Anda di halaman 1dari 18

HUBUNGAN KADAR GULA DARAH PADA PENDERITA DIABETES DENGAN KEJADIAN INKONTINENSIA URIN DI RS. DR.

KARIADI SEMARANG PERIODE JANUARI JUNI 2011


PROPOSAL KARYA TULIS ILMIAH Diajukan untuk memenuhi tugas dan melengkapi syarat dalam menempuh Program Pendidikan Sarjana Fakultas kedokteran

Disusun oleh : LARAS SHAFIA SARI H2A008027

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SEMARANG 2011

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Diabetes adalah penyakit yang disebabkan oleh kelainan hormon, sehingga sel-sel di dalam tubuh tidak mampu mengikat glukosa dari darah dan tidak dapat bereaksi secara normal dengan insulin yang ada dalam darah. Diabetes merupakan penyakit tidak menular namun merupakan salah satu penyakit utama yang dapat mengancam kesehatan manusia, bahkan ancaman kematian bagi penderitanya, hal itu dikarenakan komplikasi yang ditimbulkan oleh penyakit ini, seperti gangguan ginjal, jantung, dan syaraf. Hal lain yang memprihatinkan adalah Diabetes ternyata merupakan penyakit peringkat ke 5 di Indonesia. Hasil penelitian epidemiologi di Indonesian, kejadian diabetes berkisar antara 1,4 1,6%, terkecuali di dua tempat yang memiliki prevalensi lebih tinggi, yaitu Semarang dan Manado. Di Semarang tepatnya di Pekajangan, yaitu suatu desa dekat Semarang didapat prevalensi sebesar 2,3%,. prevalensi ini cukup tinggi dan diduga diakibatkan karena daerah tersebut banyak perkawinan antara kerabat. Sedangkan di Manado berkisar 6%. Penelitian juga dilakukan di Jakarta pada tahun 1993 kejadian diabetes mencapai 5,69%, tepatnya di daerah urban yaitu di kelurahan kayuputih. Sedangkan pada tahun 1995 di jawa timur berkisar 21,2% dari seluruh diabetes di daerah tersebut. Penelitian terakhir pada tahun 2001 dan 2005 di daerah Depok di dapatkan prevalensi sebesar 14,7%, suatu angka yang cukup mengejutkan. Di Makasar pada tahun 2005 berkisar 12,5%. Di prediksi bahwa Diabetes akan meningkat jumlahnya di masa mendatang. Prediksi ini dikemukakan oleh WHO, bahwa Indonesia akan menempati peringkat ke 5 sedunia dengan pengidap diabetes sebanyak 12,4 juta orang dan pada tahun 2025 di perkirakan akan mengalami peningkatan sebanyak 2 tingkat di bandingkan pada tahun 1995. Diabetes dapat dikaitkan dengan peningkatan kosentrasi glukosa dalam darah atau didefinisikan sebagai hiperglikemi dan menimbulkan gambaran klinis poliuri (peningkatan pengeluaran urine), akibat poliuri dan keadaan hiperglikemi inilah penderita diabet terkadang ditemukan mengalami gejala inkontinensia urin (IU) karena pada penderita diabet terkadang kehilangan kesadaran sensoris mereka dari pengisian kandung kemih dan terjadi peningkatan pengeluaran urine. IU merupakan ketidakmampuan seseorang menahan kencing saat berkemih dan gejala dari

inkontinensia urin ini akan berdampak besar bagi psikologis penderita, selain itu muncul komplikasi seperti kelainan kulit, dekubitus, infeksi saluran kemih. Dari latar belakang di atas, peneliti ingin mengetahui bagaimana hubungan kadar gula darah pada penderita diabetes dengan kejadian inkontinensia urin di RS. Dr. Kariadi Semarang. Adapun alasan mengapa peneliti memilih RS. Dr. Kariadi Semarang : RS. Dr. Kariadi Semarang merupakan rumah sakit tipe B, dan merupakan salah satu rumah sakit rujukan didaerah jawa tengah, sehingga diharapkan dapat mewakili populasi. B. Rumusan Masalah Bagaimana hubungan kadar gula darah pada penderita diabetes dengan kejadian inkontinensia urin di RS. Dr. Kariadi Semarang periode Januari Juni 2011. C. Tujuan 1. Tujuan umum : Mengetahui hubungan kadar gula darah pada penderita diabetes dengan kejadian inkontinensia urin di RS. Dr. Kariadi Semarang periode Januari Juni 2011. 2. Tujuan khusus : a.) Mendiskripsikan kadar gula darah pada penderita diabetes di RS. Dr. Kariadi Semarang periode Januari Juni 2011. b.) Menganalisis hubungan kadar gula darah pada penderita diabetes dengan kejadian inkontinensia urin di RS. Dr. Kariadi Semarang periode Januari Juni 2011.

D. Manfaat : 1. Manfaat teoritis : Mengetahui berapa besar pengaruh kadar gula darah pada pasien diabetes dengan kejadian munculnya gejala inkontinensia urin.

