑗ℓ =
2
∫−1 𝑒 𝑖𝑘0𝑟 cos 𝜃 𝑃ℓ (cos 𝜃)𝑑 cos 𝜃. (2.40)
Relasi antara fungsi Bessel bola dengan fungsi Legendre,
1
∫−1 𝑒 𝑖𝑘0 𝑟 cos 𝜃 𝑃ℓ (cos 𝜃)𝑑 cos 𝜃 = 2𝑖 ℓ 𝑗ℓ (𝑘𝑟), (2.41)
dari Pers. (2.40) dan (2.41),
2ℓ+1
𝐴ℓ 𝑗ℓ = [2𝑖 ℓ 𝑗ℓ (𝑘𝑟)],
2
ℓ (2ℓ
𝐴ℓ = 𝑖 + 1), (2.42)
masukkan Pers. (2.42) ke dalam Pers. (1.52) dan diperoleh
fungsi gelombang paling umum (2.14).

2-9 Buktikan amplitudo hamburan (2.21).


Penyelesaian:
𝑒 𝑖𝑥 −𝑒 −𝑖𝑥
Gunakan sifat eksponensial sin 𝑥 = , Pers. (2.17)
2𝑖
menjadi
ℓ𝜋 ℓ𝜋 ℓ𝜋
sin(𝑘𝑟− 2 ) 𝑖(𝑘𝑟− 2 ) −𝑖(𝑘𝑟− 2 )
𝑒 −𝑒
= ,
𝑘𝑟 2𝑖𝑘𝑟
atau
ℓ𝜋 𝑖ℓ𝜋 𝑖ℓ𝜋
− 2
sin(𝑘𝑟− 2 ) 𝑒 𝑖𝑘𝑟 𝑒 −𝑒 −𝑖𝑘𝑟 𝑒 2
= ,
𝑘𝑟 2𝑖𝑘𝑟
𝑖ℓ𝜋 𝑖𝜋 ℓ
di mana 𝑒 ± 2 = (𝑒 ± 2 ) = (±𝑖)ℓ , sehingga
ℓ𝜋
sin(𝑘𝑟− 2 ) (−𝑖)ℓ 𝑒 𝑖𝑘𝑟 −𝑖 ℓ 𝑒 −𝑖𝑘𝑟
= . (2.43)
𝑘𝑟 2𝑖𝑘𝑟
Dari Pers. (2.16) dan (2.43),

(−𝑖)ℓ 𝑒 𝑖𝑘𝑟 − 𝑖 ℓ 𝑒 −𝑖𝑘𝑟
𝜑(𝑟, 𝜃) = ∑ 𝑖 ℓ (2ℓ + 1) [ ] 𝑃ℓ (cos 𝜃)
2𝑖𝑘𝑟
ℓ=0
𝑒 𝑖𝑘𝑟
+𝑓(𝜃) ,
𝑟
atau

