Anda di halaman 1dari 79

PENGOBATAN RASIONAL

PERESEPAN
PERMASALAHA
&
N
PENGGUNAAN OBAT TIDAK RASIONAL
( Vance & Millington, 1986 )

Apabila :
 Tidak ada atau kecil kemungkinan untuk

memberi manfaat

 Kemungkinan efek samping lebih besar dari


manfaat

 Biaya tidak seimbang dari manfaat


CIRI – CIRI PENGGUNAAN OBAT YANG TIDAK
RASIONAL

 Pemakaian obat dimana indikasi


pemakaian secara medik tidak
ada
atau samar – samar

 Pemilihan obat yang keliru


untuk indikasi penyakit tertentu

 Cara pemberian obat, dosis,


frekuensi dan lama pemberian
yang tidak sesuai
 Pemakaian obat dengan potensi toksisitas atau
efek samping lebih besar padahal ada obat lain
sama kemanfaatannya dengan potensi efek
samping kecil.

 Pemakaian obat - obat mahal padahal


alternatif yang lebih murah dengan
kemanfaatan dan keamanan yang sama
tersedia

 Tidak memberikan pengobatan yang sudah


diketahui dan diterima kemanfatan dan
keamanannya ( Estabilished Eficacy and Safety)
FAKTOR – FAKTOR PENYEBAB KETIDAKRASIONALAN
PENGGUNAAN OBAT

1. Sistem Pendidikan

2. Sistem Pelayanan

3. Penulis Resep (
Prescriber )

4. Pasien
 SISTEM PENDIDIKAN ( Penulis Resep )

• # Kurangnya bekal dan keterampilan mengenai

• pemakaian obat ( terapetika ) yang didapat


selama pendidikan ( pre service )
• Contoh : 5 % Dokter di USA ( 1992 )
memerlukan retraining

• # Kurangnya mengikuti penyegaran ilmu /


• pendidikan profesi berkelanjutan

• # Kurangnya mengikuti perkembangan informasi


mengenai obat & terapetika yang baru
 SISTEM PELAYANAN

# Sistem suplay obat yang tidak efisien

# Ketiadaan Buku Pedoman Pengobatan /


Formularium di unit – unit
Pelayanan

# Beban pelayanan pasien yang terlalu


banyak sehingga setiap pasien tidak
bisa

ditangani secara optimal

# Belum disusun Standar Pelayan Medis /


Clinical Pathway
 PENULIS RESEP ( PRESCRIBER)

PERESEPAN MENGANDUNG
ARTI :

a.Permintaan dokter kepada


Apoteker agar
memberikan obat dan instruksi
pemakaian
kepada pasien
b. Pemilihan
c. edukasipenentuan
Informasi jenis/ obat, kepada
dosis, cara
pasien
dan lama
PADA KONDISI INI
DOKTER
DIPERHADAPKAN PADA
REALITA YANG ADA YAITU KONFLIK
BATIN ANTARA :

a.Pengetahuan mediknya dan tekanan /


permintaan
pasien yang sering menyebabkan
terjadi :
penurunan
jumlah pasien, penurunan jumlah
pendapatan

b. Kebutuhan dan ketersediaan obat

c.Ketidakmampuan menelaah setiap


informasi secara
 PASIEN

# Tekanan dan permintaan


pasien, terutama bila
dokter meresepkan semua obat
keinginan
pasien ta npa memilih mana yang
tepat dan
tidak t
tepa
CIRI - CIRI PENGGUNAAN
OBAT YANG TIDAK
RASIONAL :
a. PERESEPAN
BOROS (
EXTRAVAGANT)
b. PERESEPAN
BERLEBIHAN ( OVER
PRESCRIBING )
c. PERESEPAN MAJEMUK
( MULTIPLE
PRESCRIBING ) d.
PERESEPAN SALAH
( INCORRECT
CIRI - CIRI PENGGUNAAN OBAT YANG TIDAK RASIONAL

