Anda di halaman 1dari 54

PENALARAN

(Reasoning)

KELOMPOK 1
AWAN TIRTA AJI RAHMAN (1)
ACHMAD JUNAEDY (3)
M JAVID KANZUL FIKRI (21)
OGI BOI SARJANTO SITOHANG (24)
RANO KARDO E.G. SINAMBELA (26)
RIDWAN SIDIK KURNIAWAN (29)
PENALARAN

 Pengetahuan tentang prinsip berpikir


logis yang menjadi basis dalam diskusi
ilmiah.
 Proses berpikir logis dan sistematis
untuk membentuk dan mengevaluasi
suatu keyakinan (belief) terhadap
suatu pernyataan atau asersi.
Unsur atau Komponen Penalaran

Pernyataan
Keyakinan Argumen
atau asersi
(belief) (argument)
(assertion)
Proses dan Struktur Penalaran
Masukan Proses Keluaran

Keyakinan bahwa
Asersi sebagai elemen argumen
asersi konsklusi benar
argumen

-asersi
-asersi Asersi konsklusi
-asersi
Asersi
Penegasan tentang sesuatu atau
realitas yang dinyatakan dalam
bentuk kalimat atau ungkapan.

Pengkuantifikasi: semua (all), tidak


ada (no), dan beberapa (some).

Asersi Universal: Semua, tidak ada.

Asersi Spesifik: Beberapa


Fungsi Pengkuantifikasian
 Anggota
kelompok 1 tidak memakai
kacamata.
 Anggotakelompok 1 lebih gemuk dibanding
anggota kelas lain.

Pengkuatifikasi diperlukan untuk menentukan


ketermasukan (Inclusiveness) atau
keuniversalan asersi.
Asersi
Asersi sering disajikan dalam struktur atau
diagram tanpa menunjukkan arti. Penyajian
struktur umum asersi adalah:

Semua A adalah B.
Tidak ada satupun A adalah B.
Beberapa A adalah B.
Diagram Penyajian Asersi

Hubungan inklusif (inclusion)

B
A

Semua A adalah B atau Tidak semua B adalah A


Penyajian Asersi
 Hubungan eksklusi (Exclusion)

 Tidak satupun A adalah B atau


A B  Tidak satupun B adalah A.

Hubungan Tumpang Tindih (Overlap)

Beberapa B adalah A, atau


A Beberapa A adalah B
B
Jenis Asersi
 Jenisasersi :
a. Asumsi
b. Hipotesis
c. Pernyataan fakta
Fungsi Asersi

Fungsi Asersi :
1. premis
2. konklusi
prinsip :
kredibilitas konklusi tidak dapat melebihi
kredibilitas terendah premis-premis yang
digunakan untuk menurunkan konklusi.
KEYAKINAN
A. DEFINISI

KEYAKINAN: Tingkat kebersediaan untuk menerima


bahwa asersi tersebut benar

BUKTI Perbuatan,
PENALARAN YANG sikap dan
KUAT pandangan
B. PROPERITAS
KEYAKINAN
Bermuatan
Keadabenaran Bukan pendapat Bertingkat
Nilai

Berbias Berkekuatan Veridikal Berketempaan


BUKAN PENDAPAT

• Pendapat bersifat subjektif, sehingga tidak


dapat ditentukan plausibilitasnya
BERBIAS

• Keyakinan dipengaruhi oleh preferensi,


keinginan dan kepentingan pribadi, sehingga
tingkat keyakinan seseorang atas suatu asersi
bisa sangat berbeda.
BERKETEMPAAN

• Ketertempaan (malleability) kelentukan


keyakinan berkaitan dengan mudah tidaknya
keyakinan tersebut diubah dengan adanya
informasi yang relevan.
VERIDIKAL

• Veridikal adalah tingkat kesesuaian


keyakinan dengan realitas.
Berkekuatan

• Kekuatan keyakinan adalah tingkat


kepercayaan yang dilekatkan seseorang pada
kebenaran suatu asersi.
BERMUATAN NILAI

• Nilai keyakinan adalah tingkat penting-


tidaknya suatu keyakinan yang perlu
dipegang atau dipertahankan seseorang
BERTINGKAT

• Keyakinan yang didapat dari suatu asersi


tidak bersifat mutlak
• Tingkat keyakinan ditentukan oleh kuantitas
dan kualitas bukti pendukung asersi
KEADABENARAN
• Asersi harus mempunyai sifat memiliki
kebenaran.
• Unsur:
1. Pengetahuan yang mendasari (the
underlying knowledge)
2. Sumber
ARGUMEN
Dalam arti positif, argumen dapat disamakan dengan penalaran logis
untuk menjelaskan atau mengajukan bukti rasional tentang suatu
asersi.

