Anda di halaman 1dari 32

BAB II PEMBAHASAN

A. Wuchereria bancrofti Klasifikasi Kerajaan Filum Kelas Ordo Upaordo Famili Genus : Animalia : Nematoda : Secernentea : Spirurida : Spirurina : Onchocercidae : Wuchereria bancrofti

Hospes dan Nama Penyakit Hospes definitive dari cacing ini adalah manusia. Cacing dewasa hidup dalam kelenjar limfa dan microfilaria hidup di dalam darah. Hospes perantaranya adalah nyamuk. Penyakit yang disebabakan oleh Wuchereria bancrofti adalah Filariasis bancrofti (Wukereriasis bancrofti). (Onggowaluyo, 2001)

Morfologi Cacing dewasa, berwarna putih kekuning-kuningan, lapisan luarnya diliputi kutikula halus, memiliki bentuk silindris seperti benang, kedua ujung tumpul, bagian anterior membengkak, terdapat mulut berupa lubang sederhana tanpa bibir ataupaun alat lainnya, langsung menuju esophagus dengan sebuah rongga bukal tetapi tanpa tonjolan maupun konstriksi seperti tanda khas yang terdapat pada beberapa nematode (Natadisastra, 2009). Cacing dewasa (makrofilaria) betina panjangnya 65-100 mm, ekor lurus

Makalah Parasitologi

Page 4

berujung tumpul. Jantan, panjang 40 mm, ekor melingkar mempunyai dua spikula (Purnomo, 2005)

Microfilaria, panjangnya 250 mikron, bersarung pucat, lekuk halus, panjang ruang kepala sama dengan lebarnya, badan mempunyai inti-inti teratur, ujungz ekor kosong.. larva stadium I, panjangnya 147 mikron, betuk seperti sosis, ekor panjang dan lancip tanpa inti tambahan. Larva stadium II, panjang 450 mikron, bentuk lebih gemuk dan panjang daripada stadium I. ekor pendek seperti kerucut (inset). Larva stadium III, panjangnya 1200 mikron, bentuk

langsing. Pada ujung ekor terdapat tiga papil bulat (inset). (Purnomo, 2005) Cacing jantan,

ukurannya lebih kurang 40 mm 0,1 mm, ujung kaudal melengkung ke ventral, didapat 12 pasang papilla perianal, terdiri atas 8 pasang preanal dan 4 pasang posanal. Terdapat 2 spikula dengan gubernakulum yang berbentuk bulan sabit. Cacing betina, berukuran 80-100 mm 0,24-0,30 mm, vulva terletak di daerah servikal, vagina pendek dengan sebuah segmen keluar dari uterus selanjutnya organ genitalia ini berpasangan. Embrio yang masih muda terdapat di bagian dalam uterus dillapisi lapisan hialin yang tipis, lebih kurang berukuran 38 25 m, jika terdorong ke bagian uterus, bungkusnya memanjang menyesuaikan dengan bentuk

Makalah Parasitologi

Page 5

embrio sampai embrio lahir tetap terbungkus sarung, embrio ini disebut mikrofiilaria. (Natadisastra, 2009)

Microfilaria bermigrasi ke saluran limph dan saluran darah, ukurannya (244-296) (7,5-10) m, ujung anterior tumpul sedangkan ujung posterior lebih tajam, lekuk badannya halus, kulit luar ditutupi kutikula halus. Bergerak perlahhan sesuai dengan aliran limph atau darah. Pada cacing ini, intinya teratur, bagian ekor kosong, tidak terdapat inti, cephalic space dengan perbandingan ukuran panjang sama dengan lebarnya. Mikrofilia ukurannya bervariasi, hidupnya di dalam darah, subkutan atau jaringan lainnya tergantung species. Bentuk lain microfilaria dapat berada terus dalam aliran darah perfifer manusia dalam konsentrasi tinggi pada siang hari (diurnal sub-periodicity). Penyakit ini endemis di daerah Pasifik Seatan tempat vector nyamuk mempunyai kebiasaan mengigit pada siang hari dan banyak berjangkit di daerah pedesaan dibandingkan derah perkotaan. Filarial membutuhkan insekta sebagai vector, misalnya nyamuk anopheles, aedes, mansonia, culex bias juga simulium, Chrysops atau Culicoides, tergantung speciesnya.

Makalah Parasitologi

Page 6

Distribusi Geografik Parasit ini tersebar luas di daerah yang

beriklim tropis di seluruh dunia dan di daerah

berhawa panas (daerah katulistiwa).

