Anda di halaman 1dari 24

KASUS OPERASI ANAK PADA

ASA I DAN II TERINTEGRASI


DENGAN PRAKTEK
KEPERAWATAN ANESTESI

DISUSUN OLEH :
N O V I A N I D W I W A H Y U N I N G S I H , C A H AYA
N U G R A H E N I , R A C H M A D E W I S A R A S WAT I ,
I N D R I A N A P U S P I TA D E W I , J I H A N S A J I D A H ,
R I S K A W U L A N D A R I , A T I K A FA J R I N
AY U N I N G T YA S , A D E N I A D W I AY U W A N D I R A ,
M U H A M M A D N A U FA L Z A I N , R A H M A W A N A J I S E T O
STATUS FISIK PRA ANESTESI
• Status ASA, sistem klasifikasi fisik adalah suatu sistem
untuk menilai kesehatan pasien sebelum operasi. American
Society of Anesthesiologis (ASA) mengadopsi sistem
klasifikasi status lima kategori fisik yaitu:
• ASA 1, seorang pasien yang normal dan sehat.
• ASA 2, seorang pasien dengan penyakit sistemik ringan
• ASA 3, seorang pasien dengan penyakit sistemik berat
• ASA 4, seorang pasien dengan penyakit sistemik berat yang
merupakan ancaman bahi kehidupan.
• ASA 5, seorang pasien yang hamper mati tidak ada
harapan hidup dalam 24 jam untuk bertahan hidup tanpa
operasi
• Jika pembedahan darurat, klasifikasi status fisik diikuti
dengan “E” (untuk darurat) misalnya “3E”.
• Semakin tinggi status ASA pasien maka gangguan
sistemik pasien tersebut akan semakin berat. Hal ini
menyebabkan respon organ-organ tubuh terhadap obat
atau agen anestesi tersebut semakin lambat, sehingga
berdampak pada semakin lama pulih sadar pasien
(Setiawan, 2010)
TINJAUAN KASUS
PENGKAJIAN
1. Identitas Pasien
• Nama: An. H
• Umur : 2 thn
• Jenis kelamin : Laki-laki
• Agama : Islam
• Suku bangsa : Jawa/Indonesia
• Alamat : Bonganti, 01/03, Purbosari, Temanggung
• No RM : 23 65 xx
• Diagosa pre operasi : Kontraktur Fleksi Manus Digiti 4-5
• Tindakan operasi : Kontraktur Release
• Tanggal operasi : 3 Mei 2017

2. Anamnesa
• Keluhan utama
Keluarga pasien mengatakan anaknya ada benjolan dijari
tangan kiri pada jari manis dan jari kelingking.
• Riwayat penyakit sekarang
Keluarga pasien mengatakan pasien mengalami luka bakar
pada jari tangannya kemudian hanya diobati biasa setelah itu
jari tangan yang kiri bagian jari manis dan kelingking tidak bisa
diluruskan.
• Riwayat penyakit dahulu
Keluarga pasien mengatakan pasien belum pernah
melakukan operasi sebelumnya.
• Riwayat penyakit keluarga
Keluarga pasien mengatakan tidak ada anggota
keluarga yang mempunyai riwayat penyakit hipertensi,
DM, Asma, Jantung dan lain-lain.

3. Pemerikasaan Fisik
A. Kesadaran umum dan tanda vital
• Kesadaran : Compos Mentis
• GCS : E4.V5.M6
• BB : 10 kg
• TB : 101 cm
• RR : 34 x/mnt
•N : 134 x/mnt
B. Status Generalis
• Kepala : Mesocephal, tidak ada hematoma
• Mata : Konjungtiva kemerahan, sklera tidak ikterik, pupil
isokor, reaksi +/+
• Hidung : Patensi +/+, simetris, deviasi (-), secret (-), nafas
cuping hidung (+)
• Mulut : Sianosis (-), gigi goyang (-), gigi belum tumbuh
sempurna, gigi palsu (-)
• Kulit : Kulit teraba tipis
• Telinga : Pendengaran baik, secret (-)
• Leher : JVP tidak meningkat, gerak leher bebas
• Thoraks : bentuk normal, tidak ada kelainan
• Pulmo
1. Inspeksi : Pengembangan paru kanan dan kiri sama
2. Palpasi : Fremitus teraba kanan kiri sama
3. Perkusi : Sonor
4. Auskultasi : Suara nafas vesicular +/+, wheezing -/-, ronckhi
-/-,

• Jantung
1. Inspeksi : Ictus cordis tidak tampak
2. Palpasi : Ictus cordis tidak teraba

3. Perkusi : Batas jantung kesan tidak melebar


• Abdomen
1. Inspeksi : Dinding perut tidak ada jejas, sejajar dengan dinding dada
2. Auskultasi : Bising usus (+) 16x/menit
3. Palpasi : Hepar tidak terab
4. Perkusi : Timpani di kuadran kiri atas

