Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN
Pada kehamilan normal, cairan amnion memberikan ruang bagi janin untuk
tumbuh, bergerak, dan berkembang. Tanpa cairan amnion, uterus akan
berkontraksi dan menekan janin. Jika terjadi pengurangan volume cairan amnion
pada awal kehamilan, janin akan mengalami berbagai kelainan seperti gangguan
perkembangan anggota gerak, cacat dinding perut, dan sindroma Potter , suatu
sindrom dengan gambaran wajah berupa kedua mata terpisah jauh, terdapat lipatan
epikantus, pangkal hidung yang lebar, telinga yang rendah dan dagu yang tertarik
ke belakang.
Pada pertengahan usia kehamilan, cairan amnion menjadi sangat penting
bagi perkembangan paru janin. Tidak cukupnya cairan amnion pada pertengahan
usia kehamilan akan menyebabkan terjadinya hipoplasia paru yang dapat
menyebabkan kematian.
Selain itu cairan ini juga mempunyai peran protektiI pada janin, cairan ini
mengandung agen-agen anti bakteria dan bekerja menghambat pertumbuhan
bakteri yang memiliki potensi patogen.
.
Selama proses persalinan dan kelahiran
cairan amnion terus bertindak sebagai medium protektiI pada janin untuk
memantau dilatasi servik. Selain itu cairan amnion juga berperan sebagai sarana
komunikasi antara janin dan ibu. Kematangan dan kesiapan janin untuk lahir dapat
diketahui dari hormon urin janin yang diekskresikan ke dalam cairan amnion.
Cairan amnion juga dapat digunakan sebagai alat diagnostik untuk melihat adanya
kelainan-kelainan pada proses pertumbuhan dan perkembangan janin dengan
melakukan kultur sel. Jadi cairan amnion memegang peranan yang cukup penting
dalam proses kehamilan dan persalinan.
























BAB II
TIN1AUAN TEORI

KONSEP DASAR POLIHIDRAMNION (HIDRAMNION)
Menurut Rustam Muchtar (1998) penjelasan mengenai hidramnion adalah
sebagai berikut
1. Definisi
idramnion merupakan keadaan dimana jumlah air ketuban lebih banyak
dari normal atau lebih dari dua liter. Polihydramnion atau disingkat hidramnion
saja dideIinisikan sebagai suatu kedaan dimana jumlah air ketuban melebihi 2 liter.
Sedangkan secara klinik adalah penumpukan cairan ketuban yang berlebihan
sehingga menimbulkan rasa tidak nyaman pada pasien. Sedangkan secara USG jika
Amniotic Fluid Index (AFI)~20 atau lebih.
Yang sering kita jumpai adalah hidramnion yang ringan, dengan jumlah cairan 2- 3
liter. Yang berat dan akut jarang. Frekuensi hidramnion kronis adalah 0,5-1.
Insiden dari kongenital anomali lebih sering kita dapati pada hidramnion yaitu
sebesar 17,7-29. idramnion sering terjadi bersamaan dengan :
a. Gemelli atau hamil ganda (12,5),
b. idrops Ioetalis
c. Diabetes mellitus
d. Toksemia gravidarum
e.Cacat janin terutama pada anencephalus dan atresia esophagei
I. Eritroblastosis Ioetalis