Siklus Hidup Daur hidup parasit ini memerlukan waktu yang sangat panjang. Masa pertumbuhan parasit di dalam nyamuk kurang lebih dua minggu. Pada manusia, masa pertumbuhan tersebut belum diketahui secara pasti, tetapi diduga kurang lebih 7 bulan, sama dengan pertumbuhan parasit ini di dalam Presbytis cristata (lutung). Microfilaria yang terisap oleh nyamuk, melepaskan sarungnya di dalam lambung, menembus dinding lambung dan bersarang di antara otot-otot toraks. Mula-mula parsit ini memendek, bentuknya menyerupai sosis dan disebut larva stadium I. Dalam waktu kurang lebih satu minggu, larva ini bertukar kulit, tumbuh menjadi lebih gemuk dan panjang, disebut larva stadium II. Pada hari kesepuluh dan selanjutnya, larva bertukar kulit sekali lagi, tumbuh makin panjang dan lebih kurus, disebut larva stadium III. Gerak larva stadium III sangat aktif. Bentuk ini bermigrasi, mula-mula ke rongga abdomen kemudian ke kepala dan alat tusuk nyamuk. Bila nyamuk yang mengadung stadium larva III (bentuk infektif) menggigit manusia, maka larva tersebut secara aktif masuk melalui luka tusuk ke dalam tubuh hospes dan bersarang di

Makalah Parasitologi

Page 7

saluran limfe setempat. Di dalam tubuh hospes, larva mengalami dua kali pergantian kulit, tumbuh menjadi larva stadium IV, lalu stadium V atau cacing dewasa. (UI, 2008)

Epidemiologi Walaupun sebanyak 80 % populasi daerah endemic mungkin terinfeksi, kurang dari 10-20% menderita morbiditas yang berarti secara klinis. Mereka yang bekerja didaerah-daerah dimana ada pemajanan berulang dan kronis terhadap nyamuk yang mengandung larva, seperti di daerah perkotaan yang penuh sesak dengan sanitasi yang jelek, adalah paling berisiko. Infeksi Wuchereria bancrofti tersebar di seluruh afrika tropic dan subtropik, asia, dan amerika selatan. (Behrman, 1999) Di Indonesia, parsit ini lebih sering dijunpai di pedesaan daripada di perkotaan dan penyebarannya bersifat local. Kelompok umur dewasa muda merupakan kelompok penduduk yang paling sering

Makalah Parasitologi

Page 8

menderita,

terutama

mereka

yang

tegolong

penduduk

berpenghasilan rendah. (FKUI, 2008)

Patologi dan Gejala Klinis Gejala klinis filariasis limfatik disebabkan oleh mikrofilia dan cacing dewasa baik yang hidup maupun yang mati (Nutman, 2000). Mikrofilia biasanya tidak menimbulkan kelainan tetapi dalam keadaan tertentu dapat menyebabkan occult filariasis. Gejala yang disebabkan cacing dewasa menimbulkan limfadenitis dan limfangitis retrograde dalam stadium akut, disusul dengan obstruktif menahun 10-15 tahun kemudian.

Periodisitas adalah waktu dimana didapat microfilaria dalam jumlah banyak di dalam darah perifer hospes. Ada beberapa macam periodesitas dalam patologi filariasis, sedangkan untuk cacing ini berperan dalam periodic pertama atau periodic nokturna dimana microfilaria ditemukan dalam darah perifer hospes hanya pada malam hari. Periodestas nokturna menunjukan bahwa pada siang hari microfilaria berkumpul daam darah kecil paru-paru, sedangkan pada malam hari microfilaria dilepaskan ke dalam pembuluh darah tepi. Sebaliknya terjadi pada periodesitas diurnal. Rangsangan yang menyebabkan terjadinya migrasi microfilaria

Makalah Parasitologi

Page 9

pada waktu tertentu, belum diketahui. Diduga periodesitas berkaitan dengan perbedaan tekanan oksigen antara darah vena dan arteri pada waktu siang dan malam hari (Hawking F, 1975). Untuk pulau-pulau di daerah Poly-nesia (Samoa, Fiji dan pulau sekitarnya) memiliki periodesitas subperiodik diurnal dengna vektornya Aedes polynisiensis yang menggigit pada siang hari. Efek pathogen wuchereria bancrofti tergantung beberapa factor, antara lain toleransi hospes terhadap parasit, jumlah larva infektif yang ditusukkan nyamuk, banyaknya gigitan yang menyebabkan microfilaria infektif pada satu saat serta

kemungkinan terjadinya infeksi sekunder oleh streptococcus, Staphylococcus atau jamur pathogen.

Diagnosis Gejala klinis kebanyakan tidak spesifik sehingga untuk menegakkan diagnosis harus dilakukan pemeriksaan laboraorium, yaitu harus dapat menemukan microfilaria Wuchereria bancrofti dalam darah perifer yang diambil pada malam hari antara jam 22.00-02.00 dini hari karena periodesitasnya nokturna.

(Natadisastra, 2009) Diagnosis dapat juga dilakukan dengan defekasi parasit yaitu menemukan microfilaria di dalam cairan darah, cairan hidrokel atau cairan kiluria pada pemeriksaan sediaan darah tebal dan teknik konsentrasi Knott, membrane filtrasi. Pada pemeriksaan histopatologi, kadang-kadang potongan cacing dewasa dapat dijumpai di saluran dan kelenjar limfe dari jaringan yang dicurigai sebagai tumor. Teknik biologi molekuler dapat digunakan untuk mendeteksi parasit melalui DNA parasit dengan menggunakan reaksi rantai polymerase (Polymerase Chain Reaction/ PCR). Teknik ini mampu

Makalah Parasitologi

Page 10

memperbanyak DNA sehingga dapat digunakan untuk mendeteksi parasit pada cryptic infection. (William et al, 1996)

