Anda di halaman 1dari 78

CLEANER PRODUCTION

dalam Pencegahan Limbah


(Gas dan Debu)

Kelompok :
1. Atiqa Rahmawati (2316201010)
2. Muhammad Al Muttaqii (2316301201)

PENGOLAHAN LIMBAH INDUSTRI LANJUT


Progam Pasca Sarjana Jurusan Teknik Kimia FTI-ITS
Pendahuluan
Menghasilkan
Kegiatan
Produk dan Jasa
Manusia

Industri
Rumah tangga
Pasar Menghasilka
n Limbah
Pertanian
Perkebunan
Perikanan
dll Dapat Merusak
Lingkungan
Konsep Strategi Pengelolaan
Lingkungan

Pendekatan Kendala :
kapasitas daya perlu upaya perbaikan kondisi lingkungan
dukung yang rusak & tercemar biaya tinggi

Pengolahan limbah Kendala :


yang terbentuk - limbah tetap terbentuk
(End of Pipe - hanya mengubah bentuk limbah
Treatment) - meningkatkan biaya produksi
- upaya perbaikan kerusakan tinggi
- umumnya cenderung melanggar
peraturan

Perlu
dicari
alternatif
lain
Konsep Strategi Pengelolaan
Lingkungan

Pendekatan kapasitas daya dukung

Banyak
Pengolahan limbah yang terbentuk kendala
(EOP/End Of Pipe Treatment)

PRODUKSI BERSIH
(CLEANER
PRODUCTION)
Definisi dan Ruang Lingkup Produksi
Bersih
PRODUKSI
PRODUKSIBERSIH
BERSIH

Strategi
Strategipengelolaan
pengelolaanlingkungan
lingkunganyang
yang
bersifat terpadu dan preventif
bersifat terpadu dan preventif

Diterapkan
Diterapkandalam
dalamproduksi
produksi
dan siklus pelayanan
dan siklus pelayanan

Proses:
Konservasi bahan baku,
Produk:
Produk: Pelayanan:
Reduksi limbah energi dan air Pelayanan:
Reduksi limbah Pengurangan jumlah Efisiensi
Efisiensi
melalui
melaluirancangan
rancangan manajemen
yang atau tingkat toksisitas manajemen
yang lebihbaik
lebih baik emisi pada sumber lingkungan
lingkungandalam
dalam
Penggunaan
Penggunaan Evalusi dari pilihan rancangan dan
rancangan dan
limbah
limbahuntuk
untuk pengiriman
produksi teknologi pengiriman
produksibaru
baru Reduksi biaya dan
teknologi

Dampak:
Dampak:
Perbaikan efisiensi
Perbaikan efisiensi
Performansi lingkungan yang lebih baik
Performansi lingkungan yang lebih baik
Peningkatan keuntungan kompetitif
Peningkatan keuntungan kompetitif
Prinsip-prinsip Pokok Produksi
Bersih

Mengurangi/meminimumk
an : bahan baku, air, Menghindari : Bahan baku
energi & terbentuknya beracun & berbahaya
limbah pada sumbernya

Menerapkan pola
manajemen di kalangan
Memahami : analisis daur industri & pemerintah
hidup produk yang telah
mempertimbangkan aspek
lingkungan

Mengaplikasikan teknologi Mengarah pada


ramah lingkungan, pengaturan sendiri (self
manajemen & prosedur regulation) & peraturan
standar sesuai yang sifatnya musyawarah
persyaratan yang telah mufakat (negotiated
ditetapkan regulatory approach)
Pelaksanaan Produksi Bersih
dalam Industri

Pilihan
Teknik produksi
penerapan
bersih
produksi bersih
Good house keeping
Pengurangan limbah
pada sumber Input Substitution
pencemar Better Process Control
Equipment
Modification
Technology Change
Teknik daur ulang On site
Recovery/reuse
Product Modification
TEKNIK-TEKNIK PRODUKSI BERSIH
TEKNIK
TEKNIKPRODUKSI
PRODUKSIBERSIH
BERSIH

PENGURANGAN DAUR
PENGURANGAN SUMBER
SUMBERPENCEMAR
PENCEMAR DAUR
ULANG
ULANG

Penggunaan Pengendalian
Penggunaan Kembali Penggunaan
Kembali Pengendalian
Sumber
Pengambilan
Pengambilan Kembali
Kembali Penggunaan Kembali
Kembali
Pengambilan
Pengambilan ke
ke Sumber Pencemar
Pencemar Diproses
Diproses untuk:
untuk:
Pengambilan
Pengambilan keke
proses asal
proses asal
Mendapatkan proses asal
proses asal
Mendapatkan
Penggantian
Penggantian bahan
bahan kembali
kembali bahan
bahan
Penggantian
Penggantian
baku untuk proses bahan
baku untuk proses asal
asal bahan baku
baku untuk
untuk
lain
lain
Memperoleh proses lain
proses lain
Memperoleh
produk
produk samping
samping

