Anda di halaman 1dari 35

Good Corporate

Governance (GCG)
and Stakeholders

Wina Widia - 10090318038


Febianty Mira G - 10090318039
Alya Amar Ilmi - 10090318041
ETIKA ?
 Etika
 Tindakan Benar atau salah, Baik
atau buruk yang mempengaruhi 2
orang lain
 Perilaku Etis
 Etika berdasarkan perilaku
umum yang berlaku di
masyarakat
Pertimbangan Etika
 Menurut tindakan tertentu:
 Utilitas : apakah dapat dipercaya sebagai .
yang terbaik untuk semua orang yang
dipengaruhi ?
3
 Hak : apakah sudah menunjukkan hak-hak
yang wajar untuk yang terlibat?
 Keadilan : apakah sudah konsisten dengan
apa yang disebut adil?
 Peduli : apakah konsisten dengan
tanggungjawab terhadap satu sama lain nya?
Etika Bisnis
Adalah penerapan etika
dalam kegiatan bisnis
bidang kajiannya dapat dikatagorikan dalam
level makro, level mikro, level individu dan
level internasional.
4

sebagai proses rasional dalam


menilai standar moral yang
diterapkan dalam kegiatan bisnis
Ciri-Ciri Etika Bisnis

▹ Dilihat dari segi objek


pembahasannya.
▹ Dilihat dari segi sumbernya.
5

▹ Dilihat dari segi fungsinya


▹ Dilihat dari segi sifatnya
PRINSIP ETIKA BISNIS
 Otonomi (bebas, tanggung jawab,
moralitas)
 Kejujuran (perjanjian, penawaran 6

barang, dan hubungan kerja)


 Keadilan
 Saling menguntungkan
 Integritas moral
Landasan moral bisnis

▹ Bisnis merupakan bagian penting


dari kehidupan masyarakat
modern, bahkan negara juga 7
sangat berkepentingan terhadap
bisnis. Dengan demikian bisnis
bukan merupakan bagian yang
terpisah dari masyarakat.

Tujuan etika bisnis adalah untuk
menjalankan dan menciptakan
sebuah bisnis seadil mungkin
serta menyesuaikan hukum yang
sudah dibuat guna
menghilangkan ketergantungan
pada sebuah kedudukan individu
maupun perusahaan.

8

Tujuan etika bisnis bagi
pengusaha adalah untuk
mendorong kesadaran moral dan
memberikan batasan-batasan
bagi para pengusaha atau pelaku
bisnis untuk menjalankan good
business dan tidak melakukan
monkey business atau dirty
business. Di mana, hal itu dapat
merugikan banyak pihak yang
terkait.

9
Landasan moral bisnis dalam
islam
 Posisi strategis bisnis
 “bekerja mencari yang halal itu kewajiban
setelah kewajiban beribadah” (HR.Ath
Thabrani & Baehaqi)
 “sesungguhnya di dunia perdagangan itu ada
sembilan dari sepuluh pintu rezeki” (HR.
Ahmad) 10

ETIKA

•Kerja adalah ibadah/kewajiban


•Kejujuran (pondasi)
•Kesediaan secara otonom untuk tidak curang (bukan
karena pengawasan)
•Mengutamakan kebaikan dan keahlian dalam proses
maupun materi yang diperdagangkan
The Multiple Responsibilities
of Corporation

Economic Legal
Responsibility Responsibility
Spiritual 11

Responsibility

Social
Responsibility
tanggung jawab sosial : menyeimbangkan
komitmen kepada para pemangku kepentingan.

pemangku kepentingan kelompok, individu, dan


organisasi yang secara langsung dipengaruhi
oleh praktik suatu organisasi.

12
• Tanggung jawab terhadap lingkungan

1. Polusi udara
2. Polusi air
3. Polusi tanah
1. Limbah beracun
2. Mendaur ulang
13
Tanggung jawab terhadap
pelanggan

Hak konsumen
14

Harga tidak adil

Etis dalam iklan


Tanggung jawab terhadap
karyawan

15

▹ Komitmen hukum dan sosial


▹ Komitmen etis: kasus khusus para
pengadu (Whistle-Blower)
Tanggung jawab terhadap
investor

▹ Manajemen Finansial yang Tidak


Wajar
16
▹ Cek kosong
▹ Insider Tranding
▹ Penyimpangan Laporan keuangan
Pendekatan tanggung jawab
sosial

Tingkat tanggung jawab sosial


Terendah Paling tinggi
17

Sikap obstruktif

secara aktif melakukan menaggapi secara aktif


menghindari hukum permintaan mencari peluang
tanggungjawab minimum untuk berkintribusi
Tiga Norma Umum
Norma-norma khususnya adalah aturan yang berlaku dalam bidang
itu saja, sejauh orang masuk kedalam bidang itu dan tidak berlaku
lagi ketika orang keluar dari bidang itu. Norma-norma umum
sebaliknya lebih bersifat umum dan sampai tingkat tertentu boleh
dikatakan bersifat universal.