B.Anatomi Fisiologi
Amnion manusia pertama kali dapat diidentiIikasi pada sekitar hari ke-7 atau ke-8
perkembangan mudigah. Pada awalnya sebuah vesikel kecil yaitu amnion,
berkembang menjadi sebuah kantung kecil yang menutupi permukaan dorsal
mudigah. Karena semakin membesar, amnion secara bertahap menekan mudigah
yang sedang tumbuh, yang mengalami prolaps ke dalam rongga amnion.
Cairan amnion pada keadaan normal berwarna putih agak keruh karena adanya
campuran partikel solid yang terkandung di dalamnya yang berasal dari lanugo, sel
epitel, dan material sebasea. Volume cairan amnion pada keadaan aterm adalah
sekitar 800 ml, atau antara 400 ml -1500 ml dalam keadaan normal. Pada
kehamilan 10 minggu rata-rata volume adalah 30 ml, dan kehamilan 20 minggu
300 ml, 30 minggu 600 ml. Pada kehamilan 30 minggu, cairan amnion lebih
mendominasi dibandingkan dengan janin sendiri.
Cairan amnion diproduksi oleh janin maupun ibu, dan keduanya memiliki peran
tersendiri pada setiap usia kehamilan. Pada kehamilan awal, cairan amnion
sebagian besar diproduksi oleh sekresi epitel selaput amnion.
Dengan bertambahnya usia kehamilan, produksi cairan amnion didominasi oleh
kulit janin dengan cara diIusi membran. Pada kehamilan 20 minggu, saat kulit
janin mulai kehilangan permeabilitas, ginjal janin mengambil alih peran tersebut
dalam memproduksi cairan amnion.
Pada kehamilan aterm, sekitar 500 ml per hari cairan amnion di sekresikan dari
urin janin dan 200 ml berasal dari cairan trakea. Pada penelitian dengan
menggunakan radioisotop, terjadi pertukaran sekitar 500 ml per jam antara plasma
ibu dan cairan amnion.
Pada kondisi dimana terdapat gangguan pada ginjal janin, seperti agenesis ginjal,
akan menyebabkan oligohidramnion dan jika terdapat gangguan menelan pada
janin, seperti atresia esophagus, atau anenseIali, akan menyebabkan
polihidramnion
.

A. Fungsi Cairan Amnion
Cairan amnion merupakan komponen penting bagi pertumbuhan dan
perkembangan janin selama kehamilan. Pada awal embryogenesis, amnion
merupakan perpanjangan dari matriks ekstraseluler dan di sana terjadi diIusi dua
arah antara janin dan cairan amnion. Pada usia kehamilan 8 minggu, terbentuk
uretra dan ginjal janin mulai memproduksi urin. Selanjutnya janin mulai bisa
menelan. Eksresi dari urin, sistem pernaIasan, sistem digestivus, tali pusat dan
permukaan plasenta menjadi sumber dari cairan amnion. Telah diketahui bahwa
cairan amnion berIungsi sebagai kantong pelindung di sekitar janin yang
memberikan ruang bagi janin untuk bergerak, tumbuh meratakan tekanan uterus
pada partus, dan mencegah trauma mekanik dan trauma termal.
Cairan amnion juga berperan dalam sistem imun bawaan karena memiliki peptid
antimikrobial terhadap beberapa jenis bakteri dan Iungi patogen tertentu. Cairan
amnion adalah 98 air dan elektrolit, protein , peptide, hormon, karbohidrat, dan
lipid. Pada beberapa penelitian, komponen-komponen cairan amnion ditemukan
memiliki Iungsi sebagaibiomarker potensial bagi abnormalitas-abnormalitas dalam
kehamilan. Beberapa tahun belakangan, sejumlah protein dan peptide pada cairan
amnion diketahui sebagai Iaktor pertumbuhan atau sitokin, dimana kadarnya akan
berubah-ubah sesuai dengan usia kehamilan. Cairan amnion juga diduga memiliki
potensi dalam pengembangan medikasistem cell




B. Volume Cairan Amnion
Volume cairan amnion pada setiap minggu usia kehamilan bervariasi, secara
umum volume bertambah 10 ml per minggu pada minggu ke-8 usia kehamilan dan
meningkat menjadi 60 ml per minggu pada usia kehamilan 21 minggu, yang
kemudian akan menurun secara bertahap sampai volume yang tetap setelah usia
kehamilan 33 minggu. Normal volume cairan amnion bertambah dari 50 ml pada
saat usia kehamilan 12 minggu sampai 400 ml pada pertengahan gestasi dan 1000
1500 ml pada saat aterm. Pada kehamilan postterm jumlah cairan amnion hanya
100 sampai 200 ml atau kurang.
Brace dan WolI menganalisa semua pengukuran yang dipublikasikan pada 12
penelitian dengan 705 pengukuran cairan amnion secara individual. Variasi
terbesar terdapat pada usia kehamilan 32-33 minggu. Pada saat ini, batas
normalnya adalah 400 2100 ml





