Anda di halaman 1dari 18

Interpretasi Pemeriksaan

Carik Celup (Dipstick test)


KELAS B FK YARSI
Pemeriksaan Carik Celup (Dipstick Test)

Karl Friedrich von Gaertner (1772-1850) Ahli Kimia Jerman tahun 1797 M menemukan
tes urin pertama
Merupakan alat diagnostik dasar yang digunakan untuk menentukan perubahan
patologis dalam urin pada urinalisis standar.
Carik celup berupa carik plastik tipis kaku yang pada sebelah sisinya dilekati dengan
satu sampai sembilan kertas isap atau bahan penyerap lain (kertas seluloid).
Masing-masing mengandung reagen-reagen spesifik terhadap salah satu zat yang
dicari ditandai perubahan warna tertentu pada bagian yang mengandung reagen
spesifik.
Penilaian pada dipstick test semikuantitatif (perkiraan jumlah).
Lanjutan Pemeriksaan Carik Celup2

Dengan membandingkan intensitas warna pada pada dengan kartu warna, di


dapat hasil yang dilaporkan secara semikuantitatif seperti trace,1+, 2+, 3+, 4+
atau normal / abnormal atau dalam satuan seperti mg/dl.
Cepat, Mudah, dan Spesifik.
Uji kimia yang tersedia pada reagen strip umumnya adalah :
Glukosa
Protein
Bilirubin
Urobilinogen
pH
Berat jenis
Darah
Keton
Nitrit
Leukosit esterase
Foto 1. alat dan nilai pemeriksaan carik celup
Gambar 1.Langkah-langkah Pemeriksaan Carik Celup
GLUKOSA

Prinsip pemeriksaan adalah reaksi enzimalik menggunakan glukosa oksidase,


H2 O2 yang terbentuk mengoksidasi kromogen sehingga terjadi perubahan
warna.
Hasil positif / tinggi palsu terjadi bila urin terkontaminasi bahan oksidatif seperti
kaporit. Hasil negatif / rendah palsu bila urin mengandung vitamin C dengan
kadar > 50 mg/dl atau urin yang tidak segar dan telah terjadi glikolisis.
PROTEIN

Tes ini didasarkan pada perubahan warna dari biru indikator tetrabromophenol.
Protein yang terdeteksi oleh carik celup terutama Albumin. Prinsip pemeriksaan adalah kesalahan
indikator pH karena adanya Protein.
pH urin dibuat konstan oleh buffer.
Protein dalam urin akan melepas muatan ion H yang akan merubah indikator warna menjadi hijau.
BILIRUBIN

Meningkatnya kadar bilirubin dalam urin menunjukkan adanya bilirubin


terkonjugasi yang berlebihan dalam darah. Prinsip pemeriksaan adalah reaksi
diazo. Bilirubin diikat oleh garam diazo dalam suasana asam menghasilkan
warna merah muda.
Sebaiknya menggunakan urin segar, karena bilirubin terkonjugasi mudah
terhidrolisis.
Hasil positif / tinggi palsu bila urin berwarna misalnya minum rifampicin dan
mengandung metabolit chlorpromazine. Hasil negatif / rendah palsu terjadi bila
urin disimpan lama sehingga terjadi oksidasi bilirubin : adanya vitamin C > 25
mg/dl atau nitrat tinggi.
UROBILINOGEN

Pada keadaan normal dalam urin segar terdapat urobilinogen.


Hasil tinggi terdapat pada gangguan hati, penyakit hemolitik dan beberapa
keadaan lain.
Prinsip pemeriksaan adalah reaksi aldehid (Erlich) dengan hasil membentuk
warna merah muda.
Hasil positif palsu terjadi bila ada bahan lain yang dapat bereaksi dengan
reagen Erlich (porfobilinogen) dan zat yang memberi warna merah
(sulfonamida).
Hasil negatif palsu terjadi bila urin disimpan lama sehingga terjadi oksidasi
urobilinogen menjadi urobilin atau adanyan formalin (pengawet)
pH

Tes ini didasarkan pada indikator ganda (metil merah dan bromothymol biru)
Memberikan berbagai warna mencakup seluruh rentang pH urin. Warna orange
yang berkisar dari kehijauan-kuning dan hijau ke biru.
Tes ini menunjukkan nilai pH dalam kisaran 5 sampai 9
BERAT JENIS

