SISTEM PERENCANAAN TATA RUANG WILAYAH PESISIR: STUDI

KASUS TELUK LAMPUNG

Disertasi

ABDULLAH AMAN DAMAI, C261040031, SPs-IPB 2012

Dibimbing:

MENNOFATRIA BOER, MARIMIN, ARIO DAMAR, dan ERNAN RUSTIADI

© Hak Cipta milik IPB, tahun 2012










Alamat: Jl. Nusa Indah V No. 5 Taman Cimanggu, Bogor 16131
0251-8343790; 08129483572
damaisasa@yahoo.com
A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor

























ABDULLAH AMAN DAMAI



























SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2012
SISTEM PERENCANAAN TATA RUANG WILAYAH PESISIR:
STUDI KASUS TELUK LAMPUNG
A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor












A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor







PERNYATAAN MENGENAI DISERTASI DAN
SUMBER INFORMASI

Dengan ini saya menyatakan bahwa disertasi Sistem perencanaan tata ruang
wilayah pesisir: Studi kasus Teluk Lampung, adalah karya saya dengan arahan
dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada
perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya
yang diterbitkan maupun yang tidak diterbitkan dari penulis, telah disebutkan
dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir disertasi ini.


Bogor, Januari 2012



Abdullah Aman Damai
C261040031


A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
ABSTRACT
ABDULLAH AMAN DAMAI. Spatial planning system of coastal area: Lampung
Bay case study. Under direction of MENNOFATRIA BOER, MARIMIN, ARIO
DAMAR, and ERNAN RUSTIADI.

Coastal area is complex and dynamic in nature, and also vulnerable against
stress. On the other side, it has various resources and environment services, and
hence tend to be overexploited. For that reason, conflict of space utilization
whether intersectors or internal sector, and various of stakeholders’ interest,
became an ordinary problem. The conflict has to be prevailed through a proper
administration spatial management based on spatial planning that might
accommodate economic and population growth, and also implementable. Through
the system approach, comprehensive spatial planning of coastal area could be met,
which able to accommodate stakeholders’ interest. Due to its complexity, in which
various activities and stakeholders are present, coastal area of Lampung Bay was
determined as study area. The research was aimed to develop an approach of
spatial planning of coastal area that integrate waters and terrestrial space, in a
system framework with participatory features. The research was carried out
through system dynamics approach that incorporated with geographic information
system. Furthermore, participatory prospective analysis for mapping stakeholders’
need, and regional analysis, was prepared. The result showed that: (1) system
approach is able to provide a scenario of coastal area spatial planning
comprehensively, in which waters and terrestrial space could be integrated
through simultaneous analysis of components of system and their interactions, and
further intervention on it; (2) stakeholders involvement through participatory
prospective analysis is the key of simplification of spatial policies formulation, in
which various of interest in an area could be accommodated; (3) main components
of system (i.e. population, economic activities, and space availability) in coastal
area of Lampung Bay, are interrelated and interdependent, and in order to achieve
sustainable relation among them until the end of analysis (year 2029),
consequently it has to be attained and maintained a proportion of protected area as
54,482 ha (42.09%) of land and 4,822 ha (3.02%) of waters; (4) accomplishment
of spatial planning of coastal area of Lampung Bay require conversion of a part of
production area (50.67%) to become protected area, and development of service
centers and infrastructure networks; and (5) Suggestions of space alocation and
service center hierarchies, could be prepared based on model simulation of
condition and regional capabilities of Lampung Bay coastal area, the scenario
could accommodate stakeholders’ need toward the sustainable regional
development

Keywords: coastal area, spatial planning, system dynamics, Lampung Bay.



A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor






A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
RINGKASAN
ABDULLAH AMAN DAMAI. Sistem perencanaan tata ruang wilayah pesisir:
Studi kasus Teluk Lampung. Dibimbing MENNOFATRIA BOER, MARIMIN,
ARIO DAMAR, dan ERNAN RUSTIADI.

Penelitian dan disertasi ini dilatarbelakangi oleh kekhasan wlayah pesisir
yang kompleks dan meliputi ekosistem daratan dan perairan. Dengan
kompleksitasnya yang tinggi, pengelolaan wilayah pesisir harus bersifat holistik
dan terintegrasi, dengan salah satu komponen kuncinya adalah perencanaan tata
ruang. Urgensi penataan ruang merupakan bentuk intervensi positif guna
meningkatkan kesejahteraan yang berkelanjutan. Oleh karena itu, perencanaan
tata ruang memiliki posisi penting dalam kerangka pengelolaan wilayah pesisir
terpadu. Namun demikian, perencanaan tata ruang wilayah pesisir memerlukan
suatu pendekatan yang mampu memadukan karakteristik ruang daratan dan
perairan secara sejajar, sehingga sulit diakomodasi oleh perencanaan tata ruang
yang bias daratan
Pendekatan sistem dapat memberikan pemahaman fenomena dunia nyata
secara komprehensif. Wilayah pesisir yang kompleks, dapat dipandang sebagai
suatu sistem, dengan komponen utama terdiri dari populasi (penduduk), aktivitas
ekonomi, dan penggunaan ruang. Melalui pemodelan sistem, dapat dipelajari
perilakunya secara komprehensif dan diterapkan skenario perencanaan sebagai
bentuk intervensi terhadap sistem tersebut. Dengan demikian, melalui intervensi
terhadap sistem, dapat dihasilkan perencanaan tata ruang terpadu, komprehensif,
dan akomodatif terhadap kebutuhan para pemangku kepentingan (stakeholders).
Sebagai wilayah pesisir yang kompleks dengan beragam aktivitas, Teluk
Lampung dipilih sebagai lokasi penelitian. Tujuan penelitian adalah untuk
mengembangkan suatu pendekatan perencanaan tata ruang wilayah pesisir yang
memadukan ruang daratan dan perairan dalam suatu kerangka sistem dan bersifat
partisipatif. Pendekatan penelitian melalui sistem dinamik dengan pemodelan
deterministik, yang mampu mengkaji sistem kompleks. Pemetaan kebutuhan para
pemangku kepentingan menggunakan analisis prospektif partispatif, dan
penyajian spasial menggunakan sistem informasi geografis.
Wilayah penelitian meliputi: (1) daratan kecamatan di Kota Bandar
Lampung (Telukbetung Barat, Telukbetung Selatan, dan Panjang), Kabupaten
Lampung Selatan (Ketibung, Sidomulyo, Kalianda, Rajabasa, dan Bakauheni),
dan Kabupaten Pesawaran (Padang Cermin dan Punduh Pidada); dan (2) perairan
Teluk Lampung antara 105
o
11’-105
o
43’ BT dan 5
o
26’-5
o
59’ LS.
Pemodelan sistem dinamik terdiri dari tiga sub-model, yaitu populasi
(penduduk), aktivitas ekonomi, dan ketersediaan ruang. Proses validasi dilakukan
meliputi struktur (kesesuaian dan konsistensi dimensi) dan perilaku model.
Validasi menunjukkan bahwa terdapat cukup alasan untuk menggunakan model
dalam menggambarkan dinamika wilayah pesisir Teluk Lampung. Simulasi model
dilakukan dalam kurun waktu tahun 2003 sampai 2029.
Kebutuhan para pemangku kepentingan dipetakan dari analisis prospektif
partisipatif melalui forum pertemuan 27 partisipan, yang berlatar belakang:
nelayan dan pembudidaya ikan, pengusaha, institusi pemerintah daerah, dan
perguruan tinggi setempat. Secara konsensus terpilih 6 variabel yang paling
A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
berpengaruh, yaitu: kualitas sumberdaya manusia (SDM) masyarakat pesisir,
penegakan hukum, pertumbuhan penduduk, infrastruktur wilayah, aktivitas
ekonomi kerakyatan, dan zonasi wilayah. Keenam variabel terpilih tersebut
merupakan representasi kebutuhan para pemangku kepentingan. Partisipan juga
merumuskan empat skenario berdasarkan kombinasi dari kondisi variabel terpilih.
Di dalam pengembangan model, skenario tersebut diterjemahkan dalam variasi
nilai parameter peubah “kebijakan”, yaitu: optimis, bernilai 1; moderat, bernilai
0,75; pesimis, bernilai 0,25; dan sangat pesimis, bernilai 0. Kemudian masing-
masing skenario disimulasi.
Simulasi sub-model populasi, menunjukkan bahwa populasi skenario
optimis meningkat lebih besar, pada tahun 2029 mencapai 763 ribu orang,
sedangkan pada skenario sangat pesimis hanya mencapai 663 ribu orang. Populasi
skenario optimis yang lebih tinggi, disumbang dari imigrasi yang masuk ke
wilayah pesisir lebih besar daripada skenario lainnya. Di sisi lain, tingkat
pengangguran pada skenario optimis lebih rendah daripada skenario lainnya,
karena perekonomian menjadi lebih baik.
Simulasi sub-model aktivitas ekonomi menunjukkan perbedaan antar
skenario. Aktivitas ekonomi (PDRB harga konstan tahun 2000) pada skenario
optimis menjadi sekitar Rp 14,06 triliun pada tahun 2029, pada skenario sangat
pesimis hanya meningkat menjadi Rp 7,41 triliun. Perbedaan tersebut dipengaruhi
oleh perbedaan besarnya peubah investasi, yang ditentukan oleh perbedaan
”inkonsistensi tata ruang”, ”degradasi sumberdaya pesisir”, dan ”kendala ruang”.
Simulasi sub-model ketersediaan ruang, menunjukkan bahwa lahan
pertanian skenario sangat pesimis, relatif tetap, yaitu dari 105,2 ribu ha pada tahun
2003, menjadi 103,4 ribu ha pada tahun 2029, sedangkan pada skenario optimis
menurun tajam menjadi 51,9 ribu ha. Secara keseluruhan, skenario sangat pesimis
memerlukan total kebutuhan lahan untuk kawasan budidaya (terutama pertanian)
yang paling besar daripada skenario lainnya, yaitu mencapai 120,3 ribu ha pada
tahun 2029. Skenario optimis hanya membutuhkan 73,9 ribu ha, karena terdapat
kebijakan dihentikannya perluasan lahan pertanian dan dilakukan konversi lahan
pertanian menjadi kawasan lindung. Luas pemanfaatan umum perairan antar
skenario tidak berbeda tajam, kecuali perikanan budidaya. Perluasan perairan
perikanan budidaya terjadi secara signifikan pada skenario optimis, yaitu dari
awal simulasi hanya 8,0 ribu ha, meningkat menjadi 11,9 ribu ha pada tahun 2029,
sedangkan untuk skenario sangat pesimis hanya mencapai 8,8 ribu ha. Secara
keseluruhan, luas total kawasan pemanfaatan umum perairan (perikanan dan non-
perikanan) pada skenario optimis akan berjumlah 133,5 ribu ha pada tahun 2029,
sedangkan skenario sangat pesimis hanya mencapai 130,4 ribu ha. Perbedaan
antar skenario tersebut bersumber dari perairan perikanan budidaya.
Peubah “kebijakan” pada masing-masing skenario, memberikan
inkonsistensi tata ruang (penggunaan ruang untuk kawasan budidaya darat
dan/atau pemanfaatan umum perairan yang seharusnya berfungsi lindung) yang
berbeda-beda. Inkonsistensi tersebut telah terjadi sejak dimulainya simulasi (tahun
2003), yaitu seluas 38,0 ribu ha. Pada skenario sangat pesimis, inkonsistensi tata
ruang akan terus meningkat, hingga pada tahun 2029 akan mencapai luas 46,7
ribu ha. Inkonsistensi tata ruang mempengaruhi kendala ruang, dan terhubung
pada sub-model populasi dan ekonomi, sehingga akan menghasilkan jumlah
penduduk, tingkat pengangguran, investasi, dan aktivitas ekonomi yang berbeda-
A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
beda. Pada akhirnya, sistem secara keseluruhan akan memberikan rente ruang
(produk ruang per luas wilayah) kawasan budidaya darat dan pemanfaatan umum
perairan yang berbeda-beda pula. Penurunan inkonsistensi tata ruang akan
memberikan peningkatan rente ruang. Skenario optimis akan memberikan rente
ruang tertinggi, yaitu mencapai Rp 67,80 juta per ha pada tahun 2029. Pada tahun
yang sama, skenario moderat, pesimis, dan sangat pesimis, hanya berturut-turut
Rp 56,46 juta per ha, Rp 31,56 juta per ha, dan Rp 29,57 juta per ha
Pemilihan skenario didasarkan pada 11 kriteria yang merupakan pewakil
dari 6 variabel kebutuhan para pemangku kepentingan, dengan menggunakan
indeks kinerja komposit (CPI). Hasil analisis menunjukkan bahwa hanya skenario
optimis yang paling mampu mengakomodasi kebutuhan para pemangku
kepentingan, dengan demikian perencanaan pola dan struktur ruang mengacu pada
parameter dan nilai awal model skenario optimis.
Hasil analisis kesesuaian ruang menunjukkan bahwa kebutuhan ruang
daratan dan perairan sampai tahun 2029, dapat dipenuhi. Berdasarkan analisis
wilayah yang meliputi location quotient (LQ), localization index (LI),
specialization index (SI), dan skalogram, dapat dirumuskan kebijakan struktur dan
pola ruang.
Dari hasil penelitian dapat ditarik kesimpulan: (1) Pendekatan sistem dapat
memberikan skenario perencanaan wilayah pesisir yang komprehensif, yaitu
memadukan ruang daratan dan perairan dengan semua komponen sistem dan
interaksinya dapat dianalisis secara simultan serta dilakukan intervensi; (2)
Pelibatan pemangku kepentingan melalui analisis prospektif partisipatif,
merupakan kunci yang mempermudah perumusan kebijakan tata ruang yang
akomodatif terhadap berbagai kepentingan dalam satu wilayah yang sama; (3)
Komponen utama sistem berupa populasi, aktivitas ekonomi, dan ketersediaan
ruang di wilayah pesisir Teluk Lampung menunjukkan keterkaitan dan saling
mempengaruhi, untuk menjaga hubungan antar komponen secara berkelanjutan,
sampai akhir analisis (pada tahun 2029) harus dicapai dan dipertahankan suatu
proporsi kawasan lindung daratan seluas 54.482 ha (42,09%) dan konservasi
perairan 4.822 ha (3,02%); (4) Perencanaan tata ruang wilayah pesisir Teluk
Lampung mensyaratkan dilakukannya konversi sebagian kawasan budidaya
(50,67%) menjadi kawasan lindung, serta pengembangan pusat-pusat pelayanan
dan jaringan prasarana wilayah; dan (5) Arahan alokasi ruang dan hierarki pusat
pelayanan dapat dirumuskan sesuai simulasi model berdasarkan kondisi dan
kemampuan wilayah pesisir Teluk Lampung, skenario ini dapat mengakomodasi
berbagai kebutuhan para pemangku kepentingan dalam menuju pengembangan
wilayah yang berkelanjutan.
Disarankan: (1) Sebagai tindak lanjut dari hasil penelitian ini, yang
meliputi keseluruhan wilayah pesisir Teluk Lampung, agar dilakukan perencanaan
wilayah yang lebih detil, pengaturan zonasi, dan segera melaksanakan
penyelenggaraan penataan ruang wilayah pesisir Teluk Lampung secara utuh; dan
(2) untuk pelaksanaan penelitian pada tingkat wilayah yang lebih detil agar
dilakukan dengan pemodelan probabilistik, dengan demikian aspek ketidakpastian
dapat lebih diakomodasi.

Kata kunci: wilayah pesisir, perencanaan tata ruang, sistem dinamik, Teluk
Lampung.
A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor










A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor












© Hak Cipta milik IPB, tahun 2012
Hak Cipta dilindungi Undang-Undang

Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau
menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan,
penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik atau
tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan
yang wajar IPB.
Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya tulis
dalam bentuk apa pun tanpa izin IPB.




A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor








A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor





















ABDULLAH AMAN DAMAI





Disertasi
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Doktor pada
Program Studi Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Lautan



















SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2012
SISTEM PERENCANAAN TATA RUANG WILAYAH PESISIR:
STUDI KASUS TELUK LAMPUNG
A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor














Penguji pada Ujian Tertutup : Dr. Ir. Luky Adrianto, M.Sc.
Dr. Ir. Setia Hadi, MS.


Penguji pada Ujian Terbuka : Dr. Ir. Fredinan Yulianda, M.Sc.
Dr. Ir. Sapta Putra Ginting, M.Sc.


A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
Judul Disertasi : Sistem Perencanaan Tata Ruang Wilayah Pesisir:
Studi Kasus Teluk Lampung
Nama Mahasiswa : Abdullah Aman Damai
NIM : C261040031


Disetujui:
Komisi Pembimbing


Prof. Dr. Ir. Mennofatria Boer, DEA.
Ketua

Prof. Dr. Ir. Marimin, M.Sc.
Anggota


Dr. rer. nat. Ir. Ario Damar, M.Si.
Anggota

Dr. Ir. Ernan Rustiadi, M.Agr.
Anggota



Diketahui:
Ketua Program Studi Pengelolaan
Sumberdaya Pesisir dan Lautan
Dekan Sekolah Pascasarjana
Prof. Dr. Ir. Mennofatria Boer, DEA. Dr. Ir. Dahrul Syah, M.Sc.Agr.

Tanggal Ujian: 16 November 2011 Tanggal Lulus:


A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor









A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
DAFTAR SINGKATAN DAN ISTILAH
Alur pelayaran merupakan bagian dari perairan yang alami maupun buatan yang
dari segi kedalaman, lebar, dan hambatan pelayaran lainnya dianggap
aman untuk dilayari.
Bakosurtanal = Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional.
Bapedalda = Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah.
Bappeda = Badan Perencanaan Pembangunan Daerah.
BBM = bahan bakar minyak.
BOD = biological oxygen demand (kebutuhan oksigen biologis), merupakan
jumlah oksigen yang dibutuhkan untuk melangsungkan aktivitas
mikroorganisme dalam menguraikan zat terlarut dan tersuspensi di dalam
air; sebagai salah satu parameter yang digunakan untuk mengukur tingkat
pencemaran air.
BPMD = Badan Penanaman Modal Daerah.
BPS = Badan Pusat Statistik.
BT = Bujur Timur.
CA = cellular automata.
CAPSA = centre for alleviation of poverty through secondary crops’ development
in Asia and the Pacific.
CMARIS = coastal and marine resource information system.
COD = chemical oxygen demand (kebutuhan oksigen kimiawi), merupakan
jumlah oksigen yang dibutuhkan untuk melangsungkan proses kimiawi
(oksidasi) zat terlarut dan tersuspensi di dalam air; sebagai salah satu
parameter yang digunakan untuk mengukur tingkat pencemaran air.
CPI = composite performance index (indeks kinerja gabungan).
CPO = crude palm oil (minyak kelapa sawit).
CRMP = coastal resources management project.
DAS = daerah aliran sungai.
Dishidros = Dinas Hidrooseanografi.
DKP = Departemen Kelautan dan Perikanan.
DLKp = daerah lingkungan kepentingan (perairan), merupakan wilayah perairan
di sekeliling daerah lingkungan kerja perairan pelabuhan yang
dipergunakan untuk menjamin keselamatan pelayaran.
DLKr = daerah lingkungan kerja (perairan), merupakan wilayah perairan pada
pelabuhan yang dipergunakan secara langsung untuk kegiatan
kepelabuhanan.
A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
DO = disolved oxygen (oksigen terlarut), merupakan jumlah oksigen yang tersedia
dalam kolom air; sebagai salah satu parameter yang digunakan untuk
mengukur tingkat pencemaran air.
DUKS = dermaga untuk kepentingan sendiri.
ESRI = Environmental Systems Research Institute, Inc.
FGD = fish gathering device (alat pengumpul ikan), merupakan alat yang ditanam
dalam kolom air secara permanen, yang berfungsi sebagai pengumpul
ikan, seperti rumpon.
GIS = geographic information systems (sistem informasi geografis, SIG),
merupakan sistem perangkat keras dan lunak berbasis komputer, yang
digunakan untuk pengumpulan, penyimpanan, analisis, dan penyebaran
informasi tentang area di permukaan bumi.
HAB = harmful algal blooms.
HPS = High Performance Systems, Inc.
I/D = influence/dependence (pengaruh/ketergantungan).
IP = indeks pelayanan.
IUU = illegal, unreported and unregulated (ilegal, tidak dilaporkan, dan tidak
mengikuti peraturan).
KJA = keramba jaring apung.
knot adalah satuan laju, yaitu mil laut/jam (1,85 km/jam), biasa digunakan untuk
satuan laju arus laut dan angin.
KSN = kawasan strategis nasional.
KUD = koperasi unit desa.
Lanal = Pangkalan Angkatan Laut.
LAPAN = Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional.
LI = localization index (indeks lokalisasi).
LQ = location quotient (quasi lokasi).
LS = Lintang Selatan.
LSM = lembaga swadaya masyarakat.
MCDM = multicriteria decision making (pembuatan keputusan kriteria jamak).
MIT = Massachusetts Institute of Technology.
Model merupakan suatu abstraksi dari realitas, yang menunjukkan hubungan
langsung maupun tidak langsung serta kaitan timbal balik dalam istilah
sebab akibat.
MSL = mean sea level.
Pasut = pasang surut.
Pemangku kepentingan, lihat: stakeholder(s)
A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
Partisipasi merupakan keterlibatan atau mengambil bagian secara aktif dalam
suatu proses.
PDRB = produk domestik regional bruto, merupakan jumlah nilai tambah yang
dihasilkan oleh seluruh unit usaha dalam suatu wilayah tertentu, atau
merupakan jumlah nilai barang dan jasa akhir yang dihasilkan oleh
seluruh unit ekonomi; PDRB atas dasar harga berlaku (PDRB-ADHB)
merupakan PDRB yang dihitung menggunakan harga pada tahun yang
bersangkutan; dan PDRB atas dasar harga konstan (PDRB-ADHK)
merupakan PDRB yang dihitung menggunakan harga pada satu tahun
tertentu sebagai dasar (dalam penelitian ini adalah tahun 2000).
Pelindo = Pelabuhan Indonesia, PT.
Pendekatan sistem merupakan pendekatan penelitian yang terdiri dari beberapa
tahap proses, yaitu penetapan tujuan dan analisis kebutuhan, formulasi
permasalahan, identifikasi sistem, pemodelan sistem, dan evaluasi.
Pelaksanaan semua tahap tersebut dalam satu kesatuan kerja merupakan
analisis sistem.
PKL = Pusat Kegiatan Lokal.
PKN = Pusat Kegiatan Nasional.
PKW = Pusat Kegiatan Wilayah.
PKWp = Pusat Kegiatan Wilayah Provinsi.
PPA = participatory prospective analysis (analisis prospektif partisipatif)
merupakan adaptasi dari berbagai metode komprehensif yang dikemas
dalam suatu kerangka kerja operasional yang komprehensif dan cepat,
dengan tahapan: penentuan/definisi sistem, identifikasi variabel sistem,
definisi variabel kunci, analisis pengaruh antar variabel, interpretasi dari
pengaruh dan ketergantungan antar variabel, pendefinisian kondisi (state)
variabel di masa datang, pembangunan skenario, serta penyusunan
implikasi strategis dan aksi antisipatif.
PTBA = Bukit Asam, PT.
RePPProT = regional physical planning programme for transmigration.
RTP = rumah tangga perikanan, merupakan rumah tangga dengan mata
pencaharian utama sebagai nelayan atau pembudidaya ikan.
RTRW = rencana tata ruang wilayah.
SDA = sumberdaya alam.
SDM = sumberdaya manusia.
SDSS = spatial decision support system (sistem penunjang keputusan spasial).
SDWM = system dynamics watershed model (model sistem dinamik daerah aliran
sungai).
SHE = sibernetik, holistik, dan efektif.
SI = specialization index (indeks spesialisasi).
A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
Sistem adalah sekelompok komponen yang beroperasi secara bersama-sama untuk
mencapai tujuan tertentu.
Sistem dinamik merupakan suatu metode dalam mempelajari sifat-sifat sistem,
dengan tujuan untuk mengetahui bagaimana interrelasi dari suatu
keputusan, kebijakan, struktur dan penundaan (delay), dalam
mempengaruhi pertumbuhan dan stabilitas sistem tersebut.
Sistem lahan merupakan pengelompokan lahan berdasarkan tipe fisiografik, yang
antara lain meliputi pegunungan, perbukitan, dataran, dan rawa. Di dalam
wilayah penelitian terdapat 22 sistem lahan, yang meliputi: AHK (Air
Hitam Kanan), BBG (Bukit Balang), BBR (Bukit Barangin), BGA
(Batang Anai), BLI (Beliti), BMS (Bukit Masung), BTA (Batu Ajan),
BTK (Barong Tongkok), KHY (Kahayan), KJP (Kajapah), KNJ
(Kuranji), LBS (Lubuk Sikaping), MBI (Muara Beliti), PKS (Pakasi),
PLB (Pidoli-dombang), SAR (Sungai Aur), SKA (Sukaraja), SMD
(Sungai Medang), TGM (Tanggamus), TLU (Talamau), TWI (Telawi),
dan UBD (Ulubandar).
SME = spatial modeling environment (pemodelan lingkungan spasial).
SSME = Sulu-Sulawesi marine ecoregion.
Stakeholder(s) diterjemahkan sebagai “pemangku kepentingan” adalah seseorang,
organisasi, atau kelompok yang berkepentingan dengan suatu isu atau
sumberdaya tertentu.
STORET-EPA = short for STOrage and RETrieval - Environmental Protection
Agency (US).
Tidal range (tunggang pasut), merupakan beda tinggi muka air laut antara pasang
dan surut.
Tide (pasang surut, pasut), merupakan merupakan proses naik turunnya muka air
laut, yang dibangkitkan oleh gaya tarik bulan dan matahari secara harian.
TELPP = Tanjung Enim Lestari Pulp and Paper, PT.
TNI-AL = Tentara Nasional Indonesia - Angkatan Laut.
TSS = total suspended solid (padatan tersuspensi total), merupakan jumlah
padatan yang tersuspensi di dalam air berupa bahan organik dan
anorganik yang tidak lolols saringan berpori 0,45 m.
UMKM = usaha mikro, kecil, dan menengah.
USDA = United States Department of Agriculture.
UU = Undang-undang.
WWF = World Wide Fund for Nature.
ZEE = zona ekonomi eksklusif.
A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
PRAKATA
Berkat limpahan rahmat dan ridlo Allah SWT, penulis dapat
menyelesaikan penelitian dan menulisnya dalam bentuk disertasi. Melalui
disertasi ini penulis berupaya untuk dapat memberikan kontribusi akademik bagi
pengembangan ilmu pengetahuan, serta memberikan sumbangan pemikiran bagi
pembangunan daerah Lampung.
Ucapan terima kasih dan penghargaan yang besar penulis sampaikan
kepada Prof. Dr. Ir. Mennofatria Boer, DEA., Prof. Dr. Ir. Marmin, M.Sc., Dr. rer.
nat. Ir. Ario Damar, M.Si., dan Dr. Ir. Ernan Rustiadi, M.Agr. selaku komisi
pembimbing, yang dengan penuh perhatian dan kesabaran telah membimbing
penulis selama melaksanakan penelitian dan penulisan disertasi. Kepada Dr. Ir.
Vincentius P. Siregar, M.Sc. dan Dr. Ir. Achmad Fahrudin, M.Sc. disampaikan
terima kasih atas kesediaan beliau berdua menjadi penguji di luar komisi
pembimbing, pada ujian pra kualifikasi. Kepada Dr. Ir. Luky Adrianto, M.Sc dan
Dr. Ir. Setia Hadi, MS. disampaikan terima kasih atas kesediaan beliau berdua
menjadi penguji di luar komisi pembimbing pada ujian tertutup. Demikian juga
kepada Dr. Ir. Fredinan Yulianda, M.Sc. dan Dr. Ir. Sapta Putra Ginting, M.Sc.
disampaikan terima kasih atas kesediaan beliau berdua menjadi penguji di luar
komisi pembimbing pada ujian terbuka. Kepada seluruh dosen dan karyawan pada
Program Studi SPL khususnya, serta Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
(FPIK) dan Sekolah Pascasarjana IPB umumnya, yang telah menambah ilmu dan
wawasan serta membantu penulis selama menempuh studi, dengan tulus
disampaikan terima kasih.
Ucapan terima kasih juga penulis sampaikan kepada Dekan Fakultas
Pertanian, Rektor, serta seluruh dosen dan karyawan Universitas Lampung atas
dukungan dan bantuan yang telah diberikan sehingga penulis mendapat
kesempatan menempuh pendidikan S3. Kepada seluruh unsur Pemerintah Provinsi
Lampung, Kota Bandar Lampung, Kabupaten Lampung Selatan, dan Kabupaten
Pesawaran, yang telah membantu selama penulis melakukan penelitian,
disampaikan terima kasih. Kepada seluruh lembaga pemerintah dan swasta, serta
masyarakat luas dan LSM, di wilayah pesisir Teluk Lampung; yang telah
membantu selama penulis melakukan penelitian, disampaikan terima kasih.
Kepada seluruh teman mahasiswa SPL, penulis ucapkan banyak terima
kasih atas kebersamaan selama menempuh pendidikan. Kepada seluruh teman di
Lampung yang telah memberikan dukungan material dan semangat, dan seluruh
pihak yang telah membantu, dengan tulus penulis sampaikan rasa terima kasih.
Kepada Buya dan Umi, serta seluruh keluarga besar yang telah mendidik,
membesarkan, dan membantu penulis dengan tulus, hanya rasa terima kasih yang
dapat disampaikan. Akhirnya secara khusus kepada Icoen, Sha-sha, Abang, dan
Adek Tia tercinta, yang terus mendampingi, mendorong, dan membantu penulis,
hanya rasa terima kasih dan cinta mendalam yang dapat kupersembahkan.
Semoga seluruh amal perbuatan di atas mendapatkan balasan yang berlipat
ganda dari Allah SWT, amin.
Bogor, Januari 2012


Abdullah Aman Damai
A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor









A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Palembang pada tanggal 1 Mei 1965, sebagai anak ke
enam dari sepuluh bersaudara, dari pasangan Abdul Madjid (almarhum) dan Siti
Idjabah (almarhumah). Pada tahun 1993 penulis menikah dengan Nelly, anak ke
tujuh dari delapan bersaudara, dari pasangan Ibrahim Hanafiah (almarhum) dan
Tuti Dewi Nasution (almarhumah). Penulis telah dikaruniai tiga orang anak, yaitu
Amalia Shafira Damai (perempuan, lahir tahun 1995), Farras Naufal Damai (laki-
laki, lahir tahun 2004), dan Ashila Meutia Damai (perempuan, lahir tahun 2009).
Pada tahun 1989, penulis diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil, sebagai
dosen pada Fakultas Pertanian, Universitas Lampung.
Pendidikan strata satu (S1) diselesaikan pada tahun 1988 dari Jurusan Ilmu
Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Lampung. Pendidikan strata dua (S2)
diselesaikan pada tahun 2003 dari Program Studi Pengelolaan Sumberdaya Pesisir
dan Lautan (SPL), Program Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Sejak tahun
2004, penulis melanjutkan pendidikan strata tiga (S3) pada Program Studi SPL,
Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor.


A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor






A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR TABEL ---------------------------------------------------------------- xxix
DAFTAR GAMBAR ------------------------------------------------------------ xxxi
DAFTAR TABEL LAMPIRAN ----------------------------------------------- xxxv
1 PENDAHULUAN ----------------------------------------------------------- 1
1.1 Latar Belakang --------------------------------------------------------- 1
1.2 Tujuan dan Manfaat --------------------------------------------------- 5
1.3 Perumusan Masalah --------------------------------------------------- 5
1.4 Definisi Operasional -------------------------------------------------- 8
1.5 Lingkup Penelitian ---------------------------------------------------- 12
1.6 Kerangka Konsepsional ----------------------------------------------- 13
2 TINJAUAN PUSTAKA ---------------------------------------------------- 23
2.1 Wilayah dan Wilayah Pesisir ---------------------------------------- 23
2.2 Teori Sistem ------------------------------------------------------------ 28
2.3 Sistem dan Model ------------------------------------------------------ 31
2.4 Penelitian Partisipatif ------------------------------------------------- 34
2.5 Perencanaan Tata Ruang Partisipatif ------------------------------- 39
2.6 Sistem Informasi Geografis (SIG) ---------------------------------- 43
2.7 Tinjauan Penelitian Terdahulu --------------------------------------- 45
3 METODE PENELITIAN --------------------------------------------------- 49
3.1 Pendekatan Penelitian ------------------------------------------------- 49
3.2 Wilayah Penelitian ---------------------------------------------------- 49
3.3 Kerangka Pemikiran dan Analisis ----------------------------------- 49
3.4 Batas Sistem ------------------------------------------------------------ 54
3.5 Tahapan Pendekatan Sistem ----------------------------------------- 56
3.6 Analisis Prospektif Partisipatif -------------------------------------- 57
3.7 Pemodelan Sistem ----------------------------------------------------- 62
3.7.1 Faktor-faktor penyusun model ------------------------------ 63
3.7.2 Blok bangunan dasar dan persamaan dalam model ------ 64
3.8 Analisis SIG ------------------------------------------------------------ 67
3.9 Data dan Analisis ------------------------------------------------------ 70
3.9.1 Analisis biofisik wilayah ------------------------------------ 71
3.9.2 Analisis pemilihan skenario --------------------------------- 71
3.9.3 Analisis ekonomi wilayah dan kewilayahan -------------- 73
3.9.4 Metode manual alokasi pola ruang ------------------------- 80
4 KONDISI UMUM DAN ANALISIS WILAYAH PESISIR
TELUK LAMPUNG -------------------------------------------------------- 83
4.1 Fisik Wilayah ---------------------------------------------------------- 83
4.1.1 Luas wilayah --------------------------------------------------- 83
4.1.2 Geologi pantai dan sistem lahan ---------------------------- 84
4.1.3 Fisik kimia perairan ------------------------------------------ 88
4.1.4 Biologi perairan ----------------------------------------------- 95


A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
xxvi
Halaman
4.2 Kependudukan --------------------------------------------------------- 99
4.2.1 Jumlah, kepadatan, dan pertumbuhan penduduk --------- 99
4.2.2 Tenaga kerja --------------------------------------------------- 101
4.2.3 Keluarga dan keluarga miskin ------------------------------ 102
4.2.4 Rumah tangga perikanan ------------------------------------- 103
4.3 Ekonomi Wilayah ------------------------------------------------------ 104
4.3.1 Produk domestik regional bruto (PDRB) ------------------ 104
4.3.2 Struktur perekonomian --------------------------------------- 104
4.3.3 Sektor ekonomi basis ----------------------------------------- 107
4.3.4 Daya saing sektor ekonomi ---------------------------------- 108
4.3.5 Investasi -------------------------------------------------------- 111
4.4 Prasarana dan Sarana Wilayah --------------------------------------- 112
4.4.1 Jalan dan rel kereta api --------------------------------------- 112
4.4.2 Pelabuhan dan dermaga -------------------------------------- 113
4.4.3 Prasarana wisata pantai -------------------------------------- 114
4.4.4 Armada kapal nelayan ---------------------------------------- 115
4.4.5 Koperasi -------------------------------------------------------- 116
4.5 RTRW Terkait Teluk Lampung ------------------------------------- 117
5 ANALISIS PROSPEKTIF PARTISIPATIF ----------------------------- 123
5.1 Penentuan Variabel Kunci -------------------------------------------- 123
5.2 Analisis Pengaruh Antar-Variabel Kunci -------------------------- 128
5.3 Penentuan Kondisi Variabel Kunci di Masa Depan -------------- 132
5.4 Pembangunan Skenario ----------------------------------------------- 134
5.5 Implikasi Strategis dan Aksi Antisipatif --------------------------- 136
5.6 Hubungan Analisis Prospektif Partisipatif dengan Pemodelan -- 137
6 ANALISIS SISTEM -------------------------------------------------------- 139
6.1 Pemodelan Sistem Dinamik ------------------------------------------ 139
6.1.1 Sub-model ------------------------------------------------------ 139
6.1.2 Nilai awal dan parameter ------------------------------------ 140
6.1.3 Validasi model ------------------------------------------------ 144
6.2 Informasi Geografis Wilayah ---------------------------------------- 147
6.2.1 Penutupan lahan ----------------------------------------------- 147
6.2.2 Kemampuan lahan -------------------------------------------- 148
6.2.3 Penggunaan perairan ----------------------------------------- 154
6.2.4 Jaringan transportasi ------------------------------------------ 155
6.3 Kecenderungan Sistem ------------------------------------------------ 159
6.3.1 Populasi -------------------------------------------------------- 161
6.3.2 Aktivitas ekonomi -------------------------------------------- 162
6.3.3 Penggunaan ruang -------------------------------------------- 165
7 KEBIJAKAN TATA RUANG WILAYAH PESISIR ------------------ 171
7.1 Simulasi Skenario ----------------------------------------------------- 171
7.1.1 Kebutuhan pemangku kepentingan dari analisis
prospektif partisipatif ----------------------------------------- 171
7.1.2 Asumsi-asumsi dalam pengembangan model ------------- 174
7.1.3 Simulasi sub-model populasi -------------------------------- 176

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
xxvii
Halaman
7.1.4 Simulasi sub-model aktivitas ekonomi -------------------- 178
7.1.5 Simulasi sub-model ketersediaan ruang ------------------- 182
7.1.6 Pemilihan skenario ------------------------------------------- 192
7.2 Kebijakan Pola dan Strukur Ruang --------------------------------- 195
7.2.1 Kebutuhan dan kesesuaian ruang --------------------------- 195
7.2.2 Karakteristik kewilayahan dan pusat pelayanan ---------- 203
7.2.3 Arahan pola ruang -------------------------------------------- 206
7.2.4 Arahan struktur ruang ---------------------------------------- 214
7.3 Strategi Implementasi Kebijakan Tata Ruang --------------------- 219
8 KESIMPULAN DAN SARAN -------------------------------------------- 223
8.1 Kesimpulan ------------------------------------------------------------- 223
8.2 Saran --------------------------------------------------------------------- 224
DAFTAR PUSTAKA ------------------------------------------------------------ 225
LAMPIRAN ----------------------------------------------------------------------- 235
1 Perbedaan sistem perencanaan spasial -------------------------------- 235
2 Sistem lahan wilayah penelitian---------------------------------------- 239
3 Nilai awal dan parameter ---------------------------------------------- 243
4 Persamaan dalam model ----------------------------------------------- 257
5 Kriteria analisis SIG ---------------------------------------------------- 265
6 Daftar investasi langsung swasta ------------------------------------- 269
7 Potensi desa untuk skalogram ----------------------------------------- 271
8 Validasi model dinamik ------------------------------------------------ 275
9 Data simulasi skenario model dinamik ------------------------------ 277
10 Pemilihan skenario model dinamik ---------------------------------- 311




A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
xxviii






A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
xxix
DAFTAR TABEL
Halaman
1 Karakteristik sistem perencanaan spasial yang diajukan ------------- 21
2. Tipologi partisipasi -------------------------------------------------------- 36
3 Tahapan dalam analisis prospektif partisipatif ------------------------ 59
4 Data dan informasi yang dikumpulkan --------------------------------- 70
5 Luas daratan wilayah penelitian ----------------------------------------- 83
6 Luas perairan wilayah penelitian ---------------------------------------- 83
7 Satuan geologi lingkungan pantai Teluk Lampung ------------------- 85
8 Ringkasan sistem lahan di wilayah pesisir Teluk Lampung --------- 86
9 Arus pasut di Teluk Lampung ------------------------------------------- 89
10 Arah dan tinggi maksimum kejadian gelombang --------------------- 92
11 Kualitas air Teluk Lampung --------------------------------------------- 93
12 Kualitas air Teluk Lampung berdasarkan Metode Storet-EPA ----- 95
13 Komponen pertumbuhan penduduk ------------------------------------- 100
14 Penduduk usia lebih dari 15 tahun di wilayah pesisir
Teluk Lampung ------------------------------------------------------------ 101
15 Lapangan usaha pekerja di wilayah pesisir
Teluk Lampung ------------------------------------------------------------ 102
16 Jumlah keluarga dan bangunan rumah di wilayah pesisir
Teluk Lampung ------------------------------------------------------------ 102
17 PDRB wilayah pesisir Teluk Lampung per
lapangan usaha ------------------------------------------------------------- 106
18 PDRB wilayah pesisir Teluk Lampung per kecamatan -------------- 106
19 Nilai LQ sektor ekonomi wilayah pesisir Teluk Lampung ---------- 108
20 Komponen pergeseran-pertumbuhan wilayah pesisir
Teluk Lampung ------------------------------------------------------------ 110
21 Daya saing sektor ekonomi wilayah pesisir Teluk Lampung ------- 111
22 Jalan dan rel kereta api di wilayah pesisir Teluk Lampung --------- 113
23 Lokasi terminal di wilayah pesisir Teluk Lampung ------------------ 113
24 Lokasi pelabuhan dan dermaga di wilayah pesisir Teluk Lampung 114
25 Lokasi prasarana wisata pantai di wilayah pesisir Teluk Lampung 115
26 Armada nelayan di wilayah pesisir Teluk Lampung ----------------- 116
27 Jenis dan sebaran koperasi di wilayah pesisir Teluk Lampung ----- 117

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
xxx
Halaman
28 Variabel pengaruh yang diidentifikasi oleh partisipan --------------- 124
29 Variabel pengaruh yang diidentifikasi dan didefinsikan
oleh partisipan -------------------------------------------------------------- 125
30 Variabel yang disimpulkan paling berpengaruh oleh partisipan ---- 127
31 Skor pengaruh antar-variabel yang dinilai oleh partisipan ----------- 129
32 Skor kekuatan variabel global tertimbang ------------------------------ 132
33 Kondisi variabel yang ditetapkan oleh partisipan secara konsensus 133
34 Ringkasan beberapa nilai awal dan parameter model ---------------- 143
35 Pengujian nilai tengah data historis dan data pemodelan ------------ 147
36 Penutupan lahan wilayah penelitian ------------------------------------- 150
37 Kelas kemampuan lahan wilayah penelitian --------------------------- 150
38 Penggunaan ruang perairan Teluk Lampung -------------------------- 154
39 Rekapitulasi simulasi sub-model populasi ----------------------------- 178
40 Rekapitulasi simulasi sub-model aktivitas ekonomi ------------------ 182
41 Rekapitulasi simulasi sub-model ketersediaan ruang ----------------- 191
42 Kriteria dan bobot kinerja CPI ------------------------------------------- 194
43 Rekapitulasi hasil analisis CPI ------------------------------------------- 194
44 Kebutuhan ruang wilayah pesisir Teluk Lampung -------------------- 195
45 Kesesuaian ruang wilayah pesisir Teluk Lampung ------------------- 196
46 Nilai LQ sektor ekonomi per kecamatan ------------------------------- 203
47 Nilai LI sektor ekonomi wilayah pesisir Teluk Lampung ------------ 204
48 Nilai SI per kecamatan di wilayah pesisir Teluk Lampung ---------- 205
49 Nilai IP skalogram per kecamatan di wilayah pesisir Teluk
Lampung -------------------------------------------------------------------- 206
50 Arahan alokasi pola ruang wilayah pesisir Teluk Lampung
yang memenuhi skenario optimis --------------------------------------- 207
51 Arahan hierarki pusat pelayanan di wilayah pesisir
Teluk Lampung ------------------------------------------------------------ 215

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
xxxi
DAFTAR GAMBAR
Halaman
1 Klasifikasi perencanaan tata ruang ------------------------------------- 15
2 Rejim perencanaan spasial di Indonesia ------------------------------- 17
3 Pendekatan perencanaan tata ruang wilayah yang umum
dilakukan ------------------------------------------------------------------- 19
4 Pendekatan sistem perencanaan tata ruang wilayah pesisir
yang diajukan -------------------------------------------------------------- 20
5 Sistematika konsep-konsep wilayah ------------------------------------ 24
6 Wilayah pesisir dan sistem sumberdaya pesisir ---------------------- 26
7 Prinsip dasar metode analisis prospektif partisipatif ----------------- 38
8 Sistem penataan ruang ---------------------------------------------------- 40
9 Struktur penyelenggaraan penataan ruang ----------------------------- 41
10 Beberapa penelitian terdahulu yang dirujuk dan berkaitan dengan
penelitian ------------------------------------------------------------------- 48
11 Peta batas wilayah penelitian -------------------------------------------- 50
12 Kerangka pemikiran penelitian ------------------------------------------ 52
13 Kerangka alur analisis penelitian --------------------------------------- 53
14 Komponen sistem dan interaksinya, serta arah kebijakan dan
implikasinya --------------------------------------------------------------- 55
15 Tahap analisis sistem dinamik ------------------------------------------- 57
16 Model secara global ------------------------------------------------------- 62
17 Bagan alir interpretasi citra satelit -------------------------------------- 68
18 Bagan alir analisis sistem informasi geografis (SIG) ---------------- 69
19 Peta sistem Lahan --------------------------------------------------------- 87
20 Peta perairan --------------------------------------------------------------- 90
21 Distribusi jumlah dan kepadatan penduduk wilayah pesisir
Teluk Lampung ------------------------------------------------------------ 100
22 Jumlah rumah tangga perikanan (RTP) dan produksi ikan segar di
wilayah pesisir Teluk Lampung ----------------------------------------- 103
23 Pertumbuhan ekonomi Provinsi Lampung dan wilayah pesisir
Teluk Lampung ------------------------------------------------------------ 105
24 Pangsa sektor terhadap PDRB wilayah pesisir Teluk Lampung ---- 107
25 Investasi langsung swasta di wilayah pesisir Teluk Lampung ----- 112
26 Peta RTRW terkait Teluk Lampung ------------------------------------ 121


A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
xxxii
Halaman
27 Pengaruh langsung antar variabel PPA -------------------------------- 130
28 Pengaruh tidak langsung antar variabel PPA -------------------------- 130
29 Pengaruh langsung dan tidak langsung antar variabel PPA --------- 131
30 Sub-model populasi ------------------------------------------------------- 141
31 Sub-model aktivitas ekonomi -------------------------------------------- 141
32 Sub-model ketersediaan ruang ------------------------------------------ 142
33 Hubungan antara populasi dan penggunaan ruang permukiman dan
perkotaan di wilayah pesisir Teluk Lampung ------------------------- 145
34 Hubungan antara aktivitas ekonomi dan penggunaan ruang
perkotaan di wilayah pesisir Teluk Lampung ------------------------- 145
35 Hubungan antara aktivitas ekonomi dan lapangan kerja
di wilayah pesisir Teluk Lampung -------------------------------------- 146
36 Peta penutupan lahan ----------------------------------------------------- 151
37 Peta kemampuan lahan --------------------------------------------------- 152
38 Peta penggunaan ruang perairan ---------------------------------------- 156
39 Peta orientasi transportasi ------------------------------------------------ 160
40 Kecenderungan populasi, angkatan kerja, dan lapangan kerja
di wilayah pesisir Teluk Lampung -------------------------------------- 162
41 Kecenderungan aktivitas ekonomi (PDRB harga konstan tahun
2000) dan investasi di wilayah pesisir Teluk Lampung ------------- 163
42 Dinamika produk sektor-sektor ekonomi sebagai komponen
PDRB harga konstan tahun 2000 di wilayah pesisir
Teluk Lampung ------------------------------------------------------------ 164
43 Kecenderungan penggunaan ruang perkotaan dan permukiman
di wilayah pesisir Teluk Lampung -------------------------------------- 166
44 Kecenderungan penggunaan lahan pertanian di wilayah
pesisir Teluk Lampung --------------------------------------------------- 166
45 Kecenderungan penggunaan ruang budidaya pesisir (tambak)
dan budidaya laut di wilayah pesisir Teluk Lampung --------------- 167
46 Kecenderungan luas lahan total dan lahan budidaya
di wilayah pesisir Teluk Lampung -------------------------------------- 168
47 Kecenderungan luas perairan total dan pemanfaatan umum
perairan di wilayah pesisir Teluk Lampung --------------------------- 169
48 Skenario perkembangan populasi --------------------------------------- 176
49 Skenario perkembangan angkatan kerja ------------------------------- 176
50 Skenario perkembangan lapangan kerja ------------------------------- 176

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
xxxiii
Halaman
51 Skenario perkembangan tingkat pengangguran ----------------------- 176
52 Skenario perkembangan imigrasi --------------------------------------- 177
53 Skenario perkembangan emigrasi --------------------------------------- 177
54 Skenario perkembangan aktivitas ekonomi (PDRB harga konstan
tahun 2000) ----------------------------------------------------------------- 179
55 Skenario perkembangan investasi -------------------------------------- 179
56 Skenario perkembangan sektor pertanian ------------------------------ 179
57 Skenario perkembangan sektor perikanan ----------------------------- 179
58 Skenario perkembangan sektor pariwisata ---------------------------- 180
59 Skenario perkembangan sektor industri -------------------------------- 180
60 Skenario perkembangan sektor angkutan laut ------------------------ 181
61 Skenario perkembangan PDRB per kapita (berdasarkan harga
konstan tahun 2000) ------------------------------------------------------ 181
62 Skenario perkembangan pemanfaatan/penggunaan lahan
pertanian -------------------------------------------------------------------- 183
63 Skenario perkembangan pemanfaatan/penggunaan lahan tambak - 183
64 Skenario perkembangan lahan permukiman -------------------------- 185
65 Skenario perkembangan lahan bisnis dan industri ------------------- 185
66 Skenario perkembangan lahan untuk prasarana wilayah ------------ 185
67 Skenario perkembangan lahan permukiman dan perkotaan -------- 185
68 Skenario perkembangan lahan budidaya ------------------------------- 186
69 Skenario penggunaan lahan tidak sesuai kemampuan --------------- 186
70 Skenario kemampuan penyediaan lahan untuk kawasan
lindung darat --------------------------------------------------------------- 186
71 Skenario perkembangan perairan perikanan budidaya laut --------- 188
72 Skenario perkembangan perairan perikanan budidaya
laut dan tangkap ----------------------------------------------------------- 188
73 Skenario perkembangan pemanfaatan umum perairan
non-perikanan -------------------------------------------------------------- 188
74 Skenario perkembangan total kawasan pemanfaatan
umum perairan ------------------------------------------------------------- 188
75 Skenario konversi perairan terumbu karang dan padang lamun ---- 189
76 Skenario upaya penyediaan kawasan konservasi perairan ---------- 189
77 Skenario inkonsistensi tata ruang darat dan perairan ---------------- 190


A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
xxxiv
Halaman
78 Skenario rente ruang kawasan budidaya darat dan perairan -------- 190
79 Peta kesesuaian lahan tanaman perkebunan (tahunan) --------------- 197
80 Peta kesesuaian lahan tanaman pangan (semusim) ------------------- 198
81 Peta kesesuaian lahan tambak ------------------------------------------- 199
82 Peta kesesuaian lahan permukiman ------------------------------------- 200
83 Peta kesesuaian lahan bisnis dan industri ------------------------------ 201
84 Peta kesesuaian kawasan pemanfaatan umum perairan -------------- 202
85 Peta alokasi ruang kawasan lindung dan konservasi ------------------ 208
86 Peta arahan alokasi ruang ------------------------------------------------- 211
87 Peta arahan struktur ruang dan orientasi transportasi ----------------- 217



A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
xxxv
DAFTAR TABEL LAMPIRAN
Halaman
1 Matriks karakteristik sistem perencanaan spasial yang umum
dilakukan dan yang diajukan --------------------------------------------- 235
2 Sistem lahan di wilayah pesisir Teluk Lampung ---------------------- 239
3 Nilai awal dan parameter model ----------------------------------------- 243
4 Kriteria kawasan lindung daratan --------------------------------------- 265
5 Kriteria kawasan konservasi perairan ----------------------------------- 265
6 Kriteria kesuaian lahan untuk pertanian tanaman pangan ---------- 265
7 Kriteria kesuaian lahan untuk pertanian tanaman perkebunan ----- 265
8 Kriteria kawasan untuk budidaya pesisir (tambak) ------------------- 266
9 Kriteria kesesuaian kawasan bisnis dan industri ---------------------- 266
10 Kriteria kawasan permukiman dan prasarana wilayah --------------- 266
11 Kriteria wilayah perairan perikanan budidaya keramba jaring
apung (KJA) ---------------------------------------------------------------- 267
12 Daftar investor dan investasi langsung swasta di wilayah
penelitian tahun 2000-2007 ---------------------------------------------- 269
13 Data analisis skalogram --------------------------------------------------- 271
14 Uji nilai tengah data historis dan model --------------------------------- 275
15 Perbandingan skenario untuk perkembangan populasi --------------- 277
16 Perbandingan skenario untuk perkembangan angkatan kerja ------- 278
17 Perbandingan skenario untuk perkembangan lapangan kerja ------- 279
18 Perbandingan skenario untuk perkembangan pengangguran -------- 280
19 Perbandingan skenario untuk perkembangan tingkat
pengangguran -------------------------------------------------------------- 281
20 Perbandingan skenario untuk perkembangan imigrasi --------------- 282
21 Perbandingan skenario untuk perkembangan emigrasi -------------- 283
22 Perbandingan skenario untuk perkembangan aktivitas ekonomi
(PDRB atas dasar harga konstan tahun 2000) ------------------------- 284
23 Perbandingan skenario untuk perkembangan investasi -------------- 285
24 Perbandingan skenario untuk perkembangan produk
sektor pertanian ------------------------------------------------------------ 286
25 Perbandingan skenario untuk perkembangan produk
sektor perikanan ----------------------------------------------------------- 287
26 Perbandingan skenario untuk perkembangan produk
sektor industri -------------------------------------------------------------- 288

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
xxxvi
Halaman
27 Perbandingan skenario untuk perkembangan produk sektor
angkutan laut dan penyeberangan --------------------------------------- 289
28 Perbandingan skenario untuk perkembangan produk sektor
pariwisata ------------------------------------------------------------------- 290
29 Perbandingan skenario untuk perkembangan produk sektor
sektor lain ------------------------------------------------------------------- 291
30 Perbandingan skenario untuk perkembangan PDRB per kapita
(berdasarkan harga konstan tahun 2000) ------------------------------- 292
31 Perbandingan skenario untuk perkembangan lahan pertanian ------ 293
32 Perbandingan skenario untuk perkembangan lahan budidaya
pesisir (tambak) ------------------------------------------------------------ 294
33 Perbandingan skenario untuk perkembangan lahan permukiman -- 295
34 Perbandingan skenario untuk perkembangan lahan bisnis
dan industri ----------------------------------------------------------------- 296
35 Perbandingan skenario untuk perkembangan prasarana ------------- 297
36 Perbandingan skenario untuk perkembangan lahan permukiman
dan perkotaan --------------------------------------------------------------- 298
37 Perbandingan skenario untuk perkembangan lahan budidaya
total (terpakai) -------------------------------------------------------------- 299
38 Perbandingan skenario untuk perkembangan penggunaan lahan
tidak sesuai kemampuan -------------------------------------------------- 300
39 Perbandingan skenario untuk perkembangan penyediaan lahan
untuk kawasan lindung darat --------------------------------------------- 301
40 Perbandingan skenario untuk perkembangan perairan perikanan
budidaya laut --------------------------------------------------------------- 302
41 Perbandingan skenario untuk perkembangan perairan perikanan
budidaya laut dan tangkap ------------------------------------------------ 303
42 Perbandingan skenario untuk perkembangan perairan budidaya
non-perikanan -------------------------------------------------------------- 304
43 Perbandingan skenario untuk perkembangan total perairan
budidaya --------------------------------------------------------------------- 305
44 Perbandingan skenario untuk perkembangan konversi perairan
terumbu karang dan padang lamun -------------------------------------- 306
45 Perbandingan skenario untuk perkembangan upaya penyediaan
kawasan lindung perairan ------------------------------------------------- 307
46 Perbandingan skenario untuk perkembangan inkonsistensi tata
ruang darat dan perairan -------------------------------------------------- 308
47 Perbandingan skenario untuk perkembangan rente ruang ----------- 309

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
xxxvii
Halaman
48 Nilai kriteria CPI tahun 2014 -------------------------------------------- 311
49 Transformasi CPI, nilai alternatif, dan peringkat skenario
tahun 2014 ------------------------------------------------------------------ 311
50 Nilai kriteria CPI tahun 2019 -------------------------------------------- 312
51 Transformasi CPI, nilai alternatif, dan peringkat skenario
tahun 2019 ------------------------------------------------------------------ 312
52 Nilai kriteria CPI tahun 2024 -------------------------------------------- 313
53 Transformasi CPI, nilai alternatif, dan peringkat skenario
tahun 2024 ------------------------------------------------------------------ 313
54 Nilai kriteria CPI tahun 2029 -------------------------------------------- 314
55 Transformasi CPI, nilai alternatif, dan peringkat skenario
tahun 2029 ------------------------------------------------------------------ 314





A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
xxxviii








A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Wilayah pesisir memiliki kompleksitas yang lebih tinggi dibandingkan
wilayah daratan, karena merupakan perpaduan dari daratan dan perairan, bersifat
dinamik, dan rentan terhadap berbagai tekanan. Ruang daratan dan perairan di
wilayah pesisir, dengan karakteristiknya masing-masing yang berbeda, saling
terkait secara ekologis, ekonomi, dan sosial. Di sisi lain, wilayah pesisir memiliki
beragam sumberdaya dan jasa lingkungan, sehingga cenderung dieksploitasi
secara berlebihan. Oleh karena itu, secara umum di wilayah pesisir terjadi konflik
pemanfaatan ruang, baik antar-sektor maupun intra-sektor, dengan masing-masing
pemangku kepentingan (stakeholder) yang mempunyai kebutuhan beragam (Shui-
sen et al. 2005; Liangju et al. 2010).
Konflik pemanfaatan ruang wilayah pesisir harus diatasi dengan
penyelengaraan penataan ruang yang mampu mengakomodasi pertumbuhan
ekonomi dan penduduk, serta dapat dilaksanakan secara berkelanjutan.
Penyelenggaraan penataan ruang harus didukung oleh pelaksanaan penataan ruang
yang dilandasi dengan perencanaan yang baik. Suatu perencanaan tata ruang yang
baik seharusnya dapat menjadi instrumen utama dalam pengembangan suatu
kawasan seperti wilayah pesisir, agar ekses dari perkembangan ekonomi dan
penduduk tidak menimbulkan permasalahan yang lebih kompleks (Rustiadi et al.
2009; Gangai dan Ramachandran 2010; Zacharias dan Tang 2010). Namun
demikian, dari pengalaman di wilayah daratan selama ini, instrumen tata ruang
belum dapat memainkan peran yang diharapkan dalam pengembangan wilayah.
Pengalaman di daratan menunjukkan bahwa kelemahan dari pelaksanaan
penataan ruang untuk dapat berperan sebagai instrumen pengembangan wilayah,
telah dimulai dari proses perencanaan tata ruang. Perencanaan tata ruang
umumnya dilakukan hanya melalui pendekatan rasional (rational planning) tetapi
tidak melibatkan pemangku kepentingan secara substansial, sehingga tahap
implementasi dan pengendalian tata ruang menjadi sulit dilaksanakan (Gilliland et
al. 2004; Martin dan Hall-Arber 2008; Rustiadi et al. 2009; Gangai and
Ramachandran 2010). Di sisi lain dengan berlakunya UU Nomor 26 tahun 2007
tentang Penataan Ruang, dan UU Nomor 27 tahun 2007 tentang Pengelolaan

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
2
Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, perencanaan spasial di Indonesia
dianggap mengalami dikotomi. Terdapat anggapan yang tidak tepat dan
cenderung saling bertentangan, yaitu bahwa perencanaan spasial daratan tunduk
pada rejim UU Nomor 26 tahun 2007, sedangkan perairan tunduk pada rejim UU
Nomor 27 tahun 2007. Hal tersebut semakin memperumit proses perencanaan
wilayah pesisir yang meliputi daratan dan perairan (Adrianto 2010). Dengan
demikian, perencanaan tata ruang yang biasa dilakukan pada wilayah daratan akan
semakin sulit untuk diterapkan secara efektif di wilayah pesisir.
Wilayah pesisir yang memiliki paduan karakteristik ekologis daratan dan
perairan tidak dapat diakomodasi oleh perencanaan tata ruang yang umumnya bias
daratan. Perencanaan komprehensif yang memadukan karakteristik daratan dan
perairan merupakan prasyarat bagi pengembangan wilayah pesisir. Perencanaan
tata ruang wilayah pesisir memerlukan suatu pendekatan yang mampu
memadukan karakteristik ruang daratan dan perairan secara sejajar, sehingga
dapat memberikan arah yang lebih baik dalam pengembangan wilayah secara
berkelanjutan (Chua 2006; Liangju et al. 2010). Terlebih lagi wilayah pesisir pada
umumnya mengemban berbagai kepentingan yang beragam.
Kelemahan dalam proses perencanaan tata ruang di wilayah pesisir harus
diatasi melalui pendekatan perencanaan yang melibatkan para pemangku
kepentingan. Pendekatan perencanaan rasional, harus dimodifikasi sedemikian
rupa sehingga menjadi bersifat partisipatif dengan melibatkan pemangku
kepentingan. Pendekatan partisipatif akan menghasilkan suatu perencanaan
konsensus (consensus planning), yang pada dasarnya dihasilkan oleh para
pemangku kepentingan terhadap wilayah yang bersangkutan (Grimble 1998;
Sutherland 1998; Bourgeois dan Jesus 2004; Rustiadi et al. 2009).
Wilayah pesisir yang memiliki kompleksitas tinggi sangat sulit dipahami
melalui pendekatan yang bersifat parsial (Wiek and Walter 2009). Upaya
pemahaman fenomena kompleks melalui pengembangan beragam model
seringkali tidak konsisten, hanya bersifat parsial, tidak berkesinambungan, dan
gagal memberikan penjelasan yang utuh. Pendekatan sistem yang berlandaskan
pada unit keragaman dan selalu mencari keterpaduan antar komponen, dapat
memberikan suatu pemahaman yang lebih komprehensif dan terpadu. Dengan

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
3
karakter yang dikenal dengan SHE (sibernetik atau berorientasi tujuan, holistik,
dan efektif), pendekatan sistem menawarkan cara pandang baru dalam
pemahaman fenomena dunia nyata (real world) secara lebih komprehensif
(Eriyatno 1999; Marimin 2004). Sebagai suatu metode pendekatan sistem,
pemodelan sistem dinamik dapat diterapkan dalam kajian sistem alam yang
kompleks, yang memiliki kemampuan dalam memahami bagaimana kebijakan
(policies) mempengaruhi sifat sistem. (Forrester 1998 dan 2003; White dan
Engelen 2000; Sterman 2002; Deal dan Schunk 2004; Elshorbagy et al. 2005;
Yufeng dan ShuSong 2005). Dengan demikian, pendekatan sistem dinamik dapat
diterapkan dalam perencanaan wilayah pesisir yang kompleks, melalui intervensi
sistem dalam bentuk kebijakan tata ruang.
Teluk Lampung merupakan salah satu teluk yang terletak di ujung selatan
Provinsi Lampung, pada mulanya termasuk dalam wilayah administrasi Kota
Bandar Lampung dan Kabupaten Lampung Selatan. Dengan adanya pemekaran
Kabupaten Lampung Selatan menjadi Kabupaten Lampung Selatan dan
Kabupaten Pesawaran berdasarkan Undang-undang Nomor 33 tahun 2007 tentang
Pembentukan Kabupaten Pesawaran yang diundangkan pada tanggal 10 Agustus
2007, wilayah Teluk Lampung termasuk ke dalam wilayah administrasi Kota
Bandar Lampung, Kabupaten Lampung Selatan, dan Kabupaten Pesawaran.
Sebagai wilayah pesisir, wilayah Teluk Lampung meliputi daratan dan
perairan (laut). Wilayah tersebut merupakan lokasi beragam aktivitas yang
meliputi permukiman dan perkotaan, pertanian, kehutanan dan perkebunan,
industri manufaktur, perikanan tangkap dan budidaya, transportasi laut, militer,
dan pariwisata (Wiryawan et al. 1999; Pemerintah Provinsi Lampung 2001;
Pemerintah Provinsi Lampung 2009). Kota Bandar Lampung merupakan wilayah
tersibuk dan terpadat dan berfungsi sebagai pusat kegiatan ekonomi, administrasi
pemerintahan, dan pelayanan lainnya bagi wilayah Provinsi Lampung, terletak
menghadap ke Teluk Lampung. Beragam aktivitas tersebut menunjukkan bahwa
Teluk Lampung memiliki arti dan peran strategis bagi pengembangan wilayah
Lampung secara keseluruhan. Oleh karena itu, perhatian terhadap Teluk Lampung
harus diberikan lebih baik, agar kawasan tersebut dapat lebih berkembang dan
menunjang pembangunan yang berkelanjutan.

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
4
Perkembangan perekonomian dan pertumbuhan penduduk yang tinggi
telah memperbesar kebutuhan ruang di wilayah pesisir Teluk Lampung, baik
daratan maupun perairan. Dalam kurun waktu 2004-2007, pertumbuhan ekonomi
wilayah pesisir di atas 5%; dengan pertumbuhan penduduk mencapai 2,32% (BPS
Lampung 2008a; BPS Bandar Lampung 2008a; BPS Lampung Selatan 2008a;
BPS Pesawaran 2008a). Peningkatan kebutuhan ruang, menimbulkan ekses
berupa ketidakharmonisan, ketidaknyamanan dan konflik pemanfaatan ruang
antar-berbagai kepentingan. Konflik tersebut ditunjukkan oleh gejala yang
meliputi pencemaran pantai, reklamasi pantai tidak terencana, kerusakan terumbu
karang, dan belum adanya zonasi pemanfaatan perairan bagi bagan, kapal nelayan,
alur pelayaran, keperluan militer dan pariwisata (Wiryawan et al. 1999; Damar
2003; Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Lampung 2007).
Beberapa catatan yang menunjukkan terjadinya konflik pemanfaatan ruang
di Teluk Lampung meliputi konflik antar sektor dan konflik di dalam sektor yang
sama. Alokasi penggunaan ruang wilayah pesisir Teluk Lampung untuk
pengembangan kota juga akan menggusur permukiman nelayan. Konflik antar
nelayan di Teluk Lampung juga semakin serius, dan pada gilirannya
menyebabkan kerusakan ekosistem perairan dan semakin tersisihnya nelayan
kecil. Di sisi lain, pencemaran yang bersumber dari daratan dan perairan dan
praktek penangkapan ikan tidak ramah lingkungan semakin memperburuk kualitas
air, merusak ekosistem, menumbuhkan harmful algal blooms (HAB), menguras
sumberdaya ikan, dan menurunkan potensi pariwisata di Teluk Lampung (CRMP
1998a; Wiryawan et al. 1999).
Pendekatan sistem melalui pemodelan sistem dinamik yang dipadukan
dengan pendekatan partisipatif, diharapkan dapat menghasilkan perencanaan tata
ruang wilayah pesisir yang bersifat terpadu, komprehensif, dan mampu
mengakomodasi kebutuhan para pemangku kepentingan. Dengan demikian, dapat
dibangun suatu pendekatan baru bagi perencanaan tata ruang wilayah pesisir yang
bersifat kompleks. Sebagai suatu wilayah pesisir yang kompleks, seperti disajikan
di atas, Teluk Lampung dipilih sebagai wilayah penelitian.



A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
5
1.2 Tujuan dan Manfaat
Tujuan penelitian adalah mengembangkan suatu pendekatan perencanaan
tata ruang wilayah pesisir yang memadukan ruang daratan dan perairan dalam
suatu kerangka sistem dan bersifat partisipatif. Terkait dengan penelitian yang
dilaksanakan di wilayah pesisir Teluk Lampung, tujuan penelitian dapat dirinci
sebagai berikut:
1) Memetakan secara komprehensif wilayah pesisir Teluk Lampung secara
utuh, yang mengkaitkan kondisi ekologis daratan dan perairan, dan kondisi
ekologis yang dikehendaki pada masa mendatang.
2) Memetakan berbagai kebutuhan para pemangku kepentingan serta titik
temu diantara kepentingan tersebut sebagai dasar dari suatu perencanaan
tata ruang.
3) Merancang peruntukan ruang wilayah pesisir Teluk Lampung yang
bersifat partisipatif, komprehensif dan mampu mengakomodasi berbagai
kebutuhan para pemangku kepentingan.
Manfaat hasil penelitian adalah:
1) Sebagai informasi komprehensif bagi para pemangku kepentingan di
wilayah pesisir Teluk Lampung.
2) Sebagai masukan bagi berbagai pihak, khususnya pemerintah daerah
dalam perencanaan pembangunan Teluk Lampung secara berkelanjutan.
1.3 Per umusan Masalah
Wilayah pesisir merupakan suatu kawasan yang khas sebagai interaksi
ekosistem terrestrial (daratan) dan perairan (laut). Pada dasarnya kondisi tersebut
sangat rentan terhadap pengaruh dari luar, sehingga membutuhkan perlindungan
yang cukup untuk menjaga keberlanjutannya secara ekologis. Namun demikian,
secara ekonomi wilayah ini memiliki daya tarik besar karena posisi geografis,
kandungan sumberdaya, dan jasa lingkungan yang dimilikinya. Oleh karena itu,
wilayah pesisir umumnya menjadi sentra bagi beragam aktivitas ekonomi, dan
sebagai konsekuensi logisnya juga terjadi pertumbuhan penduduk yang tinggi,
seperti halnya wilayah pesisir Teluk Lampung.

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
6
Interaksi antara pertumbuhan ekonomi dan penduduk (populasi) secara
simultan memberikan tekanan pada wilayah pesisir Teluk Lampung. Wujud
tekanan tersebut berupa peningkatan kebutuhan ruang yang menimbulkan konflik
pemanfaatan ruang antar berbagai kepentingan. Dengan kata lain terdapat suatu
kesenjangan (gap) antara rencana tata ruang dan kebutuhan ruang berbagai
pemangku kepentingan, dapat saling bertentangan dan menimbulkan ekses
negatif, dan akan berujung pada kerusakan sumberdaya pesisir dan jasa
lingkungan Teluk Lampung. Ekses negatif tersebut harus dikelola dengan
penyelenggaraan penataan ruang yang kuat, dan salah satu pilarnya adalah
pelaksanaan penataan ruang. Pelaksanaan penataan ruang hanya akan berjalan
dengan baik jika didasari dengan perencanaan tata ruang yang dapat memenuhi
kebutuhan pemangku kepentingan dan diimplementasikan di lapangan. Dengan
demikian, perencanaan tata ruang memiliki peran strategis dalam pengelolaan
wilayah pesisir Teluk Lampung secara berkelanjutan.
Secara formal, wilayah pesisir Teluk Lampung telah dimasukkan sebagai
salah satu wilayah perencanaan dalam berbagai dokumen rencana tata ruang
wilayah (RTRW) yaitu: RTRW Provinsi Lampung, RTRW Kota Bandar
Lampung, RTRW Kabupaten Lampung Selatan, dan RTRW Kabupaten
Pesawaran. Namun pada kenyataannya, perencanaan tata ruang tersebut masih
menunjukkan kelemahan, kurang diindahkan oleh para pemangku kepentingan,
dan perkembangan wilayah pesisir Teluk Lampung terus mengindikasikan
terjadinya kerusakan sumberdaya pesisir dan jasa lingkungan. Sumber kelemahan
tersebut adalah bahwa perencanaan yang telah ada belum memperlakukan wilayah
pesisir Teluk Lampung sebagai suatu kawasan yang terintegrasi dengan
kompleksitasnya yang khas, dan belum disusun secara partisipatif. Perencanaan
yang ada menjadi bias daratan, bias sektor, bias wilayah administratif, masih
bersifat formal, belum bersifat substansial dan operasional.
Dengan mengacu pada tujuan penataan ruang yaitu untuk mewujudkan
ruang wilayah yang aman, nyaman, produktif, dan berkelanjutan, perencanaan tata
ruang wilayah pesisir Teluk Lampung memerlukan suatu pendekatan yang
komprehensif dan mampu mengakomodasi berbagai kepentingan. Oleh karena itu
penelitian mengenai pendekatan sistem yang bercirikan SHE (sibernetik atau

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
7
berorientasi tujuan, holistik, dan efektif) yang dipadukan dengan pendekatan
partisipatif yang melibatkan para pemangku kepentingan, perlu dilakukan untuk
mengkaji berbagai permasalahan yang ada.
Berdasarkan kondisi lokasi penelitian yang dipilih (Teluk Lampung), dan
tujuan penelitian untuk mengembangkan sistem perencanaan tata ruang wilayah
pesisir yang komprehensif dan partisipatif, dirumuskan permasalahan yang dikaji
dalam penelitian ini, yaitu:
1) Sebagai wilayah pesisir, Teluk Lampung mewakili daratan dan perairan
yang masing-masing memiliki karakteristik berbeda, namun saling terkait
secara ekologi, ekonomi, dan sosial. Oleh karena itu, perbedaan dan
keterkaitan antara wilayah daratan dan perairan merupakan permasalahan
yang harus dipahami secara menyeluruh.
2) Kondisi ekosistem wilayah daratan dan perairan merupakan suatu ambang
yang akan menentukan keberlanjutan pemanfaatan sumberdaya pesisir dan
jasa lingkungan Teluk Lampung. Oleh karena itu, pemahaman mengenai
kondisi eksisting sumberdaya hayati (ekologis) saat ini dan kondisi yang
diinginkan merupakan permasalahan yang harus dikaji sebagai masukan
dasar bagi penyusunan rencana tata ruang yang berkelanjutan.
3) Perencanaan tata ruang harus dapat mengakomodasi berbagai kebutuhan
pemangku kepentingan agar tahap pelaksanaan dan pengendaliannya dapat
dilakukan. Oleh karena itu, permasalahan pemetaan berbagai kebutuhan
pemangku kepentingan harus dikaji secara komprehensif, dan dicari titik
temu antar kepentingan tersebut untuk dijadikan dasar penyusunan suatu
perencanaan tata ruang yang partisipatif.
4) Wilayah pesisir Teluk Lampung yang kompleks, serta kebutuhan
pemangku kepentingan harus dapat dianalisis secara holistik dalam suatu
kerangka metodologi yang komprehensif. Oleh karena itu, permasalahan
metodologis merupakan kajian yang harus dilakukan, yaitu melalui
pendekatan sistem untuk mendapatkan keluaran yang memuaskan bagi
penyusunan rencana tata ruang.
5) Pada akhirnya permasalahan yang dikaji adalah bagaimana membangun
skenario perencanaan tata ruang yang partisipatif dan komprehensif,

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
8
sehingga dapat berkelanjutan dan mampu mengakomodasi berbagai
kebutuhan para pemangku kepentingan di wilayah pesisir Teluk Lampung.
1.4 Definisi Oper asional
Sebagian besar istilah yang berhubungan dengan tata ruang yang
digunakan dalam penelitian ini, didefinisikan dengan mengacu pada UU Nomor
26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang, dan UU Nomor 27 tahun 2007 tentang
Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. Definisi operasional dari
berbagai istilah yang dipakai adalah sebagai berikut:
1) Bioekoregion adalah bentang alam yang berada di dalam satu hamparan
kesatuan ekologis yang ditetapkan oleh batas-batas alam, seperti daerah
aliran sungai, teluk, dan arus.
2) Daya dukung wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil adalah kemampuan
wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil untuk mendukung perikehidupan
manusia dan makhluk hidup lain.
3) Kawasan adalah wilayah yang memiliki fungsi utama lindung atau
budidaya.
4) Kawasan budidaya adalah wilayah yang ditetapkan dengan fungsi utama
untuk dibudidayakan atas dasar kondisi dan potensi sumberdaya alam,
sumberdaya manusia, dan sumberdaya buatan.
5) Kawasan konservasi di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil adalah
kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil dengan ciri khas tertentu yang
dilindungi untuk mewujudkan pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-
pulau kecil secara berkelanjutan.
6) Kawasan lindung adalah wilayah yang ditetapkan dengan fungsi utama
melindungi kelestarian lingkungan hidup yang mencakup sumberdaya
alam dan sumberdaya buatan.
7) Kawasan pemanfaatan umum adalah bagian dari wilayah pesisir yang
ditetapkan peruntukkannya bagi berbagai sektor kegiatan.
8) Kawasan perdesaan adalah wilayah yang mempunyai kegiatan utama
pertanian, termasuk pengelolaan sumberdaya alam dengan susunan fungsi

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
9
kawasan sebagai tempat permukiman perdesaan, pelayanan jasa
pemerintahan, pelayanan sosial, dan kegiatan ekonomi.
9) Kawasan perkotaan adalah wilayah yang mempunyai kegiatan utama
bukan pertanian dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat
permukiman perkotaan, pemusatan dan distribusi pelayanan jasa
pemerintahan, pelayanan sosial, dan kegiatan ekonomi.
10) Kawasan strategis adalah wilayah yang penataan ruangnya diprioritaskan
karena mempunyai pengaruh sangat penting terhadap ekonomi, sosial,
budaya, dan/atau lingkungan.
11) Pelaksanaan penataan ruang adalah upaya pencapaian tujuan penataan
ruang melalui pelaksanaan perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang,
dan pengendalian pemanfaatan ruang.
12) Pemanfaatan ruang adalah upaya untuk mewujudkan struktur ruang dan
pola ruang sesuai dengan rencana tata ruang melalui penyusunan dan
pelaksanaan program beserta pembiayaannya.
13) Pembinaan penataan ruang adalah upaya untuk meningkatkan kinerja
penataan ruang yang diselenggarakan oleh pemerintah dan masyarakat.
14) Penataan ruang adalah suatu sistem proses perencanaan tata ruang,
pemanfaatan ruang, dan pengendalian pemanfaatan ruang.
15) Pengaturan penataan ruang adalah upaya pembentukan landasan hukum
bagi pemerintah dan masyarakat dalam penataan ruang.
16) Pengawasan penataan ruang adalah upaya agar penyelenggaraan penataan
ruang dapat diwujudkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan.
17) Pengendalian pemanfaatan ruang adalah upaya untuk mewujudkan tertib
tata ruang.
18) Penyelenggaraan penataan ruang adalah kegiatan yang meliputi
pengaturan, pembinaan, pelaksanaan, dan pengawasan penataan ruang.
19) Perairan pesisir adalah laut yang berbatasan dengan daratan meliputi
perairan sejauh 12 (dua belas) mil laut diukur dari garis pantai, perairan
yang menghubungkan pantai dan pulau-pulau, estuari, teluk, perairan
dangkal, rawa payau, dan laguna.

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
10
20) Perencanaan tata ruang adalah suatu proses untuk menentukan struktur
ruang dan pola ruang yang meliputi penyusunan dan penetapan rencana
tata ruang.
21) Permukiman adalah bagian dari lingkungan hidup di luar kawasan
lindung, baik yang berupa kawasan perkotaan maupun perdesaan yang
berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian dan
tempat kegiatan yang mendukung perikehidupan dan penghidupan.
22) Pola ruang adalah distribusi peruntukan ruang dalam suatu wilayah yang
meliputi peruntukan ruang untuk fungsi lindung dan peruntukan ruang
untuk fungsi budidaya.
23) Prasarana wilayah adalah kelengkapan dasar fisik wilayah yang
memungkinkan wilayah tersebut dapat berfungsi sebagaimana mestinya.
24) Rencana tata ruang adalah hasil perencanaan tata ruang.
25) Ruang adalah wadah yang meliputi ruang darat, ruang laut, dan ruang
udara, termasuk ruang di dalam bumi sebagai satu kesatuan wilayah,
tempat manusia dan makhluk lain hidup, melakukan kegiatan, dan
memelihara kelangsungan hidupnya.
26) Sempadan pantai adalah daratan sepanjang tepian yang lebarnya
proporsional dengan bentuk dan kondisi fisik pantai, minimal 100
(seratus) meter dari titik pasang tertinggi ke arah darat.
27) Sistem internal perkotaan adalah struktur ruang dan pola ruang yang
mempunyai jangkauan pelayanan pada tingkat internal perkotaan.
28) Sistem wilayah adalah struktur ruang dan pola ruang yang mempunyai
jangkauan pelayanan pada tingkat wilayah.
29) Struktur ruang adalah susunan pusat-pusat permukiman dan sistem
jaringan prasarana dan sarana yang berfungsi sebagai pendukung kegiatan
sosial ekonomi masyarakat yang secara hierarkis memiliki hubungan
fungsional.
30) Sumberdaya pesisir dan pulau-pulau kecil adalah sumberdaya hayati,
sumberdaya nonhayati; sumberdaya buatan, dan jasa-jasa lingkungan;
sumber daya hayati meliputi ikan, terumbu karang, padang lamun,
mangrove dan biota laut lain; sumber daya nonhayati meliputi pasir, air

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
11
laut, mineral dasar laut; sumber daya buatan meliputi infrastruktur laut
yang terkait dengan kelautan dan perikanan, dan jasa-jasa lingkungan
berupa keindahan alam, permukaan dasar laut tempat instalasi bawah air
yang terkait dengan kelautan dan perikanan serta energi gelombang laut
yang terdapat di wilayah pesisir.
31) Tata ruang adalah wujud struktur ruang dan pola ruang.
32) Wilayah adalah ruang yang merupakan kesatuan geografis beserta
segenap unsur terkait yang batas dan sistemnya ditentukan berdasarkan
aspek administratif dan/atau aspek fungsional.
33) Wilayah pesisir adalah daerah peralihan antara ekosistem darat dan laut
yang dipengaruhi oleh perubahan di darat dan laut.
34) Zonasi adalah suatu bentuk rekayasa teknik pemanfaatan ruang melalui
penetapan batas-batas fungsional sesuai dengan potensi sumberdaya dan
daya dukung serta proses-proses ekologis yang berlangsung sebagai satu
kesatuan dalam ekosistem pesisir.
35) Makna dari simbol-simbol bagan alir yang digunakan dalam penjelasan
sistem adalah sebagai berikut:















Penghubung
Penjumlahan bercabang (summing junction), menunjukkan
percabangan jamak yang menuju proses tunggal
Data
Dokumen
Dokumen jamak
Ekstraks
Keputusan (decision)
Entitas
Objek
Pemaparan (display)

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
12






1.5 Lingkup Penelitian
Sesuai dengan tujuan penelitian yaitu untuk menyajikan suatu pendekatan
perencanaan tata ruang yang memadukan wilayah daratan dan perairan dalam
suatu kerangka sistem dan bersifat partisipatif, yang dilakukan di wilayah pesisir
Teluk Lampung, lingkup penelitian adalah meliputi aktivitas sebagai berikut:
1) Mengidentifikasi kondisi wilayah pesisir Teluk Lampung secara holistik
dari aspek-aspek biofisik (ekologi), ekonomi, dan sosial, serta menentukan
kondisi yang dikehendaki pada masa mendatang sebagai ambang batas
kemampuan kawasan dalam mendukung pemanfaatan ruang. Aktivitas ini
dilakukan berdasarkan data dan informasi sekunder (terutama dokumen
RTRW Provinsi Lampung, RTRW Kota Bandar Lampung, dan RTRW
Kabupaten Lampung Selatan, dan analisis citra satelit) yang selanjutnya
divalidasi dengan observasi dan penelitian lapangan.
2) Menganalisis sistem dinamik yang terintegrasi dengan analisis spasial
dengan sistem informasi geografis (SIG) berdasarkan data dan informasi
yang didapat dari berbagai kajian yang dilakukan, kemudian menyusun
indikasi rencana tata ruang wilayah pesisir Teluk Lampung.
3) Memaparkan kondisi wilayah pesisir Teluk Lampung dan indikasi rencana
tata ruang wilayah pesisir Teluk Lampung, dalam suatu pertemuan ahli
menggunakan metode prospektif partisipatif. Aktivitas ini ditujukan untuk
memetakan berbagai kebutuhan para pemangku kepentingan dalam rangka
mencari titik temu yang dapat mendasari suatu perencanaan tata ruang
yang akomodatif terhadap kepentingan tersebut.
Proses
Proses yang dilakukan sebelumnya (predefined)
Simpanan (storage) internal
Titik terminal untuk awal dan akhir bagan alir

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
13
4) Menyusun skenario perencanaan tata ruang Teluk Lampung yang bersifat
partisipatif, komprehensif dan mampu mengakomodasi berbagai
kebutuhan para pemangku kepentingan.
1.6 Ker angka Konsepsional
Secara konsepsional, penelitian dan disertasi ini dilatarbelakangi oleh
kekhasan wilayah pesisir yang kompleks dan meliputi ekosistem daratan dan
perairan. Dengan kompleksitasnya yang tinggi, pengelolaan wilayah pesisir harus
bersifat holistik dan terintegrasi, dengan salah satu komponen kuncinya adalah
perencanaan tata ruang (Dahuri et al. 2001; Tyldesley 2004; Gangai dan
Ramachandran 2010). Urgensi penataan ruang merupakan bentuk intervensi
positif guna meningkatkan kesejahteraan yang berkelanjutan, atau sebagai bentuk
koreksi terhadap kegagalan mekanisme pasar dalam menciptakan pola dan
struktur ruang yang sesuai dengan tujuan bersama (Rustiadi et al. 2009). Oleh
karena itu, perencanaan tata ruang memiliki posisi penting dalam kerangka
pengelolaan wilayah pesisir terpadu. Namun demkian, perencanaan tata ruang
wilayah pesisir memerlukan suatu pendekatan yang mampu memadukan
karakteristik ruang daratan dan perairan secara sejajar, sehingga sulit diakomodasi
oleh perencanaan tata ruang yang bias daratan.
Sesuai dengan hukum geografi pertama dari Tobler (1970), yang
menyatakan bahwa “Setiap hal memiliki keterkaitan dengan hal lainnya, namun
yang lebih berdekatan memiliki keterkaitan yang lebih dari lainnya”. Oleh karena
itu, ruang daratan dan perairan yang berbatasan langsung di wilayah pesisir akan
saling terkait dan mempengaruhi secara lebih erat. Dengan demikian, paduan
karakteristik ruang daratan dan perairan di wilayah pesisir harus dapat
diakomodasi dalam suatu perencanaan tata ruang yang komprehensif.
Penataan ruang dan perencanaan tata ruang pada dasarnya merupakan
proses "pembelajaran" yang berkelanjutan sebagai buah pengalaman manusia dan
bersifat iteratif (Rustiadi et al. 2009). Dalam perkembangannya, perencanaan tata
ruang tidak terlepas dari berbagai teori dan metode yang terkait dengan ilmu
kewilayahan dan ekonomi wilayah, dan terus berevolusi. Teori fundamental dari
ekonomi wilayah dimulai dari karya von Thünen (pada tahun 1826), yang dikenal

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
14
sebagai teori lokasi umum, dan terus berevolusi menjadi ekonomi geografi baru
yang digagas Krugman (pada awal 1990-an). Di antara rentang evolusi tersebut,
terdapat banyak teori yang dikemukakan dan diterapkan dalam ekonomi wilayah
dan perencanaan tata ruang, antara lain: faktor pembentuk ruang dari Issard, efek
menetes ke bawah dan polarisasi dari Hirschman, efek pencucian dan penyebaran
dari Myrdal, kutub pertumbuhan dari Friedman, dan keterkaitan kota dan desa dari
Douglas (Rustiadi et al. 2009; Fujita 2010).
Penerapan berbagai teori dalam perencanaan tata ruang, pada dasarnya
hanya akan berhasil, jika dapat dipenuhinya dua kondisi yaitu (Rustiadi et al.
2009): (1) kebutuhan masyarakat untuk melakukan perubahan atau upaya untuk
mencegah terjadinya perubahan yang tidak diinginkan; dan (2) adanya kemauan
politik dan kemampuan untuk mengimplementasikan perencanaan yang disusun.
Oleh karena itu, pengembangan metodologi dalam perencanaan tata ruang untuk
dapat memenuhi dua kondisi tersebut, terutama di wilayah yang sangat kompleks
seperti wilayah pesisir, menjadi penting.
Wilayah pesisir Teluk Lampung merupakan kawasan yang bernilai
strategis bagi Provinsi Lampung, yang menjadi lokasi berbagai aktivitas ekonomi.
Pada satu sisi wilayah pesisir Teluk Lampung tumbuh pesat secara ekonomi dan
kependudukan. Di sisi lain, sebagai wilayah pesisir, Teluk Lampung bersifat
rentan secara ekologis. Dengan demikian, jika tidak dijaga keseimbangan antara
pengembangan ekonomi dan pelestarian sumberdaya alam dan lingkungannya,
maka perkembangan wilayah Teluk Lampung tidak dapat berkelanjutan.
Dengan potensi dan kondisi perkembangannya, selayaknya wilayah pesisir
Teluk Lampung ditetapkan sebagai kawasan strategis Provinsi Lampung. Namun
sampai saat ini kawasan Teluk Lampung belum ditetapkan sebagai kawasan
strategis (kawasan tertentu maupun kawasan andalan). Jika telah ditetapkan
sebagai kawasan strategis, maka penataan ruangnya harus diprioritaskan karena
mempunyai pengaruh sangat penting dalam lingkup provinsi terhadap ekonomi,
sosial, budaya, dan/atau lingkungan. Perencanaan tata ruang kawasan strategis
provinsi dapat dilakukan sebagai wewenang provinsi dalam pengelolaan kawasan
strategis, dan akan menjadi acuan bagi daerah kabupaten/kota di bawahnya.
Klasifikasi sistem perencanaan tata ruang disajikan pada Gambar 1.

