Anda di halaman 1dari 65

resentasi Kasus

DIARE AKUT DENGAN DEHIDRASI RINGAN


SEDANG PADA ANAK LAKI-LAKI UMUR 2
TAHUN
2 BULAN 27 HARI
Oleh :
Larissa Amanda G99141091
Deyang Wangi Prawiro P.
G99141092

Pembimbing :
Yulidar Hafidh, Sp.A (K)

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN ANAK


FAKULTAS KEDOKTERAN UNS/ RSUD Dr. MOEWARDI
SURAKARTA
2014
LAPORAN KASUS
Anamnesis

Identitas Pasien

Nama : An. F.L.


Umur : 2 tahun 2 bulan 27 hari
Jenis Kelamin : Laki-laki
Berat Badan : 11 kg
Tinggi Badan : 85 cm
Agama : Islam
Alamat : Dawung Kulon, Serengan, Surakarta
Tanggal masuk : 19 November 2014
Tanggal pemeriksaan : 19 November 2014
No. RM : 01 14 60 02
Anamnesis
Keluhan Utama
BAB cair sekitar 4 kali sehari

Riwayat Penyakit Sekarang


Pasien datang ke IGD RS Dr. Moewardi dengan keluhan diare.
Keluhan sudah dirasakan pada hari saat masuk rumah sakit.
Pasien BAB sekitar 4 kali sehari. BAB dengan cairan lebih
banyak dari ampasnya. Jumlah BAB sekitar setengah gelas
belimbing. BAB berwarna kuning, tidak didapatkan adanya
lendir dan darah. Pasien terlihat rewel dan tampak kehausan
saat dilakukan pemeriksaan. Pasien juga mengalami demam.

Keluhan muntah juga dirasakan sejak 1 hari SMRS. Pasien muntah

sekitar 20 kali kali per hari. Muntah berisi makanan yang dimakan

dan tidak didapatkan darah. Jumlah setiap kali muntah sekitar

gelas belimbing. Tidak ada keluhan nyeri perut pada pasien. Pasien

masih bisa makan dan minum sedikit-sedikit. Riwayat batuk dan pilek

disangkal.

Di IGD RSDM, pasien tidak mengalami diare atau muntah. Buang air

kecil terakhir 5 jam SMRS dan pasien tampak kehausan. Pasien

tidak ganti susu atau mencoba makanan baru. Penurunan berat badan (-).
Riwayat Penyakit Dahulu
Riwayat penyakit serupa : disangkal
Riwayat makan sembarangan : disangkal
Riwayat ganti susu : disangkal
Riwayat alergi obat dan makanan : disangkal
Riwayat dirawat sebelumnya : disangkal

Riwayat Penyakit Keluarga dan Lingkungan


Riwayat sakit serupa di keluarga : disangkal
Riwayat sakit serupa di lingkungan sekitar :
disangkal
Sumber air minum : PDAM
Riwayat minum isi ulang untuk susu : (+)
Riwayat Kehamilan
Riwayat pemeriksaan kehamilan teratur di bidan. Pemeriksaan
ANC:
trimester I: satu kali/bulan,

trimester II: dua kali/bulan,


trimester III: setiap 2 minggu sekali.

Tidak didapatkan adanya keluhan selama kehamilan. Selama


hamil ibu hanya mengkonsumsi vitamin dan tablet besi.
Riwayat Kelahiran
Pasien lahir di bidan dengan berat badan lahir 2750 gram dan
panjang 48 cm, lahir spontan, langsung menangis kuat segera
setelah lahir, usia kehamilan 38 minggu.
Riwayat Postnatal
Rutin ke posyandu tiap bulan untuk menimbang badan dan
mendapat imunisasi.

Riwayat Imunisasi

Kesan : imunisasi dasar sesuai jadwal Kemenkes


Pertumbuhan dan Perkembangan Anak

Berat badan lahir 2750 gram dan panjang badan lahir 48 cm. Pasien
sekarang berumur 2 tahun, 2 bulan, 27 hari dengan berat badan 11 kg dan
panjang badan 85 cm.
Kesan : pertumbuhan sesuai usia.

Motorik kasar : Melempar bola lengan ke atas


Loncat jauh
Berdiri 1 kaki 2 detik
Motorik halus : Membuat menara dari kubus
Meniru garis vertikal
Bahasa : Mengetahui 2 kegiatan
Menyebut 4 gambar
Bicara dengan dimengerti
Personal sosial : Memakai T-shirt
Menyebut nama teman
Mencuci dan mengeringkan tangan
Kesan : perkembangan sesuai usia.
Riwayat Nutrisi

1. Usia 0 6 bulan : ASI eksklusif lama tiap menyusui 10 15 menit,

bergantian kanan dan kiri, diberikan tiap kali menangis sesudah

disusui anak tidak menangis.

