Anda di halaman 1dari 40

PERIODONTAL

SPLINT

Oleh:
Arra Maulana 2014-16-152
Retno Kinasih Nugraheni 2014-16-178

Pembimbing:
Umi Ghoni Tjiptoningsih, drg., Sp.Perio
PENDAHULUAN
Jaringan Periodonsium
Manson dan Eley (1993) mengatakan bahwa jaringan
periodontal adalah jaringan yang mengelilingi gigi
sebagai pendukung gigi dan untuk melindungi jaringan
dibawahnya.
Periodontitis

Periodontitis Peradangan pada jaringan periodontal


dengan kerusakan pada ligamen periodontal, tulang
alveolar, dan sementum karena proses inflamasi.

Inflamasi berasal dari gingiva (gingivitis) tidak dirawat


menginvasi struktur dibawahnya poket peradangan berlanjut
merusak tulang & jaringan penyangga gigi.
1. Periodontitis Kronis

bentuk paling umum dari periodontitis yang biasanya menunjukkan


karakteristik dari penyakit radang yang perlahan-lahan menjadi parah

Etiologi Periodontitis Kronis

Bakteri dan plak.


Bakteri yang terdapat dalam periodontitis kronis:
P. gingivalis, T. forsythia, P, intermedia, P. nigrescens, C. rectus,
Eikenella corrodens, F. nucleatum, A. actinomycetecomitans, P.
micra, E. nodatum, Leptotrichia buccalis, Treponema, Selenimas
spp, S. noxia dan Enterobacter spp.
Gambaran Klinis Periodontitis Kronis
2. Periodontitis Agresif
penyakit periodontal destruktif & berkembang cepat, ditandai kerusakan cepat
dari ligamen periodontal, tulang alveolar, kehilangan gigi, & respons minim
terhadap terapi periodontal.

- Mikroorganisme penyebab periodontitis agresif bakteri yang terlibat 90% yaitu


Actinobacillus actinomycetemcomitants.
- Bakteri lain yang terlibat yaitu P. gingivalis, E. corrodens, C. rectus, F.
nucleatum, B. capillus, Eubacterium brachy, Capnocytophaga spp & Spirochetes.

Gambaran Klinis

1. Gingiva dengan peradangan akut & parah


2. Sering terjadi proliferasi, ulserasi, supurasi, &
berwarna merah terang
3. Perdarahan spontan atau dengan stimulasi ringan
KEGOYANGAN GIGI
Pergerakan gigi pada dataran vertikal atau horizontal.
Derajatnya tergantung pada lebar ligamen periodontal, area
perlekatan akar, elastisitas prosesus alveolaris & fungsi dari
masing-masing gigi.

ETIOLOGI :
DERAJAT KEGOYANGAN GIGI
Menurut Wassermans Index (1973)
1. Derajat 1 Normal

2. Derajat 2 - Kegoyangan ringan kurang dari 1 mm


ke arah bukolingual

3. Derajat 3 - Kegoyangan sedang kegoyangan


sampai kira-kira 2 mm ke arah bukolingual

4. Derajat 4 - Kegoyangan berat kegoyangan


lebih dari 2 mm
PEMERIKSAAN KEGOYANGAN GIGI
TUJUAN PERAWATAN KEGOYANGAN GIGI
PERAWATAN KEGOYANGAN GIGI
SPLINTING

Alat yang digunakan untuk imobilisasi atau menstabilisasi bagian gigi


yang terkena trauma atau penyakit.