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
15













Aktivitas di wilayah pesisir Teluk Lampung mempunyai beragam ciri dan
berlangsung pada kawasan dengan fungsi yang juga beragam, mulai dari fungsi
lindung sampai pada fungsi budidaya. Sebagai wilayah yang terus tumbuh, maka
dinamika yang terjadi akan ditentukan oleh oleh tiga komponen utama (Graham
1976 in HPS 1990; Oppenheim 1980; Chadwick 1987; Hall 1996; Fedra 2004;
Gee et al. 2004; Gilliland et al. 2004; Taussik 2004; Martin dan Hall-Arber 2008)
yaitu: (1) populasi (penduduk), (2) aktivitas ekonomi, dan (3) penggunaan ruang
(tata ruang).
Ruang daratan dan perairan di wilayah pesisir dapat dipandang sebagai
suatu sistem utuh dengan komponen utama tersebut. Ketiga komponen saling
berinteraksi dan menimbulkan dinamika wilayah. Dua komponen pertama yaitu
populasi dan aktivitas ekonomi merupakan komponen penyebab, sedangkan
penggunaan ruang merupakan akibat dari dua komponen pertama. Penggunaan
ruang hanya terjadi akibat adanya pertumbuhan populasi dan aktivitas ekonomi.
Namun pada gilirannya ketersediaan ruang akan membatasi pertumbuhan
ekonomi dan populasi, sebagai suatu lingkaran umpan balik negatif. Antar
komponen populasi dan aktivitas ekonomi terdapat interaksi siklik yang tegas,
yaitu bahwa populasi merupakan pasar produk yang mengembangkan aktivitas
ekonomi, dan sebaliknya aktivitas ekonomi merupakan pasar tenaga kerja yang
memberikan insentif ekonomi dan merangsang populasi untuk berkembang.
Gambar 1 Klasifikasi Perencanaan Tata Ruang (Rustiadi et al. 2009)
RTRW Nasional
Fungsional
RTR Pulau / Kepulauan
Rencana Tata Ruang
Wilayah (RTRW) Umum
RTRW Provinsi
RTRW
Kabupaten/ Kota
RTR Kawasan Strategis Nasional
RTR Kawasan Strategis Provinsi
RTR Kawasan Strategis Kabupaten/Kota
Rencana Detil Tata Ruang (RDTR)
Rencana Tata Ruang Rinci

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
16
Dinamika wilayah pesisir dapat dijelaskan melalui studi menyeluruh (holistik)
dari ketiga komponen serta interaksi di antaranya yang dapat dilakukan melalui
pendekatan sistem. Melalui pemodelan sistem dinamik, dapat dipelajari
perilakunya secara komprehensif dan diterapkan skenario perencanaan sebagai
bentuk intervensi terhadap sistem tersebut (Deal dan Schunk 2004; Wiek and
Walter 2009; Faure et al. 2010).
Perencanaan wilayah pesisir perlu mengakomodasi berbagai kebutuhan
para pemangku kepentingan (Brown et al. 2001). Untuk itu, dibutuhkan alat
analisis yang mampu mempertemukan beragam pemangku kepentingan di
wilayah pesisir. Alat analisis yang berbasis pada prinsip-prinsip partisipasi,
transparansi, dan, efektivitas, perlu diadopsi dalam perencanaan wilayah pesisir.
Analisis prospektif partisipatif (participatory prospective analysis, PPA),
memiliki karakteristik yang dapat membantu pelibatan para pemangku
kepentingan dalam perencanaan, yang memenuhi tingkat partisipasi kolegiat dan
interaktif (Godet dan Roubelat 1998; Bigg 1989 diacu dalam Cornwall dan
Jewkes 1995; Brown et al. 2001; Bourgeois dan Jesus 2004). Dengan demikian,
pendekatan sistem dinamik yang dipadukan dengan analisis partisipatif, dapat
digunakan dalam perencanaan tata ruang wilayah pesisir yang bersifat terpadu,
komprehensif, dan partisipatif (Wiber et al. 2004; Shui-sen et al. 2005; Yufeng
dan ShuSong 2005; Wiek dan Walter 2009; Liangju et al. 2010).
Terdapatnya anggapan yang tidak tepat dan cenderung saling
bertentangan, yaitu bahwa perencanaan spasial daratan harus tunduk pada rejim
UU Nomor 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang, dan perairan tunduk pada
rejim UU Nomor 27 tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-
Pulau Kecil, haruslah dapat diklarifikasi. Pada dasarnya kedua rejim perencanaan
spasial tersebut tidaklah saling bertentangan, sebaliknya harus saling melengkapi.
Rejim UU Nomor 26 tahun 2007 merupakan payung yang bersifat generik
(sebagai lex generalis) bagi perencanaan tata ruang, dan rejim UU Nomor 27
tahun 2007 mempertegas untuk wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil yang
memiliki kekhasan tersendiri (sebagai lex specialis) (Adrianto 2010), seperti
disajikan pada Gambar 2. Oleh karena itu, perencanaan tata ruang wilayah pesisir
haruslah berangkat dari kedua rejim tersebut.

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
17
Berdasarkan kondisi khas wilayah pesisir, perencanaan tata ruang wilayah
pesisir Teluk Lampung menghendaki pendekatan yang dapat memadukan ruang
daratan dan perairan, dan mampu mengakomodasi berbagai kebutuhan para
pemangku kepentingan. Pendekatan yang biasa dilakukan dalam perencanaan tata
ruang umumnya adalah pendekatan rasional, parsial, dan baru bersifat partisipatif
secara prosedural. Oleh karena itu, diajukan konsep pemikiran pendekatan sistem
yang dapat memberikan pandangan keutuhan antara ruang daratan dan perairan,
dan bersifat partisipatif secara substansial.
















Penelitian mengenai perencanaan wilayah yang menerapkan sistem
dinamik, sudah pernah dilakukan. Pendekatan sistem dinamik yang diterapkan
untuk mengkaji dinamika wilayah ekologis daerah aliran sungai (DAS),
menunjukkan hasil yang memuaskan (Haie dan Cabecinha 2003; Aurambout et al.
2005; Elshorbagy et al. 2005). Dalam perencanaan kota dan wilayah, pendekatan
sistem dinamik dapat menunjukkan dinamika penggunaan lahan dengan sangat
baik, dan sangat membantu dalam perencanaan (White dan Engelen 2000; Deal
dan Schunk 2004; Yufeng dan ShuSong 2005). Demikian juga dalam perencanaan
wilayah pesisir, pendekatan sistem dinamik dan analisis spasial, dapat
Gambar 2 Rejim perencanaan spasial di Indonesia (Adrianto 2010)
A
r
a
h

k
e

l
a
u
t

P
e
s
i
s
i
r
Garis pantai
N
o
n
-
P
e
s
i
s
i
r

R
e
j
i
m

U
U

2
6

/

2
0
0
7

R
e
j
i
m

U
U

2
7

/

2
0
0
7

A
r
a
h

k
e

d
a
r
a
t

Batas ke darat
Lex specialis
Lex generalis

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
18
menunjukkan pemahaman yang lebih komprehensif terhadap wilayah pesisir, dan
dapat diterapkan untuk kepentingan pengelolaan wilayah pesisir (Villa et al. 2002;
Ramos 2004; Gangai dan Ramachandran 2010).
Dari beberapa penelitian di atas, terlihat pendekatan sistem dinamik dalam
perencanaan dan pengelolaan telah menunjukkan efektivitas yang baik dalam
mengkaji kompleksitas wilayah. Namun demikian, di sisi lain, aspek partisipatif
yang melibatkan pemangku kepentingan di wilayah yang bersangkutan, masih
kurang mendapatkan porsi yang cukup. Padahal pada dasarnya pelibatan
pemangku kepentingan dalam perencanaan dan pengelolaan wilayah, merupakan
aspek yang sangat penting. Oleh karena itu, penelitian mengenai perencanaan
wilayah pesisir yang kompleks dengan melibatkan pemangku kepentingan melalui
pendekatan sistem dinamik yang dipadukan dengan analisis partisipatif, akan
menjadi suatu kebaruan dan penting dilakukan.
Kebaruan (novelty) yang diajukan adalah pada penerapan metode sistem
dinamik dalam perencanaan tata ruang wilayah pesisir, yang memungkinkan
komponen sistem (di darat maupun di perairan) dan interaksinya dapat dianalisis
secara simultan, serta dilakukan intervensi, sehingga analisis lebih bersifat
komprehensif yang memadukan daratan dan perairan; penyusunan analisis
kebutuhan pemangku kepentingan dilakukan secara partisipatif; serta
mengakomodasi rejim perencanaan spasial yang dilingkup dalam UU No. 26
tahun 2007 tentang Penataan Ruang, dan UU No. 27 tahun 2007 tentang
Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, yang memadukan ruang
daratan dan perairan.
Dengan demikian diharapkan perencanaan yang dihasilkan dapat lebih
komprehensif dan akomodatif terhadap berbagai kepentingan, serta tidak terjadi
dikotomi dalam perencanaan spasial wilayah pesisir. Ringkasan pendekatan
perencanaan tata ruang yang umum dilakukan disajikan pada Gambar 3, dan
pendekatan perencanaan yang diajukan pada Gambar 4. Ringkasan karakateristik
pendekatan perencanaan yang diajukan disajikan pada Tabel 1, adapun perbedaan
dengan metode yang umum dilakukan, secara lengkap disajikan pada Lampiran 1.

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
19



















Persiapan:
Administratif
Kajian informasi
sekunder
Teknis
Gambar 3 Pendekatan perencanaan tata ruang wilayah yang umum dilakukan (Kep. Men. Permukiman dan Prasarana Wilayah
No. 327 tahun 2002 tentang Penetapan 6 (Enam) Pedoman Bidang Penataan Ruang; yang telah diperbaharui dengan
Per. Men. Pekerjaan Umum No. 15, 16, dan 17 tahun 2009 tentang Pedoman Penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah
Provinsi, Kabupaten, dan Kota)
Pengumpulan data dan
Informasi Primer dan
Sekunder:
Peta-peta
Kebijakan sektoral
Kondisi lingkungan
dan sumberdaya
alam
Sumberdaya buatan
dan prasarana/
sarana wilayah
Kependudukan dan
sumberdaya
manusia
Perekonomian dan
sosial budaya
Kelembagaan
Data lainnya….
Analisis:
Identifikasi daerah
fungsional
perkotaan
Sistem pusat-pusat
permukiman
(perkotaan)
Daya dukung dan
daya tampung
wilayah serta
optimalisasi
pemaanfaatan ruang
Penyusunan Rencana Tata Ruang
Wilayah:
Penyusunan
Konsep
Pengembangan
dan Pemilihan
Konsep
Penyusunan
Rencana
Penyusunan
Rancangan
Peraturan
Daerah
Pemberian
informasi ke
masyarakat
Penyerapan
informasi dari
masyarakat
Penyampaian
opini dan
informasi
masyarakat
Penyampaian
sanggahan
masyarakat
Penetapan
Peraturan
Daerah


A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
20



















Kompleksitas
Wilayah Pesisir:
Perpaduan Ekosistem
Daratan dan Perairan
Sistem dan
Pemodelan
Interaksi Penawaran dan
Perminataan
Kebutuhan
pemangku
kepentingan
Rencana Tata
Ruang Wilayah
Pesisir

Masukan Proses
Keluaran
Komponen Sistem:
Penduduk
Ekonomi
Ketersediaan Ruang
….
S
a
l
i
n
g

B
e
r
i
n
t
e
r
a
k
s
i


Intervensi
sistem dan
Skenario

Sektor dan pemangku
kepentingan:
Perikanan
Pertanian
Angkutan
Pariwisata
Industri
Permukiman
Prasarana wilayah
………

S
a
l
i
n
g

B
e
r
i
n
t
e
r
a
k
s
i


Partisipasi
substantif
Keberlanjutan sistem
Pemenuhan kebutuhan
Gambar 4 Pendekatan sistem perencanaan tata ruang wilayah pesisir yang diajukan

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
21
Tabel 1 Karakteristik sistem perencanaan spasial yang diajukan
No.
Karakteristik
Perencanaan
Sistem Perencanaan yang Diajukan Dalam
Penelitian
1. Aspek analisis Ekonomi dan sektor unggulan, tidak dilakukan
penekanan pada sektor tertentu;
Sumberdaya buatan, diperjelas prasarana yang
berhubungan dengan penggunaan perairan
seperti pelabuhan, dan pelabuhan perikanan;
Sumberdaya alam, memberikan keseimbangan
perhatian antara sumberdaya pesisir (perairan)
dan daratan;
2. Substansi rencana Arahan struktur dan pola pemanfaatan ruang,
diperjelas untuk ruang perairan;
Arahan pengelolaan kawasan diperjelas untuk
ruang perairan;
Arahan pengembangan kawasan yang
diprioritaskan, dengan keseimbangan pada
ruang daratan dan perairan..
Arahan kebijaksanaan tata guna tanah, air,
udara, dan sumber daya alam lainnya;
termasuk pada sumberdaya dan jasa
lingkungan pesisir.
3. Kerangka analisis Analisis dilakukan secara holistik, dimana
proyeksi pada masing-masing aspek analisis
dilakukan secara simultan dengan
menggunakan analisis sistem.
4. Corak sektoral Bebas terhadap kecenderungan sektoral, dan
menekankan pada objektivitas rencana.
5. Sifat partisipatif Dilakukan oleh para pemangku kepentingan
secara langsung dan bersama-sama melalui
analisis kebutuhan.
Penyusunan rencana merupakan hasil kerja
para pemangku kepentingan.











A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
22

















A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
2 TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Wilayah dan Wilayah Pesisir
Pada dasarnya pengertian wilayah mengacu pada unit geografis, dan dapat
didefinisikan dengan batas-batas spesifik (tertentu) dimana komponen-
komponennya memiliki arti di dalam pendiskripsian perencanaan dan pengelolaan
sumberdaya pembangunan. Oleh karena itu, tidak ada batasan spesifik dari luas
suatu wilayah. Batasan yang ada lebih bersifat "meaningful" untuk perencanaan,
pelaksanaan, monitoring, pengendalian, maupun evaluasi. Batasan wilayah
tidaklah selalu bersifat fisik dan pasti tetapi seringkali bersifat dinamis (berubah-
ubah), dengan komponen-komponen yang mencakup biofisik alam, sumberdaya
buatan (infrastruktur), manusia, serta bentuk-bentuk kelembagaannya. Dengan
demikian istilah wilayah menekankan interaksi antar manusia dengan
sumberdaya-sumberdaya lainnya yang ada di dalam suatu batasan unit geografis
tertentu. Salah satu kerangka klasifikasi yang cukup mampu menjelaskan berbagai
konsep wilayah adalah (Rustiadi et al. 2009): (1) wilayah homogen (uniform), (2)
wilayah sistem/fungsional, dan (3) wilayah perencanaan/pengelolaan (planning
region atau programming region); seperti disajikan pada Gambar 5.
Wilayah pesisir dapat dimasukkan dalam konsep wilayah sistem
kompleks, memiliki beberapa sub-sistem penyusun yang meliputi sistem ekologi
(ekosistem), sistem sosial, dan sistem ekonomi. Secara sederhana, wilayah pesisir
dipahami sebagai wilayah pertemuan antara daratan dan laut. Pada dasarnya
pemahaman mengenai wilayah pesisir yang meliputi daratan dan perairan (laut)
telah diterima secara luas, namun demikian masih belum ada definisi wilayah
pesisir yang bersifat baku dan dapat diterima semua pihak.
Dalam konteks pesisir, pengertian wilayah dapat dirunut pada dua istilah
yang bermiripan yaitu zone dan area, dan dikenal adanya coastal zone dan coastal
area. Perbedaan keduanya terletak pada implikasi yang mengikutinya, yaitu
coastal zone berimplikasi pada adanya proses pengelolaan yang dibatasi secara
artifisial; sedangkan coastal area lebih bersifat alami. Perbedaan tersebut masih
menjadi fokus perdebatan dalam konteks pengelolaan pesisir, terutama di negara-
negara sedang berkembang, dimana masih terdapat banyak bagian pesisir yang

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
24
belum termasuk dalam suatu zona pengelolaan tertentu. Oleh karena itu,
penggunaan istilah coastal area dalam pembicaraan dan pembahasan mengenai
pesisir, menjadi pilihan yang lebih netral dan konsisten (Kay dan Alder 1999).


















Merujuk pada Kay dan Alder (1999), secara umum dalam disertasi ini
istilah wilayah pesisir diasosiasikan dengan coastal area, kecuali dari sumber-
sumber yang dikutip atau dirujuk memang menunjuk pada coastal zone. Dengan
kata lain, istilah zone dan area dalam disertasi ini akan dirujuk secara sama
menjadi “wilayah”. Dengan demikian “wilayah pesisir” menjadi padanan bagi
coastal area bila berbicara dalam batas-batas alami; dan menjadi padanan bagi
coastal zone bila berbicara dalam batas-batas artifisial pengelolaan.
Terdapat banyak definisi wilayah pesisir yang berbeda antar berbagai
negara; atau antar disiplin seperti perikanan, biologi laut, tenik pantai, hukum, dan
militer. Keragaman definisi tersebut bersumber dari penentuan seberapa jauh
batas definitif wilayah pesisir ke arah laut dan ke arah darat.


Wilayah
Homogen
Sistem
Fungsional
Sistem
Sederhana
Sistem
Kompleks
Nodal (Pusat – Hinterland)
Sistem Ekonomi: Kawasan
Produksi, Kawasan Industri
Budidaya – Lindung
Desa – Kota
Sistem Ekologi: DAS, Hutan,
Pesisir
Sistem Sosial Politik:
Kawasan Adat, Wilayah Etnik
Konsep Alamiah / Deskriptif
Perencanaan
/Pengelolaan
Perencanaan Khusus:
Jabodetabekjur, KAPET
Wilayah Administratif Politik:
Provinsi, Kabupaten, Kota
Konsep Non-Alamiah
Gambar 5 Sistematika Konsep-konsep Wilayah (Rustiadi et al. 2009)

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
25
Dahuri et al. (2001) mendefinisikan wilayah pesisir sebagai suatu wilayah
peralihan antara daratan dan lautan, dimana batas wilayah pesisir ke arah darat
adalah jarak arbitrer dari rata-rata pasang tinggi (mean high tide) dan batas ke arah
laut adalah batas yurisdiksi wilayah provinsi atau state di suatu negara.
Kay dan Alder (1999) memberikan tiga elemen bagi definisi ilmiah
wilayah pesisir, yaitu bahwa wilayah pesisir harus mengandung: 1) komponen
daratan dan perairan; 2) batas antara daratan dan perairan harus ditentukan
berdasarkan tingkat pengaruh daratan terhadap perairan, dan pengaruh perairan
terhadap daratan; dan 3) batas wilayah tidaklah seragam dalam dimensi lebar,
kedalaman, maupun ketinggian. Adapun untuk orientasi kebijakan, Kay dan Alder
(1999) menyatakan bahwa terdapat empat cara yang mungkin dalam
mendefinisikan wilayah pesisir, yaitu: 1) batasan jarak yang tetap; 2) batasan jarak
variabel; 3) batasan yang disesuaikan dengan penggunaannya; dan 4) merupakan
kombinasi (hibrid) atara ketiga cara tersebut.
Dalam Undang-undang Nomor 27 tahun 2007 tentang Pengelolaan
Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, secara formal wilayah pesisir
didefinisikan sebagai daerah peralihan antara ekosistem darat dan laut yang
dipengaruhi oleh perubahan di darat dan laut. Sebelum adanya Undang-undang
tersebut, DKP (2002) telah mendefinsikan wilayah pesisir sebagai daerah
pertemuan antara darat dan laut yang memiliki empat karaketristik khas yaitu:
1) Merupakan wilayah pertemuan antara berbagai aspek yang ada di darat,
laut dan udara. Bentuk wilayah ini merupakan hasil keseimbangan dinamis
dari suatu proses penghancuran dan pembangunan dari ketiga unsur
tersebut;
2) Memiliki fungsi sebagai zona penyangga dan habitat dari berbagai jenis
burung yang bermigrasi serta merupakan tempat pembesaran, pemijahan
dan mencari makan bagi berbagai jenis biota.
3) Memiliki gradien perubahan sifat ekologi yang tajam dan pada skala yang
sempit akan dijumpai kondisi ekologi yang berlainan;
4) Memiliki tingkat kesuburan yang tinggi yang menjadi sumber zat organik
yang penting dalam rantai makanan laut.

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
26
Chua (2006) mendeskripsikan wilayah pesisir dengan memasukkan
pentingnya aspek aktivitas manusia, karena sebagian besar wilayah pesisir telah
dimanfaatkan oleh manusia. Deskripsi tersebut secara ringkas disajikan pada
Gambar 6. Dengan adanya aktivitas manusia, pembicaraan wilayah pesisir
menjadi lebih penting karena merupakan suatu sistem sumberdaya yang
dipengaruhi dan mempengaruhi kehidupan manusia. Oleh karena itu, perencanaan
pengelolaan wilayah pesisir haruslah memasukkan aspek aktivitas manusia, yaitu
aspek ekonomi dan sosial.
















Dengan adanya beragam definisi mengenai wilayah pesisir, perlu dibuat
suatu definisi khusus sebagai acuan dalam penelitian yang dilakukan. Perumusan
definisi wilayah pesisir yang diacu dalam penelitian ini didasarkan pada aspek
penentu definisi wilayah pesisir yaitu batas ke arah darat dan laut, dan tujuan
penelitian yaitu perencanaan wilayah. Pertimbangan dalam perumusan definisi
yang digunakan adalah sebagai berikut:
1) Sungai-sungai yang bermuara ke Teluk Lampung adalah sungai-sungai
kecil dengan daerah aliran sungai (DAS) yang sempit (Wiryawan et al.
Gambar 6 Wilayah Pesisir dan Sistem Sumberdaya Pesisir (Chua 2006)
Wilayah pesisir
Sistem sumberdaya pesisir
Aktivitas
manusia
Lingkungan
daratan
Lingkungan
perairan

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
27
1999), sehingga secara ekologis batas ke arah darat berdasarkan DAS
hanya beberapa km saja dari garis pantai (maksimal 20 km).
2) Secara administratif, perairan Teluk Lampung dibatasi langsung oleh
kecamatan-kecamatan pesisir di Kota Bandar Lampung, Kabupaten
Lampung Selatan, dan Kabupaten Pesawaran. Dengan pertimbangan
ketersediaan data dan satuan wilayah terkecil, secara administratif batas ke
arah darat dapat ditetapkan sebagai batas administratif kecamatan pesisir
di Kota Bandar Lampung, Kabupaten Lampung Selatan, dan Kabupaten
Pesawaran, yang berbatasan langsung dengan perairan Teluk Lampung.
3) Secara ekologis, Perairan Teluk Lampung merupakan suatu kesatuan,
karena relatif tertutup dan hanya dipengaruhi oleh perairan laut lepas
melalui Selat Sunda (CRMP 1998a dan 1998b); sehingga kondisi
oseanografis fisik dan biologis perairan ini relatif seragam. Kondisi
tersebut merupakan indikasi bahwa Teluk Lampung merupakan suatu
bioekoregion, yaitu bentang alam yang berada di dalam satu hamparan
kesatuan ekologis yang dibatasi oleh batas-batas alam, seperti daerah
aliran sungai dan perairan teluk. Dengan demikian, secara ekologis dapat
ditetapkan batas ke arah laut wilayah pesisir Teluk Lampung adalah
meliputi keseluruhan perairan Teluk Lampung, dengan luas sekitar 1.600
km
2
.
4) Secara administratif berdasarkan UU No. 32 tahun 2004, batas
kewenangan pengelolaan perairan laut adalah 12 mil laut untuk provinsi
dan 1/3-nya (4 mil laut) untuk kabupaten/kota, yang diukur tegak lurus
garis pantai. Pada perairan Teluk Lampung, jarak tegak lurus dari garis
pantai yang terjauh adalah 18,01 km atau 9,73 mil laut (Wiryawan et al.
1999). Dengan demikian, batas ke arah laut dari wilayah pesisir Teluk
Lampung adalah meliputi keseluruhan perairan teluk, dan dapat dipandang
sebagai kewenangan pengelolaan Provinsi Lampung karena bersifat lintas
kabupaten dan kota, dan sebagian wilayah perairan berjarak lebih dari 4
mil laut.
5) Berdasarkan tujuan penelitian yaitu untuk menyusun perencanaan wilayah
pesisir Teluk Lampung yang komprehensif, wilayah perairan Teluk

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
28
Lampung harus dipandang sebagai satu kesatuan wilayah perencanaan,
bersama dengan wilayah daratan yang berbatasan langsung dengan
perairan teluk.
Berdasarkan pertimbangan di atas, definisi wilayah pesisir Teluk Lampung
yang diacu dalam penelitian ini adalah: Wilayah yang meliputi perairan dan
daratan, dengan batas ke arah laut adalah meliputi keseluruhan wilayah perairan
Teluk Lampung, dan batas ke arah darat adalah mengikuti batas-batas administrasi
kecamatan-kecamatan di Kota Bandar Lampung, Kabupaten Lampung Selatan,
dan Kabupaten Pesawaran, yang berbatasan langsung dengan perairan Teluk
Lampung.
2.2 Teor i Sistem
Terminologi sistem sering digunakan dalam berbagai bidang dengan
interpretasi beragam, tetapi tetap berkonotasi tentang sesuatu yang “utuh” dan
“keutuhan” (Eriyatno 1999). Banyak definisi sistem yang telah dikemukakan oleh
para penulis. Forrester (1968) mendefinisikan sistem sebagai sekelompok
komponen yang beroperasi secara bersama-sama untuk mencapai tujuan tertentu.
O’Connor dan McDermott (1997) mendefinisikan sistem sebagai suatu entitas
yang mempertahankan eksistensi dan fungsinya sebagai suatu keutuhan melalui
interaksi komponen-komponennya. Haaf et al. (2002) mendefinisikan sistem
sebagai koleksi dari elemen-elemen dalam suatu keseluruhan dengan hubungan di
antaranya. Dengan kata lain, sistem adalah suatu kesatuan usaha yang terdiri dari
bagian-bagian yang berkaitan satu sama lain yang berusaha mencapai suatu tujuan
dalam suatu lingkungan kompleks (Marimin 2004).
Dari beragam definisi yang ada terlihat bahwa sistem memiliki
karakteristik keutuhan dan interaksi antar komponen yang membangun sistem.
Secara lebih tegas beberapa karakteristik yang dimiliki sistem dapat dinyatakan
sebagai berikut (Sushil 1993):
1) Dibangun oleh sekelompok komponen yang saling berinteraksi.
2) Memiliki sifat yang “utuh” dan “keutuhan” (wholeness).
3) Memiliki satu atau segugus tujuan.
4) Terdapat proses transformasi input menjadi output.

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
29
5) Terdapat mekanisme pengendalian yang berkaitan dengan perubahan yang
terjadi pada lingkungan sistem.
Kajian mengenai teori sistem tidak terlepas dari tiga akar utama yang
berkaitan dengan sistem dan kompleksitas, yaitu teori sistem umum, sibernetika,
dan sistem dinamik. Ketiga akar tersebut berkembang relatif hampir bersamaan,
dan sekarang dianggap sebagai pilar teori kompleksitas (complexity theory)
(Abraham 2002). Sepanjang abad 20, secara paralel telah berkembang teori sistem
umum (general system theory), sibernetika (cybernetics), dan sistem dinamik
(system dynamics) (François 1999; Mäntysalo 2000; Abraham 2002; Haaf et al.
2002; Mindell 2002).
Teori sistem umum mulai mengemuka sejak publikasi artikel Ludwig von
Bertalanffy yang berjudul General system theory pada tahun 1956, terutama
dalam bidang teknik dan sains. Teori sistem umum didasarkan pada ide biologi,
dimana von Bertalanffy merumuskan formula abstrak yang dibahasakan secara
matematis dan dapat menjelaskan kompleksitas yang terorganisir secara umum.
Ide utama dari teori sistem umum adalah keutuhan, pengorganisasian, dan sistem
terbuka yang ada di dalam biologi, dan kemudian digeneralisasi oleh von
Bertalanffy ke dalam berbagai disiplin termasuk sistem sosial dan budaya. Teori
sistem umum dimaksudkannya dapat menjadi suatu teori universal, sebagai suatu
kerangka analitik yang dapat memberikan penjelasan abstrak dari fenomena alam
(Mäntysalo 2000; Abraham 2002; Haaf et al. 2002). Di penghujung abad 20 teori
dan pendekatan sistem umum telah berkembang pada berbagai disiplin (Haaf et
al. 2002).
Sibernetika diperkenalkan oleh Norbert Wiener pada tahun 1946, yang
intinya berkaitan dengan controlled feedback systems, yaitu sistem yang mampu
mempertahankan kondisi homeostatis melalui “perlawanan” (counteracting)
deviasi dari variabel kritis akibat adanya umpan balik negatif (negative feedback).
Kata cybernetics sendiri berasal dari bahasa Yunani yaitu kubernetes yang berarti
“teman” (mate) atau juga dapat berarti “pengatur” (governor). Dua konsep utama
dari sibernetika adalah kontrol (control) dan komunikasi (communication).
Pandangan sibernetika lebih kepada “software” dari suatu sistem, misalnya sistem
biologis dan sistem artifisial (servo-mechanisms) dipandang mirip satu sama lain,

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
30
karena sifat-sifat mereka dalam mengendalikan entropi positif dengan adanya
umpan balik negatif, meskipun ”hardwares” mereka dapat sangat berbeda
(Mäntysalo 2000; Abraham 2002; Haaf et al. 2002; Mindell 2002). Pandangan
tersebut telah menjadikan sibernetika sebagai pemacu perkembangan ilmu
komputer seperti kecerdasan buatan (artificial intelligence) (François 1999 ;
Abraham 2002; Haaf et al. 2002; Mindell 2002).
Perkembangan sistem dinamik (system dynamics) dimotori oleh Jay
Forrester bersama koleganya di Massachusetts Institute of Technology (MIT)
sejak tahun 1950-an (Abraham 2002). Sistem dinamik merupakan cara
pemahaman sifat dinamis dari suatu sistem yang kompleks. Metode sistem
dinamik berlandaskan pada cara pandang bahwa struktur suatu sistem (bentuk
hubungan antar komponen seperti hubungan sirkular, saling tergantung, dan time-
delayed adalah penentu dari sifat sistem. Menurut Forrester (1968) sistem dinamik
merupakan suatu metode dalam mempelajari sifat-sifat sistem, dengan tujuan
untuk mengetahui bagaimana interrelasi dari suatu keputusan, kebijakan, struktur
dan delay, dalam mempengaruhi pertumbuhan dan stabilitas sistem tersebut.
Metodologi sistem dinamik telah berkembang, terutama dengan
berkembangnya komputer digital berkemampuan tinggi, dan telah diterapkan pada
berbagai bidang untuk menganalisis sifat-sifat sistem kompleks seperti masalah
sosial-ekonomi dan teknologi. Salah satu kelebihan sistem dinamik adalah
kemampuannya menggambarkan tingkah laku sistem menurut waktu. Kata
dinamik (dynamics) memiliki arti perubahan atau variasi, dan suatu sistem yang
dinamik adalah sistem yang menunjukkan sifat bervariasi menurut waktu
(François 1999; Sterman 2002; Haaf et al. 2002; Mindell 2002; Forrester 2003).
Perkembangan ilmu sistem sampai di penghujung tahun 1960-an
menunjukkan bahwa teori sistem umum (general system theory), sibernetika
(cybernetics), dan sistem dinamik (system dynamics), telah mengalami saling
keterkaitan. Kerja dari Kelompok Roma (The Club of Rome) pada akhir dekade
1960 dan awal 1970 yang mempublikasikan The Limits to Growth dan World
Dynamics, pada dasarnya telah menggabungkan antara general system theory,
cybernetics, dan system dynamics (Meadows et al. 1972; Abraham 2002; Smil
2005). Sampai dengan dekade 1990, ilmu sistem semakin diramaikan dengan

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
31
pencabangan teori kompleksitas seperti cellular automata, fractal geometry, dan
chaos theory. Perkembangan ilmu sistem yang terpayungi dalam teori
kompleksitas di masa depan masih sangat mungkin akan bertambah (Abraham
2002), sebagaimana dengan perkembangan ilmu pengetahuan.
Berdasarkan perkembangan teori sistem, jelas bahwa terdapat upaya
intelektual yang terus-menerus untuk memahami berbagai fenomena dunia nyata
secara sistematis. Dari perkembangan yang ada, terlihat bahwa penerapan ilmu
sistem merupakan metode baru dalam pemahaman dan pengelolaan sistem
kompleks, yang sangat sulit dilakukan secara monodisiplin. Oleh karena itu,
upaya penerapan ilmu sistem dalam pengelolaan sumberdaya alam yang kompleks
seperti wilayah pesisir, tampaknya menjadi suatu keniscayaan.
Fenomena dunia nyata seperti wilayah pesisir, yang menunjukkan
kompleksitas tinggi dan sangat sulit dipahami hanya melalui satu disiplin
keilmuan. Upaya dari masing-masing disiplin untuk mamahami fenomena dunia
nyata yang kompleks melalui pengembangan beragam model seringkali tidak
konsisten, hanya bersifat parsial, tidak berkesinambungan, dan gagal memberikan
penjelasan yang utuh (Eriyatno 1999). Konsep sistem yang berlandaskan pada unit
keragaman dan selalu mencari keterpaduan antar komponen melalui pemahaman
yang utuh (Forrester 1968), dapat menawarkan suatu pendekatan baru untuk
memahami dunia nyata.
Pendekatan sistem merupakan cara penyelesaian persoalan yang dimulai
dengan dilakukannya identifikasi terhadap sejumlah kebutuhan, sehingga dapat
menghasilkan suatu operasi sistem yang efektif (Eriyatno 1999). Dengan
demikian kajian mengenai fenomena kompleks dapat dilakukan melalui
pendekatan sistem (Nichols dan Monahan 1999; Sterman 2002), seperti
membangun model perencanaan tata ruang wilayah pesisir Teluk Lampung,
2.3 Sistem dan Model
Model merupakan pengganti suatu objek atau sistem, yang dapat memiliki
beragam bentuk dan memenuhi banyak tujuan (Forrester 1968; Sterman 2002).
Dalam pengertian yang relatif sama, Eriyatno (1999) menyatakan bahwa model

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
32
merupakan suatu abstraksi dari realitas, yang menunjukkan hubungan langsung
maupun tidak langsung serta kaitan timbal balik dalam istilah sebab akibat.
Suatu model tidak lain merupakan seperangkat anggapan (assumptions)
mengenai suatu sistem yang rumit, sebagai usaha untuk memahami dunia nyata
yang bersifat aneka ragam (Meadows et al. 1972; Elshorbagy et al. 2005; Yufeng
dan ShuSong 2005). Dalam mempelajari sistem sangat diperlukan pengembangan
model guna menemukan peubah-peubah (variable) penting dan tepat, serta
hubungan antar peubah di dalam sistem tersebut. Model dapat dikategorikan
menurut jenis, dimensi, fungsi, tujuan pokok kajian, atau derajat keabstrakannya;
namun pada dasarnya dikelompokkan menjadi tiga (Eriyatno 1999) yaitu:
1) Model ikonik (model fisik), merupakan perwakilan fisik dari beberapa hal
baik dalam bentuk ideal ataupun dalam skala yang berbeda. Model ikonik
dapat berdimensi dua seperti peta, atau berdimensi tiga seperti prototipe.
Dalam hal model berdimensi lebih dari tiga, maka tidak dapat lagi
dikontsruksi secara fisik sehingga diperlukan kategori model simbolik.
2) Model analog (model diagramatik), menyajikan transformasi sifat menjadi
analognya kemudian mengetengahkan karakteristik dari kejadian yang
dikaji. Model ini bersifat sederhana namun efektif dalam menggambarkan
situasi yang khas. Contoh dari model ini adalah kurva permintaan, kurva
distribusi frekuensi pada statistik, dan diagram alir suatu proses.
3) Model simbolik (model matematik), menyajikan format dalam bentuk
angka, simbol, dan rumus. Pada dasarnya ilmu sistem lebih terpusat pada
penggunaan model simbolik, dengan jenis yang umum dipakai adalah
persamaan matematis (equation). Contoh dari model matematis adalah
persamaan antara arus dan tegangan listrik, posisi sebuah mobil pada suatu
aliran transportasi, serta aliran bahan dan pelayanan pada suatu struktur
ekonomi.
Dalam pendekatan sistem, pengembangan model (modelling atau
pemodelan) merupakan titik kritis yang akan menentukan keberhasilan dalam
mepelajari sistem secara keseluruhan (Sterman 2002). Melalui pemodelan akan
diketahui karakteristik sistem, sehingga dapat dijadikan sebagai titik masuk (entry
point) bagi intervensi terhadap sistem, sesuai dengan yang diinginkan. Pemodelan

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
33
akan melibatkan tahap-tahap yang meliputi seleksi konsep, rekayasa model,
implementasi komputer, validasi, analisis sensitivitas, analisis stabilitas, dan
aplikasi model.
Pendekatan sistem melalui pemodelan sistem dinamik dapat sangat
membantu pemahaman terhahap sistem kompleks dalam rentang waktu tertentu.
Dalam upaya mendapatkan skenario perencanaan tata ruang wilayah pesisir Teluk
Lampung yang bersifat komprehensif, dapat digunakan metodologi sistem
dinamik berdasarkan pertimbangan kemampuannya menyajikan keterkaitan antar
variabel yang dikaji dan mensimulasikan prilaku sistem bila dilakukan intervensi
terhadap sistem tersebut. Sistem dinamik cukup powerful digunakan dalam
mengkaji sistem alam yang kompleks (Forrester 1998; White dan Engelen 2000;
Sterman 2002; Deal dan Schunk 2004; Elshorbagy et al. 2005; Yufeng dan
ShuSong 2005), seperti wilayah pesisir. Selain itu, sistem dinamik memiliki
kemampuan dalam memahami bagaimana kebijakan (policies) mempengaruhi
sifat sistem. Dengan adanya pemahaman mengenai pengaruh dari kebijakan,
pengambilan keputusan dapat lebih mudah dilakukan dalam selang waktu
simulasi; dan jika didapatkan sifat sistem yang tidak diinginkan, maka dapat
dengan mudah mudah diperbaiki (Forrester 1998 dan 2003).
Berbeda dengan banyak metode lain yang mengkaji permasalahan dengan
pemilahan menjadi bagian-bagian yang lebih kecil dan saling membatasi, konsep
utama sistem dinamik adalah pemahaman tentang bagaimana semua objek dalam
suatu sistem saling berinteraksi satu sama lain. Sistem dinamik merupakan
metode untuk mempelajari dan mengelola sistem umpan balik yang kompleks
(Forrester 1998 dan 2003), seperti wilayah pesisir. Menurut Sushil (1993), sistem
dinamik merupakan struktur metode yang dilatarbelakangi oleh prinsip ilmu
manajerial tradisional, sibernetika, dan simulasi komputer. Ketiga prinsip tersebut
saling bersinergi dan saling menutup kelemahannya masing-masing dalam
memberikan suatu solusi permasalahan secara holistik. Oleh karena itu, sistem
dinamik dapat berfungsi efektif sebagai metode kajian sistem kompleks seperti
dinamika wilayah ekologis (Haie dan Cabecinha 2003; Aurambout et al. 2005;
Elshorbagy et al. 2005), kota dan wilayah (White dan Engelen 2000; Winz 2005;
Yufeng dan ShuSong 2005), wilayah pesisir (Villa et al. 2002; Ramos 2004), dan

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
34
juga aspek manajerial suatu pabrik (Rohmatulloh 2008). Sistem dinamik
berkemampuan dalam mengkaji sistem yang berciri kompleks, dinamik, dan
probabilistik (Sushil 1993; Forrester 1998; Sterman 2002).
Kemampuan sistem dinamik yang demikian, sangat membantu dalam
penyusunan skenario kebijakan dan pengambilan keputusan dalam kajian sistem
kompleks. Dengan demikian dapat dipelajari sifat sistem wilayah pesisir Teluk
Lampung. Kemampuan tersebut memudahkan penyusunan skenario perencanaan
sistem kompleks, yaitu perencanaan tata ruang wilayah pesisir Teluk Lampung.
Dinamika wilayah pesisir Teluk Lampung ditentukan oleh tiga komponen utama
yaitu populasi (penduduk), aktivitas ekonomi, dan ketersediaan ruang. Upaya
pemahaman yang utuh dan terpadu dari ketiga komponen adalah sangat penting
untuk membangun model perencanaan tata ruang wilayah pesisir Teluk Lampung.
Dalam penelitian ini, pendekatan sistem dinamik ditandai oleh dua hal,
yaitu: (1) mencari semua faktor penting yang ada untuk menyelesaikan masalah,
dan (2) membuat model kuantitatif untuk membantu keputusan rasional. Untuk
itu, pendekatan sistem dinamik dilakukan dalam beberapa tahap proses yang
terdiri dari penetapan tujuan dan analisis kebutuhan, formulasi permasalahan,
identifikasi sistem, pemodelan sistem, dan evaluasi. Pelaksanaan semua tahap
tersebut dalam satu kesatuan kerja merupakan analisis sistem (Grant et al. 1997;
Eriyatno 1999).
Pemodelan sistem dinamik dilakukan secara determinsitik, untuk
membatasi kompleksitas metodologi. Pilihan tersebut dilakukan sebagai
kompromi ata keterbatasan ketersediaan data yang diperlukan dalam pemodelan
sistem dinamik.
2.4 Penelitian Par tisipatif
Terminologi partisipasi (paticipation) di dalam penelitian, aktivitas
perencanaan, dan pengambilan keputusan, semakin banyak digunakan pada
berbagai artikel ilmiah. Partisipasi berkonotasi pada keterlibatan berbagai pihak
yang berkepentingan (pemangku kepentingan) terhadap suatu objek. Namun
demikian, makna yang dimaksudkan pada berbagai artikel, seringkali berbeda satu
dengan yang lainnya. Keberbedaan tersebut bersumber dari sifat dan kedalaman

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
35
“keterlibatan” pemangku kepentingan dalam berbagai aktivitas seperti penelitian,
perencanaan, ataupun pengambilan keputusan. Seperti dalam penelitian, terutama
penelitian sosial, secara umum akan melibatkan pemangku kepentingan, baik
sebagai responden, pengamat, ataupun pelaksana (Cornwall dan Jewkes 1995;
Sutherland 1998; Wiber et al. 2004; Walz et al. 2007). Permasalahannya adalah
seberapa jauh keterlibatan pemangku kepentingan, sehingga suatu penelitian dapat
dikategorikan sebagai penelitian partispatif.
Berkaitan dengan kedalaman partisipasi, Bigg (1989 diacu dalam
Cornwall dan Jewkes 1995) menyatakan bahwa partispasi dalam penelitian dapat
dibedakan ke dalam empat kelompok, yaitu:
1) Kontraktual, masyarakat dikontrak ke dalam proyek penelitian, dan
mengambil peran sebagai objek di dalam penelitian, terutama yang
menggunakan percobaan (experiment).
2) Konsultatif, masyarakat ditanya opininya oleh peneliti sebelum dilakukan
suatu intervensi.
3) Kolaboratif, peneliti dan masyarakat bekerja bersama pada suatu proyek
penelitian, namun penelitian tersebut sepenuhnya dirancang, digagas, dan
dikelola oleh peneliti.
4) Kolegiat, peneliti dan masyarakat bekerja bersama sebagai kolega dengan
masing-masing keahlian yang berbeda, di dalam suatu proses
pembelajaran silang (mutual learning), dan masyarakat mempunyai
kontrol terhadap proses tersebut.
Dari keempat kelompok di atas, penelitian kolegiat merupakan tingkat
partisipasi yang paling dalam. Lebih lanjut Cornwall dan Jewkes (1995)
menyatakan bahwa penelitian partisipatif pada dasarnya merupakan bentuk
pengakuan hak masyarakat sebagai pemilik dan sekaligus objek penelitian, serta
memungkinkan masyarakat menyusun agenda-nya sendiri dalam pembangunan.
Dengan demikian, penelitian partisipatif dapat menjadi koridor bagi penyusunan
kebijakan yang bersifat dari bawah ke atas.
Brown et al. (2001) mendefinsikan partisipasi sebagai mengambil bagian
atau terlibat secara aktif dalam suatu proses. Oleh karena itu, sesuatu proses
dikatakan bersifat partisipatif, hanya bila terdapat keterlibatan aktif dari berbagai

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
36
pelaku. Berdasarkan pengalaman penelitian dan pemberdayaan masyarakat di
wilayah pesisir, Brown et al. (2001) memberikan tipologi partisipasi sesuai
dengan tingkat keterlibatan masyarakat, mulai dari yang sangat dangkal (pasif)
sampai pada bentuk partispasi mandiri. Tipologi partisipasi tersebut secara
lengkap disajikan pada Tabel 2.
Tabel 2 Tipologi partisipasi
Bentuk Partisipasi Karakteristik
Partisipasi pasif Masyarakat diberi tahu proses yang akan dilakukan atau proses
yang sedang berlangsung, melalui pemberitahuan tanpa
adanya mekanisme respon.
Partisipasi pemberian
informasi
Masyarakat memberikan informasi atau menjawab pertanyaan
yang diajukan. Masyarakat tidak mempunyai peluang untuk
mempengaruhi proses yang sedang atau akan berlangsung.
Partisipasi melalui
konsultasi
Masyarakat diajak berkonsultasi dan keinginannya didengar,
sehingga proses yang akan atau sedang berlangsung dapat
sedikit dipengaruhi. Akan tetapi dalam pengambilan keputusan
tidak melibatkan masyarakat sama sekali.
Partisipasi untuk
insentif material
Masyarakat berpartispasi hanya untuk tujuan mendapatkan
pangan, uang, atau insentif material lainnya.
Partisipasi fungsional Masyarakat berpartisipasi dengan membentuk kelompok untuk
merumuskan suatu tujuan, dan kelompok atau lembaga
masyarakat tersebut terus terlibat dalam proses yang sedang
atau akan berlangsung.
Partisipasi interaktif Masyarakat berpartisipasi dengan melakukan analisis bersama
untuk mendapatkan penguatan pengetahuan mereka tentang
proses yang akan atau sedang berlangsung, sehingga
masyarakat memiliki pengaruh kuat dalam pengambilan
keputusan.
Partisipasi mandiri
(self mobilization)
Masyarakat mengambil inisiatif independen untuk mengubah
sistem.
Sumber: Brown et al. (2001)
Pengertian pemangku kepentingan (stakeholder) adalah seseorang,
organisasi, atau kelompok yang berkepentingan dengan suatu isu atau sumberdaya
tertentu (Grimble 1998; Brown et al. 2001; Bourgeois dan Jesus 2004; Fedra
2004; Wiber et al. 2004). Pemangku kepentingan dapat sangat berpengaruh,
sedikit berpengaruh, atau bahkan hanya menjadi penerima dampak dari suatu isu
atau proses. Dalam kaitan dengan pengelolaan sumberdaya pesisir, pemangku
kepentingan dapat dikelompokkan berdasarkan pengaruh dan kepentingan yang
dimilikinya, ke dalam tiga kelompok besar, yaitu (Brown et al. 2001):
1) Pemangku kepentingan primer, yaitu kelompok yang hanya memiliki
sedikit pengaruh terhadap suatu pengambilan keputusan pengelolaan

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
37
sumberdaya pesisir, akan tetapi kehidupan mereka sangat dipengaruhi
secara langsung oleh hasil keputusan tersebut. Kelompok ini merupakan
masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir dan mengantungkan
kehidupannya dengan sumberdaya pesisir, yaitu nelayan dan pembudidaya
ikan.
2) Pemangku kepentingan sekunder, yaitu kelompok yang dapat
mempengaruhi pengambilan suatu keputusan pengelolaan sumberdaya
pesisir, akan tetapi kehidupan mereka tidak terpengaruh langsung oleh
keputusan tersebut. Kelompok ini merupakan masyarakat yang tinggal di
wilayah pesisir tetapi tidak secara langsung menggantungkan
kehidupannya dengan sumberdaya pesisir, misalnya pedagang, buruh,
pengusaha, dan lain-lain yang bertempat tinggal di kawasan pesisir, .
3) Pemangku kepentingan eksternal, yaitu individu atau kelompok yang
dapat mempengaruhi pengambilan suatu keputusan pengelolaan
sumberdaya pesisir melalui lobi, akan tetapi kehidupan atau kepentingan
mereka sama sekali tidak berhubungan dengan keputusan tersebut.
Kelompok ini dapat berupa organisasi massa, keagaaman, atau lembaga
swadaya masyarakat (LSM).
Sehubungan dengan penelitian dan pemberdayaan masyarakat di wilayah
pesisir, pelibatan pemangku kepentingan dari kelompok primer menjadi penting,
karena mereka akan menjadi kelompok yang paling dipengaruhi oleh kebijakan
dan perencanaan yang akan dibuat (Brown et al. 2001). Oleh karena itu,
keterwakilan masyarakat nelayan dan pembudidaya ikan dalam perencanaan tata
ruang wilayah pesisir, menjadi penting. Untuk menjaring kebutuhan para
pemangku kepentingan, dibutuhkan alat analisis yang secara efektif mampu
mempertemukan beragam pemangku kepentingan, termasuk pemangku
kepentingan primer di wilayah pesisir Teluk Lampung. Menurut Godet dan
Roubelat (1998) dan Bourgeois dan Jesus (2004), alat analisis yang dapat
memenuhi kriteria tersebut adalah analisis prospektif partisipatif (participatory
prospective analysis, PPA).
Analisis prospektif partisipatif merupakan adaptasi dari berbagai metode
komprehensif yang dikemas dalam suatu kerangka kerja operasional yang

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
38
komprehensif dan cepat. Sifat kognitif dari metode tersebut adalah berupa tipologi
“focus on interactions and consensus building”, yang mampu menghasilkan suatu
konsensus dari interaksi antara pemangku kepentingan, yang dapat digunakan
untuk kepentingan perencanaan Metode ini didasarkan pada beberapa prinsip
yaitu: partisipasi, transparansi, konsistensi, keefektifan, relevansi, dapat diulang,
beralasan, dan peningkatan kapasitas pemangku kepentingan (Godet dan Roubelat
1998; Bourgeois dan Jesus 2004). Tingkat kedalaman pelibatan pemangku
kepentingan dalam analisis prospektif partisipatif, dapat memenuhi tingkat
partisipasi kolegiat sebagaimana perspektif Bigg (1989 diacu dalam Cornwall dan
Jewkes 1995); serta termasuk dalam tipologi partisipasi interaktif menurut Brown
et al. (2001). Secara ringkas prinsip analisis prospektif partisipatif disajikan pada
Gambar 7




















Gambar 7 Prinsip dasar metode analisis prospektif partisipatif
(Bourgeois dan Jesus 2004)

H
a
s
i
l

n
y
a
t
a

d
a
n

c
e
p
a
t
R
e
i
t
e
r
a
s
i
P
e
m
b
e
l
a
j
a
r
a
n
d
a
n

i
n
I
o
r
m
a
s
i

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
39
2.5 Per encanaan Tata Ruang Par tisipatif
Dalam Undang-undang No. 26 tahun 2007, penataan ruang didefinisikan
sebagai suatu sistem proses perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang, dan
pengendalian pemanfaatan ruang. Menurut (Rustiadi et al. 2009), penataan ruang
adalah upaya aktif manusia untuk mengubah pola dan struktur pemanfaatan ruang
dari satu keseimbangan ke keseimbangan baru yang "lebih baik". Sebagai proses
perubahan ke arah kehidupan yang lebih baik, maka penataan ruang secara formal
adalah bagian dari proses pembangunan, khususnya menyangkut aspek-aspek
spasial dari proses pembangunan.
Penataan ruang dibutuhkan karena pentingnya intervensi publik terhadap
kegagalan mekanisme pasar dalam menciptakan pola dan struktur ruang yang
sesuai dengan tujuan bersama. Adanya intervensi publik akan mencegah degradasi
lingkungan (sebagai kegagalan pasar) seperti terjadinya kerusakan sumberdaya.
Penataan ruang perlu dilakukan untuk: 1) optimasi pemanfaatan sumberdaya
(mobilisasi dan alokasi pemanfaatan sumberdaya) guna terpenuhinya efisiensi dan
produktivitas, 2) alat dan wujud distribusi sumberdaya guna terpenuhinya prinsip
pemerataan, keberimbangan dan keadilan, dan 3) menjaga keberlanjutan
pembangunan (Rustiadi et al. 2009).
Pada dasarnya penataan ruang merupakan suatu sistem yang terdiri dari
beberapa sub-sistem yaitu perencanaan, pemanfaatan (implementasi rencana), dan
pengendalian (Rustiadi et al. 2009). Sistem penataan ruang sendiri merupakan
bagian penting dari penyelenggaraan penataan ruang, yaitu berupa pelaksanaan
penataan ruang. Oleh karena itu, penyelenggaraan penataan ruang yang kuat,
hanya akan dimungkinkan bila sub-sistem perencanaan tata ruang telah dilakukan
dengan baik. Secara sederhana sistem penataan ruang disajikan pada Gambar 8,
dan secara struktural, penyelenggaraan penataan ruang disajikan pada Gambar 9.
Sub-sistem perencanaan tata ruang merupakan bagian penting yang
memerlukan berbagai tahapan yang didasari oleh pendekatan-pendekatan tertentu,
namun pada kenyataannya seringkali perencanaan tata ruang menjadi titik lemah
dalam penataan ruang. Secara umum terdapat dua tahap dalam proses perencanaan
yang harus dilakukan secara objektif dan rasional, yaitu: (1) pengumpulan data,
(2) analisis data. Kedua tahap tersebut akan sangat menentukan dalam tahapan

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
40
berikutnya, yaitu: (3) menetapkan kebijakan, (4) implementasi, dan (5)
monitoring. Bila kedua tahapan proses yang pertama tidak dapat dilakukan secara
objektif dan rasional, maka tahapan berikutnya akan menjadi bias dan
menghasilkan kebijakan yang salah (McLoughlin 1970; Chadwick 1971;
Oppenheim 1980; Hall 1996; Taussik 2004; Rustiadi et al. 2009).


















Diketahui bahwa selama ini data merupakan titik lemah dalam
perencanaan, dimana sangat sulit untuk mendapatkan data yang lengkap dan
akurat (Fedra 2004; Håkanson dan Duarte 2008; Martin dan Hall-Arber 2008).
Sistem informasi yang handal seharusnya dapat memberikan data yang berkualitas
bagi proses perencanaan, namun sayangnya justru sistem informasi tersebut belum
tersedia. Data yang ada umumnya hanya bersifat “resmi” seperti yang dikeluarkan
oleh BPS, namun kelengkapan dan kualitasnya sering diragukan.
Ketidaktersediaan data dan informasi yang memadai tersebut merupakan salah
Gambar 8 Sistem Penataan Ruang (Rustiadi et al. 2009)

Pengendalian
Tata Ruang
Perencanaan
Tata Ruang
Implementasi
Rencana
Tujuan

Monitoring, evaluasi
Izin, insentiI dan disinsentiI, pengaturan zonasi dan sanksi
÷ Aliran Tindakan
÷ Aliran InIormasi

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
41
satu permasalahan mendasar yang menjadikan proses perencanaan tata ruang
selama ini menjadi titik lemah dalam penataan ruang.























Di sisi lain proses perencanaan selama ini dilakukan adalah melalui
pendekatan perencanaan rasional, yang didasari pada logika rasional dan teori-
teori. Pendekatan rasional pada dasarnya sangat bersifat ilmiah dan lintas disiplin,
sehingga sangat dipercaya akan mampu menghasilkan suatu perencanaan yang
baik dan komprehensif. Namun demikian, pendekatan rasional membutuhkan
pengetahuan dan keahlian yang lengkap untuk dapat membuat keputusan-
keputusan yang logis dalam menelaah semua alternatif. Pendekatan rasional yang
Gambar 9 Struktur Penyelenggaraan Penataan Ruang (Rustiadi et al. 2009)



A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
42
juga disebut sebagai pendekatan komprehensif, menjadi tidak berarti tanpa
ketersediaan pengetahuan (data dan informasi) yang lengkap, dan akan sulit
menghasilkan suatu perencanaan yang baik. Pada kenyataannya, justru prasyarat
harus tersedianya data dan informasi yang lengkap tersebut tidak dapat dipenuhi.
Oleh karena itu penekanan pada pendekatan rasional semata, juga memberikan
sumbangan signifikan, sehingga menjadikan ”proses” sebagai titik lemah dalam
perencanaan tata ruang. Pada gilirannya, perencanaan yang dihasilkan berkualitas
buruk dan tidak dapat diimplementasikan.
Untuk menanggulangi lemahnya proses perencanaan tata ruang, maka
harus disediakan data dan informasi yang lengkap dan handal dengan cara
menggalinya secara langsung dari pemangku kepentingan. Untuk mengakses data
dan informasi dari pemangku kepentingan, maka pendekatan perencanaan rasional
harus dimodifikasi menjadi lebih bersifat partisipatif dengan melibatkan
pemangku kepentingan, sehingga membentuk suatu perencanaan konsensus.
Dengan demikian, data dan informasi primer yang diperlukan bagi proses
perencanaan akan dapat dipenuhi (Sutherland 1998; Bourgeois dan Jesus 2004;
Fedra 2004; Taussik 2004; Walz et al. 2007; Martin dan Hall-Arber 2008;
Rustiadi et al. 2009; Schumann 2010).
Filosofi dibalik perencanaan tata ruang yang umum dipraktekkan adalah
sangat mengarah pada konsep perencanaan induk tetap (fixed master plan). Dalam
filosofi tersebut perencanaan dipandang sebagai kegiatan produksi rencana-
rencana yang ditunjukkan dengan pernyataan detil kondisi masa depan yang
disusun dalam urutan sekuen yang sederhana, dan akan dicapai dalam waktu
tertentu. Pada kenyataannya pendekatan tersebut dalam banyak hal menemui
kegagalan, karena tingginya kompleksitas masing-masing komponen dan interaksi
yang terlibat di antaranya, sehingga harus selalu direvisi dan disesuaikan dengan
kenyataan (McLoughlin 1970; Chadwick 1971; Oppenheim 1980; Hall 1996).
Pendekatan sistem dalam perencanaan diturunkan dari konsep sibernetika
yang dikembangkan oleh Wiener (1948 in Hall 1996). Dalam pendekatan ini,
fenomena sosial, ekonomi, biologi, dan fisik, dipandang sebagai sistem kompleks
yang saling berinteraksi (McLoughlin 1970; Chadwick 1971; Hall 1996;
O’Connor dan McDermott 1997; Taussik 2004), dengan demikian semua bagian

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
43
sistem dan interaksinya tersebut dapat dipelajari secara tegas sekaligus
menyeluruh. Cara pandang tersebut membuka peluang untuk mengubah prilaku
sistem ke arah tujuan yang diinginkan, melalui mekanisme kontrol tertentu.
Dalam cara pandang sistem, wilayah akan “mengembangkan” diri sesuai
dengan wujud respon dari beragam pengaruh perencanaan tata ruang yang dibuat
(McLoughlin 1970; Chadwick 1971; Walz et al. 2007). Konsep dari perencanaan
dengan pendekatan sistem adalah ide dasar interaksi antara dua sistem paralel
yaitu sistem perencanaan itu sendiri, dan sistem yang ‘akan’ mengontrol
perencanaan yang dibuat (Hall 1996). Keberadaan dua sistem paralel tersebut
membentuk lingkaran (loop), oleh karena itu perencanaan tata ruang dalam
pandangan sistem merupakan suatu proses siklikal (McLoughlin 1970; Chadwick
1971; Hall 1996).
Melalui pendekatan sistem, wilayah pesisir yang kompleks dengan paduan
daratan dan perairan, dapat dipandang sebagai suatu sistem utuh, dengan
komponen utama terdiri atas populasi (penduduk), aktivitas ekonomi, dan
penggunaan ruang (tata ruang). Perilaku sistem dapat dipelajari secara
komprehensif melalui pemodelan sistem, dan dilakukan intervensi yang mendasari
penyusunan perencanaan (Wiber et al. 2004; Shui-sen et al. 2005; Yufeng dan
ShuSong 2005; Wiek dan Walter 2009; Liangju et al. 2010). Dengan demikian,
pendekatan sistem diajukan sebagai suatu pendekatan perencanaan tata ruang
wilayah pesisir yang memadukan ruang daratan dan perairan secara komprehensif.
2.6 Sistem Infor masi Geogr afis
Sistem informasi geografis (SIG) merupakan sistem perangkat keras dan
lunak berbasis komputer, yang digunakan untuk pengumpulan, penyimpanan,
analisis, dan penyebaran informasi tentang area di permukaan bumi (ESRI 1995;
Chrisman 1997). Pada dasarnya SIG merupakan gabungan dari tiga unsur pokok:
sistem, informasi, dan geografis. Dengan penggabungan ketiga unsur pokok
tersebut, SIG akan memberikan “informasi geografis” (Prahasta 2001).
Informasi geografis mengandung pengertian informasi mengenai tempat-
tempat yang terletak di permukaan bumi, pengetahuan mengenai posisi dimana
suatu objek terletak di permukaan bumi, dan informasi mengenai keterangan-

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
44
keterangan (atribut) yang terdapat dipermukaan bumi yang posisinya diberikan
atau diketahui (Chrisman 1997; Prahasta 2001). Sistem informasi geografis
memerlukan data masukan agar dapat berfungsi dan memberikan informasi hasil
analisisnya (Blaschke 2001).
Menurut Prahasta (2001), terdapat tiga komponen yang dapat diperoleh
dari informasi kenampakan geografis yaitu posisi geografis, atribut, dan hubungan
keruangan. Kekuatan utama dari SIG terletak pada kemampuannya memadukan
berbagai jenis data, baik data spasial (yang berkaitan dengan
keruangan/posisi/lokasi) maupun data tekstual/atribut (non-geografis), menjadi
suatu informasi yang dapat membantu memecahkan masalah secara terorganisasi
dalam kaitan keruangan (posisi/lokasi). Adanya SIG memungkinkan beberapa
keperluan yang kompleks dapat dilakukan menjadi lebih mudah dan cepat,
dibandingkan jika dilakukan dengan cara konvensional. Ada tiga tugas utama
yang diharapkan dapat dilakukan oleh SIG yaitu (ESRI 1995; Prahasta 2001):
1) penyimpanan, manajemen dan integrasi data spasial dalam jumlah besar;
2) analisis yang berhubungan secara spesifik dengan komponen data
geografis;
3) mengorganisasikan dan mengatur data dalam jumlah besar, sehingga
informasi tersebut dapat digunakan pemakainya.
Kemampuan SIG dapat ditunjukkan dalam lima bentuk kemampuan
analisis spasial sebagai berikut (ESRI 1995; Prahasta 2001):
1) Menyajikan apa yang terdapat pada suatu wilayah dalam beragam cara,
dilengkapi dengan referensi geografis seperti garis lintang dan bujur.
2) Menyajikan letak suatu aktivitas dalam wilayah sebagai hasil analisis
ruang, misalnya lokasi yang memenuhi kriteria yang diinginkan.
3) Menyajikan perubahan ruang secara temporal atau kecenderungan (trend).
4) Menyajikan hasil analisis spasial yang lebih rumit, seperti dampak spasial
suatu kegiatan tertentu.
5) Menyajikan hasil analisis spasial yang lebih rumit lagi, yaitu berupa
pemodelan yang dapat memadukan informasi spasial dan informasi
lainnya termasuk sosial budaya dan hukum.

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
45
Dengan kemampuan yang tinggi, maka sebagai alat SIG sangat bermanfaat
dalam perencanaan tata ruang wilayah. Informasi yang didapatkan dari
pendekatan sistem dan pemodelan akan dapat diintegrasikan dengan SIG. Peranan
SIG adalah sebagai alat analisis spasial bagi informasi yang dihasilkan dari
pemodelan yang dibangun (Blaschke 2001; Shui-sen et al. 2005; Martin dan Hall-
Arber 2008). Dengan demikian pendekatan sistem dinamik dan pemodelan akan
dapat menyajikan informasi spasial yang diperlukan bagi perencanaan tata ruang
Teluk Lampung.
2.7 Tinjauan Penelitian Ter dahulu
Pendekatan penelitian yang menggunakan sistem dinamik semakin
berkembang dan telah banyak dilakukan (Fedra dan Feoli 1998; Deal dan Schunk
2004). Publikasi penelitian kewilayahan yang menggunakan pendekatan sistem
dinamik sudah cukup banyak ditemukan, terutama dalam studi dinamika dan
perencanaan wilayah. Namun demikian penerapan sistem dinamik dalam
perencanaan wilayah di Indonesia belum banyak dilakukan, padahal perencanaan
wilayah memerlukan suatu metodologi yang komprehensif untuk merangkum
kompleksitas wilayah yang tinggi. Penelitian ini pada dasarnya terinspirasi oleh
kondisi tersebut, dan dengan mengacu pada beberapa penelitian terdahulu dicoba
untuk menerapkan metodologi sistem dalam suatu proses perencanaan tata ruang
wilayah. Secara singkat, penelitian terdahulu yang dan berkaitan dengan rencana
penelitian ini, disajikan pada Gambar 10.
Studi mengenai dinamika wilayah ekologis daerah aliran sungai (DAS)
telah dilakukan oleh Haie dan Cabecinha (2003), Aurambout et al. (2005), dan
Elshorbagy et al. (2005). Dalam kajiannya, Haie dan Cabecinha (2003)
menggunakan perangkat lunak STELLA 5.0 untuk mengembangkan dan
mensimulasikan model kondisi ekosistem pada DAS di Portugal. Hasil kajiannya
menunjukkan bahwa model dinamik yang dikembangkan dapat menggambarkan
ekosistem DAS tersebut secara memuaskan, dan dapat teruji secara statistik
dengan data empiris selama 10 tahun.
Aurambout et al. (2005) mengkaji model spasial dan dinamik
perkembangan wilayah dan tekanan terhadap ekologi, dengan menggunakan

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
46
perangkat lunak STELLA 7.0.1 dan yang diintegrasikan dengan program sistem
informasi geografis yaitu pemodelan spasial lingkungan (SME). Mereka
mendapatkan bahwa penerapan metode tersebut sangat memuaskan untuk
merumuskan kebijakan lingkungan dalam upaya maksimalisasi kehidupan liar
baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Hasil kajian tersebut dapat diterapkan
dalam perancangan perlindungan alam, misalnya detil peletakan koridor satwa.
Elshorbagy et al. (2005) mengkaji keberlanjutan upaya reklamasi suatu
sistem DAS yang telah rusak pasca kegiatan penambangan, dengan menerapkan
sistem dinamik model DAS (SDWM). Dalam kajian tersebut didapatkan bahwa
sistem dinamik dapat sangat membantu dalam menyusun strategi reklamasi untuk
pemulihan kondisi hidrologi, serta penyusunan skenario pengelolaan DAS yang
rusak akibat kegiatan penambangan.
Studi mengenai perencanaan kota dan wilayah dengan menggunakan
pendekatan sistem dinamik telah dilakukan oleh White dan Engelen (2000), Deal
dan Schunk (2004), dan Yufeng dan ShuSong (2005).
White dan Engelen (2000), mengkaji pemodelan sistem dinamik
perencanaan kota dan wilayah dengan menerapkan otomata selular (cellular
automata, CA). Mereka menyatakan bahwa model kota dan wilayah berbasis CA
dapat menghadirkan suatu dinamika penggunaan lahan dengan sangat baik. Dalam
perencanaan kota dan wilayah, sistem tersebut akan sangat membantu.
Deal dan Schunk (2004), mengkaji pemodelan spasial dinamik
transformasi penggunaan lahan dalam kawasan perkotaan kota. Mereka
menunjukkan bahwa sistem dinamik memiliki kemampuan efektif dalam
memodelkan kawasan perkotaan, dan memberikan manfaat yang besar dalam
pemahaman transformasi penggunaan lahan yang membentuk perkembangan
kawasan perkotaan ke perdesaan (urban sprawl).
Yufeng dan ShuSong (2005) mengkaji rencana pengembangan kota
Hsinchu Science Park di Taiwan dengan menggunakan sistem dinamik. Dalam
penelitian tersebut digunakan perangkat lunak STELLA yang diintegrasikan
dengan metode fuzzy Delphi untuk mengakomodasi aspek-aspek ekonomi, sosial,
dan lingkungan. Hasil kajian mereka menunjukkan bahwa pendekatan sistem
dinamik mampu memberikan arahan kebijakan untuk pembangunan kota secara

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
47
berkelanjutan. Secara lebih tajam, hasil simulasi sistem dapat memberikan arahan
strategi pengelolaan ekonomi, sosial, dan lingkungan kota.
Studi mengenai perencanaan wilayah pesisir dengan menggunakan
pendekatan sistem dan analisis spasial telah dilakukan oleh Villa et al. (2002) dan
Ramos (2004). Agak berbeda dengan kajian dinamika wilayah serta perencanaan
kota dan wilayah, perencanaan wilayah pesisir dengan menggunakan pendekatan
sistem masih relatif sedikit, dan lebih terfokus pada perencanaan pengelolaan
kawasan lindung.
Villa et al. (2002) melakukan penelitian perencanaan zonasi daerah
perlindungan laut di Pulau Asinara, Itali. Dalam penelitian tersebut, dilakukan
analisis spasial kriteria ganda yang diintegrasikan dengan GIS. Penelitian
menunjukkan bahwa metodologi spasial mempunyai kemampuan yang
memuaskan dalam hal pengaturan ruang wilayah perlindungan laut, dengan
tingkat perlindungan yang beragam. Hasil penelitian tersebut kemudian berhasil
diterapkan secara operasional dalam zonasi wilayah perlindungan laut di
Perlindungan Laut Nasional Pulau Asinara, Italia.
Ramos (2004) mengkaji pendekatan sistem spasial untuk perencanaan
pengelolaan wilayah pesisir sebagai suatu ekoregional. Penelitian yang dilakukan
merupakan suatu penelitian jangka panjang, yang terintegrasi dengan pelaksanaan
the Sulu-Sulawesi marine ecoregion (SSME), sebuah program kegiatan World
Wide Fund for Nature (WWF) di segi tiga Indonesia, Malaysia, dan Filipina.
Program ditunjang dengan pengembangan sistem the coastal and marine resource
information system (CMARIS) yang mendukung suatu sistem pengambilan
keputusan secara spasial (spatial decision support system, SDSS). Dari hasil
kajian yang dilakukan, Ramos (2004) menyimpulkan bahwa pendekatan sistem
sangat berperan dalam perencanaan wilayah laut dan pesisir, yaitu dalam hal
koleksi, organisasi, akses, dan pengiriman informasi sumberdaya pesisir dan laut,
sehingga secara spasial dapat dirumuskan kebijakan-kebijakan khusus bagi
pengelolaan lingkungan pesisir dan laut.
Gangai dan Ramachandran (2010) mengkaji peran tata ruang dalam
pengelolaan wilayah pesisir. Mereka menunjukkan bahwa tata ruang (sebagai
instrumen hukum) dapat menyelamatkan wilayah pesisir dari penggunaan lahan

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
48
(ruang) eksisting yang tidak konsisten. Hal tersebut dapat menjamin suatu
stabiltas bagi terlaksananya pengelolaan wilayah pesisir yang berkelanjutan.
Berdasarkan beberapa hasil penelitian yang telah ada, tampak bahwa
pendekatan sistem dinamik dalam perencanaan dan pengelolaan wilayah telah
menjadi suatu kecenderungan, karena memiliki kemampuan menyajikan
kompleksitas wilayah. Dengan karakteristik wilayah pesisir yang memilki
kompleksitas tinggi, maka sangat beralasan untuk menerapkan pendekatan sistem
dalam penyusunan perencanaan dan pengelolaannya.






















Dinamika wilayah
ekologis:
1. Haie dan Cabecinha
(2003) mengkaji
pemodelan dinamik
suatu sistem daerah
aliran sungai (DAS).
2. Aurambout et al.
(2005) mengkaji
model spasial dan
dinamik
perkembangan
wilayah dan tekanan
terhadap ekologi
3. Elshorbagy et
al.(2005) mengkaji
keberlanjutan upaya
reklamasi suatu
sistem daerah aliran
sungai (DAS) yang
telah rusak, dengan
menerapkan sistem
dinamik.
Perencanaan kota dan
wilayah:
1. White dan Engelen
(2000), mengkaji
pemodelan sistem
dinamik perencanaan
kota dan wilayah.
2. Deal dan Schunk.
(2004) mengkaji
pemodelan spasial
dinamik transformasi
penggunaan lahan
dalam kawasan
perkotaan kota.
3. Yufeng dan ShuSong
(2005) mengkaji
rencana
pengembangan kota
menggunakan sistem
dinamik
Perencanaan wilayah
pesisir:
1. Villa et al. (2002)
menggunakan analisis
multi kriteria dan
pemodelan spasial
untuk perencanaan
wilayah perlindungan
laut.
2. Ramos (2004)
mengkaji pendekatan
sistem spasial untuk
perencanaan
pengelolaan wilayah
pesisir sebagai suatu
ekoregional.
3. Gangai dan
Ramachandran
(2010) mengkaji
peran tata ruang
dalam pengelolaan
wilayah pesisir.
Penelitian:
Sistem Perencanaan Tata Ruang Wilayah Pesisir:
Studi Kasus Teluk Lampung
Gambar 10 Beberapa penelitian terdahulu yang dirujuk dan berkaitan
dengan penelitian
A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
3 METODE PENELITIAN
3.1 Pendekatan Penelitian
Penelitian menggunakan metodologi sistem dinamik digunakan
berdasarkan pertimbangan kemampuannya menyajikan keterkaitan antar variabel
yang dikaji dan mensimulasikan prilaku sistem bila dilakukan intervensi terhadap
sistem tersebut. Penerapan sistem dinamik dapat membantu dalam penyusunan
skenario kebijakan dan pengambilan keputusan dalam kajian sistem kompleks.
Dengan demikian dapat dipelajari sifat sistem wilayah pesisir Teluk Lampung.
Kemampuan tersebut memudahkan penyusunan skenario perencanaan sistem
kompleks, seperti perencanaan tata ruang wilayah pesisir Teluk Lampung.
Untuk mendapatkan penyajian spasial terhadap skenario perencanaan tata
ruang, hasil simulasi sistem dinamik dikaitkan dengan dengan sistem informasi
geografis (SIG).
3.2 Wilayah Penelitian
Perumusan definisi wilayah pesisir yang diacu dalam penelitian ini
disusun berdasarkan pertimbangan yang telah disajikan pada sub-bab 2.1. Dari
pertimbangan tersebut, lingkup wilayah penelitian meliputi wilayah daratan dan
perairan Teluk Lampung (Gambar 11), yaitu:
1) Wilayah daratan adalah meliputi semua kecamatan pesisir di dalam
administrasi Kota Bandar Lampung (Kecamatan Telukbetung Barat,
Telukbetung Selatan, dan Panjang), Kabupaten Lampung Selatan
(Kecamatan Ketibung, Sidomulyo, Kalianda, Rajabasa, dan Bakauheni),
dan Kabupaten Pesawaran (Kecamatan Padang Cermin dan Punduh
Pidada), yang berbatasan langsung dengan perairan Teluk Lampung.
2) Wilayah perairan adalah Teluk Lampung dengan posisi geografis terletak
antara 105
o
11’-105
o
43’ BT dan 5
o
26’-5
o
59’ LS.
3.3 Ker angka Pemikir an dan Analisis
Pada dasarnya perencanaan tata ruang wilayah pesisir merupakan bagian
dari pengelolaan wilayah pesisir terpadu yang mengandung tiga dimensi yaitu

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
50
sektoral, bidang ilmu, dan keterkaitan ekologis (Dahuri et al. 2001; Kay dan Alder
1999; Gangai dan Ramachandran 2010). Oleh karena itu, pengelolaan wilayah
pesisir terpadu menghendaki kesamaan visi antar pelaku.
Menyadari arti penting visi pengelolaan wilayah pesisir, Pemerintah
Provinsi Lampung telah mempelopori perumusan visi bersama. Visi pengelolaan
wilayah pesisir Lampung yang disepakati antara pemerintah, masyarakat, dan
dunia usaha, dirumuskan sebagai berikut (Pemerintah Provinsi Lampung 2001).

























Gambar 11

PETA WILAYAH
PENELITIAN
8ELAT 8UNDA
Ibukota Kecamatan
Wilayah Penelitian
Ibukota Kab./Kota

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
51
“Terwujudnya pengelolaan sumberdaya wilayah pesisir yang
berwawasan lingkungan dan berkelanjutan yang didukung oleh
peningkatan kualitas sumberdaya manusia, penataan dan penegakan
hukum, serta penataan ruang untuk terwujudnya peningkatan
kesejahteraan rakyat”.
Mengacu pada visi tersebut, strategi pengelolaan wilayah pesisir terpadu di
Provinsi Lampung harus memperhatikan aspek sumberdaya manusia, lingkungan,
hukum, tata ruang, dan kesejahteraan bersama. Oleh karena itu, penataan ruang
wilayah pesisir memiliki peran strategis sebagai salah satu upaya perwujudan visi.
Namun pada kenyataannya telah terdapat permasalahan kompleks di wilayah
pesisir Teluk Lampung, yang meliputi aspek-aspek ekonomi, ekologi, dan sosial.
Jika permasalahan tersebut tidak mendapatkan solusi yang tepat dan cepat, maka
upaya perwujudan visi menjadi semakin sulit dicapai.
Berdasarkan visi sebagai tujuan utama pengelolaan wilayah pesisir,
disusun kerangka pemikiran penelitian. Permasalahan kompleks yang meliputi
aspek-aspek ekonomi, ekologi, dan sosial, bersumber dari lemahnya
penyelengaraan penataan ruang. Seperti diketahui bahwa penyelenggaraan
penataan ruang harus ditopang oleh pilar pengaturan, pengawasan, dan
pelaksanaan penataan ruang. Pelaksanaan penataan ruang menempati posisi
penting dalam penyelenggaran, karena bersentuhan langsung dengan berbagai
dimensi kepentingan masyarakat dan dunia usaha, dan pada dasarnya merupakan
domain pemerintah bersama masyarakat. Pelaksanaan penataan ruang merupakan
suatu sistem proses yang meliputi sub-sistem pengendalian, perencanaan, dan
pemanfaatan ruang. Ketiga sub-sistem tersebut saling berinteraksi dan
menentukan performa sistem secara keseluruhan.
Perencanaan tata ruang sebagai suatu sub-sistem, akan menentukan
performa pelaksanaan penataan ruang, karena perencanaan merupakan titik tolak
bagi pengendalian dan pemanfaatan ruang. Oleh karena itu, penataan ruang hanya
akan berjalan dengan baik bila didasari dengan perencanaan tata ruang yang dapat
memenuhi kebutuhan para pemangku kepentingan dan dapat diimplementasikan
di lapangan. Dengan demikian, perencanaan tata ruang memiliki peran strategis
dalam pengelolaan wilayah pesisir Teluk Lampung secara berkelanjutan.

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
52
































Pendapatan
penduduk rendah
Pencemaran
lingkungan dan
kerusakan
ekosistem pesisir
RTRW belum
partisipatif dan
operasional
Kantung
kemiskinan
Kawasan lindung
dan budidaya
belum jelas
Permukiman
kumuh
RTRW belum
mengakomodasi
peekonomian
masyarakat
RTRW bias darat
dan kota
Konflik
pemanfaatan
ruang
Permasalahan
Ekonomi
Permasalahan
Ekologis
Permasalahan
Sosial
Penyelenggaraan penataan ruang masih lemah
Domain pemerintah:
Pengaturan
Pembinaan
Pengawasan
Domain pemerintah
dan masyarakat:
Pengawasan
Pelaksanaan
Pengendalian
Ruang
Perencanaan Tata
Ruang
Pemanfaatan
Ruang
Visi pengelolaan
wilayah pesisir
Lampung
Ekonomi masyarakat yang berbasis pada sumberdaya pesisir.
Pengembangan ekonomi wilayah pesisir berkelanjutan yang mengakomodasi
kepentingan ekonomi masyarakat dan usaha skala besar, secara berimbang.
Keterkaitan antara aspek ekonomi dan sosial terhadap aspek ekologi dan
kerusakan ekosistem pesisir.
Kondisi ekologis wilayah pesisir yang dikehendaki pada masa mendatang.
Pemetaan berbagai kepentingan stakeholders.
Konflik penggunaan ruang antar pelaku (stakeholders).
Wilayah pesisir sebagai suatu kawasan terpadu yang meliputi daratan dan
perairan.
Belum ada perencanaan
tata ruang yang
komprehensif dan
partisipatif
Komprehensif dan
akomodatif terhadap
kepentingan ekonomi
masyarakat kecil (nelayan)
dan usaha skala besar,
secara berimbang.
Berbasis pada pelestarian
sumberdaya dan ekosistem
wilayah pesisir.
Akomodatif terhadap
kepentingan berbagai
pelaku secara berimbang.
Penguatan
penyelenggaraan
penataan ruang
K
a
j
a
i
a
n

p
e
n
e
l
i
t
i
a
n

m
e
l
a
l
u
i

p
e
n
d
e
k
a
t
a
n

s
i
s
t
e
m

T
u
j
u
a
n

p
e
n
e
l
i
t
i
a
n

I
s
u


u
t
a
m
a

P
e
r
m
a
s
a
l
a
h
a
n

w
i
l
a
y
a
h

p
e
s
i
s
i
r

S
k
e
n
a
r
i
o

p
e
r
e
n
c
a
n
a
a
n

Manfaat
Perlu kajian sistem
Gambar 12 Kerangka pemikiran penelitian

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
53



























Kerangka pemikiran penelitian, dibangun dengan pandangan bahwa
perencanaan tata ruang harus disusun secara komprehensif dan partisipatif dengan
menggunakan pendekatan sistem. Pada akhirnya perencanaan tata ruang yang baik
akan dapat mendukung penguatan penyelenggaraan penataan ruang dan menuju
perwujudan visi sebagai tujuan utama. Secara ringkas kerangka pemikiran
penelitian, disajikan pada Gambar 12.
Gambar 13 Kerangka alur analisis penelitian
Data Atribut
Sekunder: Biofisik
dan Sosial
Ekonomi

RTRW Provinsi dan
Kabupaten / Kota
Citra Satelit
Data Spasial (Peta
Tematik)
Sekunder: Biofisik
dan Sosial
Ekonomi
Interpretasi
Citra Satelit
Penelitian
Lapangan
Basis Data
Isu Tata
Ruang
Pesisir
Indikasi Tata
Ruang
Stakeholders
Analisis Prospektif
Partisipatif
Analisis Sistem
Informasi Geografis
Analisis Ekonomi Wilayah,
Analisis Kewilayahan
Analisis Sistem
Dinamik
Arahan/Rekomendasi Pola dan Struktur
Ruang Wilayah Pesisir Teluk Lampung
Keter-
kaitan

Visi Pengelolaan
Pesisir Lampung

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
54
Untuk melaksanakan penelitian sebagaimana digambarkan dalam
kerangka pemikiran, dibutuhkan berbagai data dan informasi, yang harus
dirangkum dalam suatu kerangka analisis. Kerangka analisis menggunakan
pendekatan sistem dinamik dan partisipatif, yang diintegrasikan dengan sistem
informasi geografis (SIG), ditujukan untuk membangun skenario perencanaan tata
ruang wilayah pesisir Teluk Lampung yang bersifat komprehensif, partisipatif,
dan akomodatif terhadap berbagai kebutuhan pemangku kepentingan. Secara
ringkas kerangka alur analisis penelitian disajikan pada Gambar 13.
3.4 Batas Sistem
Sistem yang dibangun dibatasi oleh lingkungan sistem, yaitu semua
elemen-elemen yang mempengaruhi sistem secara tidak langsung dalam
pencapaian tujuan. Secara fisik sistem dibatasi hanya pada wilayah penelitian,
secara non-fisik sistem dibatasi hanya pada komponen-komponen utama di
wilayah penelitian yaitu populasi, aktivitas ekonomi, serta kebutuhan dan
ketersediaan ruang (Graham 1976 in HPS 1990; Oppenheim 1980; Chadwick
1987; Hall 1996; Fedra 2004; Gee et al. 2004; Gilliland et al. 2004; Taussik 2004;
Martin dan Hall-Arber 2008), serta interaksi di antara komponen tersebut. Aspek
lain di luar ketiga komponen dan interaksinya tersebut, dimasukkan sebagai
lingkungan sistem, antara lain adalah aspek sosial budaya, agama, etnis, kebijakan
pemerintah pusat, perubahan perekonomian akibat resesi, dan lain-lain.
Sub-komponen pengguna ruang di wilayah pesisir yang dimasukkan di
dalam sistem meliputi:
1) Kawasan lindung daratan dan kawasan konservasi perairan
2) Kawasan budidaya daratan (perikanan budidaya pesisir (tambak),
pertanian, pariwisata pantai, permukiman perkotaan dan perdesaan, bisnis
dan industri, dan prasarana wilayah); serta pemanfaatan umum perairan
(perikanan tangkap, perikanan budidaya laut, transportasi laut, dan
kawasan militer TNI-AL).
Secara ringkas komponen sistem dan interaksinya, serta arah kebijakan
dan implikasinya, disajikan pada Gambar 14.