2. Buah dan sayur : pisang sejak umur 6 bulan, sayur bayam, wortel,

lauk ati ayam, tahu, tempe, telur, daging, udang sejak usia 9 bulan.

3. Makanan padat dan bubur :

Bubur susu : sejak usia 6 bulan

Nasi tim : sejak usia 9 bulan

4. >12 bulan : 3 kali sehari (makanan pokok, lauk, buah-buahan,

susu) dan snack pukul 11.00 dan 16.00


Kesan : kualitas dan kuantitas nutrisi cukup
Pohon Keluarga

II

III

An. F.L., 2 tahun, 2 bulan, 27 hari


Pemeriksaan Fisik

1. Keadaan umum : Tampak sakit sedang,


compos mentis, kehausan, gizi kesan baik.

2. Tanda vital :
Nadi : 130x/ menit, reguler, isi,dan
tegangan cukup
Laju nafas : 90x/ menit, kedalaman cukup,
reguler
Suhu : 38,5C (aksila)
TD : 100/60 mmHg
Pemeriksaan Fisik
Kepala
mesochepal, LK 46 cm, UUB cekung (-), rambut hitam, sukar dicabut

Mata
palpebra edema (-/-), mata cekung (+/+), air mata (+/+) sedikit
menurun, konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-), pupil isokor
(2mm/2mm), reflek cahaya (+/+)
Hidung
napas cuping hidung (-/-), sekret (-/-), epistaksis(-/-)

Telinga
sekret (-/-), tragus pain (-/-), normotia

Mulut
mukosa basah (+), sianosis (-), gusi berdarah (-)
Tenggorok
uvula di tengah, mukosa faring hiperemis(-), tonsil T1-T1

Leher
trakea di tengah, kelenjar getah bening tidak membesar, JVP
tidak meningkat
Thorax
Bentuk : normochest, retraksi (-), gerakan simetris kanan kiri

Pulmo
Inspeksi : Pengembangan dada kanan = kiri
Palpasi : Fremitus raba kanan = kiri
Perkusi : Sonor / Sonor di semua lapang paru
Batas paru-hepar : SIC V kanan
Batas paru-lambung : SIC VI kiri
Redup relatif : SIC V kanan
Redup absolut : SIC VI kanan (hepar)
Auskultasi : Suara dasar vesikuler (+/+), suara tambahan (-/-)
Cor
Inspeksi : iktus kordis tidak tampak
Palpasi : iktus kordis tidak kuat angkat
Perkusi : batas jantung kesan tidak melebar
Kiri atas : SIC II LPSS
Kiri bawah : SIC IV LMCS
Kanan atas : SIC II LPSD
Kanan bawah : SIC IV LPSD
Auskultasi : bunyi jantung I-II intensitas nomal, regular,
bising (-)
Abdomen

Inspeksi : dinding perut sejajar dinding dada, spasme (-)


Auskultasi : Bising usus (+) meningkat
Perkusi : timpani
Palpasi : supel, nyeri tekan (-), hepar dan lien tidak teraba, massa
abdomen (-), turgor kulit kembali lambat.

Anorektal

hiperemis (-)

Ekstremitas

CRT= 2 detik, ADP teraba kuat


Akral dingin - - oedema - - - -
- -
Perhitungan Status Gizi

a) Secara Klinis

Gizi kesan baik


a) Secara Antropometri

BB: 11 kg TB: 85 cm Usia: 2 tahun, 2 bulan, 27 hari

BB/U = 11/12,8 x 100 % = 85,9 % -2 SD < Z Score < 0 SD (normoweight)

TB/U = 85/89 x 100 % = 95,5% Z Score = -2 SD < Z Score < 0 SD (normoheight)


BB/TB = 11/11,5 x 100 % = 95,7 % -1 SD < Z Score <0 SD (gizi baik)