• PERESEPAN BOROS (
EXTRAVAGANT )
• Peresepan dengan obat – obat yang lebih
mahal padahal ada alternatif yang lebih murah
Contoh
dengan :manfaat dan keamanan yang sama
* Pemberian Antibiotika pada ISPA non
Pneumonia (Umumnya disebabkan oleh Virus)
Catatan :
> 80 % pasien ISPA non Pneumonia diberikan antibiotika
padahal hanya 10 – 30 % yang membutuhkan antibiotika
 PERESEPAN BERLEBIHAN
( OVER PRESCRIBING )

# Peresepan dengan dosis,


lama pemberian
atau jumlah obat yang
diresepkan melebihi ketentuan
Contoh :
*Gentamicin Injeksi 80 mg untuk pasien dengan
BB : 45 Kg selama 3 minggu.
Menurut Standar Terapi Dosis , 80 mg dan
selama 2 minggu
* Ciprofloxacin 500 mg tablet untuk pasien dengan BB 60
kg diberikan 3 kali sehari selama sebulan
 Menurut Standar Terapi Dosis : 500 mg selama 2
# Peresepan dengan obat – obat
sebenarnya tidak diperlukan
Contoh :
* Pemberian beberapa jenis multi vitamin :
Vitamin B comp ( Generik ) dengan Iberet tab
( Patent) pada pasien hamil
* Pemberian Infus pada setiap pasien masuk dari IGD
( Instalasi Gawat Darurat ) padahal belum tentu
mengalami kekurangan cairan tubuh.
* Pemberian Antibiotika profilaksis untuk pasien
bedah bersih
 PERESEPAN KURANG
(UNDER PRESCRIBING )
# Bila obat yang diperlukan tidak diresepkan
# Dosis obat yang diberikan tidak cukup
Contoh : Amoxicilin 250 mg untuk Dewasa
seharusnya diberikan
Amoxicilin 500 mg
untuk Dewasa

# Lama pemberian terlalu pendek.


Contoh:
> Pemberian Antibiotika selama 3 hari untuk
pasien
ISPA Pneumonia ( Menurut Standar Terapi
selama
c. PERESEPAN MAJEMUK
( MULTIPLE
PRESCRIBING )
Pemakaian dua atau lebih kombinasi obat
padahal cukup diberikan obat tunggal saja

Contoh :
Pasien anak dengan diagnosa : Batuk dan
Pilek
Pemberian puyer berisi :
- Ampisilin, Parasetamol, Gliseril Guayacolat,
Deksametason, CTM dan Luminal
d. PERESEPAN SALAH
( INCORRECT PRESCRIBING )
# Pemakaian obat dengan indikasi keliru

Contoh :
Pemberian Vit B 12 untuk keluhan pegal linu (
seharusnya defisiensi Vit B 12)

# Diagnosis tepat tetapi obatnya keliru


Contoh :
Pemberian obat Tetrasiklin pada pasien anak
dengan diagnosa cholera, sedangpilihan
yang lebih aman, yaitu : Kotrimoksazole
# Pemberian obat ke pasien
yang salah :

Pemakaian obat tanpa memperhitungkan


kondisi lain ( Mis: kelainan ginjal, jantung, dll )
Contoh :
Pemberian antibiotika Gol Aminoglikosida
pada pasien lansia yang jelas memberi resiko
ototoksik dan nefrotoksik.
DAMPAK
PENGGUNAAN OBAT
YANG TIDAK
RASIONAL
 Dampak terhadap Mutu
Pengobatan dan Pelayanan

 Dampak Terhadap Biaya Pelayanan&


Pengobatan

 Dampak terhadap Kemungkinan Efek


Samping Obat

 Dampak Psikososial
 DAMPAK TERHADAP MUTU PENGOBATAN
DAN PELAYANAN
Kebiasaan peresepan yang tidak rasional akan
mempengaruhi mutu pengobatan dan pelayanan secara
langsung dan tidak langsung.

