Anda di halaman 1dari 20

POLIGAMI MENURUT HUKUM ISLAM Oleh : Wahyu Rohma Gunawan 43A57006507015 Information Technology KATA PENGANTAR Puji syukur

kami panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas rahmat dab karunia-Nya lah saya dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik dan tepat waktu. Makalah ini saya buat untuk memenuhi tugas mata kuliah "Pendidikan Agama". Makalah ini bertemakan tentang "Munakahat/Pernikahan" dan saya beri juduk "Poligami Menurut Hukum Islam". Judul ini saya ambil karena banyak sekali pendapat-pendapat tentang poligami sebagai sunah atau bukan, dan banyak para lelaki menganggap ini sebagai kewajiban bukan sebagai solusi sebuah masalah pernikahan. Maka dengan ini saya memberanikan diri untuk membahas persoalan ini. Saya menyadari bahwa makalah ini jauh dari kesempurnaan, untuk itu saya harapkan saran dan kritik dari semua pihak agar dapat memacu saya untuk belajar lebih baik lagi. saya ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada pihak-pihak yang telah membantu. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Bekasi, Januari 2009 Hormat Saya, Penulis DAFTAR ISI Cover i Judul ii Kata Pengantar ...iii Daftar Isi iv Bab I Pendahuluan ..1 A. Latar Belakang ..1 B. Maksud dan Tujuan ...3 C. Identifikasi Masalah ..4 Bab II Poligami ...5 Bab III Poligami Menurut Hukum Islam 8 A. Benarkah Poligami Sunah? .......8 B. Nabi dan Larangan Poligami ...10 C. Poligami Tidak Butuh Dukungan Teks ...11 D. Hukum Poligami .13 E. Wanita Dimuliakan Dengan Adanya Poligami ...19 F. Istri Mengizinkan Poligami = Pahala Yang Besar dari Allah .21 G. Hak-hak Istri Dalam Poligami 22 Bab IV Penutup

A. Kesimpulan .....29 B. Saran-saran ..30 Daftar Pustaka BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Suatu saat, tanpa diduga suami Anda menyatakan bahwa dia akan menikahi perempuan lain. Atau bisa juga suami Anda telah menikah secara diam-diam dengan perempuan lain. Artinya, ada istri lain selain Anda dalam kehidupan suami Anda. Banyak perempuan tidak siap menghadapi hal ini. "Siapa sih yang mau dimadu?", demikian pameo yang seringkali terdengar menanggapi poligami ini. Beberapa istri memang kemudian lebih memilih bercerai ketimbang dimadu. Tetapi bagaimana dengan istri yang 'tidak mampu' bercerai (misalnya karena ketergantungan ekonomi pada suaminya). Bagaimana cara yang tepat bila Anda mengalami hal itu. Saat ini poligami merupakan isu yang paling hangat dibicarakan di Indonesia. Poligami selalu saja menimbulkan pro dan kontra, baik dari kalangan umat Islam sendiri maupun orang-orang yang menamakan dirinya sebagai pejuang hak wanita. Golongan yang pro menyandarkan poligami kepada ayat Al-Qur'an yang isinya memperbolehkan seorang pria beristri lebih dari satu orang dengan batas empat orang dengan syarat suami berlaku adil, sedangkan yang kontra menyandarkan bahwa poligami tidak sesuai dengan hak asasi seorang perempuan sebagai istri. Selain itu, ada juga golongan yang berada di antara pro dan kontra. Golongan ini setuju dengan poligami, namun poligami tersebut harus berdasarkan ketentuan yang telah ditetapkan oleh Al-Qur'an dan Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, yaitu dengan memenuhi syarat ada izin dari istri dan pengadilan. Golongan ini beranggapan bahwa UU yang telah ditetapkan oleh pemerintah Indonesia ini merupakan produk Ulil Amri yang berdasarkan Al-Qur'an surat An-Nissa: 59 merupakan salah satu pedoman hidup seorang muslim yang wajib diikuti. Faktanya banyak perceraian yang terjadi di Indonesia diakibatkan oleh poligami. Sebagian besar poligami yang dilakukan hanya memenuhi syarat adil yang telah ditetapkan oleh Al-Qur'an namun tidak melaksanakan poligami berdasarkan ketentuan hukum yang berlaku di Indonesia. Satu langkah tak terduga dari Aa Gym telah membuat para aktivis perempuan gerah. Mereka yang selalu mengelu-elukan kesetaraan gender, emansipasi dan non-poligami ini seperti terbungkam ketika melihat Aa Gym menikah lagi. Reaksi yang muncul pun beragam. Mulai dari yang diam tanda setuju, mendukung, sampai menentang. Menteri Pemberdayaan Perempuan Meutia Hatta pun langsung bereaksi keras, setelah menghadap Presiden, beliau langsung mengumumkan bahwa PP No. 10 thn 1983 akan direvisi. Larangan poligami akan diperluas, tidak hanya bagi PNS, TNI, dan pejabat pemerintah saja, tetapi juga masyarakat luas termasuk

pemuka agama seperti Aa Gym. Dirjen Bimas Islam Departemen Agama, Nazaruddin Umar mengamini hal ini. Dengan dalih syarat poligami bagi suami adalah adil sedangkan dalam al-Quran Surat An-Nisaa' ayat 129 ditegaskan bahwa suami itu tidak akan dapat berlaku adil, dengan argumen ini, poligami menjadi mentah. Untuk memperkuat argumen ini, mereka mengklaim bahwa Presiden SBY dan Ibu Ani Yudhoyono telah menerima ribuan sms di telepon seluler mereka dari wanita-wanita yang resah akan apa yang diperbuat oleh Aa Gym (Kompas, 6/12/06). Ini aneh, ribuan sms bisa masuk nomor ponsel presiden? Kalau bukan dari pesan berantai tentu orang tidak akan tahu nomor ponsel SBY dan Istrinya. Dan pesan berantai itu tentunya dari orang-orang yang ada dalam suatu struktur yang rapi, kalau tidak, nomor ponsel presiden bisa jadi sasaran penipuan berkedok undian berhadiah, kan nggak lucu kalau ada berita seorang presiden tertipu sekian miliar karena sms yang berkedok undian berhadiah. Lagipula jumlahnya hanya ribuan, tidak sebanding dengan ratusan ribu orang diseluruh penjuru Indonesia yang teriak-teriak di tengah jalan untuk menolak kedatangan Bush. Selain itu, yang mengirim sms pun tidak jelas, siapa, pekerjaannya apa, namanya siapa. Berbeda dengan penolakan kedatangan Bush; para Kiayi, Ulama, aktivis dakwah, orang-orang yang alim, ikhlas, gak dibayar, turun kejalan panas-panasan untuk mengatakan yang haq. Apakah iya, SBY lebih mendengar sms yang tidak bersuara daripada para kiayi dan ulama yang berteriak keras menentang kebijakannya? Na'udzubiLlahi min dzalik. Apakah pemimpin negara ini pernah mendengar bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda (yang artinya) : "Sebaik-baik para pemimpin adalah orang-orang yang kalian cintai, dan mereka mencintai kalian; kalian mendoakan mereka dan mereka mendoakan kalian. Dan, seburuk-burk pemimpin kalian adalah orang-orang yang kalian benci mereka dan mereka membenci kalian; kalian melaknat mereka, mereka melaknat kalian."(HR Muslim dan Bayhaqi) B. Maksud dan Tujuan Maksud dubuatnya makalah ini adalah agar kita mengerti arti poligami sebenarnya, tulisan ini mendiskusikan kontroversi mengenai hokum poligami secara islam, apakah sunah nabi yang harus dijalankan atau sunah nabi tapi dijalankan jika terjadi hal-hal yang mengharuskan berpoligami. Kontroversi ini sebenarnya mudah diselesaikan jika kita mau melihat sejarah Nabi Muhammad SAW ketika beliau berpoligami serta hadist-hadist yang diriwayatkan oleh para imam tentang poligami. C. Identifikasi Masalah 1) Benarkah poligami sunah? 2) Nabi dan larangan poligami 3) Poligami tak butuh dukungan teks 4) Hukum poligami 5) Wanita dimuliakan dengan adanya poligami