Kesimpulan: Gizi kesan baik dengan normoweight dan normoheight menurut


Antropometri WHO 2007.
Kebutuhan kalori = 102 x 11,5= 1173 kkal
Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan Laboratorium darah tanggal 19 November 2014
pukul 20.23
Pemeriksaan 20/9/14 Satuan Rujukan
HEMATOLOGI RUTIN
Hemoglobin 10,3 g/dl 10,5-12,9
Hematokrit 32 % 33-41
Leukosit 10,3 ribu/ul 5,5-17,0
Eritrosit 3,96 juta/ul 4,1-5,3
Trombosit 465 ribu/ul 150 450
INDEX ERITROSIT
MCV 79,5 /um 80,0- 96,0
MCH 26,0 Pg 28,0 33,0
MCHC 32,7 g/dl 33,0 36,0
RDW 11,8 % 11,6 14,6
MPV 7,6 Fl 7,2 11,1
PDW 16 % 25 65
HITUNG JENIS
Eosinofil 1,20 % 0,00 4,00
Basofil 0,10 % 0,00 1,00
Neutrofil 63,10 % 29,00 72,00
Limfosit 27,60 % 60,00 66,00
Monosit 8,00 % 0,00 6,00
Daftar Masalah

1. BAB cair 4 kali per hari, lendir (-), darah (-)


2. Anak rewel dan tampak kehausan
3. Pasien muntah 20 kali, tiap muntah seperempat gelas
belimbing
4. Demam (+): t = 38,5C
5. Mata cekung (+/+)
6. Air mata berkurang (+/+)
7. Bising usus (+) meningkat
8. Turgor kulit kembali lambat
Daftar Masalah

Hb : 10,3 g/dL
Hct : 32 %
AE : 3.960.000 /L
AL : 10.300 /L
AT : 465.000 /L
MCV : 79,5 / um
MCH : 26,0 pg
MCHC : 32,7 g/dL
Limfosit : 27.60%
DIAGNOSIS BANDING

Diare
Diare Akut
Akut dengan
dengan dehidrasi
dehidrasi ringan
ringan
sedang
sedang e/c
e/c virus
virus

Diare
Diare Akut
Akut dengan
dengan dehidrasi
dehidrasi ringan
ringan
sedang
sedang e/c
e/c bakteri
bakteri

Diare
Diare Akut
Akut dengan
dengan dehidrasi
dehidrasi ringan
ringan
sedang
sedang e/c
e/c keracunan
keracunan makanan
makanan

DIAGNOSIS KERJA
Diare Akut dengan dehidrasi ringan
sedang e/c virus
Gizi baik (klinis)
Penatalaksanaan

1. Rawat inap bangsal gastroenterologi anak

2. Rehidrasi dengan Ringer Lactate 175

ml/kgBB/24 jam 80 cc/jam mulai jam

23.00 tanggal 19/11/2014 sampai 23.00

tanggal 20/11/2014

3. Zinc tablet 1x20 mg

4. Oralit 120 cc bila diare, 60 cc bila muntah

5. Paracetamol 3x cth I/ 125 mg/4jam per oral

6. Diet nasi lauk 1173 kkal/ hari


Penatalaksanaan

Monitoring
KUVS/ status hidrasi per jam

Planning
Pemeriksaan darah rutin lengkap

Edukasi
1. Edukasi dan motivasi keluarga tentang penyakitnya
2. Jaga kebersihan sesudah BAB dan BAK
3. Istirahat cukup
4. Cara pemberian oralit, banyak minum
5. Anak tidak boleh dipuasakan, makanan diberikan sedikit-sedikit
tapi sering
Prognosis

Ad vitam : bonam

Ad sanam : bonam

Ad fungsionam : bonam
Follow up 20 November 2014

BAB cair 1x dengan air lebih banyak dari ampas,


berwarna kuning, lendir (-), darah (-), muntah (-), BAK
(+), makan (+), minum (+)

Nadi: 102x/menit, RR: 22x/menit, Suhu: 37,2 C

UUB cekung (-), Mata cowong (-/-), air mata


berkurang (+/+), BU (+) normal, Capillary Refill Time
< 2 detik
Assesment:
1. Diare akut dengan dehidrasi ringan sedang e/c
virus (terhidrasi)
2. Gizi baik.
Follow up 20 November 2014

Pemeriksaan Laboratorium
a. Pemeriksaan urin
Kesan: proteinuria, ketonuria, hematuria,tersangka
infeksi saluran kemih

b. Pemeriksaan feses
Makroskopis: warna coklat, konsistensi lunak, lendir (-),
pus (-), darah (-), warna makanan tidak tercerna (-)
Mikroskopis: ditemukan kuman (-), sel epitel (-),
eritrosit (-), cacing (-), leukosit, protozoa, telur, larva,
proglotid (-)
Follow up 20 November 2014

Assesment:
Diare akut dengan dehidrasi ringan sedang e.c virus (terhidrasi)

