Anda di halaman 1dari 37

BAB I PENDAHULUAN A.

LATAR BELAKANG Filsafat dan Ilmu adalah dua kata yang saling berkaitan baik secara substansial maupun historis. Kelahiran suatu ilmu tidak dapat dipisahkan dari peranan filsafat, sebaliknya perkembangan ilmu memperkuat keberadaan filsafat. Ilmu atau Sains merupakan komponen terbesar yang diajarkan dalam semua strata pendidikan. Walaupun telah bertahun-tahun mempelajari ilmu, pengetahuan ilmiah tidak digunakan sebagai acuan dalam kehidupan sehari-hari. Ilmu dianggap sebagai hafalan saja, bukan sebagai pengetahuan yang mendeskripsikan, menjelaskan,

memprediksikan gejala alam untuk kesejahteraan dan kenyamanan hidup. Kini ilmu telah tercerabut dari nilai luhur ilmu, yaitu untuk menyejahterakan umat manusia. Bahkan tidak mustahil terjadi, ilmu dan teknologi menjadi bencana bagi kehidupan manusia, seperti pemanasan global dan dehumanisasi. Ilmu dan teknologi telah kehilangan rohnya yang fundamental, karena ilmu telah mengurangi bahkan menghilangkan peran manusia, dan bahkan tanpa disadari manusia telah menjadi budak ilmu dan teknologi. Oleh karena itu, filsafat ilmu mencoba mengembalikan roh dan nilai luhur dari ilmu, agar ilmu tidak menjadi bumerang bagi kehidupan manusia. Filsafat ilmu akan mempertegas bahwa ilmu dan teknologi

adalah instrumen dalam mencapai kesejahteraan bukan tujuan. Filsafat ilmu diberikan sebagai pengetahuan bagi orang yang ingin mendalami
1

hakikat ilmu dan kaitannya dengan pengetahuan lainnya. Dalam masyarakat religius, ilmu dipandang sebagai bagian yang tidak

terpisahkan dari nilai-nilai ketuhanan, karena sumber ilmu yang hakiki adalah Tuhan. Manusia diberi daya fikir oleh Tuhan, dan dengan daya fikir inilah manusia menemukan teori-teori ilmiah dan teknologi. Pengaruh agama yang kaku dan dogmatis kadang kala menghambat perkembangan ilmu. Oleh karenanya diperlukan kecerdasan dan kejelian dalam memahami kebenaran ilmiah dengan sistem nilai dalam agama, agar keduanya tidak saling bertentangan. Dalam filsafat ilmu, ilmu akan dijelaskan secara filosofis dan akademis sehingga ilmu dan teknologi tidak tercerabut dari nilai agama, kemanusiaan lingkungan. Dengan demikian filsafat ilmu akan memberikan nilai dan orientasi yang jelas bagi setiap ilmu.

B. PENDEKATAN FILSAFAT DALAM MEMPEROLEH ILMU Pada zaman Plato sampai pada masa Al-Kindi, batas antara filsafat dan ilmu pengetahuan boleh dikatakan tidak ada. Seorang filosof (ahli filsafat) pasti menguasai semua ilmu pengetahuan. Perkembangan daya berfikir manusia yang mengembangkan filsafat pada tingkat praktis dikalahkan oleh perkembangan ilmu yang didukung oleh teknologi. Wilayah kajian filsafat menjadi lebih sempit dibandingkan dengan wilayah kajian ilmu. Sehingga ada anggapan filsafat tidak dibutuhkan lagi. Filsafat kurang membumi sedangkan ilmu lebih bermanfaat dan lebih praktis.
2

Pada hal filsafat menghendaki pengetahuan yang komprehensif yang luas, umum, dan universal dan hal ini tidak dapat diperoleh dalam ilmu. Sehingga filsafat dapat ditempatkan pada posisi di mana pemikiran manusia tidak mungkin dapat dijangkau oleh ilmu. Ilmu bersifat pasteriori (kesimpulan ditarik setelah melakukan pengujian secara berulang), sedangkan filsafat bersifat priori (kesimpulan ditarik tanpa pengujian tetapi pemikiran dan perenungan). Keduanya sama-sama menggunakan aktivitas berfikir, walaupun cara berfikirnya berbeda. Keduanya juga sama-sama mencari kebenaran. Kebenaran filsafat tidak dapat dibuktikan oleh filsafat sendiri tetapi hanya dapat doleh teori keilmuan melalui observasi ataupun eksperimen untuk mendapatkan justifikasi. Filsafat dapat merangsang lahirnya keinginan dari temuan filosofis melalui berbagai observasi dan eksperimen yang melahirkan ilmuilmu. Hasil kerja filosofis dapat menjadi pembuka bagi lahirnya suatu ilmu, oleh karena itu filsafat disebut juga sebagai induk ilmu (mother of science). Untuk kepentingan perkembangan ilmu, lahir disiplin filsafat yang mengkaji ilmu pengetahuan yang dikenal sebagai filsafat ilmu.

BAB II TINJAUAN TENTANG FILSAFAT

A. TINJAUAN HISTORIS Dilihat dari pendekatan historis, ilmu filsafat dipahami melalui sejarah perkembangan pemikiran filsafat. Menurut catatan sejarah, filsafat Barat bermula di Yunani. Bangsa Yunani mulai mempergunakan akal ketika mem pertanyakan mitos yang berkembang di masyarakat sekitar abad VI SM . Perkembangan pemikiran ini menandai usaha manusia untuk mem pergunakan akal dalam memahami segala sesuatu. Pemikiran Yunani sebagai embrio filsafat Barat berkembang menjadi titik tolak pemikiran Barat abad pertengahan, modern dan masa berikutnya. Di samping menempatkan filsafat sebagai sumber pengetahuan, Barat juga menjadikan agama sebagai pedoman hidup, meskipun memang harus diakui bahwa hubungan filsafat dan agama mengalami pasang surut. Pada abad pertengahan misalnya dunia Barat didominasi oleh dogmatisme gereja (agama), tetapi abad modern seakan terjadi pembalasan terhadap agama. Peran agama di masa modern digantikan ilmu-ilmu positif. Akibatnya, Barat mengalami kekeringan spiritualisme. Namun selanjutnya, Barat kembali melirik kepada peranan agama agar kehidupan m ereka kembali memiliki makna. Secara garis besar, perkembangan sejarah filsafat dibagi dalam lima tahap:
4

