P. 1
Sistem Perencanaan Tata Ruang Wilayah Pesisir: Studi Kasus Teluk Lampung

Sistem Perencanaan Tata Ruang Wilayah Pesisir: Studi Kasus Teluk Lampung

|Views: 872|Likes:
Dipublikasikan oleh Aman Damai
Pengelolaan Pesisir dan Laut, Perencanaan Tata Ruang Wilayah Pesisir dan Laut, Pendekatan Sistem Dinamik
Pengelolaan Pesisir dan Laut, Perencanaan Tata Ruang Wilayah Pesisir dan Laut, Pendekatan Sistem Dinamik

More info:

Categories:Types, Research
Published by: Aman Damai on Dec 12, 2012
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/09/2013

pdf

text

original

Sections

  • 1.2 Tujuan dan Manfaat
  • 1.3 Perumusan Masalah
  • 1.4 Definisi Operasional
  • 1.5 Lingkup Penelitian
  • 1.6 Kerangka Konsepsional
  • Tabel 1 Karakteristik sistem perencanaan spasial yang diajukan
  • 2.1 Wilayah dan Wilayah Pesisir
  • 2.2 Teori Sistem
  • 2.3 Sistem dan Model
  • 2.4 Penelitian Partisipatif
  • 2.5 Perencanaan Tata Ruang Partisipatif
  • 2.7 Tinjauan Penelitian Terdahulu
  • 3.1 Pendekatan Penelitian
  • 3.2 Wilayah Penelitian
  • 3.3 Kerangka Pemikiran dan Analisis
  • Gambar 12 Kerangka pemikiran penelitian
  • 3.4 Batas Sistem
  • 3.5 Tahapan Pendekatan Sistem
  • 3.6 Analisis Prospektif Partisipatif
  • Gambar 15 Tahap analisis sistem dinamik
  • 3.7 Pemodelan Sistem
  • Gambar 16 Model secara global
  • 3.7.1 Faktor-faktor penyusun model
  • 3.7.2 Blok bangunan dasar dan persamaan dalam model
  • 3.8 Analisis SIG
  • Gambar 17 Bagan alir interpretasi citra satelit
  • Gambar 18 Bagan alir analisis sistem informasi geografis (SIG)
  • Tabel 4 Data dan informasi yang dikumpulkan
  • 3.9.1 Analisis biofisik wilayah
  • 3.9.2 Analisis pemilihan skenario
  • 3.9.3 Analisis ekonomi wilayah dan kewilayahan
  • 3.9.4 Metode manual alokasi pola ruang
  • 4.1.2 Geologi pantai dan sistem lahan
  • Tabel 7 Satuan geologi lingkungan pantai Teluk Lampung
  • Tabel 8 Ringkasan sistem lahan di wilayah pesisir Teluk Lampung
  • 4.1.3 Fisik kimia perairan
  • Tabel 9 Arus pasut di Teluk Lampung
  • Tabel 10 Arah dan tinggi maksimum kejadian gelombang
  • Tabel 12 Kualitas air Teluk Lampung berdasarkan Metode STORET
  • 4.1.4 Biologi perairan
  • 4.2 Kependudukan
  • 4.2.3 Keluarga dan keluarga miskin
  • 4.2.4 Rumah tangga perikanan
  • 4.3.1 Produk domestik regional bruto (PDRB)
  • 4.3.2 Struktur perekonomian
  • Tabel 18 PDRB wilayah pesisir Teluk Lampung per kecamatan
  • 4.3.3 Sektor ekonomi basis
  • Tabel 19 Nilai LQ sektor ekonomi wilayah pesisir Teluk Lampung
  • 4.3.4 Daya saing sektor ekonomi
  • Tabel 21 Daya saing sektor ekonomi wilayah pesisir Teluk Lampung
  • 4.4 Prasarana dan Sarana Wilayah
  • 4.4.1 Jalan dan rel kereta api
  • 4.4.2 Pelabuhan dan dermaga
  • Tabel 24 Lokasi pelabuhan dan dermaga di wilayah pesisir
  • 4.4.3 Prasarana wisata pantai
  • Tabel 25 Lokasi prasarana wisata pantai di wilayah pesisir Teluk Lampung
  • 4.4.4 Armada kapal nelayan
  • Tabel 26 Armada nelayan di wilayah pesisir Teluk Lampung
  • Tabel 27 Jenis dan sebaran koperasi di wilayah pesisir Teluk Lampung
  • 4.5 RTRW Terkait Teluk Lampung
  • 5 ANALISIS PROSPEKTIF PARTISIPATIF
  • 5.1 Penentuan Variabel Kunci
  • Tabel 28 Variabel pengaruh yang diidentifikasi oleh partisipan
  • Tabel 30 Variabel yang disimpulkan paling berpengaruh oleh partisipan
  • 5.2 Analisis Pengaruh Antar-Variabel Kunci
  • Tabel 32 Skor kekuatan variabel global tertimbang
  • 5.3 Penentuan Kondisi (State) Variabel Kunci di Masa Depan
  • Tabel 33 Kondisi variabel yang ditetapkan oleh partisipan secara konsensus
  • 5.4 Pembangunan Skenario
  • 5.5 Implikasi Strategis dan Aksi Antisipatif
  • 5.6 Hubungan Analisis Prospektif Partisipatif dengan Pemodelan
  • 6.1 Pemodelan Sistem Dinamik
  • 6.1.2 Nilai awal dan parameter
  • Tabel 34 Ringkasan beberapa nilai awal dan parameter model
  • 6.1.3 Validasi model
  • 6.2 Informasi Geografis Wilayah
  • Tabel 37 Kelas kemampuan lahan wilayah penelitian
  • 6.2.3 Penggunaan perairan
  • Tabel 38 Penggunaan ruang perairan Teluk Lampung
  • 6.2.4 Jaringan transportasi
  • 6.3 Kecenderungan Sistem
  • 6.3.2 Aktivitas Ekonomi
  • 6.3.3 Penggunaan Ruang
  • 7 KEBIJAKAN TATA RUANG WILAYAH PESISIR
  • 7.1.2 Asumsi-asumsi dalam pengembangan model
  • 7.1.3 Simulasi sub-model populasi
  • Tabel 39 Rekapitulasi simulasi sub-model populasi
  • 7.1.4 Simulasi sub-model aktivitas ekonomi
  • Tabel 40 Rekapitulasi simulasi sub-model aktivitas ekonomi
  • 7.1.5 Simulasi sub-model ketersediaan ruang
  • Tabel 41 Rekapitulasi simulasi sub-model ketersediaan ruang
  • 7.1.6 Pemilihan skenario
  • Tabel 42 Kriteria dan bobot kinerja CPI
  • Tabel 43 Rekapitulasi hasil analisis CPI
  • 7.2 Kebijakan Pola dan Struktur Ruang
  • 7.2.1 Kebutuhan dan kesesuaian ruang
  • Tabel 44 Kebutuhan ruang wilayah pesisir Teluk Lampung
  • Tabel 45 Kesesuaian ruang wilayah pesisir Teluk Lampung
  • Tabel 46 Nilai LQ sektor ekonomi per kecamatan
  • Tabel 47 Nilai LI sektor ekonomi wilayah pesisir Teluk Lampung
  • Tabel 48 Nilai SI per kecamatan di wilayah pesisir Teluk Lampung
  • 7.2.3 Arahan pola ruang
  • 7.2.4 Arahan struktur ruang
  • 7.3 Strategi Implementasi Kebijakan Tata Ruang
  • Lampiran 1 Perbedaan sistem perencanaan spasial
  • Lampiran 2 Sistem lahan wilayah penelitian
  • Lampiran 3 Nilai awal dan parameter

SISTEM PERENCANAAN TATA RUANG WILAYAH PESISIR: STUDI
KASUS TELUK LAMPUNG

Disertasi

ABDULLAH AMAN DAMAI, C261040031, SPs-IPB 2012

Dibimbing:

MENNOFATRIA BOER, MARIMIN, ARIO DAMAR, dan ERNAN RUSTIADI

© Hak Cipta milik IPB, tahun 2012

Alamat: Jl. Nusa Indah V No. 5 Taman Cimanggu, Bogor 16131

0251-8343790; 08129483572

damaisasa@yahoo.com

! " #!$ $

ABDULLAH AMAN DAMAI

SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2012

SISTEM PERENCANAAN TATA RUANG WILAYAH PESISIR:
STUDI KASUS TELUK LAMPUNG

! " #!$ $

! " #!$ $

PERNYATAAN MENGENAI DISERTASI DAN
SUMBER INFORMASI

Dengan ini saya menyatakan bahwa disertasi Sistem perencanaan tata ruang
wilayah pesisir: Studi kasus Teluk Lampung, adalah karya saya dengan arahan
dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada
perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya
yang diterbitkan maupun yang tidak diterbitkan dari penulis, telah disebutkan
dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir disertasi ini.

Bogor, Januari 2012

Abdullah Aman Damai
C261040031

! " #!$ $

! " #!$ $

ABSTRACT

ABDULLAH AMAN DAMAI. Spatial planning system of coastal area: Lampung
Bay case study. Under direction of MENNOFATRIA BOER, MARIMIN, ARIO
DAMAR, and ERNAN RUSTIADI.

