Anda di halaman 1dari 25

MANAJEMEN BENCANA

Mitigasi Bencana Pasca Tsunami di Kota Banda Aceh

Oleh : Kelompok VI

1. Andi Rifaatul Fitria Anis


2. Dimaswari Sefrizal
3. Puri Sega Dimas Sadewa

PROGRAM DIPLOMA IV PERTANAHAN


SEKOLAH TINGGI PERTANAHAN NASIONAL
YOGYAKARTA

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
1. Kondisi dan Letak Geografis Provinsi Aceh
Provinsi Aceh terletak antara 01 58' 37,2" - 06 04' 33,6" Lintang Utara dan 94
57' 57,6" - 98 17' 13,2" Bujur Timur dengan ketinggian rata-rata 125 meter di atas
permukaan

laut.

Batas-batas wilayah

Provinsi Aceh,

sebelah Utara dan Timur

berbatasan dengan Selat Malaka, sebelah Selatan dengan Provinsi Sumatera Utara dan
sebelah Barat dengan Samudera Indonesia.
Luas Provinsi Aceh 5.677.081 ha, dengan hutan sebagai lahan terluas yang
mencapai

2.290.874 ha, diikuti lahan

perkebunan

rakyat seluas 800.553 ha.

Sedangkan lahan industri mempunyai luas terkecil yaitu 3.928 ha. Aceh mempunyai
topografi datar, bergelombang, berbukit, sampai dengan bergunung, persentase kelas
lereng antara kelas datar (0% 8 %) s/d sangat curam (> 45 %) dengan ketinggian
tempat

antara

3500

dari

permukaan

laut.

Bagian tengah daerah ini agak ke barat, terdapat jajaran Bukit Barisan dan
berbagai dataran tinggi antara lain Tangse, Gayo dan Alas. Disamping itu gugusan
pegunungan Pase, terdapat Gunung Geurudong (2.295 m), Peuet Sagoe (2.780 m),
Burni Telong (2.566 m) dan Ucop Mulo (3.187 m). Di gugusan pegunungan Alas
terdapat Abong-Abong (3.015 m) dan Leuser (3.466 m). Di kawasan pegunungan
Aceh Besar terdapat dua puncak
Seulawah

Inong

yaitu Gunung Seulawah Agam (1.762 m) dan


(868

m).

Iklim

Aceh beriklim tropis. Artinya dalam setahun terdiri atas musim kering (Maret-Agustus)
dan

musim

hujan

(September

Februari).

Di daerah pesisir, curah hujan berkisar antara 1.000 - 2.000 mm dan di dataran tinggi
dan pantai barat selatan antara 1.500 - 2.500 mm. Penyebaran hujan ke semua
daerah tidak sama, di daerah dataran tinggi dan pantai barat selatan relatif lebih
tinggi.
Gambar 1. Peta Administrasi Provinsi Aceh

Sumber : DESIGNMAP Peta Tematik Indonesia,2016


Wilayah administrasi Provinsi Aceh dibagi menjadi 18 kabupaten dan 5 Kota. Berikut ini
adalah daftar 18 Kabupaten dan 5 Kota di Provinsi Aceh beserta Ibukota dan Luas wilayahnya.
Tabel 1. Daftar Kabupaten/ Kota dan Luas Wilayah
No.

Kabupaten/Kota

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23

Kota Banda Aceh


Banda Aceh
Kota Langsa
Langsa
Kota Lhokseumawe
Lhokseumawe
Kota Sabang
Sabang
Kota Subulussalam
Subulussalam
Kabupaten Aceh Barat
Meulaboh
Kabupaten Aceh Barat Daya
Blangpidie
Kabupaten Aceh Besar
Kota Jantho
Kabupaten Aceh Jaya
Calang
Kabupaten Aceh Selatan
Tapak Tuan
Kabupaten Aceh Singkil
Singkil
Kabupaten Aceh Tamiang
Karang Baru
Kabupaten Aceh Tengah
Takengon
Kabupaten Aceh Tenggara
Kutacane
Kabupaten Aceh Timur
Idi Rayeuk
Kabupaten Aceh Utara
Lhoksukon
Kabupaten Bener Meriah
Simpang Tiga Redelong
Kabupaten Bireuen
Bireuen
Kabupaten Gayo Lues
Blang Kejeren
Kabupaten Nagan Raya
Suka Makmue
Kabupaten Pidie
Sigli
Kabupaten Pidie Jaya
Meureudu
Kabupaten Simeulue
Sinabang
Sumber : Ilmupengetahuanumum.com
2. Daerah Rawan Bencana

Ibukota

Luas wilayah
61,36 km
262,41 km
181,06 km
153,00 km
1.391,00 km
2.927,95 km
1.490,60 km
2.969,00 km
3.812,99 km
3.841,60 km
2.185,00 km
1.956,72 km
4.318,39 km
4.231,43 km
6.286,01 km
3.236,86 km
1.454,09 km
1.901,20 km
5.719,58 km
3.363,72 km
3.086,95 km
1.073,60 km
2.051,48 km