1. Filsafat Yunani Klasik 2. Filsafat Yunani 3. Filsafat Abad Pertengahan 4. Filsafat Modern 5. Filsafat Posmodern

1. Filsafat Yunani Klasik Bangsa Yunani merupakan bangsa yang pertama kali berusaha menggunakan akal untuk berpikir. Kegemaran bangsa Yunani merantau secara tidak langsung menjadi sebab meluasnya tradisi berpikir bebas yang dimiliki bangsa Yunani. Menurut Barthelemy, kebebasan berpikir bangsa Yunani

disebabkan di Yunani sebelumnya tidak pernah ada agama yang didasarkan pada kitab suci. Keadaan tersebut jelas berbeda dengan Mesir, Persia, dan India. Sedangkan Livingstone berpendapat bahwa adanya kebebasan berpikir bangsa Yunani dikarenakan kebebasan mereka dari agama dan politik secara bersamaan. Pada masa Yunani kuno, filsafat secara umum sangat dominan, meski harus diakui bahwa agama masih kelihatan memainkan peran. Hal ini terjadi pada tahap permulaan, yaitu pada masa Thales (640-545 SM). Demikian juga Phitagoras (572-500 SM) belum murni rasional. Pada masa Yunani Klasik, pertanyaan-pertanyaan yang

berkembang adalah pertanyaan yang berhubungan alam semesta. Ini


5

berangkat dari kekaguman manusia terhadap hal-hal yang ada di sekitarnya. Sebagai contoh, ketika manusia melihat segala sesuatu yang ada di sekeliling mereka, muncul pertanyaan-pertanyaan mengenai segala sesuatu itu. Begitu pun para filosof zaman Yunani klasik ini. Mereka mempertanyakan hakikat kehidupan ini. Sebagai contoh, Thales, salah seorang filosof yang hidup pada masa itu, mendapatkan kesimpulan bahwa penyebab pertama kehidupan adalah air karena ia melihat adanya kehidupan ini karena ada air. 2. Filsafat Yunani Filsafat zaman Yunani ini diwakili oleh Plato dan Aristoteles. Pada zaman ini, pertanyaan-pertanyaan tentang kehidupan mulai berkembang. Mereka tidak lagi hanya melihat keluar (oustside), akan tetapi juga mulai melihat ke dalam (inside). Persoalan tentang manusia mulai

dipertanyakan. Misalnya, apa hakikat manusia? Dari mana manusia berasal? Dari pertanyaan-pertanyaan tersebut lahirlah suatu jawaban. Salah satunya adalah jawaban yang muncuk dari Plato bahwa hakikat manusia itu terdiri dari tubuh dan jiwa. Secara struktur, jiwa lebih tinggi dari tubuh. Menurut Plato, tubuh menjadi penjara jiwa. Jiwa akan bebas ketika ia lepas dari tubuhnya. Sementara itu, Aristoteles mengatakan hakikat manusia tidak terpisah antara tubuh dan jiwa. Tidak ada yang lebih tinggi secara struktur. Manusia terdiri dari forma dan materi. 3. Filsafat Abad Pertengahan Filsafat abad pertengahan lahirnya agama sebagai kekuatan baru.
6

Banyak filosof yang lahir dari latar belakang rohaniwan. Dengan lahirnya agama-agama sebagai kekuatan baru, wahyu menjadi otoritas dalam menentukan kebenaran. Sejak gereja (agama) mendominasi, peranan akal (filsafat) menjadi sangat kecil. Karena, gereja telah membelokkan kreatifitas akal dan mengurangi kemampuannya. Pada saat itu, pendidikan diserahkan pada tokoh-tokoh gereja yang dikenal dengan "The Scholastics", sehingga periode ini disebut dengan masa skolastik. Para filosof aliran skolastik menerima doktrin gereja sebagai dasar pandangan filosofisnya. Mereka berupaya memberikan pembenaran apa yang telah diterima dari gereja secara rasional. Di antara filosof skolastik yang terkenal adalah Augustinus (354430). Menurutnya, di balik keteraturan dan ketertiban alam semesta ini pasti ada yang mengendalikan, yaitu Tuhan. Kebenaran mutlak ada pada ajaran agama. Kebenaran berpangkal pada aksioma bahwa segala sesuatu diciptakan oleh Allah dari yang tidak ada (creatio ex nihilo). Kehidupan yang terbaik adalah kehidupan bertapa, dan yang terpenting adalah cinta pada Tuhan. Ciri khas filsafat abad pertengahan ini terletak pada rumusan Santo Anselmus (1033-1109), yaitu credo ut intelligam (saya percaya agar saya paham). Filsafat ini jelas berbeda dengan sifat filsafat rasional yang lebih mendahulukan pengertian daripada iman. 4. Filsafat Modern
7

Masa filsafat modern diawali dengan munculnya Renaissance sekitar abad XV dan XVI M, yang bermaksud melahirkan kembali kebudayaan klasik Yunani-Romawi. Berangkat dari keinginan lepas dari dogma-dogma, akhirnya muncul semangat untuk kembali menggali kekayaan filsafat Yunani klasik. Problem utama masa Renaissance, sebagai mana periode skolastik, adalah sintesa agama dan filsafat dengan arah yang berbeda. Era Renaissance ditandai dengan

tercurahnya perhatian pada berbagai bidang kemanusiaan, baik sebagai individu maupun sosial. Di antara filosof masa Renaissance adalah Francis Bacon (15611626). Ia berpendapat bahwa filsafat harus dipisahkan dari teologi. Meskipun ia meyakini bahwa penalaran dapat menunjukkan Tuhan, tetapi ia menganggap bahwa segala sesuatu yang bercirikan lain dalam teologi hanya dapat diketahui dengan wahyu, sedangkan wahyu sepenuhnya bergantung pada penalaran. Hal ini menunjukkan bahwa Bacon termasuk orang yang membenarkan konsep kebenaran ganda (double truth), yaitu kebenaran akal dan wahyu. Puncak masa Renaissance muncul pada era Rene Descartes (1596-1650) yang dianggap sebagai Bapak Filsafat Modern dan pelopor aliran Rasionalisme. Argumentasi yang dimajukan bertujuan untuk melepaskan diri dari kungkungan gereja. Hal ini tampak dalam semboyannya "cogito ergo sum "(saya berpikir maka saya ada). Pernyataan ini sangat terkenal dalam perkembangan pemikiran modern, karena mengangkat kembali derajat rasio dan pemikiran sebagai indikasi
8

eksistensi setiap individu. Dalam hal ini, filsafat kembali mendapatkan kejayaannya dan mengalahkan peran agama, karena dengan rasio manusia dapat memperoleh kebenaran. Kemudian muncul aliran

