Anda di halaman 1dari 8

STADIUM DALAM

ANESTESI
Definisi dan Sejarah
 Stadium dari anestesi didiskripsikan sebagi kehilangan kesadarahn
yang terkontrol dan reversible, yang diinduksi oleh anestesi untuk
dapat dilakukan tindakan operasi
 Tahun 1847 : john Snow, cara mengoptimalkan anestesi inhalasi
dan membagi efek anestesi inhalasi menjadi 5 bagian
 Tahun 1937 : Arthur E Guedel, 4 stadium kedalaman anestesi sesuai
tanda dan gejala
 Tahun 1953 : Joseph F Artusio membagi stage 1 pada gubahan
Guedel menjadi 3 plane
 Tahun 1977 : M.E Tunstall  assessent kedalaman anestesi pada
regional anestesi.
Stadium Anestesi

 Stage 1 : Dimulainya induksi hingga pasien kehilangan


kesadaran. Ditandai dengan pasien kehilangan respon nyeri
hingga disorientasi

 Stage 2 : Dari kehilangan kesadaran hingga dimulainya


“automatic breathing” . Stadium ini ditandai dengan pola
nafas irreguler dengan ada fase “breath holding”. Corneal
refleks (-). Adanya respon batuk dan muntah biasa terjadi
pada stage ini. Stage ini disebut juga fase delirium
Stadium Anestesi
 Stage 3 : stage untuk dimulainya pembedahan, dibagi
menjadi 4 plana. Stage ini ditandai dengan dimulainya
“automatic breathing” hingga paralisis
 Plane 1 : dimulai dari “automatic breathing” hingga berhentinga
gerak bola mata. Refleks bulu mata, refleks konjungtiva an
refleks menelan hilang
 Plane 2 : paralisis otot interkostal, refleks kornea (-),
peningkatan lakrimasi
 Plane 3 : pernafasan dada berkurang dan hilang. Pupil
berdilatasi
 Plane 4 : hilangnya pernafasan dada, tidak ada lakrimasi, pupil
berdilatasi
Stadium Anestesi

 Stadium 4 : anesthetic overdose. Medullary paralisis dengan


respiration arrest dan kolaps pada sistem kardiovaskular
Stadium Anestesi Joseph F Arturio