Provinsi Aceh memiliki empat kerawanan bencana geologi yaitu Gempa Tektonik,
Tsunami, Letusan Gunung Api dan Tanah Longsor. Tetapi keempat bencana geologi ini
tidak saling terkait secara langsung, karena masing-masing memiliki karekteristik
geologis sebagai penyebabnya, namun secara tidak langsung satu sama lain bisa
menjadi pemicu. Daerah yang rawan gempa tektonik di Aceh adalah seluruh pesisir
pantai barat dan selatan Aceh, gempa yang berpusat di laut ini dapat berpotensi
terjadinya gelombang
sumber gempa darat

tsunami. Untuk wilayah


yaitu

yang rawan gempa tektonik dari

Patahan Semangko, wilayah ini umumnya membelah

bagian tengah wilayah Aceh searah dengan Bukit Barisan. Patahan Semangko ini juga
memiliki patahan-patahan kecil yang menyebar pada beberapa wilayah Aceh baik
di utara maupun selatan seperti Patahan Lokop-Kutacane, Patahan BlangkeujerenMamas, Patahan Kla-Alas, Patahan Reunget-Blangkeujeren, Patahan Anu-Batee,
Patahan Samalanga-Sipopoh, Patahan Banda Aceh-Anu, Patahan Lamteuba-Baro.
Wilayah yang dilalui Patahan Semangko ini juga sangat rentan terhadap longsor
oleh karena itu perlu penanganan teknis yang tepat untuk pemotongan lereng dan
pembuatan jalan di daerah tersebut.

Gambar 2. Peta Indeks Rawan Bencana Provinsi Aceh

Sumber : Badan Nasional Penanggulangan Bencana, 2010


B. Permasalahan
Peristiwa yang sangat memilukan terjadi di bumi serambi Mekkah Aceh. Gempa
bumi dan Tsunami Aceh pada hari Minggu pagi, 26 Desember 2004. Kurang lebih
500.000 nyawa melayang dalam

sekejab di seluruh tepian dunia yang berbatasan

langsung dengan samudra Hindia. Di daerah Aceh merupakan korban jiwa terbesar di
dunia dan ribuan banguan hancur lebur, ribuan pula mayat hilang dan tidak di temukan
dan ribuan pula mayat yang di kuburkan secara masal.
Gempa terjadi pada waktu tepatnya jam 7:58:53 WIB. Pusat gempa terletak pada
bujur 3.316 N 95.854 E kurang lebih 160 km sebelah barat Aceh sedalam 10 kilometer.
Gempa ini berkekuatan 9,3 menurut skala Richter dan dengan ini merupakan gempa
Bumi terdahsyat dalam kurun waktu 40 tahun terakhir ini yang menghantam Aceh, Pantai
Barat Semenanjung Malaysia, Thailand, Pantai Timur India, Sri Lanka, bahkan sampai
Pantai Timur Afrika. Di Indonesia, gempa dan tsunami menelan lebih dari 126.000
korban jiwa. Puluhan gedung hancur oleh gempa utama, terutama di Meulaboh dan
Banda Aceh di ujung Sumatera. Di Banda Aceh, sekitar 50% dari semua bangunan rusak
terkena tsunami. Tetapi, kebanyakan

korban

disebabkan oleh tsunami yang

menghantam pantai barat Aceh


Peristiwa semula bisa saja kembali menerpa wilayah aceh

sewaktu waktu

sehingga perlu adanya upaya penanggulan dini untuk mengurari jatuhnya korban yang
besar serta kerusakan yang lebih parah akibat dari bencana tsunami nantinya, upaya
penanggulangan tersebut harus didukung oleh berbagai pihak baik peran

aktif

masyarakat dan juga steak holder yang terkait, peran pememerintah dalam hal ini paling
utama di perlukan, dalam upaya upaya merehabilitasi, merekontruksi serta penataan
kembali daerah daerah yang menjadi rawan terjadinya bencana tsunami khususnya di
pinggiran pantai.

Dengan adanya peristiwa tersebut dapat menjadi pembelajaran bagi pemerintah


dalam hal menghadapi permasalahan yang sama di masa yang akan datang. Dimana
sekarang ini harus melakuakan upaya upaya meminimalisir dampak dari bencana
( disaster risk reduction ). Adapun yang menjadi rumusan masalah dari tulisan ini antara
lain :
1. Bagaimana Penyebab dan Dampak dari terjadinya gempa dan tsunami di aceh ?
2. Apa yang menjadi upaya dalam penanggulalan bencana pasca bencana tsunami ?
3. Bagaimana peran Badan Pertanahan nasional dalam penanggulan bencana pasca
Tsunami ?

BAB II
PEMBAHASAN
1. Pengertian Tsunami
Kata tsunami ini berasal dari dua kata dalam bahasa Jepang, yaitu tsu dan nami.
Tsu berarti pelabuhan, dan

nami

berarti

gelombang. Tsunami sendiri berarti

perpindahan badan secara yang terjadi akibat perubahan permukaan laut secara vertikal
dengan tiba-tiba. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Tsunami berarti gelombang
laut dahsyat (gelombang pasang) yang terjadi karena gempa bumi atau letusan gunung
api di dasar laut. Tsunami yang terjadi di Indonesia sebagian besar di sebabkan oleh
gempa-gempa tektonik di sepanjang daerah subduksi dan daerah seismic aktif lainnya.
Wilayah pantai di Indonesia merupakan wilayah yang rawan terjadi bencana tsunami

terutama pantai barat Sumatra, pantai selat pulau jawa, pantai selat dan utara pulaupulau Nusa tenggara, pulau-pulau di Maluku, pantai utara Irian jaya dan hampir seluruh
pantai di Sulawesi. Daerah Maluku adalah daerah yang rawan bencana Tsunami.
2. Penyebab tsunami
Tsunami tidak akan terjadi jika tidak ada faktor pemicu. Faktor penyebab
terjadinya tsunami ini adalah:
a.