A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
55












Aliran Penyebab Implikasi Kebijakan Arah Kebijakan (1) (2) (3) Keterangan:
Industri
ManuIaktur
Pariwisata
Transportasi
Laut
Perikanan
Tangkap
Perikanan
Budidaya
Pesisir
Perikanan
Budidaya
Laut
Pertanian
Perdagangan
dan
Jasa
Aktivitas
Ekonomi
Kebutuhan
Dan
Ketersediaan
Ruang
Populasi /
Penduduk
Permukiman
Perkotaan dan
Perdesaan
Penggunaan
Ruang Lainnya
Perencanaan
Tata Ruang
Penataan Ruang
Limbah
Domestik
Permukiman
Kumuh
Kemiskinan
Pengangguran Ketersediaan
Tenaga Kerja
Peningkatan
Imigrasi
Pencemaran
Lingkungan
Kerusakan
Sumberdaya
Pesisir
Limbah Domestik,
Pertanian, dan Industri
Perikanan
Tidak Ramah
Lingkungan
KonIlik
Penggunaan
Ruang
Tekanan
Terhadap Ruang
Gangguan
Terhadap
Kawasan
Lindung

Gambar 14 Komponen sistem dan interaksinya, serta arah kebijakan dan implikasinya

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
56
3.5 Tahapan Pendekatan Sistem
Pendekatan sistem dilakukan dalam beberapa tahap proses yang terdiri
dari penetapan tujuan dan analisis kebutuhan, formulasi permasalahan, identifikasi
sistem, pemodelan sistem, dan evaluasi., yang secara ringkas disajikan pada
Gambar 15.
Dalam analisis kebutuhan dilakukan inventarisasi kebutuhan dan opini
segenap pemangku kepentingan yang terlibat, sebagai masukan dalam model.
Inventarisasi kebutuhan dilakukan secara objektif menggunakan metode
prospektif partispatif. Kebutuhan diinventarisasi melalui pendapat pemangku
kepentingan dari pihak yang berkompeten sebagai pelaku dan pakar (expert)
mengenai wilayah Teluk Lampung, dalam suatu forum pertemuan pakar.
Partisipan berasal dari berbagai latar belakang, yaitu meliputi: masyarakat,
pengusaha, institusi pemerintah daerah, perguruan tinggi setempat, dan lembaga
swadaya masyarakat.
Tahap formulasi permasalahan merupakan perumusan permasalahan tata
ruang Teluk Lampung. Tahap identifikasi sistem didasarkan pada komponen
utama yaitu populasi, aktivitas ekonomi, dan ketersediaan ruang, serta interaksi di
antaranya.
Setelah identifikasi, selanjutnya dilakukan pemodelan dan simulasi sistem.
Tahap simulasi akan memberikan informasi mengenai performa model yang
dibangun apakah memuaskan atau tidak, jika tidak maka akan dilakukan
perbaikan yang diperlukan. Pada akhirnya, hasil dari pendekatan sistem akan
memberikan informasi mengenai dinamika komponen penyusun struktur wilayah
Teluk Lampung yaitu ketersediaan ruang, populasi penduduk, dan aktivitas
ekonomi. Selanjutnya dengan bantuan sistem informasi geografis (SIG), informasi
tersebut digunakan dalam analisis spasial guna menyusun berbagai skenario bagi
perencanaan tata ruang wilayah pesisir Teluk Lampung.






A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
57

























3.6 Analisis Pr ospektif Par tisipatif
Pelaksanaan analisis prospektif partisipatif dilakukan melalui temu pakar
(expert meeting), yang dihadiri oleh partisipan. Temu pakar dilakukan pada
tanggal 23 Juli 2009 bertempat di Wisma Tamu Universitas Lampung, Jalan
Sumantri Brojonegoro No.1, Gedong Meneng, Bandar Lampung. Sebelum
dilakukan temu pakar, terlebih dahulu telah dilakukan kontak secara personal


Gambar 15 Tahap analisis sistem dinamik

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
58
kepada masing-masing pakar (perwakilan pemangku kepentingan) untuk
memberikan informasi mengenai materi, tujuan, dan metode dari pertemuan
tersebut.
Pertemuan dihadiri oleh 27 orang pakar, yang meliputi: (1) aparat
Pemerintah Provinsi Lampung, Kota Bandar Lampung, Kabupaten Lampung
Selatan, Kabupaten Pesawaran, dan TNI-AL (Lanal Panjang); (2) nelayan dan
pembudidaya ikan; (3) masyarakat dan pengusaha; dan (4) perguruan tinggi
setempat (Universitas Lampung). Jumlah pakar yang dapat menghadiri pertemuan
tersebut dianggap cukup, sebagaimana pernah dilaksanakan dalam penelitian:
“Crop research and development prospects in Asia and the Pacific” oleh The
centre for alleviation of poverty through secondary crops’ development in Asia
and the Pacific (CAPSA) di Bogor pada tahun 2002, telah dianggap cukup dengan
dihadiri oleh 13 orang pakar (Bourgeois dan Jesus 2004).
Jenis data yang digunakan dalam analisis ini merupakan semua data,
informasi, dan opini yang dikemukakan pakar dalam temu pakar. Adapun dimensi
waktu analisis ditetapkan selama 20 tahun ke depan, dengan mengacu pada UU
No, 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang Analisis data dilakukan secara
simultan dalam pengumpulan data pada saat temu pakar dilaksanakan. Tahapan
analisis disajikan pada Tabel 3.
Uraian tahapan analisis prospektif partisipatif adalah sebagai berikut
(Bourgeois dan Jesus 2004):
Penentuan/definisi sistem dilakukan sebagai tahap awal dalam temu pakar,
dan dilakukan melalui diskusi. Tahap ini penting sebagai pengembangan
eksplorasi masa depan, yang terfokus pada wilayah pesisir Teluk Lampung
(sesuai dengan batas sistem yang telah didefinisikan sebelumnya).
Identifikasi variabel sistem dilakukan melalui brainstorming, yang dimulai
dengan identifikasi variabel yang memiliki pengaruh terhadap susunan dan
evolusi sistem, dari sudut pandang peserta. Untuk menjamin terjadinya
partisipasi yang sama, diterapkan teknik visualisasi menggunakan kartu
berwarna. Partisipan diminta menulis secara bebas variabel-variabel yang
dianggapnya penting, sebanyak satu variabel untuk setiap kartu. Kemudian
kartu dikumpulkan dan dipajang pada papan tulis. Kartu yang berisikan

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
59
opini yang sama persis, dibuang dari pajangan dan diganti dengan satu
kartu pengganti. Dalam hal ini, harus terdapat konsensus dari seluruh
peserta untuk membuang atau mempertahankan kartu yang dipajang
tersebut. Pada tahap ini belum dilakukan diskusi mengenai relevansi dari
masing-masing variabel, baru merupakan opini dan konsensus dari
partisipan.
Tabel 3 Tahapan analisis prospektif partisipatif
No. Tahapan Pendekatan
1. Penentuan/Definisi Sistem Persiapan awal dan diskusi
kelompok
2. Identifikasi variabel sistem Curah pendapat
3. Definisi variabel kunci Diskusi kelompok terstruktur
4. Analisis pengaruh antar variabel Analisis struktural dan kerja
kelompok
5. Interpretasi dari pengaruh dan
ketergantungan antar variabel
Diskusi kelompok yang
didukung dengan grafik dan
tabel hasil analisis
6. Pendefinisian kondisi variabel di masa
datang.
Analisis morfologis dan
diskusi kelompok
7. Pembangunan skenario Curah pendapat
8. Penyusunan implikasi strategis dan
aksi antisipatif
Diskusi terstruktur
Sumber: Bourgeois dan Jesus (2004)
Definisi variabel kunci dilakukan melalui diskusi terstruktur, yang
membahas relevansi dari masing-masing variabel yang telah disepakati
sebelumnya. Aturan sederhana yang digunakan dalam mendiskusikan
kandungan dari opini yang diajukan oleh peserta merupakan variabel atau
bukan, adalah: (1) bukan merupakan sebuah kalimat; (2) tidak berbentuk
negatif; dan (3) secara umum bukan ekspresi fisik. Jika terdapat variabel
yang tidak dapat dinyatakan dalam berbagai kondisi yang berbeda, maka
dianggap sebagai variabel yang tidak relevan. Biasanya suatu kondisi
dideskripsikan dengan menggunakan kata kualifikasi seperti adjektif,
sedangkan variabel bersifat substantif. Teladan sederhana untuk
menentukan variabel relevan dan kondisi yang dapat diidentifikasi, adalah
sebagai berikut:

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
60
o “Hubungan buruk antara petani dan pedagang” bukanlah suatu
variabel; yang dimaksud variabel adalah “Hubungan antara petani dan
pedagang”. Variabel ini dapat mengambil berbagai kondisi di dalam
sistem yang sama, seperti “tidak saling percaya” atau “saling percaya”;
o “Psikologis petani”, adalah variabel tidak relevan, karena tidak dapat
dideskripsikan dalam kondisi yang berbeda-beda.
Dari tahap ini ditetapkan daftar akhir dari keseluruhan variabel sistem,
kemudian variabel didefinisikan. Semua variabel yang sudah ditentukan
dan didefinisikan, langsung dimasukkan dalam paket lembar kerja
perangkat lunak “Microsoft Excel” yang telah diprogram (hak cipta
Bourgeois dan Jesus 2004), untuk analisis selanjutnya.
Analisis pengaruh antar variabel dilakukan melalui analisis struktural dan
kerja kelompok, peserta diminta untuk menganalisis
pengaruh/ketergantungan langsung influence/dependence (I/D) setiap
variabel dengan variabel lainnya, dengan menggunakan pendekatan
valuasi konsensual. Valuasi pengaruh langsung masing-masing variabel
terhadap variabel lainnya, menggunakan skala dari “0=tidak ada
pengaruh” sampai “3 = berpengaruh sangat kuat”. Nilai-nilai tersebut
didiskusikan oleh peserta, dan setelah tercapai kesepakatan, dimasukkan di
dalam matriks I/D. Jumlah valuasi tergantung pada jumlah variabel yang
telah diidentifikasi, jika terdapat n buah maka ada n
2
– n hubungan antar
variabel yang harus didiskusikan dan divaluasi.
Interpretasi hubungan pengaruh antar variabel dilakukan berdasarkan hasil
olahan paket perangkat lunak Microsoft Excel, dengan output berupa tabel
dan grafik.
Interpretasi tabel skor kekuatan variabel global tertimbang, adalah untuk
menentukan peringkat variabel. Variabel yang memiliki skor tertinggi
merupakan variabel terkuat, yang memiliki pengaruh tertinggi dan
ketergantungan terendah.
Grafik pengaruh langsung dan tidak langsung, juga menunjukkan tingkat
kekuatan variabel. Kuadran I (kiri atas) merupakan wilayah variabel
penggerak. Kuadran II (kanan atas) merupakan wilayah variabel kontrol.

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
61
Kuadran III (kanan bawah) merupakan wilayah variabel keluaran, yang
bersifat sangat tergantung dan hanya sedikit pengaruh. Kuadran IV (kiri
bawah) merupakan wilayah variabel marjinal, kelompok ini akan
dikeluarkan dari analisis. Variabel yang berada pada kuadran I dan II
merupakan variabel kuat, dan akan dipilih sebagai variabel penentu dalam
analisis selanjutnya.
Tahap pendefinisian kondisi variabel di masa depan disebut juga sebagai
analisis morfologi, yang bertujuan untuk menjajaki domain masa depan
yang mungkin terjadi, serta mengemukakan alternatif-alternatif yang
relevan dan dapat dipertanggungjawabkan. Untuk masing-masing variabel
yang telah dipilih, peserta diminta mengidentifikasi beberapa kondisi
variabel yang akan terjadi di masa depan, dan fokus terhadap alternatif-
alternatif yang kontras dan saling bebas. Suatu kondisi merupakan sebuah
deskripsi dari variabel di masa depan; dan bukan sebagai ukuran dari
variabel tersebut. Variabel dan kondisi-nya disusun dalam bentuk tabel,
yang menyajikan dasar bagi penyusunan kombinasi untuk melakukan
elaborasi skenario. Peserta juga diminta untuk membuat daftar kombinasi
kondisi yang tidak dapat atau sangat sulit terjadi, kemudian dikeluarkan
dari pilihan untuk membangun skenario. Untuk mempermudah proses
tersebut, masing-masing variabel diberi simbol (misalnya huruf besar) dan
masing-masing kondisi diberi simbol angka.
Tahap pembangunan skenario, dilakukan melalui penyusunan kombinasi
variabel dengan kondisi yang berbeda-beda. Peserta diminta untuk
menyusun sejumlah skenario, dengan menyusun kombinasi kode variabel
dan kondisinya (hurup dan angka).
Penyusunan implikasi strategis dan aksi antisipatif, dilaksanakan dengan
menggunakan skenario yang telah dibangun. Masing-masing skenario
didiskusikan secara terstruktur dalam suatu kerangka yang meliputi
deskripsi skenario, implikasi terhadap varibel kunci lainnya, unsur
strategis (yang dapat mempengaruhi evolusi sistem), dan aksi yang
mungkin dilakukan. Informasi yang dihasilkan merupakan suatu peta jalan

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
62
bagi pemangku kepentingan untuk menghadapi perkembangan dan
ancaman yang mungkin terjadi di masa depan.
Rencana aksi yang dapat disusun oleh para pemangku kepentingan adalah
mempersiapkan diri untuk menghadapi situasi di masa datang (pro-aktif). Selain
itu, eksplorasi kondisi masa datang juga dapat membantu dalam menyiapkan aksi
yang bersifat re-aktif. Melalui identifikasi dan perbandingan skenario, para
pengambil keputusan dan pemangku kepentingan dapat lebih mampu
merencanakan masa depan suatu wilayah. Tingkat kedalaman pelibatan pemangku
kepentingan dalam analisis prospektif partisipatif, dianggap dapat memenuhi
tingkat partisipasi kolegiat sebagaimana perspektif Bigg (1989 diacu dalam
Cornwall dan Jewkes 1995); serta termasuk dalam tipologi partisipasi interaktif
menurut Brown et al. (2001).
3.7 Pemodelan Sistem
Dalam membangun sistem perencanaan tata ruang Teluk Lampung,
dilakukan pengembangan model guna mempresentasikan peubah populasi,
aktivitas ekonomi, dan ketersediaan ruang, serta interaksi di antaranya.
Berdasarkan karakteristik wilayah pesisir yang kompleks dan multidimensi,
ditetapkan penggunaan model simbolik, yang menggunakan persamaan-
persamaan matematis. Perangkat lunak komputer yang digunakan sebagai alat
bantu dalam pemodelan sistem adalah Stella 7.r. dari HPS Inc. (2001).











Sub-Model
Aktivitas
Ekonomi
Sub-Model
Ketersediaan
Ruang

Sub-Model
Populasi
Tenaga Kerja
Lapangan Kerja
Kebutuhan Ruang Kebutuhan Ruang
Penyediaan Ruang Penyediaan Ruang
Gambar 16 Model secara global

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
63
Secara global model menggambarkan interaksi antara komponen populasi,
aktivitas ekonomi, dan ketersediaan ruang yang bersifat timbal balik. Masing-
masing komponen mempunyai gugus formula sendiri-sendiri, namun saling
terkait pada satu atau lebih peubah tertentu. Oleh karena itu, model global disusun
oleh tiga sub-model yang meliputi sub-model populasi, sub-model aktivitas
ekonomi, dan sub-model ketersediaan ruang, yang dikembangkan secara terpisah.
Secara ringkas model global disajikan pada Gambar 16.
3.7.1 Faktor -faktor penyusun model
Sub-model populasi menggambarkan dinamika penduduk (populasi), yang
ditentukan oleh banyak faktor. Faktor-faktor penyusun sub-model populasi adalah
meliputi: jumlah populasi, kelahiran, imigrasi, kematian, emigrasi, angkatan kerja,
fraksi angkatan kerja, fraksi kelahiran, fraksi kematian, nomal imigrasi, normal
emigrasi, pengangguran, pertambahan penduduk, dampak penganggur,
kemudahan tenaga kerja, percepatan imigrasi, dan percepatan emigrasi. Kesemua
peubah berhubungan baik secara langsung maupun tidak, yang diformulasikan
secara numerik. Dari berbagai faktor di atas, dapat disintesis model dengan
menggunakan perangkat lunak Stella.
Sub-model populasi dihubungkan dengan sub-model aktivitas ekonomi
melalui faktor lapangan kerja-pengangguran, dan kemudahan tenaga kerja-
percepatan investasi. Terhadap sub-model ketersediaan ruang, populasi
dihubungkan melalui faktor kendala ruang-percepatan emigrasi, serta
pertambahan penduduk-kebutuhan permukiman dan prasarana.
Sub-model aktivitas ekonomi menggambarkan dinamika perekonomian,
yang dipengaruhi oleh berbagai faktor. Faktor-faktor yang terlibat dalam sub-
model ini meliputi: aktivitas ekonomi (produk domestik regional bruto, PDRB),
pertumbuhan ekonomi, sektor industri, pertumbuhan sektor industri, investasi, laju
investasi, kebangkrutan investasi, sektor perikanan laut, pertumbuhan sektor
perikanan, sektor transportasi laut, pertumbuhan sektor transportasi laut, sektor
pariwisata, pertumbuhan sektor pariwisata, sektor lain, pertumbuhan sektor lain,
kebutuhan tenaga kerja, lapangan kerja, fraksi pertumbuhan sektor industri, fraksi
pertumbuhan sektor perikanan, fraksi pertumbuhan sektor transportasi laut, fraksi

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
64
pertumbuhan sektor pariwisata, fraksi pertumbuhan sektor lain, fraksi
pertumbuhan investasi, tingkat kebangkrutan investasi, dan percepatan investasi.
Sub-model aktivitas ekonomi dihubungkan dengan sub-model populasi
melalui faktor lapangan kerja-pengangguran, dan kemudahan tenaga kerja-
percepatan investasi. Terhadap sub-model ketersediaan ruang, aktivitas ekonomi
dihubungkan melalui peubah percepatan investasi-kendala ruang.
Sub-model ketersediaan ruang menggambarkan dinamika kebutuhan dan
penggunaan ruang yang dipengaruhi oleh berbagai faktor. Faktor-faktor yang
terlibat dalam sub-model ini meliputi: lahan total, kawasan lindung daratan,
konversi kawasan lindung daratan, lahan tersedia, penggunaan lahan perkotaan,
penggunaan lahan perdesaan, penggunaan lahan pertanian, penggunaan lahan lain,
perairan total, perairan tangkap, kawasan lindung perairan, perairan daerah kerja
pelabuhan, perairan daerah kepentingan pelabuhan, alur pelayaran, perairan
kepentingan TNI-AL, perairan untuk pariwisata, perairan tersedia, konversi
kawasan lindung, permukiman per kapita, prasarana per kapita, reklamasi pantai,
degradasi sumberdaya pesisir, fraksi ruang terpakai, kendala ruang, inkonsistensi
tata ruang, dan laju konversi pantai.
Sub-model ketersediaan ruang dihubungkan dengan sub-model populasi
melalui faktor kendala ruang-percepatan emigrasi, serta pertambahan penduduk-
kebutuhan permukiman dan prasarana; sedangkan terhadap sub-model aktivitas
ekonomi melalui peubah percepatan investasi-kendala ruang.
3.7.2 Blok bangunan dasar dan per samaan dalam model
Blok bangunan dasar dalam bahasa Stella yang digunakan adalah meliputi
stok (stocks), aliran (flows), pengubah (converter), penghubung (connectors), dan
awan (sink/source). Masing-masing blok dasar tersebut mempunyai simbol dan
arti sebagai berikut.






Stok merupakan akumulasi dari materi yang
mencerminkan kondisi atau keadaan sistem pada titik
waktu tertentu.



Aliran merupakan aliran materi, sebagai indikasi
aktivitas dalam sistem, dari atau yang atau ke luar stok;
atau dari dan ke awan.

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
65









Semua persamaan yang digunakan dalam pengembangan model bersifat
deterministik. Bentuk persamaan dasar yang digunakan dalam pengembangan
model adalah sebagai berikut:
Per samaan stok
Persamaan stok menghitung akumulasi dari suatu aliran terhadap waktu,
dengan bentuk dasar diberikan pada persamaan berikut (HPS 1990 dan
1994):




Persamaan stock merupakan integral definit yang dibentuk dari aliran dalam
rentang waktu awal (t
0
) sampai waktu akhir (t
n
).
Di dalam model, persamaan stok memiliki bentuk dasar sebagai berikut:
STOCK(t) = STOCK(t - dt) + (INFLOW – OUTFLOW)*dt
Persamaan di atas menyatakan bahwa nilai stok saat ini (t) merupakan
jumlah dari nilai stok di masa lalu (t - dt) ditambah dengan perubahan akibat
aliran yang mempengaruhi stok tersebut selama selang waktu (dt). Lama
waktu (dt) disebut dengan waktu komputasi, atau interval solusi.
Per samaan alir an
Persamaan aliran digunakan untuk menghitung nilai dari suatu aliran masuk
atau keluar dari atau ke dalam stok, dengan persamaan dasar diberikan
sebagai berikut (HPS 1990 dan 1994):

Awan merupakan sumber dari materi yang tidak
didefinisikan, dan juga merupakan tempat mengalirnya
materi yang tidak didefinisikan.

Pengubah merupakan pengkonversi input menjadi
output, dapat mewakili baik materi maupun informasi.

Penghubung merupakan alur informasi sebagai
penghubung antara stok ke pengubah, stok ke aliran,
antaraliran, pengubah ke aliran, atau antarpengubah.
}
=
n
0
t
t
dt flow stock
…………………………….………………….(1)
..…..………(2)

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
66


Persamaan aliran merupakan turunan (diferensial) dari persamaan stok. Di
dalam model, persamaan aliran dapat dibentuk dari beragam persamaan
seperti aditif, multiplikatif, eksponensial, ataupun bentuk lainnya, dengan
input dari pengubah, stok, ataupun aliran yang lain.
Di dalam model, persamaan aliran tidak memiliki bentuk standar tertentu,
dan tergantung pada struktur kebijakan yang ada pada sistem. Panduan
untuk pendefinisian persamaan aliran, adalah:
• Pada umumnya persamaan aliran tidak dapat mengandung unsur dt,
kecuali dalam pemodelan akhir tahun, pemodelan deret waktu, dan
sebagai pembatas.
• Dependensi antar aliran harus dihindari, karena menimbulkan kesalahan
melingkar, yaitu kesalahan pendefinisian sistem akibat ketergantungan
antar variabel yang bersifat siklis, sehingga program tidak dapat
menentukan variabel mana yang dijadikan acuan awal dan simulasi
tidak dapat dijalankan.
Per samaan pembantu
Persamaan pembantu (auxiliary) merepresentasikan komputasi informasi
dalam sistem umpan balik. Persamaan pembantu di dalam model diberikan
oleh blok dasar pengubah, yang dapat merupakan suatu konstanta, ataupun
persamaan yang dapat berbentuk aditif, multiplikatif, eksponensial, ataupun
bentuk lainnya, dengan input dari stok, aliran, ataupun pengubah yang lain.
Dalam melakukan representasi sistem ke dalam persamaan matematis,
persamaan pembantu sulit ditentukan tanpa mengetahui informasi yang
mempengaruhi variabel pembantu tersebut. Sama halnya dengan persamaan
aliran, persamaan pembantu tidak memiliki bentuk standar, namun ada
batasan yang harus diperhatikan :
• Persamaan pembantu tidak dapat mengandung unsur dt pada sisi kanan
persamaan.
• Sebuah peubah pembantu secara umum bergantung pada stok atau
pembantu lainnya.
stock)/dt d flow ( =
.……………………………………….……... (3)

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
67
• Perumusan sekumpulan persamaan pembantu secara simultan, misalnya
susunan peubah pembantu yang membentuk lingkaran tanpa ada stok,
akan menimbulkan pesan kesalahan.
Penundaan
• Dalam sistem informasi-umpan balik, adanya penundaan (delay) akan
menciptakan karakteristik dinamis dari suatu sistem. Terdapat dua
bentuk penundaan, yaitu: penundaan fisik/material dan penundaan
informasi.
3.8 Analisis SIG
Analisis sistem informasi geografis (SIG) dilakukan untuk mendapatkan
penyajian spasial dari skenario perencanaan tata ruang wilayah pesisir Teluk
Lampung. Analisis SIG dilakukan dengan menggunakan bantuan perangkat lunak
komputer Arc/Info dan Arc View dari ESRI (2001).
Tahap analisis dimulai dengan pembentukan basis data yang disusun dari
data atribut dan spasial, serta informasi tata ruang saat ini. Data dan informasi
tersebut dilengkapi dengan interpretasi citra satelit, dan selanjutnya dilakukan
penelitian lapang, untuk validasi dan melengkapi data lapangan. Data dan
informasi dari citra satelit sangat diperlukan, karena dapat menyajikan informasi
kondisi fisik wilayah eksisting secara lengkap dalam satu kesatuan. Citra yang
digunakan adalah Landsat-7 ETM path 123 row 64, tahun 2001 dan 2009.
Tahapan interpretasi citra secara ringkas disajikan pada Gambar 17.
Berdasarkan basis data yang telah dibangun, analisis SIG dilakukan
malalui tahap dijitasi data spasial (peta) yang berasal dari peta tematik berbentuk
cetakan, yang dilengkapi dengan data atribut untuk yang menghasilkan peta
dijital. Peta yang dihasilkan meliputi peta dasar (administrasi) dan tematik (kelas
lereng, penggunaan lahan, batimetri, dan sebagainya). Selanjutnya analisis
dilakukan untuk mendapatkan kawasan lindung. Tahap analisis adalah dengan
melakukan tumpang tindih antarpeta dasar dan tematik, kemudian dilakukan
penyanggaan dengan memasukkan kriteria kawasan lindung baik untuk daratan
maupun perairan.


A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
68



























Setelah didapatkan kawasan lindung, kawasan lain di luar kawasan
lindung merupakan kawasan budidaya (baik pertanian, perkotaan, ataupun
perairan). Kawasan budidaya selanjutnya dianalisis untuk menentukan kesesuaian
bagi berbagai peruntukan ruang kawasan budidaya daratan dan perairan. Tahap
analisis dilakukan dengan cara tumpang tindih antarpeta dasar dan tematik,
kemudian memasukkan kriteria untuk masing-masing kesesuaian peruntukan
ruang.


Gambar 17 Bagan alir interpretasi citra satelit

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
69
Pada akhirnya dari analisis SIG yang diintegrasikan dengan analisis
sistem, didapatkan arahan kebijakan perencanaan tata ruang wilayah pesisir pada
keseluruhan wilayah penelitian yang disajikan dalam bentuk peta, dengan skala
perencanaan tingkat provinsi yaitu minimal 1:250.000. Secara ringkas bagan alir
analisis SIG, disajikan pada Gambar 18.






























Gambar 18 Bagan alir analisis sistem informasi geografis (SIG)

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
70
3.9 Data dan Analisis
Data dan informasi yang dikumpulkan meliputi data biofisik dan sosial
ekonomi, baik yang bersifat spasial maupun atribut yang berhubungan dengan
pemanfatan ruang wilayah pesisir. Secara ringkas, data dan informasi yang
dikumpulkan disajikan pada Tabel 4.
Tabel 4 Data dan informasi yang dikumpulkan
No. Data dan Infor masi Sumber
1. Dokumen RTRW Provinsi
Lampung, Kota Bandar Lampung,
dan Kabupaten Lampung Selatan
Bappeda
2. Peta Perairan skala 1:75.000,
1:25.000, dan 1:20.000
Dishidros TNI-AL
3. Peta Peta land systems, land
suitability, dan 1:250.000.
Peta Lingkungan Pantai Indonesia
Skala 1:250.000.
Peta Rupa Bumi Indonesia Skala
1:250.000.
Bakosurtanal
4. Data hidrooseanografi dan kualitas
perairan Teluk Lampung
Dishidros TNI-AL, PT. Pelindo II,
Bappeda, Bapedalda
5. Data ekosistem utama pesisir,
perikanan, degaradasi sumberdaya,
serta informasi lain yang relevan.
Dinas Perikanan, Bapedalda
6. Dokumen perencanaan dan hasil-
hasil penelitian yang relevan
Bappeda, Bapedalda, PT. Pelindo II,
Dinas Perikanan dan Kelautan.
7. Informasi kepelabuhan, lalu lintas
barang dan manusia, peta alur
pelayaran, kepadatan pelayaran
PT. Pelindo II
8. Demografi dan sosial ekonomi BPS
9. Produk Domestik Regional Bruto
(PDRB) dan perekonomian
wilayah
BPS
10. Investasi dan pertumbuhannya Badan Penanaman Modal Daerah
11. Kepariwisataan BPS dan Dinas Pariwisata
12. Reklamasi pantai dan degradasi
sumberdaya pesisir
Bappeda, Bapedalda, Dinas
Perikanan
13. Kawasan terbangun dan belum
terbangun
Bappeda, Bapedalda, BPN, Dinas
Tata Kota, Analisis SIG
14. Citra satelit LAPAN
15. Kondisi eksisting aspek biofisik
dan sosial ekonomi wilayah
Penelitian lapang; analisis citra satelit
dan ground check
16 Kebutuhan pemangku kepentingan Participatory prospective analysis


A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
71
Sebagian besar data dan informasi yang disajikan pada Tabel 4,
merupakan data dan informasi sekunder. Data dan informasi primer dikumpulkan
dari penelitian lapang dengan melakukan observasi yang meliputi: kondisi sosial
ekonomi wilayah. Secara umum, untuk mendapatkan data primer, dilakukan untuk
pengamatan kondisi sosial ekonomi pada desa nelayan di wilayah pesisir.
3.9.1 Analisis biofisik wilayah
Analisis biofisik wilayah meliputi analisis kesesuaian ruang (lahan dan
perairan) untuk kawasan lindung dan konservasi, serta kawasan budidaya dan
pemanfaatan umum perairan. Alat utama analisis biofisik wilayah adalah sistem
informasi geografis (SIG) yang menggunakan data sekunder (sebagaimana
digambarkan pada Sub-Bab 3.8). Kriteria yang digunakan dalam analisis biofisik
wilayah, disajikan pada Lampiran 5, yang meliputi: kesesuaian kawasan lindung
(daratan) dan kawasan konservasi (perairan) berupa (terumbu karang dan padang
lamun); kesesuaian kawasan budidaya pertanian pangan (tanaman semusim) dan
perkebunan (tanaman tahunan), kawasan budidaya pesisir (tambak), kawasan
bisnis dan industri, kawasan permukiman, dan prasarana wilayah; serta kawasan
pemanfaatan umum (perairan) untuk perikanan budidaya dan perikanan tangkap.
3.9.2 Analisis pemilihan skenar io
Dalam analisis analisis prospektif partisipatif, partisipan menyusun
beberapa skenario yang mungkin terjadi di wilayah Teluk Lampung. Semua
skenario dari partisipan, selanjutnya akan dipresentasikan ke dalam model
dinamik dan disimulasi. Salah satu dari hasil simulasi skenario tersebut,
selanjutnya dipilih yang dianggap paling mampu mengakomodasi kebutuhan
partisipan (pemangku kepentingan), dan dijadikan sebagai dasar dalam kebijakan
pola dan struktur ruang wilayah pesisir Teluk Lampung.
Alat yang digunakan dalam memilih skenario adalah analisis pembuatan
keputusan multikriteria (MCDM), berupa pengambilan keputusan berbasis indeks
kinerja. Indeks kinerja merupakan berbagai kriteria dari suatu sistem, yang diolah
dengan berbagai teknik atau metode perhitungan, sehingga menghasilkan nilai-
nilai numerik sebagai indeks. Indeks tersebut kemudian dijadikan sebagai dasar
bagi pengambilan suatu keputusan. Metode yang digunakan dalam pengambilan

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
72
keputusan berbasis indeks kinerja, adalah indeks kinerja komposit (composite
performance index, CPI), karena dapat menggunakan berbagai kriteria yang tidak
seragam (Marimin 2004). CPI merupakan indeks komposit dari berbagai kriteria,
yang didapat dari pemodelan. Hasil perbandingan kriteria yang ditransformasi
dapat digunakan untuk menentukan penilaian atas peringkat dari berbagai
alternatif.
Formula yang digunakan adalah sebagai berikut:









Keterangan :
A
ij
= nilai alternatif ke-i pada kriteria ke-j
X
ij (min)
= nilai alternatif ke-i pada kriteria awal minimum ke-j
A
(i + 1j)
= nilai alternatif ke-i + 1 pada kriteria ke-j
X
(i + 1j)
= nilai alternatif ke-i + 1 pada kriteria awal ke-j
P
ij
= bobot kepentingan kriteria ke-j
I
ij
= indeks altenatif ke-i
I
i
= indeks gabungan kriteria pada altenatif ke-i
Untuk pengambilan keputusan peringkat nilai alternatif, dilakukan dengan
menggunakan rata-rata nilai alternatif dan simpangan bakunya. Skenario dengan
peringkat nilai alternatif tertinggi (I) merupakan skenario yang akan dipilih.
Penentuan peringkat nilai alternatif adalah sebagai berikut:
1) Peringkat I adalah: Jika nilai alternatif>dari rata-rata nilai alternatif+
simpangan baku;
2) Peringkat II adalah: Jika rata-rata nilai alternatif<nilai alternatif<dari rata-
rata nilai alternatif+simpangan baku;
3) Peringkat III adalah: Jika nilai alternatif<dari rata-rata nilai alternatif.
¿
=
+
+
=
⋅ =

=

=
n
i
ij i
ij ij ij
ij
j i
j i
ij
ij
ij
I I
P A I
X
X
A
X
X
A
1
(min)
) 1 (
) 1 (
(min)
(min)
) (
100
100
…………………..………........….……... (4)
………………………………..……... (5)
………………………….………………….……... (6)
…………………………………..……….……... (7)

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
73
3.9.3 Analisis ekonomi wilayah dan kewilayahan
Kemampuan memacu pertumbuhan suatu wilayah sangat tergantung dari
keunggulan atau daya saing sektor-sektor ekonomi di wilayahnya. Nilai strategis
setiap sektor di dalam memacu menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi
wilayah berbeda-beda. Sektor ekonomi suatu wilayah dapat dibagi dalam dua
golongan, yaitu sektor basis dimana kelebihan dan kekurangan yang terjadi dalam
proses pemenuhan kebutuhan tersebut menyebabkan terjadinya mekanisme ekspor
dan impor antar wilayah. Artinya industri basis ini menghasilkan barang dan jasa,
baik untuk pasar domestik daerah maupun pasar luar wilayah/daerah. Sedangkan
sektor non-basis adalah sektor dengan kegiatan ekonomi yang hanya melayani
pasar di daerahnya sendiri, dan kapasitas ekspor daerah belum berkembang
(Hoover dan Giarratani 1999; Rustiadi et al. 2009). Dalam kaitannya dengan
perencanaan tata ruang, analisis ekonomi wilayah menjadi penting dilakukan
(Rustiadi et al. 2009; Djakapermana 2006).
Analisis ekonomi wilayah dan analisis kewilayahan yang dilakukan
meliputi location quotient (LQ), localization index (LI), specialization index (SI),
dan skalogram. Analisis tersebut, digunakan untuk penggambaran kondisi umum
wilayah, dan juga digunakan dalam penentuan struktur ruang wilayah pesisir
Teluk Lampung.
a. Analisis location quotient (LQ)
Analisis LQ merupakan cara untuk mengetahui kemampuan suatu sub-
wilayah dalam sektor/kegiatan tertentu. Hasil dari analisis ini dapat memberikan
gambaran mengenai perbandingan relatif kemampuan suatu sub-wilayah terhadap
wilayah yang lebih luas (tinggi) dalam sektor/kegiatan tertentu. Analisis ini
dilakukan pada dua tingkat unit analisis, yaitu: (1) tingkat provinsi dengan
wilayah pesisir Teluk Lampung sebagai sub-wilayah dan Provinsi Lampung
sebagai wilayah yang lebih tinggi; serta (2) tingkat kawasan dengan kecamatan
pesisir Teluk Lampung sebagai sub-wilayah dan wilayah pesisir Teluk Lampung
sebagai wilayah yang lebih tinggi. Data yang digunakan adalah Produk Domestik
Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga konstan (ADHK) sembilan sektor tahun
2007.

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
74
Persamaan dalam perhitungan perbandingan relatif nilai LQ adalah sebagai
berikut:


Keterangan:
LQ
ij
= nilai LQ sektor ke-j di sub-wilayah ke-i (wilayah pesisir untuk
tingkat provinsi, atau wilayah kecamatan untuk tingkat kawasan)
X
ij
= produk sektor ke-j di sub-wilayah ke-i (wilayah pesisir untuk
tingkat provinsi, atau wilayah kecamatan untuk tingkat kawasan)
X
i.
= total produk seluruh sektor di sub-wilayah ke-i (wilayah pesisir
untuk tingkat provinsi, atau wilayah kecamatan untuk tingkat
kawasan)
X
.j
= produk sektor ke-j di wilayah yang lebih tinggi (wilayah Provinsi
Lampung untuk tingkat provinsi, atau wilayah pesisir Teluk
Lampung untuk tingkat kawasan)
X
..
= total produk seluruh sektor di wilayah yang lebih tinggi (wilayah
Provinsi Lampung untuk tingkat provinsi, atau wilayah pesisir
Teluk Lampung untuk tingkat kawasan)
Struktur perumusan LQ memberikan beberapa nilai sebagai berikut :
• LQ>1, menunjukan bahwa sektor yang bersangkutan di sub-wilayah
yang diamati memiliki potensi surplus
• LQ<1, menunjukan bahwa sektor yang bersangkutan di sub-wilayah
yang diamati memiliki kecenderungan impor dari wilayah
lain.
• LQ=1, menunjukan bahwa sektor yang bersangkutan di sub-wilayah
yang diamati telah mencukupi.
b. Analisis localization index (LI)
Analisis LI merupakan penghitungan indeks lokalisasi yang
menggambarkan pemusatan relatif suatu aktivitas dibandingkan dengan
kecenderungan total di dalam wilayah. Umumnya indeks ini digunakan untuk
mengetahui persentase distribusi suatu aktivitas tertentu di dalam wilayah (Isard
.. .j
i. ij
ij
/X X
/X X
LQ =
…………………………………..……….……... (8)

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
75
et.al. 1976 diacu dalam Rustiadi et al. 2009). Secara umum analisis ini
digunakan untuk menentukan wilayah mana yang potensial untuk
mengembangkan aktivitas tertentu. Analisis ini dilakukan pada tingkat kawasan
dengan unit analisis adalah kecamatan di pesisir Teluk Lampung sebagai sub-
wilayah dan wilayah pesisir Teluk Lampung sebagai wilayah yang lebih tinggi.
Data yang digunakan adalah PDRB-ADHK sembilan sektor tahun 2007.
Persamaan LI adalah sebagai berikut:



Keterangan:
LI
j
= nilai LI sektor ke-j di wilayah pesisir Teluk Lampung.
X
ij
= produk sektor ke-j di sub-wilayah ke-i (wilayah kecamatan)
X
i.
= total produk seluruh sektor di sub-wilayah ke-i (wilayah
kecamatan)
X
.j
= produk sektor ke-j di wilayah pesisir Teluk Lampung
X
..
= total produk seluruh sektor di wilayah pesisir Teluk Lampung.
Interpretasi nilai indeks adalah sebagai berikut:
• Nilai LI mendekati 0 berarti perkembangan suatu sektor di kecamatan
tertentu cenderung memiliki tingkat yang sama dengan perkembangan
wilayah pesisir Teluk Lampung. Tingkat perkembangan sektor akan
relatif indifferent di seluruh lokasi, atau sektor tersebut mempunyai
peluang yang relatif sama di seluruh lokasi.
• Nilai LI mendekati 1 berarti sektor yang diamati akan cenderung
berkembang memusat di kecamatan tertentu, atau sektor yang diamati
akan berkembang lebih baik jika dilakukan di kecamatan tertentu.
c. Analisis specialization index (SI)
Analisis SI merupakan penghitungan indeks yang menggambarkan
pembagian wilayah berdasarkan sektor-sektor yang ada. Lokasi tertentu menjadi
pusat bagi sektor tertentu. Analisis ini dilakukan pada tingkat kawasan dengan
unit analisis adalah kecamatan di pesisir Teluk Lampung sebagai sub-wilayah dan
wilayah pesisir Teluk Lampung sebagai wilayah yang lebih tinggi. Data yang
¿
=
¦
)
¦
`
¹
¦
¹
¦
´
¦
− =
n
I
i
j
ij
J
X
X
X
X
LI
1
..
.
.
2
1
…………………………………….……... (9)

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
76
digunakan adalah PDRB-ADHK sembilan sektor tahun 2007. Persamaan SI
adalah sebagai berikut:



Keterangan:
SI
i
= nilai SI di sub-wilayah ke-i (kecamatan pesisir Teluk Lampung).
X
ij
= produk sektor ke-j di sub-wilayah ke-i (wilayah kecamatan)
X
i.
= total produk seluruh sektor di sub-wilayah ke-i (wilayah
kecamatan)
X
.j
= produk sektor ke-j di wilayah pesisir Teluk Lampung
X
..
= total produk seluruh sektor di wilayah pesisir Teluk Lampung.
Interpretasi nilai indeks adalah sebagai berikut:
• Nilai SI mendekati 0 berarti tidak ada kekhasan, yang bermakna bahwa
sub-wilayah (kecamatan pesisir) yang diamati tidak memiliki sektor
khas yang relatif menonjol perkembangannya dibandingkan dengan
kecamatan lain.
• Nilai SI mendekati 1 berarti terdapat kekhasan, yang bermakna bahwa
sub-wilayah (kecamatan pesisir) yang diamati memiliki sektor khas
yang perkembangannya relatif menonjol dibandingkan dengan
kecamatan lain.
d. Analisis shift-share
Analisis pergeseran-pertumbuhan (shift-share) ditujukan untuk
menggambarkan pergeseran struktur aktivitas/sektor ekonomi di suatu lokasi (sub-
wilayah) tertentu dibandingkan dengan suatu wilayah referensi yang lebih tinggi,
dalam dua titik waktu. Struktur aktivitas dari analisis ini menggambarkan
kemampuan kompetisi sektor tertentu di suatu wilayah secara dinamis (Hoover
dan Giarratani 1999). Analisis ini dilakukan pada tingkat provinsi dengan unit
analisis adalah wilayah pesisir Teluk Lampung sebagai sub-wilayah dan Provinsi
Lampung sebagai wilayah yang lebih tinggi. Data yang digunakan adalah PDRB-
ADHK sembilan sektor pada dua titik tahun yaitu 2003 dan 2007. Gambaran
kinerja dari analisis ini dapat dijelaskan dari 3 komponen, sebagai berikut:
¿
= ¦
)
¦
`
¹
¦
¹
¦
´
¦
− =
P
j
j
i
ij
i
X
X
X
X
SI
1
..
.
2
1 …………………………………….…….. (10)

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
77
• Komponen laju pertumbuhan total, menggambarkan pertumbuhan atau
pergeseran struktur perekonomian wilayah pesisir Teluk Lampung
yang dipengaruhi oleh pergeseran pertumbuhan perekonomian Provinsi
Lampung.
• Komponen pergeseran proporsional, menunjukkan pertumbuhan sektor
tertentu di wilayah pesisir Teluk Lampung secara relatif, dibandingkan
dengan pertumbuhan seluruh sektor dalam wilayah Provinsi Lampung.
• Komponen pergeseran diferensial, menunjukkan pertumbuhan sektor
tertentu di wilayah pesisir Teluk Lampung dibandingkan dengan
pertumbuhan total sektor tersebut dalam wilayah Provinsi Lampung.
Komponen ini menggambarkan dinamika (keunggulan) sektor tersebut
di wilayah pesisir Teluk Lampung terhadap sektor yang sama di sub-
wilayah lain di Provinsi Lampung.
Persamaan analisis pergeseran-pertumbuhan adalah sebagai berikut:




Keterangan:
S = komponen pertumbuhan total
P = komponen pergeseran proporsional
D = komponen pergeseran diferensial
X.. = nilai produk seluruh sektor dalam wilayah Provinsi Lampung.
X.i = nilai produk seluruh sektor dalam wilayah pesisir Teluk Lampung.
Xij = nilai produk sektor ke-j di wilayah pesisir Teluk Lampung.
t
1
= titik tahun akhir (2007)
t
0
= titik tahun awal (2003)
e. Analisis skalogr am
Analisis skalogram digunakan untuk menentukan hirarki sub-wilayah,
dimana seluruh fasilitas umum yang dimiliki oleh setiap sub-wilayah didata dan
disusun dalam satu matriks. Sub-wilayah yang memiliki jumlah unit dan jumlah
jenis fasilitas yang lebih banyak, akan menempati hirarki yang lebih tinggi
|
|
.
|

\
|
− +
|
|
.
|

\
|
− +
|
|
.
|

\
|
− =
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
SSA
t i
t i
t ij
t ij
t
t
t i
t i
t
t
) 0 (
) 1 (
) 0 (
) 1 (
) 0 (
) 1 (
) 0 (
) 1 (
) 0 (
) 1 (
..
..
..
..
1
S P D
… (11)

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
78
dibandingkan dengan unit wilayah yang lain. Unit analisis yang digunakan adalah
tingkat kecamatan di wilayah pesisir Teluk Lampungsebagai sub-wilayah. Data
yang digunakan adalah data potensi desa (Podes) dari BPS (2008), yang
digabungkan untuk masing-masing kecamatan di wilayah pesisir Teluk Lampung.
Jumlah jenis fasilitas yang dianalisis sebanyak 67 jenis, yang secara lengkap
disajikan pada Tabel Lampiran 13.
Prosedur kerja penyusunan hirarki wilayah kecamatan berdasarkan
fasilitas adalah sebagai berikut:
• Menyusun peubah yang digunakan sebagai penyusun indeks hirarki
dalam bentuk matriks, dengan kecamatan sebagai baris dan fasilitas
sebagai kolom. Dalam analisis ini, semua peubah (berjumlah 67 jenis
fasilitas, disajikan pada Tabel Lampiran 13) adalah berbanding lurus
dengan hierarki wilayah. Semakin besar nilai peubah tersebut
mencirikan wilayah dengan tingkat perkembangan lebih tinggi.
• Tahap selanjutnya adalah menghitung bobot indeks penciri dengan
persamaan berikut:


Keterangan:
I
ij
= bobot indeks penciri untuk sub-wilayah ke-i (kecamatan pesisir di
Teluk Lampung) dan fasilitas ke-j,
Xij
= jumlah fasilitas ke-j yang terdapat di wilayah kecamatan ke-i
(kecamatan pesisir di Teluk Lampung),
X..j
= jumlah fasilitas ke-j yang terdapat di seluruh wilayah kecamatan
pesisir di Teluk Lampung,
a
j
= jumlah kecamatan pesisir di Teluk Lampung yang memiliki
fasilitas ke-j,
n

= jumlah kecamatan di wilayah pesisir di Teluk Lampung (10
kecamatan),
i = 1, 2, ..., n, menunjukkan sub-wilayah (10 kecamatan pesisir di
Teluk Lampung)
j = 1, 2, ..., p, menunjukkan jenis fasilitas (67 jenis).
a X
n X
I
j j
ij
ij
.
=
………………………..…………………………(12)

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
79
• Tahap berikutnya adalah melakukan pembakuan indeks untuk seluruh
peubah, sehingga didapatkan indeks baku dengan persamaan berikut:



Keterangan:
K
ij
= nilai baku indeks hierarki untuk wilayah kecamatan ke-i dan
fasilitas ke-j,
I
ij
= bobot indeks penciri untuk sub-wilayah ke-i (kecamatan pesisir di
Teluk Lampung) dan fasilitas ke-j,
min(I)
j
= nilai minimum indeks yang terdapat pada fasilitas ke-j di
seluruh wilayah kecamatan pesisir Teluk Lampung,
s
j
= simpangan baku pada fasilitas ke-j di seluruh wilayah kecamatan
pesisir Teluk Lampung.
• Tahap berikutnya menjumlahkan indeks baku untuk setiap wilayah
kecamatan (per baris), sehingga diperoleh jumlah indeks pelayanan per
wilayah kecamatan (IPi). Kemudian juga dihitung nilai rata-rata indeks
wilayah kecamatan ( IP ), dan simpangan baku indeks wilayah
kecamatan (s), dengan persamaan sebagai berikut:









Keterangan:
IP
i
= nilai baku indeks pelayanan kecamatan ke-i,
IP = nilai rata-rata indeks pelayanan wilayah kecamatan pesisir Teluk
Lampung,
s
I
I
K
j
j
ij
ij
) min( −
=
……………………………………………(13)
¿
=
=
p
j
ij i
K IP
1
. ……………………………………………(14)
n
IP
IP
i ¿
=
……………………………………………(15)
1
) (
2


=
¿
n
IP IP
s
i
……………………………………(16)

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
80
s = simpangan baku indeks pelayanan wilayah kecamatan pesisir
Teluk Lampung,
n = jumlah wilayah kecamatan pesisir Teluk Lampung (10
kecamatan).
• Tahap paling akhir adalah menetapkan hierarki wilayah kecamatan
berdasarkan nilai indeks pelayanan, yaitu peringkat I, II, dan III,
dengan kriteria sebagai berikut.
1) Peringkat I adalah: Jika IP
i
/ IP + 2s;
2) Peringkat II adalah: Jika IP + 2s > IP
i
/ IP ;
3) Peringkat III adalah: Jika IP
i
< IP .
3.9.4 Metode manual alokasi pola r uang
Untuk menangani keterbatasan kemampuan peneliti dalam pembuatan
program komputer antarmuka antara sistem dinamik dan sistem informasi
geografis (SIG) (yang ditunjukkan oleh “keterkaitan” pada Gambar 13), analisis
dilakukan secara manual. Komponen “keterkaitan” pada kerangka analisis tidak
berlangsung secara otomatis, melainkan dilakukan oleh peneliti berupa
pemasukan data dan informasi dari sistem dinamik ke SIG dan sebaliknya.
Pada metode manual alokasi pola ruang, kebutuhan ruang yang didapatkan
dari analisis sistem dinamik disandingkan dengan kesesuaian ruang yang
didapatkan dari analisis SIG. Dari persandingan tersebut dapat diketahui apakah
secara fisik wilayah pesisir Teluk Lampung dapat memenuhi kebutuhan ruang
yang dikehendaki oleh sistem, sesuai dengan skenario yang dipilih.
Alokasi pola ruang dilakukan pada skala provinsi, yaitu pada tingkat
ketelitian peta dengan skala 1:250.000, yang mengacu pada Peraturan Pemerintah
Nomor 10 Tahun 2000 tentang Tingkat Ketelitian Peta untuk Penataan Ruang
Wilayah. Dalam penetapan alokasi pola ruang, tidak dipertimbangkan aspek
penguasaan/pemilikan lahan/ruang, melainkan hanya mempertimbangkan status
kawasan (seperti kawasan lindung/konservasi, perairan TNI-AL, dan daerah
lingkungan kerja dan kepentingan (DLKr dan DLKp) untuk pelabuhan yang telah
ada penentapannya).

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
81
Distribusi spasial alokasi pola ruang, selanjutnya dilakukan dengan
mengacu pada kesesuaian ruang pada analisis SIG. Alokasi peruntukan pola ruang
dilakukan terutama berbasiskan prinsip kontinum pada pola ruang eksisting yang
telah memenuhi kaidah kesesuaian sebelumnya. Metode yang diterapkan adalah
melakukan tumpang tindih antarpeta pada pola ruang eksisting dan peta
kesesuaian ruang, serta penyanggaan (terutama untuk sempadan sungai dan
pantai).


A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
82








A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
4 KONDISI UMUM DAN ANALISIS WILAYAH
PESISIR TELUK LAMPUNG

4.1 Fisik Wilayah
4.1.1 Luas wilayah
Wilayah pesisir Teluk Lampung yang termasuk di dalam wilayah
penelitian adalah meliputi daratan dan perairan, dengan posisi geografis terletak
antara 104
o
56’-105
o
45’ BT dan 5
o
25’-5
o
59’ LS. Secara administratif, wilayah
penelitian terletak pada Kabupaten Pesawaran, Kota Bandar Lampung, dan
Kabupaten Lampung Selatan. Luas total wilayah daratan adalah 127.902 ha, dan
luas perairan adalah 161.178 ha. Gambaran luas wilayah pesisir Teluk Lampung
disajikan pada Tabel 5 dan Tabel 6.
Tabel 5 Luas daratan wilayah penelitian
No. Kabupaten/Kota Kecamatan Luas (ha)
Persentase
(%)
1 Lampung Selatan Katibung 18.863 14,75
2 Lampung Selatan Sidomulyo 15.900 12,43
3 Lampung Selatan Kalianda 17.983 14,06
4 Lampung Selatan Rajabasa 10.039 7,85
5 Lampung Selatan Bakauheni 5.713 4,47
6 Bandar Lampung Teluk Betung Barat 2.099 1,64
7 Bandar Lampung Teluk Betung Selatan 1.007 0,79
8 Bandar Lampung Panjang 2.116 1,65
9 Pesawaran Padang Cermin 31.763 24,83
10 Pesawaran Punduh Pidada 22.419 17,53
Jumlah 127.902 100,00
Sumber: BPS Kota Bandar Lampung (2008a), BPS Kabupaten Lampung Selatan
(2008a), BPS Kabupaten Pesawaran (2008a)
Tabel 6 Luas perairan wilayah penelitian
No. Kedalaman (m) Luas (ha) Persentase (%)
1 0-20 37.797 23,45
2 20-25 48.172 29,89
3 25-30 32.432 20,12
4 30-50 40.290 25,00
5 50-80 2.369 1,47
6 >80 119 0,07
Jumlah 161.178 100,00
Sumber: Dishidros TNI-AL (1998), Bakosurtanal (2000)


A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
84
4.1.2 Geologi pantai dan sistem lahan
Secara geomorfologis, daratan wilayah pesisir Teluk Lampung tergolong
sebagai pedataran pantai sempit dan perbukitan, dengan batuan dominan meliputi
endapan aluvium dan rawa, batu gamping terumbu, dan endapan gunung api muda
berumur quarter (Qhv). Topografi wilayah yang berbatasan langsung dengan laut
(Teluk Lampung) memiliki kelerengan datar (0-3%), dengan elevasi 0-10 m dari
permukaan laut (dpl); sedangkan wilayah ke arah daratan memiliki kelerengan
beragam mulai dari landai (3-8%) sampai dengan sangat curam (>40%), dengan
elevasi beragam mulai dari 10 sampai dengan >1.000 m dpl. Kelompok relief
pada wilayah ke arah laut tergolong dataran (flat); dan ke arah daratan beragam
yaitu berombak (undulating), bergelombang (rolling), dan berbukit (hummocky,
hillocky, dan hilly) (Wiryawan et al., 1999). Satuan geologi lingkungan wilayah
ke arah pantai meliputi pedataran (GL-1, GL-2, dan GL-5) dan kaki perbukitan
dan pergunungan (GL-3 dan GL-4), yang secara ringkas disajikan pada Tabel 7.
Topografi pesisir Teluk Lampung sangatlah beragam, mulai dari dataran
pantai sampai kawasan perbukitan hingga bergunung, dengan ketinggian
permukaan 0 sampai 1.281 m dpl. Daerah dengan topografi perbukitan hingga
bergunung membentang dari arah utara ke selatan dengan puncak tertinggi pada
gunung Rajabasa di Kabupaten Lampung Selatan, dengan ketinggian 1.280 m dpl;
dan Gunung Ratai di Kabupaten Pesawaran, dengan ketinggian 1.681 m dpl.
Sistem lahan (land system) di wilayah pesisir Teluk Lampung sangat
beragam, mulai dari dataran rawa pantai sampai pada pegunungan terjal.
Berdasarkan Peta Land systems and sand suitability Sumatra, Series RePPProt
1988 (Sheet 1110 Tanjungkarang), dapat diidentifikasi 22 sistem lahan di dalam
wilayah penelitian. Sistem lahan dominan adalah Bukit Balang (BBG) dan
Tanggamus (TGM), yang keduanya merupakan pegunungan dengan kemiringan
lereng yang sangat curam (41-60%). Adapun sistem lahan dataran yang dominan
adalah Sungai Aur (SAR) dan Muara Beliti (MBI), dengan kemiringan lereng 9-
15%. Berdasarkan klasifikasi Soil Taxonomy, tanah di wilayah pesisir Teluk
Lampung meliputi 5 ordo, yaitu Entisols (Fluvaquents, Hydraquents, Sulfaquents,
Troporthents, dan Tropofluvents), Inceptisols (Dystropepts, Humitropepts,
Tropaquepts, Dystrandepts, Eutropepts, dan Hydrandepts), Alfisols (Tropudalfs),

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
85
Ultisols (Tropudults, Tropohumults, dan Paleudults), serta Oxisols (Haplorthox).
Jenis tanah dominan adalah Dystropepts dan Tropudults, yang terutama terdapat
pada sistem lahan BBG, TGM, SAR, dan MBI. Ringkasan informasi mengenai
sistem lahan di disajikan pada Tabel 8, dan secara lengkap pada Lampiran 2.
Adapun sebaran spasial sistem lahan disajikan pada Gambar 19.
Tabel 7 Satuan geologi lingkungan pantai Teluk Lampung
Satuan Geologi
No. Penciri
GL-1 GL-2 GL-3 GL-4 GL-5
1. Morfologi Pedataran
rendah, lereng
0-3%, muara
sungai dan
sekitarnya
Pedataran
rendah
Kaki
perbukitan,
lereng 3-25%
Kaki
gunung
Pedataran
rendah
2. Litologi Aluvium:
lempung, lanau,
dan pasir tufaan
Endapan rawa:
lumpur, lanau
dan pasir, batu
pasir sisipan,
dan batu
lempung
Aluvium:
kerikil,
lempung,
dan sisa
organisme
laut.
Batuan
tersier
breksi,
dasitik, lava,
tufa andesitik
Batuan
quarter
breksi, lava,
tufa,
andesitik-
basaltik
Tufa, batu
apung, batu
lempung,
batu pasir,
batu
gamping
koral
3. Jenis pantai Relief rendah,
melengkung
halus
Relief rendah Relief tinggi Relief
tinggi-
rendah
Relief
rendah
4. Karakteristik Endapan
lumpur, pasir,
lanau setempat,
terdapat koral
Pasir pantai,
sisa
organisme
laut,
berlumpur.
Pasir, kerikil,
kerakal,
bongkah,
batuan dasar
Pasir,
kerikil,
kerakal,
bongkah,
batuan
dasar,
pecahan
koral
Pasir pantai
dan lumpur,
bongkah
batuan
5. Sifat fisik Lumpur lembek,
daya dukung
rendah
Pasir pantai,
putih
kekuningan,
halus-kasar,
daya dukung
rendah
Breksi
berbongkah,
daya dukung
sedang-
tinggi
Daya
dukung
sedang
Pasir putih
kekuningan,
daya
dukung
rendah
6. Proses
geologi
Sedimentasi
muara sungai,
gosong pasir
pantai
Sedimentasi
sungai, dan
abrasi
Runtuhan
bongkah
tebing pantai
Runtuhan
tanah/batuan
di tebing
pantai
Sedimentasi
sungai
7. Air tanah Akuifer
produktif
sedang, intrusi
air asin
Akuifer
potensi
sedang,
muka air
tanah 0-1 m,
payau
Akuifer
produktif
sedang,
muka air
tanah 1-3 m
Air tanah
produktif
dari
pegunungan
Akuifer
produktif
Sumber: Wiryawan et al. (1999)


A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
86
Tabel 8 Ringkasan sistem lahan di wilayah pesisir Teluk Lampung
Luas
No. Simbol Nama Kelompok Tanah
ha %
1 AHK Air Hitam Kanan Dystropepts, Haplorthox,
Tropudults
2.209 1,73
2 BBG Bukit Balang Dystropepts, Humitropepts,
Tropohumults
36.510 28,55
3 BBR Bukit Barangin Dystropepts, Tropudults,
Haplorthox
2.029 1,59
4 BGA Batang Anai Dystropepts, Eutropepts,
Tropudults
2.557 2,00
5 BLI Beliti Tropaquepts, Fluvaquents 382 0,30
6 BMS Bukit Masung Dystropepts, Tropudults,
Troporthents
7.245 5,66
7 BTA Batu Ajan Tropudults, Humitropepts,
Troporthents
1.661 1,30
8 BTK Barong Tongkok Dystropepts, Eutropepts,
Tropudalfs
987 0,77
9 KHY Kahayan Tropaquepts, Fluvaquents 746 0,58
10 KJP Kajapah Hydraquents, Sulfaquents 5.710 4,46
11 KNJ Kuranji Dystropepts, Dystrandepts,
Tropaquepts
4.399 3,44
12 LBS Lubuk Sikaping Tropaquepts, Tropofluvents,
Fluvaquents
527 0,41
13 MBI Muara Beliti Tropudults, Dystropepts,
Haplorthox
10.892 8,52
14 PKS Pakasi Dystropepts, Dystrandepts,
Haplorthox
299 0,23
15 PLB Pidoli-dombang NA 755 0,59
16 SAR Sungai Aur Dystropepts, Haplorthox,
Paleudults
12.593 9,85
17 SKA Sukaraja Tropudults, Paleudults 51 0,04
18 SMD Sungai Medang Tropudalfs, Tropudults 7.709 6,03
19 TGM Tanggamus Dystrandepts, Humitropepts,
Hydrandepts
25.019 19,56
20 TLU Talamau Dystrandepts, Tropudults,
Eutropepts
2.467 1,93
21 TWI Telawi Tropudults, Dystropepts,
Troporthents
2.699 2,11
22 UBD Ulubandar Dystropepts, Dystrandepts,
Troporthents
456 0,36
Jumlah 127.902 100,00
Keterangan: NA = tidak tersedia data
Sumber: Peta land systems and land suitability Sumatra, Sheet 1110
Tanjungkarang Series RePPProt (1988)

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
87


















Gambar 19

PETA SISTEM
LAHAN

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
88
4.1.3 Fisik kimia per air an
Batimetri
Teluk Lampung merupakan salah satu dari dua teluk di ujung paling
Selatan Pulau Sumatera, Kota Bandar Lampung terletak pada pangkal teluk, dan
bagian mulut teluk (arah Selatan-Tenggara) berhadapan langsung dengan Selat
Sunda yang merupakan perairan penghubung antara Laut Jawa di sebelah utara
dan Samudera Hindia di selatan. Deskripsi batimetri Teluk Lampung didasarkan
pada Peta Sumatera-Pantai Selatan, Teluk Kalumbayan hingga Pulau-pulau Tiga
skala 1:75.000 dengan inset Pelabuhan Panjang skala 1:25.000 dan Pelabuhan
Batubara Tarahan skala 1:20.000 (Dishidros TNI-AL 1998).
Dasar laut di sisi utara teluk (pangkal teluk) relatif landai, dengan
kedalaman -5 sampai dengan -20 m LWS. Semakin ke arah selatan, kedalaman
dasar laut semakin meningkat, dan cenderung semakin curam, di Tanjung Tua dan
arah selatan Pulau Legundi (Kabupaten Pesawaran), dasar laut menjadi sangat
curam dengan kedalaman mencapai -100 m LWS pada jarak sekitar 1 km dari
pantai. Pada sisi timur teluk (Kabupaten Lampung Selatan), dasar laut masih
relatif landai, dengan kedalaman terdalam sekitar -40 m LWS, seperti disajikan
pada Gambar 20.
Pasang surut
Deskripsi mengenai pasang surut (pasut) Teluk Lampung didapatkan dari
informasi Bapedalda Prov. Lampung dan PT. TELPP (1999), PT. Pelindo II
Cabang Panjang (2001), serta pengolahan data pasut dari Dishidros TNI-AL
(2003). Karakteristik pasut Teluk Lampung adalah sebagai berikut:
Tipe pasut semi diurnal campuran, yaitu terjadi dua kali pasang dan dua
kali surut setiap harinya. Pasang dan surut pertama akan berbeda dengan
yang kedua, yang biasa disebut sebagai ketidaksamaan harian.
Dalam satu bulan terjadi dua kali pasang tinggi dan dua kali pasang
rendah. Pada saat pasang tinggi maka akan terjadi pasang yang sangat
tinggi dan surut yang sangat rendah. Sedangkan pada saat pasang rendah
akan terjadi pasang dan surut yang sangat kecil.
Pasut di kawasan pantai Teluk Betung, Bandar Lampung mempunyai
kisaran tunggang pasut maksimal sebesar 143,8 cm.

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
89
Satu periode pasut di kawasan pantai Teluk Betung, Bandar Lampung
adalah antara 10 jam hingga 14,5 jam.
Arus dan Sedimen
Arus di Teluk Lampung utamanya dibangkitkan oleh pergerakan massa air
Samudera Hindia dan Laut Jawa. Massa air laut pasang Samudera Hindia dan
Laut Jawa, masuk ke dalam teluk dari arah selatan ke arah utara dengan volume
massa air yang cukup besar. Pulau-pulau yang berada di selatan menyebabkan
terjadinya pembelokan arah massa air, sebagian kecil berbelok ke barat daya (sisi
kiri teluk) dan sebagian besar ke timur laut (sisi kanan teluk) dengan arah akhir
barat daya. Pembelokan gerakan massa air pasang sisi kanan membentur sisi
kanan teluk, dan selanjutnya, terjadi pembelokan dengan arah timur-barat. Pada
waktu air laut surut massa air akan keluar dari teluk (Helfinalis 2000).
Arus di Teluk Lampung terdiri dari arus pasut yang dibangkitkan oleh
pasut, dan arus non pasut yang utamanya dibangkitkan oleh angin. Data mengenai
arus pasut yang diacu dari Bapedalda Prov. Lampung dan PT. TELPP (1999),
disajikan pada Tabel 9.
Tabel 9 Arus pasut di Teluk Lampung
No. Kedalaman Kondisi Pasut V maks (knot) Arah (
o
)
1 0,2 D Surut 0,34 258
Pasang 0,40 344
2 0,5 D Surut 0,26 206
Pasang 0,36 294
3 0,8 D Surut 0,34 103
Pasang 0,34 334
Keterangan: D = kedalaman -16 m, lokasi perairan pantai di Kel. Srengsem,
Kec. Panjang, Kota Bandar Lampung
Sumber : Bapedalda Prov. Lampung dan PT. TELPP (1999)
Berdasarkan hasil kajian pada Atlas Sumberdaya Wilayah Pesisir
Lampung (Wiryawan et al. 1999), iklim di perairan pesisir, terutama Pantai Barat
Lampung dipengaruhi oleh Samudera Hindia yang dicirikan oleh adanya angin
muson dan curah hujan yang tinggi. Angin berhembus dari arah Selatan selama
bulan Mei sampai September, dan dari arah yang berlawanan selama bulan
November sampai Maret. Berlawanan dengan arah angin, arus musim di Pantai
Barat Lampung sepanjang tahun mengalir ke arah tenggara hingga barat daya.

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
90


















Gambar 20

PETA
PERAIRAN

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
91
Kondisi angin musim tersebut mempengaruhi gradien tekanan antara
perairan di barat laut dan tenggara dari pantai barat Sumatera. Kekuatan arus
berkisar antara 0,02-0,87 knot. Pada musim barat antara bulan november hingga
maret, arus mengalir dengan kecepatan 0,52-0,87 knot dan mencapai kecepatan
maksimum pada bulan desember. Arus pada musim barat ini mengalir dengan
tetap menuju ke arah tenggara. Sedangkan arus pada musim timur antara bulan
april hingga oktober melemah dengan kisaran kecepatan 0,02-0,70 knot. Pada
bulan juli arus mencapai minimum, berkisar antara 0,02-0,10 knot.
Pada mulut Teluk Lampung, kekuatan arus rata-rata bulanan berkisar
antara 0,02-0,87 knot, dimana kecepatan maksimum terjadi pada bulan januari dan
februari, dan kecepatan minimum pada bulan maret dan april. Arus rata-rata
bulanan di Selat Sunda ini umumnya mengalir ke arah Samudera Hindia, kecuali
pada bulan maret, agustus, dan oktober. Pada bulan maret, arus mengalir ke timur
laut (dari Samudera Hindia menuju Laut Jawa) dengan kecepatan rata-rata 0,02
knot. Pada bulan agustus dan oktober, arus mengalir ke timur dengan kecepatan
0,45 knot pada agustus dan 0,10 knot pada oktober.
Sebaran sedimen di Teluk Lampung cukup bervariasi mengikuti pola arus
yang terjadi (Helfinalis 2000; Witasari dan Wenno 2000). Hasil penelitian
Helfinalis (2000) di Teluk Lampung, menunjukkan bahwa pada lokasi-lokasi
dasar perairan yang dipengaruhi oleh arus pasut yang cepat akan didominasi pasir;
dan sebaliknya yang dipengaruhi oleh pergerakan arus pasut lemah akan
didominasi sedimen lumpur. Sedimen pasir yang berasal dari aliran sungai akan
diendapkan di sekitar muara sungai, sedangkan lanau dan lempung diendapkan di
dasar perairan lepas pantai.
Gelombang
Informasi gelombang di Teluk Lampung didasarkan pada hasil survei
Dishidros TNI-AL (1994) di Teluk Ratai (bagian dari Teluk Lampung), serta data
pengamatan gelombang dari Bapedalda Prov. Lampung dan PT. TELPP (1999).
Hasil survei Dishidros TNI-AL (1994) menunjukkan bahwa gelombang di
Teluk Ratai pada musim barat memiliki ketinggian antara 0,5-0,75 m, dan pada
saat cuaca buruk dapat mencapai lebih dari 1,5 m. Pada musim timur, tinggi
gelombang antara 0,3-0,6 m. Menurut pencatatan Dishidros TNI-AL antara

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
92
tanggal 8 Januari sampai dengan 16 Februari 1994, menunjukkan tinggi
gelombang berkisar antara 0,2-1,0 m.
Berdasarkan data pengamatan tinggi gelombang maksimum dari
Bapedalda Prov. Lampung dan PT. TELPP (1999), didapatkan informasi
tambahan informasi gelombang Teluk Lampung. Pergerakan gelombang dominan
yang terjadi adalah dari arah tenggara dan selatan dengan persentase kejadian
berturut-turut sebesar 26,48% dan 31,83%. Tinggi gelombang maksimum yang
paling dominan adalah >50 cm dengan persentase kejadian sebesar 58,59%.
Secara ringkas data gelombang disajikan pada Tabel 10.
Arah tenggara merupakan arah dominan berhembusnya angin. Hal ini
terkait dengan orientasi Teluk Lampung yang menghadap ke arah Tenggara.
Dengan kata lain, jika arah angin terbesar adalah dari barat laut misalnya, maka
untuk pembangkitan gelombang di kawasan pantai Teluk Betung Bandar
Lampung, tidak akan berpengaruh banyak. Oleh karena itu, pada pangkal teluk
(Kota Bandar Lampung), gelombang mejadi relatif rendah, disebabkan semakin
dangkalnya kedalaman air (batimetri). Dalam perambatan ke arah pantai,
gelombang akan mengalami proses refraksi, shoaling (pendangkalan), difraksi,
serta refleksi. Proses refraksi merupakan pembelokan arah gelombang untuk
mendekati ke arah tegak lurus terhadap kontur dasar pantai. Hal ini menyebabkan
gelombang yang datang di pantai akan mempunyai orientasi yang mendekati
tegak lurus terhadap garis pantai. Proses pendangkalan adalah berkurangnya
secara berangsur-angsur tinggi gelombang sebagai akibat pendangkalan kontur
laut ke arah pantai. Dengan demikian proses refraksi dan pendangkalan berkait
erat dengan profil pantai.
Tabel 10 Arah dan tinggi maksimum kejadian gelombang
Arah Datang Gelombang
Utara
Timur
Laut
Timur
Teng-
gara
Sela-
tan
Barat
Daya
Barat
Barat
Laut
Jumlah
(%)
Tinggi
Gelombang
H maks
(cm)
Persentase Kejadian (%)
25-30 0,00 0,00 0,00 0,28 0,56 0,28 0,28 0,00 1,41
30-40 0,56 0,00 0,85 2,82 4,23 3,66 0,86 0,00 12,96
40-50 0,26 1,41 1,69 9,58 7,89 3,94 2,25 0,00 27,04
>50 0,00 4,51 7,32 13,80 19,15 9,86 3,94 0,00 58,59
Jumlah (%) 0,85 5,92 9,86 26,48 31,83 7,75 7,32 0,00 100,00
Keterangan : Lokasi perairan pantai di Kel. Srengsem, Kec. Panjang, Kota Bandar Lampung
Sumber: Bapedalda Prov. Lampung dan PT. TELPP (1999)

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
93
Kondisi fisik dan profil pantai terbentuk sebagai akumulasi pengaruh
kondisi-kondisi batas yang ada seperti gelombang, arus dan transportasi sedimen
baik secara langsung maupun tidak langsung terhadap pantai. Pengaruh kondisi-
kondisi batas ini akan menentukan bentuk pantai, keberadaan vegetasi penutup
pantai, kemiringan pantai, dan sebagainya. Proses difraksi adalah proses yang
dialami oleh gelombang jika menemui suatu rintangan. Rintangan tersebut bisa
berupa bangunan pemecah gelombang penghalang akan menjadi kecil dibanding
tinggi gelombang datang. Di Teluk Lampung terdapat banyak pulau dengan
beraneka ragam ukuran. Dengan demikian pulau-pulau tersebut juga berfungsi
sebagai rintangan yang akan menyebabkan terdifraksinya gelombang yang datang
dari laut lepas. Tinggi gelombang yang sampai di pangkal teluk (Bandar
Lampung) tidak akan terlalu besar karena telah tereduksi oleh proses difraksi.
Sedangkan proses refleksi atau pemantulan adalah terpantulnya gelombang
oleh karena mengenai suatu lereng tertentu. Jika pengembangan kawasan pesisir
Bandar Lampung dengan menggunakan tanggul yang berdinding tegak maka
gelombang yang dipantulkan akan relatif besar, sedangkan jika menggunakan
dinding dengan sisi miring maka gelombang yang dipantulkan akan relatif sedikit
dan sebagian besar gelombang akan berubah menjadi gelombang rayapan.
Kualitas air
Kualitas air Teluk Lampung ditunjukkan dengan penggambaran beberapa
parameter yang dirujuk dari berbagai sumber, seperti disajikan pada Tabel 11.
Tabel 11 Kualitas air Teluk Lampung
No. Parameter Satuan Kisaran Nilai Baku Mutu
3)

1 Suhu
o
C 28,0-31,5
1)
alami
2 Salinitas ‰

32-35
1)
alami
2 Padatan tersuspensi (TSS) mg/l

35,0-55,4
2)
<20
3 Oksigen terlarut (DO) mg/l

6,4-7,5
2)
>5
4 Kebutuhan oksigen biologi (BOD) mg/l

22,8-29,2
2)
<20
5 Kebutuhan oksigen kimiawi (COD) mg/l

45,8-75,7
2)
-
Sumber : 1) Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Bandar Lampung (2007); 2) Yusuf
(2005); 3) Kep-Men-LH No. 51 tahun 2004 tentang Baku Mutu Air Laut,
Lampiran III (Baku Mutu Air Laut untuk Biota Laut)
Padatan tersuspensi (TSS) merupakan indikasi beban pencemaran berupa
padatan tersuspensi yang dapat berasal dari berbagai sumber. Pada perairan Teluk
Lampung, padatan tersuspensi dapat berasal dari berbagai sumber seperti limbah

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
94
permukiman (perkotaan), industri, dan suspensi yang dibawa oleh aliran sungai.
Secara umum, TSS perairan Teluk Lampung sudah melampaui ambang batas baku
mutu kualitas air laut untuk biota laut, dan dapat dindikasikan sudah tercemar.
Oksigen terlarut (DO) merupakan indikasi ketersediaan oksigen di dalam
air yang dibutuhkan oleh mahluk hidup. secara umum peraian Teluk Lampung
menunjukkan indikasi DO masih memenuhi prasyarat yang dapat mendukung
kehidupan biota laut.
Kebutuhan oksigen biologi (BOD) dan kimiawi (COD) merupakan
parameter kualitas perairan yang mengindikasikan tingkat pencemaran. BOD dan
COD merupakan jumah oksigen (dalam satuan mg/l) yang diperlukan untuk
mendegradasi (oksidasi) polutan di dalam air secara biologi dan kimiawi. Baku
mutu kualitas air laut untuk biota laut (Lampiran III, Kep-Men-LH No. 51 tahun
2004), hanya mensyaratkan nilai BOD. Perairan yang memiliki BOD <20 mg/l,
dapat dinyatakan sebagai perairan yang mampu mendukung kehidupan biota laut
dengan baik, dan sebaliknya bila nilai BOD sudah melebihi nilai ambang tersebut.
Secara umum terlihat bahwa poerairan Teluk Lampung sudah melampaui ambang
batas baku mutu BOD, dan dapat dindikasikan sudah tercemar.
Untuk mendapatkan gambaran yang lebih lengkap mengenai kualitas air
di perairan Teluk Lampung, maka dilakukan analisis data menggunakan
metode STORET-EPA (United States-Environmental Protection Agency). Pada
metode tersebut kualitas air diklasifikasikan dalam empat kelas, yaitu
(Lampiran I Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor: 115 Tahun
2003):
(1) Kelas A: baik sekali, skor = 0, yaitu memenuhi baku mutu
(2) Kelas B: baik, -1 skor -10, yaitu tercemar ringan
(3) Kelas C: sedang, -11 skor -30, yaitu tercemar sedang
(4) Kelas D: buruk, skor -31, yaitu tercemar berat
Dengan mengacu pada baku mutu kualitas air laut untuk biota laut
(Lampiran III, Kep-Men-LH No. 51 tahun 2004), dilakukan penilaian (skoring)
pada beberapa paramater kualitas air. Hasil analisis Storet disajikan pada Tabel
12, yang menunjukkan bahwa kualitas air Teluk Lampung, baik di pangkal
maupun di mulut teluk tergolong tercemar sedang. Skor nilai pada pangkal dan

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
95
mulut teluk berturut-turut bernilai -19 dan -20. Parameter kualitas air yang
menunjukkan terjadinya pencemaran adalah meliputi kekeruhan, TSS, dan
BOD.
Hasil analisis dengan metode STORET-EPA, semakin mempertegas
bahwa air Teluk Lampung sudah terindikasi tercemar. Oleh karena itu,
pengelolaan perairan Teluk Lampung harus mendapat perhatian yang lebih
serius, dan dilakukan secara terintegrasi dengan pengelolaan wilayah daratan.
Tabel 12 Kualitas air Teluk Lampung berdasarkan Metode STORET
Pangkal Teluk (5°29’22,8” LS
dan 105°15’9,0” BT)
Mulut Teluk (5°50’02,4” LS
dan 105°37’8,8” BT)
No Parameter
Satu-
an
Baku
Mutu*)
Pasang Surut
Rata-
rata
Skor Pasang Surut
Rata-
rata
Skor
Fisika
1 Kekeruhan NTU <5 10,8 4,6 7,7 -4 6,4 6,7 6,5 -5
2 TSS mg/l <20 50,4 55,4 52,9 -5 38,0 35,0 36,5 -5
Kimia
1 pH - 7,0-8,5 7,6 7,7 7,6 0 7,7 7,8 7,8 0
2 Salinitas ‰ 33-34 32,7 35,6 34,1 0 32,6 32,7 32,6 0
3 DO mg/l >5 7,5 7,4 7,4 0 6,8 6,4 6,6 0
4 BOD mg/l <20 29,2 28,4 28,8 -10 24,8 22,8 23,8 -10
5 Amonia mg/l <0,3 <0,05 <0,05 <0,05 0 <0,05 <0,05 <0,05 0
6 Sianida mg/l <0,5 <0,01 <0,01 <0,01 0 <0,01 <0,01 <0,01 0
7 Hg mg/l <0,001 <0,001 <0,001 <0,001 0 <0,001 <0,001 <0,001 0
8 As mg/l <0,012 <0,002 <0,002 <0,002 0 <0,002 <0,002 <0,002 0
9 Ni mg/l <0,05 <0,02 <0,02 <0,02 0 <0,02 <0,02 <0,02 0
Jumlah Skor -19 -20
Keterangan: *) Kep-Men-LH No. 51 tahun 2004 tentang Baku Mutu Air Laut, Lampiran III (Baku
Mutu Air Laut untuk Biota Laut)
Sumber: Yusuf (2005)
4.1.4 Biologi per air an
Ikan
Perairan Teluk Lampung dihuni berbagai jenis ikan, baik demersal
maupun pelagis. Hasil penelitian Pusat Penelitian dan Pengembangan Oseanografi
(2000 dalam Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Lampung 2007)
menunjukkan bahwa di lima lokasi pengamatan di Teluk Lampung didapatkan
7.072 individu dari 31 suku dan 162 jenis ikan, 40 jenis diantaranya merupakan
ikan target (pangan). Kategori “major fish” yang terdiri dari 22 suku dengan 160
jenis. Untuk ikan target terdiri dari 9 suku dan 10 jenis, sedangkan ikan indikator
terdiri dari 1 suku dengan 16 jenis kelimpahan ikan tertinggi terdapat di Pulau
Puhawang sisi barat dengan nilai 1.556 individu. Berdasarkan kategori ikan,

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
96
kelimpahan ikan “major” tertinggi didapatkan di Pulau Puhawang sisi barat,
sedangkan kelimpahan ikan target tertinggi dijumpai di Pulau Tegal sisi barat, dan
kelimpahan ikan indikator tertinggi sebanyak 31 individu ditemukan pada Pulau
Puhawang sisi timur. Jumlah jenis ikan “major” tertinggi dijumpai di Pulau
Legundi sisi timur, sedangkan untuk ikan target dan indikator jumlah jenis
tertinggi dijumpai di Pulau Sebuku pada sisi barat.
Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa ikan yang terdapat pada lima
pulau di Teluk Lampung menunjukkan kondisi yang kurang baik. Kondisi ini
disebabkan banyaknya penangkapan ikan menggunakan cara-cara yang merusak
karang sebagai habitat ikan tersebut. Jenis ikan karang dan ekonomis penting
masih dapat ditemukan, tetapi pada keragaman yang mendekati jarang. Kerusakan
karang juga akan mengakibatkan rendahnya ruang hidup bagi ikan karang.
Terumbu karang dan padang lamun
Hasil penelitian Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Lampung (2007)
menunjukkan bahwa Perairan Teluk Lampung mempunyai ekosistem terumbu
karang yang luas, umumnya tipe terumbu karang di Teluk Lampung adalah jenis
fringing reefs (karang tepi). Pertumbuhan karang secara umum didominasi oleh
karang yang bentuk hidupnya merayap (encrusting), bercabang (branching) dan
lembaran (foliose) terutama dari famili Acroporidae, Pocilloporidae, Poritidae
dan Faviidae.
Kondisi penutupan karang hidup pada 44 lokasi di Teluk Lampung,
tergolong dalam kriteria buruk (rusak) sampai baik. Terumbu karang dalam
kondisi baik terdapat di perairan Pulau Kelagian, Pulau Balak, Tanjung Putus, dan
Pantai Ketapang. Laju penurunan tutupan terumbu karang di perairan Teluk
Lampung pada lokasi tertentu di Pulau Tangkil, Pulau Tegal, Pulau Condong
Darat, Pulau Kelagian, dan Pulau Puhawang selama kurun waktu 8 tahun (1998-
2007) adalah 3% pertahun. Kerusakan terumbu karang Teluk Lampung di
sebabkan oleh: Kegiatan Pemboman dan pemutasan karang untuk mencari ikan
karang, Penambangan karang untuk bahan bangunan, jalan dan perhiasan,
Sedimentasi akibat penebangan hutan dan pembukaan pertambakan dan
Kerusakan karang akibat pembuangan jangkar kapal di pulau-pulau kecil karena
kurangnya pelampung tambat (mooring buoy) dan dermaga.

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
97
Ekosistem padang lamun tersebar di beberapa pantai dan pulau di kawasan
Teluk Lampung. Ekosistem padang lamun menyediakan fungsi ekologis sebagai
pelindung pantai dari gelombang dan berfungsi sebagai filter alami yang menjaga
kualitas perairan supaya tetap jernih, dengan mengendapkan material tersuspensi
dari pelumpuran (siltasi) di daratan. Padang lamun dengan kondisi baik yang
terdapat di kawasan Teluk Lampung menurut Pusat Penelitian dan Pengembangan
Oseanografi (2000 dalam Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Lampung 2007)
adalah pada Pulau tangkil, Pulau Puhawang, Pulau Tegal dan Pulau Legundi
menunjukkan spesies yang beragam dan persentase penutupan lamun yang
bervariasi karena letak, tipe dan substrat perairannya.
Plankton
Hasil penelitian Damar (2003) menunjukkan bahwa komunitas
fitoplankton di perairan Teluk Lampung didominasi oleh diatome (Chaetoceros
danicus, C. cf. debilis dan Pseudonitzschia spp). Sedangkan dinoflagellata dan
cyanophyceae hanya terdapat kurang dari 15%, dengan sebaran tertinggi pada
perairan sekitar muara sungai. Spesies tipikal dari dinoflagellata adalah Ceratium
furca, C. tripos spp., dan Dinophysis spp., serta cyanophyceae terutama adalah
Trichodesmium spp., yang biasa terdapat sekitar lokasi pertambakan di pantai
barat dan timur Teluk Lampung.
Secara umum komunitas zooplankton di Teluk Lampung didominasi oleh
copepoda laut dan protozoa. Jumlah zooplankton terbesar dijumpai pada perairan
sekitar muara-muara sungai, dengan jumlah dapat mencapai lebih dari 50.000
individu/m
3
, jumlah tersebut semakin menurun pada area tengah dan ke luar teluk.
Pola tersebut bersesuaian sebaran fitoplankton, yang mengindikasikan hubungan
erat antara predator (zooplankton) dan mangsa (fitoplankton) (Damar 2003).
Dari analisis plankton dan pasokan nutrien ke perairan, Damar (2003)
menyimpulkan bahwa peningkatan penduduk di wilayah Teluk Lampung telah
dan akan menimbulkan masalah pencemaran (eutrofikasi) perairan. Peningkatan
dan perluasan sistem pengelolaan air limbah merupakan langkah yang harus
segera dilakukan, di samping meningkatkan kesadaran masyarakat untuk menjaga
kelestarian lingkungan perairan Teluk Lampung.