𝑒 −𝑖𝑘𝑟
𝜑(𝑟, 𝜃) = − ∑ 𝑖 2ℓ (2ℓ + 1)𝑃ℓ (cos 𝜃)
2𝑖𝑘𝑟
ℓ=0

53
BAB 2] TEORI HAMBURAN KUANTUM

𝑒 𝑖𝑘𝑟 𝑒 𝑖𝑘𝑟
+ ∑∞ ℓ ℓ
ℓ=0 𝑖 (−𝑖) (2ℓ + 1)𝑃ℓ (cos 𝜃) + 𝑓(𝜃) ,
2𝑖𝑘𝑟 𝑟
atau

𝑒 −𝑖𝑘𝑟
𝜑(𝑟, 𝜃) = − ∑ 𝑖 2ℓ (2ℓ + 1)𝑃ℓ (cos 𝜃)
2𝑖𝑘𝑟
ℓ=0
𝑒 𝑖𝑘𝑟 1
+ [ ∑∞ 𝑖 ℓ (−𝑖)ℓ (2ℓ + 1)𝑃ℓ (cos 𝜃) + 𝑓(𝜃)]. (2.44)
𝑟 2𝑖𝑘 ℓ=0
Dengan cara yang sama, gunakan sifat eksponensial sin 𝑥 =
𝑒 𝑖𝑥 −𝑒 −𝑖𝑥
, Pers. (2.20) menjadi
2𝑖
ℓ𝜋 ℓ𝜋 ℓ𝜋
sin(𝑘𝑟− +𝛿ℓ ) 𝑖(𝑘𝑟− 2 +𝛿ℓ ) −𝑖(𝑘𝑟− 2 +𝛿ℓ )
2 𝑒 −𝑒
= ,
𝑘𝑟 2𝑖𝑘𝑟
atau
ℓ𝜋 𝑖ℓ𝜋 𝑖ℓ𝜋
− 2 𝑖𝛿ℓ
sin(𝑘𝑟−
2
+𝛿ℓ ) 𝑒 𝑖𝑘𝑟 𝑒 𝑒 −𝑒 −𝑖𝑘𝑟 𝑒 2 𝑒 −𝑖𝛿ℓ
= ,
𝑘𝑟 2𝑖𝑘𝑟
𝑖ℓ𝜋 𝑖𝜋 ℓ
di mana 𝑒 ± 2 = (𝑒 ±
2 ) = (±𝑖)ℓ , sehingga
ℓ𝜋
sin(𝑘𝑟− 2 +𝛿ℓ ) (−𝑖)ℓ 𝑒 𝑖𝑘𝑟 𝑒 𝑖𝛿ℓ −𝑖 ℓ 𝑒 −𝑖𝑘𝑟 𝑒 −𝑖𝛿ℓ
= . (2.45)
𝑘𝑟 2𝑖𝑘𝑟
Dari Pers. (1.51) dan (2.45),
(−𝑖)ℓ 𝑒 𝑖𝑘𝑟 𝑒 𝑖𝛿ℓ −𝑖 ℓ 𝑒 −𝑖𝑘𝑟 𝑒 −𝑖𝛿ℓ
𝜑(𝑟, 𝜃, 𝜙) = ∑∞
ℓ=0 𝑎ℓ [ ] 𝑃ℓ (cos 𝜃),
2𝑖𝑘𝑟
atau

𝑒 −𝑖𝑘𝑟
𝜑(𝑟, 𝜃, 𝜙) = − ∑ 𝑎ℓ 𝑖 ℓ 𝑒 −𝑖𝛿ℓ 𝑃ℓ (cos 𝜃)
2𝑖𝑘𝑟
ℓ=0
𝑒 𝑖𝑘𝑟
+ ∑∞ ℓ 𝑖𝛿ℓ (cos
ℓ=0 𝑎ℓ (−𝑖) 𝑒 𝑃ℓ 𝜃). (2.46)
2𝑖𝑘𝑟
Hubungan suku pertama Pers. (2.44) dan (2.46),

𝑒 −𝑖𝑘𝑟
− ∑ 𝑖 2ℓ (2ℓ + 1)𝑃ℓ (cos 𝜃)
2𝑖𝑘𝑟
ℓ=0
𝑒 −𝑖𝑘𝑟 ∞
= − ∑ℓ=0 𝑎ℓ 𝑖 ℓ 𝑒 −𝑖𝛿ℓ 𝑃ℓ (cos 𝜃),
2𝑖𝑘𝑟
dan diperoleh
𝑎ℓ = (2ℓ + 1)𝑖 ℓ 𝑒 𝑖𝛿ℓ . (2.47)

54
TEORI HAMBURAN KUANTUM [BAB 2

Hubungan suku kedua Pers. (2.44) dan (2.46),



𝑒 𝑖𝑘𝑟 1
[ ∑ 𝑖 ℓ (−𝑖)ℓ (2ℓ + 1)𝑃ℓ (cos 𝜃) + 𝑓(𝜃)]
𝑟 2𝑖𝑘
ℓ=0
𝑒 𝑖𝑘𝑟
= ∑∞ ℓ 𝑖𝛿ℓ (cos
ℓ=0 𝑎ℓ (−𝑖) 𝑒 𝑃ℓ 𝜃),
2𝑖𝑘𝑟
atau

1
∑ 𝑖 ℓ (−𝑖)ℓ (2ℓ + 1)𝑃ℓ (cos 𝜃) + 𝑓(𝜃)
2𝑖𝑘
ℓ=0
1
= ∑∞ ℓ 𝑖𝛿ℓ (cos
ℓ=0 𝑎ℓ (−𝑖) 𝑒 𝑃ℓ 𝜃), (2.48)
2𝑖𝑘
masukkan Pers. (2.47) ke dalam Pers. (2.48),
1 1
∑∞ ℓ ℓ
ℓ=0 𝑖 (−𝑖) (2ℓ + 1)𝑃ℓ (cos 𝜃) + 𝑓(𝜃) = ∑∞
ℓ=0(2ℓ +
2𝑖𝑘 2𝑖𝑘
1)𝑖 ℓ (−𝑖)ℓ 𝑒 2𝑖𝛿ℓ 𝑃ℓ (cos 𝜃),
1
𝑓(𝜃) = ∑∞ (2ℓ + 1)𝑖 ℓ (−𝑖)ℓ 𝑃ℓ (cos 𝜃) (𝑒 2𝑖𝛿ℓ − 1),
2𝑖𝑘 ℓ=0
ℓ (−𝑖)ℓ
di mana 𝑖 = 1, dan 𝑒 2𝑖𝑥 − 1 = 2𝑖𝑒 𝑖𝑥 sin 𝑥, sehingga
diperoleh amplitudo hamburan (2.21).