An argumen is an effort to convince someone to believe or to do


something. An argumen is a set of assertion, one of which is a
conclusion or key assertion, and the rest of which are intended to
support that conclusion or key assertion (Nickerson ,1986)
Jenis Argumen
 Deduktif
 Induktif
Argumen Deduktif
Argumen yang simpulannya diturunkan dari serangkaian asersi umum yang
disepakati atau dianggap benar (disebut premis baik mayor ataupun
minor).

Pada umumnya berstruktur silogisma sehingga disebut argumen logis


(logical argument).

Premis mayor : Seluruh jenis unggas memiliki bulu.


Premis minor : Ayam termasuk kedalam jenis unggas.
Konklusi : Ayam memiliki bulu
Kriteria Kebenaran Argumen Deduktif
 Kelengkapan
 Kejelasan
 Kesahihan
 Keterpercayaan

Kebenaran Konklusi dari argumen deduktif adalah kebenaran logis bukan kebenaran
empiris (realitas)

Kriteria kebenaran logis :


 Semua premis benar
 Konklusi mengikuti semua premis
 Semua premis dapat diterima
Hubungan Premis dan Konklusi
Bila konklusi mengikuti premis secara logis, maka kebenaran logis
konklusi bergantung pada kebenaran semua premis

B = Benar
S = Salah

Premis 1 : B Premis 1 : S Premis 1 : B Premis 1 : S


Premis 2 : B Premis 2 : S Premis 2 : B Premis 2 : S
Konklusi : B Konklusi : S Konklusi : S Konklusi : B
(Pasti/Harus) (Mungkin) (Tidak mungkin) (Mungkin)
ARGUMEN INDUKTIF
Penalaran yang berawal dari pernyataan yang khusus dan diakhiri dengan pernyataan
umum (general)

Plausible
Argument
 Generalisasi menjadikan argumen induktif merupakan argumen yang ada benarnya
(plausible argument) bukan argumen yang pasti benarnya atau logis (logical
argument)

 Premis 1 : Pengambilan pertama sebuah kelereng dari dalam kantung mendapatkan


kelereng putih.
 Premis 2 : Pengambilan kelereng kedua dari dalam kantung mendapatkan kelereng
putih.
Konklusi : Semua kelereng di dalam kantung adalah kelereng putih
(ada benarnya, tetapi bisa juga salah)
Kecohan (Fallacy)

Keyakinan semu atau keliru akibat orang terbujuk oleh suatu argumen
yang mengandung catat (faulty) atau tidak valid.
Orang dapat terkecoh akibat taktik membujuk selain dengan argumen yang
valid.

Orang dapat mengecoh atau terkecoh lantaran:


• Strategem
• Salah nalar (reasoning fallacy)
• Aspek manusia dalam berargumen

Transi
3/4/20
29
Stratagem

Pendekatan untuk mempengaruhi keyakinan orang dengan cara selain


mengajukan argumen yang valid/ masuk akal.

Berbeda dengan argument yang valid, stratagem biasanya digunakan


untuk membela pendapat yang sebenarnya keliru atau lemah dan tidak
dapat dipertahankan secara logis.

Karenanya stratagem dapet mengandung kebohongan (deceit) dan


muslihat (trick)
Kecohan lantaran Strategem

• Persuasi tak langsung


• Membidik orangnya
• Menyampingkan masalah
• Misrepresentasi
• Imbauan cacah
• Imbauan autoritas
• Imbauan tradisi
• Dilema semu
• Imbauan emosi

Transi
3/4/20
31
Persuasi Tak Langsung

Meyakinkan seseorang akan kebenaran suatu pernyataan melalui


cara yang tidak berkaitan dengan validitas argumen (penalaran).