2. Manfaat praktis : a.) Sebagai acuan penelitian berikutnya tentang diabetes dan inkontinensia urin. b.) Memberikan informasi mengenai komplikasi diabetes sehingga dapat memotivasi masyarakat agar terhindar dari resiko penyakit diabetes. c.) Sebagai referensi para medis agar lebih meningkatkan pengetahun tentang diabetes dengan gejala inkontinensia urin, sehingga dapat meningkatkan penanganan dan pelayanan.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Diabetes Diabetes merupakan penyakit yang ditandai dengan peningkatan kadar gula darah, secara umum diabetes sering disebut juga dengan penyakit kencing manis/ penyakit gula. Diabetis dibagi menjadi dua yaitu diabetes mellitus dan diabetes insipidus. 1. Diabetes militus Diabetes merupakan bahasa yang berasal dari yunani yang berarti mengalirkan atau mengalihkan atau disebut dengan siphon.Sedangkan melitus merupakan bahasa latin yang berarti manis. Pada orang awam penyakit diabet sering disebut penyakit kencing manis. Diabetes mellitus adalah penyakit hiperglikemi (kadar glukosa darah tinggi) atau ditandai dengan ketidak normalan atau penurunan relative insensitivitas sel terhadap insulin. Ketidaknormalan Insulin mempunyai peran penting dalam terjadinya penyakit diabetes. Insulin merupakan hasil sekresi dari pankreas dan sebagai pembentuk utama tubuh. Adapun efek insulin, antara lain: stimulasi transport glukosa, meningkatkan transport asam amino ke dalam sel, stimulasi sintesis protein, menghambat pemecahan cadangan lemak, protein, dan glukosa. Selain itu insulin dapat mengahambat glukeneogenesis, dan sintesis glikosa baru oleh hati. Intinya insulin dapat menyediakan glukosa ke dalam tubuh kita, dapat sebagai pembangun protein, berperan dalam mempertahankan kadar glukosa plasma rendah.Dalam keadaan yang normal insulin disintesis kemudian disekresi ke dalam darah sesuai dengan kebutuhan yang diperlukan oleh tubuh. Maka apabila kerja insulin mengalami gangguan akan terjadi hambatan utilisasi glukosa serta terjadi peningkatan kadar glukosa darah (hiperglikemi), dan secara klinis keadaan tersebut disebut dengan penyakit diabetes militus. Sebagian besar patologi diabetes dikaitkan dengan tiga hal, antara lain : a.) pengaturan kadar glukosa didalam tubuh, dengan adanya peningkatan kosentrasi glukosa darah sebesar 300 sampai 1200 mg. per 100 ml., b.) terjadi pengurangan protein didalam tubuh. c.) peningkatan asam lemak atau terjadi pengendapan lipid pada dinding vaskuler yang berakibat aterosklerosis. Namun, terjadi pula masalah dalam patologi pada diabetes yang tidak mudah nampak, yaitu kehilangan glukosa ke dalam urin penderita dan asidosis pada diabetes. Tipe Diabetes mellitus, Diabetes melitus memiliki beberapa tipe, antara lain : a.) Diabetes tipe 1 : penyakit hiperglikemi akibat gangguan hormone insulin (terjadi ketidak absolutan insulin) yang berasal dari kerusakan sel beta pankreas karena virus atau kerusakan gen. pada diabetes tipe 1 sering

ditemukan pada usia dini / kurang dari umur 30 tahun, dengan perbandingan wanita lebih banyak disbanding laki-laki. Pada diabetes tipe 1 Produksi insulin sudah tidak mampu berfungsi dengan baik sehingga dibutuhkan suntikan insulin. Mayoritas penyebab diabetes tipe 1 ini adalah genetik / keturunan. Karakteristik diabetes melitus adalah kadar glukosa yang normal sebelum awitan penyakit muncul. b.) Diabetes tipe 2 : Penyakit hiperglikemi yang disebabkan karena insensitivitas seluler terhadap insulin atau karena adanya defek sekresi insulin, disini terjadi ketidakmampuan pankreas untuk menghasilkan insulin yang normal bagi tubuh. terjadinya diabetes mellitus tipe 2 sering dikaitkan dengan kegemukan dan biasanya menyerang pada usia 45 tahun ke atas. c.) Diabetes tipe lain : pada diabetes tipe lain sering dikaitkan dengan defek genetik fungsi sel beta, defek genetik kerja insulin, penyakit eksokrin pancreas, endokrenopati, obat/zat kimia, infeksi seperti rubella dan CMV, kemudian sering dikaitkan juga dengan imunologi, sindrom genetik. d.) Diabetes Gestasional : diabetes yang terjadi pada wanita hamil dan sebelumnya belum terkena diabetes.