2-10 Buktikan tampang lintang total (2.22).


Penyelesaian:
Dari Pers. (2.3) dan (2.21)
1 2

𝜎𝜃 = | Σℓ=0 (2ℓ + 1)𝑒 𝑖𝛿ℓ sin 𝛿ℓ 𝑃ℓ (cos 𝜃)| ,
𝑘
atau
1 ∞ ∞ )
𝜎𝜃 = Σ Σ ′ (2ℓ + 1)(2ℓ′ + 1)𝑒 𝑖(𝛿ℓ−𝛿ℓ′
𝑘 2 ℓ=0 ℓ =0
sin 𝛿ℓ sin 𝛿ℓ′ 𝑃ℓ (cos 𝜃)𝑃ℓ′ (cos 𝜃). (2.49)
Untuk mencari tampang lintang total, gunakan Pers. (2.4),
𝜎𝑡𝑜𝑡 = ∫ 𝜎𝜃 𝑑Ω,
= ∫ 𝜎𝜃 sin 𝜃 𝑑𝜃𝑑𝜙 ,
𝜋 2𝜋
= ∫0 𝜎𝜃 sin 𝜃 𝑑𝜃 ∫0 𝑑𝜙,
𝜋
𝜎𝑡𝑜𝑡 = 2𝜋 ∫0 𝜎𝜃 sin 𝜃 𝑑𝜃, (2.50)
masukkan Pers. (2.49) ke dalam Pers. (2.50),

55
BAB 2] TEORI HAMBURAN KUANTUM

2𝜋 ∞ ∞ )
𝜎𝑡𝑜𝑡 = Σ Σ ′ (2ℓ + 1)(2ℓ′ + 1)𝑒 𝑖(𝛿ℓ−𝛿ℓ′
𝑘 2 ℓ=0 ℓ =0
𝜋
sin 𝛿ℓ sin 𝛿ℓ′ ∫0 𝑃ℓ (cos 𝜃)𝑃ℓ′ (cos 𝜃) sin 𝜃 𝑑𝜃,
atau
2𝜋 ∞ ∞ )
𝜎𝑡𝑜𝑡 = Σ Σ ′ (2ℓ + 1)(2ℓ′ + 1)𝑒 𝑖(𝛿ℓ−𝛿ℓ′
𝑘 2 ℓ=0 ℓ =0
2
sin 𝛿ℓ sin 𝛿ℓ′ ( 𝛿ℓℓ′ ),
2ℓ+1
dan diperoleh tampang lintang total (2.22).

2-11 Sebuah proton bermassa 𝑚 terhambur oleh potensial bola


keras dengan jari-jari 𝑎 = 6 fm:
∞, 𝑟<𝑎
𝑉(𝑟) = {
0, 𝑟>𝑎
Hitunglah tampang lintang total jika energi partikel 5 keV
(dalam batas energi rendah).
Penyelesaian:
Pada energi rendah, hamburan didominasi oleh gelombang-s
(ℓ = 0), persamaan Schrödinger radial untuk 𝑟 > 𝑎 menjadi
ℏ2 𝑑 2 𝑢(𝑟)
− = 𝐸𝑢(𝑟), (2.51)
2𝑚 𝑑𝑟 2
di mana 𝑢(𝑟) = 𝑟𝑅(𝑟). Penyelesaian Pers. (2.51) adalah
𝑢 (𝑟) = 0, 𝑟<𝑎
𝑢(𝑟) = { 1
𝑢2 (𝑟) = 𝐴 sin(𝑘𝑟 + 𝛿0 ) , 𝑟>𝑎
di mana 𝑘 2 = 2𝑚𝐸/ℏ2 . Fungsi gelombang 𝑢(𝑟) kontinu pada
𝑟 = 𝑎, sehingga
sin(𝑘𝑎 + 𝛿0 ) = 0,
atau
tan 𝛿0 = −tan(𝑘𝑎), (2.52)
karena sin2 𝑥 = 1/(1 + cot 2 𝑥) maka Pers. (2.52) menjadi
sin2 𝛿0 = sin2 (𝑘𝑎). (2.53)
Dari Pers. (2.22) dan (2.53) diperoleh
4𝜋 4𝜋
𝜎𝑡𝑜𝑡(0) = sin2 𝛿0 = sin2 (𝑘𝑎). (2.54)
𝑘2 𝑘2