Mengubah
Mengubah Material
Material Input
Input Mengubah
Mengubah Teknologi
Teknologi Tata
Tata Cara
Cara Operasi
Operasi

Pemurnian
Pemurnian material Pengubahan
Pengubahan proses

Tindakan-tindakan
material proses
Tindakan-tindakan
Penggantian material
Penggantian Pengubahan
Pengubahan tata
tata letak,
prosedural
material letak, prosedural
produksi peralatan atau perpipaan
Pencegahan
Pencegahan kehilangan
produksi peralatan atau perpipaan
kehilangan
Pemisahan
Pemisahan aliran
aliran limbah

limbah
Peningkatan

Peningkatan
penanganan
penanganan material
material
Penjadwalan produksi
Penjadwalan produksi
Pilihan Penerapan Produksi
Bersih
Good House Keeping
GHK (Tata kelola yang baik) merupakan serangkaian kegiatan yang
dilakukan oleh perusahaan atas kemauannya sendiri dalam
memberdayakan sumber daya yang dimiliki untuk mengatur
penggunaan bahan baku, air dan energi secara optimal dan
bertujuan untuk meningkatkan produktifitas kerja dan upaya
pencegahan pencemaran lingkungan (KLH, 2003). Tiga manfaat
Good Housekeeping: Penghematan biaya, kinerja lingkungan hidup
lebih baik, penyempurnaan organisasional.
Lakukan tindalan managerial dan operational untuk mencegah :
Kebocoran
Tumpahan
Penyimpangan terhadap instruksi kerja dan SOP
Perubahan Material Input
Pengelolaan bahan berbahaya dan beracun, merupakan
upaya penanganan bahan yang dapat membahayakan
lingkungan hidup, kesehatan, kelangsungan hidup manusia
serta makhluk hidup lainnya.
Mengganti material input dengan:
Bahan yang tidak beracun atau tidak mengandung B3
Bahan baku terbarukan
Bahan baku yang berkualitas
Bahan baku yang tahan lama
Pilihan Penerapan Produksi
Bersih
Better Process Control
Perbaikan prosedur operasi, merupakan upaya
untuk mengembangkan dan memodifikasi prosedur
operasional standard dengan langkah yang lebih
praktis dan efisien
Lakukan Evaluasi :
SOP
Instruksi kerja
Pencatatan data data agar proses lebih efisien dan efektif
serta menghasilkan limbah yang minimal

Equipment Modification
Modifikasi proses dan peralatan, merupakan
upaya memodifikasi proses maupun peralatan
produksi sehingga dapat meningkatkan efisiensi
dan menurunkan timbulan limbah
Lakukan modifikasi dan penggantian peralatan agar :
Efisiensi proses maksimal
Limbah yang dihasilkan minimal
Pilihan Penerapan Produksi
Bersih
Technology Change
merupakan upaya mengganti teknologi produksi untuk
meningkatkan efisiensi dan menurunkan timbulan limbah,
mengubah urutan proses produksi menjadi lebih efisien,
serta memperbaiki tata letak 15 peralatan produksi (lay
out) untuk lebih meningkatkan produktifitas dan
penggunaan bahan, air dan energi yang lebih efisien.
Penggantian :
Teknologi proses
Tahapan proses
Proses Produksi
Hal ini dilakukan untuk meminimalisasi limbah selama proses produksi
On-site Recovery/reuse
mengambil bahan-bahan yang masih
mempunyai nilai ekonomi tinggi dari suatu
limbah, kemudian dikembalikan ke dalam
proses produksi dengan atau tanpa perlakuan
fisika, kimia dan biologi.

Reuse dan recovery bahan yang masih bisa digunakan


Pilihan Penerapan Produksi
Bersih

Product Modification
Memformulasikan kembali
rancangan produk untuk
mengurangi dampak negatif
terhadap lingkungan setelah
produk tersebut dipakai
Menghilangkan kemasan
yang berlebihan dan tidak
perlu
Meningkatkan masa paka
produk
Mendesain produk sehingga
produk dapat didaur ulang
Aplikasi Produksi Bersih
dalam Industri

Proses
Peningkatan efisiensi & efektivitas dalam
pemakaian bahan baku, energi & sumber daya
lainnya
Produksi Mengganti bahan baku berbahaya & beracun
mengurangi toksisitas limbah & emisi yang
dikeluarkan

Pengurangan dampak keseluruhan daur hidup


produk mulai dari bahan baku sampai
Produk pembuangan akhir setelah produk tidak
digunakan

Menitikberatkan pada upaya 3R (reduce,


reuse, recycle) mulai dari penggunaan bahan
Jasa/service baku sampai pembuangan akhir
Keuntungan Industri
Menerapkan Produksi Bersih

1. Mengurangi biaya produksi


Setiap tindakan yang ditujukan untuk mengurangi konsumsi
bahan baku dan energi serta untuk mencegah/mengurangi
terbentuknya limbah pada akhirnya dapat meningkatkan
produktifitas dan keuntungan finansial bagi pengusaha sehingga
biaya produksi dapat berkurang. Dalam konteks ini, limbah
dianggap sebagai produk yang memiliki nilai ekonomi negatif.