Coastal area is complex and dynamic in nature, and also vulnerable against
stress. On the other side, it has various resources and environment services, and
hence tend to be overexploited. For that reason, conflict of space utilization
whether intersectors or internal sector, and various of stakeholders’ interest,
became an ordinary problem. The conflict has to be prevailed through a proper
administration spatial management based on spatial planning that might
accommodate economic and population growth, and also implementable. Through
the system approach, comprehensive spatial planning of coastal area could be met,
which able to accommodate stakeholders’ interest. Due to its complexity, in which
various activities and stakeholders are present, coastal area of Lampung Bay was
determined as study area. The research was aimed to develop an approach of
spatial planning of coastal area that integrate waters and terrestrial space, in a
system framework with participatory features. The research was carried out
through system dynamics approach that incorporated with geographic information
system. Furthermore, participatory prospective analysis for mapping stakeholders’
need, and regional analysis, was prepared. The result showed that: (1) system
approach is able to provide a scenario of coastal area spatial planning
comprehensively, in which waters and terrestrial space could be integrated
through simultaneous analysis of components of system and their interactions, and
further intervention on it; (2) stakeholders involvement through participatory
prospective analysis is the key of simplification of spatial policies formulation, in
which various of interest in an area could be accommodated; (3) main components
of system (i.e. population, economic activities, and space availability) in coastal
area of Lampung Bay, are interrelated and interdependent, and in order to achieve
sustainable relation among them until the end of analysis (year 2029),
consequently it has to be attained and maintained a proportion of protected area as
54,482 ha (42.09%) of land and 4,822 ha (3.02%) of waters; (4) accomplishment
of spatial planning of coastal area of Lampung Bay require conversion of a part of
production area (50.67%) to become protected area, and development of service
centers and infrastructure networks; and (5) Suggestions of space alocation and
service center hierarchies, could be prepared based on model simulation of
condition and regional capabilities of Lampung Bay coastal area, the scenario
could accommodate stakeholders’ need toward the sustainable regional
development

Keywords: coastal area, spatial planning, system dynamics, Lampung Bay.

! " #!$ $

! " #!$ $

RINGKASAN

ABDULLAH AMAN DAMAI. Sistem perencanaan tata ruang wilayah pesisir:
Studi kasus Teluk Lampung. Dibimbing MENNOFATRIA BOER, MARIMIN,
ARIO DAMAR, dan ERNAN RUSTIADI.

Penelitian dan disertasi ini dilatarbelakangi oleh kekhasan wlayah pesisir
yang kompleks dan meliputi ekosistem daratan dan perairan. Dengan
kompleksitasnya yang tinggi, pengelolaan wilayah pesisir harus bersifat holistik
dan terintegrasi, dengan salah satu komponen kuncinya adalah perencanaan tata
ruang. Urgensi penataan ruang merupakan bentuk intervensi positif guna
meningkatkan kesejahteraan yang berkelanjutan. Oleh karena itu, perencanaan
tata ruang memiliki posisi penting dalam kerangka pengelolaan wilayah pesisir
terpadu. Namun demikian, perencanaan tata ruang wilayah pesisir memerlukan
suatu pendekatan yang mampu memadukan karakteristik ruang daratan dan
perairan secara sejajar, sehingga sulit diakomodasi oleh perencanaan tata ruang
yang bias daratan

Pendekatan sistem dapat memberikan pemahaman fenomena dunia nyata
secara komprehensif. Wilayah pesisir yang kompleks, dapat dipandang sebagai
suatu sistem, dengan komponen utama terdiri dari populasi (penduduk), aktivitas
ekonomi, dan penggunaan ruang. Melalui pemodelan sistem, dapat dipelajari
perilakunya secara komprehensif dan diterapkan skenario perencanaan sebagai
bentuk intervensi terhadap sistem tersebut. Dengan demikian, melalui intervensi
terhadap sistem, dapat dihasilkan perencanaan tata ruang terpadu, komprehensif,
dan akomodatif terhadap kebutuhan para pemangku kepentingan (stakeholders).
Sebagai wilayah pesisir yang kompleks dengan beragam aktivitas, Teluk
Lampung dipilih sebagai lokasi penelitian. Tujuan penelitian adalah untuk
mengembangkan suatu pendekatan perencanaan tata ruang wilayah pesisir yang
memadukan ruang daratan dan perairan dalam suatu kerangka sistem dan bersifat
partisipatif. Pendekatan penelitian melalui sistem dinamik dengan pemodelan
deterministik, yang mampu mengkaji sistem kompleks. Pemetaan kebutuhan para
pemangku kepentingan menggunakan analisis prospektif partispatif, dan
penyajian spasial menggunakan sistem informasi geografis.
Wilayah penelitian meliputi: (1) daratan kecamatan di Kota Bandar
Lampung (Telukbetung Barat, Telukbetung Selatan, dan Panjang), Kabupaten
Lampung Selatan (Ketibung, Sidomulyo, Kalianda, Rajabasa, dan Bakauheni),
dan Kabupaten Pesawaran (Padang Cermin dan Punduh Pidada); dan (2) perairan
Teluk Lampung antara 105o

11’-105o

43’ BT dan 5o

26’-5o

59’ LS.
Pemodelan sistem dinamik terdiri dari tiga sub-model, yaitu populasi
(penduduk), aktivitas ekonomi, dan ketersediaan ruang. Proses validasi dilakukan
meliputi struktur (kesesuaian dan konsistensi dimensi) dan perilaku model.
Validasi menunjukkan bahwa terdapat cukup alasan untuk menggunakan model
dalam menggambarkan dinamika wilayah pesisir Teluk Lampung. Simulasi model
dilakukan dalam kurun waktu tahun 2003 sampai 2029.
Kebutuhan para pemangku kepentingan dipetakan dari analisis prospektif
partisipatif melalui forum pertemuan 27 partisipan, yang berlatar belakang:
nelayan dan pembudidaya ikan, pengusaha, institusi pemerintah daerah, dan
perguruan tinggi setempat. Secara konsensus terpilih 6 variabel yang paling

! " #!$ $

berpengaruh, yaitu: kualitas sumberdaya manusia (SDM) masyarakat pesisir,
penegakan hukum, pertumbuhan penduduk, infrastruktur wilayah, aktivitas
ekonomi kerakyatan, dan zonasi wilayah. Keenam variabel terpilih tersebut
merupakan representasi kebutuhan para pemangku kepentingan. Partisipan juga
merumuskan empat skenario berdasarkan kombinasi dari kondisi variabel terpilih.
Di dalam pengembangan model, skenario tersebut diterjemahkan dalam variasi
nilai parameter peubah “kebijakan”, yaitu: optimis, bernilai 1; moderat, bernilai
0,75; pesimis, bernilai 0,25; dan sangat pesimis, bernilai 0. Kemudian masing-
masing skenario disimulasi.

Simulasi sub-model populasi, menunjukkan bahwa populasi skenario
optimis meningkat lebih besar, pada tahun 2029 mencapai 763 ribu orang,
sedangkan pada skenario sangat pesimis hanya mencapai 663 ribu orang. Populasi
skenario optimis yang lebih tinggi, disumbang dari imigrasi yang masuk ke
wilayah pesisir lebih besar daripada skenario lainnya. Di sisi lain, tingkat
pengangguran pada skenario optimis lebih rendah daripada skenario lainnya,
karena perekonomian menjadi lebih baik.
Simulasi sub-model aktivitas ekonomi menunjukkan perbedaan antar
skenario. Aktivitas ekonomi (PDRB harga konstan tahun 2000) pada skenario
optimis menjadi sekitar Rp 14,06 triliun pada tahun 2029, pada skenario sangat
pesimis hanya meningkat menjadi Rp 7,41 triliun. Perbedaan tersebut dipengaruhi
oleh perbedaan besarnya peubah investasi, yang ditentukan oleh perbedaan
”inkonsistensi tata ruang”, ”degradasi sumberdaya pesisir”, dan ”kendala ruang”.
Simulasi sub-model ketersediaan ruang, menunjukkan bahwa lahan
pertanian skenario sangat pesimis, relatif tetap, yaitu dari 105,2 ribu ha pada tahun
2003, menjadi 103,4 ribu ha pada tahun 2029, sedangkan pada skenario optimis
menurun tajam menjadi 51,9 ribu ha. Secara keseluruhan, skenario sangat pesimis
memerlukan total kebutuhan lahan untuk kawasan budidaya (terutama pertanian)
yang paling besar daripada skenario lainnya, yaitu mencapai 120,3 ribu ha pada
tahun 2029. Skenario optimis hanya membutuhkan 73,9 ribu ha, karena terdapat
kebijakan dihentikannya perluasan lahan pertanian dan dilakukan konversi lahan
pertanian menjadi kawasan lindung. Luas pemanfaatan umum perairan antar
skenario tidak berbeda tajam, kecuali perikanan budidaya. Perluasan perairan
perikanan budidaya terjadi secara signifikan pada skenario optimis, yaitu dari
awal simulasi hanya 8,0 ribu ha, meningkat menjadi 11,9 ribu ha pada tahun 2029,
sedangkan untuk skenario sangat pesimis hanya mencapai 8,8 ribu ha. Secara
keseluruhan, luas total kawasan pemanfaatan umum perairan (perikanan dan non-
perikanan) pada skenario optimis akan berjumlah 133,5 ribu ha pada tahun 2029,
sedangkan skenario sangat pesimis hanya mencapai 130,4 ribu ha. Perbedaan
antar skenario tersebut bersumber dari perairan perikanan budidaya.
Peubah “kebijakan” pada masing-masing skenario, memberikan
inkonsistensi tata ruang (penggunaan ruang untuk kawasan budidaya darat
dan/atau pemanfaatan umum perairan yang seharusnya berfungsi lindung) yang
berbeda-beda. Inkonsistensi tersebut telah terjadi sejak dimulainya simulasi (tahun
2003), yaitu seluas 38,0 ribu ha. Pada skenario sangat pesimis, inkonsistensi tata
ruang akan terus meningkat, hingga pada tahun 2029 akan mencapai luas 46,7
ribu ha. Inkonsistensi tata ruang mempengaruhi kendala ruang, dan terhubung
pada sub-model populasi dan ekonomi, sehingga akan menghasilkan jumlah
penduduk, tingkat pengangguran, investasi, dan aktivitas ekonomi yang berbeda-