Norma sopan santun atau yang disebut norma etiket, adalah norma
yang mengatur pola perilaku dan sikap lahiriah manusia.

Norma hukum adalah norma yang dituntut keberlakuannya secara


tegas oleh masyarakat karena dianggap perlu dan niscaya demi
keselamatan dan kesejahteraan manusia dalam kehidupan
bermasyarakat.

Norma moral yaitu aturan mengenai sikap dan perilaku manusia


sebagai manusia.
TEORI ETIKA
Etika teleologi
Etika teleologi adalah mengukur baik buruknya suatu
tindakan berdasarkan tujuan yang mau dicapai dengan
tindakan itu, atau berdasarkan akibat yang akan di
timbulkan oleh tindakan itu.

19
Egoisme etis
Utilitarianisme
Egoisme adalah
Nilai moral dari
bahwa tindakan dari
tindakan/kebijakan
setiap orang pada
didasarkan pada
dasarnya bertujuan
akibat
untuk mengejar
/konsekwensi/tujua
kepentingan pribadi
n yang ingin
dan kemajuan
dicapainya.
dirinya sendiri.
Etika Deontologi

Istilah ‘deontologi’berasal dari


kata yunani deon,yang berarti
kewajiban. Karena itu, etika
deontologi menekankan
kewajiban manusia untuk 20
bertindak secara baik. Menurut
etika deontologi,suatu tindakan
itu baik bukan dinilai dan
dibenarkan berdasarkan akibat
atau tujuan baik dari tindakan
itu, melainkan berdasarkan
tindakan itu sendiri sebagai
baik pada dirinya sendiri.
Latar Belakang Munculnya Good Corporate
Governance (GCG)

Konsep Good Corporate Governance (GCG) bertujuan agar para pihak mampu memahami manfaat atau
dampak positif dari penerapan konsep tersebut. Salah satu maksud dan tujuan dari Good Corporate
Governance (GCG) adalah mengharapkan berbagai perusahaan yang berada di suatu negara mampu
menjalankan aktivitas bisnis secara baik dan ikut serta dalam mendorong pertumbuhan ekonomi
nasional yang beretika tinggi.

Definisi Good Corporate Governance dari Cadbury Committee yang berdasarkan pada teori stakeholder
adalah sebagai berikut :
“Seperangkat aturan yang mengatur hubungan antara para pemegang saham, manajer, kreditur,
pemerintah, karyawan, dan pihak-pihak yang berkepentingan lainnya baik internal maupun eksternal
lainnya yang berkaitan dengan hak-hak dan kewajiban mereka”.

21
Good Corporate
Governance (GCG) dan
Manajemen Perusahaan

Corporate governance adalah suatu


konsep yang memiliki idealism untuk
mewujudkan tujuan-tujuan
pemegang saham.

Blair (1996) memberikan definisi


yang lebih luas dan lengkap terhadap 22
corporate governance ini yaitu satu
kesatuan yang menyeluruh mulai
dari pengaturan hukum, budaya, dan
institusi sehingga perusahaan-
perusahaan public dapat bekerja,
mengatur siapa yang mengontrol,
bagaimana kontrol dilaksanakan dan
bagaimana risiko dan pendapatan
diperoleh dari aktivitasnya
dialokasikan.
Lima Prinsip Good Corporate Governance
(GCG)
Transparency , Secara sederhana bisa diartikan sebagai keterbukaan
informasi. Dalam mewujudkan prinsip ini, perusahaan dituntut untuk
menyediakan informasi yang cukup, akurat, tepat waktu kepada
segenap stakeholdersnya.

Accountability, yang dimaksud dengan akuntabilitas adalah kejelasan


fungsi, struktur, system dan pertanggungjawaban elemen perusahaan.