6) Istri mengizinkan poligami = pahala yang besar dari Allah 7) Hak-hak istri dalam poligami BAB II POLIGAMI Poligami merupakan syariat Islam yang akan berlaku sepanjang zaman hingga hari akhir. Poligami diperbolehkan dengan syarat sang suami memiliki kemampuan untuk adil diantara para istri, sebagaimana pada ayat yang artinya: "Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga, atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya." (QS. An-Nissa: 3) Beberapa agama membenarkan dilakukannya poligami. Hal itu dikuatkan pula dengan ketentuan yang kemudian dijadikan dasar pembenaran (legitimasi) bagi laki-laki untuk melakukan poligami dan bahkan dijadikan penguatan bagi perempuan untuk menerima suaminya berpoligami. Ketentuan tersebut adalah UU No. 7 tahun 1974 tentang Perkawinan pasal 3 ayat 2 yang menyatakan: Pengadilan dapat memberi ijin kepada seorang suami untuk beristeri lebih dari seorang apabila dikehendaki oleh pihak-pihak yang bersangkutan. Artinya seorang suami boleh memiliki istri lebih dari seorang. Tetapi bila kita lihat ayat sebelumnya (pasal 3 ayat 1), yang pada pokoknya menyatakan bahwa seorang laki-laki hanya boleh mempunyai seorang istri, demikian pula seorang istri hanya boleh memiliki seorang suami, maka terlihat ada ketidakkonsistenan antara keduanya. Hal ini memperlihatkan bahwa dalam sebuah institusi perkawinan, posisi tawar perempuan lebih rendah dibanding laki-laki. Poligami adalah sunnah para kekasih Allah: para Nabi, para Rasul, dan para wali. Karena itu, tentulah dalam poligami terdapat hikmah yang luar biasa. Tak mungkin Allah memerintahkan para kekasih-Nya untuk menzhalimi makhluk lain. Salah satunya adalah pendidikan. Tuhan ingin mendidik manusia untuk berlaku adil. Bukan mudah berlaku adil, tetapi adil adalah salah satu sifat taqwa (bahkan yang paling mendekati taqwa) yang ami, dia dilatih untuk bersikap adil dalam keluarga, terhadap 2, 3, atau ke-4 istrinya. Keadilan yang paling utama adalah adil dalam membawa keluarga untuk kenal Tuhan, cinta Tuhan dan takut Tuhan. Suami bertanggung jawab penuh dalam hal tersebut. Ini adalah pendidikan yang luar biasa...bayangkan, kita saja (laki-laki) belum tentu selamat menghadapi pertanyaan hakim yang paling adil di Padang Mahsyar nanti, eh, ini ada beban pula 4 orang yang harus kita kenalkan pada Tuhan. Jika mereka tak kita kenalkan pada Tuhan, mereka berhak menuntut kita di Yaumul Akhir nanti dan itu bisa menyeret kita ke neraka,

seburuk-buruk tempat menetap. Bagi para istri, ini benar-benar sebuah ujian berat: cinta suami atau cinta Tuhan? Ujian ini memang amat berat. Hanya seorang perempuan yang betul-betul beriman saja yang mau mengorbankan perasaannya untuk cinta agung: Allah Yang Maha Tinggi. Sebenarnya untuk perempuan dengan keimanan yang tinggi, poligami justru sangat menguntungkan karena di saat "giliran" bukan milik dia itulah saat untuk berkasih-kasihan dengan Tuhan, suatu zat yang paling berjasa dan paling patut dicintai. Di saat sepi di malam hari itulah kita dapat mengadu pada Allah, sebab jika suami tak poligami, 24 jam sang istri harus melayani suami, melayani suatu makhluk yang sebenarnya hamba Allah juga Poligami sangat mendidik nafsu. Poligami melatih kita berkorban. Surga Allah itu amat mahal. Hanya dapat diperoleh melalui pengorbanan yang besar. Jika untuk satu rumah di dunia saja -yang mungkin hanya kita tempati 20 tahun- kita mampu susah payah mengejarnya, apalagi ini? Rumah di surga itu sangat indah dan kekal, tentulah sangat mahal harganya. Memburu cinta manusia, kita akan merugi karena cinta manusia tak kekal dan mengecewakan. Memburu cinta Tuhan tak akan rugi, bahkan membawa saling berkasih sayang antar manusia. BAB III POLGAMI MENURUT HUKUM ISLAM A. Benarkah Poligami Sunnah? Ungkapan "poligami itu sunah" sering digunakan sebagai pembenaran poligami. Namun, berlindung pada pernyataan itu, sebenarnya bentuk lain dari pengalihan tanggung jawab atas tuntutan untuk berlaku adil karena pada kenyataannya, sebagaimana ditegaskan Al Quran, berlaku adil sangat sulit dilakukan (An-Nisa: 129). Dalil "poligami adalah sunah" biasanya diajukan karena sandaran kepada teks ayat Al Quran (QS An-Nisa, 4: 2-3) lebih mudah dipatahkan. Satu-satunya ayat yang berbicara tentang poligami sebenarnya tidak mengungkapkan hal itu pada konteks memotivasi, apalagi mengapresiasi poligami. Ayat ini meletakkan poligami pada konteks perlindungan terhadap yatim piatu dan janda korban perang. Dari kedua ayat itu, beberapa ulama kontemporer, seperti Syekh Muhammad Abduh, Syekh Rashid Ridha, dan Syekh Muhammad al-Madan --ketiganya ulama terkemuka Azhar Mesir-- lebih memilih memperketat. Lebih jauh Abduh menyatakan, poligami adalah penyimpangan dari relasi perkawinan yang wajar dan hanya dibenarkan secara syar'i dalam keadaan darurat sosial, seperti perang, dengan syarat tidak menimbulkan kerusakan dan kezaliman (Tafsir al-Manar, 4/287). Anehnya, ayat tersebut bagi kalangan yang propoligami dipelintir menjadi "hak penuh" laki-laki untuk berpoligami. Dalih mereka, perbuatan itu untuk mengikuti sunah Nabi Muhammad SAW. Menjadi menggelikan ketika praktik poligami bahkan dipakai sebagai tolok ukur

