Anda di halaman 1dari 56

Media Informasi Air Minum dan Penyehatan Lingkungan Diterbitkan oleh: Kelompok Kerja Air Minum dan Penyehatan

Lingkungan (Pokja AMPL) Penasihat/Pelindung: Direktur Jenderal Cipta Karya DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM Penanggung Jawab: Direktur Permukiman dan Perumahan, BAPPENAS Direktur Penyehatan Air dan Sanitasi, DEPKES Direktur Pengembangan Air Minum, Dep. Pekerjaan Umum Direktur Pengembangan Penyehatan Lingkungan Permukiman, Dep. Pekerjaan Umum Direktur Bina Sumber Daya Alam dan Teknologi Tepat Guna, DEPDAGRI Direktur Penataan Ruang dan Lingkungan Hidup, DEPDAGRI Pemimpin Redaksi: Oswar Mungkasa Dewan Redaksi: Supriyanto, Johan Susmono, Indar Parawansa, Bambang Purwanto Redaktur Pelaksana: Maraita Listyasari, Rewang Budiyana, Rheidda Pramudhy, Joko Wartono, Essy Asiah, Mujiyanto Desain/Ilustrasi: Rudi Kosasih Produksi: Machrudin Sirkulasi/Distribusi: Agus Syuhada Alamat Redaksi: Jl. Cianjur No. 4 Menteng, Jakarta Pusat. Telp./Faks.: (021) 31904113 http://www.ampl.or.id e-mail: redaksipercik@yahoo.com redaksi@ampl.or.id oswar@bappenas.go.id
Redaksi menerima kiriman tulisan/artikel dari luar. Isi berkaitan dengan air minum dan penyehatan lingkungan dan belum pernah dipublikasikan. Panjang naskah tak dibatasi. Sertakan identitas diri. Redaksi berhak mengeditnya. Silahkan kirim ke alamat di atas.

Dari Redaksi Suara Anda Laporan Utama Membendung Sampah Bandung Pengurangan Sampah di Sumber Pilihan Konsep Penanganan Sampah Kota Bandung Walikota Bandung: Tak Bisa Lagi Cara Tradisional Pembelajaran Darurat Sampah Bandung Wawancara Direktur Pengairan dan Irigasi Bappenas: Jawa Butuh Storage-storage Baru Inovasi Filter Penjernih Segala Jenis Air Peraturan PP No. 16 Tahun 2005 Teropong PDAM Sragen, Perpaduan Komitmen dan Manajemen Bupati Sragen: PDAM Harus Profesional Klinik IATPI Kisah Srikandi-srikandi Jamban Abstrak Wawasan Makna Kelembagaan AMPL Bagi Keberlanjutan Sarana Misteri Lorong Waktu Peradaban Teknologi Keairan Pembangunan dan Pemberdayaan Seputar AMPL Seputar WASPOLA Info Buku Info CD Info Situs Agenda Pustaka AMPL

1 2 3 7 8 9 12

15 19 21 22 24 25 27 29 30 33 37 41 47 48 49 50 51 52

Majalah Percik dapat diakses di situs AMPL: http://www.ampl.or.id

D A R I R E DA K S I

anpa terasa, tiga tahun sudah kami hadir di ruang baca Anda. Tepat Agustus 2003, kami terbit perdana. Waktu itu Percik hanya 24 halaman hitam putih. Rubriknya pun sedikit. Tata letak masih sederhana. Peredarannya pun terbatas. Percik saat itu hanya dicetak 500 eksemplar. Sangat terbatas. Mungkin Anda yang ada di daerah tak kenal seperti apa Percik edisi awal. Kini Percik telah 14 kali terbit. Berbagai pembenahan terjadi di sana-sini, termasuk pengayaan rubrik, penambahan warna halaman, dan perbaikan tata letak. Percik telah menjangkau seluruh kabupaten/kota di tanah air, termasuk kalangan LSM, perguruan tinggi, dan kedutaan asing, serta sebagian masyarakat. Di jajaran stakeholder air minum dan penyehatan lingkungan sepertinya Percik telah mendapat tempat tersendiri. Tujuan penerbitan Percik sebagai sarana informasi dan komunikasi stakeholder AMPL tampaknya sudah terwujud. Kendati begitu, bukan berarti kami telah puas. Kami akan terus mengadakan perbaikan. Rencananya mulai edisi depan, kami akan menerbitkan Percik Yunior. Sisipan ini berisi informasi mengenai AMPL khusus bagi kalangan anak-anak. Kami berharap anak-anak pun bisa mulai peduli dengan masalah AMPL. Seperti apa Percik Yunior ini, tunggu kehadirannya. Di edisi ulang tahun ini, kami menampilkan tema utama mengenai sampah Kota Bandung. Menurut kami, ini adalah topik yang masih cukup menarik. Hingga kini persoalan persampahan di kota tersebut belum tuntas. Penyelesaian yang ada

masih bersifat sementara. Tarik menarik antar kepentingan ada di sana. Apalagi semua orang tahu ada dana sangat besar untuk menyelesaikan masalah ini. Biasanya 'ada gula pasti ada semut.' Pembelajaran dari kasus sampah Bandung ini adalah betapa kita masih belum memberikan kepedulian yang cukup terhadap kebersihan, khususnya sampah. Kita masih lebih memprioritaskan sektor-sektor lain. Padahal kebersihan memberi dampak yang signifikan bagi kesehatan dan keindahan. Pengabaian terhadap TPA, misalnya, terbukti menimbulkan korban jiwa. Sampah yang tak terbuang terbukti meresahkan warga dan merusak keindahan kota. Penanganan sampah ternyata bukan hal yang mudah. Butuh kerja sama antarwilayah atau antardaerah. Musibah sampah Bandung menunjukkan pemerintah kota saja tak cukup mampu menanganinya. Bahkan pemerin-

tah propinsi dan pusat pun harus turun tangan. Oleh karena itu, ini merupakan pelajaran berharga bagi kota-kota lain di Indonesia. Jangan sampai musibah serupa terjadi. Sayang, ketika tulisan ini disusun, musibah sampah terjadi di Bantar Gebang, Bekasi. Di rubrik Inovasi, kami menampilkan sebuah temuan yang dilakukan oleh seorang kakek di Bandung. Filter air ini mampu menjernihkan berbagai jenis air. Bukan tidak mungkin ini bisa dikembangkan untuk mengatasi masalah air di Indonesia. Di rubrik Teropong, kita akan melihat model terobosan baru penanganan PDAM. Terobosan itu dilakukan oleh Pemda Kab. Sragen, pemda yang kita kenal memiliki banyak terobosan dalam administrasi pemerintahan. Sedangkan di rubrik Kisah, kami menampilkan sosok-sosok pejuang jamban dari berbagai daerah. Berkat peran ibu-ibu inilah, program bebas buang air besar sembarangan di wilayah mereka masing-masing sukses. Kini mereka menjadi contoh betapa masyarakat yang berdaya dan diberdayakan akan mampu mendorong dan memicu proses pembangunan, kendati mereka sendiri pun tak mendapat imbalan. Tak kalah menariknya, kami mewawancarai Direktur Irigasi dan Pengairan Bappenas berkenaan dengan kekeringan yang melanda sebagian wilayah Indonesia saat ini. Ternyata persoalan manajemen air menjadi salah satu sebab kejadian tersebut, selain masalah alam dan lingkungan. Akhirnya semoga Anda bisa mengambil banyak manfaat dari Percik edisi ini. Wassalam.

Percik

Agustus 2006

S U A R A A N DA
Hadits CLTS
Pada tanggal 16-20 Mei 2006 ada pelatihan CLTS yang melibatkan tiga kabupaten di Pulau Lombok (Lotim, Loteng & Lobar). Masing-masing kabupaten ada tiga desa yang akan menjadi tempat uji coba lapangan. Khusus untuk Kab. Lombok Timur, pelatihan CLTS dilaksanakan pada 1618 Mei 2006, bertempat Hotel Meliwis, Jl. Labuhan Haji - Lombok Timur. Pada saat RTL di kelas (hari terakhir tanggal 18 Mei 2006), hadir beberapa orang dari tiga desa lokasi uji coba, yaitu Desa Sikur, Kerongkong, dan Teros. Peserta sangat terkesima/termotivasi oleh salah seorang peserta dari Desa Sikur yaitu Ustadz Mohamad Saleh (Kadus Segire/Binong) yang menyampaikan hadits riwayat Muslim dan Abu Daud, yang terkait dengan CLTS, yaitu sangat dilaknat jika hambah Allah membuang hajat/kotoran dijalan dan di tempat manusia berteduh. Adapun arti dari hadits tersebut yaitu: 1. "Takutlah akan dua hal yang mendatangkan laknat", Para sahabat bertanya : "Apakah dua hal yang mendatangkan laknat itu, wahai Rasullullah? Bersabdalah Rasullullah SAW : "Ialah yang buang hajat/kotoran di jalan tempat lewat manusia atau buang hajat/kotoran ditempat manusia berteduh" (Hadits riwayat Muslim dan Abu Daud) 2. "Barang siapa yang buang air hendaknya ditutup/dihalangi, tidak terbuka" (Hadits riwayat Abu Daud) 3. "Janganlah kamu melakukan kemudharatan terhadap dirimu dan orang lain" (Hadits riwayat Ibnu Majah dan Ad-Daruqutni)

PERCIKARTUN

KARIKATUR:RUDI KOSASIH

Ada hal yang cukup menarik juga dari salah seorang peserta perempuan dari Desa Teros yaitu Ibu Murni (Kader Posyandu sekaligus berperan sebagai koordinator kesehatan masyarakat/promosi kesehatan TKM Desa Taros). Dia memberikan informasi bahwa dirinya cukup terpicu untuk segera membuat jamban walaupun harus dengan menggali sendiri, tanpa menunggu bantuan suami, karena dia memiliki prinsip bahwa jika mau memotivasi orang lain, harus dimulai dari sendiri dan harus bisa menjadi contoh bukan hanya bisa sekedar pemberi contoh bagi orang lain.
Sugito, Lombok Timur

larut malam. (Saat ini hampir selama 24 jam). 2. Bau tak sedap tercium dari salah satu atau kedua tempat tersebut. Sehubungan dengan hal itu, kami mohon kiranya Kelompok Kerja Air Minum dan Penyehatan Lingkungan (Pokja AMPL) dapat memeriksa standar kelayakan dari pabrik/pengolahan karet dan peternakan babi tersebut, apakah sudah sesuai dengan aturan yang berlaku baik dari sisi standar kebisingan dan bau yang dapat diterima oleh manusia, maupun dari sisi dampak lingkungan (AMDAL). Kami khawatir kejadian ini akan berdampak kepada kesehatan masyarakat khususnya keluarga kami baik dalam jangka pendek maupun panjang. Sebelumnya warga telah menyampaikan permasalahan ini kepada pejabat lingkungan (RT/RW) tetapi sampai saat ini tidak ada tindak lanjutnya. Besar harapan kami Pokja AMPL dapat membantu kami mencarikan jalan keluar.
A. Cholid, SIP (021) 74701362

Suara Bising dan Bau Tak Sedap


Saya mewakili warga di Vila Dago Tol, Kelurahan Serua, Kecamatan Ciputat, Kabupaten Tangerang, Banten bersama ini menyampaikan bahwa di tempat kami, tepatnya di depan blok rumah kami yang hanya dibatasi oleh aliran sungai yang membatasi Kecamatan Ciputat dan Serpong, terdapat pabrik pengolahan karet dan peternakan babi. Keberadaan itu memunculkan masalah yaitu: 1. Suara bising dari mesin pengolah karet dan mesin air untuk pengolahan karet yang berlangsung dari pagi hingga

Terima kasih atas perhatiannya. Surat Anda akan kami lanjutkan ke pihak-pihak yang terkait langsung dengan wilayah di mana Anda berada yakni Bapedalda Kab. Tangerang. Semoga permasalahan ini segera tuntas. (Redaksi).

Percik

Agustus 2006

L A P O R A N U TA M A

Gara-gara sampah, Bandung jadi kota terkotor di Indonesia. Beberapa langkah telah diupayakan untuk mengatasinya. Mampukah ini bisa bertahan lama? Strategi apa untuk penanganan ke depan?

ndai tidak ada tragedi Leuwigajah, 21 Februari 2005, mungkin perhatian kita terhadap persoalan sampah tetap saja minim. Kejadian itu seolah menyentakkan kita untuk melihat masalah persampahan ini secara lebih serius. Ternyata kita tak memiliki sarana pendukung baik fisik maupun non fisik (peraturan) yang komprehensif untuk mengatasi masalah persampahan baik di tingkat lokal maupun nasional. Tragedi sampah terbesar di Indonesia itu telah terjadi. Sebanyak 146 jiwa melayang sia-sia. Tak hanya itu, tragedi itu menyisakan persoalan baru khususnya bagi Kota Bandung dan sekitarnya. Penutupan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Leuwigajah menyebabkan kota itu sulit membuang sampahnya. Selama 41 hari sampah di Kota Bandung parkir di tempatnya. Paris van Java ini berubah julukan menjadi kota sampah. Bau tak sedap tercium di mana-mana. Rombongan lalat berkeliaran ke sana ke mari. Onggokan-onggokan sampah mengganggu arus lalu lintas. Tak heran bila kemudian Bandung mendapat predikat Kota Terkotor di Indonesia dari Kementerian Lingkungan Hidup pada peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia. Predikat yang sangat memalukan.

Tanggap Darurat Berdasarkan prediksi, setiap hari warga Bandung dan sekitarnya menghasilkan sampah sebanyak 7.500 meter kubik. Sejak Leuwigajah ditutup, sampah-sampah itu untuk sementara dibuang ke TPA Jelekong, Cicabe, dan Pasir Impun yang difungsikan sebagai TPA darurat. Ini mau tidak mau harus dilakukan karena dalam kondisi seperti itu, Kota Bandung harus menjadi tuan rumah peringatan Hari Ulang Tahun Konferensi Asia Afrika ke-50. Pengoperasian kembali TPA lama ini tidak mudah. Warga di sekitar TPA, misalnya di Jelekong, tidak mau menerima kenyataan pemfungsian kembali TPA tersebut. Selain itu, kapasitas TPA memang terbatas. TPA Jelekong seluas 10 hektar yang dibuka kembali Maret 2005, akhirnya ditutup 31 Desember 2005. Sebagai gantinya sampah dibuang ke TPA Cicabe mulai 9 Januari 2006. Sebagian lainnya dibuang ke TPA Pasir Impun, yang sebenarnya telah ditutup tahun 1990, guna menghadapi HUT KAA. Akhirnya kedua TPA itu pun tak mampu lagi menampung sampah Kota Bandung. Sejak 15 April 2006 tak ada lagi TPA sampah. Sebenarnya, Pemkot Bandung juga telah berupaya mengurangi timbulan sampah dari sumbernya. Surat

Percik

Agustus 2006

L A P O R A N U TA M A
Edaran Walikota Nomor : 658.1 / SE 055 - BPOD tanggal, 28 April 2005 tentang langkah-langkah proaktif penanganan sampah Kota Bandung melalui program 3 R, dan Surat Edaran Walikota Bandung Nomor : 658.1 / SE. 135 PD.KBR tanggal, 27 Desember 2005 tentang optimalisasi Surat Edaran Nomor : 658.1 / SE 055 - BPOD. Berbagai upaya telah dilakukan oleh masyarakat (Lihat: Kegiatan Persampahan Masyarakat di Bandung). Tapi hasilnya kurang signifikan. Kegiatan ini maksimum hanya mampu mengurangi 10 persen dari total timbunan sampah. Bersamaan dengan itu, Pemkot Bandung mencari lahan kosong milik pemerintah kota, masyarakat dan badan usaha untuk digunakan sebagai tempat penimbunan sampah. Lokasi yang didapat yakni Kecamatan Regol (200 m2), Cibenying Kaler (50 m2), Kiaracondong (400 m2), Bandung Kidul (50 m2), Sumur Bandung (60 m2), Bandung Kulon (264 m2), dan Arcamanik (1.800 m2). Karena hanya untuk menimbun, lahan-lahan itu pun penuh. Kondisi ini memaksa Pemkot Bandung mencari alternatif. Tapi itu tidak mudah. Ada 31 lokasi yang diharapkan bisa menjadi TPA baru atau darurat. Dari jumlah tersebut tiga daerah menjadi nominasi yakni Blok Cimerang, Desa Citatah, Kab. Bandung; Blok Legok Nangka, Kec. Nagrek, Kab. Bandung; dan Desa Sumur Bandung, Kec. Cipatat, Kab. Bandung. Namun ada kendala perizinan. Sebagian ada kendala penolakan dari masyarakat sekitar lokasi. Pemerintah Propinsi Jawa Barat turun tangan. Apalagi pemerintah pusat menaruh perhatian besar terhadap kondisi Kota Bandung. Pemprop bersama Muspida, Pemkot Bandung, Pemkab Bandung, Pemkot Cimahi, Perum Perhutani Unit III Jabar, Kodam III Siliwangi, dan PTP VIII melalui serangkaian pembicaraan menyepakati tiga lokasi untuk dijadikan TPA sementara. Lokasi itu yaitu Blok Cikubang, Desa Sumur Bandung, Kec. Cipatat, Kab. Bandung (milik TNI AD) seluas 1,5 hektar; Blok Cigedig, Desa Sarimukti, Kec. Cipatat, Kab. Bandung (milik Perum Perhutani) seluas 21,2 hektar; dan Blok Gunung Hejo, Desa Cianting, Kec. Sukatani, Kab. Bandung (milik PTP VIII). Blok yang terakhir belum bisa digunakan. Blok Cikubang digunakan pada 26 Mei hingga 11 Juni 2006. Sedangkan Blok Cigedig digunakan mulai 28 Mei hingga saat ini. Selama 15 April 2006-26 Mei 2006, sampah menumpuk. Volumenya diperkirakan mencapai sekitar 400 ribu meter kubik. Sampah-sampah itu telah dipindahkan ke Blok Cigedig, Sarimukti dengan memaksimalkan armada yang ada-sekitar 140 truk sampah dari PD Kebersihan Kota Bandung, sewa truk, dan bantuan truk TNI. Sementara persampahan tertangani. Program Jangka Panjang Pemkot Bandung kini sudah bersih. Predikat kota terkotor, mungkin sudah bisa dicabut. Tapi bukan berarti permasalahan persampahan di kota ini sudah usai. Pekerjaan rumah besar kini yang menanti yaitu bagaimana mengelola sampah kota dalam jangka panjang. Kalau tidak, persoalan ini akan menjadi bom waktu yang bisa kapan saja meledak dan membawa bencana. Pemerintah kota sendiri telah merencanakan untuk membangun pabrik pengolah sampah. Rencana ini muncul setelah Walikota Bandung mengunjungi Shanghai Cina dan Singapura untuk melihat dari dekat proses penanganan sampah di kedua kota tersebut. ''Ternyata ada pengolah sampah di tengah kota yang menghasilkan energi. Prosesnya tidak menyisakan sampah sedikitpun. Kota Bandung ingin menuju ke sana,'' kata H. Dada Rosada beberapa waktu lalu. Untuk kebutuhan itu, Pemkot telah mencari lahan sebagai lokasi pabrik. Letaknya di dalam kota, di wilayah Bandung timur. Luasnya 20 hektar dengan pembagian 5 hektar untuk bangunan pabrik, 5 hektar untuk lahan cadangan, dan 10 hektar untuk penghijauan. Lokasi ini pun, menurut Walikota, secara prinsip tak masalah karena hanya dimiliki oleh satu orang
FOTO:MUJIYANTO

TPA darurat Sarimukti.

Percik

Agustus 2006

L A P O R A N U TA M A
dan yang bersangkutan tak keberatan. Rencana Pemkot Bandung ini didasarkan pada konsep strategis pengolahan sampah yakni (i) mengubah cara pandang dan persepsi tentang sampah (bagi penimbul sampah dan pengelola sampah) dari sesuatu yang harus dibuang dan dimusnahkan, menjadi sesuatu yang masuk memiliki nilai manfaat dan sebagai sumber daya yang terhabiskan (sustainable resources), (ii) menjaga keberlanjutan sistem operasional pelayanan, karena dengan sistem pengolahan akan mengurangi kerentanan macet atau jenuhnya mata rantai operasional yaitu sistem pembuangan. Bila mata rantai pembuangan macet atau jenuh maka akan memacetkan mata rantai sistem pelayanan lainnya seperti pengumpulan dan pengangkutan sehingga sampah akan tertumpuk di TPS-TPS dan tempat lainnya. Sembari menuju ke arah sana, Pemkot bekerja sama dengan Institut Teknologi Bandung (ITB) mengembangkan pabrik pengolah sampah skala kecil. Setiap hari pabrik ini mengolah 24 ton sampah. Energi yang dihasilkan sebesar 500 kWh. Energi ini dinilai terlalu kecil dan belum ekonomis. Nantinya pabrik yang akan dibangun mampu menghasilkan energi 25-30 Mega Watt. Sementara asupannya berupa sampah seberat 1.500 ton per hari. Pabrik ini juga menghasilkan uap air dan abu untuk bahan bangunan (batako). Listrik tersebut nanti akan dijual kepada masyarakat. Niat Pemkot ini tampaknya akan terwujud. Pemkot telah menggandeng PT. Bandung Raya Indah Lestari (BRIL) dan Daarut Tauhid, ITB, dan PLN. Pemkot akan bertindak sebagai pemilik sampah. PT BRIL dan Daarut Tauhid sebagai pengolah sampah, PLN sebagai pembeli dan penjual listrik. ITB bertugas menangani perencanaan teknologinya. Jika tidak ada aral melintang, pabrik akan berdiri tahun depan.

KONDISI FISIK SAMPAH KOTA BANDUNG PER HARI


NO. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. KOMPONEN Berat (ton) Sampah basah Kertas Tekstil Plastik Pecah belah Logam Lain-lain Jumlah 1.11 223 10 236 26 28 236 1.875 BERAT DAN VOLUME % Berat 59,5 11,9 0,5 12,6 1,4 1,5 12,8 100,0 Vol (m3) 3.592,5 2.235 112,5 697,5 60 292,5 525 7.500 %Vol 47,9 29,8 1,5 9,3 0,8 3,9 7,0 100.0

sumber: Pemkot Bandung

Dalam kaitan manajemen, Pemkot menyiapkan konsep. Pertama, pada perhitungan kondisi usaha berjalan dan beroperasi sesuai dengan mekanisme pasar (layak usaha), manajemen pabrik dapat sepenuhnya diserahkan kepada swasta. Kedua, jika pabrik tidak dapat berjalan dan beroperasi sesuai dengan mekanisme pasar (hasil penjualan produk tidak mencukupi untuk menjalankan usaha pabrik) manajemen pabrik dikelola bersama antara swasta dan pemerintah kota dengan mekanisme subsidi. Menurut Walikota rencana pembangunan pabrik ini tidak akan mengganggu program Greater Bandung Waste Management Corporation (GBWMC). Dia menilai sampah Bandung itu banyak. ''Kita akan tetap ikut program itu,'' kata Dada. Kebijakan Hasil Panitia Ad Hoc Penanganan sampah di Kota Bandung memang tak bisa hanya dibebankan kepada Pemkot. Banyak pihak terkait dalam masalah ini, termasuk pemerintah daerah di sekitar ibukota Propinsi Jawa Barat tersebut. Mau tidak mau penanganannya pun harus terintegrasi antarsemua stakeholder baik dalam jangka pendek (hingga akhir 2007), menengah (2-3 tahun), dan panjang (10 tahun). Atas dasar itu, pe-

merintah pusat pada 23 Juni 2006 membentuk panitia ad hoc. Panitia itu beranggotakan tim daerah (Pemkot Bandung, Pemkab Bandung, Pemkot Cimahi, dan ITB) dan tim pusat (Bappenas, Dep. PU, Kementerian LH, dan BPPT). Panitia ini bertugas menyusun langkahlangkah strategis dalam upaya penanggulangan krisis sampah di Metropolitan Bandung, sekaligus melakukan koordinasi dan mempererat kerja sama. Melalui serangkaian pertemuan, panitia ad hoc menetapkan prinsip dasar bagi strategi program. Prinsip itu adalah: 1. Pengurangan timbulan sampah dimulai dari sumbernya - gerakan 3 R (Reduce, Reuse dan Recycle) sehingga sampah yang dikumpulkan, diangkut, dan dibuang menjadi minim. 2. Azas polluter pays principle, yang mewajibkan siapapun yang menghasilkan sampah menanggung biaya penanganan sampah. 3. Penyediaan TPA masih dibutuhkan dalam pengelolaan persampahan perkotaan. 4. Kerja sama regional untuk memperoleh lokasi TPA dan menanganinya secara bersama. 5. Program pengembangan lebih lanjut, yaitu memanfaatkan sampah untuk kepentingan lain dan

Percik

Agustus 2006

L A P O R A N U TA M A
sekaligus mengurangi jumlahnya secara efektif, seperti penerapan Waste to Energy Dalam jangka pendek, penanganan sampah di sumber akan dilakukan dengan program pemilahan, 3R, dan composting skala rumah tangga. Untuk itu akan ada sosialisasi, pelatihan dan pembentukan KSM (Kelompok Swadaya Masyarakat), proyek composting skala rumah tangga, disertai penegakan aturan. Di tingkat TPS, program berupa peningkatan cakupan pelayanan pengangkutan. Caranya dengan penambahan jumlah armada pengangkutan, inventarisasi dan revitalisasi TPS, pengaturan rute berbasis GIS (Geographic Information System) dan jadwalnya, replikasi program composting skala kawasan, serta studi dan Konstruksi TPS. Sedangkan di TPA, TPA Sarimukti akan direvitalisasi (landfill 21,2 Ha) melalui Detail Engineering Design (DED) dan Konstruksi, pembangunan instalasi kompos, serta operasi dan pemeliharaan. Selain itu, penetapan Lokasi, Instalasi Pengolahan Terpadu (IPT), Pembebasan Lahan, Analisis Dampak Lingkungan (AMDAL), DED, TPA Citiis/Legok Nangka; identifikasi rencana aksi sesuai hasil GBWMC; dan penyelesaian status hukum TPA Leuwigajah. Pada jangka menengah, di tingkat sumber, program berupa replikasi program pemilahan, 3R, composting skala rumah tangga, serta pemberlakuan sanksi denda terhadap pelanggaran aturan. Di TPS, peningkatan cakupan pelayanan pengangkutan, replikasi program composting skala kawasan, serta studi dan konstruksi SPA. Di TPA, studi kelayakan, Amdal, dan DED TPA Citiis/Legok Nangka; sosialisasi teknologi Reusable Sanitary Landfill (RSL) dan Sanitary landfill (SL) di TPA Leuwigajah; studi kelayakan TPA Regional-Sanitary landfill; peraturan kerja sama antar daerah; kerja sama dengan swasta; DED pengolahan sampah terpadu; Pilot Project Waste to : (i) Energi (ii) Pupuk organik; dan pilot Project Landfill Gas to Energy (LFGTE). Sedangkan pada jangka panjang, penanganan sampah di sumber sama dengan tahap sebelumnya. Di tingkat TPS, programnya yakni efisiensi dan peningkatan kapasitas manajemen pengelolaan persampahan, pencapaian target "full cost recovery" pada periode perencanaan jangka panjang dan pilot proyek composting skala kawasan. Di TPA, program berupa konstruksi teknologi RSL dan SL di TPA Leuwigajah; pembangunan Pengolahan Sampah Terpadu (kapasitas 100 m3/hari, lahan: 1500 m2, dengan perkiraan investasi Rp. 2,3 milyar); Waste to Energy - Pilot Project (konstruksi pilot project Waste to Energy (100 ton/hari), supervisi pilot project Waste to Energy, dan Evaluasi pilot project Waste to Energy). Penanganan sampah hasil panitia ad hoc ini, kalau disimak merupakan hasil kompilasi dan kompromi dari berbagai usulan dari stakeholder. (Lihat: Pilihan Konsep Penanganan Sampah Kota Bandung). Secara teori, kebijakan itu cukup menjanjikan. Tapi apakah cukup aplikatif? Pertanyaan ini perlu diajukan mengingat implementasi yang melibatkan banyak pihak biasanya justru malah tidak bisa berjalan sesuai harapan. Semoga ini hanya sebuah kekhawatiran yang tak terbukti. Sekarang kita tinggal menunggu, aksi mana yang akan bisa membendung sampah Kota Bandung. mujiyanto

SEKILAS

PROGRAM

GBWMC

reater Bandung Waste Management Corporation (GBWMC) adalah sebuah lembaga yang dibentuk untuk menangani sampah Metropolitan Bandung (Bandung dan sekitarnya). Pembentukan kelembagaan ini didasarkan atas nota kesepahaman pengelolaan sampah Metropolitan Bandung 7 Maret 2005, SK Gubernur Jawa Barat tentang Pembentukan Tim Perumus Pengelolaan Sampah di Metropolitan Bandung, dan SKB Pembentukan Wadah Pengelolaan Sampah Bersama di Metropolitan Bandung 27 Desember 2005. Pemerintah daerah yang terlibat dalam GBWMC ini adalah Kota Bandung, Kota Cimahi, Kab. Bandung, Kabupaten Garut, dan Kabupaten Sumedang. Dua kabupaten lainnya yakni Purwakarta dan Cianjur belum ada kepastian. Strategi pelaksanaan GBWMC menggunakan tiga prinsip yakni: 1. Strategi teknis a. Pencegahan sampah dari sumber: permukiman, pertanian, pertokoan, termasuk kantor dan sekolah (Perlu regulasi dan enforcement) b. TPA masih diperlukan 2. Strategi kelembagaan dan SDM a. Sampah merupakan masalah public management b. Peningkatan kapasitas aparatur publik atau out sourcing 3. Strategi budaya dan spiritual a. Sampah fisik merupakan resultan sampah non fisik b. Pendekatan: budaya/keteladanan dan spiritual (perlu kampanye/sosialisasi)

Nantinya akan ada dua TPA untuk wilayah Metropolitan Bandung. Satu untuk kawasan timur dan satunya untuk kawasan barat. Berdasarkan survei ada dua daerah yang terpilih yakni Citiis (100 ha), dan Legok Selong (70 ha). Sementara tahap pengolahan sampah sebagai berikut.
TA H A P P E N G O L A H A N S A M PA H
Ta h a p - 1 Ta h a p - 2 Ta h a p - 3

Area 1 TPA Masa Pakai Model Penanganan Sampah Produksi Pendapatan

100 ha 20-25 tahun TPA Sanitary Landfill ---Rp. 0

100 ha > 25 tahun TPA Recovery Storage - gas, kompos Rp. XXX

100 ha >>> 25 tahun TPA Storage Waste to Energy - listrik, bhn kimia Rp. YYY

Pelaksanaan GBWMC (TPA Sanitary landfill dan pengurangan sampah di sumber) membutuhkan dana sebesar Rp. 385 milyar. Skenario pendanaannya ada empat yaitu (i) sharing pusat-propinsi-kab/kota, (ii) sharing propinsikab/kota, (iii) sharing propinsi-kab/kota-investor, (iv) dana pinjaman dari Bank Dunia dengan melibatkan swasta sebagai operator. GBWMC merencanakan selambat-lambatnya 27 Desember 2006 wadah pengelolaan sampah bersama di Metropolitan Bandung telah resmi terbentuk. Gubernur Jawa Barat juga diharapkan telah mengeluarkan SK untuk penunjukan lokasi TPA. MJ

Percik

Agustus 2006

L A P O R A N U TA M A

Pengurangan Sampah di Sumber


S
elain mencari alternatif TPA, PD Kebersihan Bandung mengadakan kerja sama dengan berbagai pihak untuk mengolah sampah di sumber sampah atau TPS. Kemitraan yang terjalin itu yaitu composting di Eks TPA Pasir Impun, daur ulang plastik jenis PET dan PE (Botol dan Gelas kemasan air minum mineral), dan daur ulang plastik menjadi kontainer (bin) sampah. Kegiatan-kegiatan itu antara lain :

Pengomposan oleh Yayasan Bitari di Eks TPA Pasir Impun Luas Lahan = 2000 m2 Volume sampah yang masuk = 20 m3/hari Produksi Kompos = 660 Kg/ Hari

Kegiatan Melalui Swadaya Masyarakat PT PINDAD Luas Lahan = 600 m2 Volume sampah yang masuk = 9 - 10 m3/hari Produksi Kompos = 500 - 1000 Kg/ Hari Jenis Sampah yang masuk kelokasi 90 % daun, 10 % hasil kegiatan kantor (kertas+sisa makanan) Residu Non Organik dibakar.