56
TEORI HAMBURAN KUANTUM [BAB 2

Nilai 𝑘 pada Pers. (2.54) dapat dicari dengan menggunakan


ℏ2 𝑘 2
hubungan 𝐸 = , dengan 𝐸 = 5 keV dan 𝑚𝑝 = 1,673 ×
2𝑚𝑝

10−27 kg, sehingga


2𝑚𝑝 𝐸
𝑘2 = ,
ℏ2
2(1,673×10−27 )(5×103 ×1,6×10−19 )
𝑘=√ (1,056×10−34 )2
,
𝑘 = 1,55 × 1013 m-1.
Nilai terendah pergeseran fase pada hamburan-s adalah 𝛿0 =
−𝑘𝑎 (negatif), sehingga
𝛿0 = −1,55 × 1013 (6 × 10−15 )
= −0,093 rad = −5,33°,
masukkan nilai 𝑘 dan 𝛿0 ke dalam Pers. (2.54),
4𝜋
𝜎𝑡𝑜𝑡(0) = (1,55×1013)2 sin2 (5,33),
dan diperoleh
𝜎𝑡𝑜𝑡(0) = 4,51 × 10−28 m2.

2-12 Partikel dengan energi 350 MeV ditembakkan ke inti sehingga


terjadi hamburan elastik. Pergeseran fase yang diukur dalam
eksperimen ini adalah 𝛿0 = 80°, 𝛿1 = 67°, 𝛿2 = 52°; semua
pergeseran fase lainnya dapat diabaikan (yaitu, 𝛿ℓ = 0 untuk
ℓ ≥ 3). Anggap massa partikel 1 sma.
Hitunglah:
(a) tampang lintang total,
(b) perkiraan jari-jari inti.
Penyelesaian:
(a) Tampang lintang total dapat dihitung menggunakan Pers.
(2.22) dengan 𝛿ℓ = 0 untuk ℓ ≥ 3, maka
4𝜋 3
𝜎𝑡𝑜𝑡 = Σℓ=0 (2ℓ + 1) sin2 𝛿ℓ ,
𝑘
4𝜋
= [(2(0) + 1) sin2 𝛿0 + (2(1) + 1) sin2 𝛿1 +
𝑘2
(2(2) + 1) sin2 𝛿2 ],

57
BAB 2] TEORI HAMBURAN KUANTUM

atau
4𝜋
= [sin2 𝛿0 + 3 sin2 𝛿1 + 5 sin2 𝛿2 ],
𝑘2
4𝜋
= [sin2 80° + 3 sin2 67° + 5 sin2 52°],
𝑘2
dan
4𝜋
𝜎𝑡𝑜𝑡 = (6,167). (2.55)
𝑘2
2
Nilai 𝑘 pada Pers. (2.55) dapat dihitung dengan
ℏ2 𝑘 2
menggunakan hubungan 𝐸 = , dengan 𝐸 = 350 MeV
2𝑚
dan massa partikel 1 sma = 1,66054 × 10−27 kg,
sehingga
2𝑚𝐸
𝑘2 = ,
ℏ2
2(1,66054×10−27 )(350×106 ×1,6×10−19 )
= (1,056×10−34 )2
,
𝑘 2 = 1,678 × 10 m-2. 31

masukkan nilai 𝑘 2 ke dalam Pers. (2.55),


4𝜋
𝜎𝑡𝑜𝑡 = (6,167),
1,678×1031
dan diperoleh
𝜎𝑡𝑜𝑡 = 4,616 × 10−30 m2.

(b) Untuk memperkirakan jari-jari inti, dapat diasumsikan


bahwa partikel hanya merasakan efek potensial
sentrifugal ℓ(ℓ + 1)ℏ2 /2𝑚𝑟 2 (efek potensial inti
diabaikan) sehingga digunakan nilai ℓ yang besar,
ℓ(ℓ+1)ℏ2 12ℏ2
𝐸≅ ≅ ,
2𝑚𝑟 2 2𝑚𝑟𝑐2
di mana ℓ ≅ 3, karena 𝛿ℓ = 0 untuk ℓ ≥ 3, sehingga
6ℏ2
𝐸= ,
𝑚𝑟𝑐2
atau
6ℏ2
𝑟𝑐 = √ ,
𝑚𝐸

6(1,056×10−34 )2
𝑟𝑐 = √ ,
1,66054×10−27 (350×106 ×1,6×10−19 )

58
TEORI HAMBURAN KUANTUM [BAB 2

dan diperoleh
𝑟𝑐 = 0,848 × 10−15 m.