Misalnya :
# Pemberian antibiotika dan anti diare pada kasus –
kasus diare akut tanpa disertai pemberian
campuran rehidrasi ( oralit ) yang memadai, akan
berdampak terhadap upaya penurunan angka mortalitas
diare.
 DAMPAK TERHADAP BIAYA PELAYANAN &
PENGOBATAN

Penulisan resep tanpa indikasi yang jelas, untuk


kondisi – kondisi yang sebenarnya tidak
memerlukan terapi obat merupakan pemborosan
baik dipandang dari sisi pasien maupun sistem
pelayanan

Misalnya :
# Peresepan dengan obat – obat paten
yang mahal, jika ada alternatif obat generik
dengan mutu dan keamanan yang sama
merupakan salah satu bentuk
ketidakrasionalan karena meningkatkan beban
pembiayaan
 DAMPAK TERHADAP KEMUNGKINAN EFEK
SAMPING

Peresepan yang tidak rasional / berlebihan baik


dalam jenis dan dosis dapat meningkatkan resiko
efek samping obat
( Levy,1982 )

Misalnya :
# Pemakaian Antibiotika secara berlebihan juga berkaitan
dengan meningkatnya resistensi kuman terhadap antibiotika
yang bersangkutan terhadap populasi.
Catatan :
Ini mungkin dapak efek samping yang kurang nyata pada
pasien tetapi konsekwensinya serius secara epidemiologi.
EFEK SAMPING OBAT

JUMLAH OBAT ESO ESO


( Jenis ) (USA) (UK)
0–5 4,2 % 3,3 %
6–10 7,4 % 19,8 %
11 – 15 24,2 %
16 – 20 40 %
21 >>> 45 %

Catatan : 10 – 30 % pasien RS mengalami ESO


 DAMPAK PSIKOSOSIAL

Peresepan yang berlebihan oleh Dokter sering memberikan


pengaruh Psikologi pada masyarakat. Masyarakat sangat
tergantung pada terapi obat walaupun belum tentu intervensi
obat merupakan pilihan utama untuk kondisi tertentu.
Misalnya :
# Pemakaian obat Aspirin secara terus menerus untuk mencegah
penyakit jantung koroner ( profilaksi ) lebih penting dari faktor resiko
yang sudah jelas yaitu : “ tidak merokok di abaikan “

# Pemakaian Obat Anti Diabetika secara terus menerus untuk


menurunkan kadar gula dalam darah lebih penting dari faktor resiko
yang sudah jelas , yaitu : “ Tidak mengatur diet makanan yang
mengandung karbohidrat tinggi”
PROSES PENGOBATAN
ANAMNESIS
( Mencari berbagai informasi yang berkaitan dengan penyaki pasien )

PEMERIKSAAN :

Fisik - Laboratorium - Penunjang / Diagnostik

PENEGAKKAN DIAGNOSIS
Setiap keputusan intervensi terapi harus berdasarkan diagnosis kerja yang paling sesuai

INTERVENSI PENGOBATAN :

Intervensi tanpa obat - Intervensi Obat - Intervensi Gabungan (obat & non obat)

PEMBERIAN INFORMASI :
Prosedur pengobatan, Jenis penyakit & cara mengatasinya dampak negatip
pengobatan

PENILAIAN HASIL PENGOBATAN ( FOLLOW UP )


PENGOBATAN
PENGERTIAN

PENGOBATAN SERANGKAIAN KEGIATAN UNTUK


MENDAPATKAN KESEMBUHAN

UPAYA PENGOBATAN SEGALA TINDAKAN MEDIK


YANG DILAKUKAN UNTUK
MERINGANKAN BEBAN
PENDERITAAN PASIEN, YANG TAK
TERBATAS HANYA PADA PEMBERIAN OBAT
6. Penentuan dosis
Cara & lama
PROSES pemberian
PENGOBATAN 7. Penulisan resep
8. Pemberian informasi
1. Anamnesis 9. Tindak lanjut
2. Pemeriksaan pengobatan
3. Penegakan diagnosis
4. Pemilihan intervensi
pengobatan
5. Pemilihan obat
1. Anamnesis
a. Keluhan pasien
b. Riwayat penyakit dan lamanya sakit
c. Sifat penyakit, apakah akut, kronis atau
kambuhan
d. Upaya pengobatan yang telah dilakukan
e. Obat apa saja yang telah dikonsumsi
f. Faktor pencetus/penyebab, resikonya dan
atau sumber penularannya
g. Riwayat keluarga, adakah keluarga pasien
yang mengalami sakit serupa
2. Pemeriksaan

Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan Laboratorium

Pemeriksaan Penunjang
3. Penegakan diagnosis

Kesimpulan hasil pasti


pemeriksaan/
anamnesis suspek
Terapi
Farmakologis Terapi Non Intervensi
Farmakologis Gabungan
• Peresepan
• Penyediaan • ↗ mutu gizi • Mendapatkan
obat • Berhenti keduanya
• Penyerahan merokok
obat /alkohol
• Pemakaian • Olahraga
obat • diet

4. Pemilihan intervensi pengobatan


5. PEMILIHAN OBAT
Efek terapi yang diperlukan
Kelas terapi yang sebaiknya diberikan
Pertimbangan manfaat dan resiko
sesuai dengan kondisi pasien
Keamanan obat (efek samping,
kontraindikasi)
Harga obat dan biaya pengobatan
6. PENENTUAN DOSIS, CARA & LAMA PEMBERIAN

Dosis individual
Kepatuhan pasien

7. PENULISAN RESEP
Resep: permintaan tertulis baik berupa paper maupun
elektronik dari dokter, dokter gigi, dokter hewan
kepada apoteker (revisi)
Mudah dibaca → kesalahan interpretasi ↙
8. PEMBERIAN INFORMASI

 Keadaan penyakitnya
 Cara mencegah dan mengatasi penyakit
 Cara penggunaan obat
 Waktu/lama pemakaian obat
 Efek samping obat, dan apa yang harus
dilakukan bila terjadi efek samping yang
berbahaya
 Bahayanya bahan kimia yang tidak perlu
 Bersabar menunggu kesembuhan merupakan
cara yang lebih aman
9. TINDAK LANJUT PENGOBATAN

Apakah efek terapi tercapai ?


• Kapan harus dihentikan
Ya
• Hentikan pemakaian obat
• Ganti obat
Tidak • Pemeriksaan ulang
• Rujuk pasien

Adakah efek samping ?


• Hentikan pemakaian obat
Ya • Minum antidotum
• Ganti dengan obat lain
Penggunaan Penggunaan
obat yang obat yang
rasional irasional
RATIONAL USE OF DRUGS (RUD)
POR WHO
• Obat benar
• Tepat indikasi
• Tepat efikasi, aman, tepat pasien, tepat harga
• Tepat dosis, pemberian, lama, tdk ada KI
• Dispensing benar, tmsk tepat informasi
• Kepatuhan pasien thd pengobatan
slogan 4T dan ETMA
• TEPAT INDIKASI-DIAGNOSIS
• TEPAT DOSIS
• TEPAT CARA DAN INTERVAL PEMBERIAN
• TEPAT LAMA PEMBERIAN
• ETMA (EFEKTIF, TERJANGKAU, MUTU
TERJAMIN DAN AMAN)
Ada 3 hal Farmasis dapat
berperan dalam proses
peresepan :
 Sebelum resep ditulis
Masukan Farmasis klinis dalam penyusunan kebijakan:
penyusunan Formularium RS, kebijakan peresepan,
pedoman pengobatan dll
 Selama resep ditulis
Mempengaruhi penulis resep dengan mempengaruhi
pengetahuannya, sikap dan prioritas dalam penulisan resep
( masuk dalam tim multidisiplin ); mis : tim TPN, tim
kemoterapi sitotoksik, tim pemantauan terapi obat dll.
 Sesudah resep ditulis
 Mengkoreksi atau menyempurnakan kualitas
peresepan. Hal ini terjadi sesaat setelah resep
dituliskan atau sebagai bagian proses
penatalaksanaan obat secara rutin
 Farmasis dapat mengambil peran bermakna dalam
audit medis dan klinis
 Pemantauan pasien dan peresepan menjadi tugas
PENGGUNAAN OBAT YANG RASIONAL
Menurut WHO (1987 ), pemakaian obat dikatakan rasional jika
memenuhi kriteria :
• Sesuai dengan indikasi penyakit
• Tersedia setiap saat dengan harga terjangkau
• Diberikan dengan dosis yang tepat
• Cara pemberian dengan interval waktu pemberian
yang tepat
• Lama pemberian yang tepat
• Obat yang diberikan harus efektif, dengan mutu
terjamin dan aman.
BEBERAPA PERTIMBANGAN DALAM PEMILIHAN OBAT
(WHO, 1995 )