Empirisme, dengan pelopor utamanya, Thomas Hobbes (1588-1679) dan John Locke (1632-1704). Aliran Empirisme berpendapat bahwa

pengetahuan dan pengenalan berasal dari pengalaman, baik pengalaman batiniah maupun lahiriah. Aliran ini juga menekankan pengenalan inderawi sebagai bentuk pengenalan yang sempurna. Di tengah bergemanya pemikiran rasionalisme dan empirisme, muncul gagasan baru di Inggris, yang kemudian berkembang ke Perancis dan akhirnya ke Jerman. Masa ini dikenal dengan Aufklarung atau Enlightenment atau masa pencerahan sekitar abad XVIII M. Pada masa Aufklarung ini muncul keinginan manusia modern menyingkap misteri dunia dengan kekuatan akal dan kebebasan berpikir. Tokoh filosof yang yang sangat mengagungkan kekuatan akal dan dianggap sebagai Bapak Filsafat Modern adalah Rene Descartes. Pada abad ini dirumuskan adanya keterpisahan rasio dari agama, akal terlepas dari kungkungan gereja, sehingga Voltaire (1694-1778) menyebutnya sebagai the age of reason (zaman penalaran). Sebagai salah satu konsekuensinya adalah supremasi rasio berkembang pesat yang pada gilirannya mendorong berkembangnya filsafat dan sains. Periode filsafat modern di Barat menunjukkan adanya pergeseran, segala bentuk dominasi gereja, kependetaan dan anggapan bahwa kitab suci sebagai satu-satunya
9

sumber pengetahuan diporak-porandakan. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa abad modern merupakan era pembalasan terhadap zaman skolastik yang didominasi gereja. 5. Filsafat Posmodern Filsafat posmodern ditandai dengan keinginan untuk mendobrak sifat-sifat filsafat modern yang mengagungkan keuniversalitasan,

kebenaran tunggal, dan kebebasnilaian. Karena itu, filsafat posmodern sangat mengagungkan nilai-nilai relativitas dan mininarasi, berbeda dengan filsafat modern yang mengagungkan narasi-narasi besar. Filsafat posmodern cenderung lebih beragam dalam hal pemikirian. Pada awal abad XX, di Inggris dan Amerika muncul aliran Pragmatisme yang dipelopori oleh William James (1842-1910).

Sebenarnya, Pragmatisme awalnya diperkenalkan oleh C.S. Pierce (18391914). Menurutnya, kepercayaan menghasilkan kebiasaan, dan berbagai kepercayaan dapat dibedakan dengan membandingkan kebiasaan yang dihasilkan. Oleh karena itu, kepercayaan adalah aturan bertindak. William James berpendapat bahwa teori adalah alat untuk memecahkan masalah dalam pengalaman hidup manusia. Karena itu, teori dianggap benar, jika teori berfungsi bagi kehidupan manusia. Sedangkan agama, menurutnya, mempunyai arti sebagai perasaan (feelings), tindakan (acts) dan pengalaman individu manusia ketika mencoba memahami hubungan dan posisinya dihadapan apa yang mereka anggap suci. Dengan demikian, keagamaan bersifat unik dan membuat individu menyadari bahwa dunia
10

merupakan bagian dari sistem spiritual yang dengan sendirinya memberi nilai bagi atau kepadanya. Agak berbeda dengan William James, tokoh Pragmatisme lainnya, John Dewey (1859-1952) menyatakan bahwa tugas filsafat yang terpenting adalah memberikan pengarahan pada perbuatan manusia dalam praktek hidup yang harus berpijak pada pengalaman. Pada saat yang bersamaan, juga berkembang aliran Fenomenologi di Jerman yang dipelopori oleh Edmund Husserl (1859-1938).

Menurutnya, untuk mendapatkan pengetahuan yang benar ialah dengan menggunakan intuisi langsung, karena dapat dijadikan kriteria terakhir dalam filsafat. Baginya, Fenomenologi sebenarnya merupakan teori tentang fenomena; ia mem pelajari apa yang tampak atau yang menampakkan diri. Pada abad tersebut juga lahir aliran Eksistensialisme yang dirintis oleh Soren Kierkegaard (1813-1855). Tokoh terpenting dalam aliran ini adalah Jean Paul Sartre (1905-1980) yang berpandangan atheistik. Menurutnya, Tuhan tidak ada, atau sekurang-kurangnya manusia bukan ciptaan Tuhan. Eksistensi manusia mendahului esensinya; manusia bebas menentukan semuanya untuk dirinya dan untuk seluruh manusia.

Ciri-ciri Filsafat Yunani 1. pertanyaan-pertanyaan yang diajukan adalah seputar pertanyaan hakikat kehidupan
11

2. pertanyaan tentang asal-usul alam (Heraklitos: api, Thales: air) 3. pertanyaan asal-usul manusia (Aristoteles, dualisme jiwa dan tubuh: Plato) 4. berkembang konsep kebenaran (konsep relativitas: Protagoras, konsep objektivitas; Socrates)

Ciri-ciriFilsafat Abad Pertengahan 1. filsafat pada abad pertengahan bercampur dengan keyakinan agama 2. Tuhan dijadikan sebagai pijakan dalam setiap penjelajahan filsafat 3. Implikasinya terlihat pada kurang berkembangnya rasio 4. Filsafat yang dikembangkan adalah filsafat ketuhanan 5. Tokoh-tokoh: Thomas Acquinas dan Santo Agustinus

Ciri-ciri Filsafat Pencerahan 1. filsafat pencerahan dinilai dari keinginan kembali menggali dari khasanah filsafat Yunani 2. masa ini ditandai pula dengan penemuan-penemuan baru dalam bidang ilmu pengetahuan manusia 3. peradaban Islam membantu filsafat Barat dalam penggalian khasanah filsafat Yunani klasik 4. manusia memiliki kebebasan untuk berpikir

Ciri-ciri Filsafat modern


12

1. sebagai konsekuensi dari berkembangnya pemikiran manusia, pemikiran manusia mulai merambah ke seluruh aspek kehidupan manusia 2. berkembangnya ilmu pengetahuan dengan pesat 3. perkembangan ilmu didukung pula oleh revolusi industri di Inggris 4. pada masa ini beberapa filosof yang sangat dikenal di dunia filsafat adalah filosof Descartes, John Locke, dan Immanuel Kant

Ciri-ciri Filsafat Posmodern 1. sebagai reaksi dari berkembangnya pemikiran filsafat modern 2. pemikiran posmodern mengkritisi logosentrisme filsafat modern yang berusaha menjadikan rasio sebagai instrumen utama 3. filsafat posmodern berkembang dalam dua jalur : - filsafat holistik - filsafat dekonstruksi