2. Mengurangi limbah yang dihasilkan


Mengurangi atau meminimumkan penggunaan bahan baku, air dan
energi serta menghindari pemakaian bahan baku beracun dan
berbahaya, serta ereduksi terbentuknya limbah pada sumbernya
sehingga mencegah atau mengurangi timbulnya masalah pencemaran
dan kerusakan lingkungan serta resikonya terhadap manusia
3. Meningkatkan produktivitas
Peningkatan produktivitas melalui pemanfaatan yang lebih baik dari
energi, bahan, air, pelarut, dll dipandang sebagai alat yang efektif
dalam mencegah polusi pada sumbernya. Pendekatan modern ini
masih bertujuan untuk efisiensi penggunaan sumber daya dan
peningkatan output, akan tetapi berfokus pada bekerja lebih cerdas
daripada lebih keras.

4. Mengurangi konsumsi energi


Efisiensi energi melihat berbagai cara energi yang digunakan di
perusahaan untuk mengidentifikasi cara untuk menggunakan energi
lebih sedikit untuk mencapai hasil yang sama atau lebih baik. Cara-
cara di mana energi yang digunakan sering disebut "penggunaan
energi akhir"

5. Meminimisasi masalah pembuangan limbah (termasuk


penanganan limbah)
Menghindari produksi limbah dan memastikan penggunaan
sumberdaya secara efisien sehingga masalah limbah bisa ditangani.

6. Memperbaiki nilai produk samping


Limbah output dari produksi seringkali menjadi bahan masukan yang
berguna untuk industri lain. Dengan mengurangi jumlah input
Kendala Penerapan
Produksi Bersih pada industri

Kendala Ekonomi
Kendala Teknologi
Kendala Sumber Daya
Manusia
Kendala Penerapan Produksi
Bersih pada industri

Kendala Ekonomi
Timbul bila kalangan usaha merasa
tidak mendapatkan keuntungan dalam
penerapan produksi bersih. Contoh
hambatan
Biaya tambahan peralatan
Besarnya modal/investasi dibanding
kontrol pencemaran secara konvensional
sekaligus penerapan produksi bersih
Kendala Penerapan Produksi
Bersih pada industri

Kendala Teknologi
Kurang penyebaran informasi tentang konsep
produksi bersih
Penerapan sistem baru ada kemungkinan tidak
sesuai dengan yang diharapkan atau malah
menyebabkan gangguan
Tidak memungkinkan adanya penambahan
peralatan akibat terbatasnya ruang
kerja/produksi
Kendala Penerapan Produksi
Bersih pada industri

Kendala Sumber Daya Manusia


Kurang dukungan dari pihak manajemen
puncak
Keengganan untuk berubah baik individu /
organisasi
Lemahnya komunikasi intern tentang
proses produksi yang baik
Pelaksanaan manajemen perusahaan
yang kurang feksibel
Birokrasi yang sulit
Kurangnya dokumentasi dan penyebaran
informasi
Peran Pemerintah Meningkatkan
Cleaner Production

Menerapkan Peraturan
Perundang undangan
(Peraturan menteri negara lingkungan hidup nomor 31
tahun 2009 tentang pembinaan dan pengawasan penerapan
sistem manajemen lingkungan, ekolabel, produksi bersih,
dan teknologi berwawasan lingkungan di daerah)
Hirarki Prioritas Manajemen Limbah
(UNEP dan ISWA, 2000)

Eliminisasi Limbah

Minimisasi Limbah

Recycle

Reuse dan Recovery

Pengolahan

Pembuangan Residu
Minimisasi Limbah

DEFINISI
UNEP & ISWA (2002) : suatu gambaran mengenai
pengurangan limbah yang dibuang ke tempat
pembuangan akhir, dan termasuk pula
pengurangan bahan baku serta daur ulang limbah

OECD (2000) : minimisasi limbah merupakan suatu


kegiatan pencegahan dan pengurangan pada bahan
untuk meningkatkan kualitas dari limbah akhir yang
dihasilkan dari berbagai proses yang berlangsung
sampai dengan tempat pembuangan akhir.
Recycle (daur ulang) adalah upaya mendaur ulang limbah untuk
memanfaatkan limbah dengan memrosesnya kembali ke proses
semula melalui perlakuan fisika, kimia dan biologi.

Reuse (pakai ulang/penggunaan kembali) adalah upaya yang


memungkinkan suatu limbah dapat digunakan kembali tanpa
perlakuan fisika, kimia atau biologi

Recovery/ Reclaim (pungut ulang, ambil ulang) adalah upaya


mengambil bahan-bahan yang masih mempunyai nilai ekonomi
tinggi dari suatu limbah, kemudian dikembalikan ke dalam proses
produksi dengan atau tanpa perlakuan fisika, kimia dan biologi.