keislaman seseorang: semakin aktif berpoligami dianggap semakin baik poisisi keagamaannya. Atau, semakin bersabar seorang istri menerima permaduan, semakin baik kualitas imannya. Slogan-slogan yang sering dimunculkan misalnya, "poligami membawa berkah," atau "poligami itu indah," dan yang lebih populer adalah "poligami itu sunah." Dalam definisi fikih, sunah berarti tindakan yang baik untuk dilakukan. Umumnya mengacu kepada perilaku Nabi. Namun, amalan poligami, yang dinisbatkan kepada Nabi, ini jelas sangat distorsif. Alasannya, jika memang dianggap sunah, mengapa Nabi tidak melakukannya sejak pertama kali berumah tangga? Nyatanya, sepanjang hayatnya, Nabi lebih lama bermonogami daripada berpoligami. Bayangkan, monogami dilakukan Nabi di tengah masyarakat yang menganggap poligami adalah lumrah. Rumah tangga Nabi SAW bersama istri tunggalnya, Khadijah binti Khuwalid RA, berlangsung selama 28 tahun. Baru kemudian, dua tahun sepeninggal Khadijah, Nabi berpoligami. Itu pun dijalani hanya sekitar delapan tahun dari sisa hidup beliau. Dari kalkulasi ini, sebenarnya tidak beralasan pernyataan "poligami itu sunah". Sunah, seperti yang didefinisikan Imam Syafi'i (w. 204 H), adalah penerapan Nabi SAW terhadap wahyu yang diturunkan. Pada kasus poligami Nabi sedang mengejawantahkan Ayat An-Nisa 2-3 mengenai perlindungan terhadap janda mati dan anak-anak yatim. Dengan menelusuri kitab Jami' al-Ushul (kompilasi dari enam kitab hadis ternama) karya Imam Ibn al-Atsir (544-606H), kita dapat menemukan bukti bahwa poligami Nabi adalah media untuk menyelesaikan persoalan sosial saat itu, ketika lembaga sosial yang ada belum cukup kukuh untuk solusi. Bukti bahwa perkawinan Nabi untuk penyelesaian problem sosial bisa dilihat pada teks-teks hadis yang membicarakan perkawinan-perkawinan Nabi. Kebanyakan dari mereka adalah janda mati, kecuali Aisyah binti Abu Bakr RA. Selain itu, sebagai rekaman sejarah jurisprudensi Islam, ungkapan "poligami itu sunah" juga merupakan reduksi yang sangat besar. Nikah saja, menurut fikih, memiliki berbagai predikat hukum, tergantung kondisi calon suami, calon istri, atau kondisi masyarakatnya. Nikah bisa wajib, sunah, mubah (boleh), atau sekadar diizinkan. Bahkan, Imam al-Alusi dalam tafsirnya, Rh al-Ma'ni, menyatakan, nikah bisa diharamkan ketika calon suami tahu dirinya tidak akan bisa memenuhi hak-hak istri, apalagi sampai menyakiti dan mencelakakannya. Demikian halnya dengan poligami. Karena itu, Muhammad Abduh dengan melihat kondisi Mesir saat itu, lebih memilih mengharamkan poligami. B. Nabi dan Larangan Poligami Dalam kitab Ibn al-Atsir, poligami yang dilakukan Nabi adalah upaya transformasi sosial (lihat pada Jmi' al-Ushl, juz XII, 108-179). Mekanisme poligami yang diterapkan Nabi merupakan strategi untuk meningkatkan kedudukan perempuan dalam tradisi feodal Arab pada abad ke-7 Masehi. Saat itu, nilai sosial seorang perempuan dan janda

sedemikian rendah sehingga seorang laki-laki dapat beristri sebanyak mereka suka. Sebaliknya, yang dilakukan Nabi adalah membatasi praktik poligami, mengkritik perilaku sewenang-wenang, dan menegaskan keharusan berlaku adil dalam berpoligami. Ketika Nabi melihat sebagian sahabat telah mengawini delapan sampai sepuluh perempuan, mereka diminta menceraikan dan menyisakan hanya empat. Itulah yang dilakukan Nabi kepada Ghilan bin Salamah ats-Tsaqafi RA, Wahb al-Asadi, dan Qais bin al-Harits. Dan, inilah pernyataan eksplisit dalam pembatasan terhadap kebiasan poligami yang awalnya tanpa batas sama sekali. Pada banyak kesempatan, Nabi justru lebih banyak menekankan prinsip keadilan berpoligami. Dalam sebuah ungkapan dinyatakan: "Barangsiapa yang mengawini dua perempuan, sedangkan ia tidak bisa berbuat adil kepada keduanya, pada hari akhirat nanti separuh tubuhnya akan lepas dan terputus" (Jmi' al-Ushl, juz XII, 168, nomor hadis: 9049). Bahkan, dalam berbagai kesempatan, Nabi SAW menekankan pentingnya bersikap sabar dan menjaga perasaan istri. C. Poligami Tidak Butuh Dukungan Teks Sebenarnya, praktik poligami bukanlah persoalan teks, berkah, apalagi sunah, melainkan persoalan budaya. Dalam pemahaman budaya, praktik poligami dapat dilihat dari tingkatan sosial yang berbeda. Bagi kalangan miskin atau petani dalam tradisi agraris, poligami dianggap sebagai strategi pertahanan hidup untuk penghematan pengelolaan sumber daya. Tanpa susah payah, lewat poligami akan diperoleh tenaga kerja ganda tanpa upah. Kultur ini dibawa migrasi ke kota meskipun stuktur masyarakat telah berubah. Sementara untuk kalangan priayi, poligami tak lain dari bentuk pembendamatian perempuan. Ia disepadankan dengan harta dan takhta yang berguna untuk mendukung penyempurnaan derajat sosial lelaki. Dari cara pandang budaya memang menjadi jelas bahwa poligami merupakan proses dehumanisasi perempuan. Mengambil pandangan ahli pendidikan Freire, dehumanisasi dalam konteks poligami terlihat mana kala perempuan yang dipoligami mengalami self-depreciation. Mereka membenarkan, bahkan bersetuju dengan tindakan poligami meskipun mengalami penderitaan lahir batin luar biasa. Tak sedikit di antara mereka yang menganggap penderitaan itu adalah pengorbanan yang sudah sepatutnya dijalani, atau poligami itu terjadi karena kesalahannya sendiri. Dalam kerangka demografi, para pelaku poligami kerap mengemukakan argumen statistik. Bahwa apa yang mereka lakukan hanyalah kerja bakti untuk menutupi kesenjangan jumlah penduduk yang tidak seimbang antara lelaki dan perempuan. Tentu saja argumen ini malah menjadi bahan tertawaan. Sebab, secara statistik, meskipun jumlah perempuan sedikit lebih tinggi, namun itu hanya terjadi pada usia di atas 65 tahun atau di bawah 20 tahun. Bahkan, di dalam kelompok umur 25-29 tahun, 30-34 tahun, dan 45-49 tahun jumlah lelaki lebih tinggi. (Sensus DKI dan

Nasional tahun 2000; terima kasih kepada lembaga penelitian IHS yang telah memasok data ini). Namun, jika argumen agama akan digunakan, maka sebagaimana prinsip yang dikandung dari teks-teks keagamaan itu, dasar poligami seharusnya dilihat sebagai jalan darurat. Dalam kaidah fikih, kedaruratan memang diperkenankan. Ini sama halnya dengan memakan bangkai; suatu tindakan yang dibenarkan manakala tidak ada yang lain yang bisa dimakan kecuali bangkai. Dalam karakter fikih Islam, sebenarnya pilihan monogami atau poligami dianggap persoalan parsial. Predikat hukumnya akan mengikuti kondisi ruang dan waktu. Perilaku Nabi sendiri menunjukkan betapa persoalan ini bisa berbeda dan berubah dari satu kondisi ke kondisi lain. Karena itu, pilihan monogami-poligami bukanlah sesuatu yang prinsip. Yang prinsip adalah keharusan untuk selalu merujuk pada prinsip-prinsip dasar syariah, yaitu keadilan, membawa kemaslahatan dan tidak mendatangkan mudarat atau kerusakan (mafsadah). Dan, manakala diterapkan, maka untuk mengidentifikasi nilai-nilai prinsipal dalam kaitannya dengan praktik poligami ini, semestinya perempuan diletakkan sebagai subyek penentu keadilan. Ini prinsip karena merekalah yang secara langsung menerima akibat poligami. Dan, untuk pengujian nilai-nilai ini haruslah dilakukan secara empiris, interdisipliner, dan obyektif dengan melihat efek poligami dalam realitas sosial masyarakat. Dan, ketika ukuran itu diterapkan, sebagaimana disaksikan Muhammad Abduh, ternyata yang terjadi lebih banyak menghasilkan keburukan daripada kebaikan. Karena itulah Abduh kemudian meminta pelarangan poligami. Dalam konteks ini, Abduh menyitir teks hadis Nabi SAW: "Tidak dibenarkan segala bentuk kerusakan (dharar) terhadap diri atau orang lain." (Jmi'a al-Ushl, VII, 412, nomor hadis: 4926). Ungkapan ini tentu lebih prinsip dari pernyataan "poligami itu sunah". D. Hukum Poligami Hukum Poligami (Ta'addudi al-Zaujat) menurut jumhur ulama adalah mubah (boleh). Berikut ayat al-Quran yang membahas tentang hal ini, Allah subhanahu wa ta'ala berfirman (yang artinya) : "Nikahilah oleh kalian wanita-wanita (lain) yang kamu senangi dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (nikahilah) seorang saja, atau kalian nikahi budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat pada sikap tidak berbuat aniaya." (TQS an-Nisaa' [4]: 3) Ayat ini diturunkan kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pada tahun kedelapan hijriyah. Ayat ini pada dasarnya ditujukan untuk membatasi jumlah istri maksimal empat orang saja. Sebelum ayat ini diturunkan, jumlah istri bagi seorang pria tidak ada batasnya. Dengan menyimak dan memahami ayat ini, tampak jelas bahwa ayat ini diturunkan untuk membatasi jumlah istri hingga hanya empat orang saja.

Kebolehan poligami tidak bergantung kepada adil, karena adil bukanlah merupakan syarat poligami. Sebab Allah subhanahu wa ta'ala telah menjelaskan dengan sangat gamblang tentang hal ini : "Nikahilah oleh kalian wanita-wanita (lain) yang kamu senangi dua, tiga atau empat." (TQS an-Nisaa' [4]: 3) Ayat ini menunjukkan dengan jelas bolehnya poligami secara mutlak. Kalimat itu telah selesai (sempurna) dan berdiri sendiri. Selanjutnya dimulai kalimat baru (kalaam musta'niif) dengan makna baru: "Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (nikahilah) seorang saja, atau kalian nikahi budak-budak yang kamu miliki." (TQS an-Nisaa' [4]: 3) Kalimat dalam ayat ini bukanlah kalimat persyaratan. Sebab, kalimat ini bergabung dengan kalimat sebelumnya, tetapi sekadar kalaam musta'niif (kalimat permulaan). Seandainya hal ini adalah kalimat persyaratan, tentu akan berbunyi : Nikahilah wanita-wanita (lain) yang kalian senangi dua, tiga atau empat jika kalian dapat berlaku adil. Akan tetapi kata-kata semacam itu tidak ada, sehingga aspek keadilan secara pasti, bukanlah syarat. Susunan kalimat semacam ini menunjukkan dengan jelas, bahwa keadilan bukanlah syarat untuk menikahi wanita lebih dari seorang. Kalimat pertama menunjukkan hukum syariat yang berbeda dengan kalimat kedua. Kalimat pertama menujukkan hukum bolehnya berpoligami sebatas empat orang saja, sedangkan kalimat kedua menunjukkan hukum lain, yaitu lebih disukai untuk menikahi seorang saja jika dengan berpoligami itu akan menyebabkan suami tidak bisa berlaku adil diantara mereka. Akan tetapi ayat kedua ini sama sekali tidak menafikkan (meniadakan) pengertian ayat yang pertama. Sehingga dengan jelas dapat disimpulkan bahwa adil bukanlah syarat bagi poligami. Siapapun yang menafsirkan bahwa keadilan merupakan syarat untuk berpoligami, berarti ia telah menfsirkan al-Quran dengan gegabah dan telah menyimpangkan penafsiran yang benar. Perlu diketahui juga bahwa kerelaan istri untuk dimadu bukanlah syarat dalam pembolehan poligami. Ini adalah pendapat Syaikh Abdul Aziz bin AbduLlah bin Baz dalam fatwanya di Majalah Arobiyah, Edisi 168, Muharram, 1412 H/Agustus 1991M. Menyoal Penolakan Terhadap Poligami. Ada sementara orang yang berpendapat bahwa poligami tidak disyariatkan dalam Islam. Mereka berargumentasi bahwa adil merupakan syarat bagi poligami, padahal dalam ayat yang lain dinaytakan bahwa mansuia (suami) tidak akan pernah berbuat adil. Ayat yang dimaksud adalah ayat berikut (yang artinya) : "Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara istriistri (mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung. Dan jika kamu mengadakan perbaikan dan memelihara diri (dari kecurangan), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (TQS an-Nisaa' [4]: 129)

Ibnu Abbas r.a. Berpendapat bahwa ayat ini berkenaan dalam hal rasa cinta dan jima' (persetubuhan). Muhammad bin Sirin berkata, "saya pernah bertanya mengenai ayat ini kepada Ubaidah, kemudian ia menjawab, "Kasih sayang dan jima''. Dengan demikian, suami telah diwanti-wanti oleh Allah bahwa mereka tidak akan dapat berlaku adil dalam masalah cinta kasih sayang dan jima'. Oleh karena itu, dalam dua perkara ini (cinta kasih sayang dan jima'), tidak ada kewajiban untuk berlaku adil, karena manusia tidak sanggup berlaku adil dalam perkara ini. Adapun perintah agar seorang suami berlaku adil kepada istri-istrinya adalah perintah berlaku adil dalam hal selain keduanya (kasih sayang dan jima'), seperti dalam masalah-masalah fisik, pembagian nafkah, menggilir mereka, atau menyantuni mereka, pakaian, tempat tinggal,dll. Atau keadilan sebatas kemampuan dan potensi diri suami yang telah mengerahkan segala kemampuan dan potensi diri. Sedangkan larangan condong yang terlalu berlebihan bukan berarti dilarang condong kepada salah seorang istri. Kecondongan berlebihan yang kepada salah seorang istri sehingga yang lain terkatung-katung dan terzalimi merupakan sikap yang dilarang. Oleh karena itu, pengertian QS an-Nisaa' [4] ayat 129 tersebut adalah : Jauhilah sikap condong yang berlebihan (atau kecondongan mutlak) kepada salah seorang istri kalian. Selain ayat diatas, ada segelintir orang yang memotong suatu hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim tentang kisah Ali Bin Abi Thalib r.a. ketika dia meminang putri Abu Jahal. Pada waktu itu, Ali r.a. telah beristrikan Fatimah binti Rasulullah shallallahu a'alaihi wa sallam. Saat itu Ali r.a. meminta izin kepada RasuluLlah shallallahu 'alaihi wa sallam untuk menikahi putri Abu Jahal, Lalu Rasul shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : "Tidak aku izinkan, tidak aku izinkan, tidak aku izinkan, kecuali Ali bin Abi Thalib rela untuk menceraikan putriku dan menikahi putrinya Abu Jahal. Sesungguhnya fatimah adalah darah dagingku, menyenangkanku apa yang menyenangkan- nya, meyakiti-ku apa yang menyakiti-nya." Jika dilihat sampai disini, maka terlihat bahwa Rasul shallallahu 'alaihi wa sallam melarang Ali bin Abi Thalib melakukan poligami. Sehingga hadits ini sering dijadikan hujjah bagi segelintir orang yang mengharamkan poligami. Sungguh, ini adalah perbuatan yang mempermainkan agama dan lari dari Allah dan Rasul-Nya karena mereka tidak mengungkapkan secara keseluruhan hadits Rasul shallallahu 'alaihi wa sallam diatas. Lanjutan dari sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam diatas adalah: "Sungguh aku tidaklah mengharamkan sesuatu yang halal, dan menghalalkan sesuatu yang haram. Akan tetapi, demi Allah, tidak akan putri Rasulullah berkumpul dengan putri musuh Allah subhanahu wa ta'ala dalam suatu tempat selama-lamanya" Padahal sabda Rasul shallallahu 'alaihi wa sallam yang terakhir inilah

