Anda di halaman 1dari 15

SYUKNI TUMI PENGATA. SH.

Alumnus Fakultas Hukum Universitas Andalas Padang, Tahun 2009. Melanjutkan studi di Program Magister Ilmu Hukum Bisnis Universitas Pancasila-Jakarta, pada Tahun 2010 - Angkatan 18. Saat ini bekerja sebagai Corporate Lawyer pada Warens & Partners Lawfirm. Kontak : WARENS & PARTNERS LAW FIRM Jl. Sisingamangaraja No.63, Kebayoran Baru, Jakarta 12120, Indonesia. Website : www.warenslaw.com Mobile : 085883714556 081287286164 Email : stpengata.advocates@gmail.com Twitter : @stpengata Pin : 205343fe

Disclaimer : Blog ini bukanlah blog ilmiah, dan Informasi yang tersedia di http://stpengataadvocates.blogspot.com/ tidak ditujukan sebagai suatu nasehat hukum, namun hanya memberikan gambaran umum dan pendidikan hukum terhadap suatu informasi atau permasalahan hukum yang sedang dihadapi pembaca.

KEPUTUSAN TATA USAHA NEGARA FIKTIF NEGATIF SEBAGAI CARA MENINGKATKAN PELAYANAN PUBLIK Sikap mengabaikan atau mendiamkan

permohonan jelas dapat menimbulkan kerugian di pihak warga masyarakat yang memohonkannya. Di dalam teori tentang etika administrasi negara,

salah satu cara untuk mengawasi dan mencegah terjadinya sikap mengabaikan dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat adalah dengan melakukan apa yang disebut sebagai sistem pertanggungjawaban legal. Di dalam

pertanggungjawaban legal tersebut, aktivitas dari pemerintah selalu dikontrol oleh pihak di luar pemerintah, yang dalam hal ini dilakukan oleh suatu badan yudikatif.

Ada

pula

pihak

yang legal

menyebut itu dengan

sistem istilah

pertanggungjawaban

kontrol yuridis. Pendapat mengenai kontrol yuridis ini, bertitik tolak dari suatu pemikiran yang menganggap, bahwa pihak pemerintah sebagai pihak penguasa mempunyai posisi yang lebih kuat bila dibandingkan dengan warga masyarakat yang seharusnya mereka layani. Kekuasaan tersebut apabila tidak diawasi pelaksanaannya akan untuk

menimbulkan

kecenderungan

disalahgunakan.

Oleh

karena

itu,

warga

masyarakat sebagai pihak yang lemah perlu dilindungi, terutama dari segi hukum.

Contoh Kasus : Contoh umum dari kasus pelayanan publik yang buruk yang terjadi di Indonesia adalah pengurusan Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan Surat Izin Mengemudi (SIM). Pembuatan KTP dan SIM yang seharusnya mudah dipersulit dengan berbagai prosedur rumit yang harus dilalui. Pihak-pihak berduit selalu mendapat kemudahan dan

kelancaran dalam pengurusan KTP atau SIM. Selain itu, sikap aparatur yang kurang ramah menjadikan kualitas pelayanan publik semakin buruk. pelayanan rumah sakit yang tidak

manusiawi, pengurusan KTP yang tak kunjung transparan, kesewenangan petugas penegakan hukum, pelayanan PAM dan PLN yang sering byar pet, layanan pajak dan retribusi yang tidak jelas,

layanan

penerbangan

yang

tidak

memadai,

masalah klaim asuransi dan seterusnya.

Kontrol yang dilakukan oleh badan yudikatif dilengkapi pula dengan kewenangan hukum untuk bagi

membebankan

sanksi-sanksi

pemerintah yang aktivitasnya sedang diawasi. Salah satu bentuk nyata dari kontrol tersebut adalah pencantuman Pasal 3 pada UndangUndang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara, yang telah pula diperbaharui dengan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2004 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha

Negara. Pasal ini adalah pasal yang mengatur masalah fiktif-negatif yang akan dijelaskan di bawah ini.

Dasar Hukum :

Pasal 3 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara

menegaskan:

(1) Apabila badan atau pejabat tata usaha negara tidak mengeluarkan keputusan,

sedangkan hal itu menjadi kewajibannya, maka hal tersebut disamakan dengan

keputusan tata usaha negara.