2. Diabetes insipidus Diabetes insipidus digambarkan dengan keaadaan dimana fungsi konservasi air oleh ginjal tidak memadai, sehingga timbul keluhan seperti poliuri dan keadaan selalau haus. Terdapat dua macam jenis diabetes insipidus : a.) Diabetes insipidus sentral Diabetes ini dapat terjadi karena idiopatik atau sekunder terhadap hipofisektomi atau trauma atau juga karena neoplastik atau infiltrative pada hipotalamus/ hipofisis, inflamasi, vaskuler, atau infeksi. Pada penderita Diabetes insipidus sentral biasanya telah mengalami kelainan paling sedikit 6 bulan. Diabetes jenis ini seringkali menyerang pada usia anak-anak dan dewasa muda (median awitan 24 tahun), dan sering menyerang pada jenis kelamin laki-laki dari pada jenis kelamin wanita. b.) Diabetes insipidus nefrogenik Digambarkan dengan keadaan ginjal yang tidak responsive terhadap vasopresin. Jenis diabetis insipidus ini jarang terjadi secara familial atau congenital, biasanya keadaan diabetes ini karena didapat. Namun diabetes jenis ini sering dikaitkan dengan penyebab hiperkalsemi dan nefropati hipokalemik dan penyebab tersebut dapat dipulihkan kembali. Di duga pula litium karbonat, anesthesia dengan metoksifluran, demeklosiklin juga dapat menjadi penyebab diabetes insipidus nefrogenik. 3. Gambaran klinis Diabetes a) Diabetes tipe 1 dapat disertai mual, muntah yang cukup parah. Dan pada diabetes tipe 1 dan 2 terkadang memperlihatkan gejala non-spesifik, seperti

b)

c) d) e)

f)

abnormalitas sensasi, kandidiasis vagina, peningkatan angka infeksi, gangguan penglihatan. Polifagia / terjadi peningkatan rasa lapar yang cukup luar biasa diakibatkan pascaabsorptif kronis dan katabolisme lemak, protein, serta kelapalan relative sel. Munculnya penurunan berat badan. Kelemahan otot sehingga menyebabkan rasa lelah akibat katabolisme protein di dalam otot dan ketidakberdayaan sel untuk mengambil energy dari glukosa. Polidipsia / munculnya rasa haus akibat volume urin yang besar sehingga berakibat dehidrasi bagi penderita, dalam keadaan dehidrasi intrasel maka disusul dehidrasi ekstrasel. Saat terjadi dehidrasi ntrasel terjadi pula pengeluaran hormone anti-deuretik sehingga menimbulkan rasa haus. Poliuria: terjadi peningkatan volume air kemih lebih dari 3L/hari. Poliuri bisa disebabkan karena keadaan-keadaan sebai berikut : hiperglikemi, hiperkalsemi, yang nantinya akan berdampak munculnya gejala inkontinensia akut. Selain itu poliuri bisa disebabkan oleh vasopresin, dieresis solute, natriuresis. Pada penderita diabetes akan mengalami gejala poliuri dan dapat menyebabkan inkontinensia karena pada penderita diabet mengalami penurunan sensasi dalam berkemih.

4. Penegakan Diagnosis Telah dikatakan sebelumnya bahwa diabetes berkaitan erat dengan kadar gula dalam darah, dan hal ini dijadikan salah satu diagnosis penentu apakah seseorang dikatakan menderita diabetes. Hasil pengukuran glukosa plasma diatas 126 mg/ 100 ml bersamaan dengan keadaan gula darah puasa 110 mg/ 100 ml atau lebih merupakan salah satu penanda diagnosis diabetes. Kadar gula plasma lebih dari 110 mg / 100 ml menggambarkan resisten insulin. Gula plasma saat tidak puasa/sewaktu lebih dari 22 mg/ 100 ml dengan munculnya gejala poliuri, polidipsi, polifagi merupakan penanda diagnosis diabetes. Selain kadar gula darah, diagnosis lain adalah ditemukannya glukosa dalam urine. 5. Komplikasi akut Diabetes a. Ketosidosis diabetic b. Koma nonketotik hiperglikemia hiperosmolar c. Efek somogyi d. Fenomena fajar e. Hipoglikemia f. Dan muncul komplikasi jangka panjang, seperti : gangguan system kardiovaskuler, gangguan penglihatan, gangguan ginjal, anarsaka.

B. INKONTINENSIA URIN 1. Definisi Inkontineia Urin Inkontinensia urin (IU) mempunyai arti dimana kondisi pasien tidak mampu menahan kencing saat ingin berkemih atau kesulitan menahan berkemih sampai mencapai toilet, keluarnya air kencing yang tidak diharapkan, hilangnya pengendalian berkemih, underpants basah. Inkontinensia urin mempunyai gejala keluarnya urin yang tidak terkendali pada waktu yang tidak di kehendaki dan tanpa memperhatikan jumlah,frekwensi yang akan mengakibatkan masalah sosial berupa rasa malu,masalah medic yang nantinya akan mengakibatkan iritasi kulit dan kerusakan kulit di sekitar kemaluan akibat urine, dan higienitas penderitanya. Inkontinensia urin oleh International Continence Society didefinisikan sebagai keluarnya urin yang tidak dapat dikendalikan atau dikontrol dan secara obyektif dapat diperlihatkan dan merupakan suatu masalah sosial atau higienis. Inkontinensia urin merupakan masalah medis khususnya pada perempuan karena prevalensinya dua kali dibanding laki-laki.

2. ETIOLOGI INKONTINENSIA URIN Gangguan berkemih biasanya diakibatkan karena adanya kelainan fungi vesika yang diakibatkan karena kerusakan saraf. Kelainan fungsi vesika tersebut bisa diakibatkan karena terputusnya erat aferen dari vesika, terputusnya baik serat aferen maupun eferen, dan terputusnya jaras fasilitasi dan inhibisi yang berasal dari otak. Ketiga vesika ini dapat berkontraksi namun kontraksi vesika tersebut tidak cukup kuat untuk mengosongkan urin didalam vesica / masih terdapat urin pada vesika. a.) Ketidakstabilan otot detrusor Inkontinensia urin disebabkan oleh kandung kemih yang cenderung mengalami kontraksi yang sudah tidak terkontrol , karena jaras saraf inhibisimenjadi rusak, pada orang tua yang mengalami ketidakstabilan detrusor timbul penyakit SSP (system saraf pusat) seperti Alzheimer, neoplassia, cedera cerebro vaskuler, mungkin dapat juga terjadi pada hedrosevalus bertekanan normal. Lesi yang telah merusak traktus retikulo spinalis ventral dan lateral dapat mengakibatkan berkurangnya atau hilangnya inplus penghambat descendens ke reflek spinal akral dan menyebabkan terjadinya ketidakstabilan detrusor. Jika pada traktus descendens mengalami kerusakan total maka secara otomatis kandung kemih akan mengosongkan diri. b.) Kelainan urologi seperti adanya batu,tumor. c.) Kelainan neurologis seperti stroke (gangguan pada SSP), trauma medulla spinalis, demensia. d.) Penyebab inkontinensia urin bisa diakibatkan karena adanya infeksi namun pada infeksi asimtomatik tidak menimbulkan masalah ini, penyebab

inkontinensia urin yang lain karena adanya pengerasan feses, prolaps uterus, hipertrofi prostat. e.) Penyebab lainnya karena mobilitas yang terbatas. f.) Situasi tempat berkemih tidak memadai dapat dikarenakan curah urin yang berlebihan dan hal ini bisa diakibatakan karena penggunaan diuretik dan abnormalitas metabolism (hiperglikemia, hiperkalsimea, diabetus insipidus atau diabetes melitus). g.) Poliuria disebabkan macam-macam keadaan seperti hiperglikemi, hiperkalsemia yang dapat menyebabkan inkontinensia akut. h.) Obat-obatan seperti penggunaan diuretic kuat, antikolinergik dll. i.) Psikologik merupakan salah satu penyebab inkontinensia urin seperti adanya depresi dan psikosis. j.) Fecal impaction, sering ditemukan pada paien yang rawat inap dan mengalami masalah imobilisasi. k.) Inkontinensia urin disebabkan oleh banyak faktor atau multifaktor. Perlu di bedakan juga antara inkontinensia urin akut dan inkontinensia urin kronik (persisten). Perbedaan antara inkontinenisa urin akut dengan kronik adalah,pada inkontinensia akut terjadi secara mendadak dan di karenakan / berhubungan dengan kondisi sakit akut sedangkan pada inkontinensia urin kronik (persisten) tidak berhubungan dengan kondisi akut dan sudah terjadi sejak lama, ada 2 kelainan mendasar pada fungsi saluran kemih bawah yang melatarbelakangi terjadinya inkontinensia urin kronik-persisten antara lain : kegagalan menyimpan urin pada kandung kemih akibat hiperaktif atau menurunya kapasitas kandung kemih atau lemahnya tahanan saluran keluar, kegagalan pengosongan kandung kemih akibat lemahnya kontraksi otot detrusor atau meningkatnya tahanan aliran keluar. Pada inkontinensia urin akut penyebabnya sering disebabkan oleh delirium, restricted mobility, infection/inflamasi, polyuria, uretriris, stoolilmpection. 3. FAKTOR RESIKO INKONTINENSIA URIN a.) Usia Kejadian inkontinensia meningkat dengan meningkatnya umur dan terbanyak ditemukan pada usia yang lanjut. Usia lanjut secara langsung dapat mempengaruhi fungsi saluran berkemih, hal ini disebabkan perubahan anatomic dan fisiologik saluran urogenital bagian bawah . Selain usia lanjut, inkontinensia urin sering ditemukan pada usia sekitar menopause dan menetap masa postmenopause. 1 b.) Faktor jaringan ikat Fungsi dari otot dasar panggul dapat menurun akibat banyak factor seperti patologis dan perubahan fisiologis akibat proses menua pada organ dasar panggul yakni rasio jaringan ikat-otot yang meningkat dan kolagen yang tinggi. c.) Kehamilan dan melahirkan