yang menjadi penggugur hujjah para penentang poligami. Dalam penggalan terakhir ini Rasul shallallahu 'alaihi wa sallam menyatakan dengan bahasa arab yang mubin (jelas dan fasih) di dalam lembutnya tutur kata beliau mengenai hal yang menimpa orang yang paling beliau cintai, yakni putrinya Sayidah Fatimah az-Zahra. Kalimat "Sungguh aku tidaklah mengharamkan sesuatu yang halal, dan menghalalkan sesuatu yang haram", layaknya cukup menjadi penggugur hujjah orang-orang yang mengharamkan poligami, karena Rasul shallallahu 'alaihi wa sallam telah mengetahui bahwa poligami itu mubah, tetapi pelarangan Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam kepada Ali r.a. yang ingin menikahi putri Abu Jahal bukanlah perintah untuk mengahramkan poligami. Melainkan perintah untuk tidak mengumpulkan putri RasuluLlah shallallahu 'alaihi wa sallam dengan putri musuh Allah subhanahu wa ta'ala di bawah lindungan seorang lelaki. Ini dapat dipahami dari kalimat selanjutnya yaitu "Akan tetapi, demi Allah, tidak akan putri Rasulullah berkumpul dengan putri musuh Allah subhanahu wa ta'ala dalam suatu tempat selama-lamanya". Oleh sebab itu, hadits ini bukanlah membicarakan pelarangan poligami, melainkan ketidak-sudian Rasul shallallahu 'alaihi wa sallam jika putrinya berada didalam suatu tempat (lindungan seorang lelaki) bersama putri musuh Allah subhanahu wa ta'ala. Jadi ketidak-sudian Rasul shallallahu 'alaihi wa sallam hanya ditujukan khusus kepada putri Rasul shallallahu 'alaihi wa sallam (dalam hal ini Fatimah az-Zahra) dan putri musuh Allah subhanahu wa ta'ala (dalam hal ini Putri Abu Jahal) dalam suatu naungan seorang suami selama-lamanya, tidak kepada yang lain. Sehingga pada titik ini gugurlah sudah hujjah para penghina Sunnah, yang telah memotong-motong hadits dengan akal mereka agar sesuai dengan pemahaman bathil yang mereka yakini. Konsekuensinya, maka poligami mubah tanpa persyaratan keadilan, dan keadilan yang harus dilaksanakan adalah keadilan dalam hal-hal fisik, bukan dalam hal kasih sayang dan jima' (persetubuhan) . Poligami Pada Masa Rasul shallallahu 'alaihi wa sallam dan Sahabat Ibnu Hisyam menuturkan dalam Sirahnya bahwa total istri Rasul shallallahu 'alaihi wa sallam ada tigabelas. Dua orang meninggal sebelum Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam wafat, yaitu Khadijah binti Khuwailid dan Zainab binti Khuzaimah. Dua istri yang tidak digauli RasuluLlah shallallahu 'alaihi wa sallam dan dikembalikan kepada keluarganya adalah Asma' binti an-Nu'man al-Kindiyah dan Amrah binti Yazid al-Kilabiyah. Sedangkan sembilan orang istri RasuluLlah shallallahu 'alaihi wa sallam yang masih hidup sepeninggal beliau adalah Aisyah binti Abu Bakar, Hafshah binti Umar bin Khaththab, Ummu Habibah binti Abu Sufyan bin Harb, Ummu Salamah binti Abu Umaiyah bin al-Mughirah, Saudah binti Zam'ah bin Qais, Zainab binti Jahsy bin Riab, Maimunah binti al-Harits bin Hazn, Juwairiyah binti al-Harits bin Abu Dhihar, dan Shafiyah binti Huyai bin Akhthab. Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Fath al-Baari menyatakan, "Para ulama telah bersepakat bahwa menikah lebih dari empat wanita merupakan bagian dari

kekhususan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ( Lihat: Imam as-Syaukani, "Kitab an-Nikah," Nayl al-Authar, hlm. 268)[19] Kebolehan poligami juga telah masyhur dikalangan sahabat, tabi'in, tabi' at-tabi'in dan para Imam Mazhab. Bahkan RasuluLlah memberikan motivasi kepada umatnya untuk memperbanyak istri. Hal itu telah dipahami oleh para shahabatnya, hingga Ibn Abbas r.a. berkata : "Menikahlah, sesungguhnya orang terbaik dari umat ini (RasuluLlah) menjadi orang yang paling banyak istrinya" (HR al-Bukhari) Karena itu, kita tidak mendapati seorang sahabatpun yang mencukupkan diri menikah hanya dengan seorang istri, kecuali hanya segelintir orang saja. Kita bisa mengambil suri tauladan dari para Sahabat r.a. sungguh banyak dari mereka yang melakukan poligami sejak usia muda. Begitupula halnya dengan pemuda-pemuda yang shalih dalam masyarakat Islam yang memiliki kemampuan mengikuti Sunnah. Mereka telah membuktikan tawazun (keseimbangan) antara kebahagiaan diri mereka dan kebahagiaan istri-istri mereka, serta mengharapkan ridho dari Allah subhanahu wa ta'ala. Itu juga yang nampaknya diperlihatkan oleh KH AbduLlah Gymnastiar, insya Allah. Senang sekali rasanya ketika beliau mengatakan bahwa hal ini (poligami) adalah cobaan baginya, apakah dakwahnya selama ini untuk mencari ridho Allah atau untuk mencari popularitas. Wajar saja jika popularitas Aa Gym akan turun, karena masyarakat saat ini adalah masyarakat yang Sekuler, yaitu masyarakat yang memisahkan agama (Islam) dari kehidupan. Islam hanya ditaruh dipojok-pojok masjid, dilemari-lemari buku. Islam tidak difahami lalu dilaksanakan, tetapi dimengerti lalu dilupakan, mereka pasti mengerti jika poligami itu mubah, tetapi akal-akal dan emosi telah menyelimuti hati dan pikiran mereka hingga pandangan mereka jauh dari apa yang telah dikatakan oleh Allah dan Rasul-Nya. E. Wanita Dimuliakan Dengan Adanya Poligami Menurut Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani rahimahuLlah setidaknya ada 5 problem yang terpecahkan oleh karena adanya poligami. Dan solusi dari poligami terhadap kelima masalah ini ternyata betul-betul menghargai dan membawa wanita pada derajat yang mulia. Kelima problem tersebut antara lain : 1. Ditemukannya tabiat yang tidak biasa pada sebagian pria, yakni tidak merasa puas hanya dengan memiliki seorang istri. 2. Sering dijumpai adanya wanita (istri) yang mandul, tidak memiliki anak. Akan tetapi, ia tetap menaruh rasa cinta di dalam kalbunya kepada suaminya, dan suaminyapun tetap menaruh rasa cinta didalam hatinya kepada istrinya. 3. Kadang-kadang ditemukan adanya seorang istri yang menderita sakit sehingga tidak memungkinkan baginya melakukan hubungan suami istri, atau tidak dapat melakukan yang semestinya terhadap rumah tangga, suami, dan anak-anaknya. 4. Terjadinya banyak peperangan atau pergolakan fisik yang telah

