Anda di halaman 1dari 26

Berbagai Cara Memasukkan Faktor Risiko

dalam Penilaian Usul Investasi

• Pendekatan Mean-Standar Deviasi


• Pendekatan Ekuivalen Kepastian
• Pendekatan Tingkat Diskonto yang
Disesuaikan dgn Risiko
• Analisa Sensitivitas
Pendekatan Mean-Standar Deviasi

Pendekatan ini merupakan pendekatan yg


paling langsung memasukkan unsur risiko
ke dalam kriteria keputusan yang
menggunakan konsep nilai sekarang
(present value).
Contoh soal:
Ada dua proyek: Proyek A dan Proyek B yg
diproyeksikan mempunyai probabilitas arus kas
sbb:
Proyek A Proyek B
Probabilitas Arus Kas Probabilitas Arus Kas

0,30 Rp 3000 0,30 Rp 2000

0,40 Rp 4000 0,40 Rp 4000

0,30 Rp 5000 0,30 Rp 6000


Membandingkan dua usulan proyek

0.50
Probabilias Kejadian

0.40
0.30 Proyek A
0.20 Proyek B
0.10
0.00
2 3 4 5 6 Arus Kas (Ribuan)

Penyebaran Arus-kas proyek B > Penyebaran Arus-kas proyek A,


meskipun arus-kas yg paling besar kemungkinan terjadinya adalah sama
untuk kedua proyek tsb yaitu Rp 4000. Kalau resiko dihubungkan dgn
distribusi probabilitas Arus-kas dari kedua proyek tsb, maka dapat diartikan
bahwa proyek B mempunyai risiko yang paling bsar daripada proyek A.
Oleh karena itu, kita akan lebih menyukai proyek A dibandingkan proyek B.
RUMUS STANDAR DEVIASI:

Ax = Arus-kas untuk kemungkinan X


Px = probabilitas terjadinya arus-kas
Ā = expected value dari arus-kas/mean dari distribusi probabilitas arus-kas

Rumus Expected value atau Mean dari distrbusi probabilitas:


Perhitungan Mean dari Distribusi Probabilitas Arus-kas dan
Standar Deviasi

Proyek A (Ax- Ā )² Px
Probabilita Arus Kas
s (3000-4000)² x 0,30 = Rp 300.000
0,30 Rp 3000 = Rp 900 (4000-4000)² x 0,40 = Rp 0
(5000-4000)² x 0,30 = Rp 300.000
0,40 Rp 4000 = Rp 1600 Variance Rp 600.000
Standar Deviasi Koefisien Variasi
0,30 Rp 5000 = Rp 1500
a = = Rp 775 CVa = 775/4000
600.000 = 0,19
Mean Rp 4000
Proyek B (Ax- Ā )² Px
Probabilitas Arus Kas
(2000-4000)² x 0,30 = Rp 1.200.000
0,30 Rp 2000 = Rp 600 (4000-4000)² x 0,40 = Rp 0
0,40 Rp 4000 = Rp 1600 (6000-4000)² x 0,30 = Rp 1.200.000
Variance Rp 2.400.000
0,30 Rp 6000 = Rp 1800 Standar Deviasi Koefisien Variasi
a =
Mean Rp 4000 2.400.000 = Rp 1.549 CVa = 1549/4000
= 0,39
Kesimpulan:

Dari perhitungan diatas, maka untuk Proyek


B lebih besar daripada proyek A.
Proyek B mempunyai risiko yang lebih besar
daripada Proyek A. Berarti, Proyek A akan
lebih disukai karena risikonya lebih kecil.
Pendekatan Ekuivalen Kepastian
Pendekatan ini merupakan penyesuaian risiko
yang dilakukan secara langsung terhadap arus
kas yang diperkirakan akan terjadi di masa
depan.
Aturan pendekatan ini adalah sama mengenai
diterima/ditolaknya suatu proyek investasi yaitu apabila
“certainty-equivalen NPV” lebih besar daripada nol maka
usul investasi tsb diterima dan sebaliknya kalau kurang
dari nol maka usul investasi tsb selayaknya ditolak.
Cara menghitung Certainty-Equivalent (C.Et) Cash Flow

1. Estimasi arus kas dikurangi dengan sejumlah standar deviasi yang


cukup untuk menjamin bahwa dalam distribusi normal, kemungkinan
kejadiannya akan terjadi dgn pasti.
C.Et = At - 3𝛔
C.Et = Certainty-equivalent untuk periode t
At = Mean cash flow estimate untuk periode t
𝛔 = Standar Deviasi
2. Metode kedua, dengan cara mengurangi mean dari estimasi arus
kas dgn sejumlah kas sebesar koefisien variasi dari estimasi rus kas
tsb.
3. Metode ketiga, dengan cara mengalikan mean dari estimasi arus
kas dengan suatu faktor atau koefisien tertentu yg disebut Certainty
Equivalent Coeficient (CEC).
4. Metode keempat – Time Adjusted Method
CONTOH SOAL:

