Anda di halaman 1dari 15

3.

8 Menganalisias dinamika kehidupan bernegara sesuai konsep NKRI


dan bernegara sesuai konsep federal dilihat dari konteks geopolitik.
NAMA :
AJENG PROBONDARI. S. (03)
AMALIA WANDA KUSUMA. W. (06)
HADRIANI ARDYTIA (19)
INDAH MUSTIKA. R. (20)
KELAS : XI IPA 3
REPUBLIKA.CO.ID, NUNUKAN - Kehidupan masyarakat perbatasan di Pulau Sebatik,
Kabupaten Nunukan, Kalimantan Timur, sampai saat ini masih sangat tergantung
pada negeri tetangga Malaysia.

"Ketergantungan itu antara lain terlihat dalam pemenuhan kebutuhan pokok yang
dikonsumsi setiap harinya, hampir seluruhnya merupakan produk asal Malaysia,"
kata Sannari, seorang warga perbatasan di Ajikuning, Kecamatan Sebatik Utara,
Kabupaten Nunukan, Senin.

Menurut Sannari, kondisi itu masih sulit dihindari mengingat masyarakat Pulau
Sebatik dan Kabupaten Nunukan secara umum, suplai sembako masih tergantung
dari Malaysia, karena sulitnya mendapatkan produk kebutuhan sehari-hari asal
Indonesia. Selain mudah mendapatkannya juga harganya lebih murah daripada
produk asal Indonesia.

Misalnya, gula pasir, harganya di Malaysia hanya RM 2.20 atau Rp 6.600 (RM 1 =
Rp3.000) per kg. Sementara harga gula pasir asal Indonesia harganya mencapai
Rp11.000 sampai Rp12.000 per kg bahkan lebih dari itu. Selain itu, untuk
mendapatkan produk asal Indonesia sangat sulit karena hanya ada di Kota Tarakan.
Bukan hanya sembako yang diperoleh dari Malaysia, Sannari yang mengaku berasal
dari Kabupaten Pinrang Provinsi Sulawesi Selatan itu menambahkan juga bahan
bangunan seperti batu gunung, kerikil, semen, dan lain-lainnya semuanya berasal
dari Malaysia. Oleh karena itu, ketergantungan dengan negeri jiran Malaysia
sangat sulit dihindari.

"Kalau dibilang masyarakat perbatasan di Pulau Sebatik ini menggantungkan


hidupnya di Malaysia memang iya. Kalau tidak begitu mau makan apa kita di sini
(Pulau Sebatik)," ujar Sannari.

Dia mengatakan kemudahan mendapatkan sembako atau kebutuhan lainnya di


Malaysia, karena masyarakat perbatasan di Pulau Sebatik hampir setiap harinya
menyeberang ke Tawau, Malaysia, untuk berbelanja. "Masyarakat di sini setiap hari
ke Tawau, karena jangkauannya dekat hanya 15 menit sudah sampai di sana
(Tawau)," katanya.

Sumber : http://www.republika.co.id/berita/nasional/nusantara-nasional/12/05/28/m4pugy-
potret-perbatasan-tinggal-di-indonesia-menggantungkan-hidup-dengan-malaysia
ASTALOG.COM - Berbeda-beda tetapi tetap satu. Itulah moto atau semboyan tanah
air Indonesia, atau yang juga dikenal dengan istilah Bhinneka Tunggal Ika. Hanya
terdiri dari beberapa kata namun memiliki makna yang luar biasa besar bagi
bangsa Indonesia. Setiap kata yang terkandung tentunya memiliki makna masing-
masing.
Penambahan semboyan Bhinneka Tunggal Ika pada lambang negara, sebenarnya
dimaksudkan untuk melengkapi ketentuan mengenai bendera dan bahasa negara,
dengan tujuan untuk dapat mempererat dan memperkukuh kedudukan negara
ditengah riuhnya pengaruh kehidupan global yang terus berkembang.
Mengingat bahwa pengaruh tersebut dapat menjadi faktor yang mengancam
kesatuan dan keutuhan sebuah bangsa. Dengan menegaskan lambang serta lagu
kebangsaan Indonesia, hal tersebut meningkatkan kedaulatan dan menunjukkan
identitas negara yang sesungguhnya pada lingkungan pergaulan internasional.
Pada hakikatnya, semboyan negara Indonesia ini digunakan untuk mendeskripsikan
tentang persatuan dan kesatuan Bangsa yang memiliki banyak keragaman budaya,
ras, serta suku bangsa. Namun secara keseluruhan, segala perbedaan tersebut
merupakan bentuk persatuan bangsa dan negara Indonesia.
Keragaman tersebut tidak berarti bahwa akan terjadi banyak konflik akibat
berbagai perdebaaan akan adat istiadat yang saling bertolak belakang, akan tetapi
justru dianggap sebagai pemersatu yang menjadi harta bangsa dan memperkaya
kebudayaan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Dengan mengamalkan semboyan ini, maka negara Indonesia dapat menjadi suatu
negara yang kuat dan kokoh oleh persatuan dan kesatuan, serta tidak akan mudah
terpecah belah oleh pengaruh apapun yang berasal dari dalam maupun dari luar.