Pengolahan limbah yang terbentuk (waste treatment). Terdiri dari


usaha pengolahan limbah secara fisika, biologi maupun kimiawi baik
on site maupun off site yang pada dasarnya bertujuan untuk
mengurangi toksisitas dan volume limbah yang dihasilkan.

Pembuangan limbah (ultimate disposal). Limbah yang tidak dapat


didaur ulang maupun tidak dapat diolah lagi pada akhirnya dibuang
secara aman (berdasarkan standar baku mutu limbah) ke
lingkungan. Metode yang dapat digunakan meliputi landfilling,
Cara Minimisasi
Limbah

Mengklasifikasikan limbah berdasarkan kelompok


sehingga dapat diolah dengan cara yang sama

Pemisahan limbah, dimana limbah yang tidak


berbahaya dapat dibuang dengan cara yang aman

Penyimpanan yang aman

Pengolahan untuk mengurangi sifat patogen yang


terkandung pada limbah
Penerapan Minimisasi
Limbah

Ada tiga tahapan utama dalam


penerapan minimisasi limbah
yaitu :
1. Perencanaan dan struktur organisasi
2. Mengidentifikasi limbah
3. Penerapan, pengawasan dan pengontrolan
Perencanaan dan Struktur
Organisasi

Hal hal yang dilakukan :


1. Membentuk kesepakatan manajemen
2. Membuat program perencanaan
3. Menentukan tujuan dan prioritas
4. Membentuk tim audit
Mengidentifikasi
Limbah
Hal-hal yang dilakukan
1. Mengidentifikasi proses produksi
2. Menetapkan input proses
3. Menetapkan output proses
4. Membuat neraca massa
5. Mengidentifikasi peluang
6. Membuat studi kelayakan
Penerapan, Pengawasan
dan Pengontrolan

Hal hal yang dilakukan


1. Menyiapkan rencana pelaksanaan
2. Mengidentifikasi sumber
3. Melaksanakan pengukuran
4. Mengevaluasi kinerja yang telah
dilakukan
Faktor-faktor yang Mempengaruhi
Minimisasi Limbah

Peraturan dan kebijakan pemerintah


Kelayakan teknologi yang dimiliki
Kelangsungan hidup
Dukungan serta tanggung jawab dari
manajemen
Minimisasi Limbah
Hal-hal yang mendorong untuk dilakukan minimisasi
limbah karena minimisasi limbah dapat :
Mengurangi biaya yang dikeluarkan untuk bahan baku,
energi, air, proses penyimpanan dan penanganan,
pembuangan limbah, kesehatan dan keamanan
Mendorong setiap orang untuk menjalankan peraturan
dengan sukarela
Meningkatkan efisiensi
Meningkatkan bentuk kerjasama antar pihak yang terkait
Aplikasi Minimisasi
Limbah

Dimulai dari Perbaikan Sistem Pengontrolan


Persediaan
Menghindari kelebihan pembelian
Pemeriksaan produk sebelum penerimaan
Pemeriksaan persediaan secara berkala
Pemberian identitas produk atau label
Pemberian identitas masa pakai produk
(expired date)
Penggunaan teknologi informasi untuk
pengontrolan persediaan
Pengaplikasian Minimisasi Limbah

Peluang dalam mengaplikasikan minimisasi limbah


pada semua operasi dapat dilakukan dengan :
Menggunakan bahan baku dengan kadar kemurnian
tinggi
Menggunakan bahan baku yang tidak mengandung
racun
Menggunakan bahan baku yang tidak korosif
Merubah proses dari sistem curah menjadi sinambung
Memperbaiki pemeriksaan peralatan dan biaya
pemeliharaan
Meningkatkan pelatihan operator
Meningkatkan pengawasan
Meningkatkan goodhousekeeping
Strategi pengelolaan limbah
buangan Gas dan Debu
Metode Pemurnian Gas
Metode fase gas, yaitu untuk menyamarkan bau busuk yang tidak
disukai dengan memberikan bau enak. Metode ini sebenarnya bukan
untuk menghilangkan gas/bau.

Metode fase cair, yaitu penyerapan gas yang memiliki kelarutan


yang tinggi dalam zat cair. Gas buangan dialirkan lalu dikontakkan
dengan senyawa penyerap gas (adsorban) yang pada umumnya
menggunakan air. Selanjutnya, adsoban dimurnikan kembali jika
memungkinkan, dimanfaatkan untuk penggunaan lainnya atau
dibuang.

Metode fase padat, yaitu penyerapan gas oleh senyawa penyerap


(adsorban) dalam bentuk padat. Pada proses ini, gas dialirkan dan
dikontakkan dengan adsorban padat. Molekul gas akan terserap dan
terkondensasi di permukaan adsorban secara fisik maupun kimia.
Salah satu adsorban yang banyak digunakan adalah arang aktif.