Peneliti banyak yang menunjukan bahwa persalinan pervaginam meningkatkan risiko terjadinya inkontinensia urin dibandingkan dengan persalinan perabdominam. Namun belum diketahui dengan jelas dengan alat persalinan pervaginam apa yang menyebabkan faktor resiko terjadinya angka inkontinensia urin. Didapatkan pula penelitian yang menyatakan bahwa terdapat hubungan kejadian inkontinensia urin diebabkan karena riwayat multipara (riwayat melahirkan banyak), ini diakibatkan karena terdapatnya kerusakan di syaraf, otot dan fascia dari otot levator ani pada saat persalinan. Mekanisme lukanya syaraf, otot dan fascia dari levator ani akibat persalinan dengan forcep tidak jelas. Kompresi dari nervus pudendus dengan daun forcep berakibat neuropati pudendal setelah itu mengakibatkan denervasi sfingter uretra. Atau karena kepala mengalami penurunan yang lebih cepat dibanding persalinan normal akan menyebabkan peregangan dan luka serabut syaraf serta elemen jaringan penghubung pada dasar panggul. d.) Obesitas Dari hasil penelitian dikatakan bahwa orang-orang yang mempunyai berat badan berlebih/IMT (Indeks Massa Tubuh) yang tinggi mempunyai faktor resiko terkena inkontinensia urin. Tingginya IMT ini akan meningkatkan resiko terjadinya inkontinensia urin, dimana keadaan ini akan menyebabkan peningkatan tekanan intraabdominal dan kelemahan otot dasar panggul. Diet pada penderita inkontinensia dengan obesitas terbukti dapat mengurangi keluhan inkontinensia itu sendiri.12 e.) . Menopause Terjadinya inkontinensia pada perempuan menopause diakibatkan terutama karena lemahnya otot dasar pelvis. Selain itu juga dipengaruhi oleh adanya perubahan fungsi serta struktur dari kandung kemih dan uretra. Proses ini dikarenakan oleh proses penuaan dari ovarium sehingga mengakibatkan penurunan produksi estrogen. Estrogen melalui reseptor alpha dan beta mempengaruhi uretra dan kandung kemih. Penurunannya mengakibatkan uretra menjadi kaku serta tidak elastis. Sehingga tidak dapat menjalankan fungsi secara sempurna (sukar untuk menutup dengan sempurna).1,2,3,7,8,9,10, 4. KOMPLIKASI INKONTINENSIA URIN Adanya berbagai komplikasi yang menyertai inkontinensia urin antara lain a. Infeksi saluran kemih ( ISK ) b. Kelainan kulit c. d. Gangguan tidur Problem psikosoial seperti : mudah marah (emosian), depresi, rasa

terisolasi.Secara tidak langsung permaalahan yang dialami seperti diatas dapat menyebabkan Dehidrasi karena pasien mengurangi minum karena mereka berfikir bawha terlalu banyak minum akan menyebabkan ngompol, sehingga ada perasaan takut jika pasien minum air terlalu banyak.

e. f. g.

Dekubitas Infeksi saluran kemih berulang Biaya perawatan yang tinggi2.

5. JENIS-JENIS INKONTINENSIA URIN a.) Inkontinensia urin akut Inkontinensia yang terjadi secara mendadak. Inkontinensia urin akut sering juga disebut dengan inkontinensia transien dan penyebabnya banyak seperti pada penderita delirium, infeksi, obat-obtan, paikologik, mobilitas yang terbatas dan fecal impaction. b.) Inkontinensia urin persisten Inkontinensia urin yang tidak berkaitan dengan inkontinensia urin akut dan berlangung lama. Ada kelainan fungsi kandung kemih yang mendasari terjadinya inkontinensia urin akut/persisten : kegagalan pengosongan urin karena lemahnya otot detrusor dan kegagalan penyimpanan urin didalam kandung kemih diakibatkan lemahnya kapasitas kandung kemih. Secara klinis inkontinensia urin persisten/kronik dapat dibagi menjadi 4 jenis sesuai dengan tipe inkontinensia urin. Jenis inkontinensia akut antara lain : o Inkontinensia urin tipe stress / stress urinary incontinence (SUI) Inkontinensia tipe stress atau SUI adalah gangguan saat keluarnya urin dari uretra pada saat terjadinya tekanan intra abdominal.ada salah satu factor yang menyebabkan inkontinensia tipe ini adalah ketidakmampuan sfingter (uretra) untuk mempertahankan tekanan intrauretra pada saat tekanan intravesika meningkat (bulu-buli) dalam keadaan terisi penuh. Penigkatan intra abdominal pada tipe stress ini terjadi pada saat bersin, tertawa, berjalan, berdiri, batuk, mengejan, mengangkat beban yang berat, terutama terjadi pada wanita yang telah mengalami usia lanjut yang mengalami hipermobilitas uretra dan lemahnya otot dasar panggul akibat seringnya melahirkan, operasi dan penurunan kadar estrogen. Pada wanita kerusakan pada sfingter biasanya terjadi karena dua keadaan yaitu: intrinsic uretra dan hipermobilitas uretra.Biasanya kerusakan pada sfingter uretra eksterna di karenakan pasca prostatetomi radikal dan hal tersebut lebih sering terjadi dari pada pasca TURP, dan pasien pun mengalami inkontinensia urin totalis karena kerusakan sfingter eksterna total. Pada khasus hipermobilitias uretra di sebabkan karena kelemahan otot-otot dasar panggul yang berfungsi sebagai penahan buli-buli atau uretra, saat terjadi kelemahan pada otot dasar panggul terjadilah herniasi dan angulasi leher buli-buli-uretra pada saat terjadi tekanan intraabdominal,herniasi dan angulasi inilah yang menyebabkan terbukanya leher buli-buli uretra yang akan menyebabkan bocornya urine dari buli-buli meskipun tidak ada tekanan intravesika.