(2) Jika suatu badan atau pejabat tata usaha negara tidak mengeluarkan keputusan yang dimohon, sedangkan jangka waktu

sebagaimana ditentukan dalam peraturan perundang-undangan dimaksud telah lewat, maka badan atau pejabat tata usaha negara tersebut dianggap telah menolak

mengeluarkan keputusan yang dimaksud.

(3) Dalam hal peraturan perundang-undangan yang bersangkutan tidak menentukan

jangka waktu sebagaimana dimaksud dalam ayat (2), maka setelah lewat jangka waktu empat bulan sejak diterimanya permohonan, badan atau pejabat tata usaha negara yang bersangkutan dianggap telah mengeluarkan keputusan penolakan.

Kemudian, di dalam bagian Penjelasan Pasal 3 disebutkan:

Ayat (1) Cukup jelas.

Ayat (2) Badan atau pejabat tata usaha negara yang menerima permohonan dianggap telah

mengeluarkan keputusan yang berisi penolakan permohonan tersebut apabila tenggang waktu yang ditetapkan telah lewat dan badan atau

pejabat tata usaha negara itu bersikap diam, tidak melayani permohonan yang telah diterimanya.

Ayat (3) Cukup jelas.Beberapa Catatan Mengenai Keputusan Tata Usaha Negara yang Fiktif-Negatif Objek sengketa TUN adalah berupa surat

keputusan yang bersifat tertulis, konkret, individual dan final. Hal ini telah diatur di dalam Pasal 1 butir 3 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986. Namun, ada kalanya yang menjadi objek sengketa TUN adalah bukan merupakan suatu surat keputusan TUN yang bentuknya nyata tertulis sebagaimana yang disyaratkan oleh Pasal 1 butir 3 tersebut, melainkan berupa suatu sikap diam dari badan atau pejabat TUN.

Pasal 3 ayat (1) Undang-Undang Nomor 5 tahun 1986, menentukan apabila badan atau pejabat TUN tidak mengeluarkan keputusan (diam saja), sedangkan hal itu menjadi kewajibannya, maka

sikap

diamnya

tersebut

disamakan

dengan

keputusan TUN sehingga dia dapat digugat. Inilah intinya, bahwa setiap badan atau pejabat TUN wajib melayani setiap permohonan masyarakat yang dia terima, apabila hal yang dimohonkan kepadanya itu menurut peraturan perundangundangan menjadi tugas (kewajibannya). Kalau badan atau pejabat TUN melalaikan kewajibannya itu, maka walaupun dia tidak berbuat apa-apa terhadap permohonan yang diterimanya, undangundang menganggap dia telah mengeluarkan suatu keputusan yang berisi penolakan

permohonan tersebut, dan inilah yang disebut sebagai keputusan TUN yang fiktif-negatif. Prajudi Atmosudirdjo, seorang ahli hukum administrasi negara, bahkan menganggap sikap diam dari seorang pejabat pemerintah yang tidak mau mengeluarkan suatu keputusan yang diperlukan akan sama buruknya dengan desisi-desisi yang ngawur.

Fiktif menunjukkan bahwa keputusan TUN yang digugat sebenarnya tidak berwujud. Ia hanya merupakan sikap diam dari badan atau pejabat TUN, yang kemudian dianggap disamakan dengan sebuah keputusan TUN yang nyata tertulis. Negatif menunjukkan bahwa keputusan TUN yang digugat dianggap berisi penolakan terhadap

permohonan yang telah diajukan oleh Individu atau badan hukum perdata kepada badan atau pejabat TUN.

Badan atau pejabat TUN yang menerima suatu permohonan, tetapi permohonan itu bukan

merupakan kewajibannya untuk menjawab, maka sikap diamnya tidaklah dapat dianggap sebagai keputusan TUN yang fiktif-negatif. Dan oleh karena itu, dia tidak dapat digugat.

Pasal 3 ayat (2) dan ayat (3), berkaitan dengan masalah jangka waktu untuk menghitung sejak kapan gugatan terhadap sikap diam badan atau pejabat TUN tersebut bisa diajukan.Ayat (2) menentukan, apabila jangka waktu yang telah ditentukan dalam peraturan perundang-undangan (yang mengatur kewajiban untuk memberikan jawaban atas suatu permohonan) telah lewat, namun badan atau pejabat TUN tetap tidak berbuat apa-apa (diam), maka dia dianggap telah menolak mengeluarkan keputusan yang

dimohonkan kepadanya. Berdasarkan ayat (2) ini, maka gugatan terhadap badan atau pejabat TUN yang tidak menjawab suatu permohonan baru dapat diajukan setelah lewat jangka waktu yang ditentukan undangan di dalam peraturan perundanguntuk

(yang

mengatur

kewajiban

memberikan jawaban atas suatu permohonan) badan atau pejabat TUN yang bersangkutan.

