Anda di halaman 1dari 30

FISURA ANI

Pitri Erlina Lay 406148138


DEFINISI
 Robekan atau kerusakan mukosa anus dan kanal anus,
biasanya disebabkan tinja yang keras dan besar melalui
anus selama buang air besar
 Fissura ani adalah suatu ulkus di mukosa anal, biasanya
karena trauma sekunder dari konstipasi, feses yang
keras, kriptitis, dan ulserasi mukosa yang
menutupi hemmorrhoid.
FISURA ANUS

 Luka epitel pada anal kanal


 Fisura biasanya tunggal pada posterior mid-line
 Edema papila pada anal kanal hipertropik papil
 Edema pada fisura kulit sentinel tag
 Trias fisura anus
 Ulkus
 Hipertropik papil

 Sentinel tag
EPIDEMOLOGI
 Insidens terjadinya fissura ani merupakan 1
dalam 350 orang. Frekuensi terjadinya fissure
ani sama di antara laki-laki dan perempuan.
Fissura ani lebih cenderung terjadi pada usia
yang lebih muda dan usia pertengahan.
ETIOLOGI
 Trauma (BAB keras  Penggunaan laksan yang kronik
 + pengedanan, seks anal)
 Non trauma (Penyakit Crohn,kanker anorektal,
leukimia)
 Iritasi akibat diare

 Cedera partus

 Iatrogenik
FISURA ANUS

Anamnesa
 Konstipasi karena takut b.a.b
 Feses keras
 Nyeri defikasi
 Darah segar
 Riwayat remisi dan eksaserbasi
KLASIFIKASI
Keighley membagi fissura ani menjadi:
1.Fissura ani primer
- Akut
- Kronis
2.Fissura ani sekunder
 Fissura ani primer tampak sebagai suatu
superficial ulcer pada mukosa anal di bawah
linea dentata,
 apabila letaknya lebih ke proksimal hampir
dapat dipastikan merupakan fissura ani
sekunder akibat penyakit lain.
 Fissura ani dikatakan akut bila penyakit terjadi
kurang dari 6 minggu, dan dikatakan kronis bila
sudah lebih dari 6 minggu.
MANIFESTASI KLINIS
 Nyeri didaerah rektum, biasanya digambarkan
seperti rasa terbakar, rasa terpotong, atau
seperti terasa robekan.
 Konstipasi akibat takut nyeri.

 Feses keras

 Buang air besar berdarah warna merah terang


pada permukaan feses. Darah biasanya tidak
bercampur dengan feses.
 Malodorous discharge / sekret melalui anus
yang berbau tidak enak
 Pruritus
PATOFISIOLOGI
 Apabila feses yang keras melewati anal akan
terjadi perenggangan dan merobek mukosa anal.
 Fisura ani biasanya terjadi pada bagian anterior
dan posterior, di duga daerahini merupakan
daerah lemah.
 ketika feses melewati anal massa akan
disalurkan
ke bagian anterior dan posterior oleh karena ada
nya otot pada bagian lateral.
 Fissura akan meningkatkan kontraksi internal
anal sphingter dan meningkatkan tekanan
istirahat pada anal.
 Peningkatan tekanan menyebabkan iskemia
pada area disekitar fissura.
 Adanya spasme yang berulang pada anal
dan adanya iskemia yang berlanjut akan
menyebabkan fissura menjadi kronis oleh karena
ulkus yang tidak dapat sembuh
PEMERIKSAAN FISIK
 Pada inspeksi sering ditemukan skin tag, fissura,
dan hipertropi papilla.
 Pemeriksaan dilakukan dengan menarik kedua
pantat secara perlahan-lahan untuk melihat
apakah ada skin tag, discharge, atau darah.
 Pada rectal touche dapat ditemukan traktus
fibrosa atau uliran di bawah kulit.
 Pengeluaran pus secara spontan dapat terlihat
atau terjadi saat penekanan dengan jari tangan
 Fissura ani akut terlihat eritem dan mudah
berdarah. Pada fissura yang kronis, nyeri tidak
begitu hebat sehingga pemeriksaan colok dubur
dapat dilakukan.
 Fissura ani kronik ditandai dengan tiga gejala
klasik yaitu ulkus yang dalam, sentinel pile
(dimana terbentuk saat bagian dasar fissura
mengalami edema dan hipertropi), Papilla anal
membesar.
DIAGNOSIS
 Pemeriksaan anoskopi : inspeksi adanya fissura
di ani
 Pemeriksaan sigmoidoskopi : menyingkirkan
penyakit kolorektal lain
 Pemeriksaan Rontgen usus besar :
menyingkirkan penyakit rektal dan kolon
 Pemeriksaan colok dubur : meraba apakah ada
benjolan/hemoroid/nyeri di anus
DIAGNOSIS BANDING
- Hidradenitis supuratif
- Infeksi sinus pilonidal
- kista sebasea perianal
- kolitis ulseratif dan
- penyakit Crohn
TERAPI
1. Konservatif
- diet kaya serat
- obat pelunak feses
- rendam air hangat
- topikal anestetik