A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
98
Produktivitas primer perairan
Produktivitas primer perairan merupakan laju pembentukan senyawa
organik yang kaya energi dari senyawa anorganik, yang seringkali dianggap sama
dengan laju fotosintesis. Produktivitas primer perairan merupakan parameter
penting yang menunjukkan tingkat kesuburan perairan, dan juga dapat menjadi
indikasi bagi terjadinya pasokan nutrien yang berlebihan (eutrofikasi) perairan.
Acuan produktivitas primer perairan yang utama adalah aktivitas fotosintesis
fitoplankton (Nybaken 1982). Penggambaran produktivitas primer perairan Teluk
Lampung, dilakukan dengan merujuk pada penelitian Damar (2003).
Hasil penelitian Damar (2003) menunjukkan bahwa estimasi produksi
primer tahunan lebih tinggi pada perairan di dekat pantai (kawasan perkotaan),
dan cenderung lebih rendah pada bagian tengah, dan bagian ke arah luar perairan
Teluk Lampung. Di sekitar muara sungai Kota Karang (di Bandar Lampung),
produksi primer tahunan sebesar 196,68 g C m
-2
tahun
-1
, sedangkan pada bagian
tengah dan arah luar teluk, berturut-turut hanya 40,12 g C m
-2
tahun
-
1 dan 30,78 g
C m
-2
tahun
-1
. Berdasarkan tingkat trofik-nya, perairan di dekat pantai Teluk
Lampung diklasifikasikan sebagai mesotrophic, dan perairan bagian tengah dan
arah luar teluk sebagai oligotrophic.
Damar (2003) menyimpulkan bahwa produksi primer tahunan fitoplankton
perairan Teluk Lampung dipengaruhi oleh pasokan nutrien dan intensitas
penyinaran matahari.
Mangrove
Penyebaran hutan mangrove di wilayah pesisir Teluk Lampung terdapat
pada kawasan pulau-pulau kecil dan di sepanjang pantai yang umumnya
digunakan untuk pemukiman dan pertambakan. Hasil penelitian CRMP (1998a)
menunjukkan bahwa mangrove yang terdapat di pesisir Teluk Lampung tersebar
mulai dari wilayah pantai sampai pulau kecil dengan jumlah dan keragaman yang
tinggi. Pusat Penelitian dan Pengembangan Oseanografi (2000 diacu dalam Dinas
Perikanan dan Kelautan Provinsi Lampung 2007) menyebutkan bahwa terdapat 27
jenis mangrove dan termasuk dalam 17 marga yang terdapat di pulau kecil dan
sepanjang pantainya. Secara umum mangrove yang dijumpai pada pulau-pulau
kecil adalah jenis Rhizopora spp. dengan ketebalan 100 m. Pada kawasan pantai

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
99
yang merupakan daerah pemukiman, tempat wisata dan pertambakan, hutan
mangrove yang dijumpai tinggal memiliki ketebalan <50 m, karena sudah
dikonversikan sehingga diperlukan penanaman kembali.
Hasil penelitian CRMP (1998a) juga mengungkapkan bahwa pada
kawasan mangrove yang terdapat di Teluk Lampung memiliki luas sekitar 700 ha.
Hasil penelitian Zieren (1998 diacu dalam Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi
Lampung 2007) menunjukkan bahwa pada tahun 1970-an luas mangrove kawasan
ini sekitar 1.000 ha. Penurunan kawasan magrove dapat diindikasikan turunnya
luas kawasan mangrove disebabkan konversi kawasan mangrove menjadi
pemukiman, tempat wisata dan pertambakan. Pemanfaatan mangrove pada tahun
1970-an hanya untuk penyangga dan pagar rumah serta kayu bakar. Pada tahun
1990-an mulai terjadi konversi besar-besaran menjadi tambak dan tempat wisata.
4.2 Kependudukan
4.2.1 Jumlah, kepadatan, dan per tumbuhan penduduk
Jumlah penduduk di dalam wilayah penelitian pada tahun 2007 adalah
sebesar 585.557 orang, atau sekitar 7,81% dari jumlah penduduk dan menempati
wilayah seluas 3,62% dari Provinsi Lampung. Jumlah penduduk terbanyak
terdapat di Kabupaten Lampung Selatan, kemudian Kota Bandar Lampung. Dari
segi kepadatan penduduk, wilayah Bandar Lampung merupakan wilayah terpadat,
yaitu Kecamatan Telukbetung Barat 26 orang/ha, Telukbetung Selatan 108
orang/ha, dan Panjang 29 orang/ha; sedangkan wilayah Kabupaten Pesawaran
(Kecamatan Punduh Pidada) adalah yang terjarang, yaitu hanya 1 orang/ha.
Kondisi tersebut menujukkan distribusi penduduk wilayah pesisir Teluk Lampung
tidak merata, dan hanya terkonsentrasi di Kota Bandar Lampung sebanyak
224.420 orang, Kecamatan Kalianda di Kabupaten Lampung Selatan sebanyak
82.382 orang, dan Kecamatan Padang Cermin di Kabupaten Pesawaran sebanyak
93.017 orang. Informasi sebaran jumlah dan kepadatan penduduk, disajikan pada
Gambar 21.
Pertumbuhan penduduk wilayah pesisir Teluk Lampung lebih tinggi
dibandingkan dengan wilayah Provinsi Lampung. Rata-rata pertumbuhan
penduduk Provinsi Lampung tahun 1999-2007, adalah sebesar 1,26%. Dalam

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
100
kurun waktu yang sama, pertumbuhan penduduk pesisir Teluk Lampung yang
direpresentasikan oleh Kota Bandar Lampung dan Kabupaten Lampung Selatan,
berturut-turut adalah 1,35% dan 2,10% (BPS Provinsi Lampung 2008a; BPS
Bandar Lampung 2008a; BPS Lampung Selatan 2008a; BPS Pesawaran 2008a).
Informasi mengenai komponen pertumbuhan penduduk di wilayah penelitian,
disajikan pada Tabel 13.
















Tabel 13 Komponen pertumbuhan penduduk tahun 2007
No. Komponen Pertumbuhan Persentase (%)
1 Kelahiran 1,30
2 Kematian 0,24
3 Imigrasi 1,72
4 Emigrasi 0,46
Total pertumbuhan penduduk 2,32
Sumber: BPS Pusat (2008)
Informasi pertumbuhan penduduk menunjukkan indikasi bahwa wilayah
Teluk Lampung memiliki daya tarik yang besar, sehingga sebagian dari
pertambahan penduduk berasal dari imigrasi. Hasil kajian data potensi desa (BPS,
2008) menunjukkan bahwa pertumbuhan penduduk di wilayah penelitian sampai
Gambar 21 Distribusi jumlah dan kepadatan penduduk wilayah pesisir Teluk
Lampung (BPS Bandar Lampung, 2008a; BPS Lampung Selatan,
2008a; BPS Pesawaran, 2008a)
10
30
50
70
90
110
130
P
d
g
.

C
e
r
m
i
n
P
d
h
.

P
i
d
a
d
a
T
l
b
.

B
a
r
a
t
T
l
b
.

S
e
l
a
t
a
n
P
a
n
j
a
n
g
K
a
t
i
b
u
n
g


S
i
d
o
m
u
l
y
o


K
a
l
i
a
n
d
a


R
a
j
a
b
a
s
a


B
a
k
a
u
h
e
n
i


Pesawaran Bandar Lampung Lampung Selatan
P
e
n
d
u
d
u
k


(

r
i
b
u


o
r
a
n
g

)
0
20
40
60
80
100
120
K
e
p
a
d
a
t
a
n


(

o
r
a
n
g

/

h
a

)
Jumlah Penduduk Kepadatan

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
101
tahun 2007 adalah sebesar 2,32%; dan komponen imigrasi yang masuk ke wilayah
penelitian adalah sebesar 1,72%.
4.2.2 Tenaga ker ja
Tenaga kerja merupakan bagian dari penduduk yang berusia lebih dari 15
tahun, yang aktif bekerja dalam kegiatan perekonomian, dan atau yang bersedia
bekerja. Di dalam wilayah penelitian, jumlah penduduk yang berusia lebih dari 15
tahun pada tahun 2007 adalah berjumlah 402.719 orang (68,78% dari jumlah
penduduk). Dari jumlah tersebut, sebanyak 302.139 orang merupakan angkatan
kerja. Tingkat pengangguran (angkatan kerja yang mencari kerja) adalah sejumlah
10.435 orang (3,45% dari angkatan kerja). Informasi mengenai tenaga kerja di
wilayah penelitian, disajikan pada Tabel 14.
Tabel 14 Penduduk usia lebih dari 15 tahun di wilayah pesisir
Teluk Lampung tahun 2007
No Uraian
Jumlah
(orang)
Terhadap usia
>15 tahun
(%)
Terhadap
penduduk
(%)
Bekerja 291.704 72,43 49,82
Mencari kerja 10.435 2,59 1,78
1 Angkatan
kerja
Jumlah 302.139 75,02 51,60
Sekolah 40.973 10,17 7,00
Lainnya 59.607 14,80 10,18
2 Bukan
angkatan
kerja Jumlah 100.580 24,98 17,18
Jumlah 402.719 100,00 68,78
Sumber: BPS Prov. Lampung (2001a, 2001b, 2008a), Dinas Tenaga Kerja Prov.
Lampung (2005), BPS Pusat (2008)
Angkatan kerja yang bekerja di dalam wilayah penelitian, terbanyak pada
lapangan usaha pertanian (tanaman pangan, perkebunan, peternakan, dan
kehutanan) sebesar 46,60%. Lapangan usaha kedua yang banyak menyerap tenaga
kerja adalah jasa, yaitu 19,12%. Sektor jasa, banyak menyerap tenaga kerja di
wilayah perkotaan, di kecamatan Telukbetung Selatan, Telukbetung Barat,
Panjang, dan Kalianda. Adapun lapangan usaha yang khas wilayah pesisir yaitu
perikanan merupakan penyerap tenaga kerja sebanyak 11.000 orang (4,04%).
Informasi mengenai lapangan usaha penyerap tenaga kerja di wilayah penelitian,
disajikan pada Tabel 15.

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
102
Tabel 15 Lapangan usaha pekerja di wilayah pesisir
Teluk Lampung tahun 2007
No
.
Lapangan Usaha
Jumlah
(orang)
Persentase
terhadap
pekerja (%)
Persentase
terhadap
penduduk (%)
1 Pertanian 135.945 46,60 23,22
2 Perikanan 11.771 4,04 2,01
3 Industri Pengolahan 13.897 4,76 2,37
4 Perdagangan 28.766 9,86 4,91
5 Jasa 55.761 19,12 9,52
6 Angkutan 11.263 3,86 1,92
7 Lainnya 34.301 11,76 5,86
Jumlah 291.704 100,00 49,82
Sumber: BPS Prov. Lampung (2001a, 2001b, 2008a), Dinas Tenaga Kerja
Prov. Lampung (2005), BPS Pusat (2008)
4.2.3 Keluar ga dan keluar ga miskin
Jumlah keluarga di wilayah pesisir Teluk Lampung pada tahun 2007
adalah sebanyak 134.337 keluarga. Dari jumlah tersebut, sebanyak 70.611
keluarga (52,56%) merupakan keluarga miskin, yang didekati sebagai keluarga
pra-sejahtera dan sejahtera-1. Data tersebut mengindikasikan bahwa kemiskinan
masih merupakan permasalahan utama yang mewarnai kondisi sosial wilayah
pesisir Teluk Lampung.
Di sisi lain, kemiskinan yang cukup dominan, berpengaruh terhadap
kemampuan masyarakat menyediakan kebutuhan akan rumah. Dari jumlah
keluarga yang ada, ternyata hanya terdapat 127.192 rumah, yang berarti terdapat
kekurangan rumah untuk sekitar 7.145 keluarga di wilayah pesisir Teluk
Lampung. Jumlah bangunan rumah tersebut, juga didominasi oleh rumah semi
permanen dan tidak permanen (71.749 unit rumah). Informasi mengenai jumlah
keluarga dan bangunan rumah di wilayah penelitian, disajikan pada Tabel 16.
Tabel 16 Jumlah keluarga dan bangunan rumah di wilayah pesisir
Teluk Lampung tahun 2007
No. Uraian Satuan Jumlah
1 Keluarga keluarga 134.337
2 Keluarga miskin (pra-sejahtera dan sejahtera-1) keluarga 70.611
3 Rumah permanen unit 55.443
4 Rumah semi permanen unit 37.784
5 Rumah tidak Permanen unit 33.965
Sumber: BPS Pusat (2008)

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
103
4.2.4 Rumah tangga per ikanan
Wilayah pesisir Teluk Lampung merupakan tempat tinggal dan sumber
mata pencaharian bagi nelayan dan pembudidaya ikan. Pada tahun 2007 di
wilayah pesisir Teluk Lampung tercatat sebanyak 2.336 rumah tangga perikanan
(RTP). Jumlah RTP terbanyak adalah di Kota Bandar Lampung (Kecamatan
Teluk Betung Barat dan Teluk Betung Selatan), yaitu sebanyak 1.760 RTP (55%
dari Teluk Lampung), seperti disajikan pada Gambar 22. Konsentrasi jumlah RTP
di Kota Bandar Lampung, disebabkan oleh lebih tersedianya infrastruktur yang
dibutuhkan nelayan seperti pelabuhan perikanan dan sarana penunjangnya.
















Sebaran RTP berkorelasi dengan produksi perikanan. Pada Kecamatan
Teluk Betung Barat dan Teluk Betung Selatan, jumlah RTP mencapai 55%,
dengan jumlah produksi sebesar 33%. Yang menarik adalah di Kecamatan Padang
Cermin dan Punduh Pidada, dengan jumlah RTP hanya sekitar 10% RTP, namun
produksi ikan segar mencapai 31%. Hal ini merupakan indikasi bahwa produksi
ikan segar yang tinggi tidak hanya berasal dari tangkapan, melainkan juga hasil
budidaya yang banyak terdapat di kecamatan Padang Cermin dan Punduh Pidada.
Gambar 22 Jumlah rumah tangga perikanan (RTP) dan produksi ikan segar di
wilayah pesisir Teluk Lampung tahun 2007 (BPS Bandar Lampung,
2008a; BPS Lampung Selatan, 2008a; BPS Pesawaran, 2008a)
0
100
200
300
400
500
600
700
800
900
1000
K
a
t
i
b
u
n
g


S
i
d
o
m
u
l
y
o


K
a
l
i
a
n
d
a


R
a
j
a
b
a
s
a


B
a
k
a
u
h
e
n
i


T
e
l
u
k

B
e
t
u
n
g
B
a
r
a
t
T
e
l
u
k

B
e
t
u
n
g
S
e
l
a
t
a
n
P
a
n
j
a
n
g
P
a
d
a
n
g
C
e
r
m
i
n
P
u
n
d
u
h
P
i
d
a
d
a
Lampung Selatan Bandar Lampung Pesawaran
R
u
m
a
h

t
a
n
g
g
a

p
e
r
i
k
a
n
a
n


(

R
T
P

)
0
2
4
6
8
10
12
14
P
r
o
d
u
k
s
i

i
k
a
n

s
e
g
a
r



(

r
i
b
u

t
o
n

)
RTP Produksi I kan Segar (ton)

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
104
4.3 Ekonomi Wilayah
4.3.1 Pr oduk domestik r egional br uto (PDRB)
Penggambaran PDRB wilayah penelitian didapatkan dari pemecahan data
PDRB Kabupaten Lampung Selatan, Pesawaran, dan Kota Bandar Lampung,
dengan menggunakan alokator relevan. Alokator yang digunakan untuk memecah
data PDRB kabupaten dan kota menjadi masing-masing kecamatan di wilayah
pesisir, adalah meliputi luas wilayah, jumlah penduduk, luas penggunaan lahan
dan produksi pertanian, produksi perikanan, serta jumlah dan sebaran prasarana
dan sarana wilayah. Hasil pemecahan PDRB kabupaten dan kota dengan
menggunakan alokator tersebut, secara lengkap disajikan pada Tabel 17 dan
Tabel 18.
PDRB wilayah pesisir Teluk Lampung dari tahun 2003-2007,
menunjukkan perkembangan yang cukup tinggi, baik berdasarkan harga berlaku
(ADHB) maupun berdasarkan harga konstan (ADHK). Pangsa PDRB wilayah
pesisir Teluk Lampung terhadap provinsi pada tahun 2007 adalah 10,63% ADHB
dan 10,26% ADHK. Pangsa di atas 10% tersebut menunjukkan bahwa peran
wilayah pesisir Teluk Lampung cukup besar bagi perekonomian Provinsi
Lampung, mengingat rasio luas wilayah dan jumlah penduduk terhadap provinsi
berturut-turut hanya 3,62% dan 8,03%.
Pertumbuhan ekonomi wilayah pesisisr Teluk Lampung lebih tinggi
daripada Provinsi Lampung. Dalam kurun waktu 2004-2007, pertumbuhan
wilayah pesisir di atas 5%, dan bahkan mendekati 7,5% pada tahun 2006. Dalam
kurun waktu yang sama pertumbuhan ekonomi tertinggi Provinsi Lampung hanya
mencapai 6% yaitu pada tahun 2007, sedangkan wilayah pesisir pada tahun
tersebut tumbuh mendekati angka 7%. Informasi mengenai pertumbuhan ekonomi
wilayah pesisir dan provinsi, disajikan pada Gambar 23.
4.3.2 Str uktur per ekonomian
Struktur perekonomian wilayah pesisir Teluk Lampung dapat
digambarkan dari pangsa masing-masing sektor terhadap PDRB, yang disajikan
pada Gambar 24. Terlihat bahwa perekonomian wilayah pesisir masih sangat
tergantung dengan sektor primer, yaitu perikanan dan pertanian, secara berturut-

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
105
turut pada tahun 2007 pangsa masing-masing sebesar 21,00% dan 10,26% ADHB
serta 16,64% dan 14,40% ADHK. Namun demikian, sektor sekunder yaitu
industri pengolahan juga menunjukkan pangsa yang besar terhadap PDRB, yaitu
mencapai 14,68% ADHB dan 14,67% ADHK.
Dilihat dari pertumbuhan sektor-sektor (seperti disajikan pada Tabel 17),
tampak bahwa sektor pertanian relatif semakin menurun. Sedangkan pertumbuhan
sektor perikanan, industri pengolahan, dan angkutan laut semakin meningkat.
Kecenderungan tersebut mengindikasikan bahwa struktur perekonomian wilayah
pesisir Teluk Lampung sedang mengalami transformasi lebih bertumpu pada
sektor sekunder yaitu industri pengolahan dan angkutan laut, dengan tetap
didukung oleh sektor primer wilayah pesisir yaitu perikanan.





















Gambar 23 Pertumbuhan ekonomi Provinsi Lampung dan wilayah pesisir Teluk
Lampung (BPS Prov. Lampung 2008a dan 2008b; BPS Bandar
Lampung 2008a dan 2008b; BPS Pesawaran 2008a dan 2008b; BPS
Lampung Selatan 2008a dan 2008b)
3,5
4,5
5,5
6,5
7,5
2004 2005 2006 2007
P
e
r
t
u
m
b
u
h
a
n

e
k
o
n
o
m
i


(

%

)
Provi nsi Lampung Pesi si r Tel uk Lampung

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
106
Tabel 17 PDRB wilayah pesisir Teluk Lampung per lapangan usaha
Atas Dasar Harga Berlaku (ADHB) Rp juta Atas Dasar Harga Konstan (ADHK) Rp juta
No. Lapangan Usaha
2003 2004 2005 2006 2007 2003 2004 2005 2006 2007
1 Perikanan 550.732 589.398 613.594 1.013.883 1.359.718 379.555 388.423 443.595 524.682 558.073
2 Angkutan laut dan penyeberangan 161.366 170.713 203.960 277.851 331.690 123.704 130.463 134.128 148.659 157.176
3 Pariwisata 77.742 89.954 97.418 106.187 146.996 63.457 66.739 69.715 71.439 73.614
4 Pertanian 508.513 552.726 548.895 593.447 664.188 431.943 452.325 455.466 460.447 482.817
5 Pertambangan dan penggalian 39.510 44.678 47.579 52.572 54.250 37.834 38.945 38.548 37.510 38.069
6 Industri pengolahan 455.461 487.604 537.801 750.216 950.184 371.899 385.794 407.436 454.720 491.885
7 Listrik dan air bersih 32.400 38.434 47.103 55.294 59.055 15.864 17.195 14.852 13.497 14.178
8 Bangunan 190.870 207.748 240.371 321.473 369.632 160.448 164.586 169.951 171.670 177.738
9 Perdagangan 397.929 431.129 443.338 585.055 681.736 350.859 361.541 369.406 384.321 412.802
10 Pengangkutan dan komunikasi 295.855 311.710 390.609 493.954 665.864 220.719 240.932 257.939 268.226 288.218
11 Keu.angan, persewaan, dan jasa prsh. 253.189 327.907 362.088 402.847 476.773 189.457 237.579 263.013 297.440 344.337
12 Jasa-jasa 441.021 473.751 533.026 576.957 714.452 283.231 290.247 299.981 305.866 314.408
PDRB wilayah pesisir 3.404.587 3.725.752 4.065.781 5.229.737 6.474.538 2.628.969 2.774.769 2.924.030 3.138.478 3.353.313
Sumber: BPS Bandar Lampung (2008a, 2008b), BPS Lampung Selatan (2008a, 2008b), BPS Pesawaran (2008a, 2008b)
Tabel 18 PDRB wilayah pesisir Teluk Lampung per kecamatan
Atas Dasar Harga Berlaku (ADHB) Rp juta Atas Dasar Harga Konstan (ADHK) Rp juta
No. Kecamatan
2003 2004 2005 2006 2007 2003 2004 2005 2006 2007
1 Katibung 226.206 250.904 275.628 345.150 413.380 177.374 184.696 195.013 204.505 218.144
2 Sidomulyo 223.357 245.997 258.138 304.857 358.226 182.215 190.041 194.539 200.122 212.916
3 Kalianda 345.329 378.100 411.029 523.659 633.934 274.134 285.099 301.130 321.773 346.057
4 Rajabasa 133.160 145.461 148.847 207.756 253.779 101.735 104.608 114.054 125.945 134.836
5 Bakauheni 260.535 278.009 318.940 431.946 501.541 191.564 200.525 207.082 223.757 238.201
6 Padang Cermin 336.006 367.455 384.432 517.982 630.331 259.766 268.133 288.328 314.650 337.322
7 Punduh Pidada 183.570 200.747 203.451 282.016 343.884 142.337 146.305 158.658 174.172 186.639
8 Telukbetung Barat 346.015 371.175 408.958 523.070 691.073 253.799 269.878 279.878 299.777 316.052
9 Telukbetung Selatan 761.566 844.176 940.186 1.188.482 1.502.761 587.036 635.621 668.233 715.442 769.069
10 Panjang 588.842 643.728 716.171 904.820 1.145.628 459.008 489.863 517.114 558.334 594.077
PDRB wilayah pesisir 3.404.587 3.725.752 4.065.781 5.229.737 6.474.538 2.628.969 2.774.769 2.924.030 3.138.478 3.353.313
Sumber: BPS Bandar Lampung (2008a, 2008b), BPS Lampung Selatan (2008a, 2008b), BPS Pesawaran (2008a, 2008b)

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
107


















4.3.3 Sektor ekonomi basis
Penggambaran sektor ekonomi basis dilakukan melalui penyajian nilai LQ
wilayah pesisir Teluk Lampung terhadap wilayah Provinsi Lampung. Nilai LQ
dapat memberikan indikasi efisiensi relatif wilayah, serta terfokus pada substitusi
impor yang potensial atau produk dengan potensi ekspansi ekspor. Sektor
ekonomi basis mempunyai peranan penggerak utama, dimana setiap perubahan
kenaikan atau penurunan mempunyai efek pengganda terhadap perekonomian
wilayah (Rustiadi et al. 2009). Kriteria sektor ekonomi yang dianggap basis
adalah bila nilai LQ sektor tersebut lebih besar dari 1. Nilai LQ sektor-sektor
ekonomi wilayah pesisir Teluk Lampung, disajikan pada Tabel 19.
Nilai LQ sektor-sektor ekonomi menunjukkan bahwa terdapat tiga sektor
yang bukan merupakan basis di wilayah pesisir Teluk Lampung, yaitu pertanian,
pertambangan dan penggalian, dan perdagangan. Berdasarkan nilai LQ, dapat
Gambar 24 Pangsa sektor terhadap PDRB wilayah pesisir Teluk Lampung tahun
2007 (BPS Bandar Lampung 2008a dan 2008b; BPS Pesawaran
2008a dan 2008b; BPS Lampung Selatan 2008a dan 2008b)
0
5
10
15
20
25
P
e
r
i
k
a
n
a
n
A
n
g
k
t
.

L
a
u
t

&

P
e
n
y
b
.
P
a
r
i
w
is
a
t
a
P
e
r
t
a
n
i
a
n
P
e
r
t
a
m
b
a
n
g
a
n
I
n
d
u
s
t
r
i

P
e
n
g
o
l
a
h
a
n
L
i
s
t
r
ik

&

A
ir

B
r
s
h
B
a
n
g
u
n
a
n
P
e
r
d
a
g
a
n
g
a
n
A
n
g
k
t
.

D
a
n

K
o
m
.
K
e
u
,

P
e
r
s
w
,

J
a
s
a

P
r
s
h
.
J
a
s
a
-
j
a
s
a
P
a
n
g
s
a

t
e
r
h
a
d
a
p

P
D
R
B



(

%

)
PDRB - ADHB PDRB - ADHK

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
108
dinyatakan bahwa sektor-sektor ekonomi lainnya yang meliputi perikanan,
angkutan laut dan penyeberangan, pariwisata, industri pengolahan, listrik dan air
bersih, bangunan, pengangkutan dan komunikasi, keuangan, persewaan, dan jasa
perusahaan, dan jasa-jasa, merupakan sektor basis bagi wilayah pesisir Teluk
Lampung. Namun demikian, dapat dilihat bahwa terdapat dua sektor yang secara
sangat mencolok memiliki nilai LQ sangat tinggi, yaitu perikanan serta angkutan
laut dan penyeberangan, dengan nilai masing-masing 2,30 dan 6,20. Kedua sektor
ini memang sangat ditunjang oleh kondisi wilayah Teluk Lampung, yaitu dengan
terdapatnya pelabuhan laut dan penyeberangan utama, serta pelabuhan perikanan,
di wilayah ini.
Tabel 19 Nilai LQ sektor ekonomi wilayah pesisir Teluk Lampung
No. Sektor LQ Keterangan
1 Perikanan 2,30 basis
2 Angkutan Laut dan Penyeberangan 6,20 basis
3 Pariwisata 1,53 basis
4 Pertanian 0,41 bukan basis
5 Pertambangan dan Penggalian 0,45 bukan basis
6 Industri Pengolahan 1,11 basis
7 Listrik dan Air Bersih 1,16 basis
8 Bangunan 1,08 basis
9 Perdagangan 0,87 bukan basis
10 Pengangkutan dan Komunikasi 1,60 basis
11 Keuangan, Persewaan, dan Jasa Perusahaan 1,42 basis
12 Jasa-jasa 1,25 basis
Sumber: BPS Bandar Lampung (2008a, 2008b), BPS Pesawaran (2008a, 2008b),
BPS Lampung Selatan (2008a, 2008b)
4.3.4 Daya saing sektor ekonomi
Penggambaran daya saing ekonomi wilayah pesisir dilakukan melalui
analisis pergeseran-pertumbuhan (shift–share), yang menunjukkan pergeseran dan
peranan perekonomian wilayah pesisir Teluk Lampung terhadap perekonomian
Provinsi Lampung. Komponen di dalam analisis dapat menunjukkan pengaruh
dari kombinasi campuran dan daya saing suatu perekonomian wilayah (Hoover
dan Giarratani 1999; Rustiadi et al. 2009). Komponen analisis dalam konteks
wilayah pesisir Teluk Lampung dan Provinsi Lampung meliputi:
1) Komponen pertumbuhan total wilayah (S), menggambarkan pertumbuhan
atau pergeseran struktur perekonomian wilayah pesisir Teluk Lampung

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
109
yang dipengaruhi oleh pergeseran pertumbuhan perekonomian Provinsi
Lampung.
2) Komponen pergeseran proporsional (P), merupakan pertumbuhan total
sektor yang bersangkutan secara relatif, dibandingkan dengan
pertumbuhan seluruh sektor dalam wilayah provinsi, yang menunjukkan
dinamika sektor tersebut secara total dalam wilayah provinsi. Nilai Pj > 0
dapat diinterpretasikan bahwa sektor yang bersangkutan tumbuh lebih
cepat dibandingkan pertumbuhan total sektor provinsi; nilai Pj < 0 dapat
diinterpretasikan bahwa sektor yang bersangkutan relatif tumbuh lebih
lambat.
3) Komponen pergeseran diferensial (D), menjelaskan bagaimana tingkat
kompetisi sektor yang bersangkutan dibandingkan dengan pertumbuhan
total sektor tersebut dalam wilayah provinsi. Komponen ini
menggambarkan dinamika (keunggulan) sektor tersebut di wilayah pesisir
Teluk Lampung terhadap sektor yang sama di wilayah lain dalam wilayah
provinsi. Nilai Dj > 0 diinterpretasikan bahwa sektor yang bersangkutan
memiliki keunggulan terhadap sektor yang sama, terkonsentrasi, dan
tumbuh lebih cepat di wilayah pesisir dibandingkan dengan wilayah lain
dalam provinsi; nilai Dj < 0 diinterpretasikan bahwa sektor yang
bersangkutan relatif tumbuh lebih lambat dibandingkan dengan wilayah
lain dalam provinsi.
Hasil analisis pergeseran-pertumbuhan yang menggunakan data nilai
tambah sektor (dari PDRB tahun 2003 dan 2007) dalam konteks wilayah wilayah
pesisir Teluk Lampung dan Provinsi Lampung, disajikan pada Tabel 20.
Interpretasi hasil analisis dari komponen P menunjukkan bahwa sektor
perikanan, listrik dan air bersih, pengangkutan dan komunikasi, serta keuangan,
persewaan, dan jasa perusahaan; merupakan sektor-sektor yang tumbuh lebih
cepat daripada total pertumbuhan di tingkat provinsi. Dari komponen D,
menunjukkan bahwa sektor angkutan laut dan penyeberangan, pertambangan dan
penggalian, industri pengolahan, pengangkutan dan komunikasi, keuangan,
persewaan, dan jasa perusahaan, serta jasa-jasa; tumbuh lebih cepat di wilayah

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
110
pesisir dibandingkan dengan wilayah lain di dalam provinsi, karena ditunjang oleh
keuntungan lokasional wilayah pesisir.
Tabel 20 Komponen pergeseran-pertumbuhan wilayah pesisir Teluk Lampung
No
.
Sektor
Pertum-
buhan total
wilayah (S)
Pergeseran
proporsio-
nal (P)
Pergeseran
diferensial
(D)
1 Perikanan 0,2155 0,5111 -0,2562
2 Angkutan Laut dan Penyeberangan 0,2155 -0,0251 0,0802
3 Pariwisata 0,2155 -0,0272 -0,0283
4 Pertanian 0,2155 -0,0549 -0,0428
5 Pertambangan dan Penggalian 0,2155 -0,4899 0,2806
6 Industri Pengolahan 0,2155 -0,0041 0,1112
7 Listrik dan Air Bersih 0,2155 0,0646 -0,3864
8 Bangunan 0,2155 -0,0601 -0,0476
9 Perdagangan 0,2155 -0,0188 -0,0202
10 Pengangkutan dan Komunikasi 0,2155 0,0837 0,0066
11 Keu., Persewaan, dan Jasa Prsh. 0,2155 0,5161 0,0859
12 Jasa-jasa 0,2155 -0,1059 0,0004
Sumber: BPS Bandar Lampung (2008a, 2008b), BPS Pesawaran (2008a, 2008b),
BPS Lampung Selatan (2008a, 2008b)
Dengan menggabungkan nilai komponen P dan D dengan LQ, dapat
diambil informasi yang lebih banyak mengenai sektor-sektor perekonomian
wilayah pesisir. Melalui penggabungan tersebut dikembangkan tipologi daya
saing sektor sebagai berikut:
Daya saing tinggi: sektor basis (LQ > 1), dengan salah satu atau kedua
nilai Pj dan Dj > 0;
Daya saing rendah: sektor basis (LQ > 1), nilai Pj < 0 dan Dj < 0;
Tidak berdaya saing: bukan sektor basis (LQ < 1).
Hasil penggabungan nilai LQ, Pj, dan Dj, secara lengkap disajikan pada
Tabel 21.
Penggabungan nilai LQ, Pj, dan Dj, menunjukkan bahwa terdapat tujuh
sektor ekonomi wilayah pesisir Teluk Lampung yang berdaya saing tinggi, yang
merupakan sektor ekonomi basis dengan pertumbuhan yang tinggi dan/atau
memiliki keunggulan lokasional dari wilayah pesisir. Konsisten dengan hasil dari
LQ, sektor-sektor ekonomi yang menonjol adalah sektor basis seperti perikanan
serta angkutan laut dan penyeberangan. Pengembangan sektor-sektor yang

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
111
berdaya saing tinggi dapat menjadi kebijakan pengembangan wilayah pesisir
Teluk Lampung, dan harus diakomodasi dalam perencanaan tata ruang.
Tabel 21 Daya saing sektor ekonomi wilayah pesisir Teluk Lampung
No. Sektor LQ Pj Dj
Daya
Saing
1 Perikanan >1 >0 <0 Tinggi
2 Angkutan Laut dan Penyeberangan >1 <0 >0 Tinggi
3 Pariwisata >1 <0 <0 Rendah
4 Pertanian <1 <0 <0 TBS
5 Pertambangan dan Penggalian <1 <0 >0 TBS
6 Industri Pengolahan >1 <0 >0 Tinggi
7 Listrik dan Air Bersih >1 >0 <0 Tinggi
8 Bangunan >1 <0 <0 Rendah
9 Perdagangan <1 <0 <0 TBS
10 Pengangkutan dan Komunikasi >1 >0 >0 Tinggi
11 Keu., Persewaan, dan Jasa Prsh. >1 >0 >0 Tinggi
12 Jasa-jasa >1 <0 >0 Tinggi
Keterangan: TBS = tidak berdaya saing
Sumber: BPS Bandar Lampung (2008a, 2008b), BPS Pesawaran (2008a, 2008b),
BPS Lampung Selatan (2008a, 2008b)
4.3.5 Investasi
Investasi langsung (direct investment) merupakan pemacu pertumbuhan
ekonomi wilayah. Pertumbuhan ekonomi wilayah pesisir Teluk Lampung yang
lebih tinggi dari Provinsi Lampung, tampaknya dipengaruhi secara nyata oleh laju
investasi di wilayah ini. Demikian juga pola pertumbuhan ekonomi wilayah
pesisir Teluk Lampung yang fluktuatif (Gambar 23), tampaknya juga dipengaruhi
oleh pola investasi yang sangat fluktuatif, seperti disajikan pada Gambar 25.
Dalam kurun waktu 2000-2007, investasi langsung di wilayah pesisir
Teluk Lampung secara kumulatif berjumlah sekitar Rp 1,5 triliun, dengan angka
rata-rata sekitar Rp 188 milyar per tahun. Investasi tersebut dilakukan oleh 50
perusahaan domestik dan asing, dengan sektor utama adalah industri pengolahan
dan penunjang angkutan laut (BPMD Prov. Lampung 2008). Lapangan kerja yang
tercipta dari investasi tersebut adalah sebanyak 11.238 orang. Nilai investasi
terbesar dicapai pada tahun 2006 yaitu sekitar Rp 463 milyar, dan pertumbuhan
tertinggi terjadi pada tahun 2004, yaitu lebih dari 700%. Pada ekstrim yang lain,
investasi terkecil terjadi 2002 (hanya Rp 9,8 milyar), dan pertumbuhan terendah
terjadi pada tahun 2002 dan 2007 yaitu sekitar -90%.

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
112

















Terkait dengan pemodelan sistem dinamik (diuraikan pada Bab 6), peubah
investasi yang sangat fluktuatif tersebut dapat menimbulkan bias yang sangat
besar terhadap pemodelan. Oleh karena itu, nilai awal tahun 2003 pada model,
diambil dari besaran rata-rata investasi dalam kurun waktu 2000-2007, dengan
fraksi pertumbuhan merupakan rata-rata pertumbuhan dalam kurun waktu yang
sama.
4.4 Pr asar ana dan Sar ana Wilayah
4.4.1 Jalan dan r el ker eta api
Di wilayah pesisir Teluk Lampung, terdapat jalan nasional, provinsi, serta
kabupaten/kota dan desa, dengan panjang total 1.389 km. Jalan tersebut tersebar
di berbagai kecamatan, terutama di Kabupaten Lampung Selatan dan Kota Bandar
Lampung. Adapun rel kereta api hanya terdapat di Kota Bandar Lampung, yaitu di
Kecamatan Panjang dengan panjang 19 km, sebagai ujung dari koneksi jaringan
rel kereta api Sumatera Bagian Selatan. Rel kereta api berujung pada Pelabuhan
Gambar 25 Investasi langsung swasta di wilayah Pesisir Teluk Lampung
(BPMD Prov. Lampung, 2008)
0
50
100
150
200
250
300
350
400
450
500
2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007
I
n
v
e
s
t
a
s
i


(

R
p

m
i
l
y
a
r

)
-200
-100
0
100
200
300
400
500
600
700
800
P
e
r
t
u
m
b
u
h
a
n


(

%

)
Investasi Pertumbuhan

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
113
Panjang, serta dermaga untuk kepentingan sendiri (DUKS) batubara milik PT.
Bukit Asam (PTBA), dan DUKS pulp milik PT. Tanjung Enim Lestari Pulp and
Paper (TELPP). Data mengenai prasarana jalan dan rel kereta api, disajikan pada
Tabel 22.
Tabel 22 Jalan dan rel kereta api di wilayah pesisir
No. Klasifikasi Jalan Panjang (km)
Kerapatan Jalan
(km/km
2
)
1 Jalan Nasional 104 0,08
2 Jalan Provinsi 245 0,19
3 Jalan Kabupaten/Kota dan Desa 1.040 0,81
4 Rel Kereta Api 19 -
Jumlah Panjang Jalan 1.389 1,09
Panjang Rel Kereta Api 19 -
Sumber: BPS Bandar Lampung (2008a), BPS Pesawaran (2008a), BPS Lampung
Selatan (2008a), Pemprov Lampung (2010)
Kerapatan jalan di wilayah pesisir masih jarang, dan di samping itu
kondisi jalan masih banyak yang rusak. Berdasarkan hasil studi lapangan, juga
diketahui bahwa sebaran jalan masih tidak merata, terutama pada wilayah pesisir
di Kabupaten Pesawaran, prasarana jalan masih sangat kurang.
Sebagai penunjang pergerakan angkutan jalan, di wilayah pesisir Teluk
Lampung juga sudah terdapat terminal tipe B dan C. Terminal angkutan jalan
tersebut berada di Bandar Lampung dan Lampung Selatan. Pada wilayah pesisir
Kabupaten Pesawaran, belum terdapat terminal. Data mengenai terminal,
disajikan pada Tabel 23.
Tabel 23 Lokasi terminal di wilayah pesisir
No. Terminal Nama Lokasi
1 Tipe B Panjang Bandar Lampung
2 Tipe C Sukaraja Bandar Lampung
3 Tipe C Kalianda Lampung Selatan
Sumber: Pemprov Lampung (2006a), BPS Bandar Lampung (2008a),
BPS Pesawaran (2008a), BPS Lampung Selatan (2008a).
4.4.2 Pelabuhan dan der maga
Wilayah pesisir Teluk Lampung merupakan jalur utama pergerakan
angkutan laut dan penyeberangan yang menuju dan keluar wilayah Provinsi
Lampung, bahkan Sumatera Bagian Selatan. Oleh karena itu, berbagai prasarana
pelabuhan terdapat di wilayah ini. Selain sebagai prasarana angkutan laut dan

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
114
penyeberangan, keberadaan pelabuhan dan dermaga juga merupakan pendukung
sektor perikanan, sebagai pelabuhan perikanan atau pendaratan ikan.
Sebaran prasarana pelabuhan dan dermaga angkutan laut dan
penyeberangan lebih terkonsentrasi di wilayah Kota Bandar Lampung, termasuk
pelabuhan internasional Panjang. Pada wilayah Kabupaten Pesawaran dan
Lampung Selatan, lebih banyak tersebar pelabuhan dan dermaga untuk kegiatan
perikanan, kecuali Bakauheni yang merupakan pelabuhan penyeberangan utama
yang melayani penyeberangan Merak-Bakauheni.
Selain pelabuhan dan dermaga angkutan laut, penyeberangan, dan
perikanan, juga terdapat beberapa Dermaga Untuk Kepentingan Sendiri (DUKS),
yang dioperasikan untuk kepentingan berbagai perusahaan. DUKS terkonsentrasi
di Kota Bandar Lampung, yang digunakan untuk kepentingan angkutan laut
meliputi bahan bakar minyak, industri kayu, pakan ternak, industri alat berat,
batubara, dan pulp. Sebaran pelabuhan dan dermaga di wilayah pesisir Teluk
Lampung, disajikan pada Tabel 24.
Tabel 24 Lokasi pelabuhan dan dermaga di wilayah pesisir
No. Pelabuhan / Dermaga Nama Lokasi
1 Dermaga Pendaratan Ikan Suka Bandung Pesawaran
2 Dermaga BBL Balai Budidaya Laut Pesawaran
3 Pelabuhan Regional Pulau Legundi Pesawaran
4 Pelabuhan Perikanan Pantai Lempasing Bandar Lampung
5 Dermaga Pendaratan Ikan Gudang Lelang Bandar Lampung
6 Dermaga Pendaratan Ikan Ujung Boom Bandar Lampung
7 Pelabuhan Regional Teluk Betung Bandar Lampung
8 Pelabuhan Internasional Panjang Bandar Lampung
9 Pelabuhan Penyeberangan Serengsem Bandar Lampung
10 Dermaga Untuk Kepentingan
Sendiri (DUKS)
DUKS Berbagai
Perusahaan, 7 unit
Bandar Lampung
11 Dermaga Pendaratan Ikan Way Muli Lampung Selatan
12 Pelabuhan Regional Pulau Sebesi Lampung Selatan
13 Pelabuhan Regional Canti/Kalianda Lampung Selatan
14 Pelabuhan Penyeberangan Bakauheni Lampung Selatan
Sumber: Pemprov Lampung (2006a), BPS Bandar Lampung (2008a),
BPS Pesawaran (2008a), BPS Lampung Selatan (2008a).
4.4.3 Pr asar ana wisata pantai
Sebagai wilayah pesisir, Teluk Lampung merupakan salah satu tujuan
wisata pantai. Terdapat 20 tempat wisata pantai di wilayah ini, yang tersebar di

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
115
Kabupaten Pesawaran, Lampung Selatan, dan Kota Bandar Lampung. Atraksi
wisata utama yang ditawarkan oleh berbagai tempat wisata tersebut adalah
suasana pantai berpasir, dan pada beberapa tempat wisata ditunjang oleh fasilitas
tempat makan dan permainan.
Berdasarkan sebarannya, tempat wisata pantai lebih banyak terdapat di
wilayah Lampung Selatan. Kondisi tersebut lebih disebabkan oleh lokasi pantai di
Lampung Selatan dapat dijangkau lebih cepat dan mudah, karena relatif sejajar
dengan ruas jalan nasional Bandar Lampung-Bakauheni. Informasi mengenai
lokasi prasarana wisata pantai di wilayah pesisir Teluk Lampung, disajikan pada
Tabel 25.
Tabel 25 Lokasi prasarana wisata pantai di wilayah pesisir Teluk Lampung
No. Nama Tempat Lokasi
1 Bensor Resort Pesawaran
2 Pantai Klara Pesawaran
3 Pantai Lautzhy Ringgung Pesawaran
4 Pantai Pasir Wisata Pesawaran
5 Pantai Puri Gading Bandar Lampung
6 Pantai Duta Wisata Bandar Lampung
7 Banding Resort Lampung Selatan
8 Krakatoa Resort Lampung Selatan
9 Pantai Bagus Lampung Selatan
10 Pantai Guci Batu Kapal Lampung Selatan
11 Pantai Ketang Lampung Selatan
12 Pantai Laguna Lampung Selatan
13 Pantai Merak Belantung Lampung Selatan
14 Pantai Riung Gunung Lampung Selatan
15 Pantai Wartawan Lampung Selatan
16 Pantai Wisata Lampung Selatan
17 Tanjung Selaki Lampung Selatan
18 Pantai Canti Indah Lampung Selatan
19 Pasir Putih Lampung Selatan
20 Pulau Pasir Lampung Selatan
Sumber: BPS Bandar Lampung (2008a), BPS Pesawaran (2008a),
BPS Lampung Selatan (2008a)
4.4.4 Ar mada kapal nelayan
Armada nelayan yang beroperasi di Teluk Lampung mendekati jumlah
2.500 unit, dengan berbagai jenis dan ukuran kapal, baik yang bermotor maupun
tidak bermotor. Jenis kapal bermotor ukuran kecil (<5 ton dan 5-10 ton)
merupakan jenis kapal yang paling banyak dioperasikan oleh nelayan, karena

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
116
memang nelayan Teluk Lampung didominasi oleh nelayan kecil (artisanal), dan
umumnya melaut hanya dalam satu hari (one day fishing). Kapal-kapal yang
berukuran lebih besar (10-20 ton dan >20 ton), merupakan kelompok nelayan
yang beroperasi di luar Teluk Lampung (Teluk Semangka, Selat Sunda, perairan
Barat dan Timur Lampung, atau ke Laut Jawa), dan wilayah pesisir Teluk
Lampung hanya merupakan tempat mendarat dan bermukim saja (fishing base).
Sebaran armada kapal nelayan terbanyak adalah di wilayah Kota Bandar
Lampung, terutama Kecamatan Teluk Betung Barat dan Teluk Betung Selatan.
Hal tersebut disebabkan oleh lebih tersedianya prasarana dan sarana yang
dibutuhkan nelayan di Kota Bandar Lampung. Informasi mengenai armada
nelayan di wilayah pesisir Teluk Lampung, disajikan pada Tabel 26.
Tabel 26 Armada nelayan di wilayah pesisir Teluk Lampung
Kapal bermotor (ton)
No. Kecamatan
Perahu
tidak
bermotor
Perahu
bermotor
tempel
<5 5-10 10-20 >20
Jumlah
……………………… unit ………………….
1 Padang Cermin 52 47 37 15 5 - 156
2 Punduh Pidada 26 23 18 7 3 - 77
3 Teluk Betung
Barat
22 171 182 230 48 8 661
4 Teluk Betung
Selatan
23 187 199 251 53 9 722
5 Panjang 7 51 55 69 15 3 200
6 Katibung 32 29 23 9 3 - 96
7 Sidomulyo 5 4 3 1 - - 13
8 Kalianda 64 56 44 18 7 - 189
9 Rajabasa 57 50 39 16 6 - 168
10 Bakauheni 64 56 44 18 7 - 189
Jumlah 352 674 644 634 147 20 2.471
Sumber: Dinas Perikanan dan Kelautan Prov. Lampung (2007), BPS Bandar Lampung
(2008a), BPS Pesawaran (2008a), BPS Lampung Selatan (2008a)
4.4.5 Koper asi
Koperasi merupakan prasarana ekonomi yang penting dan berkaitan erat
dengan pengembangan ekonomi kerakyatan. Secara umum, terdapat dua jenis
koperasi di di wilayah pesisir Teluk Lampung, yaitu koperasi unit desa (KUD)
dan koperasi non-KUD. KUD berkaitan erat dengan sektor perikanan dan
pertanian, sedangkan koperasi non-KUD lebih berurusan dengan beragam

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
117
kepentingan seperti koperasi pegawai negeri, organisasi karyawan, simpan
pinjam, angkutan, pasar, dan lain-lain.
Dilihat dari sebarannya, koperasi di wilayah pesisir Teluk Lampung
ternyata telah menyebar cukup merata di seluruh kecamatan. Namun demikian,
dari sisi jenis koperasi, maka terlihat ketimpangan yang mencolok antara jumlah
koperasi KUD dan non-KUD. Secara umum pada semua kecamatan, keberadaan
KUD jauh lebih sedikit daripada koperasi non-KUD, padahal KUD lebih
berurusan dengan pertanian dan perikanan yang merupakan sektor utama ekonomi
kerakyatan. Oleh karena, dorongan untuk mengembangkan ekonomi kerakyatan
pada wilayah pesisir yang bercorak pertanian dan perikanan, dapat dibantu dengan
mengembangkan KUD secara lebih baik.
Informasi mengenai koperasi di wilayah pesisir Teluk Lampung, disajikan
pada Tabel 27.
Tabel 27 Jenis dan sebaran koperasi di wilayah pesisir Teluk Lampung
No. Kecamatan KUD (unit)
Non-KUD
(unit)
Jumlah
1 Padang Cermin 2 28 30
2 Punduh Pidada 2 9 11
3 Teluk Betung Barat 1 9 10
4 Teluk Betung Selatan 1 29 30
5 Panjang 1 22 23
6 Katibung 2 18 20
7 Sidomulyo 2 19 21
8 Kalianda 3 60 63
9 Rajabasa 1 3 4
10 Bakauheni 1 11 12
Jumlah 16 208 224
Sumber: BPS Bandar Lampung (2008a), BPS Pesawaran (2008a),
BPS Lampung Selatan (2008a)
4.5 RTRW Ter kait Teluk Lampung
Teluk Lampung merupakan bagian dari wilayah perencanaan dalam
Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Provinsi Lampung, Kabupaten Lampung
Selatan, Pesawaran, dan Kota Bandar Lampung. Dalam RTRW tersebut, Teluk
Lampung secara umum diarahkan sebagai kawasan pengembangan perikanan dan
pariwisata. Pada tingkat nasional, sebagian wilayah Teluk Lampung (Pulau
Sebuku dan Sebesi) secara tidak langsung terkait dengan status Selat Sunda dan

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
118
Kepulauan Krakatau sebagai kawasan strategis nasional. Penggambaran struktur
dan pola ruang dalam RTRW Provinsi Lampung, Kabupaten Lampung Selatan,
Kabupaten Pesawaran, dan Kota Bandar Lampung, yang terkait dengan Teluk
Lampung, disajikan pada Gambar 26.
Struktur hierarki fungsional kota-kota di wilayah pesisir Teluk Lampung
adalah meliputi 4 ordinasi pusat pelayanan, yaitu:
Pusat Kegiatan Nasional (PKN), yang melayani wilayah Provinsi
Lampung dan/atau wilayah sekitarnya di Sumatera Bagian Selatan, terletak
di Kota Bandar Lampung; merupakan pusat pemerintahan provinsi,
perdagangan dan jasa, distribusi dan koleksi, pendukung jasa pariwisata,
dan pendidikan tinggi.
Pusat Kegiatan Wilayah (PKW), yang melayani satu atau lebih
Kabupaten/Kota, yaitu Kalianda; merupakan pusat pemerintahan
kabupaten, jasa pendukung pariwisata, perdagangan, dan jasa.
Pusat Kegiatan Wilayah Provinsi (PKWp), yang direkomendasikan oleh
provinsi mengingat secara fungsi dan perannya kota tersebut telah
memiliki karakteristik pusat kegiatan wilayah, yaitu Bakauheni dan
ibukota Kabupaten pesawaran (Gedung Tataan); merupakan pusat koleksi
dan distribusi, dan pariwisata.
Pusat Kegiatan Lokal (PKL), yang melayani satu atau lebih kecamatan,
yaitu Sidomulyo; merupakan pusat pertanian, perdagangan, dan jasa.
Pola pemanfaatan ruang yang terkait dengan wilayah pesisir Teluk
Lampung dalam RTRW Provinsi Lampung, Kabupaten Lampung Selatan,
Pesawaran, dan Kota Bandar Lampung, secara umum diarahkan sebagai kawasan
pengembangan perikanan dan pariwisata. Pengembangan pola ruang di wilayah
pesisir Teluk Lampung adalah meliputi kawasan sebagai berikut:
Kawasan lindung darat di Kecamatan Punduh Pidada, Padang Cermin,
Teluk Betung Barat, Panjang, Katibung, dan Rajabasa.
Kawasan rawan bencana: rawan banjir dan longsor di Padang Cermin,
serta rawan gempa pada jalur Teluk Betung-Bakauheni.
Kawasan strategis provinsi: Bakauheni sebagai pintu gerbang Sumatera
dari arah Jawa, dan kawasan pangkalan utama TNI Angkatan Laut Teluk

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
119
Ratai di Kecamatan Padang Cermin Kabupaten Pesawaran sebagai
kawasan militer.
Kawasan Pulau Sebesi dan Sebuku sebagai bagian dari kawasan strategis
nasional (KSN) Selat Sunda dan Krakatau dan sekitarnya.
Kawasan Pemerintahan: Bandar Lampung dan Kalianda.
Kawasan Perdagangan dan Jasa: Bandar Lampung.
Kawasan Permukiman: Bandar Lampung dan Kalianda, serta kawasan
perdesaan di wilayah pesisir Teluk Lampung.
Kawasan Pelabuhan: Panjang sebagai pelabuhan internasional;
Telukbetung, Legundi, Sebesi sebagai pelabuhan pengumpan regional;
Kalianda sebagai pelabuhan pengumpan lokal; serta dermaga untuk
kepentingan sendiri (DUKS); Bakauheni sebagai pelabuhan
penyeberangan lintas Sumatera-Jawa, dan Srengsem sebagai pelabuhan
penyeberangan pendukung.
Kawasan Wisata: wisata bahari di Teluk Lampung; wisata budaya di
Bandar Lampung, dan wisata buatan (man made) Tugu Siger (Bakauheni
dan sekitarnya).
Kawasan Perikanan: perikanan tangkap di Teluk Lampung, areal
pertambakan di kawasan pantai (terutama di Kabupaten Pesawaran),
budidaya laut mutiara dan keramba jaring apung (terutama di Kabupaten
Pesawaran).
Kawasan pertanian dalam arti luas: tersebar di seluruh kecamatan wilayah
pesisir Kabupaten Pesawaran dan Lampung Selatan.
Kawasan reklamasi pantai: di Bandar Lampung, dengan pertimbangan
perlunya pembenahan wilayah pesisir dikembangkan sebagai kota pantai
(waterfront city), maka diperlukan reklamasi (penimbunan perairan)
pantai.
Dari dokumen RTRW kabupaten/kota, tampak bahwa wilayah Teluk
Lampung dipandang sebagai bagian dari wilayah administratif kabupaten atau
kota yang bersangkutan. Demikian juga pada skala provinsi, dalam RTRW
Provinsi Lampung, wilayah Teluk Lampung juga masih dilihat dalam perspektif
batasan administrasi kabupaten/kota. Oleh karena itu wilayah Teluk Lampung

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
120
tidak dijadikan sebagai kawasan strategis yang merupakan satu kesatuan,
melainkan hanya tersekat sebagai wilayah strategis provinsi di Teluk Ratai
(Kabupaten Pesawaran) dan di Bakauheni (Kabupaten Lampung Selatan).
Wilayah pesisir Teluk Lampung memiliki potensi ekonomi wilayah yang
besar, dengan PDRB sekitar 10% dari wilayah provinsi dan rasio luas wilayah dan
jumlah penduduk terhadap provinsi berturut-turut hanya 3,62% dan 8,03%. Secara
ekologis wilayah ini merupakan kesatuan fungsional yang relatif dapat dibatasi
dari wilayah lainnya di Provinsi Lampung. Wilayah pesisir Teluk Lampung,
dipisahkan oleh daerah aliran sungai (DAS) tersendiri, dan memiliki perairan
teluk yang semi tertutup dengan tubuh air lainnya. Nilai strategis lain dari wilayah
pesisir Teluk Lampung adalah lokasi geografisnya sebagai pintu gerbang antar
Pulau Sumatera dan Jawa, serta dari sisi pertahanan sebagai calon pusat armada
barat TNI-AL.
Berdasarkan kondisi wilayah dan nilai strategis kawasan, maka terdapat
cukup alasan untuk memberikan status sebagai kawasan strategis provinsi pada
wilayah pesisir Teluk Lampung. Dengan status tersebut maka penataan ruang dan
pengelolaan wilayah pesisir Teluk Lampung, dapat lebih diprioritaskan. Dengan
demikian, wilayah ini akan memiliki peluang untuk lebih maju dan berkelanjutan,
serta akan lebih berperan bagi Provinsi Lampung secara keseluruhan.



A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
121


















Gambar 26

PETA RTRW
TERKAIT TELUK
LAMPUNG

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
122




A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
5 ANALISIS PROSPEKTIF PARTISIPATIF
5.1 Penentuan Var iabel Kunci
Pelaksanaan analisis prospektif partisipatif dilakukan melalui temu pakar
(expert meeting). Temu pakar dihadiri oleh 27 orang partisipan. Jumlah tersebut
dianggap cukup, sebagaimana analisis pernah di Bogor pada tahun 2002, telah
dianggap cukup dengan dihadiri oleh 13 orang pakar (Bourgeois dan Jesus 2004).
Dalam pertemuan tersebut, pakar atau partisipan diminta untuk mengidentifikasi
variabel kunci yang dianggap paling berpengaruh terhadap penataan ruang
wilayah pesisir Teluk Lampung. Aktivitas ini dilakukan secara bebas, yaitu
masing-masing partisipan menuliskan setiap variabel pada selembar kartu
berwarna, dan kemudian dikumpulkan. Dari pendapat partisipan secara bebas
diidentifikasi 56 variabel yang dianggap paling menentukan dalam perencanaan
tata ruang wilayah pesisir Teluk Lampung, seperti disajikan pada Tabel 28.
Setelah identifikasi variabel kunci, kemudian partisipan diminta untuk
menetapkan definisi dari masing-masing variabel tersebut (pada Tabel 28) secara
konsensus. Dalam proses ini, ternyata diketahui terdapat banyak variabel yang
merupakan pengulangan atau bermiripan antara satu dengan lainnya. Sebagai
ilustrasi Pada Tabel 28, terlihat bahwa variabel nomor 6, 15, 23, 41, 52, dan 54,
sangat bermiripan dan mempunyai kata kunci yang sama yaitu sumberdaya
manusia (SDM). Dalam proses yang berlangsung, kelima variabel tersebut secara
konsensus digabung menjadi variabel “kualitas SDM masyarakat pesisir”. Selain
itu, dengan menerapkan tiga aturan sederhana analisis kandungan dari opini
partisipan, serta relevansinya (Bourgeois dan Jesus 2004), kembali dapat
ditemukan beberapa variabel yang dapat digabung atau dibuang dari daftar.
Dari diskusi yang terjadi antar partisipan, dicapai suatu konsensus untuk
menggabung dan membuang sejumlah variabel. Pada akhirnya dari proses ini
didapatkan 19 variabel yang dapat didefinisikan secara konsensus, seperti
disajikan pada Tabel 29.




A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
124
Tabel 28 Variabel pengaruh yang diidentifikasi oleh partisipan
No. Variabel No. Variabel
1 Ketersediaan Ruang 29 Perlunya pengawasan aparat
terkait
2 Aktivitas Ekonomi 30 Perlunya pengawasan
penimbunan pantai
3 Pertumbuhan Penduduk 31 Potensi ekonomi dan SD
ekonomi wilayah
4 Sebaran Limbah Industri dan
domestik
32 Kelestarian lingkungan
5 Penegakan hukum 33 Sentra usaha UMKM
6 Kualitas SDM Masyarakat
Pesisir
34 Perizinan
7 Koordinasi antar Pemda
Kab/Kota
35 Reklamasi pantai
8 Perlindungan Ekosistem
Pesisir
36 Strategis
9 Zonasi Wilayah 37 Keterpaduan antar sektor
10 Kebijakan Pemerintah 38 Tingkat pendapatan nelayan
11 Illegal fishing (IUU) 39 Habitat yang perlu dilindungi
12 Perusakan Lingkungan 40 Prospektif wilayah
13 Sarana Prasarana 41 SDM terdidik
14 Abrasi 42 Kepentingan semua pihak
15 Kualitas SDM 43 Perusakan lingkungan pesisir
16 Pencemaran 44 Kebijakan pemerintah
17 Pencemaran 45 Profil ekonomi rakyat
18 Keberadaan SDA yang harus
dilestarikan
46 Kelembagaan
19 Reklamasi pantai 47 Biofisik wilayah
20 Luas lahan 48 Limbah
21 Terumbu karang akibat bahan
peledak
49 Konsentrasi permukiman
22 Ekonomi 50 Kekhasan wilayah
23 SDM 51 Potensi SD
24 Komunikasi 52 SDM dan budaya
25 Kondisi sosekbud 53 Kebijakan pemerintah
26 Kondisi eksisting ruang 54 SDM Masyarakat
27 Pemboman ikan 55 Kepadatan penduduk
28 Pukat harimau 56 Tingkat kedalaman pantai
Keterangan: Penulisan nama masing-masing variabel adalah persis sama dengan yang ditulis oleh
masing-masing partisipan; SDM = sumberdaya manusia; SDA = sumberdaya alam;
UMKM = usaha mikro, kecil, dan menengah; SD = sumberdaya; IUU = illegal,
unreported and unregulated.



A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
125
Tabel 29 Variabel pengaruh yang diidentifikasi dan didefinsikan oleh partisipan
No. Variabel Definisi dan Deskripsi
1 Ketersediaan ruang Bagian perairan, darat/lahan, udara yang masih dapat
dimanfaatakn untuk budidaya ataupun lindung
2 Aktivitas ekonomi Ekspolitasi sumberdaya alam (SDA) dan jasa
lingkungan untuk mendapatkan manfaat ekonomi
3 Pertumbuhan
penduduk
Laju pertambahan neto penduduk baik dari alamiah
maupun migrasi per tahun
4 Sebaran limbah
industri dan
domestik
Sebaran limbah padat, cair, dan gas yang masuk ke
wilayah pesisir
5 Penegakan hukum Konsistensi pemangku kepentingan terhadap
peraturan yang dibuat
6 Kualitas
sumberdaya
manusia (SDM)
masyarakat pesisir
Kualitas sumberdaya manusia (SDM) yang diukur
dari pendapatan, pendidikan, dan kesehatan
masyarakat, serta pelestarian budaya dan kearifan
lokal
7 Koordinasi antar
Pemda Kab/Kota
Keterpaduan pengelolaan wilayah pesisir antar
Pemerintah Kabupaten/Kota dan Provinsi
8 Perlindungan
ekosistem pesisir
Keberadaan ekosistem, komunitas, spesies, di
wilayah pesisir yang rentan dan perlu dilindungi
9 Zonasi wilayah Peruntukan wilayah berdasarkan kebutuhan para
pemangku kepentingan
10 Kebijakan
pemerintah
Ketersediaan peraturan/kebijakan pemerintah yang
akomodatif terhadap pengelolaan wilayah pesisir
11 Illegal fishing (IUU) Penangkapan ikan yang tidak mengikuti
peraturan/perundangan (IUU)
12 Perusakan
lingkungan
Aktivitas manusia (antropogenik) yang menimbulkan
kerusakan lingkungan
13 Sarana prasarana Kondisi sarana prasarana (permukiman/perkotaan.
Perhubungan, listrik, air bersih, dll) baik secara
kualitas kuantitas
14 Abrasi Laju abrasi yang terjadi di sekitar wilayah pantai
15 Reklamasi pantai Reklamasi pantai yang tidak sesuai kaidah
lingkungan (UU 17/2005, RPP reklamasi pantai)
16 Kondisi eksisting
ruang
Kondisi faktual pemanfaatan ruang yang sedang
berlangsung
17 Sentra usaha mikro,
kecil, dan menengah
(UMKM)
Keberadaan sentra ekonomi mikro, kecil, dan
menengah yang terkait dengan sumberdaya alam
(SDA) pesisir dan perikanan
18 Keterpaduan antar
sektor

Pemanfaatan ruang antar kepentingan sektor seperti
pariwisata, perikanan, permukiman, yang terpadu
dan sinergis untuk mengurangi konflik kepentingan
di wilayah pesisir
19 Prospek nilai
strategis wilayah
Potensi wilayah pesisir untuk pemanfaatan ke depan
Keterangan: Penulisan nama, definisi, dan deskripsi masing-masing variabel adalah sama dengan
yang ditulis dan disepakati oleh partisipan; SDM = sumberdaya manusia; SDA =
sumberdaya alam; UMKM = usaha mikro, kecil, dan menengah; IUU = illegal,
unreported and unregulated.

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
126
Dari daftar dan definisi variabel yang disajikan pada Tabel 29, partisipan
kembali melakukan diskusi. Diskusi terfokus pada pembahasan definisi beberapa
variabel pada Tabel 29, yang masih menunjukkan kesamaan kata kunci atau
definisi yang telah disusun, yaitu sebagai berikut:
1) Variabel nomor 1, 16, dan 19 memiliki kemiripan, yaitu berkaitan dengan
ruang pada wilayah pesisir.
2) Variabel nomor 2 dan 17 memiliki kemiripan, yaitu berkaitan dengan
perekonomian wilayah dan masyarakat pesisir.
3) Variabel nomor 5, 7, dan 10, memiliki kemiripan, yaitu berkaitan produk
hukum dan impelementasinya pada wilayah pesisir.
4) Variabel nomor 8, akan lebih relevan bila mengacu pada lingkungan
sensitif di wilayah pesisir.
5) Variabel nomor 9 dan 18, memiliki kemiripan, yaitu berkaitan dengan
koordinasi, keterpaduan, dan peruntukan ruang di wilayah pesisir.
6) Variabel nomor 11, 12, dan 15, memiliki kemiripan, yaitu berkaitan
dengan perusakan lingkungan dan pelestarian sumberdaya pesisir.
Diskusi yang terfokus pada enam butir pembahasan definisi variabel di atas,
pada akhirnya menghasilkan konsensus para partisipan, dan disimpulkan bahwa
beberapa variabel pada Tabel 29 harus didefinisikan ulang, yaitu:
1) Variabel nomor 1, 16, dan 19 digabung menjadi “Kondisi ruang”.
2) Variabel nomor 2 dan 17 digabung dan ditambah kerakyatan sesuai
dengan maksud dari partisipan, menjadi “Aktivitas ekonomi kerakyatan”.
3) Variabel nomor 5, 7, dan 10 digabung menjadi “Penegakan hukum”.
4) Variabel nomor 4, dinamai ulang sesuai dengan definisinya, dari “Sebaran
limbah” menjadi “ Pencemaran pesisir”.
5) Variabel nomor 8 diubah menjadi “Lingkungan sensitif”.
6) Variabel nomor 9 dan 18 digabung menjadi “Zonasi wilayah”.
7) Variabel nomor 11, 12, dan 15 digabung menjadi “Perusakan lingkungan”.
Dari konsensus di atas, maka ditetapkan hanya terdapat 11 variabel yang
dapat dianggap paling menentukan dalam perencanaan tata ruang wilayah pesisir
Teluk Lampung, seperti disajikan pada Tabel 30.

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
127
Tabel 30 Variabel yang disimpulkan paling berpengaruh oleh partisipan
No. Variabel Definisi dan Deskripsi
1 Kondisi ruang Kondisi faktual pemanfaatan ruang yang sedang
berlangsung, ketersediaan bagian perairan,
darat/lahan, udara yang masih dapat dimanfaatkan
untuk budidaya ataupun lindung, serta potensi
wilayah pesisir untuk pemanfaatan ke depan.
2 Aktivitas ekonomi
kerakyatan
Ekspolitasi sumberdaya alam (SDA) dan jasa
lingkungan (terkait dengan SDA pesisir dan
perikanan) oleh masyarakat pesisir untuk
mendapatkan manfaat ekonomi dari usaha skala
mikro, kecil, dan menengah.
3 Pertumbuhan
penduduk
Laju pertambahan neto penduduk baik dari alamiah
maupun migrasi per tahun
4 Pencemaran
pesisir
Limbah padat, cair, dan gas dari industri dan
domestik yang masuk ke wilayah pesisir
5 Penegakan hukum Keterpaduan pengelolaan wilayah pesisir antar
Pemda Kab/Kota dan Prov, ketersediaan
peraturan/kebijakan pemerintah yang akomodatif
terhadap pengelolaan wilayah pesisir, serta
konsistensi pemangku kepentingan terhadap
peraturan yang dibuat
6 Kualitas SDM
masyarakat pesisir
Kualitas SDM yang diukur dari pendapatan,
pendidikan, dan kesehatan masyarakat, serta
pelestarian budaya dan kearifan lokal
7 Lingkungan
sensitif
Keberadaan ekosistem, komunitas, spesies, di
wilayah pesisir yang rentan dan perlu dilindungi
8 Zonasi wilayah Peruntukan wilayah berdasarkan kebutuhan
pemangku kepentingan, dan pengaturan pemanfaatan
ruang antar kepentingan sektor seperti pariwisata,
perikanan, permukiman, yang terpadu dan sinergis
untuk mengurangi konflik kepentingan di wilayah
pesisir
9 Perusakan
lingkungan
Aktivitas manusia (antropogenik) yang
menimbulkan kerusakan lingkungan, penangkapan
ikan yang tidak mengikuti peraturan/perundangan
(IUU), serta reklamasi pantai yang tidak sesuai
kaidah lingkungan (UU 17/2005, RPP reklamasi
pantai)
10 Infrastruktur
wilayah
Ketersediaan dan kondisi sarana prasarana
(permukiman/perkotaan, perhubungan, listrik, air
bersih, dan lain-lain) baik secara kualitas maupun
kuantitas
11 Abrasi Laju abrasi yang terjadi di sekitar wilayah pantai
Keterangan: Penulisan nama, definisi, dan deskripsi masing-masing variabel adalah sama dengan
yang ditulis dan disepakati oleh partisipan; SDM = sumberdaya manusia; SDA =
sumberdaya alam; IUU = illegal, unreported and unregulated.

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
128
Variabel yang terdaftar pada Tabel 30 merupakan hasil diskusi dan
konsensus yang dicapai oleh partisipan. Dalam hal ini belum diketahui varibel
yang paling menentukan dalam perencanaan tata ruang wilayah pesisir Teluk
Lampung. Pengaruh antar variabel juga belum dapat digambarkan, sehingga
semua variabel memiliki kepentingan dan kekuatan yang sama terhadap sistem. Di
sisi lain, untuk kepentingan perencanaan, perlu diketahui perbedaan tingkat
pengaruh variabel terhadap sistem yang dikaji. Dengan demikian, dapat
ditentukan variabel yang perlu diintervensi sebagai titik masuk (entry point) bagi
perencanaan yang efektif (Godet dan Roubelat 1996; Bourgeois dan Jesus 2004;
Gray dan Hatchard. 2008; Godet 2010).
5.2 Analisis Pengar uh Antar -Var iabel Kunci
Berdasarkan 11 variabel pada Tabel 30, kemudian partisipan kembali
berdiskusi dan secara konsensus memberikan skor pada pengaruh silang antar
variabel, yang dianalisis secara matriks dengan bantuan perangkat lunak Excel,
dari Bourgeois dan Jesus (2004). Proses ini dilakukan melalui analisis struktural
dan kerja kelompok, dilakukan analisis pengaruh/ketergantungan langsung
(influence/dependence, I/D) setiap variabel dengan variabel lainnya, dengan
menggunakan pendekatan valuasi konsensual (consensual).
Analisis struktural berbasis pada analisis pengaruh langsung, sebagai suatu
cara untuk mengelompokkan variabel. Secara praktis, analisis pengaruh langsung
terdiri dari valuasi pengaruh langsung suatu variabel terhadap variabel lainnya,
dengan menggunakan skala dari “0 = tidak ada pengaruh” sampai “3 =
berpengaruh sangat kuat”. Nilai yang telah didiskusikan dan disepakati oleh
partisipan, langsung dimasukkan di dalam matriks I/D. Nilai skor pengaruh silang
hasil kesepakatan, secara lengkap disajikan pada Tabel 31. Adapun hasil analisis
pengaruh antar variabel disajikan dalam bentuk grafik dan tabel, seperti disajikan
pada Gambar 27, 28, dan 29; dan Tabel 32.



A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
129
Tabel 31 Skor pengaruh antar-variabel yang dinilai oleh partisipan
No
Terhadap




Dari
K
o
n
d
i
s
i

r
u
a
n
g

A
k
t
i
v
i
t
a
s

e
k
o
n
o
m
i

k
e
r
a
k
y
a
t
a
n

P
e
r
t
u
m
-
b
u
h
a
n

p
e
n
d
u
d
u
k

P
e
n
c
e
m
a
r
a
n

p
e
s
i
s
i
r

P
e
n
e
g
a
k
a
n

h
u
k
u
m

K
u
a
l
i
t
a
s

S
D
M

m
a
s
y
a
r
a
k
a
t

p
e
s
i
s
i
r

L
i
n
g
k
u
n
g
a
n

s
e
n
s
i
t
i
f

Z
o
n
a
s
i

w
i
l
a
y
a
h

P
e
r
u
s
a
k
a
n

l
i
n
g
k
u
n
g
a
n

I
n
f
r
a
s
t
r
u
k
t
u
r

w
i
l
a
y
a
h

A
b
r
a
s
i

1 Kondisi ruang 1 0 1 2 1 3 3 0 1 1
2 Aktivitas ekonomi kerakyatan 3 3 3 2 3 2 3 3 2 1
3 Pertumbuhan penduduk 3 3 2 2 3 2 3 2 1 0
4 Pencemaran pesisir 0 1 0 0 2 0 1 3 0 0
5 Penegakan hukum 3 3 0 3 2 3 3 3 3 1
6 Kualitas SDM masyarakat 3 3 3 3 3 3 2 3 2 2
7 Lingkungan sensitif 2 1 0 0 1 0 1 3 0 3
8 Zonasi wilayah 3 3 0 3 3 1 3 3 3 2
9 Perusakan lingkungan 3 2 0 3 0 1 1 1 1 3
10 Infrastruktur wilayah 3 3 2 2 2 2 2 3 1 3
11 Abrasi 1 1 0 0 0 0 1 0 2 1
Keterangan:
Skor: 0 = Tidak ada pengaruh (no influence)
3 = Pengaruh kuat (strong influence)
2 = Pengaruh sedang (mild influence)
1 = Pengaruh lemah (little influence)


A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
130


























Grafik pengaruh (langsung, tidak langsung, dan total) menunjukkan
pencaran variabel di dalam ruang empat-kuadran yang dibatasi oleh dua sumbu.
Penggambaran tersebut didasarkan pada nilai-nilai I/D terboboti pada masing-
masing variabel, yang dihitung dari tabel pengaruh dan ketergantungan.
Interpretasi hasil meliputi: posisi variabel; bentuk distribusi variabel; dan
interpretasi hasil langsung dan tidak langsung-nya (Bourgeois dan Jesus 2004).
-----
-
---
-
-
-
Pertumbuhan penduduk
Aktivi tas ekonomi
kerakyatan
Penegakan hukum
Pencemaran pesi sir
Kondi si ruang
Kuali tas SDM masyarakat
pesisi r
Li ngkungan sensi tif
Zonasi wi layah
Perusakan Li ngkungan
Infrastruktur wil ayah
Abrasi
---
-
----------------------- -
0,20
0,40
0,60
0,80
1,00
1,20
1,40
1,60
1,80
2,00
- 0,20 0,40 0,60 0,80 1,00 1,20 1,40 1,60 1,80 2,00
Dependence
I
n
f
l
u
e
n
c
e
Copyright: CIRAD/CAPSA - 2004 Authors: Franck Jésus and Robin Bourgeois
Gambar 27 Hasil analisis pengaruh langsung antar variabel
[Kuadran I] [Kuadran II]
[Kuadran IV] [Kuadran III]
-----------------------
-
---
Abrasi
Infrastruktur wi layah
Perusakan l i ngkungan
Zonasi wi layah
Lingkungan sensitif
Kuali tas SDM masyarakat
pesisi r
Kondi si ruang
Pencemaran pesi sir
Penegakan hukum
Aktivi tas ekonomi
kerakyatan Pertumbuhan penduduk
-
-
-
---
-
----- -
0,20
0,40
0,60
0,80
1,00
1,20
1,40
1,60
1,80
2,00
- 0,20 0,40 0,60 0,80 1,00 1,20 1,40 1,60 1,80 2,00
Dependence
I
n
f
l
u
e
n
c
e
Copyright: CIRAD/CAPSA - 2004 Authors: Franck Jésus and Robin Bourgeois
Gambar 28 Hasil analisis pengaruh tidak langsung antar variabel
[Kuadran I] [Kuadran II]
[Kuadran IV] [Kuadran III]

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
131













Masing-masing kuadran berhubungan dengan karakteristik khusus dari
variabel. Kuadran I (kiri atas) merupakan wilayah variabel penggerak (driving).
Kuadran II (kanan atas) merupakan wilayah variabel kontrol (leverage), yang
bercirikan pengaruh dan juga ketergantungan kuat, beberapa variabel dalam
kuadran ini dapat juga digolongkan sebagai variabel kuat. Kuadran III (kanan
bawah) merupakan wilayah variabel keluaran (output), yang bersifat sangat
tergantung dan hanya sedikit pengaruh. Kuadran IV (kiri bawah) merupakan
wilayah variabel marjinal (marginal), kelompok ini akan langsung dikeluarkan
dari analisis. Selain keempat kuadran, juga terdapat area abu-abu di sepanjang
sumbu yang memisahkan kudran IV dari kuadran lainnya. Pada area abu-abu
mungkin didapati sekelompok variabel, yang peranannya di dalam sistem tidak
dapat diidentifikasi secara jelas.
Perbandingan antara grafik pengaruh langsung dan tidak langsung
(Gambar 27 dan 28), digunakan untuk mengenali variabel yang kuat secara tidak
langsung. Interpretasi didasarkan pada variabel yang bertambah kuat secara
progresif dengan adanya pertimbangan terhadap pengaruh tidak langsung, yaitu
bahwa jika kekuatan globalnya dan/atau rangking-nya meningkat, atau mereka
cenderung bergerak ke arah atas grafik, maka mereka merupakan variabel yang
dapat muncul setelah waktu yang cukup lama. Variabel ini harus dianggap sebagai
---------------------------
Abrasi
Infrastruktur wi layah
Perusakan l i ngkungan
Zonasi wi layah
Lingkungan sensitif
Kuali tas SDM masyarakat
pesisi r
Kondisi ruang
Pencemaran pesisir
Penegakan hukum
Akti vitas ekonomi
kerakyatan
Pertumbuhan penduduk
------------ -
0,20
0,40
0,60
0,80
1,00
1,20
1,40
1,60
1,80
2,00
- 0,20 0,40 0,60 0,80 1,00 1,20 1,40 1,60 1,80 2,00
Dependence
I
n
f
l
u
e
n
c
e
Copyright: CIRAD/CAPSA - 2004 Authors: Franck Jésus and Robin Bourgeois
Gambar 29 Hasil analisis pengaruh langsung dan tidak langsung antar variabel
[Kuadran I] [Kuadran II]
[Kuadran IV] [Kuadran III]

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
132
variabel yang memiliki posisi penting pada sistem di masa depan. Secara khusus,
variabel yang berlokasi di kanan-atas dan bergerak secara progresif ke arah kiri-
atas grafik, dapat menjadi variabel penggerak di masa depan. Karena variabel
yang berlokasi di kanan-atas juga dianggap sebagai variabel jaminan, maka
pengendalian terhadap variabel ini menjadi penting (Bourgeois dan Jesus 2004).
Tabel 32 Skor kekuatan variabel global tertimbang
No. Variabel
Kekuatan variabel global
tertimbang
1 Kualitas SDM masyarakat pesisir 1,50
2 Penegakan hukum 1,42
3 Pertumbuhan penduduk 1,39
4 Infrastruktur wilayah 1,36
5 Aktivitas ekonomi kerakyatan 1,34
6 Zonasi wilayah 1,29
7 Kondisi ruang 0,75
8 Perusakan lingkungan 0,66
9 Lingkungan sensitif 0,55
10 Pencemaran pesisir 0,46
11 Abrasi 0,26
Keterangan: SDM = sumberdaya manusia
Dari prsentasi hasil analisis pengaruh langsung dan tidak langsung (total)
yang disajikan pada Gambar 29, dapat dipilih 6 variabel yang dapat dikatakan
sebagai variabel paling berpengaruh, yaitu: kualitas SDM masyarakat pesisir,
penegakan hukum, pertumbuhan penduduk, infrastruktur wilayah, aktivitas
ekonomi kerakyatan, dan zonasi wilayah. Hal ini ditunjang oleh nilai kekuatan
global tertimbang masing-masing variabel, dimana keenam variabel tersebut
memiliki nilai yang lebih tinggi dari lima variabel lainnya (seperti disajikan pada
Tabel 32). Dari hasil analisis tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa variabel
nomor 1 sampai dengan 6 (pada Tabel 32), terpilih sebagai variabel paling
berpengaruh (Godet dan Roubelat 1996; Bourgeois dan Jesus 2004).
5.3 Penentuan Kondisi (State) Var iabel Kunci di Masa Depan
Dari keenam variabel terpilih, selanjutnya partisipan melakukan eksplorasi
secara konsensus, untuk menentukan kondisi yang berpeluang terjadi terhadap
variabel tersebut untuk 20 tahun ke depan (sesuai dengan dimensi waktu analisis).
Eksplorasi terhadap kondisi variabel tersebut, penting dilakukan untuk

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
133
membangun skenario yang diinginkan (Godet dan Roubelat 1996; Bourgeois dan
Jesus 2004; Gray dan Hatchard 2008; Wiek dan Walter 2009; Coates et al. 2010;
Durance dan Godet 2010). Hasil penentuan kondisi variabel dan kombinasinya
untuk membangun skenario dalam perencanaan tata ruang wilayah pesisir Teluk
Lampung, disajikan pada Tabel 33.
Tabel 33 Kondisi variabel yang ditetapkan oleh partisipan secara konsensus
Kondisi yang mungkin terjadi pada 20 tahun ke depan
Variabel
Kode
Variabel
1 2 3 4
Kualitas SDM
masyarakat
pesisir
A Meningkat Tetap
Penegakan
hukum
B Baik Tetap
Pertumbuhan
penduduk
C Meningkat Tetap Menurun
Infrastruktur
wilayah
D Meningkat Tetap Menurun
Aktivitas
ekonomi
kerakyatan
E Meningkat Tetap Menurun Fluktuatif
Zonasi
wilayah
F Baik Tetap
Keterangan: Hurup (A, B, ..., F) merupakan kode untuk nama variabel; angka (1, 2, ..., 4)
merupakan kode untuk kondisi variabel; SDM = sumberdaya manusia.
Pada Tabel 33, masing-masing variabel diberi kode dengan hurup (A
sampai F), dan kondisi variabel diberi kode angka (1 sampai 4), sehingga
kombinasinya dapat ditulis ringkas seperti B2, yang bermakna bahwa kondisi
variabel penegakan hukum 20 tahun ke depan adalah tetap seperti saat ini.
Penentuan kondisi variabel di masa depan, merupakan hasil dari analisis
morfologis dan diskusi kelompok, dimana partisipan melakukan perkiraan
(foresight) terhadap masing-masing variabel.
Hasil perkiraan oleh partisipan (Tabel 33), ternyata tidak sama untuk
semua variabel. Terdapat variabel yang menurut partisipan hanya akan
mempunyai peluang dua bentuk kondisi (kualitas SDM masyarakat pesisir,
penegakan hukum, dan zonasi wilayah); tiga bentuk kondisi (pertumbuhan
penduduk dan infrastruktur wilayah); serta empat kondisi (aktivitas ekonomi
kerakyatan). Masing-masing peluang dari bentuk kondisi tersebut merupakan

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
134
opini dan cerminan kebutuhan para pemangku kepentingan di masa depan (Godet
dan Roubelat 1996; Bourgeois dan Jesus 2004; Gray dan Hatchard 2008; Coates
et al. 2010; Durance dan Godet 2010).
5.4 Pembangunan Skenar io
Dari penentuan kondisi variabel pada Tabel 33, dapat ditentukan
kombinasi kondisi variabel yang tidak mungkin terjadi. Kombinasi antar kondisi
variabel yang tidak mungkin tersebut, selanjutnya dibuang dari penyusunan
skenario. Kombinasi kondisi variabel yang tidak mungkin, adalah sebagai berikut:
1) A1-B2
2) A1-D3
3) A1-E3
4) A2-B1
5) A2-E1
6) B1-F2
7) B2-F1
8) D1-E3
Pengembangan skenario dilakukan melalui curah pendapat
(brainstorming) dan diskusi kelompok terstruktur. Dalam forum tersebut
partisipan diminta untuk dapat memberikan perkiraan dari kondisi masing-masing
variabel penentu pada masa datang. Perkiraan tersebut merupakan opini dan
cerminan kebutuhan para pemangku kepentingan di masa depan. Dari perkiraan
mengenai kondisi variabel tersebut di masa datang, dapat disusun skenario yang
mungkin terjadi di wilayah pesisir Teluk Lampung (Godet dan Roubelat 1996;
Bourgeois dan Jesus 2004; Godet 2010).
Suatu skenario merupakan sebuah kombinasi variabel dengan kondisi yang
berbeda-beda. Pembangkitan skenario dilakukan melalui curah pendapat terhadap
berbagai kondisi variabel (yang telah diidentifikasi pada Tabel 33), oleh para
partisipan. Secara konsensus, partisipan diminta untuk menyusun berbagai
kombinasi dari kondisi variabel yang mungkin terjadi atau mungkin dicapai di
masa depan (dalam kurun waktu 20 tahun ke depan).

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
135
Hasil curah pendapat partisipan, dan didapat konsensus penyusunan
skenario dalam penataan ruang wilayah pesisir Teluk Lampung yang mungkin
terjadi, adalah sebagai berikut:
1) Optimis : A1-B1-C3-D1-E1-F1, yaitu: kualitas SDM masyarakat
pesisir (meningkat), penegakan hukum (baik),
pertumbuhan penduduk (menurun), infrastruktur wilayah
(meningkat), aktivitas ekonomi kerakyatan (meningkat),
zonasi wilayah (baik).
2) Moderat : A1-B1-C2-D2-E1-F1, yaitu: kualitas SDM masyarakat
pesisir (meningkat), penegakan hukum (baik),
pertumbuhan penduduk (tetap), infrastruktur wilayah
(tetap), aktivitas ekonomi kerakyatan (meningkat), zonasi
wilayah (baik).
3) Pesimis : A2-B2-C2-D2-E2-F2, yaitu: kualitas SDM masyarakat
pesisir (tetap), penegakan hukum (tetap), pertumbuhan
penduduk (tetap), infrastruktur wilayah (tetap), aktivitas
ekonomi kerakyatan (tetap), zonasi wilayah (tetap).
4) Sangat Pesimis : A2-B2-C1-D3-E3-F2, yaitu: kualitas SDM masyarakat
pesisir (tetap), penegakan hukum (tetap), pertumbuhan
penduduk (meningkat), infrastruktur wilayah (menurun),
aktivitas ekonomi kerakyatan (menurun), zonasi wilayah
(tetap).
Dari skenario yang disusun partisipan, tampak bahwa perbedaan antar
skenario memberikan implikasi terhadap upaya yang harus dilakukan dalam
penataan ruang wilayah pesisir Teluk Lampung. Pada skenario optimis, harus
dilakukan upaya perbaikan yang maksimal terhadap semua variabel, sehingga
sistem akan menuju ke arah yang lebih baik. Secara implisit tampak bahwa
skenario optimis, merupakan cerminan kebutuhan para pemangku kepentingan
untuk mencapai suatu kondisi wilayah pesisir yang ideal pada masa depan. Pada
ekstrim yang lain, skenario sangat pesimis menunjukkan bahwa bila kondisi
seperti saat ini terus berlangsung, maka tidak diperlukan upaya pebaikan, dan
tentunya sistem akan menjadi lebih buruk daripada kondisi saat ini.