Terapi:
Ringer Lactate 175 ml/kgBB/24 jam 80 ml/jam sampai jam 23.00
tanggal 20/11/2014
Oralit 120 cc jika diare atau 60 cc jika muntah
Paracetamol 10mg/kgBB, 125 mg/6 jam ( per oral jika demam)
Zinc 1 x 20 mg selama 14 hari
Diet nasi lauk 1000 kkal/hari

Monitoring:
KUVS per 4 jam
Balance cairan dan diuresis per 8 jam
Status hidrasi per 4 jam
TINJAUAN PUSTAKA

DIARE AKUT
Pengertian Umum
DIARE

BAB cair / setengah


cair (setengah padat), >3x per hari,
kandungan air tinja > dapat/tanpa
biasanya > 200 g disertai lendir &
atau 200 ml/24 jam. darah

onset gejalanya tiba-tiba


Diare akut Durasi < 14 hari,

Diare kronik Durasi > 14 hari


Epidemiologi
Diare akut:
salah satu penyebab utama
morbiditas & mortalitas anak-anak
di negara berkembang.

Ada 60 juta episode diare akut tiap


tahun di Indonesia 1-5 akan
menjadi diare kronik, dan bila
sampai terjadi dehidrasi berat yang
tidak segera ditolong, 50-60%
diantaranya dapat meninggal
Lingkunga
n:
kebersihan
lingkungan Gizi: tidak
& diberikannya
Perilak peroranga makanan
u n tambahan
masyar Faktor meskipun anak
akat
pengar telah berusia 4-6
bulan
uh Kependudukan:
Keadaa kejadia insiden diare >
n nPendidika
diare: pd penduduk
sosial perkotaan padat
ekono n:
pengetah & miskin /
mi kumuh.
uan ibu
ttg
masalah
kesehata
n.
Etiologi
Virus: Astroviruses, Caliciviruses, Norovirus,
Enteric adenoviruses, Rotavirus,
Cytomegalovirus, Herpes simplex viruses.

Bakteri: Aeromonas, Bacillus cereus,


Campylobacter jejuni, Clostridium perfringens,
Clostridium difficile, Escherichia coli,
Plesiomonas shigelloides, Salmonella, Shigella,
Staphylococcus aureus, Vibrio cholerae 01 and
Diare infeksi 0139, Vibrio parahaemolyticus, Yersinia
enterocolitica.

Parasit: Balantidium coli, Blastocystis hominis,


Cryptosporidium parvum, Cyclospora
cayetanensis, Encephalitozoon intestinalis,
Entamoeba histolytica, Enterocytozoon bieneusi,
Giardia lamblia, Isospora belli, Strongyloides
stercoralis, Trichuris trichiura.
Etiologi
Defek Anatomik
Malrotasi, duplikasi intestinal, penyakit Hirschsprung,
impaksi fecal, sindrom usus pendek, atrofi microvillus,
striktur.
Malabsorpsi
Defisiensi disakaridase, malabsorsi glucose-galactose,
insuffisiensi pancreas, fibrosis kistik, Sindrom Shwachman,
penurunan garam empedu intraluminal, cholestasis,
Penyakit Hartnup, abetalipoproteinemia, Penyakit Celiac.
Endokrinopati
Thyrotoxicosis,Penyakit Addison,Sindrom Adrenogenital.
Diare non infeksi Keracunan
Logam berat, Scombroid, Ciguatera, jamur.
Neoplasma
Neuroblastomas, Ganglioneuromas, Pheokromocytomas,
Karsinoid, Sindrom Zollinger-Ellison, Sindrom vasoaktif
invasif intestinal.
Lain-Lain
Infeksi Nongastrointestinal, Alergi susu, Penyakit Crohn
(regional enteritis), Familial Dysautonomia, Penyakit
defisiensi Immune, Protein-Losing Enteropati, Kolitis
Ulseratif , Enteropatika Acrodermatitis, Penyalahgunaan
Laxative, Gangguan Motilitas, Pellagra (kekurangan vitamin
B kompleks).
Etiologi
Diare kronik atau persisten lebih
dari 14 hari bisa terjadi karena :
Agen infeksius: Giardia lamblia,
Cryptosporidium parvum,
enteropatogenik Escherichia coli;
Setiap enteropatogen yg
menginfeksi pejamu
immunocompromised ; atau
Gejala residual setelah kerusakan
intestinal setelah infeksi akut.
Patogenesis