Gempa bumi yang berpusat di bawah laut


Gempa bumi didasar laut ini merupakan penyebab utama terjadinya
tsunami. Tsunami yang menghancurkan kota Banda Aceh tahun 2004 dan tsunami
yang memporak-porandakan Pulau Mentawai pada tahun 2010 ini berasal dari
adanya gempa bumi yang berpusat di bawah laut. Sebagai negara kepulauan yang
dikelilingi

oleh

laut

dan

samudera,

Indonesia

sangat

berpotensi

terkena tsunami. Meskipun demikian, tidak semua gempa bumi dibawah laut
berpotensi menimbulkan tsunami. Gempa bumi dasar laut dapat menjadi
pernyebab terjadinya tsunami adalah gempa bumi dengan kriteria sebagai berikut:

b.

Gempa bumi yang terjadi di dasar laut.


Pusat gempa kurang dari 30 km dari permukaan laut.
Magnitudo gempa lebih besar dari 6,0 SR
Jenis pensesaran gempa tergolong sesar vertikal (sesar naik atau turun).
Letusan Gunung Berapi
Letusan gunung berapi dapat menyebabkan terjadinya gempa vulkanik
(gempa akibat letusan gunung berapi). Tsunami besar yang terjadi pada tahun
1883 adalah akibat meletusnya Gunung Krakatau yang berada di Selat Sunda.
Meletusnya Gunung Tambora di Nusa Tenggara Barat pada tanggal 10-11 April
1815

juga

memicu

terjadinya

tsunami

yang

melanda

Jawa

Timur

dan Maluku. Indonesia sebagai negara kepulauan yang berada di wilayah ring of
fire (sabuk berapi) dunia tentu harus mewaspadai ancaman ini.
c.

Longsor Bawah Laut


Longsor bawah laut ini terjadi akibat adanya tabrakan antara
lempeng samudera dan lempeng benua. Proses ini mengakibatkan terjadinya
palung laut dan pegunungan. Tsunami karena longsoran bawah laut ini dikenal
dengan nama tsunamic submarine landslide. Penelitian yang dilakukan pada

tahun 2008 menemukan adanya Palung Siberut yang membentang dari Pulau
d.

Siberut hingga pesisir pantai Bengkulu.


Hantaman Meteor di Laut
Jatuhnya meteor berukuran besar di laut juga merupakan penyebab
terjadinya tsunami. Menurut peta sejarah kegempaan yang dimiliki Badan
Meteorologi dan Geofisika, gempa tektonik berskala besar dan kecil banyak
melanda wilayah selatan dan barat Indonesia , mulai dari Nusa Tenggara hingga
Sumatera. Begitu juga halnya Sulawesi, Kepulauan Maluku, dan Papua.
Gempa-gempa itu sebagian besar berpusat di perairan yang relative dekat dengan
pulau-pulau tersebut. Hal ini berkaitan dengan adanya pertemuan lempeng benua
di dasar laut. Dan, ternyata diketahui bahwa di bawah perairan Indonesia
merupakan tempat bertemunya tiga lempeng benua, yaitu lempeng Hindia atau
Indo Australia di sebelah selatan, lempeng Eurasia di utara, dan lempeng Pasifik
timur.
Gempa yang terjadi di perairan barat Nangroe Aceh Darussalam,
merupakan akibat dari interaksi lempeng Indo-Australia dan Eurasia. Gempagempa berskala 5,8 hingga 9,0 pada skala magnitude berpusat di dasar laut pada
kedalaman 10 kilometer itu telah menimbulkan gelombang tsunami yang
menerjang wilayah Pantai di Asia Selatan , yang berada di sekeliling tiga pusat
gempa tersebut. Gempa- gempa tektonik di Samudera Hindia itu sampai
menimbulkan gelombang pasang yang dahsyat karena pertemuan kedua lempeng
tersebut bertipe subduksi atau menujam Lempeng Indo-Australia yang berada di
bawah laut menukik masuk ke bagian bawah lempeng benua Eurasia.
Gambar 3. Proses Terjadinya Tsunami

1
2

Sumber : Bahan Ajar Penanganan Pertanahan Berbasis Bencana, 2016


Lempeng samudera yang bergerak aktif terus mendesak lempeng benua
itu hingga suatu saat membuat batuan di bawah lempeng benua terkait tidak kuat
lagi menahan dan pecah. Kondisi ini menimbulkan pergeseran yang tiba-tiba
menimbulkan guncangan tanah atau gempa bumi. Di sepanjang Sumatera dan
menekan batuan di bawah pulau-pulau kecil yang muncul di sepanjang pesisir
barat pulau tersebut.
Pergeseran batuan secara tiba-tiba yang menimbulkan gempa itu disertai
pelentingan batuan, yang terjadi di bawah pulau dan dasar laut. Proses ini akan
menggoyang air laut hingga menimbulkan gelombang laut yang disebut tsunami.
Ukuran gelombang ini bisa hanya beberapa puluh sentimeter hingga puluhan
meter.
3.

Dampak Tsunami
a. Korban Manusia yang Sangat Besar
Bencana gempa bumi yang disusul dengan gelombang tsunami telah
mengakibatkan korban manusia yang cukup besar. Bencana juga telah
menghancurkan permukiman penduduk sehingga banyak penduduk yang
mengungsi dan tidak memiliki tempat tinggal. Diperkirakan terdapat lebih dari
400 ribu orang pengungsi yang sebagian besar anak-anak, perempuan dan lanjut
usia. Bencana juga memberikan dampak psikis terhadap penduduk yaitu efek
traumatik yang berkepanjangan.
b. Lumpuhnya Pelayanan Dasar
Selain korban manusia, bencana gempa bumi dan tsunami juga
melumpuhkan hampir seluruh pelayanan dasar di wilayah yang terkena bencana.
Penduduk yang selamat sangat kekurangan pelayanan dasar seperti pelayanan
kesehatan, pendidikan, keamanan, sosial dan pemerintahan. Lumpuhnya