2-13 Neutron dengan energi 80 MeV terhambur elastik oleh inti


yang berjari-jari 𝑎 = 1 fm. Andaikan kasus hipotetis di mana
pergeseran fasa yang diukur dalam eksperimen ini diberikan
180°
oleh 𝛿ℓ = .
ℓ+2
Hitunglah:
(a) perkiraan momentum sudut orbital maksimum ℓ𝑚𝑎𝑘𝑠 ,
(b) tampang lintang total.
Penyelesaian:
(a) Asumsikan momentum sudut orbital maksimum ℓ𝑚𝑎𝑘𝑠 ,
ℓ𝑚𝑎𝑘𝑠 ≅ 𝑘𝑎. (2.56)
Nilai 𝑘 pada Pers. (2.56) dapat dihitung dengan
2𝑚𝑛 𝐸
𝑘2 = ,
ℏ2
2(1,675×10−27 )(80×106 ×1,6×10−19 )
= (1,056×10−34 )2
,

𝑘 2 = 3,85 × 1030 ,
dan diperoleh
𝑘 = 1,96 × 1015 m-1.
masukkan nilai 𝑘 ke dalam Pers. (2.56) sehingga
ℓ𝑚𝑎𝑘𝑠 = 1,96 × 1015 (1 × 10−15 )
ℓ𝑚𝑎𝑘𝑠 = 1,96 ≈ 2.

(b) Untuk menghitung tampang lintang total, gunakan Pers.


(2.22)
4𝜋 ℓ
𝜎𝑡𝑜𝑡 = 𝑚𝑎𝑘𝑠
Σ𝑙=0 (2ℓ + 1) sin2 𝛿ℓ ,
𝑘2
4𝜋 180 180
= [(2(0) + 1) sin2 + (2(1) + 1) sin2 +
3,85×1030 0+2 1+2
180
(2(2) + 1) sin2 ],
2+2
= 3,26 × 10−30 [sin2 90 + 3 sin 60 + 5 sin2 45],
2

59
BAB 2] TEORI HAMBURAN KUANTUM

atau
= 3,26 × 10−30 [1 + 9/4 + 5/2],
= 3,26 × 10−30 [23/4],
dan diperoleh tampang lintang total,
𝜎𝑡𝑜𝑡 = 1,88 × 10−29 m2.

60
TEORI HAMBURAN KUANTUM [BAB 2

Latihan Soal
2.2 Hampiran Born
2-14 Sebuah partikel bermassa 𝑚 terhambur oleh potensial delta
𝑉(𝑟 ) = 𝐴𝛿 3 (𝑟), di mana 𝐴 adalah konstanta. Hitunglah:
(a) tampang lintang diferensial,
(b) tampang lintang total.
𝑚2 𝐴2 𝑚2 𝐴2
Kunci Jawaban: (a) ; (b) .
4𝜋2 ℏ4 𝜋ℏ4

2-15 Sebuah partikel nonrelativistik terhambur oleh potensial sumur


kotak
−𝑉 , 𝑟 < 𝑎,
𝑉(𝑟) = { 0
0, 𝑟 > 𝑎.
Asumsikan energi bombardir cukup tinggi, hitung tampang
lintang diferensial hamburan.
4𝑚2 𝑉02
Kunci Jawaban: (sin 𝑞𝑎 − 𝑞𝑎 cos 𝑞𝑎)2 .
ℏ4 𝑞 6

2-16 Hitung tampang lintang diferensial hamburan oleh potensial


2
gaussian 𝑉(𝑟) = 𝐴𝑒 −𝜇𝑟 , di mana 𝐴 dan 𝜇 adalah sebuah
konstanta.
𝜋𝑚2 𝐴2 2 /2𝜇
Kunci Jawaban: 𝑒 −𝑞 .
2ℏ4 𝜇3

2.3 Analisis Gelombang Parsial


2-17 Dapat dinyatakan untuk pergeseran fase 𝛿0 pada hamburan-s
oleh potensial
∞, 0 ≤ 𝑟 ≤ 𝑎
𝑉(𝑟) = { .
0, 𝑟 > 𝑎
Asumsikan hamburan didominasi oleh hamburan-s, hitunglah
tampang lintang total.
Kunci Jawaban: 4𝜋𝑎2 .

61
BAB 2] TEORI HAMBURAN KUANTUM

2-18 Neutron dengan energi 50 MeV ditembakkan ke inti sehingga


terjadi hamburan elastik. Pergeseran fase yang diukur dalam
eksperimen ini adalah 𝛿0 = 95°, 𝛿1 = 72°, 𝛿2 = 60°, 𝛿3 =
35°, 𝛿4 = 18°, 𝛿5 = 5°; semua pergeseran fase lainnya dapat
diabaikan (yaitu, 𝛿ℓ = 0 untuk ℓ ≥ 6). Hitunglah:
(a) tampang lintang total,
(b) perkiraan jari-jari inti.
Kunci Jawaban: (a) 5,58 × 10−29 m2; (b) 4,17 × 10−15 m.