Contoh:
Membidik Orangnya
Melemahkan/ menjatuhkan posisi atau pernyataan dengan cara
menghubungkan pernyataan/argumen yang diajukan seseorang dengan
pribadi tersebut. (argumen ad hominem)

Contoh:
 Dia tidak mungkin menjadi pemimpin yang andal karena dia bekas
militer atau tahanan politik yang pernah dihukum.
 Jangan menggunakan istilah tersebut karena yang mengusukan orang
Yogya (Saya tidak setuju istilah itu karena istilah itu istilah Yogya)
PUT –DOWNS (melemahkan) :
Semua orang tahu itu!
Yang anda katakan itu adalah lelucon baru yang belum pernah saya dengar!
Menyampingkan Masalah

Mengajukan argumen yang tidak bertumpu pada masalah pokok


atau dengan cara mengalihkan masalah ke masalah lain yang tidak
berkaitan.

Contoh:
 Gerakan anti korupsi tidak perlu digalakkan lagi karena nyatanyabanyak orang
yang melakukan korupsi tidak mendapatkan sanksi hukum
 Mengapa istilah kos seharusnya digunakan alih-alih biaya? Strategem : Apa
bedanya dengan kos-kosan?

Avoiding the issue


Taktik Red-herring
Misrepresentasi
Menyanggah dengan cara memutarbalikkan/
menyembunyikan fakta secara halus atau terang-
terangan.

Contoh:
 Seorang anggota DPR dari Partai A mengajukan argument
untuk mendukung agar pemerintah mengurangi anggaran
untuk pertaanan dan menambah anggaran untuk
pendidikan. Anggota dari Partai B, sebagai penyanggah,
menuduh anggota dari Partai A ingin menghancurkan
militer dan menempatkan Negara pada kondisi kurang
aman. The deceptive use of truth => Penalar menunjukkan fakta
atau kebenaran (truth) tetapi tidak secara utuh atau hanya
sebagian.
Imbauan Cacah

Strategem ini digunakan untuk Mendukung suatu posisi dengan


menunjukkan bahwa banyak orang yang melakukan apa yang
dikandung posisi tersebut. (appeal to number)

Contoh:
 Delapan dari sepuluh bintang film menggunakan sampo merk X.

Peringanan lewat Generalisasi (Dilution by generalization)

Untuk mencegah terkecoh, orang yang memegang prinsip


bahwa suatu hal tidak menjadi benar lantaran banyak orang
melakukannya. (The fact that many people do thing does
not make it right)
Imbauan Autoritas
Satu jenis argumen ad hominem (membidik orangnya) karena dengan
dengan imbauan autoritas ini orang berusaha meningkatkan daya
bujuk suatu posisi dengan menunjukkan bahwa posisi tersebut
dipegang oleh orang yang memiliki autoritas dalam masalah tersebut
tanpa menunjukkan bagaimana autoritas bernalar.

Contoh:
 Rakyat diminta untuk mengikuti kebijakan baru, karena yang
membuat kebijakan adalah pemerintah.
 Akademisi ditanya mengapa menggunakan istilah beban bukan
biaya untuk padan kata expense. Akademisi tsb menggunakan
istilah beban karena autoritas (IAI) menggunakan istilah
tersebut tanpa mempersoalkan apakah istilah itu layak atau
tidak.
Imbauan Tradisi

Orang sering melakukan atau meyakini sesuatu dengan cara


tertentu semata karena cara itu telah dilakukan oleh orang
sejak lama.

Contoh:
 Dosen yang melarang mahasiswanya mencetak kata yang biasanya diberi
garis bawah diganti menjadi huruf miring karena mempertahankan tradisi
penulisan sebelum datangnya komputer.
Dilema Semu

Taktik seseorang untuk mengaburkan argumen dengan cara


menyajikan gagasannya dan satu alternatif lain kemudian
mengkarakterisasi alternatif lain tersebut sangat jelek,
merugikan, atau mengerikan sehingga tidak ada cara lain
kecuali menerima apa yang diusulkan penggagas.  