Daur Ulang Plastik oleh CV Fajat di eks TPA Pasir Impun dan Jl. Holis Luas Lahan = 2000 m2 Volume sampah Plastik = 0,5 - 1 ton/hari Jenis Produksi = Chips dan Kontainer

RW 1 1 C i b a n g k o n g Luas Lahan = 400 m2 (berikut lahan untuk uji coba tanaman) Volume sampah yang masuk = 10 m3/hari Produksi Kompos = 1 - 1,5 ton/ Hari Residu Non Organik dipilah dan dijual J h o n Pi e t e r s Lokasi RW 06 dan Jl. Cipamokolan No. 77 Kel.Cipamokolan Kec.Rancasari Luas Lahan = 2.500 m2 Volume sampah plastik = 6 ton/hari Volume sampah logam = 8 ton/hari Produk : Pelet plastik Pengomposan dengan Green Phoskko RW 04 Kelurahan Cipadung, Kecamatan Cibiru Luas Lahan = 100 m2 Volume sampah yang masuk = 2 m3/hari Produksi kompos = 0.35 m3/hari Residu Non Organik dipilah dan dijual Lindi dari pengomposan untuk pupuk cair Pengomposan dengan Green Phoskko RW 14 Kelurahan Palasari, Kecamatan Cibiru Luas Lahan = 100 m2 Volume sampah yang masuk = 1,2 m3 /hari Produksi kompos = 0,2 m3/hari Residu Non Organik dipilah dan dijual Residu Non Organik dibakar, abu dibuat bata.

Selain itu ada pula kegiatan melalui bantuan program WJEMP - CEF. Kegiatan yang sudah dilaksanakan yaitu pengomposan di 5 RW Kelurahan Gegerkalong, Kecamatan Sukasari Luas Lahan = 300 m2 Volume sampah yang masuk = 2-3 ton /hari Produksi kompos = 1 - 1,5 ton/hari Residu Non Organik dipilah dan dijual

Percik

Agustus 2006

L A P O R A N U TA M A

PILIHAN KONSEP PENANGANAN SAMPAH KOTA BANDUNG

ampah Bandung memang sudah terbendung kendati masih sementara waktu. Musibah sampah ini mengundang berbagai pihak untuk ikut urun rembug dalam rangka memecahkan persoalan tersebut. Setidaknya ada tiga instansi yang memiliki konsep, selain Pemerintah Kota Bandung sendiri. Usulan itu berasal dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Institut Teknologi Bandung (ITB), dan Kementerian Lingkungan Hidup. Berikut usulan masingmasing lembaga tersebut.

PEMKOT BANDUNG Jangka Pendek sebelum ada teknologi pengolahan Peran serta masyarakat melalui konsep 3 R (Reduce, reuse, dan recycle) Pengomposan, insinerator mikro skala RW/pembakaran (hati-hati) Penimbunan setempat Pengolahan sampah dengan basis teknologi modern Pembangunan pabrik pengolah sampah yang bisa mengubah sampah menjadi energi listrik, pupuk organik, atau produk lain. Kapasitas pabrik 1.500 ton/hari, operasi 24 jam/hari. Energi yang dihasilkan 30 M Watt. Manajemen sepenuhnya diserahkan swasta bila perhitungan usaha sesuai mekanisme pasar. Jika tidak, pabrik dikelola bersama antara swasta dan pemerintah kota.

Pengelolaan sampah terpadu, yakni Komposter rumah tangga Pengomposan Skala RT/RW, sekitar 10 RT: 3 gerobak sampah dengan volume 4,5-5 m3/hari Pengolah sampah terpadu kapasitas 100 m3/hari. Butuh lahan 1.500 m2. Butuh hanggar utama, hanggar kompos, rumah kaca, conveyor belt, mesin pencacah sampah organik, sistem suplai udara pengomposan aerasi, unit reactor uji coba gasifikasi dan biogas, penyaring kompos, insinerator, mesin batako, pencacah plastic, container stok, timbangan dan sebagainya. Biaya operasi pada kapasitas minimum (20 m3) yakni Rp. 27.000/m3 dan pada kapasitas maksimum kompos cepat (100 m3) yakni Rp. 5.400/m3.

ITB

m3/hari). Untuk jangka panjang penerapan konsep 3R dapat mencapai 40-60 persen dari total timbulan sampah. Total biaya yang dibutuhkan selama tahun 2006 yakni Rp. 2 milyar.

BPPT

Skenario 1 Rehabilitasi dan pemakaian kembali TPA Leuwigajah (jika TPA itu bisa dimanfaatkan) menjadi reusable sanitary landfill dan pengelolaan sampah terpadu berbasis 3 R. Biaya pengolahan per ton sampah adalah Rp. 79.074. Skenario 2 Penerapan TPA reusable sanitary landfill (jika TPA Leuwigajah tidak dapat dimanfaatkan dan jika didapatkan TPA baru dengan luasan yang memadai) dan penerapan pengelolaan sampah terpadu berbasis 3 R. Butuh dua lokasi RSL dengan kapasitas 13.000 m3/hari dan 7.000 KEMENTERIAN LH m3/hari. Biaya pengolahan Rp. Penerapan konsep 3 R dengan me87.079 per ton sampah. maksimalkan 6 lokasi TPS potensial selama tahun 2006. Metode ini diperSkenario 3 kirakan dapat mengurangi sampah Penerapan pengolahan sampah mensebesar 725 m3 atau sekitar 22,66 jadi energi melalui teknologi insinerapersen (total sampah terangkut 3.200 tor, TPA RSL ukuran kecil, dan penerapan pengelolaan sampah terpadu berbasis gerakan 3 R (jika TPA LeuFOTO:MUJIYANTO wigajah tidak dapat digunakan dan didapatkan TPA baru dengan luasan yang relatif sempit). Insinerator yang akan dibangun mempunyai kapasitas 1.000 ton per hari yang dilengkapi sistem pemanfaatan panas pembakaran untuk energi. Butuh lahan 5 hektar dan dua lokasi TPA RSL dengan kapasitas tampung masingmasing 8.000 m3/hari. Biaya perkiraan per ton sampah yakni Rp. 124.870. MJ

Percik

Agustus 2006

L A P O R A N U TA M A

Walikota Bandung, H. Dada Rosada:

Tak Bisa Lagi Cara Tradisional

isa digambarkan seperti apa pengelolaan sampah di kota Bandung sebelum terjadinya darurat sampah? Selama ini pengelolaan sampah dilakukan secara tradisional yaitu sanitary landfill, paling juga meningkat pada control landfill. Kalau sanitary landfill, sampah dibuang saja kemudian diratakan pada satu lokasi tertentu. Sedangkan control landfill, sampah diratakan kemudian ditumpuk tanah. Baik sanitary maupun control landfill ternyata keduanya menimbulkan masalah ke depan kalau dibiarkan terus. Sanitary landfill kan membutuhkan tanah yang luas. Kalau tanahnya sempit, pada suatu saat bisa menimbulkan musibah. Contohnya di Leuwigajah. Kalau kita menumpuk tanah akan berakibat yang sama juga karena air lindinya dan ambrolnya sampah bisa terjadi. Kalau kita mau membuat vertikal, memangnya mau ditembok ke atas? Dengan terjadinya kasus Leuwigajah kita harus berbuat lebih baik dan tidak mengulangi lagi kasus tersebut yang jelas menimbulkan korban dan merugikan masyarakat dan pemerintah kota. Apa yang dilakukan Pemda setelah Leuwigajah longsor? Seizin gubernur secara lisan, sekitar bulan Maret 2005 kami mengundang 16 pengusaha yang mau bergerak di bidang pengolahan sampah baik yang menghasilkan kompos, pupuk, energi, briket, batubata, semen dan sebagainya. Mereka berasal dari dalam dan luar negeri. Untuk menyeleksi mereka, kami membentuk tim perumus yang terdiri dari pemerintah kota, pakar lingkungan, dan dari Unpad. Tim bekerja dan akhirnya

FOTO:MUJIYANTO

terseleksi menjadi lima, dan akhirnya menjadi tiga. Tiga itu kemudian membentuk konsorsium yang namanya PT BRIL yaitu Bandung Raya Indah Lestari. Pada September 2005 kita mengadakan MoU dengan perusahaan tersebut. Kewajiban PT BRIL adalah mencari tanah dan membebaskannya untuk pabrik, kemudian membuat pabrik sendiri. Sebelumnya pada JuliAgustus kita ke Shanghai, Cina, melihat pabrik di sana. Apa yang kita lakukan mengadopsi dari sana. Walaupun saya pribadi pernah dapat training dengan Bupati Bandung dan Walikota Cimahi dalam bidang sampah. Sehingga saya bisa melengkapi komparasi Jepang dan Cina itu. Setelah September, BRIL mencari lahan. Ternyata tidak mudah. Yang dicari di Kab. Bandung dan Garut. Beberapa lokasi di Bandung, masyarakat setuju, kita setuju, tapi Pemda Kab. Bandung tidak setuju. Ada juga yang kabupaten setuju tapi masyarakat tidak setuju. Jadi tidak mudah. Yang terakhir kita masih membuang sampah di Jelekong, Kab. Bandung. Terus ditutup. Kita juga

punya di Pasir Impun, 7 Ha juga ditutup. Juga di Cicabe, 14 April ditutup. Jadi pada 15 April kita tak bisa membuang sampah ke mana-mana. Sampai 26 Mei 2006 sampah menumpuk. Lamanya 41 hari. Setiap hari ada 7.500 meter kubik sampah. Kali 41 hari jadi sekitar 400 ribu meter kubik. Oleh karena itu saya katakan Bandung itu musibah darurat sampah. Dan ini bukan hanya isu nasional tapi juga internasional. Saya terus berupaya menyelesaikannya. Pada 26 Mei Pak Gubernur dan Panglima Kodam III Siliwangi turun tangan sehingga mendapatkan tanah di Sarimukti, milik Perhutani seluas 21 hektar. Saat itu juga kita memakai tanah Kodam di Cikubang seluas 2,5 ha, dan itu hanya mampu dipakai selama 10 hari. Sekarang kita menggunakan Sarimukti. Dengan Sarimukti, 7 Agustus lalu Pak Gubernur menandatangani perjanjian dengan Perhutani sebagai payung hukum penggunaan lahan tersebut. Bahwa sampah yang dibuang oleh Kab. Bandung, Cimahi, Kota Bandung, nantinya akan dijadikan tempat pengolahan menjadi kompos. Ini juga atas saran tim yang dibentuk oleh Men PPN/Ketua bappenas, Meneg LH, Menteri Ristek. Pemerintah menyediakan dana Rp. 14 milyar. Pembagiannya, Kota Bandung Rp. 1,5 milyar untuk membangun fasilitas pengolahan kompos menjadi sampah di Sarimukti. Tapi setelah saya komparasi ke Singapura seminggu lalu, ternyata ada fasilitas pengolahan sampah di tengah kota menjadi energi, pembersih air. Ada empat lokasi. Sehingga untuk energi listrik, Kota Bandung sangat memungkinkan karena hanya menggunakan 5 ha untuk pabrik, 15 ha untuk green belt-nya. Saya menghendaki 5 ha untuk pabrik, 5 ha untuk

Percik

Agustus 2006

L A P O R A N U TA M A
ILLUSTRASI:RUDI KOZ

PEMKOT

cadangan, dan 10 ha untuk penghijauan. Dari pengalaman di beberapa negara, ternyata prosesnya tidak menyisakan sampah sedikitpun karena sampah diolah terus. Kota Bandung ingin menuju ke sana. Mudah-mudahan kalau ini teralisasi, ini menjadikan yang pertama di Indonesia. Apakah Pemkot hanya bekerja sama dengan swasta itu saja? Pada 31 Juli lalu, kerja sama Pemkot Bandung dengan PT BRIL dikembangkan lagi dengan ITB, PLN, dan Darut Tauhid. Keputusannya, Pemkot yang mempunyai sampah, PT BRIL dan Darut Tauhid yang mengolah sampah, PLN yang membeli dan menjual, dan ITB yang menangani perencanaan teknologinya. Sebelumnya ITB dan PLN sudah mengadakan kerja sama dengan skala kecil 1 hari 24 ton menghasilkan energi listrik 500 kWH. Ini dinilai terlalu kecil sehingga PLN menyarankan bekerja sama dengan Pemkot karena punya sampah banyak. Kita ancerancer 1500 ton per hari dapat menghasilkan 25 Mega Watt. Kerja sama regional antarpemda sendiri seperti apa? Kerja sama antar Pemkot, Pemkab Bandung, dan Cimahi wujudnya ya pembuangan bersama di Sarimukti, Kab

Bandung itu. Kabupaten Bandung dan Cimahi sampahnya tidak banyak. Kalau kota Bandung per hari 7.500 meter kubik, sedangkan Cimahi tiga bulan saja 450 meter kubik. Kami yang terbanyak menginginkan sampah ini jadi energi listrik. Kebetulan PLN juga belum bisa melayani semua warga. Di mana lokasi pabrik yang direncanakan? Ada di Bandung timur. Prosesnya sedang berlangsung. Insya Allah tidak akan mengalami kesulitan karena yang mempunyai tanah hanya seorang dan sudah menyerahkan kepada kita. Kita berharap tidak akan terjadi seperti yang di Bojong. Masyarakat sudah kita sosialisasikan dan mau. Soal anggaran bagaimana? Ya anggarannya bertahap. Berapa alokasinya? Kita belum menentukan. Yang penting sekarang adalah payung hukumnya dulu. Business plan-nya belum dibuat. Kerja kita banyak terganggu, misalnya mencari lahan saja kan tidak gampang. Dengan kasus musibah sampah ini, apakah Bandung mempertahankan master plan yang sudah ada atau membuat yang baru?

Kita membuat yang baru. Yang lama kan sanitary landfill. Itu sudah tidak bisa lagi. Sekarang master plan sedang dibuat. Jadi master plan baru titik lokasi saja. Bahwa di RTRW dan RDTRK-nya kita memplot Bandung timur sebagai lokasi industri nonpolutan dan pergudangan. Apa yang Anda sampaikan menunjukkan bagaimana sampah akhir itu diolah. Lalu bagaimana dengan pemberdayaan masyarakat dalam mengurangi sampah? Masyarakat kita imbau untuk memilah sampah di rumah dulu. Ini seperti yang dilakukan di negara-negara maju. Paling tidak dipilah antara yang organik dan anorganik. Sampah itu kemudian kita ambil dan dibawa ke depot. Di situ juga ada orang yang memilah. Di pabrik nantinya akan ada tenaga kerja dari mulai yang kasar sampai yang trampil yang memiliki keahlian khusus. Bagaimana bentuk kerja sama dengan pihak swasta? Semua kita serahkan kepada swasta. Nah kita tinggal nyicil, entah seperti apa bentuknya nanti. Operatornya swasta, kita bayar kepada mereka. Jadi mereka itu melakukan investasi dan yang mengoperasikannya. Jadi kita menyerahkan sampah dan kita bayar. Mereka memperoleh ke-

10

Percik

Agustus 2006

L A P O R A N U TA M A
untungan dari situ. Selain itu mereka menjual hasil sampah berupa energi ke PLN. Bagaimana dampak adanya pabrik sampah terhadap kinerja PD Kebersihan Kota Bandung? Ya secara bertahap, mungkin kita kerja samakan. Yang akan datang kan akan kembali menjadi milik pemerintah kota jika BOT atau BTO selesai. Berapa jangka waktu kerja sama dengan swasta ini? Ya, minimal 20 tahun. Apakah pemda menyiapkan Perda khusus untuk mengawal kerja sama ini? Ya, harus itu. Sekarang sudah ada perdanya. Judulnya yang ada Pengelolaan Sampah, dari rumah ke TPS dilakukan masyarakat bersama RT/RW, dari TPS diangkut ke TPA dan tidak diapa-apain. Masyarakat ditarik retribusi karena dari TPS ke TPA kita yang mengangkutnya. Belum ada perda khusus dalam kaitan kerja sama ini? Baru MoU. gi kota lain agar tidak terjadi musibah seperti di Bandung, apa yang harus dilakukan? Yang pertama, harus mengubah perilaku. Tak bisa lagi membuang sampah seenaknya. Memilah sampah. Dan pemerintah daerah tidak lagi menggunakan cara-cara yang tradisional, sanitary landfill. Apa yang harus dilakukan oleh pemerintah daerah jika mereka mengalami darurat sampah? Yang harus mengacu pada pengolahan sampah secara teknologi, apakah bergabung (dengan pihak/pemda lain) atau sendiri-sendiri. Maksudnya dalam kondisi darurat? Ya kita dengan seluruh potensi masyarakat melaksanakan 3 R itu. Reduce, Reuse, dan Recycle. Tapi itu sangat darurat sekali. Itupun hasilnya tidak banyak. Selama 41 hari ada sampah sekitar 400 ribu meter kubik. Dengan 3 R kita bisa mengurangi paling hanya 10 ribu meter kubik. Di samping itu proses itu tidak cepat untuk menimbulkan revolusi. Model seperti ini untuk jangka panjang. Membuat pengelolaan sampah di rumah kan juga tidak semua orang sanggup untuk itu. Jadi pengelolaan sampah dari tradisional ke teknologi itu mutlak. Mulai kapan pabrik beroperasi? Tahun ini kan baru pembangunan pabrik. Butuh waktu 1 tahun. Selama itu sampah kita buang di Sarimukti. Jadi ini sudah bagus sekali. Apakah langkah Anda tidak berbenturan dengan program GBWMC? GBWMC tidak ada masalah. Kita akan tetap ikut dalam program tersebut. Lagipula sampah Bandung itu kan banyak. Jadi tidak perlu ada kekhawatiran dengan Sarimukti. MJ

Kita dengan seluruh potensi masyarakat melaksanakan 3 R. Reduce, Reuse, dan Recycle. Tapi itu sangat darurat sekali. Itupun hasilnya tidak banyak.
Berarti harus ada payung hukum? Harus. Apalagi kerja sama itu juga menyangkut ITB, PLN, dan Darut Tauhid. Berapa sih anggaran untuk pengelolaan sampah selama ini? Dari Pemda kita membantu sebesar Rp. 20 milyar. Tapi beban yang diberikan kepada PD Kebersihan untuk retribusi kan hanya 53 persen-an dari kebutuhan anggaran yang lebih dari 20 milyar. Mungkin Anda punya saran baFOTO:MUJIYANTO

Sudut Kota Bandung yang sudah mulai bersih.

Percik

Agustus 2006

11

L A P O R A N U TA M A

Pembelajaran Darurat Sampah Bandung K


ondisi persampahan di Indonesia sudah sedemikian carut marut yang ditandai dengan berbagai kasus pencemaran akibat sampah. Puncaknya ketika TPA Leuwigajah longsor pada bulan Februari lalu yang memakan korban meninggal 146 orang dan diikuti dengan berbagai perdebatan sengit, saling menyalahkan. Namun seperti hal yang lazim terjadi di Republik kita tercinta ini, bencana longsornya TPA Leuwigajah pun tidak diikuti dengan upaya perbaikan yang memadai baik secara teknis maupun politis. Rasanya itulah titik nadir paling rendah dalam dunia persampahan di Indonesia selama ini. Meskipun tidak ada pernyataan resmi Pemerintah mengenai "keadaan darurat" sampah di wilayah Bandung, kenyataannya sejak bulan Mei 2006

Oleh: Endang Setyaningrum*

setelah TPA Leuwigajah longsor, sebanyak 300.000 m3 sampah tertahan di dalam kota karena tidak ada TPA yang dapat menerima sampah yang setiap harinya mencapai 4.000 m3 atau lebih tepat karena kuatnya penolakan warga yang keberatan dengan keberadaan TPA alternatif (TPA Jelekong, TPA Babakan, dan lain-lain). Dengan kondisi demikian, sudah dapat dipastikan Bandung yang terkenal sejuk dan indah berubah menjadi kota lautan sampah yang bau dan menjijikkan bahkan kekhawatiran terjadinya penyebaran penyakit sempat terjadi di beberapa lokasi. Namun ada atau tidaknya pernyataan darurat sampah Bandung secara resmi dari Pemerintah, kita mengakui

FOTO:ENDANG SETYANINGRUM

Sampah menumpuk di TPS.

bahwa kondisinya memang sudah super kritis dan harus segera ditangani dengan segera. Pada akhirnya tidak kurang dari empat menteri (PU, LH, Bappenas dan BPPT) dan bahkan ITB disibukkan oleh kegiatan tanggap darurat sampah tersebut meskipun instruksi Presiden untuk mengatasi masalah sampah Bandung hanya ditujukan kepada Menteri Lingkungan Hidup. Dalam kondisi tanggap darurat ini, TNI juga turun gunung (tepatnya turun kota) untuk mengevakuasi sampah dari dalam kota (tentunya dibantu oleh aparat pemerintah daerah dan PD Kebersihan Bandung), dengan mengerahkan personel, kendaraan dan alat berat serta menyediakan lokasi milik TNI di Cikubang, Kecamatan Darangdan-Kabupaten Purwakarta (luas 4 ha) sebagai tempat pembuangan sampah. Inilah barangkali yang dapat digunakan sebagai indikator sampah Bandung dalam keadaan darurat, yaitu seperti dalam kondisi perang. TNI berada digaris depan. Selain itu juga dibentuknya tim Satgas dan tim Ad Hoc. Selain itu sampah juga dibuang ke lokasi perkebunan milik Perhutani di desa Sarimukti (luas 21 ha), kecamatan Cipatat-Rajamandala, Kabupaten Bandung. Sebenarnya ada banyak pilihan lokasi yang dapat digunakan sebagai tempat darurat pembuangan sampah, namun banyaknya penolakan dari pihak masyarakat, akhirnya Gubernur memilih 3 lokasi yaitu : - Cikubang (luas 4 ha), jarak dari kota Bandung 28 km, tanah milik TNI yang terletak di Kabupaten Purwakarta - Sarimukti (21 ha), jarak dari kota

12

Percik

Agustus 2006

L A P O R A N U TA M A
Bandung 42 km, tanah milik Perhutani di wilayah kabupaten Bandung - Gunung Hejo (8 ha), jarak dari kota Bandung 33 km, tanah milik PTP VIII di wilayah Kabupaten Purwakarta Proses pembuangan di lokasi Cikubang dilakukan oleh personil TNI dengan metode pembuangan "darurat" yang lumayan, yaitu metode gali dan timbun. Saya sempat berpikir, ternyata tentara tidak hanya belajar masalah kemiliteran saja tetapi juga tahu bagaimana cara membuang sampah dengan "metode kucing" tersebut. Sayangnya sampah yang dapat ditampung di Cikubang kurang lebih hanya 50.000 m3 (luas lahan yang dapat digunakan hanya 1,5 ha dari 4 ha yang ada) selama 30 hari. Sedangkan proses pembuangan di lokasi Sarimukti lebih darurat lagi karena hanya mengandalkan open dumping disertai pemadatan (tanpa penutupan tanah seperti yang dilakukan Cikubang) dengan kapasitas pembuangan mencapai 800 m3/hari (saat ini telah menampung 70.000 m3). Sebenarnya izin penggunaan lokasi Sarimukti adalah untuk pembuatan kompos, namun mengingat kondisi darurat ini, maka kegiatan kompos sampai saat ini juga belum dilakukan. Sementara itu untuk pemanfaatan lokasi di Gunung Hejo (luas 8 ha, dapat dimanfaatkan 5,5 ha) yang terletak di sisi jalan tol Cipularang, belum sempat dilakukan. Meskipun telah dilakukan suatu quick detail engineering design untuk menerapkan metode pembuangan akhir sampah yang lebih baik, mengingat terdapatnya mata air di sekitar lokasi tersebut, namun sayang kemudian lokasi tersebut ditolak oleh DPRD Kabupaten Purwakarta meskipun persyaratan penyediaan air bersih bagi warga di sekitar lokasi (Kampung Cibentar dan Pasirmalaka) sudah dipenuhi oleh Departemen PU. Bahkan izin jalan masuk melalui jalan TOL saat itu sedang diproses oleh Menteri Pekerjaan Umum.
FOTO:ENDANG SETYANINGRUM

Antrian Truk Sampah di Jalan Masuk TPA Cikubang

Sekarang hanya tersedia dana Rp 15.000,-/ m3, masih jauh di bawah kewajaran harga suatu pengelolaan sampah. Pada akhirnya kita memang hanya dapat berandai-andai saja.
Harga Tanggap Darurat Upaya tanggap darurat yang semula diharapkan dapat selesai dalam 1 bulan sesuai instruksi Presiden, namun akhirnya memakan waktu sampai 3 bulan. Dalam kurun waktu tersebut, telah banyak dana yang harus dibayar oleh berbagai pihak untuk hal-hal sebagai berikut : - Biaya angkutan (Rp. 750.000 / rit) yang mencapai 180 truk (2 rit/hari) selama 3 bulan mencapai Rp. 8,1 milyar. - Biaya pembuangan di Cikubang (alat berat, personel dan infrastruktur pengamanan lingkungan) - Biaya pembuangan di Sarimukti (alat berat, personel, perbaikan jalan

masuk menuju lokasi) - Biaya DED Sarimukti - Biaya penyiapan lokasi Gunung Hejo (DED, penyediaan air bersih) - Tujuh unit alat berat senilai Rp. 11 Milyar - Biaya penyediaan air bersih di lokasi Gunung Hejo Biaya tersebut belum termasuk biaya yang jumlahnya sulit diperkirakan seperti biaya lahan baik di Cikubang maupun di Sarimukti, biaya koordinasi, biaya angkutan sampah yang telah berulang kali ditolak warga, biaya kesehatan masyarakat yang sakit akibat pencemaran sampah di dalam kota, biaya akibat menurunnya turis domestik yang batal ke Bandung dan lain-lain. Betapa mahalnya harga sebuah darurat sampah di wilayah Bandung tercinta, andai dulu TPA Leuwigajah tidak longsor, andai TPA Leuwigajah dapat dioperasikan dengan metode sanitary landfill yang benar, andai alokasi dana untuk mengelola sampah cukup memadai (sekarang hanya tersedia dana Rp 15.000,-/ m3, masih jauh di bawah kewajaran harga suatu pengelolaan sampah). Pada akhirnya kita memang hanya dapat berandai-andai saja.