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
136
Sebagai kompromi dari kedua skenario ekstrim di atas, partisipan juga
merumuskan skenario moderat dan pesimis. Kedua skenario kompromis ini
merupakan cerminan dari kebutuhan para pemangku kepentingan dengan
mempertimbangkan kemampuan memperbaiki berbagai variabel penentu (Brown
et al. 2001). Upaya logis yang dapat diajukan oleh partisipan, secara nyata dapat
dirumuskan dalam implikasi strategis dan aksi antisipatif.
5.5 Implikasi Str ategis dan Aksi Antisipatif
Dari kombinasi kondisi variabel dan skenario yang mungkin terjadi dalam
20 tahun ke depan, selanjutnya partisipan melakukan diskusi terstruktur dan
menyusun implikasi strategis dan aksi antisipatif.
Rencana aksi yang dapat disusun oleh partisipan adalah mempersiapkan
diri untuk menghadapi situasi di masa datang (pro-aktif). Selain itu, eksplorasi
kondisi masa datang juga dapat membantu dalam menyiapkan aksi yang bersifat
re-aktif. Melalui identifikasi dan perbandingan skenario, maka para pengambil
keputusan dan pemangku kepentingan dapat lebih mampu merencanakan masa
depan suatu wilayah (Godet dan Roubelat 1996; Bourgeois dan Jesus 2004; Gray
dan Hatchard 2008; Coates et al. 2010; Durance dan Godet 2010).
Pada akhirnya sebagai kesimpulan konsensus, dapat dirumuskan implikasi
strategis dan aksi antisipatif yang harus diakomodasi dalam penataan ruang
wilayah pesisir Teluk Lampung adalah sebagai berikut:
1) Pemenuhan kebutuhan ruang untuk prasarana dan sarana kesehatan dan
pendidikan masyarakat pesisir
2) Pemenuhan kebutuhan ruang untuk pengembangan sentra-sentra usaha
mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang terkait dengan kelautan dan
perikanan
3) Pemenuhan kebutuhan ruang untuk permukiman di wilayah pesisir yang
dilengkapi dengan prasarana dan sarana sanitasi lingkungan.
4) Penyusunan struktur dan pola ruang yang sinergis antar kabupaten/kota di
wilayah pesisir
5) Penyusunan struktur dan pola ruang yang mampu mendorong
pengembangan wirausaha UMKM untuk masyarakat pesisir.

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
137
6) Penyusunan struktur ruang yang dapat mendorong distribusi penduduk
yang proporsional di wilayah pesisir, dan sekaligus menjamin pengelolaan
kawasan lindung dan budidaya secara berimbang.
Implikasi strategis dan aksi antisipatif di atas merupakan kebutuhan
pemangku kepentingan yang dapat dipenuhi melalui intervensi terhadap berbagai
variabel penentu dalam penataan ruang wilayah pesisir Teluk Lampung.
5.6 Hubungan Analisis Pr ospektif Par tisipatif dengan Pemodelan
Hasil analisis prospektif partisipatif digunakan sebagai bentuk kebutuhan
pemangku kepentingan dalam pengembangan skenario perencanaan tata ruang.
Pada sub-bab 7.1, hasil analisis ini dipresentasikan dalam model sistem dinamik
untuk penggambaran skenario melalui peubah “kebijakan”. Adapun hasil
penyusunan implikasi strategis dan aksi antisipatif oleh para pemangku
kepentingan, digunakan sebagai dasar dalam penyusunan strategi implementasi
kebijakan tata ruang, yang dibahas dalam sub-bab 7.3.


















A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
138







A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
6 ANALISIS SISTEM
6.1 Pemodelan Sistem Dinamik
Pemodelan sistem merupakan gugus kegiatan pembuatan model yang akan
menggambarkan sistem yang dikaji (Forrester 1968; HPS Inc. 1994; Eriyatno
1999). Model yang dibangun adalah model simbolik (model matematik)
deterministik. Pemodelan sistem dilakukan dengan menggunakan bantuan
perangkat lunak komputer Stella 7.r. dari HPS, Inc (2001).
6.1.1 Sub-model
Model terdiri dari tiga sub model, yaitu populasi, ekonomi, dan
ketersediaan ruang. Ketiga sub-model saling terhubung dengan beberapa peubah,
dengan beragam parameter dan nilai awal. Blok bangunan dasar dalam bahasa
Stella adalah meliputi stocks, flows, dan converter, seperti telah diuraikan pada
Sub-bab 3.7.2.
Sub-model populasi
Sub-model populasi menggambarkan dinamika penduduk berikut peubah
yang menentukan dan ditentukannya. Peubah yang terlibat dalam sub-model ini
antara lain meliputi: jumlah populasi, kelahiran, imigrasi, kematian, emigrasi,
angkatan kerja, pengangguran, dan pertambahan penduduk. Kesemua peubah
berhubungan baik secara langsung maupun tidak, yang diformulasikan secara
numerik.
Sub-model populasi terhubung dengan sub-model aktivitas ekonomi
melalui peubah lapangan kerja-pengangguran, dan kemudahan tenaga kerja-
percepatan investasi; sedangkan terhadap sub-model ketersediaan ruang melalui
peubah kendala ruang-percepatan emigrasi_emigrasi, serta pertambahan
penduduk-kebutuhan permukiman dan prasarana. Sub-model populasi disajikan
pada Gambar 30, sedangkan persamaan lengkap disajikan pada Lampiran 4.
Sub-model aktivitas ekonomi
Sub-model aktivitas ekonomi menggambarkan dinamika perekonomian
berikut peubah yang menentukan dan ditentukannya. Peubah-peubah yang terlibat
dalam sub-model ini antara lain meliputi: aktivitas ekonomi (PDRB harga konstan
tahun 2000), pertumbuhan ekonomi, angkutan laut, industri, investasi, perikanan,

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
140
pertanian, sektor lain, wisata, dan lapangan kerja. Kesemua peubah berhubungan
baik secara langsung maupun tidak, yang diformulasikan secara numerik.
Sub-model aktivitas ekonomi terhubung dengan sub-model populasi
melalui peubah lapangan kerja-pengangguran, dan kemudahan tenaga kerja-
percepatan investasi; sedangkan terhadap sub-model ketersediaan ruang melalui
peubah percepatan investasi-kendala ruang. Secara singkat sub-model aktivitas
ekonomi disajikan pada Gambar 31, sedangkan persamaan lengkap disajikan pada
Lampiran 4.
Sub-model keter sediaan r uang
Sub-model ketersediaan ruang menggambarkan dinamika kebutuhan dan
penggunaan ruang berikut peubah yang menentukan dan ditentukannya. Peubah-
peubah yang terlibat dalam sub-model ini antara lain meliputi: kawasan lindung
darat, kawasan lindung perairan, lahan budidaya pesisir, lahan bisnis dan
industri, lahan permukiman, lahan pertanian, lahan prasarana, perairan
budidaya laut, perairan ikan tangkap, perairan militer, perairan pelabuhan,
terumbu karang, degradasi sumberdaya pesisir, dan kendala ruang. Kesemua
peubah berhubungan baik secara langsung maupun tidak, yang diformulasikan
secara numerik.
Sub-model ketersediaan ruang terhubung dengan sub-model populasi
melalui peubah kendala ruang-percepatan imigrasi emigrasi, serta pertambahan
penduduk-kebutuhan permukiman dan prasarana.; sedangkan terhadap sub-model
aktivitas ekonomi melalui peubah percepatan investasi-kendala ruang. Secara
singkat sub-model aktivitas ekonomi disajikan pada Gambar 32, sedangkan
persamaan lengkap disajikan pada Lampiran 4.
6.1.2 Nilai awal dan par ameter
Dalam model yang dibangun, terdapat banyak variabel (peubah), yang
setiap atau sekelompok peubah mewakili komponen sistem. Setiap atau
sekelompok peubah akan berinteraksi dengan satu atau sekelompok peubah lain,
dan menggambarkan karakteristik sistem. Interaksi antar peubah berlangsung
melalui persamaan-persamaan, yang meliputi: stock, flow, auxilary, dan delay,
seperti telah diuraikan pada Bab 3. Untuk melengkapi persamaan-persamaan
tersebut, yang dapat menggambarkan karakteristik dan pola interaksi antar peubah

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
141
dalam komponen sistem, maka dibutuhkan nilai awal untuk stock dan parameter
untuk peubah lainnya. Oleh karena itu, sesuai dengan tujuan pemodelan yaitu
untuk mempelajari dinamika sistem dalam jangka panjang, maka penentuan nilai
awal dan parameter dari berbagai peubah, menjadi penting.

























Penentuan nilai awal dan parameter, dilakukan berdasarkan data sekunder
(empirik) yang telah dikumpulkan, serta interpretasi citra satelit dan analisis SIG.
Dalam hal tidak ditemuinya data sekunder untuk nilai awal dan parameter, maka

Gambar 30 Sub-model populasi
Gambar 31 Sub-model aktivitas ekonomi
AKTIVITAS
EKONOMI
Perst Ekonomi
Investasi
Industri
Angkutan
Laut
Wisata
Pert Industri
Sektor
Lain
Pert Investasi
Pertumbuhan
Ekonomi
Perikanan
Pert Angkt Laut
Pert Perikanan
Pert Sektor Lain
Pert Wisata
Kebangkrutan
~
Percp Invest
~
Percp Invest
~
Percp Invest
~
Percp Invest
~
Percp Invest
Tgkt Kebangkrutan
Lapangan Kerja Keb Naker Investasi
Fraksi pert
invest
~
Dampak
Penganggur
~
Percp Invest
~
Naker PDRB
Naker per Invest
Fraksi Pert Lain
Fraksi Pert Wisata
Fraksi Pert
Industri
~
Fraksi Pert
Perikanan
Fraksi Pert Angkt Laut
Pertanian
Lap Kerja dari Perekonomian
Pert Pertanian
Fraksi Pert
Pertanian
~
Percp Invest
~
Kendala Ruang
Lapangan Kerja Awal
Rasio Perairan
LDG BD
Perst Indst
Perst Tani
Perst Lain
Perst Wisata
Perst Ikan
Perst Angklaut
Ikan awal
~
Pengrh angktlaut
~
Pengrh angktlaut
Perst Ikan
Rasio lhn tani
Sub Model Aktivitas Ekonomi

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
142
dilakukan perkiraan dari pengolahan data yang tersedia, atau melalui simulasi
model yang meliputi simulasi per sub-model (sektor) atau penggunaan fungsi
grafik yang terdapat dalam perangkat lunak Stella. Beberapa nilai awal dan
parameter model, disajikan pada Tabel 34, dan secara lengkap disajikan pada
Tabel Lampiran 3

.

























Gambar 32 Sub-model ketersediaan ruang
Terumbu Karang
Kawasan
Lindung Darat
PERAIRAN
TOTAL
Lahan Tersedia
Lahan Permukiman
Lahan Militer
Lahan Prasarana
LAHAN
TOTAL
Penambahan
Lahan
Lahan Pertanian
Laju perb pertanian
Keb Lahan Militer
Laju kebutuhan
lahan
Keb Pemukiman
Penetapan
Lindung Darat
Keb Prasarana
Pert Lahan Militer
Mukim per kapita
Prasarana per Kapita
~
Pert Lhan Tani
Lahan BD Pesisir
Laju perb
BD Pesisir
Lahan Bisnis
dan Industri
Keb Bisnis dan Industri
Lahan BD Ideal
~
Tahapan
Kw Lindung
Ruang per Investasi
Pert Industri
Lahan Wisata Pantai
Laju perb lhn wisata
Lahan BD
Terpakai
Perairan
Militer
Pengurangan
Perairan Total
Perairan
Pelabuhan
Perb
Perairan Pel
KEBIJAKAN
Lahan Pelabuhan
Keb Pelabuhan
Perluasan pelabuhan
Peruntukan
Lindung Darat
Kawasan
Lindung Darat
Pertambahan
Penduduk
Penyediaan
Lahan
Semp Pantai
Semp Sungai
Keb Pemukiman
Lindung
Lahan Atas
Peruntukan
Semp Pantai
Peruntukan
Lindung Darat
Konversi
Semp Pantai
Konversi
Semp Sungai
Konversi
Lahan Atas
Keb Prasarana
Peruntukan
Semp Sungai
Keb Bisnis dan Industri
Keb Pelabuhan
Laju penambahan
perairan pel
Prtk Lindung
Lahan Atas
Penurunan
Lhn Tani
Laju perb
BD Pesisir
LAHAN
TOTAL
Lahan BD
Terpakai
Lahan sisa
Laju perb lhn wisata
Keb Pemukiman
Pert Lahan Wisata
Lahan Rawa
Pantai
Laju perb
BD Pesisir
Pertambahan
Reklamasi
Penyedian Lhn
tak ramah lingk
Konversi
Semp Sungai
Penyedian Lhn
tak ramah lingk
Pertambahan
Reklamasi
Kecepatan Reklamasi
Penetapan
Lindung Darat
Reklamasi
Pertambahan
Reklamasi
Rasio Lhn
LDG BD
Perairan
BD Laut
Perairan Ikan
Tangkap
Kaw Lindung
Perairan
Perairan BD Ideal
Perairan BD
Terpakai
Penambahan
perairan BD Laut
~
Fraksi Pert
Perikanan
Prtk Kw Lindung
Perairan
Terumbu Karang
~
Tahapan
Kw Lindung
Kaw Lindung
Perairan
Rasio Perairan
LDG BD
Landuse
tak sesuai
Perambahan TK
~
Degradasi SD Pesisir
Konversi kws
lindung perairan
LAHAN
TOTAL
Rasio lhn tani
Inkonsistensi tata ruang
Rasio Perairan
LDG BD
Rasio Lhn
LDG BD
~
Gap penggunaan
ruang
~
Kendala Ruang
Penurunan
Lhn Tani
Keb Pemukiman
Penggunaan
Lahan Lain
Penetapan status
menjadi lindung
Penetapan status
menjadi lindung
Keb Pemukiman
KEBIJAKAN
KEBIJAKAN
KEBIJAKAN
Penetapan
Lindung Darat
Sbr lind
darat
Landuse
tak sesuai
Penggunaan
Lahan Lain
~
Pert BD Pesisir
Penurunan Lhn Lain
Laju prb lhn lain
Keb Bisnis dan Industri
Keb Prasarana
Peruntukan
Lindung Darat
Perambahan TK
Peruntukan
Lindung Darat
Sub Model Ketersediaan Ruang

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
143
Tabel 34 Ringkasan beberapa nilai awal dan parameter model
No. Peubah Deskripsi
Nilai Awal /
Parameter
Satuan Pendugaan
1 AKTIVITAS_
EKONOMI
Digambarkan dari nilai besarnya PDRB harga konstan di wilayah penelitian. 2.628.969 Rp juta S
2 POPULASI Jumlah penduduk total 533.298 orang S
3 Kawasan_ Lindung_Darat Merupakan luas total kawasan lindung yang ditetapkan sesuai dengan kriteria. 0 ha E
4 Kaw_Lindung_ Perairan Merupakan luas total kawasan lindung perairan. 0 ha E
5 Lahan_ Permukiman Lahan yang digunakan untuk pemukiman penduduk. 1.531 ha PS
6 Lahan_BD_ Pesisir Lahan yang digunakan untuk tambak. 2.477 ha PS
7 Lahan_Bisnis_
dan_Industri
Lahan yang digunakan untuk bisnis dan industri. 880 ha PS
8 Lahan_Militer Lahan yang digunakan untuk pangkalan TNI-AL di Teluk Ratai. 115 ha PS
9 Lahan_Pelabuhan Luas lahan areal pelabuhan. 210 ha PS
10 Lahan_Pertanian Ruang yang digunakan untuk pertanian. 105.223 ha PS
11 Lahan_Prasarana Lahan untuk prasarana, termasuk fasos dan fasum. 890 ha PS
12 Lahan_Wisata_ Pantai Lahan yang digunakan untuk areal wisata pantai. 60 ha PS
13 Perairan_BD_Laut Merupakan luas perairan yang digunakan untuk kegiatan budidaya perikanan. 8.000 ha S
14 Perairan_Ikan_ Tangkap Merupakan perairan yang secara tradisional untuk menangkap ikan. 80.262 ha S
15 Perairan_Militer Merupakan perairan yang ditetapkan untuk pelatihan tempur laut TNI-AL. 35.417 ha S
16 Perairan_Pelabuhan Merupakan perairan pelabuhan, dan alur pelayaran. 4.330 ha S
17 KEBIJAKAN Merupakan faktor pengali yang mewakili kebijakan penetapan kawasan lindung dan
budidaya darat dan perairan .
0 - 1 - E
18 Kendala_Ruang Menunjukkan kendala pengembangan wilayah. graph - E
19 Degradasi_SD_ Pesisir Degradasi sumberdaya pesisir akibat terjadinya konversi kawasan lindung maksimum. graph - E
Keterangan: S = data sekunder; PS = Pengolahan data sekunder, analisis citra satelit, dan SIG; E = simulasi model, graph = fungsi grafik dari Stella.


A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
144
6.1.3 Validasi model
Validasi model merupakan pembuktian bahwa suatu model dapat secara
konsisten memenuhi kisaran akurasi sesuai dengan rancangannya, hal ini
merupakan titik kritis dalam pengembangan model. Namun demikian, tidak ada
uji tertentu yang tersedia untuk menilai “kebenaran” suatu model. Lebih jauh lagi,
tidak tersedia suatu algoritma tertentu yang dapat digunakan untuk menentukan
teknik atau prosedur apa yang sesuai untuk digunakan. Oleh karena itu, setiap
pengembangan model akan menghadirkan tantangan tersendiri (Sargent 1998).
Dalam penelitian ini, validasi dilakukan untuk mengetahui validitas model
yang telah dibangun, sehingga dapat dianggap layak untuk digunakan. Proses
validasi yang dilakukan melibatkan dua kategori (tahap) pengujian, yaitu
pengujian struktur dan pengujian perilaku model. Kedua proses tersebut dapat
dianggap layak dalam proses validasi (Sushil 1993; Sargent 1998).
(1) Validasi str uktur model
Validasi struktur model merupakan pengujian apakah model tidak
bertentangan dengan mekanisme yang terjadi di dalam sistem nyata. Oleh karena
itu, validasi struktur berhubungan dengan informasi dari literatur mengenai
mekanisme sistem nyata. Proses validasi struktur, meliputi uji kesesuaian struktur
dan konsistensi dimensi (Sushil 1993; Qudrat-Ullah 2005).
Kesesuaian str uktur model
Model yang menggambarkan interaksi antara komponen populasi,
aktivitas ekonomi, dan ketersediaan ruang, haruslah bersesuaian dengan kondisi
sistem nyata. Dalam sistem yang demikian, hubungan antar peubah populasi dan
penggunaan ruang, aktivitas ekonomi dan penggunaan ruang, aktivitas ekonomi
dan populasi (lapangan kerja), haruslah bersifat positif (Graham 1976 in HPS
1990; Oppenheim 1980).
Dalam model yang dibangun, sifat hubungan antar peubah tersebut harus
dapat dibuktikan bersesuaian dengan mekanisme sistem nyata di wilayah pesisir
Teluk Lampung. Untuk itu, dilakukan pengoperasian model yang telah dibangun,
dan hasilnya disajikan pada Gambar 33 sampai Gambar 35 (data selengkapnya
disajikan pada Lampiran 8). Hasil pengujian menunjukkan bahwa model yang

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
145
dibangun dapat memberikan hasil yang bersesuaian dengan kondisi sistem nyata.
Berdasarkan uji tersebut, disimpulkan bahwa struktur model dapat digunakan
untuk mewakili mekanisme kerja sistem nyata.





























Gambar 33 Hubungan antara populasi dan penggunaan ruang permukiman dan
perkotaan di wilayah pesisir Teluk Lampung
3
4
5
6
7
8
9
530 550 570 590 610 630 650 670
Populasi (ribu orang)
R
u
a
n
g



P
e
r
m
u
k
i
m
a
n



d
a
n



P
e
r
k
o
t
a
a
n



(

r
i
b
u


h
a

)
Gambar 34 Hubungan antara aktivitas ekonomi dan penggunaan ruang
permukiman dan perkotaan di wilayah pesisir Teluk Lampung
3,0
4,2
5,4
6,6
7,8
9,0
2.500 3.000 3.500 4.000 4.500 5.000 5.500 6.000 6.500 7.000 7.500
Aktivitas Ekonomi (Rp Milyar)
R
u
a
n
g



P
e
r
m
u
k
i
m
a
n



d
a
n



P
e
r
k
o
t
a
a
n



(

r
i
b
u


h
a

)

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
146















Konsistensi dimensi
Uji konsistensi dimensi merupakan pemeriksanaan atas semua persamaan
matematis yang dibuat di dalam model, agar tidak terdapat kesalahan antara kedua
sisi pada masing-masing persamaan. Uji konsistensi dilakukan berulang-ulang,
dan telah dilaksanakan secara simultan dalam proses pengembangan model.
(2) Validasi per ilaku model
Validasi perilaku model merupakan pengujian apakah model mampu
membangkitkan perilaku yang mendekati sistem nyata. Proses pengujian ini
dilakukan dengan membandingkan data hasil pemodelan dengan dunia nyata (data
empirik). Pengujian dilakukan pada beberapa peubah yang meliputi: Populasi,
Angkatan Kerja, Aktivitas Ekonomi, Investasi, Sektor Industri, Sektor Pertanian,
Sektor Perikanan, Sektor Angkutan Laut dan Penyeberangan, Sektor Pariwisata,
Sektor Lain, Lahan Permukiman dan Perkotaan, serta Lahan Budidaya Pesisir
(tambak).
Hasil pemodelan dibandingkan dengan data historis yang tersedia (tahun
2003 sampai 2007), untuk mengetahui apakah kedua nilai tengahnya (mean)
Gambar 35 Hubungan antara aktivitas ekonomi dan lapangan kerja di wilayah
pesisir Teluk Lampung
246
255
264
274
283
292
2.500 3.000 3.500 4.000 4.500 5.000 5.500 6.000 6.500 7.000 7.500
Aktivitas Ekonomi (Rp milyar)
L
a
p
a
n
m
g
a
n



K
e
r
j
a



(

r
i
b
u



o
r
a
n
g

)

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
147
berbeda. Pengujian perbedaan kedua nilai tengah data dilakukan dengan
menggunakan uji-t dua arah (two tail) pada taraf nyata 5%. Hasil pengujian model
menunjukkan bahwa nilai tengah antara data historis dan data pemodelan dari
peubah yang diuji, tidak berbeda nyata. Ringkasan hasil pengujian, disajikan pada
Tabel 35, sedangkan data lengkap disajikan pada Lampiran 8.
Berdasarkan validasi struktur dan perilaku, dapat disimpulkan bahwa
model yang dibangun adalah valid. Dengan demikian, maka terdapat cukup alasan
untuk dapat menggunakan model yang dibangun dalam menggambarkan dinamika
wilayah pesisir Teluk Lampung.
Tabel 35 Pengujian nilai tengah (mean) data historis dan data pemodelan
Mean Data Nilai-t
No Peubah Satuan
Historis Model Hitung Tabel
Kesim-
pulan
1 Populasi orang 557.058 554.682 0,19 2,31 TB
2 Angkatan Kerja orang 268.422 270.995 -0,29 2,31 TB
3 Aktivitas Ekonomi Rp juta 2.963.912 2.960.503 0,02 2,31 TB
4 Investasi Rp juta 237.155 211.585 0,29 2,31 TB
5 Produk Sektor Industri Rp juta 422.347 426.668 -0,15 2,31 TB
6 Produk Sektor Pertanian Rp juta 456.599 456.594 0,00 2,31 TB
7 Produk Sektor Perikanan Rp juta 458.866 458.213 0,01 2,31 TB
8 Produk Sektor Angkutan
Laut dan Penyeberangan
Rp juta 138.826 139.214 -0,05 2,31 TB
9 Produk Sektor Pariwisata Rp juta 68.993 68.292 0,28 2,31 TB
10 Produk Sektor Lain Rp juta 1.418.281 1.411.522 0,09 2,31 TB
11 Lahan Permukiman dan
Perkotaan
ha 3.990 3.941 0,21 2,31 TB
12 Lahan Budidaya Pesisir
(Tambak)
ha 3.733 3.517 0,37 2,31 TB
Keterangan: TB = tidak berbeda nyata menurut uji t-student dua arah, pada taraf nyata 5%.
6.2 Infor masi Geogr afis Wilayah
6.2.1 Penutupan lahan
Luas lahan wilayah pesisir Teluk Lampung yang termasuk dalam wilayah
penelitian adalah 127.902 ha. Berdasarkan interpretasi citra satelit Landsat TM-7
tahun 2009, diketahui bahwa penutupan lahan yang dominan adalah pertanian
lahan kering. Penutupan lahan terluas berupa campuran tanaman pangan, tanaman
kebun, dan semak, meliputi 40,85% lahan; kemudian disusul oleh penutupan yang
didominasi oleh tanaman kebun sebesar 33,68%. Penutupan lahan berupa
bangunan yang meliputi permukiman, perkotaan, dan industri hanya sekitar
3,87%; dan pada areal yang berbatasan dengan perairan adalah tambak (4,88%).

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
148
Kondisi penutupan hutan di wilayah pesisir Teluk Lampung, sudah sangat
sedikit. Hutan primer hanya tersisa sekitar 1.585 ha (1,24%) yang terkonsentrasi
di Lampung Selatan (Gunung Rajabasa di Kecamatan Rajabasa), dan hutan bekas
tebangan seluas 9.957 ha (7,78%) yang terkonsentrasi di Kabupaten Lampung
Selatan dan Pesawaran. Pada areal yang berbatasan dengan perairan, penutupan
hutan mangrove sudah hampir habis, yaitu hanya tersisa sekitar 342 ha (0,27%),
yang terdapat di Pesawaran. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa penutupan
lahan oleh vegetasi alami (hutan) di wilayah pesisir Teluk Lampung, sudah cukup
kritis dan memerlukan tindakan penataan yang efektif. Informasi mengenai
penutupan lahan, disajikan pada Tabel 36 dan Gambar 36.
6.2.2 Kemampuan lahan
Pengelompokan kelas kemampuan lahan di wilayah pesisir Teluk
Lampung dilakukan mengikuti sistem USDA (Klingibeel dan Montgomery 1961
diacu dalam Hardjowigeno dan Widiatmaka 2007). Dalam sistem tersebut, lahan
dikelompokkan dalam delapan kelas yaitu kelas 1 sampai kelas 8, yang berturut-
turut mencirikan tingkat besarnya faktor penghambat penggunaan lahan yang
bersangkutan. Deskripsi dari masing-masing kelas kemampuan tersebut adalah
sebagai berikut:
1) Lahan kelas 1, sesuai untuk segala jenis penggunaan pertanian tanpa
memerlukan tindakan pengawetan tanah yang khusus. Lahannya datar,
bersolum dalam, bertekstur agak halus atau sedang, drainase baik, mudah
diolah, dan responsif terhadap pemupukan, tidak mempunyai penghambat
atau ancaman kerusakan.
2) Lahan kelas 2, mempunyai beberapa penghambat yang memerlukan usaha
pengawetan tanah tingkat sedang. Faktor penghambat adalah salah satu
atau kombinasi dari sifat-sifat: lereng, kepekaan erosi atau erosi yang telah
terjadi, kedalaman tanah, struktur tanah, sedikit gangguan salinitas atau Na
tetapi mudah diperbaiki, kadang tergenang atau banjir, drainase buruk
yang mudah diperbaiki, dan iklim sedikit menghambat.
3) Lahan kelas 3, mempunyai penghambat yang agak berat dan memerlukan
usaha pengawetan tanah khusus. Faktor penghambat adalah salah satu atau
kombinasi dari sifat-sifat: lereng agak curam, kepekaan erosi agak tinggi
atau erosi yang telah terjadi cukup berat, sering tergenang banjir,

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
149
permeabilitas sangat lambat, masih sering tergenang meskipun drainase
telah diperbaiki, dangkal, daya menahan air rendah, kesuburan rendah dan
tidak mudah diperbaiki, salinitas atau kandungan Na sedang, dan
penghambat iklim sedang.
4) Lahan kelas 3, mempunyai penghambat yang berat dan memerlukan
pengelolaan. Penggunaan lahan sangat terbatas karena salah satu atau
kombinasi dari sifat-sifat: lereng curam, kepekaan erosi besar, erosi yang
telah tejadi berat, tanah dangkal, daya menahan air rendah, sering
tergenang banjir yang menimbulkan keru-sakan berat pada tanaman,
drainase terhambat dan masih sering tergenang meskipun telah dibuat
saluran drainase, salinitas atau kandungan Na agak tinggi, penghambat
iklim sedang.
5) Lahan kelas 5 mempunyai sedikit atau tanpa bahaya erosi, tetapi
mempunyai penghambat lain yang praktis sukar dihilangkan. Lahan ini
datar, akan tetapi mempunyai salah satu atau kombinasi dari sifat-sifat:
drainase yang sangat buruk atau terhambat, sering kebanjiran, berbatu-
batu, dan penghambat iklim cukup besar.
6) Lahan kelas 6, mempunyai penghambat yang sangat berat sehingga tidak
sesuai untuk pertanian. Lahan ini mempunyai penghambat yang sulit
sekali diperbaiki, yaitu salah satu atau lebih sifat-sifat: lereng sangat
curam, bahaya erosi atau erosi yang telah terjadi sangat berat, berbatu-
batu, dangkal, drainase sangat buruk atau tergenang, daya menahan air
rendah, salinitas atau kandungan Na tinggi, dan penghambat iklim besar.
7) Lahan kelas 7, memiliki faktor penghambat yang lebih besar, yaitu salah
satu atau kombinasi sifat-sifat: lereng terjal, erosi sangat berat, tanah
dangkal, berbatu-batu, drainase terhambat, salinitas atau kandungan Na
sangat tinggi, dan iklim sangat menghambat.
8) Lahan kelas 8, memiliki faktor penghambat yang sangat besar dan tidak
dapat diperbaiki, sehingga harus dibiarkan dalam keadaan alami atau
dibawah vegetasi hutan. Penghambat dari lahan ini adalah salah satu atau
lebih sifat-sifat: erosi atau bahaya erosi sangat berat, iklim sangat buruk,
tanah selalu tergenang, berbatu-batu, kapasitas menahan air sangat rendah,
salinitasnya atau kandungan Na sangat tinggi, dan sangat terjal.


A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
150
Tabel 36 Penutupan lahan wilayah penelitian
Penutupan Lahan (ha)
No Kecamatan
A B C D E F G H I J K L M
Jumlah
1 Katibung - 8 - - - 6.357 12.299 - - 3 12 184 - 18.863
2 Sidomulyo - - - - 2.457 - 12.898 - 44 - 12 489 - 15.900
3 Kalianda - 1.274 - 1.350 3.483 - 10.477 62 250 - 14 1.073 - 17.983
4 Rajabasa 1.585 6.320 - 932 - - 826 - 15 - 125 236 - 10.039
5 Bakauheni - 14 - - - - 5.361 - 150 - - 188 - 5.713
6 Teluk Betung Barat - - - - - 1.396 - - - - - 703 - 2.099
7 Teluk Betung Selatan - - - - - - 18 - - - - 989 - 1.007
8 Panjang - - - - - - 1.199 - - - - 917 - 2.116
9 Padang Cermin - 561 219 - - 29.266 - 294 815 - 277 110 221 31.763
10 Punduh Pidada - 1.780 123 - - 15.228 - 240 4.969 - 19 60 - 22.419
Jumlah 1.585 9.957 342 2.282 5.940 52.247 43.078 596 6.243 3 459 4.949 221 127.902
Keterangan: A = Hutan Primer; B = Hutan Bekas Tebangan; C= Mangrove; D = Semak belukar; E = Dominan Tanaman Pangan; F = Campuran Pangan, Kebun,
dan Semak; G = Dominan Tanaman Kebun; H = Sawah; I = Tambak; J = Tanah Terbuka; K = Rawa; L = Tertutup Bangunan; M = Tertutup Awan.
Tabel 37 Kelas kemampuan lahan wilayah penelitian
Kemampuan Lahan (ha)
No. Kecamatan
Kelas 1 Kelas 2 Kelas 3 Kelas 4 Kelas 5 Kelas 6 Kelas 7 Kelas 8
Jumlah
1 Katibung 543 6.086 4.435 2.804 47 4.880 68 - 18.863
2 Sidomulyo 881 9.469 5.171 - 379 - - - 15.900
3 Kalianda 1.496 10.467 5.035 - 985 - - - 17.983
4 Rajabasa - 462 1.103 2.742 - 1.621 1.892 2.219 10.039
5 Bakauheni - 506 1.155 983 - 3.069 - - 5.713
6 Teluk Betung Barat - 427 779 5 125 764 - - 2.100
7 Teluk Betung Selatan - 343 487 8 169 - - - 1.007
8 Panjang - 687 369 490 2 568 - - 2.116
9 Padang Cermin 562 2.832 5.731 4.280 953 6.470 4.941 5.995 31.764
10 Punduh Pidada 638 3.517 4.835 4.407 586 5.867 1.179 1.388 22.417
Jumlah 4.120 34.796 29.100 15.719 3.246 23.239 8.080 9.602 127.902

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
151



















Gambar 36

PETA PENUTUPAN
LAHAN

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
152

















Gambar 37

PETA KEMAMPUAN
LAHAN

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
153
Berdasarkan klasifikasi kemampuan lahan di atas, dan kondisi lahan yang
ada, terutama sistem lahan dan kelerengan (seperti telah disajikan pada Sub-Bab
4.1.3), dilakukan analisis pengelompokan kelas lahan di wilayah studi. Hasil
analisis kemampuan lahan, disajikan pada Tabel 37 dan Gambar 37.
Dari analisis kelas kemampuan lahan, nampak bahwa wilayah pesisir
Teluk Lampung memiliki lahan dengan faktor penghambat besar (kelas 6, 7, dan
8), seluas 40.921 ha (sekitar 32% dari luas lahan total). Sebaran lahan dengan
faktor penghambat besar tersebut, terutama terdapat di Kabupaten Pesawaran
(Kecamatan Padang Cermin dan Punduh Pidada), yaitu mencapai 25.840 ha.
Sebaran lahan dengan faktor penghambat lebih kecil (kelas 1, 2, 3, dan 4)
berjumlah 83.735 ha (65,47%), dan terutama terdapat di Kabupaten Lampung
Selatan yaitu seluas 53.338 ha (41,70%). Adapun kelas lahan dengan penghambat
khusus berupa genangan air dan drainase buruk (kelas 5), terdapat seluas 3.246 ha
(2,54%). Lahan kelas 5 terdapat pada pantai yang berlereng datar dan berawa,
umumnya merupakan habitat vegetasi mangrove, namun pada saat ini sebagian
besar telah telah dikonversi menjadi tambak.
Dari sebaran kelas lahan, tampak bahwa wilayah pesisir Teluk Lampung,
hanya mampu mendukung aktivitas budidaya daratan (pertanian dan non-
pertanian) yang terbatas sekitar 65,47% dari luas lahan. Merujuk pada penutupan
lahan saat ini, tampak bahwa sebagian aktivitas budidaya pertanian dan non-
pertanian sudah mencapai luas sekitar 113.055 ha (Tabel 36), sudah menunjukkan
bahwa sebagian dari aktivitas budidaya telah menggunakan lahan yang
berpenghambat besar. Jumlah tersebut belum lagi termasuk tutupan vegetasi hutan
yang telah dirambah dan berubah menjadi hutan bekas tebangan dan semak
belukar, yang mencapai luas 12.239 ha.
Penggunaan lahan berpenghambat besar untuk aktivitas budidaya, harus
dikurangi dan dihentikan. Terdapat dua alasan bagi kepentingan tersebut, yaitu
pertama lahan yang bersangkutan memiliki fungsi lindung dan selayaknya
dijadikan kawasan lindung, dan kedua produktivitas lahan berpenghambat besar
adalah rendah bagi aktivitas budidaya. Oleh karena itu, lahan berpenghambat
besar selayaknya ditetapkan sebagai kawasan lindung, yang berfungsi melindungi
kawasan di bawahnya.

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
154
6.2.3 Penggunaan per air an
Luas total perairan di dalam wilayah studi yang dihitung dari analisis SIG
adalah 161.178 ha. Aktivitas utama pengguna ruang perairan adalah angkutan
(perhubungan) laut, TNI-AL, dan perikanan, adapun aktivitas pengguna lainnya
adalah pariwisata, permukiman dan perkotaan yang berbatasan dengan perairan.
Hasil analisis SIG menunjukkan bahwa perikanan tangkap merupakan aktivitas
yang paling banyak menggunakan ruang perairan sebagai wilayah tangkap
(fishing ground), serta TNI-AL untuk area kepentingan latihan pertempuran laut.
Informasi mengenai penggunaan ruang perairan disajikan pada Tabel 38, dan
Gambar 38.
Tabel 38 Penggunaan ruang perairan Teluk Lampung
No. Penggunaan Perairan Luas (ha)
1. Kepentingan pelayaran 4.330
2. Daerah latihan TNI AL 35.417
3. Perairan wilayah tangkap 80.262
4. Perairan perikanan budidaya 8.000
5. Terumbu karang dan padang lamun 4.823
6. Perairan yang telah direklamasi di Bandar Lampung 450
7. Perairan yang telah direklamasi di Lampung Selatan dan
Pesawaran
200
Sumber: Dishidros TNI-AL (1998), Pemerintah Provinsi Lampung (2006a, 2006b), Dinas
Perikanan dan Kelautan Provinsi Lampung (2007), Dinas Kelautan dan Perikanan
Kota Bandar Lampung (2007), Interpretasi Citra Landsat TM-7 (2009)
Pada dasarnya penggunaan ruang perairan oleh berbagai aktivitas, tidaklah
bersifat kaku, namun lebih bersifat temporal, kecuali untuk perikanan budidaya
laut (terutama kerang mutiara) dan perikanan tangkap yang menggunakan alat
tangkap statis. Oleh karena itu, terdapat banyak penggunaan ruang perairan yang
tumpang tindih antar berbagai aktivitas, seperti kepentingan perikanan dengan
TNI-AL, dan perikanan dengan perhubungan laut.
Dari analisis SIG dapat dihitung luas tumpang tindih antara areal
perikanan tangkap dengan daerah latihan TNI-AL mencapai 15.877 ha, yaitu
sekitar 45% dari daerah latihan merupakan wilayah tangkap bagi nelayan.
Tumpang tindih antara daerah lingkungan kepentingan (DLKp) pelabuhan dengan
wilayah tangkap adalah 291 ha, yaitu daerah banyak sero (alat tangkap statis).
Alur pelayaran juga tumpang tindih dengan wilayah tangkap dan daerah latihan

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
155
TNI-AL. Di samping itu, kawasan terumbu karang dan padang lamun juga
tumpang tindih dengan daerah perikanan budidaya laut (kerang mutiara dan
keramba jaring apung) yang banyak terdapat di wilayah pantai atau dan pulau-
pulau kecil (Sebuku, Legundi, dan Lahu), serta wilayah tangkap.
Kondisi yang perlu diperhatikan secara lebih baik adalah keberadaan
terumbu karang yang semakin terancam dengan beragam aktivitas pengguna
ruang perairan. Sebagai ekosistem pesisir, terumbu karang dengan segala
kehidupan yang ada didalamnya merupakan salah satu kekayaan yang dapat
menunjang produksi perikanan, bahan baku farmasi, obyek wisata bahari, bahan
hiasan dan akuarium ikan laut, tempat pemijahan ikan, tempat mencari ikan,
tempat asuhan dan pembesaran dan pelindung pantai dari hempasan ombak.
Kerusakan ekosistem terumbu karang umumnya disebabkan oleh aktivitas
manusia. Kerusakan ini akan menyebabkan berkurangnya atau menghilangkan
fungsi dan manfaat terumbu karang bagi masyarakat dan lingkungan sekitarnya.
Ancaman terhadap kelestarian ekosistem terumbu karang akan semakin
meningkat, saat ini laju kerusakan terumbu karang mencapai 3% per tahun (Dinas
Perikanan dan Kelautan Provinsi Lampung 2007). Jika tidak mendapat
perlindungan, maka keberadaan terumbu karang dapat mengalami kerusakan total
dalam waktu beberapa tahun ke depan. Dengan demikian, perlindungan ekosistem
perairan harus diperhatikan dalam penggunaan ruang.
6.2.4 Jar ingan tr anspor tasi
Transportasi di wilayah pesisir Teluk Lampung meliputi dua moda yaitu
angkutan jalan serta angkutan laut dan penyeberangan. Secara hierarkis, kedua
moda angkutan tersebut dapat dikelompokkan dalam dua tingkatan yaitu
lokal/regional yang melayani kepentingan lokal antar wilayah kecamatan, atau
wilayah kecamatan dari dan ke pusat perekonomian di Bandar Lampung; dan
angkutan nasional/internasional yang melayani kepentingan antar wilayah atau
pulau-pulau utama dan ekspor-impor antar negara. Informasi mengenai orientasi
transportasi di wilayah pesisir Teluk Lampung, disajikan pada Gambar 39.



A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
156



















Gambar 38

PETA
PENGGUNAAN
RUANG PERAIRAN

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
157
Terdapat prasarana jalan nasional yaitu Lintas Tengah Sumatera yang
menghubungkan wilayah Bandar Lampung (terutama Kecamatan Panjang) dengan
Kabupaten Lampung Selatan. Jalan penghubung antara wilayah Kota Bandar
Lampung dengan wilayah Kabupaten Pesawaran adalah jalan provinsi. Ruas jalan
nasional dan provinsi tersebut terhubung dengan jalan kabupaten dan desa yang
dapat menjangkau seluruh wilayah kecamatan di pesisir Teluk Lampung. Selain
prsarana jalan, juga terdapat terminal penumpang tipe B di Kecamatan Panjang
(Kota Bandar Lampung), serta tipe C di Kecamatan Teluk Betung Selatan (Kota
Bandar Lampung), dan di Kalianda (Kabupaten Lampung Selatan).
Prasarana angkutan laut dan penyeberangan yang meliputi pelabuhan dan
dermaga di wilayah pesisir Teluk Lampung, lebih terkonsentrasi di wilayah Kota
Bandar Lampung, seperti telah disajikan pada Bab 4. Pelabuhan, dermaga, dan
DUKS di wilayah Teluk Lampung umumnya berfungsi sebagai angkutan laut
untuk barang, baik lokal/regional maupun nasional/internasional. Adapun
angkutan penumpang hanya berupa angkutan penyeberangan yang bersifat
lokal/regional.
Pada tingkat lokal/regional, angkutan jalan melayani kepentingan
transportasi barang dan penumpang yang berasal dari satu kecamatan menuju
kecamatan lain, atau dari dan menuju pusat perekonomian di Kota Bandar
Lampung. Orientasi transportasi jalan lokal/regional adalah sebagai berikut:
Kecamatan Padang Cermin dan Punduh Pidada di Kabupaten Pesawaran
berorientasi ke Bandar Lampung (terutama Kecamatan Teluk Betung Barat
dan Selatan), dan sebaliknya.
Kecamatan Ketibung, Sidomulyo, Kalianda, Rajabasa, dan Bakauheni di
Kabupaten Lampung Selatan berorientasi ke Bandar Lampung (terutama
Panjang), dan sebaliknya.
Kecamatan Rajabasa dan Bakauheni di Kabupaten Lampung Selatan,
secara terbatas juga berorientasi ke Kalianda.
Orientasi angkutan lokal/regional selalu bersimpul di wilayah Bandar
Lampung, dan tidak terdapat hubungan angkutan jalan yang langsung
antara wilayah Kabupaten Pesawaran dan Lampung Selatan
Pada tingkat lokal/regional, angkutan laut dan penyeberangan melayani
kepentingan transportasi barang dan penumpang yang berasal dari satu kecamatan

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
158
menuju kecamatan lain, atau dari dan menuju pusat perekonomian di Kota Bandar
Lampung (Kecamatan Teluk Betung Barat dan Teluk Betung Selatan). Orientasi
transportasi laut dan penyeberangan lokal/regional, dapat dideskripsikan sebagai
berikut:
Kecamatan Padang Cermin dan Punduh Pidada (dengan Pulau Kecil
terutama Legundi, Puhawang, dan Kelagian) di Kabupaten Pesawaran
berorientasi ke Bandar Lampung (terutama Kecamatan Teluk Betung Barat
dan Selatan), dan sebaliknya.
Pulau kecil Sebuku dan Sebesi di Kabupaten Lampung Selatan
berorientasi ke Kecamatan Kalianda, dan sebaliknya.
Orientasi angkutan laut dan penyeberangan lokal/regional lebih berperan
di wilayah Bandar Lampung dan Pesawaran, sedangkan di Lampug
Selatan hanya sedikit sekali.
Tidak terdapat hubungan angkutan laut dan penyeberangan yang langsung
antara wilayah Kabupaten Pesawaran dan Lampung Selatan.
Angkutan jalan pada tingkat nasional di wilayah pesisir Teluk Lampung,
merupakan bagian yang terintegrasi dari sistem angkutan jalan nasional. Wilayah
ini memiliki fungsi ganda yaitu sebagai daerah asal, tujuan, dan perlintasan
angkutan jalan antara Pulau Jawa dan Sumatera. Pergerakan barang dan
penumpang angkutan jalan akan melalui wilayah pesisir Teluk Lampung (Kota
Bandar Lampung dan Kabupaten Lampung Selatan), kemudian menerus pada
lintas penyeberangan Merak-Bakauheni. Oleh karena itu, angkutan jalan yang ada
merupakan penunjang perekonomian wilayah yang lebih luas yaitu Provinsi
Lampung dan provinsi lain di Pulau Sumatera serta Pulau Jawa.. Orientasi
transportasi jalan nasional adalah sebagai berikut:
Penumpang dan barang dari Provinsi Lampung dan provinsi lain di Pulau
Sumatera, melalui Kota Bandar Lampung dan Kabupaten Lampung
Selatan, kemudian menerus pada lintas penyeberangan Merak-Bakauheni,
dan sebaliknya.
Penumpang dan barang dari daerah sekitar Kalianda di Kabupaten
Lampung Selatan, kemudian menerus pada lintas penyeberangan Merak-
Bakauheni, dan sebaliknya.

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
159
Wilayah Kota Bandar Lampung merupakan salah satu simpul angkutan
jalan nasional.
Angkutan laut nasional/internasional, hanya melayani kepentingan
transportasi barang dan tidak melayani penumpang. Pada tahun 1980-an terdapat
angkutan penumpang dari Srengsem menuju Jakarta, dan tahun 1990-an dari
Sukaraja (Kecamatan Teluk Betung Selatan) dan Kecamatan Panjang di Kota
Bandar Lampung menuju Jakarta, dan sebaliknya. Namun sejak tahun 2005
sampai saat ini, angkutan penumpang dari dan ke Pulau Jawa hanya menggunakan
moda angkutan jalan dan menerus ke lintas penyeberangan Merak-Bakauheni.
Komoditas yang menggunakan angkutan laut, antara lain meliputi hasil pertanian
(terutama kopi) dan perikanan, crude palm oil (CPO), karet lembar dan crumb,
nanas kaleng, udang beku, gula, batubara, pulp, semen, pupuk, bahan bakar
minyak (BBM), alat berat dan permesinan, kayu dan produk olahannya, pakan
ternak, dan ternak hidup. Orientasi transportasi laut nasional/internasional adalah
sebagai berikut:
Angkutan barang antar pulau dari dan ke luar Lampung yang melalui Laut
Jawa dan Selat Malaka, akan melewati alur pelayaran di Pulau Sebuku
(bagian timur mulut teluk); dan yang melalui Samudera Hindia, akan
melewati alur pelayaran di Pulau Legundi (bagian barat mulut teluk).
Angkutan barang internasional dari dan ke luar Lampung yang melalui
Singapura dan Laut Jawa, akan melewati alur pelayaran di Pulau Sebuku
(bagian timur mulut teluk); dan yang melalui Samudera Hindia, akan
melewati alur pelayaran di Pulau Legundi (bagian barat mulut teluk).
6.3 Kecender ungan Sistem
Analisis kecenderungan ditujukan untuk mengeksplorasi perilaku sistem
dalam jangka panjang, melalui simulasi model (Forrester 1968, 1998; White dan
Engelen 2000; Winz 2005; Elshorbagy et al. 2005; Yufeng dan ShuSong 2005).
Periode simulasi ditetapkan selama 20 tahun dihitung dari saat dilakukannya
penelitian, yaitu tahun 2009; dan selama 26 tahun bila dihitung dari ketersediaan
data historis, yaitu dari tahun 2003. Pemilihan kurun waktu tersebut disesuaikan
dengan lingkup waktu perencanaan tata ruang yaitu 20 tahun.

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
160



















Gambar 39

PETA ORIENTASI
TRANSPORTASI

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
161
Simulasi model dilakukan dengan peubah kebijakan bernilai nol (0), yaitu
tidak ada penegakan peraturan yang tegas untuk kawasan lindung baik darat
maupun perairan. Pada kondisi tersebut, penggunaan ruang sepenuhnya hanya
bergantung pada nilai finansial jangka pendek dan kebutuhan populasi dalam
pemanfaatan ruang. Oleh karena itu, tidak dipertimbangkan adanya kawasan
lindung yang perlu dipertahankan di dalam wilayah pesisir Teluk Lampung.
Dalam kurun waktu simulasi tersebut, diungkapkan perkembangan yang
mungkin terjadi pada peubah-peubah yang dikaji. Peubah yang disimulasi
meliputi peubah yang dianggap dapat mewakili gambaran dinamika wilayah
pesisir Teluk Lampung, yaitu:
1) Populasi, angkatan kerja, dan lapangan kerja;
2) Aktivitas ekonomi (PDRB) dan investasi;
3) Sektor-sektor ekonomi di wilayah pesisir;
4) Penggunaan ruang budidaya daratan dan pemanfaatan umum perairan.
Dari perkembangan peubah yang diamati, dapat dirumuskan kebijakan
penataan ruang untuk perbaikan di masa depan. Dinamika beberapa peubah sistem
dalam kurun waktu 2003-2029 disajikan dalam bentuk grafik pada Gambar 40
sampai dengan Gambar 47, data tabulasi lengkap dari hasil simulasi disajikan
pada Lampiran 9.
6.3.1 Populasi
Simulasi menunjukkan bahwa populasi (penduduk) terus tumbuh dengan
pola seperti yang didapatkan oleh White dan Engelen (2000), Aurambout et al.
(2005), Winz (2005), dan Yufeng dan ShuSong (2005). Populasi dan angkatan
kerja di wilayah Pesisir Teluk Lampung terus tumbuh dari 533.298 orang pada
tahun 2003 menjadi 663.382 orang pada akhir tahun simulasi (Gambar 40). Laju
pertumbuhan populasi antara tahun 2003 sampai 2007 relatif tinggi, namun
menjadi lebih rendah di atas tahun 2009.
Pola pertumbuhan penduduk diikuti secara relatif sama oleh pertumbuhan
angkatan kerja, yang akan mencapai jumlah 324.102 orang pada tahun 2029.
Adapun lapangan kerja juga meningkat, dari tahun 2003 sebanyak 248.607 orang,
menjadi 290.473 orang pada tahun 2029. Penyediaan lapangan kerja selalu berada

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
162
di bawah angkatan kerja sehingga selalu terdapat pengangguran, yang cenderung
terus meningkat sampai akhir tahun simulasi, yaitu mencapai 33.630 atau
mencapai 10,38% dari angkatan kerja.















6.3.2 Aktivitas Ekonomi
Aktivitas ekonomi wilayah pesisir Teluk Lampung digambarkan dari
produk domestik regional bruto (PDRB harga konstan tahun 2000). Simulasi
menunjukkan bahwa pertumbuhan aktivitas ekonomi merupakan akibat dari
adanya aktivitas yang terkait dengan populasi dan investasi, serta dipengaruhi oleh
kondisi sumberdaya dan lingkungan, sebagaimana telah ditunjukkan oleh Deal
dan Schunk (2004), Yufeng dan ShuSong (2005). Gangai dan Ramachandran
(2010), Liangju el al. (2010).
Hasil simulasi model pada Gambar 41, menunjukkan bahwa aktivitas
ekonomi meningkat cukup tajam antara tahun 2003 sampai 2008, serta 2016
sampai 2020, setelah tahun 2020 petumbuhan terus melambat. Pada akhir tahun
simulasi, PDRB harga konstan mencapai Rp 7,41 triliun. Kondisi yang berbeda
terjadi dengan investasi, pada awal simulasi pertumbuhannya relatif merata dari
Gambar 40 Kecenderungan populasi, angkatan kerja, dan lapangan kerja di
wilayah pesisir Teluk Lampung
240
328
416
504
592
680
2003 2008 2013 2018 2023 2028
R
i
b
u



o
r
a
n
g
Populasi Angkatan Kerja Lapangan Kerja

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
163
awal sampai akhir tahun simulasi. Pada tahun 2029, investasi mencapai Rp 1,41
triliun.
Gambar 42 menyajikan simulasi produk sektor-sektor ekonomi sebagai
komponen PDRB harga konstan tahun 2000. Sektor industri mengalami
pertumbuhan yang semakin meningkat, dan pada akhir simulasi telah mencapai
nilai sebesar Rp 1,49 triliun. Sektor lain yang menunjukkan peningkatan adalah
angkutan laut dan pariwisata, namun tidak setajam sektor industri Sektor yang
menunjukkan pertumbuhan melambat dan kemudian terus menurun adalah
perikanan dan pertanian.
















Pada akhir tahun simulasi nilai kontribusi sektor pariwisata terhadap
aktivitas ekonomi Rp 0,14 triliun, yaitu meningkat dari nilai pada tahun 2003
hanya Rp 0,06 triliun. Sektor angkutan laut dapat tumbuh lebih pesat daripada
sektor pariwisata, pada tahun 2003 hanya bernilai Rp 0,12 triliun, dan pada tahun
2029 meningkat menjadi Rp 0,47 triliun.
Sektor pertanian meningkat pada awal simulasi, kemudian melambat dan
terus menurun sampai akhir simulasi tahun 2029. Pada tahun 2003 nilai sektor
Gambar 41 Kecenderungan aktivitas ekonomi (PDRB harga konstan tahun
2000) dan investasi di wilayah pesisir Teluk Lampung
0
1.500
3.000
4.500
6.000
7.500
2003 2008 2013 2018 2023 2028
R
p



M
i
l
y
a
r
Aktivitas Ekonomi Investasi

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
164
pertanian mencapai Rp 0,43 triliun, dan pada kahir tahun simulasi hanya
meningkat menjadi Rp 0,79 triliun. Pelambatan kenaikan tersebut terkait dengan
perubahan penggunaan ruang dan struktur ekonomi yang semakin cenderung
kepada industri (sektor sekunder) dan permukiman. Di sisi lain ekstensifikasi
penggunaan lahan untuk pertanian sudah tidak dimungkinkan lagi, karena lahan
dengan daya dukung tinggi sudah tidak lagi tersedia.
















Sektor yang menunjukkan kesamaan dengan pertanian adalah perikanan,
yang cenderung menurun sampai akhir simulasi. Pada tahun 2003, sektor
perikanan bernilai Rp 0,38 triliun, dan pada tahun 2029 hanya meningkat menjadi
Rp 0,56 triliun. Peningkatan yang semakin menurun tersebut, dikarenakan sektor
perikanan di Teluk Lampung sangat bertumpu pada perikanan budidaya pesisir
(tambak). Peningkatan pesat nilai produk sektor ini pada tahun 2008 berkorelasi
erat dengan peningkatan luas tambak. Pada tahun 2003, luas tambak di Teluk
Lampung hanya 2.477 ha, lalu meningkat sangat cepat pada tahun 2007 hampir
mencapai 5.000 ha, atau meningkat dua kali lipat dalam empat tahun. Peningkatan
luas tersebut telah menggunakan lahan budidaya pesisir secara maksimal, yaitu
sudah mendekati luas lahan pesisir yang sesuai untuk tambak sekitar 8.000 ha.
Gambar 42 Dinamika produksi sektor-sektor ekonomi sebagai komponen PDRB
harga konstan tahun 2000 di wilayah pesisir Teluk Lampung
0
320
640
960
1.280
1.600
2003 2008 2013 2018 2023 2028
R
p



M
i
l
y
a
r
Pertanian Perikanan Industri Angkutan Laut Wisata

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
165
Oleh karena itu, peningkatan sektor perikanan menjadi relatif stagnan setelah
tahun 2009. Di sisi lain, perikanan budidaya laut dan tangkap juga semakin
tertekan dengan semakin berkurangnya kualitas lingkungan perairan Teluk
Lampung (Yusuf 2005; Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Lampung 2007).
6.3.3 Penggunaan Ruang
Pertumbuhan populasi dan aktivitas ekonomi, secara langsung akan
menyebabkan peningkatan kebutuhan ruang. Simulasi model menunjukkan pola
yang sama dengan peningkatan penggunaan ruang oleh berbagai aktivitas,
sebagaimana juga telah ditunjukkan oleh White dan Engelen (2000), Villa et al.
(2002), Deal dan Schunk (2004), Yufeng dan ShuSong (2005). Gangai dan
Ramachandran (2010), Liangju el al. (2010).
Hasil simulasi model menunjukkan bahwa penggunaan ruang untuk bisnis
dan industri akan meningkat melampaui penggunaan ruang untuk permukiman.
Pada awal simulasi tahun 2003, luas ruang permukiman berjumlah 1.531 ha,
mengalami peningkatan yang tidak terlalu tajam sampai akhir tahun simulasi, dan
akan mencapai luas 2.442 ha pada tahun 2029. Penggunaan lahan untuk bisnis dan
industri akan meningkat menjadi 3.341 ha pada tahun 2029, dari luas pada tahun
2003 sebesar 880 ha. Penggunaan lahan prasarana pada tahun 2003 seluas 890 ha,
meningkat pada tahun 2029 menjadi 2.525 ha. Penggambaran dinamika
penggunaan ruang untuk bisnis dan industri, prasarana wilayah, dan permukiman,
disajikan pada Gambar 43.
Penggunaan lahan untuk budidaya pertanian, relatif tetap dari awal
simulasi sampai akhir tahun 2029. Padahal di sisi lain, terjadi konversi lahan
pertanian menjadi budidaya bukan pertanian (permukiman, perkotaan, dan
industri). Pada tahun 2003, lahan pertanian mencapai luas 105.223 ha, dan pada
akhir simulasi tahun 2029, luas lahan sedikit menurun menjadi 103.367 ha (seperti
disajikan pada Gambar 44). Penurunan yang sedikit tersebut dikarenakan pada
simulasi model tidak dibatasi dengan ketentuan kawasan lindung, sehingga dapat
terus terjadi pembukaan lahan pertanian baru yang berasal dari hutan sekunder
bekas tebangan, atau dari penutupan lahan lainnya. Dengan demikian konversi
lahan pertanian menjadi bukan pertanian, akan diimbangi oleh konversi lahan lain

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
166
yang tidak potensial untuk pertanian (hutan, semak belukar, dan lahan dengan
kemampuan rendah lainnya) menjadi lahan pertanian.






























Gambar 43 Kecenderungan penggunaan ruang perkotaan dan permukiman
di wilayah pesisir Teluk Lampung
0,5
1,1
1,8
2,4
3,1
3,7
2003 2008 2013 2018 2023 2028
R
i
b
u



h
e
k
t
a
r
Bisnis dan Industri Permukiman Prasarana
Gambar 44 Kecenderungan penggunaan lahan pertanian di wilayah
pesisir Teluk Lampung
103
104
104
105
105
106
2003 2008 2013 2018 2023 2028
R
i
b
u


h
e
k
t
a
r

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
167
Pemanfaatan perairan bagi perikanan budidaya laut (budidaya mutiara dan
keramba jaring apung), relatif tetap yaitu hanya meningkat dari 8.000 ha pada
tahun 2003, menjadi 8.126 ha pada tahun 2029. Penggunaan lahan budidaya
pesisir (tambak) meningkat tajam, yaitu menjadi lebih dari tiga kali lipat dalam
kurun waktu simulasi. Luas tambak pada tahun 2003 hanya 2.477 ha, dan
meningkat menjadi 8.809 ha pada tahun 2029. Peningkatan ini sangat berkaitan
dengan komoditas udang yang bernilai tinggi. Di samping itu, pembukaan lahan
untuk perikanan budidaya pesisir (tambak) di Teluk Lampung relatif mudah
dilakukan, karena telah tesedia infrastruktur jalan yang secara relatif telah
menjangkau seluruh wilayah pesisir. Kondisi tersebut memacu kalangan
pengusaha dan masyarakat untuk terus mengembangkan lahan tambak.
Penggambaran dinamika penggunaan ruang untuk lahan tambak dan pemanfaatan
perairan perikanan budidaya laut, disajikan secara ringkas pada Gambar 45.















Penggunaan lahan budidaya terus meningkat, dan menunjukkan
kecenderungan semakin melebihi daya tampung lahan yang berkemampuan tinggi
(lahan kelas 1 sampai dengan kelas 4, diuraikan pada sub-bab 6.2.2), yang hanya
seluas 83.735 ha. Lahan terpakai (budidaya) baik pertanian maupun bukan
Gambar 45 Kecenderungan penggunaan ruang budidaya pesisir (tambak) dan
perairan perikanan budidaya di wilayah pesisir Teluk Lampung
2,0
3,6
5,2
6,8
8,4
10,0
2003 2008 2013 2018 2023 2028
R
i
b
u



h
e
k
t
a
r
Budidaya Pesisir Perairan Perikanan Budidaya

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
168
pertanian, terus meningkat dari 111.386 ha pada tahun 2003 menjadi 120.290 ha
pada tahun 2029. Sementara itu, luas lahan total sedikit bertambah akibat
reklamasi pantai dari 127.902 ha tahun 2003 menjadi 129.409 ha tahun 2029.
Dengan merujuk pada data kelas kemampuan lahan (Tabel 37), dapat
diketahui bahwa sejak tahun 2003, sebagian dari lahan budidaya sudah merambah
pada lahan berkemampuan rendah (lahan kelas 5 sampai dengan kelas 8), dengan
luas sekitar 27.651 ha pada tahun 2003 dan meningkat menjadi 36.599 ha pada
tahun 2029. Dengan demikian, luas lahan yang masih dapat dipergunakan untuk
fungsi lindung hanya sekitar 16.516 pada tahun 2003, dan 9.080 ha pada tahun
2029. Kondisi ini harus diperbaiki melalui penetapan dan pengendalian kawasan
lindung yang ideal dalam penataan ruang.
Kecenderungan sistem untuk peubah lahan total dan lahan budidaya
terpakai, disajikan pada Gambar 46.















Berbeda dengan penggunaan lahan budidaya, luas pemanfaatan umum
perairan (perikanan dan bukan perikanan) hanya sedikit berubah, yaitu dari
128.009 ha pada tahun 2003 menjadi 130.407 ha pada tahun 2029. Luas perairan
total sedikit berkurang akibat reklamasi pantai, yaitu dari 161.178 ha pada tahun
Gambar 46 Kecenderungan luas lahan total dan lahan budidaya di wilayah
pesisir Teluk Lampung
110
114
118
122
126
130
2003 2008 2013 2018 2023 2028
R
i
b
u



h
e
k
t
a
r
Lahan Total Lahan Budidaya Terpakai

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
169
2003 menjadi 159.666 ha pada tahun 2029. Oleh karena itu, luas perairan yang
belum terpakai masih cukup besar yaitu 33.169 ha pada tahun 2003 dan 29.259 ha
pada tahun 2029. Namun demikian, penggunaan perairan tidaklah bersifat kaku
seperti penggunaan lahan, dan lebih bersifat temporal (seperti alur pelayaran dan
wilayah tangkap), di samping itu kecenderungan penggunaan ruang perairan
adalah terkonsentrasi di perairan tepi dengan kedalaman 0-20 m. Oleh karena itu,
penentuan kawasan konservasi perairan menjadi lebih sulit, karena pada perairan
yang seharusnya dilindungi yaitu terumbu karang dan padang lamun, justru
merupakan perairan yang cenderung digunakan oleh berbagai aktivitas seperti
perikanan budidaya dan tangkap, serta wisata.
Kecenderungan sistem untuk peubah perairan total dan pemanfaatan
umum perairan, disajikan pada Gambar 47.




















Gambar 47 Kecenderungan luas perairan total dan pemanfaatan umum perairan
di wilayah pesisir Teluk Lampung
125
133
141
149
157
165
2003 2008 2013 2018 2023 2028
R
i
b
u



h
e
k
t
a
r
Perairan Total Pemanfaatan Umum Perairan

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
170




























A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
7 KEBIJAKAN TATA RUANG WILAYAH PESISIR
7.1 Simulasi Skenar io
7.1.1 Kebutuhan pemangku kepentingan dar i
analisis pr ospektif par tisipatif
Kebutuhan para pemangku kepentingan wilayah pesisir Teluk Lampung
diketahui dari analisis prospektif partisipatif (PPA) yang diuraikan pada Bab 5.
Hasil PPA menunjukkan bahwa kebutuhan dipresentasikan oleh variabel yang
paling berpengaruh terhadap penataan ruang wilayah pesisir, yang telah dipilih
dan dianalisis secara konsensus oleh para partisipan (Godet dan Roubelat 1996;
Bourgeois dan Jesus 2004; Gray dan Hatchard 2008; Coates et al. 2010; Durance
dan Godet 2010). Terdapat 6 variabel yang paling berpengaruh, yaitu: (1) kualitas
sumberdaya manusia (SDM) masyarakat pesisir, (2) penegakan hukum, (3)
pertumbuhan penduduk, (4) infrastruktur wilayah, (5) aktivitas ekonomi
kerakyatan, dan (6) zonasi wilayah.
Melalui eksplorasi variabel yang paling berpengaruh tersebut, secara
konsensus partisipan juga membangun skenario, sebagai berikut:
1) Optimis: kualitas SDM masyarakat pesisir (meningkat), penegakan hukum
(baik), pertumbuhan penduduk (menurun), infrastruktur wilayah
(meningkat), aktivitas ekonomi kerakyatan (meningkat), zonasi wilayah
(baik).
2) Moderat: kualitas SDM masyarakat pesisir (meningkat), penegakan hukum
(baik), pertumbuhan penduduk (tetap), infrastruktur wilayah (tetap),
aktivitas ekonomi kerakyatan (meningkat), zonasi wilayah (baik).
3) Pesimis: kualitas SDM masyarakat pesisir (tetap), penegakan hukum
(tetap), pertumbuhan penduduk (tetap), infrastruktur wilayah (tetap),
aktivitas ekonomi kerakyatan (tetap), zonasi wilayah (tetap).
4) Sangat Pesimis: kualitas SDM masyarakat pesisir (tetap), penegakan
hukum (tetap), pertumbuhan penduduk (meningkat), infrastruktur wilayah
(menurun), aktivitas ekonomi kerakyatan (menurun), zonasi wilayah
(tetap).

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
172
Untuk menerjemahkan skenario dari partisipan ke dalam model,
dikembangkan variabel (peubah) “kebijakan”, dengan parameter bernilai antara 0
sampai 1. Peubah “kebijakan”, secara langsung mempengaruhi empat peubah
model yaitu: “Peruntukan_Lindung_Darat”, “Laju_perb_BD_Pesisir”, “Prtk_Kw_
Lindung_Perairan”, dan Konversi_kws_lindung_perairan. Secara lengkap,
deskripsi dan nilai awal atau parameter masing-masing peubah, disajikan pada
Tabel Lampiran 3, sedangkan persamaan yang melibatkan masing-masing peubah
disajikan pada Lampiran 4. Uraian dari peran dan pengaruh dari keempat peubah,
sehingga dianggap dapat mempresentasikan skenario partisipan ke dalam model
adalah sebagai berikut:
1) Peruntukan_Lindung_Darat: Merupakan peubah yang memberlakukan
kawasan lindung darat untuk mencegah perambahan lahan yang harusnya
menjadi kawasan lindung, sehingga penggunaan lahan menjadi sesuai
dengan kemampuannya. Keberadaan kawasan lindung darat merupakan
perwujudan zonasi wilayah dan penegakan hukum, yang akan
mengendalikan degradasi sumberdaya pesisir, dan pada gilirannya
berpengaruh positif terhadap: aktivitas ekonomi kerakyatan (melalui
peningkatan investasi dan sektor-sektor perekonomian), kualitas SDM
masyarakat pesisir (melalui penurunan pengangguran dan peningkatan
kesejahteraan penduduk), pertumbuhan penduduk (melalui penurunan
kendala ruang dan percepatan imigrasi-emigrasi), infrastruktur wilayah
(melalui peningkatan investasi), dan pada sistem secara keseluruhan.
2) Laju_perb_BD_Pesisir: Merupakan peubah yang mengendalikan
pengembangan lahan budidaya pesisir (tambak) agar hanya berlangsung
pada lahan yang memiliki kemampuan untuk mendukung budidaya
tambak, sehingga aktivitas ekonomi tambak yang banyak menyerap tenaga
kerja setempat dapat berkelanjutan. Perkembangan tambak yang
berkelanjutan merupakan perwujudan peningkatan ekonomi kerakyatan
yang akan berpengaruh positif terhadap: kualitas SDM masyarakat pesisir
(melalui penurunan pengangguran dan peningkatan kesejahteraan
penduduk), penegakan hukum dan zonasi wilayah (melalui pengendalian
konversi wilayah pantai menjadi tambak), pertumbuhan penduduk

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
173
(melalui penurunan kendala ruang dan percepatan imigrasi-emigrasi),
infrastruktur wilayah (melalui peningkatan investasi), dan pada sistem
secara keseluruhan.
3) Prtk_Kw_Lindung_Perairan: Merupakan peubah yang mengendalikan
pengembangan perairan perikanan budidaya laut agar tidak merambah
perairan terumbu karang dan padang lamun yang seharusnya menjadi
kawasan konservasi. Dengan demikian perikanan budidaya laut hanya
berlangsung pada perairan yang sesuai tanpa harus mengorbankan
ekosistem terumbu karang dan padang lamun, sehingga perikanan
budidaya laut dan perikanan tangkap dapat berkelanjutan. Keberadaan
kawasan konservasi perairan merupakan perwujudan zonasi wilayah dan
penegakan hukum, yang akan mengendalikan degradasi sumberdaya
pesisir, dan pada gilirannya berpengaruh positif terhadap: aktivitas
ekonomi kerakyatan (melalui peningkatan investasi dan sektor perikanan),
kualitas SDM masyarakat pesisir (melalui penurunan pengangguran dan
peningkatan kesejahteraan penduduk), pertumbuhan penduduk (melalui
penurunan kendala ruang dan percepatan imigrasi-emigrasi), infrastruktur
wilayah (melalui peningkatan investasi), dan pada sistem secara
keseluruhan.
4) Konversi_kws_lindung_perairan: Merupakan peubah yang mengendalikan
terjadinya konversi kawasan konservasi perairan menjadi kawasan
pemanfaatan umum perairan (baik perikanan maupun non-perikanan).
Dengan demikian kerusakan ekosistem terumbu karang dan padang lamun
dapat dikendalikan, sehingga aktivitas pemanfaatan perairan dapat
berkelanjutan. Pengendalian konversi kawasan konservasi perairan
merupakan perwujudan penegakan hukum dan zonasi wilayah, yang akan
mencegah degradasi sumberdaya pesisir, dan pada gilirannya berpengaruh
positif terhadap: aktivitas ekonomi kerakyatan (melalui peningkatan
investasi dan sektor perikanan), kualitas SDM masyarakat pesisir (melalui
penurunan pengangguran dan peningkatan kesejahteraan penduduk),
pertumbuhan penduduk (melalui penurunan kendala ruang dan percepatan

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
174
imigrasi-emigrasi), infrastruktur wilayah (melalui peningkatan investasi),
dan pada sistem secara keseluruhan.
Peubah “kebijakan” dalam model akan langsung menyetir (drive) keempat
peubah di atas, dengan proporsi yang sama secara simultan. Pengaruh dari peubah
“kebijakan” dapat dibuat bervariasi mengikuti nilai parameternya. Dalam
pengembangan model untuk simulasi skenario, tingkat pengaruh peubah
“kebijakan” terhadap keempat peubah model, ditentukan oleh nilai parameter
yang divariasikan antara 0 sampai 1. Variasi nilai parameter tersebut merupakan
terjemahan dari skenario partisipan ke dalam model, sehingga skenario dalam
model adalah sebagai berikut:
1) Optimis: parameter peubah “kebijakan” bernilai 1, yaitu dilakukan
intervensi maksimal terhadap sistem, sehingga sistem berjalan ke arah
yang lebih baik dengan upaya maksimal.
2) Moderat: parameter peubah “kebijakan” bernilai 0,75, yaitu dilakukan
intervensi kuat terhadap sistem, sehingga sistem berjalan ke arah yang
lebih baik dengan upaya kuat.
3) Pesimis: parameter peubah “kebijakan” bernilai 0,25, yaitu dilakukan
intervensi minimal terhadap sistem, sehingga sistem berjalan ke arah yang
lebih baik namun dengan upaya lemah.
4) Sangat Pesimis: parameter peubah “kebijakan” bernilai 0, yaitu tidak ada
intervensi terhadap sistem, sehingga sistem berjalan seperti yang telah
berlangsung.
Masing-masing skenario optimis, moderat, pesimis, dan sangat pesimis di
atas, selanjutnya disimulasikan dalam sub-model populasi, ekonomi, dan
ketersediaan ruang. Kajian dilakukan terhadap berbagai peubah yang saling
berinterkasi di dalam dan antar sub-model.
7.1.2 Asumsi-asumsi dalam pengembangan model
Pengembangan model untuk simulasi skenario tidak terlepas dari
penyusunan berbagai asumsi. Asumsi-asumsi tersebut menjadikan model lebih
bersifat “black box”, namun tidak dapat dihindari untuk dapat menjalankan

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
175
simulasi skenario (Godet dan Roubelat 1996; Deal dan Schunk 2004; Walz et al.
2007; Wiek dan Walter 2009).
Secara numerik, asumsi yang dilakukan dalam pengembangan model
ditunjukkan oleh nilai parameter peubah “kebijakan”. Variasi nilai parameter
peubah “kebijakan”, juga merupakan perwujudan dari intervensi terhadap sistem.
Bila nilai parameter peubah “kebijakan” lebih besar dari nol, maka berlaku
berbagai asumsi yaitu untuk skenario optimis, moderat, dan pesimis. Asumsi yang
dibuat adalah sebagai berikut.
1) Lahan dengan kemampuan rendah yang telah dikonversi menjadi lahan
pertanian dan penggunaan lain, harus dikembalikan fungsinya sebagai
kawasan lindung.
2) Aktivitas pertanian akan cenderung berada pada lahan berkemampuan
tinggi dan produktivitas tinggi, dan diikuti dengan penerapan teknologi
pertanian yang ramah lingkungan, sehingga penurunan sektor pertanian
tidak berlangsung tajam.
3) Sebagian tenaga kerja yang semula diserap sektor pertanian akan beralih
terutama ke sektor industri manufaktur dan perikanan budidaya.
4) Perkembangan sektor industri manufaktur pada skala mikro, kecil,
menengah, dan besar, akan mengikuti kaidah industri bersih, sehingga
pertumbuhan yang tinggi tidak akan diikuti oleh peningkatan pencemaran
dari limbah industri yang tinggi pula.
5) Pertumbuhan sektor perikanan terutama akan ditunjang oleh perikanan
budidaya laut.
6) Perikanan budidaya laut akan berbasis pada teknologi budidaya ramah
lingkungan, sehingga daya dukung dan daya tampung perairan Teluk
Lampung tetap terjaga.
7) Pertumbuhan populasi di wilayah pesisir Teluk Lampung akan diikuti oleh
peningkatan permukiman dan prasarana dasar sanitasi lingkungan,
sehingga peningkatan pencemaran dari limbah domestik dapat terkendali.
8) Pertumbuhan investasi akan semakin terpacu dengan semakin jelasnya
alokasi peruntukan ruang untuk kawasan budidaya dan kawasan
lindung/konservasi.

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
176
7.1.3 Simulasi sub-model populasi
Simulasi skenario pada sub-model populasi disajikan pada Gambar 48
sampai dengan Gambar 53. Rekapitulasi simulasi skenario, disajikan pada Tabel
39, serta data secara lengkap disajikan pada Lampiran 9. Perilaku antar skenario
ternyata menunjukkan perbedaan pada berbagai peubah yang dikaji, akibat adanya
perbedaan parameter peubah “kebijakan”. Perbedaan perilaku akibat adanya
perbedaan pengaruh dari peubah tertentu, juga telah ditunjukkan oleh Deal dan
Schunk (2004), Wiek dan Walter (2009).


















Pada Gambar 48 ditunjukkan bahwa populasi pada skenario optimis akan
meningkat lebih besar daripada skenario lainnya, yaitu lebih dari 763 ribu orang
pada tahun 2029, sedangkan pada skenario sangat pesimis hanya mencapai 663
ribu orang. Populasi skenario optimis yang lebih tinggi, disumbang dari imigrasi
yang masuk ke wilayah pesisir lebih besar daripada skenario lainnya. Pada tahun
2029, imigrasi pada skenario optimis berjumlah lebih dari 17 ribu orang,
Gambar 48 Skenario perkembangan populasi
500
560
620
680
740
800
2003 2008 2013 2018 2023 2028
R
i
b
u

o
r
a
n
g
Sangat Pesimis Pesimis
Moderat Optimis
Gambar 49 Skenario perkembangan angkatan kerja
250
280
310
340
370
400
2003 2008 2013 2018 2023 2028
R
i
b
u



o
r
a
n
g
Sangat Pesimis Pesimis
Moderat Optimis
Gambar 50 Skenario perkembangan lapangan kerja
240
268
296
324
352
380
2003 2008 2013 2018 2023 2028
R
i
b
u



o
r
a
n
g
Sangat Pesimis Pesimis
Moderat Optimis
Gambar 51 Skenario perkembangan tingkat
pengangguran
0
4
7
11
14
18
2003 2008 2013 2018 2023 2028
%
Sangat Pesimis Pesimis
Moderat Optimis

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
177
sedangkan pada skenario sangat pesimis hanya sekitar 6 ribu orang (Gambar 52).
Di sisi lain, Gambar 53 menunjukkan emigrasi yang keluar dari wilayah pesisir
pada skenario optimis menurun tajam yaitu menjadi nol, dan pada skenario sangat
pesimis mencapai lebih dari 8 ribu orang. Dinamika peubah imigrasi dan emigrasi
tersebut merupakan akibat dari peubah kendala ruang dan dampak penganggur
yang berbeda antar skenario, sehingga merubah kecenderungan penduduk untuk
keluar (emigrasi) atau masuk (imigrasi) ke wilayah pesisir.
Tingginya populasi pada skenario optimis, diikuti oleh angkatan kerja
yang juga menjadi lebih tinggi, yaitu mendekati 374 ribu orang pada tahun 2029,
sedangkan pada skenario sangat pesimis hanya sekitar 324 ribu orang (Gambar
49). Di sisi lain, karena perekonomian pada skenario optimis menjadi lebih baik,
lapangan kerja juga menjadi lebih tinggi. Sebagai hasilnya, dinamika tingkat
pengangguran pada skenario optimis menjadi lebih rendah daripada skenario
lainnya. Skenario optimis pada tahun 2029 memberikan tingkat pengangguran
sekitar 1,51%, sementara pada skenario sangat pesimis mencapai 10,64%
(Gambar 51).









Secara dinamik, skenario sangat pesimis sempat menunjukkan tingkat
pengangguran yang sama dengan skenario lainnya (sampai tahun 2017), namun
kemudian pengangguran pada skenario moderat dan optimis menurun tajam
menjadi lebih rendah. Kondisi tersebut dapat terjadi karena peubah pengangguran
merupakan salah faktor pendorong dan kendala ruang merupakan faktor penahan
investasi. Walaupun awalnya tingkat pengangguran pada semua skenario adalah
sama, tetapi pada skenario sangat pesimis dan pesimis, terjadi peningkatan
Gambar 52 Skenario perkembangan imigrasi
2
6
9
13
16
20
2003 2008 2013 2018 2023 2028
R
i
b
u


o
r
a
n
g
Sangat Pesimis Pesimis
Moderat Optimis
Gambar 53 Skenario perkembangan emigrasi
0
2
4
6
8
10
2003 2008 2013 2018 2023 2028
R
i
b
u


o
r
a
n
g
Sangat Pesimis Pesimis
Moderat Optimis

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
178
kendala ruang, sehingga investasi menjadi terkendala, dan pada akhirnya investasi
tetap rendah dan pengangguran tetap tinggi.
Tabel 39 Rekapitulasi simulasi sub-model populasi
Skenario serta tahun awal dan akhir simulasi
Sangat
Pesimis
Pesimis Moderat Optimis No. Peubah Satuan
2003 2029 2003 2029 2003 2029 2003 2029
1 Populasi ribu
orang
533,30 663,38 533,30 666,72 533,30 740,31 533,30 763,76
2 Angkatan
Kerja
ribu
orang
260,55 324,10 260,55 325,73 260,55 361,69 260,55 373,14
3 Lapangan
Kerja
ribu
orang
248,61 290,47 248,61 292,30 248,61 348,62 248,61 364,37
4 Pengang-
guran
% 4,58 10,38 4,58 10,26 4,58 3,61 4,58 2,35
5 Imigrasi ribu
orang
8,32 6,06 8,32 6,88 8,32 16,72 8,32 17,64
6 Emigrasi ribu
orang
3,31 8,04 3,31 7,52 3,31 - 3,31 -

7.1.4 Simulasi sub-model aktivitas ekonomi
Aktivitas ekonomi dipengaruhi oleh beragam peubah dalam sistem, dan
pada masing-masing skenario pengaruh tersebut akan beragam sesuai dengan
tingkat intevensi yang dilakukan. Deal dan Schunk (2004) dan Gangai dan
Ramachandran (2010), menunjukkan perubahan pada penggunaan lahan akan
mempengaruhi aktivitas ekonomi, dan sebaliknya. Sementara itu, Yufeng dan
ShuSong (2005), menunjukkan bahwa bila tidak terdapat intervensi tertentu, maka
akan terdapat konflik antara pertumbuhan ekonomi dan pembangunan
berkelanjutan. Dalam simulasi ini, intervensi ditunjukkan oleh peubah
“kebijakan” pada masing-masing skenario, sehingga akan menghasilkan
perbedaan dalam aktivitas ekonomi.
Simulasi skenario pada sub-model aktivitas ekonomi disajikan pada
Gambar 54 sampai dengan Gambar 61. Rekapitulasi simulasi skenario, disajikan
pada Tabel 40, serta data lengkap disajikan pada Lampiran 9. Perilaku antar
skenario menunjukkan perbedaan yang konsisten antar berbagai peubah model..
Aktivitas ekonomi (PDRB harga konstan tahun 2000) pada semua
skenario meningkat dengan percepatan yang berbeda-beda. Gambar 54
menunjukan, pada skenario optimis, PDRB wilayah pesisir akan menjadi sekitar
Rp 14,06 triliun pada tahun 2029, dari nilai Rp 2,63 triliun pada tahun 2003. Pada

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
179
ekstrim yang lain, PDRB skenario sangat pesimis, hanya akan meningkat menjadi
Rp 7,41 triliun pada tahun 2029. Perbedaan nilai PDRB antar skenario tersebut,
dipengaruhi oleh perbedaan besarnya peubah investasi.









Pada Gambar 55 terlihat bahwa secara umum semua skenario
menunjukkan peningkatan investasi dalam kurun waktu simulasi. Skenario sangat
pesimis menunjukkan peubah investasi yang relatif rendah dibandingkan skenario
lainnya. Rendahnya investasi tersebut disebabkan oleh peubah ”inkonsistensi tata
ruang”, ”degradasi sumberdaya pesisir”, dan ”kendala ruang” pada skenario
sangat pesismis lebih besar daripada skenario lainnya, sehingga produktivitas
sektor-sektor ekonomi yang sangat tergantung pada kualitas lingkungan (terutama
pertanian dan perikanan), menjadi menurun.









Sektor pertanian menunjukkan bahwa skenario sangat pesimis akan terus
meningkat, dan kemudian melambat pada tahun 2020 (Gambar 56), dan
sebaliknya peningkatan pada skenario optimis sudah mulai melambat pada tahun
Gambar 54 Skenario perkembangan aktivitas ekonomi
(PDRB harga konstan tahun 2000)
2.000
4.800
7.600
10.400
13.200
16.000
2003 2008 2013 2018 2023 2028
R
p



m
i
l
y
a
r
Sangat Pesimis Pesimis
Moderat Optimis
Gambar 55 Skenario perkembangan investasi
0
700
1.400
2.100
2.800
3.500
2003 2008 2013 2018 2023 2028
R
p



m
i
l
y
a
r
Sangat Pesimis Pesimis
Moderat Optimis
Gambar 57. Skenario perkembangan sektor perikanan
300
560
820
1.080
1.340
1.600
2003 2008 2013 2018 2023 2028
R
p



m
i
l
y
a
r
Sangat Pesimis Pesimis
Moderat Optimis
Gambar 56. Skenario perkembangan sektor pertanian
400
490
580
670
760
850
2003 2008 2013 2018 2023 2028
R
p



m
i
l
y
a
r
Sangat Pesimis Pesimis
Moderat Optimis

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
180
2016. Perbedaan antar skenario tersebut diakibatkan oleh berkurangnya luas lahan
pertanian secara signifikan pada skenario optimis sekitar 50% dari luas lahan saat
awal simulasi, karena dibatasi oleh kawasan lindung. Sektor pertanian akan
menyumbang aktivitas ekonomi sebesar Rp 0,68 triliun pada tahun 2029 pada
skenario optimis, dan sebesar Rp 0,80 triliun pada skenario sangat pesimis. Upaya
intervensi yang kuat pada skenario optimis, hanya mampu sedikit
mempertahankan peningkatan sektor pertanian, sehingga nilai pada tahun 2029
dapat lebih tinggi dibandingkan pada awal simulasi tahun 2003 (Rp 0,43 triliun).
Sumbangan sektor pertanian yang relatif kecil menunjukkan bahwa
pengembangan sektor ini, akan terkendala oleh ketersediaan lahan. Hal ini
konsisten dengan daya saing sektoral (disajikan pada Bab 4), yang menunjukkan
bahwa sektor pertanian tidak memiliki daya saing di wilayah pesisir Teluk
Lampung.
Sektor perikanan menunjukkan bahwa pada skenario sangat pesimis,
pertumbuhannya akan terus melambat sampai pada tahun 2029 (Gambar 57).
Perlambatan tersebut merupakan gambaran bahwa sektor ini sangat bergantung
pada kelestarian sumberdaya pesisir dan kualitas lingkungan. Untuk dapat
mempertahankan kenaikan sektor perikanan dibutuhkan upaya yang kuat, melalui
intervensi sistem pada skenario moderat dan optimis, dengan bertumpu pada
pengembangan perikanan budidaya laut. Dengan demikian, sektor ini dapat terus
meningkat, dan pada skenario optimis mampu menyumbang aktivitas
perekonomian pada tahun 2029 mencapai Rp 1,55 triliun.









60
90
120
150
180
210
2003 2008 2013 2018 2023 2028
R
p



m
i
l
y
a
r
Sangat Pesimis Pesimis
Moderat Optimis
Gambar 58 Skenario perkembangan sektor pariwisata Gambar 59 Skenario perkembangan sektor industri
300
840
1.380
1.920
2.460
3.000
2003 2008 2013 2018 2023 2028
R
p



m
i
l
y
a
r
Sangat Pesimis Pesimis
Moderat Optimis

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
181
Sektor pariwisata, pada dasarnya juga rentan terhadap perubahan
sumberdaya pesisir dan kualitas lingkungan, namun penurunan sektor ini tidak
setajam sektor perikanan dan pertanian. Hal tersebut disebabkan oleh penunjang
sektor pariwisata tidak hanya bersumber dari wisata alam (pantai), melainkan juga
meliputi aktivitas perkotaan seperti hotel, restoran, dan tempat hiburan. Oleh
karena itu, sektor ini dapat lebih bertahan dan tidak menurun drastis, pada
skenario sangat pesimis dan pesimis, masih dapat terus meningkat sampai akhir
tahun simulasi (Gambar 58).
Berlainan dengan sektor primer seperti pertanian dan perikanan, sektor
sekunder yaitu industri pengolahan relatif masih dapat meningkat pada skenario
sangat pesimis. Namun sektor ini akan menjadi lebih terpacu dengan adanya
intervensi terhadap sistem yaitu pada skenario pesimis, moderat, dan optimis.
Pada skenario optimis, sektor industri pengolahan dapat berkembang pesat
menjadi Rp 2,84 triliun pada tahun 2029, yang pada tahun 2003 baru bernilai
kurang dari Rp 0,37 triliun (Gambar 59). Sektor industri pengolahan memiliki
daya saing tinggi, dan berpeluang untuk menjadi sektor perekonomian utama
(leading sector) di wilayah pesisir Teluk Lampung.









