Anda di halaman 1dari 45

Laporan Kasus

BRONKOPNEUMONIA
FADHILA KHAIRUNNISA
04084821820040

Pembimbing
dr. Azwar Aruf Sp.A, MSc

Bagian/Departemen Anak FK Unsri/RSMH


PENDAHULUAN
D
D
PENDAHULUAN
Bronkopneumonia merupakan radang dari saluran pernapasan
A yang teradi pada bronkus sampai dengan alveolus paru

Pneumonia menjadi masalah di negara berkembang. Insidens


B pada anak <5 tahun di negara maju 2-4 kasus/100 anak,
di negara berkembang 10-20 kasus/100/tahun.

Pneumonia merupakan urutan kedua penyebab kematian pada


C balita setelah diare kematian balita tahun 2007 15,5%

Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) kejadian pneumonia


D sebulan terakhir pada 2007-2,1% mengalami penngkatan
menjadi 2,7% pada tahun 2013.
STATUS PASIEN
D

Alloanamnesis 11 Desember 2018


D
ANAMNESIS
IDENTIFIKASI
Nama : M. Al Ghazali
Umur : 2 bulan
Jenis Kelamin : Laki-laki
Nama Ayah : Hari Satria Usman
Nama Ibu : Putri Karina Prayoga
Bangsa : Indonesia
Alamat : Sako, Palembang
Dikirim Oleh : Datang sendiri ke IGD
MRS Tanggal : 8 Desember 2018 pukul 17.30 WIB
ANAMNESIS

Demam & Batuk

KELUHAN KELUHAN
UTAMA TAMBAHAN

Sesak Nafas
ANAMNESIS
Kisaran 2 hari SMRS, penderita batuk berdahak warnanya
putih kekuningan, jumlahnya tidak banyak, demam (+), dirasakan
tidak terlalu tinggi, suhu tubuh tidak di ukur, tidak ada kejang saat dema
m, muntah (-), BAB dan BAK normal. Tidak terdapat sesak napas.
penderita masih mau minum ASI. Pasien tidak berobat.
Kisaran 1 hari SMRS, penderita masih demam, tidak tinggi,
suhu tidak di ukur, muncul sesak napas yang terjadi terus menerus,
pasien masih batuk berdahak warnanya putih kekuningan, Sesak tidak
di pengaruhi oleh cuaca ataupun posisi. Tidak ada mengi, dan tidak ada
biru di ujung-ujung mulut dan jari. BAB dan BAK normal. Pasien mulai
malas menyusu. Pasien dibawa berobat ke klinik pribadi dokter umum,
kemudian pasien di rujuk ke RSMH. Riwayat kontak dengan penderita
yang batuk lama (-), ada riwayat keluarga yang sering merokok di sekit
ar pasien (ayah). Riwayat menderita batuk lama (-).
Masa Kehamilan: 32 Minggu
Partus : Spontan, pervaginam, 1
langsung menangis Riwayat Kehamilan dan Kelahiran
Tanggal : 23 September 2018
BB : 1700 gram
PB : Lupa
Ditolong : Bidan
Karena BBLR  dirujuk ke RSMH  dirawat di
NICU dan neonatus
R/ ibu demam saat kehamilan (-), R/ ketuban hijau
(-), berbau (-).

ASI: Sejak lahir hingga sekarang. ASI


2 eksklusif (+), tiap 2 jam sekali/hari,
Riwayat Makanan lama 20 menit
Untuk makanan lain belum diberikan
Kesan: Kualitas dan kuantitas baik
3 Umur
Imunisasi Dasar
Umur Umur

BCG - DPT 2 - DPT 3 -


Riwayat Imunisasi - Hepatitis B 2 - Hepatitis B 3 -
DPT 1
Hepatitis B 1 - Hib 2 - Hib 3 -

Hib 1 - Polio 2 - Polio 3 -

Polio 1 - Polio 4 -

Campak -

Kesan: Imunisasi dasar tidak lengkap

4
Riwayat Penyakit Dahulu

Riwayat terdapat penyakit sebelumnya disangkal


PEMERIKSAAN FISIK
STATUS GENERALIS
• Keadaan Umum : Tampak sakit sedang
• Kesadaran : compos mentis
• Nadi : 132 x/menit, reguler, isi
dan tegangan cukup
• Pernapasan : 72 x/menit
• Suhu : 37,8°c