Sumber :
http://www.astalog.com/510/makna-penting-dari-semboyan-bhinneka-tunggal-ika.htm
Perang di Lebanon merupakan serangkaian aksi militer yang melibatkan Lebanon
dengan Israel. Perang tersebut juga menyeret sayap bersenjata Hizbullah dan
Angkatan Pertahanan Israel untuk terjun di dalamnya. Dalam perang Lebanon, tiga
pasukan Israel terbunuh, dua luka-luka, dan dua diculik. Perang tersebut dilanjutkan
dengan menyusupnya pasukan Hizbullah ke Israel yang menewaskan 8 orang tentara
Israel dan melukai lebih dari 20 orang. Israel pun membalas dengan tembakan roket
yang ditujukan ke arah Lebanon, pengeboman, blokade udara dan laut, serta
beberapa serangan kecil lainnya.
Melihat kondisi seperti itu, Pasukan Penjaga Perdamian PBB berupaya untuk
menegakkan perdamaian di wilayah Lebanon. Tentara Nasional Indonesia pun
menjadi salah satu pasukan yang dipercaya PBB untuk mengemban misi tersebut.
Indonesia mengerahkan Kapal Republik Indonesia (KRI) Sultan Iskandar Muda (SIM)
dengan nomor lambung 367 (KRI SIM 367) yang dikomandani oleh Letkol Laut Agus
Hariadi. Selama delapan bulan bertugas, Kapal Repunlik Indonesia (KIR) Sultan
Iskandar Muda ini telah secara aktif memberikan kontribusi kepada Maritime Task
Force/UNIFIL mulai dari pelaksanaan patroli rutin, , latihan bersama baik dengan
Lebanese Armed Forces (LAF) Navy maupun unsur-unsur Maritime Task
Force/UNIFIL lainnya di Area of Maritime Operation (AMO). Keberhasilan KRI SIM
367 dalam mengemban misi MTF UNIFIL ini menunjukkan profesionalitas TNI diakui
dan sejajar dengan angkatan bersenjata negara-negara lain di dunia.
Kiprah dan profesionalisme TNI bersama peacekeeper dalam mengemban misi
kemanusiaan telah mendapat apresiasi positif dari masyarakat dunia. Hal itu
ditunjukkan dengan dimintanya TNI untuk mengirimkan 4000 pasukan perdamaian
pada tahun 2014. Selain itu, Indonesia juga tercatat sebagai negara Asia pertama dan
satu-satunya yang berpartisipasi dengan mengirimkan kapal perang dalam misi
perdamaian dunia. Dengan berpedoman pada Sapta Marga, Sumpah Prajurit dan 8
Wajib TNI, tidak diragukan lagi bahwa prajurit TNI akan mampu mengibarkan sang
merah putih di dunia internasional dalam tugas perdamaian dunia dengan semangat
garuda. Sebagai anak bangsa, sudah sepantasnya jika kita memberikan apresiasi
tinggi terhadap peran, tugas dan keberhasilan TNI dalam melaksanakan tugas-
tugasnya di dalam maupundi luar negeri.