Metode pembakaran, yaitu dengan cara membakar langsung gas


Pengolahan Limbah Gas
Metode pengolahan limbah gas secara biologi dapat dibedakan
menjadi 3, yaitu bioscrubber, trickling filters dan biofilter:

bioscrubber
Proses penghilangan gas dengan bioscrubber dibagi menjadi dua
bagian penting :
Penyerapan gas yang masuk tangki penyemprotan
1. Senyawa gas yang mudah larut dalam air dialirkan dan masuk ke
dalam tangki lalu disemprot dengan cairan. Pada kondisi setimbang
laju penghilangan komponen gas yang mudah diuraikan secara
biologis (biodegradable) sebanding dengan laju pindah massa.
Konsentrasi gas dalam fase cair sebaiknya sekecil mungkin karena
laju kelarutan gas sebanding dengan tekanan dan jumlah gas yang
larut
2. Regenerasi lumpur aktif dan sirkulasinya
Gas yang terlarut akan dioksidasi dan diuraikan oleh mikroba dalam
lumpur aktif. Konsentrasi Lumpur aktif biasanya 5-8 g/L untuk
mempertahankan jumlah mikroba dan sirkulasinya. Bila terlalu
kental, lumpur aktif harus dikelurkan atau diencerkan dengan air.
trickling filters
Suatu trickling filter terdiri dari kolom yang berisi bahan pengepak
(ukuran 5-10 cm) yang tersusun cukup rapat dan memiliki luas
permukaan kontak yang kecil. Air yang mengandung senyawa penting
yang dibutuhkan oleh mikroba disemprotkan dari atas kolom pengepakan
dan akan menyebar melalui permukaan butiran bahan pengepak. Cairan
mengalir ke bawah melalui lapisan tipis yang menutupi butiran bahan
pengepak dan membasahi lapisan tersebut. Limbah gas dialirkan dari
lubang bawah menuju kolom pengepakan dan bertemu dengan air
sehingga meningkat kelarutannya. Selanjutnya komponen limbah gas
yang terlarut dalam air akan masuk ke dalam biofilm untuk dioksidasi
dan diuraikan oleh mikroba.
biofilter
Suatu biofilter mengandung bahan penyaring berupa kompos, peat
(gambut), kulit kayu, tanah, arang aktif dsb dimana mikroba terjerat /
terimobilisasi di dalamnya dengan membentuk lapisan tipis
(biofilm/biolayer). Gas-gas dilewatkan melalui biofilter, komponen gas
target akan larut dan terserap ke dalam lapisan biolayer, selanjutnya
dioksidasi dan diuraikan oleh mikroba. Pada umumnya, bahan penyaring
alami mengandung sejumlah nutrisi yang dibutuhkan untuk
pertumbuhan mikroba sehingga penambahan nutrisi dan mineral tidak
diperlukan. Namun demikian, pemakaian biofilter dalam jangka waktu
lebih dari 3 bulan memerlukan penambahan sejumlah nutrisi untuk
Penanggulangan Pencemaran Udara

sumber pencemar utama : industri dan transportasi


1. Upaya pencegahan :
a. Mengurangi penggunaan kendaraan bermotor.
b. Mengganti sumber energi yang ramah lingkungan.
c. Gunakan kendaraan hemat energi.
d. Kurangi konsumsi produk dari pabrik yg menimbulkan
pencemaran dan boros energi.
2. Upaya penanggulangan : pabrik harus memasang alat bantu
penurun pencemaran, antara lain :
a. Filter udara : menangkap debu & partikel pencemar
b. Pengendap siklon : pengendap debu gas buang
c. Filter basah : semprotan air mengendapkan debu
d. Pengendap gravitasi : mengendapkan partikel besar
e. Pengendap elektrostatis : membersihkan udara yang
sangat kotor oleh aerosol dan uap air.
Peralatan Pengendalian Pencemaran Udara
(mengurangi emisi dari partikulat dan
gas)
Mekanisme pengendalian :
- Partikulat : secara fisik (penyaringan, perbedaan
medan magnet, penangkapan, dll)
- Gas : secara kimiawi (pelarutan, penyerapan, dll)

Faktor pertimbangan pemilihan


Jenis proses produksi yang akan dikendalikan
Beban dan konsentrasi outlet yang diperlukan
Kelembaban dan temperatur inlet
Jenis partikulat yang akan dikumpulkan
Konsentrasi debu pada inlet
Volume inlet
Jenis Peralatan PPU

ELECTROSTATIC PRECIPITATOR (EP)

SEPARATOR (SIKLON)

WET SCRUBBER

FABRIC FILTER (BAGHOUSES)


Electrostatic Precipitator (EP)
Bekerja berdasarkan medan listrik yang terjadi
sebagai akibat dari perbedaan muatan listrik.
Keuntungan :
Memiliki penurunan tekanan yang
konstan dan kinerja bervariasi.
Kerugian :
Menghasilkan efisiensi yang sangat
Biaya kapital tinggi.
tinggi, walaupun untuk partikulat Tdk dpt menangani
yang sangat kecil.
polusi gas.
Tahan terhadap kehilangan tekanan.
Perlu tempat yang
Dapat beradaptasi untuk suatu
luas dalam instalasi.
kondisi yang ekstrim seperti
temperatur yang berfluktuasi secara
ekstrim.
Perawatan relatif mudah.
Electrostatic
Aplikasi EP