10
PEMERIKSAAN FISIK
STATUS ANTROPOMETRI
• BB: 2,9 kg
• PB: 51 cm
• LK: 35 cm
• BB/U: -3 < z score (severly underweight)
• PB/U: -3 < z score (severly stunted)
• BB/PB: -2 <z score <-3 (gizi kurang)
Kesan: Gizi kurang perawakan sangat pendek

11
PEMERIKSAAN FISIK
PEMERIKSAAN SPESIFIK
• Kepala : Mikrocephali (lingkar kepala 35 cm), rambut hitam
• Mata : Konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik, pupil
isokor 2mm/2mm
• Telinga : Bentuk normal, simetris, otore -/-
• Hidung : Bentuk normal, pernapasan cuping hidung (+)
• Mulut : Mukosa bibir lembab, faring tidak hiperemis, tonsil T1-T1 tenang
• Leher : Simetris, tidak ada deviasi trakea, tidak teraba pembesaran
kelenjar getah bening
• Dada
Pulmo: I: Dinding dada simetris statis dan dinamis, retraksi subcostal (+)
retraksi epigastrium (+)
P: Stem fremitus kanan = kiri
P: Sonor di kedua lapang paru
A:Vesikuler (Normal/Normal), ronkhi basah halus nyaring (+) di
12
basal paru kanan. Wheezing (-/-).
PEMERIKSAAN FISIK
PEMERIKSAAN SPESIFIK
Cor: I: Tidak tampak ictus cordis
P: Iktus cordis tidak teraba
P: Redup, dalam batas normal
A: BJ I dan II reguler, Gallop (-), Murmur (-)
• Alat Kelamin : Tidak ada kelainan
• Ekstremitas : Edema (-), sianosis (-), capillary refill time <3 detik, akral hangat

13
PEMERIKSAAN FISIK STATUS NEUROLOGIKUS

Fungsi motorik Lengan Kanan Lengan Kiri Kaki kanan Kaki kiri
Gerakan Aktif Aktif Aktif Aktif
Kekuatan 5 5 5 5
Tonus Eutoni Eutoni Eutoni Eutoni
Klonus - - - -

Refleks fisiologis Tidak dilakukan pemeriksaan

Refleks patologis Tidak dilakukan pemeriksaan

Gejala rangsang me
Tidak dilakukan pemeriksaan
nigeal
Fungsi motorik Dalam batas normal
Nervi craniales Dalam batas normal
14 Refleks primitif Babinsky (+), palmar grasp (+), plantar grasp (+)
PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan Hasil Nilai rujukan
Hematologi
LABORATORIUM
Hemoglobin 6,7 11.3-14.1 g/dL

Lekosit 14,3 6.0-17.5 103/ul 8 Desember 2018


Eritrosit 2,35 4.4-4.48 106/ul

Hematokrit 21 37-41 %

Trombosit 476 217-497 .103/ul

MCV 87,2 81-95 fL

MCH 29 25-29 fL

MCHC 33 29-31 gr/dL

Diff count
Basofil 0 0-1 %

Eosinofil 3 1-6 %

Netrofil 32 50-70%

Limfosit 53 20-40 %

Monosit 15 2-8%

Kimia Klinik
PEMERIKSAAN PENUNJANG
RONTGEN THORAX
• CTR <50% Normal
• Bentuk jantung normal
• Trakhea ditengah
• Mediastinum superior tidak melebar
• Corakan bronkovaskuler meningkat
• Tampak perselubungan opak dengan air dan
bronchogram (+) pada lapang atas sampai te
ngah paru dextra
• Tulang dan jaringan lunak baik
• Pada posisi lateral kanan: tampak perselubun
gan opak dengan air bronchogram (+) di lapa
ng atas sampai bawah

