Anda di halaman 1dari 17

Analisis Cerpen Kontemporer

(Kado Pernikahan)

Oleh :
Nama : Al-Munawarah
Nim: 1551140009
A. PENGERTIAN CERITA PENDEK INDONESIA KONTEMPORER

• Cerita pendek indonesia bermula dari cerita anekdot, lalu


cerita perang dan lukisan masyarakat. Oleh karena itu analisis
konvensional secara penuh bis diterapkan. Cerita pendek harus
ada ceritanya , ada tooh yang berkarakter, ada plot dan setting,
dan suspense, dan ada surprise. Semenjak Muhammad Kassim
dan Suman HS hingga cerpenis 1960-an dalam penciptaan dan
penulisan tetap menerapkan konsep cerita pendek
konvensional. Cerita pendek konvensional adalah cerita yag
struktur ceritanya sesuai dengan konvensi yang ada.
Contoh-contoh cerita pendek Indonesia Kontemporer
adalah cerita pendek Umar Khayam dan Putu wijaya. Cerita
pendek Khayam kebanyakan hanya menyajikan suasana, manusia
terasig dari dunianya karena gencetan suasan metropolis. Cerita
pendek lainnya yaitu karya Putu Wijaya. Cerita –cerita pendek
Putu wijaya mencerminkan manusia pemberontak. Tatapi
manusia yang di gambarkan oleh putu adalah manusia ide. Cerita
pendeknya penuh dengan ide.
B. CIRI-CIRI CERITA PENDEK INDONESIA KONTEMPORER

• Berdasrkan pengertian cerita pendek Indonesia kontemporer dapat


diuraikan sebagai berikut :
Pertama, cerita pendek Indonesia Kontemporer berciri anti logika. Cerita
pendek anti logika diartikan sebagai menyalahi dasar logika manusia pada
umumnya. Cerita pendek disjikan secara tidak lazim dan berbeda dengan
cerita pendek biasa atau cerita pendek inkonvensional. Oleh karena itu,
cerita pendek kontemporer sering juga disebut sebagai cerita pendek
inkonvensional.
• Kedua, cerita pendek Indonesia kontmporer berciri mengabaikan plot atau
alur cerita. Pola urutan cerita pendek konvenional seperti pembukaan,
klimaks,, antiklimaks tidak diikiti lagi.. Plot atau alur cerita, cerita pendek
indonesia kontemporer bersifat zigzag atau semeraut. Misalnya daam cerita
pendek Umar Khayam, pembukaan cerita dijumpai, tetapi tidak diikuti
dengan pembinaan keteganganmenuju ke arah klimaks.
Ketiga, cerita pendek Indonesia kontemporer berciri absurd atau serba aneh. Cerita
pendek dikatakan absurd karena berbagai karakteristiknya seperti alaur dan
peristiwanya serba tidak jelas, tidak menentu, tidak logis menurut urutan logika
seharihari. Dalam perkembangan leksikon , absurdisme identik dengan ketidak jelasan,
ketidakmenentuan, ketidak masuk akalan. Contoh cerita penek kontemporer yang tidak
absurd adalah cerita pendek Budi Dharma dalam kumpulan cerita pendeknya yang
berjudul Orang-orang Bloomington yang terbit padataun 1980.

Keempat, cerita pendek Indonesia kontemporer berciri anti tokoh, atau tokohnya jelas
atau tidak jelas bukan persolan. Tokoh-tokoh cerita adalah tokoh-tokoh cerita imajiner,
manusia yang tangguh, tahan terhadap benturan waktu, keadaan dan situasi.
Kelima, cerita pendek Indonesia kontemporer berciri terasing dan serba konpleks. Ciri-
ciri ini dapat dibaca dalam cerita pendek yang berisi realitas kehidupan sosial dan
ekonomi yang serba kompleks. Didalam cerita pendek Hamsyad Rangkuti, Lukisan
Perkawinan seorang wanita yang menyangkut perjuangan, penderitaan dan impian
mereka
Biografi cerpenis