Boiler batu bara


Peleburan logam
Industri semen
Boiler biomas (ampas tebu,
cangkang sawit, dsb)
Incenerator
Boiler bahan bakar residu
Siklon
Bekerja berdasarkan gaya centrifugal dimana udara
yang masuk secara tangensial
Keuntungan :
harganya cukup murah,
tidak banyak bagian-bagian yang berputar, dan
dapat digunakan dalam segala kondisi suhu operasi.
Kerugian :
Hanya untuk ukuran partikel tertentu (relatip besar);
Baku mutu konsentrasi partikulat yang telah
ditetapkan oleh Pemerintah tidak dapat dipenuhi hanya
dgn menggunakan siklon karena effisiensi 65 % untuk
diameter partikel 40 micron Cyclone Spray
Chamber
Siklon
Cyclone spray
chamber
Scrubber Partikulat

Scrubber dianggap sebagai alat penangkap


partikulat dengan sistim basah.
Alat ini mengumpulkan partikulat melalui kontak
langsung dengan cairan (air).
Banyak sekali desain scrubber yang ada di
pasaran, jenisnya kebanyakan diklasifikasikan
berdasarkan cairan yang digunakan untuk
memisahkan partikulat dengan udaranya.
Fabric Filter

Fabric filter berdasarkan teknik


pembersihaannya dapat dibagi menjadi
tiga tipe, yaitu :

reverse-air,
shaker dan
pulse-jet.
Keuntungan :
Efisiensinya cukup tinggi untuk partikulat yang kecil.
Dapat dioperasikan pd kondisi partikulat berbeda-beda.
Dapat dioperasikan dlm volume alir yang berbeda-beda.
Kehilangan tekanan relatip rendah.

Kerugiannya:
Memerlukan lantai yang luas.
Material fabrics dapat rusak bila beroperasi pada suhu
yang tinggi, dan juga korosi.
Tidak dapat beroperasi pada keadaan basah (moist).
Kadang-kadang dapat terbakar atau meledak.
Shaker baghouse
Pulse jet baghouse
Undang-Undang No. 23 tahun 1997
Tentang Pengelolaan Lingkungan
Hidup

Kebijakan dalam Pengendalian Pencemaran


Mengamanatkan bahwa setiap orang berkewajiban
memelihara kelestarian fungsi lingkungan hidup serta
mencegah dan menanggulangi pencemaran dan
perusakan lingkungan hidup --- pasal 6 ayat (1)
Untuk menjamin pelestarian fungsi lingkungan hidup,
setiap usaha dan/atau kegiatan dilarang melanggar
baku mutu dan kriteria baku kerusakan lingkungan
hidup-- pasal 14 ayat (1)
Setiap penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan
wajib melakukan pengelolaan limbah hasil usaha
dan/atau kegiatan ---- pasal 16 ayat (1)
Peraturan Pemerintah No: 41 Tahun
1999 tentang Pengendalian
Pencemaran Udara

Ketentuan Umum:
1. Pencemaran udara masuknya atau dimasukkannya zat,
energi, dan/atau komponen lain ke dalam udara ambien
oleh kegiatan manusia, sehingga mutu udara ambien
turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan
udara ambien tidak dapat memenuhi fungsinya.
2. Pengendalian pencemaran udara adalah upaya
pencegahan dan/atau penanggulangan pencemaran
udara serta pemulihan mutu udara.
3. Udara ambien adalah udara bebas dipermukaan bumi
pada lapisan troposfir yang berada didalam wilayah
yurisdiksi Republik Indonesia yang dibutuhkan dan
mempengaruhi kesehatan manusia, makhluk hidup dan
unsur lingkungan hidup lainnya.
lanjutan
4. Perlindungan mutu udara ambien adalah upaya yang
dilakukan agar udara ambien dapat memenuhi fungsi
sebagaimana mestinya.
5. Baku mutu emisi sumber tidak bergerak adalah kadar
maksimum dan/atau beban emisi maksimum yang
diperbolehkan masuk atau dimasukkan kedalam udara
ambien.
6. Emisi adalah zat, energi dan/atau komponen lain
yang dihasilkan dari suatu kegiatan yang masuk
dan/atau dimasukkannya kedalam udara ambien yang
mempunyai dan/atau tidak mempunyai potensi sebagai
unsur pencemar.
7. Sumber emisi adalah setiap usaha dan/atau kegiatan
yang
mengeluarkan emisi dari sumber bergerak, sumber
lanjutan