• Ekstremitas
1. Atas : Tidak ada kelemahan otot atau kontraktur dan kekuatan kanan
sama dengan kiri, tangan kiri terpasang cairan infus RL 30 tpm tangan
kiri.
2. Bawah : Tak ada kelemahan otot, odema (-)
• Genetalia : Tidak terpasang kateter
•Pemeriksaan penunjang
•Laboratorium: tanggal 2 Mi 2017
•Darah rutin
Pemeriksaan Hasil Nilai Normal
Hemoglobin 12,1 11.7-15.5 g/dl
Hematokrit 39 35 – 47 %
Leukosit 13,3 3.6 - 11.0 10^3/uL
Trombosit 528 150 – 440 10^3/uL
Eritrosit 5,13 3.80 – 5.20 10^6/uL
MCH 23,6 26 - 34 pg
MCHC 31,6 32 – 36 g/dL
MCV 75,6 80 - 100 fL
Masa Perdarahan(BT) 2.00 1 - 3 menit
Masa Pembekuan (CT) 5.00 2 - 6 menit
Kimia Rutin    
GDS 99 80 - 110 mg/dl
SGOT 12 < 31 U/L
SGPT 11 < 32 U/L
Kreatinin 0.25 0.6 – 1.1 mg/dl
Ureum 10,5 10 - 50 mg/dl
C. Diagnosis Anestesi
• Laki-laki 2 tahun, diagnosa medik Kontraktur manus digiti 4-5
direncanakan dilakukan release kontraktur status fisik ASA I
direncanakan general anestesi dengan teknik Laringeal Mask
Airway (LMA).
PERSIAPAN PENATALAKSANAAN ANESTESI