Secara relatif sama dengan sektor industri, sektor angkutan laut dan
penyeberangan masih dapat meningkat pada skenario sangat pesimis. Kondisi
tersebut utamanya ditentukan oleh letak geografis wilayah pesisir Teluk Lampung
yang dilalui oleh lintasan penyeberangan antar pulau dan terdapatnya pelabuhan
laut internasional Panjang. Namun demikian, dengan adanya peningkatan sektor-
sektor ekonomi lainnya pada skenario pesimis, moderat, dan optimis, sektor
Gambar 60 Skenario perkembangan sektor angkutan
laut
100
300
500
700
900
1.100
2003 2008 2013 2018 2023 2028
R
p



m
i
l
y
a
r
Sangat Pesimis Pesimis
Moderat Optimis
Gambar 61 Skenario perkembangan PDRB per kapita
(berdasarkan harga konstan tahun 2000)
4
8
12
16
20
2003 2008 2013 2018 2023 2028
R
p



j
u
t
a
Sangat Pesimis Pesimis
Moderat Optimis

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
182
angkutan laut dan penyeberangan dapat tumbuh lebih pesat lagi, yaitu pada
skenario optimis dapat mendekati nilai Rp 1,08 triliun pada tahun 2029, dari nilai
semula hanya Rp 0,12 triliun pada tahun 2003 (Gambar 60).
Pada akhirnya, peningkatan aktivitas ekonomi diharapkan dapat
meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir Teluk Lampung. Walaupun relatif
kasar, nilai PDRB per kapita digunakan sebagai indikator kesejahteraan
masyarakat. Pada skenario optimis, PDRB per kapita (berdasarkan harga konstan
tahun 2000), dapat terus meningkat pesat mencapai Rp 18,41 juta per orang pada
tahun 2029. Sedangkan untuk skenario sangat pesimis, PDRB per kapita
meningkat lebih lambat, dan hanya mencapai nilai Rp 11,18 juta per orang pada
tahun 2029, dibandingkan pada tahun 2003 yang bernilai Rp 4,93 juta per orang
(Gambar 61).
Tabel 40 Rekapitulasi simulasi sub-model aktivitas ekonomi
Skenario serta tahun awal dan akhir simulasi
Sangat
Pesimis
Pesimis Moderat Optimis No. Peubah Satuan
2003 2029 2003 2029 2003 2029 2003 2029
1 Aktivitas
ekonomi
Rp milyar 2.629 7.415 2.629 7.537 2.629 12.280 2.629 14.062
2 Investasi Rp milyar 188 1.408 188 1.468 188 2.875 188 3.334
3 Pertanian Rp milyar 432 796 432 706 432 678 432 678
4 Perikanan Rp milyar 380 564 380 601 380 1.204 380 1.554
5 Pariwisata Rp milyar 63 139 63 141 63 187 63 202
6 Industri Rp milyar 372 1.491 372 1.533 372 2.508 372 2.839
7 Angkutan
Laut
Rp milyar 124 474 124 488 124 925 124 1.082
8 PDRB per
Kapita
Rp
juta/orang
4,93 11,18 4,93 11,30 4,93 16,59 4,93 18,41

7.1.5 Simulasi sub-model keter sediaan r uang
Ketersediaan ruang merupakan faktor yang sangat menentukan dinamika
komponen lainnya, dan sistem secara keseluruhan. White dan Engelen (2000) dan
Yufeng dan ShuSong (2005) menunjukkan bahwa keberlangsungan
perkembangan populasi dan aktivitas ekonomi, membutuhkan ruang yang cukup.
Menurut Deal dan Schunk (2004), tekanan aktivitas ekonomi dan populasi dalam
memenuhi kebutuhan ruang akan menimbulkan fenomena perkembangan kawasan
perkotaan yang menjorok ke perdesaan (urban sprawl). Gangai dan
Ramachandran (2010) menunjukkan bahwa dengan kondisi ketersediaan ruang

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
183
yang kurang, maka dapat terjadi pelanggaran hukum akibat adanya tekanan
ekonomi dan populasi. Di sisi lain diperlihatkan bahwa, ketersediaan ruang yang
berkurang akan semakin memberikan tekanan terhadap aspek ekologis suatu
wilayah (Villa et al. 2002; Haie dan Cabecinha 2003; Aurambout et al. 2005;
Elshorbagy et al. 2005). Dalam penelitian ini, fenomena tersebut di atas,
disimulasikan dalam sub-model ketersediaan ruang.
Hasil simulasi skenario sub-model ketersediaan ruang disajikan pada
Gambar 62 sampai dengan Gambar 78. Rekapitulasi simulasi skenario, disajikan
pada Tabel 41, serta data lengkap disajikan pada Lampiran 9. Perilaku antar
skenario menunjukkan perbedaan yang konsisten pada berbagai peubah model.
Pemanfaatan/penggunaan lahan pertanian pada skenario sangat pesimis
relatif tetap dari tahun 2003 sampai dengan tahun 2029, yaitu dari 105,2 ribu ha
menjadi 103,4 ribu ha (Gambar 62). Pada skenario ini, konversi lahan pertanian
menjadi permukiman, industri, dan penggunaan budidaya non-pertanian lainnya,
akan diimbangi oleh konversi lahan berkualitas rendah (lahan kelas 5, 6, 7, dan 8)
yang masih tertutup hutan, menjadi lahan pertanian. Konversi lahan tersebut
dimungkinkan karena tidak ada intervensi terhadap sistem yang membatasinya.
Berhentinya konversi lahan kualitas rendah tersebut hanya akan ditentukan oleh
terbatasnya kemampuan masyarakat dalam membuka lahan akibat faktor alam,
terutama kelerengan. Dengan demikian, luas lahan pertanian menjadi relatif tetap
selama kurun waktu simulasi.









Berlainan dengan skenario sangat pesimis, pada skenario lainnya yaitu
pesimis, moderat, dan optimis, dilakukan intervensi terhadap sistem. Penurunan
tersebut bersumber dari dihentikannya konversi lahan kualitas rendah menjadi
Gambar 63 Skenario perkembangan pemanfaatan/
penggunaan lahan tambak
2
3
4
5
6
7
8
9
2003 2008 2013 2018 2023 2028
R
i
b
u


h
e
k
t
a
r
Sangat Pesimis Pesimis
Moderat Optimis
Gambar 62 Skenario perkembangan pemanfaatan/
penggunaan lahan pertanian
50
62
74
86
98
110
2003 2008 2013 2018 2023 2028
R
i
b
u

h
e
k
t
a
r
Sangat Pesimis Pesimis
Moderat Optimis

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
184
lahan pertanian, dan dilakukan konversi lahan pertanian eksisting yang berada
pada lahan kualitas rendah menjadi kawasan lindung. Di samping itu juga terjadi
konversi lahan pertanian menjadi penggunaan budidaya non-pertanian, dengan
demikian, terjadi penurunan luas lahan pertanian secara signifikan. Pada skenario
optimis luas lahan pertanian akan menurun tajam menjadi hanya 51,9 ribu ha pada
tahun 2029, dari luas semula 105,2 ribu ha pada tahun 2003. Pada skenario ini,
semua aktivitas budidaya pertanian hanya akan berlangsung pada lahan kualitas
tinggi (kelas 1, 2, 3, dan 4), sehingga dapat dilakukan secara intensif dengan input
yang lebih rendah. Oleh karena itu, walaupun luas lahan pertanian pada skenario
optimis menjadi jauh lebih rendah, tetapi produktivitasnya akan menjadi lebih
tinggi daripada skenario sangat pesimis (seperti disajikan pada Gambar 56).
Luas lahan budidaya pesisir (tambak) terus meningkat pada semua
skenario. Peningkatan luas tambak di wilayah pesisir Teluk Lampung adalah
akibat dari nilai ekonomi komoditas udang yang tinggi dan aksesibilitas wilayah
yang cukup baik. Pada skenario sangat pesimis, pertumbuhan luas tambak
meningkat pesat dari tahun 2003 hanya 2,5 ribu ha sampai tahun 2013 menjadi 7,2
ribu ha, dan kemudian melambat sampai mencapai luas 8,1 ribu ha pada tahun
2029 (Gambar 63). Pada skenario lainnya peningkatan luas tambak tidak sepesat
skenario sangat pesimis, karena terdapat pembatasan untuk kawasan lindung
terutama untuk sempadan pantai dan mangrove. Pada akhir simulasi tahun 2029,
luas tambak pada skenario pesimis, moderat, dan optimis, berturut-turut adalah
8,0 ribu ha, 7,9 ribu ha, dan 7,7 ribu ha.
Penggunaan lahan untuk permukiman, bisnis dan industri, serta prasarana,
menunjukkan peningkatan untuk semua skenario. Pada skenario optimis,
penggunaan ruang tersebut meningkat lebih cepat setelah tahun 2017,
dibandingkan dengan skenario lainnya. Hal tersebut sejalan dengan peningkatan
populasi dan aktivitas ekonomi yang lebih besar pada skenario optimis daripada
skenario lainnya.
Total lahan permukiman dan perkotaan yang terdiri dari lahan untuk
permukiman, bisnis dan industri, prasarana, dan lahan pelabuhan, juga
menunjukkan pola yang relatif sama. Pada skenario optimis, total lahan
permukiman dan perkotaan lebih besar daripada skenario lainnya. Pada akhir

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
185
simulasi tahun 2029, total lahan permukiman dan perkotaan skenario optimis
mencapai luas 13,9 ribu ha, jauh meningkat daripada pada tahun 2003 yaitu seluas
3,5 ribu ha. Sebaliknya pada skenario sangat pesimis, luas total lahan permukiman
dan perkotaan pada tahun 2029 hanya sebesar 8,6 ribu ha (Gambar 67).
Gambar 68 menunjukkan bahwa skenario sangat pesimis memerlukan total
kebutuhan lahan untuk kawasan budidaya yang paling besar daripada skenario
lainnya. Sampai dengan tahun 2029, skenario sangat pesimis membutuhkan total
lahan untuk kawasan budidaya mencapai 120,3 ribu ha, yang sebagian besar
merupakan lahan pertanian. Di sisi lain, skenario optimis hanya membutuhkan
total lahan untuk kawasan budidaya pertanian dan non-pertanian seluas 73,9 ribu
ha, karena terdapat kebijakan dihentikannya perluasan lahan pertanian dan
dilakukan konversi lahan pertanian menjadi kawasan lindung.


















Total kebutuhan lahan untuk kawasan budidaya yang semakin meningkat,
akan dipenuhi melalui berbagai cara, termasuk mengkonversi kawasan yang
masih tertutup hutan menjadi kawasan budidaya. Diketahui bahwa pada tahun
Gambar 64 Skenario perkembangan lahan
permukiman
1,5
1,9
2,2
2,6
2,9
3,3
2003 2008 2013 2018 2023 2028
R
i
b
u


h
e
k
t
a
r
Sangat Pesimis Pesimis
Moderat Optimis
Gambar 65 Skenario perkembangan lahan bisnis dan
industri
0,5
1,8
3,1
4,4
5,7
7,0
2003 2008 2013 2018 2023 2028
R
i
b
u


h
e
k
t
a
r
Sangat Pesimis Pesimis
Moderat Optimis
Gambar 66 Skenario perkembangan lahan untuk
prasarana wilayah
0,5
1,3
2,1
2,9
3,7
4,5
2003 2008 2013 2018 2023 2028
R
i
b
u


h
e
k
t
a
r
Sangat Pesimis Pesimis
Moderat Optimis
Gambar 67 Skenario total lahan permukiman dan
perkotaan
3
5
8
10
13
15
2003 2008 2013 2018 2023 2028
R
i
b
u



h
e
k
t
a
r
Sangat Pesimis Pesimis
Moderat Optimis

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
186
awal dimulainya simulasi (tahun 2003), sudah terdapat lahan budidaya yang tidak
sesuai dengan kemampuannya seluas 38,0 ribu ha, yaitu lahan berkualitas rendah
(kelas kemampuan 5, 6, 7, dan 8). Jika tidak dikendalikan, maka penggunaan
lahan yang tidak sesuai dengan kemampuannya tersebut akan terus bertambah
dengan bertambahnya kebutuhan lahan untuk kawasan budidaya. Dalam simulasi
model, pengendalian tersebut ditunjukkan oleh nilai parameter peubah
”kebijakan” pada masing-masing skenario.

















Gambar 69 menunjukkan perkembangan penggunaan lahan yang tidak
sesuai dengan kemampuannya (penggunaan lahan inkonsisten) untuk masing-
masing skenario. Pada semua skenario, penggunaan lahan akan meningkat dalam
porsi yang sama sampai tahun 2009, dan di atas tahun 2009 mulai terdapat
perbedaan antar skenario. Pada skenario sangat pesimis, penggunaan lahan akan
terus meningkat sampai seluas 45,4 ribu ha pada tahun 2029, dari luas semula
38,0 ribu ha pada tahun 2003. Pada ekstrim yang lain, sampai tahun 2029 tidak
terdapat lagi penggunaan lahan yang tidak sesuai dengan kemampuannya pada
Gambar 68 Skenario total lahan budidaya
70
82
94
106
118
130
2003 2008 2013 2018 2023 2028
R
i
b
u



h
e
k
t
a
r
Sangat Pesimis Pesimis
Moderat Optimis
Gambar 69 Skenario penggunaan lahan inkonsisten
0
10
20
30
40
50
2003 2008 2013 2018 2023 2028
R
i
b
u


h
e
k
t
a
r
Sangat Pesimis Pesimis
Moderat Optimis
Gambar 70 Skenario kemampuan penyediaan lahan
untuk kawasan lindung darat
0
12
24
36
48
60
2003 2008 2013 2018 2023 2028
R
i
b
u



h
e
k
t
a
r
Sangat Pesimis Pesimis
Moderat Optimis

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
187
skenario optimis, karena dibatasi oleh peubah ”kebijakan” di dalam model.
Pengurangan penggunaan lahan pada skenario optimis tersebut, hanya mungkin
terjadi dengan mengkonversi lahan pertanian, sehingga penggunaan lahan
pertanian pada skenario ini harus menurun tajam (Gambar 62).
Pada akhirnya, masing-masing skenario akan memiliki kemampuan yang
berbeda-beda dalam menyediakan lahan untuk kawasan lindung darat, seperti
ditunjukkan pada Gambar 70. Skenario optimis dapat menyediakan lahan untuk
kawasan lindung darat pada tahun 2029 mencapai luas 55,6 ribu ha. Luas lahan
tersebut merupakan kebutuhan ideal untuk kawasan lindung darat, sesuai dengan
kemampuan lahan dan aspek fungsionalnya. Sementara itu, skenario sangat
pesimis hanya mampu menyediakan lahan seluas 9,1 ribu ha, yaitu berupa
sebagian dari lahan kelas 7 dan 8, yang sudah tidak mungkin lagi dikonversi
masyarakat karena faktor alam yaitu kecuraman lereng. Luas lahan tersebut sangat
tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan kawasan lindung darat. Dengan
demikian fungsi lindung pada skenario sangat pesimis menjadi terabaikan, dan
memberikan dampak terhadap kelestarian sumberdaya pesisir dan kualitas
lingkungan. Oleh karena itu, peubah ”kendala ruang” pada skenario sangat
pesimis, menjadi maksimal dan membatasi perkembangan wilayah pada aspek
ekonomi dan populasi.
Berlainan dengan ruang daratan, pemanfaatan umum perairan antar
skenario tidak menunjukkan perbedaan yang tajam, dan tidak terdapat batas yang
tegas antar penggunaan ruang perairan. Penggunaan perairan terbesar adalah
untuk perikanan budidaya dan wilayah tangkap (fishing ground). Gambar 71
menunjukkan bahwa terdapat perluasan perairan perikanan budidaya yang
signifikan untuk skenario optimis, yaitu dari awal simulasi hanya 8,0 ribu ha,
meningkat menjadi 11,9 ribu ha pada tahun 2029, sedangkan untuk skenario
sangat pesimis, luas pada tahun yang sama hanya mencapai 8,8 ribu ha.
Peningkatan perairan perikanan budidaya pada skenario optimis yang besar
tersebut, merupakan penyebab utama dapat meningkatnya produk sektor
perikanan (seperti ditunjukkan pada sub-model aktivitas ekonomi).
Gambar 72 menunjukkan bahwa pola perkembangan luas total perairan
perikanan budidaya dan tangkap, sama dengan pola perkembangan perairan

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
188
perikanan budidaya. Hal tersebut disebabkan oleh perkembangan penggunaan
perairan sektor perikanan hanya bersumber dari perikanan budidaya, sedangkan
luas perairan perikanan tangkap relatif tetap.
Pemanfaatan umum perairan non-perikanan yang meliputi kepentingan
militer (daerah latihan TNI-AL), perairan daerah lingkungan kerja (DLKr) dan
daerah lingkungan kepentingan (DLKp) pelabuhan, dan alur keluar masuk DLKr
dan DLKp, tidak menunjukkan perbedaan antar skenario (Gambar 73). Perbedaan
hanya terjadi antar tahun simulasi, yaitu pada tahun 2003 seluas 39,7 ribu ha,
kemudian sedikit meningkat pada tahun 2029 menjadi 41,3 ribu ha. Peningkatan
yang relatif kecil tersebut bersumber dari penambahan luas perairan pelabuhan
(DLKr dan DLKp), yang berlaku sama antar skenario.



















Dengan pola kawasan pemanfaatan umum perairan (perikanan dan non-
perikanan) seperti di atas, secara total kawasan pemanfaatan umum perairan dapat
ditunjukkan seperti pada Gambar 74. Pada skenario optimis, luas total kawasan
pemanfaatan umum perairan akan berjumlah 133,5 ribu ha pada tahun 2029,
Gambar 71 Skenario perkembangan perairan
perikanan budidaya laut
8
9
10
10
11
12
2003 2008 2013 2018 2023 2028
R
i
b
u


h
e
k
t
a
r
Sangat Pesimis Pesimis
Moderat Optimis
Gambar 72 Skenario perkembangan perairan
perikanan budidaya laut dan tangkap
88
89
90
91
92
93
2003 2008 2013 2018 2023 2028
R
i
b
u


h
e
k
t
a
r
Sangat Pesimis Pesimis
Moderat Optimis
39,7
40,0
40,4
40,7
41,1
41,4
2003 2008 2013 2018 2023 2028
R
i
b
u


h
e
k
t
a
r
Sangat Pesimis Pesimis
Moderat Optimis
Gambar 73 Skenario perkembangan pemanfaatan
umum perairan non-perikanan
Gambar 74 Skenario perkembangan total pemanfaatan
umum perairan
128
129
130
132
133
134
2003 2008 2013 2018 2023 2028
R
i
b
u


h
e
k
t
a
r
Sangat Pesimis Pesimis
Moderat Optimis

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
189
sedangkan skenario sangat pesimis hanya mencapai 130,4 ribu ha. Perbedaan
tersebut didominasi oleh perbedaan penggunaan ruang perikanan budidaya.
Peningkatan pemanfaatan umum perairan (terutama perikanan),
menimbulkan dampak terhadap konversi perairan terumbu karang dan padang
lamun yang seharusnya menjadi kawasan konservasi perairan, diubah menjadi
perairan perikanan budidaya dan tangkap. Besarnya konversi tersebut akan
meningkat sepanjang waktu simulasi. Pada skenario sangat pesimis dengan
parameter peubah ”kebijakan” nol, yang berarti tidak ada upaya untuk
melestarikan kawasan konservasi perairan, konversi terumbu karang dan padang
lamun menjadi besar. Gambar 75 menunjukkan bahwa pada skenario sangat
pesimis, konversi akan mencapai 1,3 ribu ha pada tahun 2029. Sedangan pada
ekstrim yang lain, skenario optimis dengan upaya yang maksimal, dapat menekan
konversi perairan terumbu karang menjadi 0,1 ribu ha. Perbedaan antar skenario
tersebut selanjutnya berdampak terhadap penyediaan ruang perairan konservasi.










Gambar 76 menunjukkan bahwa upaya dalam skenario optimis dapat
menyediakan ruang untuk kawasan konservasi perairan seluas 4,8 ribu ha, yang
berupa tutupan terumbu karang dan padang lamun. Luas tersebut merupakan luas
ideal untuk kawasan konservasi perairan, dan sesuai dengan luas terumbu karang
dan padang lamun di Teluk Lampung (Dinas Perikanan dan Kelautan Prov.
Lampung, 2007). Di sisi lain, dalam skenario sangat pesimis, sama sekali tidak
ada upaya untuk menyediakan ruang perairan bagi kawasan konservasi. Pada
skenario ini, konversi tutupan perairan terumbu karang dan padang lamun tidak
dikendalikan dan akan terus berlangsung, sepanjang masih dianggap
menguntungkan (dalam jangka pendek) oleh masyarakat. Sementara itu, skenario
Gambar 76 Skenario upaya penyediaan kawasan
konservasi perairan
0
1
2
3
4
5
2003 2008 2013 2018 2023 2028
R
i
b
u



h
e
k
t
a
r
Sangat Pesimis Pesimis
Moderat Optimis
Gambar 75 Skenario konversi perairan terumbu karang
dan padang lamun
0,00
0,28
0,56
0,84
1,12
1,40
2003 2008 2013 2018 2023 2028
R
i
b
u


h
e
k
t
a
r
Sangat Pesimis Pesimis
Moderat Optimis

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
190
pesimis dan moderat berada di antara kedua ekstrim, dengan penyediaan ruang
perairan berturut-turut adalah 1,2 ribu ha dan 3,6 ribu ha.
Peubah “kebijakan” pada masing-masing skenario, memberikan
inkonsistensi tata ruang yang berbeda-beda. Inkonsistensi tata ruang didefinisikan
sebagai luas penggunaan ruang (daratan dan perairan) untuk kawasan budidaya
dan/atau pemanfaatan umum perairan yang seharusnya berfungsi lindung, baik
yang telah terjadi maupun yang dikonversi selama kurun waktu simulasi.
Inkonsistensi tersebut telah terjadi sejak dimulainya simulasi (tahun 2003), sesuai
dengan kondisi nyata (eksisting) yaitu seluas 39,0 ribu ha. Pada semua skenario,
inkonsistensi tata ruang akan meningkat, sampai peubah “kebijakan”
menunjukkan efektivitasnya dalam menyetir peubah “inkonsistensi tata ruang”.
Gambar 77 menunjukkan bahwa pencapaian skenario optimis dalam
menurunkan inkonsistensi tata ruang hingga lebih rendah dari tahun 2003, baru
dapat tercapai pada tahun 2018. Dalam skenario moderat dan pesimis, pencapaian
tersebut berturut-turut baru akan terjadi pada tahun 2020 dan 2025. Sedangkan
untuk skenario sangat pesimis, inkonsistensi tata ruang akan terus meningkat,
hingga pada tahun 2029 akan mencapai luas 46,7 ribu ha. Adapun luas
inkonsistensi tata ruang untuk skenario pesimis, moderat, dan optimis, pada tahun
2029, berturut-turut adalah 33,6; 10,9; dan 0,1 ribu ha. Luas inkonsistensi tata
ruang akan mempengaruhi kendala ruang, dan terhubung pada sub-model populasi
dan ekonomi. Dengan kendala ruang yang berbeda-beda antara skenario, akan
menghasilkan jumlah penduduk, tingkat pengangguran, investasi, dan aktivitas
ekonomi (PDRB) yang berbeda-beda, seperti telah disajikan sebelumnya.









Gambar 77 Skenario inkonsistensi tata ruang darat
dan perairan
0
10
20
30
40
50
2003 2008 2013 2018 2023 2028
R
i
b
u



h
e
k
t
a
r
Sangat Pesimis Pesimis
Moderat Optimis
Gambar 78 Skenario rente ruang kawasan budidaya
darat dan perairan
10
24
38
52
66
80
2003 2008 2013 2018 2023 2028
R
p

j
u
t
a


p
e
r


h
e
k
t
a
r
Sangat Pesimis Pesimis
Moderat Optimis

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
191
Tabel 41 Rekapitulasi simulasi sub-model ketersediaan ruang
Skenario serta tahun awal dan akhir simulasi
Sangat
Pesimis
Pesimis Moderat Optimis No Peubah Satuan
2003 2029 2003 2029 2003 2029 2003 2029
1 Lahan
pertanian
ribu ha 105,2 103,4 105,2 91,0 105,2 64,9 105,2 51,9
2 Lahan
tambak
ribu ha 2,5 8,1 2,5 8,1 2,5 7,9 2,5 7,7
3 Lahan
permukiman
ribu ha 1,5 2,4 1,5 2,5 1,5 3,0 1,5 3,1
4 Lahan bisnis
dan industri
ribu ha 0,9 3,3 0,9 3,4 0,9 5,6 0,9 6,3
5 Lahan
prasarana
ribu ha 0,9 2,5 0,9 2,6 0,9 3,8 0,9 4,2
6 Lahan
permukiman
dan
perkotaan
ribu ha 3,5 8,6 3,5 8,7 3,5 12,6 3,5 13,9
7 Total lahan
budidaya
ribu ha 111,4 120,3 111,4 108,1 111,4 85,7 111,4 73,9
8 Penggunaan
lahan
inkonsisten
ribu ha 38,0 45,4 38,0 33,2 38,0 10,8 38,0 -
9 Penyediaan
lahan
kawasan
lindung
ribu ha - - - 13,6 - 40,9 - 54,5
10 Perairan
perikanan
budidaya
ribu ha 8,0 8,8 8,0 9,1 8,0 10,2 8,0 11,9
11 Perairan
perikanan
budidaya dan
tangkap
ribu ha 88,3 89,1 88,3 89,3 88,3 90,4 88,3 92,2
12 Pemanfaatn
perairan non-
perikanan
ribu ha 39,7 41,3 39,7 41,3 39,7 41,3 39,7 41,3
13 Total
pemanfaatan
umum
perairan
ribu ha 128,0 130,4 128,0 130,7 128,0 131,8 128,0 133,5
14 Konversi
perairan
terumbu
karang
ribu ha - 1,3 - 0,4 - 0,2 - 0,1
15 Penyediaan
kawasan
koservasi
perairan
ribu ha - - - 1,2 - 3,6 - 4,8
16 Inkonsistensi
tata ruang
darat dan
perairan
ribu ha 38,0 46,7 38,0 33,6 38,0 10,9 38,0 0,1
17 Rente ruang
budidaya
Rp
juta/ha
11,98 29,57 11,98 31,56 11,98 56,46 11,98 67,80

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
192
Pada akhirnya, sistem secara keseluruhan akan memberikan rente ruang
(space rent) kawasan budidaya darat dan pemanfaatan umum perairan yang
berbeda-beda pula. Rente ruang didefinisikan sebagai produk ruang per luas
kawasan budidaya, yaitu PDRB harga konstan tahun 2000 dibagi dengan luas
kawasan budidaya (ha) darat dan perairan. Gambar 78 menunjukkan bahwa
penurunan inkonsistensi tata ruang akan memberikan peningkatan rente ruang.
Skenario optimis akan memberikan rente ruang tertinggi, yaitu mencapai Rp
67,80 juta per ha pada tahun 2029. Pada tahun yang sama, skenario moderat,
pesimis, dan sangat pesimis, hanya dapat memberikan rente ruang berturut-turut
sebesar Rp 56,46 juta per ha, Rp31,56 juta per ha, dan Rp 29,57 juta per ha.
7.1.6 Pemilihan skenar io
Simulasi model dalam skenario sangat pesimis, pesimis, moderat, dan
optimis, memberikan hasil yang berbeda. Salah satu skenario harus dipilih untuk
digunakan dalam perumusan kebijakan (Durance dan Godet 2010). Untuk
menetapkan skenario yang digunakan bagi perumusan kebijakan rencana pola dan
struktur ruang, dipilih salah satu dari keempat skenario dengan mengacu pada
kebutuhan pemangku kepentingan. Kebutuhan ditunjukkan oleh faktor-faktor
penentu penataan ruang wilayah pesisir, sebagaimana telah diuraikan pada sub-
bab 7.1.1, adalah meliputi: (1) kualitas sumberdaya manusia (SDM) masyarakat
pesisir, (2) penegakan hukum, (3) pertumbuhan penduduk, (4) infrastruktur
wilayah, (5) aktivitas ekonomi kerakyatan, dan (6) zonasi wilayah.
Kebutuhan pemangku kepentingan diwakili oleh beberapa peubah dalam
model, sebagai kriteria untuk memilih skenario yang paling akomodatif terhadap
kebutuhan tersebut, yaitu sebagai berikut:
1) Kualitas sumberdaya manusia (SDM) masyarakat pesisir, diwakili oleh
peubah: (1) PDRB per kapita, dan (2) tingkat pengangguran;
2) Penegakan hukum, diwakili oleh peubah: (3) inkonsistensi tata ruang;
3) Pertumbuhan penduduk, diwakili oleh peubah: (4) jumlah penduduk, dan
(5) tingkat pertumbuhan penduduk;
4) Infrastruktur wilayah, diwakili oleh peubah: (6) investasi;

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
193
5) Aktivitas ekonomi kerakyatan, diwakili oleh peubah: (7) perikanan, (8)
pertanian, dan (9) industri (termasuk industri skala mikro, kecil, dan
menengah);
6) Zonasi wilayah, diwakili oleh peubah: (10) luas kawasan lindung, dan (11)
rente ruang
Dengan demikian, terdapat 11 kriteria yang berbeda dalam pemilihan
skenario kebijakan. Alat yang digunakan dalam memilih skenario adalah analisis
pembuatan keputusan multikriteria berupa pengambilan keputusan berbasis indeks
kinerja. Karena kriteria yang digunakan memiliki nilai dan satuan yang beragam,
digunakan analisis yang sesuai yaitu CPI (Marimin 2004).
Dari sebelas peubah di atas, diambil nilai rata-rata dari hasil simulasi
masing-masing peubah, dan dijadikan sebagai nilai kriteria. Masing-masing nilai
kriteria selanjutnya diubah menjadi nilai indeks (CPI). Melalui jumlah perkalian
(sumproduct) nilai indeks dengan bobot kinerja, dihasilkan nilai alternatif untuk
menentukan skenario yang paling akomodatif terhadap kebutuhan pemangku
kepentingan. Penentuan bobot kinerja dilakukan dengan cara memberikan bobot
untuk masing-masing masing-masing kebutuhan pemangku kepentingan
menggunakan bilangan rasional, sehingga jumlahnya satu. Masing-masing bobot
kebutuhan pemangku kepentingan dapat dipecah lagi, sesuai dengan jumlah
peubah model yang mewakili kebutuhan yang bersangkutan, seperti terdaftar pada
Tabel 42.
Analisis dilakukan untuk empat titik tahun yang dianggap dapat mewakili
hasil simulasi skenario, yaitu 2014, 2019, 2024, dan 2029. Untuk pengambilan
keputusan peringkat nilai alternatif, dilakukan dengan menggunakan rata-rata nilai
alternatif dan simpangan bakunya. Skenario dengan peringkat nilai alternatif
tertinggi (I) merupakan skenario yang akan dipilih. Penentuan peringkat nilai
alternatif adalah sebagai berikut:
1) Peringkat I adalah: Jika nilai alternatif > dari rata-rata nilai alternatif +
simpangan baku;
2) Peringkat II adalah: Jika rata-rata nilai alternatif < nilai alternatif < dari
rata-rata nilai alternatif + simpangan baku;
3) Peringkat III adalah: Jika nilai alternatif < dari rata-rata nilai alternatif.

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
194
Kesebelas kriteria dan bobot kinerja masing-masing skenario disajikan
disajikan pada Tabel 42, dan rekapitulasi hasil analisis pada Tabel 43. Data
lengkap analisis, disajikan pada Tabel Lampiran 48 sampai 55.
Tabel 42 Kriteria dan bobot kinerja CPI
Kebutuhan pemangku
kepentingan
Peubah model Satuan Bobot Kinerja
PDRB per kapita Rp juta per orang 0,0833 Kualitas SDM
Pengangguran % 0,0833
Penegakan hukum Inkonsistensi tata ruang ha 0,1667
Jumlah penduduk orang 0,0833 Pertumbuhan penduduk
Tingkat pertumbuhan % 0,0833
Infrastruktur wilayah Investasi Rp juta 0,1667
Pertanian Rp juta 0,0556
Perikanan Rp juta 0,0556
Aktivitas ekonomi
kerakyatan
Industri Rp juta 0,0556
Penyediaan kawasan
lindung
ha 0,0833 Zonasi wilayah
Rente ruang Rp juta per ha 0,0833

Tabel 43 Rekapitulasi hasil analisis CPI
Skenario
Tahun
Besaran dan Peringkat
Nilai Alternatif
Sangat
Pesimis
Pesimis Moderat Optimis
2014 Nilai alternatif skenario 99,2 100,1 101,5 102,2
Simpangan baku nilai alternatif 1,4
Rata-rata nilai alternatif 100,8
Peringkat nilai alternatif III III II I
2019 Nilai alternatif skenario 95,8 100,1 108,6 113,3
Simpangan baku nilai alternatif 7,9
Rata-rata nilai alternatif 104,4
Peringkat nilai alternatif III III II I
2024 Nilai alternatif skenario 85,9 95,0 120,4 140,9
Simpangan baku nilai alternatif 25,0
Rata-rata nilai alternatif 110,6
Peringkat nilai alternatif III III II I
2029 Nilai alternatif skenario 77,9 89,6 147,4 193,2
Simpangan baku nilai alternatif 53,6
Rata-rata nilai alternatif 127,0
Peringkat nilai alternatif III III II I
Kesimpulan Peringkat Skenario III III II I

Rekapitulasi hasil analisis CPI pada Tabel 43 menunjukkan bahwa hanya
skenario optimis yang menempati peringkat I. Hasil tersebut memberikan
kesimpulan tunggal, dan diinterpretasikan bahwa hanya skenario optimis yang
paling mampu mengakomodasi kebutuhan pemangku kepentingan dalam
perencanaan tata ruang wilayah pesisir Teluk Lampung. Dengan demikian, dalam
perencanaan kebijakan pola dan struktur ruang wilayah pesisir Teluk Lampung
akan mengacu pada skenario optimis.

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
195
7.2 Kebijakan Pola dan Str uktur Ruang
7.2.1 Kebutuhan dan kesesuaian r uang
Kebutuhan ruang diperhitungkan dari simulasi skenario optimis yang telah
dipilih sebagai skenario yang paling mampu untuk memenuhi kebutuhan
pemangku kepentingan. Berdasarkan simulasi skenario, diketahui bahwa sampai
akhir tahun simulasi akan dibutuhkan penambahan ruang bagi berbagai
penggunaan. Kebutuhan ruang daratan dan perairan untuk masing-masing
penggunaan, dihitung sampai dengan akhir simulasi (tahun 2029). Hasil
perhitungan kebutuhan ruang sesuai dengan simulasi skenario optimis, secara
ringkas disajikan pada Tabel 44.
Tabel 44 Kebutuhan ruang wilayah pesisir Teluk Lampung
No. Penggunaan Ruang Luas (ha)
1 Permukiman 3.155
2 Prasarana wilayah (jalan, terminal, perkantoran,
prasarana kesehatan, pasar, sekolah, dan lain-lain)
4.209
3 Bisnis dan industri (pabrik, pergudangan, hotel,
restoran, dan penunjang lainnya)
6.276
4 Pertanian 51.911
5 Budidaya pesisir (tambak) 7.750
6 Lahan pelabuhan 253
7 Lahan militer 180
8 Lahan wisata pantai 112
Jumlah kawasan budidaya darat 73.845
9 Lindung lahan atas 45.326
10 Sempadan sungai 4.389
11 Sempadan pantai dan mangrove 4.767
Jumlah kawasan lindung darat 54.482
Jumlah penggunaan lahan 128.327
Luas lahan total *) 129.428
Lahan yang masih dapat dialokasikan 1.101
12 Perairan perikanan budidaya 11.940
13 Perairan perikanan tangkap 80.262
14 Perairan militer (TNI-AL) 35.417
15 Perairan pelabuhan/pelayaran 5.913
16 Perairan direklamasi 1.526
Jumlah kawasan pemanfaatan umum perairan 133.532
17 Kawasan konservasi perairan 4.822
Jumlah penggunaan perairan 138.354
Luas perairan total *) 159.652
Perairan yang masih dapat dialokasikan 21.298
Keterangan: *) Luas total lahan bertambah dan perairan berkurang dari tahun 2003 karena
adanya reklamasi pantai

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
196
Kebutuhan ruang di wilayah pesisir Teluk Lampung sampai tahun 2029
dapat dipenuhi, dan masih terdapat lahan dan perairan yang dapat dialokasikan
untuk penggunaan lain, masing-masing seluas 1.101 ha dan 21.298 ha. Pada ruang
daratan, terdapat prasyarat agar kebutuhan ruang dapat dipenuhi, yaitu harus
dilakukan konversi lahan pertanian menjadi penggunaan budidaya lainnya dan
menjadi kawasan lindung. Di sisi lain secara kuantitas pemenuhan kebutuhan
ruang perairan dapat dicapai, namun secara umum kawasan konservasi perairan
(tutupan terumbu karang dan padang lamun) berada pada perairan tepi yang juga
sesuai untuk penggunaan perairan perikanan budidaya dan tangkap. Dengan
demikian, dapat terjadi tumpang tindih antara kawasan konservasi dan kawasan
pemanfaatan umum perairan. Oleh karena itu, analisis kesesuaian ruang daratan
dan perairan diperlukan untuk mengalokasikan ruang sesuai dengan kebutuhan
masing-masing penggunaan.
Evaluasi yang dilakukan melalui analisis SIG menghasilkan kesesuaian
ruang untuk penggunaan pertanian, tambak, permukiman, bisnis dan industri,
kawasan lindung daratan dan konservasi perairan, serta pemanfaatan umum
perairan (perairan perikanan budidaya dan pariwisata, serta perikanan tangkap).
Secara ringkas hasil analisis SIG disajikan pada Tabel 45 serta Gambar 79 sampai
dengan Gambar 84.
Tabel 45 Kesesuaian ruang wilayah pesisir Teluk Lampung
No. Kesesuaian Ruang Luas (ha)
1 Lahan permukiman
1)
19.991
2 Lahan bisnis dan industri
1)
6.428
3 Lahan pertanian:
2)

- Tanaman perkebunan (tahunan) 61.508
- Tanaman pangan (semusim) 23.820
4 Lahan budidaya pesisir (tambak) 8.200
5 Lahan tidak sesuai untuk budidaya (kawasan
lindung daratan)
54.482
6 Perairan perikanan budidaya dan pariwisata 31.097
7 Perairan perikanan tangkap
3)
125.253
8 Perairan tidak sesuai untuk kawasan pemanfaatan
umum (kawasan konservasi perairan)
4.822
Keterangan: 1) Kesesuaian lahan permukiman serta bisnis dan industri sudah meliputi kesesuaian
lahan untuk prasarana wilayah, pelabuhan, militer, dan wisata pantai.
2) Kesesuaian lahan pertanian dibedakan untuk tanaman perkebunan (tahunan) dan
tanaman pangan (semusim)
3) Perairan perikanan tangkap sudah meliputi perairan untuk kepentingan militer
(TNI-AL) dan pelabuhan/pelayaran

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
197




















Gambar 79

PETA KESESUAIAN
LAHAN TANAMAN
PERKEBUNAN
(TAHUNAN)

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
198




















Gambar 80

PETA KESESUAIAN
LAHAN TANAMAN
PANGAN (SEMUSIM)

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
199




















Gambar 81

PETA KESESUAIAN
LAHAN TAMBAK

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
200




















Gambar 82

PETA KESESUAIAN
LAHAN
PERMUKIMAN

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
201




















Gambar 83

PETA KESESUAIAN
LAHAN BISNIS DAN
INDUSTRI

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
202




















Gambar 84

PETA KESESUAIAN
PEMANFAATAN
UMUM PERAIRAN

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
203
7.2.2 Kar akter istik wilayah dan pusat pelayanan
Penyajian karakteristik wilayah dan pusat pelayanan ditujukan untuk
memberikan dasar kebijakan struktur ruang wilayah pesisir Teluk Lampung.
Analisis dilakukan dalam lingkup sub-wilayah (kecamatan), yang meliputi
location quotient (LQ), localization index (LI), specialization index (SI), dan
skalogram. Alat analisis tersebut dapat menunjukkan sektor basis, distribusi suatu
aktivitas tertentu, spesialisasi, dan hierarki pelayanan, masing-masing sub-wilayah
(Hoover dan Giarratani 1999; Rustiadi et al. 2009). Hasil analisis disajikan pada
Tabel 46 sampai dengan Tabel 49, data lengkap PDRB untuk analisis LQ, LI, dan
SI telah disajikan pada Bab 4 (Tabel 18 dan Tabel 19), sedangkan data lengkap
analisis skalogram disajikan pada Lampiran 7.
Tabel 46 Nilai LQ sektor ekonomi per kecamatan
Sektor Ekonomi
No Kecamatan
A B C D E F G H I J K L
1 Katibung 1,23 - 0,53 2,21 1,21 0,74 0,74 0,96 1,11 0,33 0,52 0,77
2 Sidomulyo 0,12 - 0,56 3,36 1,05 0,78 0,77 1,00 1,17 0,32 0,54 0,80
3 Kalianda 1,02 - 0,69 1,73 0,73 0,96 0,63 0,82 1,44 0,64 0,67 0,74
4 Rajabasa 2,62 - 0,30 1,94 1,05 0,41 0,49 0,63 0,61 0,25 0,29 0,49
5 Bakauheni 1,40 9,17 0,23 1,05 0,34 0,31 0,23 0,30 0,47 0,10 0,22 0,26
6 Padang
Cermin
1,90 - 0,48 1,71 1,32 0,66 0,68 0,88 1,00 0,33 0,46 0,70
7 Punduh
Pidada
2,38 - 0,36 1,95 1,69 0,50 0,40 0,52 0,74 0,30 0,35 0,44
8 Teluk Betung
Barat
1,23 0,26 0,88 0,15 2,57 1,05 0,90 0,79 0,56 1,83 0,85 2,11
9 Teluk Betung
Selatan
0,55 0,11 2,07 0,01 - 1,06 1,93 1,70 1,39 1,19 2,11 1,20
10 Panjang 0,20 1,69 1,15 0,08 1,38 1,85 1,03 0,91 0,76 2,15 1,16 1,22
Keterangan: A = Perikanan; B = Angkutan laut dan penyeberangan; C = Pariwisata;
D = Pertanian; E = Pertambangan dan penggalian; F = Industri
pengolahan; G = Listrik dan air bersih; H = Bangunan; I = Perdagangan;
J = Pengangkutan dan komunikasi; K = Keuangan, persewaan, dan jasa
perusahaan; dan L = Jasa-jasa.
Secara umum nilai LQ menunjukkan bahwa sektor-sektor basis relatif
agak berbeda antar kecamatan. Sektor yang menjadi ekonomi basis terbanyak di
wilayah kecamatan adalah perikanan dan pertanian (masing-masing menjadi basis
di tujuh kecamatan). Sebaliknya sektor yang paling sedikit menjadi basis adalah
bangunan, yaitu hanya di Kecamatan Teluk Betung Selatan. Di sisi lain,
kecamatan yang paling banyak memiliki sektor basis adalah Teluk Betung Selatan
dan Panjang (masing-masing memiliki delapan sektor basis). Sektor pertanian,

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
204
secara umum menjadi basis di kebanyakan wilayah kecamatan, kecuali pada
kecamatan yang banyak memiliki kawasan perkotaan yaitu di Kota Bandar
Lampung (Kecamatan Teluk Betung Barat, Teluk Betung Selatan, dan Panjang).
Sektor pertanian hanya berkembang pada kecamatan yang memiliki wilayah luas
dan hanya sedikit memiliki kawasan perkotaan.
Tabel 47 Nilai LI sektor ekonomi wilayah pesisir Teluk Lampung
No. Sektor Ekonomi Nilai LI
1 Perikanan 0,30
2 Angkutan laut dan penyeberangan 0,70
3 Pariwisata 0,27
4 Pertanian 0,47
5 Pertambangan dan penggalian 0,30
6 Industri pengolahan 0,17
7 Listrik dan air bersih 0,22
8 Bangunan 0,16
9 Perdagangan 0,15
10 Pengangkutan dan komunikasi 0,33
11 Keuangan, persewaan, dan jasa perusahaan 0,28
12 Jasa-jasa 0,19
Hasil analisis LI menunjukkan bahwa hanya sektor angkutan laut dan
penyeberangan yang memiliki nilai relatif besar, tetapi masih belum mendekati 1
(yaitu hanya 0,70). Nilai LI tersebut diinterpretasikan bahwa sektor angkutan laut
dan penyeberangan tidak hanya terpusat di satu lokasi, namun juga secara relatif
tidak tersebar merata di seluruh wilayah. Hal ini merupakan indikasi bahwa
sebagian besar sektor ekonomi relatif tersebar merata di sebagian besar wilayah
kecamatan pesisir Teluk Lampung. Nilai LI tersebut konsisten dengan analisis LQ,
dimana sektor yang memiliki nilai LQ yang mencolok adalah angkutan laut dan
penyeberangan (untuk Kecamatan Bakauheni 9,17), dan hanya menjadi basis di
Kecamatan Bakauheni dan Panjang. Secara umum dari analisis LI dapat
disimpulkan bahwa tidak terdapat sektor ekonomi yang terpusat pada wilayah
kecamatan tertentu, dan sektor angkutan laut dan penyeberangan hanya relatif
terpusat pada sedikit kecamatan.
Secara konsisten, analisis SI menunjukkan bahwa tidak terdapat wilayah
kecamatan tertentu yang terspesialisasi pada satu sektor tertentu. Nilai SI terbesar
terdapat pada Kecamatan Bakauheni, tetapi masih jauh dari nilai 1 (yaitu hanya
0,46). Dari analisis LQ diketahui bahwa salah satu sektor basis di Kecamatan

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
205
Bakauheni adalah angkutan laut dan penyeberangan, dan nilai LI menunjukkan
bahwa sektor angkutan laut dan penyeberangan merupakan sektor yang relatif
terpusat di Kecamatan Bakauheni. Dengan demikian, Kecamatan Bakauheni
secara relatif terspesialisasi pada sektor angkutan laut dan penyeberangan, tetapi
juga tergantung dengan sektor ekonomi basis lainnya (perikanan dan pertanian).
Tabel 48 Nilai SI per kecamatan di wilayah pesisir Teluk Lampung
No Kecamatan Nilai SI
1 Katibung 0,23
2 Sidomulyo 0,36
3 Kalianda 0,16
4 Rajabasa 0,40
5 Bakauheni 0,46
6 Padang Cermin 0,26
7 Punduh Pidada 0,37
8 Teluk Betung Barat 0,24
9 Teluk Betung Selatan 0,27
10 Panjang 0,30

Dari analisis LQ, LI, dan SI dapat disimpulkan bahwa pengembangan
sektor-sektor ekonomi di wilayah pesisir Teluk Lampung, dapat dilakukan secara
relatif sama di semua wilayah kecamatan, dengan memperhatikan potensi dan
kondisi yang telah berkembang. Pada wilayah kecamatan dengan kondisi yang
telah didominasi oleh aktivitas perkotaan, tidak mungkin dikembangkan sektor
pertanian yang butuh lahan luas, seperti di Kecamatan Teluk Betung Barat, Teluk
Betung Selatan, dan Panjang. Demikian juga sektor yang secara relatif telah
mengarah pada spesialisasi pada wilayah tertentu seperti angkutan laut dan
penyeberangan di Kecamatan Bakauheni dan Panjang, sektor tersebut tidak perlu
diprioritaskan pengembangannya pada kecamatan yang lain.
Prosedur analisis skalogram disajikan pada Bab 3, dengan menggunakan
67 jenis fasilitas pelayanan (secara lengkap disajikan pada Lampiran 7). Hasil
analisis skalogram (Tabel 49) menunjukkan bahwa Kecamatan Teluk Betung
Selatan memiliki nilai indeks pelayanan (IP) yang terbesar dan menempati
peringkat I, kemudian disusul oleh Kecamatan Panjang, Kalianda, dan Bakauheni
yang menempati peringkat II. Nilai IP menunjukkan bahwa berbagai fasilitas
pelayanan di wilayah pesisir Teluk Lampung, terpusat pada keempat kecamatan

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
206
tersebut. Berdasarkan nilai IP, dapat ditentukan ordo pusat pelayanan di wilayah
pesisir Teluk Lampung, yaitu sesuai dengan peringkat nilai IP.
Tabel 49 Nilai IP skalogram per kecamatan di wilayah pesisir Teluk Lampung
No Kecamatan Nilai IP Peringkat
1 Katibung 30,01 III
2 Sidomulyo 41,72 III
3 Kalianda 55,97 II
4 Rajabasa 34,96 III
5 Bakauheni 55,37 II
6 Padang Cermin 30,77 III
7 Punduh Pidada 25,44 III
8 Teluk Betung Barat 39,35 III
9 Teluk Betung Selatan 90,41 I
10 Panjang 63,25 II
Nilai IP pada analisis skalogram juga menunjukkan bahwa secara aktual
terdapat ketimpangan jenis dan jumlah fasilitas pelayanan antar kecamatan di
wilayah peisisr Teluk Lampung. Tampak bahwa wilayah kecamatan pesisir di
Kabupaten Pesawaran (Kecamatan Padang Cermin dan Punduh Pidada), memiliki
nilai IP yang lebih kecil daripada kecamatan lainnya. Oleh karena itu kedua
kecamatan pesisir Kabupaten Pesawaran ini hanya menempati peringkat III.
Untuk menetapkan struktur hierarki yang mewakili wilayah pesisir di Kabupaten
Pesawaran, diperlukan percepatan pengadaan failitas pelayanan agar ordo pusat
pelayanan dapat memiliki tingkatan yang sama dengan wilayah pesisir di
Kabupaten Lampung Selatan dan Bandar Lampung.
7.2.3 Ar ahan pola r uang
Dari analisis sistem dinamik dan analisis sistem informasi geografis (SIG),
dapat ditentukan arahan pola ruang yang mampu mengakomodasi kebutuhan para
pemangku kepentingan di wilayah pesisir Teluk Lampung. Berdasarkan analisis
CPI diketahui bahwa hanya skenario optimis dari analisis sistem dinamik yang
paling mampu mengakomodasi kebutuhan pemangku kepentingan dalam
perencanaan tata ruang wilayah pesisir Teluk Lampung. Sementara itu, dari
analisis SIG diketahui bahwa kebutuhan ruang yang seseuai dengan skenario
optimis (seperti disajikan pada Tabel 44), dapat dipenuhi di wilayah pesisir Teluk
Lampung.

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
207
Arahan pola ruang meliputi kawasan lindung darat dan koservasi perairan,
serta kawasan budidaya daratan dan pemanfaatan umum perairan. Penentuan
alokasi peruntukan pola ruang dilakukan terutama berbasiskan prinsip kontinum
pada pola ruang eksisting yang telah memenuhi kaidah kesesuaian. Hasil analisis
menunjukkan bahwa alokasi pola ruang untuk beberapa peruntukan, dapat
melebihi kebutuhan yang diperlukan pada skenario optimis. Arahan alokasi pola
ruang wilayah pesisir Teluk Lampung, secara ringkas disajikan pada Tabel 50
serta Gambar 85 dan Gambar 86.
Tabel 50 Arahan alokasi pola ruang wilayah pesisir Teluk Lampung yang
memenuhi skenario optimis
No. Peruntukan ruang
Rencana alokasi
(ha)
1 Permukiman 3.689
2 Prasarana wilayah (jalan, terminal, perkantoran,
prasarana kesehatan, pasar, sekolah, dan lain-lain)
4.446
3 Bisnis dan industri (pabrik, pergudangan, hotel,
restoran, dan penunjang lainnya)
6.400
4 Pertanian 51.911
- Tanaman pangan (semusim) 20.005
- Tanaman perkebunan (tahunan) 31.906
5 Budidaya pesisir (tambak) 7.750
6 Lahan pelabuhan 300
7 Lahan militer 250
8 Lahan wisata pantai 200
Jumlah kawasan budidaya darat 74.946
9 Lindung lahan atas 45.326
10 Sempadan sungai 4.541
11 Sempadan pantai dan mangrove 4.615
Jumlah kawasan lindung darat 54.482
Jumlah luas alokasi lahan 129.428
Luas lahan total
*)
129.428
12 Perairan perikanan budidaya dan pariwisata 18.880
13 Perairan perikanan tangkap 81.734
14 Perairan militer (TNI-AL) 35.417
15 Perairan pelabuhan/pelayaran 5.913
16 Alur pelayaran 11.360
17 Perairan direklamasi 1.526
Jumlah kawasan pemanfaatan umum perairan 153.304
18 Kawasan konservasi perairan 4.822
Jumlah penggunaan perairan 158.126
Luas perairan total
*)
159.652
Keterangan: *) Luas total lahan bertambah dan perairan berkurang dari tahun 2003 karena
adanya reklamasi pantai

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
208



















Gambar 85

PETA ALOKASI
RUANG KAWASAN
LINDUNG DAN
KONSERVASI

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
209
Kawasan lindung daratan meliputi luas lahan 54.482 ha, yang terdiri dari
kawasan lindung lahan atas, sempadan sungai, sempadan pantai, dan mangrove.
Terdapat sedikit perbedaan antara kebutuhan dari sistem dinamik dengan arahan
alokasi lahan, yaitu untuk porsi luas sempadan sungai serta sempadan pantai dan
mangrove. Perbedaan tersebut bersumber dari adanya lahan bentukan reklamasi
akan memperpanjang sungai sehingga sempadan sungai menjadi lebih luas,
namun secara bersamaan garis pantai menjadi lebih lurus dan pendek sehingga
sempadan pantai menjadi lebih sempit. Secara keseluruhan, jumlah luas alokasi
lahan untuk sempadan sungai serta sempadan pantai dan mangrove, menjadi tetap
sama dengan kebutuhan dari analisis sistem dinamik sampai tahun 2029.
Kawasan konservasi perairan meliputi luas perairan 4.822 ha, yang
merupakan perairan terumbu karang dan padang lamun, yang umumnya berada di
tepi pantai atau pulau-pulau kecil.
Rencana alokasi kawasan budidaya daratan meliputi luas lahan 74.946 ha,
yang secara keseluruhan dapat melebihi kebutuhan ruang budidaya daratan dari
analisis sistem dinamik sampai tahun 2029, yaitu seluas 73.845 ha (seperti telah
disajikan pada Tabel 44). Alokasi kawasan budidaya daratan meliputi peruntukan
permukiman, prasarana wilayah (jalan, terminal, perkantoran, prasarana
kesehatan, pasar, sekolah, dan lain-lain), bisnis dan industri (pabrik, pergudangan,
hotel, restoran, dan penunjang lainnya), pertanian (tanaman perkebunan dan
tanaman pangan), budidaya tambak, lahan pelabuhan, lahan militer (pangkalan
TNI-AL), dan lahan wisata pantai. Terdapat penambahan luas lahan yang berasal
dari reklamasi perairan pantai, dan diperuntukkan bagi penggunaan permukiman,
prasarana wilayah, bisnis dan industri, dan kawasan lindung setempat.
Alokasi ruang daratan dirancang untuk dapat mengembangkan ekonomi
kerakyatan, terutama melalui penyediaan ruang bagi sektor-sektor yang terkait
langsung dengan masyarakat. Walaupun sektor pertanian bukan merupakan sektor
yang berdaya saing tinggi untuk wilayah pesisir Teluk Lampung (seperti telah
dibahas dalam sub-bab 4.3.4, pada Tabel 21), namun alokasi lahan pertanian
(tanaman pangan dan perkebunan) tetap diutamakan dengan luas terbesar yaitu
51.911 ha, karena sektor ini merupakan sumber pendapatan sebagian besar
masyarakat (Tabel 15). Berdasarkan pertimbangan kemampuan dan luas lahan,

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
210
pengembangan sektor pertanian dibatasi hanya pada lahan yang sesuai dan
mampu mendukung produktivitas tinggi. Dengan demikian, walaupun terjadi
penurunan luas lahan dari kondisi saat ini, produksi sektor ini akan tetap
meningkat dan mampu menjadi salah satu penyumbang utama perekonomian di
wilayah pesisir Teluk Lampung. Lahan pertanian dialokasikan tersebar di wilayah
Kabupaten Pesawaran dan Lampung Selatan yang masih didominasi oleh kawasan
perdesaan. Untuk wilayah Kota Bandar Lampung, alokasi lahan pertanian hanya
terbatas pada sebagian Kecamatan Teluk Betung Barat dan Panjang.
Sebagai penunjang utama sektor perikanan, alokasi lahan untuk tambak
mendapatkan porsi optimal sesuai dengan kemampuan lahan, yaitu mencapai
7.750 ha. Pada perkembangan sektor perikanan di masa depan, diharapkan
perikanan budidaya (tambak dan budidaya laut) menjadi penunjang utama.
Dengan demikian, alokasi lahan tambak harus mendapatkan porsi yang seoptimal
mungkin. Sebaran alokasi lahan tambak hanya berada pada Kabupaten Pesawaran
dan Lampung Selatan yang masih didominasi oleh kawasan perdesaan, dan masih
mungkin dilakukan.
Sebagai sektor yang diharapkan menjadi penyumbang utama
perekonomian, alokasi lahan untuk sektor industri pengolahan adalah tersebar di
wilayah pesisir Teluk Lampung. Pada wilayah Kota Bandar Lampung, sektor
industri pengolahan akan diutamakan sebagai pengembangan industri saat ini,
yang berbasis pada berbagai produk wilayah Provinsi Lampung (seperti
pengolahan kopi, pakan ternak, dan pengolahan produk tapioka). Pada wilayah
Kabupaten Pesawaran dan Lampung Selatan, pengembangan industri pengolahan
lebih diutamakan pada industri yang berbasis pada produk wilayah pesisir Teluk
Lampung yaitu perikanan dan pertanian. Selain itu, untuk menunjang
pengembangan ekonomi kerakyatan, skala industri pengolahan juga harus
beragam mulai dari mikro, kecil, sedang, dan besar, dan tersebar di seluruh
wilayah kabupaten/kota. Pengembangan industri pengolahan, juga akan
berdampingan dengan bisnis lainnya, seperti pergudangan dan penunjang lainnya,
oleh karena itu alokasi lahan untuk sektor industri dirangkum menjadi bisnis dan
industri.


A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
211




















Gambar 86

PETA ARAHAN
ALOKASI RUANG

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
212
Alokasi lahan untuk permukiman adalah meliputi permukiman kawasan
perdesaan dan perkotaan. Alokasi ini dilakukan tersebar di seluruh wilayah,
namun tetap dengan porsi terbesar di wilayah Kota Bandar Lampung, karena
jumlah dan kepadatan penduduknya yang lebih tinggi. Luas lahan untuk
permukiman dialokasikan sebesar 3.689 ha, yaitu lebih tinggi daripada kebutuhan
yang disimulasi dari analisis sistem dinamik (sebesar 3.155 ha). Penyebaran
aloaksi lahan permukiman, juga ditujukan untuk lebih meratakan distribusi
penduduk di seluruh wilayah pesisir Teluk Lampung.
Lahan prasarana merupakan alokasi lahan yang selalu berdampingan
dengan permukiman serta bisnis dan industri. Luas alokasi lahan untuk prasarana
wilayah (jalan, jalur transmisi energi listrik, terminal, perkantoran, prasarana
kesehatan, pasar, sekolah, dan lain-lain), adalah sebesar 4.446 ha. Alokasi lahan
prasarana wilayah juga memiliki fungsi insentif dan disinsentif bagi pencapaian
pola ruang, dengan demikian di sekitar kawasan lindung tidak dialokasikan lahan
prasarana, kecuali hanya untuk trase jalan yang harus memotong sebagian
kawasan lindung. Sebaliknya, bersamaan dengan lahan yang dialokasikan untuk
permukiman serta bisnis dan industri, akan didampingi oleh alokasi lahan untuk
prasarana wilayah.
Seperti halnya ruang daratan, rencana alokasi kawasan pemanfaatan
umum perairan dapat melebihi kebutuhan ruang yang didapat dari analisis sistem
dinamik sampai tahun 2029. Rencana alokasi ruang kawasan pemanfaatan umum
perairan meliputi luas 153.304 ha, yang terdiri dari peruntukan perairan perikanan
budidaya dan pariwisata, perairan perikanan tangkap, perairan militer (TNI-AL),
perairan pelabuhan/pelayaran, dan alur pelayaran. Secara total luas perairan
menjadi sedikit berkurang, akibat adanya aktivitas reklamasi perairan pantai
menjadi daratan.
Alokasi perikanan tangkap dapat digunakan sebagai wilayah tangkap
(fishing ground), baik menggunakan alat tangkap statis maupun bukan, serta
penempatan alat pengumpul ikan (fish gathering device, FGD) seperti rumpon.
Luas alokasi kawasan perikanan tangkap adalah sebesar 81.734 ha. Yang perlu
mendapat perhatian adalah bahwa pola ruang perairan akan berbeda dengan
daratan, karena tidak dapat dibatasi secara kaku, dan beberapa aktivitas sangat

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
213
bersifat temporer. Perikanan tangkap yang tidak menggunakan alat tangkap statis
(seperti bagan tancap), tidak akan menggunakan perairan secara terus menerus,
begitu juga halnya dengan perairan latihan TNI-AL hanya akan digunakan pada
waktu-waktu tertentu. Oleh karena itu, rencana alokasi ruang perairan tidak dapat
bersifat rigid, melainkan akan bersifat fleksibel. Secara temporal, perairan latihan
TNI-AL (yang dialokasikan seluas 35.417 ha), masih dapat digunakan oleh
aktivitas perikanan tangkap yang tidak menggunakan alat tangkap statis. Dengan
demikian pada dasarnya perairan perikanan tangkap dapat lebih luas daripada
rencana alokasinya.
Perairan perikanan budidaya dialokasikan bersama dengan perairan untuk
pariwisata, dengan luas total 18.880 ha. Luas perairan tersebut diperkirakan masih
melebihi kebutuhan perikanan budidaya dari analisis sistem dinamik sampai tahun
2029 (yaitu hanya 11.940 ha), karena perairan pariwisata tidak akan
membutuhkan ruang yang luas. Aktivitas perikanan budidaya laut akan meliputi
budidaya rumput laut, budidaya mutiara, dan keramba jaring apung. Alokasi yang
luas bagi perikanan budidaya adalah untuk menunjang sektor perikanan, yang
diperkirakan akan semakin bertumpu pada perikanan budidaya, baik budidaya
pesisir (tambak) maupun perikanan budidaya laut. Dengan demikian sektor
perikanan diharapkan dapat meningkat dan menjadi penyumbang utama
perekonomian wilayah pesisir Teluk Lampung.
Alokasi perairan untuk kepentingan pelabuhan/pelayaran, yaitu meliputi
perairan daerah lingkungan kerja (DLKr) dan daerah lingkungan kepentingan
(DLKp) pelabuhan, serta alur masuk keluar DLKr dan DLKp, dengan luas total
5.913 ha. Luas alokasi perairan tersebut lebih tinggi daripada luas total saat ini,
yaitu hanya 4.726 ha. Alokasi perairan pelabuhan/pelayaran harus terbebas dari
aktivitas lainnya, karena diperkirakan peningkatan aktivitas angkutan laut akan
semakin tinggi dengan meningkatnya perekonomian, sebagaimana ditunjukkan
dari analisis sistem dinamik. Aktivitas perikanan tangkap, keberadaan alat tangkap
statis (seperti sero yang terdapat saat ini, ditunjukkan pada Gambar 38), dan
aktivitas lainnya, tidak boleh lagi tumpang tindih dengan perairan kepentingan
pelabuhan/pelayaran.

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
214
Untuk meningkatkan kelancaran dan keamanan aktivitas angkutan laut,
dialokasikan ruang untuk alur pelayaran. Alur pelayaran yang melintasi Teluk
Lampung, tidak lagi merupakan garis, tetapi menjadi ruang memanjang (strip)
dengan lebar 1 km, mulai dari mulut Teluk di bagian selatan sampai pada alur
keluar masuk DLKr dan DLKp pelabuhan. Ruang ini merupakan kawasan terbatas
bagi semua kegiatan lain, kecuali untuk pergerakan sesaat seperti lalu lintas
armada kapal nelayan. Luas alokasi ruang alur pelayaran secara keseluruhan
mencapai 11.360 ha.
7.2.4 Ar ahan str uktur r uang
Berdasarkan analisis LQ, terlihat bahwa masing-masing sub-wilayah
(kecamatan) memiliki lebih dari satu sektor ekonomi basis. Lebih lanjut analisis
LI dan SI memperlihatkan bahwa tidak terdapat suatu kecamatan di wilayah
pesisir Teluk Lampung yang secara tegas hanya terspesialisasi pada satu sektor
ekonomi tertentu; ataupun suatu sektor tertentu terlokalisasi di kecamatan tertentu.
Ketiga hasil analisis tersebut mengindikasikan bahwa pengembangan sektor-
sektor ekonomi di wilayah pesisir Teluk Lampung, dapat dilakukan secara relatif
sama di semua wilayah kecamatan, dengan memperhatikan potensi dan kondisi
yang telah berkembang.
Sementara itu, hasil analisis skalogram menunjukkan bahwa kecamatan
pesisir di Kota Bandar Lampung dan Kabupaten Lampung Selatan, secara relatif
memiliki fasilitas pelayanan yang lebih lengkap daripada Kabupaten Pesawaran.
Oleh karena itu, berdasarkan kondisi aktual dari skalogram, hierarki pusat
pelayanan tinggi (ordo I dan II) hanya akan berada di Kota Bandar Lampung dan
Kabupaten Lampung Selatan.
Kondisi aktual tersebut harus dirubah sedemikian rupa sehingga dapat
memenuhi kebutuhan pemangku kepentingan yang tersebar di seluruh wilayah
pesisir Teluk Lampung. Untuk menuju pada pemenuhan kebutuhan peningkatan
ekonomi kerakyatan terutama melalui sektor-sektor perikanan, pertanian, dan
industri pengolahan, perencanaan penyediaan dan struktur ruang harus dilakukan
secara proporsional. Di sisi lain, hasil analisis LQ, LI, dan SI, menunjukkan bahwa
pengembangan sektor-sektor ekonomi dapat dilakukan di semua kecamatan secara

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
215
proporsional. Dengan alasan tersebut, hierarki pusat pelayanan disusun mengikuti
hasil skalogram (disajikan pada Tabel 49) dengan sedikit modifikasi, yaitu
merubah peringkat Kecamatan Padang Cermin dari III menjadi II, dan berfungsi
sebagai salah satu pusat pelayanan di wilayah pesisir Kabupaten Pesawaran.
Dengan demikian hierarki pusat pelayanan di wilayah pesisir Teluk Lampung
akan menjadi lebih proporsional antara bagian barat dan timur, dan dapat disusun
seperti disajikan pada Tabel 51.
Tabel 51 Arahan hierarki pusat pelayanan di wilayah pesisir Teluk Lampung
No Kecamatan Ordo Pusat Pelayanan
1 Teluk Betung Selatan I
2 Panjang II
3 Kalianda II
4 Bakauheni II
5 Padang Cermin II
6 Sidomulyo III
7 Teluk Betung Barat III
8 Rajabasa III
9 Katibung III
10 Punduh Pidada III
Perubahan peringkat Kecamatan Padang Cermin untuk mewakili bagian
barat wilayah pesisir Teluk Lampung (pesisir Kabupaten Pesawaran), berimplikasi
pada perlunya percepatan pembangunan prasarana dan fasilitas pelayanan di
wilayah tersebut. Prasarana utama yang diperlukan adalah penambahan jaringan
jalan yang lebih menjangkau pusat-pusat aktivitas ekonomi, untuk memperlancar
pengangkutan dan distribusi dari input dan produk yang dihasilkan. Selain
prasarana jalan, angkutan laut lokal juga perlu dikembangkan agar terdapat
hubungan langsung antara bagian barat dan timur wilayah pesisir. Untuk produk
wilayah barat yang berorientasi ke Jakarta atau Pulau Jawa, angkutan laut lokal
dapat berperan dalam memperpendek waktu tempuh dari Padang Cermin dan
Punduh Pidada langsung ke Kalianda atau Rajabasa dan kemudian ke Bakauheni
sebagai lintas penyeberangan Jawa-Sumatera. Fasilitas lain yang perlu dipercepat
peningkatannya adalah kebutuhan dasar masyarakat yaitu pendidikan dan
kesehatan. Dengan demikian, masyarakat di bagian barat wilayah pesisir tidak
perlu ke Teluk Betung Selatan (Kota Bandar Lampung) untuk mendapatkan
pelayanan dasar kesehatan dan pendidikan.

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
216
Penyusunan hierarki fungsional pusat pelayanan di wilayah pesisir Teluk
Lampung, adalah sebagai berikut:
1) Pusat pelayanan ordo I (Kecamatan Teluk Betung Selatan), yaitu pusat
yang melayani wilayah pesisir Teluk Lampung dan/atau wilayah
sekitarnya.
2) Pusat pelayanan ordo II (Kecamatan Panjang, Kalianda, Bakauheni, dan
Padang Cermin), yaitu pusat yang melayani satu atau lebih kecamatan
lainnya. Pusat tersebut dikembangkan dengan intensitas yang lebih tinggi
untuk memacu pertumbuhan perekonomian di wilayah sekitarnya.
3) Pusat pelayanan ordo III (Kecamatan Sidomulyo, Teluk Betung Barat,
Rajabasa, Katibung, dan Punduh Pidada), yaitu pusat kecamatan yang
melayani wilayah kecamatan itu sendiri. Pusat pelayanan ini
dikembangkan untuk menciptakan satuan ruang wilayah yang lebih
efisien.
Hubungan fungsional antar pusat pelayanan hanya akan berlangsung
dengan ditunjang oleh jaringan transportasi sebagai wahana pergerakan orang dan
barang antar pusat pelayanan. Moda transportasi di wilayah pesisir Teluk
Lampung utamanya adalah angkutan jalan serta angkutan laut dan penyeberangan.
Rencana sebaran spasial pusat pelayanan dan orientasi transportasi wilayah pesisir
Teluk Lampung, disajikan pada Gambar 87.
Rencana struktur ruang ditujukan untuk meningkatkan dan aktivitas
transportasi dan membentuk pola ruang seperti yang telah direncanakan. Orientasi
pergerakan barang dan orang akan mengikuti prasarana transportasi dan menuju
pusat-pusat pelayanan. Orientasi angkutan jalan serta angkutan laut dan
penyeberangan di wilayah pesisir Teluk Lampung, secara spasial direncanakan
seperti Gambar 87.
Pada tingkat lokal/regional, angkutan jalan melayani pergerakan barang
dan orang yang berasal dari satu kecamatan menuju kecamatan lain, atau dari dan
menuju pusat pelayanan sebagai berikut:
Kecamatan Punduh Pidada berorientasi ke Kecamatan Padang Cermin di
Kabupaten Pesawaran, selanjutnya ke Bandar Lampung (Kecamatan Teluk
Betung Barat dan Selatan), dan sebaliknya.

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
217


















Gambar 87

PETA ARAHAN
STRUKTUR RUANG
DAN ORIENTASI
TRANSPORTASI

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
218
Kecamatan Ketibung dan Sidomulyo di Kabupaten Lampung Selatan
berorientasi ke Bandar Lampung (terutama Panjang), dan sebaliknya.
Kecamatan Rajabasa dan Bakauheni di Kabupaten Lampung Selatan,
berorientasi ke Kalianda, dan sebaliknya.
Kecamatan Kalianda dan Bakauheni di Kabupaten Lampung Selatan
berorientasi ke Bandar Lampung (terutama Panjang), dan sebaliknya.
Orientasi angkutan jalan lokal/regional tidak harus selalu bersimpul di
wilayah Kota Bandar Lampung (terutama Kecamatan Teluk Betung
Selatan dan Panjang), melainkan dapat lebih tersebar di beberapa pusat
pelayanan lainnya.
Orientasi angkutan jalan pada tingkat nasional harus memperkuat peran
ganda wilayah pesisir Teluk Lampung dalam sistem angkutan jalan nasional.
Peran ganda wilayah pesisir Teluk Lampung dalam sistem angkutan jalan nasional
adalah sebagai daerah asal-tujuan, dan perlintasan angkutan jalan antara Pulau
Jawa dan Sumatera. Rencana orientasi angkutan jalan pada tingkat nasional adalah
sebagai berikut:
Penumpang dan barang dari Provinsi Lampung (termasuk wilayah pesisir
Teluk Lampung) dan provinsi lain di Pulau Sumatera, melalui Bandar
Lampung dan Lampung Selatan kemudian menerus pada lintas
penyeberangan Merak-Bakauheni, dan sebaliknya.
Penumpang dan barang dari daerah sekitar Kalianda di Kabupaten
Lampung Selatan, kemudian menerus pada lintas penyeberangan Merak-
Bakauheni, dan sebaliknya.
Simpul-simpul angkutan jalan di wilayah pesisir Teluk Lampung
(Kecamatan Teluk Betung Selatan, Panjang, Kalianda, dan Bakauheni)
dapat berperan sebagai simpul angkutan jalan nasional.
Orientasi angkutan laut dan penyeberangan pada tingkat lokal/regional,
adalah untuk meningkatkan pelayanan kepentingan transportasi barang dan
penumpang yang berasal dari satu kecamatan menuju kecamatan lain, atau dari
dan menuju pusat pelayanan di wilayah pesisir Teluk Lampung. Rencana
pengembangan orientasi angkutan laut dan penyeberangan lokal/regional adalah
sebagai berikut:

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
219
Kecamatan Padang Cermin dan Punduh Pidada (dengan Pulau Kecil
terutama Legundi, Puhawang, dan Kelagian) di Kabupaten Pesawaran dan
Kecamatan Ketibung di Kabupaten Lampung Selatan, berorientasi ke
Bandar Lampung (Kecamatan Teluk Betung Barat dan Selatan), dan
sebaliknya.
Pulau kecil Sebuku dan Sebesi di Kabupaten Lampung Selatan
berorientasi ke Kecamatan Kalianda dan Rajabasa, dan sebaliknya.
Mengembangkan orientasi angkutan laut dan penyeberangan yang
menghubungkan Pulau Legundi di Kabupaten Pesawaran dengan Pulau
kecil Sebuku dan Sebesi di Kabupaten Lampung Selatan, sehingga
terdapat hubungan yang lebih pendek antara bagian barat dan timur
wilayah pesisir Teluk Lampung. Orientasi ini dapat meningkatkan efisiensi
transportasi barang yang sesuai dengan angkutan laut dan penyeberangan,
seperti produk perikanan yang ditujukan ke Jakarta atau Pulau Jawa.
Pada tingkat nasional/internasional, hanya ditekankan pada orientasi
angkutan laut untuk pelayanan transportasi barang. Orientasi angkutan ini
bersimpul di Kecamatan Panjang, yang mengangkut produk dari Provinsi
Lampung (termasuk wilayah pesisir Teluk Lampung) dan provinsi lain di
Sumatera Bagian Selatan, serta sebaliknya memasok kebutuhan ke wilayah
tersebut. Orientasi transportasi laut nasional/internasional adalah sebagai berikut:
Angkutan barang antar pulau dari dan ke luar Lampung yang melalui Laut
Jawa dan Selat Malaka, akan melewati alur pelayaran di Pulau Sebuku
(bagian timur mulut teluk); dan yang melalui Samudera Hindia, akan
melewati alur pelayaran di Pulau Legundi (bagian barat mulut teluk).
Angkutan barang internasional dari dan ke luar Lampung yang melalui
Singapura dan Laut Jawa, akan melewati alur pelayaran di Pulau Sebuku
(bagian timur mulut teluk); dan yang melalui Samudera Hindia, akan
melewati alur pelayaran di Pulau Legundi (bagian barat mulut teluk).
7.3 Str ategi Implementasi Kebijakan Tata Ruang
Strategi implementasi kebijakan tata ruang wilayah pesisir Teluk Lampung
dirumuskan dengan memperhatikan berbagai aspek, yang meliputi peran wilayah

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
220
dalam konteks wilayah kabupaten/kota, provinsi, nasional, serta pembiayaan
pembangunan. Dalam bahasan mengenai rencana tata ruang wilayah (RTRW)
yang terkait Teluk Lampung (dibahas dalam sub-bab 4.5), telah ditunjukkan
bahwa wilayah ini memiliki nilai strategis dalam perspektif ekonomi, geografis,
ekologis, dan pertahanan keamanan. Oleh karena itu, terdapat cukup alasan untuk
menjadikan wilayah pesisir Teluk Lampung sebagai kawasan strategis provinsi.
Dengan demikian, penyelenggaraan penataan ruang dan pengelolaan wilayah
pesisir Teluk Lampung, dapat lebih diprioritaskan.
Di samping pertimbangan yang lebih luas, strategi implementasi kebijakan
tata ruang harus memperhatikan pemenuhan kebutuhan pemangku kepentingan
sebagaimana secara konsensus telah dirumuskan sebagai implikasi strategis dan
aksi antisipatif (disajikan pada sub-bab 5.5). Untuk pemenuhan kebutuhan para
pemangku kepentingan, implementasi kebijakan tata ruang wilayah pesisir Teluk
Lampung harus dapat mengakomodasi aspek-aspek: (1) Pemenuhan kebutuhan
ruang untuk prasarana dan sarana kesehatan dan pendidikan masyarakat pesisir;
(2) Pemenuhan kebutuhan ruang untuk pengembangan sentra-sentra usaha mikro,
kecil, dan menengah (UMKM) yang terkait dengan kelautan dan perikanan; (3)
Pemenuhan kebutuhan ruang untuk permukiman di wilayah pesisir yang
dilengkapi dengan prasarana dan sarana sanitasi lingkungan; (4) Penyusunan
struktur dan pola ruang yang sinergis antar kabupaten/kota di wilayah pesisir; (5)
Penyusunan struktur dan pola ruang yang mampu mendorong pengembangan
wirausaha UMKM untuk masyarakat pesisir; dan (6) Penyusunan struktur ruang
yang dapat mendorong distribusi penduduk yang proporsional di wilayah pesisir,
dan sekaligus menjamin pengelolaan kawasan lindung dan budidaya secara
berimbang.
Dengan memperhatikan berbagai pertimbangan dan kebutuhan di atas,
dapat dirumuskan strategi implementasi kebijakan tata ruang wilayah pesisir
Teluk Lampung, sebagai berikut:
1) Menetapkan wilayah pesisir Teluk Lampung sebagai kawasan strategis
provinsi, dalam peraturan daerah mengenai RTRW Provinsi Lampung, dan
menyusun perencanaan tata ruang pada tingkat yang lebih detil; serta
diikuti dengan penyusunan dan implementasi Rencana Strategis, Rencana

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
221
Zonasi, Rencana Pengelolaan, dan Rencana Aksi bagi Wilayah Pesisir
Teluk Lampung;
2) Menetapkan peruntukan ruang bagi kawasan lindung darat dan konservasi
perairan dalam bentuk peraturan daerah pada tingkat provinsi yang sinkron
dengan peraturan daerah pada tingkat kabupaten/kota;
3) Mempercepat pengembangan prasarana di wilayah pesisir Teluk Lampung
untuk dapat mendukung pengembangan pusat-pusat pelayanan dan sektor-
sektor ekonomi kerakyatan (terutama perikanan, pertanian, dan industri
pengolahan skala mikro, kecil dan menengah);
4) Memenuhi fasilitas pelayanan dasar bidang pendidikan dan kesehatan pada
pusat-pusat pelayanan di wilayah pesisir Teluk Lampung;
5) Mendorong pengembangan sentra-sentra usaha mikro, kecil, dan
menengah (UMKM) yang terkait dengan kelautan dan perikanan, melalui
optimalisasi pemanfaatan ruang kawasan budidaya dan jaringan prasarana
wilayah;
6) Mempercepat pengembangan jaringan prasarana wilayah terutama
transportasi sebagai bentuk insentif pengembangan wilayah, sehingga
dapat memacu pengembangan ekonomi dan distribusi penduduk;
7) Tidak mengembangkan jaringan prasarana wilayah di dalam dan sekitar
kawasan yang diperuntukkan berfungsi lindung, sebagai bentuk disinsentif
pengembangan wilayah;
8) Melaksanakan secara bertahap konversi kawasan budidaya yang tidak
sesuai secara fungsional menjadi kawasan lindung.










A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
222








A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
8 KESIMPULAN DAN SARAN
8.1 Kesimpulan
Dari hasil penelitian dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
1) Pendekatan sistem dapat memberikan skenario perencanaan wilayah
pesisir yang komprehensif, yaitu memadukan ruang daratan dan
perairan dengan semua komponen sistem dan interaksinya dapat
dianalisis secara simultan serta dilakukan intervensi;
2) Pelibatan pemangku kepentingan melalui analisis prospektif
partisipatif, merupakan kunci yang mempermudah perumusan
kebijakan tata ruang yang akomodatif terhadap berbagai kepentingan
dalam satu wilayah yang sama;
3) Komponen utama sistem berupa populasi, aktivitas ekonomi, dan
ketersediaan ruang di wilayah pesisir Teluk Lampung menunjukkan
keterkaitan dan saling mempengaruhi, untuk menjaga hubungan antar
komponen secara berkelanjutan, sampai akhir analisis (pada tahun
2029) harus dicapai dan dipertahankan suatu proporsi kawasan lindung
daratan seluas 54.482 ha (42,09%) dan konservasi perairan 4.822 ha
(3,02%);
4) Perencanaan tata ruang wilayah pesisir Teluk Lampung mensyaratkan
dilakukannya konversi sebagian kawasan budidaya (50,67%) menjadi
kawasan lindung, serta pengembangan pusat-pusat pelayanan dan
jaringan prasarana wilayah;
5) Arahan alokasi ruang dan hierarki pusat pelayanan dapat dirumuskan
sesuai simulasi model berdasarkan kondisi dan kemampuan wilayah
pesisir Teluk Lampung, skenario ini dapat mengakomodasi berbagai
kebutuhan para pemangku kepentingan dalam menuju pengembangan
wilayah yang berkelanjutan.




A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
224
8.2 Sar an
Dari hasil penelitian, dapat disarankan:
1) Sebagai tindak lanjut dari hasil penelitian ini, yang meliputi
keseluruhan wilayah pesisir Teluk Lampung, agar dilakukan
perencanaan wilayah yang lebih detil, pengaturan zonasi, dan segera
melaksanakan penyelenggaraan penataan ruang wilayah pesisir Teluk
Lampung secara utuh.
2) Untuk pelaksanaan penelitian pada tingkat wilayah yang lebih detil
agar dilakukan dengan pemodelan probabilistik, dengan demikian
aspek ketidak pastian dapat lebih diakomodasi.






A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
DAFTAR PUSTAKA
Abraham, R.H. 2002. The genesis of complexity. Di dalam: A. Montuori, editor.
Advances in Systems Theory, Complexity, and the Human Sciences. New
York: Hampton Press. 1-17.
Adrianto, L. 2010. Karakteristik sosial-ekonomi-ekologi, perencanaan, dan
pengelolaan pesisir dan laut [Working paper]. Bogor: PKSPL-IPB.
Aurambout, J.P., A.G. Endress, B.M. Deal. 2005. A spatial model to estimate
habitat fragmentation and its consequences on long-term persistence of animal
populations. Environ. Monitor. Ass. 109 (1-3): 199-225.
[Bakosurtanal] Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional. 1988. Land
systems and land suitability Sumatra, Sheet 1110 Tanjungkarang Series of
Regional Physical Planning Programme for Transmigration (RePPProT).
Scale 1:250.000. Bogor.
[Bakosurtanal] Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional. 2000. Peta
Lingkungan Pantai Indonesia Skala 1:250.000, Lembar LPI 1110 Merak.
Bogor.
[Bakosurtanal] Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional. 2003. Peta Rupa
Bumi Indonesia Skala 1:250.000, Lembar 1110 Bandar Lampung. Bogor.
Blaschke, T. 2001. GIS-based rationalization of indicators and eco-balances for a
sustainable regional planning. Paper presented at the conference: Human
dimensions research in Austria and in Central European Countries. May 18-
19. Austria: University of Graz.
[Bapedalda] Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah Provinsi Lampung
dan [TELPP] Tanjung Enim Lestari Pulp and Paper, PT. 1999. Studi
Addendum Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) Pembangunan
dan Pengoperasian Dermaga untuk Kepentingan Sendiri (DUKS) di Desa
Srengsem Kecamatan Panjang Kota Bandar Lampung. Bandar Lampung
[BPMD] Badan Penanaman Modal Daerah Provinsi Lampung. 2008. Rekapitulasi
perkembangan proyek penanaman modal dalam negeri (PMDN) dan
penanaman modal asing (PMA) di kabupaten/kota se-Provinsi Lampung
sampai dengan Desember 2007. Bandar Lampung.
[Bappeda] Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Provinsi Lampung. 2007.
Tabel input-output regional Provinsi Lampung. Bandar Lampung.
[Bappeda] Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Provinsi Lampung. 2009.
Rencana tata ruang wilayah Provinsi Lampung 2009-2029. Bandar Lampung.
[Bappeda] Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Lampung
Selatan. 2000. Revisi rencana tata ruang wilayah (RTRW) Kabupaten
Lampung Selatan 1999-2004. Kalianda.
[Bappeda] Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Bandar Lampung.
2001. Masterplan drainase Kota Bandar Lampung. Bandar Lampung.

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
226
[Bappeda] Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Bandar Lampung.
2003. Evaluasi dan penyusunan rencana tata ruang wilayah (RTRW) Kota
Bandar Lampung 2005-2015. Bandar Lampung.
[Bappeda] Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Bandar Lampung.
2009. Perencanaan jangka menengah program penanggulangan kemiskinan
(PJM Pronangkis) Kecamatan Telukbetung Barat, Telukbetung Selatan, dan
Panjang 2011-2013. Bandar Lampung.
[Bappeda] Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Pesawaran.
2008. Rencana tata ruang wilayah (RTRW) Kabupaten Pesawaran 2008-2028.
Gedong Tataan.
[BPS] Badan Pusat Statistik Kabupaten Lampung Selatan. 2008a. Lampung
Selatan dalam angka. Kalianda.
[BPS] Badan Pusat Statistik Kabupaten Lampung Selatan. 2008b. Produk
domestik regional bruto (PDRB) Kabupaten Lampung Selatan. Kalianda.
[BPS] Badan Pusat Statistik Kabupaten Pesawaran. 2008a. Pesawaran dalam
angka. Gedong Tataan.
[BPS] Badan Pusat Statistik Kabupaten Pesawaran. 2008b. Produk domestik
regional bruto (PDRB) Kabupaten Pesawaran. Gedong Tataan.
[BPS] Badan Pusat Statistik Kota Bandar Lampung. 2008a. Bandar Lampung
dalam angka. Bandar Lampung.
[BPS] Badan Pusat Statistik Kota Bandar Lampung. 2008b. Produk domestik
regional bruto (PDRB) Kota Bandar Lampung. Bandar Lampung.
[BPS] Badan Pusat Statistik Provinsi Lampung. 2001a. Karakteristik penduduk
Kabupaten Lampung Selatan, Hasil sensus penduduk tahun 2000. Bandar
Lampung.
[BPS] Badan Pusat Statistik Provinsi Lampung. 2001b. Karakteristik penduduk
Kota Bandar Lampung, Hasil sensus penduduk tahun 2000. Bandar Lampung.
[BPS] Badan Pusat Statistik Provinsi Lampung. 2008a. Lampung dalam angka.
Bandar Lampung.
[BPS] Badan Pusat Statistik Provinsi Lampung. 2008b. Produk domestik regional
bruto (PDRB) Provinsi Lampung. Bandar Lampung.
[BPS] Badan Pusat Statistik Pusat. 2000. Kerangka teori dan analisis tabel input-
output. Jakarta.
[BPS] Badan Pusat Statistik Pusat. 2008. Pendataan potensi desa/kelurahan:
Kabupaten Lampung Selatan, Kabupaten Pesawaran, dan Kota Bandar
Lampung. Jakarta.
Brown, K., E. Tompkins, W.N. Adger. 2001. Trade-off Analysis for Participatory
Coastal Zone Decision-making. Norwich, NR4 7TJ, UK: Overseas
Development Group, in collaboration with the Centre for Social and Economic
Research on the Global Environment, Univ. of East Anglia.