Sering juga terjadi pada perempuan pascamenopause dengan parietas tinggi. Dalam keadaan pascamenopause pada umumnya akan terjadi atrofi apabila kekurangan estrogen dan banyak perempuan pada massa pascamenopause tidak mampu menahan saat ingin berkemih dalam keadaan stress, mengangkat beban yang berat, meningkatnya tekanan intraabdominal saat sedang batuk, saat naik tangga, dan aktifitas lainnya. Persalinan dapat menyebabkan rusaknya panggul penyokong kandung kemih, akibat rusaknya kandung kemih posisi uretra serta kandung kemih tidak lagi pada posisi normal yaitu diatas diafragma pelvis. Dalam keadaan ini terjadi pemendekan uretra serta sudut uretrofesikal normal tidakdapat menutupi sfingter uretra. Pada laki-laki inkontinensia urin stress diakibatkan karena kerisakan sfingter uretra eksterna pada pasca prostatektomi akibat pembedahan hipertrofi prostat atau karsinoma prostat. Pada gangguan inkontinensia urin tipe stress terdapat beberapa klafikasi berdasarkan penurunan letak leher buli-buli dan uretra yang di nilai menggunakan video-urodinamika untuk mengetahui kebocoran urine (BLAIVAS dan OLSSON) 19882 : Tipe 0 : pasien mengeluh inkontinensia urin stress namun tidak di temikan kebocoran urine dan pada pemeriksaan menggunakan videourodinamika setelah maneuver valsava leher buli-buli dan uretra menjadi terbuka. Tipe 1 : terjadi penurunan < 2cm dan biasanya terdapat sistokel yang kecil Tipe 2 : penurunan > 2cm disertai sistokel Tipe 2a: sistokel terdapat di dalam vagina Tipe 2b: sistokel berada di luar vagina

Tipe 3 : Disebabkan oleh ISD,urin selalu keluar karena factor gravitasi dan penambahan tekanan intravesika yang minimal, leher buli-buli dan uretra tetap terbuka walau tidak ada kontraksi detrusor maupun maneuver valsava. o Inkontinensia urin paradoksa atau overflow Pada tipe ini terjadi pengeluaran urin tanpa bisa terkontrol dalam kondisi volume urin yang melebihi kapasitasnya di dalam buli-buli. Hal ni mengalami kelemahan pada otot detruor sehingga menimbulkan atonia atau arefleksia. Hal ini ditandai dengan overdistensi vesica urinanria (VU), namun karena VU tidak mampu mengosongkan diri maka urine akan teru menetes. Kelemahan otot detruor ini disebabkan karena

obstruksi uretra, neuropati diabetikum, cedera spinal, defisiensi vitamin B12, efek samping obat, akibat pembedahan pada daerah pelvic. Pada penderita diabetes pasien masih dapat mengontrol miksi, namun kehilangan kesadaran sensoris mereka dari pengisian kandung kemih. o Inkontinensia urin tipe fungsional Sebenarnya pada inkontinensia urin tipe fungsiaonal diakibatkan karena hambatan tertentu misalnya penderita tidak mampu menjangkau toilet pada saat ingin miksi sehingga berakibat urine keluar tanpa dapat ditahan. Hambatan-hambatan yang menyebabkan inkontinensia urin tipe fungsional biasanya berupa gangguan fisis, adanya gangguan kognitif, mengkonsumsi ibat-obatan tertentu seperti antikolinergik, diuretikum, sedative, narkotikum,dll. o Inkontinensia urin tipe urgensi/mekanis/kontinua Inkontinensia urin tipe urgensi adalah dimana didapatkan kondisi urine selalu keluar setiap saat dalam bentuk atau berbagai posisi. Kondisi ini sering ditemukan pada penderita dengan fistula system urinaria yang berakibat urine tidak melewati daerah sfingter uretra. Pada khasusu fistula vesikovagina terdapat lubang yang menghubungkan VU dengan vagina. Jika bentuk dari lubang tersebut besar maka VU tidak dapat terisi penuh oleh urine. Karena urine tidak keluar melalui uratra tidak sempat tertampung pada VU namun keluar dari fistula ke vagina. Fistula vagina sering disebabkan karena operasi genekologi, trauma obstetric, atau saat radiasi daerah pelvic. Contoh lain dari khasus fistula yang menyebabkan inkontinensia urin adalah fistula uretrovagina yaitu adanya hubungan langsung antara uretra dengan vagina, hal ini sering juga didapatkan pada cedera ureter pada pasca operasi di daerah pelvic. Selain khasus fistula terdapat lagi penyebab inkontinesia urin seperti muara ektopik yang terjadi pada anak perempuan. Muara ektopik ini merupakan kelainan bawaan. Inkontinensia urin ini terjadi karena urine yang dibawa ke ureter ektopik tidak dihambat oleh sfingter uretra eksterna sehingga mengalami kebocoran. Khasus uretra ektopik hamper sama gejalanya dengan fistula uretrovagina yaitu mengalami kebocoran namun pada uretra ektopik penderita masih bisa miksi seperti orang biasa1,2,7,11. 6. DIAGNOSIS DAN PENANGANAN . Menentukan Diagnosis. Hal hal yang perlu ditanyakan untuk melakukan evaluasi terjadinya gejala inkontinensia urin, tanyakan riwayat penyakit paien. a. Berapa banyak urine yang keluar pada Saat inkontinensia - Sekali atau lebih Dua kali atau lebih