Helvy Tiana Rosa lahir di Medan, 2 April 1990, dari pasangan Amin
Usman dan Maria Eri Susianti.
Tahun 1990, mantan staf Litbang Senat Mahasiswa UI ini memperoleh
berdirinya Teater Bening.
Buku yang telah terbit: Sebab Sastra yang Merengutku dari
Pasrah(1999), Ketika Mas Gagah Pergi(1997), Mc Alliester (1996),
Kembara Kasih (1999), Manusia-manusia Langit (2000), Titian Pelangi
(2000), Akira (2000), Pangeranku (2000), Wanita yang Mengalahkan
Setan (2002)Lelaki Kabut dan Boneka (2002), dan lain-lain.
Ia juga terpilih sebagai Tokoh Muslimah Berprestasi Bidang Penulisan ,
versi Majalah Amanah tahun 2000. Buku Lelaki Kabut dan Boneka
terpilih menjadi juara satu Anugera Karya Terpuji 5 tahun FLP.
Kado PernIkahan
Dulu waktu pertama kali Mas Pram melamarku sudah ku katakana padanya bahwa aku, katakanlah sama sekali
hampir sama sekali tak menguasai keterampilan kewanitaan.
“Sungguh aku nggak bisa masak, nggak bisa jahit, merawat tanaman, atau prakarya apapun namanya….”
Dia Cuma tertawa dan mengatakan bahwa manusia itu berproses dan bisa bila belajar. “Pokonya yang paling
penting kita bisa jihad bareng!” katanya waktu itu.
Woo, aku sih semangat saja! Tapi…
***

Setelah nikah aku belum rutin memasak, Alhamdulillah banyak anteran. Aku Cuma sering ngangetin. Tapi biar
bagaimana aku tetap mesak nasi. Terkadang nasinya kelembekan, lain waktu kekerasan. Tapi Mas Pram tidak
pernah menggerutu. Cuma senyum.
Dua minggu setelah menikah, praktis aku mengurus semua pekerjaan rumah tangga dan mengurangi jam
terbangku selama ini. Kalau ada waktu luang, aku buka resep makanan,mencari menu yang sehat, lezat,dan
murah, lantas mengolahnya. Nemun… entah mengapa hasilnya sering aku umpeti. Kumakan sendiri. Habis
sering kali rasa dan bentuknya jadi tak karuan. Padahal aku sudah coba teliti mengikuti petunjukyang ada di
buku!
“Ibu itu mewarisi bakat Nenek, pintar seklali memasak. Sampai-sampai kalau ibu yang masak, hamper bisa
dipastikan makan Mas selalu nambah,’ cerite Mas Pram suatu ketika. Saat itu ia baru saja berhasil membebaskan
diri dari mimic wajah yang sangat serius selesai memakan ikan pesmol buatanku.
Aku diam saja dan menunduk dalam-dalam. Ikan pesmol ku itu terlalu kuning warnanya, keasinan dan
kepedasan. Malah bentuknya hancur berantakan lagi! Ya wajarlah kalau Mas Pram teringat masakan ibunya.
“Sudah baik,” kata Mas Pram sambil tersenyum. “Insya Allah besok lebih enak. Yuk, Mas buru-buru, nih!
Ditunggu sama Abdullah!”
Dan Mas Pram berangkat dengan wajah merah. Ya, kepedasan. Aku mencoba tersenyum. Menganterkan sampai
pintu. Kuliahat badan Mas Pram yang dulu tegar semakin kurus. Ya, semakin kurus! Astaghfirullah, aku jadi
merasa bersalah. Bagaimana nggak kurus, pekerjaannya, kegiatan dakwahnya, jalan-jalannya begitu banyak dan
sering… tapi Mas Pram selalu makan sepiring, dengan nasi yang porsinya setengah! Malah tak pernah nambah.
Tiba-tiba air mataku menetes. Sudah dua bulan menikah, hamper tak ada kemajuan dalam bidang olah pangan
untuk mujahidku ini! Dan ia semakin kurus.
***