pelayanan dasar ini disebabkan hancurnya sarana dan prasarana dasar seperti
rumah sakit, sekolah, dan kantor pemerintahan serta banyaknya korban aparat
pemerintah yang menjalankan fungsi pelayanan dasar.
c.Tidak berfungsinya Infrastruktur Dasar
Infrastruktur dasar seperti jalan, listrik, pelabuhan, dan lain-lain juga tidak
luput menjadi korban keganasan bencana gempa dan tsunami. Infrastruktur
sebagai penopang aktivitas sosial-ekonomi masyarakat banyak yang tidak
berfungsi dengan tingkat kerusakan yang sangat parah.
d. Hancurnya sebagian Sistem Sosial dan Ekonomi
Secara keseluruhan, bencana telah

menghancurkan sebagian sistem

sosial-ekonomi masyarakat di Provinsi Aceh . Aktivitas produksi, perdagangan


dan perbankan mengalami stagnasi total dan perlu pemulihan dengan segera.
Sistem transportasi dan telekomunikasi juga mengalami gangguan yang serius
dan harus segera ditangani agar lokasi-lokasi bencana dapat segera diakses.
Berdasarkan hasil evaluasi yang dilakukan oleh pemerintah bersama
komunitas donor yang dikoordinasikan oleh Bank Dunia pada bulan Februari
2005, lebih dari 150.000 korban telah meninggal dunia atau masih belum
ditemukan; 127.000 rumah hancur dan sejumlah yang sama rusak. Ada
kemungkinan bahwa ekonomi akan menciut sebanyak 14 persen, dengan nilai
ratusan miliar rupiah yang hilang produktivitasnya (separuhnya dari perikanan),
90 persen dari terumbu karang dan daerah hutan bakau yang sangat luas telah
mengalami kerusakan dan perhitungan terus berjalan. Secara keseluruhan
diperkirakan tiga perempat juta manusia satu untuk setiap enam penduduk Aceh
menjadi korban langsung, yang sangat menderita karena kehilangan teman dan
keluarga, kehilangan mata pencaharian ataupun trauma. Selain masalah trauma
fisik dan psikologis. Di samping itu, juga perlu diantisipasi berbagai masalah akan
timbul seperti masalah kerentanan terhadap kepercayaan terutama untuk anakanak; ketidakstabilan emosional

masyarakat rentan (anak-anak, perempuan,

orang tua dan cacat); keadaan fisik korban yang perlu penanganan segera, dan
juga keadaan pendidikan yang terlalu lama fakum, serta pemenuhan kebutuhan

dasar pangan, sandang dan perumahan yang memerlukan penanganan prioritas.


4.

Upaya Penanggulan Bencana Tsunami


A. Mitigasi Bencana Tsunami
Mitigasi yaitu usaha untuk mengurangi dan / atau meniadakan korban
dan kerugian yang mungkin timbul, maka titik berat perlu diberikan pada tahap
sebelum terjadinya bencana, yaitu terutama kegiatan penjinakan / peredaman atau
dikenal dengan istilah mitigasi. Mitigasi pada prinsipnya harus dilakukan untuk
segala jenis bencana, baik yang termasuk ke dalam bencana alam (natural
disaster) maupun bencana sebagai akibat dari perbuatan manusia (man-made
disaster).
Tujuan utama mitigasi ini adalah sebagai berikut :
1. Mengurasi resiko berkurangnya korban jiwa
2. Sebagai landasan untuk perencaan pembangunan.
3. Memberitahukan masyarakat dampak dan usaha untuk mengurangi dampak
bencana alam.
Prinsip Mitigasi Bencana tsunami :
1. Mengetahui resiko tsunami, tingkat bahaya, kerentanan, dan ketahanannya.
2. Menghindari Pembangunan baru di daerah run-up tsunami
3. Merancang dan membuat bangunan baru untuk meminimalkan kerusakan
akibat tsunami
4. Melindungi asset-aset yang sudah dibangun dari kerusakan akibat tsunami
5. Berhati hati dalam menempatkan dan merancang infrastuktur dan fasilitas
penting
6. Merencanakan evakuasi
Mitigasi bencana tsunami, terbagi dua cara yaitu :
a. Mitigasi Fisik , berupa pembuatan bangunan

pelindung (teknis/

Alami) terhadap gelombang, seperti tembok laut, pemecah gelombang,


tempat perlindungan (shelter), bukit buatan (artificial hill), penanaman
vegetasi pantai, penguatan bangunan.

b. Mitigasi Non Fisik, yaitu penyesuaian dan pengaturan kegiatan


manuasia agar sejalan dengan upaya mitigasi fisik maupun upaya
lainnya, seperti pendidikan ,pelatihan, penyadaran masyarakat
penataan ruang.

Tsunami tidak mungkin dicegah, tetapi mungkin dikurangi resikonya. Tindakan


untuk mengurangi resiko bencana tsunami dapat diklasifikasikan menjadi 4
kelompok, yaitu :
1. Sistem peringatan dini,
Meliputi segala kegiatan yang berkaitan dengan deteksi dini penyebab
tsunami, kemungkinan timbulnya tsunami, prediksi penyebaran tsunami,
penyampaian informasi secara tepat dan akurat. Dengan sistem peringatan dini
yang mapan, proses evakuasi dapat dilakukan sedini mungkin sebelum
gelombang tsunami mencapai wilayah-wilayah yang bersangkutan.
Gambar 4: Sistem Peringatan Dini Tsunami