C. Pengukuran Cairan Amnion
Terdapat 3 cara yang sering dipakai untuk mengetahui jumlah cairan amnion,
dengan teknik single pocket ,dengan memakai Indeks Cairan Amnion (ICA), dan
secara subjektiI pemeriksa.
Pemeriksaan dengan metode single pocket pertama kali diperkenalkan oleh
Manning dan Platt pada tahun 1981 sebagai bagian dari pemeriksaan bioIisik,
dimana 2ccm dianggap sebagai batas minimal dan 8 cm dianggap sebagai
polihidramnion.
Metode single pocket telah dibandingkan dengan AFI menggunakan amniosintesis
sebagai gold standar. Tiga penelitian telah menunjukkan bahwa metode
pengukuran cairan ketuban dengan teknik Indeks Cairan Amnion (ICA) memiliki
korelasi yang lemah dengan volume amnion sebenarnya (#

dari 0.55, 0.30 dan


0.) dan dua dari tiga penelitian ini menunjukkan bahwa teknik single
pocket memiliki kemampuan yang lebih baik.
Kelebihan cairan amnion seperti polihidramnion, tidak mempengaruhi Ietus secara
langsung, namun dapat mengakibatkan kelahiran prematur. Secara garis besar,
kekurangan cairan amnion dapat bereIek negatiI terhadap perkembangan paru-paru
dan tungkai janin, dimana keduanya memerlukan cairan amnion untuk
berkembang

,

D. Distribusi Cairan Amnion
1. Urin 1anin
Sumber utama cairan amnion adalah urin janin. Ginjal janin mulai memproduksi
urin sebelum akhir trimester pertama, dan terus berproduksi sampai kehamilan
aterm. WladimiroI dan Campbell mengukur volume produksi urin janin secara 3
dimensi setiap 15 menit sekali, dan melaporkan bahwa produksi urin janin adalah
sekitar 230 ml / hari sampai usia kehamilan 36 minggu, yang akan meningkat
sampai 655 ml/hari pada kehamilan aterm.
Rabinowitz dan kawan-kawan, dengan menggunakan teknik yang sama dengan
yang dilakukan WladimiroI dan Campbell, namun dengan cara setiap 2 sampai 5
menit, dan menemukan volume produksi urin janin sebesar 1224 ml/hari. Pada
tabel menunjukkan rata-rata volume produksi urin per hari yang didapatkan dari
beberapa penelitian. Jadi, produksi urin janin rata-rata adalah sekitar 1000-1200
ml/ hari pada kehamilan aterm.



. Cairan Paru
Cairan paru janin memiliki peran yang penting dalam pembentukan cairan amnion.
Pada penelitian dengan menggunakan domba, didapatkan bahwa paru-paru janin
memproduksi cairan sampai sekitar 400 ml/hari, dimana 50 dari produksi
tersebut ditelan kembali dan 50 lagi dikeluarkan melalui mulut. Meskipun
pengukuran secara langsung ke manusia tidak pernah dilakukan, namun data ini
memiliki nilai yang representratiI bagi manusia. Pada kehamilan normal, janin
bernaIas dengan gerakan inspirasi dan ekspirasi, atau gerakan masuk dan keluar
melalui trakea, paru-paru dan mulut. Jadi jelas bahwa paru-paru janin juga
berperan dalam pembentukan cairan amnion.

3. Gerakan menelan
Pada manusia, janin menelan pada awal usia kehamilan. Pada janin domba, proses
menelan semakin meningkat seiring dengan meningkatnya usia kehamilan.
Sherman dan teman-teman melaporkan bahwa janin domba menelan secara
bertahap dengan volume sekitar 100-300 ml/kg/hari.
Banyak teknik berbeda yang dicoba untuk mengukur rata-rata volume cairan
amnion yang ditelan dengan menggunakan hewan, namun pada manusia,
pengukuran yang tepat sangat sulit untuk dilakukan. Pritchard meneliti proses
menelan pada janin dengan menginjeksi kromium aktiI pada kompartemen
amniotik, dan menemukan rata-rata menelan janin adalah 72 sampai 262
ml/kg/hari.
Abramovich menginjeksi emas koloidal pada kompartemen amniotik dan
menemukan bahwa volume menelan janin meningkat seiring dengan bertambahnya
usia kehamilan. Penelitian seperti ini tidak dapat lagi dilakukan pada masa
sekarang ini karena Iaktor etik, namun dari penelitian di atas jelas bahwa
kemampuan janin menelan tidak menghilangkan seluruh volume cairan amnion
dari produksi urin dan paru-paru janin, karena itu, harus ada mekanisme serupa
dalam mengurangi volume cairan amnion.