Tes ini didasarkan pada perubahan pKa polielektrolit pretreated tertentu yang
berkaitan dengan konsentrasi ionik.
Indikator yang terdapat pada carik celup adalah bromthymol blue dan methyl
vinyl ether maleic acid sodium salt.
Berat jenis meningkat dapat diperoleh dengan adanya jumlah protein sedang
sampai tinggi (100-700mg/dl), sedangkan berat jenis rendah terjadi bila urine
alkali.
Hasil tinggi palsu terjadi pada proteinuria > 100 mg/dl, ketonuria dan adanya
asam laktat dalam urin. Hasil rendah palsu terjadi pada urin alkali (pH > 6,5)
dan adanya glukosa atau ureum dengan kadar > 1 g/dl.
DARAH

Pengukuran didasarkan pada sifat pseudoperoksidase heme.


Peroksida yang dihasilkan oleh adanya hemoglobin atau mioglobin bereaksi
dengan kromogen tetramethyl benzidine dan mengakibatkan perubahan warna
dari kuning menjadi hijau.
Hasil positif palsu terjadi bila urin terkontaminasi darah haid, adanya bakteri
yang menghasilkan peroksidase dan kontaminasi hipoklorit.
Hasil negatif / rendah palsu terjadi bila terdapat vitamin C dengan kadar > 5
mg/dl, urin dengan berta jenis tinggi dan adanya obat ACE inhibitor
KETON

Keton dalam urin terdiri atas beta hidroksi butirat (78%), asam aseto asetat
(20%) dan acetone (2%).
Carik celup tidak dapat mendeteksi beta hidroksi butirat. Prinsip pemeriksaan
berdasarkan reaksi Rothera, yang menghasilkan warna ungu.
Hasil positif palsu bila urin mengandung obat kaptopril atau pigmen berwarna
gelap.
Hasil negatif palsu terjadi bila urin disimpan lama sehingga acetone menguap
atau terjadi perombakan oleh bakteri.
NITRIT

Tes ini didasarkan pada reaksi asam p-arsanilic dan nitrit dalam urine untuk
membentuk suatu senyawa diazonium. Senyawa diazonium pada pasangan
gilirannya dengan N-(l-naftil) etilendiamina dalam media asam dan warna yang
dihasilkan adalah merah muda.
Setiap tingkat warna merah muda dianggap positif, bagaimanapun, bintik-bintik
merah muda atau merah jambu tepi tidak harus ditafsirkan sebagai hasil positif.
Pengembangan warna tidak sebanding dengan jumlah bakteri hadir. Urine
tengah dari urine pagi sangat dianjurkan untuk tes ini.
Sensitivitas dari uji nitrit menurun dengan berat jenis yang tinggi atau
konsentrasi asam askorbat 25 mg / dl atau lebih.
Perbandingan pada pereaksi terhadap latar belakang putih dapat membantu
dalam deteksi tingkat rendah nitrit.
LEUKOSIT ESTERASE
Tes leukosit mendeteksi kehadiran sel-sel darah putih atau sel parsial dalam urin.
Leukosit diukur dengan reaksi dari esterases dalam leukosit yang mengkatalisis
reaksi dari ester asam amino untuk melepaskan pirol pirol 3-hidroksi-5-fenol.
Hasil tinggi / positif palsu terjadi bila urin terkontaminasi dengan secret vagina yang
mengandung lekosit, Trichomonas dan bakteri, urin yang berwarna merah karena
obat atau makanan.
Hasil rendah / negatif terjadi dengan adanya glukosa > 3g /dl, proteinuria > 500 mg /
dl , kontaminasi sabun / detergen dan obat obatan (gentamycin, cephalosporin ).
DAFTAR PUSTAKA

Brunzel NA. Fundamentals of urine and body fluid analysis. 2nd ed.
Philadelphia : Saunders; 2004. p: 101-21.
Kusnandar S. Pitfalls and Pearls in urinalysis. Pendidikan Berkesinambungan
Patologi klinik. Jakarta, FKUI, 2008. p: 7-14.
Indrasari ND. Pemeriksaan kimia urin. Pendidikan berkesinambungan patologi
Klinik. Jakarta, FKUI, 2010, p: 1-17.
Subroto ganda.1989.Petunjuk Laboratorium Klinik.Jakarta.Jakarta: PT Dian
Wirahadi Kusumah.1997.Biokimia.Bandung:ITB Press