Anda di halaman 1dari 5

PENDEKATAN DALAM HIDROLOGI LINGKUNGAN

Pendahuluan Dalam membicarakan permasalahan mengenai hidrologi ditekankan pada tinjauan menyeluruh komponen-komponen hidrologi, pengaruhnya satu terhadap yang lain serta kaitannya dengan komponen lain di luar jalur hidrologi perlu dilakukan, sehingga pembahasan masalah hidrologi tidak lepas membicarakan msalah DAS (Daerah Aliran Sungai), yang merupakan daerah tangkapan air dengan dibatasi punggungan/igir gunung sehingga air yang jatuh akan tertampung dan mengalir melalui riil-riil sungai dan terpusat menuju pada titik outlet. Hidrologi adalah indikator yang sangat signifikan untuk mengetahui adanya degradasi DAS seperti terjadinya erosi, longsor dan sedimentasi serta distribusi aliran yang tidak seimbang/merata (timbulnya banjir dan kekeringan). Oleh karena itu indikator hidrologi merupakan kunci yang signifikan dan mudah terbaca terhadap terjadinya gangguan ekologi/ degradasi DAS atau sebaliknya dapat menunjukkan adanya peningkatan kualitas/ perbaikan lingkungan DAS. Ada beberapa pendekatan yang dilakukan dalam hidrologi lingkungan, antara lain: 1. Upstream-downstream approach. Pendekatan ini dilakukan dengan cara

mengumpulkan beberapa data dari daerah hulu dan hilir.

Sumber: http://science.kennesaw.edu/~jdirnber/lha/programs/watershed.php

2.

Before-after Approach. Pendekatan ini dapat digunakan untuk menganalisis perubahan land use sebelum dan sesudah, dan ada jangka waktu/periode. Untuk mengetahui adalah dengan dilakukannya Event Based Approach.

3.

Paired Watershed. Pendekatan ini dilakukan dengan membandingkan dan menentukan data hidrologi dari dua atau lebih DAS yang harus berdekatan untuk melihat kesamaan karakteristik.

Pendekatan hidrologi Upstream-Downstream Approach

Kelebihan 1. Bisa membandingkan perubahan lingkungan 1. Wilayah (misal laju erosi) yang terjadi dalam waktu yang bersamaan 2. Lebih terfokus, penelitian yang dilakukan di daerah hulu maupun hilir lebih terarah

Kekurangan cakupan luas karena batasan

wilayahnya tidak pasti 2. Memerlukan peralatan yang relatif lengkap karena adanya karakteristik daerah hulu dan hilir yang berbeda

3. Perubahan lingkungan yang terjadi di daerah 3. Tidak adanya sinkronisasi pengelolaan DAS hilir dapat digunakan untuk memprediksi kejadian yang terjadi di daerah hulu Before-After Approach karena adanya konflik penggunaan lahan (batas administrasi daerah yang berbeda)

1. Karena data berupa time series maka data yang 1. Membutuhkan jangka waktu yang lama dan didapat lebih teliti/valid konsistensi

2. Dapat digunakan untuk menganalisis dampak 2. Ketersediaan data sekunder before yang relatif perubahan lahan 3. Peralatan yang digunakan relatif sederhana tidak lengkap karena belum tentu ada

penelitian sebelumnya

karena penelitian dilakukan pada tempat dan 3. Data hasil penelitian hanya bisa digunakan titik yang sama Paired Watershed untuk wilayah tersebut

1. Sifat- sifat DAS yang satu dengan yang lainnya 1. Sulit mendapatkan dua atau lebih DAS dengan dapat dijadikan panduan/pedoman dalam karakteristik yang sama dan berdekatan dalam ukuran kemiringan lokasi, jenis tanah dan tutupan lahan harus cukup kecil dalam sama untuk dari

mengukur perubahan lingkungan yang telah terjadi

2. Penelitian dapat dikerjakan dalam waktu yang 2. DAS pendek dengan melihat trend 3. Dapat menunjukkan hubungan sebab-akibat dari

mendapatkan seluruh DAS

perlakuan

yang

perubahan lingkungan yang terjadi di dua atau 3. Memiliki kerentanan bencana pada kedua lebih DAS 4. Perbedaan iklim dan hidrologi pada kedua DAS secara periodik dapat terkontrol 5. Data yang didapat dapat digunakan dalam jangka waktu yang lama sistem DAS baik itu pembanding maupun kontrol 4. Diperlukan waktu dan peralatan yang

memadai/banyak untuk mendapatkan data di kedua DAS dalam waktu yang sama

Kesimpulan: Masing-masing pendekatan hidrologi (upstream-downstream approach, before-after, dan paired watershed) mempunyai kekurangan dan kelebihan. Pemilihan metode untuk diterapkan disesuaikan dengan ketersediaan data dan tujuan dari penelitian.