Sumber : Bahan Ajar Penanganan Pertanahan Berbasis Bencana


2. Prosedur evakuasi,
Meliputi segala kegiatan yang berkaitan dengan pemindahan penduduk ke
wilayah yang aman

sebelum gelombang tsunami mencapai area yang

bersangkutan. Termasuk dalam hal ini adalah pendidikan kepada masyarakat

mengenai tanda-tanda datangnya gelombang tsunami, latihan evakuasi secara


regular untuk melatih reflek masyarakat melakukan penyelamatan diri,
simulasi dan perencanaan jalur-jalur evakuasi yang paling efisien, serta
pembuatan bangunan khusus untuk penyelamatan diri. Dengan prosedur
evakuasi yang efektif dan efisien, jumlah korban dapat diminimalkan.
3. Perlindungan pantai,
Meliputi segala kegiatan yang berkaitan dengan upaya mengurangi atau
meredam energi gelombang tsunami di wilayah pantai sehingga limpasan
energi gelombang tsunami ke arah daratan dapat diminimalkan. Termasuk
dalam hal ini adalah perencanaan, perancangan, atau rekayasa bangunan
peredam

gelombang dari batu, beton, atau peredam alami dari tanaman

pantai. Apabila rancangan komposisinya tepat, maka struktur peredam


gelombang tersebut dapat mengurangi tinggi limpasan gelombang semaksimal
mungkin.
4. Perencanaan tata ruang pantai,
Meliputi kegiatan penetapan wilayah pemukiman dan industri yang aman dari
serangan gelombang tsunami, serta pembuatan model tata ruang kampung
pantai yang memudahkan evakuasi apabila terjadi serangan gelombang
tsunami, namun tetap mendukung aktifitas masyarakat secara umum. Dengan
demikian, maka kerugian yang mungkin timbul akibat limpasan gelombang
Tsunami telah dapat diminimalkan sejak awal.
Setelah Pasca terjadinya tsunami diaceh khususnya dikota banda aceh
terjadi perubahan tata ruang untuk bagaian daerah pesisir, hal ini dapat dilihat
dengan lahirnya qanun no.4 tahun 2009 tentang RTRW Kota Banda Aceh,
dimana didalam qanun tersebut menyebutkan adanya pergeseran penggunaan
lahan untuk daerah

pinggir. Qanun ini merupakan bagian dari mitigasi

bencana yang dibentuk pemerintah aceh untuk meminimalisir korban dimasa


yang akan datang.
Tata ruang juga menyebutkan pemberian ruang terhadap areal pesisir
berupa green belt ( sabuk hijau ) yang berupa hutan bakau dipesisir pantai

banda aceh, dengan jarak tanam yang berdekatan dan dimana nantinya mampu
menahan kekuatan gelombang tsunami.

Gambar 5. Pola Tata Ruang kawasan Bencana Tsunami

Gambar 6. . Pola Tata Ruang kawasan Bencana Tsunami

B. Langkah-Langkah Kebijakan dan Hasil-Hasil yang Dicapai


Sumber : Bahan Ajar Penanganan Pertanahan Berbasis Bencana, 2016
Sejak terjadi bencana alam gempa bumi dan tsunami pada tanggal 26
Desember

2004,

Pemerintah

telah

mengambil

langkah-langkah

penanggulangan sebagai berikut:


a.

Menyatakan Bencana Aceh dan Nias sebagai Bencana Nasional


Presiden RI

mengeluarkan Keputusan Presiden tanggal 27 Desember

2004 yang menyatakan bencana alam gempa bumi dan gelombang


tsunami di wilayah Aceh dan Nias

sebagai bencana nasional, dan

selanjutnya juga mengeluarkan arahan berupa 12 direktif kepada seluruh


jajaran Kabinet Indonesia Bersatu dan Gubernur Provinsi NAD serta
Bupati Nias untuk melakukan tindakan yang segera dan komprehensif di
dalam penanganan tanggap darurat bencana alam tersebut.
Sebagai tindak lanjut dari arahan direktif tersebut, telah diterbitkan pula
Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2005 tentang Kegiatan Tanggap
Darurat dan Perencanaan serta Persiapan Rehabilitasi dan Rekonstruksi
Pascabencana Alam Gempa Bumi dan Gelombang Tsunami di Provinsi
NAD dan Nias, Sumatra Utara.
b. Memobilisasi sumber daya nasional dan daerah untuk upaya-upaya
penanganan darurat
Dalam

rangka

mengkoordinasikan

pengendalian

dan

penanggulangan bencana dan segala upaya tanggap darurat, pada tahap


awal Wakil Gubernur NAD secara langsung mengkoordinasikan dan
mengendalikan

penanggulangan

bencana

sampai

dibentuk

Satuan

Koordinasi Pelaksana Khusus Aceh dengan dikeluarkannya Surat


Keputusan Ketua Bakornas PBP Nomor 1 Tahun 2004 tanggal 30
Desember 2004. Satkorlak ini diketuai oleh Wakil Presiden dan Menko

Kesra selaku Ketua Pelaksana Harian dan Wakil Gubernur NAD sebagai
Pelaksana di tingkat Provinsi.