Sebenarnya Mama juga yang berperan hingga masalah ini timbul. Sejak aku kecil, Mama melarangku dekat-
dekat dapur. Pegang sapu saja dilarang. “Nanti tanganmu kasar,’ kata mama. Begitu lah sampai aku berangkat
remaja. Seabreg-abreg kegiatan aku ikuti. Teater, karate,cinta alam, dan lain-lain. Semuanya sering membuatku
keletihan, soalnya waktu itu aku mencoba total dalam kegiatan tersebut. pergi pagi pulang malam. Mama pun
tak pernah protes. Kesannya aku lumayan dimanja. Hamper semua dikerjakan pembantu.
Dan… peteka yang lebih besar terjadi. Sejak aku terpilih menjadi ketua OSIS dan komandan upacara di SMA,
semua bilang aku semakin gagah. Ya cara jalanny, cara bicaranya, sampai-sampai cara bertindak! Malah
temanku kebanyakan lelaki. Astaghfirullah…
Ketika aku mulai berjilbab, habis-habisan aku berbenah diri menjelang citra muslimahp gemilang. Tetapi yang
aku heran menurut akhwat, kesan gagah itu masih saja terpancar. Malah ada seorang mbak yang menyindirku.
Kata beliau aku ini belum keummian, tetapi keabiaan! Apa aku senang? Na’udzubillah… aku sedih sekali! Aku
mulai ke dapur mengambil alih tugas pembantu. Tapi mama, papa, adik sering protes kalau masakanku nggak
enak!
Akhirnya waktu pun berlalu… Kian larut diri ini dalam aktivitas dakwah. Jam terbangku makin banyak daripada
dulu saat masih larut dalam aktivitas semu. Ya, Alahamdulillah.. Tapi akibatnya, aku jadi terfokus pada aktivitas
baca nulis dan mgider-ngider mengisi ceramah. Diriku kuperah disana. Dan… Jadi agak lupa dengan tugas
kerumahtanggaan…
Begitu terjaga, seminggu kemudian menikah. Shock juga.
***
“Bagaimana, Bu Digdo, Bu Atin? Bagaimana, nih, Bu Roro. Setuju ndak dengan usul saya tadi?” aku
tersenyum. Jadi ibu-ibu saya ajari baca Al-Qur’an. Gratis ya, Bu. Allah saja yang membalas saya, tetapi sehabis
kita belajar Iqra’, bagaimana kalau Ibu-ibu gentian nolong saya? Mau nggak, Bu?”
“Mauu…!” Koor ibu-ibu serempak.
Make a dea! Alhamdulillah!
Kini seminggu dua kali, ditambah bila ada kesempatan lain,ibu-ibu disekitar rumah kami dengan senang hati
mengajarkanku menu-menu murah, lezat ala mereka. Datambah lagi dengan kiat-kiat tertentu dalam masak yang
enak. Terus kalau ada waktu luang mereka mengajarkanku menjahit.
“Lumayan, lho, Dik Nisa, kita jadi bisa bantu suami. Ya, kalau selama ini Dik Misa menulis, itu kan mikir.
Tetapi kalau menjahit dan merajut atau strimin, sering kali kita nggak mikia. Ya. Dikerjakan saja,” kata Bu
Digdo.
Aku tertawa. Alhamdulillah, tidak hanya para jilbaber yang membantu mengatasi masalah ini. Para ibu tersebut
juga. Mereka senang mengajarku. Apalagi aku tak ragu Tanya ini itu. Tapi biar bagaimanapun aku tak mau
menunjukkan wajah bodoh atau nggak bisa, dong!
Silaturrahmi tempat Ibu mertua kupersering. Kami memask bersama. Kuperhatikan betul caranya memasak.
Apalagi menu-menu kesukaan Mas Pram. Sayangnya ibu tinggal cukup jauh dari kami, jadi jarang aku bisa
memetik ilmu beliau.
“kafaah orang yang berbeda-beda, Kak nisa,” kata adikku tari! Uh, dasar aja si bungsu jilbaber ini sepeti aku
juga. Agak gagah atu apalah.
***

Serius Mas Pram memperhatikan meja makan. Dahinya berkerut. ‘Apaan tuh, Dik Nisa?”
“Dreengg!” Aku tersenyum ceria.” Kwetiau goring ala Nisa!”
Mata Mas Pram Berbinar. “Wah, favorit, nih! Biasanya Cuma ibu yang memasaknya… ups… eng…afwan,”
tampaknya Mas Pram tau kalau aku suka sensitive bila disbanding-bandingkan dengan ibundanya.
Aku masih tersenyum. Dan ini… capcay kesukaan Mas! Tidak seperti bulan lalu, sekarang potongan sayurnya
sudah proporsional,” ujarku.
Mas Pram pun mulai menyantap itu semua.
“Gimana, Mas?” tanyaku was-was.
Ia tersenyum, kali ini lebih manis. “Alhamdulillah… tapi… eee…”
“Ada apa, Mas?”
Mas Pram membelalakkan matanya. Tiba-tiba ia mengeluarkan sesuatu yang sempat dikunyahnya. Meringis.
Aku terkejut! Bulatan garam setengah kelereng! Astaghfirullah…
Tetapi Mas Pram melanjutkan makannya. Dan… untuk pertama kalinya bapak itu nambah, Saudara-saudara!
Aku bahagia sekali.
***

Lima bulan setelah pernikahanku. Segala sesuatunya Alhamdulillah mulai berjalan lancar. Kini Mas Pram lebih
bergairah menjelang waktu makan. Sering ia pulang ke rumah jam sepuluh atau sebelas malam dan… belum
makan.
“Mau makan masakan Nisa,’ katanya. Memang sejak awal pernikahan Mas Pram selalu istiqamah untuk makan
di rumah dan tampak menghargai usahaku.
Di tengah waktu luang ku sempatkan bersilaturahmi ke rumah Ummu hamzah, Ummu Ibrahim, Mbak Ulfa dan
lain-lain. Dengan senang hati kudengar kiat mengurus rumah tangga. Ya, betapa mulianya tugas ini.
Subhanallah, tugas seorang istra, seorang ibu yang sangat besar kontribusinya dalam pergerakan umat. Woman
behind man in kan sangat berpengaruh.
Oh ya, aku juga sudah siap-siap belajar yang lain. Contohnya masalah kehamilan, merawat anak, pokoknya
banyak.
Hari ini genap setahun pernikahan kami. Jarum jam di ruang tamu menunjukkan pukul 00.00 WIB. Mas pram
belum pulang. Sambil menunggu Mas Pram, aku sibuk muraja’ah hapalanku, sementara kado manis yang
kupersiapkan untuknya kuletekkan begitu saja di meja, tepat di sebelah vas bunga.
Pukul 00.15 Mas Pram pulang. Sapanya riang sekali.
Aku tertawa. “Adak ado buat Mas.”
“Dari siapa?”
“dari ahkwat. “
Mas Pram mengangkat alis,kemudian tersenyum. Sebelum duduk diraihnya bungkusan kado itu… dibukanya.
“Baju?” gumamnya.
‘Ada tulisanna Mas!”
“Dik, Pram ini asli buatan Nisa.”
Salam, Bu Digdo
Mas Pram nyengir. “Baju buatan Nisa?” katanya sekali lagi. Langsung dengan riang dicobanya baju itu. “Besok
Mas Pram pakai.”
“Dan ini buat dik Nisa,” ujarnya tiba-tiba.
Lho? Aku terkejut, Mas Pram mengeluarakan secarik gulungan kertas dari tasnya.
Ku buka pelan-palan gulungan kertas itu. Lho, kok bentuknya kek piagam sih?
“Buat Dinda Nisa, terima kasih untuk kerja kerasnya. Mas selalu ridha.”
Disampaikan untuk istri kebanggaan.
Aku tak bisa menahan tawaku. Mas Pran juga. Oalaa, suamiku ini ada-ada saja. Ia membeli kertas dengan
penghargaan dan menulisnya dengan tinta warna emas untukku.
Sungguh, ya Allah, ridhanya lebih berharga bagiku dari kado apapun pada hari setahun pernikahan kami ini.
Alhamdulillah! Dan di bawah bayangan lampu, kulihat Mas Pram kian cerah.
Tamat
Analisis cerpen “Kado Pernikahan”
• Dalam cerpen “kado pernikahan,” yang menyebabakan
kekontemporeran cerpen tersebut yaitu antitokoh. Cerpenis
menggambarkan watak tokoh yang sangat luar biasa, yang
seharusnya dilakukan oleh setiap individu muslim. Novel yang
dianalisis sebelumnya mengenai pra pernikahan dalam islam.
Namun pada analisis cerpen, penulis memilih cerpen yang
temanya kelanjutan novel tersebut. Kalau pada novel membahas
bagaimana hubungan yang seharusnya dilakukan antara muslim
dan muslimah sebelum diikat pernikahan, tetapi pada cerpen
membahas bagaimana yang dilakukan muslim dan muslimah
setelah pernikahan atau suami istri.
1. Nisa jujur ketika dilamar Mas Pram, ia mengungkapkan segala kekuranganmya. Hal
ini sangat jarang dilakukan oleh masyarakat pada umumnya. Karena mereka
menganggap, tidak baik membuka aib sendiri dan mereka juga khawatir kalau mereka
mengungkakan kekurangannya seperti yang dilakukan Nisa, yang berniat melamarnya
membatalkan niatnya. Padahal yang mereka lakukan itu yang salah dan seharusnya
bertindak seperti Nisa sehingga dalam menjalani kehidupan yang baru tidak ada salah
paham sehingga kemungkinan bercerai sangat kecil. Dan yakinlah apabila kita
bertindak seperti Nisa, Insya Allah keluarga kita akan menjadi keluarga yang sakinah
mawaddah dan warahmah karena ini lah yang sesuai aturan Allah yang menciptakan
kita dan otomatis yang menciptakan kita lebih tau apa yang terbaik untuk yang
diciptakannya, walaupun banyak hamba_Nya yang tidak memahami dan banyak juga
yang mengingkari_Nya dengan mengikuti aturan yang dibuat manusia dan ahirnya
mengalami kekacauan dalam menjalankan hidup.