Diare Akut Infeksi (scr klinis &


patofisiologis)
diare inflamasi Diare non inflamasi
Ada invasi bakteri & sitotoksin di diare disebabkan enterotoksin
kolon sindroma disentri dg diare cair dg volume besar tanpa
diare+lendir +darah. lendir dan darah.
Gejala klinis yg menyertai keluhan Keluhan abdomen minimal atau
abdomen seperti mulas sampai nyeri tidak ada sama sekali, namun gejala
seperti kolik, mual, muntah, demam, dan tanda dehidrasi cepat timbul,
tenesmus, serta gejala dan tanda terutama pada kasus yang tidak
dehidrasi. mendapat cairan pengganti.
Pada pemeriksaan tinja rutin Pemeriksaan tinja rutin : tidak
makroskopis: lendir dan/atau darah; ditemukan leukosit.
mikroskopis: sel leukosit
polimorfonuklear.diare non
inflamasi
Diare (mekanisme terjadinya):

Diare osmotik Diare sekretorik Diare eksudatif Diare krn


Terjadi bila ada Terjadi bila ada inflamasi gangguan
gangguan transport motilitas
bahan yg tidak elektrolit (absorbsi kerusakan mukosa
dapat diserap berkurang ataupun (usus halus maupun gangguan motilitas
meningkatkan sekresi meningkat). usus besar). inflamasi &
osmolalitas dalam Akibat toksin yang Inflamasi dan mengeluarkan
lumen yg menarik dikeluarkan bakteri eksudasi terjadi toksin yg
air dari plasma misalnya toksin kolera akibat infeksi menyebabkan iare.
sehingga terjadi atau pengaruh garam
empedu, asam lemak bakteri atau bersifat Infeksi bakteri
diare. rantai pendek, atau non infeksi seperti invansif
Contoh: laksantif non osmotik. \ gluten sensitive perdarahan /
malabsorbsi gastrin vasoactive enteropathy, adanya leukosit
karbohidrat akibat intestinal polypeptide inflamatory bowel damam
defisiensi laktase (VIP) juga dapat disease (IBD) atau
menyebabkan diare
atau akibat garam sekretorik.
akibat radiasi.
magnesium.
Bakteri
Penempelan di mukosa. Toksin sekresi.
Bakteri menempel mukosa untuk menghindarkan diri Misalnya E. coli enterotoksigenik, V. cholerae dan
dari penyapuan. Juga berhubungan dg perubahan beberapa bakteri lain mengeluarkan toksin yg
epitel usus pengurangan kapasitas penyerapan / hambat fungsi sel epitel.
menyebabkan sekresi cairan. Toksin mengurangi absorbsi natrium melalui vili dan
Penempelan melalui pili atau fimbria yg melekat mungkin meningkatkan sekresi chlorida ari kripta,
pada reseptor di permukaan usus. sekresi air & elektrolit.
Hal tsb terjadi pada E. coli enterotoksigenik dan V.
Cholera.

Invasi mukosa.
Shigella, C. Jejuni, E. coli enteroinvasife dan
Salmonella diare berdarah melalui invasi dan
perusakan sel epitel mukosa.
Itu terjadi sebagian besar di colon dan bagian distal
ileum.
Invasi mungkin diikuti pembentukan mikroabses dan
ulkus superfisial sel darah merah dan sel darah
putih atau terlihat adanya darah dalam tinja.
Toksin menyebabkan kerusakan jaringan dan
kemungkinan juga sekresi air dan elektrolit dari
mukosa.
Virus
Rotavirus, berkembang biak dalam
epitel vili usus halus kerusakan
sel epitel & pemendekan vili usus
mensekresi air dan elekrolit.
Kerusakan vili dapat juga
dihubungkan dg hilangnya enzim
disakaridase terutama laktase.
Parasit
Penempelan mukosa. G. Lamblia
dan Cryptosporodium pd epitel usus
halus pemendekan vili diare
Invasi mukosa. E. histolytica ke
epitel mukosa di kolon atau ileum
mikroabses dan ulkus. Hal ini baru
terjadi bila strainnya sangat ganas.

Obat-obatan
Antibiotika membunuh flora normal usus
organisme yg tidak kebal terhadap antibiotik
itu berkembang bebas.
Farmakokinetika antibiotika tsb juga

berperan, contoh:
ampisilin dan klindamisin adl antibiotik yg
dikeluarkan di dalam empedu yang merubah
flora tinja secara intesif walaupun diberikan
secara parental. Antibiotik juga bisa
menyebabkan malabsorbsi, misalnya
tetrasiklin, kanamisin, polmiksin, dan neomisin.
Manifestasi Klinis

Awalnya cengeng, gelisah, suhu badan meningkat, nafsu makan


berkurang atau tidak ada diare.