8. Pengendalian pencemaran udara


meliputi pencegahan dan
penanggulangan pencemaran,
serta pemulihan mutu udara
dengan melakukan inventarisasi
mutu udara ambien, pencegahan
sumber pencemar, baik dari
sumber bergerak maupun
sumber tidak bergerak termasuk
sumber gangguan serta
penanggulangan keadaan
darurat. pasal 16
Persyaratan cerobong :
Tinggi : 2 2,5 kali tinggi bangunan sekitar,
konsentrasi zat pencemar dpt dikurangi dengan
menggunakan cerobong tinggi
Kecepatan aliran gas dari cerobong > 20 m/det
Warna mencolok agar mudah terlihat
Dilengkapi pelat penahan angin yang melingkari
cerobong secara memanjang ke arah ujung atas
Puncak cerobong sebaiknya terbuka, bila perlu
penutup agar berbentuk segitiga terbalik
(terbuka ketas)
Setiap cerobong diberi nomor dan dicantumkan
dalam denah industri
KEBIJAKSANAAN PEMERINTAH DALAM
PENGENDALIAN PENCEMARAN UDARA
Mendorong kebijaksanaan energi dalam
penggunaan bahan bakar yang lebih bersih
bagi lingkungan hidup;
Mengembangkan tekhnologi bersih dalam
proses industri yang terencana;
Mengembangkan penaatan lingkungan
hidup bagi kegiatan pembangunan yang
potensial pencemar udara;
Menumbuhkan kesadaran dan partisipasi
masyarakat.
Program Pengendalian Pencemaran
Udara
Kota Surabaya

Program pemantauan kualitas lingkungan


Program pengendalian emisi dari sumber bergerak
dan tidak bergerak
Program pemanfaatan bahan bakar altrernatif
bahan bakar gas (BBG)
Program penghijauan kota ruang terbuka hijau
Program pengelolaan transportasi
Raperda pengendalian pencemaran udara
Program satu jiwa satu pohon (SAJI SAPO)
Penyediaan kawasan non motorise transport
Time shift (pembagian waktu jam masuk sekolah
06.30 WIB sedangkan masuk kerja 07.30 WIB)
Program GSP
Contoh Penerapan Cleaner
Production pada
INDUSTRI GULA dan PUPUK
Contoh Penerapan Cleaner
Production pada
INDUSTRI PUPUK (Petrokimia
Gresik)
GAS
PADA
T CAIR
INDUS
TRI
PUPUK

Pengolahan Limbah di Petrokimia Gresik yaitu


berdasarkan Waste is resources, dilakukan
dengan :
Treatment pada sumber limbah ( cleaner
production )
Community development ( not just law )
life cycle analysis
Penggolongan limbah berdasarkan jenisnya
:
Limbah cair
Limbah padat
Emisi gas
LIMBAH CAIR
Penyebab limbah cair di PT Petrokimia Gresik
antara lain :
1. Kebocoran pada sistem perpipaan
2. Kebocoran pada tangki atau vessel
3. Kebocoran Cairan Sealing / Packing Gland Pompa
4. Tumpahan ( over flow ) Tangki / Vessel & Air Hujan
5. Tumpahan (over flow) di bak akumulator/penampung
sementara

Opsi untuk produksi bersih yaitu :


Penerapan good housekeeping untuk mencegah kebocoran
overflow
Tingkat perawatan yang baik akan mengurangi break down
(kerusakan mesin)
Ketrampilan operator, dengan ketrampilan operator yang tinggi
akan mengurangi kemungkinan terjadinya kerusakan mesin dan
mencegah adanya overflow di bak penampung sementara.
LIMBAH PADAT
Penyebab limbah padat di PT Petrokimia Gresik
antara lain :
1. Non B3 ( kapur, gypsum, ET )
2. B3 ( katalis)
3. Bekas kemasan

Opsi untuk produksi bersih


yaitu :
Pemilihan kapur CaO (bahan padat
Non B3), dasar pemilihan CaO
karena larutan kapur akan
bereaksi dengan limbah
menghasilkan endapan yang dapat
diolah kembali menjadi produk lain
yang mempunyai nilai jual
(Perubahan material input)
Limbah B3 berupa katalis, untuk
katalis yang masih mempunyai
nilai jual akan di re-ekspor melalui
LIMBAH EMISI GAS
Penyebab limbah gas di PT Petrokimia Gresik
antara lain :
Penyebab adanya limbah gas berasal dari pabrik II NPK
dan Phonska.
Limbah berupa emisi gas, partikel/debu berupa KCl,
ZA/Urea, MgO , Filler dan gas F (fluor).

Opsi untuk produksi bersih yaitu :


Sistem scrubber/absorber NH3, SO2, Fluor
Bag filter, cyclone, scrubber, electrostatic precipitator (EP)
Debu
Sistem ini ditempatkan di masing masing unit operasi
untuk mencegah atau minimisasi emisi gas yang keluar ke
lingkungan.
Pengelolaan Limbah Umum PT. Petrokimia
Gresik
Limbah Komponen Pengelolaan
Utama
Amonium Pengolahan secara
Urea biologi
Limbah Cair Fluor
Pengolahan secara
Fosfat
fisika-kimia
Partikel padat
NH3
Sistem
SO2
scrubber/absorber
Emisi Gas Fluor
Debu Bag filter, cyclone,
scrubber, electrostatic
precipitator (EP)
Non-B3 (kapur, Dumping atau
gypsum, ET) dimanfaatkan
B3 (katalis Dikirim ke PT PPLI,
Limbah Padat
bekas) Cileungsi, Bogor atau
dijual untuk
dimanfaatkan
Pengelolaan Limbah B3 PT Petrokimia
Gresik JENIS PENGELOLAAN
I. Dari Sumber Spesifik
Katalis (Punya Nilai Jual) Re-Ekport (Via YPG)
Katalis ( Tidak Punya Nilai
PPLI
Jual)
II. Dari Sumber Tidak