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
227
Bourgeois, R., F. Jesus. 2004. Participatory prospective analysis: Exploring and
anticipating challenges with stakeholders. The United Nation: CAPSA
Monograph No. 46.
Chadwick, G. 1971. A Sytems View of Planning: Toward a Theory of the Urban
and Regional Planning Process. New York: Pergamon Press.
Chadwick, G. 1987. Models of Urban and Regional Systems in Developing
Countries: Some Theories and their Application in Physical Planning. New
York: Pergamon Press.
Chrisman, N. 1997. Exploring Geographic Information Systems. New York: John
Wiley&Sons, Inc.
Chua Thia-Eng. 2006. The Dynamics of Integrated Coastal Management:
Practical Applications in the Sustainable Coastal Development in East Asia.
Quezone City: Global Environment Facility/UNDP/PEMSEA.
Coates, J., P. Durance, M. Godet. 2010. Strategic Foresight issue: Introduction.
Technol. Forecas. Soc. Change 77: 1423-1425.
Cornwall, A., R. Jewkes. 1995. What is participatory research? Soc. Sci. Med. 41
(12): 1667-1676.
[CRMP] Coastal Resources Management Project. 1998a. Status mangrove dan
terumbu karang di Lampung. Jakarta: Proyek Pesisir Publication, Technical
report TE-99/11-I. Coastal Resources Center, University of Rhode Island.
[CRMP] Coastal Resources Management Project. 1998b. Kondisi oseanografi
perairan Pesisir Lampung. Jakarta: Proyek Pesisir Publication, Technical
report TE-99/12-I. Coastal Resources Center, University of Rhode Island.
Dahuri, R., J. Rais, S.P. Ginting, M.J. Sitepu. 2001. Pengelolaan Sumberdaya
Wilayah Pesisir dan Lautan Secara Terpadu. Jakarta: PT. Pradnya Paramita.
Damar, A. 2003. Effects of enrichment on nutrient dynamics, phytoplankton
dynamics and productivity in Indonesian tropical waters: A comparison
between Jakarta Bay, Lampung Bay and Semangka Bay [Disertasi]. Büsum:
Forschungs-und Technologiezentrum Westküste der Universität Kiel.
Deal, B., D. Schunk. 2004. Spatial dynamic modeling and urban land use
transformation: a simulation approach to assessing the costs of urban sprawl.
Ecol. Econ. 51: 79-95.
Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah. 2002. Keputusan Menteri
Permukiman dan Prasarana Wilayah No. 327/KPTS/M Tahun 2002 tentang
Penetapan 6 (Enam) Pedoman Bidang Penataan Ruang. Jakarta.
Departemen Pekerjaan Umum. 2007. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum
No.41/PRT/M/2007 tentang Pedoman dan Kriteria Teknis Kawasan Budidaya.
Jakarta.
Departemen Pekerjaan Umum. 2009. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No:
15/PRT/M/2009 tentang Pedoman Penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah
Provinsi. Jakarta.

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
228
Departemen Pekerjaan Umum. 2009. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No:
16/PRT/M/2009 tentang Pedoman Penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah
Kabupaten. Jakarta.
Departemen Pekerjaan Umum. 2009. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No:
17/PRT/M/2009 tentang Pedoman Penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah
Kota. Jakarta.
Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Bandar Lampung. 2007. Rencana zonasi
penataan kawasan pesisir Kota Bandar Lampung. Bandar Lampung.
Dinas Tata Kota Bandar Lampung. 2001. Penyusunan tata ruang kawasan pantai
Teluk Betung Bandar Lampung. Bandar Lampung.
Dinas Tenaga Kerja Provinsi Lampung. 2005. Buku perencanaan tenaga kerja
daerah (PTKD) Provinsi Lampung 2005-2010. Bandar Lampung.
[Dishidros] Dinas Hidrooseanografi TNI-AL. 1994. Laporan survei dan penelitian
hidro-oseanografi Teluk Ratai. Jakarta.
[Dishidros] Dinas Hidrooseanografi TNI-AL. 1998. Peta Sumatera-Pantai Selatan,
Teluk Kalumbayan Hingga Pulau-Pulau Tiga Skala 1 : 75.000; dengan Inset
Pelabuhan Panjang, Skala 1: 25.000, dan Pelabuhan Batubara Tarahan , Skala
1 : 20.000. Jakarta.
[Dishidros] Dinas Hidrooseanografi TNI-AL. 2003. Daftar pasang surut
Kepulauan Indonesia.. Jakarta, 524 hal.
Djakapermana, R.D. 2006. Desain kebijakan dan strategi dalam pemanfaatan
ruang wilayah Pulau Kalimantan [Disertasi]. Bogor: Sekolah Pascasarjana,
Institut Pertanian Bogor.
[DKP] Departemen Kelautan dan Perikanan. 2002. Keputusan Menteri Kelautan
dan Perikanan Nomor: Kep. 34/MEN/2002 tentang Pedoman Umum Penataan
Ruang Pesisir dan Pulau-pulau Kecil.
Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Lampung. 2007. Pemetaan terumbu
karang di Teluk Lampung. Bandar Lampung.
Direktorat Bina Tata Perkotaan dan Perdesaan, Dirjen Cipta Karya, Departemen
Pekerjaan Umum. 1997. Konsep Tata Ruang Kawasan Pantai. Jakarta.
Durance, P., M. Godet. 2010. Scenario building: Uses and abuses. Technol.
Forecas. Soc. Change 77: 1488-1492.
Elshorbagy, A., A. Jutla, L. Barbour, J. Kells. 2005. System dynamics approach to
assess the sustainability of reclamation of disturbed watersheds. Can. J. Civ.
Eng. 32: 144-158.
Eriyatno. 1999. Ilmu Sistem: Meningkatkan Mutu dan Efektivitas Manajemen.
Bogor: IPB Press.
[ESRI] Environmental Systems Research Institute, Inc. 1995. Understanding GIS.
California: ESRI..

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
229
Faure, V., C. Pinazo, J. P. Torréton, P. Douillet. 2010. Modelling the spatial and
temporal variability of the SW lagoon of New Caledonia II: Realistic 3D
simulations compared with in situ data. Mar. Poll. Bull. 61: 480-502.
Fedra, K. 2004. Coastal zone resource management: tools for a participatory
planning and decision making process. Littoral 2004, 20-22 September.
Aberdeen, Scotland, UK: 1-6.
Fedra, K., E. Feoli. 1998. GIS technology and spatial analysis in coastal zone
management. EEZ Technology, Ed. 3: 171-179.
Forrester, J.W. 1968. Principles of Systems. Massachusetts: Wright-Allen.
Forrester, J.W. 1998. Designing the future. Paper presented at Universidad de
Sevilla, December 15. Sevilla, Spain: Univ. de Sevilla.
Forrester, J.W. 2003. Economic theory for the new millennium. Plenary Address
at the Int. Sys. Dyn. Con, July 21. New York: Sys. Dyn. Soc.
François, C. 1999. Systemics and cybernetics in a historical perspective, Research
paper. Syst. Res. 16: 203-219.
Fujita, M. 2010. The evolution of spatial economics: From Thünen to the new
economic geography. Japan Econ. Rev. 61 (1): 1-32.
Gangai, I.P.D., S. Ramachandran. 2010. The role of spatial planning in coastal
management-A case study of Tuticorin coast (India). Land Use Pol. 27: 518-
534.
Gee, K., A. Kannen, B. Glaeser, H. Sterr. 2004. National ICZM strategies in
Germany: A spatial planning approach. Di dalam G. Schernewski, N. Löser,
editor. Managing the Baltic Sea. Coastline Reports 2: 23-33.
Gilliland, P.M., S. Rogers, J.P. Hamer, Z. Crutchfield. 2004. The practical
implementation of marine spatial planning-understanding and addressing
cumulative effects. Report of a Workshop held 4 December 2003, Stansted.
English Nature Research Reports, No. 599. Peterborough: English Nature.
Godet, M. 2010. Future memories. Technol. Forecas. Soc. Change 77: 1457-1463.
Godet, M., F. Roubelat. 1996. Creating the future: the use and misuse of
scenarios. Long Range Plann. 29 (2): 164-171.
Grant, W.E., E.K. Pedersen, S.L. Marin. 1997. Ecology and Natural Resource
Management: System Analysis and Simulation. New York: John Wiley&Sons.
Gray, T., J. Hatchard. 2008. A complicated relationship: stakeholder participation
and the ecosystem-based approach to fisheries management. Mar. Pol. 32:
158-168.
Grimble, R. 1998. Stakeholder methodologies in natural resource management.
Socioeconomic methodologies. Best practice guidelines. Chatham, UK:
Natural Resources Institute.



A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
230
Haaf, W., H. Bikker, D.J. Adriaanse. 2002. Chapter 3 Introduction to system
approach. Di dalam Fundamentals of Business Engineering and Management:
A Systems Approach to People and Organizations. Delft: Delft University
Press: 49-81.
Håkanson, L., C.M. Duarte. 2008. Data variability and uncertainty limits the
capacity to identify and predict critical changes in coastal systems-a review of
key concepts. Ocean&Coastal Mgmt. 51: 671-688.
Haie, N., E. Cabecinha. 2003. A stochastic-dynamic modelling of mountain river
watersheds of NE Portugal. Int. J. Riv. Bas. Mgmt. 1 (3): 1-9.
Hall, P. 1996. Urban and Regional Planning 3
rd
ed. New York: Routledge.
Hardjowigeno, S., Widiatmaka. 2007. Evaluasi Kesesuaian Lahan dan
Perencanaan Tataguna Lahan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Helfinalis. 2000. Pendugaan karakteristik arus pasang surut dan pola sebaran
sedimentasi di perairan Teluk Lampung. J. Pesisir Pantai Ind. IV: 31-39.
Hoover, E.M., F. Giarratani. 1999. An Introduction to Regional Economics
3
rd
ed. West Virginia: Regional Research Institute, WVU.
[HPS] High Performance Systems, Inc. 1990. Stella-II. Hanover.
[HPS] High Performance Systems, Inc. 1994. Introduction to Systems Thinking
and I-Think. Hanover.
Human, B.A., A. Davies. 2010. Stakeholder consultation during the planning
phase of scientific programs. Mar. Pol. 34: 645-654.
Kay, R., J. Alder. 1999. Coastal Planning and Management. London: E&FN
Spon.
Kementerian Negara Lingkungan Hidup. 2003. Keputusan Menteri Negara
Lingkungan Hidup Nomor 115 Tahun 2003 tentang Pedoman Penentuan
Status Mutu Air. Jakarta.
Kementerian Negara Lingkungan Hidup. 2004. Keputusan Menteri Negara
Lingkungan Hidup Nomor 51 Tahun 2004 tentang Baku Mutu Air Laut.
Jakarta.
Liangju Y., Xiyong H., Meng G., Ping S. 2010. Assessment of coastal zone
sustainable development: A case study of Yantai, China. Ecol. Indic. 10:
1218-1225.
Marimin. 2004. Teknik dan Aplikasi Pengambilan Keputusan Kriteria Majemuk.
Jakarta: PT. Gramedia Widiasarana Indonesia.
Martin, K.St., M. Hall-Arber. 2008. The missing layer: Geo-technologies,
communities, and implications for marine spatial planning. Mar. Pol. 32: 779-
786.
Mäntysalo, R. 2000. Land-use planning as inter-organizational learning
[Disertasi]. Oulu, Finland: Department of Architecture, University of Oulu.
McLoughlin, J.B. 1970. Urban and Regional Planning a System Approach.
London: Faber and Faber.

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
231
Meadows, D.H., D.L. Meadows, J. Randers, W.W. Behrens III. 1972. Batas-batas
Pertumbuhan. M. Maris, penerjemah. Jakarta: PT. Gramedia; 1980.
Terjemahan dari: The Limits to Growth: A report for the Club of Rome’s
Project of the predicament of mankind..
Mindell, D.A. 2002. Bodies, ideas, and dynamics: Historical perspectives on
systems thinking in engineering. Di dalam: Working Paper Series, ESD
Symposium, May 2002. Massachusetts: MIT. Eng. Sys. Div.
Nichols, S., D. Monahan. 1999. Fuzzy boundaries in a sea of uncertainty:
Canada’s offshore boundaries. Di dalam: The coastal cadastre-onland,
offshore-Proceedings of the New Zealand Institute of Surveyors Annual
Meeting, Oct 9-15. Bay of Islands, NZ: 33-43.
Nybaken, J.W. 1982. Biologi Laut: Suatu Pendekatan Ekologis. H.M. Eidman,
Koesoebiono, D.G. Bengen, M. Hutomo, S. Sukarjo, penerjemah. Jakarta: PT.
Gramedia Pustaka Utama; 1986. Terjemahan dari: Marine Biology: An
Ecological Approach.
O’Connor, J., I. McDermott. 1997. The Art of Systems Thinking. San Fransisco:
Thorsons.
Oppenheim, N. 1980. Applied Models in Urban and Regional Analysis.
Englewood Cliff, New Jersey: Prentice Hall.
Pelindo II Cabang Panjang, PT. 2001. Rencana Strategis Pelabuhan Panjang.
Bandar Lampung.
Pemerintah Provinsi Lampung. 2001. Rencana strategis pengelolaan wilayah
pesisir Lampung. Bandar Lampung: Kerjasama Pemerintah Provinsi Lampung
dengan Proyek Pesisir Lampung dan PKSPL-IPB.
Pemerintah Provinsi Lampung. 2006a. Peraturan Gubernur Lampung Nomor: 08
Tahun 2006 tentang Tataran Transportasi Wilayah Provinsi Lampung. Bandar
Lampung.
Pemerintah Provinsi Lampung. 2006b. Peraturan Gubernur Lampung Nomor: 30
Tahun 2006 tentang Penataan Daerah Penangkapan Ikan Dalam Perairan
Wajib Pandu dan Alur Pelayaran Pelabuhan Umum Panjang. Bandar
Lampung.
Pemerintah Provinsi Lampung. 2009. Peta Administrasi Provinsi Lampung Skala
1:250.000. Bandar Lampung.
Pemerintah Republik Indonesia. 2000. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia
Nomor 10 tahun 2000 tentang Tingkat Ketelitian Peta untuk Penataan Ruang
Wilayah. Jakarta.
Pemerintah Republik Indonesia. 1992. Undang-undang Republik Indonesia
Nomor 4 tahun 1992 tentang Perumahan dan Permukiman. Jakarta.
Pemerintah Republik Indonesia. 2007. Undang-undang Republik Indonesia
Nomor 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang. Jakarta.

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
232
Pemerintah Republik Indonesia. 2007. Undang-undang Republik Indonesia
Nomor 27 tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau
Kecil. Jakarta.
Prahasta, E. 2001. Konsep-konsep Dasar Sistem Informasi Geografis. Bandung:
Informatika.
Qudrat-Ullah, H. 2005. Structural validation of system dynamics and agent based
simulation models. Di dalam: Y. Merkuryev, R. Zobel, E. Kerckhoffs, editor.
Proceedings 19th European Conference on Modelling and Simulation:
Ramos, A.J.A. 2004. Coastal and marine resource information system (CMARIS):
A spatial approach towards sustainable ecoregional management. Quezon
City: World Wide Fund for Nature (WWF)-Philippines.
Rohmatulloh. 2008. Pengembangan Penilaian Kinerja Pabrik Gula dengan
Pendekatan Sistem Dinamik (Studi Kasus PT. PG Rajawali II Unit PG Subang
Jawa Barat) [Tesis]. Bogor: Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor.
Rustiadi, E., S. Saefulhakim, D.R. Panuju. 2009. Perencanaan dan
Pengembangan Wilayah. Jakarta: Crespent Press dan Yayasan Obor
Indonesia.
Sargent, R.G. 1998. Verification and validation of simulation models. Di dalam:
D.J. Medeiros, E.F. Watson, J.S. Carson, M.S. Manivannan, editor.
Proceedings of the 1998 Winter Simulation Conference: 121-130.
Schumann, S. 2010. Application of participatory principles to investigation of the
natural world: An example from Chile. Mar. Pol. 34: 1196-1202.
Skartveit, H.L., K Goodnow, M. Viste. 2003. Visualized system dynamics models
as information and planning tools. Proceedings of the Informing Science+IT
Education Conference June 24-27. Pori, Finland: 1113-1128.
Smil, V. 2005. Limits to growth revisited: A review essay. Population and
development review 31(1):157-164.
Sterman, J.D. 2002. All models are wrong: reflections on becoming a systems
scientist. Syst. Dyn. Rev. 18 (4): 501-531.
Shui-sen C., Liang-fu C., Qin-huo. 2005. Remote sensing and GIS-based
integrated analysis of coastal changes and their environmental impacts in
Lingding Bay, Pearl River Estuary, South China. Ocean&Coastal Mgmt. 48:
65-83.
Sushil. 1993. System Dynamics. A Practical Approach for Managerial Problems.
New Delhi: Wiley Eastern Limited.
Sutherland, A. 1998. Participatory research in natural resources. Socio-economic
methodologies. Best practice guidelines. Chatham, UK: Natural Resources
Institute.
Taussik, J. 2004. Changes to the planning system that impact on the management
of coastal risk: A Research Paper for the Local Government Association’s
Special Interest Group on Coastal Issues. Research Paper 1: Changes to the
planning system. UK: LGA CSIG.

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
233
Tobler, W.R. 1970. A computer movie simulating urban growth in the Detroit
region”, Econ. Geograph. 46 (2): 234-240. Clark Univ. in collaborating with
JSTOR http://www.jstor.org [Diakses tanggal 2 Oktober 2009].
Tyldesley, D. 2004. Coastal and marine spatial planning: framework for the Irish
Sea pilot project. UK: Defra.
Villa, F., L. Tunesi, T. Agardy. 2002. Zoning marine protected areas through
spatial multiple-criteria analysis: the case of the Asinara Island national
marine reserve of Italy. Conser. Biol. 16 (2): 515-526.
Walz, A., C. Lardelli, H. Behrendt, A. Grêt-Regamey, C. Lundströma, S. Kytzia,
P. Bebi. 2007. Participatory scenario analysis for integrated regional
modelling. Lands. Urb. Plann. 81: 114-131.
White, R., G. Engelen. 2000. High-resolution integrated modelling of the spatial
dynamics of urban and regional systems. Comp. Environ. Urb. Syst. 24: 383-
400.
Wiber, M., F. Berkes, A. Charles, J. Kearney. 2004. Participatory research
supporting community-based fishery management. Mar. Pol. 28: 459-468.
Wiek, A., A. Walter. 2009. A transdisciplinary approach for formalized integrated
planning and decision-making in complex systems. EJOR. 197: 360-370.
Winz, I. 2005. Assessing sustainable urban development using system dynamics:
The case of New Zealand’s urban water systems. Di dalam: Proceedings the
23rd International Conference July 17-21. Boston: Sys. Dyn. Soc.
Wiryawan, B., B. Marsden, H.A. Susanto, A.K. Mahi, M. Ahmad, H. Poespitasari,
editor. 1999. Atlas Sumberdaya Wilayah Pesisir Lampung. Bandar Lampung:
Kerjasama Pemerintah Daerah Provinsi Lampung dengan Proyek Pesisir
Lampung.
Witasari, Y., L.F. Wenno. 2000. Pola sebaran pumis di sedimen dasar Teluk
Lampung, kaitan dengan arah dan kecepatan arus pasang surut. J. Pesisir
Pantai Ind. V: 65-75.
Yufeng H., ShuSong W. 2005. System dynamics model for the sustainable
development of Science City. Di dalam: Proceedings the 23rd International
Conference July 17-21. Boston: Sys. Dyn. Soc.
Yusuf, H. 2005. Pengaruh pembangunan pelabuhan perikanan terhadap kualitas
air dan persepsi kondisi sosial ekonomi masyarakat: Studi kasus pelabuhan
perikanan di Bandar Lampung, Lampung Timur, dan Lampung Selatan,
Propinsi Lampung [Disertasi]. Bogor: Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian
Bogor.
Zacharias, J., Y. Tang. 2010. Restructuring and repositioning Shenzhen, China’s
new mega city. Prog. Plann. 73: 209-249.




A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
234




A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
235
Lampir an 1 Per bedaan sistem per encanaan spasial
Tabel Lampiran 1 Matriks karakteristik sistem perencanaan spasial yang umum dilakukan dan yang diajukan
No.
Karakteristik
Perencanaan
Pedoman Perencanaan Departemen
Pekerjaan Umum
1)

Pedoman Perencanaan Departemen
Kelautan dan Perikanan
2)

Sistem Perencanaan yang Diajukan
Dalam Penelitian
1. Aspek analisis Kebijakan tata ruang Kebijakan tata ruang Kebijakan tata ruang
Analisis wilayah Analisis wilayah Analisis wilayah
Ekonomi dan sektor unggulan; Ekonomi dan sektor unggulan,
dengan penekanan pada sektor
perikanan;
Ekonomi dan sektor unggulan,
tidak dilakukan penekanan pada
sektor tertentu;
Sumberdaya manusia; Sumberdaya manusia; Sumberdaya manusia;
Sumberdaya buatan; Sumberdaya buatan, terdapat
penekanan untuk prasarana
perikanan seperti pelabuhan
perikanan;
Sumberdaya buatan, diperjelas
prasarana yang berhubungan
dengan penggunaan perairan
seperti pelabuhan, dan pelabuhan
perikanan;
Sumberdaya alam Sumberdaya alam, dengan
penekanan pada sumberdaya
pesisir (perairan);
Sumberdaya alam, memberikan
keseimbangan perhatian antara
sumberdaya pesisir (perairan)
dan daratan;
Sistem permukiman; Sistem permukiman; Sistem permukiman;
Penggunaan lahan; Penggunaan lahan; Penggunaan lahan;
Kelembagaan. Kelembagaan. Kelembagaan.
Pemanfaatan umum perairan Pemanfaatan umum perairan
2. Substansi rencana Arahan struktur dan pola
pemanfaatan ruang;
Arahan struktur dan pola
pemanfaatan ruang, diperjelas
untuk ruang perairan;
Arahan struktur dan pola
pemanfaatan ruang, diperjelas
untuk ruang perairan;

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
236
No.
Karakteristik
Perencanaan
Pedoman Perencanaan Departemen
Pekerjaan Umum
1)

Pedoman Perencanaan Departemen
Kelautan dan Perikanan
2)

Sistem Perencanaan yang Diajukan
Dalam Penelitian
Arahan pengelolaan kawasan
lindung dan kawasan budidaya;
Arahan pengelolaan kawasan
konservasi dan kawasan
pemanfaatan umum, diperjelas
untuk ruang perairan;
Arahan pengelolaan kawasan
lindung/konservasi dan kawasan
budidaya/pemanfaatan umum,
diperjelas untuk ruang perairan;
Arahan pengelolaan kawasan
perdesaan, kawasan perkotaan,
dan kawasan tertentu
Arahan pengelolaan kawasan
perdesaan dan permukiman
nelayan, kawasan perkotaan, dan
kawasan tertentu;
Arahan pengelolaan kawasan
perdesaan dan permukiman
masyarakat pesisir, kawasan
perkotaan, dan kawasan tertentu;
Arahan pengembangan kawasan
permukiman, kehutanan,
pertanian, pertambangan,
perindustrian, pariwisata dan
kawasan lainnya;
Arahan pengembangan kawasan
permukiman (dengan penjelasan
untuk permukiman nelayan),
kehutanan, pertanian,
pertambangan, perindustrian,
pariwisata dan kawasan lainnya;
Arahan pengembangan kawasan
permukiman (dengan penjelasan
untuk permukiman masyarakat
pesisir), kehutanan, pertanian,
pertambangan, perindustrian,
pariwisata dan kawasan lainnya;
Arahan pengembangan sistem
pusat permukiman perdesaan dan
perkotaan;
Arahan pengembangan sistem
pusat permukiman perdesaan dan
perkotaan;
Arahan pengembangan sistem
pusat permukiman perdesaan dan
perkotaan;
Arahan pengembangan sistem
prasarana wilayah yang meliputi
prasarana transportasi,
telekomunikasi, energi,
pengairan dan prasarana
pengelolaan lingkungan

Arahan pengembangan sistem
prasarana wilayah yang meliputi
prasarana perikanan seperti
pelabuhan perikanan,
transportasi, telekomunikasi,
energi, pengairan tambak, dan
prasarana pengelolaan
lingkungan;

Arahan pengembangan sistem
prasarana wilayah yang meliputi
prasarana kelautan dan perikanan
maupun daratan, transportasi,
telekomunikasi, energi,
pengairan tambak, dan prasarana
pengelolaan lingkungan;

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
237
No.
Karakteristik
Perencanaan
Pedoman Perencanaan Departemen
Pekerjaan Umum
1)

Pedoman Perencanaan Departemen
Kelautan dan Perikanan
2)

Sistem Perencanaan yang Diajukan
Dalam Penelitian
Arahan pengembangan kawasan
yang diprioritaskan;
Arahan pengembangan kawasan
yang diprioritaskan, dengan
penekanan pada ruang perairan;
Arahan pengembangan kawasan
yang diprioritaskan, dengan
keseimbangan pada ruang
daratan dan perairan. Dengan
penjelasan bahwa perairan akan
menerima pengaruh yang lebih
besar dari daratan, dibandingkan
dengan sebaliknya, oleh karena
itu keseimbangan harus berbasis
pada daya tampung perairan
yaitu kemampuan perairan me-
nerima pengaruh dari daratan.
Arahan kebijaksanaan tata guna
tanah, air, udara, dan sumber
daya alam lainnya.

Arahan kebijaksanaan tata guna
tanah, air, udara, dan sumber
daya alam lainnya; dengan
penekanan pada sumberdaya
pesisir yang meliputi mangrove,
terumbu karang, lamun, dan
perikanan.
Arahan kebijaksanaan tata guna
tanah, air, udara, dan sumber
daya alam lainnya; termasuk
pada sumberdaya dan jasa
lingkungan pesisir.
3. Kerangka analisis Analisis dilakukan secara parsial
dengan melakukan proyeksi pada
masing-masing aspek analisis
secara terpisah.
Analisis dilakukan secara parsial
dengan melakukan proyeksi pada
masing-masing aspek analisis
secara terpisah.
Analisis dilakukan secara
holistik, dimana proyeksi pada
masing-masing aspek analisis
dilakukan secara simultan
dengan menggunakan analisis
sistem.


A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
238
No.
Karakteristik
Perencanaan
Pedoman Perencanaan Departemen
Pekerjaan Umum
1)

Pedoman Perencanaan Departemen
Kelautan dan Perikanan
2)

Sistem Perencanaan yang Diajukan
Dalam Penelitian
Simulasi dilakukan secara parsial
pada masing-masing aspek
analisis.
Simulasi dilakukan secara parsial
pada masing-masing aspek
analisis.
Dapat dilakukan analisis simulasi
secara komprehensif dengan
melibatkan semua aspek analisis.
Perumusan kebijakan tidak dapat
dilakukan secara komprehensif
dengan melibatkan seluruh aspek
(terutama analisis terkait
sumberdaya kelautan).
Perumusan kebijakan tidak dapat
dilakukan secara komprehensif
dengan melibatkan seluruh aspek
analisis.
Dapat dilakukan intervensi
terhadap sistem yang dibangun,
dan menunjukkan pengaruhnya
terhadap sistem secara utuh,
yang berguna untuk perumusan
kebijakan komprehensif.
4. Corak sektoral Lebih menekankan sektor-sektor
yang berbasis pada ruang
daratan, dengan penekanan pada
prasarana ke-pekerjaan-umum-an
Lebih menekankan sektor-sektor
yang berbasis pada pada ruang
perairan, dengan penekanan pada
prasarana kelautan dan
perikanan.
Bebas terhadap kecenderungan
sektoral, dan menekankan pada
objektivitas rencana.
5. Sifat partisipatif Dilakukan secara prosedural
melalui workshop, seminar,
diseminasi, dan sosialisasi,
terutama terhadap perencanaan
yang telah disusun.
Dilakukan secara prosedural
melalui workshop, seminar,
diseminasi, dan sosialisasi,
terutama terhadap perencanaan
yang telah disusun.
Dilakukan oleh para pemangku
kepentingan secara langsung dan
bersama-sama melalui analisis
kebutuhan.
Penyusunan rencana merupakan
hasil kerja para pemangku
kepentingan.
Keterangan: 1) Keputusan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah No. 327 tahun 2002 tentang Penetapan 6 (Enam) Pedoman Bidang Penataan Ruang; yang telah
diperbaharui dengan Per. Men. Pekerjaan Umum No. 15, 16, dan 17 tahun 2009 tentang Pedoman Penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi,
Kabupaten, dan Kota.
2) Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan No. 34 tahun 2002 tentang Pedoman Umum Penataan Ruang Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil.

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
239
Lampir an 2 Sistem lahan wilayah penelitian
Tabel Lampiran 2 Sistem lahan di wilayah pesisir Teluk Lampung
Luas
No. Simbol Nama Deskripsi Singkat
Kemiringan
(%)
Relief
(m)
Litologi
Kelompok
Tanah
ha %
1 AHK Air Hitam
Kanan
Punggung sangat curam
di atas sedimen tufaan
41-60 51-300 Tefra berbutir halus, batu
lanau, batu lumpur, batu
pasir
Dystropepts,
Haplorthox,
Tropudults
2.209 1,73
2 BBG Bukit
Balang
Punggung pegunungan
tak beraturan di atas
batuan volkanik basaltik
41-60 >300 Andesit, basalt, breksia Dystropepts,
Humitropepts,
Tropohumults
36.510 28,55
3 BBR Bukit
Barangin
Perbukitan sangat
curam di atas batuan
beku asam
41-60 51-300 Riolit, granit Dystropepts,
Tropudults,
Haplorthox
2.029 1,59
4 BGA Batang
Anai
Punggung panjang
berlereng sangat curam
di atas batuan
metamorfik
41-60 51-300 Kuarzit, filit, sekis, shale,
batu pasir
Dystropepts,
Eutropepts,
Tropudults
2.557 2,00
5 BLI Beliti Dataran banjir rawa
pada pelembahan
sempit
<2 <2 Aluvium sungai muda,
bergambut
Tropaquepts,
Fluvaquents
382 0,30
6 BMS Bukit
Masung
Punggung sangat curam
di atas batuan volkanik
basa/intyermedier
41-60 51-300 Andesit, basalt, breksia Dystropepts,
Tropudults,
Troporthents
7.245 5,66
7 BTA Batu Ajan Kerucut kecil volkanik
basaltik muda
41-60 51-300 Andesit, basalt Tropudults,
Humitropepts,
Troporthents
1.661 1,30
8 BTK Barong
Tongkok
Dataran lava basa
berbukit kecil
16-25 201-2.000 Basal, andesit, breksi, tefra
berbutir halus
Dystropepts,
Eutropepts,
Tropudalfs
987 0,77



A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
240
Luas
No. Simbol Nama Deskripsi Singkat
Kemiringan
(%)
Relief
(m)
Litologi
Kelompok
Tanah
ha %
9 KHY Kahayan Dataran pasir paduan
sungai dan muara
<2 2-10 Aluvium muda berasal dari
campuran endapan muara,
endapan laut dan endapan
sungai, bergambut
Tropaquepts,
Fluvaquents
746 0,58
10 KJP Kajapah Dataran lumpur pasang
surut habitat mangrove
<2 <2 Aluvium muda berasal dan
campuran endapan muara
dan endapan laut
Hydraquents,
Sulfaquents
5.710 4,46
11 KNJ Kuranji Kipas aluvial volkanik
yang sangat landai
0-8 <2 Endapan kipas aluvium
muda berasal dari volkanik
Dystropepts,
Dystrandepts,
Tropaquepts
4.399 3,44
12 LBS Lubuk
Sikaping
Kipas aluvial non-
volkanik yang sangat
landai
0-8 <2 Endapan kipas aluvium Tropaquepts,
Tropofluvents,
Fluvaquents
527 0,41
13 MBI Muara
Beliti
Dataran sedimen tufaan
yang berombak sampai
bergelombang
9-15 11-50 Tefra berbutir halus, tufa,
batu lumpur, batu lanau,
batu pasir, aluvium sungai
muda, pasir tua, dan kerikil
Tropudults,
Dystropepts,
Haplorthox
10.892 8,52
14 PKS Pakasi Dataran tufa volkanik
bergelombang
9-15 11-50 Tefra berbutir halus, tefra
berbutir kasar
Dystropepts,
Dystrandepts,
Haplorthox
299 0,23
15 PLB Pidoli-
dombang
Dataran metamorfik
berombak sampai
bergelombang
2-8 2-10 Filit, kuarzit, sekis, shale,
aluvium sungai muda
NA 755 0,59
16 SAR Sungai Aur Dataran sedimen tufa
yang berbukit kecil
16-25 11-50 Tufa, batu pasir, batu
lumpur, serpih, tefra berbutir
halus
Dystropepts,
Haplorthox,
Paleudults
12.593 9,85
17 SKA Sukaraja Dataran batuan beku
asam berombak sampai
bergelombang
9-15 11-50 Granit, riolit Tropudults,
Paleudults
51 0,04



A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
241
Luas
No. Simbol Nama Deskripsi Singkat
Kemiringan
(%)
Relief
(m)
Litologi
Kelompok
Tanah
ha %
18 SMD Sungai
Medang
Dataran volkanik basa
berombak sampai
bergelombang
9-15 11-50 Andesit, basal, tefra berbutir
halus
Tropudalfs,
Tropudults
7.709 6,03
19 TGM Tanggamus Gunung berapi strato
muda dari batuan
volkanik ber-basalt
41-60 >300 Andesit, basalt, tefra
berbutir halus, tefra berbutir
kasar, aluvium volkanik
muda
Dystrandepts,
Humitropepts,
Hydrandepts
25.019 19,56
20 TLU Talamau Lereng lahar yang agak
curam dan tertoreh
16-25 2-50 Aluvium muda berasal dan
vulkanik
Dystrandepts,
Tropudults,
Eutropepts
2.467 1,93
21 TWI Telawi Punggung gunung
granit terorientasi
sangat curam
>60 >300 Granit, granodiorit, riolit Tropudults,
Dystropepts,
Troporthents
2.699 2,11
22 UBD Ulubandar Punggung dengan
drainase paralel di atas
tufa volkanik asam
26-40 51-300 Tefra berbutir halus, tefra
berbutir kasar, breksia
Dystropepts,
Dystrandepts,
Troporthents
456 0,36
Jumlah 127.902 100,00
Keterangan: NA = tidak tersedia data
Sumber: Peta land systems and land suitability Sumatra, Sheet 1110 Tanjungkarang Series RePPProt (1988)




A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
242






A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
243
Lampir an 3 Nilai awal dan par ameter
Tabel Lampiran 3 Nilai awal dan parameter model
No. Peubah Deskripsi
Nilai Awal/
Parameter
Satuan Pendugaan
1 AKTIVITAS_ EKONOMI Aktivitas perekonomian, yang digambarkan dari nilai besarnya PDRB harga
konstan di wilayah penelitian, yang ditentukan oleh produksi 9 sektor, didalam
model dikelompokkan ulang menjadi 5 sektor ditambah 1 sektor lain.
2.628.969 Rp juta S
2 Angkatan_Kerja Jumlah angkatan kerja kumulatif. Persamaan orang PS
3 Angkutan_Laut Sumbangan sektor transportasi laut terhadap PDRB harga konstan (ADHK) 123.704 Rp juta S
4 Dampak_ Penganggur Parameter yang menunjukkan daya tarik tenaga kerja, bernilai 0 sampai 1;
Dampak penganggur akan bernilai mendekati 0 bila tingkat penggangguran <
10% (hanya satu digit), dan bernilai 1 bila tingkat penggangguran >10% (ke
arah dua digit). Oleh karena itu, bila dampak penganggur bernilai 0
menunjukkan kondisi yang sangat menarik bagi tenaga kerja, sehingga dapat
menarik imigrasi dan menahan emigrasi, dan sebaliknya untuk nilai 1 akan
mencegah imigrasi dan mendorong emigrasi.
graph - E
5 Degradasi_SD_ Pesisir Degradasi sumberdaya pesisir akibat terjadinya konversi kawasan lindung,
dinyatakan dalam skala mendekati nilai 0 berarti tidak terjadi degradasi dan
mendekati nilai 1 berarti terjadi degradasi maksimum.
graph - E
6 Emigrasi Jumlah emigrasi yang keluar wilayah studi setiap tahun. Persamaan orang/tahun PS
7 Fraksi_Angkt_ Kerja Rasio antara penduduk yang berusia >15 tahun dan bukan ibu rumah tangga,
lanjut usia, atau sedang bersekolah terhadap populasi (tanpa satuan),
berdasarkan data sensus tahun 2000 dan PODES 2007.
0,4886 - PS
8 Fraksi_Lahir Tingkat kelahiran yang terjadi. 0,0130 - PS
9 Fraksi_Mati Tingkat kematian yang terjadi. 0,0024 - PS
10 Fraksi_Pert_ Angkt_Laut Pertumbuhan sektor transportasi laut, tanpa satuan, diambil dari rata-rata
pertumbuhan 2003-2007.
0,0621 - PS
11 Fraksi_Pert_ Industri Pertumbuhan sektor industri, tanpa satuan, diambil dari rata-rata pertumbuhan
2003-2007.
0,0728 - PS



A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
244
No. Peubah Deskripsi
Nilai Awal/
Parameter
Satuan Pendugaan
12 Fraksi_Pert_ Perikanan Pertumbuhan awal sektor perikanan, diambil dari rata-rata pertumbuhan 2003-
2007, sebesar 10,296%, fraksi pertumbuhan merupakan fraksi yang didapat dari
pengaruh grafik antara rasio perairan lindung dengan fraksi pertumbuhan awal.
graph - E
13 Fraksi_Pert_ Pertanian Pertumbuhan sektor pertanian (setelah dikeluarkan sub-sektor perikanan), tanpa
satuan, diambil dari rata-rata pertumbuhan 2003-2007.
0,0284 - PS
14 Fraksi_pert_invest Fraksi pertumbuhan investasi diambil rata-rata dari angka pertumbuhan yang
tidak teratur antara tahun 2000-2007.
0,1143 - PS
15 Fraksi_Pert_Lain Pertumbuhan sektor selain dari angkutan laut, perikanan, pertanian, industri,
dan pariwisata, tanpa satuan, diambil dari rata-rata pertumbuhan 2003-2007.
0,0603 - PS
16 Fraksi_Pert_Wisata Pertumbuhan sektor Pariwisata (dipecah dari hotel dan restoran dan jasa
hiburan, dll), tanpa satuan, diambil dari rata-rata pertumbuhan 2003-2007.
0,0379 - PS
17 Gap_penggunaan_ ruang Merupakan jumlah rasio antara kawasan lindung daratan dengan kawasan
budidaya daratan terpakai ditambah dengan rasio kawasan lindung perairan
dengan kawasan budidaya perairan terpakai. Nilai rasio akan menjadi 0 bila
tidak ada penetapan kawasan lindung daratan dan perairan, dan semakin
membesar dengan adanya penetapan kawasan lindung daratan dan perairan.
Parameter ini merupakan indikasi kesenjangan penggunaan ruang ideal dengan
penggunaan ruang aktual darat dan perairan, dinyatakan dengan grafik nilai 0
sampai 1. Skala mendekati nilai 0 berarti tidak terjadi gap yang berarti dan
mendekati nilai 1 berarti terdapat gap yang sangat besar antara penggunaan
ruang dan ketersediaan ruang, tanpa satuan.
Nilai maksimal jumlah gap daratan dan perairan adalah 0,7730.
graph - E
18 Ikan_awal Rerata pertumbuhan sektor perikanan 2003 - 2007 dari PDRB 0,1020 - PS
19 Imigrasi Jumlah imigrasi yang masuk ke wilayah studi setiap tahun. Persamaan orang/tahun PS
20 Industri Sumbangan sektor industri pengolahan terhadap PDRB ADHK 371.899 Rp juta S
21 Investasi Merupakan investasi langsung (direct investment) asing dan domestik yang
dilakukan di wilayah penelitian, didasarkan pada data BKPMD di Kota Bandar
Lampung dan Lampung Selatan (masih tergabung dengan Kabupaten
Pesawaran)
188.395 Rp juta S
22 Kaw_Lindung_ Perairan Merupakan luas total kawasan lindung perairan yang ditetapkan sesuai dengan
tutupan terumbu karang dan lamun dengan luas total 4.823 ha.
0 ha E

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
245
No. Peubah Deskripsi
Nilai Awal/
Parameter
Satuan Pendugaan
23 Kawasan_ Lindung_Darat Merupakan luas total kawasan lindung yang ditetapkan sesuai dengan kriteria
yang termasuk lahan kelas 8, 7, 6, dan 5, yang meliputi lahan atas, sempadan
sungai, dan sempadan pantai, total luas ideal adalah sebesar 42,60% dari luas
daratan.
0 ha E
24 Keb_Bisnis_dan_ Industri Laju pertambahan kebutuhan ruang untuk bisnis dan industri yang disebabkan
oleh meningkatnya investasi, didapatkan dari ruang per investasi dikali dengan
total investasi.
Persamaan ha/tahun E

25 Keb_Lahan_Militer Laju pertambahan kebutuhan lahan militer disebabkan oleh meningkatnya
kebutuhan pembangunan pangkalan TNI-AL Armada Barat dan Korps Marinir.
Persamaan ha/tahun E
26 Keb_Naker_ Investasi Kebutuhan tenaga kerja akibat adanya investasi. Persamaan orang E
27 Keb_Pelabuhan Laju pertambahan luas pelabuhan, diasumsikan perluasan sebesar 5 ha per
tahun.
Persamaan ha/tahun E
28 Keb_Pemukiman Laju pertambahan kebutuhan ruang untuk pemukiman yang disebabkan oleh
meningkatnya populasi, didapatkan dari ruang mukim per kapita dikali dengan
pertambahan populasi.
Persamaan ha/tahun E
29 Keb_Prasarana Laju pertambahan kebutuhan ruang untuk prasarana yang disebabkan oleh
meningkatnya populasi dan aktivitas perekonomian, terutama untuk bisnis dan
industri.
Persamaan ha/tahun E
30 Kebangkrutan Laju kebangkrutan yang terjadi dari investasi yang telah dilakukan, didapatkan
dari perkalian antara investasi dengan tingkat kebangkrutan.
Persamaan Rp
juta/tahun
PS
31 KEBIJAKAN Merupakan faktor pengali yang mewakili kebijakan penetapan kawasan lindung
dan budidaya darat dan perairan .
0 - 1 - E
32 Kecepatan_ Reklamasi Reklamasi (penimbunan pantai) pantai telah terjadi dan cenderung terus terjadi
di Teluk Lampung, terutama di Kota Bandar Lampung. Pada tahun 2007 telah
direncanakan akan direklamasi laut di Bandar Lampung dan sebagian
Pesawaran (Padang Cermin) seluas 1.447 ha selama 20 tahun.; dan diasumsikan
di wilayah Pesawaran dan Lampung Selatan sebesar 15% dari jumlah tersebut.
83 ha/tahun PS
33 Kelahiran Jumlah kelahiran yang terjadi setiap tahun Persamaan orang/tahun PS
34 Kematian Jumlah kematian yang terjadi setiap tahun. Persamaan orang/tahun PS


A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
246
No. Peubah Deskripsi
Nilai Awal/
Parameter
Satuan Pendugaan
35 Kendala_Ruang Menunjukkan kendala pengembangan wilayah akibat tidak tersedianya ruang
dan terjadinya degradasi sumberdaya, ditunjukkan oleh nilai yang mendekati 0
berarti tidak terdapat kendala, dan mendekati 1 berarti kendala sangat besar
dengan konsekuensi tidak mungkin lagi dilakukan pengembangan kawasan
budidaya.
graph - E
36 Konversi_kws_
lindung_perairan
Penambahan luas perairan yang digunakan untuk kegiatan budidaya laut, yang
meliputi keramba jaring apung (KJA), budidaya rumput laut, dan budidaya
mutiara; akan cenderung mengambil tempat di atau sekitar areal terumbu karang
dan padang lamun, hal ini akan memicu konversi perairan lindung menjadi
budidaya. Diasumsikan sebagian dari penambahan luas kawasan budidaya laut
akan mengkonversi kawasan lindung perairan.
Persamaan ha/tahun E
37 Konversi_Lahan_ Atas Laju konversi lahan atas, disebabkan oleh pembukaan lahan pertanian dan
kebutuhan permukiman; diasumsikan 15% lahan pertanian bersumber dari lahan
atas, dan 10% kebutuhan permukiman berasal dari lahan atas.
Persamaan ha/tahun E
38 Konversi_Semp_ Pantai Pembangunan tambak (lahan BD pesisir) akan merubah 20% bagian sempadan
pantai; reklamasi juga akan merubah 10% sempadan pantai; selain itu,
kebutuhan permukiman pada desa-desa sekitar pantai juga akan merubah
sempadan pantai yang diasumsikan sebesar 5%; oleh karena itu ketiga aktivitas
akan mengkonversi sempadan pantai.
Persamaan ha/tahun E
39 Konversi_Semp_ Sungai Laju konversi sempadan sungai, diasumsikan berlangsung sebesar 0,1 x
kebutuhan permukiman.
Persamaan ha/tahun E
40 Lahan_ Permukiman
Lahan yang digunakan untuk pemukiman penduduk.
1.531 ha PS
41 Lahan_BD_ Pesisir Lahan yang digunakan untuk tambak. 2.477 ha PS
42 Lahan_BD_Ideal Merupakan luas lahan yang mungkin untuk dimanfaatkan bagi kawasan
budidaya.
Persamaan ha E
43 Lahan_BD_Terpakai Merupakan lahan yang digunakan sebagai kawasan budidaya baik pertanian
maupun non-pertanian, yang meliputi Lahan_BD_Pesisir,
Lahan_Bisnis_dan_Industri, Lahan_Militer, Lahan_Pelabuhan,
Lahan_Permukiman, Lahan_Pertanian, Lahan_Prasarana, dan
Lahan_Wisata_Pantai.
Persamaan ha E


A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
247
No. Peubah Deskripsi
Nilai Awal/
Parameter
Satuan Pendugaan
44 Lahan_Bisnis_ dan_Industri Lahan yang digunakan untuk bisnis dan industri, termasuk pertokoan, industri
manufaktur (pabrik), dan sebagainya, didapat dari berdasarkan analisis citra.
880 ha PS
45 Lahan_Militer Lahan yang digunakan untuk pangkalan TNI-AL di Teluk Ratai, diperkirakan
dari analisis citra.
115 ha PS
46 Lahan_Pelabuhan Luas lahan areal pelabuhan, dari analisis citra diperkirakan luas lahan seluruh
pelabuhan di Teluk Lampung.
210 ha PS
47 Lahan_Permukiman_dan_Pe
rkotaan
Merupakan jumlah dari Lahan_Bisnis_dan_Industri+ Lahan_Pelabuhan+
Lahan_ Permukiman+Lahan_Prasarana.
Persamaan ha PS
48 Lahan_Pertanian Ruang yang digunakan untuk pertanian (pangan, perkebunan, sawah, dan
peternakan).
105.223 ha PS
49 Lahan_Prasarana Lahan untuk prasarana, termasuk fasos dan fasum, meliputi antara lain jalan,
pendidikan, kesehatan, dan sebagainya.
890 ha PS
50 Lahan_Rawa_ Pantai Merupakan luas lahan rawa pantai dan lahan landai di sekitar pantai yang dapat
dijadikan sebagai tambak berdasarkan pertimbangan fisik semata. Luasnya
diperkirakan 4 x luas lahan kelas 5.
11.920 ha PS
51 Lahan_Tersedia Lahan yang dapat digunakan untuk pengembangan kawasan budidaya baik
pertanian maupun non-pertanian, yang meliputi Lahan_BD_Pesisir,
Lahan_Bisnis_dan_Industri, Lahan_Militer, Lahan_Pelabuhan,
Lahan_Permukiman, Lahan_Pertanian, Lahan_Prasarana, dan
Lahan_Wisata_Pantai.
0 ha PS
52 LAHAN_TOTAL Total luas daratan yang ada, sama dengan luas darat wilayah daratan penelitian. 127.902 ha PS
53 Lahan_Wisata_ Pantai Lahan yang digunakan untuk areal wisata pantai dan bahari di Teluk Lampung,
didapatkan dari analisis citra; yang terluas adalah Merak Belantung (krakatau),
Pasir Putih, Pulau Pasir, dan Tanjung Selaki.
60 ha PS
54 Laju_kebutuhan_ lahan Merupakan perubahan lahan tersedia (baik positif maupun negatif) akibat
digunakan sebagai kawasan budidaya baik pertanian maupun non-pertanian,
yang meliputi Lahan_BD_Pesisir, Lahan_Bisnis_dan_Industri, Lahan_Militer,
Lahan_Pelabuhan, Lahan_Permukiman, Lahan_Pertanian, Lahan_Prasarana,
dan Lahan_Wisata_Pantai, kawasan lindung darat.
Persamaan ha/tahun E



A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
248
No. Peubah Deskripsi
Nilai Awal/
Parameter
Satuan Pendugaan
55 Laju_penambahan_perairan
_pel
Laju penambahan perairan pelabuhan (DLKr, DLKp, dan alur pelayaran masuk
keluar pelabuhan) diasumsikan sebesar 100 ha pertahun mulai tahun 2008 dan
berhenti pada tahun 2027.
100 ha/tahun E
56 Laju_perb_ pertanian Laju perubahan lahan pertanian yang digunakan untuk keperluan non-pertanian
setiap tahun.
Persamaan ha/tahun E
57 Laju_perb_BD_ Pesisir Laju perubahan luas lahan budidaya pesisir (tambak), didapAtkan dari perkalian
fraksi perluasan tambak dari analisis citra 2001-2009, sebesar 51,36%;
pertambahan luas harus berhenti setelah luas total tambak menyamai 0,6 x lahan
rawa dan landai pantai.
Persamaan ha/tahun PS
58 Laju_perb_lhn_ wisata Laju pertambahan kebutuhan lahan wisata disebabkan oleh meningkatnya
kebutuhan pembangunan pariwisata pantai dan bahari di Teluk Lampung.
Persamaan ha/tahun E
59 Laju_Prb_Lhn_ Lain Parameter penentu laju perubahan penggunaan lahan lain, menjadi budidaya
(pertanian maupun non-pertanian).
100 ha/tahun PS
60 Landuse__tak_sesuai Penggunaan lahan yang tidak sesuai dengan kemampuannya, yaitu lahan kelas
5, 6, 7, dan 8, yang digunakan untuk aktivitas budidaya.
Persamaan ha
61 Lap_Kerja_dari_
Perekonomian
Jumlah tenaga kerja yang dapat diserap akibat adanya aktivitas perekonomian
(yang dicerminkan dari besarnya PDRB) pada tahun yang bersangkutan.
Persamaan orang/Rp
juta
PS
62 Lapangan_Kerja Jumlah lapangan kerja yang dapat disediakan bagi angkatan kerja pada tahun
bersangkutan.
Persamaan orang PS
63 Lapangan_Kerja_ Awal Lapangan kerja yang telah tersedia sejak tahun 2003. 248.607 orang S
64 Lindung_Lahan_ Atas Merupakan luas total kawasan lindung atas (lahan kelas 8,7 dan 6 yang
berlereng >40%, dan lahan kelas 5) sebagai bagian dari kawasan lindung yang
seharusnya dilakukan, pada awal simulasi belum ditetapkan (0 ha).
0 ha PS
65 Mukim_per_kapita Standard ruang yang dibutuhkan untuk pemukiman (rumah) per kapita,
berdasarkan standart Dep. PU yang dimodifikasi, ditetapkan sebesar 25
m2/kapita untuk perkotaan; dan untuk perdesaan diasumsikan 100 m2/kapita.
Dengan proporsi penduduk di wilayah penelitian yaitu 46,86% perkotaan dan
53,14% perdesaan; maka didapatkan kebutuhan mukim per kapita untuk
wilayah penelitian secara tertimbang adalah 70 m2/kapita.
70 m
2
/orang PS



A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
249
No. Peubah Deskripsi
Nilai Awal/
Parameter
Satuan Pendugaan
66 Naker_PDRB Jumlah lapangan kerja yang tersedia akibat aktivitas perekonomian, didapatkan
dari analisis jumlah tenaga yang bekerja pada level PDRB tertentu, dan
dinyatakan sebagai nilai rasio yang berkisar antara 0 sampai dengan 0,006.
graph - E
67 Naker_per_Invest Rasio antara jumlah tenaga kerja terhadap nilai investasi, didapatkan dari hasil
analisis terhadap 50 buah perusahaan yang berinvestasi di wilayah penelitian
(tahun 2000-2007).
0,0094 orang/Rp
juta
PS
68 Nomal_Imigrasi Tingkat imigrasi yang telah terjadi. 0,0172 - PS
69 Normal_Emigrasi Tingkat emigrasi yang telah terjadi. 0,0046 - PS
70 Inkonsistensi_ Tata_Ruang Total inkonsistensi tata ruang yang terjadi merupakan akumulasi dari
penggunaan kawasan lindung untuk aktivitas budidaya.
0 ha PS
71 Penambahan_ Lahan Laju penambahan daratan akibat adanya kegiatan reklamasi, laju penambahan
lahan daratan akan berhenti bila 75% dari luas laut tepi yang memiliki
kedalaman < 5 m telah habis digunakan untuk reklamasi (dengan luas sekitar
333 ha).
Persamaan ha/tahun E
72 Penambahan_
perairan_BD_Laut
Merupakan pertambahan luas perairan yang digunakan untuk kegiatan budidaya
laut, yang meliputi keramba jaring apung (KJA), budidaya rumput laut, dan
budidaya mutiara; baik milik perusahaan besar maupun masyarakat.
Diasumsikan pertumbuhan sektor perikanan sebesar 10,296%; disumbang oleh
budidaya laut sebesar 20% darinya. Pertumbuhan tersebut hanya akan terjadi
dengan adanya perluasan aktivitas budidaya laut, dengan laju pertumbuhan
penggunaan perairan dalam fraksi yang sama pula.
Persamaan ha/tahun E
73 Penetapan_ Lindung_Darat Fraksi kawasan lindung darat ditetapkan megikuti perbandingan luas kelas
lahan (Kelas 8, 7, 6, dan 5) terhadap lahan total, yaitu didapatkan sebesar
42,60%, atau seluas 54.489 ha.

54.489 ha PS
74 Penetapan_status_menjadi_l
indung
Luas lahan lain yang ditetapkan menjadi status kawasan lindung darat. Persamaan ha PS
75 Pengangguran Angkatan kerja dan tambahan angkatan kerja yang tidak tertampung oleh
lapangan kerja dan tambahan lapangan kerja yang tersedia.
Persamaan orang PS



A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
250
No. Peubah Deskripsi
Nilai Awal/
Parameter
Satuan Pendugaan
76 Penggunaan_ Lahan_Lain Merupakan lahan yang tidak digunakan untuk aktivitas budidaya, yang meliputi
hutan primer, hutan bekas tebangan, mangrove, semak belukar, rawa, dan
lainnya, berdasarkan analisis citra tahun 2001 dan 2009.
16.695 ha PS
77 Pengrh_angktlaut Faktor pemercepat pertumbuhan sektor angkutan laut , akibat pertumbuhan
sektor industri, pertanian, dan perikanan.
graph - E
78 Pengurangan_
Perairan_Total
Perubahan perairan total merupakan pengurangan perairan akibat dilakukannya
reklamasi, jadi merupakan nilai negatif dari Pertambahan_Reklamasi.
Persamaan ha/tahun E
79 Penurunan_Lhn_ Lain Merupakan laju perubahan penggunaan lahan lain, menjadi budidaya (pertanian
maupun non-pertanian).
Persamaan ha/tahun PS
80 Penurunan_Lhn_ Tani Merupakan laju perubahan penggunaan lahan budidaya pertanian, menjadi
budidaya non-pertanian.
Persamaan ha/tahun PS
81 Penyediaan_Lahan Merupakan laju penyediaan lahan yang berasal baik secara tidak ramah
lingkungan, maupun dari konversi lahan budidaya untuk lindung.
Persamaan ha/tahun E
82 Penyedian_Lhn_
tak_ramah_lingk
Merupakan jumlah dari Konversi_Lahan_Atas+ Konversi_ Semp_
Pantai+Konversi_Semp_Sungai
Persamaan ha/tahun E
83 PERAIRAN_ TOTAL Luas total perairan total wilayah studi. 161.178 ha PS
84 Perairan_BD_ Terpakai Merupakan perairan yang digunakan sebagai kawasan budidaya baik perikanan
maupun non-perikanan, yang meliputi Perairan_BD_Laut,
Perairan_Ikan__Tangkap, Perairan_Militer, dan Perairan_Pelabuhan.
Persamaan ha E
85 Perairan_BD_Ideal Merupakan luas perairan yang mungkin untuk dimanfaatkan bagi kawasan
budidaya.
Persamaan ha PS
86 Perairan_BD_Laut Merupakan luas perairan yang digunakan untuk kegiatan budidaya perikanan
laut, yang meliputi keramba jaring apung (KJA), budidaya rumput laut, dan
budidaya mutiara; baik milik perusahaan besar maupun masyarakat.
8.000 ha PS
87 Perairan_Ikan_ Tangkap Merupakan perairan yang secara tradisional yang digunakan oleh nelayan di
Teluk Lampung untuk wilayah tangkap.
80.262 ha PS
88 Perairan_Militer Merupakan perairan yang ditetapkan untuk pelatihan tempur laut TNI-AL
Armada Barat dan Komar. Berdasarkan peta Teluk Lampung (Dishidros TNI-
AL, 1998), yang dianalisis dari SIG.
35.417 ha PS



A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
251
No. Peubah Deskripsi
Nilai Awal/
Parameter
Satuan Pendugaan
89 Perairan_Pelabuhan Merupakan perairan yang menjadi daerah lingkungan kerja (DLKr) dan daerah
lingkungan kepentingan (DLKp) pelabuhan, berdasarkan Pergub No. 30 Tahun
2006 tentang Penataan Daerah Penangkapan Ikan Dalam Perairan Wajib Pandu
dan Alur Pelayaran Pelabuhan Umum Panjang.
4.330 ha PS
90 Perambahan_TK Kumulasi perambahan perairan terumbu karang dan padang lamun, ditentukan
oleh penambahan perairan budidaya laut dan konversi kawasan lindung
perairan. Pada awal simulasi diasumsikan bernilai nol.
0 ha E
91 Perb__Perairan_Pel Perairan pelabuhan (DLKr, DLKp, dan alur pelayaran masuk keluar pelabuhan)
dapat berubah-ubah, yaitu berkurang dengan adanya reklamasi (terutama di
wilayah Kota Bandar Lampung), dan bertambah dengan mengubah ketetapan
DLKr, DLKp, dan alur pelayaran masuk keluar. Diasumsikan bahwa
pengurangan luas perairan adalah sebesar 0,75 x luas reklamasi; dan
penambahan diasumsikan sebesar 100 ha pertahun mulai tahun 2010 dan
berhenti pada tahun 2025.
Persamaan ha/tahun E
92 Percepatan_
Imigrasi_Emigrasi
Faktor yang mempercepat terjadinya imigrasi dan emigrasi, dinyatakan bernilai
-0,01 sampai 0,01; dimana nilai MINUS akan meingkatkan Emigrasi dan
menurunkan Imigrasi, dan sebaliknya untuk nilai PLUS. Faktor ini didapatkan
dengan membuat grafik dengan variabel bebas adalah jumlah nilai dampak
penganggur+kendala ruang, dimana bila bernilai 2 memberikan arti terjadinya
banyak pengangguran dan kendala ruang yang besar, dan sebaliknya untuk nilai
0.
graph - E
93 Percp_Invest Faktor penambah (dapat positif atau negatif) yang mempercepat laju investasi,
akibat adanya kemudahan tenaga kerja berkualitas (positif) atau kendala ruang
(negatif).
graph - E
94 Perikanan Sumbangan sektor perikanan terhadap PDRB ADHK. 379.555 Rp juta S
95 Perluasan_ pelabuhan Laju perluasan pelabuhan. 2,5 ha/tahun PS
96 Perst_Angklaut Persentase pertumbuhan sektor angkutan laut, pada tahun berjalan. Persamaan % E
97 Perst_Ekonomi Persentase pertumbuhan ekonomi, pada tahun berjalan. Persamaan % E
98 Perst_Ikan Persentase pertumbuhan sektor perikanan, pada tahun berjalan. Persamaan % E
99 Perst_Indst Persentase pertumbuhan sektor industri pengolahan, pada tahun berjalan. Persamaan % E
100 Perst_Lain Persentase pertumbuhan sektor lain, pada tahun berjalan. Persamaan % E

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
252
No. Peubah Deskripsi
Nilai Awal/
Parameter
Satuan Pendugaan
101 Perst_Tani Persentase pertumbuhan sektor pertanian, pada tahun berjalan. Persamaan % E
102 Perst_Wisata Persentase pertumbuhan sektor pariwisata, pada tahun berjalan. Persamaan % E
103 Pert_Angkt_Laut Pertumbuhan sektor transportasi laut akibat pangsa pertumbuhan normalnya,
dan dipercepat (baik secara positif maupun negatif oleh percepatan investasi),
kemudian dipengaruhi juga oleh peningkatan sektor perikanan dan industri yang
mebutuhkan sektor angkutan laut (sebagai pengali).
Persamaan Rp
juta/tahun
PS
104 Pert_BD_Pesisir Fraksi pertambahan luas lahan budidaya pesisir (tambak), didapatkan dari
analisis citra 2001-2009, bernilai cukup besar yaitu 628 ha/tahun, atau mencapai
51,36% per tahun. Untuk mendapatkan laju pertumbuhan yang rasional,
digunakan rata-rata pertumbuhan (%) antara tahun 2001 - 2009 yang dihitung
per tahun, dan didapatkan 17,77%.
graph - E
105 Pert_Industri Pertumbuhan sektor industri pengolahan akibat pertumbuhannya sendiri dan
dipercepat (baik secara positif maupun negatif oleh percepatan investasi),
merupakan hasil perkalian nilai initial sektor industri pengolahan dengan jumlah
pangsa pertumbuhannya dan percepatan akibat investasi.
Persamaan Rp
juta/tahun
PS
106 Pert_Investasi Laju perkembangan investasi yang terjadi akibat adanya pertumbuhan investasi
dan percepatan investasi, didapatkan dari hasil perkalian antara investasi dengan
jumlah pertumbuhan dan percepatan investasi.
Persamaan Rp
juta/tahun
PS
107 Pert_Lahan_Militer Laju perluasan lahan militer. 2,5 ha/tahun PS
108 Pert_Lahan_Wisata Laju perluasan lahan wisata. 2 ha/tahun PS
109 Pert_Lhan_Tani Penambahan lahan pertanian yang hanya mungkin berasal dari penggunaan
lahan lain yang merupakan lahan kelas 8 dan sebagian kecil kelas 7.
Diasumsikan petani tidak mampu lagi merambah lahan kelas 8, sehingga bila
luas lahan sudah mencapai luas lahan kelas 8 (13.364 ha), maka pertambahan
lahan pertanian akan berhenti (mendekati 0 persen).
graph - E

110 Pert_Perikanan Pertumbuhan sektor perikanan laut akibat pertumbuhannya sendiri dan
dipercepat (baik secara positif maupun negatif oleh percepatan investasi),
merupakan hasil perkalian nilai initial sektor perikanan laut dengan jumlah
pangsa pertumbuhannya dan percepatan akibat investasi..
Persamaan Rp
juta/tahun
PS


A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
253
No. Peubah Deskripsi
Nilai Awal/
Parameter
Satuan Pendugaan
111 Pert_Pertanian Pertumbuhan sektor pertanian akibat pertumbuhannya sendiri dan dipercepat
(baik secara positif maupun negatif oleh percepatan investasi), merupakan hasil
perkalian nilai initial pertanian dengan jumlah pangsa pertumbuhannya yang
dipengaruhi oleh percepatan akibat investasi dan rasio luas lahan pertanian
terhadap lahan total.
Persamaan Rp
juta/tahun
PS
112 Pert_Sektor_Lain Pertumbuhan sektor lain akibat pertumbuhannya sendiri dan dipercepat (baik
secara positif maupun negatif oleh percepatan investasi), hasil perkalian nilai
initial sektor lain dengan jumlah pangsa pertumbuhannya dan percepatan akibat
investasi.
Persamaan Rp
juta/tahun
PS
113 Pert_Wisata Pertumbuhan sektor pariwisata, hotel, dan restoran akibat pertumbuhannya
sendiri dan dipercepat (baik secara positif maupun negatif oleh percepatan
investasi), hasil perkalian nilai initial sektor pariwisata dengan jumlah pangsa
pertumbuhannya dan percepatan akibat investasi.
Persamaan Rp
juta/tahun
E
114 Pertambahan_ Penduduk Laju pertambahan penduduk (neto) per tahun. Persamaan orang/tahun PS
115 Pertambahan_ Reklamasi Pertambahan lahan reklamasi adalah sama dengan kecepatan reklamasi, dimulai
tahun 2008 dan berhenti setelah tahun 2027 (83 ha per tahun) ditambah dengan
kebutuhan permukiman penduduk yang diasumsikan sebesar 2% dari kebutuhan
permukiman penduduk.
Persamaan ha/tahun E
116 Pertanian Sumbangan sektor pertanian terhadap PDRB ADHK. 431.943 Rp juta S
117 Pertumbuhan_ Ekonomi Sumbangan sektor-sektor terhadap aktivitas perekonomian (PDRB harga
konstan) wilayah penelitian yang terdiri dari sektor lain, pariwisata, perikanan
laut, pertanian, industri pengolahan, dan transportasi laut
Persamaan Rp
juta/tahun
PS
118 Peruntukan_ Lindung_Darat Penyediaan kawasan lindung yang seharusnya dilakukan, diasumsikan dalam
waktu 15 tahun sejak tahun 2003, penetapan dan pelestarian kawasan lindung
mencapai luas 54.489 ha (yaitu yang termasuk kelas lahan 8, 7, 6, dan 5).
Persamaan - PS
119 Peruntukan_Semp_Pantai Penetapan dan penyediaan kawasan lindung sempadan pantai (100 m dari garis
pasang tertinggi ke arah darat) sebagai bagian dari kawasan lindung yang
seharusnya dilakukan, luas sempadan pantai adalah 0.09737 x luas kawasan
lindung darat.
Persamaan ha E

120 Peruntukan_Semp_Sungai Penetapan dan penyediaan kawasan lindung sempadan sungai (100 m kiri kanan Persamaan ha E

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
254
No. Peubah Deskripsi
Nilai Awal/
Parameter
Satuan Pendugaan
sungai besar, dan 50 m kiri-kanan sungai kecil) sebagai bagian dari kawasan
lindung yang seharusnya dilakukan, luas sempadan sungai adalah 0.08138 x
luas kawasan lindung darat.
121 POPULASI Jumlah penduduk total yang dipengaruhi oleh kelahiran, kematian, imigrasi, dan
emigrasi, berdasarkan data BPS.
533.298 orang S
122 Prasarana_per_ Kapita Luas ruang yang dibutuhkan untuk prasarana yang meliputi jalan, pendidikan,
kesehatan, peribadatan, rekreasi dan sebagainya, diasumsikan secara tertimbang
untuk kawasan perkotaan dan perdesaan.
50 m
2
/orang PS
123 Prtk_Kw_
Lindung_Perairan
Merupakan laju penetapan dan pengendalian kawasan lindung perairan, yang
dimulai dari tahun 2008 dan berlangsung selama 15 tahun (sampai tahun 2022).
Persamaan ha PS
124 Prtk_Lindung_ Lahan_Atas Penetapan dan penyediaan kawasan lindung atas (lahan kelas 8,7 dan 6 yang
berlereng >40%) sebagai bagian dari kawasan lindung yang seharusnya
dilakukan, luas kawasan lindung lahan atas adalah 0,8212 x kawasan lindung
darat.
Persamaan ha PS
125 Rasio_Lhn_ LDG_BD Rasio antara kawasan lindung darat dengan kawasan lahan budidaya terpakai.
Nilai rasio akan menjadi 0 bila tidak ada penetapan kawasan lindung darat, dan
semakin membesar dengan adanya penetapan kawasan lindung darat. Nilai akan
menjadi maksimal bila kawasan lindung darat menjadi maksimal (yaitu 54.489
ha) dan nilai rasio maksimal akan menjadi 0,7422.
Persamaan - E
126 Rasio_Perairan_ LDG_BD Rasio antara kawasan lindung perairan dengan kawasan budidaya perairan
terpakai. Nilai rasio akan menjadi 0 bila tidak ada penetapan kawasan lindung
perairan, dan semakin membesar dengan adanya penetapan kawasan lindung
perairan. Nilai akan menjadi maksimal bila kawasan lindung perairan menjadi
maksimal (yaitu 4.823 ha) dan nilai rasio maksimal akan menjadi 0,0308.
Persamaan - E
127 Rasio_lhn_tani Rasio antara luas lahan pertanian terhadap luas lahan total. Persamaan - E
128 Reklamasi Reklamasi (penimbunan pantai) pantai telah terjadi dan cenderung terus terjadi
di Teluk Lampung, terutama di Kota Bandar Lampung. Aktivitas reklamasi di
Teluk Lampung telah dimulai sejak tahun 1983, dan dihentikan sampai tahun
1990, sudah dilakukan seluas 650 ha (seluas 450 ha terjadi di Bandar
Lampung). Pada tahun 2007 telah direncanakan akan direklamasi laut di Bandar
Lampung dan sebagian Pesawaran (Padang Cermin) seluas 1.447 ha selama 20
0 ha PS

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
255
No. Peubah Deskripsi
Nilai Awal/
Parameter
Satuan Pendugaan
tahun. Untuk kepentingan model, luas lahan reklamasi pada tahun 2003,
diasumsikan mulai dari awal yaitu 0 hektar.
129 Ruang_per_ Investasi Luas ruang yang dibutuhkan untuk setiap Rp juta investasi, berdasarkan data
dari lima puluh perusahaan
22 m
2
/Rp juta PS
130 Sbr_lind_darat Selisih antara parameter Penetapan_Lindung_Darat dan Penetapan_status_
menjadi_lindung
Persamaan ha E
131 Sektor_Lain Sumbangan PDRB dari sektor lain di luar sektor perikanan laut, pariwisata,
pertanian, industri pengolahan, dan transportasi laut, berdasarkan data PDRB
ADHK.
1.258.411 Rp juta S
132 Semp_Pantai Merupakan luas total kawasan lindung sempadan pantai, total luas ideal adalah
sebesar 0.09737 x luas kawasan lindung darat, pada tahun awal simulasi
diasumsikan belum ditetapkan.
0 ha PS
133 Semp_Sungai Merupakan luas total kawasan lindung sempadan sungai, total luas ideal adalah
sebesar 0.08138 x luas kawasan lindung darat, pada tahun awal simulasi
diasumsikan belum ditetapkan.
0 ha E
134 Tahapan_Kw_ Lindung Fraksi penetapan kawasan lindung, yaitu untuk waktu 15 tahun. 1/15 - PS
135 Terumbu_Karang Merupakan luas tutupan perairan terumbu karang, yang seharusnya dilindungi,
dengan luas 80% x 4.823 ha = 3.860 ha ditambah dengan tutupan padang
lamun yang diasumsikan sama dengan 20% tutupan terumbu karang, dengan
demikian luasan tetap menjadi 4.823 ha
4.823 ha PS
136 Tgkt_ Kebangkrutan Peluang kebangkrutan investasi yang dapat terjadi dari investasi yang telah
terlaksana.
0,005 - PS
137 Tingkat_ Pengangguran Rasio Pengangguran dan Angkatan Kerja. Persamaan % PS
138 Wisata Sumbangan sektor pariwisata, hotel, dan restoran terhadap PDRB ADHK. 63.457 Rp juta S
Keterangan: S = data sekunder; PS = Pengolahan data sekunder, analisis citra satelit, dan SIG; E = simulasi model, graph = fungsi grafik dari Stella.
Sumber: Analisis (2010)






A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
256








A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
257
Lampir an 4 Per samaan dalam model
I Per samaan sub-model populasi:
POPULASI(t) = POPULASI(t - dt) + (Kelahiran + Imigrasi - Kematian -
Emigrasi) * dt
INIT POPULASI = 533298
Kelahiran = POPULASI*Fraksi_Lahir
Imigrasi = SMTH1((Nomal_Imigrasi+Percepatan_Imigrasi_Emigrasi)*
POPULASI,3)
Kematian = POPULASI*Fraksi_Mati
Emigrasi = DELAY(SMTH1((Normal_Emigrasi-Percepatan_Imigrasi_
Emigrasi)*POPULASI,3),1)
Angkatan_Kerja = POPULASI*Fraksi_Angkt_Kerja
Fraksi_Angkt_Kerja = 0.48856
Fraksi_Lahir = 0.013
Fraksi_Mati = 0.0024
Nomal_Imigrasi = 0.0172
Normal_Emigrasi = 0.0046
Pengangguran = Angkatan_Kerja-Lapangan_Kerja
Pertambahan_Penduduk = Imigrasi+Kelahiran-Emigrasi-Kematian
Tingkat_Pengangguran = Pengangguran/Angkatan_Kerja*100
Dampak_Penganggur = GRAPH(Tingkat_Pengangguran) (0.00, 0.00),
(1.50, 0.03), (3.00, 0.065), (4.50, 0.12), (6.00, 0.18), (7.50, 0.26), (9.00,
0.355), (10.5, 0.475), (12.0, 0.615), (13.5, 0.775), (15.0, 1.00)
Percepatan_Imigrasi_Emigrasi = GRAPH(Dampak_Penganggur+
Kendala_Ruang) (0.00, 0.01), (0.2, 0.01), (0.4, 0.0095), (0.6, 0.0082),
(0.8, 0.0053), (1.00, 0.0007), (1.20, -0.0035), (1.40, -0.0073), (1.60, -
0.009), (1.80, -0.0099), (2.00, -0.01)
II Per samaan sub-model aktivitas ekonomi:
AKTIVITAS_EKONOMI(t) = AKTIVITAS_EKONOMI(t - dt) +
(Pertumbuhan_Ekonomi) * dt
INIT AKTIVITAS_EKONOMI = 2628969
Pertumbuhan_Ekonomi = Pert_Angkt_Laut+Pert_Industri+Pert_
Perikanan+Pert_Pertanian+Pert_Sektor_Lain+Pert_Wisata
Angkutan_Laut(t) = Angkutan_Laut(t - dt) + (Pert_Angkt_Laut) * dt
INIT Angkutan_Laut = 123704

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
258
Pert_Angkt_Laut = SMTH1(if(time<2007)then(Fraksi_Pert_Angkt_
Laut*Angkutan_Laut)else(((Fraksi_Pert_Angkt_Laut+Percp_Invest)*Pe
ngrh_angktlaut)*Angkutan_Laut),3)
Industri(t) = Industri(t - dt) + (Pert_Industri) * dt
INIT Industri = 371899
Pert_Industri = SMTH1(IF(TIME<2007)THEN(Fraksi_Pert_Industri*
Industri)else((Fraksi_Pert_Industri+Percp_Invest)*Industri),3)
Investasi(t) = Investasi(t - dt) + (Pert_Investasi - Kebangkrutan) * dt
INIT Investasi = 188395
Pert_Investasi = DELAY((Fraksi_pert_invest+Percp_Invest)*Investasi,1)
Kebangkrutan = Investasi*Tgkt_Kebangkrutan
Perikanan(t) = Perikanan(t - dt) + (Pert_Perikanan) * dt
INIT Perikanan = 379555
Pert_Perikanan = SMTH1(if(time<2007)then(Ikan_awal*Perikanan)
else(Perikanan*(Fraksi_Pert_Perikanan+Percp_Invest)),3)
Pertanian(t) = Pertanian(t - dt) + (Pert_Pertanian) * dt
INIT Pertanian = 431943
Pert_Pertanian = SMTH1((IF(time<2007)or(Rasio_lhn_tani>0.81)
then((Fraksi_Pert_Pertanian)*Pertanian)else((Fraksi_Pert_Pertanian+
0.05*Percp_Invest)*Pertanian*0.25*Rasio_lhn_tani)),3)
Sektor_Lain(t) = Sektor_Lain(t - dt) + (Pert_Sektor_Lain) * dt
INIT Sektor_Lain = 1258411
Pert_Sektor_Lain = SMTH1(if(time<2007)then(Fraksi_Pert_Lain*
Sektor_Lain)ELSE((Fraksi_Pert_Lain+Percp_Invest)*Sektor_Lain),3)
Wisata(t) = Wisata(t - dt) + (Pert_Wisata) * dt
INIT Wisata = 63457
Pert_Wisata = SMTH1(IF(TIME<2007)THEN(Fraksi_Pert_Wisata*
Wisata)ELSE((Fraksi_Pert_Wisata+0.5*Percp_Invest)*Wisata),3)
Fraksi_Pert_Angkt_Laut = 0.06209
Fraksi_Pert_Industri = 0.07281
Fraksi_pert_invest = 0.1143
Fraksi_Pert_Lain = 0.06027
Fraksi_Pert_Pertanian = 0.02841
Fraksi_Pert_Wisata = 0.03787
Ikan_awal = 0.102
Keb_Naker_Investasi = INVESTASI*Naker_per_Invest

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
259
Lapangan_Kerja = IF(Keb_Naker_Investasi=INIT(Keb_Naker_
Investasi))AND(Lap_Kerja_dari_Perekonomian=INIT(Lap_Kerja_dari_
Perekonomian))THEN(Lapangan_Kerja_Awal)ELSE(Keb_Naker_Invest
asi+Lap_Kerja_dari_Perekonomian+Lapangan_Kerja_Awal)
Lapangan_Kerja_Awal = 248607
Lap_Kerja_dari_Perekonomian = Naker_PDRB*AKTIVITAS_
EKONOMI
Naker_per_Invest = 0.009456
Perst_Angklaut = Pert_Angkt_Laut/Angkutan_Laut*100
Perst_Ekonomi = Pertumbuhan_Ekonomi/AKTIVITAS_EKONOMI*
100
Perst_Ikan = Pert_Perikanan/Perikanan*100
Perst_Indst = Pert_Industri/Industri*100
Perst_Lain = Pert_Sektor_Lain/Sektor_Lain*100
Perst_Tani = Pert_Pertanian/Pertanian*100
Perst_Wisata = Pert_Wisata/Wisata*100
Tgkt_Kebangkrutan = 0.005
Fraksi_Pert_Perikanan = GRAPH(Rasio_Perairan_LDG_BD) (0.00,
0.003), (0.0031, 0.0045), (0.0062, 0.00562), (0.0093, 0.0075), (0.0124,
0.00937), (0.0155, 0.0116), (0.0186, 0.0158), (0.0217, 0.0214), (0.0248,
0.0304), (0.0279, 0.0476), (0.031, 0.0742)
Naker_PDRB = GRAPH(AKTIVITAS_EKONOMI/INIT(AKTIVITAS_
EKONOMI)) (1.00, 0.00), (1.50, 0.00036), (2.00, 0.00099), (2.50,
0.00312), (3.00, 0.00426), (3.50, 0.00519), (4.00, 0.0057), (4.50,
0.00591), (5.00, 0.00597), (5.50, 0.006), (6.00, 0.00597)
Pengrh_angktlaut = GRAPH(Perst_Indst+Perst_Tani+Perst_Ikan) (2.00,
1.00), (3.30, 1.06), (4.60, 1.11), (5.90, 1.16), (7.20, 1.21), (8.50, 1.24),
(9.80, 1.26), (11.1, 1.28), (12.4, 1.29), (13.7, 1.29), (15.0, 1.30)
Percp_Invest = GRAPH(Kendala_Ruang-0.5*Dampak_Penganggur) (-
1.00, 0.1), (-0.8, 0.1), (-0.6, 0.1), (-0.4, 0.0993), (-0.2, 0.0963), (-5.55e-
017, 0.0918), (0.2, 0.0865), (0.4, 0.0753), (0.6, -0.0283), (0.8, -0.0478),
(1.00, -0.05)

III Per samaan sub-model keter sediaan r uang:
Kawasan_Lindung_Darat(t) = Kawasan_Lindung_Darat(t - dt) +
(Peruntukan_Lindung_Darat) * dt
INIT Kawasan_Lindung_Darat = 0

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
260
Peruntukan_Lindung_Darat = SMTH1(IF((time>2007)and(time<2023))
THEN((Sbr_lind_darat+Penetapan_status_menjadi_lindung)*Tahapan_
Kw_Lindung*KEBIJAKAN)ELSE(0),3)
Kaw_Lindung_Perairan(t) = Kaw_Lindung_Perairan(t - dt) + (Prtk_
Kw_Lindung_Perairan) * dt
INIT Kaw_Lindung_Perairan = 0
Prtk_Kw_Lindung_Perairan = SMTH1(IF((2007<TIME)and
(time<2023))THEN(Terumbu_Karang*Tahapan_Kw_Lindung*KEBIJA
KAN)ELSE(0),3)
Lahan_BD_Pesisir(t) = Lahan_BD_Pesisir(t - dt) + (Laju_perb_BD_
Pesisir) * dt
INIT Lahan_BD_Pesisir = 2477
Laju_perb_BD_Pesisir = SMTH1((IF(Lahan_BD_Pesisir<Lahan_Rawa_
Pantai)AND(TIME>2006)then(Pert_BD_Pesisir*2/(KEBIJAKAN+1)*L
ahan_Rawa_Pantai)ELSE(520)),1)
Lahan_Bisnis_dan_Industri(t) = Lahan_Bisnis_dan_Industri(t - dt) +
(Keb_Bisnis_dan_Industri) * dt
INIT Lahan_Bisnis_dan_Industri = 880
Keb_Bisnis_dan_Industri = Pert_Industri*Ruang_per_Investasi/10000
Lahan_Militer(t) = Lahan_Militer(t - dt) + (Keb_Lahan_Militer) * dt
INIT Lahan_Militer = 115
Keb_Lahan_Militer = if(Lahan_Militer<=250)then(Pert_Lahan_
Militer)else(0)
Lahan_Pelabuhan(t) = Lahan_Pelabuhan(t - dt) + (Keb_Pelabuhan) * dt
INIT Lahan_Pelabuhan = 210
Keb_Pelabuhan = If(Lahan_Pelabuhan<=250)then(Perluasan_
pelabuhan)else(0)
Lahan_Permukiman(t) = Lahan_Permukiman(t - dt) + (Keb_Pemukiman)
* dt
INIT Lahan_Permukiman = 1531
Keb_Pemukiman = Pertambahan_Penduduk*Mukim_per_kapita/10000
Lahan_Pertanian(t) = Lahan_Pertanian(t - dt) + (Laju_perb_pertanian -
Penurunan_Lhn_Tani) * dt
INIT Lahan_Pertanian = 105223
Laju_perb_pertanian = Lahan_Pertanian*Pert_Lhan_Tani



A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
261
Penurunan_Lhn_Tani = SMTH1(IF((2007<TIME)and(time<2023))
THEN(Peruntukan_Lindung_Darat+0.7*Keb_Pemukiman+0.9*Keb_Bis
nis_dan_Industri+0.9*Keb_Prasarana)ELSE(Peruntukan_Lindung_Darat
+0.7*Keb_Pemukiman+0.9*Keb_Bisnis_dan_Industri+0.9*Keb_Prasara
na),3)
Lahan_Prasarana(t) = Lahan_Prasarana(t - dt) + (Keb_Prasarana) * dt
INIT Lahan_Prasarana = 890
Keb_Prasarana = (Pertambahan_Penduduk*Prasarana_per_Kapita/
10000)+(0.4*Keb_Bisnis_dan_Industri)
Lahan_Rawa_Pantai(t) = Lahan_Rawa_Pantai(t - dt)
INIT Lahan_Rawa_Pantai = 11920
Lahan_Tersedia(t) = Lahan_Tersedia(t - dt) + (Penyediaan_Lahan -
Laju_kebutuhan_lahan) * dt
INIT Lahan_Tersedia = 0
Penyediaan_Lahan = Penyedian_Lhn_tak_ramah_lingk+Penurunan_
Lhn_Tani
Laju_kebutuhan_lahan = DELAY((0.9*Keb_Bisnis_dan_Industri+Keb_
Pelabuhan+0.7*Keb_Pemukiman+0.9*Keb_Prasarana+Keb_Lahan_
Militer+Laju_perb_BD_Pesisir+Laju_perb_lhn_wisata+Peruntukan_
Lindung_Darat),1)
LAHAN_TOTAL(t) = LAHAN_TOTAL(t - dt) + (Penambahan_Lahan)
* dt
INIT LAHAN_TOTAL = 127902
Penambahan_Lahan = Pertambahan_Reklamasi
Lahan_Wisata_Pantai(t) = Lahan_Wisata_Pantai(t - dt) + (Laju_perb_
lhn_wisata) * dt
INIT Lahan_Wisata_Pantai = 60
Laju_perb_lhn_wisata = Pert_Lahan_Wisata
Lindung_Lahan_Atas(t) = Lindung_Lahan_Atas(t - dt) + (Prtk_Lindung_
Lahan_Atas - Konversi_Lahan_Atas) * dt
INIT Lindung_Lahan_Atas = 0
Prtk_Lindung_Lahan_Atas = 0.82125*Peruntukan_Lindung_Darat
Konversi_Lahan_Atas = 0.15*Keb_Pemukiman
Penggunaan_Lahan_Lain(t) = Penggunaan_Lahan_Lain(t - dt) +
(-Penurunan_Lhn_Lain) * dt
INIT Penggunaan_Lahan_Lain = 16695
Penurunan_Lhn_Lain = IF(Penggunaan_Lahan_Lain>13364)THEN
(Laju_prb_lhn_lain)ELSE(0)