 Manfaat ( Efecacy )

 Kemanfaatan dan Keamanan Obat sudah terbukti


( safety )

 Resiko pengobatan yang paling kecil dan seimbang


dengan manfaat dan keamanan yang sama dan
terjangkau oleh pasien ( affordable )

 Kesesuaian / suittability ( cost )


Proses Pengobatan Rasional
Meliputi :
 Langkah 1 : Mendefinisikan masalah pasien

 Langkah 2 : Menentukan tujuan terapi

Apa yang anda ingin capai dengan terapi tersebut ?

 Langkah 3 : Menentukan penanganan yang sesuai dengan


terapi untuk pasien tersebut.
Periksalah efektivitas dan keamanannya.

 Langkah 4 : Memulai pengobatan

 Langkah 5 : Memberi penjelasan, cara pakai dan peringatan.

 Langkah 6 : Memantau (dan menghentikan ? ) pengobatan.


PERESEPAN YANG RASIONAL (WHO,1995)
Peresepan yang rasional jika memenuhi beberapa persyaratan
yang mencakup : Appropriate indication
( Tepat Indikasi )

Appropriate drug
Pasien receive ( Tepat Obat )
appropriate medicines
according to their clinical Appropriate administration,
dosage & duration
needs at an appropriate ( Tepat pemberian, dosis, lama
dosage,
pemberian )
administration &
duration and in a way
that encourages the Appropriate pasient
patient compliance ( Tepat Pasien )
and at the lowest cost
to the community

Appropriate information
( Tepat Information )

Appropriate cost
( Tepat biaya )
PENGKAJIAN PENGGUNAAN
OBAT SECARA RASIONAL
DIRUMUSKAN :
 Tepat Pasien

 Tepat Indikasi 4T+1W


 Tepat Obat
 Tepat Dosis
 Waspada
Efek
Samping
PERESEPAN YANG RASIONAL (WHO,1995)
 TEPAT PASIEN

“ Diagnosis yang tepat menentukan pengobatan yang


tepat “ “ Setiap pasien mempunyai respon yang
berbeda terhadap
obat “

Tepat pasien adalah ketepatan dalam menilai kondisi pasien dengan


mempertimbangkan :

# Adanya penyakit yang menyertai.


* Kelainan ginjal
Obat yang mempengaruhi Ginjal ( Nefrotoksik ) :
Kaptopril, Aminoglikosida, Lithium, Simetidine
* Kelainan hati
Obat yang mempengaruhi hati ( Hepatotoksik )
# Kondisi Khusus : Hamil, Laktasi, Lansia,
Balita

# Pasien dengan riwayat alergi Mis


: Alergi Antibiotika tertentu

# Pasien dengan riwayat gangguan


pshykologis
( Mis : bila diinjeksi pingsan)
 TEPAT INDIKASI

“ Tidak semua pasien memerlukan


Intervensi Obat “

Ketepatan Indikasi Penggunaan Obat apabila ada


indikasi yang benar( sesuai dengan diagnosa Dokter )
untuk penggunaan obat tersebut dan telah terbukti
manfaat terapetiknya.
Contoh :
* Pasien dengan diagnosa TB Paru diberikan Obat

dengan komposisi Rifampisin, Ethambutol dan INH


* Pasien dengan Diagnosa DM Type 2 diberikan

: Glibenclamid, Humulin Injeksi dll.


 TEPAT OBAT
“ Efek Klinik apa yang diharapkan ?

Tepat Obat adalah Ketepatan pemilihan obat apabila


dalam proses pemilihan obat mempertimbangkan :

# Ketepatan Kelas Terapi & Jenis Obat yang diperlukan

# Kemanfaatan dan Keamanan sudah terbukti

# Jenis obat paling mudah didapat

# Sedikit Mungkin Jumlah Jenis obat


 TEPAT PEMBERIAN, DOSIS DAN LAMA
PEMBERIAN
“ Efek Obat yang maksimal diperlukan
penentuan dosis, cara dan lama
pemberian yang tepat “

# Besar dosis, cara dan frekuensi pemberian umumnya didasarkan


pada sifat Farmakokinetika dan farmakodinami obat serta kondisi
pasien.