Percik

Agustus 2006

13

L A P O R A N U TA M A
Kapan Darurat Berakhir? Setelah 3 bulan berlalu dan dari hitung-hitungan matematik volume sampah yang berhasil dievakuasi dari kota Bandung dan Cimahi ke lokasi TPA darurat, sebenarnya masih ada puluhan ribu m3 sampah yang masih tertahan di kota meskipun tidak se-jorok sebelumnya. Bandung relatif kembali bersih bahkan sudah dipenuhi lagi oleh turis Jakarta terutama pada hari libur dan akhir pekan. Apakah itu berarti proses tanggap darurat berakhir? Bagaimana dengan kelanjutan peningkatan kualitas TPA di Sarimukti yang hanya dilaksanakan secara open dumping dan kemungkinan leachatenya sudah mulai mencemari lingkungan? Bagaimana kelanjutan pelaksanaan unit produksi kompos terpadu di Sarimukti (sesuai dengan izin Perhutani)? Masih banyak hal yang perlu ditindaklanjuti agar tidak ada lagi "darurat sampah jilid 2". Skenario Pasca Tanggap Darurat Untuk skenario pasca tanggap darurat diusulkan perbaikan infrastruktur di lokasi Cikubang dan Sarimukti untuk mengatasi masalah pencemaran lingkungan yang sudah mulai terlihat di lokasi Sarimukti, terutama pencemaran leachate dan penyediaan fasilitas pengolahan sampah terpadu (kompos dan daur ulang) Sedangkan tahap lanjutannya adalah selain kembali ke skenario usulan WJEMP (GBWMC), yang meliputi : - Pelaksanaan sosialisasi kepada masyarakat dan pihak-pihak terkait untuk menghindari masalah konflik sosial seperti yang selama ini terjadi - Pembebasan lahan (lokasi Citiis dan Kebon Nangka-Nagrek) dengan ganti rugi yang memadai. - Penyediaan fasilitas landfill dan pengolahan sampah yang memadai terutama yang berkaitan dengan penyediaan zona penyangga, fasilitas perlindungan lingkungan dan lain-lain. - Pengoperasian TPA (tempat pemTimbulnya kesadaran warga untuk mengurangi volume sampah yang dibuang ke TPA dengan cara membuat kompos dan daur ulang sedekat mungkin dengan sumbernya, perlu diberikan dorongan, seperti pemberian insentif. Seyogyanya pihak eksekutif dan legislatif tidak lagi setengah hati dalam mengalokasikan dana untuk suatu pengelolaan persampahan yang memadai, terutama untuk peningkatan kualitas TPA pasca tanggap darurat (TPA Sarimukti) dan merealisasikan kompos terpadu skala besar. Pada akhirnya master plan sampah perlu ada dan menjadi acuan jangka panjang bagi semua pihak termasuk alokasi ruang untuk lokasi TPA yang dilengkapi dengan zona penyangga dan pemberlakuan "garis sempadan TPA". Alokasi TPA adalah juga investasi jangka panjang karena kita akan mendapatkan "lahan baru" pasca TPA, mungkin menjadi ruang terbuka hijau.
* Staf Direktorat Pengembangan Penyehatan Lingkungan Permukiman Direktorat Jenderal Cipta Karya Departemen Pekerjaan Umum
FOTO:ENDANG SETYANINGRUM

Seyogyanya pihak eksekutif dan legislatif tidak lagi setengah hati dalam mengalokasikan dana untuk suatu pengelolaan persampahan yang memadai.

buangan/pemrosesan akhir) sampah perlu dilakukan secara profesional dan tidak menimbulkan dampak negatif maupun masalah sosial. Juga penanganan pasca longsor TPA Leuwigajah dan TPA Jelekong. Renungan untuk Pembelajaran Meskipun badai (sampah) sudah berlalu dari Bandung, rasanya penting bagi kita semua untuk merenung, mengendapkan semua yang terjadi di Bandung sebagai titik tolak menuju semangat pengelolaan sampah yang lebih baik.

Kondisi Jalan Masuk ke TPA Cikubang.

14

Percik

Agustus 2006

WAWA N C A R A

Direktur Pengairan dan Irigasi, Bappenas, Ir. M. Dony Azdan, MA, MS, PhD:

Jawa Butuh Storage-storage Baru


FOTO:ISTIMEWA

Akhir-akhir ini kekeringan melanda berbagai daerah di Indonesia. Kondisi ini menyebabkan kerugian yang tidak sedikit jumlahnya. Anehnya, di beberapa daerah tersebut pada musim hujan justru kebanjiran. Ini fenomena yang menarik untuk diperbincangkan. Mengapa ini bisa terjadi dan apakah ini sekadar masalah alam atau ada campur tangan manusia? Untuk itu Percik mewawancarai Direktur Pengairan dan Irigasi Bappenas, M Dony Azdan di kantornya. Berikut petikannya.

Tapi untuk wilayah-wilayah pengembangan seperti daerah irigasi, itu tidak selalu terjadi. Berarti ini masalah kontrol. Di daerah-daerah yang artifisial, daerah-daerah irigasi buatan, pada saat banjir dia bisa melepaskan airnya ke sungai, dan saat musim kering ditahan. Pola irigasi di Indonesia umumnya irigasi gravitasi. Jadi hanya membendung dan menaikkan air saja. Tidak ada kontrol volume air, kecuali ada waduk. Itulah fungsi waduk-waduk besar. Ini full control. Tapi sebagian besar irigasi kita semi kontrol yaitu irigasi dengan menaikkan airnya. Campur tangan terhadap faktor lingkungan seperti apa? Soal lingkungan kita hanya bisa mengimbau. Hutan-hutan jangan ditebangi. Para petani di upper catchment area yang berpendapatan rendah biasanya juga menanam tanaman seperti singkong, jagung yang sangat buruk untuk aliran sungai karena tanaman itu tidak mampu menahan air. Permukiman-permukiman sampai saat ini sering begitu banyaknya developer lupa bahwa daerah itu sebenarnya tempat parkir air. Misalnya dulu Jakarta punya banyak rawa. Rawa itu sebenarnya tempat parkir air sebelum mengalir ke laut. Sekarang itu dikembangkan, dinaikkan dan sebagainya sehingga air tak memiliki tempat parkir. Itu sering menyebabkan banjir. Adakah kaitan antara kekeringan dan karakter sungai-sungai kita? Umumnya sungai di Jawa itu curam tapi pendek sehingga flushing-nya ce-

K ekeringan melanda berbagai daerah di Indonesia. Apa penyebabnya? Ada tiga faktor utama. Yang pertama, mungkin global climate change, perubahan iklim global. Karena hujan dan kekeringan terjadi di luar bulanbulan yang standar. Yang kedua, faktor lingkungan. Yang ketiga, infrastruktur sumber daya air. Sektor lingkungan sudah jelas, ada sektor-sektor di luar pengairan itu sendiri yang sangat berpengaruh misalnya kehutanan, pertanian lahan kering, dan sebagainya sehingga membuat kapasitas penyaluran air secara natural maupun buatan menjadi berkurang. Kita melihat waduk-waduk yang dibuat endapannya sangat tinggi. Kalau soal infrastruktur bagaimana? Soal infrastruktur, kita sendiri sudah punya investasi di sumber daya air termasuk irigasi, pengendalian sungai dan juga pengembangan rawa

hampir sebesar 10 milyar dolar sejak awal Orde Baru. Yang terbesar irigasi, karena saat itu kita didorong untuk swasembada pangan sehingga pembangunan irigasi berlangsung besar-besaran. Sampai sekarang kita punya irigasi teknis sebesar 4,6 juta hektar, full control. Ada yang dikatakan semi teknis dan sederhana hampir 7,2 juta hektar. Ada lagi irigasi tadah hujan. Biasanya di perdesaan yang tidak ada irigasi teknisnya. Sejauh mana hal itu mempengaruhi kekeringan? Kalau bicara kekeringan, sering terjadi dua hal, seperti sebuah mata uang. Satu sisi kekeringan, tapi sisi lain kebanjiran. Ini menunjukkan kemampuan suatu wilayah daerah aliran sungai yang berubah sehingga tidak mampu menahan air yang cukup karena catchment area-nya sudah hancur dan sebagainya. Yang sedang kita teliti sekarang, apakah daerah yang kekeringan itu pada musim hujan juga kebanjiran? Ternyata sungai-sungai besar umumnya demikian.

Percik

Agustus 2006

15

WAWA N C A R A

pat. Sementara itu kita tidak punya storage-storage yang relatif cukup untuk menahan air tersebut untuk musim kering. Kita tidak sempat saving. Saat ini kita punya 120 dam dengan waduk. Tetapi kalau kita lihat, khususnya di Jawa, air yang bisa kita saving itu hanya 10 persen. 90 persen air tidak pernah digunakan sebelum air itu sampai ke laut. Sudah alirannya curam, pendek, flushing, dan juga tidak punya storage. Sampai tahun 90-an, sebetulnya kita banyak membangun waduk-waduk. Dari awal 80-an sampai akhir 90-an, pertentangan dari teman-teman LH untuk membangun dam itu sangat besar dengan alasan perubahan efek lingkungan dan sebagainya yang membuat kita susah betul membuat waduk. Mereka membandingkan dengan Amerika atau Eropa. Amerika itu damnya ada 25 ribu. Kita cuma ratusan. Memang ada dua hal yaitu masalah pembebasan tanah dan perubahan lingkungan tetapi memang kalau saya pribadi menganggap storage perlu. Kalau sekarang kita perlu membangun dam, ya harus dibangun. Kebutuhannya besar. Artinya dengan kondisi alam itu sebenarnya kekeringan bisa diprediksi? Dari seluruh Indonesia, ada dua daerah yang mempunyai potensi defisit air yaitu Jawa dan Nusa Tenggara. Lainnya berdasarkan skala water balance global, tidak defisit. Hanya saja kita melihat lokal per lokal. Intinya kalau kita melihat per kepulauan maka Jawa itu adalah daerah kritis defisit air. Perhitungan global kita, dari hasil studi strategi penanganan sumber daya air Pulau Jawa, Jawa defisit 5 milyar meter kubik per tahun. Itu berarti tingkat saving harus dinaikkan. Kita masih butuh storage-storage yang cukup besar. Strateginya sekarang karena banyak pertentangan dari sisi lingkungan hidup untuk dam-dam besar, maka kita akan usahakan yang medium dan small scale

yang banyak seperti embung-embung. Setiap kabupaten misalnya, harus punya satu.

Ini yang sekarang sedang kita teliti. Manajemen yang bagaimana agar tak terjadi kekeringan? Ambil contoh Jatiluhur yang full control. Punya saluran yang ke barat untuk suplai Jakarta, ke timur untuk daerah sampai Indramayu, ke utara untuk daerah-daerah pantai. Biasanya di akhir musim hujan atau pertengahan musim hujan, bisa dilihat tahun ini tahun kering atau tahun basah. Kalau tahun ini tahun kering berarti ditutup semua pintunya supaya muka air naik sampai optimal, tidak harus dilepas setiap saat. Kalau tahun ini agak basah, sebagian di lepas. Katakanlah di tahun ini kita sudah punya storage, setelah itu maka kita ada pola tanam khususnya di ujung. Jadi di Kabupaten Karawang, Purwakarta, yang luasan hektarnya nanti akan dapat catuan air sekian meter kubik untuk luasan sekian. Ada daerah-daerah yang umumnya airnya itu sudah kecil, maka biasanya kita pakai penggolongan. Sampai pada titik tertentu, jika air agak susut maka harus ada rencana pola tanam yang ditetapkan. Misalnya, kali ini Indramayu jangan menamam padilah karena airnya tidak cukup. Maka ada penggolongan misalnya dari padi-padi-palawija menjadi padi-palawija-palawija. Dulu manajemen ini, ada ulu-ulu yang memegang kewenangan sangat kuat. Tapi di zaman sekarang petani susah diatur. Sudah tahu musim pertengahan kering, dia tanam padi lagi. Pada saatnya tidak dapat air, marah. Sebetulnya sepanjang saluran, petani tidak boleh mengambil air begitu saja. Sebab ini kan sudah diatur, untuk yang paling hilir. Kan semua dapat jatah. Kadang-kadang, pompa mudah, ambil aja sehingga yang di hilir sebenarnya belum waktunya kekeringan jadi kekeringan. Bagaimana dengan enforcement? Sekarang repot. Dulu semua mengikuti ulu-ulu, sekarang tidak. Mana-

Kalau kita melihat per kepulauan maka Jawa adalah daerah kritis defisit air. Perhitungan global kita, Jawa defisit 5 milyar meter kubik per tahun. Itu berarti tingkat saving harus dinaikkan.

Bisa dijelaskan seperti apa kondisi Pulau Jawa dari studi itu? Kita mendapatkan suatu potensi kabupaten-kabupaten yang defisit setelah kita lihat hidrologi dan demand-nya bagi sektor pertanian dan industri. Sebanyak 77 persen kabupaten di Jawa mengalami defisit. Defisit itu ada tiga kategori yaitu biasa antara 0-3 bulan per tahun, sedang 3-6 bulan, dan parah lebih besar dari 6 bulan. Kalau kondisi kita biarkan tanpa ada intervensi infrastruktur maka tahun 2015, 78 persen akan mengalami defisit. Tetapi dari yang biasa ke sedang atau ke parah akan semakin besar. Lokasi tidak banyak berubah, tapi defisitnya semakin parah. Pada 2025 defisit bisa menjadi 80,5 persen. Begitu kita coba list dari informasi yang ada, ada 26 area yang kekeringan. Misalnya Bandung, terjadi kekeringan. Memang dalam studi daerah tersebut termasuk agak parah. Garut defisit biasa. Indramayu parah. Kebumen agak parah. Wonosobo agak aneh, harusnya tidak defisit, tapi kok faktanya defisit. Berarti ini ada masalah manajemen air. Semarang defisit biasa. Purbalingga harusnya tidak bermasalah karena dapat air dari Comal dan Serayu yang cukup besar. Tapi kenapa kekeringan? Ini ada masalah manajemen.

16

Percik

Agustus 2006

WAWA N C A R A
FOTO:MUJIYANTO

jemen ini sedikit berubah dengan adanya otonomi. Siapa yang bertanggung jawab? Walaupun sudah ada UU, untuk irigasi yang di atas 3 ribu hektar itu tanggung jawab pemerintah pusat, 1-3 ribu propinsi, di bawah seribu tanggung jawab kabupaten, tapi apakah institusinya sudah siap? Misalnya yang di atas 3 ribu, sekarang pusat yang ada di sana siapa? Mau tidak mau kan harus ada tugas perbantuan ke daerah. Kalau begitu, daerah terbebani. Propinsi juga begitu, belum tentu dia punya orangnya. Akhirnya tugas perbantuan juga. Unit-unit ini sendiri sedang berubah. Dulu kan idealnya, meskipun dia orang pusat, dia kan tetap bisa digunakan oleh orang dinas di Kab/prop. Makanya dari sisi manajemen masih dalam proses improvement. Berapa kebutuhan storage kita? Untuk Jawa saja 5 milyar meter kubik. Sebagai ilustrasi, Indramayu itu daerah yang kering. Dari mana dapat air? Dia disuplai dari Jatiluhur. Makanya ada desain untuk Cimanuk yaitu Jatigede. Kalau waduk Jatigede terbangun maka storage-nya itu akan kita gunakan untuk daerah Indramayu dan Sumedang. Ini berarti akan mengurangi penggunaan air Jatiluhur. Jatiluhur akan kita gunakan lebih banyak ke barat atau ke utara. Misalnya kalau Jatigede hampir 500 juta meter kubik, maka butuh 10 waduk sebesar Jatigede. Tapi kita bisa juga bikin waduk yang kecil-kecil. Bagus jika misalnya ada embung-embung kabupaten atau kecamatan. Bahkan ada satu ide, per hektar ada tempat penampung air. Permasalahan di Jawa kepemilihan lahan kecil, rata-rata 0,25 hektar. Juga daerah-daerah subur, hampir 100 persen tidak mempunyai masalah air. Tapi di daerah kering, air juga sulit. Jadi ini bukan hanya sekadar masalah tempat tapi transformasi air itu sendiri. Misalnya ada orang cari air sampai 12 km, kalau diberi storage di situ juga belum tentu ada air.

Stok air di Situ Cibereum, Bandung, menurun.

Bagaimana kondisi infrastruktur keairan kita saat ini? Dari sisi infrastruktur, kita punya masalah dengan operasi dan pemeliharaan. Ternyata kalau kita membangun tempat lain, tempat yang pertama lupa dipelihara. Operasi dan pemeliharaan itu telah menjadi masalah sejak tahun 80-an. Misalnya jaringan irigasi yang sudah kita tetapkan ternyata operasi pemeliharaannya sangat terbatas sehingga baru 5 tahun harus direhabilitasi. Sebetulnya kalau kita punya perencanaan yang baik, mestinya 15 tahun baru direhab. Ini yang menjadi masalah di infrastruktur sumber daya air dan ini yang menjadi prioritas kita ke depan. Memang kita sangat mengerti pemerintah sendiri tidak mungkin, operasi dan pemeliharaan itu kan butuh ownership. Oleh sebab itu pendekatan kita, yang paling mendapat benefit adalah petani dan dia yang paling tahu mana yang diperlukan terlebih dahulu dalam memelihara. Lain kalau orang dinas, mungkin hanya melihat mana penampakan infrastruturnya yang baik kendati belum tentu fungsinya berjalan baik. Oleh karena itu kita introdusir sejak tahun 1990-an bahwa untuk operasi pemeliharaan kita memintakan partisipasi dari petani. Tadinya malah mau diserahkan tapi ada komplain yang luar

biasa. Tapi ini hanya untuk saluran tersiernya saja, yang primer dan sekunder tetap di tangan pemerintah karena itu rentan konflik karena penggunanya tidak hanya petani. Tersier ini kita harapkan petani dengan membuat kelompok ikut memelihara infrastruktur tersebut. Untuk pendanaannya, pemerintah masih bisa membantu. Bagaimana komposisi penggunaan sumber daya air? Biasanya, irigasi 89-94 persen. DMI municipal dan industri itu antara 4-11 persen. Untuk daerah yang sedang berkembang bisa 8-9 persen. Misalnya Bekasi dan Karawang. Jadi masih banyak untuk irigasi. Artinya yang akan banyak menanggung beban kekeringan sektor pertanian? Kekeringan dampaknya lebih banyak di pertanian. Tetapi juga tidak selalu. Ada daerah-daerah yang dari awal kering/defisit, misalnya Pacitan atau Indramayu. Problemnya itu kalau kita bicara untuk municipal dan industri, khususnya municipal, kualitas air jadi masalah. Kalau irigasi, kualitas air tak terlalu dipersoalkan. Problem utama kita berubah dari kawasan pertanian menjadi kawasan urban, tidak serta

Percik

Agustus 2006

17

WAWA N C A R A

merta air itu bisa ditransformasikan. Untuk daerah-daerah urban atau rural yang kekeringan, mereka lebih banyak tergantung pada cekungan ari tanah. Problem air cekungan dengan air permukaan itu sangat berbeda, kalau di lapisan antara 30-60 meter di bawah permukaan, masih ada kemungkinan hubungan. Tetapi jika kedalaman lebih dari 60 meter, berdiri sendiri. Mungkin tidak lagi begitu mudah untuk recovery. Daerah terpencil, sulit dapat air permukaan, mungkin sulit juga bisa membuat sumur. Cekungan air bawah tanah punya resapan air di hulu, kalau kita bisa memelihara hulu sebetulnya membantu dua hal yaitu air permukaan itu sendiri biar lebih bersih dan kapasitasnya bagus, perkolasi lebih bagus sehingga air tanah bisa dipertahankan, tapi untuk yang kedalamannya sedang 3060 meter. Kalau misalnya 125, mungkin lebih jauh lagi, mungkin di balik catchment area yang lain. Bagaimana bentuk kerja sama dengan instansi terkait untuk menjaga SDA kita? Sejak 2001 ada TKSDA (Tim Koordinasi Sumber Daya Air), dengan Keppres No 123. Ketuanya Menko

Ekuin dan wakilnya Bappenas, ketua hariannya Menteri PU dengan anggota 11 menteri. Tim ini adalah suatu wadah untuk membicarakan masalah-masalah air yang saling terkait antarsektor. Ada ESDM, Menkes, MenLH, Perhub dan sebagainya. Harapannya jika ada masalah bisa diselesaikan bersama. Tim inilah yang membuat draft-draft regulasi. Salah satunya adalah UU SDA. Di dalam UU No 7 itu kita sudah mengintrodusir selain kewenangan pemerintah pusat sampai ke kabupaten, juga integrasi antara yang mengusahakan, mengelola SDA, dan yang diberi hak mengelola. Dan itu akan dijabarkan ke dalam PP masalah sungai, PP tentang Irigasi, dsb. Juga kepmen dan keppres. Penginterasian inilah yang diharapkan ada partisipasi sektor-sektor terkait. Selain itu ada lagi gerakan nasional kemitraan penyelamatan air (GNKPA). Kalau bisa itu masuk level implementasi. Program itu kini memilih wilayahwilayah sungai untuk diperbaiki. Upaya-upaya lain di dalam GNKPA itu tidak hanya pemerintah tapi kita minta semua stakeholder. Selain itu, sekarang sedang kita introdusir integrated water resource management. Buat kita itu bukan hal yang baru tapi bagaimana
FOTO:ISTIMEWA

mengimlementasikannya. Artinya siapapun tahu dululah bahwa setiap kegiatan dia pasti akan terkait dengan air. Kita punya grand design soal air? Partisipasi. Salah satu yang paling penting bagi kita adalah bahwa ini bukan hanya pekerjaan pemerintah. Yang bisa mengelola dengan baik adalah masyarakat. Yang perlu menjadi kesadaran adalah bagaimana konsep masyarakat terhadap air. Kita ini kan orang yang baru sadar kalau sudah kejadian. Kalau bisa kita masuk ke pendidikan. Gerakan-gerakan penyelamatan air tidak hanya gerakan yang sifatnya fisik tapi dari anak-anak harus sudah diajarkan. Di wilayah-wilayah DAS akan disusun pola dan rencana. Setiap wilayah sungai harus punya pola dan rencana. Dulu kita punya master plan. Bengawan Solo, isinya bagaimana membangun waduk, buat tanggul, ngeruk sungainya yang lebih pada fasilitas fisik. Pola dimaksudnya untuk menata apa yang harus kita lakukan supaya SDA air kita tetap berkelanjutan. Di dalam rencana, juga tidak melulu fisik. Ini yang sedang kita lakukan untuk Citarum. Di situ nanti sektor apa mengerjakan apa sangat jelas, kabupaten apa tanggung jawab apa, sekarang lagi didesain. Imbauan Anda terhadap masyarakat? Ikuti balai-balai atau dinas-dinas, khususnya penyuluh pertanian. Kalau memang wilayah memungkinkan, buat storage meskipun kecil. Juga kita harus hemat air. Mulai sekarang masyarakat harus betul-betul menghargai air. Ini masalah kultur. Dianggap sungai tempat pembuangan. Ini masih kuat sekali di Jawa. Sungai harus dilihat sebagai sumber air yang sangat berharga. Masyarakat juga harus ikut mengawasi penggunaan air dan air yang dibuang ke sungai. Kalau perlu digugat bagi yang melanggar. MJ

18

Percik

Agustus 2006

I N O VA S I

Filter Penjernih Segala Jenis Air Ala H. Ali Dinar

nda mungkin sudah mengenal saringan pasir aktif. Saringan ini tersusun dari batu kerikil, arang, pasir, abu, dan ijuk. Saringan ini bisa digunakan untuk membersihkan air kotor/keruh. Namun hasilnya sering tidak memuaskan. Walhasil, orang akhirnya sering membeli saja saringan air pabrikan, baik produk dari dalam negeri atau impor. Harganya lumayan mahal. Daya tahannya pun kadang tidak terlalu lama. Padahal, kalau tepat menyusun komposisi, kita bisa dapatkan saringan air yang sangat baik. Air apa saja bisa disaring dan bisa langsung diminum. Anda tentu tak percaya. Tapi ini sudah dibuktikan oleh H. Ali Dinar, warga Cipamokolan, Bandung. Alat ini diberi nama "Filter Penjernih Air ala H. Ali Dinar". Alat ini, menurut H. Ali, mengandung tiga komposisi utama yakni abu, pasir, dan ijuk. Hanya saja, tentu dia memiliki resep sendiri untuk meramu komposisi ini sehingga mampu menyaring segala jenis air. Saat ini, temuan yang sebenarnya telah diaplikasikan sejak tahun 2003 itu memasuki pematenan. Selain komposisi utama itu, ada komposisi tambahan. Bahan tambahan ini berasal dari berbagai jenis bahan alami yang didapatkan di alam/pasar. Misalnya semen merah, kapur, tanah merah, dan lem kayu. ''Penggunaan bahan ini tergantung jenis air yang akan disaring,'' kata H. Ali, kakek berusia 58 tahun ini. Alat ini tidak dijual langsung ke pasar. Tapi harus pesan terlebih dahulu. Mengapa? Karena, setiap air di suatu daerah memiliki karakter tersendiri.

Saringannya pun bisa berbeda-beda untuk setiap sumber air. Maka H. Ali, akan melakukan percobaan dulu terhadap contoh air yang akan disaring. Dia menyusun komposisi filter yang tepat. Kalau hasil uji itu bagus, barulah H. Ali akan memproduksi filter itu, baik satuan maupun massal. Sebelumnya dia juga menguji mutu air tersebut ke laboratorium untuk memastikan bahwa hasilnya siap dikonsumsi. ''Supaya terjamin,'' kata kakek yang tidak lulus SD ini. Filter penjernih ini berbentuk menyerupai tabung. Diameternya 6 inci, dengan tinggi 30 cm, dan ketebalan sisinya 2 cm. Untuk kapasitas filter 500 liter, berat saringan ini hanya sekitar 1 kg. Ukuran filter bisa disesuaikan dengan volume air yang disaring. ''Bisa, sampai berapa pun bisa,'' katanya. Uji alat ini pertama kali dilaksanakan tahun 2004 atas bantuan dana
No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. Parameter A. FISIKA Bau Jumlah zat padat terlarut Kekeruhan Rasa Suhu Warna B. KIMIA Aluminium Besi Fluorida Kadmium Kesadahan (CaCO3) Klorida Mangan Nitrat, sebagai N Nitrit, sebagai N pH Sianida Sulfat Tembaga Timbal Satuan mg/L Skala NTU Celcius Skala TCU mg/L mg/L mg/L mg/L mg/L mg/L mg/L mg/L mg/L mg/L mg/L mg/L mg/L mg/L

Camat Rancasari. Pemeriksaan mutu air dilakukukan oleh Dinas Kesehatan Kota Bandung. Saat itu air yang disaring adalah air di kantor kecamatan yang tidak jauh dari rumah H. Ali. Hasil uji tertera pada tabel di bawah. Alat ini telah menyebar ke berbagai daerah. Dari mulai Jakarta, Karawang, hingga ke Riau. Para pengguna alat ini tahu dari mulut ke mulut. Produksinya sudah mencapai lebih dari seribu buah. Saat ini H. Ali sedang mendesain filter untuk air di tiga kabupaten di sepanjang Sungai Siak, Riau. Dia menerima order dari perusahaan minyak besar di sana. ''Sekarang hasilnya lagi ditunggu di Riau,'' katanya. H. Ali membawa sampel dari sembilan titik di kawasan tersebut ke rumahnya. Air ini berwarna hitam seperti oli. ''Itu mah gampang. Lebih gampang dari air di Cipamokolan,'' katanya. Di rumah
Kadar Maksimum yang Diperbolehkan 1.000 5 Suhu udara 30 C 15 0,20 1,0 1,5 0,025-1,0 500 250 0,05 10 1,0 6,5-9,0 0,002-0,1 400 0,05-2,0 0,01-5,0 Hasil Periksaan Tidak berbau 0.00 Tidak berasa 1,5 0,00 0,03 0,30 0,00 10 7 0,00 0,05 0,002 7,8 0,04 60 0,35 0,0

HASIL UJI AIR PERDANA FILTER BUATAN H. ALI DINAR

Percik

Agustus 2006

19

I N O VA S I
FOTO:MUJIYANTO

yang terletak di pinggir kali itulah dia mendesain sendiri filter dengan dibantu dua orang pekerja. Hasil penyaringan kemudian dimasukkan ke laboratorium di Jakarta. Dia pun menyatakan mampu membuat filter untuk air asin. Filter penjernih air ini sementara dijual dalam dua jenis yakni Rp. 1,2 juta untuk kapasitas 500 liter, dan Rp. 1,5 juta untuk kapasitas 1.000 liter. Sedangkan untuk prasarana masjid, kakek ini menggratiskannya. Produk itu digaransi satu tahun penuh. Sementara alat itu sendiri bisa bertahan hingga lima tahun. Kendati telah sukses dengan temuannya, dia terus mengembangkan produk tersebut. Saat ini dia sedang mencoba menyaring air bekas minuman seperti Fanta dan Coca-cola. Hasil awal menunjukkan air ini bisa disaring dengan sukses. ''Warnanya jernih, dan rasanya hilang sama sekali. Jadi kayak air tawar,'' katanya seraya menambahkan bahwa untuk tambahan bahan filter dipergunakan puing semen bekas

H. Ali dengan saringan air di depan rumahnya.

tembok yang dihaluskan. Selain menemukan alat penyaring air, H. Ali pun berhasil mengembangkan indikator untuk mengecek mutu air secara sederhana. Indikator ini didapatkan oleh istrinya berdasarkan

pengamatan di kolam ikan miliknya. Indikator ini adalah daun jambu biji, daun salam, dan sebuah akar yang dirahasiakan. Dengan mencampurkan remasan daun itu, kondisi air bisa ditentukan.