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
262
Perairan_BD_Laut(t) = Perairan_BD_Laut(t - dt) + (Penambahan_
perairan_BD_Laut) * dt
INIT Perairan_BD_Laut = 8000
Penambahan_perairan_BD_Laut = SMTH1((1.25*Fraksi_Pert_
Perikanan*Perairan_BD_Laut),3)
Perairan_Ikan__Tangkap(t) = Perairan_Ikan__Tangkap(t - dt)
INIT Perairan_Ikan__Tangkap = 80262
Perairan_Militer(t) = Perairan_Militer(t - dt)
INIT Perairan_Militer = 35417
Perairan_Pelabuhan(t) = Perairan_Pelabuhan(t - dt) + (Perb__Perairan_
Pel) * dt
INIT Perairan_Pelabuhan = 4330
Perb__Perairan_Pel = SMTH1((if((time<2010)and(time>2025))then(-
0.75*Pertambahan_Reklamasi)else(-0.75*Pertambahan_Reklamasi+
Laju_penambahan_perairan_pel)),3)
PERAIRAN_TOTAL(t) = PERAIRAN_TOTAL(t - dt) + (Pengurangan_
Perairan_Total) * dt
INIT PERAIRAN_TOTAL = 161178
Pengurangan_Perairan_Total = -Pertambahan_Reklamasi
Perambahan_TK(t) = Perambahan_TK(t - dt) + (Konversi_kws_lindung_
perairan) * dt
INIT Perambahan_TK = 0
Konversi_kws_lindung_perairan = SMTH1(STEP(1/(0.1+
KEBIJAKAN)*0.03*Terumbu_Karang,2006),275)
Reklamasi(t) = Reklamasi(t - dt) + (Pertambahan_Reklamasi) * dt
INIT Reklamasi = 0
Pertambahan_Reklamasi = if((2009<time)and(time<2028))then
(Kecepatan_Reklamasi+0.02*Keb_Pemukiman)else(0.02*Keb_
Pemukiman)
Semp_Pantai(t) = Semp_Pantai(t - dt) + (Peruntukan_Semp_Pantai -
Konversi_Semp_Pantai) * dt
INIT Semp_Pantai = 0
Peruntukan_Semp_Pantai = 0.09737*Peruntukan_Lindung_Darat
Konversi_Semp_Pantai = 0.2*Laju_perb_BD_Pesisir+0.1*Pertambahan_
Reklamasi+0.05*Keb_Pemukiman
Semp_Sungai(t) = Semp_Sungai(t - dt) + (Peruntukan_Semp_Sungai -
Konversi_Semp_Sungai) * dt
INIT Semp_Sungai = 0

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
263
Peruntukan_Semp_Sungai = 0.08138*Peruntukan_Lindung_Darat
Konversi_Semp_Sungai = 0.1*Keb_Pemukiman
KEBIJAKAN = 0 - 1
Kecepatan_Reklamasi = 83
Lahan_BD_Ideal = if(Kawasan_Lindung_Darat>0)then(LAHAN_
TOTAL-Kawasan_Lindung_Darat)else(LAHAN_TOTAL-Penetapan_
Lindung_Darat)
Lahan_BD_Terpakai = Lahan_BD_Pesisir+Lahan_Bisnis_dan_Industri+
Lahan_Militer+Lahan_Pelabuhan+Lahan_Permukiman+Lahan_
Pertanian+Lahan_Prasarana+Lahan_Wisata_Pantai
Lahan_sisa = LAHAN_TOTAL-Lahan_BD_Terpakai
Laju_penambahan_perairan_pel = 100
Laju_prb_lhn_lain = 100
Landuse__tak_sesuai = if((Lahan_sisa-Penetapan_Lindung_Darat)<0)
then(abs(Lahan_sisa-Penetapan_Lindung_Darat))else(0)
Mukim_per_kapita = 70
Inkonsistensi_tata_ruang = Landuse__tak_sesuai+Perambahan_TK
Penetapan_Lindung_Darat = 54489
Penetapan_status_menjadi_lindung = INIT(Penggunaan_Lahan_Lain)
Penyedian_Lhn_tak_ramah_lingk = Konversi_Lahan_Atas+
Pertambahan_Reklamasi+Konversi_Semp_Sungai
Perairan_BD_Ideal = if(Kaw_Lindung_Perairan>0)then(PERAIRAN_
TOTAL-Kaw_Lindung_Perairan)else(PERAIRAN_TOTAL-
Terumbu_Karang)
Perairan_BD_Terpakai = Perairan_BD_Laut+Perairan_Ikan__Tangkap+
Perairan_Militer+Perairan_Pelabuhan
Perluasan_pelabuhan = 2.5
Pert_Lahan_Militer = 2.5
Pert_Lahan_Wisata = 2
Prasarana_per_Kapita = 50
Rasio_Lhn_LDG_BD = Kawasan_Lindung_Darat/Lahan_BD_Terpakai
Rasio_Perairan_LDG_BD = Kaw_Lindung_Perairan/Perairan_BD_
Terpakai
Rasio_lhn_tani = Lahan_Pertanian/LAHAN_TOTAL
Ruang_per_Investasi = 22
Sbr_lind_darat = Penetapan_Lindung_Darat-Penetapan_status_menjadi_
lindung

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
264
Terumbu_Karang = 4823
Degradasi_SD_Pesisir = GRAPH(Inkonsistensi_Tata_Ruang) (0.00,
0.00), (3214, 0.005), (6429, 0.005), (9643, 0.01), (12857, 0.02), (16071,
0.025), (19286, 0.05), (22500, 0.1), (25714, 0.19), (28929, 0.305),
(32143, 0.485), (35357, 0.725), (38571, 0.9), (41786, 0.98), (45000,
1.00)
Gap_penggunaan_ruang = GRAPH(Rasio_Lhn_LDG_BD+Rasio_
Perairan_LDG_BD) (0.00, 1.00), (0.0773, 0.85), (0.155, 0.695), (0.232,
0.555), (0.309, 0.43), (0.387, 0.3), (0.464, 0.2), (0.541, 0.11), (0.618,
0.05), (0.696, 0.01), (0.773, 0.00)
Kendala_Ruang = GRAPH(DELAY((Degradasi_SD_Pesisir+Gap_
penggunaan_ruang),1)) (0.00, 0.00), (0.143, 0.00), (0.286, 0.02), (0.429,
0.045), (0.571, 0.1), (0.714, 0.18), (0.857, 0.305), (1, 0.49), (1.14, 0.64),
(1.29, 0.745), (1.43, 0.835), (1.57, 0.9), (1.71, 0.955), (1.86, 0.985),
(2.00, 1.00)
Pert_BD_Pesisir = GRAPH(Lahan_BD_Pesisir) (0.00, 0.0396), (1200,
0.0364), (2400, 0.0328), (3600, 0.028), (4800, 0.0224), (6000, 0.0152),
(7200, 0.0068), (8400, -0.002), (9600, -0.0128), (10800, -0.0252),
(12000, -0.04)
Pert_Lhan_Tani = GRAPH(Penggunaan_Lahan_Lain) (13364, 0.00),
(13697, 4e-005), (14030, 8e-005), (14363, 0.00014), (14696, 0.00018),
(15030, 0.00028), (15363, 0.00038), (15696, 0.00058), (16029, 0.001),
(16362, 0.002), (16695, 0.004)
Tahapan_Kw_Lindung = GRAPH(TIME) (2008, 0.002), (2009, 0.0165),
(2010, 0.0285), (2011, 0.042), (2012, 0.0518), (2013, 0.0593), (2014,
0.0675), (2015, 0.075), (2016, 0.0833), (2017, 0.09), (2018, 0.096),
(2019, 0.101), (2020, 0.102), (2021, 0.105), (2022, 0.107)


A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
265
Lampir an 5 Kr iter ia analisis SIG
Tabel Lampiran 4 Kriteria kawasan lindung daratan
No. Kriteria Nilai
1 Kawasan Lindung Lahan Atas Lereng>40%
2 Sempadan Sungai 50 m kiri kanan sungai
3 Sempadan Pantai 100 m dari garis pantai ke arah darat
Sumber: Kep. Presiden No. 32 (1990)
Tabel Lampiran 5 Kriteria kawasan konservasi perairan
Kawasan Konservasi
Kriteria
Sangat Baik Baik
Persentase tutupan karang 75-100% 50-75%
Keanekaragaman karang >40 jenis 30-40 jenis
Kelimpahan karang 8-10 famili 5-7 famili
Sumber: Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor: Kep. 34/MEN/2002
(Disederhanakan)
Tabel Lampiran 6 Kriteria kesuaian lahan untuk pertanian tanaman pangan
(semusim)
Kelas Lahan
No. Kriteria Sangat
Sesuai
Sesuai
Kurang
Sesuai
Tidak
Sesuai
1 Kemiringan lereng (%) <3 <3 <8 <15
2 Kedalaman efektif tanah (cm) >75 >50 >25 >10
3 Tekstur tanah halus-agak
halus
halus-agak
halus
halus-
sedang
halus-kasar
4 Drainase baik baik baik-agak
baik
buruk
5 Erodibilitas tanah sangat
rendah
sangat
rendah-
rendah
sangat
rendah-
sedang
sangat
rendah-
tinggi
Sumber: Pusat Penelitian Tanah Deptan (1983, dalam Hardjowigeno dan Widiatmaka, 2007)
(Disederhanakan)
Tabel Lampiran 7 Kriteria kesuaian lahan untuk pertanian tanaman perkebunan
(tahunan)
Kelas Lahan
No. Kriteria Sangat
Sesuai
Sesuai
Kurang
Sesuai
Tidak Sesuai
1 Kemiringan lereng (%) <8 <8 <15 <45
2 Kedalaman efektif
tanah (cm)
>100 >75 >50 >25
3 Tekstur tanah halus-agak
halus
halus-agak
halus
halus-sedang halus-kasar
4 Drainase baik baik baik-agak
baik
buruk
5 Erodibilitas tanah sangat rendah sangat
rendah-
rendah
sangat
rendah-
sedang
sangat rendah-
tinggi
Sumber: Pusat Penelitian Tanah Deptan (1983, dalam Hardjowigeno dan Widiatmaka, 2007)
(Disederhanakan)

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
266
Tabel Lampiran 8 Kriteria kawasan untuk budidaya pesisir (tambak)
Kriteria Sangat Sesuai Sesuai Tidak Sesuai
Kawasan
Tipe pantai • sangat landai
• berlumpur
• berupa teluk/laguna
• terjal
• karang berpasir
sedikit berlumpur
• terbuka
• terjal
• karang berpasir
• terbuka
Elevasi • dapat diairi cukup
pada saat pasang
tinggi
• dapat dikeringkan total
pada saat surut rendah
rataan
• 0-10 m
• sama dengan
kategori tinggi
• 10-30 m
• di bawah tinggi
rata-rata rendah
• >30 m
Slope • 0-2 % • 2-8 % • >8 %
Kondisi Perairan
Arus • kuat
• >50-75 cm/dt
• sedang
• >25-50 cm/dt
• lemah
• 12-25 cm/dt
Amplitudo rataan • 11-21 dm • 7-11 dm
• 21-29 dm
• <6 dm
• >29 dm
Pasang-surut • 1-3 m • 0,5-1m atau
>3-3,5m
• <0,5 m atau
>3,5 m
Kondisi Tanah
Tekstur • sandyclay
• sandyclay-loam
• tidak bergambut
• sandyclay
• sandyclay-loam
• tidak bergambut
• loam
• sandyclay-loam
Permukaan air tanah Di bawah LLWL Di antara MLWL
dan LLWL
Di bawah MLWL

Aksesbilitas dan Sumber Air
Jarak dari sungai <500 m 500-2000 m >2000 m
Jarak dari pantai <2000 m 2000-4000 m >4000 m
Sumber: Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor: Kep. 34/MEN/2002
(Disederhanakan)
Tabel Lampiran 9 Kriteria kesesuaian kawasan bisnis dan industri
No. Kriteria Nilai
1 Kelerengan 0% lereng<25%
2 Jarak dari sungai tipe C dan D >5.000 m
3 Jarak dari garis pantai >100 m.
4 Jarak dari jalan <2.000 m
5 Drainase baik-sedang
6 Banjir tidak pernah tergenang
Sumber: Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No.41/PRT/M/2007 (Disederhanakan, dan
dimodifikasi pada buitir 4)
Tabel Lampiran 10 Kriteria kawasan permukiman dan prasarana wilayah
No. Kriteria Nilai
1 Kelerengan 0% lereng<25%
2 Jarak dari Sungai >50 m
3 Jarak dari garis pantai >100 m
4 Jarak dari jalan <5.000 m
5 Drainase baik-sedang
6 Banjir tidak pernah tergenang
Sumber: Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No.41/PRT/M/2007 (Disederhanakan, dan
dimodifikasi pada buitir 4)

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
267
Tabel Lampiran 11 Kriteria wilayah perairan perikanan budidaya keramba
jaring apung (KJA)
No. Kriteria Nilai
1 Tunggang Pasut >1,0 m
2 Arus 0,2-0,4 cm/detik
3 Kedalaman >10 m
4 Oksigen terlarut 5 ppm
5 Salinitas >30 ‰
6 Perubahan cuaca Jarang
Sumber: Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor: Kep. 34/MEN/2002
(Disederhanakan)


A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
268








A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
269
Lampir an 6 Daftar investasi langsung swasta
Tabel Lampiran 12 Daftar investor dan investasi langsung swasta di wilayah
penelitian tahun 2000-2007
No. Perusahaan Sektor Kab/Kota Tahun
Investasi
(Rp ribu)
1 PT. Berkah Indah Budidaya
Mutiara
Pesawaran 2002 8.910.000
2 PT. Hikari Lampung
Permai
Budidaya
Mutiara
Pesawaran 2005 TDA
3 PT. Grobest
Indomakmur
Pengolahan
Udang/Ikan
Pesawaran 2005 TDA
4 PT. Indo Boga Jaya
Makmur
Pengolahan
ikan
Pesawaran 2006 TDA
5 PT. Budi Mutu Prima Obat Nyamuk
Padat
Bandar
Lampung
2000 TDA
6 PT. Ironik Konstruksi Bandar
Lampung
2000 2.000.000
7 PT. Bina Nusarama Pembangunan
Gedung Resto
Bandar
Lampung
2000 56.040.000
8 PT. Lakop Eksportir Bandar
Lampung
2000 61.000.000
9 PT. Tanjung Enim
Lestari
Pelengkapan
Gudang Pulp
Bandar
Lampung
2001 3.502.850
10 PT. Tekniko
Indonesia
Kontraktor
pabrikasi
Bandar
Lampung
2001 11.000.000
11 PT. Andira Indonesia Eksportir kopi Bandar
Lampung
2001 4.279.500
12 PT. Sinhei Javindo
Raya
Perdagangan
ekspor impor
Bandar
Lampung
2001 8.100.000
13 PT. Sarana
Agroindustri
Alsin
Pertanian/perika
nan
Bandar
Lampung
2001 104.481.000
14 PT. Indofood Sukses
Makmur
Industri.
Makanan
Bandar
Lampung
2002 915.600
15 PT. Sari Makmur
Tunggal Mandiri
Pengolahan
Kopi
Bandar
Lampung
2002 TDA
16 PT. Garuda Panca
Artha
Jasa-jasa Bandar
Lampung
2002 TDA
17 PT. Rettania Java
Mas Sakti
Pergudangan Bandar
Lampung
2002 TDA
18 PT. Tunas Baru
Lampung
Pembangkit
Listrik
Bandar
Lampung
2003 200.000
19 PT. Aneka Gas Ind Oxigen cair Bandar
Lampung
2003 1.559.688
20 PT. Ned
Commodities
Makmur
Perdagangan
ekspor impor
Bandar
Lampung
2003 45.791.590
21 PT. Benteng Mas
Sejahtera
Perkebunan
(industri kopi)
Bandar
Lampung
2004 13.025.000
22 PT. Primindo Ikat
Nusantara
Telekomunikasi Bandar
Lampung
2004 TDA
23 PT. Nestle Beverages Industri
Makanan
Bandar
Lampung
2004 381.095.500
24 PT. Tempo Land Angkutan Peti
Kemas
Bandar
Lampung
2004 TDA

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
270
No. Perusahaan Sektor Kab/Kota Tahun
Investasi
(Rp ribu)
25 PT. Indo Cafco Eksportir kopi
coklat
Bandar
Lampung
2004 2.754.010
26 PT. Sari Melati
Kencana
Restoran Bandar
Lampung
2004 288.880
27 PT. Aman Jaya
Perdana
Minyak Sawit Bandar
Lampung
2005 7.000.000
28 PT. Garuda Food
Putra
Industri.
Makanan
Bandar
Lampung
2005 44.890.727
29 PT. Hanjung
Indonesia
Alsin Baja dan
pabrikasi
Bandar
Lampung
2005 145.472.200
30 PT. Berindo Jaya Eksportir kopi Bandar
Lampung
2005 32.237.460
31 PT. Matahari Graha
Fantasy
Rekreasi
permainan
Bandar
Lampung
2005 18.461.110
32 PT. Hindoli Perdagangan
ekspor impor
Bandar
Lampung
2005 TDA
33 PT. Sumu Asih Kimia dasar
organik
Bandar
Lampung
2006 TDA
34 PT. Nedcoffe
Indonesia
Pengolahan
Kopi
Bandar
Lampung
2006 42.041.990
35 PT. Grenpia Indah
Indonesia
Komponen
Bangunan Kayu
Bandar
Lampung
2006 TDA
36 PT. Indocarbon Arang briket Bandar
Lampung
2006 TDA
37 PT. Surya Bayu Sakti Perhotelan Bandar
Lampung
2006 159.220.000
38 PT. Suri Tani
Pemuka
Pakan
Ikan/Udang
Bandar
Lampung
2007 185.000
39 PT. Biru Laut
Khatulistiwa
Pembenuran
Udang
Lampung
Selatan
2000 55.656.000
40 PT. Gerbang Cahaya
Utama
Perdagangan
Ekpor Impor
Lampung
Selatan
2000 5.500.000
41 PT. Multi Agro
Selaras
Santan dan
sabut kelapa
Lampung
Selatan
2000 TDA
42 PT. Bea Sari Jelita Sabun dan
Pembersih
Lampung
Selatan
2001 TDA
43 CV. Petco Energi
Indonesia
Penampungan
BBM dan BBG
Lampung
Selatan
2002 TDA
44 PT. Budi Harum
Sentosa
Angkutan
Kontainer
Lampung
Selatan
2004 TDA
45 PT. Crest
Internasional Dev.
Ind.
Perdagangan
Ekpor Impor
Lampung
Selatan
2005 TDA
46 PT. Sichuan Boyu
Int.
Perdagangan
Ekpor
Lampung
Selatan
2005 TDA
47 PT. Charoen
Pokphand Jaya F.
Pembibitan
Ayam Induk
Lampung
Selatan
2006 262.222.220
48 PT. Glory Pearl
Nusantara
Penyimpanan
BBM
Lampung
Selatan
2006 TDA
49 PT. Sari Segar
Husada
Pengolahan
Kelapa
Lampung
Selatan
2007 TDA
50 PT. Juang Jaya Abadi
Alam
Penggemukan
Sapi
Lampung
Selatan
2007 29.330.340
Keterangan: TDA = tidak terdata lengkap
Sumber: Data diolah dari Badan Penanaman Modal Daerah (BPMD) Provinsi Lampung (2008)

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
271
Lampir an 7 Potensi desa untuk skalogr am
Tabel Lampiran 13 Data analisis skalogram
Kecamatan
No
Fasilitas
pelayanan
Satuan
A B C D E F G H I J
1 Desa perkotaan desa - 3 5 1 - 7 11 6 1 -
2 TK unit 6 19 17 2 3 5 10 9 12 1
3 SD unit 45 41 45 21 10 14 40 18 74 22
4 SLTP unit 13 14 15 5 6 4 9 10 19 6
5 SMU unit 2 5 10 1 1 3 5 4 10 1
6 SMK unit - 2 5 1 2 1 1 2 1 -
7 PT unit - - 4 - - - - - - -
8 RS unit - - 1 - - - - - - -
9 RS Bersalin unit 2 - 2 - - - 2 4 - -
10 Poliklinik unit - 6 1 - 1 1 3 5 - -
11 Puskesmas unit 1 1 2 1 1 1 2 2 3 2
12 Pustu unit 5 4 10 4 2 7 4 3 6 1
13 Praktek dokter unit 3 2 3 1 1 3 21 11 4 1
14 Praktek didan unit 7 11 16 8 3 4 11 3 4 6
15 Apotik unit - 2 4 - 1 3 8 4 - -
16 Toko dbat unit 1 2 2 - 1 2 5 4 - -
17 Dokter orang 2 4 19 1 2 2 7 - 4 -
18 Dokter gigi orang - 1 4 - 1 - 1 1 - -
19 Mantri
kesehatan
orang 8 21 33 13 9 12 10 11 19 13
20 Bidan orang 11 8 35 7 5 7 8 2 6 3
21 Dukun bayi orang 45 67 64 49 37 19 18 4 131 76
22 Masjid unit 107 101 140 30 37 32 43 36 162 58
23 Surau/langgar unit 119 133 90 27 26 57 120 76 186 64
24 Gereja Kristen unit 5 6 2 - 3 - 3 3 6 1
25 Gereja
Katholik
unit 1 2 2 - 3 - 2 2 3 1
26 Pura unit - 4 - - 1 - 1 - - -
27 Vihara/
Klenteng
unit - - 1 - - 1 7 2 1 -
28 Majelis ta'lim unit 12 15 26 15 5 8 11 7 21 18
29 Tempat
rekreasi
komersial
unit 2 - 9 5 2 1 - - 2 3
30 Gedung
Bioskop
unit - - - - - - 1 1 - -
31 Pub/diskotik/
karaoke
unit - - 1 - - - 4 3 - -
32 Terminal
penumpang
unit - - 1 2 2 - 2 1 2 -
33 Pengguna
listrik PLN dan
non-PLN
keluar
ga
12.36
8
9.47
7
18.2
35
5.53
1
3.71
0
10.4
49
19.1
50
12.4
21
12.4
99
960
34 Pelanggan
telepon kabel
keluar
ga
250 268 1.19
9
- 581 1.00
0
3.89
9
1.11
2
69 -
35 Wartel/kios-
pon
unit 21 16 28 1 13 28 60 44 127 40
36 Kantor pos/Pos
Pembantu/
unit 1 1 21 13 5 1 2 1 7 -
37 Desa yang
dapat
menerima
desa 11 15 27 15 5 8 11 7 19 2

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
272
Kecamatan
No
Fasilitas
pelayanan
Satuan
A B C D E F G H I J
siaran TV tanpa
antena parabola
38 Desa yang
dapat
menerima
sinyal telepon
genggam
desa 11 14 27 14 5 8 11 7 4 5
39 Kios sarana
produksi
pertanian
unit - 9 13 2 2 2 13 1 2 -
40 Industri besar unit 1 - - - - - 5 10 - -
41 Industri sedang unit 5 - 8 - - 4 12 4 - -
42 Industri kecil
dan rumah
tangga/mikro
unit 88 696 360 4 29 473 90 419 147 -
43 Koperasi unit 1 27 7 2 - 3 5 11 - -
44 Bengkel/repara
si kendaraan
bermotor
unit 25 27 55 - 13 18 61 23 30 3
45 Bengkel/repara
si alat-alat
elektronik
unit 9 7 22 2 5 13 12 20 21 1
46 Usaha foto kopi unit 2 3 9 - 2 3 14 11 6 -
47 Biro perjalanan
wisata
unit - - - - 6 - 1 - - -
48 Tempat
pangkas rambut
unit 4 11 9 - 2 10 13 17 - -
49 Salon
kecantikan
unit 10 7 21 5 7 12 54 26 11 -
50 Bengkel las unit 10 5 8 1 7 13 13 13 17 -
51 Persewaan alat-
alat pesta
unit 18 13 11 - 4 7 6 19 13 -
52 Pos hansip/
kamling
unit 10 15 22 14 5 8 11 7 21 20
53 Pos polisi unit 2 2 4 1 1 1 2 1 1 1
54 Kelompok
pertokoan
unit - 2 4 - 1 2 6 1 2 2
55 Bangunan
pasar perma-
nen/semi per-
manen
unit 4 1 2 - 1 2 4 1 1 2
56 Pasar tanpa
bangunan
permanen
unit - - 5 1 - 1 6 1 2 1
57 Super market/
pasar swala-
yan/toserba/
mini market
unit - 2 13 - - 2 14 3 1 -
58 Restoran unit 12 5 28 - 12 9 28 19 21 1
59 Warung/ kedai
makanan
minuman
unit 154 50 61 31 38 35 388 62 182 -

60 Toko/warung
kelontong
unit 1.042 704 655 136 133 237 332 495 1.26
0
122
61 Hotel unit 4 - 6 - - 1 9 5 - -

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
273
Kecamatan
No
Fasilitas
pelayanan
Satuan
A B C D E F G H I J
62 Penginapan unit - - 12 1 - - - 3 - -
63 Bank umum unit - 3 6 - 1 1 14 4 - -
64 BPR/Bank
Pasar/ Bank
Desa
unit - 1 3 - 1 - 8 - 1 -
65 Rumah
permanen
rumah 8.071 5.594 10.093 907 1.253 3.433 10.612 6.442 7.745 1.293
66 Rumah semi
permanen
rumah 3.322 5.041 7.299 1.837 2.262 2.297 2.514 4.170 6.010 3.032
67 Rumah tidak
permanen
rumah 3.554 4.126 5.224 2.767 971 2.603 2.484 2.139 7.724 2.373
Keterangan nama kecamatan: A = Ketibung; B = Sidomulyo; C = Kalianda; D = Rajabasa;
E = Bakauheni; F = Teluk Betung Barat; G = Teluk Betung
Selatan; H = Panjang; I = Padang Cermin; J = Punduh Pidada
Sumber: Data diolah dari BPS Pusat (2008)

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
274

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
275
Lampir an 8 Validasi model dinamik
Tabel Lampiran 14 Uji nilai tengah data historis dan model
Data Nilai-t
No Peubah Tahun
Historis Model Hitung Tabel
Kesim-
pulan
2003 533.298 533.298
2004 540.883 543.967
2005 550.362 554.749
2006 575.190 565.530
2007 585.557 575.867
1 Populasi (orang)
mean 557.058 554.682
0,19 2,31 Tidak
berbeda
2003 248.607 260.548
2004 254.596 265.760
2005 264.689 271.028
2006 282.515 276.296
2007 291.704 281.346
2 Angkatan Kerja
(orang)
mean 268.422 270.995
-0,29 2,31 Tidak
berbeda
2003 2.628.969 2.628.969
2004 2.774.769 2.792.961
2005 2.924.030 2.956.954
2006 3.138.478 3.124.749
2007 3.353.313 3.298.882
3 Aktivitas
Ekonomi (PDRB
harga konstan
tahun 2000) (Rp
Juta)
mean 2.963.912 2.960.503
0,02 2,31 Tidak
berbeda
2003 47.551 188.395
2004 397.163 199.727
2005 248.061 211.002
2006 463.484 223.010
2007 29.515 235.789
4 Investasi (Rp Juta)
mean 237.155 211.585
0,29 2,31 Tidak
berbeda
2003 371.899 371.899
2004 385.794 398.977
2005 407.436 426.055
2006 454.720 453.790
2007 491.885 482.621
5 Sektor Industri
(Rp Juta)
mean 422.347 426.668
-0,15 2,31 Tidak
berbeda
2003 431.943 431.943
2004 452.325 444.215
2005 455.466 456.486
2006 460.447 468.874
2007 482.817 481.455
6 Sektor Pertanian
(Rp Juta)
mean 456.599 456.594
0,00 2,31 Tidak
berbeda
2003 379.555 379.555
2004 388.423 418.270
2005 443.595 456.984
2006 524.682 497.015
2007 558.073 539.240
7 Sektor Perikanan
(Rp Juta)
mean 458.866 458.213
0,01 2,31 Tidak
berbeda
2003 123.704 123.704
2004 130.463 131.385
2005 134.128 139.066
2006 148.659 146.905
2007 157.176 155.010
8 Sektor Angkutan
Laut dan
Penyeberangan
(Rp Juta)
mean 138.826 139.214

-0,05 2,31 Tidak
berbeda

A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
276
Data Nilai-t
No Peubah Tahun
Historis Model Hitung Tabel
Kesim-
pulan
2003 63.457 63.457
2004 66.739 65.860
2005 69.715 68.263
2006 71.439 70.697
2007 73.614 73.181
9 Sektor Pariwisata
(Rp Juta)
mean 68.993 68.292
0,28 2,31 Tidak
berbeda
2003 1.258.411 1.258.411
2004 1.351.024 1.334.255
2005 1.413.690 1.410.100
2006 1.478.530 1.487.468
2007 1.589.749 1.567.376
10 Sektor Lain (Rp
Juta)
mean 1.418.281 1.411.522
0,09 2,31 Tidak
berbeda
2003 3.511 3.511
2004 3.750 3.725
2005 3.990 3.940
2006 4.230 4.158
2007 4.470 4.373
11 Lahan
Permukiman dan
Perkotaan (ha)
mean 3.990 3.941
0,21 2,31 Tidak
berbeda
2003 2.477 2.477
2004 3.105 2.997
2005 3.733 3.517
2006 4.360 4.037
2007 4.988 4.557
12 Lahan Budidaya
Pesisir (Tambak)
(ha)
mean 3.733 3.517
0,37 2,31 Tidak
berbeda
Sumber: Data historis dan simulasi model (2010)





A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
277
Lampir an 9 Data simulasi skenar io model dinamik
Tabel Lampiran 15 Perbandingan skenario untuk perkembangan populasi
Skenario
Tahun
Sangat Pesimis Pesimis Moderat Optimis
-------------------------------- orang ---------------------------------
2003 533.298 533.298 533.298 533.298
2004 543.967 543.967 543.967 543.967
2005 554.749 554.749 554.749 554.749
2006 565.530 565.530 565.530 565.530
2007 575.867 575.867 575.867 575.867
2008 585.225 585.225 585.225 585.225
2009 593.277 593.277 593.277 593.277
2010 599.974 599.974 599.974 599.974
2011 605.459 605.459 605.459 605.459
2012 609.951 609.951 609.951 609.951
2013 613.690 613.690 613.690 613.690
2014 616.901 616.901 616.901 616.901
2015 619.749 619.749 619.750 619.750
2016 622.351 622.352 622.353 622.353
2017 624.789 624.790 624.792 624.793
2018 627.116 627.118 627.122 627.124
2019 629.371 629.374 629.382 629.386
2020 631.578 631.584 631.597 631.607
2021 633.768 633.778 633.803 633.903
2022 636.044 636.076 636.257 636.831
2023 638.575 638.677 639.722 642.672
2024 641.554 641.788 645.876 653.885
2025 645.087 645.519 656.760 670.403
2026 649.137 649.839 672.812 690.936
2027 653.606 654.757 692.990 713.983
2028 658.388 660.366 715.997 738.298
2029 663.382 666.720 740.310 763.761


A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
278
Tabel Lampiran 16 Perbandingan skenario untuk perkembangan angkatan kerja
Skenario
Tahun
Sangat Pesimis Pesimis Moderat Optimis
-------------------------------- orang ---------------------------------
2003 260.548 260.548 260.548 260.548
2004 265.760 265.760 265.760 265.760
2005 271.028 271.028 271.028 271.028
2006 276.296 276.296 276.296 276.296
2007 281.346 281.346 281.346 281.346
2008 285.917 285.917 285.917 285.917
2009 289.851 289.851 289.851 289.851
2010 293.123 293.123 293.123 293.123
2011 295.803 295.803 295.803 295.803
2012 297.998 297.998 297.998 297.998
2013 299.824 299.824 299.824 299.824
2014 301.393 301.393 301.393 301.393
2015 302.785 302.785 302.785 302.785
2016 304.056 304.056 304.057 304.057
2017 305.247 305.247 305.248 305.249
2018 306.384 306.385 306.387 306.388
2019 307.485 307.487 307.491 307.493
2020 308.564 308.567 308.573 308.578
2021 309.634 309.639 309.651 309.700
2022 310.745 310.761 310.850 311.130
2023 311.982 312.032 312.543 313.984
2024 313.437 313.552 315.549 319.462
2025 315.164 315.375 320.867 327.532
2026 317.142 317.485 328.709 337.563
2027 319.326 319.888 338.567 348.823
2028 321.662 322.628 349.807 360.703
2029 324.102 325.733 361.686 373.143



A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
279
Tabel Lampiran 17 Perbandingan skenario untuk perkembangan lapangan kerja
Skenario
Tahun
Sangat Pesimis Pesimis Moderat Optimis
-------------------------------- orang ---------------------------------
2003 248.607 248.607 248.607 248.607
2004 250.621 250.621 250.621 250.621
2005 250.868 250.868 250.868 250.868
2006 251.140 251.140 251.140 251.140
2007 251.442 251.442 251.442 251.442
2008 251.778 251.778 251.778 251.778
2009 252.089 252.089 252.089 252.089
2010 252.399 252.399 252.399 252.399
2011 252.724 252.724 252.724 252.724
2012 253.112 253.112 253.113 253.113
2013 253.753 253.754 253.755 253.755
2014 254.618 254.620 254.623 254.624
2015 255.651 255.656 255.665 255.669
2016 256.865 256.878 256.901 256.912
2017 258.274 258.303 258.340 258.364
2018 260.007 260.122 260.224 260.328
2019 263.890 264.056 264.294 264.601
2020 268.447 268.679 269.331 270.128
2021 272.886 273.167 274.713 276.893
2022 276.787 277.054 279.719 283.682
2023 279.623 279.799 284.435 291.947
2024 281.802 281.949 291.622 301.872
2025 283.733 283.934 300.746 313.789
2026 285.500 285.849 312.059 325.783
2027 287.173 287.806 323.679 338.104
2028 288.813 289.927 336.019 350.758
2029 290.473 292.305 348.624 364.374








A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
280
Tabel Lampiran 18 Perbandingan skenario untuk perkembangan pengangguran
Skenario
Tahun
Sangat Pesimis Pesimis Moderat Optimis
-------------------------------- orang ---------------------------------
2003 11.941 11.941 11.941 11.941
2004 15.139 15.139 15.139 15.139
2005 20.160 20.160 20.160 20.160
2006 25.156 25.156 25.156 25.156
2007 29.904 29.904 29.904 29.904
2008 34.139 34.139 34.139 34.139
2009 37.762 37.762 37.762 37.762
2010 40.725 40.725 40.725 40.725
2011 43.079 43.079 43.079 43.079
2012 44.886 44.885 44.885 44.885
2013 46.071 46.071 46.070 46.069
2014 46.775 46.773 46.770 46.769
2015 47.134 47.128 47.119 47.116
2016 47.191 47.178 47.156 47.145
2017 46.973 46.945 46.909 46.885
2018 46.377 46.263 46.163 46.060
2019 43.595 43.431 43.197 42.892
2020 40.116 39.887 39.242 38.450
2021 36.747 36.471 34.938 32.807
2022 33.958 33.707 31.131 27.448
2023 32.359 32.234 28.107 22.037
2024 31.635 31.603 23.927 17.590
2025 31.431 31.441 20.121 13.743
2026 31.642 31.637 16.650 11.781
2027 32.153 32.082 14.889 10.720
2028 32.849 32.702 13.788 9.945
2029 33.630 33.428 13.062 8.769








A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
281
Tabel Lampiran 19 Perbandingan skenario untuk perkembangan tingkat
pengangguran
Skenario
Tahun
Sangat Pesimis Pesimis Moderat Optimis
-------------------------------- % ---------------------------------
2003 4,58 4,58 4,58 4,58
2004 5,70 5,70 5,70 5,70
2005 7,44 7,44 7,44 7,44
2006 9,10 9,10 9,10 9,10
2007 10,63 10,63 10,63 10,63
2008 11,94 11,94 11,94 11,94
2009 13,03 13,03 13,03 13,03
2010 13,89 13,89 13,89 13,89
2011 14,56 14,56 14,56 14,56
2012 15,06 15,06 15,06 15,06
2013 15,37 15,37 15,37 15,37
2014 15,52 15,52 15,52 15,52
2015 15,57 15,56 15,56 15,56
2016 15,52 15,52 15,51 15,51
2017 15,39 15,38 15,37 15,36
2018 15,14 15,10 15,07 15,03
2019 14,18 14,12 14,05 13,95
2020 13,00 12,93 12,72 12,46
2021 11,87 11,78 11,28 10,59
2022 10,93 10,85 10,01 8,82
2023 10,37 10,33 8,99 7,02
2024 10,09 10,08 7,58 5,51
2025 9,97 9,97 6,27 4,20
2026 9,98 9,96 5,07 3,49
2027 10,07 10,03 4,40 3,07
2028 10,21 10,14 3,94 2,76
2029 10,38 10,26 3,61 2,35





A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
282
Tabel Lampiran 20 Perbandingan skenario untuk perkembangan imigrasi
Skenario
Tahun
Sangat Pesimis Pesimis Moderat Optimis
-------------------------------- orang ---------------------------------
2003 8.321 8.321 8.321 8.321
2004 8.321 8.321 8.321 8.321
2005 8.207 8.207 8.207 8.207
2006 7.839 7.839 7.839 7.839
2007 7.249 7.249 7.249 7.249
2008 6.599 6.599 6.599 6.599
2009 5.993 5.993 5.993 5.993
2010 5.508 5.508 5.508 5.508
2011 5.128 5.128 5.128 5.128
2012 4.879 4.879 4.879 4.879
2013 4.716 4.716 4.717 4.717
2014 4.617 4.617 4.617 4.618
2015 4.559 4.559 4.559 4.560
2016 4.527 4.527 4.528 4.528
2017 4.511 4.512 4.513 4.514
2018 4.507 4.508 4.510 4.512
2019 4.510 4.511 4.515 4.519
2020 4.530 4.533 4.541 4.626
2021 4.631 4.650 4.797 5.186
2022 4.817 4.867 5.582 7.564
2023 5.103 5.185 7.502 10.548
2024 5.392 5.506 10.299 12.808
2025 5.635 5.787 12.616 14.467
2026 5.825 6.117 14.341 15.723
2027 5.965 6.491 15.661 16.747
2028 6.058 6.878 16.724 17.638





A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
283
Tabel Lampiran 21 Perbandingan skenario untuk perkembangan emigrasi
Skenario
Tahun
Sangat Pesimis Pesimis Moderat Optimis
-------------------------------- orang ---------------------------------
2003 3.305 3.305 3.305 3.305
2004 3.305 3.305 3.305 3.305
2005 3.305 3.305 3.305 3.305
2006 3.497 3.497 3.497 3.497
2007 3.995 3.995 3.995 3.995
2008 4.750 4.750 4.750 4.750
2009 5.585 5.585 5.585 5.585
2010 6.382 6.382 6.382 6.382
2011 7.054 7.054 7.054 7.054
2012 7.606 7.606 7.606 7.606
2013 8.010 8.010 8.010 8.010
2014 8.309 8.308 8.308 8.308
2015 8.526 8.526 8.525 8.525
2016 8.686 8.686 8.685 8.685
2017 8.807 8.806 8.806 8.805
2018 8.900 8.899 8.898 8.898
2019 8.974 8.973 8.971 8.969
2020 9.035 9.033 9.030 9.026
2021 9.073 9.071 9.062 8.977
2022 9.027 9.008 8.861 8.473
2023 8.894 8.844 8.129 6.148
2024 8.659 8.578 6.262 3.221
2025 8.423 8.310 3.525 1.041
2026 8.237 8.087 1.294 -
2027 8.110 7.823 - -
2028 8.043 7.524 - -









A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
284
Tabel Lampiran 22 Perbandingan skenario untuk perkembangan aktivitas
ekonomi (PDRB atas dasar harga konstan tahun 2000)
Skenario
Tahun
Sangat Pesimis Pesimis Moderat Optimis
-------------------------------- Rp juta ---------------------------------
2003 2.628.969 2.628.969 2.628.969 2.628.969
2004 2.792.961 2.792.961 2.792.961 2.792.961
2005 2.956.954 2.956.954 2.956.954 2.956.954
2006 3.124.749 3.124.749 3.124.749 3.124.749
2007 3.298.882 3.298.882 3.298.882 3.298.882
2008 3.481.139 3.481.139 3.481.139 3.481.139
2009 3.615.479 3.615.479 3.615.479 3.615.479
2010 3.723.990 3.723.990 3.723.990 3.723.990
2011 3.821.678 3.821.678 3.821.678 3.821.678
2012 3.926.862 3.926.907 3.926.956 3.926.971
2013 4.066.624 4.066.802 4.067.006 4.067.076
2014 4.250.910 4.251.419 4.252.095 4.252.361
2015 4.468.786 4.470.033 4.471.921 4.472.737
2016 4.714.025 4.716.767 4.721.312 4.723.389
2017 4.983.378 4.988.847 4.994.073 4.998.607
2018 5.275.513 5.285.483 5.292.021 5.300.891
2019 5.590.207 5.602.528 5.618.254 5.641.306
2020 5.927.949 5.942.810 5.985.238 6.039.689
2021 6.236.861 6.252.853 6.349.395 6.484.161
2022 6.490.586 6.503.867 6.700.698 7.021.449
2023 6.699.680 6.708.007 7.084.887 7.663.231
2024 6.872.825 6.875.758 7.617.748 8.415.275
2025 7.013.094 7.018.330 8.292.827 9.281.364
2026 7.130.376 7.145.810 9.097.889 10.271.715
2027 7.232.524 7.268.522 10.028.630 11.391.985
2028 7.325.750 7.396.410 11.086.930 12.650.903
2029 7.414.885 7.536.966 12.280.190 14.061.514







A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
285
Tabel Lampiran 23 Perbandingan skenario untuk perkembangan investasi
Skenario
Tahun
Sangat Pesimis Pesimis Moderat Optimis
-------------------------------- Rp juta ---------------------------------
2003 188.395 188.395 188.395 188.395
2004 199.727 199.727 199.727 199.727
2005 211.002 211.002 211.002 211.002
2006 223.010 223.010 223.010 223.010
2007 235.789 235.789 235.789 235.789
2008 249.423 249.423 249.423 249.423
2009 264.980 264.980 264.980 264.980
2010 282.868 282.868 282.868 282.868
2011 303.327 303.328 303.328 303.328
2012 328.830 328.842 328.854 328.858
2013 363.984 364.023 364.066 364.080
2014 407.579 407.683 407.824 407.880
2015 455.765 456.021 456.419 456.594
2016 509.682 510.255 511.230 511.683
2017 569.938 571.100 573.203 574.209
2018 637.322 639.465 643.563 645.564
2019 712.673 716.389 723.800 730.190
2020 796.932 803.079 819.089 834.507
2021 868.416 876.593 908.483 949.940
2022 929.610 938.788 1.000.446 1.103.394
2023 991.336 1.001.881 1.118.296 1.288.214
2024 1.053.453 1.066.024 1.305.195 1.509.072
2025 1.117.289 1.133.241 1.525.970 1.768.598
2026 1.183.990 1.204.888 1.787.275 2.072.749
2027 1.254.213 1.283.147 2.094.380 2.428.944
2028 1.328.652 1.370.265 2.453.990 2.845.824
2029 1.407.954 1.467.580 2.875.285 3.333.928








A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
286
Tabel Lampiran 24 Perbandingan skenario untuk perkembangan produk sektor
pertanian
Skenario
Tahun
Sangat Pesimis Pesimis Moderat Optimis
-------------------------------- Rp juta ---------------------------------
2003 431.943 431.943 431.943 431.943
2004 444.215 444.215 444.215 444.215
2005 456.486 456.486 456.486 456.486
2006 468.874 468.874 468.874 468.874
2007 481.455 481.455 481.455 481.455
2008 494.283 494.283 494.283 494.283
2009 507.394 507.394 507.394 507.394
2010 520.816 520.816 520.816 520.816
2011 534.569 534.569 534.569 534.569
2012 548.669 548.669 548.669 548.669
2013 563.132 563.132 563.132 563.132
2014 577.970 577.970 577.970 577.970
2015 593.195 593.195 593.195 593.195
2016 608.818 608.818 608.818 608.818
2017 624.851 624.851 620.425 620.421
2018 641.305 641.305 629.375 629.362
2019 658.192 653.526 636.562 636.542
2020 675.523 662.950 642.585 642.563
2021 693.310 670.450 647.769 647.781
2022 711.565 676.619 652.349 652.481
2023 730.301 681.888 656.535 656.811
2024 749.530 686.544 660.532 660.856
2025 763.638 690.783 664.382 664.655
2026 774.360 694.736 668.092 668.225
2027 782.845 698.491 671.661 671.573
2028 789.854 702.112 675.088 674.705
2029 795.893 705.642 678.378 677.634







A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
287
Tabel Lampiran 25 Perbandingan skenario untuk perkembangan produk sektor
perikanan
Skenario
Tahun
Sangat Pesimis Pesimis Moderat Optimis
-------------------------------- Rp juta ---------------------------------
2003 379.555 379.555 379.555 379.555
2004 418.270 418.270 418.270 418.270
2005 456.984 456.984 456.984 456.984
2006 497.015 497.015 497.015 497.015
2007 539.240 539.240 539.240 539.240
2008 584.288 584.288 584.288 584.288
2009 607.124 607.124 607.124 607.124
2010 615.673 615.673 615.673 615.673
2011 615.555 615.555 615.555 615.555
2012 612.237 612.246 612.256 612.260
2013 612.080 612.119 612.170 612.189
2014 617.446 617.565 617.738 617.812
2015 626.468 626.762 627.238 627.454
2016 637.953 638.588 639.691 640.209
2017 651.143 652.374 654.609 655.656
2018 665.572 667.744 671.805 673.724
2019 680.943 684.516 691.338 695.746
2020 697.069 702.639 714.705 724.216
2021 706.593 714.386 735.566 757.058
2022 706.189 716.009 752.561 800.302
2023 697.707 709.521 771.772 855.420
2024 682.838 696.807 807.753 923.578
2025 663.251 679.831 859.406 1.007.471
2026 640.479 660.320 925.252 1.113.642
2027 615.758 639.823 1.004.385 1.240.577
2028 590.069 619.654 1.097.050 1.387.167
2029 564.163 600.696 1.203.556 1.553.855







A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
288
Tabel Lampiran 26 Perbandingan skenario untuk perkembangan produk
sektor industri
Skenario
Tahun
Sangat Pesimis Pesimis Moderat Optimis
-------------------------------- Rp juta ---------------------------------
2003 371.899 371.899 371.899 371.899
2004 398.977 398.977 398.977 398.977
2005 426.055 426.055 426.055 426.055
2006 453.790 453.790 453.790 453.790
2007 482.621 482.621 482.621 482.621
2008 512.854 512.854 512.854 512.854
2009 537.800 537.800 537.800 537.800
2010 560.506 560.506 560.506 560.506
2011 583.004 583.004 583.004 583.004
2012 608.097 608.105 608.113 608.116
2013 640.339 640.369 640.402 640.413
2014 681.418 681.503 681.613 681.655
2015 729.400 729.609 729.918 730.050
2016 783.281 783.745 784.503 784.847
2017 842.619 843.556 845.197 845.969
2018 907.323 909.054 912.266 913.814
2019 977.510 980.502 986.307 990.488
2020 1.053.429 1.058.338 1.069.787 1.079.910
2021 1.125.027 1.132.040 1.154.265 1.179.907
2022 1.187.067 1.195.784 1.237.803 1.299.879
2023 1.241.530 1.251.804 1.329.560 1.442.347
2024 1.289.972 1.301.974 1.453.000 1.608.607
2025 1.333.944 1.348.323 1.606.986 1.799.175
2026 1.374.923 1.392.691 1.789.344 2.015.185
2027 1.414.098 1.437.049 1.999.633 2.258.609
2028 1.452.441 1.483.398 2.238.581 2.532.057
2029 1.490.746 1.533.310 2.508.210 2.838.822







A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
289
Tabel Lampiran 27 Perbandingan skenario untuk perkembangan produk
sektor angkutan laut dan penyeberangan
Skenario
Tahun
Sangat Pesimis Pesimis Moderat Optimis
-------------------------------- Rp juta ---------------------------------
2003 123.704 123.704 123.704 123.704
2004 131.385 131.385 131.385 131.385
2005 139.066 139.066 139.066 139.066
2006 146.905 146.905 146.905 146.905
2007 155.010 155.010 155.010 155.010
2008 163.454 163.454 163.454 163.454
2009 170.363 170.363 170.363 170.363
2010 176.698 176.698 176.698 176.698
2011 183.047 183.047 183.047 183.047
2012 190.308 190.311 190.315 190.315
2013 200.124 200.136 200.148 200.153
2014 213.339 213.373 213.417 213.434
2015 229.381 229.466 229.591 229.644
2016 247.851 248.040 248.350 248.490
2017 268.554 268.941 269.619 269.937
2018 291.447 292.169 293.466 294.112
2019 316.571 317.829 320.135 321.882
2020 344.031 346.073 350.666 354.930
2021 369.638 372.519 381.603 392.476
2022 391.091 394.618 412.046 438.604
2023 409.062 413.068 445.723 494.554
2024 424.078 428.494 492.647 561.083
2025 436.716 441.666 553.057 638.677
2026 447.502 453.349 626.172 728.141
2027 457.014 464.400 712.038 830.695
2028 465.735 475.609 811.300 947.899
2029 474.035 487.566 925.240 1.081.687







A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
290
Tabel Lampiran 28 Perbandingan skenario untuk perkembangan produk
sektor pariwisata
Skenario
Tahun
Sangat Pesimis Pesimis Moderat Optimis
-------------------------------- Rp juta ---------------------------------
2003 63.457 63.457 63.457 63.457
2004 65.860 65.860 65.860 65.860
2005 68.263 68.263 68.263 68.263
2006 70.697 70.697 70.697 70.697
2007 73.181 73.181 73.181 73.181
2008 75.729 75.729 75.729 75.729
2009 77.827 77.827 77.827 77.827
2010 79.711 79.711 79.711 79.711
2011 81.538 81.538 81.538 81.538
2012 83.512 83.513 83.513 83.514
2013 85.953 85.955 85.958 85.958
2014 88.966 88.972 88.980 88.982
2015 92.399 92.413 92.434 92.443
2016 96.160 96.191 96.242 96.265
2017 100.196 100.257 100.364 100.414
2018 104.477 104.587 104.791 104.889
2019 108.988 109.174 109.533 109.788
2020 113.724 114.020 114.705 115.303
2021 118.104 118.519 119.807 121.272
2022 121.852 122.360 124.724 128.153
2023 125.096 125.687 129.932 136.011
2024 127.941 128.621 136.602 144.826
2025 130.487 131.286 144.615 154.528
2026 132.825 133.791 153.770 165.072
2027 135.028 136.244 163.936 176.446
2028 137.151 138.751 175.032 188.662
2029 139.241 141.390 187.032 201.754







A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
291
Tabel Lampiran 29 Perbandingan skenario untuk perkembangan produk
sektor lain
Skenario
Tahun
Sangat Pesimis Pesimis Moderat Optimis
-------------------------------- Rp juta ---------------------------------
2003 1.258.411 1.258.411 1.258.411 1.258.411
2004 1.334.255 1.334.255 1.334.255 1.334.255
2005 1.410.100 1.410.100 1.410.100 1.410.100
2006 1.487.468 1.487.468 1.487.468 1.487.468
2007 1.567.376 1.567.376 1.567.376 1.567.376
2008 1.650.531 1.650.531 1.650.531 1.650.531
2009 1.714.972 1.714.972 1.714.972 1.714.972
2010 1.770.586 1.770.586 1.770.586 1.770.586
2011 1.823.966 1.823.966 1.823.966 1.823.966
2012 1.884.038 1.884.063 1.884.089 1.884.097
2013 1.964.996 1.965.091 1.965.196 1.965.230
2014 2.071.770 2.072.035 2.072.377 2.072.508
2015 2.197.943 2.198.589 2.199.545 2.199.952
2016 2.339.962 2.341.384 2.343.708 2.344.761
2017 2.496.015 2.498.868 2.503.860 2.506.209
2018 2.665.390 2.670.624 2.680.318 2.684.991
2019 2.848.004 2.856.981 2.874.378 2.886.859
2020 3.044.173 3.058.790 3.092.789 3.122.765
2021 3.224.189 3.244.939 3.310.386 3.385.667
2022 3.372.821 3.398.477 3.521.215 3.702.029
2023 3.495.983 3.526.039 3.751.365 4.078.087
2024 3.598.467 3.633.318 4.067.215 4.516.325
2025 3.685.059 3.726.442 4.464.383 5.016.859
2026 3.760.286 3.810.923 4.935.259 5.581.449
2027 3.827.782 3.892.514 5.476.977 6.214.087
2028 3.890.500 3.976.886 6.089.879 6.920.412
2029 3.950.807 4.068.361 6.777.775 7.707.762







A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
292
Tabel Lampiran 30 Perbandingan skenario untuk perkembangan PDRB
per kapita (berdasarkan harga konstan tahun 2000)
Skenario
Tahun
Sangat Pesimis Pesimis Moderat Optimis
----------------------------- Rp juta/orang -----------------------------
2003 4,93 4,93 4,93 4,93
2004 5,13 5,13 5,13 5,13
2005 5,33 5,33 5,33 5,33
2006 5,53 5,53 5,53 5,53
2007 5,73 5,73 5,73 5,73
2008 5,95 5,95 5,95 5,95
2009 6,09 6,09 6,09 6,09
2010 6,21 6,21 6,21 6,21
2011 6,31 6,31 6,31 6,31
2012 6,44 6,44 6,44 6,44
2013 6,63 6,63 6,63 6,63
2014 6,89 6,89 6,89 6,89
2015 7,21 7,21 7,22 7,22
2016 7,57 7,58 7,59 7,59
2017 7,98 7,98 7,99 8,00
2018 8,41 8,43 8,44 8,45
2019 8,88 8,90 8,93 8,96
2020 9,39 9,41 9,48 9,56
2021 9,84 9,87 10,02 10,23
2022 10,20 10,22 10,53 11,03
2023 10,49 10,50 11,07 11,92
2024 10,71 10,71 11,79 12,87
2025 10,87 10,87 12,63 13,84
2026 10,98 11,00 13,52 14,87
2027 11,07 11,10 14,47 15,96
2028 11,13 11,20 15,48 17,14
2029 11,18 11,30 16,59 18,41







A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
293
Tabel Lampiran 31 Perbandingan skenario untuk perkembangan lahan
pertanian
Skenario
Tahun
Sangat Pesimis Pesimis Moderat Optimis
-------------------------------- hektar ---------------------------------
2003 105.223 105.223 105.223 105.223
2004 105.469 105.469 105.469 105.469
2005 105.652 105.652 105.652 105.652
2006 105.772 105.772 105.772 105.772
2007 105.828 105.828 105.828 105.828
2008 105.841 105.841 105.841 105.841
2009 105.825 105.825 105.825 105.825
2010 105.787 105.787 105.787 105.787
2011 105.736 105.733 105.727 105.724
2012 105.685 105.653 105.589 105.557
2013 105.629 105.517 105.292 105.179
2014 105.562 105.292 104.750 104.480
2015 105.484 104.960 103.912 103.388
2016 105.390 104.508 102.746 101.864
2017 105.279 103.931 101.236 99.888
2018 105.153 103.228 99.379 97.454
2019 105.011 102.397 97.171 94.558
2020 104.852 101.440 94.617 91.204
2021 104.677 100.360 91.724 87.401
2022 104.494 99.171 88.517 83.173
2023 104.312 97.896 85.037 78.556
2024 104.137 96.551 81.306 73.574
2025 103.971 95.148 77.324 68.247
2026 103.813 93.859 73.587 63.257
2027 103.661 92.746 70.273 58.860
2028 103.513 91.816 67.403 55.094
2029 103.367 91.048 64.929 51.896







A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
294
Tabel Lampiran 32 Perbandingan skenario untuk perkembangan lahan
budidaya pesisir (tambak)
Skenario
Tahun
Sangat Pesimis Pesimis Moderat Optimis
-------------------------------- hektar ---------------------------------
2003 2.477 2.477 2.477 2.477
2004 2.997 2.997 2.997 2.997
2005 3.517 3.517 3.517 3.517
2006 4.037 4.037 4.037 4.037
2007 4.557 4.557 4.557 4.557
2008 5.077 5.077 5.077 5.077
2009 5.638 5.526 5.398 5.358
2010 6.132 5.921 5.680 5.605
2011 6.547 6.266 5.936 5.832
2012 6.887 6.564 6.170 6.041
2013 7.158 6.819 6.382 6.235
2014 7.372 7.033 6.573 6.412
2015 7.542 7.214 6.743 6.574
2016 7.673 7.366 6.896 6.721
2017 7.776 7.494 7.032 6.854
2018 7.855 7.600 7.154 6.975
2019 7.917 7.689 7.262 7.085
2020 7.964 7.762 7.359 7.185
2021 8.001 7.824 7.446 7.275
2022 8.030 7.875 7.523 7.358
2023 8.052 7.917 7.591 7.432
2024 8.069 7.953 7.651 7.499
2025 8.082 7.982 7.705 7.560
2026 8.092 8.006 7.752 7.615
2027 8.100 8.027 7.794 7.665
2028 8.106 8.044 7.832 7.709
2029 8.111 8.058 7.865 7.750





A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
295
Tabel Lampiran 33 Perbandingan skenario untuk perkembangan lahan
permukiman
Skenario
Tahun
Sangat Pesimis Pesimis Moderat Optimis
-------------------------------- hektar ---------------------------------
2003 1.531 1.531 1.531 1.531
2004 1.606 1.606 1.606 1.606
2005 1.681 1.681 1.681 1.681
2006 1.757 1.757 1.757 1.757
2007 1.829 1.829 1.829 1.829
2008 1.894 1.894 1.894 1.894
2009 1.951 1.951 1.951 1.951
2010 1.998 1.998 1.998 1.998
2011 2.036 2.036 2.036 2.036
2012 2.068 2.068 2.068 2.068
2013 2.094 2.094 2.094 2.094
2014 2.116 2.116 2.116 2.116
2015 2.136 2.136 2.136 2.136
2016 2.154 2.154 2.154 2.154
2017 2.171 2.171 2.171 2.171
2018 2.188 2.188 2.188 2.188
2019 2.204 2.204 2.204 2.204
2020 2.219 2.219 2.219 2.219
2021 2.234 2.234 2.235 2.235
2022 2.250 2.250 2.252 2.256
2023 2.268 2.269 2.276 2.297
2024 2.289 2.290 2.319 2.375
2025 2.314 2.317 2.395 2.491
2026 2.342 2.347 2.508 2.634
2027 2.373 2.381 2.649 2.796
2028 2.407 2.420 2.810 2.966
2029 2.442 2.465 2.980 3.144







A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
296
Tabel Lampiran 34 Perbandingan skenario untuk perkembangan lahan
bisnis dan industri
Skenario
Tahun
Sangat Pesimis Pesimis Moderat Optimis
-------------------------------- hektar ---------------------------------
2003 880 880 880 880
2004 940 940 940 940
2005 999 999 999 999
2006 1.060 1.060 1.060 1.060
2007 1.124 1.124 1.124 1.124
2008 1.190 1.190 1.190 1.190
2009 1.245 1.245 1.245 1.245
2010 1.295 1.295 1.295 1.295
2011 1.344 1.344 1.344 1.344
2012 1.400 1.400 1.400 1.400
2013 1.471 1.471 1.471 1.471
2014 1.561 1.561 1.561 1.561
2015 1.667 1.667 1.668 1.668
2016 1.785 1.786 1.788 1.788
2017 1.916 1.918 1.921 1.923
2018 2.058 2.062 2.069 2.072
2019 2.212 2.219 2.232 2.241
2020 2.379 2.390 2.415 2.438
2021 2.537 2.552 2.601 2.658
2022 2.673 2.693 2.785 2.922
2023 2.793 2.816 2.987 3.235
2024 2.900 2.926 3.258 3.601
2025 2.997 3.028 3.597 4.020
2026 3.087 3.126 3.998 4.495
2027 3.173 3.223 4.461 5.031
2028 3.257 3.325 4.987 5.632
2029 3.341 3.435 5.580 6.307







A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
297
Tabel Lampiran 35 Perbandingan skenario untuk perkembangan lahan
prasarana
Skenario
Tahun
Sangat Pesimis Pesimis Moderat Optimis
-------------------------------- hektar ---------------------------------
2003 890 890 890 890
2004 967 967 967 967
2005 1.045 1.045 1.045 1.045
2006 1.123 1.123 1.123 1.123
2007 1.200 1.200 1.200 1.200
2008 1.274 1.274 1.274 1.274
2009 1.336 1.336 1.336 1.336
2010 1.389 1.389 1.389 1.389
2011 1.437 1.437 1.437 1.437
2012 1.481 1.481 1.481 1.481
2013 1.528 1.528 1.528 1.528
2014 1.580 1.580 1.581 1.581
2015 1.637 1.637 1.637 1.637
2016 1.697 1.698 1.698 1.699
2017 1.762 1.763 1.764 1.765
2018 1.830 1.832 1.835 1.836
2019 1.903 1.906 1.911 1.915
2020 1.981 1.986 1.996 2.005
2021 2.055 2.061 2.081 2.104
2022 2.121 2.129 2.167 2.224
2023 2.182 2.191 2.265 2.379
2024 2.239 2.251 2.404 2.581
2025 2.296 2.310 2.594 2.832
2026 2.352 2.371 2.835 3.124
2027 2.409 2.435 3.121 3.454
2028 2.466 2.503 3.446 3.816
2029 2.525 2.579 3.805 4.213








A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
298
Tabel Lampiran 36 Perbandingan skenario untuk perkembangan lahan
permukiman dan perkotaan
Skenario
Tahun
Sangat Pesimis Pesimis Moderat Optimis
-------------------------------- hektar ---------------------------------
2003 3.511 3.511 3.511 3.511
2004 3.725 3.725 3.725 3.725
2005 3.940 3.940 3.940 3.940
2006 4.158 4.158 4.158 4.158
2007 4.373 4.373 4.373 4.373
2008 4.581 4.581 4.581 4.581
2009 4.757 4.757 4.757 4.757
2010 4.910 4.910 4.910 4.910
2011 5.047 5.047 5.047 5.047
2012 5.181 5.181 5.181 5.181
2013 5.328 5.328 5.328 5.328
2014 5.495 5.495 5.496 5.496
2015 5.680 5.680 5.681 5.682
2016 5.879 5.881 5.883 5.884
2017 6.094 6.097 6.102 6.104
2018 6.323 6.329 6.339 6.344
2019 6.569 6.578 6.596 6.609
2020 6.832 6.847 6.883 6.914
2021 7.079 7.100 7.169 7.249
2022 7.297 7.324 7.456 7.654
2023 7.495 7.528 7.780 8.163
2024 7.680 7.720 8.234 8.810
2025 7.858 7.908 8.839 9.595
2026 8.033 8.096 9.593 10.506
2027 8.207 8.292 10.483 11.533
2028 8.383 8.502 11.495 12.667
2029 8.561 8.732 12.617 13.917





A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
299
Tabel Lampiran 37 Perbandingan skenario untuk perkembangan lahan
budidaya total (terpakai)
Skenario
Tahun
Sangat Pesimis Pesimis Moderat Optimis
-------------------------------- hektar ---------------------------------
2003 111.386 111.386 111.386 111.386
2004 112.370 112.370 112.370 112.370
2005 113.293 113.293 113.293 113.293
2006 114.155 114.155 114.155 114.155
2007 114.951 114.951 114.951 114.951
2008 115.697 115.697 115.697 115.697
2009 116.422 116.310 116.181 116.141
2010 117.035 116.824 116.583 116.508
2011 117.541 117.257 116.922 116.814
2012 117.968 117.614 117.155 116.994
2013 118.335 117.883 117.221 116.961
2014 118.654 118.045 117.043 116.612
2015 118.934 118.083 116.565 115.872
2016 119.176 117.988 115.758 114.702
2017 119.387 117.759 114.607 113.084
2018 119.574 117.399 113.113 111.015
2019 119.743 116.911 111.277 108.499
2020 119.900 116.302 109.110 105.554
2021 120.013 115.540 106.595 102.182
2022 120.081 114.631 103.756 98.446
2023 120.124 113.607 100.673 94.417
2024 120.155 112.493 97.461 90.152
2025 120.185 111.312 94.142 85.676
2026 120.217 110.240 91.211 81.657
2027 120.252 109.348 88.833 78.341
2028 120.290 108.649 87.018 75.758
2029 120.330 108.130 85.704 73.856





A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
300
Tabel Lampiran 38 Perbandingan skenario untuk perkembangan
penggunaan lahan tidak sesuai kemampuan
Skenario
Tahun
Sangat Pesimis Pesimis Moderat Optimis
-------------------------------- hektar ---------------------------------
2003 37.966 37.966 37.966 37.966
2004 38.948 38.948 38.948 38.948
2005 39.870 39.870 39.870 39.870
2006 40.730 40.730 40.730 40.730
2007 41.525 41.525 41.525 41.525
2008 42.269 42.269 42.269 42.269
2009 42.993 42.881 42.753 42.713
2010 43.606 43.395 43.154 43.078
2011 44.028 43.744 43.408 43.301
2012 44.371 44.017 43.558 43.398
2013 44.654 44.203 43.541 43.281
2014 44.890 44.281 43.280 42.849
2015 45.086 44.235 42.718 42.025
2016 45.245 44.058 41.827 40.772
2017 45.373 43.745 40.593 39.070
2018 45.477 43.302 39.016 36.918
2019 45.563 42.731 37.096 34.319
2020 45.636 42.038 34.846 31.290
2021 45.666 41.193 32.248 27.835
2022 45.650 40.200 29.326 24.015
2023 45.610 39.093 26.159 19.902
2024 45.558 37.896 22.863 15.553
2025 45.504 36.631 19.460 10.991
2026 45.452 35.475 16.443 6.887
2027 45.404 34.500 13.980 3.484
2028 45.358 33.717 12.078 815
2029 45.398 33.197 10.761 -







A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
301
Tabel Lampiran 39 Perbandingan skenario untuk perkembangan
penyediaan lahan untuk kawasan lindung darat
Skenario
Tahun
Sangat Pesimis Pesimis Moderat Optimis
-------------------------------- hektar ---------------------------------
2003 - - - -
2004 - - - -
2005 - - - -
2006 - - - -
2007 - - - -
2008 - - - -
2009 - - - -
2010 - 9 27 36
2011 - 90 270 360
2012 - 273 820 1.094
2013 - 586 1.759 2.346
2014 - 1.030 3.090 4.120
2015 - 1.595 4.785 6.379
2016 - 2.278 6.834 9.112
2017 - 3.074 9.221 12.295
2018 - 3.982 11.947 15.930
2019 - 4.997 14.991 19.987
2020 - 6.109 18.327 24.436
2021 - 7.307 21.921 29.227
2022 - 8.569 25.706 34.274
2023 - 9.886 29.659 39.546
2024 - 11.251 33.753 45.004
2025 - 12.161 36.482 48.642
2026 - 12.767 38.301 51.068
2027 - 13.171 39.514 52.685
2028 - 13.441 40.322 53.763
2029 - 13.620 40.861 54.482







A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
302
Tabel Lampiran 40 Perbandingan skenario untuk perkembangan
perairan perikanan budidaya laut
Skenario
Tahun
Sangat Pesimis Pesimis Moderat Optimis
-------------------------------- hektar ---------------------------------
2003 8.000 8.000 8.000 8.000
2004 8.030 8.030 8.030 8.030
2005 8.060 8.060 8.060 8.060
2006 8.090 8.090 8.090 8.090
2007 8.120 8.120 8.120 8.120
2008 8.150 8.150 8.150 8.150
2009 8.181 8.181 8.181 8.181
2010 8.211 8.211 8.211 8.211
2011 8.241 8.241 8.241 8.241
2012 8.272 8.272 8.272 8.272
2013 8.303 8.303 8.303 8.303
2014 8.333 8.334 8.335 8.336
2015 8.364 8.366 8.369 8.370
2016 8.395 8.399 8.405 8.408
2017 8.427 8.433 8.445 8.451
2018 8.458 8.469 8.490 8.499
2019 8.489 8.507 8.540 8.556
2020 8.521 8.547 8.597 8.624
2021 8.552 8.591 8.664 8.706
2022 8.584 8.637 8.742 8.807
2023 8.616 8.687 8.835 8.941
2024 8.648 8.739 8.949 9.126
2025 8.680 8.796 9.093 9.405
2026 8.712 8.858 9.282 9.857
2027 8.744 8.924 9.522 10.450
2028 8.777 8.994 9.824 11.150
2029 8.809 9.068 10.188 11.940







A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
303
Tabel Lampiran 41 Perbandingan skenario untuk perkembangan
perairan perikanan budidaya laut dan tangkap
Skenario
Tahun
Sangat Pesimis Pesimis Moderat Optimis
-------------------------------- hektar ---------------------------------
2003 88.262 88.262 88.262 88.262
2004 88.292 88.292 88.292 88.292
2005 88.322 88.322 88.322 88.322
2006 88.352 88.352 88.352 88.352
2007 88.382 88.382 88.382 88.382
2008 88.412 88.412 88.412 88.412
2009 88.443 88.443 88.443 88.443
2010 88.473 88.473 88.473 88.473
2011 88.503 88.503 88.503 88.503
2012 88.534 88.534 88.534 88.534
2013 88.565 88.565 88.565 88.565
2014 88.595 88.596 88.597 88.598
2015 88.626 88.628 88.631 88.632
2016 88.657 88.661 88.667 88.670
2017 88.689 88.695 88.707 88.713
2018 88.720 88.731 88.752 88.761
2019 88.751 88.769 88.802 88.818
2020 88.783 88.809 88.859 88.886
2021 88.814 88.853 88.926 88.968
2022 88.846 88.899 89.004 89.069
2023 88.878 88.949 89.097 89.203
2024 88.910 89.001 89.211 89.388
2025 88.942 89.058 89.355 89.667
2026 88.974 89.120 89.544 90.119
2027 89.006 89.186 89.784 90.712
2028 89.039 89.256 90.086 91.412
2029 89.071 89.330 90.450 92.202







A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
304
Tabel Lampiran 42 Perbandingan skenario untuk perkembangan
pemanfaatan umum perairan non-perikanan
Skenario
Tahun
Sangat Pesimis Pesimis Moderat Optimis
-------------------------------- hektar ---------------------------------
2003 39.747 39.747 39.747 39.747
2004 39.846 39.846 39.846 39.846
2005 39.945 39.945 39.945 39.945
2006 40.044 40.044 40.044 40.044
2007 40.143 40.143 40.143 40.143
2008 40.241 40.241 40.241 40.241
2009 40.340 40.340 40.340 40.340
2010 40.439 40.439 40.439 40.439
2011 40.538 40.538 40.538 40.538
2012 40.617 40.617 40.617 40.617
2013 40.682 40.682 40.682 40.682
2014 40.737 40.737 40.737 40.737
2015 40.787 40.787 40.787 40.787
2016 40.832 40.832 40.832 40.832
2017 40.875 40.875 40.875 40.875
2018 40.916 40.916 40.916 40.916
2019 40.956 40.956 40.956 40.956
2020 40.995 40.995 40.995 40.995
2021 41.034 41.034 41.034 41.034
2022 41.072 41.072 41.072 41.072
2023 41.110 41.110 41.110 41.110
2024 41.148 41.148 41.148 41.148
2025 41.185 41.185 41.185 41.185
2026 41.223 41.223 41.222 41.222
2027 41.260 41.260 41.259 41.258
2028 41.298 41.298 41.296 41.294
2029 41.335 41.335 41.332 41.330







A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
305
Tabel Lampiran 43 Perbandingan skenario untuk perkembangan total
pemanfaatan umum perairan
Skenario
Tahun
Sangat Pesimis Pesimis Moderat Optimis
-------------------------------- hektar ---------------------------------
2003 128.009 128.009 128.009 128.009
2004 128.138 128.138 128.138 128.138
2005 128.267 128.267 128.267 128.267
2006 128.396 128.396 128.396 128.396
2007 128.525 128.525 128.525 128.525
2008 128.654 128.654 128.654 128.654
2009 128.783 128.783 128.783 128.783
2010 128.912 128.912 128.912 128.912
2011 129.042 129.042 129.042 129.042
2012 129.151 129.151 129.151 129.151
2013 129.246 129.246 129.247 129.247
2014 129.333 129.333 129.334 129.335
2015 129.413 129.415 129.417 129.419
2016 129.490 129.493 129.499 129.503
2017 129.564 129.570 129.582 129.588
2018 129.636 129.647 129.668 129.678
2019 129.707 129.725 129.758 129.774
2020 129.778 129.805 129.854 129.881
2021 129.848 129.887 129.959 130.001
2022 129.918 129.971 130.076 130.141
2023 129.988 130.059 130.207 130.313
2024 130.057 130.149 130.358 130.535
2025 130.127 130.243 130.540 130.851
2026 130.197 130.342 130.766 131.341
2027 130.267 130.446 131.044 131.970
2028 130.337 130.554 131.382 132.706
2029 130.407 130.665 131.782 133.532







A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
306
Tabel Lampiran 44 Perbandingan skenario untuk perkembangan
konversi perairan terumbu karang dan padang lamun
Skenario
Tahun
Sangat Pesimis Pesimis Moderat Optimis
-------------------------------- hektar ---------------------------------
2003 - - - -
2004 - - - -
2005 - - - -
2006 - - - -
2007 - - - -
2008 5 2 1 0
2009 16 5 2 1
2010 31 9 4 3
2011 52 15 6 5
2012 79 22 9 7
2013 110 31 13 10
2014 146 42 17 13
2015 188 54 22 17
2016 234 67 28 21
2017 286 82 34 26
2018 343 98 40 31
2019 405 116 48 37
2020 472 135 56 43
2021 544 155 64 49
2022 621 177 73 56
2023 703 201 83 64
2024 790 226 93 72
2025 881 252 104 80
2026 978 279 115 89
2027 1.080 309 127 98
2028 1.186 339 140 108
2029 1.298 371 153 118







A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
307
Tabel Lampiran 45 Perbandingan skenario untuk perkembangan upaya
penyediaan kawasan konservasi perairan
Skenario
Tahun
Sangat Pesimis Pesimis Moderat Optimis
-------------------------------- hektar ---------------------------------
2003 - - - -
2004 - - - -
2005 - - - -
2006 - - - -
2007 - - - -
2008 - - - -
2009 - - - -
2010 - 1 2 3
2011 - 8 24 32
2012 - 24 73 97
2013 - 52 156 208
2014 - 91 274 365
2015 - 141 424 565
2016 - 202 605 806
2017 - 272 816 1.088
2018 - 353 1.057 1.410
2019 - 442 1.327 1.769
2020 - 541 1.622 2.163
2021 - 647 1.940 2.587
2022 - 758 2.275 3.034
2023 - 875 2.625 3.500
2024 - 996 2.988 3.983
2025 - 1.076 3.229 4.305
2026 - 1.130 3.390 4.520
2027 - 1.166 3.497 4.663
2028 - 1.190 3.569 4.759
2029 - 1.206 3.617 4.822







A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
308
Tabel Lampiran 46 Perbandingan skenario untuk perkembangan
inkonsistensi tata ruang darat dan perairan
Skenario
Tahun
Sangat Pesimis Pesimis Moderat Optimis
-------------------------------- hektar ---------------------------------
2003 37.973 37.973 37.973 37.973
2004 38.955 38.955 38.955 38.955
2005 39.877 39.877 39.877 39.877
2006 40.737 40.737 40.737 40.737
2007 41.532 41.532 41.532 41.532
2008 42.282 42.278 42.277 42.277
2009 43.016 42.893 42.762 42.721
2010 43.645 43.411 43.164 43.088
2011 44.087 43.766 43.422 43.313
2012 44.457 44.046 43.574 43.412
2013 44.771 44.241 43.561 43.298
2014 45.044 44.330 43.304 42.869
2015 45.281 44.296 42.747 42.049
2016 45.487 44.132 41.862 40.800
2017 45.666 43.834 40.634 39.103
2018 45.827 43.407 39.064 36.956
2019 45.975 42.854 37.151 34.363
2020 46.115 42.180 34.909 31.340
2021 46.217 41.355 32.319 27.891
2022 46.278 40.385 29.406 24.079
2023 46.320 39.301 26.248 19.973
2024 46.355 38.129 22.963 15.632
2025 46.393 36.890 19.571 11.079
2026 46.438 35.762 16.566 6.983
2027 46.491 34.815 14.114 3.590
2028 46.552 34.064 12.225 930
2029 46.703 33.575 10.921 118







A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
309
Tabel Lampiran 47 Perbandingan skenario untuk perkembangan rente ruang
Skenario
Tahun
Sangat Pesimis Pesimis Moderat Optimis
--------------------------- Rp juta/hektar --------------------------
2003 10,98 10,98 10,98 10,98
2004 11,61 11,61 11,61 11,61
2005 12,24 12,24 12,24 12,24
2006 12,88 12,88 12,88 12,88
2007 13,55 13,55 13,55 13,55
2008 14,25 14,25 14,25 14,25
2009 14,74 14,75 14,76 14,76
2010 15,14 15,15 15,17 15,17
2011 15,50 15,52 15,54 15,54
2012 15,89 15,91 15,94 15,95
2013 16,43 16,46 16,50 16,52
2014 17,14 17,19 17,26 17,29
2015 17,99 18,06 18,18 18,23
2016 18,96 19,06 19,25 19,34
2017 20,02 20,17 20,45 20,60
2018 21,17 21,39 21,80 22,02
2019 22,41 22,72 23,31 23,68
2020 23,74 24,15 25,05 25,65
2021 24,96 25,48 26,84 27,93
2022 25,96 26,59 28,66 30,72
2023 26,79 27,53 30,69 34,10
2024 27,47 28,34 33,44 38,13
2025 28,02 29,05 36,91 42,86
2026 28,47 29,70 40,99 48,22
2027 28,87 30,31 45,61 54,17
2028 29,23 30,92 50,76 60,69
2029 29,57 31,56 56,46 67,80








A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
310







A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
311
Lampir an 10 Pemilihan skenar io model dinamik
Tabel Lampiran 48 Nilai kriteria composite performance index (CPI)
tahun 2014
Nilai skenario tahun 2014 Kebutuhan
pemangku
kepentingan
Peubah model Satuan Sangat
Pesimis
Pesimis Moderat Optimis
PDRB per
kapita
Rp
juta/orang
6,89 6,89 6,89 6,89 Kualitas SDM
Pengangguran % 15,52 15,52 15,52 15,52
Penegakan
hukum
Inkonsistensi
tata ruang
ha 45.044 44.330 43.304 42.869
Jumlah
penduduk
orang 616.901 616.901 616.901 616.901 Pertumbuhan
penduduk
Tingkat
pertumbuhan
% 0,52 0,52 0,52 0,52
Infrastruktur
wilayah
Investasi Rp juta 407.579 407.683 407.824 407.880
Pertanian Rp juta 577.970 577.970 577.970 577.970
Perikanan Rp juta 617.446 617.565 617.738 617.812
Aktivitas
ekonomi
kerakyatan Industri Rp juta 681.418 681.503 681.613 681.655
Penyediaan
kawasan lindung
ha 9.592 10.292 11.476 11.998 Zonasi wilayah
Rente ruang Rp juta/ha 17,14 17,19 17,26 17,29
Tabel Lampiran 49 Transformasi CPI, nilai alternatif, dan peringkat
skenario tahun 2014
Transformasi nilai CPI Kebutuhan
pemangku
kepentingan
Peubah Model Sangat
Pesimis
Pesimis Moderat Optimis
Bobot
Kinerja
PDRB per kapita 100 100 100 100 0,0833 Kualitas SDM
Pengangguran 100 100 100 100 0,0833
Penegakan
hukum
Inkonsistensi
tata ruang
95 97 99 100
0,1667
Jumlah
penduduk
100 100 100 100
0,0833 Pertumbuhan
penduduk
Tingkat
pertumbuhan
100 100 100 100
0,0833
Infrastruktur
wilayah
Investasi
100 100 100 100
0,1667
Pertanian 100 100 100 100 0,0556
Perikanan 100 100 100 100 0,0556
Aktivitas
ekonomi
kerakyatan Industri 100 100 100 100 0,0556
Penyediaan
kawasan lindung
100 107 120 125
0,0833 Zonasi wilayah
Rente ruang 100 100 101 101 0,0833
Nilai alternatif skenario 99,2 100,1 101,5 102,2
Simpangan baku nilai alternatif 1,4
Rata-rata nilai alternatif 100,8
Peringkat nilai alternatif III III II I


A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
312
Tabel Lampiran 50 Nilai kriteria composite performance index (CPI)
tahun 2019
Nilai skenario tahun 2019 Kebutuhan
pemangku
kepentingan
Peubah model Satuan Sangat
Pesimis
Pesimis Moderat Optimis
PDRB per
kapita
Rp
juta/orang
8,88 8,90 8,93 8,96 Kualitas SDM
Pengangguran % 14,18 14,12 14,05 13,95
Penegakan
hukum
Inkonsistensi
tata ruang
ha 45.975 42.854 37.151 34.363
Jumlah
penduduk
orang 629.371 629.374 629.382 629.386 Pertumbuhan
penduduk
Tingkat
pertumbuhan
% 0,36 0,36 0,36 0,36
Infrastruktur
wilayah
Investasi Rp juta 712.673 716.389 723.800 730.190
Pertanian Rp juta 658.192 653.526 636.562 636.542
Perikanan Rp juta 680.943 684.516 691.338 695.746
Aktivitas
ekonomi
kerakyatan Industri Rp juta 977.510 980.502 986.307 990.488
Penyediaan
kawasan lindung
ha 8.919 12.193 18.713 21.932 Zonasi wilayah
Rente ruang Rp juta/ha 22,41 22,72 23,31 23,68

Tabel Lampiran 51 Transformasi CPI, nilai alternatif, dan peringkat
skenario tahun 2019
Transformasi nilai CPI Kebutuhan
pemangku
kepentingan
Peubah Model Sangat
Pesimis
Pesimis Moderat Optimis
Bobot
Kinerja
PDRB per kapita 100 100 100 101 0,0833 Kualitas SDM
Pengangguran 98 99 99 100 0,0833
Penegakan
hukum
Inkonsistensi
tata ruang
75 80 92 100
0,1667
Jumlah
penduduk
100 100 100 100
0,0833 Pertumbuhan
penduduk
Tingkat
pertumbuhan
100 100 100 100
0,0833
Infrastruktur
wilayah
Investasi
100 101 102 102
0,1667
Pertanian 103 103 100 100 0,0556
Perikanan 100 101 102 102 0,0556
Aktivitas
ekonomi
kerakyatan Industri 100 100 101 101 0,0556
Penyediaan
kawasan lindung
100 137 210 246
0,0833 Zonasi wilayah
Rente ruang 100 101 104 106 0,0833
Nilai alternatif skenario 95,8 100,1 108,6 113,3
Simpangan baku nilai alternatif 7,9
Rata-rata nilai alternatif 104,4
Peringkat nilai alternatif III III II I


A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
313
Tabel Lampiran 52 Nilai kriteria composite performance index (CPI)
tahun 2024
Nilai skenario tahun 2024 Kebutuhan
pemangku
kepentingan
Peubah model Satuan Sangat
Pesimis
Pesimis Moderat Optimis
PDRB per
kapita
Rp
juta/orang
10,71 10,71 11,79 12,87 Kualitas SDM
Pengangguran % 10,09 10,08 7,58 5,51
Penegakan
hukum
Inkonsistensi
tata ruang
ha 46.355 38.129 22.963 15.632
Jumlah
penduduk
orang 641.554 641.788 645.876 653.885 Pertumbuhan
penduduk
Tingkat
pertumbuhan
% 0,47 0,49 0,96 1,74
Infrastruktur
wilayah
Investasi Rp juta 1.053.453 1.066.024 1.305.195 1.509.072
Pertanian Rp juta 749.530 686.544 660.532 660.856
Perikanan Rp juta 682.838 696.807 807.753 923.578
Aktivitas
ekonomi
kerakyatan Industri Rp juta 1.289.972 1.301.974 1.453.000 1.608.607
Penyediaan
kawasan lindung
ha 8.924 17.582 34.607 42.912 Zonasi wilayah
Rente ruang Rp juta/ha 27,47 28,34 33,44 38,13

Tabel Lampiran 53 Transformasi CPI, nilai alternatif, dan peringkat
skenario tahun 2024
Transformasi nilai CPI Kebutuhan
pemangku
kepentingan
Peubah Model Sangat
Pesimis
Pesimis Moderat Optimis
Bobot
Kinerja
PDRB per kapita 100 100 110 120 0,0833 Kualitas SDM
Pengangguran 55 55 73 100 0,0833
Penegakan
hukum
Inkonsistensi
tata ruang
34 41 68 100
0,1667
Jumlah
penduduk
100 100 99 98
0,0833 Pertumbuhan
penduduk
Tingkat
pertumbuhan
100 96 48 27
0,0833
Infrastruktur
wilayah
Investasi
100 101 124 143
0,1667
Pertanian 113 104 100 100 0,0556
Perikanan 100 102 118 135 0,0556
Aktivitas
ekonomi
kerakyatan Industri 100 101 113 125 0,0556
Penyediaan
kawasan lindung
100 197 388 481
0,0833 Zonasi wilayah
Rente ruang 100 103 122 139 0,0833
Nilai alternatif skenario 85,9 95,0 120,4 140,9
Simpangan baku nilai alternatif 25,0
Rata-rata nilai alternatif 110,6
Peringkat nilai alternatif III III II I


A.A. uamal. 2012. SlsLem perencanaan LaLa ruang wllayah peslslr: SLudl kasus 1eluk Lampung (ulserLasl). Sekolah Þascasar[ana lÞ8. 8ogor
314
Tabel Lampiran 54 Nilai kriteria composite performance index (CPI)
tahun 2029
Nilai skenario tahun 2029 Kebutuhan
pemangku
kepentingan
Peubah model Satuan Sangat
Pesimis
Pesimis Moderat Optimis
PDRB per
kapita
Rp
juta/orang
11,18 11,30 16,59 18,41 Kualitas SDM
Pengangguran % 10,38 10,26 3,61 2,35
Penegakan
hukum
Inkonsistensi tata
ruang
ha 46.703 33.575 10.921 118
Jumlah
penduduk
orang 663.382 666.720 740.310 763.761 Pertumbuhan
penduduk
Tingkat
pertumbuhan
% 0,76 0,96 3,40 3,45
Infrastruktur
wilayah
Investasi Rp juta 1.407.954 1.467.580 2.875.285 3.333.928
Pertanian Rp juta 795.893 705.642 678.378 677.634
Perikanan Rp juta 564.163 600.696 1.203.556 1.553.855
Aktivitas
ekonomi
kerakyatan Industri Rp juta 1.490.746 1.533.310 2.508.210 2.838.822
Penyediaan
kawasan lindung
ha 9.084 22.490 47.338 60.395 Zonasi wilayah
Rente ruang Rp juta/ha 29,57 31,56 56,46 67,80

Tabel Lampiran 55 Transformasi CPI, nilai alternatif, dan peringkat
skenario tahun 2029
Transformasi nilai CPI Kebutuhan
pemangku
kepentingan
Peubah Model Sangat
Pesimis
Pesimis Moderat Optimis
Bobot
Kinerja
PDRB per kapita 100 101 148 165 0,0833 Kualitas SDM
Pengangguran 23 23 65 100 0,0833
Penegakan
hukum
Inkonsistensi
tata ruang
0 0 1 100
0,1667
Jumlah
penduduk
100 99 90 87
0,0833 Pertumbuhan
penduduk
Tingkat
pertumbuhan
100 79 22 22
0,0833
Infrastruktur
wilayah
Investasi
100 104 204 237
0,1667
Pertanian 117 104 100 100 0,0556
Perikanan 100 106 213 275 0,0556
Aktivitas
ekonomi
kerakyatan Industri 100 103 168 190 0,0556
Penyediaan
kawasan lindung
100 248 521 665
0,0833 Zonasi wilayah
Rente ruang 100 107 191 229 0,0833
Nilai alternatif skenario 77,9 89,6 147,4 193,2
Simpangan baku nilai alternatif 53,6
Rata-rata nilai alternatif 127,0
Peringkat nilai alternatif III III II I


Sign up to vote on this title
UsefulNot useful