! " #!$ $

beda. Pada akhirnya, sistem secara keseluruhan akan memberikan rente ruang
(produk ruang per luas wilayah) kawasan budidaya darat dan pemanfaatan umum
perairan yang berbeda-beda pula. Penurunan inkonsistensi tata ruang akan
memberikan peningkatan rente ruang. Skenario optimis akan memberikan rente
ruang tertinggi, yaitu mencapai Rp 67,80 juta per ha pada tahun 2029. Pada tahun
yang sama, skenario moderat, pesimis, dan sangat pesimis, hanya berturut-turut
Rp 56,46 juta per ha, Rp 31,56 juta per ha, dan Rp 29,57 juta per ha
Pemilihan skenario didasarkan pada 11 kriteria yang merupakan pewakil
dari 6 variabel kebutuhan para pemangku kepentingan, dengan menggunakan
indeks kinerja komposit (CPI). Hasil analisis menunjukkan bahwa hanya skenario
optimis yang paling mampu mengakomodasi kebutuhan para pemangku
kepentingan, dengan demikian perencanaan pola dan struktur ruang mengacu pada
parameter dan nilai awal model skenario optimis.
Hasil analisis kesesuaian ruang menunjukkan bahwa kebutuhan ruang
daratan dan perairan sampai tahun 2029, dapat dipenuhi. Berdasarkan analisis
wilayah yang meliputi location quotient (LQ), localization index (LI),
specialization index (SI), dan skalogram, dapat dirumuskan kebijakan struktur dan
pola ruang.

Dari hasil penelitian dapat ditarik kesimpulan: (1) Pendekatan sistem dapat
memberikan skenario perencanaan wilayah pesisir yang komprehensif, yaitu
memadukan ruang daratan dan perairan dengan semua komponen sistem dan
interaksinya dapat dianalisis secara simultan serta dilakukan intervensi; (2)
Pelibatan pemangku kepentingan melalui analisis prospektif partisipatif,
merupakan kunci yang mempermudah perumusan kebijakan tata ruang yang
akomodatif terhadap berbagai kepentingan dalam satu wilayah yang sama; (3)
Komponen utama sistem berupa populasi, aktivitas ekonomi, dan ketersediaan
ruang di wilayah pesisir Teluk Lampung menunjukkan keterkaitan dan saling
mempengaruhi, untuk menjaga hubungan antar komponen secara berkelanjutan,
sampai akhir analisis (pada tahun 2029) harus dicapai dan dipertahankan suatu
proporsi kawasan lindung daratan seluas 54.482 ha (42,09%) dan konservasi
perairan 4.822 ha (3,02%); (4) Perencanaan tata ruang wilayah pesisir Teluk
Lampung mensyaratkan dilakukannya konversi sebagian kawasan budidaya
(50,67%) menjadi kawasan lindung, serta pengembangan pusat-pusat pelayanan
dan jaringan prasarana wilayah; dan (5) Arahan alokasi ruang dan hierarki pusat
pelayanan dapat dirumuskan sesuai simulasi model berdasarkan kondisi dan
kemampuan wilayah pesisir Teluk Lampung, skenario ini dapat mengakomodasi
berbagai kebutuhan para pemangku kepentingan dalam menuju pengembangan
wilayah yang berkelanjutan.

Disarankan: (1) Sebagai tindak lanjut dari hasil penelitian ini, yang
meliputi keseluruhan wilayah pesisir Teluk Lampung, agar dilakukan perencanaan
wilayah yang lebih detil, pengaturan zonasi, dan segera melaksanakan
penyelenggaraan penataan ruang wilayah pesisir Teluk Lampung secara utuh; dan
(2) untuk pelaksanaan penelitian pada tingkat wilayah yang lebih detil agar
dilakukan dengan pemodelan probabilistik, dengan demikian aspek ketidakpastian
dapat lebih diakomodasi.

Kata kunci: wilayah pesisir, perencanaan tata ruang, sistem dinamik, Teluk
Lampung.

! " #!$ $

! " #!$ $

© Hak Cipta milik IPB, tahun 2012
Hak Cipta dilindungi Undang-Undang

Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau
menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan,
penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik atau
tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan
yang wajar IPB.

Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya tulis
dalam bentuk apa pun tanpa izin IPB.

! " #!$ $

! " #!$ $

ABDULLAH AMAN DAMAI

Disertasi
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Doktor pada
Program Studi Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Lautan

SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2012

SISTEM PERENCANAAN TATA RUANG WILAYAH PESISIR:
STUDI KASUS TELUK LAMPUNG

! " #!$ $

Penguji pada Ujian Tertutup : Dr. Ir. Luky Adrianto, M.Sc.
Dr. Ir. Setia Hadi, MS.

Penguji pada Ujian Terbuka : Dr. Ir. Fredinan Yulianda, M.Sc.
Dr. Ir. Sapta Putra Ginting, M.Sc.

! " #!$ $

Judul Disertasi

: Sistem Perencanaan Tata Ruang Wilayah Pesisir:
Studi Kasus Teluk Lampung
Nama Mahasiswa : Abdullah Aman Damai
NIM

: C261040031

Disetujui:

Komisi Pembimbing

Prof. Dr. Ir. Mennofatria Boer, DEA.
Ketua

Prof. Dr. Ir. Marimin, M.Sc.
Anggota

Dr. rer. nat. Ir. Ario Damar, M.Si.
Anggota

Dr. Ir. Ernan Rustiadi, M.Agr.
Anggota

Diketahui:

Ketua Program Studi Pengelolaan
Sumberdaya Pesisir dan Lautan

Dekan Sekolah Pascasarjana

Prof. Dr. Ir. Mennofatria Boer, DEA.

Dr. Ir. Dahrul Syah, M.Sc.Agr.

Tanggal Ujian: 16 November 2011

Tanggal Lulus:

! " #!$ $

! " #!$ $

DAFTAR SINGKATAN DAN ISTILAH

Alur pelayaran merupakan bagian dari perairan yang alami maupun buatan yang
dari segi kedalaman, lebar, dan hambatan pelayaran lainnya dianggap
aman untuk dilayari.

Bakosurtanal = Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional.

Bapedalda = Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah.

Bappeda = Badan Perencanaan Pembangunan Daerah.

BBM = bahan bakar minyak.

BOD = biological oxygen demand (kebutuhan oksigen biologis), merupakan
jumlah oksigen yang dibutuhkan untuk melangsungkan aktivitas
mikroorganisme dalam menguraikan zat terlarut dan tersuspensi di dalam
air; sebagai salah satu parameter yang digunakan untuk mengukur tingkat
pencemaran air.

BPMD = Badan Penanaman Modal Daerah.

BPS = Badan Pusat Statistik.

BT = Bujur Timur.

CA = cellular automata.

CAPSA = centre for alleviation of poverty through secondary crops’ development
in Asia and the Pacific.

CMARIS = coastal and marine resource information system.

COD = chemical oxygen demand (kebutuhan oksigen kimiawi), merupakan
jumlah oksigen yang dibutuhkan untuk melangsungkan proses kimiawi
(oksidasi) zat terlarut dan tersuspensi di dalam air; sebagai salah satu
parameter yang digunakan untuk mengukur tingkat pencemaran air.

CPI = composite performance index (indeks kinerja gabungan).

CPO = crude palm oil (minyak kelapa sawit).

CRMP = coastal resources management project.

DAS = daerah aliran sungai.

Dishidros = Dinas Hidrooseanografi.

DKP = Departemen Kelautan dan Perikanan.

DLKp = daerah lingkungan kepentingan (perairan), merupakan wilayah perairan
di sekeliling daerah lingkungan kerja perairan pelabuhan yang
dipergunakan untuk menjamin keselamatan pelayaran.

DLKr = daerah lingkungan kerja (perairan), merupakan wilayah perairan pada
pelabuhan yang dipergunakan secara langsung untuk kegiatan
kepelabuhanan.

! " #!$ $

DO = disolved oxygen (oksigen terlarut), merupakan jumlah oksigen yang tersedia
dalam kolom air; sebagai salah satu parameter yang digunakan untuk
mengukur tingkat pencemaran air.

DUKS = dermaga untuk kepentingan sendiri.

ESRI = Environmental Systems Research Institute, Inc.

FGD = fish gathering device (alat pengumpul ikan), merupakan alat yang ditanam
dalam kolom air secara permanen, yang berfungsi sebagai pengumpul
ikan, seperti rumpon.

GIS = geographic information systems (sistem informasi geografis, SIG),
merupakan sistem perangkat keras dan lunak berbasis komputer, yang
digunakan untuk pengumpulan, penyimpanan, analisis, dan penyebaran
informasi tentang area di permukaan bumi.

HAB = harmful algal blooms.

HPS = High Performance Systems, Inc.

I/D = influence/dependence (pengaruh/ketergantungan).

IP = indeks pelayanan.

IUU = illegal, unreported and unregulated (ilegal, tidak dilaporkan, dan tidak
mengikuti peraturan).

KJA = keramba jaring apung.

knot adalah satuan laju, yaitu mil laut/jam (1,85 km/jam), biasa digunakan untuk
satuan laju arus laut dan angin.