mengakibatkan jatuhnya korban berupa ribuan, bahkan jutaan, kaum pria. 5. Acapkali ditemukan bahwa tingkat pertumbuhan penduduk laki-laki dan perempuan suatu umat, bangsa, atau belahan dunia tertentu tidak seimbang. Kadang-kadang jumlah kaum perempuannya lebih banyak ketimbang jumlah laki-lakinya. Ketika poin lima (5) yang terjadi, sedangkan pria yang mempunyai tabiat pada poin satu (1) semakin banyak, oleh karena wanita-wanita pada poin dua dan tiga (2&3) pun semakin banyak dijumpai sedangkan poligami tidak diperbolehkan, maka akan terjadi pelacuran, perzinaan, kemaksiayatan, perselingkuhan yang akan mewabah ditengah-tengah masyarakat, wanita-wanita dihempaskan kepojok-pojok selokan, dihargai tidak lebih dari dua keping mata uang, dan disiksa bagaikan hewan-hewan piaraan. Inilah masa dimana wanita terlepas dari kemuliaannya. Sedangkan ketika poligami dibolehkan, maka wanita-wanita diangkat derajatnya menjadi seorang istri yang sah dimata Allah, agama, dan masyarakat. Wanita itu akan dimuliakan oleh suaminya yang mencintainya karena Allah, dan disayangi sebagaimana sayangnya suami kepada dirinya sendiri. Allahpun akan memberikan ganjaran yang besar karena ketaaatannya kepada suami, begitu juga masyrakatpun tidak akan menganggapnya sebagai wanita simpanan, karena ia adalah istri yang sah dari seorang pria. Meskipun demikian, kelima poin diatas hanyalah problem-problem yang akan terpecahkan karena diperbolehkannya poligami. Problem-problem diatas bukanlah 'illat (penyebab) diperbolehkannya poligami, sehingga poligami tetap diperbolehkan walaupun salah satu dari kelima problem diatas tidak ditemukan. Dengan kata lain, boleh atau tidaknya melakukan poligami harus didasarkan pada nash-nash syariat, bukan atas dasar sebab-sebab diatas. Sehingga benar sekali pernyataan Aa Gym bahwa melarang poligami justru bertentangan dengan al-Quran. F. Istri Mengizinkan Poligami = Pahala Yang Besar dari Allah Berat memang, ketika cinta seorang suami tidak lagi seutuh saat hanya dia seorang yang menjadi istrinya. Namun apalah artinya kecemburuan kepada suami ketika Allah lebih cemburu kepadanya karena kecintaanya kepada suami melebihi cintanya kepada Allah. Begitulah kira-kira ungkapan hati seorang Teh Ninih, istri pertama Aa Gym, diwaktu jumpa pers setelah Aa menikah untuk yang kedua kalinya. Ini sungguh ucapan yang mulia, kita lihat betapa Aa Gym merasa tertunduk haru ketika mendengar perkataan istrinya. Bangga, cinta dan sayang yang semakin mengental kepada istrinya, begitulah kira-kira perasaan Aa ketika mendengar akan hal ini. Setiap pria bertakwa tentu akan merasakan hal yang sama. Teh Ninih juga memahami dan menyadari dengan sepenuh hati bahwa kebolehan poligami adalah hukum Allah, dan hukum Allah pastilah hukum terbaik yang akan membawa kemaslahatan bagi umat manusia. Ketaatannya kepada hukum Allah-lah yang membuat ia rela diduakan, dan inilah yang

akan membuat Allah melimpahkan pahala yang sangat besar. Betapa tidak, ketaatan kepada Allah dan suami dan mengakui hak-haknya (seperti kebolehan poligami) akan membuat seorang wanita mendapat pahala yang besar, bahkan setara dengan pahala berperang dijalan Allah subhanahu wa ta'ala. Ibnu Abbas meriwayatkan sebuah hadits sebagai berikut : Sesungguhnya pernah ada seorang perempuan datang kepada RasuluLlah shallallahu 'alihi wa sallam, lalu ia berkata, "Wahai Rasulullah, saya ini utusan dari kaum perempuan kepadamu. Jihad (perang) diwajibkanAllah keapda kaum laki-laki. Jika mereka menang, mereka mendapatkan pahala; jika mereka terbunuh, mereka masih tetap hidup di sisi Tuhan mereka lagi mendapat rezeki, sementara kami, kaum perempuan membantu mereka. Lalu apa bagian bagi kami dalam hal ini?" RasuluLlah shallallahu 'alaihi wa sallah bersabda (yang artinya), "Sampaikanlah kepada perempuan-perempuan yang kamu temui, bahwa taat kepada suami dan mengakui hak-haknya adalah sama dengan itu (jihad di jalan Allah)." ((Diterjemahkan secara bebas, HR. Ibnu Abdil bar)) G. Hak-hak Istri Dalam Poligami Diantara hak setiap istri dalam poligami adalah sebagai berikut: 1) Memiliki rumah sendiri Setiap istri memiliki hak untuk mempunyai rumah sendiri. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam surat Al Ahzab ayat 33, yang artinya, "Menetaplah kalian (wahai istri-istri Nabi) di rumah-rumah kalian." Dalam ayat ini Allah Azza wa Jalla menyebutkan rumah Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dalam bentuk jamak, sehingga dapat dipahami bahwa rumah beliau tidak hanya satu. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari, Aisyah Radhiyallahu 'Anha menceritakan bahwa ketika Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam sakit menjelang wafatnya, beliau Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bertanya, "Dimana aku besok? Di rumah siapa?' Beliau Shallallahu 'Alaihi wa Sallam menginginkan di tempat Aisyah Radhiyallahu 'Anha, oleh karena itu istri-istri beliau mengizinkan beliau untuk dirawat di mana saja beliau menginginkannya, maka beliau dirawat di rumah Aisyah sampai beliau wafat di sisi Aisyah. Beliau Shallallahu 'Alaihi wa Sallam meninggal di hari giliran Aisyah. Allah mencabut ruh beliau dalam keadaan kepada beliau bersandar di dada Aisyah Radhiyallahu 'Anha. Ibnu Qudamah rahimahullah menjelaskan dalam kitab Al Mughni bahwasanya tidak pantas seorang suami mengumpulkan dua orang istri dalam satu rumah tanpa ridha dari keduanya. Hal ini dikarenakan dapat menjadikan penyebab kecemburuan dan permusuhan di antara keduanya. Masing-masing istri dimungkinkan untuk mendengar desahan suami yang sedang menggauli istrinya, atau bahkan melihatnya. Namun jika para istri ridha apabila mereka dikumpulkan dalam satu rumah, maka tidaklah mereka. Bahkan jika keduanya ridha jika suami mereka tidur diantara kedua istrinya dalam satu selimut tidak mengapa. Namun seorang suami tidaklah boleh menggauli istri yang satu di hadapan istri yang lainnya meskipun ada

