Anda di halaman 1dari 39

GAWAT DARURAT PADA ANAK

MH. Sudjito, dr, SpAn.KNA


Bagian Anestesiologi & Reanimasi
Fakultas Kedokteran UNS
PENDAHULUAN
• Definisi
Penderita gawat darurat anak ialah penderita anak
yg oleh karena suatu penyebab (penyakit,
trauma, kecelakaan, tindakan anestesi) yg bila tdk
segera ditolong akan mengalami cacat,
kehilangan organ tubuh atau meninggal.

• Dalam menghadapi penderita gawat darurat anak,


maka faktor waktu memegang peranan yang
sangat penting
Time saving is life and limb saving
• Tindakan pada menit-menit pertama
dalam menangani gawat darurat tersebut,
dapat berarti besar dan sangat
menentukan hidup atau mati penderita,
karena itu harus dilakukan dengan cara yg
tepat, cepat dan cermat.
• Prioritas dari diagnosis/penilaian dan
penanganan gawat darurat pada anak sama
seperti pada dewasa. Namun harus diingat
bahwa karakteristik anatomis yg unik
pada anak membutuhkan pertimbangan-
pertimbangan khusus dalam
penatalaksanaan secara keseluruhan.
• Pertimbangan-pertimbangan khusus
pada anak :
a. Ukuran dan bentuk
b. Rangka
c. Luas permukaan tubuh
d. Status psikologis
e. Efek jangka panjang
f. Alat-alat yg digunakan
a. Ukuran dan bentuk
• Anak mempunyai massa tubuh yg lebih kecil
(dibanding dewasa)
• Energi yg dipindahkan dari bagian kendaraan
(misal kecelakaan lalu lintas) yg menabrak
atau akibat jatuh, menghasilkan kekuatan yg
lebih besar pada setiap satuan daerah tubuh.
• Energi yg lebih kuat akan dikirimkan pada
bagian tubuh yg kurang mengandung
jaringan lemak dan jaringan ikat elastis serta
dekat organ-organ dalam.
cedera multi organ sering terjadi pada
anak
b. Rangka
• Kalsifikasi belum lengkap, mempunyai pusat-
pusat pertumbuhan tulang yg bertumbuh aktif,
serta lebih lentur.

• Kerusakan organ dalam dapat ditemukan tanpa


adanya kerusakan tulang yg menutupinya

• Misal : fraktur costa anak jarang, tetapi sering


ditemukan contusio paru.
c. Luas permukaan tubuh
• Rasio dari luas permukaan tubuh anak terhadap
isi (volume) tubuh yg tertinggi adalah pada saat
lahir.
• Berkurang sesuai dengan pertumbuhan anak.
• Konsekwensinya adalah kehilangan energi panas
merupakan faktor stres yg sangat bermakna pada
anak
• Kondisi hipotermia dapat terjadi dengan cepat
dan merupakan penyulit dari penanganan
penderita anak dgn hipotensi
d. Status psikologis
• Penanganan psikologis dalam gawat darurat
anak merupakan suatu tantangan yg bermakna.
• Ketidakstabilan emosional seringkali mengarah
pada kemunduran tingkah laku psikis, bila
terdapat rasa cemas, rasa sakit atau perasaan yg
mengancam dalam lingkungan sekitarnya
• Kemampuan anak terbatas untuk berinteraksi
dengan orang-orang yg tdk dikenal.
• Anamnesis dan pemeriksaan fisik, sangat
sulit pada penderita gawat darurat anak

• Seorang dokter harus mengerti keadaan


tersebut, harus dapat membujuk, serta
menenangkan penderita gawat darurat anak
e. Efek jangka panjang
• Pertimbangan utama dlm pembahasan gawat
darurat anak adalah akibat gawat
darurat/cidera terhadap pertumbuhan dan
perkembangan selanjutnya dari anak

• Penderita gawat darurat anak, tidak cukup


hanya penyembuhan akibat gawat daruratnya
saja, tetapi juga harus dapat melanjutkan
proses pertumbuhan dan perkembangan yg
normal.
• Pada penderita gawat darurat anak,
cederanya dapat mengakibatkan kelainan
yg berkepanjangan, terutama bila
berhubungan dengan fungsi otak, trauma
psikis atau kerusakan organ tubuh.