Tiga kali atau lebih Menyebabkan problem social atau kebersihan.

b. Frekuensi terjadinya inkontinensia urin - Selalu terjadi c. Terjadi 1 tahun yang lalu Terjadi 1 bulan yang lalu Terjadi 1 minggu yang lalu Terjadi setiap hari

Penyebab terjadinya inkontinensia urin seperti : fistula, kerusakan fungsi uretra dll.

d.

Faktor pencetus apa yang menyebabkan munculnya inkontinensia urin Batuk Bersin Aktivitas lainnya.

e. Riwayat penyakit dahulu, seperti : Diabetes mellitus, terutama jika ada neuropati, adanya kelainan urologi, pernah mengalami infeksi aluran kemih berulang, penyakit pada rongga pelvis, menopause, riwayat pernah melakukan radiasi ataupun operasi didaerah pelvis dan abdomen. Riwayat melahirkan multipara, partus kasep, dan melahirkan bayi dengan ukuran besar. f. Pemeriksaan fisis - Pemeriksaan abdomen dimungkinkan ditemukanya distensi VU yang merupakan salah satu tanda terjadinya inkontinensia paradoksa, atau ditemukannya massa dipinggang dari suatu hidronefrosis, atau mungkin ditemukan adanya jaringan parut akibat operasi didaerah pelvis atau bagian abdomen. - Pemeriksaan pada regio urogenitalia, dapat dilihat pada bagian orifisium uretra dan vagina. Dengan menggunakan speculum apakah ada kelainan pada dinding vagina bagian posterior dan anterior, perhatikan pula perubahan warna dan penebalan dari mukosa vagina,hal ini menandakan adanya defisiensi estrogen yang dapat menyebabkan vaginitis atrofikans, diperkuat dengan adanya kenaikan sensitifitas pada VU dan uretra yang dapat dilihat. Pemeriksaan dapat juga dilakukan dengan palpasi bimanual untuk mengatahui adanya massa pada uterus dan adneksa. Tidak lupa juga pada bagian orifisium ekternum adakah didapatkan suatu benjolan, jika terdapat benjolan mungkin bejolan tersebut merupakan proses dari inflamasi atau devrtikulum. Jika terdapat penurunan VU atu urine terus keluar atau menetes mintalah kepada pasien untuk melakukan maneuver valsava untuk memastikannya. - Pemeriksaan neurologic, tidak lipa memriksa statu mental pasien,kemungkinan ditemukan bahwa pasien mengalami demensia.

Pemeriksaan laboratorium, dengan pemeriksaan urinalisis, kulture urine, dan sitologi urin yang berfungi untk menyingkirkan kemungkinan adanya suatu proses inflamasi atau terdapat infeksi yang menandakan terdapatkeganasan pada saluran kemih. Pemeriksaan lain :Pemeriksaan dengan pencitraan seperti pielografi intravena yang berfungsi untuk menemukan adanya fistula ureterovagina dan muara ureter ektopik, ataupun sistografi miksi yang berfungsi untuk mengetahui apakah terjadi penurunan VU, Residu urine yang dilakukan dengan kateterisasi atau ultrasonografi setelah pasien miksi , untuk mengatahui adanya obstruksi infravesika dan kelemahan otot detrusor.1,2,7

7. Tatalaksana Tatalaksana pada inkontinensia urin umumnya farmakologis, farmakologis dan pembedahan.

berupa

tatalaksanan

non

8. Medikamentosa Pada semua obat yang digunakan sebagai terapi inkontinensia urin perlu diperhatikan efek sampingnya bagi pasien terutama medikamentosa atau terapi obat yang diberikan pada pasien lansia. Perhatikan untuk efek samping eperti mulut kering, mata kabur, terjadi peningkatan tekanan bola mata, konstipasi, dan delirium. Untuk memberikan obat dapat dilihat pada table 1 dan pada table 2 terdapat obat-obat apa saja yang dapat mempengaruhi inkontinensia urin. Berikan obat sesuai dengan jenis inkontinensia urin yang paien derita.1,2,7

Tabel I. Obat-obat yang di gunakan untuk berbagai tipe inkontinensia urin1


Obat Dosis Jenis inkontinensia Efek samping

Hyoscamin

3 x 0,125 mg

Urge atau campuran

Mulutkering,mata kabur,glaucoma,Delirium, konstipasi Mulut kering, Konstipasi Delirium,hipotensi,


Ortostatik.