C. PENGERTIAN FILSAFAT Filsafat berasal dari bahasa Yunani, philosophia atau

philosophos. Philos atau philein berarti teman atau cinta, dan shopiashopos kebijaksanaan, pengetahuan, dan hikmah. Filsafat berarti juga mater scientiarum yang artinya induk dari segala ilmu pengetahuan. Kata filsafat dalam bahasa Indonesia memiliki padanan kata falsafah (Arab), philosophie (Prancis, Belanda dan Jerman), serta philosophy
13

(Inggris). Dengan demikian filsafat berarti mencintai hal-hal yang bersifat bijaksana (menjadi kata sifat) bisa berarti teman kebijaksanaan

(katabenda) atau induk dari segala ilmu pengetahuan. Phytagoras (572497 SM) ditahbiskan sebagai orang pertama yang memakai kata

philosopia yang berarti pecinta kebijaksanaan (lover of wisdom) bukan itu sendiri. Plato(427-347 SM) mengartikannya sebagai ilmu pengetahuan yang berminat mencapai kebenaran yang hakiki lewat dialektika. Aristoteles (382322 SM) mendefinisikan filsafat sebagai pengetahuan tentang kebenaran. Al-Farabi (870950) mengartikan filsafat sebagai ilmu pengetahuan tentang alam maujud dan hakekat alam yang sebenarnya. Descartes (15901650) mendefinisikan filsafat sebagai kumpulan ilmu pengetahuan tentang tuhan, alam dan manusia. Immanuel Kant (1724 1804) mendefinisikan filsafat sebagai ilmu pengetahuan yang menjadi pokok dan pangkal dari segala pengetahuan. Menurut Kant ada empat hal yang dikaji dalam filsafat yaitu: apa yang dapat manusia ketahui? (metafisika), apa yang seharusnya diketahui manusia? (etika), sampai dimana harapan manusia? ( agama) dan apakah manusia itu? (antropologi). Merriam-Webster dalam kamusnya filsafat adalah literally the love of wisdom, in the actual usage, the science that investigates the most general facts and prinsciplesof reality and human nature and conduct: logic, ethics, aesthetics and the theory of knowledge.

14

BAB III KAJIAN TEMATIK FILSAFAT

A. TEMATIK FILSAFAT Dalam pendekatan tematik, filsafat dibagi ke dalam tiga bagian besar, yaitu ontologi (metafisika), epistemologi, dan aksiologi. 1. ontologi/metafisika : bidang filsafat yang mempelajari segala sesuatu, baik yang tampak secara fisik (fenomena) atau sesuatu yang berada di balik realitas (noumena). Dalam kajian filsafat, segala sesuatu itu dikenal dengan ada (things). Dalam bidang ini termasuk juga filsafat manusia, filsafat alam, dan filsafat ketuhanan. 2. epistemologi : bidang filsafat yang mempelajari bagaimana cara manusia mengetahui sesuatu atau ada tersebut. Beberapa bidang yang termasuk ke dalam epistemologi adalah filsafat ilmu, metodologi, dan logika. 3. aksiologi : bidang filsafat yang mempelajari tentang nilai-nilai. Misalnya, sejauh manakah nilai-nilai yang terkandung dalam

pengetahuan tersebut. Bagian dari aksiologi adalah etika dan estetika. Cabang-cabang ilmu filsafat ini berkembang seiring dengan perkembangan pemikiran filsafat. Misalnya, logika dikembangkan oleh Aristoteles. Sementara itu, epistemologi dikembangkan oleh Immanuel Kant ketika ia mempertanyakan sejauh mana akal dapat mengetahui tentang yang ada dan sejauh mana akal memiliki kevalidan ketika mempersepsi sesuatu.
15

Dari bidang ontologi, akan dikenal pandangan materialisme Karl Marx berdasarkan pada pemikirannya bahwa segala sesuatu yang ada ini bersifat materi. Dapat dikatakan bahwa Karl Marx menolak kajian metafisika dan lebih mengakui ontologi. Sebagai catatan, kecenderungan penolakan terhadap metafisika ini sebenarnya memang berkembang pesat pada era filsafat modern. Dari bidang epistemologi, akan diketahui paham-paham seperti rasionalisme dan empirisme. Rasionalisme memandang bahwa sumber ilmu pengetahuan itu berasal dari akal, sedangkan empirisme

memandang sumber ilmu pengetahuan itu berasal dari pengalaman. Berikut ini diberikan penjelasan tentang pengalaman, pengetahuan, dan ilmu pengetahuan. Ciri-ciri Pengalaman, Pengetahuan, dan Ilmu Pengetahuan: Pengalaman: Berhubungan dengan realitas yang dialami manusia lewat pancaindra Pengalaman bersifat sangat subjektif, karena : Objek tetap, subjek berbeda Objek berubah, subjek tetap Objek berubah, subjek berbeda Pengetahuan: Dalam Encyclopedia of Philosophy, pengetahuan didefinisikan sebagai kepercayaan yang benar (knowledge is justified true belief). Menurut Sidi Gazalba, pengetahuan adalah apa yang diketahui atau hasil pekerjaan mengetahui. Mengetahui itu hasil kenal, sadar, insaf, mengerti, benar dan pandai. Pengetahuan itu harus benar, kalau tidak
16

benar maka bukan pengetahuan tetapi kekeliruan atau kontradiksi. Pengetahuan merupakan hasil suatu proses atau pengalaman yang sadar. Pengetahuan (knowledge) merupakan terminologi generik yang mencakup seluruh hal yang diketahui manusia. Dengan demikian pengetahuan adalah kemampuan manusia seperti perasaan, pikiran, pengalaman, pengamatan, dan intuisi yang mampu menangkap alam dan kehidupannya serta mengabstraksikannya untuk mencapai suatu tujuan. Adanya sensation (kesadaran, peristiwa mental) setelah mengindra realitas (pembeda dengan hewan) Proses mental yang melalui akal budi (berpikir) menjadikan

pengalaman menjadi pengetahuan. (contoh: ilmu tentang kerokan, obat kumis kucing) Ilmu pengetahuan: Pengalaman (pengetahuan) yang telah diolah secara kritis lewat akal budi menjadi ilmu pengetahuan karena memiliki: 1) paradigma 2) teori 3) metodologi

B. ALIRAN FILSAFAT Dalam bidang teori pengetahuan, terdapat tiga cara pandangan
17

yang dominan dalam bidang filsafat. Ketiga cara pandang tersebut adalah rasionalisme, empirisme, dan kritisisme. Berikut ini dijelaskan ketiga pandangan tersebut serta ciri-cirinya. 1. Rasionalisme o Rasionalisme dicetuskan oleh Rene Descartes (1596-1650), seorang filosof dari Peran. o Menurut Descartes, rasio adalah satu-satunya sumber

pengetahuan. o Kesan-kesan indrawi dianggap sebagai ilusi yang hanya diatasi oleh kemampuan yang dimiliki rasio. o Pemikiran Descartes yang terkenal adalah cogito ergosum saya berpikir, karena itu saya ada. o o Mengunakan upaya ilmiah dengan metode skeptis. Rasionalisme memiliki dampak penting bagi ilmu pengetahuan karena menjadi dasar berpikir logis dan munculnya sistem pemikiran yang menitikberatkan pada akal. o Dalam penelitian menggunakan metode deduksi.