Ilham Mimpi
K
alau para ilmuwan menemukan sesuatu dari proses penelitian yang panjang dan melelahkan serta makan biaya besar, H. Ali Dinar justru mampu membuat alat penjernih air ini gara-gara mimpi. Awalnya, keluarga ini dililit kesulitan air bersih. Itu terjadi tahun 2002. Untuk mengatasi itu keluarga ini membeli mesin penjernih air produksi luar negeri. Namun mesin ini tak berfungsi dengan baik. Sampai-sampai keluarga H. Ali membeli tiga kali dengan harga Rp. 2 juta, Rp. 2,5 juta, dan Rp. 750 ribu. Tetap saja filer itu tak mampu menjernihkan air yang disedot dari tanah di samping rumahnya. Kenyataan ini membuat istrinya Hj. Dedeh marah-marah. ''Dia maksa saya beli penjernih yang harganya Rp. 8 juta. Saya nggak mau,'' kenang H. Ali. Keributan pun terjadi. Suami istri ini pun akhirnya pisah ranjang. Dalam kondisi itulah, kata H. Ali,
FOTO:MUJIYANTO

istrinya didatangi seorang tua. Orang itu menyuruhnya membuat saringan air dengan bahan abu, pasir, dan ijuk. Mimpi ini langsung disampaikan ke suaminya. ''Besoknya saya langsung praktek,'' kata H. Ali. Upaya itu gagal. ''Air memang bisa bening, tapi abu tetap terbawa.'' Dia tidak patah semangat. Dia

mencari jalan bagaimana agar abu tidak terbawa. Hari itu juga dia berhasil. ''Tapi saya tak yakin air bisa diminum. Air itu hanya kami buat mandi saja. Air minum tetap kami beli,'' ujarnya. Tahun 2004 dia bertemu dengan Camat Rancasari. Kepadanya, camat memintanya untuk membersihkan air yang ada di kecamatan. Air yang sangat kotor itu berhasil disaring menjadi air yang jernih. Camat kemudian menyarankan kepada H. Ali untuk memeriksakan air hasil penyaringan ke laboratorium. ''Saya sempat bertanya, buat apa?'' kata H. Ali. Menurut Camat, siapa tahu hasil saringan itu memang bagus karena secara kasat mata memang air itu sangat baik. Camat pun memberikan dana untuk itu. Hasilnya sangat memuaskan. Dari situlah, H. Ali Dinar mengembangkan temuannya sampai sekarang. Mujiyanto

20

Percik

Agustus 2006

P E R AT U R A N

Peraturan Pemerintah No. 16 Tahun 2005 Tentang Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum

ebagai tindak lanjut ketentuan Pasal 40 Undang-undang No. 7 Tahun 2004, tentang Sumber Daya Air pemerintah menetapkan Peraturan Pemerintah tentang Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM). Pengaturan SPAM ini bertujuan mewujudkan pengelolaan dan pelayanan air minum yang berkualitas dengan harga yang terjangkau; mencapai kepentingan yang seimbang antara konsumen dan penyedia jasa pelayanan; dan meningkatkan peningkatan efisiensi dan cakupan pelayanan air minum. Pengaturan dalam PP ini mencakup SPAM; Perlindungan Air Baku; Penyelenggaraan; Wewenang dan Tanggung Jawab; Badan Pendukung Pengembangan SPAM; Pembiayaan dan Tarif; Tugas, Tanggung Jawab, Peran, Hak, dan Kewajiban; Pembinaan dan Pengawasan; Sanksi Administratif; dan Ketentuan Peralihan. PP terdiri atas sembilan bab dan 79 pasal. Berdasarkan peraturan ini pengembangan SPAM harus terpadu dengan pengembangan Prasarana dan Sarana Sanitasi yang berkaitan dengan air minum-yakni air limbah dan persampahan--serta berdasarkan asas kelestarian, keseimbangan, kemanfaatan umum, keterpaduan dan keserasian, keberlanjutan, keadilan, kemandirian, serta transparansi dan akuntabilitas. Air minum yang dihasilkan dari SPAM yang digunakan oleh masyarakat pengguna/pelanggan harus memenuhi syarat kualitas berdasarkan peraturan menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang kesehatan. Air minum yang tidak memenuhi syarat dilarang

Perhitungan dan penetapan tarif air minum harus didasarkan pada prinsip-prinsip keterjangkauan dan keadilan.
didistribusikan kepada masyarakat. Selain air minum, air bakunya pun harus memenuhi baku mutu yang ditetapkan untuk penyediaan air minum sesuai ketentuan. Tugas menjamin ketersediaan air baku ini terletak di pundak pemerintah dan pemerintah daerah. Pengusahaan air baku untuk keperluan pengusahaan air minum wajib berdasarkan izin hak guna usaha air. Pengembangan SPAM menjadi tanggung jawab Pemerintah dan Pemerintah Daerah untuk menjamin hak setiap orang dalam mendapatkan air minum bagi kebutuhan pokok minimal sehari-hari guna memenuhi kehidupan yang sehat, bersih, dan produktif. Penyelenggaraannya dilakukan oleh BUMN atau BUMD yang dibentuk secara khusus. Koperasi, badan usaha swasta, dan/atau masyarakat boleh ikut serta bila BUMN atau BUMD tak mampu meningkatkan kualitas dan kuantitas layanan. Khusus mengenai tarif dan retribusi, peraturan pemerintah ini menetapkan bahwa tarif air minum merupakan biaya jasa pelayanan air minum dan jasa pelayanan air limbah. Perhitungan dan penetapan tarif air minum harus didasarkan pada prinsip-prinsip keterjangkauan dan keadilan; mutu pelayanan;

pemulihan biaya; efisiensi pemakaian air; transparansi dan akuntabilitas; dan perlindungan air baku. Sedangkan komponen biaya yang diperhitungkan meliputi biaya operasi dan pemeliharaan; biaya depresiasi/amortisasi; biaya bunga pinjaman; biaya-biaya lain; dan keuntungan yang wajar. Yang menetapkan tarif ini yaitu Kepala Daerah berdasarkan usulan direksi, setelah disetujui oleh Dewan Pengawas. Menyangkut peran koperasi, badan usaha swasta, dan masyarakat, PP ini membatasi hanya pada daerah, wilayah atau kawasan yang belum terjangkau pelayanan BUMD/BUMN. Selain itu mereka wajib menyerahkan seluruh asetnya bila masa perjanjian berakhir. Yang agak maju dari peraturan ini yaitu adanya hak-hak pelanggan, di samping kewajiban. Pelanggan berhak memperoleh pelayanan air minum yang memenuhi syarat kualitas, kuantitas, dan kontinuitas sesuai dengan standar yang ditetapkan; mendapatkan informasi tentang struktur dan besaran tarif serta tagihan; mengajukan gugatan atas pelayanan yang merugikan dirinya ke pengadilan; mendapatkan ganti rugi yang layak sebagai akibat kelalaian pelayanan; dan memperoleh pelayanan pembuangan air limbah atau penyedotan lumpur tinja. Peraturan ini menegaskan semua penyelenggara SPAM wajib memiliki rencana induk. Bagi yang belum punya, wajib melengkapinya paling lambat 1 Januari 2010. Sedangkan yang sudah punya rencana induk, wajib menyesuaikan dengan ketentuan Peraturan Pemerintah ini paling lambat 1 Januari 2008. MJ

Percik

Agustus 2006

21

TEROPONG

PDAM Sragen

Perpaduan Komitmen dan Manajemen


erusahaan Daerah Air Minum (PDAM) biasanya identik dengan kerugian, utang, kinerja perusahaan yang rendah, manajemen tidak profesional, dan sumber daya manusia yang kurang berkualitas. Berbagai alasan mendasari kondisi ini. Bagi beberapa PDAM, mitos seperti itu tampaknya sulit diubah. Akibatnya, sebagian besar PDAM di Indonesia tidak mampu bangkit dari keterpurukannya. Utang PDAM masih tetap berjibun. Lalu apakah PDAM akan terus seperti ini? Kapan PDAM akan mampu menjadi perusahaan yang sehat dan menjadi kebanggaan daerah? PDAM Sragen menjadi salah satu PDAM yang berusaha mengubah mitos tersebut. Hanya butuh waktu tiga tahun. PDAM yang semula merugi itu, tahun 2005 lalu sudah mampu meraup keuntungan sekaligus mampu membayar utang perusahaan. Keberhasilan ini tak lepas dari komitmen kuat Bupati Sragen H. Untung Wiyono, untuk menjadikan PDAM Sragen sebagai institusi bisnis murni. ''Bisnis harus dikelola secara profesional,'' tegasnya. Dalam rangka itu dia mengambil langkah yang mungkin tidak umum bagi PDAM lain di Indonesia yakni mengambil alih utang PDAM dan melunasinya tahun 2003 ke Departemen Keuangan. Selain itu, dia mencari kalangan profesional untuk mengelola perusahaan daerah ini. Sejak tahun 2003, PDAM Sragen dikendalikan oleh orang luar. Dia adalah Joko Suprapto, SE, MM, seorang profesional yang terpilih dalam fit and proper test yang diadakan oleh Pemda

FOTO:MUJIYANTO

Sragen. Bupati memberinya wewenang penuh untuk mengelola PDAM secara profesional. Pembenahan Perubahan terkadang sulit diterima bagi yang sudah terbiasa dengan keadaan. ''Ibaratnya dulu kita itu sedang tidur, tahu-tahu diajak lari. Pasti kaget,'' kata Siswanto, Kepala Bagian Personalia PDAM Sragen. Tapi mau tidak mau, langkah lokomotif baru harus diikuti oleh seluruh gerbong. Direktur Utama baru PDAM sangat menyadari bahwa masih ada jurang pemisah yang sangat dalam antara budaya yang ada dan budaya yang diharapkan. Ini tantangan berat yang harus dihadapi, termasuk bagaimana menyamakan persepsi terhadap visi dan misi perusahaan agar muncul strategi dan implementasi yang tepat. Langkah yang diambil dalam tahap awal pembenahan ini, pertama, perumusan nilai-nilai inti perusahaan yang akan ditempuh seperti jujur, disiplin, anti-KKN, berorientasi hasil terbaik, dan sebagainya; kedua, mendesain kembali pengembangan sistem budaya seperti restrukturisasi, rotasi, pemberian fasilitas studi, insentif, rekrutmen

tenaga khusus sistem kontrak dan sebagainya. Selain itu, perusahaan merumuskan kembali tekad dan misinya dalam bentuk yang konkret yakni (i) penyedia air bersih yang handal, (ii) optimalisasi keuntungan perusahaan, dan (iii) peningkatan SDM dan kesejahteraan. Pengubahan sistem budaya ini ternyata tidak mudah. Paling tidak butuh waktu setahun untuk mendapatkan hasilnya. Muncul komitmen bersama seluruh karyawan yang berjumlah sekitar 115 personel itu. ''Kami punya komitmen tinggi. Mati, hidup, sejahtera, atau tidak tergantung pada kerja kami sendiri,'' jelas Supardi, Kepala Bagian Perencanaan PDAM Sragen. Motivasi kerja pun terus didongkrak. Insentif perusahaan seperti gaji berkala dan jaminan hari tua pun dipenuhi. Beberapa orang disekolahkan ke jenjang yang lebih tinggi. ''Dulu, dana untuk SDM sangat minim,'' kata Supardi seraya menambahkan bahwa perhatian perusahaan ke sumber daya manusia sangat menonjol. Menuju Sehat Sejak tahun 1997, tarif PDAM Sragen tak pernah naik. Tarif berkisar di angka Rp. 425 per meter kubik. Tak heran bila perusahaan itu selalu meraih keuntungan minus alias rugi. Kondisi ini tak bisa dibiarkan bila menginginkan perusahaan yang sehat. Jalan yang bisa ditempuh yakni menaikkan tarif. Namun langkah ini pun tidak mudah sebagaimana dialami PDAMPDAM lain di Indonesia. Banyak ganjalan dan rintangan dari berbagai pihak.

22

Percik

Agustus 2006

TEROPONG

Laporan laba/rugi PDAM Sragen Tahun 2001-2005 (dalam juta)


NO PERKIRAAN 1 2 3 4 5 6 7 8 Pendapatan Usaha Biaya Langsung Usaha Laba (rugi) Kotor Usaha Biaya tidak langsung Laba (rugi) usaha Pendapatan/Biaya lain2 Laba (rugi) Sebelum Pajak Laba (Rugi) Bersih 2001 4.550 2.896 1.654 1.807 (153) 87 (66) (66) 2002 4.572 3.311 1.261 2.197 (936) 89 (847) (847) 2003 4.776 3.813 963 1.985 (1.022) 94 (928) (928) 2004 5.355 3.964 1.390 1.547 (156) 98 (58) (58) 2005 7.907 4.774 3.133 2.626 507 99 606 606

Apalagi kenaikan yang diusulkan lumayan tinggi dari Rp. 425 menjadi Rp. 1.300. Maka perlu ada terobosan menuju ke kenaikan tarif. Bupati mengusulkan kenaikan dilaksanakan secara bertahap mulai tahun 2005, 2006, dan 2007. Manajemen setuju. Manajemen menyusun strategi sosialisasi ke tengah-tengah masyarakat. Salah satu caranya dengan memanfaatkan siaran radio. PDAM mengadakan acara talk show setiap minggu selama setahun penuh. Bersamaan itu, perusahaan membenahi titik-titik merah (daerah bocor) serta layanan. Pada kesempatan lain, PDAM memfasilitasi seluruh stakeholder untuk membicarakan kenaikan tarif itu di Pendopo Kabupaten. Hasilnya, kenaikan itu gol. ''Komplain kenaikan hanya 0,05 persen,'' kata Supardi. Kenaikan tarif langsung berdampak positif bagi kesehatan perusahaan. Tahun 2005, PDAM bisa memperoleh laba perusahaan. Besarnya lumayan, Rp. 605.615.652, 77. Kenyataan itu menjadikan PDAM mulai mampu membayar utangnya ke Pemda. Tahun 2007 mendatang, seluruh utang PDAM akan terlunasi. Dan PDAM pun telah menjadi sumber pendapatan yang bisa diandalkan oleh Pemda setempat. Apalagi tahun depan diperkirakan PDAM akan untung lebih dari 2 milyar rupiah.

Tantangan Pengembangan Tahun ini PDAM Sragen mempunyai tekad yang kuat untuk menghasilkan air siap minum sebagaimana namanya Perusahaan Daerah Air Minum. Berbagai persiapan telah dilakukan untuk mencapai cita-cita itu. Rencananya September ini air siap minum telah bisa dinikmati oleh sekitar 1.000 pelanggan. Tahun depan, air siap

minum ini akan ditingkatkan jangkauan layanannya kepada sekitar 4.500 pelanggan baru. Di samping itu, PDAM masih menghadapi berbagai kendala. Pipa-pipa transmisi berdiameter 300 mm sepanjang 4.551 meter telah habis masa pakainya (usia terpasang 26 tahun). Tak heran bila pipa-pipa yang ditanam di bawah jalan ini patah atau rubbering aus (keropos). Minimal setiap bulan ada tiga lokasi kebocoran. Gangguan juga terjadi pada pipa collector dan distribusi. Perbaikan seluruh pipa ACP ini membutuhkan investasi yang sangat besar. Yang kini menjadi pekerjaan rumah PDAM yakni pelayanan terhadap pelanggan baru. Jumlahnya semakin hari semakin meningkat. Hanya saja kapasitas terpasang belum bisa memenuhi permintaan. Upaya untuk membangun sumur-sumur produksi sekaligus reservoir terganjal biaya investasi yang besar. Tapi tekad untuk terus melayani masyarakat tak pernah padam. (MJ)

Data Teknik PDAM Sragen 2001-2005


NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 URAIAN Kapasitas terpasang Kapasitas produksi Produksi air Air terdistribusi Air terjual Kehilangan air Penduduk Terlayani Pelanggan Karyawan Jiwa Pelanggan Orang
: : : : :

VOLUME Liter/detik Liter/detik m3 m3 m3 m3

2001 346,50 267,25 6.434.266 6.225.341 5.388.313 947.028 169.124 27.481 114

2002 335,35 274,14 7.814.004 7.748.894 6.064.776 1.684.118 170.324 28.270 114

2003 366 288 8.127.869 8.030.926 6.327.604 1.800.185 173.151 28.761 116

2004 373 293

2005 398 332

8.945.614 3.085.863 8.943.288 3.085.863 6.850.579 2.277.308 2.095.035 170.073 29.725 114 808.555 181.306 30.132 113

Cakupan layanan di kota Sragen Cakupan layanan total Jumlah sumur dalam Mata air Area layanan

90 persen 65 persen 21 unit 2 unit 14 kecamatan dari 20 kecamatan yang ada

Percik

Agustus 2006

23

TEROPONG

Bupati Sragen, H. Untung Wiyono

PDAM Harus Profesional

nda mengambil kebijakan untuk mengangkat orang dari luar birokrasi untuk mengelola PDAM Sragen. Apa latar belakangnya? PDAM itu kan intinya bisnis. Bisnis itu harus profesional. Kalau PNS-nya ada yang mampu so what. Tapi kalau memang tidak mampu, ya kita cari yang profesional. Yang kedua, bisnis itu harus dikelola secara bisnis. Manajemennya pun harus manajemen bisnis. Kita tidak pandang bulu siapa saja (bisa mengelola).

FOTO:MUJIYANTO

Itu yang kami lakukan. Apakah terobosan itu tidak membebani anggaran? NoTidak membebani anggaran sama sekali. Karena kalau kita pinjam dari pemerintah pusat ini kan pinaltinya ada, kita sudah kirim transfer tapi belum sampai ke bendahara kita kena charge. Ini kan high cost. Maka ini (utang) kita lunasi dulu. Sejauh mana Anda memberikan kewenangan kepada profesional? Kita lepas saja. Kita kan ada Perda yang mengatur ini itu. Ini yang tidak boleh dilanggar. Untuk inovasi atau apapun ya silakan jalan. Kita tugasnya hanya mengontrol. Bagaimana dengan staf di bawahnya? No problem. Malah justru bagus karena ada sistem personalia yang benar. Keuangan yang lebih tertib, terus pelayanan publik yang lebih baik, maintenance yang lebih bagus dan serius. Menurut Anda, sebenarnya apa persoalan PDAM di Indonesia? Persoalannya menyangkut lima hal. Pertama, cost operational itu sangat

tinggi. Kedua, customer kita itu kan ribuan. Ini kan perlu ada sistem administrasi yang benar. Terus masalah maintenance, berapa live time pipa-pipa yang dipasang. Ini kan gak sembarang orang tahu. Dan keempat bagaimana menyangkut pelayanan ke masyarakat. Kelima sistem ekonominya, manajemen keuangannya. Ini yang paling kunci. Kalau orang bisnis itu kan harus balance. Bila customer banyak biasanya kontrolnya juga tidak mudah. Itu yang harus kita create. Ada internal control, auditing control. Jadi tidak sekadar sosok manajernya saja? No. Kontrol dong. Bagaimana proses pemilihan manajemen baru di PDAM Anda? Kita tes. Jadi ada pengalaman, kita tes visi misi mereka. Nggak ada KKN. Apa dampak perubahan ini bagi masyarakat? Masyarakat lebih responsif, ada pengaduan dan sebagainya. Apa saran Anda terhadap pengelolaan PDAM lain? Itu tinggal komitmen pemimpinnya. Setiap kepala daerah kan berhak untuk membangun sistem, punishment personal yang tidak benar. Jadi itu tergantung pada decision maker-nya, bupati/walikota. Kalau concern ya pasti bagus. Menurut Anda, PDAM lain bisa berubah lebih baik? Kenapa nggak bisa? Kan semua punya customer yang jelas. Mereka mana ada yang nunggak sih? Nggak ada. Ada tagihan yang bisa diskedul dan diestimasi. MJ

Apakah terobosan Anda ini tidak menghadapi hambatan birokrasi dari mereka yang selama ini menikmati posisinya? Nggak..Nggak ada masalah. Profesional kok. Pemda lain belum berani mengambil terobosan seperti ini? Wah, saya no comment. PDAM saya dulu kan nggak untung, sekarang jadi untung. Dan kita juga tidak tinggi dalam menjual air. Justru public service-nya yang kita utamakan. Kita hanya memberikan tarif Rp. 600 per meter kubik. Tapi kita bisa untung. Ini persoalan sistem manajemen. How to manage. Harus profesional. Kita juga bayar utang tahun 2003 lunas. Sekarang kita tidak punya utang bahkan bisa memasukkan pendapatan ke PAD dengan cukup signifikan. Katanya Pemda mengambil alih utang PDAM waktu itu, bisa dijelaskan? Saya ingin perusahaan itu neracanya bersih. Dan dalam perhitungan, bisa bayar. Tapi supaya tidak ada utang ke pihak ketiga ya kita (Pemda) lunasi dulu.

24

Percik

Agustus 2006

K L I N I K I AT P I

Pengolahan Air Minum di Tingkat Pengguna Pasca Bencana atau Dalam Keadaan Darurat

encana datang tanpa diduga seperti yang telah terjadi di beberapa tempat di Indonesia. Informasi tentang penanganan pasca bencana bagi masyarakat tidak kalah pentingnya dengan informasi cara mengantisipasi bencana apalagi untuk penyediaan air minum yang merupakan kebutuhan dasar. Artikel berikut memaparkan pengolahan sederhana air minum di tingkat pengguna/masyarakat yang dapat dilakukan setelah bencana atau dalam keadaan darurat. Pengolahan ini mencakup air yang diambil dari semua sumber, tetapi umumnya hanya dapat menghilangkan kontaminasi fisik dan biologis. Kontaminasi kimiawi biasanya tidak dapat dihilangkan dengan proses ini karena membutuhkan pengolahan lanjutan yang lebih spesifik. Secara umum, pengolahan air di tingkat rumah tangga mengikuti proses yang digambarkan dalam diagram 1. Namun beberapa proses mungkin tidak dibutuhkan tergantung pada kualitas air yang akan diolah. Penyaringan Menyaring air dengan menggunakan selembar kain katun yang bersih akan menghilangkan endapan dan materi terlarut. Kebersihan kain yang digunakan sangat penting karena kain yang kotor malah akan menambah kontaminasi. Jika tersedia dapat digunakan kain khusus yang juga dapat menyaring organisme seperti cacing pita, kain ini bernama "copepods". Kain ini harus digunakan dengan permukaan penyaring yang sama. Kain ini bisa dibersihkan dengan cara dicuci dengan sabun dan air bersih.

Penyaringan

Penyimpanan/Pengendapan

Filtrasi

Desinfeksi Diagram 1. Langkah-langkah Umum Pengolahan Air di Tingkat Rumah Tangga

Aerasi Aerasi adalah proses pengolahan dengan membuat air berkontak dengan udara dengan tujuan untuk meningkatkan kadar oksigen di dalam air. Dengan meningkatnya kadar oksigen akan: Menghilangkan gas-gas yang menyebabkan air berbau dan berasa Mineral terlarut seperti besi dan mangan akan teroksidasi yang kemudian bisa dihilangkan dengan proses pengendapan dan filtrasi Kontak antara air dengan udara dapat dilakukan dengan berbagai cara. Misalnya mengocok dengan cepat tempat penyimpanan air (misalnya jerigen) yang terisi setengahnya selama kira-kira 5 menit kemudian dibiarkan selama 30 menit agar materi-materi terlarut mengendap. Untuk skala yang lebih besar, aerasi bisa dilakukan dengan mengalirkan air dalam tangki perforasi yang terbagi dalam bagian-bagian kecil yang berisi kerikil. Kemudian air yang ditampung di tangki pengumpul juga dibiarkan selama kurang lebih 30 menit untuk mengendapkan materi terlarut.

Penyimpanan dan Pengendapan Ketika air disimpan selama sehari dalam kondisi aman/bersih, lebih dari 50 persen bakteri yang umum dijumpai akan mati. Selain itu selama penyimpanan materi-materi terlarut dan sebagian bakteri patogen (penyebab penyakit) akan mengendap di dasar tempat penyimpanan. Tempat yang digunakan untuk penyimpanan dan pengendapan harus mempunyai tutup untuk menghindari kontaminasi kembali, tetapi harus ada bukaan yang memungkinkan untuk dilakukan pencucian secara berkala, misalnya ember dengan tutup. Air harus diambil dari bagian paling atas tempat penyimpanan, bagian di mana air paling bersih dan paling sedikit mengandung bakteri patogen. Semakin lama waktu penyimpanan kualitas air biasanya akan lebih baik. Rumah tangga bisa memaksimalkan manfaat dari penyimpanan dan pengendapan dengan menggunakan "sistem tiga tempat" seperti yang digambarkan berikut: (lihat halaman sebelah). Filtrasi Filtrasi adalah proses penyaringan dengan mengalirkan air melalui media yang porous (misalnya pasir), proses ini mengunakan prinsip pembersihan alami. Ada beberapa cara filtrasi yang bisa dilakukan, yakni 1. Filter pasir sederhana Filter sederhana untuk rumah tangga bisa dibuat dari wadah/tangki gerabah/tanah liat, logam, atau plastik. Wadah ini diisi dengan lapisan pasir dan kerikil yang juga dilengkapi beberapa pipa yang memungkinkan air meng-

Percik

Agustus 2006

25

K L I N I K I AT P I

Untuk Air Minum: Selalu ambil dari tempat No. 3, air ini telah disimpan paling tidak selama 2 hari dan kualitasnya telah membaik. Secara berkala tempat ini harus dibersihkan dan jika mungkin disterilisasi dengan air panas/mendidih. Setiap hari ketika air dari sumber dibawa ke rumah : (a) Perlahan-lahan masukkan air yang tersimpan di tempat 2 ke tempat 3, bersihkan tempat 2 (b) Perlahan-lahan masukkan air yang tersimpan di tempat 1 ke tempat 2, bersihkan tempat 1 (c) Tuangkan air yang diambil dari sumber (ember 4) ke dalam tempat 1, disarankan sambil disaring dengan kain bersih. Untuk mencegah endapan terbawa disarankan untuk memakai selang plastik yang lentur untuk memindahkan atau mengambil air.

alir ke atas atau sebaliknya melalui lapisan tadi. Filter ini bisa juga dibuat skala besar dengan menggunakan drum berkapsitas 200 liter. Filter ini harus dibersihkan secara berkala untuk mengangkat kotoran atau lumpur yang menempel pada pasir dan kerikil. Frekuensi membersihkan tergantung dari tingkat kekeruhan air. Semakin keruh semakin sering dibersihkan. Filter ini tidak efektif untuk menghilangkan bakteri patogen. Oleh karena itu air hasil filtrasi masih perlu didesinfiksi atau disimpan paling tidak selama 48 jam. 2. Filter karbon/arang Karbon/arang dikenal cukup efektif untuk menghilangkan rasa, bau dan warna. Karbon/arang biasa yang tersedia di pasar lokal dapat digunakan sebagai media, namun karbon aktif dikenal lebih efektif walaupun harganya lebih mahal. Akan tetapi jika karbon tidak secara berkala diganti atau jika filter tidak digunakan untuk beberapa waktu, diindikasikan malah menjadi tempat berkembang biak bakteri berbahaya.

3. Filter keramik Beberapa filter ada yang dilapisi dengan zat/materi tertentu yang berfungsi sebagai desinfektan namun harganya relatif lebih mahal, saat ini telah banyak filter keramik yang dibuat lokal. Air yang telah difilter tetap harus direbus atau didesinfeksi sebelum dikonsumsi. Desinfeksi Penting sekali air yang diminum harus bebas dari organisme berbahaya. Penyimpanan, pengendapan dan filtrasi dapat mengurangi bakteri berbahaya tapi tidak ada satu pun yang bisa menjamin bahwa bakteri dapat dihilangkan seluruhnya. Desinfeksi adalah proses yang menjamin bahwa air minum yang akan dikonsumsi bebas dari organisma berbahaya atau bakteri patogen. Ada beberapa cara untuk mendesinfeksi air di tingkat rumah tangga, yaitu: 1) Merebus Merebus merupakan cara yang sangat efektif untuk menghilangkan bakteri berbahaya seperti virus, spora, dan

telur cacing walaupun metoda ini relatif mengkonsumsi energi. Sebaiknya air dibiarkan mendidih selama paling tidak 5 menit untuk mematikan semua bakteri patogen/berbahaya. 2) Menggunakan kaporit/klor Kaporit/klor adalah zat kimia yang paling banyak digunakan untuk desinfeksi air minum karena relatif mudah untuk digunakan, cukup efektif, mudah didapat dan harganya cukup murah. Jika digunakan secara benar kaporit akan membunuh semua virus dan bakteri tetapi beberapa jenis protozoa tetap bisa bertahan. Kaporit harus ditambahkan dalam jumlah yang memadai tetapi juga tidak berlebihan dan dibiarkan kontak dengan air selama paling tidak 30 menit. 3) Menggunakan sinar matahari Metoda ini bisa dilakukan dengan memasukkan air ke dalam wadah plastik transparan dan menjemurnya di bawah sinar matahari selama 5 jam (atau selama 2 hari jika berawan/mendung).
Kontributor: Lina Damayanti (linadamayanti2002@yahoo.com) dan Winarko Hadi (winces@cbn.net.id)

26

Percik

Agustus 2006

KISAH

Srikandi-srikandi Jamban

upini, begitu dia biasa dipanggil. Ibu muda ini berasal dari Dusun Kali Gedog, Desa Margourip, Kecamatan Ngancar, Kabupaten Kediri. Dia memiliki tiga orang anak. Anak yang pertama duduk di bangku SMP kelas 1 dan dua anak lainnya masih di SD. Suaminya bekerja di Surabaya. Seharihari Supini tinggal bersama ketiga anaknya. Kondisi demikian tidak membuatnya kecil hati. Guratan wajahnya menunjukkan semangat yang tak pernah padam untuk menghadapi kehidupan. Sejak remaja dia sudah terbiasa untuk hidup mandiri dan lepas dari keluarga-

nya. Bahkan dia sempat bekerja di luar negeri meski menurut pengakuannya dia tidak sempat menamatkan sekolah dasar (SD). Suatu ketika di desanya, Dusun Kali Gedog dipakai tempat praktek pemicuan Community-Led Total Sanitation (CLTS) oleh peserta orientasi CLTS lokasi WSLIC-2 di kawasan Indonesia Timur yang berlokasi di Hotel Insumo Kediri. Dia menjadi salah satu peserta yang hadir dalam pemicuan itu. Dia mengikuti acara itu secara seksama. Buahnya, dia pun tergerak hatinya karena keluarga dan dan semua tetangganya buang air besar (BAB) di sungai yang
FOTO:DPMU KEDIRI

Supini sedang menyampaikan pengalamannya membuat jamban

mengalir tepat di depan rumahnya, tepat di tepi jalan. Setelah pemicuan, Supini terpilih untuk ikut dalam diskusi yang dihadiri oleh Dirjen PP dan PL Depkes RI. Sepulang dari pertemuan evaluasi tersebut, ibu muda ini berpikir dan menetapkan dia harus membuat jamban, apapun bentuknya, agar dia bersama keluarga dapat terlindung dari penyakit dan dapat berperilaku hidup yang bersih dan sehat. Esoknya niat itu diwujudkannya. Dia mengambil cangkul dan perabotan pendukung lainnya. Bersama ketiga anaknya, dia mulai menggali lubang di belakang rumahnya. Tak butuh waktu lama. Lubang sedalam 150 cm itu pun tergali. Hari berikutnya, dia menebang beberapa pohon melinjo yang sudah tidak bisa berbuah. Batang pohon ini digunakan sebagai gelogor (penyangga) penutup lubang jamban. Sebagai dinding, dia menanam bunga puring di sekeliling jamban. Lumayan, agar saat jongkok di atas jamban ini, orang lain tak melihatnya. Nah, mulai saat itulah Supini bersama ketiga anaknya meninggalkan kebiasaan lamanya, berak ke sungai. Dia sudah bisa berbangga dengan jamban cubluknya, kendati apa adanya. Dengan kemampuannya, dia juga telah mendidik anak-anaknya untuk mengubah perilakunya. Ini terbukti pada anak bungsunya yang duduk di bangku kelas 2 SD. Ketika ditanyakan kepadanya mengapa tidak buang air di sungai lain, dengan enteng dia menjawab, "Tidak, nanti bisa kena sakit gatal dan di belakang sudah punya jamban". Suatu kali, Supini diberi kesem-

Percik

Agustus 2006

27

KISAH
FOTO:ISTIMEWA

patan oleh DPMU Kediri untuk memaparkan pengalamannya pada acara orientasi CLTS bagi Ormas dan masyarakat di Kediri. Tanpa diduga, dia melantunkan sebuah lagu gubahannya, yaitu "Perjuangan Membuat Jamban". Kreativitas ini membuat peserta terkesima. Nun jauh dari Kediri, ada seorang ibu yang juga gigih berjuang untuk jamban. Hanya saja, ini tidak dilakukan untuk dirinya sendiri tapi untuk masyarakatnya. Dia seorang dokter gigi yang sekaligus Kepala Puskesmas Kecamatan Lembak, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan. Namanya Agustin P. Siahaan. Semangat Agustin untuk mendorong masyarakat di wilayahnya untuk membangun jamban ini juga dipicu oleh pelatihan CLTS. Dan secara fakta, memang di wilayah kecamatan itu sangat sedikit yang mau buang air besar di jamban. ''Orang sudah ke bulan, kita kok masih seperti ini,'' pikirnya saat itu. Dia menilai program CLTS lain dari program-program sebelumnya. Menurutnya, program lain menempatkan aparat pemerintah seolah-olah lebih pintar daripada masyarakat sehingga pesannya kurang didengar. ''Kalau CLTS pendekatannya lebih manusiawi,'' katanya. Untuk mewujudkan niatnya dia melatih stafnya di Puskesmas. Setelah itu, dia bersama mereka langsung turun ke desa-desa. Kebetulan kegiatan di Puskesmas setiap awal tahun agak longgar. Setelah pukul 12.00, dia turun ke desadesa. ''Kadang kita gak pakai seragam, supaya bisa lebih dekat dengan masyarakat. Saya juga tidak mengaku sebagai dokter,'' kata ibu satu anak ini. Jam kerja yang seharusnya hanya sampai pukul 14.00 pun terpaksa hingga pukul 17.00. Ini disebabkan ada kesulitan mengumpulkan warga masyarakat. Mereka hanya bisa diajak kumpul sore hari. ''Kadang kita harus mendatangi dari rumah ke rumah,'' kenangnya.

Agustin sedang melatih stafnya.

Usaha kerasnya bersama staf Puskesmas ini membawa hasil. Satu desa berhasil berubah 100 persen. Keberhasilan ini tak menghentikan niatnya. ''Masak cuma satu desa? Desa lain bagaimana? Saya malu kalau program ini tidak berkembang,'' ungkapnya. Berbekal niat dan semangat tersebut dia terus bergerak ke seluruh desa di kecamatan. Hasilnya luar biasa, seluruh kecamatan telah bebas dari buang air sembarangan. Keberhasilan itu pula yang menjadi poin tersendiri baginya untuk terpilih sebagai dokter teladan tingkat Sumatera Selatan. Karena itu dia berhak ke Jakarta mengikuti peringatan detik-detik proklamasi. ''Saya tak pernah membayangkan semua ini,'' aku Agustin. Dia merasakan program ini telah menjadi pemicu bagi program-program lainnya. Masyarakat, jelasnya, sekarang lebih mudah digerakkan misalnya dalam hal persampahan, sanitasi, dan sebagainya. Bahkan kini dia sedang mengembangkan Posyandu Tumbuh Kembang Anak. Dua uji coba berhasil dan kini sedang diperluas. Sosok lainnya yang tak kalah gigih memicu warganya yakni Ny. Suparti. Dia adalah istri Kepala Desa Kenongo, Kecamatan Guci Alit, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Hanya butuh waktu sebulan, dari target enam bulan, dia dan timnya berhasil menjadikan masyarakat

di dusunnya, Dusun Margodadi, meninggalkan kebiasaan buang air besar sembarangan. Ny. Suparti yang biasa dipanggil Ibu Inggih ini saat itu mendatangi setiap rumah. Itu dilakukannya setelah desanya menjadi tempat uji coba program CLTS yang pertama kali. ''Saya selalu bilang kepada warga, sakit itu mahal. Biar tak mahal maka kita perlu jamban untuk menghindari penyakit,'' katanya. Ibu guru SD ini pun tergolong punya banyak ide. Dia mengumpulkan kopi dari warga untuk membantu pembangunan jambanjamban baru. Selain itu dia mengajak warga untuk bergotong royong. ''Intinya kita harus kerja sama, kalau sendirisendiri berat,'' katanya. Atas keberhasilannya itu, kini Ny. Suparti sering diundang berbagai acara terkait dengan CLTS di pusat dan daerah. Desanya juga menjadi daerah tujuan studi banding. ''Semuanya nggak pernah saya bayangkan sebelumnya,'' katanya. Srikandi jamban ada di mana-mana. Di Jambi tepatnya di Kecamatan Jambi Luar Kota, Kabupaten Muaro Jambi, ada seorang ibu yang begitu gigih mengajak masyarakatnya untuk meninggalkan buang air sembarangan. Dia adalah Ny. Habibah, istri Camat Jambi Luar Kota. Hari-harinya diisi dengan memicu warga Desa Sukamenanti, di desa yang menjadi daerah uji coba CLTS di Jambi. Tak heran bila warga begitu mengenalnya. Dia bertekad untuk menjadikan wilayah kerja suaminya itu bebas BAB sembarangan mengingat sebagian besar wilayah tersebut berada di pinggir sungai. Kondisi ini mendorong masyarakat lebih suka buang air di sungai. Berbagai ide kreatif muncul darinya untuk menjadikan masyarakat terpicu, seperti lomba kebersihan, gotong royong membuat jamban dan sebagainya. MJ/DPMU Kab. Kediri

28

Percik

Agustus 2006

ABSTRAK

Analisis Pemanfaatan TPA Sampah Pascaoperasi Berbasis Masyarakat


(Studi Kasus Bantar Gebang)

PA Bantar Gebang beroperasi sejak 1989. Masa kontrak pakai oleh Pemerintah Daerah Khusus Ibukota Jakarta berakhir tanggal 31 Desember 2003. Untuk mengatasi permasalahan TPA sampah pascaoperasi perlu dilakukan kajian dan analisis untuk melihat kemungkinan yang terjadi di masa depan berdasarkan pada keadaan saat ini seperti sumber daya dan lingkungan alam, sosial ekonomi, fisik, kimia, mikrobiologi, dan keterlibatan masyarakat dalam pemanfaatan TPA sampah pascaoperasi berbasis masyarakat. Tujuan dan manfaat penelitian ini antara lain (i) melakukan evaluasi terhadap kualitas air sumur, air sungai, air lindi, dan mikrobiologi; (ii) memilih alternatif yang sesuai untuk pemanfaatan TPA sampah pascaoperasi berbasis masyarakat. Penelitian ini menggunakan fisik kimia, sosial ekonomi, dan prospektif analisis serta Analitic Hyerarchy Process (AHP). Penelitian ini mendapatkan bahwa kualitas fisik, kimia, dan biologi air sumur, air sungai, dan air lindi masih di bawah ambang batas yang diperbolehkan, kecuali untuk kekeruhan air sungai, kandungan nitrat, nitrit, BOD5, COD air lindi. Selain itu, berdasarkan penelitian ini maka TPA ini masih dimanfaatkan sebagai TPA Terpadu dengan pembagian zonasi sebagai berikut. Zone I dan II sebagai hutan kota/penghijauan. Zone III, IV, dan V sebagai zone TPA sampah. Pemanfaatan sebagai TPA Terpadu menjadi sinergis antara penge-

lolaan sampah dengan hutan kota/penghijauan, daur ulang, dan kompos. Faktor yang dominan dalam penentuan strategi bagi pemanfaatan TPA sampah pascaoperasi berbasis masyarakat antara lain luas lahan, Instalasi Pengolahan Air Sampah (IPAS), peraturan perundangan, pendanaan, keterlibatan swasta, teknologi, dan donor agency. Kesuksesan TPA Terpadu juga tergantung pada dukungan masyarakat. Pemanfaatan sebagai TPA Terpadu akan menimbulkan dampak berganda baik bagi lingkungan, masyarakat sekitar lokasi TPA dan pemerintah. Pengaruh itu yakni (i) bagi masyarakat

memperbaiki ekosistem yang rusak serta dapat menghemat penggunaan lahan TPA; (iii) bagi peningkatan pertanian, pupuk kompos yang dihasilkan dapat mengurangi tingkat keasaman tanah lahan pertanian akibat penggunaan pupuk kimia secara terus menerus, di samping itu pupuk kompos dapat meningkatkan produktivitas lahan; (iv) pengembangan ekonomi lokal, dengan terkonsentrasinya tenaga kerja dalam jumlah besar dapat membuka peluang usaha baru bagi kegiatan lainnya berupa kegiatan usaha warungan, usaha-usaha jasa keuangan, jasa catering untuk makan para pekerja serta usaha rumah/kost/pengontrakan rumah; dan FOTO:ISTIMEWA (v) bagi pemerintah daerah, tenaga kerja yang terserap dalam kegiatan ini dapat mengurangi kerawanan sosial yang ditimbulkan karena ketiadaan lapangan kerja. Hasil produk dari kegiatan ini dapat menjadi sumber PAD bagi pemerintah dan sumber penerimaan pajak bagi negara. Penelitian ini menyarankan agar pengelolaan lindi pada IPAS 1-4 masih di tangan Pemda DKI. Penanganannya perlu ditingkatkan melalui pengurangan BOD dan COD Salah satu sudut TPA Bantar Gebang sampai batas yang dipersyaratkan baku mutu lingkungan, beban IPAS perlu dijaga dengan menambah bangusekitar lokasi TPA, terciptanya lapangnan interceptor dan melengkapi IPAS dean kerja mulai dari perencanaan, konngan aerator. Selain itu, TPA Terpadu struksi, dan pada saat operasi serta sebaiknya dimanfaatkan oleh Pemda DKI keterlibatan dalam pemilahan sampah, dan Kota Bekasi. Yang diperlukan lagi mepembuatan kompos, dan pembuatan nyangkut model pemanfaatan TPA ini bahan-bahan bangunan; (ii) bagi lingyakni analisis dinamis untuk memprediksi kungan, pupuk kompos yang dihasilkan perubahan dari waktu ke waktu. MJ dapat bermanfaat untuk meningkatkan tingkat kesuburan lingkungan melalui Sumber dari Disertasi Dr. Royadi, kegiatan penghijauan, pemulihan atau Sekolah Pascasarjana IPB

Percik

Agustus 2006

29

WAWA S A N

Makna Kelembagaan AMPL Bagi Keberlanjutan Sarana


engalaman selama mengikuti evaluasi pembangunan air minum dan penyehatan lingkungan (AMPL) dan fasilitasi operasionalisasi kebijakan Nasional Pembangunan AMPL Berbasis Masyarakat telah mengantar pada kesimpulan bahwa "kelembagaan pengelola sarana air mempunyai peran sangat penting bagi keberlanjutan sarana dan layanan". Hasil penilaian yang dilakukan WASPOLA bekerja sama dengan Yayasan Pradipta Paramitha (Flores revisited: 2002) mengungkapkan bahwa ada korelasi positif antara fungsi kelembagaan dan iuran air, serta antara fungsi kelembagaan dan iuran air dengan keberlanjutan sarana AMPL (korelasi spearman rho). Begitu juga pengalaman selama memfasilitasi operasionalisasi Kebijakan Nasional AMPL-BM di Propinsi Jawa Tengah dan Propinsi Gorontalo, menemukan gejala yang sama. Kajian lapangan tentang keberhasilan dan kegagalan pembangunan AMPL yang dilakukan di beberapa desa yaitu Talumelito, Molintogupo, dan Tangga Jaya, dengan sangat nyata menunjukkan betapa penting peran kelembagaan AMPL bagi keberlanjutan sarana. Di tiga desa ini, semua sarana air sudah mengalami kerusakan berat, sementara kelembagaan pengelola air minum sama sekali tidak berfungsi. Di Kabupaten Kebumen informasi mengenai keberlanjutan sarana air minum diperoleh baik dari kunjungan lapangan maupun data sekunder. Dari sebagian data yang ada bisa diketahui dengan sangat jelas bahwa keberfungsian lembaga pengelola sangat menentukan keberlanjutan sarana air. Dari 28 sarana air perpipaan yang terdata, 14 di an-

Oleh: Alma Arief *


taranya berfungsi baik, sedangkan selebihnya sama sekali tidak berfungsi. Dari 14 sarana yang berfungsi baik, 12 di antaranya memiliki lembaga pengelola sarana yang juga berfungsi, sedangkan dua di antaranya memiliki pengelola sarana tetapi tidak berfungsi. Di pihak lain, 14 sarana yang tidak berfungsi semua lembaga pengelolanya juga tidak berfungsi. Berbagai informasi di atas menjelaskan mengenai peran penting kelembagaan pengelola sarana air minum. Tulisan ini akan menggambarkan mengenai kompleksitas permasalahan yang muncul dalam pengelolaan dan layanan air minum berdasarkan pengalaman melakukan penilaian dan kajian lapangan. Berbagai Masalah Pengelolaan sarana AMPL, khususnya sarana air perpipaan, bukanlah hal yang sederhana. Dalam beberapa kasus justru sangat kompleks. Bukan hanya karena dimensi permasalahannya yang cukup luas dan beragam, tetapi juga sifatnya yang sangat lokal, sehingga permasalahan di satu wilayah, bahkan antara satu desa dan lainnya, bisa sangat berbeda. Permasalahan air bisa berubah mulai dari permasalahan yang menyangkut kondisi lingkungan, teknologi yang diterapkan, keuangan, sosial budaya, dan kelembagaan pengelola air. Karena sifat permasalahannya yang bisa menjadi sangat luas dan kompleks, maka sarana AMPL sangat disarankan agar dikelola oleh orang-orang yang benar-benar memiliki keberanian, bijak-

sana, dan berwawasan luas. Kelembagaan pengelola yang kuat akan mampu menanggulangi berbagai permasalahan yang timbul, sejauh dalam batas yang bisa ditanggulangi. Berbagai permasalahan tersebut yaitu: A. Masalah lingkungan Di berbagai wilayah, masalah lingkungan sangat menentukan keberlanjutan sarana AMPL. Di Desa Lewolaga, Kab. Larantuka, di Desa Wonda, Kab Ende, di Desa Adiwarno, Kab. Kebumen, sarana air minum sering kali putus berantakan karena tanah longsor dan/atau batu longsor. Di Lewolaga, selain tanah longsor juga banjir dan pohon besar yang tumbang pernah memutuskan pipa air minum. Banjir besar di sungai menghanyutkan pipa besi karena pipa tidak digantung pada saat melintasi sungai. Di Desa Adiwarno, bak penampung air ambrol terbawa tanah longsor, sedangkan di Wonda, pipa yang menyusuri jalan di tepi tebing hancur berantakan karena tebing yang runtuh/longsor. Di Sumba Tirmur masalah AMPL yang berkaitan dengan lingkungan berbeda dengan di daerah lain. Di Kabupaten ini, karena banyak ternak (sapi) berkeliaran dalam jumlah sangat besar, maka pipa bisa putus karena diterjang gelombang gerombolan sapi. Masalah lingkungan di Gorontalo, pada akhir-akhir ini mulai muncul, seperti misalnya kasus Talumelito. Di Talumelito, sarana air menjadi tidak berfungsi karena debit air di bak penangkap tidak memadai. Hal ini terjadi karena hutan di daerah tangkapan air telah diganti oleh penduduk dengan tanaman pangan (jagung). Sedangkan di Molintogupo,

30

Percik

Agustus 2006

WAWA S A N

yang menjadi masalah adalah pipa dan bak penangkap yang berada di tengah sungai hanyut karena banjir besar. Di Propinsi Bangka Belitung, hutanhutan mengalami kerusakan karena penambangan ilegal. Karena dalam melakukan penambangan timah menggunakan bahan-bahan kimia berbahaya dalam melakukan pemrosesan, maka bahan baku air minum menjadi tidak memenuhi standar untuk air minum. B. Masalah Teknologi Masalah teknologi, dalam banyak hal berkaitan dengan lingkungan. Jenis teknologi apa yang diterapkan, sangat ditentukan oleh kondisi lingkungan. Di Kelurahan Dembe I, Gorontalo, dan Kelurahan Wonokromo Kab. Kebumen, pipa air kadangkala pecah, utamanya pada malam hari ketika penggunaan air sangat berkurang. Hal ini disebabkan kuatnya tekanan air ke pipa, sehingga perlu menggunakan bak pelepas tekan atau kelep pelepas tekan. Di Kabupaten Sumba Timur, karena panas matahari sangat terik, berbagai sarana air dibangun dengan mengombinasikan panel surya sebagai pembangkit energi listrik untuk penggerak pompa air. Namun karena teknologinya cukup canggih dan sulit pemeliharaannya, akhirnya sarana yang dibangun mengalami kerusakan tanpa bisa diperbaiki, di samping panel-panel suryanya lambat laun habis dicuri orang. Di Sumba Timur, selain teknologi panel surya juga diterapkan kincir angin sebagai sumber energi (listrik) untuk memompa air dan pembuatan es. Semua sarana kincir angin ini yang semula berjumlah 10, mengalami kerusakan. Di beberapa desa di Kebumen, karena airnya keruh, maka tidak bisa secara langsung di konsumsi oleh rumah tangga, tetapi harus terlebih dahulu disaring (bisa menggunakan saringan rumah tangga atau saringan pasir lambat). C. Masalah Sosial Budaya Masalah sosial budaya tampaknya

lebih rumit dibandingkan variabel lainnya, dan sifatnya menjadi sangat lokal, bisa berakar pada nilai sosial budaya masyarakat, konflik antardesa, konflik antardusun, konflik internal pengelola, tingkat penghasilan yang tidak merata, dan sebagainya. Di Kecamatan Solor Timur, Kab. Larantuka, keberlanjutan suplai air sangat tergantung pada regularitas dan kemampuan membayar sejumlah Rp 1.250.000/tahun kepada orang yang memiliki/menguasai sumber air. Sedangkan di Desa Wonda, Kabupaten Ende, NTT, karena sumber air berada di desa lain, maka untuk bisa menggunakan sumber air untuk mensuplai air bersih bagi penduduk Wonda, terlebih dahulu dibuat negosiasi dan kesepakatan-kesepakatan adat. Di Desa Lewolaga, Larantuka, karena sumber air berada di desa lain yang jaraknya bahkan sampai lebih dari 10 km, maka untuk bisa menggunakan sumber air terlebih dahulu dilakukan perkawinan secara adat. Masalah sosial budaya juga menyangkut konflik antardesa, karena jalur pipa melalui desa-desa lain. Kasus Desa Lewolaga, karena jalur pipa melewati hutan dan ladang penduduk desa lain, sering kali pipa (PVC) dipecah penduduk. Menurut informasi, penduduk desa yang dilewati jalur pipa, menghendaki agar diberi bagian air. Hal yang sama juga terjadi di Desa Haikatapu, Kab. Sumba Timur, di mana pipa pipa banyak yang hilang diambil orang sehingga praktis sarana menjadi tidak berfungsi. Hal ini dikarenakan jalur pipa melewati ladang-ladang penduduk yang tidak kebagian layanan air minum. Di Desa Banyumudal, Kebumen, masalah sosial budaya berkombinasi dengan masalah lingkungan. Awalnya adalah menurun drastisnya sumber air di musim kemarau. Hal ini terjadi-sebelumnya tidak pernah terjadi-karena penebangan hutan di daerah tangkapan air. Menurunnya debit air, menyebabkan penduduk yang selama ini tidak pernah mengalami kesulitan air, uta-

manya di daerah hulu yang berdekatan dengan sumber air, menjadi marah dan menjebol bangunan penangkap air. Lebih lanjut, karena pengurus sarana air memperoleh tekanan dari sebagian penduduk, mereka bahkan mengundurkan diri, dan sampai kini kepengurusan air belum lagi terbentuk. Padahal pada waktu sebelumnya sudah dikelola dengan sangat rapih, termasuk pembukuan iuran, cara meminta sambungan air, denda bila mengalami keterlambatan, dan sebagainya. Di Talumelito, Gorontalo, unit pengelola sarana menjadi sama sekali tidak berfungsi setelah suplai air yang semula regular, menjadi sangat menurun (tidak regular, hanya dibagian hulu yang memperoleh bagian), karena debit air menurun drastis, dan orang di bagian hulu cenderung menggunakan air semaunya seperti tidak menutup kran dan sebagainya, dan kemudian diikuti pembelotan sebagian masyarakat (di bagian hilir) untuk membayar iuran air. Dengan sendirinya UPS akhirnya tak berfungsi. Menurunnya debit air di Talumelito dikarenakan hutan di wilayah tangkapan air diganti oleh penduduk menjadi tanaman pangan (jagung). D. Masalah Keuangan Iuran penggunaan air mutlak diperlukan dalam rangka pemeliharaan dan pengembangan. Dari hasil penilaian dan kajian lapangan, diketahui bahwa tidak semua desa yang memiliki sarana air minum (perpipaan) memungut biaya atau yang semula memungut iuran secara regular, karena suplai air tidak bisa merata sebagian penduduk kemudian tidak mau membayar iuran. Akibatnya iuran menjadi tidak lagi berjalan dan pengelola sarana menjadi kolaps. Juga diketahui bahwa iuran pemakaian air sangat tidak memadai. Di Desa Lonuo, Gorontalo, iuran per bulan Rp 500, sedangkan di desa Balaweling, Solor Timur, iurannya Rp 200/orang/bulan. Tentu saja iuran tersebut tidak memadai, tidak mampu untuk

Percik

Agustus 2006

31

WAWA S A N

melakukan pengembangan atau perbaikan kerusakan yang cukup besar. E. Masalah Kelembagaan Masalah kelembagaan pada dasarnya menyangkut norma-norma, dan manusia yang ada di dalamnya. Peran pengelola sarana air sebagai telah diuraikan di atas, sangat penting, karena permasalahan yang dihadapi cukup kompleks, sehingga memerlukan orang-orang yang tangguh dalam arti memiliki keberanian, bijaksana, dan berwawasan luas. Orang yang akan didudukkan sebagai pengurus pengelola sarana, hendaknya dipilih oleh semua yang terkait dengan pemakaian air karena mereka akan mendapat dukungan/legitimasi, dan akan terpilih orang yang tangguh yang memenuhi persyaratan. Kelembagaan juga menyangkut masalah norma-norma/peraturan yang mengatur hak dan kewajiban baik pengurus sarana air, maupun pemakai sarana air. Dalam hal ini, akan sangat legitimate apabila pembuatan peraturan yang ada melibatkan semua yang berkait dengan pemakaian air. Yang ada selama ini ada standarisasi pengelola sarana. Lembaga pengelola air memiliki nama yang sama (bahkan di seluruh wilayah). Selain itu, aturan-aturan yang ada serta struktur kelembagaannya pun sama pula. Ini artinya, keberadaan kelembagaan pengelola air sifatnya masih bentukan dari atas bukan inisiatif masyarakat sendiri. Akan sangat lebih baik apabila dalam aspek kelembagaan, masyarakat juga diberi kewenangan yang luas untuk menyusunnya sendiri. Ada sebuah kasus yang menarik yang menyangkut masalah kelembagaan tersebut. Di Sumba Timur ada sebuah desa, Tamburi namanya, yang memiliki sarana air sangat terawat, dan tampak akan lebih berkelanjutan (satusatunya sarana yang bagus di Sumba Timur yang penulis pernah temui). Di sini ada sebuah LSM yang memfasilitasi pembangunan sarana dan penyusunan

kelembagaannya. Struktur organisasi dan peraturan bagi pemakai sarana semuanya penduduk yang menyusun melalui pertemuan dengan semua warga. Meskipun bunyi redaksional peraturan tidak bagus (standar legal) namun masyarakat mematuhi karena semuanya adalah hasil kesepakatan bersama.