2-19 Partikel pion 𝜋 0 dengan energi 700 MeV terhambur elastik


oleh inti berat yang berjari-jari 𝑎 = 1,35 fm. Andaikan kasus
hipotetis di mana pergeseran fasa yang diukur dalam
210°
eksperimen ini diberikan oleh 𝛿ℓ = . Jika diketahui energi
2ℓ+3
0
diam 𝜋 sebesar 135 MeV, hitunglah:
(a) perkiraan momentum sudut orbital maksimum ℓ𝑚𝑎𝑘𝑠 ,
(b) tampang lintang total.
Kunci Jawaban: (a) 2,96; (b) 1,194 × 10−29 m2.

62
Daftar Pustaka
Alonso, M., & Finn, E. J. (1968). Quantum and Statistical Physics
Vol. III. United States: Addison-Wesley Publishing
Company, Inc.

Aruldhas, G. (2009). Quantum Mechanics, 2nd Ed. New Delhi: PHI


Learning Private Limited.

Boas, M. L. (2006). Mathematical Methods in The Physical Sciences,


3rd Ed. Hoboken: John Wiley & Sons, Inc.

Griffiths, D. J. (2005). Introduction to Quantum Mechanics. United


States: Pearson Education, Inc.

Peleg, Y., Pnini, R., & Zaarur, E. (1998). Theory and Problems of
Quantum Mechanics. United States: The McGraw-Hill
Companies, Inc.

Zetilli, N. (2009). Quantum Mechanics: Concept and Applications.


West Sussex: A John Wiley and Sons LTD.

63
Indeks Istilah
A
Amplitudo hamburan, 39, 40,
Analisis Gelombang Parsial, 40, 43
Angka gelombang, 6, 7

B
Bilangan kuantum
momentum sudut orbital, 8
magnetik orbital, 9

E
Eigenfungsi, 2
Eigennilai, 1

E
Fungsi
Bessel bola, 11, 15, 43
Neumann bola, 15, 43

H
Hampiran Born, 40, 41, 42

M
Momentum sudut orbital, 7, 8, 9,

64
N
Normalisasi, 3

K
Keadaan stasioner, 4, 5
Komutator, 5

P
Paket gelombang, 6, 7
Partikel bebas, 6, 11, 44
Potensial
efektif, 10, 44, 45
sentral, 10, 11
statis, 10

T
Tampang lintang
diferensial, 40
total, 40
Tingkat degenerasi, 5, 9

65
Lampiran A. Polinomial Legendre
Persamaan Legendre dapat dituliskan sebagai
𝑑2𝑦 𝑑𝑦
(1 − 𝑥 2 ) − 2𝑥 + ℓ(ℓ + 1)𝑦 = 0, (A.1)
𝑑𝑥 2 𝑑𝑥
Penyelesaian deret Pers. (A.1),
(ℓ−𝑛)(ℓ+𝑛+1)
𝑦(𝑥) ∑∞ 𝑛
𝑛=0 𝑎𝑛 𝑥 , 𝑎𝑛+2 = − (𝑛+2)(𝑛+1)
𝑎𝑛 . (A.2)
Pers. (A.1) merupakan persamaan differensial orde 2, agar diperoleh
penyelesaian yang unik digunakan 2 syarat batas, misalkan, 𝑦(0) =
𝑑𝑦
𝐴 dan | = 𝐵,
𝑑𝑥 𝑥=0
𝑦(𝑥) = ∑∞ 𝑛
𝑛=0 𝑎𝑛 𝑥 |𝑥=0 = 𝑎0 = 𝐴, (A.3)
dan
𝑑𝑦
| = 𝑎1 + ∑∞
𝑛=2 𝑛𝑎𝑛 𝑥
(𝑛−1) |
𝑥=0 = 𝑎1 = 𝐵, (A.4)
𝑑𝑥 𝑥=0
dengan diketahuinya 𝑎0 dan 𝑎1 , semua 𝑎𝑛 dapat dicari dengan relasi
rekursi pada persamaan (A.2).
Polinomial Legendre orde ℓ, yaitu 𝑃ℓ (𝑥), didefinisikan sebagai
penyelesaian (dari sekian banyak penyelesaian yang mungkin)
persamaan Legendre, dengan syarat batas 𝑦(±1) = ±1:
𝑑2 𝑑
(1 − 𝑥 2 ) 𝑃ℓ (𝑥) − 2𝑥 𝑃 (𝑥) + ℓ(ℓ + 1)𝑃ℓ (𝑥) = 0, (A.5)
𝑑𝑥 2 𝑑𝑥 ℓ
di mana ℓ = 0, 1, 2, …. Pers. (A.5) merupakan persamaan eigennilai
yang dapat dituliskan sebagai
𝑑2 𝑑
[(𝑥 2 − 1) 𝑃ℓ (𝑥) + 2𝑥 ] 𝑃ℓ (𝑥) = ℓ(ℓ + 1)𝑃ℓ (𝑥), (A.6)
𝑑𝑥 2 𝑑𝑥
atau
𝑓(𝐷)𝑃ℓ (𝑥) = ℓ(ℓ + 1)𝑃ℓ (𝑥), (A.7)
di mana 𝑓(𝐷) sebagai operator, 𝑃ℓ (𝑥) sebagai eigenfungsi dan ℓ
sebagai eigennilai untuk operator 𝑓(𝐷).
Polinomial Legendre juga membentuk satu himpunan lengkap fungsi
ortogonal pada interval (−1, 1). Ortogonalitas sekaligus normalisasi
polinomial Legendre, yang merupakan fungsi riil, dituliskan sebagai
1 2
∫−1 𝑃ℓ (𝑥)𝑃𝑚 (𝑥)𝑑𝑥 = 2ℓ+1 𝛿ℓ𝑚 . (A.8)