Gejala muntah dpt terjadi sebelum dan atau sesudah diare.

Bila telah banyak kehilangan air dan elektrolit terjadilah dehidrasi (BB
turun, bayi UUB cekung, tonus dan turgor kulit berkurang, selaput
lendir bibir dan mulut kering).

tipe klinis diare


Diare cair akut Diare akut Diare Diare dg
(termasuk dengan persisten malnutisi
kolera) pendarahan (berlangsung berat
beberapa jam (disentri) selama 14 (marasmus
sampai bahaya hari atau atau
dengan utamanya adl lebih) kwashiorkor)
beberapa hari. kerusakan usus, Bahaya bahaya
sepsis, dan
perlu utamanya adl utamanya
malnutrisi serta
diwaspadai malnutrisi dan infeksi sistemik
dehidrasi.
bahaya infeksi non berat, dehidrasi,
dehidrasi, juga intestinal berat gagal jantung,
dapat terjadi serta dehidrasi. dan defisiensi
penurunan BB mineral dan
bila intake vitamin.
Penegakan Diagnosis

Anamnesis
Riwayat diare sekarang:
Sudah berapa lama diare berlangsung
Total diare dalam 24 jam, diperkirakan dari frekuensi diare dan
jumlah tinja
Keadaan klinis tinja (warna, konsistensi, ada lendir atau darah tidak)
Muntah (frekuensi dan jumlah)
Demam
Buang air kecil terakhir
Anak lemah, rewel, rasa haus, kesadaran menurun
Jumlah cairan yang masuk selama diare
Tindakan yang telah diambil (diberi cairan, ASI, makanan,
obat,oralit)
Apakah ada yang menderita diare di sekitarnya
Riwayat makanan sebelum diare : ASI, susu formula, makan
makanan yang tidak biasa.
PF

tanda tambahan: UUB


tanda utama: cekung, mata cekung, ada
kesadaran, rasa atau tidak air mata, kering
haus, turgor atau tidaknya mukosa
kulit abdomen. mulut, bibir dan lidah.
Timbang berat badan juga.

Penilaian derajat dehidrasi :
IDAI 2004:
Tanpa dehidrasi (kehilangan cairan < 5% berat badan):
tanda utama (-), tanda tambahan (-)
KU baik, sadar
VS dbn
UUB tidak cekung, mata tidak cekung, air mata ada, mukosa mulut dan bibir basah
Turgor abdomen baik, BU N
Akral hangat
Dehidrasi ringan sedang (kehilangan cairan 5-10% berat badan)
2 tanda utama + 2 / lebih tanda tambahan
KU gelisah dan cengeng
UUB sedikit cekung, mata sedikit cekung, air mata kurang, mukosa mulut dan bibir
kering
Turgor kurang
Akral hangat
Pasien harus rawat inap
Dehidrasi berat (kehilangan cairan > 10% berat badan)
2 tanda utama + 2 / lebih tanda tambahan
KU lemah, letargi atau koma
UUB sangat cekung, mata sangat cekung, air mata tidak ada, mukosa mulut dan bibir
sangat kering
Turgor buruk
Akral dingin
Pasien harus rawat inap.
Penilaian dehidrasi menurut MTBS
Terdapat 2 atau lebih dari
tanda-tanda berikut ini :
Letargis atau tidak sadar
Mata cekung
Tidak bisa minum atau Dehidrasi berat
malas minum
Cubitan kulit perut
kembalinya sangat lambat
Terdapat 2 atau lebih tanda-
tanda berikut ini:

Gelisah, rewel Dehidrasi ringan/sedang
Mata cekung
Haus, minum dengan
lahap
Cubitan kulit perut
kembalinya lambat
Tidak cukup tanda-tanda untuk
diklasifikasikan dehidrasi berat Tanpa dehidrasi
atau ringan/sedang
Px Lanjutan
Px tinja:
makroskopis : bau, warna, lendir, darah, konsistensi
mikroskopis : eritrosit, lekosit, bakteri, parasit
kimia : pH, clinitest, elektrolit (Na, K, HCO3)
biakan dan uji sensitivitas 3
Evaluasi lab pd pasien tersangka diare infeksi:
Px feses (ada leukosit --> penanda inflamasi kolon baik infeksi
maupun non infeksi).
Px kimia darah, natrium, kalium, klorida, ureum, kreatinin,
analisa gas darah, dan pemeriksaan darah lengkap pd pasien
dg diare berat, demam, nyeri abdomen, atau kehilangan cairan

Px radiologis (sigmoidoskopi, kolonoskopi, dan lainnya)


biasanya tidak membantu untuk evaluasi diare akut
infeksi.
Pengobatan
Antibiotik bila ada
indikasi (Shigella dan
Diet: Anak tidak boleh
Cholera), sesuai dg hasil
dipuasakan, makanan
pemeriksaan
sedikit-sedikit tapi
Atasi dehidrasi penunjang:
sering, rendah serat,
kotrimoksazol,
buah-buahan terutama
amoksisilin dan atau
pisang.
sesuai hasil uji
sensitivitas.