Pada

ayat

(3)

menentukan,

apabila

dalam tidak untuk

peraturan menentukan

perundang-undangannya jangka waktu kewajiban

menjawab suatu permohonan, maka setelah lewat jangka waktu 4 (empat) bulan sejak diterimanya permohonan, badan atau pejabat TUN yang diam saja dapat dianggap telah mengeluarkan

keputusan penolakan, dan oleh karenanya dia dapat digugat.

Perlu diperhatikan pula dalam kaitannya dengan keputusan TUN yang fiktif-negatif ini adalah masalah tenggang waktu untuk mengajukan

gugatan sebagaimana diatur dalam Pasal 55. Pasal 55 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 hanya memberikan tenggang waktu untuk

mengajukan gugatan kepada penggugat selama 90 (sembilan puluh) hari terhitung sejak saat diterimanya atau diumumkannya keputusan TUN yang akan digugat. Jadi gugatan tersebut tidak

boleh didaftarkan apabila telah melebihi waktu 90 (sembilan puluh) hari sejak saat diterimanya atau diumumkannya keputusan TUN yang akan

digugat. Apabila gugatan tetap diajukan, padahal tenggang waktu untuk mengajukan gugatan sudah lewat, maka gugatan akan tidak diterima.

Untuk keputusan TUN yang fiktif-negatif, maka penghitungan tenggang waktu pengajuan gugatan selain tetap memperhatikan ketentuan Pasal 55, juga harus kembali memperhatikan ketentuan Pasal 3 ayat (2) dan (3).

Untuk

keputusan

TUN

yang

fiktif-negatif

sebagaimana yang diatur pada Pasal 3 ayat (2), maka penghitungan tenggang waktu 90 (sembilan puluh) hari untuk mengajukan gugatannya dihitung sejak lewatnya jangka waktu di dalam peraturan perundang-undangan yang mengatur kewajiban badan atau pejabat TUN untuk memberikan

jawaban atas suatu permohonan. Sedangkan untuk keputusan TUN fiktif-negatif yang diatur pada ayat (3), penghitungan tenggang waktu untuk mengajukan gugatannya dihitung sejak lewatnya jangka waktu 4 (empat) bulan sejak permohonan diajukan kepada badan atau pejabat TUN yang digugat.

Kemudian, apakah yang menjadi dasar (titik tolak) untuk menghitung tenggang waktu mengajukan gugatan terhadap keputusan TUN yang fiktifnegatif? Titik tolak dalam menghitung tenggang waktu pengajuan gugatan terhadap keputusan TUN yang fiktif-negatif adalah berdasarkan

tanggal yang tertera di dalam suatu tanda terima dari kantor badan atau pejabat TUN pada saat surat permohonan disampaikan kepada badan atau pejabat TUN yang penjelasan

bersangkutan.PenutupDemikianlah

singkat mengenai sikap diam dari badan atau

pejabat TUN yang dapat dijadikan sebagai objek senketa TUN ini. Bila kembali dihubungkan dengan Pasal 1 butir 3, khususnya mengenai sifat tertulis yang harus dipenuhi sebagai syarat untuk dapat menjadi objek sengketa TUN, maka apa yang diatur dalam Pasal 3 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 ini sebenarnya merupakan

perluasan dari pengertian keputusan TUN yang dapat dijadikan objek sengketa TUN.Keberadaan Pasal 3 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara, yang mengatur masalah fiktif-negatif, dapat dijadikan landasan hukum bagi gugatan warga masyarakat yang dirugikan akibat tidak dijawabnya

permohonan mereka kepada suatu badan atau pejabat TUN. Selain itu, keberadaan Pasal 3 tersebut juga dapat dipahami sebagai salah satu bentuk kontrol secara hukum terhadap pihak pemerintah dalam menjalankan aktivitas dan

pelayanannya kepada warga masyarakat, agar mereka tidak dirugikan kepentingannya.

Referensi: - Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara