Anda di halaman 1dari 16

ADAPTASI, JEJAS DAN PENUAAN

SEL

ANNY NUR FARIZAH,S.Kep,Ns,M.Kes


ADAPTASI
• Sel mampu mengatur dirinya dengan cara
mengubah struktur dan fungsinya sebagai
respon terhadap berbagai kondisi fisologis
maupun patologis. Kemampuan ini disebut
dengan adaptasi selular.
TIPE ADAPTASI SELULAR
1. Hipertropi
2. Hiperplasia
3. Metaplasia
4. Atropi
HIPERTROPI
• Hipertrofi adalah Pertambahan besar organ
akibat adanya pertambahan ukuran sel
pada organ.

• Hipertrofi adalah suatu respons adaptif


yang terjadi apabila terdapat peningkatan
beban kerja suatu sel.
• Kebutuhan sel akan oksigen dan zat gizi
meningkat, menyebabkan pertumbuhan
sebagian besar struktur dalam sel.
• Contoh hipertrofi yang menguntungkan
adalah yang terjadi pada jaringan yang
terdiri atas sel permanen misalnya otot
skelet pada binaragawan.
• Hipertrofi yang bersifat patologis
contohnya adalah jantung yang dipotong
melintang, kapasitas jadi lebih kecil dan
kerja jantung jadi lebih berat.
HIPERPLASIA
• Hiperplasia merupakan suatu kondisi
membesarnya alat tubuh/organ tubuh karena
pembentukan atau tumbuhnya sel-sel baru
• Metaplasia adalah perubahan sel dari satu subtype ke


subtype lainnya.
Metaplasia biasanya terjadi sebagai respons terhadap
METAPLASIA
cedera atau iritasi kontinu yang menghasilkan
peradangan kronis pada jaringan.
• Dengan mengalami metaplasia, sel-sel yang lebih
mampu bertahan terhadap iritasi dan peradangan kronik
akan menggantikan jaringan semula.
• Contoh metaplasia yang paling umum adalah perubahan
sel saluran pernapasan dari sel epitel kolumnar bersilia
menjadi sel epitel skuamosa bertingkat sebagai respons
terhadap merokok jangka panjang.
• Contoh lain yang dapat kita amati pada kasus kanker
serviks. Pada perubahan sel kolumnar endoserviks
menjadi sel skuamosa ektoserviks terjadi secara
fisiologis pada setiap wanita yang disebut sebagai
proses metaplasia. Karena adanya faktor-faktor risiko
yang bertindak sebagai ko-karsinogen, proses
metaplasia ini dapat berubah menjadi proses displasia
yang bersifat patologis.
• Displasia merupakan karakteristik konstitusional sel
seperti potensi untuk menjadi ganas.
ATROFI
• Atrofi merupakan pengurangan ukuran yang
disebabkan oleh mengecilnya ukuran sel atau
mengecilnya/berkurangnya (kadang-kadang
dan biasa disebut atrofi numerik) sel parenkim
dalam organ tubuh
Jenis Atrofi
1. atrofi senilis
2. atrofi local
3. atrofi inaktivas
4. atrofi desakan
5. atrofi endokrin.
DEFINISI JEJAS SEL
• Jejas sel merupakan keadaan dimana sel
beradaptasi secara berlebih atau sebaliknya,
sel tidak memungkinkan untuk beradaptasi
secara normal.
PENYEBAB JEJAS SEL
Hipoksia
1.

• a. Daya angkut oksigen berkurang: anemia, keracunan CO


• b. Gangguan pada sistem respirasi
• c. Gangguan pada arteri: aterosklerosis
2. Jejas fisik
• a. Trauma mekanis: ruptura sel, dislokasi intraseluler
• b. Perubahan temperatur: vasodilatasi, reaksi inflamasi
• c. Perubahan tekanan atmosfer
• d. Radiasi
3.Jejas kimiawi
• a. Glukosa dan garam-garam dalam larutan hipertonis yang dapat menyebabkan gangguan
homeostasis cairan dan elektrolit
• b. Oksigen dalam konsentrasi tinggi
• c. Zat kimia, alkohol, dan narkotika
4. Agen biologik: virus, bakteri, fungi, dan parasit
5. Reaksi imunologik
• a. Anafilaktik
• b. Autoimun
6. Faktor genetik: sindroma Down, anemia sel sabit
7. Gangguan nutrisi: defisiensi protein, avitaminosis
Jenis-jenis jejas
1. Jejas Reversible
Contoh: degenerasi hidropik.
Degenerasi ini menunjukkan adanya edema intraselular, yaitu adanya
peningkatan kandungan air pada rongga-rongga sel selain peningkatan
kandungan air pada mitokondria dan retikulum endoplasma. Pada mola
hidatidosa telihat banyak sekaligross (gerombolan) mole yang berisi cairan.
Mekanisme yang mendasari terjadinya generasi ini yaitu kekurangan
oksigen, karena adanya toksik, dan karena pengaruh osmotik.
2. Jejas Irreversible
Terdapat dua jenis jejas irreversible (kematian sel) yaitu apotosis dan
nekrosis. Apoptosis merupakan kematian sel yang terprogram. Sedangkan
nekrosis merupakan kematian sel/jaringan pada tubuh yang hidup di luar
dari kendali. Sel yang mati pada nekrosis akan membesar dan kemudian
hancur dan lisis pada suatu daerah yang merupakan respons terhadap
inflamasi (Lumongga, 2008). Jadi, perbedaan apoptosis dan nekrosis
terletak pada terkendali atau tidaknya kematian sel tersebut.
KEMATIAN SEL
• Terdapat 2 jenis kematian sel :
1. Apoptosis
2. Nekrosis
APOPTOSIS
• apoptosis : kematian sel periodik yang telah
dipersiapkan penggantinya, atau terprogram
NEKROSIS
• Nekrosis merupakan kematian sel jaringan akibat
jejas saat individu masih hidup, juga merupakan
kematian sel sebagai akibat dari adanya
kerusakan sel akut atau trauma.
• Nekrosis merupakan jejas sel irreversible akibat
proses enzimatik dari kematian elemen-elemen
sel, denaturasi protein, dan autolisis.
NEKROSIS
1. Nekrosis koagulatif
terjadi koagulasi (penggumpalan) unsur protein intrasel yang
umumnya terjadi pada daerah infark dengan disertai ekstravasi
eritrosit.
2. Nekrosis liquefactive :
terjadi pada otak yang disebabkan enzim proteolitik sel leukosit
sehingga nekrosis neuron yang kaya litik ini mudah mencairkan
substansi sekitarnya.
• Nekrosis koagulativa terjadi pada organ jantung tetapi bentuk dan
warnanya berubah sedangkan nekrosis liquefactive mengakibatkan
sel pada organ jantung menjadi memiliki cairan, sel gosong dan
kemudian menghilang.