KSN = kawasan strategis nasional.

KUD = koperasi unit desa.

Lanal = Pangkalan Angkatan Laut.

LAPAN = Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional.

LI = localization index (indeks lokalisasi).

LQ = location quotient (quasi lokasi).

LS = Lintang Selatan.

LSM = lembaga swadaya masyarakat.

MCDM = multicriteria decision making (pembuatan keputusan kriteria jamak).

MIT = Massachusetts Institute of Technology.

Model merupakan suatu abstraksi dari realitas, yang menunjukkan hubungan
langsung maupun tidak langsung serta kaitan timbal balik dalam istilah
sebab akibat.

MSL = mean sea level.

Pasut = pasang surut.

Pemangku kepentingan, lihat: stakeholder(s)

! " #!$ $

Partisipasi merupakan keterlibatan atau mengambil bagian secara aktif dalam
suatu proses.

PDRB = produk domestik regional bruto, merupakan jumlah nilai tambah yang
dihasilkan oleh seluruh unit usaha dalam suatu wilayah tertentu, atau
merupakan jumlah nilai barang dan jasa akhir yang dihasilkan oleh
seluruh unit ekonomi; PDRB atas dasar harga berlaku (PDRB-ADHB)
merupakan PDRB yang dihitung menggunakan harga pada tahun yang
bersangkutan; dan PDRB atas dasar harga konstan (PDRB-ADHK)
merupakan PDRB yang dihitung menggunakan harga pada satu tahun
tertentu sebagai dasar (dalam penelitian ini adalah tahun 2000).

Pelindo = Pelabuhan Indonesia, PT.

Pendekatan sistem merupakan pendekatan penelitian yang terdiri dari beberapa
tahap proses, yaitu penetapan tujuan dan analisis kebutuhan, formulasi
permasalahan, identifikasi sistem, pemodelan sistem, dan evaluasi.
Pelaksanaan semua tahap tersebut dalam satu kesatuan kerja merupakan
analisis sistem.

PKL = Pusat Kegiatan Lokal.

PKN = Pusat Kegiatan Nasional.

PKW = Pusat Kegiatan Wilayah.

PKWp = Pusat Kegiatan Wilayah Provinsi.

PPA = participatory prospective analysis (analisis prospektif partisipatif)
merupakan adaptasi dari berbagai metode komprehensif yang dikemas
dalam suatu kerangka kerja operasional yang komprehensif dan cepat,
dengan tahapan: penentuan/definisi sistem, identifikasi variabel sistem,
definisi variabel kunci, analisis pengaruh antar variabel, interpretasi dari
pengaruh dan ketergantungan antar variabel, pendefinisian kondisi (state)
variabel di masa datang, pembangunan skenario, serta penyusunan
implikasi strategis dan aksi antisipatif.

PTBA = Bukit Asam, PT.

RePPProT = regional physical planning programme for transmigration.

RTP = rumah tangga perikanan, merupakan rumah tangga dengan mata
pencaharian utama sebagai nelayan atau pembudidaya ikan.

RTRW = rencana tata ruang wilayah.

SDA = sumberdaya alam.

SDM = sumberdaya manusia.

SDSS = spatial decision support system (sistem penunjang keputusan spasial).

SDWM = system dynamics watershed model (model sistem dinamik daerah aliran
sungai).

SHE = sibernetik, holistik, dan efektif.

SI = specialization index (indeks spesialisasi).

! " #!$ $

Sistem adalah sekelompok komponen yang beroperasi secara bersama-sama untuk
mencapai tujuan tertentu.

Sistem dinamik merupakan suatu metode dalam mempelajari sifat-sifat sistem,
dengan tujuan untuk mengetahui bagaimana interrelasi dari suatu
keputusan, kebijakan, struktur dan penundaan (delay), dalam
mempengaruhi pertumbuhan dan stabilitas sistem tersebut.

Sistem lahan merupakan pengelompokan lahan berdasarkan tipe fisiografik, yang
antara lain meliputi pegunungan, perbukitan, dataran, dan rawa. Di dalam
wilayah penelitian terdapat 22 sistem lahan, yang meliputi: AHK (Air
Hitam Kanan), BBG (Bukit Balang), BBR (Bukit Barangin), BGA
(Batang Anai), BLI (Beliti), BMS (Bukit Masung), BTA (Batu Ajan),
BTK (Barong Tongkok), KHY (Kahayan), KJP (Kajapah), KNJ
(Kuranji), LBS (Lubuk Sikaping), MBI (Muara Beliti), PKS (Pakasi),
PLB (Pidoli-dombang), SAR (Sungai Aur), SKA (Sukaraja), SMD
(Sungai Medang), TGM (Tanggamus), TLU (Talamau), TWI (Telawi),
dan UBD (Ulubandar).

SME = spatial modeling environment (pemodelan lingkungan spasial).

SSME = Sulu-Sulawesi marine ecoregion.

Stakeholder(s) diterjemahkan sebagai “pemangku kepentingan” adalah seseorang,
organisasi, atau kelompok yang berkepentingan dengan suatu isu atau
sumberdaya tertentu.

STORET-EPA = short for STOrage and RETrieval - Environmental Protection
Agency (US).

Tidal range (tunggang pasut), merupakan beda tinggi muka air laut antara pasang
dan surut.

Tide (pasang surut, pasut), merupakan merupakan proses naik turunnya muka air
laut, yang dibangkitkan oleh gaya tarik bulan dan matahari secara harian.

TELPP = Tanjung Enim Lestari Pulp and Paper, PT.

TNI-AL = Tentara Nasional Indonesia - Angkatan Laut.

TSS = total suspended solid (padatan tersuspensi total), merupakan jumlah
padatan yang tersuspensi di dalam air berupa bahan organik dan
anorganik yang tidak lolols saringan berpori 0,45 m.

UMKM = usaha mikro, kecil, dan menengah.

USDA = United States Department of Agriculture.

UU = Undang-undang.

WWF = World Wide Fund for Nature.

ZEE = zona ekonomi eksklusif.

! " #!$ $

PRAKATA

Berkat limpahan rahmat dan ridlo Allah SWT, penulis dapat
menyelesaikan penelitian dan menulisnya dalam bentuk disertasi. Melalui
disertasi ini penulis berupaya untuk dapat memberikan kontribusi akademik bagi
pengembangan ilmu pengetahuan, serta memberikan sumbangan pemikiran bagi
pembangunan daerah Lampung.
Ucapan terima kasih dan penghargaan yang besar penulis sampaikan
kepada Prof. Dr. Ir. Mennofatria Boer, DEA., Prof. Dr. Ir. Marmin, M.Sc., Dr. rer.
nat. Ir. Ario Damar, M.Si., dan Dr. Ir. Ernan Rustiadi, M.Agr. selaku komisi
pembimbing, yang dengan penuh perhatian dan kesabaran telah membimbing
penulis selama melaksanakan penelitian dan penulisan disertasi. Kepada Dr. Ir.
Vincentius P. Siregar, M.Sc. dan Dr. Ir. Achmad Fahrudin, M.Sc. disampaikan
terima kasih atas kesediaan beliau berdua menjadi penguji di luar komisi
pembimbing, pada ujian pra kualifikasi. Kepada Dr. Ir. Luky Adrianto, M.Sc dan
Dr. Ir. Setia Hadi, MS. disampaikan terima kasih atas kesediaan beliau berdua
menjadi penguji di luar komisi pembimbing pada ujian tertutup. Demikian juga
kepada Dr. Ir. Fredinan Yulianda, M.Sc. dan Dr. Ir. Sapta Putra Ginting, M.Sc.
disampaikan terima kasih atas kesediaan beliau berdua menjadi penguji di luar
komisi pembimbing pada ujian terbuka. Kepada seluruh dosen dan karyawan pada
Program Studi SPL khususnya, serta Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
(FPIK) dan Sekolah Pascasarjana IPB umumnya, yang telah menambah ilmu dan
wawasan serta membantu penulis selama menempuh studi, dengan tulus
disampaikan terima kasih.

Ucapan terima kasih juga penulis sampaikan kepada Dekan Fakultas
Pertanian, Rektor, serta seluruh dosen dan karyawan Universitas Lampung atas
dukungan dan bantuan yang telah diberikan sehingga penulis mendapat
kesempatan menempuh pendidikan S3. Kepada seluruh unsur Pemerintah Provinsi
Lampung, Kota Bandar Lampung, Kabupaten Lampung Selatan, dan Kabupaten
Pesawaran, yang telah membantu selama penulis melakukan penelitian,
disampaikan terima kasih. Kepada seluruh lembaga pemerintah dan swasta, serta
masyarakat luas dan LSM, di wilayah pesisir Teluk Lampung; yang telah
membantu selama penulis melakukan penelitian, disampaikan terima kasih.
Kepada seluruh teman mahasiswa SPL, penulis ucapkan banyak terima
kasih atas kebersamaan selama menempuh pendidikan. Kepada seluruh teman di
Lampung yang telah memberikan dukungan material dan semangat, dan seluruh
pihak yang telah membantu, dengan tulus penulis sampaikan rasa terima kasih.
Kepada Buya dan Umi, serta seluruh keluarga besar yang telah mendidik,
membesarkan, dan membantu penulis dengan tulus, hanya rasa terima kasih yang
dapat disampaikan. Akhirnya secara khusus kepada Icoen, Sha-sha, Abang, dan
Adek Tia tercinta, yang terus mendampingi, mendorong, dan membantu penulis,
hanya rasa terima kasih dan cinta mendalam yang dapat kupersembahkan.
Semoga seluruh amal perbuatan di atas mendapatkan balasan yang berlipat

ganda dari Allah SWT, amin.