Kesan: Pneumonia kanan


RESUME
M. Al Ghazali bayi laki-laki usia 2 bulan masuk rumah sakit dengan
keluhan sesak nafas, dan demam yang tidak tinggi. Sesak napas tidak dipen
garuhi oleh posisi dan suhu. Sesak napas disertai batuk berdahak.
Pasien kemudian datang ke IGD RSMH pada tanggal 8 Desember 201
8. Keadaan umum pasien tampak sakit sedang, anak tampak gelisah. Tampak
sesak, nafas cuping hidung (+), retraksi subcostal dan epigastrium (+). Pasi
en juga mengalami batuk berdahak. Dari pemeriksaan fisik, didapatkan suara na
fas ronkhi basah halus nyaring pada basal paru kanan, frekuensi napas me
ningkat. Pada pemeriksaan penunjang rontgen thorax didapatkan kesan pneum
onia kanan. Pasien tidak pernah menderita penyakit ini sebelumnya dan tidak a
da keluarga yang menderita penyakit yang sama.

17
DAFTAR MASALAH

Sesak Nafas Batuk Demam

Gizi
Anemia
Anemia kurang
DIAGNOSIS BANDING

Bronkopneumonia Bronkiolitis Asma

DIAGNOSIS KERJA

Bronkopneumonia + Anemia e.c penyakit kronis


TATALAKSANA
Pemeriksaan Diet
Non-Farmakologi Farmakologis
Anjuran

Pemeriksaan darah Pemasangan nasal • IVFD D5 ¼ NS 14-20 cc / jam ASI via NGT
rutin, AGD kanul 1 lpm • Inj Ampisilin 3x 200 mg IV 12x30 cc
• Inj Gentamisin 1x 15 mg IV
• Paracetamol 50 mg iv drop
bila suhu diatas 38.5 C
• PRC 1x 15 cc selesai
(9/12/2018)

1. Bila anak demam, beri minum ASI yang cukup, di kompres


dan beri obat penurun panas
2. Pada saat menyusui, posisi anak harus setengah duduk,
Edukasi
tidak boleh sambil ibu berbaring atau anak berbaring
1. Bila anak bertambah sesak (RR > 50x/menit) maka semen
tara anak dipuasakan telebih dahulu dan dipasang NGT
PROGNOSIS

Quo ad vitam : dubia ad bonam


Quo ad functionam : dubia ad bonam
Quo ad sanationam : dubia ad bonam
TINJAUAN PUSTAKA
D
D
DEFINISI
1. Pneumonia  infeksi akut parenkim paru yang meliputi alveolus dan jaringan inter
stisial
2. Bronkopneumonia  peradangan akut dari parenkim paru pada bagian distal bro
nkiolus terminalis dan meliputi bronkiolus respiratorius, duktus alveolaris, sakus alv
eolaris, dan alveoili

EPIDEMIOLOGI
SKN (2001) 27,6% angka kematian bayi dan 22,8%
kematian balita
1/5 kematian
anak di seluruh Insidens di negara berkembang 30% pada balita dengan
dunia (± 2.000.000) resiko kematian tinggi (10-20 kasus/100 anak tahun)
meninggal tiap tahun
Pneumonia menyebabkan lebih dari 5 juta kematian
/tahun pada balita di negara berkembang
ETIOLOGI Usia
Lahir - 20 hari
Etiologi yang sering
Bakteri
Etiologi yang jarang
Bakteri
E.Colli Bakteri anaerob
Penyebab Streptococcus grup B Streptococcus grup D
bronkopneumonia adalah; Listeria monocytogenes Haemophillus influenza
Streptococcus pneumonie
1. Mikroorganisme (virus
Virus
, bakteri, jamur) CMV
2. Penyebab lain HMV
• Hidrokarbon 3 miggu – 3 bulan Bakteri Bakteri
Clamydia trachomatis Bordetella pertusis
• Masuknya makanan, mi Streptococcus pneumoniae Haemophillus influenza tipe B
numan, susu, isi lambu Virus Moraxella catharalis
ng ke dalam saluran pe Adenovirus Staphylococcus aureus
rnafasan (aspirasi) Influenza Virus
Parainfluenza 1,2,3 CMV
4 bulan – 5 tahun Bakteri Bakteri
Clamydia pneumonia Haemophillus influenza tipe B
Mycoplasma pneumoniae Moraxella catharalis
Streptococcus pneumoniae Staphylococcus aureus
Virus Neisseria meningitides
Adenovirus Virus
Rinovirus Varisela Zoster
Influenza
Parainfluenza
KLASIFIKASI
Klasifikasi Anak usia < 2 bulan Anak usia 2 bulan – 5 tahun
Pneumonia Sangat  Kesadaran turun, letargis  Kesadaran turun, letargis
Berat  Tidak mau menetek / minum  Tidak mau minum
 Kejang  Kejang
 Demam atau hipotermia  Sianosis
 Bradipnea atau pernapasan iregul  Malnutrisi
er
Pneumonia Berat  Napas cepat  Retraksi (+)
 Retraksi yang berat  Masih dapat minum
 Sianosis (-)
Pneumonia Ringan  Takipnea
 Retraksi (-)
PATOGENESIS
GEJALA KLINIS
1. Menggigil mendadak, demam yang tinggi dengan cepat dan
berkeringat banyak
2. Nyeri dada seperti ditusuk yang diperburuk dengan pernafasan dan
batuk.
3. Sakit parah dengan takipnea jelas (25 – 45/menit) dan dispnea.
4. Nadi cepat dan bersambung
5. Bradikardia relatif ketika demam menunjukkan infeksi virus, infeksi
mycoplasma atau spesies legionella.
6. Sputum purulen, kemerahan, bersemu darah, kental atau hijau
relatif terhadap preparat etiologis.
7. Tanda-tanda lain: demam, krakles, dan tanda-tanda konsolidasi
lebar
PEMERIKSAN FISIK
1. Pada nafas terdapat retraksi otot epigastrik, interkostal,
suprasternal, dan pernapasan cuping hidung.
2. Pada palpasi ditemukan stem fremitus yang simetris.
3. Konsolidasi yang kecil pada paru yang terkena tidak menghilangkan
getaran fremitus selama jalan napas masih terbuka, namun bila terjadi
perluasan infeksi paru (kolaps paru/atelektasis) maka transmisi
energi vibrasi akan berkurang.
4. Pada perkusi tidak terdapat kelainan dan pada auskultasi
ditemukan crackles sedang nyaring.
Crackles;
1. Bunyi non musikal, tidak kontinu, interupsi pendek dan berulang (spektrum frekuensi 200-2000 Hz)
2. Bisa bernada tinggi ataupun rendah  tergantung tinggi rendah frekuensi
3. Bisa keras atau lemah  tergantung amplitudo osilasi
4. Halus atau kasar  tergantung mekanisme terjadinya
Crackles gelembung-gelembung udara yang melalui sekret jalan napas/jalan napas kecil tiba-tiba
terbuka
PEMERIKSAAN PENUNJANG
LABORATORIUM
Peningkatan leukosit, neutrofil predominan (shift to the
left), peningkatan LED. AGD  hipoksemia dan
hipokarbia. Stadium lanjut dapat terjadi asidosis
respiratorik
FOTO RADIOLOGI
1. Infiltrat interstisial  peningkatan corakan bronkovaskular
2. Infiltrat alveolar  konsolidasi paru dengan bronchogram
3. Bronkopneumonia  gambaran difus merata pada kedua
paru (bercak-bercak infiltrat)

CRP (C-Reactive Protein)


Kadar CRP lebih rendah pada infeksi virus dan infeksi
bakteri superifisialis daripada infeksi bakteri profunda.
CRP kadang digunakan untuk evaluasi respon terhadap
antibiotik
PEMERIKSAAN MIRKOBIOLOGIS
Dilakukan pada pnuemonia berat yang dirawat dirumah
sakit.
DIAGNOSIS
ANAMNESIS PEMERIKSAAN FISIK
1. Batuk kering  produktif 1. Keadaan umum anak (RR,
dengan dahak purulen HR, kesadaran)  yang
2. Sesak nafas menyebabkan anak rewel
3. Demam 2. Kemampuan makan dan
4. Kesulitan makan/minum minum
5. Tampak lemah 3. Gejala distress nafas
4. Demam dan sianosis