Dikutip dari Gilbert
4. Absorpsi Intramembran
Satu penghalang utama dalam memahami regulasi cairan amnion adalah
ketidaksesuaian antara produksi cairan amnion oleh ginjal dan paru janin, dengan
konsumsinya oleh proses menelan. Jika dihitung selisih antara produksi dan
konsumsi cairan amnion, didapatkan selisih sekitar 500-750 ml/hari, yang tentu
saja ini akan menyebabkan polihidramnion. Namun setelah dilakukan beberapa
penelitian, akhirnya terjawab, bahwa sekitar 200-500 ml cairan amnion diabsorpsi
melalui intramembran. Gambar menunjukkan distribusi cairan amnion pada Ietus.
Dengan ditemukan adanya absorbsi intramembran ini, tampak jelas bahwa terdapat
keseimbangan yang nyata antara produksi dan konsumsi cairan amnion pada
kehamilan normal.

E. Kandungan Cairan Amnion
Pada awal kehamilan, cairan amnion adalah suatu ultraIiltrat plasma ibu. Pada awal
trimester kedua, cairan ini terdiri dari cairan ekstrasel yang berdiIusi melalui kulit
janin sehingga mencerminkan komposisi plasma janin. Namun setelah 20 minggu,
korniIikasi kulit janin menghambat diIusi ini dan cairan amnion terutama terdiri
dari urin janin.
Urin janin mengandung lebih banyak urea, kreatinin, dan asam urat dibandingkan
plasma. Selain itu juga mengandung sel janin yang mengalami deskuamasi,
verniks, lanugo dan berbagai sekresi. Karena zat-zat ini bersiIat hipotonik, maka
seiring bertambahnya usia gestasi, osmolalitas cairan amnion berkurang. Cairan
paru memberi kontribusi kecil terhadap volume amnion secara keseluruhan dan
cairan yang tersaring melalui plasenta berperan membentuk sisanya. 98 cairan
amnion adalah air dan sisanya adalah elektrolit, protein, peptid, karbohidrat, lipid,
dan hormon.
Terdapat sekitar 38 komponen biokimia dalam cairan amnion, di antaranya adalah
protein total, albumin, globulin, alkalin aminotransIerase, aspartat
aminotransIerase, alkalin IosIatase, -transpeptidase, kolinesterase, kreatinin
kinase, isoenzim keratin kinase, dehidrogenase laktat, dehidrogenase
hidroksibutirat, amilase, glukosa, kolesterol, trigliserida, igh Density Lipoprotein
(DL), low-density lipoprotein (LDL), very-low-density lipoprotein (JLDL),
apoprotein A1 dan B, lipoprotein, bilirubin total, bilirubin direk, bilirubin indirek,
sodium, potassium, klorid, kalsium, IosIat, magnesium, bikarbonat, urea,
kreatinin, anion gap , urea, dan osmolalitas.
Faktor pertumbuhan epidermis (epidermal growth Iactor, EGF) dan Iactor
pertumbuhan mirip EGF, misalnya transforming growth factor-o, terdapat di
cairan amnion. Ingesti cairan amnion ke dalam paru dan saluran cerna mungkin
meningkatkan pertumbuhan dan diIerensiasi jaringan-jaringan ini melalui gerakan
inspirasi dan menelan cairan amnion.
Beberapa penanda (tumor marker) juga terdapat di cairan amnion termasuk u-
Ietoprotein (AFP), antigen karsinoembrionik (CEA), Ieritin, antigen kanker 125
(CA-125), dan 199 (CA-199).