66
Polinomial Legendre dapat dipakai sebagai basis untuk menyatakan
sembarang fungsi 𝑓(𝑥) pada interval (−1, 1). Deret Legendre untuk
fungsi 𝑓(𝑥) diberikan sebagai berikut
𝑛
𝑓𝑛 (𝑥) = Σℓ=0 𝑐ℓ 𝑃ℓ (𝑥), (A.9)
dengan
2ℓ+1 1
𝑐ℓ =
2
∫−1 𝑓𝑛 (𝑥)𝑃ℓ (𝑥)𝑑𝑥 . (A.10)

67
Lampiran B. Fungsi Bessel
Persamaan Bessel dituliskan sebagai
𝑑2𝑦 𝑑𝑦
𝑥2 +𝑥 + (𝑥 2 − 𝑝2 )𝑦 = 0, (B.1)
𝑑𝑥 2 𝑑𝑥
atau
𝑑 𝑑𝑦
𝑥 (𝑥 ) + (𝑥 2 − 𝑝2 )𝑦 = 0, (B.2)
𝑑𝑥 𝑑𝑥
di mana 𝑝 adalah bilangan bulat maupun riil.
Fungsi Bessel jenis pertama orde 𝑝, 𝐽𝑝 (𝑥), adalah salah satu solusi
𝑦(𝑥),
(−1)𝑛 𝑥 2𝑛+𝑝
𝐽𝑝 (𝑥) = ∑∞
𝑛=0 ( ) . (B.3)
𝑛!(𝑛+𝑝)! 2
Solusi kedua persamaan Bessel dituliskan sebagai
(−1)𝑛 𝑥 2𝑛−𝑝
𝐽−𝑝 (𝑥) = ∑∞
𝑛=0 ( ) , (B.4)
𝑛!(𝑛−𝑝)! 2
Pada Pers. (B.4), khusus untuk 𝑝 bilangan bulat, 𝐽−𝑝 (𝑥) tidak dapat
dinyatakan sebagai solusi kedua karena tidak bebas berdiri sendiri,
melainkan sebanding dengan 𝐽𝑝 (𝑥). Untuk 𝑝 bukan bilangan bulat,
𝐽−𝑝 (𝑥) tidak sebanding dengan 𝐽𝑝 (𝑥) sehingga dapat dipakai sebagai
solusi kedua. Secara umum, solusi kedua persamaan Bessel, yaitu
fungsi Bessel jenis kedua 𝑁𝑝 (𝑥), kombinasi linier 𝐽𝑝 (𝑥) dan 𝐽−𝑝 (𝑥),
cos(𝜋𝑝)𝐽𝑝 (𝑥)−𝐽−𝑝 (𝑥)
𝑁𝑝 (𝑥) = . (B.4)
sin(𝜋𝑝)
Penyelesaian umum Pers. (B.1) menjadi kombinasi linier 𝐽𝑝 (𝑥) dan
𝑁𝑝 (𝑥),
𝑦(𝑥) = 𝐴𝐽𝑝 (𝑥) + 𝐵𝑁𝑝 (𝑥), (B.5)
Fungsi Hankel atau fungsi Bessel jenis ketiga dituliskan sebagai
(1)
𝐻𝑝 (𝑥) = 𝐽𝑝 (𝑥) + 𝑖𝑁𝑝 (𝑥), (B.6)
(2)
𝐻𝑝 (𝑥) = 𝐽𝑝 (𝑥) − 𝑖𝑁𝑛 (𝑥). (B.7)
Fungsi Bessel bola (sferis) berhubungan dengan fungsi Bessel orde
kelipatan ganjil dari setengah (half-odd), 𝑝 = (2𝑛 + 1)/2 , dengan
𝑛 = bilangan bulat,