Pada balita tidak menunjukkan gejala pneumonia


klasik.
PEMERIKSAAN PENUNJANG Demam dan sakit akut  gejala nyeri yang diproye
ksikan ke abdomen.
1. Pemeriskaan Radiologi Pada neonatus gejala pernapasan tak teratur dan
2. Pemeriksaan Laboratorium hiponea
3. Pemeriksaan CRP
4. Pemeriksaan Mikroskopis
DIAGNOSIS BANDING
Diagnosis Gejala klinis yang ditemukan
Bronkiolitis - Episode pertama wheezing pada anak umur < 2 tahun
- Hiperinflasi dinding dada
- Ekspirasi memanjang
- Gejala pada pneumonia juga dapat dijumpai kurang atau tidak ada
respon dengan bronkodilator
Tuberculosis (TB) - Riwayat kontak positif dengan pasien TB dewasa
- Uji tuberculin positif (≥10 mm, pada keadaan imunosupresi ≥ 5 mm)
- Pertumbuhan buruk/kurus atau berat badan menurun
- Demam (≥ 2 minggu) tanpa sebab yang jelas
- Batuk kronis (≥ 3 minggu)
- Pembengkakan kelenjar limfe leher, aksila, inguinal yang spesifik.
- Pembengkakan tulang/sendi punggung, panggul, lutut, falang.

Asma - Riwayat wheezing berulang, kadang tidak berhubungan dengan batuk dan
pilek
- Hiperinflasi dinding dada
- Ekspirasi memanjang
- Berespon baik terhadap bronkodilator
TATALAKSANA
Bayi Anak
Saturasi oksigen < 92%, sianosis Saturasi oksigen <92%, sianosis
Frekuensi napas > 60 kali/menit Frekuensi napas > 50 kali/menit
Distres pernapasan, apnea intermite Distres pernapasan
n, atau grunting
Tidak mau minum/menetek Grunting
Keluarga tidak bisa merawat di ruma Terdapat tanda dehidrasi
h
Keluarga tidak bisa merawat di r
umah

Dasar tatalaksana Pengobatan kausal Tindakan Suportif

Antibiotik untuk comunity acquired pneu Tindakan suportif meliputi;


Pengobatan kausal monia 1. Pemberian cairan IV
Terapi antibiotik yang se 1. Neonatus – 2 bulan  ampisilin dan ge 2. Terapi oksigen
suai berdasarkan etiologi ntamisin 3. Koreksi gangguan keseimbanga
penyebab dengan perti 2. >2 bulan n asam basa, eletrolit dan gula
mbangan usia dan a. Lini pertama -> ampisilin  kloramf darah
gejala klinis enikol (apabila tidak ada perbaikan) 4. Nyeri dan demam  antipirektik
b. Lini kedua  seftriakson /analgetik
TATALAKSANA
PNEUMONIA RAWAT INAP