• Selanjutnya pasca gawat darurat ini,


mempunyai pengaruh yg bermakna pada
keluarga keretakan hubungan keluarga.
f. Alat-alat yg digunakan
• Tersedianya alat-alat dengan ukuran yg sesuai
sangat penting untuk keberhasilan penanganan
awal dari gawat darurat anak
• Harus ada cara yg ideal untuk menentukan :
- Dosis obat
- Ukuran alat yg tepat & cepat berdasarkan BB
dan PB
• Di ATLS : the Broselow Pediatric Resuscitation
measuring tape
PEDIATRIC EQUIPMENT
JALAN NAPAS PADA ANAK
Survai Primer
• A pada ABCD & E anak = dewasa
• Jalan napas yg bebas merupakan tujuan utama
dalam rangka mencukupi oksigenasi
• Ketidakmampuan dalam memperbaiki & atau
menjaga jalan napas yg adekwat dengan
kegagalan oksigenasi & ventilasi adalah
penyebab utama yg sering dari cardiac arrest
pada anak
• Jalan napas pada anak merupakan prioritas
utama
Anatomi jalan napas
• Makin kecil anak, makin besar
terdapat disproporsi ukuran
tulang kepala dengan wajah

• Daya topang daerah belakang


pharynx sebagai penyangga
dibutuhkan lebih besar sesuai
dengan kekuatan fleksi pasif
dari tulang leher pada occiput yg
relatif lebih besar.

• Jalan napas anak dilindungi oleh posisi wajah yg


agak mendongak (sniffing position = menghirup)
Larynx

• Pada anak terletak lebih tinggi dan lebih


kedepan (didalam leher)

• Pita suara terletak lebih ke antero caudal

• Pita suara sering sukar terlihat bilmana


kepala anak dalam posisi anatomis normal
(harus pada sniffing position)
Trachea

• Trachea bayi panjangnya + 4 cm 7 cm


pada 18 bulan

• Kegagalan dalam memperkirakan panjang


trachea ini dapat mengakibatkan intubasi
kearah cabang utama bronchus kanan

• Hal tersebut diatas menyebabkan ventilasi


yang tidak adekwat atau terjadi baro
trauma
Parsial Obstruksi Jalan Napas

• Masih dapat bernapas spontan


• Jalan napas harus dioptimalkan dengan
– sniffing position
• Lakukan chin lift atau jaw thrust.
• Bersihkan rongga mulut – beri O2
• Penderita tdk sadar oral airway, tdk
adekwat  intubasi oral
Oral Airway
• Digunakan saat anak TDK SADAR,
setengah sadar menyebabkan muntah
aspirasi

• Pemasangan alat ini dimasukkan


langsung ke dalam oropharynx, dengan
hati-hati+gentle, k/p dengan spatula lidah.
Intubasi Oral
• Indikasi …………
• Intubasi orotracheal merupakan
cara yg paling aman untuk
menjamin jalan napas &
ventilasi
• ET tanpa balon dengan ukuran
yg tepat harus digunakan pada
anak untuk mencegah oedema
sub glottic, ulcerasi & disrupsi
jalan napas yg rentan

• Cincin krikoid pada jalan napas anak merupakan daerah


yg paling sempit menjadikan sebagai membran atau
penutup alamiah bagi pipa ET (< 12 th).
Rapid Sequence Intubation

* Proceed according to clinical judgment and skill/experience level


Krikotiroidotomi

• Sangat jarang dilakukan pada anak

• Surgical krikotiroidotomi, yg dilakukan


pada penderita anak, aman pada umur >
11 th

• Jika bag valve mask – gagal, masukkan


intubasi oro tracheal – gagal Needle
cricothyroidotomy (sementara).
PERNAPASAN
(BREATHING)
Pernapasan & ventilasi
• RR
- Bayi : 40-60 x/m
- Anak : 20 x/m
- Dewasa, RR : 12-16 x/m

