Anda di halaman 1dari 182

Learning Objectives

1. Menjelaskan tentang kelainan kulit dengan efloresensi


vesikobulosa (Varicella, Herpes Zoster, Herpes Simplex,
Impetigo Vesikobulosa).
2. Menjelaskan tentang infeksi virus pada kulit (veruka vulgaris,
kondiloma akuminata, moluskum kontagiosum)
3. Menjelaskan tentang infeksi bakteri pada kulit (folikulitis,
furunkel dan karbunkel, skrofuloderma, dan impetigo
ulseratif atau ektima)
4. Menjelaskan tentang nekrolisis epidermal (Steven-Johnson
Syndrome dan Toxic Epidermal Necrolysis)
5. Menjelaskan tentang infeksi parasit yang yang memberikan
gambaran efloresensi vesikobulosa (Skabies, Cutaneous Larva
Migrans, Insects bites)
Lo.1

KELAINAN KULIT DENGAN


EFLORESENSI VESIKOBULOSA
VARICELLA
Varisela
• = Cacar air, chicken pox.
• Infeksi akut primer menyerang kulit dan mukosa.
• Etiologi : VZV
• Tersebar kosmopolit, terutama anak-anak, transmisi aerogen,
masa penularan ± 7 hari dari onset lesi kulit.
• Masa inkubasi : 14-21 hari.

Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, Edisi 6


FKUI, 2010
Gejala Klinis
• Prodromal : demam tidak terlalu tinggi, malaise, nyeri kepala
 erupsi kulit : papul eritematosa  beberapa jam  vesikel
(tear drops)  pustul dan krusta  dpt timbul vesikel-vesikel
baru (polimorfik)
• Penyebaran : badan  wajah dan ekstremitas (selaput lendir
mata, mulut, saluran napas atas)
• Infeksi sekunder : pembesaran KGB regional
• Pruritus

Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, Edisi 6


FKUI, 2010
Varicella

Fitzpatrick’s Dermatology in General


Medicine, 7th ed, 2008
Diagnosis
• Percobaan Tzanck : sediaan apus dengan pewarnaan Giemsa.
• Bahan dari kerokan dasar vesikel
• Sel datia berinti banyak

Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, Edisi 6


FKUI, 2010
Differential Diagnosis

Fitzpatrick’s Dermatology in General


Medicine, 7th ed, 2008
Tatalaksana dan Pencegahan
• Terapi simptomatik : antipiretik dan analgesik, sedatif.
• Bedak + mentol atau kamfora  mencegah pecahnya vesikel
secara dini dan menghilangkan pruritus.
• Ab salep dan oral  infeksi sekunder
• Antivirus (asiklovir, valasiklovir, famsiklovir)
• VZIG IM  mencegah dan meringankan varisela

Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, Edisi 6


FKUI, 2010
Treatment

Fitzpatrick’s Dermatology in General


Medicine, 7th ed, 2008
Prevention

Fitzpatrick’s Dermatology in General


Medicine, 7th ed, 2008
Komplikasi
• Dewasa
– Ensefalitis
– Pneumonia
– Glomerulonefritis
– Karditis
– Hepatitis
– Keratitis, konjungtivitis
– Otitis dll.

Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, Edisi 6


FKUI, 2010
HZV
Herpes Zoster
• =Cacar ular
• Menyerang kulit dan mukosa.
• Etiologi : Varicella-Zoster virus.
• Reaktivasi virus yang terjadi setelah infeksi primer.
• Varicella  Herpes zoster
• Transimisi : aerogen dari penderita varisela atau herpes
zoster.

Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, Edisi 6


FKUI, 2010
Patogenesis
• VZV berdiam di ganglion posterior SST dan ganglion kranialis.
• Kelainan kulit yang timbul memberikan lokasi yang sama
dengan daerah persarafan ganglion (dermatom).
• Terkadang VZV juga menyerang ganglion anterior motorik
kranialis  gejala gangguan motorik

Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, Edisi 6


FKUI, 2010
Varicella to HZ

Fitzpatrick’s Dermatology in General


Medicine, 7th ed, 2008
Risk Factors
• Older age (≥ 60 y.o)
• Cellular immune dysfunction
• Female
• Physical trauma in the affected dermatome
• Emotional stress
• Frontal sinusitis.

Fitzpatrick’s Dermatology in General


Medicine, 7th ed, 2008
Gejala Klinis
• Lokasi : daerah torakal.
• Gejala prodromal sistemik (demam, pusing, malaise) dan
prodromal lokal (myalgia, ostealgia, pegal)  lesi kulit.
• Lesi kulit : eritema  vesikel (cairan jernih  keruh/abu-abu)
berkelompok dengan dasar kulit eritematosa dan edema 
pustul dan krusta.
• Terkadang terdapat HZ hemoragik (vesikel mengandung
darah)

Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, Edisi 6


FKUI, 2010
Gejala Klinis
• Masa tunas : 7-12 hari.
• Masa aktif (lesi-lesi baru dalam 1 minggu)  masa resolusi (1-
2 minggu)
• Pembesaran KGB regional
• Lokalisasi : unilateral dan dermatomal.
• SST  jarang timbul kelainan motorik.
• Hiperestesi pada daerah yang terkena  khas

Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, Edisi 6


FKUI, 2010
Gejala Klinis
• HZ oftalmikus : Infeksi cabang pertama N.V  kelainan pada
mata  cabang ke 2 dan 3  kelainan kulit
• HZ otikus (Ramsay Hunt Syndrome) : gangguan N.VII dan N.VIII
 Bell’s palsy, tinitus, vertigo, gangguan pendengaran,
nistagmus, nausea, gangguan pengecapan.
• HZ abortif : berlangsung dalam waktu singkat dan lesi hanya
beberapa vesikel dan eritema.

Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, Edisi 6


FKUI, 2010
Gejala Klinis
• HZ generalisata : unilateral dan segmental + lesi vesikel soliter
dan ada umbilikasi  orang tua atau orang dengan fisik
sangat lemah.
• Neuralgia pascaherpetik : nyeri yang timbul pada daerah
bekas penyembuhan > 1 bulan setelah penyakit sembuh 
orang yang mendapat HZ pada usia > 40 tahun.

Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, Edisi 6


FKUI, 2010
Clinical Features

Fitzpatrick’s Dermatology in General


Medicine, 7th ed, 2008
Clinical Features

Fitzpatrick’s Dermatology in General


Medicine, 7th ed, 2008
Diagnosis Banding
• Herpes simpleks
• Reumatik
• Angina pektoris

Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, Edisi 6


FKUI, 2010
Differential Diagnosis

Fitzpatrick’s Dermatology in General


Medicine, 7th ed, 2008
Tatalaksana
• Terapi sistemik (simptomatik) : analgetik dan antibiotik.
• HZ oftalmikus dan pasien dengan defisiensi imunitas 
asiklovir 5x800 mg/hari selama 7 hari dan valasiklovir
3x1000 mg/hari, famsiklovir dan pensiklovir 3x250 mg/hari.
• Neuralgia pascaherpetik  akupungtur, pregabalin 2x75
mg/hari  3-7 hari respons kurang  2x150 mg/hari  dosis
maksimum : 600 mg/hari

Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, Edisi 6


FKUI, 2010
Tatalaksana
• Antidepresi trisiklik (nortriptilin 5-150 mg/hari dan
amitriptilin 75 mg/hari)  menghilangkan nyeri 44-67%
kasus.
• KS (prednison 3x20 mg/hari 7 hari, tapered)  Ramsay-Hunt
Syndrome.
• Prednison + antivirus  mencegah fibrosis ganglion.

Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, Edisi 6


FKUI, 2010
Tatalaksana
• Stadium vesikel  bedak (protektif : mencegah infeksi
sekunder)
• Erosif  kompres terbuka
• Ulserasi  salep Ab

Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, Edisi 6


FKUI, 2010
Treatment

Fitzpatrick’s Dermatology in General


Medicine, 7th ed, 2008
Komplikasi
• Neuralgia pascaherpetik (10-15%)  > 40 tahun
• Infeksi sekunder  ulkus dengan penyembuhan berupa
sikatriks.
• HZ oftalmikus  ptosis paralitik, keratitis, skleritis, uveitis,
korioretinitis, neuritis optik.
• Paralisis motorik (1-5%)  2 minggu setelah onset lesi kulit
 sembuh spontan
• Infeksi paru, hepar, otak.

Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, Edisi 6


FKUI, 2010
Complication

Fitzpatrick’s Dermatology in General


Medicine, 7th ed, 2008
HERPES SIMPLEX
Herpes Simpleks
• Infeksi akut oleh HSV tipe I dan II  vesikel berkelompok di
atas kulit sembab dan eritematosa pada daerah dekat
mukokutan.
• Infeksi primer atau rekurens.
• Tersebar kosmopolit, HSV tipe I pada anak-anak, HSV tipe II
pada usia 20-30 tahun (IMS)

Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, Edisi 6


FKUI, 2010
Infeksi Primer
• Predileksi HSV Tipe I : pinggang ke atas, terutama daerah
mulut dan hidung, biasanya pada anak-anak.
• Predileksi HSV Tipe II : pinggang ke bawah, terutama daerah
genital.

Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, Edisi 6


FKUI, 2010
Infeksi Primer
• Berlangsung lebih lama dan lebih berat (3 minggu) + gejala
sistemik (demam, malaise, anoreksia, pembesaran KGB)
• Lesi : vesikel berkelompok di atas kulit yang sembab dan
eritematosa (cairan jernih  seropurulen)  krusta 
terkadang ulserasi dangkal  sembuh tanpa sikatriks

Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, Edisi 6


FKUI, 2010
HSV Infection

Fitzpatrick’s Dermatology in General


Medicine, 7th ed, 2008
HSV Infection

Fitzpatrick’s Dermatology in General


Medicine, 7th ed, 2008
Fase Laten
• Tidak ditemukan gejala klinis tetapi HSV dapat ditemukan
dalam keadaan tidak aktif pada ganglion dorsalis.

Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, Edisi 6


FKUI, 2010
Infeksi Rekuren
• HSV pada ganglion dorsalis menjadi aktif  gejala klinis.
• Faktor pemicu : trauma fisik (demam, infeksi, kurang tidur,
hubungan seksual), trauma psikis (gangguan emosional,
menstruasi), makanan-minuman.
• Gejala klinis lebih ringan dan berlangsung sekitar 7-10 hari.
• Gejala prodromal lokal : rasa panas, gatal, nyeri.

Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, Edisi 6


FKUI, 2010
HSV Infection

Fitzpatrick’s Dermatology in General


Medicine, 7th ed, 2008
HSV Infection

Fitzpatrick’s Dermatology in General


Medicine, 7th ed, 2008
Diagnosis
• HSv dapat ditemukan pada vesikel dan dibiakkan.
• Tidak ada lesi  antibodi terhadap HSV
• Percobaan Tzanck dengan pewarnaan Giemsa  sel datia
berinti banyak dan badan inklusi intranuklear.

Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, Edisi 6


FKUI, 2010
Diagnosis Banding
• Sekitar mulut dan hidung  impetigo vesikobulosa
• Daerah genital  ulkus durum, ulkus mole, ulkus mikstum.

Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, Edisi 6


FKUI, 2010
Tatalaksana
• Salep atau krim idoksuridin (stoxil, viruguent, virunguent-P)
• Preparat asiklovir (Zovirax) topikal  mengganggu replikasi
DNA virus  jika HSV aktif.
• Oral asiklovir 5x200 mg/hari selama 5 hari.
• Preparat lupidon H (untuk HSV tipe I) dan lupidon G (untuk
HSV tipe II)  mencegah rekurens
• Imunostimulator : levamisol, isoprinosin.

Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, Edisi 6


FKUI, 2010
Prognosis
• Pengobatan dini dan tepat  prognosis lebih baik.
• Orang dengan gangguan imunitas, pengobatan
imunosupresan lama atau fisik lemah  infeksi dapat
menyebar ke roagn-organ tubuh bagian dalam  fatal.
• Prognosis akan lebih baik seiring dengan meningkatnya usia
(orang dewasa)

Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, Edisi 6


FKUI, 2010
IMPETIGO VESIKOBULOSA
Impetigo
• Superficial pyoderma (infection in epidermis)  untreated 
extend to dermis  erythema and furuncle formation.
• Etiology : S.aureus (bullous and non-bullous impetigo) , Group
A Streptoccocus (non-bullous impetigo but less).

Fitzpatrick’s Dermatology in General


Medicine, 7th ed, 2008
Non-Bullous Impetigo
• > 70% cases.
• Occurs in children and adults.
• Spreads from nose to normal skin (11 days)  skin lesions
(another 11 days)
• Lesions commonly arise on the skin of face or extremities
after trauma.
• Common complain : pruritus or soreness of the affected area.

Fitzpatrick’s Dermatology in General


Medicine, 7th ed, 2008
Non-Bullous Impetigo
Cutaneous lesions
• Initial : transient vesicle or pustule  quickly evolves into
honey-colored crusted plaque (d > 2 cm)  untreated 
lesions slowly enlarge and involve new sites over several
weeks.
• Surrounding erythema and regional lymphadenopathy (90%
in prolonged and untreated infection)

Fitzpatrick’s Dermatology in General


Medicine, 7th ed, 2008
Non-Bullous Impetigo

Fitzpatrick’s Dermatology in General


Medicine, 7th ed, 2008
Bullous Impetigo
• Occurs more commonly in newborn and older infants.
• Characterized by rapid progressions of vesicles to flaccid
bullae.
• Contain clear yellow fluid  subsequently dark yellow and
turbid.
• Sharply demarcated margins without erythematous halo.
• Superficial bullae  1-2 days  rupture or collapse 
forming thin, light brown to golden yellow crusts.

Fitzpatrick’s Dermatology in General


Medicine, 7th ed, 2008
Bullous Impetigo

Fitzpatrick’s Dermatology in General


Medicine, 7th ed, 2008
Bullous Impetigo

Fitzpatrick’s Dermatology in General


Medicine, 7th ed, 2008
Complication
• Cellulitis
• Lymphangitis
• Bacteremia
• Osteomyelitis
• Septic arthritis
• Pneumonitis
• Septicemia

Fitzpatrick’s Dermatology in General


Medicine, 7th ed, 2008
Treatment
• Local treatment : mupirocin ointment or cream, removal of crusts,
good hygiene  mild-moderate cases.
• Adult with extensive or bullous lesions  dicloxacillin 250-500 mg
orally q.i.d ; erythromycin 250-500 mg PO q.i.d ; azithromycin 500
mg 1st day and 250 mg/day for next 4 day for 5-7 days.
• Children  amoxicillin + clavulanic acid 25 mg/kg/day t.i.d;
cephalexin 40-50 mg/kg/day ; clindamycin 15 mg/kg/day t.i.d or
q.i.d  for 10 days

Fitzpatrick’s Dermatology in General


Medicine, 7th ed, 2008
Lo.2

PENYAKIT YANG DAPAT MENYEBABKAN


EFLUORESENSI VESIKOBULOSA
Infeksi Virus
VERUKA VULGARIS
Veruka Vulgaris
• Kutil atau common wart.
• Hiperplasia epidermis yang disebabkan oleh HPV
• Transmisi : kontak kulit, autoinokulasi, tersebar kosmopolit.
• Terutama terdapat pada anak-anak, tetapi juga terdapat pada
dewasa dan orang tua.
• Predileksi : ekstremitas bagian ekstensor, dapat ke bagian
tubuh lain (mukosa mulut dan hidung).

Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, Edisi 6


FKUI, 2010
Gambaran Klinis
• Lesi : bulat, abu-abu, lentikular atau jika berkonfluensi
berbentuk plakat, permukaan kasar (verukosa), goresan 
autoinokulasi sepanjang goresan (Koebner phenomenon).
• Induk kutil  anak-anak kutil dalam jumlah banyak.
• Varian (verukosa filiformis) : penonjolan tegak lurus pada
permukaan kulit dan memiliki permukaan kasar pada daerah
wajah dan kulit kepala.

Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, Edisi 6


FKUI, 2010
Common Wart

Fitzpatrick’s Dermatology in General


Medicine, 7th ed, 2008
Common Wart

Fitzpatrick’s Dermatology in General


Medicine, 7th ed, 2008
Tatalaksana
• Bahan kaustik : larutan AgNO3 25%, asam triklorosetat 50%,
dan fenol likuifaktum.
• Bedah beku : CO2, N2, N2O.
• Bedah skalpel
• Bedah listrik
• Bedah laser

Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, Edisi 6


FKUI, 2010
Prognosis
• Sering residif, walaupun diberikan pengobatan yang adekuat.

Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, Edisi 6


FKUI, 2010
KONDILOMA AKUMINATA
Kondiloma Akuminata
• Vegetasi oleh HPV tipe tertentu, bertangkai dan permukaan
berjonjot.
• IMS, tersebar kosmopolit dan melalui kontak kulit langsung.
• HPV : virus DNA (Tipe 6, 11, 16, 18, 30, 31, 33, 35, 39, 41, 42,
44, 51, 52, 56)
• Faktor predisposisi : higienis buruk, fluor albus, kelembaban
pada pria akibat tidak disirkumsisi.

Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, Edisi 6


FKUI, 2010
Gejala Klinis
• Predileksi : intertriginosa yang lembab (genitalia eksterna)
• Pria  perineum, sekitar anus, sulkus koronarius, glans penis,
OUE, korpus dan pangkal penis.
• Wanita  vulva dan sekitar, introitus vagina dan terkadang
portio uteri.
• Lesi : vegetasi bertangkai kemerahan  kehitaman;
permukaan berjonjot (papilomatosa)  infeksi sekunder :
keabu-abuan dan berbau tidak enak.

Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, Edisi 6


FKUI, 2010
Genital Wart

Fitzpatrick’s Dermatology in General


Medicine, 7th ed, 2008
Diagnosis Banding
• Veruka vulgaris  vegetasi tidak bertangkai, kering, dan abu-
abu atau sewarna kulit.
• Kondiloma latum  sifilis stadoum II, plakat erosif, banyak
Spirochaeta pallidum.
• Karsinoma sel skuamosa  vegetasi seperti kembang kol,
mudah berdarah dan berbau.

Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, Edisi 6


FKUI, 2010
Tatalaksana
• Podofilin : tingtur podofilin 25% dapat diulangi setiap 3 hari
 jangan > 0,3 cc.
• Asam triklorasetat 50% setiap minggu  hari-hati bisa ulkus.
• 5-fluorourasil 1-5% dalam krim setiap hari sampai lesi hilang.

Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, Edisi 6


FKUI, 2010
Tatalaksana
• Bedah listrik (elektrokauterisasi)
• Bedah beku (N2, N2O cair)
• Bedah skalpel
• Laser CO2
• Interferon IM atau intralesi dan krim : IF-α 4-6 mU IM
3x/minggu 6 minggu atau 1-5 mU IM 6 minggu, IF-β 2x106
unit IM 10 hari berturut-turut.
• Imunoterapi

Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, Edisi 6


FKUI, 2010
MOLUSKUM KONTAGIOSUM
Moluskum Kontagiosum
• Penyakit yang disebabkan oleh virus Poks.
• Klinis : papul, permukaan terdapat lekukan, berisi massa yang
mengandung badan moluskum.
• Terutama menyerang anak-anak dan terkadang dewasa (IMS)
• Transmisi : kontak kulit langsung dan autoinokulasi.

Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, Edisi 6


FKUI, 2010
Gambaran Klinis
• Masa inkubasi : 1-beberapa minggu.
• Lesi kulit : papul miliar (terkadang lentikular) putih seperti
lilin, berbentuk kubah dan di tengah terdapat lekukan (delle)
 dipijat  keluar massa putih seperti nasi (badan
moluskum).
• Lokalisasi : wajah, badan, ekstremitas, (dewasa) pubis,
genitalia eksterna.

Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, Edisi 6


FKUI, 2010
Molluscum contagiosum

Fitzpatrick’s Dermatology in General


Medicine, 7th ed, 2008
Differential Diagnosis

Fitzpatrick’s Dermatology in General


Medicine, 7th ed, 2008
Tatalaksana
• Prinsip : mengeluarkan massa yang mengandung massa
moluskum.
• Ekstraktor komedo, jarum suntik, kuret.
• Cara lain : elektrokauterisasi atau bedah beku dengan CO2, N2
dan sebagainya.
• Dewasa  pasangan seksual juga harus diterapi

Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, Edisi 6


FKUI, 2010
Treatment

Fitzpatrick’s Dermatology in General


Medicine, 7th ed, 2008
Prognosis
• Kadang-kadang dapat timbul infeksi sekunder  supurasi.
• Menghilangkan semua lesi yang ada  tidak atau jarang
residif

Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, Edisi 6


FKUI, 2010
Infeksi Bakteri
SKROFULODERMA
Skrofuloderma
• TB kutis oleh M. tuberculosis
• Penjalaran langsung ke kulit dari organ di bawah kulit yang
telah dikenai penyakit TB yang sering berasal dari KGB.
• Predileksi : daerah yang banyak terdapat KGB superfisialis
(leher, ketiak, lipat paha)

Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, Edisi 6


FKUI, 2010
Skrofuloderma
• Porte d’entree daerah leher : tonsil atau paru.
• Portee d’entrée daerah aksila: apex pleura.
• Portee d’entrée daerah lipat paha (KGB inguinal lateral dan
femoral) : ekstremitas bawah.
• Ketiga tempat predileksi diserang sekaligus (leher, aksila, lipat
paha)  penyebaran hematogen.

Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, Edisi 6


FKUI, 2010
Lesi Kulit
• Mulai sebagai limfadenitis TB (pembesaran KGB tanpa tanda
radang akut selain tumor) dan periadenitis  semakin banyak
KGB terkena  konfluensi (perlekatan KGB dengan jaringan
sekitar)  perlunakan tidak serentak  konsistensi kenyal
dan lunak (abses dingin)  memecah  fistel  muara fistel
meluas  ulkus memanjang dan ireguler, sekitar berwarna
merah kebiruan, dinding bergaung, jaringan granulasi tertutup
oleh pus seropurulen  mengering  krusta kuning

Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, Edisi 6


FKUI, 2010
Gambaran Klinis
• Bervariasi tergantung pada lamanya penyakit.
• Skrofuloderma menahun : pembesaran banyak KGB dnegan
konsistensi kenyal dan lunak tanpa tanda radang akut (selain
tumor), periadenitis, abses dan fistel multipel, ulkus-ulkus
yang khas, sikatriks memanjang dan ireguler, jembatan kulit
(skin bridge)

Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, Edisi 6


FKUI, 2010
Scrofuloderma

Fitzpatrick’s Dermatology in General


Medicine, 7th ed, 2008
Diagnosis Banding
• Limfadenitis TB  limfadenitis bakterial non-TB,
limfosarkoma, limfoma malignum.
• Daerah aksila  hidradenitis supuratif (tanda-tanda radang
akut yang jelas, leukositosis)
• Daerah lipat paha  limfogranuloma venereum (coitus
suspectus, demam, malaise, artralgia, tanda radang akut elas,
KGB inguinal medial)

Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, Edisi 6


FKUI, 2010
Tatalaksana
• INH (anak 10 mg/kgBB, dewasa 5 mg/kgBB) + R (10 mg/kgBB)
+ Z (2035 mg/kgBB)  2 bulan  Z stop, INH+R lanjut
• INH + R + E (25 mg/kgBB bulan I dan II, 15 mg/kgBB bulan
berikut)  2 bulan  E stop, INH dan R lanjut.
• INH + R atau INH + E
• Obat cadangan : levofloksasin, ofloksasin, amoksisilin+kalium
klavulanat, amikasin.

Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, Edisi 6


FKUI, 2010
FURUNKEL DAN KARBUNKEL
Furunkel-Karbunkel
• Furunkel : radang folikel rambut dan sekitarnya.
• Karbunkel : kumpulan furunkel.
• Etiologi : S. aureus
• Gejala : nyeri, nodus eritematosa kerucut, di tengah terdapat
pustul  melunak  abses berisi pus dan jaringan nekrotik
 memecah membentuk fistel.
• Predileksi tempat : tempat yang banyak friksi (aksila dan
bokong)

Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, Edisi 6


FKUI, 2010
Furuncle

Fitzpatrick’s Dermatology in General


Medicine, 7th ed, 2008
Carbuncle

Fitzpatrick’s Dermatology in General


Medicine, 7th ed, 2008
Tatalaksana
• Antibiotik topikal  furunkel sedikit
• Antibiotik sistemik  karbunkel banyak

• Cari faktor predisposisi, misalkan DM

Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, Edisi 6


FKUI, 2010
FOLIKULITIS
Folikulitis
• Radang folikel rambut oleh S.aureus
• Folikulitis superfisialis (terbatas di dalam epidermis) dan
folikulitis profunda (sampai ke subkutan)
• Diagnosis banding : Tinea barbae  lokasi
mandibula/submandibula, unilateral, dan sediaan KOH (+)
• Tatalaksana : Ab sistemik/topikal dan cari faktor predisposisi.

Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, Edisi 6


FKUI, 2010
Folikulitis
• Folikulitis superfisialis (Impetigo Bockhart) : tungkai bawah,
papul atau pustul eritematosa dan di tengah terdapat rambut,
multipel.
• Folikulitis profunda : tungkai bawah, papul atau pustul
eritematosa, di tengah terdapat rambut dan teraba infiltrat di
subkutan.

Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, Edisi 6


FKUI, 2010
Superficial Folliculitis

Fitzpatrick’s Dermatology in General


Medicine, 7th ed, 2008
Deep Folliculitis

Fitzpatrick’s Dermatology in General


Medicine, 7th ed, 2008
IMPETIGO ULSERATIF (EKTIMA)
Ektima
• Ulkus superfisial dengan krusta di atasnya.
• Etiologi : Streptococcus β-hemolyticus.
• Terdapat pada anak maupun dewasa.
• Lesi : krusta tebal kuning, lokasi di tungkai bawah (lokasi yang
relatif terjadi trauma), ulkus yang dangkal di bawah krusta.
• Diagnosis banding : impetigo krustosa (anak, lokasi wajah,
dasar lesi erosi)

Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, Edisi 6


FKUI, 2010
Ulcerative Impetigo (Ecthyma)

Fitzpatrick’s Dermatology in General


Medicine, 7th ed, 2008
Tatalaksana
• Krusta sedikit  krusta diangkat  sale antibiotik.
• Krusta banyak  antibiotik sistemik

Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, Edisi 6


FKUI, 2010
Infeksi Parasit
SKABIES
Skabies
• Penyakit kudis
• Penyakit kulit yang disebabkan oleh infestasi dan sensitisasi
terhadap Sarcoptes scabiei var.hominis.

Buku Ajar Parasitologi Kedokteran FKUI


Edisi 4, 2008
Epidemiologi
• Faktor penunjang : sosio-ekonomi rendah, higienis buruk,
hubungan seksual, kesalahan diagnosis, dan perkembangan
dermografik dan ekologik.
• Transmisi : kontak langsung (kulit dengan kulit) dan kontak
tidak langsung (melalui benda).
• Penularan biasanya oleh S. scabiei betina yang sudah dibuahi
atau kadang berbentuk larva, S. scabiei var.animalis (anjing)

Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, Edisi 6


FKUI, 2010
Morfologi dan Daur Hidup
• Sarcoptes scabiei : tungau famili Sarcoptidae, ordo acari, kelas
Arachnida.
• Badan oval dan gepeng, betina 300x350 mikron, jantan
150x20 mikron.
• Stadium dewasa : 4 pasang (2 pasang kaki depan, 2 pasang
kaki belakang)

Buku Ajar Parasitologi Kedokteran FKUI


Edisi 4, 2008
Morfologi dan Daur Hidup
• Kopulasi  jantan mati (kadang dapat bertahan hidup
beberapa hari)  tungau betina membuat terowongan di
stratum korneum kulit  2 hari setelah kopulasi, betina
bertelur 2-3 butir/hari dalam terowongan  menetas jadi
larva (3-5 hari)  nimfa (3-4 hari)  dewasa 3-5 hari.

Buku Ajar Parasitologi Kedokteran FKUI


Edisi 4, 2008
Gambaran Klinis
• Lesi primer : terowongan berisi tungau, telur dan hasil
metabolisme.
• Saat menggali terowongan, tungau mengeluarkan sekret yang
dapat melisiskan stratum korneum  sekret dan ekskret 
sensitisasi  pruritus dan lesi sekunder.
• Lesi sekunder : papul, vesikel, pustul dan terkadang bula.
• Lesi tersier : ekskoriasi, eksematisasi dan pioderma.

Buku Ajar Parasitologi Kedokteran FKUI


Edisi 4, 2008
Gambaran Klinis
• Predileksi tempat : jari tangan, pergelangan tangan ventral,
siku bagian luar, lipatan ketiak depan, umbilikus, gluteus,
ekstremitas, genitalia eksterna laki-laki dan areola mammae
wanita.
• Bayi  telapak tangan dan telapak kaki.
• Lesi : terowongan putih abu-abu dengan panjang bervariasi
(rata-rata 1 mm), berbentuk lurus atau berkelok-kelok.

Buku Ajar Parasitologi Kedokteran FKUI


Edisi 4, 2008
Scabies

Fitzpatrick’s Dermatology in General


Medicine, 7th ed, 2008
Gejala Klinis
• Pruritus nokturna  karena aktivitas tungau meningkat pada
suhu lembab dan panas.
• Menyerang manusia secara berkelompok : keluarga,
perkampungan padat penduduk.
• Adanya terowongan (kunikulus) pada tempat predileksi :
putih keabuan, garis lurus atau berkelok, panjang 1 cm, ujung
terowongan ada papul atau vesikel.

Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, Edisi 6


FKUI, 2010
Gejala Klinis
• Infeksi sekunder  lesi kulit polimorfik (pustul, ekskoriasi, dll)
• Predileksi : tempat dengan stratum korneum tipis (sela-sela
jari tangan, pergelangan tangan bagian volar, lipat ketiak
bagian depan, siku luar, areolla mammae, umbilikus, bokong,
genitalia eksterna, perut bagian bawah.
• Menemukan tungau.

Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, Edisi 6


FKUI, 2010
Clinical Findings
• Initial exposure to scabies mite  nocturnal pruritus and rash
(6-8 weeks)
• Lesions : red, scaly, sometimes crusted (excoriated) papules
and nodules.
• Phatognomic lesion : burrow, think, thread-like, linear
structures, 1-10 mm length, tunnel  interdigital webs,
wrists, elbows.