Pengobatan Pengobatan dalam waktu lama dengan preparat antimony dan arsen dapat membunuh microfilaria dalam darah, tapi tidak jelas dapat membunuh cacing dewasa, kecuali jika dilakukan pengobatan dalam waktu yang lebih lama. Pada pemberian peroral, Diethylcarbamazine (DEC), cepat menghilangkan microfilaria dalam dara perifer dan terkumpul di dalam pembuluh darah visceral yang kemudian diserang oleh fagosit.. dosis yang dianjurkan (0,5-2) mg/kg berat badan, diberikan seteah makan, 3 kali perhari dalam waktu 2-3 minggu, cepat menghiangkan microfilaria dalam darah walaupun efek terhadapa cacing dewasa lambat. Toleransinya terhadap filariasis bancrofti cukup baik (Natadisastra, 2009) Program eliminasi filariasis melalui pengobatan masaal di daera endemic (prevalensi 1 %) telah dicanangkan oleh organisasi kesehatan dunia. Obat yang dianjurkan adalah kombinasi DEC 6 mg/kgBB dan albendazol 400 mg yang diberikan sekali setiap tahun selama 5-10 tahun pada penduduk di atas usia 2 tahun (WHO, 2000)

Pencegahan Ditujukan kepada pengobatan penderita sebagai sumber infeksi serta kepada vector yang memindahkan penyakit. The Expert Committee on Filiariasis (WHO, 1962), telah menganjurkan suatu program pencegahan yang menyeluruh sebagai berikut: pengobatan dengan diethylcarbamazine (46 mg dalam bentuk

Makalah Parasitologi

Page 11

garam citrate untuk 5-6 dosis) berturut-turut setiap hari dalam beberapa minggu atau bulan. Pemberian DEC ini bersama-sama dengan penggunaan insektisida, yaitu penyemprotan di dalam dan di sekitar rumah dengan DDT, dieldrin atau organophospat Baytex, dan penggunaan larvisidal dengan penyemprotan pada tempat perindukan nyamuk.

B. Onchocerca volvulus Klasifikasi Kingdom Phylum Class Order Family Genus Species : Animalia : Nematoda : Secernentea : Spirurida : Onchocercidae : Onchocerca : Onchocerca volvulus

Hospes dan Nama Penyakit Hospes definitive cacing ini adalah manusia, sedangkan hospes perantaranya adalah serangga Simulium sp. Penyakit yang disebabkan oleh parasit ini adalah Onkoserkosis, Onkoserkusis, Blinding filariasis dan River blind ness. (Onggowaluyo, 2001)

Morfologi Cacing dewasa hidup dalam jaringan ikat, melingkar satu sama lain seperti benang kusut dalam benjolan atau tumor. Cacing betina berukuran 33.5 50 mm kali 270 400 mikron dan cacing jantan berukuran 19 42 mm kali 130 210 mikron. Bentuknya

Makalah Parasitologi

Page 12

seperti kawat berwarna putih, opalesen dan transparan. Cacing betina yang gravid mengeluarkan microfilaria di dalam jaringan subkutan, kemudian meninggalkan subkutan mencari jalan ke kulit. Ukuran microfilaria yaitu 285 368 kali 6 9 mikron dan 150 287 kali 5 7 mikron. Bagian kepala dan ujung ekor tidak mempunyai inti dan tidak mempunyai sarung. (FKUI, 2008)

Distribusi Geografik Distribusi geografis

penyakit ini adalah di belahan bumi bagian barat yaitu Guatemala (umumnya di bagian barat dataran rendah pemisah benua); bagian Selatan Meksiko (daerah Chiapas dan Oaxaca); fokus di bagian Selatan dan Utara Venezuela dan sebagian kecil daearah di Kolombia, Ekuador, Brasilia (daerah Amazon dan Golas). Di daerah sub- Sahara Afrika, penyakit ini tersebar di daerah yang luas mulai dari Senegal sampai ke Ethiopia, kemudian Angola bagian barat dan Malawi bagian timur; juga ditemukan di Yaman. Di beberapa daerah yang endemis di bagian Barat Afrika,

Makalah Parasitologi

Page 13

sampai dengan beberapa tahun belakangan ini ditemukan sebagian besar masyarakat terinfeksi dan gangguan penglihatan dan kebutaan merupakan masalah yang serius pada masyarakat tersebut. Masyarakat tersebut kemudian meninggalkan lembahlembah tersebut dan mereka kemudian berpindah menuju dataran tinggi yang aman, namun daerah tersebut ternyata tidak subur. Dengan demikian penyakit ini menghancurkan kehidupasn sosial ekonomi mereka. Onchocerciasis ditanggulangi melalui Program Penanggulangan Onchocerciasis di bagian Barat Afrika.