Mengingat dampak bencana yang sangat luas, selanjutnya


Pemerintah Pusat guna memperkuat Satkorlak PBP di Provinsi NAD,
mengeluarkan Surat Keputusan Nomor 3 Tahun 2005 tanggal 18 Januari
2005 yang menempatkan Menko Kesra sebagai ketua Satkorlak Khusus,
Wakasad sebagai pemulihan fungsi pemerintahan.
Secara operasional, kegiatan tanggap darurat diarahkan pada
kegiatan: (a) evakuasi dan pemakaman jenazah korban; (b) penanganan
pengungsi; (c) pemberian bantuan darurat; (d) pelayanan

kesehatan,

sanitasi dan air bersih; (e) pembersihan kota; dan (f) penyiapan hunian
sementara (huntara).
Dukungan internasional sangat membantu percepatan upaya-upaya
tanggap darurat, yang antara lain melalui tim penyelamatan (rescue team),
tim medis, dan dukungan sarana transportasi berupa kapal laut dan
helikopter. Upaya penanggulangan dan pemulihan tersebut dilakukan
dengan pendekatan secara utuh dan terpadu melalui tiga tahapan, yaitu
tanggap darurat, rehabilitasi dan rekonstruksi yang harus berjalan
secara bersamaan dalam pelaksanaan penanggulangan dampak bencana.
a. Tahap Tanggap Darurat (Januari 2005 Maret 2005)
Bertujuan

menyelamatkan

masyarakat yang masih hidup,

mampu bertahan dan segera terpenuhinya kebutuhan dasar yang paling


minimal. Sasaran utama dari tahap tanggap darurat ini adalah
penyelamatan dan pertolongan kemanusiaan. Dalam tahap tanggap
darurat ini, diupayakan pula penyelesaian tempat penampungan
sementara yang layak, serta pengaturan dan pembagian logistik yang
cepat dan tepat sasaran kepada seluruh korban bencana yang masih
hidup. Saat bencana baru saja terjadi, Tahap Tanggap Darurat

ditetapkan selama 6 bulan setelah bencana, namun demikian, setelah


ditetapkannya Inpres Nomor 1 Tahun 2005, Tahap Tanggap Darurat ini
kemudian diperpendek menjadi 3 bulan dan berakhir pada tanggal 26
Maret 2005.
Pada tahap tanggap darurat ini masyarakat Aceh, Pemda provinsi
dan kabupaten/kota di Aceh , unsur-unsur TNI, Palang Merah Indonesia,
dan sejumlah besar LSM nasional dengan dukungan pendanaan dari
perusahaan-perusahaan

nasional, masyarakat umum dan

daerah lain, dengan sigap membantu menyelamatkan

pemerintah

kehidupan dari

keluluhlantakan tersebut. Berkat tanggap darurat yang demikian cepat dan


juga struktur masyarakat yang kohesif korban yang lebih banyak dapat
dicegah. Respon masyarakat Indonesia tersebut sangat luar biasa besar
dalam membantu

masyarakat Aceh

mengatasi akibat bencana yang

terbesar dalam kurun waktu ratusan tahun ini. Dukungan tanggap darurat
juga datang dari masyarakat dan LSM lokal dalam usaha percepatan
evakuasi dan pemakaman korban, penanganan pengungsi, pemberian
bantuan darurat, pembersihan kota dan penyiapan hunian sementara.
Perhatian masyarakat internasional lainnya juga sangat besar, hal
ini ditunjukkan dengan besarnya

kesediaan (commitment) para donor

multilateral dan bilateral, disamping masyarakat di berbagai negara untuk


membantu

memulihkan

penderitaan

masyarakat

kendati

terdapat

perbedaan agama antara yang membantu dengan yang dibantu. Untuk


upaya tanggap darurat, tercatat sekitar lebih 700 juta dolar AS telah
dijanjikan oleh berbagai donor kepada pemerintah Indonesia dalam
berbagai kesempatan. Pada tanggal 6 Januari 2005, atas inisiatif PM
Singapura Lee Hsien Long, diadakan pertemuan internasional di Jakarta
yaitu Asean Leaders Meeting On Aftermath of Tsunami Disaster, yang
dibuka oleh Presiden RI, dihadiri oleh Sekjen PBB Kofi Annan, Menlu
AS, PM Australia John Howard, PM Malaysia H. M. Abdullah Badawi,
Presiden Laos, Thailand, Sri Lanka, India, negara-negara lainnya yang
terkena bencana serta perwakilan baik dari lembaga donor multilateral

(WB, ADB, UN, dll) maupun dari lembaga donor bilateral (AS, Jepang,
Belanda, dll).
Pemerintah Pusat sendiri bersama dengan komunitas internasional,
segera setelah bencana terjadi menyiapkan analisis terhadap kerusakan dan
kerugian akibat bencana dan Rencana Induk untuk Rehabilitasi dan
Rekonstruksi Aceh , yang telah ditetapkan melalui Peraturan Presiden
Nomor 30 Tahun 2005 tentang Rencana Induk Rehabilitasi dan
Rekonstruksi Wilayah dan Kehidupan Masyarakat Provinsi NAD .
Penerbitan Peraturan Presiden Nomor 30 Tahun 2005 ini kemudian diikuti
dengan pembentukan Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Wilayah dan
Kehidupan Masyarakat Provinsi NAD dan Kepulauan Nias Provinsi
Sumatra Utara melalui penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti
Undang-undang Nomor 2 Tahun 2005 pada tanggal 16 April, serta
Peraturan Presiden Nomor 34 Tahun 2005 tentang Susunan Organisasi dan
Tata Kerja serta Hak Keuangan Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi
Wilayah dan Kehidupan Masyarakat Provinsi NAD dan Kepulauan Nias
Provinsi Sumatra Utara.
Pada tahap tanggap darurat ini telah berhasil diselamatkan 80
m3 dokumen/arsip pertanahan milik BPN Provinsi NAD. Upaya
penyelamatan ini merupakan kerja sama antara Arsip Nasional RI,
BPN, JICA, Tokyo Reservation and Conservation Center, Japan
International Cooperation Systems.
b. Tahap Rehabilitasi (April 2005 Desember 2006)
Bertujuan mengembalikan dan memulihkan fungsi bangunan dan
infrastruktur yang mendesak dilakukan untuk menindaklanjuti tahap
tanggap darurat, seperti rehabilitasi mesjid, rumah sakit, infrastruktur
sosial dasar, serta prasarana dan sarana perekonomian yang sangat
diperlukan. Sasaran utama dari tahap rehabilitasi ini adalah untuk
memperbaiki pelayanan publik hingga pada tingkat yang memadai.
Dalam tahap rehabilitasi ini, juga diupayakan penyelesaian berbagai

permasalahan yang terkait dengan aspek hukum melalui penyelesaian


hak atas tanah, penyelamatan dokumen pertanahan, penanganan trauma
korban bencana, dan lain-lain.