C.Etiologi
a. Mekanisme terjadi hidramnion hanya sedikit yang kita ketahui. Secara teori
hidramnion terjadi karena :
b. Produksi air ketuban bertambah; yang diduga menghasilkan air ketuban adalah
epitel amnion, tetapi air ketuban juga dapat bertambah karena cairan lain masuk
kedalam ruangan amnion, misalnya air kencing anak atau cairan otak pada
anencephalus.
c. Pengaliran air ketuban terganggu; air ketuban yang telah dibuat dialirkan dan
diganti dengan yang baru. Salah satu jalan pengaliran adalah ditelan oleh janin,
diabsorbsi oleh usus dan dialirkan ke placenta akhirnya masuk kedalam peredaran
darah ibu. Jalan ini kurang terbuka kalau anak tidak menelan seperti pada atresia
esophogei, anencephalus atau tumor-tumor placenta. Pada anencephalus dan spina
biIida diduga bahwa hidramnion terjadi karena transudasi cairan dari selaput otak
dan selaput sum-sum tulang belakang. Selain itu, anak anencephal tidak menelan
dan pertukaran air terganggu karena pusatnya kurang sempurna hingga anak ini
kencing berlebihan. Pada atresia oesophagei hidramnion terjadi karena anak tidak
menelan. Pada gemelli mungkin disebabkan karena salah satu janin pada
kehamilan satu telur jantungnya lebih kuat dan oleh karena itu juga menghasilkan
banyak air kencing. Mungkin juga karena luasnya amnion lebih besar pada
kehamilan kembar. Pada hidramnion sering ditemukan placenta besar.
Menurut dr. endra Gunawan Wijanarko, Sp.OG dari RSIA ermina Pasteur,
Bandung (2007) menjelaskan bahwa hidromnion terjadi karena:
a. Prduksi air jernih berlebih
b. Ada kelainan pada janin yang menyebabkan cairan ketuban menumpuk, yaitu
hidroceIalus, atresia saluran cerna, kelainan ginjal dan saluran kencing kongenital
c. Ada sumbatan / penyempitan pada janin sehingga dia tidak bisa menelan air
ketuban. Alhasil volume ketuban meningkat drastic
d. Kehamilan kembar, karena adanya dua janin yang menghasilkan air seni
e. Ada proses inIeksi
I. Ada hambatan pertumbuhan atau kecacatan yang menyangkut sistem syaraI
pusat sehingga Iungsi gerakan menelan mengalami kelumpuhan
g. Ibu hamil mengalami diabetes yang tidak terkontrol
h. Ketidak cocokan / inkompatibilitas rhesus
D.Gejala klinis
1. Perut Ibu hamil sangat besar. Misalnya saja pada usia kehamilan enam minggu,
besar perut Ibu seperti telah menginjak usia kehamilan delapan hingga sembilan
bulan.
2. Tulang punggung Ibu semasa hamil terasa nyeri.
3. Perut terasa kembung dan lebih kencang.
4. Kulit perut tampak mengkilap.
5. Terkadang Ibu merasakan sakit pada perut ketika berjalan.
6. Rahim Ibu tumbuh lebih cepat daripada yang seharusnya. Tekanan pada
diaIragma menyebabkan ibu mengalami sesak naIas.
7. Denyut jantung janin sulit dipantau. Bagian-bagian tubuh janin sulit diraba.
Gejala utama yang meyertai hidramnion terjadi semata-mata karena Iaktor mekanis
dan terutama disebabkan oleh tekanan di dalam sekitar uterus yang mengalami
overdistensi terhadap organ-organ di dekatnya. Apabila peregangannya berlebihan,
ibu dapat mengalami dispnea dan pada kasus ekstrim, mungkin hanya dapat
bernaIas bila dalam posisi tegak. Sering terjadi edema akibat penekanan sistem
vena besar oleh uterus yang sangat besar, terutama di ekstremitas bawah, vulva,
dan dinding abdomen. Walaupun jarang, dapat terjadi oligouria berat akibat
obstruksi ureter oleh uterus yang sangat besar.
Pada hidramnion kronik, penimbunan cairan berlangsung secara bertahap dan
wanita yang bersangkutan mungkin mentoleransi distensi abdomen yang
berlebihan tanpa banyak mengalami rasa tidak nyaman. Namun pada hidramnion
akut, distensi abdomen dapat menyebabkan gangguan yang cukup serius dan
mengancam. idramnion akut cenderung muncul pada kehamilan dini
dibandingkan dengan bentuk kronik dan dapat dengan cepat memperbesar uterus.
idramnion akut biasanya akan menyebabkan persalinan sebelum usia gestasi 28
minggu, atau gejala dapat menjadi demikian parah sehingga harus dilakukan
intervensi. Pada sebagian besar kasus hidramnion kronik, tekanan cairan amnion
tidak terlalu tinggi dibandingkan dengan pada kehamilan normal.
Gejala klinis utama pada hidramnion adalah pembesaran uterus disertai kesulitan
dalam meraba bagian-bagian kecil janin dan mendengar denyut jantung janin. Pada
kasus berat, dinding uterus sangat tegang. Membedakan antara hidramnion, asites,
atau kista ovarium yang besar biasanya mudah dilakukan dengan evaluasi
ultrasonograIi. Cairan amnion dalam jumlah besar hampir selalu mudah diketahui
sebagai ruang bebas-echo yang sangat besar di antara janin dan dinding uterus atau
plasenta. Kadang mungkin ditemui kelainan janin misalnya anenseIalus atau deIek
tabung syaraI lain, atau anomali saluran cerna.
Penyulit tersering pada ibu yang disebabkan oleh hidramnion adalah solusio
plasenta, disIungsi uterus dan perdarahan pasca persalinan. Pemisahan dini
plasenta yang luas kadang-kadang terjadi setelah air ketuban keluar dalam jumlah
yang besar karena berkurangnya luas permukaan uterus di bawah plasenta.
DisIungsi uterus dan perdarahan pasca persalinan terjadi akibat atonia uteri karena
overdistensi.
E.Patofisiologi

