0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
570 tayangan41 halaman

Refkas Tic Facialis

Pasien wanita berusia 56 tahun datang dengan keluhan wajah bagian kanan berkedut. Pemeriksaan menemukan gejala khas tic fasialis seperti kontraksi otot wajah secara involunter. Diagnosis yang ditetapkan adalah tic fasialis idiopatik yang akan diobati dengan kombinasi terapi medikamentosa dan non-medikamentosa seperti fisioterapi.

Diunggah oleh

Umam Junior
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPTX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
570 tayangan41 halaman

Refkas Tic Facialis

Pasien wanita berusia 56 tahun datang dengan keluhan wajah bagian kanan berkedut. Pemeriksaan menemukan gejala khas tic fasialis seperti kontraksi otot wajah secara involunter. Diagnosis yang ditetapkan adalah tic fasialis idiopatik yang akan diobati dengan kombinasi terapi medikamentosa dan non-medikamentosa seperti fisioterapi.

Diunggah oleh

Umam Junior
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPTX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

REFLEKSI KASUS

PEMBIMBING :
dr. Hj. Ken Wirastuti, Sp.S, M. Kes, KIC
Oleh:
Alnia Rindang Khoirunisya
30101306863

KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT SARAF


RUMAH SAKIT ISLAM SULTAN AGUNG
FAKULTAS KEDOKTERANUNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG
 Nama : Ny. VS
 Umur : 56 tahun
 JenisKelamin : Perempuan
 Status : Menikah
 Agama : Islam
 Pekerjaan : Guru
 Alamat : Pondok raden patah
 No. RM : 1222***
 Tgl Masuk RS : 23-10-2018
Autoanamnesis dilakukan pada tanggal 23 Oktober 2018 di
Poli Saraf RSI Sultan Agung.

Keluhan Wajah sebelah


Utama kanan berkedut
Pasien datang ke poli saraf RSI Sultan Agung dengan keluhan
wajah sisi sebelah kanan berkedut. Keluhan dirasakan pasien
sejak 3 tahun yang lalu. Kedutan tersebut muncul terutama
saat pasien kecapekan dan saat mengajar. Keluhan ini hilang
timbul, kadang timbul 10-15 kali sehari dan timbulnya bisa
tiba-tiba tanpa rangsangan. Kedutan yang dirasakan pasien
juga sampai ke punggung. Tiba – tiba punggung seperti
ditusuk - tusuk setelah itu gringgingan lama kelamaan
kedutan dan setelah itu nggedibel. Tetapi setelah dilakukan
botox keluhan menjadi berkurang.
Riwayat Penyakit Keluarga

Riwayat sakit serupa: (-)


Riwayat hipertensi : (-) Keluarga pasien
Riwayat kencing manis: (-) tidak ada yang
Riwayat stroke : (-)
Riwayat kejang : (-)
sakit seperti ini
Riwayat alergi obat : (-)
Riwayat Sosial Ekonomi

Pasien adalah seorang


guru di SMK demak.
Biaya pengobatan
dengan menggunakan
BPJS
Kesan ekonomi cukup
Pemeriksaan fisik dilakukan pada tanggal
Tanggal 23 Oktober 2018 jam 10.00 WIB
di Poli Saraf
Kesadaran :
Composmentis

Tanda-tanda vital :
Tekanan darah : 118/68 mmHg
Nadi : 73 x/menit
RR : 20 x/menit
Suhu : 36.8 °C
Mesocephal Pupil bulat, bentuk bentuk Pucat (-)
isokor, refleks normal, normal, Sianosis (-)
cahaya (+/+) serumen sekret
normal, (-/-), bening
konjungtivitis discharge (-/-), nafas
(-/-), sklera (-/-) cuping
ikterik (-/-), hidung (-),
epistaksis
(-/-)
sianosis (-), simetris,
pendarahan gusi pembesaran
(-), sariawan(-) kelenjar limfe (-).
Thorax
Paru – paru
 Inspeksi : Hemithorax Jantung
dextra dan sinistra simetris  Inspeksi : Pulsasi
inspirasi dan ekspirasi, iktus kordis tidak terlihat
retraksi (-)  Palpasi : Iktus
 Auskultasi : Suara dsar cordis teraba
vesikuler +/+, ronchi -/-,  Auskultasi : Bunyi
wheezing -/- jantung I II regular,
 Palpasi : krepitasi (-) murmur (-), gallop (-)
 Perkusi : Pemeriksaan  Perkusi : tidak dilakukan
tidak dilakukan