Siklus Hidup Cacing dewasa berlokasi dibawah kulit dan akan terbentuk kapsula karena reaksi tubuh hospes. Bilamana berlokasi dekat tulang seperti persendian atau diatas tulang kepala, nodule yang permanen akan terjadi. Mikrofilaria berada dalam kulit

kemudian terhisap oleh lalat penghisap darah/lalat hitam/bleck fly (Simulium damnosum) sebagai hospes intermedier. Bagian mulut lalat tidak menembus terlalu dalam, berisi cairan kental yang penuh dengan mikrofilaria. Fase pertama dari larva cacing bergerak dari saluran cerna lalat ke otot dada. Kemudian mengalami moulting yang kemudian moulting lagi menjadi larva infektif menjadi bentuk filaria (filariform), filaria muda bergerak kearah mulut lalat dan akan menginfeksi hospes definitif baru. Filaria tumbuh menjadi dewassa tinggal dibawah kulit selama kurang dari 1 tahun. Cacing biasanya berpasangan. Cacing yang berada dibawah kulit atau dibawah kulit yang lebih dalam akan memproduksi mikrofilaria. Mikrofilaria kemudian menginvasi kepermukaan kulit dan akan terhisap oleh hospes intermedier.

Makalah Parasitologi

Page 14

Epidemiologi Cacing ini banyak ditemukan di dataran tinggi

Afrika(kurang dari 1000 kaki). Kasus penyakit terbatas disekitar sungai yang alirannya deras. (Onggowaluyo, 2001) Onchocerciasis terdapat di Afrika daerah-daerah pantai barat dan Sierra Leone sampai Congo Basin. Vector penyakit ini lebih menyukai badan perairan yang lebar. Hal ini dikarenakan distribusi vector yang tempat perindukannya adalah daerah yang lebar dengan arus yang deras. Vector pun jarang berpindah tempat melampaui 2 3 mil dari perairan. Daerah endemic Amerika Tengah terbatas pada daerah tinggi, dimana terdapat banyak popualsi lalat hitam. (Brown, 1979) Manusia merupakan sumber infeksi tunggal. Pada hari ayng cerah lalat betina hanya menggigit pada waktu pagi dan sore hari, tetapidi tempat yang rindang atau bila langit berawan maka lalat akan menggigit sepanjang hari. Di Afrika penyakit ini jarang

Makalah Parasitologi

Page 15

ditemukan pada anak-anak berumur kurang dari 10 tahun, tetapi di Amerika kasus ini lebih banyak ditemukan pada anak-anak, kirakira seperenam dari semua kasus. Frekuensi tertinggi terdapat pada orang-orang muda atau setengah umur. Penyakit lebih banyak pada pria dan wanita baerhubungan dengan pekerjaannya. (Brown, 1979)

Patologi dan Gejala Klinis Ada dua hal yang menyebabkan efek patologi yaitu: cacing dewasa dan mikrofilaria. Dari kedua bentuk cacing tersebut, bentuk cacing dewasa tidak begitu patogenik dan bahkan kadang tidak menunjukkan gejala sakit. Tetapi pada kondisi yang buruk cacing didalam subkutan membentuk nodule disebut Onchocercomas, terutama yang menetap didekat tulang. Didaerah Amerika Tengah kebanyakan penderita terdapat nodule diantara tulang rusuk dan paha dan juga didaerah leher dan kepala. Nodule tersebut berbentuk benigna dan relatif tidak sakit. Jumlah nodule berfariasi dari hanya satu sampai ratusan. Nodule tersebut terutama berisi jaringan serabut kolagen yang mengelilingi beberapa cacing dewasa. Nodule akan mengalami degenerasi dapat membentuk abses atau

kalsifikasi.

Makalah Parasitologi

Page 16

Hadirnya

mikrofilaria

didaerah

kulit

menyebabkan

dermatitis yang berat yang menyebabkan reaksi alergik dan efek toksik disebabkan matinya cacing muda. Gejala pertama adalah gatal-gatal yang menyebabkan luka dn terinfeksi oleh bakteri (infeksi sekunder). Kemudian diikuti dispigmentasi kulit lokal atau lebih luas, kemudian diikuti penebalan kulit dan kulit menjadi pecah-pecah. Gejala menyerupai avitaminosis A, hal tersebut diduga parasit berkompetisi dengan metabolisme vitamin A. Gejala yang lebih lanjut kulit kehilangan elastisitasnya. Depigmentasi berkembang menjadi daerah yang lebih luas terutama daerah kaki. Hal tersebut dapat dikelirukan dengan penyakit lepra. Pada kondisi yang lebih buruk lagi bila terjadi komplikasi dimana mikrofilaria mencapai kornea. Hal tersebut dalat menimbulkan inflamasi pada sklera atau bagian putih dari bola mata. Kemudian diikuti penimbunan jaringan ikat yang mengakibatkan vaskularisasi dari kornea yang dapat mengganggu penglihatan. Terjadinya penimbunan jaringan ikat (fibrous tissue) mengakibatkan pasien buta total.

Diagnosis Diagnosis yang akurat dengan menemukan mikrofilaria dalam kulit. Hal tersebut dilakukan dengan mengambil sepotong kulit dengan gunting (daerah mana saja) kemudian ditaruh diatas slide kaca dan diberi tetesan garam fisiologis kemudian diperiksa dibawah mikroskop akan terlihat mikrofilaria. Diagnosis lebih spesifik dan sensitif juga dapat dilakukan dengan sistem imunodiagnostik dengan menggunakan haemaglutination tes.