Bogor, Januari 2012

Abdullah Aman Damai

! " #!$ $

! " #!$ $

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Palembang pada tanggal 1 Mei 1965, sebagai anak ke
enam dari sepuluh bersaudara, dari pasangan Abdul Madjid (almarhum) dan Siti
Idjabah (almarhumah). Pada tahun 1993 penulis menikah dengan Nelly, anak ke
tujuh dari delapan bersaudara, dari pasangan Ibrahim Hanafiah (almarhum) dan
Tuti Dewi Nasution (almarhumah). Penulis telah dikaruniai tiga orang anak, yaitu
Amalia Shafira Damai (perempuan, lahir tahun 1995), Farras Naufal Damai (laki-
laki, lahir tahun 2004), dan Ashila Meutia Damai (perempuan, lahir tahun 2009).
Pada tahun 1989, penulis diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil, sebagai
dosen pada Fakultas Pertanian, Universitas Lampung.
Pendidikan strata satu (S1) diselesaikan pada tahun 1988 dari Jurusan Ilmu
Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Lampung. Pendidikan strata dua (S2)
diselesaikan pada tahun 2003 dari Program Studi Pengelolaan Sumberdaya Pesisir
dan Lautan (SPL), Program Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Sejak tahun
2004, penulis melanjutkan pendidikan strata tiga (S3) pada Program Studi SPL,
Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor.

! " #!$ $

! " #!$ $

DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR TABEL ----------------------------------------------------------------

xxix

DAFTAR GAMBAR ------------------------------------------------------------

xxxi

DAFTAR TABEL LAMPIRAN ----------------------------------------------- xxxv

1 PENDAHULUAN -----------------------------------------------------------

1

1.1 Latar Belakang ---------------------------------------------------------

1

1.2 Tujuan dan Manfaat ---------------------------------------------------

5

1.3 Perumusan Masalah ---------------------------------------------------

5

1.4 Definisi Operasional --------------------------------------------------

8

1.5 Lingkup Penelitian ----------------------------------------------------

12

1.6 Kerangka Konsepsional -----------------------------------------------

13

2 TINJAUAN PUSTAKA ----------------------------------------------------

23

2.1 Wilayah dan Wilayah Pesisir ----------------------------------------

23

2.2 Teori Sistem ------------------------------------------------------------

28

2.3 Sistem dan Model ------------------------------------------------------

31

2.4 Penelitian Partisipatif -------------------------------------------------

34

2.5 Perencanaan Tata Ruang Partisipatif -------------------------------

39

2.6 Sistem Informasi Geografis (SIG) ----------------------------------

43

2.7 Tinjauan Penelitian Terdahulu ---------------------------------------

45

3 METODE PENELITIAN ---------------------------------------------------

49

3.1 Pendekatan Penelitian -------------------------------------------------

49

3.2 Wilayah Penelitian ----------------------------------------------------

49

3.3 Kerangka Pemikiran dan Analisis -----------------------------------

49

3.4 Batas Sistem ------------------------------------------------------------

54

3.5 Tahapan Pendekatan Sistem -----------------------------------------

56

3.6 Analisis Prospektif Partisipatif --------------------------------------

57

3.7 Pemodelan Sistem -----------------------------------------------------

62

3.7.1 Faktor-faktor penyusun model ------------------------------

63

3.7.2 Blok bangunan dasar dan persamaan dalam model ------

64

3.8 Analisis SIG ------------------------------------------------------------

67

3.9 Data dan Analisis ------------------------------------------------------

70

3.9.1 Analisis biofisik wilayah ------------------------------------

71

3.9.2 Analisis pemilihan skenario ---------------------------------

71

3.9.3 Analisis ekonomi wilayah dan kewilayahan --------------

73

3.9.4 Metode manual alokasi pola ruang -------------------------

80

4 KONDISI UMUM DAN ANALISIS WILAYAH PESISIR
TELUK LAMPUNG --------------------------------------------------------

83

4.1 Fisik Wilayah ----------------------------------------------------------

83

4.1.1 Luas wilayah ---------------------------------------------------

83

4.1.2 Geologi pantai dan sistem lahan ----------------------------

84

4.1.3 Fisik kimia perairan ------------------------------------------

88

4.1.4 Biologi perairan -----------------------------------------------

95

! " #!$ $

xxvi

Halaman

4.2 Kependudukan ---------------------------------------------------------

99

4.2.1 Jumlah, kepadatan, dan pertumbuhan penduduk ---------

99

4.2.2 Tenaga kerja ---------------------------------------------------

101

4.2.3 Keluarga dan keluarga miskin ------------------------------

102

4.2.4 Rumah tangga perikanan -------------------------------------

103
4.3 Ekonomi Wilayah ------------------------------------------------------ 104
4.3.1 Produk domestik regional bruto (PDRB) ------------------

104

4.3.2 Struktur perekonomian ---------------------------------------

104

4.3.3 Sektor ekonomi basis -----------------------------------------

107

4.3.4 Daya saing sektor ekonomi ----------------------------------

108

4.3.5 Investasi --------------------------------------------------------

111
4.4 Prasarana dan Sarana Wilayah --------------------------------------- 112
4.4.1 Jalan dan rel kereta api ---------------------------------------

112

4.4.2 Pelabuhan dan dermaga --------------------------------------

113

4.4.3 Prasarana wisata pantai --------------------------------------

114

4.4.4 Armada kapal nelayan ----------------------------------------

115

4.4.5 Koperasi --------------------------------------------------------

116
4.5 RTRW Terkait Teluk Lampung ------------------------------------- 117

5 ANALISIS PROSPEKTIF PARTISIPATIF -----------------------------

123
5.1 Penentuan Variabel Kunci -------------------------------------------- 123
5.2 Analisis Pengaruh Antar-Variabel Kunci -------------------------- 128
5.3 Penentuan Kondisi Variabel Kunci di Masa Depan -------------- 132
5.4 Pembangunan Skenario ----------------------------------------------- 134
5.5 Implikasi Strategis dan Aksi Antisipatif --------------------------- 136
5.6 Hubungan Analisis Prospektif Partisipatif dengan Pemodelan -- 137

6 ANALISIS SISTEM --------------------------------------------------------

139
6.1 Pemodelan Sistem Dinamik ------------------------------------------ 139
6.1.1 Sub-model ------------------------------------------------------

139

6.1.2 Nilai awal dan parameter ------------------------------------

140

6.1.3 Validasi model ------------------------------------------------

144

6.2 Informasi Geografis Wilayah ----------------------------------------

147

6.2.1 Penutupan lahan -----------------------------------------------

147

6.2.2 Kemampuan lahan --------------------------------------------

148

6.2.3 Penggunaan perairan -----------------------------------------

154

6.2.4 Jaringan transportasi ------------------------------------------

155
6.3 Kecenderungan Sistem ------------------------------------------------ 159
6.3.1 Populasi --------------------------------------------------------

161

6.3.2 Aktivitas ekonomi --------------------------------------------

162

6.3.3 Penggunaan ruang --------------------------------------------

165

7 KEBIJAKAN TATA RUANG WILAYAH PESISIR ------------------

171

7.1 Simulasi Skenario -----------------------------------------------------

171

7.1.1 Kebutuhan pemangku kepentingan dari analisis
prospektif partisipatif -----------------------------------------

171

7.1.2 Asumsi-asumsi dalam pengembangan model -------------

174

7.1.3 Simulasi sub-model populasi --------------------------------

176

! " #!$ $

xxvii

Halaman

7.1.4 Simulasi sub-model aktivitas ekonomi --------------------

178

7.1.5 Simulasi sub-model ketersediaan ruang -------------------

182

7.1.6 Pemilihan skenario -------------------------------------------

192
7.2 Kebijakan Pola dan Strukur Ruang --------------------------------- 195
7.2.1 Kebutuhan dan kesesuaian ruang ---------------------------

195

7.2.2 Karakteristik kewilayahan dan pusat pelayanan ----------

203

7.2.3 Arahan pola ruang --------------------------------------------

206

7.2.4 Arahan struktur ruang ----------------------------------------

214
7.3 Strategi Implementasi Kebijakan Tata Ruang --------------------- 219

8 KESIMPULAN DAN SARAN --------------------------------------------

223
8.1 Kesimpulan ------------------------------------------------------------- 223
8.2 Saran --------------------------------------------------------------------- 224

DAFTAR PUSTAKA ------------------------------------------------------------

225

LAMPIRAN -----------------------------------------------------------------------

235

1 Perbedaan sistem perencanaan spasial--------------------------------

235

2 Sistem lahan wilayah penelitian----------------------------------------

239

3 Nilai awal dan parameter ----------------------------------------------

243
4 Persamaan dalam model ----------------------------------------------- 257
5 Kriteria analisis SIG ---------------------------------------------------- 265
6 Daftar investasi langsung swasta ------------------------------------- 269
7 Potensi desa untuk skalogram ----------------------------------------- 271
8 Validasi model dinamik ------------------------------------------------ 275
9 Data simulasi skenario model dinamik ------------------------------ 277
10 Pemilihan skenario model dinamik ---------------------------------- 311