TUJUAN SPLINTING :
1. Imobilisasi dan menstabilkan gigi goyang
2. Mengontrol parafungsional / kekuatan dari bruxism
3. Mempercepat proses penyembuhan & meningkatkan rasa
nyaman pada pasien
4. Mengembalikan kontak proksimal, mengurangi impaksi
makanan & mencegah kerusakan jaringan periodontal.
5. Distribusi gaya tekanan pada jaringan periodonsium sehingga
tidak melebihi kapasitas adaftif jaringan
6. Mencegah ekstrusi gigi yang tidak ada gigi antagonis
7. Stabilisasi kegoyangan gigi selama proses bedah
8. Meningkatkan kenyamanan dan fungsi pasien
PRINSIP SPLINTING
PROSEDUR YANG HARUS
DIPENUHI SEBELUM MELAKUKAN
SPLINTING
Ramjford mengklasifikasikan splint menjadi :
1. Splin permanen
2. Splin temporer/provisional

1. Splint permanen
A. Crown and bridge B. Splin lingual
Twisted technic (angka 8) Essig technic
Splin Temporer/provisional
A. Wire Ligature Splint

Continuous multiple loop wiring Ivy loop / eyelet technic


B. Splint dengan bahan C. Splint kawat dan akrilik
tambalan komposit

E. Band ortodontik
D. Splint lepasan
KEUNTUNGAN SPLINT

1. Membentuk stabilitasi akhir dan memberikan


kenyaman bagi pasien yang memiliki trauma oklusi

2. Membantu menurunkan kegoyangan gigi &


mempercepat penyembuhan trauma akut pada gigi

3. Memungkinkan remodeling tulang alveolar &


ligamen periodontal untuk ortodonti

4. Membantu mengurangi kegoyangan gigi &


mendukung terapi regeneratif

5. Mendistribusi tekanan oklusal


KEKURANGAN SPLINT
1. Kebersihan : dapat terjadi akumulasi plak
kerusakan periodontal lebih lanjut pada pasien
yang sudah memiliki penyakit periodontal

2. Mekanis : kekakuan splin distribusi tekanan


oklusal tidak merata kerusakan periodontal
pada gigi lainnya yang ikut displin

3. Biologi : resiko tinggi karies, sehingga pasien


harus menjaga kebersihan mulutnya dengan baik
LAPORAN KASUS

Pasien laki-laki usia 69 tahun datang ke RSGM Univ


Prof. Dr. Moestopo (Beragama) dengan keadaan gusi
pada gigi depan bawah dan gigi belakang atas kiri terasa
ngilu sesaat dan tajam saat minum dingin sejak kurang
lebih 1 tahun yang lalu. Gusi bengkak dan mudah
berdarah saat menyikat gigi. Gusi terlihat turun dan gigi
bawah depan terasa goyang. Pasien sudah
membersihkan karang giginya +/- 1 bulan yang lalu.
Sebelumnya pasien telah melakukan pencabutan gigi +/-
3 minggu yang lalu. Pasien tidak memiliki kelainan
sistemik, tidak memiliki alergi obat-obatan namun
memiliki alergi terhadap kacang tanah. Pasien datang
dalam keadaan baik dan ingin dirawat.
Gambaran Klinis
EKSTRA ORAL INTRA ORAL
Gambaran Klinis
CETAKAN INTRA ORAL
STATUS UMUM
Baik secara anamnesis, tidak ada riwayat penyakit sistemik

STATUS LOKAL :
Pemeriksaan intra oral:
Pemeriksaan ekstra oral :
Missing gigi 27, 28, 37, 46, 48
Resesi gingiva
Wajah : Simetris - Klas I gigi 33, 43, 45
Bibir : Kompeten - Klas II gigi 17, 16, 31, 32,
Pipi : Tidak ada 41,42
pembengkakan (TAK) Malposisi:
Limfonodi : Tidak teraba (TAK) gigi 11 -> mesio palato versi
Mata : Konjungtiva normal gigi 21, 31 -> mesio versi
tidak pucat, pupil simetris dan gigi 32, 42 -> linguo versi
normal, sklera normal (TAK) gigi 33, 43 -> disto versi
Kelenjar Submandibula : teraba , gigi 41 -> labio versi
lunak, tidak sakit Mobilitas:
Kelenjar sublingualis : teraba, gigi 17, 16, 26, 28 goyang o1
lunak, tidak sakit gigi 31, 41, 42 goyang o2
Abrasi gigi 15, 14, 24, 25, 26, 44
Atrisi gigi 31, 41
GINGIVA:

RA.KA : Kemerahan (+), stippling (-), interdental papil tumpul,


konsistensi lunak, BOP (+), resesi (+)
RA.M : Kemerahan (+), stippling (-), interdental papil tumpul,
konsistensi lunak, BOP (+), resesi (+)
RA.KR : Kemerahan (+), stippling (-), interdental papil tumpul,
konsistensi lunak, BOP (+), resesi (+)
RB.KA : Kemerahan (+), stippling (-), interdental papil tumpul,
konsistensi lunak, BOP (+), resesi (+)
RB.M : Kemerahan (+), stippling (-), interdental papil tumpul,
konsistensi lunak, BOP (+), resesi (+)
RB.KR : Kemerahan (+), stippling (-), interdental papil tumpul,
konsistensi lunak, BOP (+), resesi (+)
KONDISI GIGI GELIGI

Probe labial Probe lingual


Gigi
M L D M L D

33 3mm 2mm 3mm 3mm 2mm 3mm

32 4mm 2mm 5mm 4mm 1mm 5mm

31 6mm 1mm 5mm 6mm 2mm 5mm

41 4mm 4mm 4mm 4mm 3mm mm

42 5mm 5mm 6mm 5mm 1mm 6mm

43 5mm 1mm 3mm 5mm 1mm 3mm


DIAGNOSIS :
Periodontitis kronis generalis oleh karena bakteri dan plak
Faktor etiologi:
1. Primer : Bakteri plak
2. Sekunder
Faktor Predisposisi
1.Kalkulus RA & RB
2.Crowding gigi anterior RB gigi (33-43)
3.Malposisi gigi :Gigi 11 -> mesio palato versi
Gigi 21, 31 -> mesio versi
Gigi 32, 42 -> linguo versi
Gigi 33, 43 -> disto versi
Gigi 41 -> labio versi
1.Kegoyangan gigi o1 pada gigi 17, 16, 26, 28
o
2 pada gigi 31, 41,42
1.Missing teeth gigi 27, 38, 37, 46, 48
2.Resesi gingiva: klas I pada gigi, 33, 43, 45
klas II pada gigi 17, 16, 31, 32, 41, 42
Atrisi pada gigi 31, 41
Abrasi pada gigi 15, 14, 24, 25, 26, 44
Gambaran Radiografi
- Gigi 31 Terdapat penurunan tulang alveolar >
1/3 apikal pada bagian mesial dan distal. Terdapat
pelebaran ligamen periodontal bagian mesial dan
distal. Penurunan tulang secara horizontal pada
bagian mesial dan distal.

- Gigi 32 Terdapat penurunan tulang alveolar >


1/3 apikal pada bagian mesial dan distal. Terdapat
pelebaran ligamen periodontal pada bagian mesial.
Penurunan tulang secara horizontal pada bagian
mesial distal.
Gigi 33, 32, 31, 41, 42,
- Gigi 33 Terdapat penurunan tulang alveolar > 43
1/3 apikal pada bagian mesial dan distal. Terdapat
pelebaran ligamen periodontal pada bagian distal.
Penurunan tulang secara horizontal pada bagian
mesial dan distal.
Gambaran Radiografi

Gigi 41 Terdapat penurunan tulang alveolar di


bagian mesial > 1/3 apikal secara horizontal dan
adanya pelebaran ligamen periodontal di bagian
mesial dan distal.

Gigi 42 Terdapat penurunan tulang alveolar di


bagian mesial dan distal > 1/3 apikal secara
horizontal dan adanya pelebaran ligamen
periodontal bagian mesial dan distal. Gigi 33, 32, 31, 41, 42,
43
Gigi 43 Terdapat penurunan tulang alveolar di
bagian mesial distal 1/3 apikal secara horizontal
dan adanya pelebaran ligamen periodontal pada
bagian mesial dan distal.
Prognosa
Sedang (Fair Prognosis)