Makalah Parasitologi

Page 17

Pengobatan Ada dua bentuk pengobatan yaitu dengan operasi dan kemoterapi. Eksisi nodule didaerah kepala dapat mengurangi terjadinya invasi mikrofilaria kedaerah mata dan mengurangi infeksi baru dalam populasi. Pengobatan dengan suramin dapat membunuh cacing dewasa sehingga dapat menghilangkan mikrofilaria. Nodule harus diambil karena cacing yang mati karena pengobatan dapat menimbulkan abses pada nodul tersebut. Dietilkarbamazin dapat membunuh mikrofilaria dengan cepat tetapi tidak membunuh cacing dewasa. Tetapi bila mikrofilaria mati dengan cepat maka mikrofilaria yang mati akan menimbulkan reaksi tubuh dan kulit dapat mengkerut. Disamping itu dapat terjadi shock anapilaktik yang disebabkan oleh reaksi tubuh terhadap cacing yang mati tersebut. Obat ini lebih baik diberikan bersama antihistamin atau cortison untuk mencegah efek samping sehingga memperoleh hasil yang baik. Pencegahan dapat dilakukan dengan memberantas hospes intermedier lalat Simulium sp. Pemebrantasan dilakukan dengan insektisida yang sesuai.

Pencegahan 1. Hindari gigitan lalat Simulium dengan selalu mengenakan pakaian pelindung dan pelindung kepala sesering mungkin, atau dengan menggunakan repelan yang berisi diethyltoluamide (Deet) 2. Kenali dan temukan tempat-tempat perindukan lalat hitam yang berperan sebagai vektor. Lakukan pemberansatan larva (larva

Makalah Parasitologi

Page 18

biasanya hidup pada arus deras dan pada saluran-saluran buatan) dengan menggunakan insektisida yang dapat terurai seperti temefos (Abate) pada konsentrasi rendah, ditaburkan atau disemprot selama sepuluh menit seminggu sekali pada konsentrasi 0,05 mg/liter pada musim hujan dan pada musim kering dengan konsentrasi 0,1 mg/liter. Jenis insektisida lain yang disebut dengan B.t. H-14i, insektisida biologis yang dilarutkan dalam air dapat digunakan pada konsentrasi 2,5 kali temefos. Resistensi dapat terjadi terhadap temefos, namun resistensi terhadap B.t. H-14 sepertinya tidak terjadi. B.t. H-14 harus ditaburkan di banyak titik sepanjang aliran sungai atau saluran air oleh karena efeknya yang pendek jika dibandingkan dengan temefos. Bila diperlukan lakukan penyemprotan melalui udara untuk bisa menjangkau wilayah yang lebih luas. Hal ini mungkin dilakukan pada program

pemberantasan berskala besar di Afrika. Di Amerika penyemprotan melalui udara tidak mungkin dilakukan karena banyaknya daerah bergunung-gunung. Eliminasi S. neavei dengan menggunakan insektisida cukup efektif, S. neavei hidup dalam tubuh kepiting. 3. Sediakan fasilitas diagnosis dan pengobatan.

C. Loa loa Klasifikasi Kingdom Filum Class Ordo : Animalia : Nemathelmyntes : Nematoda : Spirurida

Superfamily : Filarioidea Family Genus Species : Onchocercidae : Loa : Loa loa

Makalah Parasitologi

Page 19

Hospes dan Nama Penyakit Hospes utama cacing ini adalah manusia. Cacing dewasa terdapat dalam jaringan subkutan manusia dan kera. Cacing ini menyebabkan penyakit Loaiasis atau Fugitive swelling.

Morfologi Cacing dewasa yang hidup dalam jaringan berbentuk benang berwarna Untuk halus putih seperti dan susu. betina subkutan

cacing

berukuran 50 70 kali 0.5 mm dan yang jantan berukuran 30 34 kali 0.35 -0.43 mm. Cacing betina mengeluarkan mikrofilaria yang beredar dalam darah pada siang hari dan berada pada pembuluh darah paru pada malam hari. Mikrofilaria berukuran 250 300 mikron kali 6 8.5 mikron dan memiliki sarung atau selubung pada tubuhnya. (FKUI, 2008) Pada cacing betina, memiliki vulva terbuka di daerah servikal dan mempunyai sepasang papil terminal. Untuk cacing

Makalah Parasitologi

Page 20

jantan memiliki ekor melingkar kearah ventral, mempunyai sayap lateral dan delapan pasang papil perianal. (Onggowaluyo, 2001) Telah diketahui bahwa lama hidup cacing di dalam tubuh manusia adalah antara 4 17 tahun. Sebelum menginfeksi manusia, cacing ini telah mengalami pertumbuhan siklik di dalam hospes perantara selama 10 12 hari. (Brown, 1979)

Distribusi Geografik Parasit ini tersebar luas di Afrika tropis, misalnya sahara selatan. Dikenal dua strain Loa loa yaitu strain yang terdapat pada jenis baboon maupun kera di daerah hutan-hutan Afrika dan strain yang terdapat pada manusia.

Siklus Hidup Saat manusia digigit lalat Chrysops, maka infeksi terjadi karena larva infektif keluar dari labium yang seperti selaput ke permukaan kulit dekat luka gigitan. Dalam waktu satu jam larva telah menembus ke dalam jaringan subkutan dan otot dan di tempat ini tumbuh menjadi dewasa dalam waktu kira-kira 12 bulan.