Telterodin Imipramin

2 x 4 mg 3 x 25-50 mg

Urgensi dan OAB Urgensi

Pseudoephedrin

3 x 30-60 mg

Stres

Sakit kepala, Takikardi, Tekanan darah tinggi Iritasi local

Topikal Estrogen

Urgensi dan stress

Doxazosin

4 x 1-4 mg

BPH dengan urgensi

Hipotensi Postural

Terazosin Tamsulosin

4 x 1-5 mg 1 x 0,4-0,8 mg

Tabel 2. Jeni-jenis obat yang dapat mempengaruhi inkontinensia2 Jenis Obat Efek pada kontinensia

Diuretikum Antikolienergik Sedativa/ hipnotikum Narkotikum Antagonis adrenergik alfa Penghambat kanal kalsium

Buli-buli cepat terisi Gangguan kontraksi detrusor Gangguan kognitif Gangguan kontraksi detrusor Menurunkan tonus sfinngter internus Menurunkan kontraksi detrusor

A.3.7.2. Pembedahan Pada khasus tertentu penderita inkontinensia urin juga perlu dilakukan pembedahan jika gejala inkontinensia urin diebabkan oleh fistula atau kelainan bawaan ektopik ureter. Dengan cara penutupan fistula atau neoimplantasi ureter ke buli-buli atau VU. Untuk inkontinensia urin tipe stress dan urgen dapat pula dilakukan pembedahan apabila terapi konservative yang diberikan gagal atau tidak memberikan kebaikan pada pasien.

DAFTAR PUSTAKA 1. Sudoyo, Aru W.,dkk.Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid III Edisi IV.Jakarta : FKUI.2007. 2. Purnomo, Bauki B.Dasar Dasar Urologi Edisi Kedua.Malang : FK Univ. Brawijaya.2003. 3. Tendean, Hiremi M.M.Deteki ikontinensia urin pada usia postmenopause dengan menggunakan kuisioner 11Q-7 dan UDI-6.JKM 6 (2); 2007 4. Snell, Richard S. 2006. Anatomy Klinik untuk Mahasiswa Kedokteran Edisi 6 ; bahasa, Liliana Sugiharto. Jakarta : EGC 5. Ganong, W.F. 2008. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran ; Alih bahasa, Brahm U. Pendit; Editor bahasa Indonesia, Andita Novrianti, [et all] -Ed 22-. Jakarta : EGC. 6. Guyton, A.C. 1996. Human Physiology and Mechanisms of Disease (Fisiologi Manusia dan Mekanisme Penyakit). Alih bahasa, Petrus Andriyanto Ed.3 -. Jakarta : EGC 7. Harrion. Prinsip Prinip Ilmu Penyakit Dalam Edisi 13 Volume 1 .Editor Bahasa Indoneia : Ahmad H. Asdie. Jakarta : EGC. 8. Suparman, E.,Rompas J. Majalah Obstetri dan Ginekologi Indonesia. Jakarta : PT Bina Pustaka Sarwo Prawirohardjo.2008. 9. Jayani, Lusiala P.Hubungan kelebihan berat badan dengan inkontinensia urin pada wanita di wilayah Surakarta.Surakarta : FK UNS. 2010. 10. Fernandes, Devrisa N. Hubungan antara inkontinensia urin dengan derajat depresi wanita lanjut.Surakarta : FK UNS.2010. 11. Arya LA, Jackson ND, Myers DL, Verma A. Risk of new onset urinary incontinence after forcep and vaccum delivery in primiparous women. AmJOG 2001;185:1318-23 12. Subak, L.L.,Whitcomb E.,Shen H.,Saxton J., Vilthinghoff, Brown J.S. Whight loss : A Novel and effective treatment for urinary incontinence.J.Urol 147(1) : 190 5 13. Bakta, I made dam ikelmt suastika. Gawat Darurat Di Bidang Penyakit Dalam. Jakarta : ECG. 1999 14. Sibnea, Herdin.,M.M. Pangabean, dan S.P.Gulton. Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta : Rineka Cipta. 2005 15. Irianto, Kus. Struktur Dan Fungsi Tubuh Manusia untuk Paramedis. Bandung : Yrama Widya.2004 Alih

16. Wirakusumah, E. Pandi. Sehat cara al-qran dan Hadis.Jakarta : PT. Mizah Publika. 2010 17. Horrison. Prinsip-prinsip Ilmu Penyakit Dalam Edisi B volume 5. Jakarta: ECG. 2000 18. Sudoyo, Aru. W, Bambang Setiyohadi, Idrus Alwi, Mareellus Simadibrata. K., Siti Setiati. Buku Ajar Penyakit Dalam Edisi V jilid III. Jakarta : ECG.2009