Kesan : Dalam batas normal


Abdomen
 Inspeksi : Datar
 Auskultasi : Bising usus (+) normal
 Palpasi : Supel, massa (-), defance muskular (-)
turgor kembali cepat
 Perkusi : Timpani (+), pekak alih (-), pekak sisi (-)

Kesan : Dalam batas normal


Ekstremitas :
Superior Inferior

Sianosis -/- -/-

Edema -/- -/-

Akral dingin -/- -/-

Capillary refill time < 2”/ < 2” < 2”/ < 2”


 GCS : E4 V5 M6
 Meningeal Sign :
Kaku kuduk : (-)
Kernig sign : (-)
Brudzinki I-IV : (-)
Nervi Cranialis
 N.I ( OLFAKTORIUS)
Subjektif : anosmia (-)
Dengan bahan : tidak dilakukan
 N II ( OPTIKUS)
tajam penglihatan : tidak dilakukan
lapang penglihatan : normal
melihat warna : normal
funduskopi : tidak dilakukan
Dx Sx
Pergerakan bulbus N N
Nistagmus - -
Eksoftalmus - -
Strabismus - -
Pupil bulat,isokor,ø bulat,isokor,ø 3mm
3mm
Refleks terhadap + +
sinar
Refleks + +
konvergensi
 Sensibilitas taktil dan nyeri muka: normal,
simetris
 Membuka mulut : bisa, simetris
 Mengunyah : bisa, simetris
 Menggigit : bisa, simetris
 Refleks kornea : +/+
Dx Sx
Mengerutkan dahi + +
Menutup mata + +
Menahan rangsang + +
membuka mata

Menyeringai + +
Mencucu/bersiul + +
Pengecapan lidah tidak dilakukan tidak dilakukan
2/3
Dx Sx
Tes Bisik + +
TES WEBER tidak tidak
dilakukan dilakukan
TES RINNE tidak tidak
dilakukan dilakukan
N IX (GLOSSOPHARINGEUS)
 Pengecapan 1/3 posterior lidah : tidak
dilakukan
 Arkus faring : normal, simetris
 Sengau : (-)
N X ( VAGUS )
 Arkus faring : simetris
 Berbicara : sengau (-)
 Menelan : normal
N XI (ACCESORIUS )
 Mengangkat bahu : +/+
 Memalingkan kepala : simetris
N XII ( HYPLOGOSSUS )
 Pergerakan lidah : normal
 Tremor lidah : (-)
 Artikulasi : normal
 Lidah : simetris
 Pemeriksaan Motorik  Refleks Fisiologis
• Kekuatan otot : • Biseps +/+
Superior 5/5, Inferior 5/5 • Triseps +/+
• Tonus :  Refleks Patologis
Superior N/N, Inferior N/N • Hoffman (-/-)
 Pemeriksaan Sensorik • Tromner (-/-)
• Raba :Superior N/N, • Babinski (-/-)
Inferior N/ N
• Chaddok (-/-)
• Nyeri : Superior N/N,
inferior N/N
• Diskriminasi 2 titik :
Superior N/N, Inferior N/N
• Lokalisasi :
Superior N/N, Inferior N/ N
DD Plan Terapi:
- Tic Facialis  Medikamentosa :
- Facial Myokimia  Topamax 50 mg 1x1
- Hemifacial spasme  Non medikamentosa
 Konsul ke ahli RM untuk
Assessment : fisioterapi dan
 Diagnosa klinis : menjalankannya secara
Wajah kanan kedutan rutin (Infra red
 Diagnosa topik : superficial saat fase akut
Nervus Facialis dan Massage lembut)
 Diagnosa etiologi :  Terapi Lain:
Tic Facialis  BOTOX (Botulinum Toxin)
Plan Monitoring : Plan Edukasi :
 - Keadaan umum  menjelaskan kepada
 - Tanda vital pasien dan keluarga
 - Perbaikan gejala dan tentang penyakitnya
tanda  dianjurkan untuk tidak
sering terkena angin,
istirahat cukup dan
minum obat teratur
 kontrol ke dokter secara
rutin
 menghindari faktor
resiko (penggunaan
kipas angin yang
langsung mengenai
wajah)
 Quo ad vitam : dubia ad bonam
 Quo ad sanam : dubia ad bonam
 Quo ad fungsionam : dubia ad bonam
TIC FASIALIS