keridhaan diantara keduanya. Tidak boleh mengumpulkan para istri dalam satu rumah kecuali dengan ridha mereka juga merupakan pendapat dari Imam Qurthubi di dalam tafsirnya dan Imam Nawawi dalam Al Majmu Syarh Muhadzdzab. 2) Menyamakan para istri dalam masalah giliran Setiap istri harus mendapat jatah giliran yang sama. Imam Muslim meriwayatkan hadits yang artinya Anas bin Malik menyatakan bahwa Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam memiliki 9 istri. Kebiasaan beliau Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bila menggilir istri-istrinya, beliau mengunjungi semua istrinya dan baru behenti (berakhir) di rumah istri yang mendapat giliran saat itu. Ketika dalam bepergian, jika seorang suami akan mengajak salah seorang istrinya, maka dilakukan undian untuk menentukan siapa yang akan ikut serta dalam perjalanan. Imam Bukhari meriwayatkan bahwa Aisyah Radhiyallahu 'Anha menyatakan bahwa apabila Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam hendak safar, beliau mengundi di antara para istrinya, siapa yang akan beliau Shallallahu 'Alaihi wa Sallam sertakan dalam safarnya. Beliau Shallallahu 'Alaihi wa Sallam biasa menggilir setiap istrinya pada hari dan malamnya, kecuali Saudah bintu Zam'ah karena jatahnya telah diberikan kepada Aisyah Radhiyallahu 'Anha. Imam Ibnul Qoyyim menjelaskan bahwa seorang suami diperbolehkan untuk masuk ke rumah semua istrinya pada hari giliran salah seorang dari mereka, namun suami tidak boleh menggauli istri yang bukan waktu gilirannya. Seorang istri yang sedang sakit maupun haid tetap mendapat jatah giliran sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, bahwa Aisyah Radhiyallahu 'Anha menyatakan bahwa jika Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam ingin bermesraan dengan istrinya namun saat itu istri Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam sedang haid, beliau memerintahkan untuk menutupi bagian sekitar kemaluannya. Syaikh Abdurrahman Nashir As Sa'dy rahimahullah, ulama besar dari Saudi Arabia, pernah ditanya apakah seorang istri yang haid atau nifas berhak mendapat pembagian giliran atau tidak. Beliau rahimahullah menyatakan bahwa pendapat yang benar adalah bagi istri yang haid berhak mendapat giliran dan bagi istri yang sedang nifas tidak berhak mendapat giliran. Karena itulah yang berlaku dalam adat kebiasaan dan kebanyakan wanita di saat nifas sangat senang bila tidak mendapat giliran dari suaminya. 3) Tidak boleh keluar dari rumah istri yang mendapat giliran menuju rumah yang lain Seorang suami tidak boleh keluar untuk menuju rumah istri yang lain yang bukan gilirannya pada malam hari kecuali keadaan darurat. Larangan ini disimpulkan dari hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim yang menceritakan bahwa ketika Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam di rumah Aisyah Radhiyallahu 'Anha, tidak lama setelah

beliau berbaring, beliau bangkit dan keluar rumah menuju kuburan Baqi sebagaimana diperintahkan oleh Jibril alaihi wa sallam. Aisyah Radhiyallahu 'Anha kemudian mengikuti beliau karena menduga bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam akan pergi ke rumah istri yang lain. Ketika Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam pulang dan mendapatkan Aisyah Radhiyallahu 'Anha dalam keadaan terengah-engah, beliau Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bertanya kepada Aisyah Radhiyallahu 'Anha, "Apakah Engkau menyangka Allah dan Rasul-Nya akan berbuat tidak adil kepadamu?" Imam Ibnu Qudamah Rahimahullah menyatakan tidak dibolehkannya masuk rumah istri yang lain di malam hari kecuali darurat, misalnya si istri sedang sakit. Jika suami menginap di rumah istri yang bukan gilirannya tersebut, maka dia harus mengganti hak istri yang gilirannya diambil malam itu. Apabila tidak menginap, maka tidak perlu menggantinya. Syaikh Abdurrahman Nashir As Sa'dy rahimahullah pernah ditanya tentang hukum menginap di rumah salah satu dari istrinya yang tidak pada waktu gilirannya. Beliau rahimahullah menjawab bahwa dalam hal tersebut dikembalikan kepada 'urf, yaitu kebiasaan yang dianggap wajar oleh daerah setempat. Jika mendatangi salah satu istri tidak pada waktu gilirannya, baik waktu siang atau malam tidak dianggap suatu kezaliman dan ketidakadilan, maka hal tersebut tidak apa-apa. Dalam hal tersebut, urf sebagai penentu karena masalah tersebut tidak ada dalilnya. 4) Batasan Malam Pertama Setelah Pernikahan Imam Bukhari meriwayatkan dari Anas Radhiyallahu 'Anhu bahwa termasuk sunnah bila seseorang menikah dengan gadis, suami menginap selama tujuh hari, jika menikah dengan janda, ia menginap selama tiga hari. Setelah itu barulah ia menggilir istri-istri yang lain. Dalam hadits riwayat Muslim disebutkan bahwa Ummu Salamah Radhiyallahu 'Anha mengkhabarkan bahwa ketika Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam menikahinya, beliau menginap bersamanya selama tiga hari dan beliau bersabda kepada Ummu Salamah, "Hal ini aku lakukan bukan sebagai penghinaan kepada keluargamu. Bila memang engkau mau, aku akan menginap bersamamu selama tujuh hari, namun aku pun akan menggilir istri-istriku yang lain selama tujuh hari." 5) Wajib menyamakan nafkah Setiap istri memiliki hak untuk mempunyai rumah sendiri-sendiri, hal ini berkonsekuensi bahwa mereka makan sendiri-sendiri, namun bila istri-istri tersebut ingin berkumpul untuk makan bersama dengan keridhaan mereka maka tidak apa-apa. Ibnu Taimiyah menyatakan bahwa bersikap adil dalam nafkah dan pakaian menurut pendapat yang kuat, merupakan suatu kewajiban bagi seorang suami. Imam Ahmad meriwayatkan bahwa Anas bin Malik Radhiyallahu 'Anhu mengabarkan bahwa Ummu Sulaim mengutusnya menemui Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dengan membawa kurma sebagai hadiah untuk beliau Shallallahu 'Alaihi wa Sallam. Kemudian kurma tersebut

untuk dibagi-bagikan kepada istri-istri beliau segenggam-segenggam. Bahkan ada keterangan yang dibawakan oleh Jarir bahwa ada seseorang yang berpoligami menyamakan nafkah untuk istri-istrinya sampai-sampai makanan atau gandum yang tidak bisa ditakar / ditimbang karena terlalu sedikit, beliau tetap membaginya tangan pertan 6) Undian ketika safar Bila seorang suami hendak melakukan safar dan tidak membawa semua istrinya, maka ia harus mengundi untuk menentukan siapa yang akan menyertainya dalam safar tersebut. Imam Bukhari rahimahullah meriwayatkan bahwa kebiasaan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bila hendak safar, beliau mengundi di antara para istrinya, siapa yang akan diajak dalam safar tersebut. Imam Ibnu Qudamah menyatakan bahwa seoarang yang safar dan membawa semua istrinya atau menginggalkan semua istrinya, maka tidak memerlukan undian. Jika suami membawa lebih dari satu istrinya, maka ia harus menyamakan giliran sebagaimana ia menyamakan diantara mereka ketika tidak dalam keadaan safar. 7) Tidak wajib menyamakan cinta dan jima' di antara para istri Seorang suami tidak dibebankan kewajiban untuk menyamakan cinta dan jima' di antara para istrinya. Yang wajib bagi dia memberikan giliran kepada istri-istrinya secara adil. Ayat "Dan kamu sekali-kali tidak dapat berlaku adil di antara isteri-isteri (mu), walaupun kamu sangat ingin demikian" ditafsirkan oleh Ibnu Katsir rahimahullah bahwa manusia tidak akan sanggup bersikap adil di antara istri-istri dari seluruh segi. Sekalipun pembagian malam demi malam dapat terjadi, akan tetapi tetap saja ada perbedaan dalam rasa cinta, syahwat, dan jima'. Ayat ini turun pada Aisyah Radhiyallahu 'Anha. Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam sangat mencintainya melebihi istri-istri yang lain. Beliau Shallallahu 'Alaihi wa Sallam berkata, "Ya Allah inilah pembagianku yang aku mampu, maka janganlah engkau cela aku pada apa yang Engkau miliki dan tidak aku miliki, yaitu hati." Muhammad bin Sirrin pernah menanyakan ayat tersebut kepada Ubaidah, dan dijawab bahwa maksud surat An Nisaa' ayat 29 tersebut dalam masalah cinta dan bersetubuh. Abu Bakar bin Arabiy menyatakan bahwa adil dalam masalah cinta diluar kesanggupan seseorang. Cinta merupakan anugerah dari Allah dan berada dalam tangan-Nya, begitu juga dengan bersetubuh, terkadang bergairah dengan istri yang satu namun terkadang tidak. Hal ini diperbolehkan asal bukan disengaja, sebab berada diluar kemampuan seseorang. Ibnul Qoyyim rahimahullah menyatakan bahwa tidak wajib bagi suami untuk menyamakan cinta diantara istri-istrinya, karena cinta merupakan perkara yang tidak dapat dikuasai. Aisyah Radhiyallahu 'Anha merupakan istri yang paling dicintai Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam. Dari sini dapat diambil pemahaman bahwa suami tidak wajib menyamakan