# Sedang lama pemberian berdasarkan pada sifat penyakit: ( akut


atau kronis, kambuh berulang dsb )

* Tepat Dosis adalah


Jumlah obat yang diberikan berada dalam range
terapi
• Tepat Cara pemberian
adalah Pemilihan yang tepat pemberian obat sesuai dengan kondisi
pasien. Mis : per Oral, per Rektal, Intravena, Intratekal, subcutan
dll
• Tepat Frekuensi / Interval
adalah Pemilihan yang tepat frekuensi / interval pemberian obat .
Mis : per 4 jam, per 6 jam, per 8 jam, per 12 jam dan per 24 jam dll
• Tepat Lama Pemberian
adalah Penetapan lama pemberian obat
selam 3 hari, 5 hari, 10 hari, 3 bulan dll
• Tepat Saat Pemberian
adalah pemilihan saat yang tepat pemberian obat
disesuaikan dengan kondisi pasien. Mis : sebelum makan
( antecoenum, postcoenum, pre operasi atau post operasi )
PERESEPAN YANG RASIONAL (WHO,1995) - 6

 TEPAT INFORMASI

Apabila informasi yang diberikan jelas ( tidak bias )


tentang obat yang digunakan oleh pasien dan
informasi lain yang menunjang perbaikan pengobatan
Misalnya :
Cara pemakaian, efek samping, kegagalan terapi
bila tidak taat, upaya yang dilakukan bila penyakit
makin memburuk, mencegah faktor resiko yang
terjadinya penyakit dll.
 TEPAT BIAYA

Apabila biaya ( harga obat dan biaya pengobatan


hendaknya dipilih yang paling terjangkau oleh kondisi
keuangan pasien )

Contoh :
Mengutamakan meresepkan obat –obat Generik
dibandingkan dengan obat –obat patent yang biaya /
harga jelas lebih mahal
PENGKAJIAN
KegiatanOBAT
dalam pelayanan kefarmasian
dimulai dari seleksi persyaratan
administrasi, persyaratan farmasi dan
persyaratan klinis baik untuk pasien rawat
inap maupun rawat jalan.

A. Persyaratan administrasi meliputi


: Nama, umur, jenis kelamin dan berat
badan pasien
 Nama, nomor ijin, alamat dan paraf dokter
 Tanggal resep
 Ruangan/unit asal resep
B. Persyaratan farmasi meliputi :
 Bentuk dan kekuatan sediaan

 Dosis dan Jumlah obat

 Stabilitas dan ketersediaan

 Aturan, cara dan tehnik

penggunaan

C. Persyaratan klinis meliputi :


 Ketepatan indikasi, dosis dan
waktu penggunaan obat
 Duplikasi pengobatan
 Alergi, interaksi dan efek
samping obat
 Kontra indikasi
a. PERESEPAN BOROS  Untreated
( EXTRAVAGANT) indications
b. PERESEPAN
 Medication use
without indication
BERLEBIHAN ( OVER
 Improper drug
PRESCRIBING ) selection
c. PERESEPAN MAJEMUK  Subtherapeutic
( MULTIPLE PRESCRIBING ) dosage
d. PERESEPAN SALAH  Overdosis
( INCORRECT  Failure to receive
PRESCRIBING ) medications
 Adverse Drug
Reaction : Drug
Allergy
 Drug
Interaction
 Tepat Pasien
 Tepat Indikasi
 Tepat Obat PENGKAJIAN
 Tepat Dosis PENGGUNAAN
 Waspada Efek OBAT
Samping
SECARA
RASIONAL
DISPENSING

• Merupakan kegiatan pelayanan yang dimulai


dari tahap validasi,

• interpretasi, menyiapkan/meracik
obat, memberikan label/etiket,
• penyerahan obat dengan pemberian
informasi obat yang memadai disertai
sistem dokumentasi.
Tujuan
 Mendapatkan dosis yang tepat dan aman
 Menyediakan nutrisi bagi penderita yang tidak
dapat menerima makanan secara oral atau
emperal
 Menyediakan obat kanker secara efektif, efisien
dan bermutu.
 Menurunkan total biaya obat
UPAYA MENINGKATKAN PENGGUNAAN
OBAT YANG RASIONAL