Koreksi elektrolit :
koreksi billa
Jangan menggunakan hipernatremia,
Probiotik
spasmolitika hiponatremia,
hiperkalemia atau
hipokalemia.

Vitamin A
6 bulan- 1 tahun : 100.000 IU Pendidikan orangtua :
> 1 tahun : 200.000 IU penyuluhan tentang
penanganan diare dan
cara-cara pencegahan
diare
Atasi dehidrasi:

Tanpa dehidrasi

Cairan rumah tangga dan ASI diberikan semaunya; oralit


diberikan sesuai usia setiap kali buang air besar atau muntah:
<1 tahun : 50-100 cc
1-5 tahun : 100-200 cc

5 tahun : semaunya
Dehidrasi ringan sedang
Rehidrasi oralit 75 cc/kgBB dalam 3 jam pertama
dilanjutkan pemberian kehilangan cairan yang sedang
berlangsung sesuai umur seperti yang di atas setiap kali
buang air besar.
Bisa juga dengan kriteria :
Dehidrasi Ringan (Perkiraan defisit cairan 30-50

ml/kgBB)
Rehidrasi dengan CRT/ORALIT 30-50 ml/kgBB/3-4 jam

jika ada perbaikan lalu maintenance 100 ml/kgBB/20-


21 jam
Dehidrasi Sedang (Perkiraan defisit cairan 30-50

ml/kgBB)

Rehidrasi dengan ORALIT/RL iv 70 ml/kgBB/3 jam jika ada


perbaikan maintenance 100 ml/kgBB/20-21 jam.
Apabila pasien susah untuk minum, maka dapat diberikan
secara parenteral :
Dehidrasi Berat
Rehidrasi parenteral dengan cairan Ringer Laktat atau
Ringer Asetat 100 cc/kgBB. Cara pemberian :
< 1 tahun 30 cc/kgBB dalam 1 jam pertama

dilanjutkan 70 cc/kgBB dalam 5 jam berikutnya.


1 tahun : 30 cc/kgBB dalam jam pertama

dilanjutkan 70 cc/kgBB dalam 2 jam berikutnya.


Minum diberikan jika pasien sudah mau minum 5 cc/kgBB
selama proses rehidrasi.
Pemantauan
Terapi
Cairan rehidrasi nilai ulang
derajat dehidrasi, berat badan,
gejala dan tanda dehidrasi.
Jika masih dehidrasi Tumbuh
rehidrasi ulang sesuai Kembang
dehidrasinya.
Jika setelah 3 hari antibiotik,
tidak ada perubahan klinis &
lab pikirkan penggantian
antibiotik sesuai hasil uji
sensitivitas.
Timbang BB:
sebelum & sesudah rehidrasi,
2 minggu setelah sembuh
Dst secara periodik sesuai umur
Jika anak mengalami gizi buruk maka
dikelola sesuai dengan SPM gizi buruk.
Komplikasi
Dehidrasi
(ringan,
sedang, berat,
hipotonik,
isotonik atau
Malnutris hipertonik).
i energi Syok
protein hipovolemi
k
Kehilang
an
Kejang (pd
cairan &
elektrolit Hipokelemia (dg gx
dehidrasi
mendad meteorismus,
hipertonik)
ak: hipotoni otot,
lemah, bradikardi,
perubahan EKG).

kerusakan vili Hipoglikemi


mukosa usus halus. a.
defisiensi enzim
laktase intoleransi
laktosa sekunder
Prognosis

Penggantia
n cairan yg
Perawatan adekuat
yg
mendukung

Tx
antimikrobi
al jika ada
indikasi

prognosis diare infeksius


sangat baik dg morbiditas &
mortalitas minimal
Pencegahan

Kebersihan
Upayakan ASI perorangan, Kebersihan
tetap cuci tangan lingkungan,
diberikan. sebelum BAB di jamban
makan.