 Kalau tidak memilih alternatif A, maka kita


akan mengalami kerugian akibat dipilihnya
alternatif B. (Take it or leave it)
Imbauan Emosi

Membaurkan emosi dengan nalar. Daya nalar dimatikan


dengan cara menggugah emosinya. Menggeser validitas
argumen dengan motif.

Orang dikatakan telah memanfaatkan imbauan belas kasih


ke anda bilamana dia memaksa anda menyetujui sesuatu
karena kalau anda tidak setuju dia akan menderita.
Salah Nalar (Reasoning Fallacy)

adalah kesalahan struktur atau proses formal penalaran dalam


menurunkan simpulan sehingga simpulan menjadi salah atau
tidak valid.
Salah nalar biasanya terjadi bukan karena kesengajaan dan
tidak dimaksudkan untuk mengecoh, tetapi karena penalar
salah dalam menerjemahkan suatu argumen
Jenis salah nalar yang sering ditemui
 Menegaskan konsekuen
Valid Tidak Valid
Jika saya di London, maka saya di Inggris Jika saya di London, maka saya di Inggris
Saya di London Saya di Inggris
Saya di Inggris Saya di london

 Menyangkal anteseden
Valid Tidak Valid
Menyangkal Konsekuen (Modus Tolen) Menyangkal anteseden
Jika saya di London, maka saya di Inggris Jika saya di London, maka saya di Inggris
Saya tidak di Inggris Saya tidak di London
Saya tidak di London Saya tidak di Inggris
Jenis salah nalar yang sering ditemui

 Pentaksaan (equivocation)
Premis (1) : Nothing is better than eternal happiness
Premis (2) : A ham sandwich is better than nothing
Kesimpulan : A ham sandwich is better than eternal happiness
 Perampatan lebih (overgeneralization)
Perampatan lebih atau disebut juga generalisasi adalah salah nalar
karena melekatkan karakteristik sebagian kecil anggota ke seluruh
anggota himpunan secara berlebihan
Jenis salah nalar yang sering ditemui

 Parsialitas (parsiality)
Parsialitas terjadi karena memberikan bobot yang tinggi pada
argumen yang cenderung mendukung konklusi yang disukai dengan
mengabaikan argumen yang menentang konklusi tersebut
Pembuktian dengan analogi
Premis (1) : Komputer mempunyai CPU yang bekerja seperti otak
Premis (2) : Otak berpikir
Kesimpulan : Komputer berpikir
Jenis salah nalar yang sering ditemui

 Merancukan urutan kejadian dengan penyebabnya


Salah nalar terjadi karena urutan kejadian disimpulkan sebagai
penyebaban, misalnya bila kejadian Y selalu mengikuti kejadian X,
maka Y disebabkan oleh X
 Menarik simpulan pasangan
Salah nalar terjadi kalau menyimpulkan bahwa suatu konklusi salah
karena argumen tidak disajikan dengan meyakinkan (tidak konklusif)
sehingga menyimpulkan bahwa konklusi atau posisi pasanganlah yang
benar
Aspek Manusia Dalam Penalaran

 Beberapa aspek penghalang (impediments) penalaran dan


pengembangan ilmu, khususnya dalam dunia akademik atau ilmiah,
antara lain:
 Penjelasan Sederhana
 Kepentingan Mengalahkan Nalar
 Sindroma Tes Klinis
 Mentalitas Djoko Tingkir
 Merasionalkan Daripada Menalar
 Persistensi
Aspek Manusia Dalam Penalaran

1. Puas dengan Penjelasan Sederhana


Pada awalnya manusia memiliki keingingan yang kuat untuk
memperoleh penjelasan, tetapi dengan penjelasan sederhana yang
pertama ditawarkan menjadikannya cepat puas dan tidak lagi
mengevaluasi kelayakan penjelasan tersebut secara seksama.
 Akibatnya: argumen dan pencarian kebenaran akan terhenti
sehingga pengembangan ilmu pengetahuan akan terhambat.
Aspek Manusia Dalam Penalaran