Kelembagaan juga menyangkut masalah norma-norma/peraturan yang mengatur hak dan kewajiban baik pengurus sarana air, maupun pemakai sarana air. Dalam hal ini, akan sangat legitimate apabila pembuatan peraturan yang ada melibatkan semua yang berkait dengan pemakaian air.
Mengapa Kelembagaan tidak Berfungsi? Mengapa lembaga pengelola air tidak berfungsi, bisa jadi variabelnya juga sangat beragam. Untuk memperoleh jawaban yang akurat mengenai hal itu, perlu dilakukan penelitian secara cermat. Bukan hanya karena lembaga pengelola air mempunyai peran sangat menentukan bagi keberlanjutan sarana tetapi hasilnya juga bisa dipergunakan untuk membuat rekayasa (intervensi) untuk memecahkan masalah dan menentukan kelembagaan yang seperti apa yang ideal berdasarkan hasil penelitian tersebut. Untuk sementara, jawaban mengenai hal itu bisa mendasarkan pada asumsi-asumsi saja, meskipun di beberapa desa sudah tampak begitu jelas. Di Desa Banyu Mudal, sebagai misal, lembaga pengelola sarana bubar karena pengurusnya mengundurkan diri dan tidak dilakukan pembentukan yang baru. Pengurusnya mengundurkan diri karena merasa tidak mampu

menyelesaikan konflik yang terjadi antara dusun satu dengan lainnya menyangkut penggunaan air. Di Desa Lonuo, Gorontalo, Unit Pengelola Sarana (UPS) secara mendadak mati, karena pembangkangan penduduk yang tidak mau mematuhi aturan dan tidak mau membayar iuran air. Preseden pemilihan kepala desa yang salah satu kandidatnya menjanjikan "bebas iuran air", dan terjadinya kubu politik di mana UPS memihak pada salah satunya telah menjadi sebab utama mati mendadaknya UPS. Di tempat lain UPS tidak berfungsi segera setelah beroperasinya layanan dan segera itu pula sarananya mengalami kerusakan. Yang seperti ini terjadi di Desa Molinto Gupo dan Tangga Jaya. Sedangkan di Talumelito, Gorontalo, UPS yang semula berfungsi sangat prima, menjadi mati karena distribusi air tidak bisa merata dan tidak regular sehingga penduduk tidak mau membayar iuran. Barangkali masih ada sebab-sebab lain di tempat-tempat lainnya. Untuk itu perlu dilakukan penelitian secara mendalam. Jalan Keluar Berbagai saran untuk memecahkan masalah ketidakberlanjutan sarana yang berakar pada tidak berfungsinya lembaga pengelola air adalah sebagai berikut. 1. Dipilih oleh masyarakat dengan beberapa persyaratan yang mendasarkan pada kapabilitas calon untuk memecahkan berbagai masalah yang kemungkinan dihadapi yang cukup rumit. 2. Cepat melakukan pemilihan/pergantian pengurus bila tidak bisa melaksanakan fungsinya 3. Segera melakukan pemecahan masalah melalui musyawarah . 4. Penyusunan struktur organisasi dan penyusunan aturan yang mengatur hak dan kewajiban pemakai sarana oleh semua pemakai sarana dan disesuaikan dengan kebutuhan setempat.
* Konsultan WASPOLA

32

Percik

Agustus 2006

WAWA S A N

Misteri Lorong Waktu Peradaban Teknologi Keairan


aduk Toltec untuk Irigasi dan Air Bersih: Paralel dengan pembangunan yang dilakukan oleh peradaban Kaum Zapotek dan Maya, diperkirakan salah satu kelompok peradaban Toltec mencapai kejayaannya antara tahun 500 sampai 1100 M. Untuk memfasilitasi irigasi dan air bersih, juga diketemukan waduk yang terbesar di kawasan tersebut berupa waduk memanjang (long storage) dilengkapi dengan fasilitas waduk untuk pengamanan sungai (river-training dam) dan bangunan bagi air (diversion structure) di sebelah hilirnya. Jaringan Waduk Anasazi: Secara terpisah dari pembangunan yang dilaksanakan di Mexico, khususnya di barat laut Amerika Serikat, beberapa kelompok komunitas tradisional agaknya secara terpisah telah mengembangkan teknik hidraulik yang cukup maju dalam upaya mempertahankan kelestarian lingkungannya yang relatif bercuaca kering. Beberapa waduk khusus telah dibangun oleh Kaum Anasazi di sebelah selatan Colorado dan lainnya di New Mexico, yang kemudian menjadi terkenal dengan sistem huniannya yang bertingkat banyak, kemudian tercatat sebagai tempat kelahiran pencakar langit yang pertama di dunia modern. Bendungan dan Tanggul Peninggalan Bangsa Aztec: Beberapa abad sebelum pendudukan bangsa Spanyol pada tahun 1518 M, Bangsa Aztec sudah mencapai tingkat supermasi yang tinggi di Mexico. Pada masa itu, mereka membangun ibu kotanya Tenochtitlan di tengah-tengah kota Mexico yang dikenal dewasa ini. Pusat pemerintahan tersebut berbentuk enklave (pulau) di lokasi sebelah barat Danau Texcoco, sebuah

Oleh: A. Hafied A. Gany*


(Bagian Kedua-Selesai)

danau yang menutupi sebagian besar lembah Kota Mexico. Di sebelah timur hilir, bagian dari airnya mengandung asam nitrat yang berbahaya bagi pertumbuhan tanaman pada pulau buatan manusia yang terdiri dari endapan lumpur dan tanaman aquatik, terkenal dengan sebutan "Kebun Gantung" (Floating Gardens), yang sampai saat ini masih dapat disaksikan di Xochimileo sebelah selatan Kota Mexico. Peninggalan Masa Kejayaan Romawi Menjelang abad kelima SM, Bangsa Romawi membangun jaringan drainase perkotaan untuk Kota Forum dengan jaringan sanitasi Cloaca Maxima. Dalam kurun waktu yang sama, mereka juga membangun saluran drainase lembah Aricca dengan terowongan sepanjang 607 m yang terletak sekitar 30 km sebelah tenggara Kota Roma. Pada tahun 396 SM, mereka menurunkan muka air danau Albano melalui terowongan sepanjang 1.200 m untuk mendapatkan tambahan lahan pertanian. Dari tahun 312 SM sampai tahun 52 M Bangsa Romawi juga membangun sembilan talang air dengan panjang total 423 km untuk mensuplai air bersih bagi kota-kotanya. Pada pertengahan abad pertama sebelum Masehi, Bangsa Romawi mengembangkan pembangunan waduk di kawasan Timur Dekat dan kemudian diperkenalkan dengan Teknologi bendungan Israelite, Nabatean dan Bendungan Ptolmatic. Selama periode awal pembangunan

oleh Bangsa Romawi, mereka sudah menggunakan berbagai peralatan ukur tanah dan penyipat datar untuk uitzet bangunan, penggunaan abacus untuk menghitung, juga penggunaan mistar dan pita ukur, serta peralatan pertukangan, benang sipat, unting-unting dan semacamnya - yang hingga era modern saat ini masih masih banyak dipergunakan. Peninggalan Peradaban Islam Lama Melalui pengalaman Bangsa-bangsa Arab generasi terdahulu dengan pemberdayaan lebih lanjut melalui peradaban Islam, bangsa-bangsa Arab sangat cepat berkembang dalam waktu hanya sekitar satu abad, terutama di kawasan Afrika Utara dan Spanyol, juga di kawasan Barat Daya Asia sampai ke kawasan Sungai Indus dan Uzbekistan. Diperkirakan bahwa sebagai keberlanjutan tradisi lama, oleh pendahulu Bangsa Yamani, mereka membangun beberapa bendungan untuk irigasi di sekitar pusat peradaban Islam di Kota Mekkah dan Madinah. Bendungan Abbasid di Sungai Adhaim dan Bendungan Bujid di Sungai Kur: Pada abad kesembilan Masehi, Raja Abbasid dari Baghdad membangun sebuah bendungan di Sungai Adhaim dengan bentang 130 m, yang berlokasi sekitar 150 km sebelah utara Kota Baghdad. Sekitar satu abad kemudian, rangkaian sistem irigasi di Sungai Kur sebelah selatan Shiraz di sebelah selatan Iran dibangun serangkaian bendungan untuk pembangkit tenaga kincir air (bendungan tersebut melayani sekitar 30 kincir air). Demikian juga dengan

Percik

Agustus 2006

33

WAWA S A N

pembangunan bendungan untuk mengoperasikan kincir air "Penggilingan Aruban" pada abad kedua Masehi di Israel, juga hal yang sama sebelumnya dibangun di Deh Luran, Iran. Permasalahan umum yang dihadapi pada masa itu adalah tingginya tingkat pengangkutan sedimen akibat proses erosi - terutama karena terbatasnya penutupan permukaan bumi secara vegetatif. Banyak di antaranya malahan waduk penampungan airnya penuh dengan endapan sedimen, namun dari segi konstruksi, sekitar sepertiganya cukup mantap terhadap gaya guling. Perpaduan Teknologi Zaman Romawi dan Zaman Kejayaan Islam Pada tahun 711 Masehi, orang-orang Islam dalam upaya penyiaran agama menyeberang Selat Gibraltar dan bergerak terus menuju ke sebelah barat daya Spanyol melewati Kerajaan Visigothic Spanyol sampai ke perbatasan Perancis Selatan. Di kawasan Valencia, sekirat 300 km sebelah tenggara Kota Madrid, mereka melaksanakan pekerjaan rekonstruksi bangunan irigasi, termasuk bangunan bagi yang membentang di Sungai Turia. Pada abad ke-11 Masehi, orang-orang Islam membangun sekitar sembilan bangunan bagi pada kawasan sejarak 12 km keliling dari lokasi Sungai Turia tersebut. Bendungan Besar Parada: Pada sekitar tahun 970 M, bendungan besar Parada dibangun pada sungai Segura di sebelah hulu Murcia, sekitar 350 m sebelah barat daya Kota Madrid. Kawasan tersebut pada waktu itu diduduki oleh orang-orang Yamani yang membawa dan memperkenalkan budayanya dalam pembangunan irigasi dan bendungan pengairan selama lebih dari seribu tahun. Peninggalan Peradaban Pengairan di Indonesia Dibandingkan dengan peradaban teknologi air dan lingkungan yang

terungkap pada komunitas purba di berbagai belahan bumi, bukti-bukti artifak purba di Indonesia tergolong jauh lebih muda. Sepanjang catatan sejarah di Indonesia, ada tiga titik tolak yang dapat memberikan bukti konkret tentang pengembangan dan pengelolaan SDA. Masing-masing berturut-turut adalah temuan batu bertulis Harinjing yang ditemukan di Desa Kepung, Kecamatan Pare, dalam kawasan wilayah Sungai Brantas, Provinsi Jawa Timur. Penemuan tersebut berupa prasasti yang bertanggal 726 Tahun Caka, atau 808 Masehi. Temuan kedua juga berupa prasasti bertanggal 843 Tahun Caka, atau 921 Masehi. Temuan batu bertulis ke tiga bertanggal 849 Tahun Caka atau 927 Masehi. Namun, sepanjang catatan sejarah yang ditemukan buktinya sampai saat ini, diketahui dari batu bertulis Tugu bahwa bangunan pengairan yang pertama (tertua) di Indonesia sampai saat ini adalah Saluran Chandra Bhaga di sekitar Sungai Cilincing. Prasasti tersebut menyebutkan bahwa Raja Purnawaman mendekritkan untuk menggali saluran terobosan di Sungai Candra Bhaga untuk mengalirkan air langsung ke laut, sepanjang Istana Candra Bhaga (Sungai Bekasi). Sementara itu analisis geomorphologi memperkirakan bahwa Lokasi Candra Bhaga adalah Sungai Cakung yang dikenal saat ini. Batu bertulis ini menyebutkan bahwa sejak abad ke-5 Masehi dataran rendah yang menjadi lokasi Kota Jakarta yang dikenal saat ini sudah terlanda masalah banjir. Hal ini memberikan bukti baru bahwa bangunan air tertua di Indonesia yang semula diketahui yakni Tanggul Harinjing (804 M) ditepis dengan keterangan pada batu bertulis Tugu yang mengungkapkan Saluran Chandra Bhaga di sungai Cakung, dibangun pada abad ke-5 Masehi. Hipotesis tentang Misteri Artifak Purba: Dalam kaitannya dengan bukti peninggalan sejarah di bidang pengembangan dan pengelolaan SDA, ada kalangan yang berpendapat bahwa

Indonesia sebagai negara tropis akan sangat sulit menyimpan situs-situs artifak bangunan yang relatif kecil dan dengan bahan bangunan organik dalam kurun waktu yang panjang tanpa mengalami pelapukan. Dengan demikian bekas peninggalan artifak semacam bukti sejarah tersebut di atas tidak akan tertinggal atau sulit ditemukan setelah ribuan tahun berselang. Kalau hipotesis itu benar, maka diperkirakan banyak bukti aktivitas peradaban manusia purba tersebut di bumi Nusantara yang tetap misteri dan tidak bisa ditelusuri, setelah berlangsung ribuan tahun. Di sisi lain, ada juga sementara kalangan yang mengetengahkan argumentasi bahwa mengingat Nusantara Indonesia secara alamiah sudah terbentuk menjadi kumpulan kepulauan tropis dengan beragam kesatuan budaya masyarakat yang terpencar dalam wujud kelompok-kelompok kecil, maka di sisi pembangunan infrastruktur pengairan, manusia pada waktu itu tidaklah dituntut dengan pengembangan waduk besar atau infrastruktur yang permanen untuk memenuhi hajat hidup warganya. Apalagi kalau dikaitkan dengan karunia keberlimpahan air yang dimiliki kawasan Nusantara, sehingga kebanyakan tanaman bisa tumbuh tanpa infrastruktur pengairan yang besar atau permanen. Kalaupun seandainya bangunan sederhana tersebut dihanyutkan banjir pada setiap musim hujan, mereka akan mampu memperbaikinya tanpa upaya konstruksi yang rumit. Mereka akan lebih senang meluangkan waktu dan tenaga untuk melaksanakan perbaikan tahunan bangunan sederhana yang ada secara "gotong-royong" ketimbang memelihara bangunan (infrastruktur) yang permanen sepanjang tahun. Dengan argumentasi ini, dapat dipahami kalau peradaban teknologi keairan dengan sistem infrastruktur sederhana, yang meskipun sudah dilaksanakan selama ribuan tahun, tidak pernah dapat tertinggal reruntuhannya sebagai arti-

34

Percik

Agustus 2006

WAWA S A N

Gambar 5. Relief Karmawibangga pada Candi Borobudur menggambarkan kegiatan penggunaan air masyarakat purba pada saat itu untuk memasak. Gambar 6. Relief Karmawibangga pada Candi Borobudur menggambarkan kegiatan penggunaan air untuk minum.

fak untuk berbicara kepada generasi penerusnya, tanpa lapuk ditelan masa. Relief pada berbagai candi: Meskipun bukti-bukti teknologi yang ada di Indonesia hingga saat ini jauh lebih muda usianya, nampaknya nenek moyang kita sudah cukup lama dan sudah cukup berpengalaman dalam teknologi air dan lingkungan di bumi Nusantara. Nenek moyang kita, rupanya sudah berusaha untuk mengkomunikasikan pengalaman dan kepiawaiannya dalam teknologi keairan dan lingkungan, dengan mengukirkannya pada dinding-dinding candi yang tersebar di beberapa tempat di Pulau Jawa bahkan di luar Jawa yang mungkin sebagiannya belum diketemukan. Sekalipun belum dapat diketahui secara pasti sejak kapan mulai dikenalnya peradaban teknologi keairan, namun dari gambaran nyata pada beberapa relief di Candi Borobudur (yang dibangun pada Abad ke 7-8 M), jelas terlihat pesan tentang penerapan pemanfaatan air untuk memasak dan untuk konsumsi air minum (Lihat Gambar 5 dan 6). Dari Gambar 5, jelas terlihat bagaimana memanfaatkan air untuk memasak makanan mereka sehari-hari, merebus air, sementara seorang di depannya sedang membersihkan ikan untuk dimasak. Dari Gambar 6, terlihat bagaimana seorang perempuan sedang

melayani suguhan minuman pada suatu kesempatan. Pada relief tersebut jelas terlihat bagaimana air (minuman) yang tersimpan pada kendi dan menuangkannya ke dalam sebuah mangkok (cangkir) - yang bentuk dan fungsinya tidak jauh berbeda dengan peralatan dapur yang dipakai pada era modern sekarang ini. Memang dari gambar tersebut tidak jelas apakah mereka sudah menggunakan teknologi air, namun bila kita mencoba menghubungkannya dengan berbagai artifak yang serupa, di Candi Prambanan, misalnya, mereka pada zamannya sudah pasti melibatkan peradaban teknologi air untuk penyediaan air dan pelestarian lingkungan. Dari beberapa relief yang terpampang pada di dinding Candi Prambanan, terlihat dengan jelas bagaimana peradaban teknologi air sudah berkembang untuk penyediaan dan pengamanan SDA dan ekosistemnya, bukan hanya untuk kehidupan manusia, tapi juga untuk flora dan fauna yang ada (Lihat Gambar 7 dan 8). Dari Gambar 7, jelas terlihat bagaimana upaya manusia memanfaatkan air dengan pendekatan keterpaduan antara penyediaan prasarana SDA dan pelestarian ekosistem yang berkelanjutan. Sementara pada Gambar 8, jelas terlihat bagaimana peranan air dengan penggu-

naan teknologi pancuran untuk menunjang air bagi kehidupan, bukan hanya untuk manusia, tapi juga bagi keberlanjutan hidup fauna dan flora serta kelestarian ekosistem keairan. Pesan nenek moyang tentang budaya dan teknologi irigasi untuk bertanam padi sawah, misalnya, cukup jelas terbaca pada dua relief yang tersimpan di musium Trowulan, Jawa Timur, bagaimana petani sedang menanam benih padi di sawah. Dari relief tersebut jelas bahwa saat bertanam padi sawah orang harus menanam benih, yang berbeda dengan ladang, di mana benih harus disebar, atau ditanam. Jadi yang dimaksud dalam relief tersebut pastilah menanam padi dengan menggunakan medium air sebagai pelunak tanahnya. Bagaimanapun sederhananya, yang pasti bahwa mereka sudah menggunakan upaya mendatangkan air atau setidaknya menggali sumur atau menjernihkan air agar cukup bersih untuk dikonsumsi. Seandainya relief-relief tersebut, yang jelas dibuat dengan sempurna dengan relief yang sangat mengagumkan pada era Candi Borobudur, Prambanan dan lainnya, di abad ke 7-8 Masehi, maka dapat dipastikan bahwa peradaban teknologi air yang digambarkan dengan sempurna tersebut, pasti sudah jauh lebih lama dari pembangunan candi itu sendiri. Sayangnya bahwa sampai saat ini kita belum bisa mengungkapkan bukti sejarah, sejak kapan nenek moyang bangsa Indonesia mengenal teknologi air dan lingkungan, sebagaimana dibuktikan oleh bangsa-bangsa lain di berbagai belahan bumi. Apakah memang kita lebih belakangan, atau memang belum diketemukan bukti-bukti arkeologinya? Atau barangkali asumsi bahwa peninggalan artifak dengan konstruksi sederhana sudah hancur terkubur dengan dipacu proses oksidasi dan pelapukan di iklim tropis? Pertanyaan-pertanyaan tersebut merupakan tantangan ke depan bagi kita untuk dapat mengungkapkan fakta yang sebenarnya.

Percik

Agustus 2006

35

WAWA S A N

Misteri Lorong Waktu Meskipun fakta yang tersaji dalam uraian ini belum dapat menjadi argumentasi yang mewakili kondisi senyatanya secara universal, sepanjang buktibukti arkeologi yang sudah terungkap oleh manusia modern, tampaknya untuk sementara sudah dapat ditarik kesimpulan tentang asumsi lorong waktu peradaban teknologi keairan sampai ke era modern di mana kita hidup saat ini. Dari berbagai temuan arkeologi, budaya kehidupan manusia, dapat ditelusuri sampai sejauh 7000-an tahun yang lalu, namun dari segi peradaban teknologi keairan dan lingkungan, belum ada fakta yang dapat membuka tabir misteri mengenai awal mula penerapannya. Di Nusantara, tampaknya sejarah pengembangan teknologi keairan dan lingkungan sejauh yang dapat diketengahkan bukti konkretnya, adalah pembangunan saluran Chandra Bagha pada sekitar Tahun 500 Masehi, mendahului pembangunan Candi Borobudur yang berlangsung antara abad ketujuh dan abad kedelapan tarikh masehi. Jadi sepanjang sejarah manusia, sebagaimana tercatat pada bukti-bukti arkeologi (kepurbakalaan) yang ada, tampaknya terbentang lorong waktu peradaban teknologi keairan dan lingkungan yang cukup panjang, yakni sejak

Raja Scorpion dari Mesir meresmikan pembangunan salah satu jaringan irigasinya pada tahun 3.100 SM sampai zaman modern saat ini, atau tidak kurang dari 5.100 tahun yang lalu. Tidak ada yang bisa menyangkal bahwa periode tersebut benar-benar merupakan Misteri Lorong Waktu yang cukup panjang ditinjau dari umur peradaban dan budaya manusia, namun sangat singkat bila diukur dengan umur geologis bumi pijakan kita saat ini, yang parameter waktunya adalah milennium dan bukan abad atau tahun. Renungan untuk Pembelajaran Masa Depan Dari bukti-bukti yang ada, banyak pembelajaran yang dapat dipetik mulai dari tahapan perencanaan, pembangunan sampai ke upaya pengelolaan SDA dan pelestarian lingkungan ekosistem air. Di bidang teknologi perencanaan, misalnya, banyak dijumpai pengalaman terjadinya under-designed, dan atau over-designed, di mana under-designed mengakibatkan kecilnya kapasitas tampung untuk menampung banjir besar, sehingga bangunan tidak berumur lama - demikian juga sebaliknya terhadap dampak negatif over-designed. Di bidang konstruksi, juga banyak dijumpai pada awal-awal pembangunan prasarana bendungan purba yang tidak difasilitasi dengan terowongan atau saluran

pengelak sehingga mengalami jebol dalam periode banjir sebelum pelaksanaan konstruksinya selesai. Dalam bidang pengendalian banjir dan konservasi SDA, banyak pengalaman yang dapat ditimba dari orang-orang Nabaten, misalnya yang membangun check dam untuk menahan laju erosi, di mana endapan yang terjadi dimanfaatkan sebagai lahan untuk bercocok tanam. Hal ini sekaligus merupakan teknologi konservasi lahan dan air yang justru menjadi isu sentral pengembangan dan pengelolaan SDA di alam modern sekarang ini. Menarik dijadikan renungan untuk bahan pertimbangan ke depan, bahwa sejak ribuan tahun yang lalu, manusia sudah menerapkan teknologi pengelolaan SDA terpadu, padahal pada saat tersebut masalah kependudukan belum begitu mengemuka. Dapat dibayangkan bagaimana Bangsa Iraq di lembah sungai Tikris dan Euphrate ribuan tahun yang lalu sudah menerapkan pengelolaan SDA terpadu dalam pengelolaan jaringan irigasi terpisah secara fisik, yakni Kisrawi, Tamara, dan Nahrawan, sehingga penggunaan airnya terintegrasi dan menjadi berkelanjutan. Dengan segala kepiawaian pakar kepurbakalaan di era modern ini, ternyata temuan demi temuan masih juga terus terungkap dari waktu ke waktu. Ini membuktikan betapa masih banyaknya misteri kehidupan di sepanjang lorong waktu peradaban manusia yang belum terungkap hingga kini. Pengalaman peradaban manusia di sepanjang lorong waktu penerapan teknologi keairan dan lingkungan tidak dapat diabaikan oleh manusia modern yang semakin sesak huniannya di Planet Bumi.
* Widya Iswara Utama Departemen Pekerjaan Umum bidang "Teknologi dan Manajemen Keairan"; Board of Director, International Networks on Participatory Irrigation Management; dan Anggota Working Group on Irrigation and Drainage History of the World, ICID, mewakili Indonesia.

Gambar 7. Relief di Candi Prambanan tentang teknolologi pemanfaatan dan pelestarian air. Gambar 8. Relief di Candi Prambanan yang menggambarkan peranan air bagi kehidupan manusia, flora, fauna dan lingkungan hidup.

36

Percik

Agustus 2006

WAWA S A N

Pembangunan dan Pemberdayaan


emberdayaan adalah konsep yang paling sering kita pergunakan dalam kurun waktu lima tahun terakhir ini. Namun demikian, acapkali kita sering tidak memahami secara mendalam makna darinya, bahkan kita seringkali mempersalinggantikan kedua kata tersebut. Memang, tidak ada sebuah pemahaman yang benar secara absolut tetapi upaya untuk memahami suatu konsep dengan baik adalah langkah awal dari sebuah program pembangunan yang baik. Tidak Sekadar Daya Pemberdayaan berasal dari penerjemahan bahasa Inggris "empowerment" yang juga dapat bermakna sebagai "pemberian kekuasaan", karena power bukan sekadar "daya" tetapi juga "kekuasaan", sehingga kata "daya" tidak saja bermakna "mampu" tetapi juga "mempunyai kuasa". Di sini dipergunakan proposisi Lord Acton secara terbalik. Kata filsuf Inggris ini power tend to corrupt, absolute power corrupt absolutely. Memang, kalau penguasa menjadi penguasa absolut, misalnya seorang diktator, maka ia cenderung untuk mengorupsi semua yang adakarena kekuasaan pun sudah dikorupsi habis olehnya. Kita seringkali menjadi romantik bahwa orang yang papa atau miskin absolut kekuasaan "tidak mungkin korupsi. Sebaliknya, absolute no-power corrupt absolutely, too. Jika individu atau suatu kelompok "sama sekali" tidak memiliki kekuasaan, maka ia pun menjadi "korup" secara absolut pula. Dalam bahasa Inggris, kita mengenal kata "amock" yang berarti marah secara tibatiba dan kemudian melakukan perusakan yang tidak dapat dipahami alasannya secara nalar. Di Surabaya atau Malang,

Oleh: Riant Nugroho Dwijowijoto*


Anda jangan pernah menyerempet becak, diserempet becak pun Anda masih dimaki-maki oleh tukang becak. "Matane gak ndelok, ta!" (Matanya tidak melihat, ya). Mahasiswa melakukan tindak anarki sepanjang 1998-2001 juga dikarenakan selama ini mereka dikebiri total kekuasaan kebebasan kampusnya. Massa yang merusak properti keturunan Cina ketika kerusuhan terjadi juga karena mereka selama ini merasa diinjak-injak hak ekonominya oleh pemerintah dan KKN-nya pemerintah. Jika kita punya binatang piaraan selalu diikat maka ketika ia sempat lepas, ia akan menjadi liar, berandalan, dan tidak kenal aturan. Itulah sebabnya, kita memerlukan pemberdayaan, khususnya kepada mereka yang "lemah" dan "tidak berdaya". Tiga Sisi Pemberdayaan Pemberdayaan adalah sebuah "proses menjadi", bukan sebuah "proses instan". Sebagai proses, maka pemberdayaan mempunyai tiga tahapan: penyadaran, pengkapasitasan, dan pendayaan. Sederhananya dapat digambarkan sebagai berikut:

Tahap pertama adalah penyadaran. Pada tahap ini, target yang hendak diberdayakan diberikan "pencerahan" dalam bentuk diberikan penyadaran bahwa mereka mempunyai hak untuk mempunyai "sesuatu". Misalnya, targetnya adalah kelompok masyarakat yang miskin. Kepada mereka diberikan pemahaman bahwa mereka dapat menjadi berada, dan itu dapat dilakukan jika mereka mempunyai kapasitas untuk keluar dari kemiskinannya. Pada tahap ini program-program yang dapat dilakukan misalnya memberikan pengetahuan yang bersifat kognisi, belief, dan healing. Prinsip dasarnya adalah membuat target mengerti bahwa mereka perlu (membangun "demand") diberdayakan, dan proses pemberdayaan itu dimulai dari dalam diri mereka (tidak dari orang luar). Setelah menyadari, maka tahap kedua adalah pengkapasitasan. Inilah yang sering kita sebut sebagai "capacity building", atau dalam bahasa yang lebih sederhana memampukan atau enabling. Untuk diberikan daya atau kuasa, yang bersangkutan harus mampu terlebih dahulu. Misalnya, sebelum memberikan otonomi daerah seharusnya daerah-daerah yang hendak diotonomkan diberi program pemampuan atau capacity building untuk membuat mereka "cakap" (skilfull) di dalam mengelola otonomi yang diberikan. Proses capacity building terdiri dari tiga jenis: manusia, organisasi, dan sistem nilai. Pengkapasitasan manusia di dalam arti memampukan manusia, baik dalam konteks individu maupun kelompok. Kita tidak asing dengan konsep ini,

Percik

Agustus 2006

37

WAWA S A N
FOTO:DOK/POKJA

karena kita sudah amat sering melakukan training (pelatihan), workshop (loka latih), seminar, dan sejenisnya-di masa "Orba" kita juga sering mempergunakan istilah "simulasi" untuk sosialisasi P4. Arti dasarnya adalah memberikan kapasitas kepada individu dan kelompok manusia untuk mampu menerima daya atau kekuasaan yang akan diberikan. Pengkapasitasan organisasi dilakukan dalam bentuk restrukturisasi organisasi yang hendak menerima daya atau kapasitas tersebut. Misalnya, sebelum diberikan peluang usaha, maka kelompok miskin dibuatkan Badan Usaha Milik Rakyat (BUMR). Agar menjadi efisien dalam manajemennya, maka daerah otonom ditata ulang organisasinya sehingga berpola structure follow functions. Pengkapasitasan organisasi ini seringkali kita abaikan, pada maknanya ibarat "menyiapkan medium sebelum meletakkan sediaan"; sama halnya sebelum kita menanam bibit jagung, maka kita siapkan pula lahannya. Bukankah kita tidak mungkin menabur bibit jagung sekehendak hati kita? Menabur bibit jagung di atas karang atau jalan raya tidak akan memberikan tumbuhan jagung, bukan? Perlu diakui, bahwa pengkapasitasan kedua ini jarang dilakukan karena kita acapkali take it for granted dengan berpikir bahwa "toh kalau manusianya sudah dikapasitaskan ia akan melakukan pengkapasitasan organisasi sendiri". Kadang premis ini berlaku, namun pada prakteknya, premis ini sering tidak berlaku. Pengkapasitasan ketiga adalah sistem nilai. Setelah orang dan wadahnya dikapasitaskan, maka sistem nilainya pun demikian juga. Sistem nilai adalah "aturan main". Dalam cakupan suatu organisasi, maka sistem nilai tersebut berkenaan dengan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga, Sistem dan Prosedur, Peraturan Koperasi, dan sejenisnya. Pada tingkat yang lebih maju, maka sistem nilai terdiri pula oleh budaya organisasi, etika, dan good governance.

Pengkapasitasan sistem nilai dilakukan dengan membantu target untuk membuatkan "aturan main" di antara mereka sendiri. Pada program BUMR di Lumajang dan Bengkalis, setelah manusianya diberi kapasitas manajerial, diberikan organisasi atau lembaga usaha, kepada mereka juga berikan "aturan main" agar kelak kalau usahanya menjadi besar tidak menjadi berebut atau menjadi ajang sengketa yang justru merugikan mereka sendiri. Hal yang sama dengan otonomi daerah, kepada daerah otonom difasilitasi agar membuat Peraturan Daerah yang mengatur "rule of the game" di dalam daerah otonom, antar daerah otonom, serta antara daerah otonom dan pemerintah pusat. Sama halnya dengan pengkapasitasan organisasi, pengkapasitasan sistem nilai jarang kita lakukan, karena kita mempunyai stereotip bahwa "kalau manusianya dikapasitaskan, toh mereka akan membuat aturan main sendiri yang baik". Pengalaman di lapangan menunjukkan hal yang lain. Setelah pengkapasitasan manusia, yang terjadi mereka tinggal sebagai individu yang "terceraiberai" dan "tak bersistem nilai tunggal". Tahap ketiga adalah pemberiaan daya itu sendiri-atau "empowerment"

dalam makna sempit. Pada tahap ini, kepada target diberikan daya, kekuasaan, otoritas, atau peluang. Pemberian ini sesuai dengan kualitas kecakapan yang telah dimiliki. Tahap ini sangat penting karena pada saat ini pembentukan kabupaten-kabupaten baru cenderung dilakukan tidak atas dasar kecakapan yang memadai melainkan lebih banyak kepada syarat-syarat administratif, misalnya minimal ada tiga kecamatan. Di Sulawesi dan Maluku Utara diperkirakan lebih dari 50 persen kabupaten baru tidak mampu melaksanakan otonomi daerah dengan baik dan benar karena masalah tidak memadainya kecakapan daerah untuk melaksanakan otonomi daerah. Biaya otonomi daerah dengan demikian menjadi sangat mahal, karena pengkapasitasan pascapemberian otonomi bertemu dengan resistensi dan ketegangan-ketegangan yang seharusnya tidak terjadi. Prosedur pada tahap ketiga ini cukup sederhana, namun seringkali kita tidak cakap menjalankannya karena mengabaikan bahwa di dalam kesederhanaan pun ada ukurannya. Pokok gagasannya adalah dalam proses pemberian daya atau kekuasaan diberikan sesuai dengan kecakapan dari penerima.