Fitzpatrick’s Dermatology in General


Medicine, 7th ed, 2008
Clinical Findings
• Infants < 2 y.o  face and scalp can be infested,
erythematous-violaceous pruritic nodules in the axillae and
flanks of trunk.
• Vesicles and bullae can develop, particularly on palms and
fingers.
• Crusted scabies  hyperkeratotic plaques diffusely on palmar
and plantar + thickening and dystrophy of toenails and
fingernails

Fitzpatrick’s Dermatology in General


Medicine, 7th ed, 2008
Scabies

Fitzpatrick’s Dermatology in General


Medicine, 7th ed, 2008
Diagnosis
• Menemukan S. scabiei dengan cara mencongkel atau
mengeluarkan tungau dari kulit, kerokan kulit atau biopsi.
• Papul yang baik untuk dikerok : papul yang baru dibentuk.
• Pemeriksaan jangan dilakukan pada lesi ekskoriasi dan lesi
dengan infeksi sekunder.

Buku Ajar Parasitologi Kedokteran FKUI


Edisi 4, 2008
Diagnosis
• Kerokan kulit harus superfisial dan tidak boleh berdarah.
• Mengerok dari beberapa lesi (sela jari tangan).
• Sebelum mengerok, teteskan minyak mineral pada skalpel
dan pada lesi yang akan dikerok.

Buku Ajar Parasitologi Kedokteran FKUI


Edisi 4, 2008
Differential Diagnosis

Fitzpatrick’s Dermatology in General


Medicine, 7th ed, 2008
Tatalaksana
• Stadium larva, nimfa dan dewasa  preparat sulfur
presipitatum 5-10%.
• Gama benzen hesaklorida  tidak pada anak < 6 tahun.
• Permetrin krim 5%
• Benzilbenzoat 20-25% dan krotamin  mahal.

Buku Ajar Parasitologi Kedokteran FKUI


Edisi 4, 2008
Tatalaksana
• Krim dioleskan ke seluruh tubuh (leher  jari kaki) 12 jam,
memperhatikan pengolesan pada area intertriginosa.
• Mencuci pakaian, sprei dan sarung bantal dengan bersih dan
dijemur 2x/minggu.
• Ventilasi rumah diperbaiki  cahaya matahari dapat masuk.

Buku Ajar Parasitologi Kedokteran FKUI


Edisi 4, 2008
Tatalaksana
• Belerang endap (sulfur presipitatum) 4-20% salep atau krim 
tidak efektif pada stadium telur  pemakaian > 3 hari.
• Emulsi benzil-benzoat 20-25%  setiap malam selama 3 hari  ES :
iritasi dan gatal.
• Gameksan 1% dalam krim atau lotion  tidak pada anak < 6 tahun
dan wanita hamil.
• Krotamiton 10% krim atau lotion  antiskabies dan antipruritus.
• Permetrin 5% krim

Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, Edisi 6


FKUI, 2010
Treatment

Fitzpatrick’s Dermatology in General


Medicine, 7th ed, 2008
CREEPING ERUPTIONS
Cutaneous Larva Migrans
• Dermatitis dengan gambaran kelainan intrakutan serpiginosa.
• Etiologi : Ancylostoma branziliense, Ancylostoma caninum.
• Hospes definitif : kucing dan anjing.
• Distribusi geografik : daerah tropik dan subtropik.
• A. braziliense  2 pasang gigi tidak sama besar, panjang cacing
jantan 4.7-6,3 mm dan betina 6,1-8,4 mm.
• A. caninum  3 pasang gigi, panjang cacing jantan 10 mm dan
betina 14 mm.

Buku Ajar Parasitologi Kedokteran FKUI


Edisi 4, 2008
CLM
• Sering terjadi pada anak-anak yang sering berjalan tanpa alas kaki
atau sering kontak langsung dengan tanah atau pasir.
• Petani, tentara.
• Derah tropis dan subtropis yang hangat dan lembab.
• Peradangan berbentuk linear atau berkelok-kelok, timbul dan
progresif.

Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, Edisi 6


FKUI, 2010
Ancylostoma caninum

Fitzpatrick’s Dermatology in General


Medicine, 7th ed, 2008
Ancylostoma braziliense

Fitzpatrick’s Dermatology in General


Medicine, 7th ed, 2008
Gejala Klinis
• Kelainan intrakutan serpiginosa.
• Pada tempat larva filariform menembus kulit  papul, keras,
merah, gatal  beberapa hari  terowongan intrakutan
sempit (garis merah, sedikit menimbul, pruritus) bertambah
panjang sesuai gerakan larva di dalam kulit.
• Predileksi : kaki, lengan bawah, punggung, bokong.

Buku Ajar Parasitologi Kedokteran FKUI


Edisi 4, 2008
Gejala Klinis
• Masuknya larva ke kulit (pruritus dan panas)  papul  lesi linear
atau berkelok menimbul dengan d 2-3 mm kemerahan (larva di kulit
beberapa jam atau hari).
• Papul merah menjalar seperti benang berkelok-kelok  polisiklik,
serpiginosa, menimbul, terowongan dengan panjang beberapa cm.
• Pruritus hebat saat malam hari.
• Predileksi tempat : tungkai, plantar tangan, anus, bokong, paha.

Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, Edisi 6


FKUI, 2010
Clinical Findings
• Exposure to onset : 1-6 days.
• Related physical findings : wheezing, dry cough, urticaria (some
patients)
• Cutaneous lesions : erythematous, raised, vesicular, linear or
serpentine cutaneous trail.
• Lesions : 3 mm wide and 15-20 cm length, single or multiple,
intensely pruritic, may be painful.
• + pruritic folliculitis (20-100 follicular papules) in particular area.

Fitzpatrick’s Dermatology in General


Medicine, 7th ed, 2008
CLM

Fitzpatrick’s Dermatology in General


Medicine, 7th ed, 2008
Diagnosis Banding
• Skabies  terowongan tidak sepanjang CLM.
• Dermatofitosis
• Insects bites.
• HZ stadium awal.

Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, Edisi 6


FKUI, 2010
Tatalaksana
• Kloretil spray
• Albendazol 300 mg 3 hari berturut-turut.
• Anak usia < 2 tahun  salep albendazol 2%.

Buku Ajar Parasitologi Kedokteran FKUI


Edisi 4, 2008
Tatalaksana
• Tiabendazol (mintezol) 50 mg/kgBB/hari dalam 2 kali dosis selama 2
hari berturut-turut.
• Albendazol 400 mg/hari dosis tunggal 3 hari berturut-turut.
• Cryotherapy.

Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, Edisi 6


FKUI, 2010
INSECT BITES
Diptera
• Flies, mosquitos.
• Mosquito bites  wheal and papular lesions, urticarial,
vesicular, eczematous, granulomatous appearance  usually
subside over several days.
• Deposition of fly larva into intact skin or open wounds
(Dermatobia hominis)  cutaneous myiasis.