Sumber :
https://pemimpinmuda.wordpress.com/2012/08/29/kiprah-tni-dalam-misi-perdamaian-
dunia/
Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara merupakan kesepakatan politik para
founding fathers ketika negara Indonesia didirikan. Namun dalam perjalanan
panjang kehidupan berbangsa dan bernegara, Pancasila sering mengalami
berbagai deviasi dalam aktualisasi nilai-nilainya. Deviasi pengamalan Pancasila
tersebut bisa berupa penambahan,pengurangan, dan penyimpangan dari makna
yang seharusnya. Walaupun seiring dengan itus ering pula terjadi upaya pelurusan
kembali.Pancasila sering digolongkan ke dalam ideologi tengah di antara dua
ideologi besar dunia yang paling berpengaruh, sehingga sering disifatkan bukan
ini dan bukan itu. Pancasila bukan berpaham komunisme dan bukan berpaham
kapitalisme. Pancasila tidak berpaham individualisme dan tidak berpaham
kolektivisme.
Bahkan bukan berpaham teokrasi dan bukan perpaham sekuler. Posisi Pancasila
inilah yang merepotkan aktualisasi nilai-nilainya ke dalam kehidupan praksis
berbangsa dan bernegara. Dinamika aktualisasi nilai Pancasila bagaikan pendelum
(bandul jam) yang selalu bergerak ke kanan dan ke kiri secara seimbang tanpa
pernah berhenti tepat di tengah.Pada saat berdirinya negara Republik Indonesia,
kita sepakat mendasarkan diri pada ideology Pancasila dan UUD 1945 dalam
mengatur dan menjalankan kehidupan negara.Namun sejak Nopember 1945 sampai
sebelum Dekrit Presiden 5 Juli 1959 pemerintah Indonesia mengubah haluan
politiknya dengan mempraktikan sistem demokrasi liberal.
Dengan kebijakan ini berarti menggerakan pendelum bergeser ke kanan. Pemerintah Indonesia
menjadi pro Liberalisme.Deviasi ini dikoreksi dengan keluarnya Dekrit Presiden 5 Juli
1959.Dengan keluarnya Dekrit Presiden ini berartilah haluan politk negara dirubah. Pendelum
yang posisinya di samping kanan digeser dan digerakan ke kiri. Kebijakan ini sangat
menguntungkan dan dimanfaatkan oleh kekuatan politik di Indonesia yang berhaluan kiri (baca:
PKI) Hal ini tampak pada kebijaksanaan pemerintah yang anti terhadap Barat (kapitalisme) dan
pro ke Kiri dengan dibuatnya poros Jakarta-Peking dan Jakarta- Pyong Yang. Puncaknya adalah
peristiwa pemberontakan Gerakan 30 September 1965. Peristiwa ini menjadi pemicu
tumbangnya pemerintahan Orde Lama (Ir.Soekarno) dan berkuasanya pemerintahan Orde Baru
(JenderalSuharto).
Pemerintah Orde Baru berusaha mengoreksi segala penyimpangan yang dilakukan oleh regim
sebelumnya dalam pengamalan Pancasila dan UUD 1945. Pemerintah Orde Baru merubah haluan
politik yang tadinya mengarah ke posisi Kiri dan anti Barat menariknya keposisi Kanan. Namun
regim Orde Barupun akhirnya dianggap penyimpang dari garis politik Pancasila dan UUD 1945,
Ia dianggap cenderung ke praktik Liberalisme-kapitalistik dalam menggelola negara. Pada
tahun 1998 muncullah gerakan reformasi yang dahsyat dan berhasil mengakhiri 32 tahun
kekuasaan Orde Baru. Setelah tumbangnya regim Orde Baru telah muncul 4 regim Pemerintahan
Reformasi sampai saat ini. Pemerintahan-pemerintahan regim reformasi ini semestinya mampu
memberikan koreksi terhadap penyimpangan dalam mengamalkan Pancasila dan UUD 1945
dalam praktik bermasyarakat dan bernegara yang dilakukan oleh Orde Baru.
Sumber : http://jodyfitrian.blogspot.co.id/2013/04/dinamika-pancasila-dalam-kehidupan.html