 Peningkatan kemampuan Dokter sebagai Penulis


Resep

 Peningkatan kemampuan Apoteker dalam


menyelesaikan “ Permasalah yang berhubungan
dengan obat ” ( DRP )

 Pemberian Pendidikan & Konseling Pasien


di Unit
– unit Pelayanan Kesehatan oleh Apoteker sebagai
“Drug Informan dan Drug Konselor” ( Puskesmas,
Apotek dan Rumah Sakit )

 Optimalisasi Kegiatan Panitia / Komite Farmasi dan


Terapi dalam Evaluasi Penggunaan Obat / PPOSR di
PENGGUNAAN OBAT YANG IRASIONAL
Gejala ketidakrasionalan:
 Peresepan berlebihan (over prescribing)
 Peresepan yang kurang (under prescribing)
 Peresepan yang salah atau tidak tepat (incorect
prescribing)
 Peresepan yang boros (extravagant prescribing)
 Peresepan banyak jenis (multiple prescribing)
Dampak Penggunaan Obat Yang Tidak Rasional
- Mutu pengobatan dan pelayanan
- Biaya pelayanan pengobatan
- Efek samping dan efek lain (resistensi, resiko
penularan penyakit penggunaan jarum suntik yang
tidak steril, dan bahaya alergi)
- Kondisi psikososial.
Faktor Yang mempengaruhi Terjadinya Pemakaian
Obat Yang Tidak Rasional
1. Pembuat resep/dokter
 Protap -
 Pengalaman
 Informasi perusahaan farmasi
 Tekanan dari pasien
 Kekurangyakinan diagnosis
 Terbatasnya waktu untuk pemeriksaan
seksama
2. Pasien/masyarakat
- Sebagian pasien belum merasa sembuh dari
sakitnya bila tidak disuntik
- Sebagian orang tua pasien minta anaknya
yang diare disuntik, atau diberi antibiotika
ataupun antidiare.
3. Sistem perencanaan dan pengelolaan obat
- Keterbatasan dana
- Terbatasnya jumlah obat yang tersedia
- Perencanaan dan pengadaan obat tidak
sesuai kebutuhan
4. Kebijaksanaan obat dan pelayanan kesehatan
- Pendelegasian wewenang untuk melakukan
praktek pengobatan yang tidak didasari
pengetahuan tentang obat.
- Petugas memberikan obat ke pasien tanpa
resep
5. Informasi, iklan obat, persaingan praktek dan
memberikan pengobatan yang sesuai dengan
permintaan pasien
Tanda2 belum optimalnya sistem pelayanan
kesehatan → penggunaan obat tidak rasional

 Asuransi kesehatan ↙.
 Promosi obat ke dokter dan masyarakat ↗.
 Informasi obat ↙ oleh apoteker
 Pengetahuan masyarakat ↙
TUGAS
APOTEKER
:
MENCEGAH DAN MENGATASI :

 DRUG RELATED
 MORBIDITY and MORTALITY
 DRMM

DENGAN CARA :
 Mempelajari profil penderita, profil penyakit dan
profil obat
 Mengidentifikasi DRPs
 Memberikan REKOMENDASI kepada :
Dokter,
Perawat,
Penderita dan atau keluarganya
Rekomendasi : Indikasi
• Penderita M; 6,5 bln; BB 7 kg;
Suspect Idiopathic Thrombo
Purpurea, data klinis, lab normal
• Terapi : Ampicillin iv 1 hari,
rencana dilanjutkan Amoxicylline
po 5 hari
• Saran : Antibiotik dihentikan