38

Percik

Agustus 2006

WAWA S A N

Pemberian kredit kepada suatu kelompok miskin yang sudah melalui proses penyadaran dan pengkapasitasan, masih perlu disesuaikan dengan kemampuannya mengelola usaha. Jika perputaran usahanya hanya mampu mencapai Rp 5 juta, tidaklah bijaksana jika diberikan pinjaman atau modal sebesar Rp 50 juta. Seni dari Proses Alamiah Pemberdayaan pada akhirnya bukanlah "teori". Sebagaimana dikatakan oleh Ron Johnson dan David Redmod (The Art of Empowerment, 1992), bahwa at last, empowerment is about art. It is about value we believe. Tatkala pemberdayaan menjadi sebuah seni, maka yang mengemuka adalah bagaimana membangun keindahan dalam proses pemberdayaan. Artinya, memberdayakan tidak boleh bermakna "merobotkan" atau "menyeragamkan". Pemberdayaan juga memberi ruang kepada pengembangan keberagaman kemampuan dari manusia yang beragam, dengan asumsi, satu sama lain akan saling melengkapi. Di sini, kita sampai pa-

Begitu alamiahnya pemberdayaan sehingga kita lupa bahwa "proses itu penting". Kebiasaan manusia Indonesia untuk take it for granted membuat pemberdayaan menjadi sebuah kegiatan yang dianggap "jadi dengan sendirinya".
da pemahaman, bahwa value dari pemberdayaan adalah bahwa ia merupakan proses yang alamiah. Pemberdayaan adalah sebuah proses yang alamiah, dalam arti kita alami dalam kehidupan wajar sehari-hari. Ketika bayi, seorang anak makan ASI dan bubur. Menanjak bocah, ia makan nasi, sagu, jagung roti, atau mie. Ketika ia sudah menjelang akhil balik, maka ia memerlukan kemandirian. Mendekati usia tersebut, biasanya para orang tua mulai
FOTO:DOK/POKJA

mengajari memegang uang sendiri dengan jumlah yang dibatasi dan membelanjakan sendiri dengan bijaksana, sambil diawasi. Tujuannya, ketika sudah dilepas, ia akan mampu membelanjakan uangnya dengan bijaksana pula. Begitu alamiahnya pemberdayaan sehingga kita lupa bahwa "proses itu penting". Kebiasaan manusia Indonesia untuk take it for granted membuat pemberdayaan menjadi sebuah kegiatan yang dianggap "jadi dengan sendirinya". Pada abad ke 18, ilmuwan sosial Prancis, Alexis de Tocqueville, menemukan bahwa keunggulan bangsa Amerika disebabkan mereka mempunyai kemampuan asosiasional yang kuat. Artinya, bangsa tersebut mempunyai kemampuan yang kuat untuk membuat organisasi dan memanajemeninya. Bangsa Indonesia hampir sama: mudah membuat organisasi, tetapi tidak mempunyai kecakapan dalam memanajemeninya. Republik Indonesia adalah sebuah organisasi milik bangsa Indonesia. Dengan kekayaan yang berlimpah ruah, toh administrasi negara RI tidak cukup menghasilkan bangsa Indonesia yang terunggul, paling tidak di Asia. Human Development Index kita masih kalah dibanding negara-negara tetangga. Laporan Human Development Progress yang diterbitkan UNDP pada tahun 2004 meletakkan Human Development Score Indonesia pada ranking HDI ke-112 dari 175 negara yang disurvei. Posisi ini di bawah RRC (104), Sri Lanka (99), dan negara-negara ASEAN yaitu Singapura (28), Brunei (31), Malaysia (58), Thailand (74), dan Filipina (85). Posisi ini bahkan merupakan penurunan dari prestasi sebelumnya. Pada tahun 2002 UNDP melaporkan bahwa Indonesia mendapat nilai 0,684 atau rangking 110 di bawah Vietnam yang mendapat nilai 0,688 (urutan 109), Cina 0,762 (urutan 96), Filipina 0,754 (urutan 77), Thailand 0,762 (urutan 70), Malaysia 0,782 (urutan 59), Brunei Darussalam 0,856 (urutan 32), Singapura 0,885 (urutan

Percik

Agustus 2006

39

WAWA S A N

25), dan Jepang 0,933 (urutan 9). Untuk diketahui, HDI adalah indeks campuran yang merupakan ukuran rata-rata prestasi penting atas tiga dimensi dasar dalam pengembangan atau pembangunan manusia, yaitu (a) kesehatan (a long and healty life); (b) pengetahuan (knowledge); (c) kelayakan standar hidup (a decent standard of living). Sementara itu, dalam hal korupsi, menurut Transparency International Indonesia "masih" menduduki posisi kelima negara paling korup di dunia (membaik dari posisi kedua pada tahun lalu). Pemberdayaan adalah sebuah konsep bahwa meskipun itu kehidupan adalah proses alami, namun kehidupan pun perlu dan harus dimanajemeni. Konsep "memanajemeni" berbeda dengan "rekayasa", karena manajemen lebih fokus kepada meningkatkan "nilai tambah" dari "sesuatu aset". Jadi, pemberdayaan bukanlah semata-mata konsep politik, melainkan lebih suatu konsep manajemen. Dan, sebagai konsep manajemen, pada akhirnya pemberdayaan harus mempunyai indikator keberhasilan. Para relawan sosial, khususnya yang bergerak pada program pengarusutamaan gender (gender mainsteraming) biasanya memberikan empat indikator bagi kualitas kesetaraan gender, yang ternyata cukup sesuai jika diterapkan untuk mengukur pemberdayaan. Pertama, akses, yang berarti target yang diberdayakan pada akhirnya mempunyai akses akan sumber daya yang diperlukannya untuk mengembangkan diri. Kedua, partisipasi, yang berarti target yang diberdayakan pada akhirnya dapat berpartisipasi mendayagunakan sumber daya yang diaksesnya tersebut. Ketiga, kontrol, dalam arti target yang diberdayakan pada akhirnya mempunyai kemampuan mengontrol proses pendayagunaan sumber daya tersebut. Keempat, kesetaraan, dalam arti pada tingkat tertentu di mana terjadi konflik, target mempunyai kedudukan yang sama dengan yang lain di dalam pemecahan masalah tersebut.

FOTO:DOK/POKJA

Agenda Pembangunan Akhirnya, pemerintahan Presiden Yudhoyono perlu untuk sampai kepada sebuah pemahaman bersama bahwa bangsa Indonesia perlu membangun pemberdayaan sebagai metode pembangunan nasional. Bukan saja karena "pemerintah tidak mempunyai uang yang cukup banyak untuk melakukan pembangunan berpola government driven", namun juga karena model ini akan menjadikan pembangunan sebagai kewajiban bersama antara pemerintah dan rakyat. Tatkala pemahaman ini terbangun maka dalam kondisi perekonomian yang sulit, rakyat akan dapat diajak berbicara untuk berkorban bersama. Misalnya tidak tersedia lagi subsidi bagi BBM, rakyat dapat diajak untuk berbicara dan membuat keputusan bahwa "we don't need another subsidy". Negara dengan rakyat yang "tidak berdaya" akan berisi pemerintahan yang berhadapan dengan rakyat yang manja, menang sendiri, dan tidak mau diajak bertanggungjawab. Hari ini pun kita sudah melihatnya. Desakan untuk mempunyai the strong leader, atau konsep "Ratu Adil" adalah konsep dari rakyat yang "tidak berdaya", dan sekaligus

memberitahu kita sebuah fenomena "rakyat yang tidak dewasa". Seperti lelucon politik: PM Inggris, PM Prancis, dan Presiden Indonesia berwisata bersama. Mendadak masing-masing kentut. PM Inggris berkata "forgive me"; PM Prancis berkata "pardon me"; Presiden Indonesia berkata, "not me!". Karena di Indonesia pun kentut dianggap salah--padahal baik demi kesehatan-- apa lagi berbuat yang lain. Pembangunan perlu menjadikan pemberdayaan sebagai nilai dan pilihan kebijakan, sekaligus juga sebagai pembelajaran sosial, dalam arti kita selalu belajar bagaimana melakukan pemberdayaan yang semakin hari semakin baik. Karena, seperti kata cendekiawan Soedjatmoko, bahwa pembangunan tidak lain adalah belajar untuk hidup lebih baik daripada hari kemarin. Dan, pembelajaran adalah bagian inti dari pembangunan pada zaman kini dan, mungkin, sampai kurun waktu yang panjang di masa depan.
* Konsultan manajemen strategis untuk sektor bisnis dan publik. Menulis lebih dari 40 buku. Saat ini ia menjabat sebagai Board Member dari Badan Regulator Pelayanan Air Minum DKI Jakarta.

40

Percik

Agustus 2006

S E P U TA R A M P L

Lokakarya Kajian Hukum dan Perundangan Terkait AMPL


okakarya Kajian Hukum dan Perundangan Terkait Air Minum dan Penyehatan Lingkungan di Indonesia berlangsung 13 Juli 2006 di Hotel Bumi Karsa Bidakara, Jakarta. Lokakarya ini dihadiri oleh utusan dari beberapa instansi seperti Bappenas, Departemen Kesehatan, Departemen Dalam Negeri, Departemen Pekerjaan Umum, WASPOLA dan Pokja AMPL. Acara ini diselenggarakan oleh Pokja AMPL melalui Ditjen PMD Departemen Dalam Negeri. Lokakarya bertujuan meningkatkan pengetahuan peserta mengenai peran dan fungsi peraturan perundang-undangan dalam mendorong proses adopsi kebijakan dan hubungan sinergis antara peraturan perundang-undangan yang dimaksud dengan kebijakan nasional pembangunan air minum dan penyehatan lingkungan. Lokakarya ini dibagi menjadi dua sesi. Narasumber pada sesi I yaitu Effendi Mansyur dan Hilwan, MSc (keduanya anggota Badan Pendukung Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum-BPP SPAM). Masing-masing membahas tentang UU No. 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air dan PP No. 16 Tahun 2005 tentang Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum. Sedangkan narasumber pada sesi II adalah Edward Sitorus (Dit. Pemerintahan Desa, Ditjen PMD, Depdagri) dengan materi tentang hubungan antara UU No.32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, PP No.72 Tahun 2005 tentang Desa, dan PP No.73 Tahun 2005 tentang Kelurahan dengan

FOTO:DORMARINGAN

kebijakan nasional pembangunan AMPL berbasis masyarakat. Effendi Mansyur, menjelaskan landasan hukum pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum (air minum, air limbah, dan sampah domestik) yakni pasal 40 UU No.7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air. Pasal tersebut sebelumnya sempat menjadi perdebatan di DPR dan ditolak oleh LSM serta Mahkamah Konstitusi pada waktu itu. Terutama pasal 40 ayat (4) yang berbunyi: "Koperasi, Badan Usaha Swasta dan masyarakat dapat berperan dalam penyelenggaraan pengembangan sistem penyediaan air minum". Pasal ini dianggap mendukung timbulnya privatisasi. PDAM seolaholah mempunyai hak ekslusif dalam hal penyelenggaraan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM). Dalam hal ini harus dilihat bahwa yang diusahakan adalah barang publik yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat. PP No.16 Tahun 2005 tentang Pengembangan Sistem Penyediaan Air

Minum menjelaskan bahwa swasta hanya diberi hak konsesi yang bersifat sementara. Hal tersebut berlaku apabila jangkauan pelayanan berada di luar jangkauan PDAM (Service Area/Coverage Area). Artinya hak konsesi tersebut tidak selamanya dimiliki oleh swasta. Karena itu, kata Effendi, aturan ini semakin mempertegas istilah privatisasi tidak berlaku. Termasuk masalah perizinan untuk melakukan penyelenggaraan pengembangan SPAM, swasta tidak perlu meminta izin terlebih dahulu kepada PDAM. Dalam hal ini yang diperlukan adalah perijinan dari pemerintah dan/atau pemerintah daerah sesuai kewenangannya. Sementara itu, Hilwan, anggota BPP SPAM menyampaikan bahwa tantangan pengembangan sistem penyediaan air minum sampai tahun 2015 adalah manifestasi dari kesepakatan KTT Bumi Johannesburg September 2002 dalam pencapaian target MDG, dan dalam rangka mengurangi separuh dari jumlah penduduk yang belum mendapatkan pelayanan air minum. Menurut perkiraan diperlukan dana investasi kurang lebih Rp.25 trilyun untuk tambahan kapasitas 61.000 l/dt serta sambungan pelayanannya, sementara kemampuan Pemerintah per tahun sekitar Rp.600 milyar. Edward Sitorus, Dit.Pemerintahan Desa, Ditjen PMD, Depdagri dalam lokakarya ini menekankan perlunya dibentuk suatu wadah yaitu Badan Usaha Milik Desa (BumDes) yang disebut dengan Perusahaan Desa (PerDes) yang berbentuk badan hukum apabila sistem penyediaan air minum akan diselenggarakan di tingkat desa. (DEW)

Percik

Agustus 2006

41

S E P U TA R A M P L

Lokakarya Pengelolaan Sampah Perkotaan Berbasis Masyarakat


ampah perkotaan, khusus di kota-kota di Jawa, menjadi permasalahan pelik. Penanganan selama ini dianggap tidak serius. Dampak negatif telah terjadi di Bandung. Kota tersebut mengalami musibah sampah. Seharusnya ini tidak perlu terjadi jika ada komitmen kuat dari pemerintah dan stakeholder untuk menangani masalah ini. Atas kondisi tersebut, Pusat Penelitian Lingkungan Hidup, Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat Institut Pertanian Bogor mengadakan lokakarya. Lokakarya ini terbagi dalam dua sesi. Pertama, membedah permasalahan sampah perkotaan dengan narasumber Kepala Dinas Kebersihan DKI Jakarta, Dirut PD Kebersihan Kota Bandung, dan Direktur CV Sinar Kencana. Kedua, mengkaji strategi dan sistem pengelolaan sampah berbasis masyarakat dengan pembicara Dr. Joni P. Sakti (ahli rekayasa dan manajemen lingkungan), Dr. Suryo Adiwibowo dari IPB, dan Direktur CV Arya Kemuning. Kepala Dinas Kebersihan DKI Jakarta, Rama Boedi, menjelaskan kondisi persampahan di Jakarta. Dari tahun ke tahun sampah cenderung meningkat. Rata-rata timbulan sampah saat ini sekitar 6.000 ton/hari. Komposisi sampah tersebut (2005) yakni 55,37 persen organik dan 44,63 persen anorganik. Hampir semua sampah itu tertangani yakni 97,94 (2005). Ia membantah Jakarta tidak memiliki konsep penanganan sampah. Ia menyebut DKI telah memiliki master plan persampahan yang disusun JICA pada tahun 1987. ''Namun ternyata master plan itu tidak dilaksanakan secara konsisten,'' tandasnya.

Tahun lalu DKI mengkaji kembali master plan itu. Hasilnya, tersusun action plan pengelolaan sampah DKI tahun 2005-2015. Isi action plan itu antara lain mengurangi dan memanfaatkan sampah sebanyak mungkin di sumber sebelum dibuang ke TPA; pemilahan; pembangunan fasilitas pengolah sampah di berbagai lokasi dan zonasi penanganan sampah; aplikasi teknologi tinggi; penanganan sampah B3 secara khusus; membuka peluang kerja sama regional dan swasta; dan perubahan paradigma masyarakat bahwa sampah bisa menjadi sumber daya yang ekonomis. Sedangkan Dirut PD Kebersihan Bandung Awan Gumelar menyatakan saat ini Kota Bandung telah bersih dari sampah. Menurutnya, musibah sampah telah mendorong warga Bandung untuk melakukan 3R (reuse, reduce, dan recycle). Kini telah banyak rumah tangga yang mengomposkan sampahnya. Baik Rama maupun Awan sependapat bahwa persoalan sampah di perkotaan cukup rumit. Banyak pihak yang terkait. Persoalannya pun tidak sekadar masalah teknis tapi lebih banyak non teknis. Di sini diperlukan kebijakan yang jelas dalam masalah ini. Sementara itu pembicara yang lain menawarkan alternatif penanganan persampahan. Dr. Joni P. Sakti memperkenalkan BioCORE TRS. BioCORE (BioConversion of Organic Refuse to Energy) adalah suatu proses dimana sampah organik (SO) diubah menjadi energi dan produk-produk berharga lainnya (biogas, listrik, dan/atau briket SO) dengan menggunakan metode fermentasi anaerobik yang efisien, efektif, dan ekonomis. Sedangkan TRS adalah

total recycling system atau daur ulang menyeluruh. Artinya semua sampah anorganik (sisa dari SO) menjalani proses daur ulang dan pakai lagi semaksimal mungkin. ''Ini adalah sistem waste to energy,'' jelasnya. Dengan metode ini sampah yang masuk ke landfill bisa kurang dari 5 persen dari volume total sampah. Teknik ini akan dipatenkan di Amerika, tapi beberapa kota di negara lain telah mencoba. Model penanganan ini, kata Joni, mampu direkayasa, dibangun, dan dioperasikan oleh putra-putri Indonesia dengan hasil jauh lebih kompetitif, efektif, dan fisibel dibandingan sistem-sistem waste to energy di negara-negara mauju lainnya. Selain itu, cara ini bisa dijadikan bisnis skala besar yang menguntungkan dan tahan banting, ramah lingkungan dengan potensi pendapatan lebih dari 3 milyar dolar dan tingkat pengembalian investasi di atas 24 persen per tahun. Sonson Garsoni dari CV Sinar Kencana menguraikan pengalamannya mendampingi warga melakukan pengomposan rumah tangga dan skala komunitas di Bandung. Ia mengembangkan produk yang bisa mempercepat pembuatan kompos. Produk-produk ada yang untuk skala rumah tangga dan ada yang untuk skala komunitas. Pembicara lainnya Illan R. Suriadi menjelaskan tentang peluang daur ulang sampah plastik. Jenis-jenis plastik yang biasa didaur ulang dibedakan menjadi jenis PP (poly prophilene), HDPP (high density poly prophilene), HIPS (high impact poly styrene), ABS (acrylonitile butadien styrene), PVC (poly vinyl chlorine), PS (poly styrene), akralit dan LDPE (low density poly etilene). MJ

42

Percik

Agustus 2006

S E P U TA R A M P L

Pelatihan Tim Fasilitator Lapangan SANIMAS

ANIMAS tahun ini akan direplikasikan di 100 kota/kabupaten terpilih, dengan dana murni dari dalam negeri, gabungan APBN, APBD provinsi, APBD kab/kota, dan masyarakat. Sebagai persiapan replikasi tersebut, Direktorat PLP, Ditjen. Cipta Karya, Dept. PU mengadakan pelatihan bagi Tim Fasilitator Lapangan (TFL) SANIMAS 4 - 14 Juni 2006 di BP ABPLP Surabaya. Peserta calon TFL ini berasal dari lima propinsi, yaitu: Jambi, Bangka-Belitung, Kalimantan Selatan, Nusa Tenggara Timur, dan Sulawesi Tenggara. Pelatihan selama dua minggu ini

berisikan materi antara lain prinsip dan konsep dasar SANIMAS, metode self selection, teknik rapid participation asessment, komunikasi dasar di masyarakat, dan penyusunan rencana kerja masyarakat. Sebagai bagian dari pemahaman pendekatan SANIMAS kepada para peserta, pelatihan menggunakan metode partisipatif. Pada pertengahan pelatihan, peserta diajak berkunjung ke lokasi pilot SANIMAS yang berhasil yakni Mojokerto dan Blitar. Peserta berinteraksi dengan pengguna dan pengelola SANIMAS sehingga mereka mengetahui kelemahan dan keunggulan program

tersebut. Hasil pelatihan diwujudkan dengan menyusun Rencana Tindak Lanjut dari masing-masing TFL kota/kab yang akan diterapkan di daerah masing-masing. Salah satu yang menjadi permasalahan yang muncul di kalangan peserta TFL yaitu daerah/lokasi kampung telah ditetapkan/ditunjuk oleh walikota/bupati. Dengan demikian, praktek self selection kurang bisa diimplementasikan sebagaimana mestinya. Maka dikhawatirkan lokasi/kampung tersebut kurang memiliki keinginan kuat untuk membangun maupun merawat fasilitas SANIMAS. MJ

Forum Dialog Investasi Penanganan Air Limbah Domestik


irektorat Jenderal Cipta Karya, Departemen PU, 23-25 Agustus 2006, menyelenggarakan Forum Dialog Investasi Penanganan Air Limbah. Acara ini dihadiri oleh instansi yang terkait dengan penanganan air limbah domestik baik dari pusat maupun daerah, dan juga diikuti oleh beberapa lembaga/organisasi non departemen (PDAM, Forkalim, Borda, BEST, PSLHUI dan beberapa perusahaan swasta). Forum dialog ini dibuka oleh Dirjen Cipta Karya-PU, yang dilanjutkan dengan pembahasan Kebijakan Nasional Bidang Air Limbah oleh Direktur Permukiman dan PerumahanBappenas, serta penjelasan mengenai Investasi dan Pelaksanaan Program Bidang Air Limbah oleh Direktur PLPDitjen Cipta Karya-PU. Dialog ini memaparkan kinerja kota/kabupaten dalam penanganan air limbah, yang diwakili oleh PDAM Surakarta dan

PDAM Banjarmasin. Direktur Utama PDAM Surakarta Abimanyu menjelaskan pembangunan sanitasi kota Surakarta telah dilaksanakan pada tahun 1995-2001 senilai Rp. 41,4 milyar melalui Proyek Pembangunan Prasarana Kota Terpadu yang dalam implementasinya bersamaan dengan Kota Semarang. Proyek tersebut yaitu SSUDP (Semarang-Surakarta Urban Development Program). Saat ini Kota Surakarta telah mempunyai sarana pengelolaan air limbah eksisting secara terpusat (off site) dengan prosentase pelayanan sekitar 10,64 persen. Seiring dengan pertambahan jumlah penduduk dan aktivitas kota Surakarta yang menjadi sentra bagi kota sekitarnya, dirasakan perlu dilakukan pengelolaan secara profesional dan berkelanjutan serta dilakukan penambahan cakupan pelayanannya. Tarif jasa pengelolaan air kotor

bervariasi mulai dari Rp. 5.000 hingga Rp. 100 ribu. Ini tergantung kategori pengguna layanan. Sayangnya tingkat pembayarannya masih rendah yakni hanya 30 persen. Sementara itu salah satu direktur PDAM Banjarmasin menjelaskan kondisi pengelolaan air limbah di kota tersebut. Kota tersebut memiliki beberapa IPAL seperti di kawasan Lambung Mangkurat, dan kawasan Pekapuran Raya dengan kapasitas 500 m3/hari. Kini sedang ada upaya untuk membentuk PD PAL dengan penyertaan modal Pemkot senilai Rp. 4,3 milyar. Alfred dari WASPOLA memaparkan tentang Pengelolaan Air Limbah Berbasis Masyarakat. Sedangkan Direktur Perkotaan, Departemen Dalam Negeri menyampaikan alternatif bentuk kelembagaan pengelola air limbah. Acara diakhiri dengan kunjungan ke Waduk Setiabudi yang dikelola PD PAL Jaya. (RAH)

Percik

Agustus 2006

43

S E P U TA R A M P L

Program Peningkatan Kesadaran Masyarakat Mengenai Pengenalan Aspek Air Minum

ORKAMI, bekerja sama dengan TPJ, NZAID, ESPUSAID dan pemerintah tingkat kelurahan di sepanjang Kali Ciliwung menggelar serangkaian acara dalam rangka meningkatkan kesadaran masyarakat (Community Awareness Raising/CAR) di bidang kualitas air di skala rumah tangga dan sekitarnya. Kegiatan ini berlangsung di tiga tempat yakni di Kelurahan Cawang (12/8), Balimester (26/8), dan Kebon Manggis (9/9). Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai aspek-aspek kualitas air minum, meningkatkan perubahan perilaku kritis terhadap kualitas air minum, dan sebagai langkah awal bagi

FOTO:FORKAMI

segenap masyarakat dalam memperlakukan air di sekitarnya secara benar. Pemilihan daerah Kali Ciliwung didasari kondisi lingkungan di kawasan

itu yang jelek padahal wilayah tersebut berada di ibukota Jakarta. Daerah ini menjadi langganan banjir setiap tahun. Acara CAR ini dihadiri puluhan orang warga desa. Mereka dilibatkan dalam diskusi kelompok dengan bantuan fasilitator. Diskusi berlangsung interaktif. Sebelumnya mereka diberikan pencerahan oleh para narasumber tentang kualitas air seperti pengertian pH, apa yang menyebabkan kekeruhan pada air kran, mengapa air berbau, dan sebagainya. Kegiatan ini dimeriahkan pula oleh produsen-produsen consumers goods seperti Unilever dan Nestle. Produsen tersebut membagibagikan hadiah hiburan kepada peserta. MJ

Pelatihan Keterampilan Dasar Fasilitasi dalam rangka Implementasi Kebijakan Pembangunan AMPL BM

una meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan sikap peserta sebagai pelatih/fasilitator, Direktorat Jenderal Pembinaan Masyarakat dan Desa Departemen Dalam Negeri menyelenggarakan pelatihan keterampilan dasar fasilitasi dalam rangka implementasi kebijakan pembangunan AMPL berbasis masyarakat (BM) pada 3-7 Juli di Yogyakarta. Pelatihan ini diikuti oleh utusan dari Ditjen PMD Depdagri, Ditjen Bangda, Direktorat PLP Ditjen Cipta Karya, Sekretariat ISSDP Jakarta, Sekretariat Pokja AMPL Pusat, Pokja AMPL Prop Sulsel, Bappeda Kabupaten Brebes, Bappeda Kabupaten Kebumen, Bappeda Kabupaten Purbalingga, Bappeda

FOTO:DOK/POKJA

Propinsi Banten, Dinas Praswil Prop. Banten, Bappeda Propinsi Jateng, Dinas Kesehatan Provinsi Jateng, Bappeda Kabupaten Tangerang, dan Bappeda Propinsi Kalteng.

Pada pelatihan dasar-dasar fasilitasi ini, peserta dibekali pengetahuan mengenai teknik-teknik berkomunikasi, teknik penyajian kegiatan, media fasilitasi dan etika fasilitator serta bagaimana berkomunikasi dihadapan orang banyak, menyajikan sebuah kegiatan dan media apa saja yang dapat digunakan untuk melakukan sebuah fasilitasi. Secara umum pelatihan dasar-dasar fasilitasi ini berjalan dengan baik. Terdapat beberapa masukan, antara lain lokasi pelatihan terlalu dekat dengan pusat wisata belanja sehingga kurang kondusif, alokasi waktu yang diberikan kurang sehingga beberapa materi diberikan hanya sekilas. MJ

44

Percik

Agustus 2006

S E P U TA R A M P L

Pertemuan Evaluasi dan Perencanaan Kegiatan Pokja AMPL Tahun Anggaran 2007

elompok Kerja Air Minum dan Penyehatan Lingkungan (Pokja AMPL), 18-19 Juli 2006 menggelar pertemuan di Cibogo, Bogor. Kegiatan bertajuk "Pertemuan Evaluasi dan Perencanaan Pokja AMPL TA 2007" ini dihadiri oleh seluruh komponen Pokja AMPL dan proyekproyek yang terkait (CWSHP, WSLIC, ProAir, CLTS, Plan, dan WASPOLA). Pertemuan ini membahas dua agenda utama, yaitu evaluasi kegiatan Pokja AMPL semester I tahun anggaran 2006 dan perencanaan Pokja AMPL TA 2007. Evaluasi hasil kegiatan selama semester I antara lain: WASPOLA Kegiatan WASPOLA dinilai masih lebih banyak pada pemasyarakatan kebijakan belum masuk ke strategi mengimplementasikan kebijakan secara nasional. Diharapkan tahun 2007-2008 seluruh propinsi sudah terfasilitasi. Untuk mengatasi hal tersebut perlu social marketing tool berupa strategi komunikasi yang digunakan untuk mengimplementasikan kebijakan pada saat berhadapan dengan masyarakat, eksekutif dan terutama legislatif. Pada tahun 2007, WASPOLA akan mempersiapkan exit strategy dan diharapkan ketika kegiatan WASPOLA telah usai, Pokja AMPL memiliki cukup strategi dan alat untuk mengimplementasikan kebijakan.

FOTO:MUJIYANTO

diakan dana Rp. 17 milyar untuk pembangunan SPAM di wilayah Kodi, yang akan dikelola secara profesional oleh satu asosiasi. Karena itu perlu perhatian terhadap rambu-rambu yang berlaku seperti dasar hukum penyerahan aset kepada asosiasi, pembentukan asosiasi dan lain-lain.

Kegiatan CLTS di Sukabumi, Jawa Barat.

ProAir Keharusan keterlibatan masyarakat dalam proyek sebesar 4 persen in cash menjadi kendala, hal ini dikarenakan besarnya proyek itu sendiri tidak ada batasan plafon. Beberapa wilayah yang membutuhkan teknologi kompleks menyebabkan nilai proyek membengkak sehingga mempengaruhi besarnya in cash yang harus disediakan oleh masyarakat. Hal ini mengakibatkan kegiatan di beberapa wilayah terpaksa diadendum beberapa kali. Wilayah Kodi perlu diberikan perhatian lebih, dikarenakan dua hal, yaitu : a. Terdapat satu sumber mata air yang digunakan oleh 15 desa, perhatian perlu dititikberatkan pada kerjasama multi desa dalam pengelolaan sumber air tersebut berdasarkan PP 16 tahun 2005 tentang pengembangan SPAM, b. Kesediaan GTZ dan KfW menye-

CLTS Akan dilakukan studi evaluasi yang terstruktur mengenai CLTS sehingga bukti keberhasilan CLTS dapat terekam dengan baik. Karena dikhawatirkan CLTS menjadi bermasalah di masa depan, dikarenakan keinginan replikasi CLTS bukan dari masyarakat, melainkan berasal dari Pemda. Selain itu, CLTS sebaiknya tidak hanya bergantung ada anggaran 69, namun bisa juga menggunakan dana dari APBN. CLTS sebaiknya dijadikan suatu gerakan, seperti gerakan 3M demam berdarah, namun perlu dibuat studi tentang strategi pemasaran yang tepat. Plan Indonesia Kerja sama Plan Indonesia dan Bappenas belum memiliki Standar Operating Procedure (SOP) sehingga SOP itu perlu segera dibuat dan ditandatangani kedua belah pihak. SANIMAS Tahun 2007 sebanyak 87 kabupaten akan melaksanakan SANIMAS.