Responsibility (pertanggung jawaban), Bentuk pertanggung jawaban


perusahaan adalah kepatuhan perusahaan terhadap peraturan yang
berlaku.

Indepandency (kemandirian), Prinsip ini mensyaratkan agar perusahaan


dikelola secara profesional tanpa ada benturan kepentingan dan tanpa
tekanan atau intervensi dari pihak manapun yang tidak sesuai dengan
peraturan-peraturan yang berlaku.

Fairness (kesetaraan dan kewajaran)


Prinsip ini menuntut adanya perlakuan yang adil dalam memenuhi hak
stakeholder sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku.
Agency Theory dan Solusi
Memperkecil Timbulnya
Agency Theory

Agency theory (teori keagenan) merupakan suatu kondisi yang


terjadi pada suatu perusahaan dimana pihak manajemen
sebagai pelaksana yang disebut lebih jauh sebagai agen dan
pemilik modal (owner) sebagai principal membangun suatu
kontrak kerjasama yang disebut dengan “nexus of contract”.
Implikasinya memungkinkan terjadinya sikap oportunistik
(opportunistic behavior) di kalangan manajemen perusahaan 24
dalam melakukan beberapa tindakan yang sifatnya di sengaja
seperti:

Melaporkan piutang tak Melaporkan hasil


tertagih (bad debt) yang penjualan dengan
lebih besar dari kenyataan peningkatan yang
yang sesungguhnya. tidak terlalu tinggi.

Melaporkan kepada
Melakukan
pihak principal Membuat laporan
income
bahwa dibutuhkan keuangan ganda
smoothing
dana tambahan
Praktik yang dilakukan oleh manajemen (agen) dengan mengabaikan berbagai pihak
seperti para pemegang saham, kreditur (peminjam dana), pemerintah dan lainnya
disebabkan pihak manajemen ingin memperoleh keuntungan lebih bahkan ingin
memindahkan posisinya dari posisi manajemen (agen) menjadi pemilik (principal).
Secara umum ada dua yang paling dituntut oleh pihak komisaris perusahaan kepada
pihak manajemen perusahaan, yaitu:

• Profit yang maksimal, dan


• Kontinuitas perusahaan atau keberlanjutan usaha.

Mengenai biaya keagenan ini Stephen A. Ross, dkk. mengatakan,


"Biaya keagenan langsung dapat memiliki dua bentuk. Jenis yang pertama
adalah suatu pengeluaran perusahaan yang menguntungkan manajemen
namun merugikan pemegang saham. Jenis biaya keagenan langsung yang
kedua adalah suatu beban yang timbul akibat adanya kebutuhan untuk
mengawasi tindakan-tindakan manajemen".

25
Stakeholders adalah orang-orang yang dipengaruhi oleh kinerja
perusahaan dan memiliki klaim atas kinerja perusahaan.

Stakeholders Pasar Stakeholders Stakeholders


Modal Pasar Produk organisasi

Adanya agency problem di atas, menimbulkan biaya keagenan 26


(agency cost), yang menurut Jensen dan Meckling (1976) terdiri
dari:

The
monitoring The bonding
The residual
expenditures expenditures
loss
by the by the agent
principle
Pendekatan Stakeholder
Pendekatan skateholder adalah cara mengamati dan menjelaskan secara
analitis bagaimana berbagai unsur dipengaruhi dan mempengaruhi
keputusan dan tindakan bisnis.. Pada umumnya, ada dua kelompok
stakeholders:

• Kelompok primer
• Kelompok sekunder

Solusi Memperkecil Agency Theory 27

• Pihak komisaris harus melihat • Pihak komisaris perusahaan


posisi manajemen perusahaan dalam mendengar informasi
sebagai pihak yang memiliki peran dan analisa dari pihak
besar dalam menjaga dan komisaris independen harus
mempertahankan berlangsungnya
melakukan kaji ulang secara
perusahaan secara jangka panjang
intensif.
(long term).
• Pihak komisaris perusahaan dalam • Pihak manajemen
melihat posisi manajemen perusahaan harus
perusahaan bukan dalam konteks membangun dan memiliki
pekerja atau pelaksana tugas semangat serta loyalitas
namun sebagai mitra bisnis tinggi kepada perusahaan.
Etika Bisnis dan
Konsep Good Corporate
Governance (GCG)