! " #!$ $

xxviii

! " #!$ $

xxix

DAFTAR TABEL

Halaman

1 Karakteristik sistem perencanaan spasial yang diajukan -------------

21

2. Tipologi partisipasi --------------------------------------------------------

36

3 Tahapan dalam analisis prospektif partisipatif ------------------------

59

4 Data dan informasi yang dikumpulkan ---------------------------------

70

5 Luas daratan wilayah penelitian -----------------------------------------

83

6 Luas perairan wilayah penelitian ----------------------------------------

83

7 Satuan geologi lingkungan pantai Teluk Lampung -------------------

85

8 Ringkasan sistem lahan di wilayah pesisir Teluk Lampung ---------

86

9 Arus pasut di Teluk Lampung -------------------------------------------

89

10 Arah dan tinggi maksimum kejadian gelombang ---------------------

92

11 Kualitas air Teluk Lampung ---------------------------------------------

93

12 Kualitas air Teluk Lampung berdasarkan Metode Storet-EPA -----

95

13 Komponen pertumbuhan penduduk -------------------------------------

100

14 Penduduk usia lebih dari 15 tahun di wilayah pesisir
Teluk Lampung ------------------------------------------------------------

101

15 Lapangan usaha pekerja di wilayah pesisir
Teluk Lampung ------------------------------------------------------------

102

16 Jumlah keluarga dan bangunan rumah di wilayah pesisir
Teluk Lampung ------------------------------------------------------------

102

17 PDRB wilayah pesisir Teluk Lampung per
lapangan usaha -------------------------------------------------------------

106

18 PDRB wilayah pesisir Teluk Lampung per kecamatan --------------

106

19 Nilai LQ sektor ekonomi wilayah pesisir Teluk Lampung ----------

108

20 Komponen pergeseran-pertumbuhan wilayah pesisir
Teluk Lampung ------------------------------------------------------------

110

21 Daya saing sektor ekonomi wilayah pesisir Teluk Lampung -------

111

22 Jalan dan rel kereta api di wilayah pesisir Teluk Lampung ---------

113

23 Lokasi terminal di wilayah pesisir Teluk Lampung ------------------

113

24 Lokasi pelabuhan dan dermaga di wilayah pesisir Teluk Lampung

114

25 Lokasi prasarana wisata pantai di wilayah pesisir Teluk Lampung

115

26 Armada nelayan di wilayah pesisir Teluk Lampung -----------------

116

27 Jenis dan sebaran koperasi di wilayah pesisir Teluk Lampung -----

117

! " #!$ $

xxx

Halaman

28 Variabel pengaruh yang diidentifikasi oleh partisipan ---------------

124

29 Variabel pengaruh yang diidentifikasi dan didefinsikan
oleh partisipan --------------------------------------------------------------

125

30 Variabel yang disimpulkan paling berpengaruh oleh partisipan ----

127

31 Skor pengaruh antar-variabel yang dinilai oleh partisipan -----------

129

32 Skor kekuatan variabel global tertimbang ------------------------------

132

33 Kondisi variabel yang ditetapkan oleh partisipan secara konsensus

133

34 Ringkasan beberapa nilai awal dan parameter model ----------------

143

35 Pengujian nilai tengah data historis dan data pemodelan ------------

147

36 Penutupan lahan wilayah penelitian -------------------------------------

150

37 Kelas kemampuan lahan wilayah penelitian ---------------------------

150

38 Penggunaan ruang perairan Teluk Lampung --------------------------

154

39 Rekapitulasi simulasi sub-model populasi -----------------------------

178

40 Rekapitulasi simulasi sub-model aktivitas ekonomi ------------------

182

41 Rekapitulasi simulasi sub-model ketersediaan ruang -----------------

191

42 Kriteria dan bobot kinerja CPI -------------------------------------------

194

43 Rekapitulasi hasil analisis CPI -------------------------------------------

194

44 Kebutuhan ruang wilayah pesisir Teluk Lampung --------------------

195

45 Kesesuaian ruang wilayah pesisir Teluk Lampung -------------------

196

46 Nilai LQ sektor ekonomi per kecamatan -------------------------------

203

47 Nilai LI sektor ekonomi wilayah pesisir Teluk Lampung ------------

204

48 Nilai SI per kecamatan di wilayah pesisir Teluk Lampung ----------

205

49 Nilai IP skalogram per kecamatan di wilayah pesisir Teluk
Lampung --------------------------------------------------------------------

206

50 Arahan alokasi pola ruang wilayah pesisir Teluk Lampung
yang memenuhi skenario optimis ---------------------------------------

207

51 Arahan hierarki pusat pelayanan di wilayah pesisir
Teluk Lampung ------------------------------------------------------------

215

! " #!$ $

xxxi

DAFTAR GAMBAR

Halaman

1 Klasifikasi perencanaan tata ruang -------------------------------------

15

2 Rejim perencanaan spasial di Indonesia -------------------------------

17

3 Pendekatan perencanaan tata ruang wilayah yang umum
dilakukan -------------------------------------------------------------------

19

4 Pendekatan sistem perencanaan tata ruang wilayah pesisir
yang diajukan --------------------------------------------------------------

20

5 Sistematika konsep-konsep wilayah ------------------------------------

24

6 Wilayah pesisir dan sistem sumberdaya pesisir ----------------------

26

7 Prinsip dasar metode analisis prospektif partisipatif -----------------

38

8 Sistem penataan ruang ----------------------------------------------------

40

9 Struktur penyelenggaraan penataan ruang -----------------------------

41

10 Beberapa penelitian terdahulu yang dirujuk dan berkaitan dengan
penelitian -------------------------------------------------------------------

48

11 Peta batas wilayah penelitian --------------------------------------------

50

12 Kerangka pemikiran penelitian ------------------------------------------

52

13 Kerangka alur analisis penelitian ---------------------------------------

53

14 Komponen sistem dan interaksinya, serta arah kebijakan dan
implikasinya ---------------------------------------------------------------

55

15 Tahap analisis sistem dinamik -------------------------------------------

57

16 Model secara global -------------------------------------------------------

62

17 Bagan alir interpretasi citra satelit --------------------------------------

68

18 Bagan alir analisis sistem informasi geografis (SIG) ----------------

69

19 Peta sistem Lahan ---------------------------------------------------------

87

20 Peta perairan ---------------------------------------------------------------

90

21 Distribusi jumlah dan kepadatan penduduk wilayah pesisir
Teluk Lampung ------------------------------------------------------------

100

22 Jumlah rumah tangga perikanan (RTP) dan produksi ikan segar di
wilayah pesisir Teluk Lampung -----------------------------------------

103

23 Pertumbuhan ekonomi Provinsi Lampung dan wilayah pesisir
Teluk Lampung ------------------------------------------------------------

105

24 Pangsa sektor terhadap PDRB wilayah pesisir Teluk Lampung ----

107

25 Investasi langsung swasta di wilayah pesisir Teluk Lampung -----

112

26 Peta RTRW terkait Teluk Lampung ------------------------------------

121

! " #!$ $

xxxii

Halaman

27 Pengaruh langsung antar variabel PPA --------------------------------

130

28 Pengaruh tidak langsung antar variabel PPA --------------------------

130

29 Pengaruh langsung dan tidak langsung antar variabel PPA ---------

131

30 Sub-model populasi -------------------------------------------------------

141

31 Sub-model aktivitas ekonomi --------------------------------------------

141

32 Sub-model ketersediaan ruang ------------------------------------------

142

33 Hubungan antara populasi dan penggunaan ruang permukiman dan
perkotaan di wilayah pesisir Teluk Lampung -------------------------

145

34 Hubungan antara aktivitas ekonomi dan penggunaan ruang
perkotaan di wilayah pesisir Teluk Lampung -------------------------

145

35 Hubungan antara aktivitas ekonomi dan lapangan kerja
di wilayah pesisir Teluk Lampung --------------------------------------

146

36 Peta penutupan lahan -----------------------------------------------------

151

37 Peta kemampuan lahan ---------------------------------------------------

152

38 Peta penggunaan ruang perairan ----------------------------------------

156

39 Peta orientasi transportasi ------------------------------------------------

160

40 Kecenderungan populasi, angkatan kerja, dan lapangan kerja
di wilayah pesisir Teluk Lampung --------------------------------------

162

41 Kecenderungan aktivitas ekonomi (PDRB harga konstan tahun
2000) dan investasi di wilayah pesisir Teluk Lampung -------------

163

42 Dinamika produk sektor-sektor ekonomi sebagai komponen
PDRB harga konstan tahun 2000 di wilayah pesisir
Teluk Lampung ------------------------------------------------------------

164

43 Kecenderungan penggunaan ruang perkotaan dan permukiman
di wilayah pesisir Teluk Lampung --------------------------------------

166

44 Kecenderungan penggunaan lahan pertanian di wilayah
pesisir Teluk Lampung ---------------------------------------------------

166

45 Kecenderungan penggunaan ruang budidaya pesisir (tambak)
dan budidaya laut di wilayah pesisir Teluk Lampung ---------------

167

46 Kecenderungan luas lahan total dan lahan budidaya
di wilayah pesisir Teluk Lampung --------------------------------------

168

47 Kecenderungan luas perairan total dan pemanfaatan umum
perairan di wilayah pesisir Teluk Lampung ---------------------------

169

48 Skenario perkembangan populasi ---------------------------------------

176

49 Skenario perkembangan angkatan kerja -------------------------------

176

50 Skenario perkembangan lapangan kerja -------------------------------

176

! " #!$ $

xxxiii

Halaman

51 Skenario perkembangan tingkat pengangguran -----------------------

176

52 Skenario perkembangan imigrasi ---------------------------------------

177

53 Skenario perkembangan emigrasi ---------------------------------------

177

54 Skenario perkembangan aktivitas ekonomi (PDRB harga konstan
tahun 2000) -----------------------------------------------------------------