• Tindaklanjut : Amoxicylline tidak


jadi diberikan
Rekomendasi : Pemilihan antibiotika
• Penderita A; 2 thn; Diare akut dan
DBD
• Terapi : Tetracycline 250 mg setiap 8
jam
• Saran : Tetracycline diganti
Cotrimoxazole karena tidak dianjurkan
untuk usia di bawah 8 tahun
• Tindaklanjut : Tetracycline diganti
Cotrimoxazole 40 mg setiap 12
jam
Rekomendasi : Dosis
Penderita N ; 21 bulan; BB 9 kg;
AcuteLymphoblastic Leukemia;
Terapi : Cotrimoxazole 2 x 100
mg/hari
Saran : Dosis diturunkan menjadi 2 x 36
mg atau 2 x 45 mg/hari, karena dosis
lazim Cotrimoxazole 4-5 mg/kg BB/Dosis
setiap 12 jam
Tindaklanjut : dosis Cotrimoxazole
dirubah menjadi 45 mg/hari setiap
12 jam
Rekomendasi: Interval pemberian
• Pemberian Ceftriaxone setiap 8 jam
disarankan dirubah menjadi setiap
12 – 24 jam

• Pemberian Cotrimoxazole setiap 6


jam disarankan dirubah menjadi
setiap 12 jam
Rekomendasi : Rute pemberian
Penderita Is ; 7 tahun ; BB 18,5 kg ;
CML dan suspect sepsis ; data lab Hb=
4,5 Leucocyt =500 Thrombocyt =
2000
Terapi : Amikacin inj i.m.
Saran : Amikacin i.v. drip selama 0,5 –
1 jam dalam NaCl 0,9% atau D5%
setiap 12 jam
Tindak lanjut : Amikacin i.m diganti
menjadi Amikacin i.v drip
Rekomendasi : Lama pemberian
 Penderita A ; 8 bulan ; 7,3 kg ; ALL
 Terapi : Cefotaxim iv, kemudian
dirubah menjadi Amoxycillin po selama
2 minggu.Pada minggu ketiga data
klinis dan data lab normal
 Saran : Amoxycillin dihentikan
 Tindak lanjut : menunggu data lab
terbaru, setelah 2 hari kemudian hasil
lab normal, pemberian Amoxycilline
dihentikan
Rekomendasi : Stabilitas sediaan
 Injeksi Ampicillin setelah direkonstitusi
hanya stabil 1 jam pada suhu kamar dan
4 jam pada suhu dingin
 Injeksi Cefotaxim dan Ceftazidim
setelah direkonstitusi hanya stabil 24
jam pada suhu kamar dan 7-10 hari
pada suhu dingin
 Injeksi Meropenem setelah direkonstitusi
dengan aqua p.i., hanya stabil 2 jam pada
suhu kamar dan 12 jam pada suhu dingin
 Saran : sharing-use atau repackaging
SEKSI
PRODUKSI
IV-
Admixture

Cytotoxic
reconstitution
Re-packaging

Sediaan stabilitas rendah :


 Injeksi Meropenem stabil
2 jam suhu kamar dan
12 jam suhu dingin.
 Obat lain: Acyclovir,
Gancyclovir, Amoxyclav,
Ampi-Sulbactam…..

Saran : re-packaging
atau sharing-use
Rekomendasi : Pemantauan manfaat
 Penderita telah diberi antibiotik
definitif sesuai hasil pemeriksaan
mikrobiologi namun setelah 3-5 hari
tidak menunjukkan perbaikan

 Saran : re-evaluasi klinis


maupun laboratoris
Rekomendasi : Pemantauan
keamananan
 Penderita A; wanita; 20 thn;
urosepsis, post partus harike-3, BB 40
kg, BUN 84,3; Creatinine 3,55 ; SGOT
51; SGPT
47; Klirens 16,19 ml/men (<20
ml/menit)
 Terapi : Ciprofloxacin dosis

normal
 Saran : Dosis Ciprofloxacin

diturunkan 50%
 Tindak lanjut : Dosis

Ciprofloxacin disesuaikan
Rekomendasi: Penggunaan
antibiotika profilaksis bedah
 Pemberian antibiotika profilaksis bedah
dipilih antibiotika spektrum lebar dan
lama pemberian berkepanjangan, lebih
dari 24 jam bahkan sampai 1 minggu
setelah operasi

 Saran : pemberian disesuaikan dengan


golden standard

 Tindak lanjut : Kesalah pemberian


dikurangi dengan terbitnya PPAB dan
pelatihan-pelatihan