Karena penurunan tulang alveolar hingga > 1/3


apikal, terdapat resesi gingiva, poket periodontal
mencapai 6mm, dan beberapa gigi goyang. Namun,
pasien tidak ada penyakit sistemik, koperatif, sosial
ekonomi sedang, sehingga memungkinkan untuk
dilakukan perawatan splinting.
Rencana Terapi
Fase Emergency
Dilakukan pencabutan gigi 27 oleh karena goyang o3 dan ekstrusi
Etiotropik/ Non Bedah (Fase I)
1. OHI + DHE
2. Rescalling gigi
3. Occlusal adjustment
4. Splinting gigi 31, 32, 33, 41, 42, 43
5. Hipersensitivitas Dentin untuk resesi gingiva klas II gigi 17, 16, 31, 32, 41, 42
6. Root planning gigi 18, 17, 16, 15, 14, 13, 12, 23, 28, 36, 35, 34, 44, 45, 47
Fase Bedah (Fase II)
1.Kuretase gigi 24, 25, 26
2.Bedah Flap periodontal gigi 31, 32, 33, 41, 42, 43

Fase Restoratif (Fase III)


Pro GTSL gigi 27, 46
Fase Maintenance (Fase IV)
Kontrol plak & kalkulus
kondisi gingiva (poket), oklusi,
perubahan patologi lainnya,
pemberian OHI
RUJUKAN

Radiologi

Orthodonti

Prostodonti
SPLINTING
Gigi goyang goyang o2 31, 41, 42
Gigi yang di splinting : gigi 33-43
Gigi penyangga : 33, 43
Jenis splinting : Splinting sementara dengan wire
ligature splint menggunakan teknik essig.
ALAT DAN BAHAN
Alat :
1. Stainless steel Wire 0,25 mm
2. Alat Standart
(2 kaca mulut, pinset, eskavator, sonde halmoon, sonde lurus, probe UNC)
3. Micro brush
4. Plastis filling
5. Lampu LED
6. Needle Holder
7. Tang potong kawat

Bahan :
1. Composite
2. Pumice
3. Etsa
4. Bonding
TAHAP SPLINTING TEKNIK ESSIG

1. Isolasi daerah kerja dengan gulungan kapas

2. Potong kawat sesuai panjang yang dibutuhkan, lalu lengkungkan

3. Letakan kawat mayor mengelilingi gigi yang dipilin dari distal gigi 33
sampai dengan gigi penyangga terakhir yaitu gigi 43. Kawat
diletakan di daerah lingkar terbesar dari gigi. Ujung kawat bagian
labial&lingual paling distal gigi penyangga terakhir dipilin bersama
searah jarum jam

4. Potong kawat minor kurang lebih 10cm. Masukan kawat minor ke


proksimal gigi dari bagian labial kearah lingual dibawah kawat
mayor. Lalu dari bagian lingual kawat ditekuk & dimasukan ke
proksimal gigi ke bagian labial & diletakan diatas kawat mayor

5. Pilin kawat minor searah jarum jam, sambil ditarik ke labial,


kencangkan lalu sisakan 2-3mm dari ujung interdental. Pastikan
tidak ada kawat yang longgar. Pilin & kencangkan juga ujung dari
kawat mayor
TAHAP SPLINTING TEKNIK ESSIG
6. Sisa pilinan kawat minor ditekan kearah oklusal dengan amalgam
stopper agar tidak menggangu jaringan sekitarnya

7. Etsa gigi 33-43 dengan asam phosporik 30% selama 15 detik, bilas
dengan air & keringkan

8. Aplikasi bonding agent disinar selama 10 detik

9. Aplikasikan komposite diatas wire & bentuk dengan plastic filling


Lakukan penyinaran masing-masing gigi selama 20 detik

10. Penyinaran dilakukan bertahap pada masing-masing gigi, dengan


cara membatasi sinar dengan semen spatel yang ditekan ke
interdental gigi.
INSTRUKSI PASIEN
Pembahasan
KESIMPULAN

Splinting adalah suatu jenis perawatan


untuk menstabilkan atau mengencangkan
gigi-gigi yang goyang akibat suatu injuri
atau penyakit periodontal.
Pada kasus ini, kami akan melakukan
splinting sementara dengan wire ligature
splint dengan teknik essig karena sesuai
dengan indikasinya yaitu untuk gigi
anterior RB dan tidak terdapat diastema.