Pada awal kehamilan, rongga amnion terisi cairanyang komposisinya sangat mirip dengan
cairanekstrasel ibu.

Selama paruh pertama kehamilan, terjadiperpindahan air dan molekul-molekul kecil lainyang
tidak hanya melewati amnion, tetapi jugamelalui kulit janin. Selama trimester kedua, janin
mulali berkemih,menelan, dan menghirup cairan amnion. Prosesini hampir pasti memiliki
peran pentingmemodulasi pengendalian volume cairan amnion.
penyebab hidramnion hidramnion yang seringterjadi pada diabetes ibu selama
trimesterketiga masih belum diketahui. Salah satukemungkinan penjelasannya adalah
bahwahiperglikemia ibu menyebabkan hiperglikemiajanin dan menimbulkan diuresis
osmatik yangakhirnya menyebabkan jumlah cairan amnionberlebihan.


F.Penatalaksanaan
Terapi hidromnion dibagi dalam tiga Iase:
1. aktu hamil
idromnion ringan jarang diberi terapi klinis, cukup diobservasi dan
berikan terapi simptomatis
Pada hidromnion yang berat dengan keluhan-keluhan, harus dirawat
dirumah sakit untuk istirahat sempurna. Berikan diet rendah garam. Obat-
obatan yang dipakai adalah sedativa dan obat duresisi. Bila sesak hebat
sekali disertai sianosis dan perut tengah, lakukan pungsi abdominal pada
bawah umbilikus. Dalam satu hari dikeluarkan 500cc perjam sampai keluhan
berkurang. Jika cairan dikeluarkan dikhawatirkan terjadi his dan solutio
placenta, apalagi bila anak belum viable. Komplikasi pungsi dapat berupa :
1) Timbul his
2) Trauma pada janin
3) Terkenanya rongga-rongga dalam perut oleh tusukan
4) InIeksi serta syok
bila sewaktu melakukan aspirasi keluar darah, umpamanya janin mengenai
placenta, maka pungsi harus dihentikan.