179

55 Skenario perkembangan investasi --------------------------------------

179

56 Skenario perkembangan sektor pertanian ------------------------------

179

57 Skenario perkembangan sektor perikanan -----------------------------

179

58 Skenario perkembangan sektor pariwisata ----------------------------

180

59 Skenario perkembangan sektor industri --------------------------------

180

60 Skenario perkembangan sektor angkutan laut ------------------------

181

61 Skenario perkembangan PDRB per kapita (berdasarkan harga
konstan tahun 2000) ------------------------------------------------------

181

62 Skenario perkembangan pemanfaatan/penggunaan lahan
pertanian --------------------------------------------------------------------

183

63 Skenario perkembangan pemanfaatan/penggunaan lahan tambak -

183

64 Skenario perkembangan lahan permukiman --------------------------

185

65 Skenario perkembangan lahan bisnis dan industri -------------------

185

66 Skenario perkembangan lahan untuk prasarana wilayah ------------

185

67 Skenario perkembangan lahan permukiman dan perkotaan --------

185

68 Skenario perkembangan lahan budidaya -------------------------------

186

69 Skenario penggunaan lahan tidak sesuai kemampuan ---------------

186

70 Skenario kemampuan penyediaan lahan untuk kawasan
lindung darat ---------------------------------------------------------------

186

71 Skenario perkembangan perairan perikanan budidaya laut ---------

188

72 Skenario perkembangan perairan perikanan budidaya
laut dan tangkap -----------------------------------------------------------

188

73 Skenario perkembangan pemanfaatan umum perairan
non-perikanan --------------------------------------------------------------

188

74 Skenario perkembangan total kawasan pemanfaatan
umum perairan -------------------------------------------------------------

188

75 Skenario konversi perairan terumbu karang dan padang lamun ----

189

76 Skenario upaya penyediaan kawasan konservasi perairan ----------

189

77 Skenario inkonsistensi tata ruang darat dan perairan ----------------

190

! " #!$ $

xxxiv

Halaman

78 Skenario rente ruang kawasan budidaya darat dan perairan --------

190

79 Peta kesesuaian lahan tanaman perkebunan (tahunan) ---------------

197

80 Peta kesesuaian lahan tanaman pangan (semusim) -------------------

198

81 Peta kesesuaian lahan tambak -------------------------------------------

199

82 Peta kesesuaian lahan permukiman -------------------------------------

200

83 Peta kesesuaian lahan bisnis dan industri ------------------------------

201

84 Peta kesesuaian kawasan pemanfaatan umum perairan --------------

202

85 Peta alokasi ruang kawasan lindung dan konservasi ------------------

208

86 Peta arahan alokasi ruang -------------------------------------------------

211

87 Peta arahan struktur ruang dan orientasi transportasi -----------------

217

! " #!$ $

xxxv

DAFTAR TABEL LAMPIRAN

Halaman

1 Matriks karakteristik sistem perencanaan spasial yang umum
dilakukan dan yang diajukan ---------------------------------------------

235

2 Sistem lahan di wilayah pesisir Teluk Lampung ----------------------

239

3 Nilai awal dan parameter model -----------------------------------------

243

4 Kriteria kawasan lindung daratan ---------------------------------------

265

5 Kriteria kawasan konservasi perairan -----------------------------------

265

6 Kriteria kesuaian lahan untuk pertanian tanaman pangan ----------

265

7 Kriteria kesuaian lahan untuk pertanian tanaman perkebunan -----

265

8 Kriteria kawasan untuk budidaya pesisir (tambak) -------------------

266

9 Kriteria kesesuaian kawasan bisnis dan industri ----------------------

266

10 Kriteria kawasan permukiman dan prasarana wilayah ---------------

266

11 Kriteria wilayah perairan perikanan budidaya keramba jaring
apung (KJA) ----------------------------------------------------------------

267

12 Daftar investor dan investasi langsung swasta di wilayah
penelitian tahun 2000-2007 ----------------------------------------------

269

13 Data analisis skalogram ---------------------------------------------------

271

14 Uji nilai tengah data historis dan model ---------------------------------

275

15 Perbandingan skenario untuk perkembangan populasi ---------------

277

16 Perbandingan skenario untuk perkembangan angkatan kerja -------

278

17 Perbandingan skenario untuk perkembangan lapangan kerja -------

279

18 Perbandingan skenario untuk perkembangan pengangguran --------

280

19 Perbandingan skenario untuk perkembangan tingkat
pengangguran --------------------------------------------------------------

281

20 Perbandingan skenario untuk perkembangan imigrasi ---------------

282

21 Perbandingan skenario untuk perkembangan emigrasi --------------

283

22 Perbandingan skenario untuk perkembangan aktivitas ekonomi
(PDRB atas dasar harga konstan tahun 2000) -------------------------

284

23 Perbandingan skenario untuk perkembangan investasi --------------

285

24 Perbandingan skenario untuk perkembangan produk
sektor pertanian ------------------------------------------------------------

286

25 Perbandingan skenario untuk perkembangan produk
sektor perikanan -----------------------------------------------------------

287

26 Perbandingan skenario untuk perkembangan produk
sektor industri --------------------------------------------------------------

288

! " #!$ $

xxxvi

Halaman

27 Perbandingan skenario untuk perkembangan produk sektor
angkutan laut dan penyeberangan ---------------------------------------

289

28 Perbandingan skenario untuk perkembangan produk sektor
pariwisata -------------------------------------------------------------------

290

29 Perbandingan skenario untuk perkembangan produk sektor
sektor lain -------------------------------------------------------------------

291

30 Perbandingan skenario untuk perkembangan PDRB per kapita
(berdasarkan harga konstan tahun 2000) -------------------------------

292

31 Perbandingan skenario untuk perkembangan lahan pertanian ------

293

32 Perbandingan skenario untuk perkembangan lahan budidaya
pesisir (tambak) ------------------------------------------------------------

294

33 Perbandingan skenario untuk perkembangan lahan permukiman --

295

34 Perbandingan skenario untuk perkembangan lahan bisnis
dan industri -----------------------------------------------------------------

296

35 Perbandingan skenario untuk perkembangan prasarana -------------

297

36 Perbandingan skenario untuk perkembangan lahan permukiman
dan perkotaan ---------------------------------------------------------------

298

37 Perbandingan skenario untuk perkembangan lahan budidaya
total (terpakai) --------------------------------------------------------------

299

38 Perbandingan skenario untuk perkembangan penggunaan lahan
tidak sesuai kemampuan --------------------------------------------------

300

39 Perbandingan skenario untuk perkembangan penyediaan lahan
untuk kawasan lindung darat ---------------------------------------------

301

40 Perbandingan skenario untuk perkembangan perairan perikanan
budidaya laut ---------------------------------------------------------------

302

41 Perbandingan skenario untuk perkembangan perairan perikanan
budidaya laut dan tangkap ------------------------------------------------

303

42 Perbandingan skenario untuk perkembangan perairan budidaya
non-perikanan --------------------------------------------------------------

304

43 Perbandingan skenario untuk perkembangan total perairan
budidaya ---------------------------------------------------------------------

305

44 Perbandingan skenario untuk perkembangan konversi perairan
terumbu karang dan padang lamun --------------------------------------

306

45 Perbandingan skenario untuk perkembangan upaya penyediaan
kawasan lindung perairan -------------------------------------------------

307

46 Perbandingan skenario untuk perkembangan inkonsistensi tata
ruang darat dan perairan --------------------------------------------------

308

47 Perbandingan skenario untuk perkembangan rente ruang -----------

309

! " #!$ $

xxxvii

Halaman

48 Nilai kriteria CPI tahun 2014 --------------------------------------------

311

49 Transformasi CPI, nilai alternatif, dan peringkat skenario
tahun 2014 ------------------------------------------------------------------

311

50 Nilai kriteria CPI tahun 2019 --------------------------------------------

312

51 Transformasi CPI, nilai alternatif, dan peringkat skenario
tahun 2019 ------------------------------------------------------------------

312

52 Nilai kriteria CPI tahun 2024 --------------------------------------------

313

53 Transformasi CPI, nilai alternatif, dan peringkat skenario
tahun 2024 ------------------------------------------------------------------

313

54 Nilai kriteria CPI tahun 2029 --------------------------------------------

314

55 Transformasi CPI, nilai alternatif, dan peringkat skenario
tahun 2029 ------------------------------------------------------------------

314

! " #!$ $

xxxviii

! " #!$ $

1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Wilayah pesisir memiliki kompleksitas yang lebih tinggi dibandingkan

wilayah daratan, karena merupakan perpaduan dari daratan dan perairan, bersifat

dinamik, dan rentan terhadap berbagai tekanan. Ruang daratan dan perairan di

wilayah pesisir, dengan karakteristiknya masing-masing yang berbeda, saling

terkait secara ekologis, ekonomi, dan sosial. Di sisi lain, wilayah pesisir memiliki

beragam sumberdaya dan jasa lingkungan, sehingga cenderung dieksploitasi

secara berlebihan. Oleh karena itu, secara umum di wilayah pesisir terjadi konflik

pemanfaatan ruang, baik antar-sektor maupun intra-sektor, dengan masing-masing

pemangku kepentingan (stakeholder) yang mempunyai kebutuhan beragam (Shui-

sen et al. 2005; Liangju et al. 2010).

Konflik pemanfaatan ruang wilayah pesisir harus diatasi dengan

penyelengaraan penataan ruang yang mampu mengakomodasi pertumbuhan

ekonomi dan penduduk, serta dapat dilaksanakan secara berkelanjutan.