68
𝜋 1 𝑑 𝑛 sin 𝑥
𝑗𝑛 (𝑥) = √ 𝐽2𝑛+1 (𝑥) = 𝑥 𝑛 (− ) ( ), (B.8)
2𝑥 2 𝑥 𝑑𝑥 𝑥

𝜋 1 𝑑 𝑛 cos 𝑥
𝑛𝑛 (𝑥) = √ 𝐽2𝑛+1 (𝑥) = −𝑥 𝑛 (− ) ( ), (B.9)
2𝑥 2 𝑥 𝑑𝑥 𝑥
(1)
ℎ𝑛 (𝑥) = 𝑗𝑛 (𝑥) + 𝑖𝑛𝑛 (𝑥), (B.10)
(2)
ℎ𝑛 (𝑥) = 𝑗𝑛 (𝑥) − 𝑖𝑛𝑛 (𝑥). (B.11)

69
Lampiran C. Fungsi Delta
Definisi fungsi delta
1 𝜀 𝜀
untuk - < 𝑥 < ,
𝜀 2 2
𝛿𝜀 (𝑥) = { 𝜀 (C.1)
0 untuk |𝑥| > .
2
Dengan pertimbangan fungsi 𝑓(𝑥), sehingga untuk 𝑥 = 0 dengan
mengabaikan interval −𝜀/2, 𝜀/2. Jika 𝜀 cukup kecil, maka
∞ ∞
∫−∞ 𝛿𝜀 (𝑥)𝑓(𝑥)𝑑𝑥 ≅ 𝑓(0) ∫−∞ 𝛿𝜀 (𝑥)𝑑𝑥 = 𝑓(0). (C.2)
Limit 𝜀 → 0, definisi fungsi 𝛿 menjadi
∞ ∞
lim(∫−∞ 𝛿𝜀 (𝑥)𝑓(𝑥)𝑑𝑥 ) = ∫−∞ 𝛿𝜀 (𝑥)𝑑𝑥 = 𝑓(0). (C.3)
𝜀→0
Secara umum dapat ditulis

∫−∞ 𝛿𝜀 (𝑥 − 𝑥0 )𝑓(𝑥)𝑑𝑥 = 𝑓(𝑥0 ). (C.4)

Menunjukan bahwa ∫−∞ 𝛿𝜀 (𝑥 − 𝑦)𝑓(𝑥)𝑑𝑥 = 1 dengan 𝛿(𝑥 − 𝑦) = 0
untuk 𝑥 ≠ 𝑦. Fungsi 𝛿 merupakan fungsi rumit yang disebut
distribusi (tidak didefinisikan pada titik 𝑥 = 𝑦), dengan hanya
mempertimbangkan ketika muncul di dalam sebuah integral.

𝑓 → ∫−∞ 𝑓(𝑥)𝛿(𝑥 − 𝑦)𝑑𝑦. (C.5)
Fungsi 𝛿 digunakan untuk mendeskripsikan sebuah partikel pada
posisi 𝑟0 = (𝑥0 , 𝑦0 , 𝑧0 ) tiga dimensi. Dengan mendefinisikan 𝛿(𝑟 −
𝑟0 ):
𝛿(𝑟 − 𝑟0 ) = 𝛿(𝑥 − 𝑥0 )𝛿(𝑦 − 𝑦0 )𝛿(𝑧 − 𝑧0 ). (C.6)
Integral dari seluruh 𝛿 adalah 1, mengisyaratkan adanya sebuah
partikel. Di sisi lain, 𝛿 hilang ketika 𝑟 ≠ 𝑟0 .
Hal ini cukup jelas untuk menunjukkan bahwa hasilnya tetap pada
fungsi 𝛿:
1. 𝛿(−𝑥) = 𝛿(𝑥),
1
2. 𝛿(𝛼𝑥) = |𝛼| 𝛿(𝑥),
3. 𝑥𝛿(𝑥 − 𝑥0 ) = 𝑥0 𝛿(𝑥 − 𝑥0 ),

4. ∫−∞ 𝛿(𝑥 − 𝑦) 𝛿(𝑦 − 𝑧)𝑑𝑦 = 𝛿(𝑦 − 𝑧).

70
71

Anda mungkin juga menyukai