PERTANYAAN:
Mean dari estimasi arus kas setiap periode selama
3 tahun sebesar Rp 6000 dan standar deviasi
setiap periodenya sebesar Rp 1000.
Atas dasar data tersebut dengan menggunakan
rumus maka besarnya Certainty-equivalent
Cashflow setiap periodenya, yaitu?
Hitunglah Certainty-Equivalent dgn menggunakan
ketiga metode tersebut!
JAWABAN METODE 1:

C.Et = At - 3𝛔
= Rp 6000 – 3 (Rp 1000)
= Rp 3000
Apabila memerlukan jumlah investasi Rp 10.000 dan
tingkat diskonto bebas risiko 10% maka “certainty
equivalent NPV” menjadi:
NPV = -10.000 + 3000 + 3000 + 3000
(𝟏, 𝟏𝟎)𝟏 (1,10)² (1,10)³
= - Rp 2540
**Bila Certainty Equivalent NPV tsb bernilai NEGATIF(-) ,
maka kita akan menolak proyek tersebut.
JAWABAN METODE 2:

Koefisien Variasi = 1000/6000 = 0,167


Maka:
C.Et = Rp 6000 – 0,167 (Rp 6000)
= Rp 4998
Certainty Equivalent NPV:
NPV = -10.000 + 4998 + 4998 + 4998
(𝟏, 𝟏𝟎)𝟏 (1,10)² (1,10)³
= + Rp 2429

**Bila Certainty Equivalent NPV tsb bernilai POSITIF(+),


maka kita akan menerima proyek tersebut.
JAWABAN METODE 3:

Apabila CEC sebesar 0,70 untuk setiap periodenya selama


tiga tahun, maka besarnya Certainty Equivalent NPV
menjadi:
NPV = -10.000+0,70 (6000)+0,70 (6000)+ 0,70(6000)
(𝟏, 𝟏𝟎)𝟏 (1,10)²(1,10)³
= + Rp 445

**Bila Certainty Equivalent NPV tsb bernilai POSITIF(+),


maka kita akan menerima proyek tersebut.
JAWABAN METODE 4:

Misalnya CEC setiap tahunnya selama 3 tahun, maka:


Tahun Pertama CEC1 = 0,70
Tahun Kedua CEC2 = 0,60
Tahun Ketiga CEC3 = 0,50

NPV = -10.000+0,70 (6000)+0,60(6000)+ 0,50(6000)


(𝟏, 𝟏𝟎)𝟏 (1,10)²(1,10)³
= - Rp 953

**Bila Certainty Equivalent NPV tsb bernilai NEGATIF(-) ,


maka kita akan menolak proyek tersebut.
Pendekatan Tingkat Diskonto yang
Disesuaikan dengan Risiko

Tingkat Diskonto
bebas resiko
Risk adjusted
discount rate
Premi Resiko

Definisi : adalah tingkat diskonto yang digunakan untuk


menilai arus kas neto tertentu yang mengandung resiko
atau ketidakpastian yang terdiri dari tingkat diskonto
bebas risiko ditambah dengan premi resiko yang sepadan
dengan tingkat resiko yang melekat pada arus kas neto
tersebut
CONTOHNYA:
Biaya Proyek A dan B: Rp 100.000
Proyek A mengharapkan Arus-kas Rp 20.000/thn selama 8thn
Proyek B mengharapkan Arus-kas Rp 22.000/thn selama 8thn
Karena pasar Produk A lebih Baik dari pasar produk B, maka standar
deviasi Arus-kas Proyek A lebih Kecil daripada Proyek B.
Standar deviasi Proyek A Rp 3000
Standar Deviasi Proyek B Rp 20.000
Karena adanya perbedaan tingkat risiko, maka pemimpin perusahaan
akan menggunakan tingkat diskonto yang berbeda.
Misalkan, tingkat diskonto Proyek A 10% dan Proyek B 14%, maka:
NPVA = -100.000 + (20.000 x 5,335)= 6700
NPVB = -100.000 + (22.000 x 4,639)= 2058
**Maka, tentunya pimpinan perusahaan akan memilih proyek NPV
yang bernilai paling besar yaitu PROYEK A setelah memasukkan
faktor risiko didalamnya
Jawaban...
Dengan Tingkat Diskonto yang berbeda:
NPVA = -100.000 + (20.000 x 5,335) = 6.700
NPVB = -100.000 + (22.000 x 4,639) = 2.053
Kesimpulan : NPV proyek A> NPV Proyek B
Maka proyek yang dipilih oleh pimpinan perusahaan adalah
proyek A
Analisa Sensitivitas
(Sensitivity Analysis)
• Suatu teknik untuk menilai dampak (impact) sebagai
perubahan dalam masing-masing variabel penting
terhadap hasil yang mungkin terjadi (posible outcomes)
• Suatu analisa simulasi dalam mana nilai variable-
variable penyebab diubah-ubah untuk mengetahui
bagaimana dampaknya terhadap hasil yang
diharapkan dalam hubungan ini adalah aliran kas.
• Variabel yang mempengaruhi arus kas suatu proyek:
market size, market share, jumlah unit produksi terjual,
hrga jual/unit, biaya variable/unit,dll
• Makin besar variabel berpengaruh pada keuntungan
suatu proyek
Contoh soal...
Biaya investasi Rp. 160.000,-
Umur Ekonomis 8 tahun
Tahun 0 Tahun 1-8
Investasi Rp. 160.000,-
1. Penjualan (100rb unit) Rp. 100.000,-
2. Biaya Variabel Rp. 30.000,-
3. Biaya Tetap selain depresiasi Rp. 30.000,-
4. Depresiasi Rp. 20.000,-
5. Laba sebelum pajak Rp. 20.000,-
6. Pajak 30% Rp. 6.000,-
7. Laba bersih Rp. 14.000,-
8. Arus kas Neto (4) + (7) Rp. 34.000,-
Tingkat Diskonto yang disyaratkan 10%
8
34.000
𝑁𝑃𝑉 = −160.000 + = +21.387
(1,10)t
𝑡=1

NPV positif = usul investasi


diterima
Estimasi arus kas per tahun kalau ada penurunan jumlah unit terjual
atau penurunan harga jual per unit masing-masing dengan 10%

Unit terjual Harga jual per


turun 10%, unit turun 10%,
variabel lain variabel lain
tetap tetap
1. Penjualan Rp. 90.000,- Rp. 90.000,-
2. Biaya Variabel Rp. 27.000,- Rp. 30.000,-
3. Biaya Tetap selain depresiasi Rp. 30.000,- Rp. 30.000,-
4. Depresiasi Rp. 20.000,- Rp. 20.000,-
5. Laba sebelum pajak Rp. 13.000,- Rp. 10.000,-
6. Pajak 30% Rp. 3.900,- Rp. 3.000,-
7. Laba bersih Rp. 9.100,- Rp. 7.000,-
8. Arus kas Neto Rp. 29.100,- Rp. 27.000,-
NPV -Rp. 4.754,- -Rp. 15.958,-
Kesimpulan

kalau ada penurunan jumlah unit terjual atau


penurunan harga jual per unit masing-masing
dengan 10% akan menjadikan proyek tersebut tidak
layak lagi dilaksanakan karena NPV masing-masing
negativ.
Estimasi arus kas per tahun kalau ada kenaikan biaya variabel per unit
atau kenaikan biaya tetap (tanpa deresiasi) masing-masing 10%

Kalau ada Kalau ada


kenaikan biaya kenaikan biaya
variabel/unit tetap dengan
10% 10%
1. Penjualan Rp. 100.000,- Rp. 100.000,-
2. Biaya Variabel Rp. 33.000,- Rp. 30.000,-
3. Biaya Tetap selain depresiasi Rp. 30.000,- Rp. 33.000,-
4. Depresiasi Rp. 20.000,- Rp. 20.000,-
5. Laba sebelum pajak Rp. 17.000,- Rp. 17.000,-
6. Pajak 30% Rp. 5.100,- Rp. 5.100,-
7. Laba bersih Rp. 11.900,- Rp. 11.900,-
8. Arus kas Neto Rp. 31.900,- Rp. 31.900,-
NPV Rp. 10.138,- Rp. 10.138,-
Kesimpulan

kalau ada kenaikan biaya variabel per unit atau


kenaikan biaya tetap (tanpa deresiasi) masing-
masing 10% akan menjadikan proyek tersebut
tetap layak dilaksanakan meskipun
mengakibatkan penurunan NPV masing-
masing 52%.
Estimasi arus kas per tahun kalau ada kenaikan harga jual dengan
10% dan penurunan unit terjual 15%

1. Penjualan Rp. 93.500,-


2. Biaya Variabel Rp. 25.500,-
3. Biaya Tetap selain depresiasi Rp. 30.000,-
4. Depresiasi Rp. 20.000,-
5. Laba sebelum pajak Rp. 18.000,-
6. Pajak 30% Rp. 5.400,-
7. Laba bersih Rp. 12.600,-
8. Arus kas Neto Rp. 32.600,-
NPV Rp. 13.917,-

proyek tersebut tetap layak dilaksanakan meskipun


mengakibatkan penurunan NPV masing-masing
15%.
Kesimpulan

proyek tersebut tetap layak dilaksanakan


meskipun mengakibatkan penurunan NPV
masing-masing 15%.