Pada saat ini salah satu aturan yang


terjelaskan secara tegas bahwa
suatu perusahaan yang ingin atau
berkeinginan untuk go public adalah
perusahaan tersebut harus 28
memiliki konsep serta
mengaplikasikan prinsip-prinsip
Good Corporate Governance (GCG).
Ada beberapa alasan yang
mengharuskan perusahaan-
perusahaan menerima konsep
Good Corporate Governance (GCG)
untuk diterapkan, yaitu:
Pedoman GCG merupakan acuan bagi perusahaan untuk
melaksanakan GCG dalam rangka:

 Mendorong tercapainya kesinambungan perusahaan melalui pengelolaan yang


didasarkan pada asas transparansi, akuntabilitas, responsibilitas, independensi
serta kewajaran dan kesetaraan.
 Mendorong pemberdayaan fungsi dan kemandirian masing-masing organ
perusahaan.
 Mendorong pemegang saham, anggota Dewan Komisaris dan anggota Direksi .
 Mendorong timbulnya kesadaran dan tanggung jawab sosial perusahaan terhadap
masyarakat dan kelestarian lingkungan terutama di sekitar perusahaan.
 Mengoptimalkan nilai perusahaan bagi pemegang saham. 29
 Meningkatkan daya saing perusahaan secara nasional maupun internasional.

Good Corporate Governance dalam


Konteks Bisnis Masa Depan
Dari hasil penelitian menyebutkan jika perusahaan multinational
lebih bersungguh-sungguh menerapkan GCG dibandingkan dengan
perusahaan domestik. Keinginan mereka menerapkan GCG adalah
bentuk dari usaha mereka menghargai tata konsep bisnis modern.
Permasalahan yang Timbul dalam Penerapan
Good Corporate Governance (GCG)
Pemahaman tentang konsep Good Corporate Governance
(GCG) pada beberapa manajer di Indonesia masih kurang.

Sebagian pihak menganggap konsep Good Corporate


Governance (GCG) dianggap sebagai penghambat berbagai
keputusan perusahaan

Aparat penegak hukum harus dibekali konsep pemahaman


Good Corporate Governance (GCG) secara luas termasuk
adanya jurnal dan buku teks

Menurut Herwidayatmo (2000), praktik-praktik di Indonesia yang


bertentangan dengan konsep GCG dapat dikelompokkan menjadi, (a) adanya
konsentrasi kepemilikan oleh pihak tertentu yang memungkinkan terjadinya
hubungan afiliasi antara pemilik, pengawas, dan direktur perusahaan, (b) tidak
efektifnya dewan komisaris, dan (c) lemahnya law enforcement.

30
Ancaman terhadap Tata Kelola
yang Baik dan Akuntabilitas

• Kesalahpahaman Tujuan dan Tugas Fidusia


• Kegagalan untuk Mengidentifikasi dan
Mengelola Risiko Etika
Place your screenshot here 31

Prinsip-prinsip Etika Manajemen


Risiko

Sebuah risiko etika hadir, dimana harapan


pemangku kepentingan tidak dapat
dipenuhi.
Konflik Kepentingan
Dalam definisi yang sederhana, konflik kepentingan terjadi
ketika penilaian independen seseorang bergoyang, atau
mungkin berayun, dari mengambil keputusan demi
kepentingan terbaik dari orang lain yang bergantung pada
penilaian itu.