1. Beri ampisilin/amoksisilin (25-50 mg/kgBB/kali IV atau IM setiap 6 jam),  dipantau 24 jam


selama 72 jam pertama.  respon baik, diberikan 5 hari  terapi dilanjutkan di rumah atau di
rumah sakit dengan amoksisilin oral (15mg/kgBB/kali diberikan 3 kali sehari) untuk 5 hari berik
utnya.
2. Bila keadaan klinis memburuk sebelum 48 jam atau terdapat keadaan berat ditambahkan
kloramfenikol (25 mg/kgBB/kali IM atau IV setiap 8 jam).
3. Bila pasien datang dengan keadaan klinis berat  berikan oksigen dan pengobatan kombi
nasi ampisilin-kloramfenikol atau ampisilin-gentamisin. Sebagai alternatif, beri seftriakson (80-
100 mg/kgBB IM atau IV sekali sehari).
4. Apabila diduga pneumonia stafilokokal, ganti antibiotik dengan gentamisin (7,5 mg/kgBB I
M sekali sehari) dan kloksasiklin (50 mg/kgBB IM atau IV setiap 6 jam) atau klindamisin (15 m
g/kgBB/hari-3 kali pemberian)  keadaan anak membaik, lanjutkan klosasiklin (atau diklosasi
klin) secara oral 4 kali sehari sampai secara keseluruhan mencapai 3 minggu, atau klindamisi
n secara oral selama 2 minggu
PEMILIHAN ANTIBIOTIK INTRAVENA UNTUK PNEUMONIA
TATALAKSANA
TATALAKSANA UMUM
1. Pasien dengan saturasi oksigen < 92% pada saat bernapas dengan udara kamar, harus
diberikan terapi oksigen dengan kanul nasal, head box, atau sungkup untuk
mempertahankan saturasi oksigen >92%
2. Pada pneumonia berat atau asupan per oral kurang, diberikan cairan intravena dan
dilakukan balans cairan ketat
3. Fisioterapi dada tidak bermanfaat dan tidak direkomendasikan untuk anak dengan
pneumonia
4. Anitipiretik dan analgetik dapat diberikan untuk menjaga kenyaman pasien
(Paracetamol 10-15 mg/kgBB/kali)
5. Nebulisasi dengan ß2 agonis dan/atau NaCl dapat diberikan untuk memperbaiki
mucocilliary clearance
6. Pasien yang mendapatkan terapi oksigen harus diobservasi setidaknya setiap 4 jam
sekali, termasuk pemerikaan saturasi oksigen
KOMPLIKASI
Akumulasi
Abses Bakteremia Kematian
cairan
• Penumpukan • Pengumpulan • Muncul • <3% penderita
cairan di pus (nanah) apabila infeksi yang dirawat
pleura dan pada area pneumonia di rumah sakit
bagian bawah terinfeksi menyebar dari dan <1 %
dinding dada pneumonia paru dan penderita
Efusi Pleura masuk ke dirawat
dan Empiema perdaran dirumah
darah  meninggal
dapat dunia
menyebar ke
organ lain
PROGNOSIS
Sembuh total, mortalitas kurang dari 1 %, mortalitas
bisa lebih tinggi didapatkan pada anak-anak dengan keadaan
malnutrisi energi-protein dan datang terlambat untuk
pengobatan.
ANALISIS KASUS
D
D
ANALISIS KASUS

M. Al Ghazali, bayi laki-laki usia 2 bulan 18 hari masuk rumah sakit


melalui IGD dengan keluhan utama sesak napas sejak kisaran 1 hari
yang lalu. Pasien juga menderita demam subfebris (37,8oC). Pasien juga
tampak lemas dan mulai malas menyusu. BAK dan BAB tidak ada
kelainan. 2 hari sebelum masuk rumah sakit pasien menderita batuk
berdahak. Riwayat menderita penyakit yang sama sebelumnya
disangkal. Tidak ada riwayat kontak dengan orang dengan batuk lama
sebelumnya. Keluarga ada yang merokok disekitar pasien yaitu ayahnya.
Riwayat keluhan yang sama sebelumnya disangkal. Dari riwayat penyakit
keluarga tidak ada yang mempunyai riwayat atopi atau asma.
Analisa Kasus
Anamnesis Pemeriksaan Penunjang
 Didahului dengan batuk b  Rontgen thorax:
erdahak Tampak corakan bronkovaskular, tampak pers
 Demam elubungan opak dengan air bronchogram (+)
 Tampak sesak
 Anak tidak mau menyusu

Pemeriksaan Fisik
 RR meningkat
 Napas cuping hidung (+),
retraksi (+)
 Ronki basah haus nyarin
g (+)
ANALISIS KASUS

Penatalaksanaan pada pasien ini antara lain yaitu terapi oksigen, pemberian
cairan sesuai kebutuhan, dan jika terdapat sekresi hidung yang berlebihan m
aka dapat dikoreksi dengan nebulisasi normal saline. Selain itu juga perlu dila
kukan koreksi asam basa elektrolit. Untuk terapi antibiotik, diberikan berdasar
kan umur, keadaan umum penderita dan etiologi penyakit yang di evaluasi set
iap 48-72 jam.
Antibiotik diberikan sesuai protokol rekomendasi UKK respirologi untuk terapi
pneumonia pada pasien 0-2 bulan yakni diberikan kombinasi antibiotik Ampisi
lin-gentamicin. Ampisilin (50-100 mg/kgBB) diberikan 4 kali sehari Gentamisin
(5-7 mg/kgBB) diberikan 1-2 kali sehari. Jika terdapat demam, maka diberika
n paracetamol dengan dosis 10-15 mg/kgBB/kali.
TERIMA KASIH
D
D
pertanyaan
D
D