1. Persiapan Alat
• Persiapan alat general anestesi dengan teknik LMA, alat yang
dipersiapkan : Mesin anestesi, jackson rees, spuit 3cc, 5cc dan
10cc, LMA ukuran 1,5, plester, obat-obat premedikasi dan
induksi.
• Persiapan bedside monitor yaitu tekanan darah, pulse oxymetri
• Oksigen
• Siapkan lembar laporan durante anestesi dan balance cairan
2. Persiapan obat
• Obat untuk Premedikasi
• SA 0,1 mg
• Fentanyl 25mcg
• Sedacum 1,5mg
• Obat Induksi
• Recofol 20mg
• Obat Analgetik
• Antrain 1000 mg
• Cairan infus
• Kristaloid : RL 500ml
3. Persiapan pasien
• Pasien tiba di IBS pukul 08.20 WIB
• Serah terima pasien dengan petugas ruangan, periksa
status pasien termasuk informed consent, dan obat-obatan
yang telah diberikan diruang perawatan.
• Memindahkan pasien ke brankar IBS
• Memperkenalkan diri kepada pasien, mengecek ulang
identitas pasien, nama, alamat dan menanyakan ulang
puasa makan dan minum, riwayat penyakit dan alergi, serta
berat badan saat ini.
• Mengukur tanda-tanda vital
• N : 134x/mnt; RR : 32x/mnt
• Memeriksa kelancaran infus dan alat kesehatan yang
terpasang pada pasien.
• Menanyakan keluhan pasien saat di ruang penerimaan IBS,
dari pasien terlihat takut, cemas dan akan menangis sebelum
menjalani operasi.
• Melakukan pemeriksaan pulmo pasien
• Inspeksi : dada simetris, pasien dalam bernapas
menggunakan pernapasan abdomen.
• Palpasi : vokal fremitus sama kanan dan kiri
• Perkusi : suara sonor
• Auskultasi : Wheezing -/-
• Melaporkan kepada dokter anestesi hasil pemeriksaan di ruang
penerimaan dari kolaborasi dengan dokter anestesi pasien
dipindahkan ke meja operasi.
4. Penatalaksanaan Anestesi
• Penatalaksanaan anestesi di mulai dari memasang alat
pelindung diri (APD), alat monitor, manset, finger Sensor,
memberitahu pasien akan di bius, menganjurkan pasien untuk
berdoa, memulai persiapan dengan menyuntikkan obat
premedikasi, menyuntikan obat induksi, maintenance dengan
obat inhalasi yaitu sevofluran 2%, pengakhiran anestesi dan
oksigenasi sampai dengan perawatan di recovery room.
• Pasien dipindahkan di meja operasi dilakukan pemasangan
monitor tekanan darah, saturasi oksigen , hasil pengukuran
monitor : N: 126 x/mnt; SpO2: 99%; RR : 30x/mnt, pernapasan
spontan.
A. Pemberian obat premedikasi
• Pasien dilakukan pemberian obat premedikasi yaitu fentanyl 25
mcg, sedacum 1,5mg dan SA 0,1 mg. Setelah pemberian obat
premedikasi dilakukan observasi tanda-tanda vital. N : 130
x/mnt; SpO2: 99%; RR : 32x/mnt, pernafasan pasien spontan.
B. Melakukan induksi
• Induksi dengan obat Recofol 20mg 08.40 WIB.
• N : 120 x/mnt; SpO2: 97 %; RR : 30x/mnt, dilakukan
pengecekan rangsang bulu mata, jika sudah tidak ada
rangsang bulu mata kemudian pasien dipasang LMA dan
disambungkan ke mesin anestesi dengan O2 1,5liter/menit, N2O
1,5liter/menit dan agen/ obat inhalasi sevofluran 2%.
• Pasien mulai dilakukan insisi pukul 08.45 WIB yang sebelumnya
dilakukan time out.
• Pasien selesai operasi dilakukan sign out.
• Pukul 09.30 WIB pasien selesai operasi, LMA dilepas dan
dipasang OPA kemudian pasien dipindahkan ke recovery room.
MAINTANANCE
• Maintanance menggunakan:
– O2 : 1,5 liter/menit, N2O 1,5 liter/menit dan sevofluran 2%.
– Balance cairan:
• Maintance (M) = 4 x 10 = 40 cc
• Pengganti Puasa (PP) = 6 jam x 40 = 240 cc
• Stress operasi (SO) = 4 x 10 = 40 cc (operasi sedang)
• Kebutuhan Cairan :
– Jam 1 : M + 1/2PP + SO = 200 cc
– Jam 2 : M + 1/4PP + SO = 140 cc
– Jam 3 : M + 1/4PP + SO = 140 cc
– Jam 4 : M + SO = 80 cc
MONITORING SELAMA OPERASI
Jam N SPO2 O2+N2O Agen inhalasi Respirasi Tindakan
  Memberikan obat premedikasi Fentanyl 25mcg,
08.35 130 99% 4 lt/mnt+ 0lt/menit 32
- sedacum 1,5mg dan SA 0,1 mg
  Melakukan induksi dengan recofol 20mg, tunggu
08.40 120 97% 4 lt/mnt+ 0lt/menit Sevofluran 2% 30 reflek bulu mata hilang kemudian oksigenasi
hiperventilasi 100% lalu pasang LMA.
1,5 lt/mnt+ Sevofluran 2%
08.45 144 97% 36 Operator melakukan insisi
1,5lt/menit
1,5 lt/mnt+ Sevofluran 2%
08.50 140 99% 36 Pemberian antrain 250mg lewat IV
1,5lt/menit
1,5 lt/mnt+ Sevofluran 2%
08.55 145 99% 32  
1,5lt/menit
1,5 lt/mnt+ Sevofluran 2%
09.00 149 99% 34  
1,5lt/menit
1,5 lt/mnt+ Sevofluran 2%
09.05 142 99% 34  
1,5lt/menit
1,5 lt/mnt+ Sevofluran 2%
09.10 150 97% 36  
1,5lt/menit
1,5 lt/mnt+ Sevofluran 6%
09.15 165 99% 38 Pemberian antrain 750mg drip menggunakan RL
1,5lt/menit
1,5 lt/mnt+ Sevofluran 2%
09.20 142 99% 38  
1,5lt/menit
1,5 lt/mnt+ Sevofluran 2%
09.25 140 99% 32  
1,5lt/menit
  Pasien selesai dilakukan tindakan operasi,
09.30 142 99% 4 lt/mnt+ 0lt/menit - 33 melepas LMA dan memasang OPA, kemudian
pasien dipindahkan ke ruang pemulihan
PENGAKHIRAN ANESTESI
• Operasi selesai pukul 09.30 WIB, napas spontan
• Pasien menggunakan OPA
• Monitor tanda vital sebelum pasien di bawa ke ruang
pemulihan N:142 x/mnt; SpO2 : 99 %; RR: 33 x/mnt.
• Pasien dipindahkan ke recovery room dan dilakukan monitor
selama ±20 menit menit lalu dipindahkan ke ruangan.
PEMANTAUAN DI RECOVERY ROOM
• Pasien di RR dilakukan pemantauan tanda vital dan
pengawasan post operasi apakah ada tanda-tanda perdarahan,
perubahan hemodinamik akibat operasi dan anestesi, keluhan
pasien post operasi.

Jam Respiras
N SPO2 O2 Tindakan
JAM i

Pasien tiba di RR dilakukan


09.35 130 99% 2 lt/mnt 32
monitor tanda-tanda vital

09.40 133 99% 2 lt/mnt 30  


09.45 134 98% 2 lt/mnt 30  
09.50 132 99% 2 lt/mnt 32  
09.55 132 99% 2 lt/mnt 33 Pasien di pindahkan ke ruangan
TERIMAKASIH