para istri dalam masalah jima' karena jima' terjadi karena adanya cinta dan kecondongan. Dan perkara cinta berada di tangan Allah Subhanahu wa Ta'ala, Zat yang membolak-balikkan hati. Jika seorang suami meninggalkan jima' karena tidak adanya pendorong ke arah sana, maka suami tersebut dimaafkan. Menurut Imam Ibnu Qudamah rahimahullah, bila dimungkinkan untuk menyamakan dalam masalah jima, maka hal tersebut lebih baik, utama, dan lebih mendekati sikap adil. Penulis Fiqh Sunnah menyarankan; meskipun demikian, hendaknya seoarang suami memenuhi kebutuhan jima istrinya sesuai kadar kemampuannya. Imam al Jashshaash rahimahullah dalam Ahkam Al Qur'an menyatakan bahwa, "Dijadikan sebagian hak istri adalah menyembunyikan perasaan lebih mencintai salah satu istri terhadap istri yang lain." BAB 4 PENUTUP A. Kesimpulan Kebolehan poligami hendaknya disadari dan dipahami sebagai bagian dari hukum Allah, kemubahannya didasari oleh ayat al-Quran, Hadits, dan diamnya (taqrir) Rasul shallallahu 'alaihi wa sallam ketika para sahabat berpoligami. Hukum Allah adalah hukum yang berasal dari Sang Pencipta manusia, yang paling mengerti baik dan buruknya manusia, yang menguasai surga dan neraka, yang menentukan pahala dan siksa. Oleh karena itu, sebagai makhluk ciptaanNya, menaati dan melaksanakan hukum-hukum Allah merupakan suatu keniscayaan yang tak terbantahkan. Hukum siapa lagi yang ingin kita ikuti selain hukum dari sang Pencipta? Allah subhanahu wa ta'ala berfirman (yang artinya) : "Apakah hukum Jahiliah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?" (TQS. Al-Maidah [5]: 50) Bagi suami yang ingin berpoligami, ketahuilah wahai saudaraku, istri pun mempunyai hak atas kalian sebagaimana kalian mempunyai hak atas mereka (QS.2:228). Suami berkewajiban memberi nafkah kepada istrinya dengan cara yang baik, sebagaimana istripun harus menaati suaminya dalam hal kebaikan. Suami hendaklah bertutur kata yang lembut dan sopan kepada istrinya seakan-akan tutur katanya itu merupakan huruf-huruf yang keluar dari jiwa yang terselimuti dengan cinta dan kasih sayang. Sehingga orang-orang, yang dengan mulut dan pikiran mereka, menertawakan ayat-ayat Allah, meremehkan sunnah RasulNya, dan mengagung-agungkan ide-ide bathil dan kufur seperti HAM, pluralisme, liberalisme, sekularisme, demokrasi, kesetaraan gender, emansipasi, dll, akan terbungkam tak memiliki hujjah, baik dihadapan Allah maupun manusia seluruhnya. Mereka tidak lebih dari sekedar pengemis intelektual yang mengais-ngais sampah pemikiran kaum orientalis yang telah lama mengendap dikotak sampah peradaban. Mereka tidak lebih daripada agen penjajah, komprador, yang digaji oleh tuannya (AS) untuk

meruntuhkan pemahaman Islam yang shahih, namun mereka selalu kembali kepada tuannya dalam kehinaan. Terakhir, permasalahan dan gonjang-ganjing yang terjadi di tengah masyarakat seputar poligami saat ini tidak akan terjadi jika para penyeru kebathilan itu merasa takut akan adanya khalifah yang melindungi kamu Muslimin. Mereka gentar karena Khilafah nantinya akan menghukum mereka dengan hukuman yang berat jika mereka berani berteriak-teriak menghina dan melecehkan ayat-ayat Allah. Oleh karena itu wahai saudaraku, berjuang melanjutkan kembali kehidupan Islam dalam naungan Daulah Khilafah Rasyidah adalah perjuangan yang agung, perjuangan yang mulia, perjuangan yang akan membawa umat ini terlindungi oleh Khalifah-nya dan ternaungi oleh Khilafah-nya, sehingga al-Quran kembali ditaati dan dilaksanakan, Sunnah kembali ditegakkan, dan umat kembali termuliakan. Allhummarzuqn dawlah Khilfah Rsyidah. Wallh a'lam bi ash-shawb. B. Saran saran 1) Seorang suami yang hendak melakukan poligami hendaknya melihat kemampuan pada dirinya sendiri, jangan sampai pahala yang dinginkan ketika melakukan poligami malah berbalik dengan dosa dan kerugian. Dalam sebuah hadits disebutkan (yang artinya) "Barangsiapa yang mempunyai dua istri, lalu ia lebih condong kepada salah satunya dibandingkan dengan yang lain, maka pada hari Kiamat akan datang dalam keadaan salah satu pundaknya lumpuh miring sebelah." (HR. Lima) 2) Memang poligami diperbolehkan oleh islam, tetapi dengan alas an tertentu yang sudah sebutkan dipembahasan sebelumya dan itu termasuk sunah, tetapi jika kita berpolgami tidak dengan alasan apapun yang penting dan hanya sekedar ingin melakukan sunah nabi, hal demikian itu tidak termasuk sunah. 3) Menurut saya seharusnya departemen agama memberikan persyaratan poligami dengan persyaratan persyaratan sbb: Atas izin istri, Jika seorang istri tidak bisa memberikan keturunan, Jika seorang istri memiliki penyakit yang menyebabkan tidak dapat melakukan kewajibanya sebagai seorang istri Jika sedang terjadi perang yang menyebabkan banyak laki laki terbunuh, maka laki laki di izinkan berpoligami tanpa harus memenuhi ketiga syarat sebelunya. Daftar Pustaka http://www.lbh-apik.or.id/fac-31.htm Utik, Abah. 13 Juni 2005. http://www.perpustakaan-islam.com/mod.php?mod= publisher&op=viewarticle&artid=113 Kodir, Faqihuddin Abdul. 13 Mei 2003. http://media.isnet.org/islam/Etc/ Poligami1.html Handoyo. 01 Desember 2007. http://id.shvoong.com/social-sciences/psychology/

1716271-poligami-yang-dihalalkan/ Hanif, Agung. 07 Desember 2006. www.syariahpublications.com. Yogyakarta. Rizal. 31 Desember 2006. http://kawansejati.ee.itb.ac.id/poligami-sunnah-kekasih -allah