 2. Kepentingan Mengalahkan Nalar


 Kepentingan sering memaksa orang untuk memihak suatu posisi
(keputusan) meskipun posisi tersebut sangat lemah dari segi argumen.
 Contoh: Dalam dunia akademik dan ilmiah, para pakar atau ilmuwan
yang kebetulan mempunyai kekuasaan politis akan memiliki
kepentingan untuk menjaga harga diri individual atau kelompok
sehingga dapat menyebabkan ilmuwan tersebut berbuat yang tidak
masuk akal.
 Akibatnya:Keadaan seperti di atas dapat membingungkan masyarakat
akademik dan menghambat pengembangan pengetahuan.
Aspek Manusia Dalam Penalaran

 3. Sindroma Tes Klinis


 Keadaan dimana akademisi tidak berani untuk membaca sumber
gagasan yang diperoleh dari artikel atau hasil penelitian ilmiah ketika
adanya sesuatu yang sebenarnya keliru atau tidak valid lagi.
Akademisi takut pendapatnya yang telah telanjur disebarkan kepada
mahasiswa benar-benar keliru. Atau manifestasi lain dari sindroma ini
adalah akademisi (dosen) mengisolasi gagasan baru agar mahasiswa
tidak pernah tahu semata-mata untuk menutupi kelemahan suatu
gagasan lama yang dianutnya.
 Akibatnya: dapat dipastikan bahwa kemajuan pengetahuan dan
profesi akan terhambat.
Aspek Manusia Dalam Penalaran

 4. Mentalitas Djoko Tingkir


 Kondisi dimana para ilmuwan atau akademisi bawahan selalu
memihak kepada seniornya dan mengajarkan apa yang sebenarnya
salah dengan menyembunyikan apa yang sebenarnya valid semata-
mata untuk menghormati kolega senior atau untuk melindungi diri
dari tekanan senior.
 Dalam dunia akademik, status pakar merupakan kekuasaan atau
autoritas akademik untuk menentukan ilmu. Jadi, kekuasaan lebih
unggul dari penalaran.
 Akibatnya: pengembangan ilmu pengetahuan dapat terhambat dan
praktik kehidupan yang lebih baik juga ikut terhambat.
Aspek Manusia Dalam Penalaran

 5. Merasionalkan Daripada Menalar


 Sikap merasionalkan posisi yang sebenarnya salah atau lemah karena
keterbatasan pengetahuan orang bersangkutan dan berusaha untuk
tidak mengakuinya dengan mencari-cari justifikasi untuk
membenarkan posisinya. Hal tersebut dilakukan untuk membela diri
atau menutupi rasa malu.
 Akibatnya: Hasil yang diperoleh bukan solusi (penalaran) tetapi
mencari kemenangan (rasional) semata.
Aspek Manusia Dalam Penalaran

 6. Persistensi
 Merupakan gejala psikologis atau perilaku manusia untuk terpaku pada
makna suatu simbol atau objek dan kemudian menjadikan orang tidak
mampu melihat makna alternatif atau objek alternatif.
 Contoh: Orang yang sudah terpaku dengan istilah “harga pokok
penjualan” akan sangat sulit untuk dapat menerima istilah “kos barang
terjual” yang sebenarnya lebih tepat menggambarkan makna istilah
aslinya yaitu cost of goods sold.
 Akibatnya: konversi keyakinan sulit terjadi karena para ilmuwan
seringkali bersikap mempertahankan kepentingannya sendiri dan tidak
mengakui kesalahannya meskipun dihadapkan pada bukti yang sangat
telak.
TERIMA KASIH
Diskusi
 Bangun
Masukan contoh argumen induktif dan asersi fakta kenapa masih disebut asersi?
 Dewa
Asersi dapat memiliki arti yang sama, bagamana asersi itu memiliki arti yang tepat sehingga tidak terjadi
salah nalar?
Akbar menanggapi
 Andito
Dalam proses penalaran, apakah pasti terdapat ketiga unsur proses penalaran.
 Lely
Argumen deduktif premis B B apakah konklusi bisa salah
 Akbar
Fungsi penalaran apakah untuk individu atau secara umum?