Makalah Parasitologi

Page 21

Berikut ini adalah gambar lalat Chrysops yang menjadi vector penyakit yang disebabkan oleh

cacing Loa loa dan gambar siklus hidup dari cacing tersebut:

Epidemiologi Daerah endemis Loa loa dibatasi oleh daerah hutan hujan di Afrika. Manusia diketahui sebagai hospes reservoir parasit ini. Spesies vector yang ditemukan di daerah endemis adalah Chrysops siliaca dan Chrysops dimidiate. Vector ini menggigit manusia yang

Makalah Parasitologi

Page 22

keluar masuk hutan sehingga Loaiasis umumnya ditemukan pada pria dewasa. (Onggowaluyo, 2001) Orang Eropa terkadang ada yang mendapatkan infeksi ini, tetapi mereka cukup terlindung terhadap gigitan lalat. Manusia digigit pada waktu siang hari oleh lalat yang menghindari sinar matahari dan memenuhi hutan denngan banyak rawa. Lalat ini agaknya lebih banyak menggigit orang Negro daripada orang kulit putih. Di daerah hutan hujan tropic dengan banyak hujan, hubungan hospes parasit vector terdiri atas manusia, kera dan beberapa spesies Chrysops. (Brown, 1979)

Patologi dan Gejala Klinis Parasit ini biasanya tidak menyebabkan kerusakan berat pada hospes. Cacing dewasa berpindah melalui jaringan subkutis dengan kecepatan maksimum 1 inch tiap 2 menit. Parasit ini dapat menghinggapi semua bagian tubuh dan yang sangat mengganggu adalah saat parasit ini melalui conjunctiva atau punggung hidung. Pada mata dapat terjadi rangsangan, nyeri, penyumbatan, pembengkakan

kelopak mata dan gangguan penglihatan. Reaksi

peradangan yang bersifat sementara dikenal sebagai pembengkakan atau Calabar

pembengkakan

sementara adalah khas untuk infeksi ini. (Brown, 1979)

Makalah Parasitologi

Page 23

Masalah utama adalah bila cacing masuk ke otak dan menyebabkan Ensefalitis. Cacing dewasa dapat pula ditemukan dalam cairan serebrospinal pada orang yang menderita

Meningoensefalitis. (FKUI, 2008)

Diagnosis Diagnosis ditegakkan dengan menemukan mikrofilia dalam darah perifeer pada siang hari (waktu maksimal pengambilan sampel pada sing hari adalah pukul 10:00 14:00) atau menemukan cacing dewasa dari bahan biopsy subkutan,

konjungtiva mata atau jaringan lainnya seperti punggung aksila, daerah lipat paha, payudara, penis dan kulit kepala. Bila pada pemeriksaan darah perifer tidak ditemukan microfilaria, maka dapat dilakukan tes imunologik dengan menggunakan Dirofilaria immitis. Pada pemeriksaan hematologis menunjukkan adanya eosinofilia. (Onggowaluyo, 2001)

Pengobatan Obat pilihan untuk penyakit parasit ini adalah DEC, tetapi resiko efek sampingnya berat, misalnya urtikaria seluruh tubuh, terjadi peradangan di sekitar cacing dewasa, kadang-kadang terjadi demam hingga pengobatan harus dihentikan. (Onggowaluyo, 2001) Mengeluarkan cacing filarial dewasa dengan pembedahan bila dapat dicapai merupakan cara pengobatan yang dapat diterima. Waktu terbaik ialah saat cacing bergerak melalui hidung atau konjungtiva. Kemoterapi dengan dietilkarbamazin juga berhasil baik. (Brown, 1979)

Makalah Parasitologi

Page 24

Pencegahan Untuk menghindari penyakit yang ditimbulkan oleh Loa loa, maka dapat dilakukan pencegahan dengan pemberantasan Chrysops dengan larvisida sedapat-dapatnya, menghilangkan pengandung parasit dengan pengobatan dietilkarbamazin dan melindungi orang dari lalat dengan kelambu kassa kawat dan repellent. (Brown, 1979) Pencegahan juga dapat dilakukan dengan menghindari gigitan vector, penyemprotan dengan insektisida untuk membunuh vector, dan membersihkan dan mengeringkan tempat perindukan vector. (Onggowaluyo, 2001)

D. Acantocheilonema perstans (Mansonella perstans) Klasifikasi Kingdom Fylum Class Ordo Family Genus Species : Animalia : Nematoda : Secernentea : Spirurida : Onchocercidae : Mansonella : Mansonella perstans

Hospes dan Nama Penyakit Manusia merupakan hospes definitive utama cacing ini. Spesies ini dan juga spesies lain sangat berdekatan, telah ditemukan pada simpanse dan gorilla. Nam penyakit yang

Makalah Parasitologi

Page 25

ditimbulkan oleh parasit ini adalah Acanthocheilonemiasis, Dipetalonemiasis. (Brown, 1979)

Morfologi

Cacing dewasa betina panjangnya 80 mm, sedangkan yang jantan 45 mm. Cacing dewasa terdapat di dalam jaringan mesenterium, jaringan retroperitoneum, rongga pleura dan pericardium. Mikrofilaria terdapat di dalam darah tepi dan kapiler paru-paru. Di berbagai daerah cacing ini mempunyai periodisitas diurna, atau lebih sering periodisitas nocturna, tetapi pada dasarnya bersifat nonperiodik. (Brown, 1979)

Distribusi Geografik

Makalah Parasitologi

Page 26

Acanthocheilonema perstans ditemukan terutama di Afrika daerah tropik, walaupun telah dilaporkan juga di Afrika Utara dan Amerika Selatan. (Brown, 1979)

Siklus Hidup Manusia merupakan hospes definitif utama. Spesies tersebut dan juga spesies lain yang sangat berdekatan, telah ditemukan pada chimpanzee dan gorila. Hospes perantaranya ialah serangga penghisap darah termasuk genus Culicoides. Setelah metamorfosis selama 7 10 hari di dalam tubuh serangga, maka larva infektif dipindahkan ke dalam kulit hospes baru oleh serangga ini dengan cara menggigit. (Brown, 1979)

Makalah Parasitologi

Page 27

Epidemiologi Parasit ini ditemukan terutama di Afrika daerah tropik walaupun telah dilaporkan juga di Afrika Utara dan Amerika Selatan. Infeksi manusia umumnya terdapat di daerah endemi, tempat hospes perantara terdapat dalam jumlah besar sekali. Pada orang Eropa frekuensi lebih rendah, karena mereka lebih terlindung daripada penduduk asli terhadap Culicoides yang menggigit pada malam hari. (Brown, 1979)

Patologi dan Gejala Klinis Hanya terdapat satu cacing di dalam satu kista dan cacing ini menyebbkan reaksi jaringan yang ringan. Waktu inkubasi belum diketahui. Biasanya tidak di dapatkan gejala lain kecuali fenomena alergi ringn, edema, pembengkakan Calabar dan varices saluran limfe. Mikrofilaria dapat ditemukan di dalam hepar yang membengkak dan terasa sakit.

Diagnosis Diagnosis dibuat atas dasar ditemukannya mikrofilari yang khas di dalam darah. (Brown, 1979)

Pengobatan

Pengobatan dengan persenyawaan Antimonium trivalen mengurangi jumlah mikrofilaria dan gejala dirasakan.

Dietilkarbamazin tidak berhasil untuk pengobatan cacing ini.

Makalah Parasitologi

Page 28

Pencegahan Cara pencegahan meliputi pemberantasan vektor,

melindungi orang-orang, melakukan penyemprotan rumah-rumah. (Brown, 1979)

E. Dracunculus medinensis Klasifikasi Kingdom Phylum Class Ordo : Animalia : Nematoda : Secernentea : Camallanida

Superfamily : Dracunculoidea Family Genus Spesies : Dracunculidae : Dracunculus : Dracunculus medinensis

Hospes dan Nama Penyakit Hospes definitive cacing ini adalah manusia. Pernah dilaporkan bahwa anjing, sapi dan kuda dapat terinfeksi cacing ini. Pada manusia, cacing ini hidup di dalam jaringan kulit, jaringan subkutan lengan, punggung dan kaki. Hospes perantara cacing ini adalah Cyclops sp. (sebangsa Copopeda). Penyakit yang

diakibatkan oleh cacing ini disebut Drakunkuliasis. (Onggowaluyo, 2001)

Makalah Parasitologi

Page 29

Morfologi Cacing dewasa, panjang silindris, ujung anterior tumpul, ujung kaudal melengkung ke depan dengan kutikula halus. Pada ujung anterior terdapat pelindung berbentuk oval, di tengahnya terdapat mulut kecil berbentuks egitiga yang dikelilingi oleh cincin dalam, dengan enam buah papilla, dan cincin luar dengan empat pasang papila. Papila cervical yang terdiri atas satu pasng papilla lateral yang terletak sebelah belakang cincin syaraf. Cacing jantan berukuran 2-5 cm x 0,4 mm, ujung posterior melengkung, terdapat 10 pasang papilla kaudal (4 preanal dan 6 posanal) dengan dua buah spikula yang hampir sama panjang serta gubernakulum yang panjangnya 200 mm. Cacing betina berukuran 0-120 cm x 0,9-1,7 mm, dengan tuba ovarii, oviduct serta uterus berpasangan sedangkan vagina sebuah. Tidak ditemukan vulva pada cacing hamil. Cacing ini hidup di dalam jaringan ikat, jaringan retroesophageal, rongga badan. Cacing jantan akan mati setelah kopulasi yangkemudian akan diserap tubuh. (Muslim, 2005)

Makalah Parasitologi

Page 30

Distribusi Geografik Ditemukan di Afrika (16 negara di bagian Selatan Sahara) dan di Asia (India dan Yaman) khususnya di daerah yang mempunyai iklim kering. Prevalensi penyakit tersebut di masingmasing negara sangat bervariasi. Di beberapa daerah tertentu hampir semua penduduk

terinfeksi, dan di beberapa daerah lain infeksi sangat jarang dan hanya menyerang penduduk dewasa muda. Dracunculus medinalis atau cacing Madinah ini dahulunya endemik di kota Madinah, sekarang dinyatakan sudah musnah dari sana oleh WHO. Larvanya terdapat pada tubuh Cyclops sp. di perairan tawar.