2. Bedah
- bila konservatif gagal
- dilatasi sfingter
- lateral internal sfingterotomi
TALAK
 Lebih banyak non bedah, sebagian besar tidak
ada pengobatan khusus
 Gejala dan tanda hilang dalam 2 minggu

 Jika robekan/ luka anus tidak membaik dalam 6-


8 minggu dilakukan pembedahan
TALAK SUPORTIF
 Banyak makanan tinggi serat
 Banyak minum air

 Banyak berolahraga

 Memakai alat pelunak tinja (preparat docusate)

 Mandi/cuci anus dan sitz baths (duduk di air


hangat 10-20 menit/hari )
NON BEDAH
 Krim/supositoria yang mengandung anestesi
(lidocaine, tetracaine)
 Krim yang mengandung Ca-channel blocker
(Nifedipine)
 Krim yang mengandung kortikosteroid
(hidrokortison)
 Krim yang mengandung nitrogliserin

 Toksin botulinum
BEDAH
 Partial Lateral Internal Sfingterotomi : tujuan
dari sfingterotomi internal adalah sfingter
internal yang hipertrofi dipotong
dan menyebabkan mengurangi ketegangan
dan memungkinan fissura ani untuk sembuh.
FISSURECTOMY
 Masukkan Pratt kerang spekulum untuk mengevaluasi patologi anal.
 Putar Pratt kerang spekulum ke posisi lateral kanan atau kiri.
 Membuat sayatan linear dengan pisau bedah dari garis dentate hanya
melampaui ambang anal.
 Melaksanakan diseksi sampai sfingter internal dan beberapa serat sfingter
eksternal yang terkena .
 Mencapai hemostasis dengan elektrokauter.
 Di bawah penglihatan langsung, membagi ketebalan penuh sfingter internal
dari tingkat garis dentate distal.
 Littlejohn dan Newstead melaporkan hasil yang baik dalam studi retrospektif
dengan sphincterotomy disesuaikan, yaitu, divisi dari sfingter anal internal
untuk panjang retakan daripada garis dentate. Para penulis menyarankan
sphincterotomy disesuaikan.
 Tutup insisi dengan 3-0 jahitan catgut chromic, jika disukai, insisi dapat
dibiarkan terbuka.
 Pilihan lain adalah untuk melakukan sphincterotomy lateral tertutup, di
mana "blind" lateral subcutaneous sphincterotomy anal internal dilakukan
dengan pisau bedah nomor 11 setelah menemukan alur intersphincteric
melalui palpasi manual.
 Bukti menunjukkan tidak ada perbedaan yang signifikan dalam hasil antara
teknik terbuka dan tertutup. Namun, teknik tertutup membutuhkan
pengetahuan berpengalaman anorectal anatomi dan harus disediakan untuk
ahli bedah dengan pelatihan kolorektal lanjut.
 Dilatasi sfingter : prosedur ini merupakan
dilatasi atau strecthing dubur yang dikendalikan
di bawah anestesi umum. hal ini dilakukan
karena salah satu faktor penyebab fisura anus
dianggap sebagai sfingter internal yang
ketat dan peregangan membantu untuk
memperbaiki kelainan yang mendasari
DETAIL PASCAOPERASI

 Pasien kembali ke rumah pada hari yang


sama. Biasanya, nyeri pasca operasi yang minimal
dikaitkan dengan teknik tertutup atau terbuka
namun biasanya nyeri yang dirasakan tidak lebih
dari sebelum operasi. Nyeri akan mulai mereda
secepatnya. Satu-satunya pembatasan pasca operasi
berasal dari obat bius, dan banyak pasien dapat
kembali ke kegiatan normal keesokan harinya.
FOLLOW-UP

 Pelunak feses dan suplemen serat diberikan


setelah operasi, dan merekomendasikan
suplemen serat tanpa batas untuk mencegah
masalah di masa depan. Kunjungan pasca
operasi biasanya untuk mengevaluasi
penyembuhan luka yang memadai.
KOMPLIKASI
Langsung
- Perdarahan

- Impaksi fecal

- Hemoroid

Tertunda
- Inkontinensia

- Rekurens

- Stenosis analis

- Penyembuhan luka lambat


PROGNOSIS
 Prognosis dari penyakit ini sangat baik setelah
sumber infeksi dan fistula teridentifikasi. Fistula
akan menetap bila tidak didrainase dengan
benar.
 Dengan tindakan yang tepat dan mengikuti
anjuran yang, maka prognosis dari fistula ani
baik. Komplikasi pun dapat terhindarkan.