Penyebab Konflik Kepentingan


Bagaimana
penilaian Kepentingan Kecurangan
terombang- Pribadi
ambing

Slippery
Kesalahpahaman slope
Contoh Kasus

Fakta yang sering terjadi dan dukungan teori telah memberi penjelasan bahwa hubungan antara
komisaris dan manajemen perusahaan memiliki potensi timbulnya benih-benih konflik. Ini terjadi diantaranya
karena komisaris sering mengharapkan agar pihak manajemen memenuhi target perolehan keuntungan yang
dipersyaratkan.
Sementara seringkali syarat perolehan target tersebut di luar kemampuan pihak manajemen
perusahaan. Analisa pihak manajemen perusahaan sering melihat pada kondisi realistis yang terjadi di lapangan
berdasarkan kondisi dan situasi yang berlangsung, seperti kondisi mikro dan makro ekonomi baik domestik dan
internasional. Namun pihak komisaris perlu memperoleh target keuntungan yang dipersyaratkan tersebut,
dengan alasan membutuhkan keuntungan untuk mempergunakan pada investasi di tempat yang lain yang
memiliki nilai profitable. Profitable artinya memungkinkan untuk memperoleh keuntungan yang terus semakin
meningkat setiap waktunya. Apalagi jika ternyata komisaris telah memiliki business plan yang tidak bisa ditunda
lagi, dengan kata lain jika ditunda maka akan menimbulkan kerugian yang besar, karena bagi komisaris moment
ini tidak akan datang dua kali.
Realita seperti ini menyebabkan pihak manajemen melakukan pekerjaan yang ekstra keras atau
bekerja di bawah tekanan (under pressure), apalagi itu menyangkut citranya di mata publik sebagai manajer yang
professional. Kondisi ini lebih jauh telah menyebabkan manajer perusahaan bekerja tidak atas dasar keputusan
dan mekanisme bisnis yang independent namun pada konsep dan persyaratan dari komisaris. Dan komisaris bisa
saja menggantikan manajer perusahaan dengan orang lain jika target keuntungannya tidak tercapai sesuai
dengan yang dipersyaratkan.
33
Solusi

Pada kasus seperti di atas memang memperlihatkan sikap komisaris perusahaan yang begitu
arogan dalam mengambil keputusan. Dan keputusan yang sangat ditekankan pada profit, padahal profit bukan
semata-mata yang harus dipertahankan. Namun ada yang lain yang jauh lebih penting yaitu keberlanjutan
usaha. Karena ini menyangkut dengan sejumlah dana yang telah ditempatkan dan harus aman selama beberapa
waktu hingga terjadinya break even point (BEP) atau pulang pokok. Hitungan BEP tersebut bisa saja 5 s/ d 8
tahun atau bahkan lebih dari itu.
Sehingga keputusan menekan atau menerapkan under pressure secara berlebihan kepada
manajemen perusahaan menjadi tidak tepat dan itu melanggar nilai-nilai etika bisnis. Ada berbagai bentuk
risiko yang bisa timbul seperti kecurangan yang akan dilakukan oleh pihak manajemen perusahaan dengan
memalsukan data laporan keuangan. Dalam bentuk melaporkan keuntungan yang tinggi dan mengubah
berbagai informasi lainnya, dimana semuanya ini bertujuan mengelabui pihak komisaris perusahaan.
Risiko lain yang bisa timbul bisa saja pihak manajemen perusahaan seperti direktur berfikir untuk keluar dari
perusahaan sewaktu-waktu. Dan jika ia keluar selanjutnya masuk ke perusahaan pesaing maka berbagai
strategi yang telah diterapkan dan dipelajari selama ini pada perusahaan tersebut pasti akan dijual ke
perusahaan pesaing.
Oleh karena itu, pemahaman tentang konsep GCG tidak boleh dilihat setengah-setengah namun
harus dilihat secara komplek. Karena pemahaman secara komplek akan menghasilkan kesimpulan secara
komplek namun pemahaman secara setengah-setengah akan menghasilkan kesimpulan secara setengah-
setengah.
34

Kesimpulan
Etika bisnis dan konsep Good Corporate Governance (GCG)
merupakan hubungan berkesinambungan antara keduanya.
Kode etik (komponen etika bisnis) harus ada dalam penerapan
konsep Good Corporate Governance. Dunia usaha dan praktek
bisnis pada umumnya perlu memperhatikan prinsip-prinsip GCG,
agar warga masyarakat dan konsumen pada khususnya
memperoleh pelayanan yang baik, berkualitas, profesional dan
proporsional. Disadari atau tidak, penerapan Good Corporate
Governance dalam implementasi etika dalam bisnis memiliki
peran yang sangat besar. Pada intinya etika bisnis bukan lagi
merupakan suatu kewajiban yang harus dilakukan oleh pelaku
bisnis tetapi menjadi suatu kebutuhan yang harus terpenuhi.
Dunia usaha tidak hanya berorientasi keuntungan semata,
tetapi juga harus memberikan layanan konsumen yang prima.
Salah satu contohnya pada prinsip-prinsip GCG mencerminkan
etika bisnis yang dapat memenuhi keinginan
seluruh stakeholdernya. Etika bisnis yang baik dan sehat
menjadi kunci bagi suatu perusahaan untuk membuatnya tetap
berdiri kokoh dan tahan terhadap segala macam serangan
ketidakstabilan ekonomi.

35