• Tidal volume
- Bayi
- Anak 7-10 ml/kg BB
Mulut ke mulut
• Baro trauma pada pemberian
napas buatan atau bantu
merupakan perhatian (tekanan
dibatasi)
• Hipoventilasi penyebab
tersering dari respirasis
asidosiscardiac arrest
• Ventilasi & perfusi yg adekwat
pH relatif normal
SIRKULASI & SYOK
Pengenalan :
- Kehilangan 25% EBVtanda-tanda
syok (+)
- Tanda-tanda syok hipovolemik :
a. Tachycardia (DD ?)
b. Penurunan tek.nadi < 20 mmHg
c. Kulit basah
d. Extremitas yg dingin
e. Penurunan tingkat kesadaran yg disertai
penurunan respon sakit
f. Penurunan tekanan darah
g.Penurunan perfusi jaringan : produksi
urine
• Tekanan darah pada anak
Sistolik : 80 mmHg +(2xumur dlm th)
Diastolik : 2/3 dari tekanan sistolik

• Perubahan tachycardia – bradicardia,


terjadi mendadak (bayi)
Pijat jantung
SHOCK MANAGEMENT
Resusitasi Cairan :
• Blood volume = 80 ml/kg BB
• Bolus : 20 ml/kg BB warmed ringer
lactate solution (may repeat 2x)
• Consider PRBCs with 3rd fluid bolus
• Temperatur regulation
SYSTEMIC RESPONSES TO BLOOD
LOSS IN THE PEDIATRIC PATIENT
System <25% Blood 25%-45% Blood >45% Blood
Volume Loss Volume Loss Volume Loss
Cardiac Weak, thready Increased heart rate Hypotension,
pulse; increased tachycardia to
heart rate bradycardia
CNS Lethargic, irritable, Change in level of Comatose
confused consciousness,
dulled response to
pain1
Skin Cool, clammy Cyanotic, Pale, cold
decreased capillary
refill, cold
extremities
Kidneys Minimal decrease in Minimal urine output No urinary output
urinary output;
increased specific
gravity
VITAL FUNCTIONS
Age Weight Heart Rate Blood Respiratory Urinary
Group (kg) (beats/min) Pressure Rate Output
(mmHg) (breaths/min) (mL/kg/hr)

Birth to 6 3-6 180-160 60-80 60 2


months
Infant 12 160 80 40 1.5
Preschool 16 120 90 30 1
Adolescent 35 100 100 20 0.5
Responses to treatment
• Usual :
Crystalloid bolus Normal  No operation

• Common :
Crystalloid + PRBCs Normal  No operation

• Rare :
Crystalloid + PRBCs  if No   operation
Emergency Consultation

* See text
Blood Replacement

• 10 ml/kg PRBCs

• Type spesific or O Negative

• Normal

• Immediate surgical consult


Venous Access
• Percutaneous peripheral
• Intraosseous : < 6 years
• Cutdown : Saphenous at ankle/groin
• Special lines :
 Percutaneous placement – Femoral vein
 Percutaneous placement - Subclavian vein
 Percutaneous placement – External jugular and
Internal jugular vein
Urinary Output
• Bayi baru lahir s/d 1 th – 2cc/kg/jam
• Diatas 1 th s/d 5 th – 1,5 cc/kg/jam
• Diatas 5 th s/d 14 th – 1 cc/kg/jam
• Dewasa – 0,5 s/d 1 cc/kg/jam

• Warna Urine dan kepekatannya di nilai


Pengaturan Panas
• Anak sering mengalami hipotermi
• Kondisi hipotermi ini sangat mempengaruhi
penderita gawat darurat anak.
• Penderita gawat darurat menjadi refakter
terhadap pengobatan, memperpanjang waktu
koagulasi dan mempengaruhi fungsi SSP.
• Diberi lampu pemanas, selimut penghangat.
• Cairan infus dan tranfusi darah di hangatkan.
SKOR VERBAL ANAK
Respons Verbal Skor – V
• Kata-kata yang tepat, senyum, kooperatif 5
• Menangis (masih dapat dibujuk) 4
• Menangis terus menerus (non Kooperatif) 3
• Sangat gelisah ( Restless), agitasi 2
• Tak ada Respons 1
Daftar Pustaka
1. American College of surgeons, committe on
trauma, advanced trauma life support for
doctors, student course manual edisi ke-6,
1997, hal 319-346
2. Morgan GE et all, Pediatric anesthesia, clinical
anesthesiologi 4ed Mc Grow-Hill Companies, th
2006 page 922-950
3. Wilkinson DA, Skinner MW, Primary trauma
care manual, a manual for trauma
management in district and remote locations th
1999, hal 23-24