2. Empirisme Empirisme adalah paham pemikiran yang menyatakan bahwa pengetahuan hanya didapatkan dari pengalaman empiris, bukan semata-mata dari rasio Filosof-filosof Inggris memiliki paham empirisme, di antaranya
18

David Hume (1711-1776), John Locke (1632-1704), dan Goerge Berkeley (1685-1753) Francis Bacon mengatakan empirisme adalah pengamatan-pengamatan partikular lalu membentuk kesimpulan umum John Locke menganggap bahwa rasio manusia mula-mula harus dianggap as a white paper yang artinya pada saat lahir manusia belum memiliki pengetahuan apa-apa Dalam penelitian m enggunakan m etode induksi

3. Kritisisme Aliran ini diperkenalkan oleh Immanuel Kant (1724-1804) Aliran ini merupakan sintesis antara rasionalisme dan empirisme Menurut Immanuel Kant, rasio dan Empiri adalah sama-sama sumber pengetahuan, yaitu kesan-kesan empiri dikonstruksikan oleh rasio melalui kategori-kategori sehingga menjadi pengetahuan Immanuel Kant juga mempertanyakan sejauh mana akal dapat mengetahui tentang yang ada dan sejauh mana akal memiliki kevalidan ketika mempersepsi sesuatu sehingga pemikirannya ini menjadi landasan perkembangan epistemologi

C. PANDANGAN FILSAFAT TENTANG ETIKA DAN MORAL 1. ETIKA

19

Istilah Etika berasal dari bahasa Yunani kuno. Bentuk tunggal kata etika yaitu ethos sedangkan bentuk jamaknya yaitu ta etha. Ethos mempunyai banyak arti yaitu : tempat tinggal yang biasa, padang rumput, kandang, kebiasaan/adat, akhlak,watak, perasaan, sikap, cara berpikir. Sedangkan arti ta etha yaitu adat kebiasaan. Arti dari bentuk jamak inilah yang melatar-belakangi terbentuknya istilah Etika yang oleh Aristoteles dipakai untuk menunjukkan filsafat moral. Jadi, secara etimologis (asal usul kata), etika mempunyai arti yaitu ilmu tentang apa yang biasa dilakukan atau ilmu tentang adat kebiasaan (K.Bertens, 2000). Biasanya bila kita mengalami kesulitan untuk memahami arti sebuah kata maka kita akan mencari arti kata tersebut dalam kamus. Tetapi ternyata tidak semua kamus mencantumkan arti dari sebuah kata secara lengkap. Hal tersebut dapat kita lihat dari perbandingan yang dilakukan oleh K. Bertens terhadap arti kata etika yang terdapat dalam Kamus Bahasa Indonesia yang lama dengan Kamus Bahasa Indonesia yang baru. Dalam Kamus Bahasa Indonesia yang lama (Poerwadarminta, sejak 1953 mengutip dari Bertens,2000), etika mempunyai arti sebagai : ilmu pengetahuan tentang asas-asas akhlak (moral). Sedangkan kata etika dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia yang baru (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1988 mengutip dari Bertens 2000), mempunyai arti :

20

1. ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk dan tentang hak dan kewajiban moral (akhlak); 2. kumpulan asas atau nilai yang berkenaan dengan akhlak; 3. nilai mengenai benar dan salah yang dianut suatu golongan atau masyarakat. Dari perbadingan kedua kamus tersebut terlihat bahwa dalam Kamus Bahasa Indonesia yang lama hanya terdapat satu arti saja yaitu etika sebagai ilmu. Sedangkan Kamus Bahasa Indonesia yang baru memuat beberapa arti. Kalau kita misalnya sedang membaca sebuah kalimat di berita surat kabar Dalam dunia bisnis etika merosot terus maka kata etika di sini bila dikaitkan dengan arti yang terdapat dalam Kamus Bahasa Indonesia yang lama tersebut tidak cocok karena maksud dari kata etika dalam kalimat tersebut bukan etika sebagai ilmu melainkan nilai mengenai benar dan salah yang dianut suatu golongan atau masyarakat. Jadi arti kata etika dalam Kamus Bahasa Indonesia yang lama tidak lengkap. K. Bertens berpendapat bahwa arti kata etika dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia tersebut dapat lebih dipertajam dan susunan atau urutannya lebih baik dibalik, karena arti kata ke-3 lebih mendasar daripada arti kata ke-1. Sehingga arti dan susunannya menjadi seperti berikut : 1. nilai dan norma moral yang menjadi pegangan bagi seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya.

21

Misalnya, jika orang berbicara tentang etika orang Jawa, etika agama Budha, etika Protestan dan sebagainya, maka yang dimaksudkan etika di sini bukan etika sebagai ilmu melainkan etika sebagai sistem nilai. Sistem nilai ini bisaberfungsi dalam hidup manusia perorangan maupun pada taraf sosial. 2. kumpulan asas atau nilai moral. Yang dimaksud di sini adalah kode etik. Contoh : Kode Etik Jurnalistik 3. ilmu tentang yang baik atau buruk. Etika baru menjadi ilmu bila kemungkinan-kemungkinan etis (asas-asas dan nilai-nilai tentang yang dianggap baik dan buruk) yang begitu saja diterima dalam suatu masyarakat dan sering kali tanpa disadari menjadi bahan refleksi bagi suatu penelitian sistematis dan metodis. Etika di sini sama artinya dengan filsafat moral. Pemikiran beberapa filosof mengenai etika adalah sebagai berikut. a. Aristoteles (384-322 SM ): dalam setiap kegiatan, manusia mengejar suatu tujuan,

sedangkan kebahagiaan.

tujuan

tertinggi

manusia

adalah

mencapai

kebahagiaan haruslah memiliki tujuan pada dirinya sendiri dan bukan tujuan instrumental Tujuan akhir (kebahagiaan) dicapai manusia apabila

menggunakan fungsi khas manusia sebagai manusia, yaitu melalui akal budi (rasio).
22

Manusia dianggap baik dalam arti moral jika selalu mengadakan pilihan-pilihan rasional yang tepat dalam perbuatan-perbuatan moralnya. b. Thomas Aquinas : Mengombinasikan etika kebahagiaan Aristoteles dengan etika teonom yaitu menekankan kewajiban taat pada kehendak Tuhan. Menggunakan prinsip transendensi. Kebahagiaan manusia dicapai melalui pengembangan diri dengan berpijak pada hukum Tuhan yang mutlak. c. Immanuel Kant (1724-1804) : Etika Kant menekankan pada kewajiban. Etika kewajiban

memandang bahwa perbuatan baik dinilai berdasarkan kehendak baik, bukan berdasarkan terealisasinya suatu tujuan. Etika kewajiban melahirkan konsep yang sangat sentral pada etika modern : OTONOMI MORAL Moral otonom : manusia harus otonom dalam mengikuti suatu hukum moral, bukan semata-mata karena menyesuaikan diri dengan konvensi sosial. Contoh etika yang bertentangan dengan otonomi moral : - Menikahi wanita karena kekayaannya (bukan karena m

encintainya) - Membagikan sembako untuk kepentingan agar dipilih (bukan karena untuk berbagi)
23

ETIKA KEWAJIBAN Etika kewajiban dikembangkan oleh Immanuel Kant (1724-1804) Kant menekankan bahwa moralitas menyangkut baik-buruknya manusia sebagai manusia. Moralitas juga mengenai yang baik pada dirinya sendiri, di mana yang baik pada dirinya sendiri adalah kehendak baik, bukan perbuatan lahiriah. Perbuatan secara moral baik apabila mewadahi kehendak baik sebagai realitas batin. Kehendak baik adalah kehendak yang mau melakukan apa yang menjadi kewajibannya murni demi kewajiban itu sendiri. Etika Kant menuntut ditolaknya tindakan moral yang dilakukan demi suatu tujuan maupun demi pelampiasan dorongan hati.

Formulasikant tentang perintah moral: 1. Imperatif hipotetis perintah moral yang menyuruh kita melakukan suatu tindakan atas dasar pengandaian bahwa kita mau mencapai tujuan tertentu. Contoh : - berhenti makan gula supaya tidak terkena diabetes - berhenti melanggar lampu lalu lintas supaya tidak ditilang polisi 2. Imperatif kategoris perintah yang berlaku mutlak tanpa terkecuali karena apa yang
24

diperintahkan olehnya merupakan kewajiban pada dirinya sendiri, tidak bergantung pada suatu tujuan selanjutnya.

ETIKA HEGEL Etika Hegel (1770-1831) menganut prinsip dialektika. Modus dialektika adalah tesis-antitesis-sentesis Etika di dalam pandangan Hegel seperti perkembangan sejarah yang berlangsung secara dialektis. TESIS = Moralitas umum yang ada di masyarakat. Warga bertindak atas aturan-aturan yang berada didalam masyarakat yang akhirnya diakui menjadi adat istiadat. Hegel mencontohkan pada masa Yunani Kuno. ANTITESIS = pemberontakan terhadap istiadat. Ini dicontohkan Hegel lewat pemberontakan semua yang moral selama Socrates. ini biasa Socrates dianggap

mempertanyakan

masyarakat sebagaisesuatu yang baik. Lahirlah prinsip kebebasan berpikir pada individu. SINTESIS = kebebasan individu merupakan hal yang terlalu abstrak untuk dijadikan landasan bagi satu masyarakat. Kebebasan abstrak dapat menjadi teror (Revolusi Perancis). Lahirlah sebuah masyarakat organis yang merupakan suatu masyarakat yang rasional. Di dalam masyarakat organis, individu bertindak otonom dengan mengikuti struktur-struktur sosial yang ada. Hal ini dapat
25

terjadi karena struktur sosial yang ada tidak bertentangan, melainkan mewadahi otonomi individu.

2. MORALIITAS Istilah Moral berasal dari bahasa Latin. Bentuk tunggal kata moral yaitu mos sedangkan bentuk jamaknya yaitu mores yang masing-masing mempunyai arti yang sama yaitu kebiasaan, adat. Bila dibandingkan dengan arti kata etika, maka secara etimologis, kata etika sama dengan kata moral karena kedua kata tersebut samasama mempunyai arti yaitu kebiasaan,adat. Dengan kata lain, kalau arti kata moral sama dengan kata etika, maka rumusan arti kata moral adalah nilai-nilai dan norma-norma yang menjadi pegangan bagi seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya. Sedangkan yang membedakan hanya bahasa asalnya saja yaitu etika dari bahasa Yunani dan moral dari bahasa Latin. Jadi bila kita mengatakan bahwa perbuatan pengedar narkotika itu tidak bermoral, maka kita menganggap perbuatan orang itu melanggar nilai-nilai dan norma-norma etis yang berlaku dalam masyarakat. Atau bila kita mengatakan bahwa pemerkosa itu bermoral bejat, artinya orang tersebut berpegang pada nilai-nilai dan norma-norma yang tidak baik. Moralitas (dari kata sifat Latin moralis) mempunyai arti yang pada dasarnya sama dengan moral, hanya ada nada lebih abstrak. Berbicara tentang moralitas suatu perbuatan, artinya segi moral suatu perbuatan
26

atau baik buruknya perbuatan tersebut. Moralitas adalah sifat moral atau keseluruhan asas dan nilai yang berkenaan dengan baik dan buruk. Moralitas adalah kualitas dalam perbuatan manusia yang dengan itu kita dapat mengatakan bahwa perbuatan itu benar atau salah, baik atau buruk. Suatu ajaran tentang seni hidup;suatu ajaran yang ingin mengajak manusia untuk hidup bermutu (tidak asal hidup) demi tercapainya kebahagiaan. Moralitas terbagi dua, yaitu: 1. Moralitas objektif : memandang perbuatan semata sebagai suatu perbuatan yang telah dikerjakan, terlepas dari pengaruh sukarela pihak pelaku. Contoh: membunuh (perbuatan pembunuhan itu yang dinilai sebagai perbuatan yang tidak bermoral) 2. Moralitas subjektif : moralitas yang memandang sebagai suatu perbuatan yang dipengaruhi pengertian dan persetujuan pelaku sebagai seorang individu (ada konsep hati nurani). Contoh: Apakah A menolong karena hati nuraninya memang memerintahkan hal itu atau karena ingin mendapatkan imbalan?