c. Tahap Rekonstruksi (Juli 2005 Desember 2009)


Bertujuan membangun kembali kawasan kota, desa dan
aglomerasi kawasan dengan melibatkan semua masyarakat korban
bencana, para pakar, perwakilan lembaga swadaya masyarakat, dan
dunia usaha. Pembangunan prasarana dan sarana akan dimulai dari
sejak selesainya penyesuaian rencana tata ruang baik di tingkat provinsi
dan terutama di tingkat kabupaten dan kota yang mengalami kerusakan,
terutama di daerah pesisir. Sasaran akhir tahap rekonstruksi ini adalah
terbangunnya kembali kehidupan masyarakat yang lebih baik di
wilayah yang terkena bencana. Pada tahap ini juga akan dibangun
instalasi sistem peringatan dini bencana alam, yang didukung dengan
data dan riset ilmu kebumian, sehingga kejadian serupa tidak
menimbulkan korban yang besar di kemudian hari dan di berbagai
5.

wilayah negara.
Upaya yang dilakukan oleh Badan Pertanahan Nasional
Rencana tata ruang ramah bencana setelah pemulihan korban maupun
pengobatan pasca bencana tsunami. Barulah sebaiknya dilakukan perencanaan
rehabilitasi

yang

komprehensif

dan

terintegrasi.

Artinya pemulihan

itu bisa dimulai dari pemetaan, analisis kerusakan, analisis risiko, rencana
restrukturisasi, dan perbaikan lingkungan. Maka dalam tahap rehabilitasi harus
dibuat sedemikian rupa agar mampu meredam

tsunami di kemudian hari

sehingga dampaknya bisa diminimalkan. Dalam upaya rehabilitasi diperlukan


perencanan dengan mempertimbangkan factor fisik maupun lingkungan. Faktor
fisik yang perlu diperhatikan ialah stuktur bangunan. Sedapat mungkin, arah
bangunan sejajar dengan arah penjalaran gelimbang tsunami atau tegak lurus
dengan

pantai,

hal ini dimaksudkan agar tekanan air

yang

menghantam

bangunan lebih kecil. Upaya lainnya yang tidak kalah pentingnya adalah dengan

membuat tata ruang yang ramah bencana. Ditempat-tempat yang berpotensi


terkena tsunami harus ditata ulang. Tempat-tempat perlindungan ( shelter) perlu
dibangun untuk evakuasi jika tsunami terjadi di pesisir yang penduduknya padat.
Dalam perencanaan wilayah pantai di NAD , sebaiknya
memenuhi persyaratan rencana tata ruang yang telah diatur dalam Undangundang Lingkungan Hidup Nomor 32 tahun 2009. Dalam UU itu disebutkan 200
meter dari garis pantai harus ditetapkan

sebagai jalur hijau. Pembangunan

permukiman yang terlalu dekat dengan garis pantai harus dihindari. Untuk NAD
misalnya,

jarak tersebut disesuaikan dengan jarak jauh-dekatnya

penetrasi

tsunami ke arah barat. Daerah sempadan pantai juga perlu dihijaukan kembali
dengan mangrove atau hutan pantai, sesuai dengan kawasan pesisirnya. Pantai
yang tidak cocok ditanami hutan mangrove bisa dihijaukan dengan hutan pantai
(waru dan cemara). Fungsi Hutan Pantai Untuk Meredam Tsunami Kementrian
Lingkungan Hidup menyiapkan desain lingkungan kota Banda Aceh. Desain itu
akan dihadikan model ideal untuk membangun kota-kota pesisir agar terlindung
dari hantaman gelombang tsunami dan lingkungannya tetap terjaga.
Aceh dan pemukiman pesisir lainnya yang terkena tsunami memang
harus dibangun kembali. Ini kesempatan untuk menjadikan kota-kota itu lebih
baik kondisi lingkungan hidupnya. Tetapi, penerapan tetap mengacu kepada
keinginan orang-orang dan pembangunan kembali Aceh harus diawali dengan
suatu desain yang memenuhi kriteria lingkungan hidup. Jika tidak, akan terjebak
kepada pembangunan yang nantinya tidak ramah lingkungan.
6.

Gambaran Hasil dari upaya mitigasi pasca bencana tsunami di Kota Banda
aceh
Gambaran tata ruang ruang kota banda aceh pasca tsunami berdasarkan qanun
No.4 tahun 2009
setelah terjadinya tsunami diaceh maka pemerintah banyak melakukan
berbagai upaya dalam mengurangi dampak resiko bencana di kemudian hari salah
satunya adalah upaya perubahan pola tata ruang kota, perubahan pola tata ruang
kota banda aceh dianggap sangat penting dalam

hal pengurangan korban di

kemudian hari sehingga jumlah korban dan kergian materi dapat di mimalisir. Hal

ini dapat dilihat dari peta perubahan pola tata ruang kota banda aceh, terutama
diwilayah pesisir kota yang dulunya pemukiman sekaranga menjadi arel terbuka
hijau