. aktu bersalin
Bila tidak ada hal-hal yang mendesak, maka sikap kita menunggu
Bila keluhan hebat, seperti sesak dan sianosis maka lakukan pungsi
transvaginal melalui serviks bila sudah ada pembukaan. Dengan memakai
jarum pungsi tusuklah ketuban pada beberapa tempat, lalu air ketuban akan
keluar pelan-pelan
Bila sewaktu pemeriksaan dalam, ketuban tiba-tiba pecah, maka untuk
menghalangi air ketuban mengalir keluar dengan deras, masukan tinju
kedalam vagina sebagai tampon beberapa lama supaya air ketuban keluar
pelan-pelan. Maksud semua ini adalah supaya tidak terjadi solutio placenta,
syok karena tiba-tiba perut menjadi kosong atau perdarahan post partum
karena atonia uteri.\

. Post partum
arus hati-hati akan terjadinya perdarahan post partum, jadi sebaiknya
lakukan pemeriksaan golongan dan transIusi darah serta sediakan obat
uterotonika
Untuk berjaga-jaga pasanglah inIus untuk pertolongan perdarahan post
partum
Jika perdarahan banyak, dan keadaan ibu setelah partus lemah, maka untuk
menghindari inIeksi berikan antibiotika yang cukup.


G. Medikasi
a.bentuk kronis : obati penyebab yang mendasarinya (misalnya:diabetes)
b. bentuk akut : umunya membutuhkan persalinan dengan drainase lambat selama
6-8 jam untuk menghindari solusio plasenta beresiko menginduksi kontraksi. Jika
pecah kantong amnion terjadi didaerah serviks,hati-hati terjadi prolapsus tali pusat.
c.bentuk idiopatik : indometasin 3mg/kg per hari.
. Nursing Diagnosis
O Pengeluaran cairan berhubungan dengan adanya robekan pada selaput
ketuban
O Resiko terjadi inIeksi berhubungan dengan kontaminasi MO pada cairan
sekunder adanya port d`entry kuman.
O Cemas berhubungan dengan kurangnya inIormasi

INurs|ng Intervent|on
O engeluaran calran berhubungan dengan adanya robekan pada selapuL
keLuban
1 elaskan alasan perlunya Llrah barlng enggunaan poslsl
recumbenL laLeral klrl aLau mlrlng
MemperLahankan [anln [auh darl cervlk dan menlngkaLkan
perfusl uLerus Llrah barlng dapaL menurunkan peka rangsang
uLerus

2 erlkan Llndakan kenyamann seperLl gosokan punggung
perubahan poslsl aLau penurunan sLlmulus dalam ruangan
mlsalnya lampu redup
menurunkan Legangan oLoL dan kelelahan serLa menlngkaLkan
rasa nyaman

O eslko Ler[adl lnfeksl berhubungan dengan konLamlnasl MC pada calran
sekunder adanya porL d'enLry kuman
3 Plndarl pemerlksaan per vaglna
mengurangl kemungklnan konLamlnasl kuman

4 erlkan perawaLan perlneal dengan laruLan anLlsepLlc seLlap
selesal ellmlnasl
AnLlsepLlk dlbuLuhkan unLuk membunuh MC agar Lldak
menlmbulkan lnfeksl

O emas berhubungan dengan kurangnya lnformasl

3 Laporkan Landa awlLan persallnan
persallnan dlmulal dalam 24 [am seLelah keLuban pecah

6 Selalu Lemanl kllen dan hlbur kllen berlkan hal hal yang dapaL
menyenangkan haLl kllen
Menurunkan respon cemas kllen sehlngga kllen leblh rlleks






















DAFTAR PUSTAKA


Doenges, Marilyn, et al. 2000. #encana AsuhanKeperawatan Edisi3. Jakarta :
EGC
Satya Negara. 2008. Asuhan Keperawatan


















TUGAS MAKALAH MATERNITY
HIDRAMNION



Dosen pembimbing :
Sr. Margaretha.M,SPC,BSN,MSN

Disusun oleh:
Kelompok 7
4 Dewi Damaiyanti
4 Sintha Leloni
4 erwiyanti

SLkCLAn 1INGGI ILMU kLSLnA1AN SUAkA INSAN
kCGkAM SAkIANA kLLkAWA1AN
8ANIAkMASIN
2011