Dalam cara pandang yang lain,m oralitasjuga terbagidua,yaitu: 1. Moralitas ekstrinsik: Moralitas ekstrinsik memandang perbuatan sebagai suatu yang diperintahkan atau dilarang oleh seseorang yang berkuasa atau oleh
27

hukum positif, baik oleh manusia maupun Tuhan. M oralitas (perbuatan baik dan buruk) bersumber pada: a. Kebiasaan manusia: Friedrich Nietszche: pada mulanya tidak ada hal yang baik dan yang buruk. Yang ada hanyalah yang kuat dan lemah. Yang kuat kemudian menciptakan perintah dan larangan. Misalnya: perempuan bersifat ramah dan lembut. August Comte:

kebiasaan moral itu muncul dari kebiasaan sosial dan terus berubah bersama perbuatan-perbuatan yang terdapat dalam masyarakat. b. hukum -hukum negara: Jean Jacques Rousseau: Sebelum manusia membuat kelompok dan menjadi masyarakat politik (negara), tidak terdapat hal yang baik dan buruk. Dari sanalah kemudian terjadi kontrak sosial. c. agama para filosof abad pertengahan berpendapat bahwa semua sifat baik dan buruk karena diperintahkan atau dilarang Tuhan,bukan karena terkandung kebaikan atau keburukan di dalam

perbuatan tersebut. 2. Moralitas intrinsik Moralitas intrinsik memandang perbuatan menurut hakikatnya bebas lepas dari setiap bentuk hukum positif. Yang dipandang adalah apakah suatu perbuatan itu baik atau
28

buruk pada hakikatnya, bukan apakah aturan telah memerintahkan atau melarangnya. Ada perbuatan-perbuatan yang pada hakikatnya memiliki kebaikan intrinsik sehingga tidak perlu diperdebatkan lagi oleh negara, adat istiadat, ataupun agama. Misalnya: pembunuhan, pencurian, dan penipuan adalah perbuatan yang tercela.

29

BAB IV FILSAFAT ILMU A. FILSAFAT ILMU Filsafat ilmu adalah cabang epistemologi yang menelaah secara sistematis sifat dasar ilmu, metode-metode, konsep-konsepnya,

praanggapan-praanggapannya, serta letaknya dalam kerangka umum dari cabang pengetahuan. Filsafat Ilmu sebagai bagian dari Epistemologi (filsafat pengetahuan) yang secara spesifik mengkaji hakikat ilmu (pengtahuan ilmiah). Ilmu berasal dari bahasa Arab: alima, yalamu, ilman yang berarti mengetahui, memahami dan mengerti benar-benar. Dalam bahasa Inggris disebut Science, dari bahasa Latin yang berasal dari kata Scientia (pengetahuan) atau Scire (mengetahui). Sedangkan dalam bahasa Yunani adalah Episteme (pengetahuan). Dalam kamus Bahasa Indonesia, ilmu adalah pengetahuan tentang suatu bidang yang tersusun secara bersistem menurut metode-metode tertentu yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala-gejala tertentu di bidang itu (Kamus Bahasa Indonesia, 1998) Filsafat ilmu memiliki objek material dan objek formal. Objek material adalah ilmu pengetahuan itu sendiri, yaitu pengetahuan yang telah disusun secara sistematis dengan metode ilmiah tertentu sehingga dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Objek formal adalah hakikat (esensi) ilmu pengetahuan; problem-problem mendasar ilmu pengetahuan seperti apa hakikat ilmu itu sesungguhnya.
30

Landasan

ontologis

pengembangan

ilmu

adalah

titik

tolak

pengembangan ilmu yang didasarkan atas landasan filosofis yang dimiliki seorang ilmuwan. Landasan filosofis itu terbagi dua aliran besar, yaitu: 1. materialisme: suatu pandangan metafisik yang menganggap bahwa tidak ada hal yang nyata selain materi. 2. spiritualisme: suatu pandangan metafisika yang menganggap kenyataan yang terdalam adalah roh yang mengisidan mendasari seluruh alam. Pengembangan ilmu berdasarkan pada materialisme cenderung pada ilmu-ilmu kealaman dan menganggap bidang

ilmunya sebagai induk bagi ilmu-ilmu lain. dalam perkembangan ilmu modern, aliran ini disuarakan oleh Positivisme. Spiritualisme cenderung pada ilmu-ilmu kerohanian dan

menganggap bidang ilmunya sebagai wadah utama bagi titik tolak pengembangan bidang-bidang ilmu lain. Jadi, landasan ontologis ilmu pengetahuan sangat bergantung pada cara pandang (landasan filosofis) ilmuwan terhadap realitas. Jika realitas yang dimaksud adalah materi, maka lebih terarah pada ilmu-ilmu empiris. Jika realitas yang dipandang adalah spirit, maka lebih terarah pada ilmu-ilmu humaniora. Dalam bidang filsafat ilmu, ada dua aliran besar yang terus mencoba saling mengukuhkan dominasinya, yaitu positivisme dan pascapositivisme. Di bawah ini akan dipaparkan kedua aliran tersebut.

1. Positivisme
31

Dasar-dasar

filsafat

ini

dibangun

oleh

Saint

Simon

dan

dikembangkan oleh Auguste Comte (1798-1857). Ia menyatakan bahwa pengetahuan manusia berkembang secara evolusi dalam tiga tahap, yaitu teologis, metafisik, dan positif. Pengetahuan positif merupakan puncak pengetahuan manusia yang disebutnya sebagai pengetahuan ilmiah. Sesuai dengan pandangan tersebut kebenaran metafisik yang diperoleh dalam metafisika ditolak, karena kebenarannya sulit dibuktikan dalam kenyataan. Auguste Comte mencoba mengembangkan Positivisme ke dalam agama atau sebagai pengganti agama. Hal ini terbukti dengan

didirikannya Positive Societies di berbagai tempat yang memuja kemanusiaan sebagai ganti memuja Tuhan. Perkembangan selanjutnya dari aliran ini melahirkan aliran yang bertumpu kepada isi dan fakta-fakta yang bersifat materi, yang dikenal dengan Materialisme. Tokoh aliran Materialisme adalah Feurbach (1804-1872). Ia menyatakan bahwa

kepercayaan manusia kepada Allah sebenarnya berasal dari keinginan manusia yang merasa tidak bahagia. Lalu, manusia mencipta Wujud yang dapat dijadikan tumpuan harapan yaitu Tuhan, sehingga Feurbach menyatakan teologi harus diganti dengan antropologi. Tokoh lain aliran Materialisme adalah Karl Marx (1820-1883) yang menentang segala bentuk spiritualisme. Ia bersama Friederich Engels (1820-1895)

membangun pemikiran komunisme pada tahun 1848 dengan manifesto komunisme. Karl Marx memandang bahwa manusia itu bebas, tidak terikat dengan yang transendental. Kehidupan manusia ditentukan oleh materi.
32