Fitzpatrick’s Dermatology in General


Medicine, 7th ed, 2008
Diptera

Fitzpatrick’s Dermatology in General


Medicine, 7th ed, 2008
Treatment of Diptera
• Diptera bites  cleansed thoroughly with soap and clean
water to avoid secondary infection.
• Short course of topical steroids and systemic antihistamine 
control the pruritus.
• Cutaneous myasis  logal surgical excision of the larva

Fitzpatrick’s Dermatology in General


Medicine, 7th ed, 2008
Hemiptera
Cimicidae (Cimex lectularius : bedbugs)
• Nocturnal, attracted to warmth and CO production.
• Can survive for 1 year or more without feeding, they usually seek
blood meal every 5-10 days.
• Bedbug bites : painless, multiple, may be grouped in linear, wheal,
papules, often with small hemorrhagic punctum at the center.
• Therapy : topical antiseptic lotion or antibiotic cream for secondary
infection, topical CS for pruritus.

Fitzpatrick’s Dermatology in General


Medicine, 7th ed, 2008
Bedbug Bites

Fitzpatrick’s Dermatology in General


Medicine, 7th ed, 2008
Hemiptera
Reduviidae (Triatoma spp : kissing bugs)
• Distinguished by triangular shape on its back formed by the
meeting of the membranous wings.
• Found in America, Africa, Asia, Europe.
• Vectors for Trypanosoma cruzi (Chagas disease)
• Predilection : on or near lips

Fitzpatrick’s Dermatology in General


Medicine, 7th ed, 2008
Hemiptera
Reduviidae (Triatoma spp : kissing bugs)
• Piercing mouthparts  feed on blood  turn around and defecate
immediately.
• Nocturnal feeders, usually prey on rodents.
• Bites : painful (necrosis, ulceration)/painless, papular, urticarial,
bullous reactions  few develop generalized acute allergic
reactions

Fitzpatrick’s Dermatology in General


Medicine, 7th ed, 2008
Shiponaptera
• Fleas : wingless, capable of jumping to height of 18 cm.
• Flea bites  minimal irritation in nonsesitized individuals 
linear or clustered urticarial papules, frequently found on
lower legs.
• Sensitized individuals (usually young children)  papular
urticaria, bullous reaction.
• Treatment : topical CS and antipruritus, oral antihistamines,
antibiotics (secondary bacterial infection)

Fitzpatrick’s Dermatology in General


Medicine, 7th ed, 2008
Flea Bites

Fitzpatrick’s Dermatology in General


Medicine, 7th ed, 2008
Shiponaptera
• Tungidae family : Tunga penetrans (sand flea)  tungiasis.
• Penetration of adult female flea into human skin to lay eggs.
• Lesions : almost exclusively on the feet (plantar surface or in
the web spaces)
• Pain, pruritus, secondary bacterial infection and sometimes
autoamputation of toes.
• Treatment : surgical excision of affected areas or cryotherapy
or topical agents, recommend tetanus prophylaxis.

Fitzpatrick’s Dermatology in General


Medicine, 7th ed, 2008
Tungiasis

Fitzpatrick’s Dermatology in General


Medicine, 7th ed, 2008
Nekrolisis Epidermal
STEVEN-JOHNSON SYNDROME
SSJ
• Sindrom yang mengenai kulit, selaput lendir di orifisium,
mata  ringan-berat, eritema, vesikel/bula, dapat purpura.
• Umumnya terjadi pada dewasa, 12 kasus/tahun.
• Etiologi : alergi obat (> 5%), infeksi, vaksinasi, neoplasma,
radiasi.
• Obat penyebab : analgetik/antipiretik (45%), karbamazepin
(20%), jamu (13,3%), amoksisilin, kotrimoksazol, dilantin,
klorokuin, seftriakson, adiktif.

Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, Edisi 6


FKUI, 2010
Etiology

Fitzpatrick’s Dermatology in General


Medicine, 7th ed, 2008
Patogenesis
• Reaksi hipersensitivitas tipe II (sitolitik)
• Destruksi keratinosit
• Aktivitas sel T (CD 4 dan CD8), IL-5, sitokin lain ↑  CD4
(dermis) dan CD8 (epidermis)

Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, Edisi 6


FKUI, 2010
Gambaran Klinis
• Jarang dijumpai usia < 3 tahun.
• Berat  kesadaran menurun (soporous-koma)
• Akut  gejala prodromal : demam tinggi, malaise, nyeri
kepala, batuk, pilek, nyeri tenggorokan.
• Nefritis dan onikolisis.

Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, Edisi 6


FKUI, 2010
Gambaran Klinis
• Kelainan kulit : eritema, vesikel, bula  pecah  erosi luas.
Dapat terjadi purpura.
• Kelainan selaput lendir di orifisum : mukosa mulut
(pseudomembran), lubang alat genital, lubang hidung dan
anus (jarang). Vesikel + bula cepat memecah  erosi,
ekskoriasi dan krusta kehitaman.
• Kelainan mata : konjungtivitis kataralis, konjungtivitis purulen,
perdarahan, simblefaron, ulkus kornea, iritis, iridosiklitis.

Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, Edisi 6


FKUI, 2010
Clinical Findings
• < 10% BSA  SJS
• 10-30% BSA  SJS/TEN overlap
• > 30%  TEN

• BSA : Body Surface Area

Fitzpatrick’s Dermatology in General


Medicine, 7th ed, 2008
Clinical Findings

Fitzpatrick’s Dermatology in General


Medicine, 7th ed, 2008
Clinical Findings

Fitzpatrick’s Dermatology in General


Medicine, 7th ed, 2008
Pemeriksaan Laboratorium
• Tidak khas
• Leukositosis  infeksi bakteri
• Eosinofilia  alergi
• Kultur darah

Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, Edisi 6


FKUI, 2010
Histopatologi
• Infiltrat sel MN di sekitar pembuluh darah dermis superfisial.
• Edema dan ekstravasasi SDM di dermis papilar.
• Degenerasi hidropik lapisan basalis sampai terbentuk vesikel
supepidermal.
• Nekrosis sel epidermal dan terkadang adneksa
• Spongiosis dan edema intrasel di epidermis.

Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, Edisi 6


FKUI, 2010
Approach

Fitzpatrick’s Dermatology in General


Medicine, 7th ed, 2008
Tatalaksana
• Obat suspect causa dihentikan
• KU pasien baik dan lesi tidak menyeluruh  prednison 30-40
mg/hari
• KU buruk dan lesi menyeluruh  rawat inap, KS (life-saving)
deksametason IV 4-6 x 5 mg/hari, metilprednisolon, tapering
off.
• Cegah infeksi (bronkopneumonia)  Ab (siprofloksasin 2x400
mg IV, klindamisin 2x600 mg/hari IV, seftriakson 2 g/hari IV)

Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, Edisi 6


FKUI, 2010
Tatalaksana
• Mengatur keseimbangan cairan/elektrolit dan nutrisi 
dekstrose 5%, NaCl 9%, RL  tidak ada perbaikan dalam 2
hari  transfusi darah 300 cc 2 hari berturut-turut.
• Purpura luas  + vitamin C 500 mg atau 1000 mg sehari IV
• Daerah erosi dan ekskoriasi  krim sulfodiazin-perak
• Lesi di mulut  Kenalog in orabase dan betadine gargle.
• Bibir dengan krusta tebal kehitaman  emolien (krim urea
10)

Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, Edisi 6


FKUI, 2010
Indikasi Transfusi Darah
• Bila telah diobati dengan KS dosis adekuat setelah 2 hari
belum ada perbaikan (deksametason 2 hari 30 mg untuk SSJ)
• Bila terdapat purpura generalisata
• Jika terdapat leukopenia

Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, Edisi 6


FKUI, 2010
Prognosis
• Tindakan tepat dan cepat  prognosis cukup memuaskan.
• Purpura luas dan leukopenia  prognosis buruk
• Bronkopenumonia  fatal  prognosis buruk

Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, Edisi 6


FKUI, 2010
Prognostic Scoring

Fitzpatrick’s Dermatology in General


Medicine, 7th ed, 2008
Komplikasi
• Bronkopneumonia (16%)  kematian
• Kehilangan cairan/darah
• Gangguan keseimbangan elektrolit
• Syok
• Mata : gangguan lakrimasi  kebutaan.

Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, Edisi 6


FKUI, 2010
TOXIC EPIDERMAL NECROLYSIS
NET
• Penyakit berat dengan epidermolisis generalisata, kelainan
pada selaput lendir di orifisium dan mata.
• 2-3 kasus/tahun, lebih jarang daripada SSJ, umumnya
mengenai orang dewasa.
• Etiologi : alergi obat (penisilin, parasetamol, karbamazepin,
analgetik/antipiretik lain)

Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, Edisi 6


FKUI, 2010
Etiology

Fitzpatrick’s Dermatology in General


Medicine, 7th ed, 2008
Gejala Klinis
• Demam tinggi, kesadaran menurun (soporous-koma).
• Gangguan keseimbangan cairan/elektrolit dan sepsis 
kematian.
• Lesi kulit : eritema generalisata  banyak vesikel dan bula,
dapat purpura.
• Lesi bibir dan selaput lendir mulut : erosi, ekskoriasi,
perdarahan  krusta merah-kehitaman

Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, Edisi 6


FKUI, 2010
Clinical Findings

Fitzpatrick’s Dermatology in General


Medicine, 7th ed, 2008
Gejala Klinis
• Kelainan mata dan orifisium genitalia eksterna = SSJ
• Epidermolisis generalisata  Nikolsky sign (+)  pada
daerah yang sering terkena tekanan (punggung dan bokong)
• Onikolisis
• Terkadang perdarahan pada GIT

Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, Edisi 6


FKUI, 2010
Clinical Findings

Fitzpatrick’s Dermatology in General


Medicine, 7th ed, 2008
Clinical Findings

Fitzpatrick’s Dermatology in General


Medicine, 7th ed, 2008
Histopatologi
• Stadium dini  vakuolisasi dan nekrosis sel-sel basal
sepanjang perbatasan dermal-epidermal.
• Stadium lanjut  nekrosis eosinofilik sel epidermis dengan
pembentukan lepuh sub-epidermal.

Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, Edisi 6


FKUI, 2010
Diagnosis Banding
• SSJ
• DKI karena baygon.
• SSSS (Staphylococcus Scalded Skin Syndrome) 
epidermolisis, selaput lendir jarang kena, anak < 5 tahun,
kelainan kulit di wajah, leher, aksila, lipat paha dan
leukositosis

Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, Edisi 6


FKUI, 2010
Tatalaksana
• Konsumsi obat suspect causa harus segera dihentikan.
• KS : deksametason 40 mg/hari IV dosis terbagi
• Topikal : krim sulfadiazin perak
• Kenalog in orabase dan betadine gargle untuk lesi di mulut
• Emolien : krim urea 10% untuk lesi di bibir (krusta tebal
kehitaman).
• Purpura luas  + vitamin C 500 mg atau 1000 mg sehari IV

Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, Edisi 6


FKUI, 2010
Tatalaksana
• Mengatur keseimbangan cairan/elektrolit dan nutrisi 
dekstrose 5%, NaCl 9%, RL  tidak ada perbaikan dalam 2
hari  transfusi darah 300 cc 2 hari berturut-turut.
– Bila telah diobati dengan KS dosis adekuat setelah 2 hari belum ada
perbaikan (deksametason 2 hari 40 mg untuk NET)
– Bila terdapat purpura generalisata
– Jika terdapat leukopenia

Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, Edisi 6


FKUI, 2010
Approach

Fitzpatrick’s Dermatology in General


Medicine, 7th ed, 2008
Prognosis
• Etiologi infeksi  prognosis lebih baik daripada etiologi alergi
obat.
• Kelainan kulit luas (50-70% permukaan kulit)  prognosis
buruk
• Purpura luas dan leukopenia  prognosis buruk.

Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, Edisi 6


FKUI, 2010
Prognostic Scoring

Fitzpatrick’s Dermatology in General


Medicine, 7th ed, 2008
Komplikasi
• Ginjal : nekrosis tubular akut
• GNA
• Bronkopneumonia
• Kehilangan cairan/darah
• Gangguan keseimbangan elektrolit
• Syok
• Mata : gangguan lakrimasi  buta.

Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, Edisi 6


FKUI, 2010

Anda mungkin juga menyukai