Dulu waktu pertama kali Mas Pram melamarku sudah ku katakana padanya bahwa aku,
katakanlah sama sekali hampir sama sekali tak menguasai keterampilan kewanitaan.
Sungguh aku nggak bisa masak, nggak bisa jahit, merawat tanaman, atau prakarya
apapun namanya… (Cerpen hlm 1)
Nisa harus meninggalkan kebiasaan buruknya ketika ia masih bersama orang tuanya,dia
berusaha menjalankan itu semua dan meninggalkan pola hidup manja ketika tinggal
dengan orang tua serta dia berusaha lebih baik. Dia harus melakukan semua kewajiban
istri. Dia juga tidak malu belajar akan kekurangannya itu, sehingga pada hari setahun
pernikahan mereka, ia sudah mengalami perubahan yang drastis .
Dua minggu setelah menikah, praktis aku mengurus semua pekerjaan rumah tangga dan
mengurangi jam terbangku selama ini. Kalau ada waktu luang, aku buka resep
makanan,mencari menu yang sehat, lezat,dan murah, lantas mengolahnya. ( Cerpen hlm
2)

Bagaimana, Bu Digdo, Bu Atin? Bagaimana, nih, Bu Roro. Setuju ndak dengan usul
saya tadi?” aku tersenyum. Jadi ibu-ibu saya ajari baca Al-Qur’an. Gratis ya, Bu. Allah
saja yang membalas saya, tetapi sehabis kita belajar Iqra’, bagaimana kalau Ibu-ibu
gentian nolong saya? Mau nggak, Bu?”(Cerpen hlm 5)
Mas Pram mempunyai sifat yang patut di contoh, karena dia melamar atau memperistri
eseorang tidak dilihat dari sisi materi atau ketrampilan tertentu karena menurutnya hal-
hal seperti itu bisa dipelajari. Dia lebih mementingkan hal-hal yang benar-benar
mendasar sebagaimana tujuan kita di dunia ini hanyalah tempat persinggahan menuju
alam abadi-akhirat. Setelah menikah, ia konsekwen dengan janjinya untuk menerima
Nisa dengan kekurangannya. Walaupun masakan istrinya bisa dikatakan tidak enak,
tetepi ia tetap menghargai usaha istrinya , hal itu ditunjukkan dengan tindakannya yang
selalu makan di rumah.
Dia Cuma tertawa dan mengatakan bahwa manusia itu berproses dan bisa bila belajar.
“Pokonya yang paling penting kita bisa jihad bareng!” katanya waktu itu. (Cerpen hlm
1)

“Mau makan masakan Nisa,” katanya. Memang sejak awal pernikahan Mas Pram selalu
istiqamah untuk makan di rumah dan tampak menghargai usahaku. (Cerpen hlm 7)
2. Tepat setahun pernikahan mereka,mereka saling member hadiah tanpa kesepakatan
terlebih dahulu. Hal ini yang jarang terjadi, karena hari setahun tepat pernikahan
mereka, mereka anggap momen yang tepat untuk introfeksi sekaligus motivasi. Sang
istri memberikan kado dari hasil kerja kerasnya sehingga dia dapat memberikan kado
sepotong baju yang dibutnya sendiri, sedangkan Mas Pram memberi kertas yang did
lam nya berisikan penghargaan atas kerja keras Nisa.

Mas Pram nyengir. “Baju buatan Nisa?” katanya sekali lagi. Langsung dengan riang
dicobanya baju itu. “Besok Mas Pram pakai.” (Cerpen hlm 8)

Ia membeli kertas dengan penghargaan dan menulisnya dengan tinta warna emas
untukku. (Cerpen hlm 8)
Sekian