Spesifik
Minyak Trafo Pcb PPLI
Pengumpul MPB (Via
Minyak Pelumas Bekas
YPG)
Accu Bekas IMLI (Via YPG)
Limbah Lab. (B3) PPLI
Majun/Serbuk Gergaji Yang
Dibakar
Terkontaminasi
Bekas Kemasan, Sisa
Dikelola Penghasil
Contoh
Pengendalian Pencemaran

Buangan Buangan
Emisi
Cair Padat
Gas Scrubber/ dust Biological Treatment : Recycle & Reuse untuk
collector WWTP Pabrik Ammurea proses produksi internal

Treatment untuk
Chemical Treatment :
Electrostatic meningkatkan value
Efluent Treatment,
Precipitator (EP) sehingga mempunyai
Neutalizer , Equalizer
nilai jual

Recycle baik lokal


Cyclonic Separator / Ditampung sementara di
maupun dari buangan
Bag Filter disposal area.
akhir
Pemeriksaan dan Pemantauan

Emisi Buangan Cair Buangan Padat

Pemantauan Pemantauan Dilakukan sesuai


Internal Lokal Dilakukan kebutuhan baik
Dilakukan setiap hari oleh oleh Lab. Internal
sebulan sekali Lab. Produksi maupun
oleh Lab. untuk evaluasi Eksternal
Produksi untuk proses
evaluasi proses Pemantauan
maupun Internal dilakukan
lingkungan dua kali
Pemantauan seminggu oleh
Eksternal : Lab. QC untuk
Dilakukan tiga evaluasi
bulan sekali oleh lingkungan
Lab.oratorium Pemantauan
yang ditunjuk eksternal
Gubernur. dilakukan
sebulan sekali
oleh Lab. Yang
ditunjuk
Gubernur
Contoh Penerapan
Cleaner Production pada
INDUSTRI GULA
Industri Gula
Industri Gula

Manfaat dan Dampak besar bagi


keuntungan besar lingkungan
bagi manusia

Menghasilkan limbah
Padat
Cair
Emisi udara

Harus diolah
dengan tepat
Proses Produksi Gula
(limbah & alternatif produksi bersih)
1. Proses Penebangan, Pengangkutan & Penimbangan Tebu

Opsi Produksi Bersih


Identifikasi Munculnya limbah
Pakan ternak
Bahan bakar boiler
Pucuk tebu, daun tua/kering, tebu Bahan baku pembuatan
yang tercecer, debu & gas buang kompos
pada peralatan produksi Perawatan mesin secara
berkala
Good House-Keeping
Proses Produksi Gula
(limbah & alternatif produksi bersih)
2. Proses Penggilingan (ekstraksi)

Opsi Produksi Bersih


Identifikasi Munculnya limbah

Air cucian diminimisasi :


Air bekas pencucian lantai, pembersihan kering
bagas/ampas tebu, bocoran Bahan bakar boiler
nira/oli Bahan baku kompos
Good House-Keeping
Proses Produksi Gula
(limbah & alternatif produksi bersih)
3. Proses Pemurnian (purifikasi)

Opsi Produksi Bersih


Identifikasi Munculnya limbah
Pakan ternak
Bahan baku kompos
Limbah gas diminimisasi :
Blotong, air pendingin pompa & memperkering ampas tebu
sisa gas SO2, CO, CO2 & NO yang digunakan sebagai
bahan bakar boiler
Proses Produksi Gula
(limbah & alternatif produksi bersih)
4. Proses Penguapan (Evaporasi)

Identifikasi Munculnya limbah


Opsi Produksi Bersih

Air kondensat, air skrapan,


larutan soda bekas, air bekas Air umpan boiler
pencucian evaporator, air jatuhan Air imbibisi
kondensor Diolah di IPAL
Proses Produksi Gula
(limbah & alternatif produksi bersih)
5. Proses Kristalisasi & Sentrifugasi

Opsi Produksi
Air umpan boiler Bersih
Identifikasi Munculnya limbah Air imbibisi
Diminimisasi : Good House-
Keeping
Molase : Digunakan sebagai
Kondensat, bocoran larutan gula, media
bocoran masakan dari palung produksi berbagai produk
pendingin, molases bernilai
tinggi seperti MSG, alkohol,
Proses Produksi Gula
(limbah & alternatif produksi bersih)
6. Proses Pengemasan

Proses pengemasan, setelah produk dikemas akan dibawa ke gudang dan


disimpan sampai waktu pendistribusian gula.
TERIMA KASIH

Cleaner Production
is
a journey
not a