Makanan
Imunisasi Penyediaan air
penyapihan yg
campak minum bersih
benar

Selalu
memasak
makanan
ANALISIS KASUS
A. Anamnesis

BAB cair 4 kali sehari,


gelas belimbing, kuning, lendir
(-), darah (-), rewel (+),
kehausan (+).

Muntah 20 kali sehari, gelas


belimbing, berisi makanan, darah (-)
ANALISIS KASUS
B. Pemeriksaan
Fisik
Kesadaran: tampak sakit sedang,
kehausan, gizi kesan baik

Tanda vital: HR= 100x/menit,


pengisian cukup kuat, RR:
30x/menit, suhu: 38,5C per aksiler.

UUB cekung (-), mata cekung (+/+), air mata


(+/+) sedikit menurun, peristaltik normal,
turgor kulit kembali lambat, CRT <2 detik,
arteri dorsalis pedis teraba kuat.
ANALISIS KASUS
B. Pemeriksaan
Fisik
Kesadaran: tampak sakit sedang,
kehausan, gizi kesan baik

Tanda vital: HR= 100x/menit,


pengisian cukup kuat, RR:
30x/menit, suhu: 38,5C per aksiler.

UUB cekung (-), mata cekung (+/+), air mata


(+/+) sedikit menurun, peristaltik normal,
turgor kulit kembali lambat, CRT <2 detik,
arteri dorsalis pedis teraba kuat.
ANALISIS KASUS
C. Pemeriksaan
Penunjang

Makroskopis: konsistensi lunak, warna


Pemeriksa
kuning, lendir (-), pus (-), darah (-)
an feses Kesimpulan: Tinja warna kuning, tidak
rutin ditemukan parasit maupun jamur
patogen.
ANALISIS KASUS
D. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan

Terapi cairan: Ringer Lactate 175 ml/kgBB/24 jam 80


cc/jam.
Oralit sebanyak 60 cc tiap muntah dan 120 cc tiap diare
berdasarkan berat badan pasien.
Terapi maintenance dengan D NS menggunakan rumus
Darrow: 1050 ml/24 jam ~10 tetes per menit makro.
Pertimbangan

Pemberian jumlah cairan ini berdasarkan berat


badan pasien yaitu 11 kg. Rehidrasi ini dilakukan
dalam waktu 24 jam, kemudian dievaluasi. Apabila
dehidrasi sudah teratasi maka dilanjutkan terapi
maintenance
ANALISIS KASUS
D.
Penatalaksanaan
Pemberian antibiotik sesuai
dengan hasil pemeriksaan
penunjang. Pada pasien ini
Antibioti belum perlu karena indikasinya
k belum jelas dan dari hasil
pemeriksaan feses rutin tidak
mendukung ke arah diare yang
disebabkan oleh bakteri,
ANALISIS KASUS
D.
Penatalaksanaan
Pasien juga diberikan tablet zinc
1x20 mg karena umur pasien > 6 bulan.

Zin Tablet zinc diberikan selama 14 hari


walaupun diare sudah berhenti. Zinc

c digunakan untuk memperbaiki epitel


usus (reepitelisasi) yang mungkin
mengalami kerusakan akibat diare.
ANALISIS KASUS
D.
Penatalaksanaan
Edukasi
Edukasi pada orang tua pasien ini antara lain:
a. Orang tua untuk membawa anaknya ke pelayanan
kesehatan bila demam, BAB berdarah, sangat haus, makan /
minum sedikit, diare lebih sering, atau belum membaik dalam 3
hari.
b. Cara penyiapan oralit yaitu 1 bungkus oralit dilarutkan dalam
200 cc air matang.
c. Edukasi tentang langkah pencegahan:
i. Memberikan minum air yang sudah direbus dan
menggunakan air bersih yang cukup.
ii. Mencuci tangan dengan air dan sabun sebelum makan dan
sesudah buang air besar. Edukasi termasuk kebersihan botol susu
yang digunakan pasien.
iii. Buang air besar di jamban
Untuk mengurangi demam pada pasien, diberikan paracetamol
10 mg/kgBB/kali minum.
ANALISIS KASUS
D.
Penatalaksanaan

Nutrisi
Makanan dengan menu yang sama saat anak sehat tetap
diberikan, dengan porsi sedikit-sedikit tapi sering. Pasien
diberikan diet nasi lauk 1173 kkal/hari.
ANALISIS KASUS
Penatalaksanaan

Simptomatik
Untuk mengurangi demam pada pasien, diberikan paracetamol
10 mg/kgBB/kali minum.