Percik

Agustus 2006

45

S E P U TA R A M P L

Beberapa isu penting adalah rentang kendali dan penyiapan fasilitator. Sekretariat Pokja Beberapa kendala masih dihadapi Pokja AMPL Pusat seperti koordinasi, pencairan dana dan pelaporan hasil kegiatan. Selain evaluasi, pertemuan itu menyepakati beberapa kegiatan yang akan dilakukan pada tahun anggaran 2007 yakni: WASPOLA 1. Perluasan kebijakan nasional AMPL BM di seluruh wilayah Indonesia. 2. Penguatan kebijakan nasional AMPL BM melalui penguatan kebijakan disektor sanitasi. 3. Melanjutkan pembahasan kebijakan di sektor AMPL berbasis lembaga. ProAir 1. Pembuatan buku saku ProAir 2. Monitoring, Evaluasi dan Advokasi ke daerah 3. Pembuatan petunjuk operasional ProAir 4. Penguatan kelembagaan multidesa pasca konstruksi 5. Pelatihan teknis bagi pengelola ProAir di Kupang 6. Pelatihan pasca konstruksi bagi pengelola ProAir di Kupang 7. Lokakarya penyediaan air minum berbasis masyarakat di daerah ProAir CLTS 1. Orientasi pendekatan CLTS regional timur dan regional barat 2. Penyusunan baseline data fasilitator yang sudah dilatih 3. Penyusunan VCD dan modul sebagai supplemen tambahan untuk peserta pelatihan 4. Studi evaluasi secara menyeluruh mengenai CLTS, juga penyusunan lesson learned CLTS sehingga dapat ditampilkan pada pertemuan nasional CLTS.

FOTO:MUJIYANTO

Diseminasi Kebijakan Nasional AMPL Berbasis Masyarakat.

Plan Indonesia 1. Pengembangan Prosedur Kebijakan dan Pedoman untuk Plan Indonesia sesuai dengan Kebijakan Nasional Pemerintah Indonesia 2. Uji Coba Program Air Minum dan Penyehatan Lingkungan di Wilayah Kerja Plan sesuai dengan Kebijakan Nasional 3. Modul Teknologi Tepat Guna Penyediaan Air Minum 4. Pengembangan Modul Promosi Kesehatan untuk Anak Sekolah 5. Pelatihan Fasilitator Program SANIMAS 6. Pokja AMPL Resource Center 7. Buku: "Pembangunan Air Minum dan Sanitasi Indonesia: Pembelajaran dari Kegagalan dan Keberhasilan" 8. Majalah Percik Junior 9. Sosialisasi MDG di Daerah 10. Baseline Knowledge Attitude & Practice 11. Pengawasan Kualitas Air di Pedesaan 12. Koordinasi Kegiatan Kerjasama Pemerintah Indonesia-Plan Indonesia

nya akan ditanggung oleh LSM 3. Evaluasi O&M, akan ditunjuk konsultan perorangan untuk melakukan evaluasi 4. Pembuatan VCD audio visual 5. Pelatihan teknis pasca konstruksi CWSHP 1. Pelatihan konstruksi pengolahan air gambut 2. Pelatihan teknis laboratorium dan survei kualitas air 3. Pelatihan metodologi promosi 4. Pelatihan O&M 5. Pelatihan yang berkaitan dengan manajemen, antara lain: a. Pengembangan kelembagaan desa b. Pengkajian pengembangan masyarakat mandiri, bekerjasama dengan WASPOLA c. Penguatan penyusunan strategi pembangunan daerah 6. Pertemuan TKK-TKP Sekretariat Pokja AMPL Kegiatan yang berkaitan dengan komunikasi yaitu produksi majalah, leaflet dengan berbagai tema, CD, guidelines book AMPL, buku saku AMPL, pameran, Media Gathering, dan Press Tour. Sedangkan kegiatan penunjang lainnya yaitu Penyajian Informasi Kebijakan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan berbasis Geografis dengan menggunakan MapInfo. (MJ)

SANIMAS 1. Pelatihan fasilitator seperti yang telah dilakukan pada tahun 2006 2. Pelatihan SANIMAS (untuk pengajar dan masyarakat), kemungkinan biaya-

46

Percik

Agustus 2006

S E P U TA R W A S P O L A

Lokakarya Orientasi Komunikasi AMPL di Daerah


G
una menindaklanjuti pertemuan mengenai Penyusunan Strategi Komunikasi AMPL di daerah, sebuah lokakarya bertajuk Orientasi Komunikasi AMPL diadakan di Serang, Banten, 26-27 Juni 2006. Acara ini diikuti oleh instansi terkait AMPL di Pemda Banten. Lokakarya ini dimaksudkan untuk menjaring masukan dari stakeholder dalam penyusunan panduan strategi informasi dan komunikasi yang hasilnya akan menjadi bahan dalam Lokakarya Nasional Strategi Komunikasi AMPL Berbasis Masyarakat yang akan datang. Lokakarya ini diisi dengan materi antara lain pentingnya komunikasi dalam pelaksanaan pembangunan AMPL, bahasa foto, dan apresiasi media komunikasi. Pembuatan strategi komunikasi mencakup lima tahapan yaitu: PenFOTO:ASTRI HANDAYANI

jajakan - Perencanaan (Planning / Preparation) - Produksi Media (Media Production) - Implementasi (Implementation) - Monitoring & Evaluasi (Monitoring & Evaluation). Di sesi bahasa foto yang dipandu fasilitator dari WASPOLA, peserta diajak melihat foto-foto AMPL dan diminta untuk menganalis situasi dan identifikasi dari foto tersebut. Selain itu peserta diminta mengidentifikasi audiens sasaran dan kontribusi apa yang

bisa diberikan untuk mengatasi masalah yang terjadi. Pada apresiasi media komunikasi, peserta diperkenalkan tentang media-media yang dapat dipergunakan dalam mengkomunikasikan pembangunan AMPL kepada audiens. Media-media tersebut antara lain media audio, media visual dan media audio-visual. Masingmasing media tersebut memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Oleh karena itu, pelaksanaan analisis situasi dan identifikasi terhadap audiens yang tepat sangat berpengaruh dalam menentukan media yang sesuai untuk mengkomunikasikan pesan. Di bagian akhir lokakarya, peserta diminta memetakan kondisi AMPL di daerahnya masing-masing dan kemudian membuat rencana kerja untuk jangka pendek dan panjang. Mereka cukup antusias. rie

Lokakarya Strategi Komunikasi AMPL


ada 12 Juli 2006 lalu, Pokja AMPL Pusat menggelar Lokakarya Strategi Komunikasi AMPL di Jakarta. Lokakarya ini merupakan tindak lanjut penyusunan Strategi Komunikasi AMPL-Berbasis Masyarakat yang telah dilakukan sejak bulan Maret 2006. Acara ini diikuti oleh anggota Pokja AMPL Pusat. Lokakarya dibuka oleh Direktur Fasilitasi Penataan Ruang dan Lingkungan Hidup Ditjen. Bina Bangda Depdagri, Prof. Dr. Tjahya Supriatna. Dia menyatakan perlu ada strategi komunikasi yang tepat dalam menyampaikan program-program AMPL kepada masyarakat sasaran agar pesan yang disam-

paikan sampai kepada mereka. Lokakarya ini diisi dengan diskusi dan ceramah dari Bestian Nainggolan (Wakil Kepala Litbang Harian Kompas). Peserta diajak untuk melakukan simulasi penyampaian pesan melalui media komunikasi. Ada tiga media komunikasi yang diperkenalkan yakni audio, media visual dan media audio visual. Ketiga jenis media tersebut memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Media audio biasanya sangat efektif dalam menyampaikan pesan yang berusaha untuk menggugah perasaan atau memotivasi, media visual sangat efektif dalam menyampaikan pesan yang sifatnya memberikan instruksi atau penjelasan, sedang-

kan media audio-visual merupakan gabungan antara keduanya yaitu dapat menggugah pemikiran maupun perasaan. Selain itu Bestian menyampaikan kiatkiat mengembangkan opini publik melalui media massa. Kiat-kiat ini sangat penting untuk diketahui karena Pokja AMPLWASPOLA memang sangat membutuhkan suatu dukungan yang kuat dari pihak media dalam upayanya untuk mensosialisasikan Kebijakan Nasional AMPLBerbasis Masyarakat kepada publik. Menurutnya, hampir semua media massa di Indonesia tidak memiliki agenda. Karenanya Pokja bisa mengambil peran sebagai pihak yang memberikan agenda kepada media massa. rie

Percik

Agustus 2006

47

I N F O BU K U

Panduan Pengelolaan Sampah di Kawasan Bisnis


iving Planet Index (Indeks Kehidupan Planet) mengukur secara menyeluruh kecenderungan populasi dari spesies liar di dunia. Indeks itu menyediakan indikator kondisi alami suatu negara di dunia. Secara umum LPI menurun 40 persen. Penyebabnya yakni penurunan kondisi lingkungan. Salah satu di antaranya disebabkan oleh sampah. Di Eropa, 1,3 milyar ton sampah dihasilkan per tahun, 40 juta ton di antaranya termasuk sampah berbahaya. Diperkirakan tahun 2020, jumlah sampah itu akan meningkat 45 persen. Di Amerika Serikat, sampah mencapai 409 juta ton per tahun. Pantas jika bumi terbebani bahan-bahan buangan tersebut dan terganggu keseimbangannya. Dampak pembuangan sampah yang tidak terkontrol antara lain kontaminasi

Judul: Ecological Solid Waste Management for Central Business District. A Trainer's Manual Penulis: Ayala Foundation Penerbit: Ayala Foundation & Solid Waste Management Program Tahun Terbit: Tebal: viii + 112

air permukaan, meningkatnya risiko penyakit karena penyebaran oleh serangga atau tikus, banjir atau air yang menggenang, peningkatan emisi rumah kaca, polusi perairan dan badan-badan sungai, polusi di darat, dan kerugian ekonomi. Sebuah riset yang dilakukan oleh Mount Sinai School of Medicine di New York bekerja sama dengan Environ-

mental Working Group and Commonweal, menemukan ada 167 bahan kimia pada darah dan urine sembilan sukarelawan yang diteliti. Kebanyakan polutan dan kontaminan itu masuk melalui produk yang digunakan oleh para sukarelawan bukan karena mereka bekerja atau tinggal di sekitar kawasan industri. Oleh karena itu, dunia perlu mengubah kondisinya. Kepedulian terhadap manajemen sampah secara ekologi tak bisa ditawar-tawar lagi. Karenanya buku ini menjadi sangat penting bagi calon trainer yang akan bergerak mengubah masyarakat khususnya di pusatpusat bisnis. Panduan pelatihan ini cukup lengkap. Di dalamnya juga ada pembelajaran dari beberapa pusat bisnis di Filipina. Di Indonesia, kita tinggal memodifikasinya karena persoalannya tak jauh beda. MJ

Pengumpulan dan Pengangkutan Sampah


engumpulan dan pengangkutan sampah menjadi hal yang penting dalam manajemen pengelolaan sampah. Ketidakberesan dalam tahap tersebut akan menimbulkan dampak yang tidak baik bagi lingkungan dan manusia. Hal itu banyak dijumpai di kota-kota besar. Hal-hal penting dalam pengumpulan sampah yakni pemilahan, penyimpanan, dan pengumpulan di tempat pembuangan. Pemilahan dimulai di sumber sampah baik itu di rumah tangga, perkantoran, atau industri. Setelah itu sampah harus disimpan dengan tepat sesuai dengan karakter sampah dan waktu tunggu hingga sampah diangkut ke tempat pembuangan akhir. Sedangkan tempat pembuangan akhir bisa menggunakan sistem individual atau komunal.

Judul: Manual on Improving Solid Waste Collection and Transportation System Penulis : SWAPP Penerbit: SWAPP Tahun Terbit: 2003 Tebal : 101 halaman

Dalam hal pengangkutan, pemilihan alat angkut yang sesuai menjadi kunci. Angkutan harus disesuaikan dengan kapasitas tempat pembuangan akhir, karakteristik sampah, pemeliharaan, dan kemampuan ekonomi. Artinya menyesuaikan dengan desain proses pengelolaan sampah secara keseluruhan. Tak kalah pentingnya dalam manajemen ini yakni mendesain rute angkutan. Sebelum itu perlu ada kajian menge-

nai waktu tempuh dan pergerakan angkutan. Ini untuk mengetahui tingkat efektivitas dan efisiensi sistem pengangkutan dari sisi alat dan sumber daya manusia yang terlibat di dalamnya. Di luar itu, sistem ini membutuhkan kepedulian dan edukasi publik terhadap manajemen persampahan. Sikap ini bisa ditumbuhkan dengan sebuah strategi komunikasi publik. Sistem manajemen juga memerlukan kebijakan yang jelas dan terukur. Tahapan-tahapan manajemen persampahan ini bisa dipelajari dan dilatihkan. Buku ini menampilkan seluruh proses tersebut dengan modul-modulnya. Walhasil, buku yang dibuat atas bantuan USAID ini bisa menjadi salah satu referensi bagi pelatihan manajemen persampahan. MJ

48

Percik

Agustus 2006

INFO CD

Kumpulan Perundangan Persampahan Filipina

ondisi persampahan di Indonesia memasuki masa kritis. Sampah menjadi persoalan yang pelik. Di sisi lain, tidak ada peraturan perundang-undangan menyangkut hal ini. Akibatnya, kasus persampahan tak pernah terselesaikan secara tuntas. Apa yang terjadi di Indonesia mirip apa yang terjadi di negara tetangga Filipina. Sejak beberapa tahun lalu negara ini telah memiliki undangundang tentang persampahan dan peraturan lain yang terkait masalah itu sehingga persoalan persampahan di sana bisa teratasi dengan lebih baik. Kini Indonesia sedang menuju ke sana dengan disusunnya Rancangan Undangundang tentang Persampahan. Tidak ada salahnya Indonesia belajar pada Filipina. CD ini bisa menjadi rujukan. CD yang merupakan kumpulan

peraturan perundang-undangan ini menyajikan secara lengkap peraturan mengenai persampahan dan sanitasi, termasuk lingkungan. Di dalamnya memuat antara lain tentang kebijakan

umum mengenai lingkungan, sanitasi, bahan berbahaya beracun, peraturan daerah, dan sanksi hukum bagi pelanggar. Dalam soal pengawasan terhadap limbah berbahaya beracun, negara tersebut membentuk dewan penasihat yang terdiri atas 10 departemen ditambah dari lembaga swadaya masyarakat. Sanksi hukum yang diterapkan bagi pelanggar pun cukup berat baik berupa penjara dan denda. Filipina juga telah memiliki peraturan khusus tentang tempat pembuangan akhir (TPA) sampah termasuk kriteria fasilitas yang memenuhi syarat bagi kelompok masyarakat. Selain itu dalam peraturan perundangundangan tersebut ada pembagian peran yang jelas stakeholder sampah. Apakah RUU sampah kita sudah seperti ini? MJ

Pelatihan Pengomposan
embuatan kompos terbilang sederhana. Begitu sederhananya sehingga jarang ada referensi yang memadai untuk memelajarinya secara mendalam apalagi dalam bentuk modul-modul yang mudah untuk dipresentasikan. CD ini menguraikan secara panjang lebar mengenai kompos mulai dari filosofi proses tahap demi tahap, jenis-jenis pengomposan, pengetahuan bahan (sampah), desain fasilitas, hingga bagaimana harus ada kebijakan agar pengomposan itu berjalan. CD yang dikeluarkan oleh Solid Waste Management Association of the Philippines (SWAPP) pernah dipresentasikan dalam Konferensi SWAPP akhir tahun 2005 yang mengambil tema 'Teknologi Daur

Ulang Sampah Organik bagi Kalangan Bisnis dan Pengusaha'. Melalui CD ini, kita bisa menimba pengalaman beberapa komunitas di Fi-

lipina yang telah mempraktekkan pengomposan sesuai dengan pilihan teknologi masing-masing. Yang tak kalah pentingnya, CD ini menyediakan modul presentasi khusus bagi anakanak tentang bagaimana mengajari mereka membuat kompos. Model-model penyampaian materi pembuatan kompos ini terasa mudah dan sederhana. Bagi kita di Indonesia, kita tinggal memodifikasi bahasanya saja dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia. Berbekal CD ini, pelatihan pengomposan sangat mudah dilaksanakan apalagi di dalamnya juga ada run down-nya. Anda mau mencobanya? MJ

Percik

Agustus 2006

49

INFO SITUS

Zero Waste
http://www.ecocenter.org/zerowaste. shtml

sahaan besar di dunia telah mengadopsi program ini. Perusahaan itu antara lain Xerox, Toyota, Honda, Hewlett Packard dan Sony Electronics.

Bahaya Insinerator
http://www.zerowasteamerica.org/Inc inerators.htm enanganan sampah menggunakan insinerator memang cepat. Sampah dibakar dan habis. Namun persoalannya tidak berhenti sampai di situ. Dampak yang ditimbulkan proses pembakaran ini sangat berbahaya. Pembakaran sampah sebenarnya hanya mengubah bentuk sampah menjadi emisi udara yang berbahaya dan bahan beracun. Berdasarkan penelitian dari EPA, sebanyak 30 persen sampah yang dibakar berubah menjadi bahan beracun. Dan yang lebih parah lagi, emisi gas berbahaya itu tidak hanya bersifat lokal tapi menyebar ke seluruh dunia.

insinerator, situs ini menyajikan berbagai alternatif penanganan sampah di luar pembakaran. Anda juga bisa menelusuri lebih jauh tentang berbagai penelitian dan artikel tentang sampah dari berbagai lembaga yang kompeten.

Pengomposan
http://www.compostguide.com/

ebas sampah (Zero Waste) adalah sebuah visi pemecahan penanganan sampah ke masa depan yang menjanjikan keberlanjutan ekologi. Selama ini proses pengolahan sampah masih belum memberikan hasil yang optimum. Para produsen masih kurang peduli dengan sampah yang menjadi bahan sampingan produk-produknya. Ini bisa dilihat dari insentif yang dikeluarkan oleh perusahaan terhadap masalah ini sangat kecil. Dengan bebas sampah, paling tidak akan mendorong para produsen untuk bertanggung jawab terhadap produk dan pembungkus produk mereka. Selain itu program ini akan menjadikan produsen untuk lebih sensitif terhadap lingkungan. Tujuan akhir program bebas sampah ini yaitu sebuah alternatif bagi pembuangan sampah secara langsung melalui upaya promosi produksi bersih, mencegah polusi, dan membentuk komunitas yang semua produknya didesain untuk bisa didaur ulang sehingga bisa menghasilkan nilai ekonomi dan aman bagi lingkungan. Konsep program bebas sampah ini tidak hanya terbatas pada barang-barang konsumsi sehari-hari tapi juga barang-barang elektronik. Beberapa peru-

Insinerator diyakini mengandung zat karsinogenik (penyebab penyakit kanker) dan bahan kimia beracun dari hasil pembakaran, termasuk di dalamnya logam berat (arsen, cadmium, merkuri, kromium, dan beryllium), gas asam, PVC, residu herbisida, dan dioksin serta furan. Khusus dioksin, bahan ini telah dinyatakan sebagai karsinogenik bagi manusia oleh WHO (1997). Selain menjelaskan tentang bahaya

ompos adalah satu mulsa alami terbaik dan menyuburkan tanah dengan harga sangat murah. Bahkan Anda tak perlu mengeluarkan uang sepeser pun untuk membuatnya. Mungkin sudah banyak orang tahu tentang itu tapi belum banyak yang mencobanya. Padahal melalui proses ini kita akan meringankan beban lingkungan saat ini. Ingin tahu caranya? Situs ini mencoba memberikan panduan bagaimana membuat kompos. Selain itu ada beberapa penjelasan mengenai jenis-jenis sampah dan kandungan yang ada di dalamnya serta karakteristik sampah tersebut. Termasuk pula apakah sampah itu bisa digunakan atau tidak. Misalnya jeruk, tidak bisa digunakan untuk kompos karena sifatnya dapat menghentikan aktivitas pengomposan. Kita juga bisa belajar banyak tentang problematika pembuatan kompos serta pemecahannya. Ada petunjukpetunjuk praktis bagaimana memperlakukan kompos yang bermasalah, misalnya terlalu kering atau terlalu basah. Sejumlah artikel tentang kompos ada di situs ini. Mau mencoba? MJ

50

Percik

Agustus 2006

AGENDA

TANGGAL
3-7 4-11 6-14 12 13 17 18 - 19 20 21 24-28 26-27 31 1-3 1 1-3 1-4 4 7-10 7 - 11 8 11 14-16 15 16 22-24 23 23-25 24 25 28-31 28

B ULAN
Juli Juli Juli Juli Juli Juli Juli Juli Juli Juli Juli Juli Agustus Agustus Agustus Agustus Agustus Agustus Agustus Agustus Agustus Agustus Agustus Agustus Agustus Agustus Agustus Agustus Agustus Agustus Agustus

K EGIATAN
Lokakarya dan Pelatihan Keterampilan Dasar Fasilitasi, Grage Hotel, Yogyakarta Sanitation Conference, Manila Pelatihan Tenaga Fasilitator Lapangan SANIMAS 2006, Balai Pelatihan AB PLP, Surabaya Lokakarya Strategi Komunikasi Field Trip CLTS, Bogor Lokakarya Kajian Hukum, Hotel Binakarna, Jakarta Rapat Persiapan Sosialisasi PAMSIMAS Rapat Evaluasi Pokja AMPL dan Rencana Anggaran 2007, Hotel Ria Diani, Puncak Pembahasan Draft Data Susenas 2007, Sekretariat Pokja, Jakarta Rapat Draft Kerangka Logis dan Monev Proyek WASPOLA 2, Sekretariat Pokja, Jakarta Lokakarya dan Pelatihan Keterampilan Dasar Fasilitasi, Hotel Mercure, Sanur, Bali Lokakarya Peluncuran Program Pengelolaan Sampah Berbasis Masyarakat, Hotel Novotel, Surabaya Deklarasi Masyarakat Lembak Bebas BAB di Sembarang Tempat dan Pencanangan Pendekatan CLTS, Desa Tanjung Tiga, Sumatera Selatan Rapat Koordinasi Manajemen RI-UNICEF, Hotel Safari Garden, Puncak Rapat Pokja AMPL-Rencana Talkshow, Sekretariat Pokja AMPL, Jakarta Lokakarya Penyusunan Renstra Kab. Pohuwato, Aula Kantor Bupati Pohuwato, Kab. Pohuwato Lokakarya Pemetaan Masalah dan Rencana Strategis AMPL-BM, Gunung Geulis Cottages, Ciawi, Bogor Pertemuan Pokja NTT-ProAir WASPOLA Mission dalam rangka koordinasi Kebijakan, Jawa Tengah WASPOLA Mission dalam rangka koordinasi Kebijakan, NTB Pertemuan Tim Ad Hoc Sampah Bandung dengan MenPPN Rapat Koordinasi Proyek ProAir Propinsi NTT, Ged. Dit.PL Depkes, Jakarta Pembahasan Rencana Air Limbah Batam Lokakarya Strategi Komunikasi, Hotel Acacia, Jakarta Rapat Koordinasi Kegiatan Pendukung Program CLTS Pelatihan Strategi Advokasi, Hotel Sofyan Cikini, Jakarta Lokakarya Optimalisasi Keterlibatan Stakeholder Daerah Dalam Pengelolaan Sumber Daya Air Baku Lintas Wilayah, Pangeran Beach Hotel Padang Lokakarya Perencanaan Sanitasi Perkotaan Pertemuan Perencanaan dan Evaluasi ProAir Forum Dialog Investasi Air Limbah Lokakarya Pelaksanaan Kegiatan ProAir, Sasando International Hotel, Kupang, NTT Rapat Uji Coba Data Susenas Orientasi dan Lokakarya MPA PHAST, Hotel Novotel, Pujut, Lombok Tengah Rapat Uji Coba Data Susenas Pembahasan Lanjutan Kesepakatan Kegiatan Kerjasama Pemerintah Indonesia - Plan Indonesia, Sekretariat Pokja AMPL, Jakarta

29 29-31 30-31

Agustus Agustus Agustus

Presentasi Innovative Decision Making for Sustainable Management of Water In Developing Countries, Sekretariat Pokja, Jakarta Forum Dialog Investasi Bidang Cipta Karya Sub Bidang Persampahan, Hotel Garden Kemang Koordinasi Pelaksanaan Kebijakan Nasional Pembangunan AMPL -BM, Hotel Jayakarta, Bandung

Percik

Agustus 2006

51

P U S TA K A A M P L

BUKU UMUM
Sanitasi Perkotaan:

POTRET, HARAPAN DAN PELUANG "INI BUKAN LAGI URUSAN PRIBADI". TELAAH KUALITAS AIR
Bagi Pengelolaan Sumber Daya Dan Lingkungan Perairan Penerbit: Kanisius, Yogyakarta 2004

Penerbit: Bappenas dan WSP-EAP, 2006

PA N D U A N
MANUAL ON IMPROVING SOLID WASTE COLLECTION AND TRANSPORT SYSTEM

Penerbit: SWAPP (Solid Waste Management Association of The Philippines) 2003

PENGOMPOSAN SAMPAH RUMAH TANGGA (SERI PENDIDIKAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN TERPADU)


Penerbit: Surabaya, Pusdakota Ubaya, 2005

A TRAINERS MANUAL: ECOLOGICAL SOLID WASTE MANAGEMENT FOR CENTRAL DISTRICS


Penerbit: Ayala Foundations, Macaty City

S TAT I S T I K
PROYEKSI PENDUDUK INDONESIA MENURUT UMUR, JENIS KELAMIN, KOTA/PERDESAAN TAHUN 2000 - 2025
Penerbit: Badan Perencanaan Nasional & UNPF, 2005

GOVERNANCE FOR CLEAN WATER: A GUIDE FOR LOCAL GOVERNMENTS ON THE CLEAN WATER ACT.
Penerbit: Philippines, LINAW Project, 2005

ORIENTATION MANUAL ON ECOLOGICAL SOLID WASTE MANAGEMENT


Penerbit: Philippines, Solid Waste Management Association. 2002

PROYEKSI PENDUDUK INDONESIA (INDONESIA POPULATION PROJECTION) 2000-2025

PANDUAN PENILAIAN KINERJA PEMERINTAH DAERAH DI BIDANG PEKERJAAN UMUM


Penerbit: Departemen Pekerjaan Umum, 2005

Penerbit: Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, BPS, UNPF. 2005

PROYEKSI PENDUDUK INDONESIA 2000-2025

Penerbit: Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas)

PELATIHAN KETRAMPILAN DASAR FASILITASI: DALAM RANGKA IMPLEMENTASI KEBIJAKAN NASIONAL PEMBANGUNAN AIR MINUM DAN PENYEHATAN LINGKUNGAN BERBASIS MASYARAKAT: MODUL PELATIHAN
Penerbit: Direktorat Pemberdayaan Masyarakat, 2006

MAJALAH:
INFOSTREAMS

SERASI, edisi Mei 2006 COMMUNITY WATER, June 2006

52

Percik

Agustus 2006

G L O S S A RY

Parshal flume
Bangunan air yang difungsikan sebagai alat ukur debit pada saluran terbuka. Pengukuran dilakukan dengan cara mengukur tinggi dan lebar aliran di posisi alat ukur dan menyubsitusikan hasilnya ke dalam suatu formula debit. Biasanya dibangun pada inlet instalasi.

Partial flow
Aliran (air) secara gravitasi di dalam pipa/saluran tertutup yang mengisi hanya sebagian dari penampang pipa/saluran tertutup tersebut.

Partially separate system (of drainage)


Salah satu sistem/jenis saluran drainase yang merupakan hasil modifikasi dari sistem terpisah dengan sistem tercampur, di mana untuk saluran air kotor dibuat cekukan yang lebih kecil di dasar saluran utama.

Paving/pelapisan
Pelapisan suatu bidang/area menggunakan material yang berbeda jenis dari material bidang/areal yang dilapisi tersebut.

Paved sludge drying beds


Unit pengering lumpur dengan dasar bak yang dilapisi suatu konstruksi (misalnya lantai beton).

Peak loading (Beban puncak)


Besarnya beban (sarana/prasarana) pada kondisi puncak pelayanannya di saat sebagian besar atau seluruh konsumen secara bersamaan menggunakan jasa layanan tersebut.

Peaking factor
Angka/faktor yang menggambarkan perbandingan volume/kapasitas pelayanan pada saat terjadinya puncak pelayanan dibandingkan dengan saat pelayanan rata-rata.

PE pipes (Pipa PE)


Jenis pipa yang dibuat dari Poly-Ethylene-Jenis pipa yang lebih lentur dengan sedikit sambungan karena berupa gulungan pipa menerus dan menggunakan sistem penyambungan las plastik. Kuat terhadap tekanan hidrolis, tahan korosi, lebih licin, sehingga mempunyai daya hambat (friksi) lebih kecil. Banyak digunakan untuk jaringan distribusi air bersih.

Percolation (Perkolasi)
Penembusan/pelulusan air melalui ruang kosong/pori-pori tanah.

Perforated (Berlobang-lobang)
Kondisi suatu bidang komponen/pelat struktur unit bangunan (pengolahan) yang berlobang-lobang.

Permeability (Permeabilitas)
Pengukur fisis untuk menentukan satuan kemampuan contoh (sampel) tanah untuk meluluskan (perkolasi) air.

Phreatic surface
Disebut juga ground water table-Elevasi (bagian puncak) dari lapisan tanah yang termasuk zona jenuh air.

Physical characteristic (Karakter fisis)


Besaran (kualitas) fisis yang mempengaruhi kualitas air bersih/air limbah secara keseluruhan, meliputi endapan, apungan, koloid, kandungan yang terlarut, termasuk bau, suhu, kepadatan, warna, dan kekeruhan.
Dikutip dari Kamus Istilah dan Singkatan Asing Teknik Penyehatan dan Lingkungan Penerbit: Universitas Trisaksti