Karakteristik:
Bersifat :
adanya kontraksi
Movement disorders gerakannya setempat pd
involunter otot wajah otot tertentu, sejenak,
yang dipersarafi oleh namun berkali-kali.
saraf VII (N.fasialis)
 Diperburuk stres/ tekanan,
kemarahan, kegelisahan dan kelelahan
 Dikurangi  relaksasi dan tidur
 Timbul setelah umur 40 tahun, dapat
terjadi pada anak-anak & lebih sering pd
wanita.
TIC FASIALIS

gerakan involunter, Syaraf cranial ke VII (N.VII)


mendadak,cpt,singkat, yang mempersarafi daerah
streotipik,konvulsif,tak wajah.
berirama, kepribadian normal
 wanita: laki-laki = 3:1
 anak-anak dan dewasa
 gejala awal muncul 5-10 thn, prevalensi
tinggi 9-11 thn, dewasa dekade 4
• Distonia Torsi
• Neuroakantosis
HEREDITER • Penyakit Huntington
• Penyakit Wilson

• Infeksi (Chorea
sydenham, ensefalitis)
DIDAPATKAN • Obat-obatan (levodopa,
timulan, neuroleptik)
(ACQUIRED) • Stroke
• Toksin
• Trauma Kepala
TIC

MOTOR PHONIC

Simple/sederhana komplek/kronik Simple/sederhana Komplek/kronik


Transient

Kronik
Tipe gg.tic
motor/ vocal

Sindrome
tourette
 Pembuluh darah yang mengkompresi nervus fasialis 
Vaskular
 Berulang-ulang idopatik
 Gerakan involunter 
Gerakan
involunter

Akibat lesi difus


Hilangnya
pd puntamen &
aktivitas inhibisi
globus palidus

Terganggunya
kendali reflek2
Ciri Khas Tic
• Bergelombang ;menguat & melemah
• Dieksaserbasi oleh stress, cemas &
kelelahan
• Tdk tjd saat tidur
• Didahului “sensasi aneh”
• Setelah muncul lega
Gejala tic fasialis:
1. Berkedutan intermitten dari otot kelopak mata
2. Mata berkedip secara berlebihan
3. Wajah yg berkedut
4. Ekspresi wajah meringis
5. Sudut mulut terangkat
ANAMNESA Px. FISIK DIAGNOSIS

Diagnosa Pasti  sulit ditegakan, hanya


dg px.fisik

 Px.Penunjang  Tidak ada px. penunjang


khusus
 Namun pada keadaan khusus diperlukan
EEG  kejang
Prinsip Farmakoterapi
1. Mulai dari dosis kecil, naikkan perlahan-lahan.
2. Evaluasi efektivitas dan efek samping.
3. Gunakan monoterapi.
4. Gunakan obat lini pertama terlebih dahulu.
5. Tak ada patokan kapan harus menghentikan obat.
6. Bila akan menghentikan obat, hentikan perlahan-lahan.
• Edukasi
Non medikamentosa
• Fisioterapi

• Carbamazepin 600-1200 mg/hr.


• Pelemas otot (baclofen 10-60mg/hr)
• Botulinum toxin injeksi (BOTOX)
Medikamentosa dengan dosis rata-rata 3,22
unit/cm2 secara langsung pada
lokasi nyeri.

• Operasi dekompresi terhadap


Operasi pembuluh darah ( dekompresi
mikrovaskular)
 Terapiobat tdk dpt menghilangkan
semua gejala krn terapi obat
b’tujuan  mengurangi gejala tik
tanpa efek samping obat yang berat

< 10 % mengalami kekambuhan

 Prognosistik fasialis ini adalah baik


(Dubia tergantung etiologi)
1. Anurogo, dito. Clinical Update 2009: Tic.
www.kabarindonesia.com [diakses: Desember 2008]
2. Shprecher, David. Artikel Movement disorder vol 24 issue.
[diakses: Januari 2009]
3. Jasmin Luc,dkk. Facial Tics. MedlinePlus, NIH.
www.nlm.nih.gov [diakses: Februari 2012]
4. Lumbantobing SM. Gangguan Gerak. Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia (FK UI). Jakarta. 2005:3-18.

Anda mungkin juga menyukai