Citra satelit sebelum dan


sesudah tsunami

Dari penampakan citra diatas dapat dilihat kondisi daerah pesisir kota
banda aceh yang berupah sedemikian rupa ketika di terjang oleh tsunami, hampir
sebagian besar daerah pesisir kota banda aceh sebelum tsunami berupa areal
pemukiman sehingga tidak heran ketika terjadi nya tsunami maka banyak
bangunan yang hancur dan banyak korban jiwa yang berjatuhan, dari kondisi
dapat di ambil kesimpulan bahwa dalam upaya mitigasi bencana yang akan timbul
kembali perlu adanya penangan terkait tata ruang terhadap penggunaan tanah di
arel pesisir. Sehingga qanun/perda terkait tata ruang dianggap sangat perlu dalam
merubah tata penggunaan tanah di arel pesisir, yang nantinya area pesisir bukan
dijadikan daerah pemukiman lagi melainkan areal tempat penghambat lajunnya
gelombang air laut yang akan masuk ke kota.
Qanun no 4 tahun 2009 tentang RTRW kota banda aceh menjadi salah satu
upaya dalam penataan kembali wilayah pesisir yang berbasis mitigasi bencana,
dimana daerah daerah yang di anggap rawan bencana, dan mengindikan jatuh
korban yang besar untuk tidak lagi dijadikan tempat tinggal oleh masyarakat
setempat. Adapan upaya tersebut dapat dilihat pada lampiran qanun tersebut
berupa peta peta terkait pola tata ruang.

Peta pembagian zona khusus


pasca tsunami

Peta pola tata ruang pasca


tsunami

Peta struktur ruang pasca


tsunami

dengan adanaya upaya yang dilakuakan oleh pemerintah khusunya mengenai


pembentukan regulasi atau qanun no. 4 tahun 2009 tentang RTRW Kota Banda aceh
maka sekarang dapat dilihat adanya perubahan pola tata ruang di wilayah pesisir kota

banda aceh ini dapat dilihat dengan adanya perubahan pola penggunaan tanah dimana
yang dulunya dijadi kan area pemukiman sekarang dijadikan wilayah kosong .

Citra satelit google maps tahun


2016

BAB III
PENUTUP
A.

KESIMPULAN
Gempa dan tsunami di Aceh telah meninggalkan kerusakan dan korban jiwa yang

relative, sangat banyak nyawa melayang dan ribuan bangunan ikut porak porandak
akibat gelombang tsunami, butuh waktu untuk memulihkan kondisi tersebut untuk
menjadi kembali seperti semula, namun berkat kerja keras pemerintah serta partisipasi
masyarakat aceh,

kini

Aceh

menjadi

kota yang

lebih baik dari pada sebelum

terjadinya tsunami, dimana dapat dilihat banyak bangunan bangun baru kembali berdiri
dan kehidupan masyarakat yang sudah beraktifitas kembali seperti biasanya, menjalakan
roda perekonomian nya kembali.
Dengan kembali kondusif nya kehidupan serta roda perekonomian di aceh,
warga aceh tetap akan harus waspada terhadap bencana yang akan datang secara tiba tiba,
hal ini sebagai mana yang telah diketaui bahwa aceh berada di wilayah rawan bencana,
dimana lokasi aceh berada diantara lempengan bumi yang sewaktu waktu bisa saja
bergerak, dengan ada nya prediksi ancaman yang akan datang pemerintah dianggap
harus sigap dalam melakukan upaya upaya dalam hal pengurangan dampak resiko yang
ditimbulkan oleh bencana tersebut. Baik itu upaya dari pemerintah pusat maupun
pemerintah daerah, upaya tersebut ( Mitigasi ) dapat menjadi tameng awal dalam
penanggulan bencana nanti, adapun upaya yang telah dilakukan pemerintah aceh antara
lain :

1. Mitigasi
a. Sistem Peringatan dini
b. Prosedur evakuasi
c. perlindungan Pantai
d. Penataan Tata ruang kembali
2. Langkah langkah yang telah dilakukan pementah Daerah maupun BPN
a. Penyelamatan korban
b. rekontruksi
c. Rehabilitasi
d. Relokasi
e. Penataan dan pemberian hak baru
dengan adanya upaya upaya mitigasi ini mampu memberikan perisai bagi daerah daerah
pesisir di wilayah aceh yang dimana nantinya bertujuan menghadang dan meminimalisir
tekanan gelombang tsunami yang akan datang, sehingga berdampak pada pengurangan
jatuhnya korban.
B. Saran
Posisi Indonesia yang terletak pada tiga lempeng bumi ( Indo-Australia, Eurasia
dan Pasifik) mengakibatkan Indonesia rawan terjadi bencana. Oleh sebab itu pengetahuan
menegenai manajemen bencana diperlukan untuk mengurangi resiko bencana.

DAFTAR PUSTAKA
Darmaningyas,dkk.2005.Bencana Gempa dan Tsunami.Jakarta.Kompas.

https://ancu07.blogspot.co.id/2013/10/perkembangan-kota-banda-acehstruktur.html di unduh pada tanggal 11 Oktober 2016 pukul 16.45 WIB


http://geospasial.bnpb.go.id/2010/06/23/peta-indeks-risiko-bencana-tsunamiprovinsi-nanggroe-aceh-darussalam/

di unduh pada tanggal 11 Oktober 2016

pukul 17.14 WIB


https://yandragautama.wordpress.com/2011/12/28/makalah-analisisrawan-bencana/

di unduh pada tanggal 11 Oktober 2016 pukul 17.16 WIB


https://www.academia.edu/8874014/MAKALAH_Bencana_Tsunami_NAD_serta
_Dampak_Pasca-tsunami_bagi_Kesehatan_Lingkungan_ di unduh pada tanggal
11 Oktober 2016 pukul 17.30 WIB