Agama sebagai proyeksi kehendak manusia, bukan berasal dari dunia ghaib. Posistivisme menetapkan kriteria-kriteria yang harus dipenuhi oleh ilmu-ilmu alam dan humaniora untuk disebut sebagai ilmu pengetahuan yang benar. Kemunculan Positivisme tidak bisa dilepaskan dari iklim kultural yang memungkinkan berkembangnya gerakan untuk menerapkan cara kerja ilmu pengetahuan dalam berbagai bidang kehidupan manusia. Iklim kultural tersebut ditimbulkan oleh revolusi industri di Inggris abad ke18 yang menimbulkan optimisme terhadap keberhasilan teknologi industri. Karena itu, Positivisme mengistirahatkan filsafat dari kerja spekulatifnya. Untuk memenuhi kriteria tersebut, ilmu-ilmu harus memiliki dunia positivistik sebagai berikut: 1) Objektif : teori-teori tentang semesta harus bebas nilai. 2) Fenomenalisme : ilmu pengetahuan hanya bicara tentang semesta yang teramati. Substansi metafisis yang diandaikan berada di belakang gejala-gejala penampakan disingkirkan. 3) Reduksionalisme : semesta direduksi menjadi fakta-fakta keras yang dapat diamati. 4) Naturalisme : alam semesta adalah objek-objek yang bergerak secara mekanis seperti bekerjanya jam .

Dari

beberapa

kriteria

di

atas,

tampak

bahwa

positivisme

mengabaikan kerja filsafat yang spekulatif dan juga metafisis. Selain itu,
33

positivisme melembagakan dunia objektivistiknya dalam suatu doktrin yang disebut doktrin kesatuan pengetahuan. Pengertian doktrin

Pengetahuan adalah seluruh pengetahuan menyatakan bahwa seluruh pengetahuan baik alam maupun manusia harus berada di bawah paradigma positivistik. Positivisme menjadi dogma karena menuntut semua bentuk pengetahuan manusia mengikuti doktrin kesatuan

pengetahuan apabila ingin disebut absah.

2. Pascapositivisme Pascapositivisme adalah aliran yang menentang pemikiran

positivisme. Pascapositivisme terbagi dalam beberapa kelompok, di antaranya antipositivisme yang dikembangkan oleh Karl Popper dan Thomas Kuhn serta teori kritis oleh Mazhab Frank Furt. Thomas Kuhn menaruh minat pada prinsip-prinsip kebenaran tunggal yang dianut Positivisme. Dalam pandangan Kuhn, kebenaran tunggal atau kebenaran yang objektif itu tidak ada. Yang ada adalah kebenaran yang merupakan kesepakatan suatu komunitas akedemis yang menjunjungnya secara terus menerus. Menurut Kuhn, positivisme adalah suatu paradigma ilmu pengetahuan yang terus bertahan karena didukung dan dipertahankan oleh kalangan komunitas ilmu yang kuat. Konsep utama Thomas Kuhn adalah paradigma. Secara umum, paradigma adalah kerangka konseptual untuk mengklasifikasi dan menerangkan objek-objek fisikal. Secara sederhana, paradigma dapat
34

diartikan sebagai cara pandang terhadap sesuatu objek (semesta) yang akan mem pengaruhinya dalam tindak selanjutnya. Menurut Thomas Kuhn, paradigma menjadi kerangka konseptual dalam mempersepsi semesta. Artinya tidak ada observasi peneliti yang netral. Semuanya dibentuk oleh kerangka konseptual yang digunakan. Begitu pula dengan ilmuwan. Ilmuwan selalu bekerja di bawah payung paradigma yang akan memuat asumi dan metodologi tersendiri. Dengan begitu, kebenaran ilmu tidaklah satu, melainkan plural. Hanya saja kebenaran itu akhirnya ditentukan oleh sekelompok kalangan ilmiah. Ada unsur perebutan pengaruh dalam menentukan kebenaran yang dianggap kebenaran yang lebih valid. Di samping itu, ada pula pemikiran pascapositisme dari Mazhab Frankfurt. Mereka menamakan pemikiran mereka dengan teori kritis. Mazhab Frankfurt adalah sekelompok ilmuwan yang mendirikan sebuah institut sosial yang menaruh minat pada persoalan-persoalan sosial masyarakat. Tokoh Mazhab Frankfurt adalah Max Hokheimer, Jurgen Habermas, Herbert Marcuse dan Adorno. Titik tolak kritik Mazhab Frankfurt adalah pada kebebasnilaian ilmu pengetahuan dalam arti bahwa ilmu

pengetahuan tidak memihak pada siapapun kecuali untuk perkembangan ilmu pengetahuan itu sendiri. Dengan cara pandang seperti itu, menurut Mazhab Frankfurt, hal itu hanya menjadikan ilmu sosial/ilmuwan sebagai pengabdi kemapanan dan
35

kehilangan daya kritisnya. Dengan hanya mengabdikan pada ilmu pengetahuan, Positivisme dianggap menutup mata terhadap dampak dari ilmu pengetahuan itu sendiri (misalnya pencemaran lingkungan, pemanasan global). Mazhab Frankfurt juga melayangkan kritik terhadap Max Weber, yang menyatakan bahwa ilmuwan hanya boleh

memetakan/mendeskripsikan tanpa boleh melakukan penilaian. Menurut Habermas, dalam ilmu pengetahuan, kepentingan tidak bisa dilepaskan (Knowledge and Human Interest). Kepentingan itu selalu ada. Termasuk ketika Positivisme hanya mementingkan pada perkembangan ilmu pengetahuan.

3. Konstruktivisme Pandangan konstruktivis memandang bahwa semesta adalah hasil konstruksi sosial Konstruktivisme menganut paham antifondasional : tidak ada satu fondasi atau satu metode ilmiah yang terpercaya dan mantap bagi dunia ilmu pengetahuan Dengan paham ini, konstruktivis memandang segala sesuatu bersifat relatif Pendekatan yang dilakukan adalah multiperspektif, karena tidak ada legitimasi yang kuat terhadap satu pandangan yang bisa mengatasnam akan pandangan yang lain
36

Kaum postmodern dapat dimasukkan ke dalam paham ini

Ikhtisar: Karakteristik ilmu filsafat: 1. Spekulatif : tidak pasti, dapat terus diperbaharui 2. Radikal : sampai ke akar-akarnya 3. Universal : menyeluruh, tidak parsial Ciri-ciri ilmu pengetahuan adalah : 1. Metodis : ada langkah-langkah yang ketat dan sistematis 2. Universalitas : berlaku pada seluruh ruang dan waktu 3. Objektivitas : difokuskan pada objek ilmu pengatahuan dan tidak terdistorsi oleh prasangka-prasangka subjektif 4. Intersubjektif : kebenaran ilmu pengetahuan tidak bersifat pribadi melainkan harus disepakati oleh suatu komunitas ilmiah 5. bersifat logis (memiliki dasar pembenaran sehingga dapat diverifikasi)

37