Siklus Hidup Bila manusia meminum air mentah mengandung Cyclops yang telah terinfeksi oleh cacing ini, larva cacing akan menetas lalu menembus dinding usus menuju jaringan bawah kulit, jantung atau otak. Setahun kemudian cacing yang telah dewasa akan bereproduksi dan bergerak menuju permukaan kulit (umumnya tangan dan kaki), jantan akan mati setelah 3-7 bulan setelah terinfeksi. Betina yang akan bereproduksi akan menimbulkan bercak merah yang terasa sangat panas lalu menimbulkan luka terbuka pada anggota badan tersebut. Pada saat bagian tubuh yang terluka itu direndam air (untuk mengurangi rasa panas yang ditimbulkan) cacing betina dewasa akan keluar dan melepaskan larva muda kemudian larva muda mencari Cyclops dan siklus kembali terulang.

Makalah Parasitologi

Page 31

Setelah proses ini, betina akan mati, apabila tidak dapat keluar dari tubuh maka cacing tersebut akan terkristalisasi di dalam tubuh inangnya. Luka terbuka yang diakibatkan oleh penetrasi cacing ini memiliki potensi yang besar terkena infeksi bakteri sekunder (bakteri tetanus, bakteri pemakan daging) apabila tidak diobati secara tepat. (Djaenudin, 2005)

Epidemiologi Terdapat di Afrika, Asia barat (Laut Merah), dan daerah bercurah hujan tinggi.

Patologi dan Gejala Klinis Stadium Infektif Stadium diagnostik : larva : mikrofilaria, cacing dewasa

Makalah Parasitologi

Page 32

Dracunculiasis ini menyebabkan rasa sakit, luka kulit meradang dan radang sendi yang melemahkan. Infeksi nematoda yang menyerang subkutis dan jaringan bagian dalam tampak seperti lecet atau lapuh, biasanya pada tungkai bawah (khususnya kaki). Cacing betina pada masa gravida panjangnya 60-100 cm dan siap mengeluarkan larva. Di daerah sekitar kulit yang terinfeksi cacing tersebut terasa seperti terbakar (panas), gatal dan disertai demam, mual, muntah, diare, sesak napas, gatal seluruh tubuh. Eosinofilia biasanya terjadi sebelum atau sesudah munculnya

vesicular. Setelah vesikula pecah, maka cacing akan mengeluarkan dan melepas larva apabila terendam air. Prognosa baik apabila tidak ada infeksi oleh bakteri pada luka tersebut; infeksi sekunder dapat menyebabkan radang sendi (arthritis), synovitis (radang sinovial), ankylosis, konstraktur anggota badan dan bahkan dapat mengancam jiwa.

Diagnosis Diagnosa adalah ketika larva atau cacing dewasa tampak pada lepuhan di kulit. Sinar X kemungkinan dilakukan untuk menentukan klasifikasi cacing. Dapat dibuat bila terdapat garis linier berliku-liku pada permukaan kulit dan ditemukannya papula atau vesikula pada salah satu ujung garis tersebur serta munculnya prodomal atau sistemik.

Pengobatan Biasanya cacing dewasa pelan-pelan diangkat lebih dari sehari sampai seminggu dengan memutarnya pada sebuah batang. Cacing tersebut bisa diangkat dengan cara operasi setelah bius lokal digunakan, tetapi pada banyak daerah pada metode ini tidak

Makalah Parasitologi

Page 33

tersedia. Orang yang juga mengalami infeksi bakteri kadangkala diberikan metronidazole untuk mengurangi peradangan.

plpnemweb.ucdavis.edu

Pencegahan Pencegahan penyakit ini bisa dilakukan sebagai berikut: 1. Dengan memberikan penyuluhan kesehatan yang memadai di daerah endemis (tertular), yaitu: a. Bahwa Guinea worm (infeksi cacing Guinea) ditularkan melalui air minum yang tidak dimasak atau dimasak tidak sempurna.

Makalah Parasitologi

Page 34

b. Penduduk desa yang mempunyai luka di kulit tidak boleh masuk ke daerah yang ada sumber air minumnya. c. Air minum harus sudah dilakukan penyaringan dengan kain (kain kasa yang terbuat dari nilon dengan ukuran lubang 100 m untuk menyaring copepods. 2. Menyediakan air yang dapat diminum. Sumur hendaknya dibuat dinding pada bibirnya untuk menghindari pencemaran. Begitu pula buat konstruksi yang dapat melindungi tempat-tempat penampungan air hujan agar tidak tercemar. 3. Pengawasan terhadap populasi copepods dalam sumber-sumber air, tangki-tangki penampungan air, reservoir dan sumber mata air lainnya dengan menggunakan insektisida temefos (abate) dan hasilnya efektif serta aman terhadap lingkungan. 4. Memberikan imunisasi kepada penduduk yang mempunyai risiko tinggi dengan tetanus toxoid. (Juni Prianto dll, 2003)

Makalah Parasitologi

Page 35