Penyelenggaraan penataan ruang harus didukung oleh pelaksanaan penataan ruang

yang dilandasi dengan perencanaan yang baik. Suatu perencanaan tata ruang yang

baik seharusnya dapat menjadi instrumen utama dalam pengembangan suatu

kawasan seperti wilayah pesisir, agar ekses dari perkembangan ekonomi dan

penduduk tidak menimbulkan permasalahan yang lebih kompleks (Rustiadi et al.

2009; Gangai dan Ramachandran 2010; Zacharias dan Tang 2010). Namun

demikian, dari pengalaman di wilayah daratan selama ini, instrumen tata ruang

belum dapat memainkan peran yang diharapkan dalam pengembangan wilayah.

Pengalaman di daratan menunjukkan bahwa kelemahan dari pelaksanaan

penataan ruang untuk dapat berperan sebagai instrumen pengembangan wilayah,

telah dimulai dari proses perencanaan tata ruang. Perencanaan tata ruang

umumnya dilakukan hanya melalui pendekatan rasional (rational planning) tetapi

tidak melibatkan pemangku kepentingan secara substansial, sehingga tahap

implementasi dan pengendalian tata ruang menjadi sulit dilaksanakan (Gilliland et

al. 2004; Martin dan Hall-Arber 2008; Rustiadi et al. 2009; Gangai and

Ramachandran 2010). Di sisi lain dengan berlakunya UU Nomor 26 tahun 2007

tentang Penataan Ruang, dan UU Nomor 27 tahun 2007 tentang Pengelolaan

! " #!$ $

2

Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, perencanaan spasial di Indonesia

dianggap mengalami dikotomi. Terdapat anggapan yang tidak tepat dan

cenderung saling bertentangan, yaitu bahwa perencanaan spasial daratan tunduk

pada rejim UU Nomor 26 tahun 2007, sedangkan perairan tunduk pada rejim UU

Nomor 27 tahun 2007. Hal tersebut semakin memperumit proses perencanaan

wilayah pesisir yang meliputi daratan dan perairan (Adrianto 2010). Dengan

demikian, perencanaan tata ruang yang biasa dilakukan pada wilayah daratan akan

semakin sulit untuk diterapkan secara efektif di wilayah pesisir.

Wilayah pesisir yang memiliki paduan karakteristik ekologis daratan dan

perairan tidak dapat diakomodasi oleh perencanaan tata ruang yang umumnya bias

daratan. Perencanaan komprehensif yang memadukan karakteristik daratan dan

perairan merupakan prasyarat bagi pengembangan wilayah pesisir. Perencanaan

tata ruang wilayah pesisir memerlukan suatu pendekatan yang mampu

memadukan karakteristik ruang daratan dan perairan secara sejajar, sehingga

dapat memberikan arah yang lebih baik dalam pengembangan wilayah secara

berkelanjutan (Chua 2006; Liangju et al. 2010). Terlebih lagi wilayah pesisir pada

umumnya mengemban berbagai kepentingan yang beragam.

Kelemahan dalam proses perencanaan tata ruang di wilayah pesisir harus

diatasi melalui pendekatan perencanaan yang melibatkan para pemangku

kepentingan. Pendekatan perencanaan rasional, harus dimodifikasi sedemikian

rupa sehingga menjadi bersifat partisipatif dengan melibatkan pemangku

kepentingan. Pendekatan partisipatif akan menghasilkan suatu perencanaan

konsensus (consensus planning), yang pada dasarnya dihasilkan oleh para

pemangku kepentingan terhadap wilayah yang bersangkutan (Grimble 1998;

Sutherland 1998; Bourgeois dan Jesus 2004; Rustiadi et al. 2009).

Wilayah pesisir yang memiliki kompleksitas tinggi sangat sulit dipahami

melalui pendekatan yang bersifat parsial (Wiek and Walter 2009). Upaya

pemahaman fenomena kompleks melalui pengembangan beragam model

seringkali tidak konsisten, hanya bersifat parsial, tidak berkesinambungan, dan

gagal memberikan penjelasan yang utuh. Pendekatan sistem yang berlandaskan

pada unit keragaman dan selalu mencari keterpaduan antar komponen, dapat

memberikan suatu pemahaman yang lebih komprehensif dan terpadu. Dengan

! " #!$ $

3

karakter yang dikenal dengan SHE (sibernetik atau berorientasi tujuan, holistik,

dan efektif), pendekatan sistem menawarkan cara pandang baru dalam

pemahaman fenomena dunia nyata (real world) secara lebih komprehensif

(Eriyatno 1999; Marimin 2004). Sebagai suatu metode pendekatan sistem,

pemodelan sistem dinamik dapat diterapkan dalam kajian sistem alam yang

kompleks, yang memiliki kemampuan dalam memahami bagaimana kebijakan

(policies) mempengaruhi sifat sistem. (Forrester 1998 dan 2003; White dan

Engelen 2000; Sterman 2002; Deal dan Schunk 2004; Elshorbagy et al. 2005;

Yufeng dan ShuSong 2005). Dengan demikian, pendekatan sistem dinamik dapat

diterapkan dalam perencanaan wilayah pesisir yang kompleks, melalui intervensi

sistem dalam bentuk kebijakan tata ruang.

Teluk Lampung merupakan salah satu teluk yang terletak di ujung selatan

Provinsi Lampung, pada mulanya termasuk dalam wilayah administrasi Kota

Bandar Lampung dan Kabupaten Lampung Selatan. Dengan adanya pemekaran

Kabupaten Lampung Selatan menjadi Kabupaten Lampung Selatan dan

Kabupaten Pesawaran berdasarkan Undang-undang Nomor 33 tahun 2007 tentang

Pembentukan Kabupaten Pesawaran yang diundangkan pada tanggal 10 Agustus

2007, wilayah Teluk Lampung termasuk ke dalam wilayah administrasi Kota

Bandar Lampung, Kabupaten Lampung Selatan, dan Kabupaten Pesawaran.

Sebagai wilayah pesisir, wilayah Teluk Lampung meliputi daratan dan

perairan (laut). Wilayah tersebut merupakan lokasi beragam aktivitas yang

meliputi permukiman dan perkotaan, pertanian, kehutanan dan perkebunan,

industri manufaktur, perikanan tangkap dan budidaya, transportasi laut, militer,

dan pariwisata (Wiryawan et al. 1999; Pemerintah Provinsi Lampung 2001;

Pemerintah Provinsi Lampung 2009). Kota Bandar Lampung merupakan wilayah

tersibuk dan terpadat dan berfungsi sebagai pusat kegiatan ekonomi, administrasi

pemerintahan, dan pelayanan lainnya bagi wilayah Provinsi Lampung, terletak

menghadap ke Teluk Lampung. Beragam aktivitas tersebut menunjukkan bahwa

Teluk Lampung memiliki arti dan peran strategis bagi pengembangan wilayah

Lampung secara keseluruhan. Oleh karena itu, perhatian terhadap Teluk Lampung

harus diberikan lebih baik, agar kawasan tersebut dapat lebih berkembang dan

menunjang pembangunan yang berkelanjutan.

! " #!$ $

4

Perkembangan perekonomian dan pertumbuhan penduduk yang tinggi

telah memperbesar kebutuhan ruang di wilayah pesisir Teluk Lampung, baik

daratan maupun perairan. Dalam kurun waktu 2004-2007, pertumbuhan ekonomi

wilayah pesisir di atas 5%; dengan pertumbuhan penduduk mencapai 2,32% (BPS

Lampung 2008a; BPS Bandar Lampung 2008a; BPS Lampung Selatan 2008a;

BPS Pesawaran 2008a). Peningkatan kebutuhan ruang, menimbulkan ekses

berupa ketidakharmonisan, ketidaknyamanan dan konflik pemanfaatan ruang

antar-berbagai kepentingan. Konflik tersebut ditunjukkan oleh gejala yang

meliputi pencemaran pantai, reklamasi pantai tidak terencana, kerusakan terumbu

karang, dan belum adanya zonasi pemanfaatan perairan bagi bagan, kapal nelayan,

alur pelayaran, keperluan militer dan pariwisata (Wiryawan et al. 1999; Damar

2003; Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Lampung 2007).

Beberapa catatan yang menunjukkan terjadinya konflik pemanfaatan ruang

di Teluk Lampung meliputi konflik antar sektor dan konflik di dalam sektor yang

sama. Alokasi penggunaan ruang wilayah pesisir Teluk Lampung untuk

pengembangan kota juga akan menggusur permukiman nelayan. Konflik antar

nelayan di Teluk Lampung juga semakin serius, dan pada gilirannya

menyebabkan kerusakan ekosistem perairan dan semakin tersisihnya nelayan

kecil. Di sisi lain, pencemaran yang bersumber dari daratan dan perairan dan

praktek penangkapan ikan tidak ramah lingkungan semakin memperburuk kualitas

air, merusak ekosistem, menumbuhkan harmful algal blooms (HAB), menguras

sumberdaya ikan, dan menurunkan potensi pariwisata di Teluk Lampung (CRMP

1998a; Wiryawan et al. 1999).

Pendekatan sistem melalui pemodelan sistem dinamik yang dipadukan

dengan pendekatan partisipatif, diharapkan dapat menghasilkan perencanaan tata

ruang wilayah pesisir yang bersifat terpadu, komprehensif, dan mampu

mengakomodasi kebutuhan para pemangku kepentingan. Dengan demikian, dapat

dibangun suatu pendekatan baru bagi perencanaan tata ruang wilayah pesisir yang

bersifat kompleks. Sebagai suatu wilayah pesisir yang kompleks, seperti disajikan

di atas, Teluk Lampung dipilih sebagai wilayah penelitian.

! " #!$ $

5

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->