Anda di halaman 1dari 77

Serial Pandangan Kebangsaan Anand Krishna

Serial Pandangan Kebangsaan Anand Krishna no 1

Fokus Otak atau Hati, Pikiran atau Rasa


Anand Krishna: Umumnya, manusia memang berorientasi pada Otak atau Hati. Ada yang Head-Oriented, ada yang Heart-Oriented. Orientasi pada Otak melahirkan para saintis, para politisi, para pengusaha yang mahir mencari keuntungan . Sementara itu, Orientasi pada Hati melahirkan para seniman, para penyair dan penulis. Kelompok kedua ini tidak terlalu pintar dalam urusan hitung-menghitung. Di tanah air kita ada kalanya terjadi tumpang-tindih. Seorang artis, seorang pemandu kerohanian yang heart oriented menjadi pejabat, memasuki ranah politis. Kemudian seorang pengusaha yang head oriented memasuki bidang pendidikan, sehingga tujuan pembinaan anak bangsanya terpinggirkan oleh pencarian keuntungan semata. Anand Krishna adalah seorang penulis buku yang produktif. Sudah lebih dari 150 buah buku baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris yang sudah diterbitkan. Tokoh yang berteman baik dengan Gus Dur ini bukan pesaing bisnis, pesaing politik maupun pesaing pemandu rohani. Beliau menghargai semua profesi dan berkeyakinan bahwa apa pun profesi seseorang dia dapat mempersembahkan karyanya bagi kemanusiaan dan juga mempersembahkan amalnya kepada Dia Hyang Maha Memiliki. Seorang mahasiswa, seorang aktivis ataupun dia yang sedang meniti ke dalam diri akan mendapat masukan dari segi nasionalis, internasionalis dan sipritual. Pada dekade tahun 1930-an terjadi polemik budaya antara dua seniman besar, Sutan Takdir Alisyahbana (STA) dan Sanusi Pane. Sampai tahun 1960-an polemik tersebut masih terbaca di media masa. Bagi STA hidup adalah perjuangan dan manusia harus bekerja keras. Tanpa perjuangan , orang tidak akan maju dan menjadi manusia modern. Di lain pihak, Sanusi Pane lebih mengutamakan kedamaian dan ketenangan, orang bekerja guna mendapatkan mendapatkan ketenangan dan kedamaian bagi dirinya. STA menganggap semboyan tenang dan damai membelenggu orang dan mengakibatkan tidak adanya kemajuan. Sebenarnya Sanusia Pane berupaya melakukan sintesis antara Barat dan Timur, antara otak dan hati. Barat, dengan kacamata zaman itu dipandang mengutamakan jasmani, sehingga mengabaikan adanya jiwa. Akal digunakan untuk menaklukkan alam. Di pihak lain, Timur lebih mementingkan rohani, sehingga mengabaikan kebutuhan jasmani. Akal digunakan untuk mempersatukan diri dengan alam.

STA juga mempunyai alasan, beliau melihat pada saat itu, banyak kader bangsa yang mencari kedamaian dengan mengabaikan otak. Sampai sekarang pun masih ada kader bangsa yang nampak sangat egois, hanya mencari kedamaian diri tanpa mempedulikan kekacauan yang terjadi di tengah masyarakat. Sebuah kedamaian yang semu, kedamaian yang berupa pelarian diri dari kenyataan hidup. Bapak Anand Krishna menggambarkan mereka yang mencari kebahagiaan dengan mengabaikan lingkungan masyarakat seperti seseorang yang sedang menaiki gunung kesadaran. Mereka hanya terfokus pada puncak gunung kesadaran dan mengabaikan keadaan sekitar. Kalau banyak orang mengikuti seorang Resi yang sedang bergerak naik ke puncak, maka kedamaian yang diikuti para pengikut resi tersebut masih berupa kedamaiaan semu. Kedamaian semu itu akan dimanfaatkan oleh mereka yang memperoleh keuntungan dari ketidakpedulian mereka. bapak Anand Krishna secara halus mengkritik mereka yang berfokus pada kesadaran diri dan mengabaikan kekacauan di lingkungan mereka. Mungkin bahkan saat mereka belum mencapai puncak kesadaran, Indonesia sudah terpecahbelah. Akan tetapi masyarakat juga menjadi saksi, berapa banyak para pemimpin muda yang langsung berjuang demi masyarakat tanpa dibekali kesadaran yang tinggi, dan setelah menggenggam kekuasaan mereka lupa kepada rakyatnya. Mengapa hal demikian begitu sering terjadi? Karena mereka terburu-buru turun gunung sebelum mereka sadar. Menurut kami, Bapak Anand Krishna mempersembahkan buku-bukunya bagi mereka yang sudah tak sabar melihat kekacauan di masyarakat, dengan memberi bekal kesadaran lebih dahulu. Buku-buku Bapak Anand Krishna juga dipersembahkan kepada mereka yang terfokus pada peningkatan kesadaran, agar mereka sadar bahwa kesadaran mereka harus dipraktekkan di kehidupan nyata dengan menegakkan kebenaran. Kezaliman, ketidakadilan dan kekejaman di sekitar kita harus dihentikan. Tidak bisa berharap seorang nabi diutus untuk membersihkan masalah yang kita buat sendiri. Kita harus berdiri dan bergerak! Berdiri saja dengan cukup. Kita harus bertindak, dan menjadi aktivis. Seorang kritikus kerjanya mengkritik, dan dia berhenti di situ. Seorang penulis ya menulis, dan juga berhenti di situ. Analis juga begitu. Banyak orang yang memiliki kemampuan seperti itu, namun tetap saja dengan terjadi perubahan yang berarti. Mengapa? Karena dengan berhenti. Dengan tidak berdiri, tidak bergerak; tidak bertindak dan menjadi aktivis. Kita tidak kekurangan humanis yang merasakan dan menangisi penderitaan umat manusia. Namun itu saja tidaklah cukup. Kita harus menghapus air mata itu. Michael Jackson membujuk kita untuk menjadi aktivis, berdiri, bergerak untuk

menyembuhkan dunia ini . demikian pesan oleh Bapak Anand Krishna dalam buku The Gospel of Michael Jackson. Dalam beberapa nasehatnya Bapak Anand Krishna menganjurkan masyarakat agar mengikuti para Resi yang sudah mencapai puncak gunung kesadaran, dimana mereka mampu melihat keadaan yang terjadi di bawah dengan lebih jelas dan mereka turun gunung ke tengan masyarakat. Mereka telah mampu melihat ketidakadilan dan ketidakbenaran dengan jelas. Mereka oleh leluhur kita disebut Bhagawan. Kanjeng Nabi Muhammad, Gusti Yesus adalah contoh Resi yang sudah mencapai puncak gunung kesadaran dan turun ke dunia. Mereka adalah nasionalis sejati, walau sangat jelas bahwa mereka adalah spiritualis. Sri Krishna juga tidak duduk manis melihat keangkaraan Kaum Korawa. Beliau terjun ke tengan masyarakat membimbing Arjuna dan Pandawa untuk menegakkan keadilan. Sidharta Gautama perlu meninggalkan istana untuk mencapai puncak gunung kesadaran dan setelah itu baru membabar dharma di tengah masyarakat. Para Resi yang turun gunung itu memulai perubahan dunia hanya berbekal keyakinan yang mereka punyai. Dengan bekal keyakinan tersebut, beberapa murid, beberapa sahabat tergerak menyebarkan berita baik dan akhirnya dapat mengubah masyarakat ke arah kebaikan. Dalam buku Vedaanta, Harapan bagi Masa Depan, Anand Krishna, Pustaka Bali Post, 2007 Bapak Anand Krishna memberi nasehat . Umumnya, manusia memang berorientasi pada Otak atau Hati. Ada yang Head-Oriented, ada yangHeart-Oriented. Orientasi pada Otak melahirkan para saintis, para politisi, para pengusaha yang mahir mencari keuntungan . Sementara itu, Orientasi pada Hati melahirkan para seniman, para penyair dan penulis. Kelompok kedua ini tidak terlalu pintar dalam urusan hitung-menghitung. Di tanah air kita ada kalanya terjadi tumpang-tindih. Seorang artis, seorang pemandu kerohanian yang heartoriented menjadi pejabat, memasuki ranah politis. Kemudian seorang pengusaha yang head-oriented memasuki bidang pendidikan, sehingga tujuan pembinaan anak bangsanya terpinggirkan oleh pencarian keuntungan semata Kita dapat melihat kebenaran dari apa yang disampaikan Bapak Anand Krishna, kesimpang siuran antara otak dan hati membuat sebagian pemimpin nampak lembek, mereka mentolerir tindakan yang membahayakan persatuan bangsa. Mereka membebaskan bandar narkoba yang membahayakan masyarakat demi belas kasih dan atas nama hak asasi manusia. Ada satu keranjang apel yang baik dan mereka tidak tega membuang beberapa biji di antaranya yang sudah nampak busuk. Penggunaan hati yang berlebihan akan menyebabkan rusaknya satu keranjang apel. Sudah tahu keseluruhan tubuh sehat, dan ada tumor yang

ganas, maka seorang pemimpin harus tega mengangkatnya, walau pun daging tersebut adalah saudara, bagian dari tubuh sendiri. Angkatan Bersenjata, Polisi, Jaksa dan Hakim harus tegas demi menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dalam buku Vedaanta, Harapan bagi Masa Depan tersebut Bapak Anand Krishna menyampaikan .. Saya mengakui dan menerima kedua orientasi tersebut. Dua-duanya penting. Kendati demikian, saya juga memiliki visi tentang Manusia Baru, tentang Neo-Man. Dalam visi saya, Manusia Baru adalah Manusia Sempurna dalam pengertian The Total Man. Dirinya Lengkap. Manusia Baru tidak diperbudak oleh hati maupun otak. Ia mengendalikan keduanya. Ia tahu persis kapan menggunakan hati, dan kapan mengunakan otak. Ia bukanlah Pembantu hati atau otak, ia adalah Majikan yang mengendalikan keduanya. Manusia Baru dalam visi saya adalah Manusia-Ilahi semacam Krishna la berada di tengah Medan Perang Kurukshetra - Medan Laga Kehidupan ini. la tidak hanya berfilsafat tentang kehidupan, ia sedang melakoninya. la sedang menyanyikan Nyanyian Ilahi - Bhagavad Gita

Serial Pandangan Kebangsaan Anand Krishna no 2

Antara Personal dan Transpersonal, Pamrih Pribadi dan Kerelawanan


Dalam diri manusia terdapat basic instinct yaitu instink untuk makan, minum, tidur dan seks. Sebenarnya tidak ada yang salah untuk memenuhi kebutuhan tersebut, karena hal-hal demikian merupakan pemenuhan kebutuhan fisik agar manusia dapat mempertahankan hidupnya. Akan tetapi apabila manusia hanya hidupnya hanya terfokus pada pemenuhan kebutuhan tersebut, maka manusia tersebut masih mempunyai kesamaan dengan hewan, bedanya hanya hewan mengkonsumsi makanan mentah sedangkan manusia mengkonsumsi makanan yang telah dimasak, hewan tidur di liang atau pohon sedangkan manusia tidur di rumah, hewan berhubungan seks dengan lawan jenisnya siapa saja di mana saja sedangkan manusia berhubungan seks yang memenuhi etika dan norma masyarakat. Anand Krishna adalah seorang penulis buku yang produktif. Sudah lebih dari 150 buah buku baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris yang sudah diterbitkan. Tokoh yang berteman baik dengan Gus Dur ini bukan pesaing bisnis, pesaing politik maupun pesaing pemandu rohani. Beliau menghargai semua profesi dan berkeyakinan bahwa apa pun profesi seseorang dia dapat mempersembahkan karyanya bagi bangsanya, bagi kemanusiaan dan juga mempersembahkan amalnya kepada Dia Hyang Maha Memiliki. Seorang mahasiswa, seorang aktivis ataupun dia yang sedang meniti ke dalam diri akan mendapat masukan dari segi nasionalis, internasionalis dan sipritual. Dalam buku Otak Para Pemimpin Kita, Dialog Carut Marutnya Keadaan Bangsa, Anand Krishna dkk, One Earth Media, 2005 Bapak Anand Krishna memberi pesan .. Intelenjensia binatang masih sangat rendah. la baru mampu memahami, apa yang harus dimakannya, apa yang tidak; siapa yang harus dikawininya, siapa tidak. Dan, pilihan mereka masih sederhana sekali, antara jantan dan betina. Seekor binatang jantan mencari betina, dan betina mencari jantan. Kriterianya hanya satu: Lawan Jenis, itu saja. Bila kita hidup semata-mata untuk memenuhi kebutuhan insting, maka sesungguhnya kita masih animal, binatang. Taruhlah binatang plus, karena kita sudah berbadan seperti manusia. Juga karena kita sudah memiliki mind yang cukup berkembang, mind yang dapat menciptakan. Kita mampu menghiasi, memoles insting-insting kita. Kita bisa mengelabui orang lain. Sehingga binatang di dalam diri kita menjadi lebih buas, lebih bengis dan lebih ganas dari binatang beneran. Kebuasan binatang masih terbatas, kebuasan kita tak terbatas karena

ketakterbatasan kemampuan mind kita. Manusia merupakan satu-satunya jenis makhluk yang hidup di bumi dan mampu berkembang terus. Pohon Kenari sepuluh juta tahun yang lalu seperti itu. Tidak terjadi perubahan apa. Anjing pun demikian, dari dulu begitu, sekarang pun sama. Lain halnya dengan manusia. Dulu la hanya bisa membuat kapak dari batu. Sekarang bisa membuat pesawat tempur. Dulu la tinggal di dalam gua, sekarang di dalam rumah. Dulu rumahnya biasa, sekarang mewah. Species manusia berkembang terus, berevolusi terus. Dengan Lymbic yang masih hewani pun, kita tetap berkembang. Hasilnya: Animal Plus, Binatang Plus. Perkembangan diri kita masih belum holistik, belum menyeluruh. Hewan di dalam diri barangkali menjadi sedikit lebih jinak, tetapi belum menjelma menjadi manusia. Hanya segelintir saja di antara kita yang berhasil memanusiakan dirinya .. Pesan Bapak Anand Krishna tersebut terasa sangat nyata. Problem muncul saat manusia berlebihan dalam memenuhi basic instinct-nya. Bila manusia tidak dapat mengendalikan kama atau nafsunya dalam memenuhi basic instinct maka dia akan dihadapkan pada banyak permasalahan. Ketika nafsunya selalu terpenuhi bisa muncul muda atau keangkuhan. Kemudian bila sudah terbiasa dengan pemenuhan tersebut bisa timbul moha atau keterikatan. Dan, setelah itu bisa meningkat menjadi lobha atau keserakahan, tidak puas dengan yang ada dan selalu ingin menambah porsi pemenuhannya. Di pihak lain, apabila kama atau nafsunya tidak terpenuhi maka manusia dapat mengalami krodha frustrasi dan marah. Kemudian ketika melihat orang lain terpenuhi keinginannya sedang dirinya tidak maka muncullah matsarya atau sirik atau iri. Ini semua adalah perjalanan dari ego dari manusia. Dalam buku Karma Yoga bagi Orang Moderen, Etos Kerja Transpersonal untuk Zaman Baru, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2011 Bapak Anand Krishna memberi penjelasan tentang kesadaran transpersonal .. Transpersonal berarti tidak terjebak dalam urusan personal, atau pribadi saja Transpersonal tidak mengekang kebutuhan dan keinginan diri akan kesehatan, kedamaian, dan kebahagiaan. Silakan mengurusi kesehatan diri. Silakan berdamai dengan diri, keluarga, dan tetangga. Silakan hidup bahagia. Sehingga Anda dapat berbagi kesehatan, kedamaian dan kebahagiaan dengan orang lain . Transpersonal adalah pesan untuk melampaui napsu hewani yang hanya mementingkan diri, atau hanya berbaik hati dengan mereka yang baik dengan kita. Transpersonal adalah pesan untuk menggapai kesadaran ilahi yang senantiasa memberi, dan tidak menuntut imbalan Sri Mangkunegara IV mengetengahkan moralitas, kepahlawanan, kesetiaan dan dedikasi terhadap bangsa dengan memberikan tiga tokoh

wayang yang pantas diteladani: Raden Sumantri, Adipati Karna dan Kumbakarna. Raden Sumantri mengabdi kepada Prabu Arjuna Sasrabahu dan berperang melawan Rahwana yang jauh lebih kuat. Ego Raden Sumantri sudah meluas, dia tidak hanya memikirkan kepentingan pribadi dan bahkan hidupnya, demi kebenaran dan negaranya dia rela mati. Seseorang yang sudah mengabdi dengan tulus kepada Tuhan yang bersemayam dalam hati nuraninya, maka dia hanya akan mendengarkan dhawuh, perintah hati nuraninya (biarlah Kehendak-Mu yang terjadi) dan dia tidak memikir lagi tindakannya membawa hasil atau tidak. Dalam dirinya sudah tidak ada pamrih, sudah tidak ada pertentangan batin antara hati nurani dengan egonya. Tokoh kedua yang pantas diteladani menurut Sri Mangkunegara IV adalah Adipati Karna. Karna sadar bahwa pihak Kurawa yang dipilihnya berada di pihak yang salah. Akan tetapi, pada saat negeri Hastina berperang, dia memperoleh kesempatan untuk mempersembahkan jiwa dan raga sebagai balas budinya. Karna berperang dengan seluruh jiwa raganya demi negara yang selama ini memberikan kehidupan dan kehormatan kepadanya. Mati pun dia rela, menang atau kalah dalam peperangan tidak dipikirkannya. Yang Maha Kuasa telah memberi kesempatan untuk berbakti terhadap negara, dan peran itu diambilnya dengan penuh kebanggaan. Tokoh ketiga dalam Serat Tripama karya Sri Mangkunegara IV adalah Kumbakarna. Kumbakarna juga sadar bahwa kakaknya, Rahwana bersalah, dan sejak awal dia selalu memberi nasehat kepada kakaknya untuk mengembalikan Dewi Sinta, yang merupakan haknya Sri Rama. Akan tetapi, pasukan Sri Rama akan menghancurkan negara Alengka, negara yang telah menghidupi semua leluhurnya. Oleh karenanya dia berperang bukan membela kakaknya yang zalim, tetapi membela tanah tumpah darahnya. Bahkan ketika anak panah Sri Rama mengenai jantungnya dan dia sadar akan mati, dia memilih menjatuhkan diri kearah prajurit Rama dan ratusan pasukan kera mati tertindih tubuhnya. Ego pribadi Kumbakarna sudah sirna, Aku mengikuti perintah hati nuraniku untuk melawan mereka yang menyerang negaraku. Dunia ini hanya bersifat sementara, hanya Dia yang bersemayam dalam diriku dan di luar diriku yang abadi. Aku hanya menuruti dhawuh, perintah-Nya, walau akan berakhir dengan kematian. Sri Mangkunegara IV memberi nasehat Sepi ing Pamrih Rame ing Gawe. Seseorang yang telah melakukan hal tersebut dalam istilah sekarang telah mencapai kesadaran transpersonal, dia telah melampaui pamrih egonya dan gawe, berkarya demi kemanusiaan. Pamrih adalah keinginan egoistis yang merupakan motif yang melandasi setiap pemikiran, ucapan dan tindakan manusia sehari-hari, betapa haluspun itu adanya. Manusia membangun rumah kehidupan berlandaskan pamrih. Boleh jadi seseorang

nampak melakukan sesuatu bagi orang banyak bukan demi imbalan tertentu, namun kalau semua itu dilakukan demi membentuk citra-diri di mata masyarakat, agar dianggap sebagai orang yang baik-hati, berhati mulia atau taat kepada nasehat-nasehat leluhur dan kitab-kitab suci, maka manusia tersebut tetap mempunyai pamrih. Dan pamrih tetap saja dijiwai dengan iktikad jual-beli, perdagangan. Sepi ing pamrih benar-benar sepi dari keinginan egoistis sekecil dan sehalus apapun. Rame ing gawe berarti tak perlu diketahui orang, dikenal orang. Semua dilakukan sematamata sebagai kewajiban yang dipertanggungjawabkan ke dalam diri. Ego seorang transpersonal telah meluas, seorang pemimpin bangsa mendahulukan kepentingan bangsa daripada kepentingan pribadi, bahkan akhirnya sampai pada kepentingan lingkungan, kepentingan alam, kepentingan kebenaran. Inilah perjalanan dari ego pribadi, menuju nasionalisme ke internasionalme dan akhirnya menjadi mitra bagi alam semesta .. muncul kesadaran bahwa kita hidup di atas satu bumi, di bawah satu langit, dan kita semua adalah satu umat manusia. One Earth One Sky One Humankind ..

Serial Pandangan Kebangsaan Anand Krishna no 3

Antara Malas dan Pasrah


Janganlah kau berduduk diam. Apa yang kau anggap pasrah sesungguhnya bukan pasrah. Kau tidak pasrah. Kau malas, kau pengecut. Pasrah berarti kau sudah bekerja sekuat tenaga, dan mensyukuri hasil apa yang kau terima. Tidak menuntut, tidak berharap, tetapi mensyukuri apa saja yang diberikan padamu. Itu baru pasrah! Demikian pesan Anand Krishna dalam buku Bagimu Ibu Pertiwi, Realisasi Nilai-Nilai Luhur Bhagavad Gita Demi Kebangkitan Jiwa Indonesia, Anand Krishna, One Earth Media, 2005. Untuk bertindak baik perlu kesadaran, sehingga orang selalu berpikir dinamis. Akan tetapi nampaknya masyarakat kita telah malas menggunakan akal pikiran. Masyarakat nampak berbudaya instan, budaya siap saji, budaya gampangan. masyarakat senang bila tokoh atau lembaga tertentu yang menetapkan haram-halal bagi dirinya. Kadangkadang seseorang sadar bahwa dia melakukan kesalahan, tetapi karena masyarakat mendiamkannya maka dia membiarkan dirinya melakukan kesalahan terus. Seringnya bertindak demikian, membuat hati nurani semakin tertutup dan dia hanya menggantungkan diri pada pandangan orang luar. Akalnya yang cerdik selalu membenarkan tindakannya, dan hati nuraninya semakin tersudutkan ke dalam. Mereka yang ingin melakukan tindakan yang berasal dari pikiran yang jernih, justru tersudutkan. Hampir semua orang menipu diri sendiri. Tidak salah ungkapan dalam Jangka Jayabaya: Banyak ulah-tabiat ganjil; Orang yang baik justru tersisih; Banyak orang malu untuk bertindak baik; Lebih mengutamakan menipu. Anand Krishna adalah seorang penulis buku yang produktif. Sudah lebih dari 150 buah buku baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris yang sudah diterbitkan. Tokoh yang berteman baik dengan Gus Dur ini bukan pesaing bisnis, pesaing politik maupun pesaing pemandu rohani. Beliau menghargai semua profesi dan berkeyakinan bahwa apa pun profesi seseorang dia dapat mempersembahkan karyanya bagi bangsanya, bagi kemanusiaan dan juga mempersembahkan amalnya kepada Dia Hyang Maha Memiliki. Seorang mahasiswa, seorang aktivis ataupun dia yang sedang meniti ke dalam diri akan mendapat masukan dari segi nasionalis, internasionalis dan sipritual. Dalam keadaan malas, dan ingin menyenangkan diri tanpa resiko, memang paling enak menggantungkan diri pada pandangan luar, apalagi kalau lembaga pemberi keputusan di luar tersebut dapat membenarkan tindakannya. Akan tetapi lembaga di luar hanya berkaitan dengan

pandangan luar, syariat, fisik, hukum yang nampak, sulit untuk menyentuh hati nurani yang dalam. Ingin nyaman bagi diri sendiri, melupakan hati nurani, menyebabkan seseorang terbelenggu dalam comfort zone, wilayah kenyamanan, dimana otak tidak perlu berpikir keras, dan hati nurani terpinggirkan. Mempertahankan diri dalam wilayah kenyamanan dapat berarti manusia menipu dirinya sendiri. Seseorang yang tahu sekelompok orang berbuat salah dan membiarkannya, dan berpendapat Emangnya gue pikirin?, akan datang suatu saat bahwa dia akan diperlakukan tidak adil dan orang lain gantian akan membiarkannya. Seseorang yang malas dan hanya mengikuti kebiasaan masyarakat yang juga malas dan diam dalam melihat ketidakbenaran tidak akan mengubah masyarakat ke arah kebaikan. Dia kurang peka, ibaratnya dia telah melihat luka di tubuh, akan tetapi hal tersebut dibiarkan saja menunggu sampai bernanah. Walaupun di antara mereka ada yang peka tetapi bila malas, mereka juga tahu bahwa lukanya bisa bernanah, tetapi dia bungkam. Nanti kan sembuh sendiri. Dengan cara tersebut seseorang menciptakancomfort zone dan bumpers demi kenyamanan diri. Barangkali dia dapat menyamankan raga tetapi bagaimana dengan jiwa? Sang jiwa adalah saksi yang tidak pernah tertipu. Seseorang adalah bagian dari masyarakat, dan dia harus mulai berbuat benar untuk hal yang menimpa dirinya dan tindakan ini akan diikuti orang sekelilingnya. Mereka yang menunggu datangnya zaman baru, ratu adil, tetapi masih saja hidup dalam comfort zone seperti hidup di alam khayal. Kita harus memulai hidup baru tanpa menunggu datangnya zaman baru dan orang sekeliling kita akan meneladani dan mengikuti kita, sehingga tercipta zaman baru dan ratu adil muncul. Lebih lanjut Bapak Anand Krishna mengkaitkan kepasrahan dengan bhakti, devosi penuh kasih dan seva, pelayanan tanpa pamrih. Dalam buku Spiritual Astrology, The Ancient Art of Self Empowerment, Bhakti Seva, Terjemahan Bebas, Re-editing , dan Catatan Oleh Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2010 Beliau menyampaikan .. Bhakti berarti, devosi penuh kasih atau panembahan. Ia bukanlah kepasrahan yang dipaksakan, atau keikhlasan tanpa hati. Bhakti adalah dedikasi total dengan segenap raga, hati dan jiwa terhadap suatu karya besar. Bhakti menuntut jiwa altruisme dan kesukarelaan yang tinggi. Dan, seva berarti pelayanan. Seva adalah ungkapan atau ekspresi dari Bhakti. Seva adalah jiwa altruisme dalam laku. Ia adalah kesukarelaan berdarah dan berdaging. Seva adalah pelayanan tanpa pamrih, tanpa mengharapkan suatu imbalan. Pelayanan yang diadakan dengan semangat devosi penuh kasih atau panembahan, itulah seva . Selanjutnya beliau menjelaskan ciri-ciri seorang devotee, seorang yang melakukan bhakti dan seva yang disebut seorang bhakta, seorang

panembah dalam buku Vedaanta, Harapan Bagi Masa Depan, Anand Krishna, Pustaka Bali Post, 2007 dimana beliau menyampaikan .. Bagaimana ciri-ciri seorang Bhakta? Bagaimana mengenalinya? Gampang Bhagavad Gita menjelaskan bahwa dalam keadaan suka maupun duka - ia tetap sama. Ketenangannya kebahagiaannya, keceriaannya tidak terganggu. Ia bebas dari rasa takut. la tidak akan menutup-nutupi Kebenaran. la akan mengungkapkannya demi Kebenaran itu sendiri. la menerima setiap tantangan hidup .. la bersikap nrimo nrimo yang dinamis, tidak pasif, tidak statis. Pun tidak pesimis. Menerima, bukan karena merasa tidak berdaya; ikhlas, bukan karena memang dia tidak dapat berbuat sesuatu, tetapi karena ia memahami kinerja alam. Ia menerima kehendak Ilahi sebagaimana Isa menerimanya diatas kayu salib. Ia berserah diri pada Kehendak Ilahi, sebagaimana Muhammad memaknai Islam sebagai penyerahan diri padaNya. Pasang-surut dalam kehidupan seorang Bhakta tidak meninggalkan bekas. Tsunami boleh terjadi, tetapi jiwanya tidak terporak-porandakan. Banyak yang berprasangka bahwa sikap nrimo membuat orang menjadi malas. Sama sekali tidak. Sikap itu justru menyuntiki manusia dengan semangat, dengan energi Terimalah setiap tantangan, dan hadapilah! Seorang Bhakta selalu penuh semangat. Badan boleh dalam keadaan sakit dan tidak berdaya jiwanya tak pernah berhenti berkarya. la akan tetap membakar semangat setiap orang yang mendekatinya Benar sekali pesan Bapak Anand Krishna, dalam pewayangan kita melihat Sri Krishna mengajak Arjuna berperang di Kurukshetra. Krishna tidak menyuruh Arjuna meninggalkan medan perang dan melayani fakir-miskin di bawah jembatan, berjapa, berdzikir dan melakukan lagu-lagu pujian. Sri Krishna mengharapkan Arjuna mewujudkan bhaktinya dengan mengangkat senjata demi Kebenaran, demi Keadilan. Dalam Bhagavad Gita Sri Krishna memberi semangat kepada Arjuna: Janganlah engkau membiarkan dirimu melemah di tengah medan perang ini. Angkatlah senjatamu untuk menegakkan Kebenaran dan Keadilan. Janganlah memikirkan hasil akhir, janganlah berpikir tentang untung-rugi. Berkaryalah sesuai dengan tugas serta kewajibanmu dalam hidup ini! Dalam buku Vedaanta, Harapan Bagi Masa Depan tersebut Beliau menyampaikan Seorang Bhakta adalah seorang Pejuang Tulen. la tidak pernah berhenti berjuang. Kendati demikian, ia pun tidak bertindak secara gegabah. la waspada, tidak was-was. la tidak menuntut sesuatu dari hidup ini, dari dunia ini. la berada di tengah kita untuk memberi. la tidak mengharapkan imbalan dari apa yang dilakukannya. la berkarya tanpa pamrih. Keberhasilan dan kegagalan diterimanya sebagai berkah. Bangkitlah, Bangunlah Hadapilah segala macam rintangan dengan jiwa seorang Bhakta. Berjuanglah dengan semangat seorang Satria. Tanpa rasa bimbang, tanpa keraguan seorang Bhakta

mengabdikan jiwa dan raganya bagi nusa dan bangsa. la sadar sesadarsadarnya akan tugas serta kewajibannya terhadap Tanah-Air, terhadap Ibu Pertiwi. Terhadap lingkungan, terhadap sesama manusia dan sesama makhluk hidup Terhadap dunia ini, terhadap alam semesta. la memahami perannya dalam hidup ini . Demikian nasehat Bapak Anand Krishna, untuk bertemu dengan seorang bhakta agar kita mencari di tengah medan perang Kurukshetra. Dia tidak akan ditemukan di dalam kuil, dia berada di tengah keramaian pasar, di tengah kegaduhan dunia. Ucapan-ucapan seperti aku sudah pasrah, aku sudah berserah diri sepenuhnya hanya menunjukkan kenaifan diri kita. Di balik ucapan-ucapan seperti itu, masih ada keinginan kita yang terselubung untuk menonjolkan diri. Kepasrahan kita masih membutuhkan pengakuan orang lain. Ego kita masih tetap sempit. Dan selama ego belum meluas, tidak ada cinta, tidak akan ada kasih ..

Serial Pandangan Kebangsaan Anand Krishna no 4

Ahimsa Berjuang Tanpa Kekerasan


Dr. Martin Luther King Jr: Kita semua harus tunduk patuh pada hukum manakala hukum itu telah mencerminkan kebenaran dan keadilan. Sebaliknya, jika produk hukum dibuat oleh oknum yang menginjakinjak nilai kebenaran dan keadilan, maka secara moral pula, harus berani melakukan perlawanan .. Dr. Martin Luther King Jr. adalah pembaca setia tulisan Henry David Thoreau, seorang penulis Amerika 100 tahun yang lalu. Thoreau percaya bahwa seseorang memiliki hak untuk tidak mematuhi semua hukum yang dia pikir jahat atau tidak adil. Thoreau tidak membayar pajak sebagai protes terhadap perbudakan. Beliau dimasukkan ke penjara. Seorang teman datang untuk mengunjunginya bertanya, Mengapa kamu ada di penjara? Dia menjawab,Mengapa Anda keluar dari penjara? . King menyukai ide Thoreau bahwa manusia tidak boleh mematuhi hukum yang jahat atau tidak adil. Dan beliau mulai berupaya keras untuk memerangi kejahatan. King membaca buku-buku yang ditulis oleh pemikir besar dunia. Kemudian suatu hari, ia mendengar pidato pemimpin besar India, Mahatma Gandhi .. Mahatma Gandhi telah memenangkan kebebasan bagi negaranya dari pemerintahan Inggris (1947). Dan ia melakukannya dengan cara yang sangat tidak biasa. Sejak awal, dia memberitahu masyarakat untuk tidak menggunakan kekerasan melawan Inggris. Ia menyuruh mereka melawan Inggris dengan cara damai. Mereka akan berbaris. Mereka akan duduk atau berbaring di jalanan. Mereka akan menyerang. Mereka akan memboikot, menolak untuk membeli barang-barang Inggris. Gandhi juga membaca esai Thoreau. Beliau juga percaya bahwa manusia memiliki hak untuk tidak mematuhi hukum yang tidak adil. Seperti Thoreau, ia percaya bahwa manusia dengan senang hati harus pergi ke penjara ketika mereka melanggar hukum yang tidak adil tersebut. Gandhi tidak pernah menggunakan kekerasan. Kekerasan hanya membawa kebencian dan mengundang lebih banyak kekerasan. Gandhi mengatakan kepada masyarakat untuk melawan musuh dengan kekuatan jiwa. Gandhi mengatakan kepada mereka untuk membalas benci dengan cinta. Gandhi menyebut perang tanpa kekerasan. Dan itu membantu India memperoleh kebebasan .. Dr. Martin Luther King Jr. berpikir bahwa Black American dapat menggunakan cara Gandhi untuk memenangkan kebebasan mereka. Gagasan memerangi damai melawan kejahatan disebut anti-kekerasan.

Bapak Anand Krishna dalam buku Life Workbook Melangkah dalam Pencerahan, Kendala dalam Perjalanan, dan Cara Mengatasinya, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2007 menyampaikan Ahimsa, Do Not Act Violently, Do Not Cause Injury, Jangan Menggunakan Kekerasan, Jangan Menyakiti. Seperti yang dikatakan Martin Luther King, Jr., seperti yang dipahami beliau dari ajaran Mahatma Gandhi, Senjata kita hanya satu, senjata kasih! Ahimsa juga berarti menghormati orang lain. Jika sudah membuat janji untuk bertemu jam 10 pagi, lima menit sebelumnya kita sudah berada di tempat pertemuan. Jangan sampai orang lain menunggu. Itu pun kekerasan. Melihat orang lain menderita, para radikal merasa bahagia. Ahimsa berarti merasakan penderitaan orang lain siapa pun orang lain itu. Ahimsa berarti memutuskan untuk tidak menambah penderitaan seorang pun, karena sudah cukup penderitaan di dunia ini. Ahimsa juga berarti tidak menyiksa diri; tidak mengintimidasi siapa pun dengan kehendak membakar diri jika keinginan kita tidak dikabulkan, atau membakar bendera negara lain, karena pemerintahnya tidak bertindak sesuai dengan keinginan kita. Kita juga harus ingat bahwa ahimsa bukanlah pekerjaan para pengecut. Seorang pengecut bertindak karena takut. Ia tidak memiliki keberanian. Pasal pertama abhaya tidak dimilikinya. Dalam bahasa Gandhi, Kau harus memiliki kemampuan dan kekuatan untuk membalas, tetapi memutuskan untuk membalas itulah ahimsa .. Demikian penjelasan Bapak Anand Krishna tentang Ahimsa dari Tiga Hal Utama dalam spiritual: pertama abhaya, fearless, tidak takut; kedua ahimsa do not act violently, jangan menggunakan kekerasan; dan ketiga asanga, be detached, jangan terikat pada sesuatu. Apakah melakukan perang melawan kebatilan itu salah? bagaimana dengan perang Bharatayudha? Bukankah Sri Krishna dan Arjuna juga berperang disana? Apakah ada kemungkinan orang-orang spiritual berani ambil sikap nyata berperang menghadapi kezaliman di negeri ini? Pandawa punya pasukan bersenjata berat, sedangkan pasukan bersenjata di negeri ini tunduk pada yang berwenang, dan bila yang berwenang membiarkan kekerasan berlangsung, kita harus punya solusi yang lain. Ada beberapa perang Bharatayudha versi baru seperti yang dilakukan Mahatma Gandhi yang berperang melawan kebatilan dengan senjata-cinta Ahimsa. Demikian juga Dr. Martin Luther King Jr. berhasil berjuang dengan senjata non violence. Hasilnya, India merdeka, dan di Amerika kurang dari setengah abad setelah Dr. King Jr meninggal, sudah ada Presiden yang berkulit hitam yang kini dipilih untuk keduakalinya . Setiap negara punya masalah sendiri, di Amerika pada saat Dr. Martin Luther King Jr. hidup ada masalah ras, sedangkan di Negeri kita saat ini ada masalah kekerasan terhadap kebhinnekaan ..

Gus Solah, Salahuddin Wahid pernah menulis di harian Kompas tahun 2009 . Pada 1 Desember 1955, seorang tokoh kulit hitam bernama Rosa Parks diminta pindah dari tempat dia duduk di bus kota karena tempat duduk itu adalah khusus untuk warga kulit putih. Dia menolak sehingga dihukum. Tokoh-tokoh kulit hitam berkumpul untuk mengajak warga kulit hitam memprotes UU Negara Bagian Alabama yang mengharuskan pemisahan kursi bus .. Warga kulit hitam sepakat untuk melakukan boikot terhadap bus kota di Montgomery. Seseorang mengusulkan Dr Marthin Luther King Jr, pendeta yang masih muda, sehingga dapat bekerja dengan kekuatan penuh. Usul itu disetujui meski Pendeta King belum lama tinggal di Montgomery .. Dalam pertemuan untuk sosialisasi gerakan itu, Dr King sudah menunjukkan kemampuan berpidato yang memukau, mampu menumbuhkan motivasi dan menggerakkan warga untuk melakukan boikot. Tampaknya kemampuan berbicara Dr King adalah salah satu kunci keberhasilan gerakan itu .. Warga kulit hitam melakukan boikot dengan berjalan kaki menuju tempat bekerja atau ke sekolah. Bus kota menjadi amat sepi sehingga menyulitkan perusahaan bus kota. Warga kulit hitam juga mengatur supaya yang bekerja di tempat jauh dapat diberi tumpangan oleh mereka yang punya kendaraan. Ada gerakan mengumpulkan sepatu dari kota lain untuk membantu yang sepatunya rusak akibat boikot itu .. Perundingan dilakukan antara Pemerintah Kota Montgomery dan para tokoh kulit hitam, tetapi tak tercapai kesepakatan. Mobil warga kulit hitam ada yang diledakkan. Bahkan, rumah Dr King terkena bom. Ku Klux Klan melakukan intimidasi terhadap warga kulit hitam. Namun, Dr King mampu menjaga emosi pengikutnya dan menanamkan ke dalam diri mereka bahwa antikekerasan akan menjadi kekuatan moral yang dahsyat Perlawanan tanpa kekerasan dalam jangka panjang akan menghasilkan energi positif yang lebih hebat daripada perlawanan menggunakan kekerasan. Yang dibutuhkan ialah kesabaran dan kemampuan menahan emosi Melihat sikap Pemerintah Kota Montgomery yang bersikukuh bahwa pemisahan tempat duduk bus untuk kulit putih dan kulit hitam adalah perintah UU Alabama, warga kulit hitam Montgomery mengajukan semacam uji materi terhadap UU itu kepada MA Federal. Lembaga itu membatalkan UU tersebut. Boikot 385 hari tanpa kekerasan mampu meniadakan UU diskriminatif Akhirnya sejarah mencatat tentang The March of Washington, saat gabungan seperempat juta warga AS berkulit hitam dan putih memadati the Mall antara the Lincoln Memorial dan the Washington Monument di ibu kota AS pada 28 Agustus 1963. Peristiwa itu adalah salah satu demonstrasi terbesar dalam sejarah perjuangan HAM .. Pidato Martin Luther King Jr dalam peristiwa itu (I Have A Dream) menjadi salah satu pidato monumentalnya .. Salah satu bagian dari pidatonya itu: Saya

punya impian bahwa keempat anak saya suatu hari nanti akan hidup di negara di mana mereka tidak dinilai dari warna kulitnya melainkan dari karakternya. Saya punya impian hari ini. .. Dr. King berhasil menanamkan sikap antikekerasan di dalam diri pengikutnya. Ternyata perjuangan antikekerasan itu dalam jangka panjang berhasil menempatkan warga kulit hitam pada posisi sejajar dengan warga kulit putih dan mengantarkan seorang keturunan kulit hitam pada posisi orang nomor satu di dunia. Belum tentu posisi itu bisa diraih Obama jika warga kulit hitam AS menggunakan cara kekerasan ..

Serial Pandangan Kebangsaan Anand Krishna no 5

Program Kekerasan dan Manipulasi Otak


Seorang teman jejaring Face Book dari Pakistan menuliskan pandangannya tentang kondisi kekerasan di Pakistan yang tak ada habishabisnya .. Seorang anak lelaki kecil diasramakan di madrasah terpencil di perbatasan negara. Dia dijauhkan dari dunia dan dihalangi agar tidak berinteraksi dengan manusia. Dia didoktrin dengan agama versi yang ekstrim dan diyakinkan bahwa dia bukan milik dunia. Dia diajari tentang dunia indah yang menunggunya di surga. Dan bahwa dalam rangka mencapai surga dia harus memusnahkan semua hal yang menghalanginya. Termasuk tubuh miliknya Pada saat dia remaja, anak ini telah menjadi lebah jantan, pria yang bukan manusia yang siap menyengat siapa saja. Para sutradara pemanipulasi mind punya banyak remaja segar ala robot yang mudah dikendalikan mereka. Atas pesan SMS para remaja siap meledakkan diri mereka Teman tersebut menjelaskan ini adalah eksperimen yang berkembang pesat di Pakistan. Sangat menakutkan. Dan pencucian otak ini setaraf apabila tidak lebih buruk daripada perbaikan keturunan versi Nazi Jerman. Dahulu Nazi berbuat atas nama ilmu pengetahuan. Dan kini di Pakistan, dilakukan atas nama Agama dan Tuhan. Demikian ungkapan seorang teman dari Pakistan . Seorang bayi memiliki karakter bawaan. Kemudian diprogram oleh orang tua, oleh pendidikan dan oleh lingkungan. Kebenaran baginya adalah Kebenaran dalam kerangka program yang diberikan. Lain orang tua, lain pendidikan dan lingkungan, pandangan tentang Kebenaran akan berbeda. Kenyataan itu memungkinkan terjadinya indoktrinasi pandangan seseorang sejak kecil. Seseorang merasa beriman dan merasa bertindak benar dengan melakukan kekerasan. Padahal dia hanya melakukannya atas dasar pikiran bawah sadar yang telah diprogram, yang dilakukan berulang-ulang secara repetitive intensive, secara sistematis ditanamkan kepada bawah sadarnya. Ini yang dilakukan oleh para otak teroris. Lewat lembaga-lembaga pendidikan agama yang mereka gelar di mana-mana, sesungguhnya mereka memprogram otak-otak yang masih segar, dan mematikan kemampuannya untuk ber-ijtihad. Kemudian, dengan sangat mudah mereka memasukkan program Jihad versi mereka. Dan terciptalah sekian banyak pelaku bom bunuh diri yang siap membunuh siapa saja yang menurut programming mereka bertentangan dengan agama, dengan syariat, dengan apa yang mereka anggap satu-satunya kebenaran. . Bapak Anand Krishna pernah menulis di Harian Kompas 15 Agustus 2009 ..Dalam sejarah modern, adalah Adolf Hitler (1889-1945) adalah

yang pertama kali menggunakan mind manipulation atau manipulasi pikiran sebagai senjata. Ibarat komputer, mind atau gugusan pikiran manusia dapat dimanipulasi, dapat di-hack, bahkan dapat disusupi virus untuk merusak seluruh jaringannya. Dalam otobiografinya (Mein Kampf), Hitler menulis, Teknik propaganda secanggih apa pun tak akan berhasil bila terdapat hal yang terpenting tidak diperhatikan, yaitu, membatasi kata-kata dan memperbanyak pengulangan. Kemungkinan besar, Hitler telah mempelajari penemuan Pavlov, ilmuwan asal Rusia dan peraih hadiah Nobel 1904 untuk psikologi dan ilmu medis. Melalui teorinya tentang conditioned reflex atau involuntary reflex action, sang ilmuwan membuktikan, perilaku manusia dapat diatur atau dikondisikan sesuai proses pembelajaran yang diperolehnya .. Ketika seekor anjing diberi makanan, ia mengeluarkan air liur. Ini disebut refleks yang lazim atau unconditioned reflex. Ia tak perlu menjalani proses pembelajaran.Namun, pada saat yang sama bila dibunyikan lonceng, terjadilah proses pembelajaran. Anjing itu mulai mengaitkan bunyi lonceng dengan makanan dan air liurnya. Setelah beberapa kali mengalami kejadian serupa, maka saat mendengar bunyi lonceng, air liurnya keluar sendiri meski tidak diberi makanan. Ini disebut conditioned reflex, refleks tak lazim. Keluarnya air liur itu tidak lazim, tidak ada makanan. Namun, ia tetap mengeluarkan air liur. Pembelajaran ini harus diulang beberapa kali agar keterkaitan yang dihendaki tertanam dalam gugusan pikiran atau mind hewan, atau manusia! Maka, tak salah bila Adolf Hitler menganjurkan pengulangan. Dalam ilmu psikologi dan neurologi modern, pengulangan atau repetition juga dikaitkan dengan intensity. Apa yang hendak ditanam harus terus diulangi secara intensif. Demikian bila seekor anjing dapat mengeluarkan air liur yang sesungguhnya tak lazim, manusia pun dapat dikondisikan, dipengaruhi untuk berbuat sesuatu di luar kemauannya Pengulangan tidak dapat mengubah kebohongan menjadi kebenaran. Tetapi pengulangan dapat membuat orang percaya pada kebohongan. Hitler membuktikan keabsahan sebuah pepatah lama dari Tibet, Bila diulangi terus-menerus, kebohongan pun akan dipercayai orang .. Selanjutnya dalam buku Tetap Waras di Jaman Edan, Visi Ronggowarsito Bagi Orang Modern, Anand Krishna, Gramedia Pustaka, 1998 Beliau menyampaikan Program yang diberikan dapat menentukan setiap tindakan, setiap ucapan, bahkan setiap pikiran dan setiap perasaan dalam diri anda. Komputerisasi umat manusia sudah terjadi sejak ribuan tahun yang lalu. Mereka yang berkuasa, mereka yang menjadi pemimpin, mereka yang berada pada pucuk pemerintahan telah melakukan programming ini. Tentu saja, programming ini harus menguntungkan mereka, anda hidup dalam ketidaksadaran. Sepertinya dibawah pengaruh hipnotis massa. Tindakan, ucapan, pikiran bahkan perasaan anda pun sesuai dengan programming yang telah diberikan kepada anda. Anda tidak bebas

! Mungkin sudah merdeka, tetapi hanya memproklamasikan kemerdekaan tidak membebaskan diri anda ! Anda telah diperbudak selama ribuan tahun dan saat ini pun anda masih diperbudak. Anda diperbudak oleh berbagai tradisi, peraturan dan konsep yang sudah kadaluwarsa, sudah usang. Mereka yang memprogram anda tidak menginginkan kebebasan anda. Kenapa? Karena begitu anda bebas, anda tidak dapat dikuasai. Untuk menguasai anda, kepatuhan anda sangat dibutuhkan; kepastian anda sangat dibutuhkan. Anda harus statis. Dan dengan menggunakan dalil stabilitas, anda telah dilatih dan dipaksa untuk jalan atau lari ditempat. Itu sebabnya, manusia dapat diramalkan. Manusia yang sudah diperbudak oleh masyarakat, dapat diramalkan. Suatu masyarakat yang terbelenggu oleh berbagai tradisi dan peraturan yang sudah dapat diramalkan Pesan yang disampaikan Bapak Anand Krishna sangat relevan dengan kondisi bangsa kita dan bahkan dunia. Masalah utama umat manusia masa kini adalah masalah condittioning, masalah mind-programming, pemrograman pikiran. Pembawa ideologi sosialis maupun liberalis saling berebut untuk mempengaruhi pandangan. Saat ini keduanya sudah mengadakan penyesuaian-penyesuaian demi perbaikan. Bangsa ini membutuhkan perubahan drastis, bukan perubahan sistem semata. Perubahan sistem tidak akan membantu banyak, selama pandangan manusia masih berpola lama. Yang dibutuhkan adalah perubahan dalam cara berpikirnya. Revolusi Pemikiran yang dibutuhkannya. Dibutuhkan revolusi untuk mengubah yang sudah terlanjur dogmatis pola pikirnya. Dibutuhkan Revolusi Kasih untuk mengubah pola pikir yang sudah terlanjur diselimuti oleh arogansi dan rasa benci terhadap keyakinan lainnya. Kasih adalah rasa hati, tidak berpikir untung rugi, hanya suka memberi dan selalu berupaya memahami. Bapak Anand Krishna masih optimis dapat memperbaiki keadaan yang terjadi karenaprogramming sebelumnya. Dalam buku Bodhidharma, Kata Awal Adalah Kata Akhir, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama Jakarta, 2005 beliau menyampaikan ..Mind ibarat perangkat lunak komputer. Ia tidak bisa berfungsi sendiri. Harus ada perangkat keras agar dia bisa berfungsi. Otak adalah perangkat keras yang dibutuhkannya. Kemudian, selama kita masih memiliki otak, perangkat lunak itu (mind)dapat di-over write dapat dirancang kembali, dapat diubah total, sehingga sama sekali berada dari aslinya. Ini yang disebut proses deconditioning dan re-creating mind. Isi mind bukanlah harga mati. Kita bisa mengubahnya. Mind itu sendiri tidak lebih dari sebuah ilusi. Diatas apa yang ditulis, kita dapat menulis ulang apa saja. Minditu rewritable!

Serial Pandangan Kebangsaan Anand Krishna no 6

Peraturan Tidak Bisa Membentuk Kejujuran


Kejujuran adalah sebuah pedoman. Dan, kejujuran tidak dapat dijadikan peraturan. Kita dapat membuat peraturan untuk mengatur tindakan yang tidak jujur. Kita dapat melarang penipuan dan penyelewengan. Dengan cara itu kita boleh berharap supaya setiap orang berperilaku jujur, namun kenyataannya apa? Fakta di lapangan menunjukkan bahwa peraturan, undang-undang, dogma, dan doktrin tidak dapat menjujurkan jiwa manusia. Bagaikan benih, kejujuran harus ditanam dan dikembangkan dalam diri manusia. Ia tidak dapat dijadikan peraturan, kemudian dimasukkan secara paksa ke dalam diri manusia. Demikian nasehat Bapak Anand Krishna dalam buku Mawar Mistik, Ulasan Injil Maria Magdalena, Anand Krishna, PT Gramedia Pustaka Utama, 2007. Anand Krishna adalah seorang penulis buku yang produktif. Sudah lebih dari 150 buah buku baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris yang sudah diterbitkan. Tokoh yang berteman baik dengan Gus Dur ini bukan pesaing bisnis, pesaing politik maupun pesaing pemandu rohani. Beliau menghargai semua profesi dan berkeyakinan bahwa apa pun profesi seseorang dia dapat mempersembahkan karyanya bagi bangsanya, bagi kemanusiaan dan juga bagi Dia Hyang Maha Memiliki. Seorang mahasiswa, seorang aktivis ataupun dia yang sedang meniti ke dalam diri akan mendapat masukan dari segi nasionalis, internasionalis dan sipritual. Pesan Bapak Anand Krishna tentang pedoman dan peraturan tersebut sangat relevan dengan berbagai peristiwa yang terjadi di tengah-tengah bangsa. Masyarakat geram dan sekaligus hampir frustasi melihat para pemimpin bangsa hanya debat kusir tentang kebenaran legal/formal dan menyangkal realita yang telah terjadi. Dari masalah pembebasan hukuman mati bandar narkoba oleh Mahkamah Agung, testimoni napi yang edarkan narkoba dari LP mencari uang Rp 3 M agar hukuman mati diperingan, pemerasan BUMN, permainan anggaran, dan lain-lain yang berderet-deret, masyarakat melihat fenomena tentang ketidakjujuran yang bersimaharajalela di tengah bangsa. Melihat maraknya Mafia Hukum di Indonesia dibuatlah sebuah Peraturan yang dikenal sebagai Keputusan Presiden Nomor 37 Tahun 2009 tentang Satuan Tugas Pemberantasan Mafia Hukum (PMH) yang diterbitkan pada tanggal 30 Desember 2009. Tujuan pembentukan Satgas PMH adalah untuk mempercepat pemberantasan praktik mafia hukum yang semakin lama dianggap semakin mengkawatirkan dan merusak upaya penegakan

hukum di Indonesia.Satgas PMH ini dilengkapi Buku Satgas Pemberantasan Mafia Hukum setebal 91 halaman yang dilengkapi dengan dua lampiran untuk melihat rincian ulah Mafia Peradilan yang mungkin terjadi dalam sebuah kasus dan sebuah Gambaran Singkat tentang Satuan Tugas Pemberantasan Mafia Hukum (Satgas PMH). Lampiran pertama berisi ringkasan akar masalah mafia hukum dan strategi yang perlu dilakukan untuk menjawab masalah tersebut. Lampiran kedua berisi matriks pola dan modus mafia hukum yang lebih detail yang disusun berdasarkan tahapan berperkara di setiap institusi penegak hukum dan pengadilan . Akan tetapi tindakan Satuan Tugas Pemberantasan Mafia Hukum (PMH) sampai saat ini belum terasa dampaknya. Mafia hukum masih merajalela di tengah-tengah bangsa. Padahal menurut kami, buku tersebut sangat komprehensif. Memang yang penting bukan peraturannya, akan tetapi manusianya. Mereka yang menguasai dan hapal peraturan sampai ayat-ayatnya, apabila tidak mempraktekkannya dalam kehidupan nyata, tidak dapat memperbaiki keadaan. Kejujuran tidak bisa dibentuk dengan peraturan, kejujuran bagaikan benih yang harus ditanam dan dikembangkan dalam diri manusia, lewat pendidikan dan praktek sejak usia dini. Mengubah karakter lama, memperbaiki pola pemikiran lama tidak mudah. Peraturan baru yang diterapkan kepada orang yang berkarakter lama tidak akan mempan. Mereka yang berkarakter tidak jujur, tidak amanah hanya menggunakan peraturan sebagai peraturan formal dan prosedural dan mengabaikan keadilan sejati atau substansial substansial. Oleh karena itu dalam realita kehidupan masyarakat, hukum hanya dijadikan alat sehingga mengalami penyakit kronis yang mengaburkan makna dari hukum tersebut. Hukum hanya dijadikan sebuah alat untuk melindungi kepentingan-kepentingan tertentu dan bahkan dijadikan alat untuk melegalkan tindakan-tindakan yang jauh dari nilai-nilai keadilan. Hukum sebenarnya bertujuan untuk mewujudkan keadilan dan keadilan tanpa hukum ibarat macan ompong. Namun untuk mendapatkan keadilan, para pencari keadilan harus melalui prosedur-prosedur yang tidak adil. Sehingga hukum menjadi momok yang menakutkan bagi masyarakat, hukum bukan lagi untuk membahagiakan masyarakat tetapi malah menyengsarakan masyarakat. Hukum nampak gagal memberikan keadilan ditengah masyarakat. Selama ini nampaknya peraturan tidak dapat menyelesaikan masalah. Menurut almarhum Prof. Dr. Satjipto Rahardjo, seorang dedengkot hukum di Indonesia .. Hakim menjadi faktor penting dalam menentukan, bahwa pengadilan bukanlah suatu permainan (game) untuk mencari menang atau kalah, melainkan mencari kebenaran dan keadilan. Keadilan progresif semakin jauh dari cita-cita pengadilan yang cepat, sederhana, dan biaya ringan apabila membiarkan pengadilan didominasi oleh permainan prosedur. Proses pengadilan yang disebut fair trial dinegeri

ini hendaknya berani ditafsirkan sebagai pengadilan dimana hakim memegang kendali aktif untuk mencari kebenaran. Menurut Satjipto Rahardjo, inti dari kemunduran diatas adalah makin langkanya kejujuran, empati dan dedikasi dalam menjalankan hukum. Selanjutnya Satjipto Rahardjo mengutip ucapan Taverne, Berikan pada saya jaksa dan hakim yang baik, maka dengan peraturan yang buruk sekalipun saya bisa membuat putusan yang baik. Kembali yang penting bukan peraturannya akan tetapi manusianya. Mereka yang menguasai dan hapal peraturan sampai ayat-ayatnya, apabila tidak mempraktekkannya dalam kehidupan nyata, tidak dapat memperbaiki keadaan. Tak ada kesadaran datang dari luar, semuanya dari dalam. Dalam buku Bagimu Ibu Pertiwi, Realisasi Nilai-Nilai Luhur Bhagavad Gita Demi Kebangkitan Jiwa Indonesia, Anand Krishna, One Earth Media, 2005 Bapak Anand Krishna menyampaikan Untuk membangun Indonesia Baru, manusianya harus dibangun terlebih dahulu. Bukan sistem, manusia belum bangun mau buat sistem macam apa? Manusia yang tak sadar hanya akan menciptakan sistem-sistem tanpa kesadaran, sistem-sistem yang tak berguna . (Dalam kisah Mahabharata) Selama 13 tahun dalam pengasingan, sesungguhnya Krishna mendampingi Pandawa dalam rangka membangun manusia dalam diri mereka. manusia yang dapat membangun, menikmati hasil bangunannya, juga siap menerima perubahan sebagai hukum alam yang tak terelakkan .. Kita bisa melihat kenyataan yang terjadi dalam masyarakat saat ajaran agama telah dijadikan hukum dan peraturan dengan segala macam sanksi dan pahala. Koruptor merasa bisa mencuci dosa-dosanya dengan membayar sedekah atau melakukan perjalanan suci. Seorang pembunuh cukup membayar denda, atau menyuap hakim. Seorang bandar narkoba cukup mempersiapkan uang dan hukumannya bisa diringankan. Dosa dapat dicuci dengan pahala. Bapak Anand Krishna memberikan nasehat dalam buku Mawar Mistik, Ulasan Injil Maria Magdalena, Anand Krishna, PT Gramedia Pustaka Utama, 2007 .. Perilaku seorang Muhammad menjadi pedoman bagi kita (Perilaku nabi sebagai teladan dalam praktek hidup sehari-hari). Perilaku seorang Yesus menjadi pedoman bagi kita. Demikian juga dengan perilaku Siddharta, Krishna, dan Lao Tze. Pedoman berartireference, acuan. Ada kalanya kita tidak dapat mengikuti mereka kata per kata. Kita hidup dalam zaman yang berbeda. Tuntutan zaman kita barangkali lain, beda dari tuntutan zaman mereka. Kendati demikian, apa yang mereka lakukan dapat menjadi referensiatau pedoman bagi kita. Seorang nabi berjuang demi terwujudnya perdamaian. Barangkali kita tidak dapat menirunya seratus persen. Tetapi, kita dapat berjuang demi tujuan yang sama. Tujuan itu masih relevan. Para orang suci menasehati kita untuk

tidak terikat oleh hukum dan larangan semata. Tidak berarti para orang suci menasehati kita untuk melanggar hukum dan peraturan. Mereka menasehati kita agar kita menjadi sadar. Agar kita berbuat baik bukan karena takut dihukum jika berbuat tidak baik, tetapi berbuat baik karena kita memang baik; karena kebaikan telah menjadi sifat kita Yang penting bukan peraturannya akan tetapi manusianya. Mereka yang menguasai dan hapal peraturan sampai ayat-ayatnya, apabila tidak mempraktekkannya dalam kehidupan nyata, tidak dapat memperbaiki keadaan.

Serial Pandangan Kebangsaan Anand Krishna no 7

Pilih yang Baik Atau yang Nikmat


Setiap orang selalu dihadapkan pada pilihan sebelum melakukan sesuatu: melakukannya, tidak melakukannya, atau mengambil pilihan lainnya. Oleh karena itu seseorang harus bertanggungjawab dengan apa pun yang telah dipilihnya. Bahkan jalan kehidupannya ditentukan oleh dirinya sendiri dari akumulasi pilihan-pilihan yang telah dilakukannya. Pada umumnya, orang akan mengulangi apa yang menyenangkannya, menghindari apa yang tidak disenanginya dan cuek atau tidak peduli terhadap sesuatu yang tidak langsung berkaitan dengan dirinya. Akan tetapi berdasarkan intelegensianya, seseorang berani meninggalkan hal yang disenanginya, meninggalkan kebiasaan dalam mengikuti kesenangannya, demi kebaikan dirinya. Itulah sebabnya, para pelajar memilih belajar daripada nonton tivi. Orang memilih makanan tahu tempe sayur meninggalkan makanan lezat berkolesterol tinggi. Orang yang sadar akan menolak memperoleh uang dengan kejahatan, karena percaya pada hukum alam bahwa setiap benih kejahatan akan menghasilkan buah kejahatan kepadanya, saat tanaman kejahatan telah berbuah. Bapak Anand Krishna dalam buku Masnawi Buku Kelima, Bersama Jalaluddin Rumi Menemukan Kebenaran Sejati memberikan pandangan Bila disuruh memilih antara yang baik dan yang nikmat biasanya manusia akan memilih yang nikmat. Itu sebabnya, seorang anak harus diberi iming-iming kenikmatan permen, nasinya dihabiskan dulu, kalau sudah habis, mama berikan permen. Permen kenikmatan sesungguhnya hanyalah iming-iming. Tidak penting. Yang penting adalah nasi. Bila masih kecil, pemberian iming-iming masih bisa dipahami. Celakanya, kita semua sudah kebablasan. Sudah dewasa, sudah bukan anak-anak lagi, tetapi masih membutuhkan iming-iming permen kenikmatan. Kemudian, demi permen kenikmatan kita akan melakukan apa saja. Jangankan nasi, batu pun kita makan. Asal mendapatkan permen. Demi permen kenikmatan, kita tega mengorbankan kepentingan orang lain. Kitabersedia memanipulasi apa saja. Agama dan kepercayaan akan kita gadaikan bersama suara nurani Anand Krishna adalah seorang penulis buku yang produktif. Sudah lebih dari 150 buah buku baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris yang sudah diterbitkan. Tokoh yang berteman baik dengan Gus Dur ini bukan pesaing bisnis, pesaing politik maupun pesaing pemandu rohani. Beliau menghargai semua profesi dan berkeyakinan bahwa apa pun profesi seseorang dia dapat mempersembahkan karyanya bagi bangsanya,

bagi kemanusiaan dan juga bagi Dia Hyang Maha Memiliki. Seorang mahasiswa, seorang aktivis ataupun dia yang sedang meniti ke dalam diri akan mendapat masukan dari segi nasionalis, internasionalis dan sipritual. Kita harus membedakan antara yang nikmat dan yang baik, antara kenyamanan dan kebahagiaan. Sandang, pangan, papan, seks, dan sebagainya, sekadar untuk menyamankan kita, dan tidak bisa membahagiakan kita. Tetapi, kenyamanan pun penting. Karena itu, tidak perlu meninggalkan semua itu. Cukup menyadari bahwa apa yang bisa menyamankan belum tentu bisa membahagiakan. Yang bisa membahagiakan manusia hanya Kasih. Karena sifat Kasih yang tak terbatas dan tak bersyarat itu, maka apa yang kita peroleh dari-Nya juga tidak terbatas dan tidak bersyarat. Kasih adalah sebab. Akibat-nya adalah kebahagiaan sejati . Bapak Anand Krishna dalam buku Panca Aksara Membangkitkan keagamaan dalam diri manusia, Anand Krishna, Pustaka Bali Post, 2007 menyampaikan .. Setiap orang, setiap anak manusia, bahkan setiap makhluk, sejak awal mulanya alam ini - sesungguhnya mendambakan satu hal saja. Yaitu: Kebahagiaan Sejati. Ketika otaknya belum cukup berkembang, daya pikir serta intelejensianya masih minim - ia memahami apa yang didambakannya itu sebagai keinginan untuk sesuatu. Sesuatu yang dianggapnya dapat membahagiakan dirinya. Saat ia belum mampu medefenisikan kebahagiaan. Kenikmatan indera dan kenyamanan tubuh dianggapnya sudah cukup membahagiakan. Dalam perjalanan panjang menuju kebahagiaan, manusia menemukan banyak hal yang membuat tubuhnya menjadi nyaman. Masa yang cukup panjang dilaluinya sebelum ia dapat menyimpulkan bahwa, Adalah Kebahagiaan Sejati atau Anand yang sedang kucari! Manusia ingin bahagia, ia mendambakan kebahagiaan. Tetapi, bukanlah kebahagiaan biasa, kebahagiaan sesaat. Ia menginginkan Kebahagiaan yang Kekal, Abadi, Langgeng - Kebahagiaan Sejati. Kebahagiaan yang tak pernah berakhir, tak pernah melentur, tak pernah berkurang. Tak pernah hilang. Sekali Bahagia, Tetap Bahagia . Kita paham bahwa segala kenyamanan tidak akan kita bawa kala kita meninggalkan dunia. Hanya satu yang kita bawa yaitu amal kebaikan. Karena itu pada hakikatnya tak ada manfaatnya mengejar kenyamanan dengan meninggalkan kebaikan. Tidak ada manfaatnya mengejar hal-hal yang semu, yang bersifat sementara dengan mengabaikan hati nurani ketika kita masih memiliki badan. Akan tetapi kebahagiaan bukan berarti bermalas-malasan, bahkan kerja keras demi melayani sesama. Ciri khas Kebahagiaan Sejati adalah aktivitas, kerja nyata, kerja keras, ketekunan, semangat. Ia yang bahagia tidak pernah bemalas-malasan. Mereka yang bermalas-malasan sesungguhnya belum bahagia. Mereka sekedar menikmati buah perbuatan mereka, hasil pekerjaan mereka dimasa lalu.

Kenikmatan mereka bersifat sementara. Pikirannya lumpuh, kehendaknya lemah. Bapak Anand Krishna pernah memberi nasehat Kematian adalah keniscayaan yang tak dapat dihindari. Mau jungkir balik seperti apa pun, setiap yang lahir mesti mati. Apa yang menyertai kita saat itu? Dhammapada 16: 219/220 menjelaskan bahwa saat itu yang menyertai kita hanyalah kebaikan yang kita lakukan sepanjang hidup. Bagi Buddha perbuatan baik bukanlah sekedar amal saleh tetapi amal-saleh yang dilakukan dengan penuh kesadaran. Seperti itu juga yang dikatakan oleh Sufi Besar Rumi, bukan sekedar bersedekah, tetapi memastikan bahwa uang yang kita peroleh untuk menjalani hidup dan bersedekah pun kita peroleh dengan cara yang baik, dan tidak menyakiti, mencelakakan, menipu atau memeras orang lain. Bekal utama pemberdayaan diri adalah kemampuan kita untuk memilih mana yang tepat, dan mana yang tidak tepat. Dalam buku Shri Sai Satcharita, Sai das, Anand Krishna Global Co-Operation Indonesia, 2010 Bapak Anand Krishna menyampaikan . Dalam hidup ini kita memang selalu berhadapan dengan dua pilihan tersebut, shreya atau preya, yang memuliakan atau yang menyenangkan. Seorang pencari jatidiri hendaknya memilih shreya, atau yang memuliakan. Dan, tidak memilih preya, yang menyenangkan. Preya, yang menyenangkan, adalah pilihan mereka yang masih sepenuhnya berada dalam alam kebendaan. Para bijak selalu memilih yang memuliakan. Mereka yang tidak bijak memilih yang menyenangkan karena keserakahan dan keterikatan mereka dengan dunia benda .. Untuk selalu memilih yang memuliakan dan tidak sekedar yang menyenangkan, Bapak Anand Krishna memberikan solusi bekerja dengan semangat persembahan. Dalam salah satu wejangannya Beliau menyampaikan . Menurut surat al-Anfaal ayat 29, jika kita bekerja dengan penuh kesadaran akan tujuan dan hasil pekerjaan itu, maka kita hanya menanam benih materi-dunia, dan hasilnya pun pasti sama: materidunia. Tapi, jika kita bekerja dengan pekerjaannya tetap sama, tetapi dengan semangat persembahan dan tidak memikirkan hasil materi-dunia, maka kita memperoleh hasil-ganda. Hasil materi-dunia sebagai akibat dari sebab pekerjaan tetaplah kita peroleh, ditambah dengan hasil berkah sebagai akibat dari niat dan hasil itulah yang disebut furqaan. Furqaan berarti kemampuan untuk memilah/membedakan. Farq berarti beda, furqaan membedakan. Inilah viveka, bodhichitta. Dengan kemampuan inilah kita baru bisa membedakan antara shreya danpreya. Shreya berarti kemuliaan diri. Preya berarti kenikmatan ragawi. Mereka yang tidak memiliki kemampuan ini jelas karena mereka bekerja dengan niat bekerja, bukan dengan niat

persembahan mereka memilih preya. Mereka yang berkarya tanpa pamrih dengan semangat persembahan telah memilih shreya Berperanglah melawan napsu rendahan. Walau apa yang kita peroleh lewat napsu rendahan itu menyenangkan dan nikmat atau preya. Dan, terimalah yang kau peroleh dari kesadaran tinggi. Walau perolehan itu awalnya terasa tidak nikmat atau shreya.

Serial Pandangan Kebangsaan Anand Krishna no 8

Tangan yang Melayani Lebih Suci dari Bibir yang Berdoa


Bapak Anand Krishna pernah mengunggah sebuah video dari Youtube yang dilengkapi teks bahasa Inggris di status FBnya. Terjemahan bebas dari nyanyian tersebut sangat menyentuh hati Aku pergi ke tempat ibadah dan berdoa kepada Tuhan, sementara aku berdoa tiba-tiba aku berpikir, kepada ibu dan bapakku saja aku tidak pernah melakukan pelayanan tanpa pamrih, lalu apa gunanya berdoa kepada Tuhan? . Aku pergi ke sebuah pengajian untuk belajar tentang Tuhan dan aku mendengarkan ajaran suci, sementara aku mendengar ajaran suci tiba-tiba aku berpikir, meskipun aku telah lahir sebagai manusia yang disebut mulia, aku tidak pernah melakukan perbuatan mulia yang memberikan kebaikan pada sesama. lalu apa gunanya disebut manusia? . Aku telah membaca semua kitab suci, sementara membaca kitab suci tiba-tiba aku berpikir, aku tidak pernah berbagi pengetahuan dengan siapa pun, lalu apa pantas aku disebut bijak? . Doa adalah semangat di balik upaya. Doa harus mewarnai setiap upaya manusia. Doa mestinya memberi semangat untuk berjuang, untuk menyelesaikan perkara, mencari solusi .. Doa bukan solusi. Doa adalah semangat di balik upaya manusia. Doa harus ditindaklanjuti dengan upaya. Anand Krishna adalah seorang penulis buku yang produktif. Sudah lebih dari 150 buah buku baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris yang sudah diterbitkan. Tokoh yang berteman baik dengan Gus Dur ini bukan pesaing bisnis, pesaing politik maupun pesaing pemandu rohani. Beliau menghargai semua profesi dan berkeyakinan bahwa apa pun profesi seseorang dia dapat mempersembahkan karyanya bagi kemanusiaan dan juga mempersembahkan amalnya kepada Dia Hyang Maha Memiliki. Seorang mahasiswa, seorang aktivis ataupun dia yang sedang meniti ke dalam diri akan mendapat masukan dari segi nasionalis, internasionalis dan sipritual. Bapak Anand Krishna memberikan nasehat bahwa melakukan pelayanan lebih mulia daripada berdoa di bibir belaka. Dalam buku Karma Yoga bagi Orang Moderen, Etos Kerja Transpersonal untuk Zaman Baru, Anand

Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2011 Beliau menyampaikan .. Hands that Help are Better than Lips that Pray, Tangan yang membantu, melayani, lebih baik dari bibir yang berdoa, demikian teguran Ellen Johnson, seorang aktivis kemanusiaan, yang dilontarkannya kepada Presiden A.S. saat sebagian warga Amerika terkena bencana topan Katrina (tahun 2005). Pasalnya, saat itu Presiden Bush dan Gubernur Louisiana Kathleen Blanco mengajak warga yang terkena musibah untuk berdoa! Ellen gusar: . judging from the speed of some relief efforts, officials should be busy working instead of preaching. Ia mengharapkan para pejabat pemerintah lebih fokus pada pelayanan dan bantuan bagi para korban, yang ternyata terlambat tibanya. Tidak berarti kita menjadi anti-doa, atau anti-ibadah. Tidak sama sekali. Yang dimaksud adalah mempraktekan nilai-nilai keagamaan dengan membantu sesama, apalagi yang sedang menderita dan menjadi korban bencana. Sesungguhnya Ellen Johnson hanya mengutip Robert Green Ingersoll (1833-1899), seorang pemikir asal Amerika yang pertama kali mencucapkan kalimat tersebut, Hands that Help are Better than Lips that Pray . Seorang Guru Spiritual kontemporer, Sri Sathya Sai Baba (lahir1926), merubah kata better menjadi holier- sepasang tangan yang membantu lebih mulia, lebih suci dari bibir yang sedang berdoa. Para Sufi memiliki ungkapanungkapan yang mirip Berarti apa? Berarti, nilai pelayanan, nilai kerelawanan, nilai berkarya tanpa pamrih adalah sebuah nilai yang universal, dan menembus segala macam perbedaan di permukaan .. Sebuah dunia yang damai hanya akan terwujud jika kita semua bersamasama menjunjung tinggi nilai spiritual yang satu ini. Di dalam nilai inilah tersimpan harapan bagi hari esok yang lebih cerah, harapan bagi seluruh umat manusia, dan bagi kemanusiaan! Ketika kita menyusahkan orang lain, apakah kita sendiri tidak ikut gelisah? Betapa sering kita terbakar oleh emosi amarah yang muncul dari dalam diri kita sendiri? Sebaliknya, ketika kita terlibat dalam suatu kegiatan amal terlibat secara fisik, dan tidak hanya menyumbang saja betapa bahagianya diri kita! Kita tidak bisa lagi berkarya bagi kepentingan, keuntungan, dan kebaikan diri saja. Kita sadar bila apa saja yang kita lakukan berdampak terhadap semesta. Maka, kita menjadi eling waspada. Kita tidak bisa berperilaku sembrono. Bapak Anand Krishna mengingatkan dalam buku Cakrawala Sufi 3, Kembara Bersama Mereka Yang Berjiwa Sufi, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 1999 Kepuasan batin yang kita peroleh setelah membantu, melayani orang lain sungguh tak terhingga nilainya. Hanya mementingkan diri sendiri dan bersikap cuek terhadap kepentingan orang lain adalah sifat hewani. Naluri hewani yang masih tersisa dalam diri manusia membuat dia bersikap demikian. Mementingkan diri sendiri, tetapi pada saat yang sama peduli juga terhadap kepentingan orang lain adalah

sifat manusiawi. Siapa saja bisa bersifat demikian. Seharusnya setiap makhluk yang disebut manusia, insan bersifat demikian. Demikianlah kodrat manusia. Yang bisa menempatkan kepentingan orang lain di atas kepentingan pribadi adalah Manusia-Plus. Saya katakan Manusia-Plus, karena banyaknya orang yang alergi terhadap istilah Manusia Ilahi, Manusia Allah. Jangan mempermasalahkan kata, jangan terjebak dalam permainan kata. Yang penting adalah esensinya. Apa pun istilah yang Anda gunakan, dialah Manusia Sejati. Ia telah berhasil mengembangkan potensi dirinya. Ia berada pada lapisan atas kesadaran diri. Dan berada pada lapisan kesadaran tersebut, Anda menjadi berkah bagi lingkungan Anda. Berada pada lapisan kesadaran tersebut, Anda menjadi Duta Damai, Utusan Kasih. Kehadiran Anda saja sudah dapat menyejukkan suasana Pada prinsipnya, apapun yang kita lakukan, pikirkan kepentingan orang lain juga. Jika kita tidak bisa membantu, setidaknya janganlah sekali-kali kita mencelakai orang lain.Jangan sampai usaha kita, pekerjaan kita, bisnis kita, berkembang dan menjadi besar di atas landasan penderitaan orang lain. Kita jangan hanya memikirkan kepentingan pribadi dan tidak peduli dengan akibatnya pada orang lain. Bapak Anand Krishna mengingatkan dalam buku Voice of Indonesia bahwa kebajikan dimulai di luar rumah kita, yang terjemahan bebasnya . Apa yang kita lakukan untuk kebutuhan kita, untuk rumah kita tidak dapat dikategorikan sebagai kebajikan sama sekali. Itu sudah merupakan kewajiban kita, sudah merupakan tanggung jawab kita. Maka dari itu amal tidak dimulai di rumah. Kebajikan harus dimulai di luar rumah kita. Kebajikan lahir dari rasa belas kasihan terhadap mereka yang bukan merupakan saudara dan kerabat kita, orang yang asing bagi kita, orang yang tidak kita kenal secara pribadi. . tetapi bagi mereka yang menderita, mereka yang membutuhkan pelayanan kita. Dengan melakukan kebijakan terhadap anggota keluarga kita, kita tidak membuktikan apapun. Bahkan kita telah menodai hubungan yang ada diantara kita sebagai anggota keluarga. Apa yang saya lakukan pada mereka adalah kewajiban saya kepada keluarga tidak lebih dari itu. Dan ada waktunya kewajiban itu berakhir. Sebagai contoh Anda tidak berkewajiban untuk membiayai anak anda seumur hidupnya. Pada umur tertentu mereka harus berusaha untuk membiayai hidupnya sendiri. Kebajikan adalah semacam persembahan cinta yang dilakukan bukan karena kewajiban. Ketika Anda tidak berkewajiban untuk melakukan apapun, dan Anda tetap melakukannya maka anda melakukan kebajikan. Sebuah sistem kepercayaan yang membuat anda berkewajiban untuk melakukan kewajiban, sebenarnya membentuk rasa kewajiban anda. Tidak sebuah sistem kepercayaan manapun yang dapat melahirkan hati yang dipenuhi rasa kebajikan. Seorang yang penuh rasa kebajikan tidak diharuskan untuk melakukan

sebuah tindakan kewajiban. Dia tidak tergiur oleh kenikmatan surgawi setelah kematiannya. Dia tidak mempunyai pamrih apapun, pamrih apapun didalam dirinya untuk melakukan tindakan kebijakan

Serial Pandangan Kebangsaan Anand Krishna no 9

Jangan Mencari Kambing Hitam


Jangan main lempar tanggung jawab, jangan menyalahkan orang. Kebiasaan melempar tanggung jawab mengikis rasa percaya diri, demikian pesan Swami Vivekananda pemikir besar idola Bung Karno. Dalam kehidupan berbangsa pun kita sering melempar tanggung jawab. Padahal secara langsung atau pun tidak langsung kita telah memilih para pemimpin dan para wakil rakyat. Bahkan mereka yang berkoalisi dalam memimpin pemerintahan pun menyalahkan koleganya atau pemimpin yang didukung koalisinya. Padahal dia menjadi pemimpin karena adanya dukungan kelompok mereka juga. Munafik, tidak konsisten adalah kata yang tepat untuk kelompok yang tidak bertanggungjawab atas tindakan dukungan mereka. Bila tahu sang pemimpin tidak sesuai dengan platform kelompoknya ya jangan didukung. Tetapi mereka tetap mendukung karena memperoleh kemudahan dan mahar karena memilih pemimpin tertentu. Apakah itu tidak sama dengan ingin memperoleh segala sesuatu dengan menghalalkan segala cara, golek penake dhewe? Beruntung kita punya Jokowi dan Ahok, akan tetapi mereka yang dulu menentangnya dengan cara yang tidak elegan tidak merasa bersalah. Tidakkah mereka merasa bertanggungjawabatas ucapan dan tindakan mereka. Padahal disebutkan akan ada suatu hari dimana mulut dikunci dan seluruh anggota tubuh diminta mempertanggungjawabkan perbuatannya. Beriman hanya di bibir dan tindakanya sudah tidak yakin dengan apa yang diimaninya. Jangan main lempar tanggung jawab, jangan menyalahkan orang. Bapak Anand Krishna dalam buku Menemukan Jati Diri I Ching Bagi Orang Modern, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2002 menyampaikan . Kurangnya percaya diri muncul karena kebiasaan kita mencari kambing hitam. Setiap kali ada yang tidak beres, kita menyalahkan orang lain atau keadaan yang kita anggap kurang bersahabat. Kemudian, ada juga yang akan menyalahkan nasib. Masih ada lagi yang beranggapan bahwa ia sedang di-coba oleh Tuhan. Mereka yang menyalahkan orang lain, keadaan, nasib atau yang beranggapan bahwa Tuhan sedang men-coba dirinya, sebenarnya sedang melarikan diri dari tanggung jawab. Mereka sedang mencari pembenaran. Mereka kurang PD kurang percaya diri. ..Pahamilah bahwa penderitaan adalah akibat dari perbuatanmu. Ya, penderitaanmu disebabkan olehmu sendiri, olehku, oleh kita semua. Kita semua bertanggung jawab atas pengalaman penderitaan kita yang menyakitkan. Saya rasa adalah suatu kejahatan jika orang disesatkan dengan teori bahwa rasa sakit dan penderitaan itu disebabkan oleh Tuhan

yang duduk di singgasana surgawi sedang mencobai kita, selayaknya memberikan ujian seberapa jauh iman kita kepada-Nya. Penjelasanpenjelasan semacam itu yang diberikan oleh para pendeta, pengkhotbah, dan penguasa kita sesungguhnya sangatlah tidak terhormat. Kita sendiri yang menyebabkan segala rasa sakit dan penderitaan kita. Kita harus mengambil tanggung jawab ini sehingga dapat mencari jalan keluar dari penderitaan ini. Berhenti mencari kesalahan dalam diri orang lain. Saya bertanggung jawab atas penderitaan saya, dan karenanya saya harus bekerja untuk mengakhirinya. Seluruh bencana alam ini bukanlah kehendak Tuhan. Bukan ini yang Tuhan kehendaki dari manusia. Tidak. Ini semua salah kita sendiri. Kita telah menyebabkan pemanasan global. Naiknya suhu lautan telah menyebabkan berbagai bencana di bumi in], termasuk di negeri kita tercinta ini. Dan kitalah yang membuat suhu tersebut naik. Kita telah menyiksa Ibu Alam kita. Kita telah menghina lingkungan hidup dan merusak seluruh ekosistem. Kini hasilnya sangatlah jelas untuk kita lihat bersama. Sekarang, hanya sekitar 0.5% - 1% kenaikan suhu permukaan laut dan bencana yang telah terjadi sungguh dahsyat. Kita tidak berani membayangkan apa jadinya kalau suhunya naik lebih banyak lagi. Jika kita tidak melakukan apa pun, maka 2000 pulau di kepulauan Nusantara kita tercinta ini akan tenggelam akibat pemanasan global, sebagaimana ditayangkan oleh voice of America dan disiarkan kembali oleh salah satu televisi swasta di negeri ini, Metro TV, pada tanggal 5 Februari 2007 yang lalu. Alasan mereka sangat klise: hal itu akan menyebabkan gangguan dan pengangguran pada industri mereka. Maaf, tapi saya pikir alasan itu sangatlah tidak cerdas. Apa gunanya seluruh industri dan lapangan kerja itu jika kita kehilangan planet ini? Kita harus secara serius berpikir, berkontemplasi, dan menangani masalah ini dengan lebih bijaksana, dengan lebih cerdas. Baik negara maju maupun negara berkembang harus sadar bahwa apa yang mereka lakukan tidak hanya memengaruhi diri mereka sendiri; tindakan mereka itu juga memengaruhi seluruh dunia. Demi yang namanya pembangunan, kita tidak bisa kehilangan planet ini. Kita tidak bisa menyebabkan punahnya begitu banyak populasi di dunia ini. Semua pembangunan material, kesuksesan, dan kemajuan yang kita miliki tidaklah ada artinya jika kita tidak punya lagi planet ini, rumah di mana kita tinggal . Demikian pesan Bapak Anand Krishna dalam buku Think In These Things, Hal Hal Yang Mesti Dipikirkan Seorang Anak Bangsa, Anand Krishna, Koperasi Global Anand Krishna, Bali, 2008. Setiap aksi menimbulkan reaksi yang setimpal. Ini merupakan hukum alam. Setiap orang bertanggung jawab atas perbuatannya. Setiap orang bertanggung jawab terhadap alam, terhadap keberadaan terhadap Tuhan. Leluhur kita berpesan . siapa yang menanam benih akan menuai pada waktunya. Menanam benih padi akan memetik tiga setengah bulan lagi. Menanam benih mangga akan memetik 6 tahun lagi, menanam pohon

jati akan menuai 25-50 tahun lagi. Akan tetapi kita diberi nasehat tanamlah pohon kebaikan walaupun kita sudah uzur, berbuatlah baik se akan-akan kita hidup selamanya. Siapa yang tahu benih ucapan dan tindakan kita akan dituai kapan? Hukum sebab-akibat selaras dengan alam. Dalam buku Spiritual Astrology, The Ancient Art of Self Empowerment, Bhakti Seva, Terjemahan Bebas, Re-editing , dan Catatan Oleh Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2010 Bapak Anand Krishna menyampaikan .. Hukum Sebab-Akibat tidak bisa tidak dikaitkan dengan Reinkarnasi, atau Tumimbal-Lahir. Hukum inilah yang menjelaskan kenapa sebagian di antara kita lahir dalam keluarga baik, sebagian dalam keluarga kurang baik, dan sebagian dalam keluarga di mana sulit mengembangkan potensi diri. Hukum Karma dan Reinkarnasi menjelaskan kenapa seorang anak lahir cacat dan dalam keluarga miskin pula, sementara anak lain lahir dalam keluarga kaya-raya di mana segala kebutuhan bahkan kenyamanan hidup tersedia. Kelahiran kita kini adalah hasil dari perbuatan kita di masa lalu. Namun, tidak berarti kita tidak berdaya, dan mesti menerima nasib untuk selamanya. Tidak demikian. Di sinilah, kadang Hukum Karma tidak dipahami atau malah disalahpahami. Kelahiran kita dalam keluarga miskin tidak berarti kita mesti hidup sebagai orang miskin hingga akhir hayat. Atau, jika kita lahir dalam keluarga yang tidak berpendidikan berarti kita tidak bisa atau tidak boleh menimba ilmu. Tidak seperti itu. Kita lahir dalam keluarga miskin dan/atau tidak berpendidikan, itu adalah hasil ulah kita di masa lalu.Tapi, hidup kita selanjutnya sepenuhnya tergantung pada kemauan kita sendiri. Kita bisa memastikan hari esok yang lebih baik dengan berbuat baik hari ini. Demikian, sesungguhnya Hukum Karma adalah Hukum Penuh Harapan. Hukum Karma bukanlah Hukum Fatalistis Hukum Tanpa Harapan sebagaimana sering digambarkan oleh mereka yang tidak memahaminya. Hukum Karma justru adalah Hukum Penuh Harapan. Hukum Karma membuat kita bertanggung jawab atas perbuatan kita sendiri. Tuhan Maha Bijaksana dan Maha Menyaksikan. la tidak menghakimi dan menghukum kita. Kita mengalami suka dan duka karena perbuatan kita sendiri .. Kita sekarang melihat pemerintah kita sibuk dan dibuat sibuk dengan sekian banyak persoalan, dan para pendidik kita, para budayawan kita memiliki agenda masing-masing. Kita harus memulai dari diri sendiri. Ini yang agak sulit. Karena kita mempunyai mitos dan berpikir kalau kita mempunyai kekuasaan, baru kita bisa mempengaruhi orang-orang. Pertama-tama ini adalah mitos yang harus kita gugurkan dahulu. Mahatma Gandhi tidak mempunyai kekuasaan, Nabi Muhamad, Nabi Isa, Swami viekananda tidak mempunyai kekuasaan. Semua orang-orang ini tidak mempunyai kekuasaan. Mereka muncul dengan kesadaran mereka dan

setelah itu baru orang mendengar mereka. Jangan salahkan keadaan, percaya diri dan mulai berubah

Serial Pandangan Kebangsaan Anand Krishna no 10

Penjajahan Lewat Perobohan Nilai Budaya Bangsa


Upaya-upaya Devide et Impera Modern terhadap kesatuan bangsa adalah dengan memasukkan virus untuk merusak seluruh program DNA manusia Indonesia. Hard disk di DNA kita disusupi virus-virus dan semua data-data penting tentang kemampuan membangun peradaban yang adiluhung seperti yang terjadi di masa silam terancam hilang karena terkorup virus ketidakhormatan terhadap Budaya dan Jatidiri Bangsa. Dengan menjunjung budaya asing sebenarnya kita bangsa kita telah mulai terjajah. Demikian awal sebuah bangsa terjajah. Bapak Anand Krishna dalam artikel Negara Merdeka Vs Negara Terjajah dalam situs http://www.aumkar.org/ind/ mengingatkan bangsa Indonesia terhadap Sir Thomas Babington Macaulay (1800-1859), anggota dewan pemerintahan dari Perusahaan India Timur pada tahun 1834-1838, dikutip dari pidatonya yang diberikan pada tanggal 2 Februari 1835 .. Saya telah berpergian keliling India dan tak pernah melihat satupun pengemis atau pencuri. Kekayaan semacam itu saya saksikan di seantero negara ini. Nilai moral, orang sekaliber tersebut, saya tak pernah berpikir bahwa kami dapat menjajah negara ini, kalau kami tidak mematahkan tulang punggung bangsa ini, yakni warisan spiritual dan budayanya. Oleh sebab itu, saya mengusulkan bahwa kami musti mengganti sistem pendidikan lama dan budaya mereka. Karena jika orang India berpikir bahwa budaya asing dan Inggris lebih baik dan lebih hebat dari budaya mereka sendiri, maka mereka akan kehilangan harga diri dan budaya lokal yang asli. Mereka pasti menjadi apa yang kita inginkan, bangsa yang sungguh terjajah. .. Membaca kata-kata itu hampir dua abad silam,Bapak Anand Krishna menyadari bahwa Sir Macaulay belum mati. Oleh karena itu, Beliau memakai istilah sekarang dan bukan dulu. Idenya tetap hidup. Dia masih mempunyai banyak pengikut di seluruh dunia. Berapa dari kita di Indonesia menyadari bahwa hal yang sama tengah terjadi pada kita di zaman modern ini? Kita tak hanya dikepung oleh satu atau dua, tapi begitu banyak Macaulay. Satu perbedaannya: Macaulay yang kondang atau terkenal tersebut berkebangsaan Inggris, putih, sehingga begitu mudah dikenali. Sekarang, genre Macaulay datang dalam pelbagai warna dan bentuk, putih, coklat, merah dan bahkan hitam. Dan, mereka mencabut akar budaya kita dan peradaban leluhur dari segala sudut. Salah satu dari mereka, telah secara intensif menyusupi masyarakat dan sistem sosial kita, sampai-sampai saat ini kita bingung dan tak bisa membedakan mana nilai

spiritualitas agama dan mana yang radikalisme agama. Beberapa tokoh dipakai sebagai agen mereka untuk menghancurkan kita dari dalam. Mereka begitu panik dan tak akan meninggalkan satu batu pun tetap pada tempatnya untuk memastikan bahwa mereka telah mendominasi negara seperti kita. Bapak Anand Krishna dalam buku Surat Cinta Bagi Anak Bangsa, Anand Krishna, One Earth Media, 2006 menyampaikan . Seorang teman pernah mempertanyakan tentang budaya dan jatidiri bangsa kita di tengahtengah imperialisme budaya yang terjadi saat ini. Ia mengingatkan kita bahwa negara dan bangsa ini telah kehilangan budayanya. Tanpa akar budaya yang menjadi jatidiri suatu bangsa, kita menjadi lemah atau tidak berdaya. Budaya adalah dasar yang kita gunakan untuk membangun, untuk mendirikan republik ini. Tanpa dasar budaya yang mempersatuan kita tempo hari, barangkali batas-batas wilayah kita tidak seperti sekarang. Hal ini terlupakan oleh para politisi masa kini yang hanya mementingkan kedudukan mereka. Tanpa dasar budaya yang luhur, let me make it clear, negara ini akan runtuh. Hancur lebur. Gunakan agama sebagai dasar, dan negara ini akan langsung terpecah belah. Dasar atau Saripati Budaya ini yang dirumuskan menjadi kelima butir Pancasila oleh para founding fatherskita. Pertanyaan teman kita membuktikan bahwa kita sudah tidak menghormati kesucian budaya kita sendiri. Kita malah mengagungagungkan budaya asing Dalam DNA kita terdapat catatan pengalaman leluhur-leluhur kita zaman Sriwijaya, zaman Majapahit dan genetik bawaan dari pembangun Candi Monumental Borobudur. Zaman dulu dan zaman sekarang ini adalah satu rangkaian yang tidak bisa dipisahkan. Perilaku manusia saat dewasa terkait erat dengan perilaku dia sewaktu kecilnya. Sebuah kontinuitas yang melekat. Kearifan kita sudah ada sejak zaman dahulu. Kita perlu mengkoreksi klasifikasi sejarah yang mengkotak-kotakkan Sejarah Bangsa menjadi Zaman Pra Hindu, Zaman Hindu, Zaman Islam, Zaman Penjajahan dan seterusnya. Genetik kita saat ini ada kaitannya dengan masa lalu, tidak dapat dipisah-pisahkan atas dasar kepercayaan yang dianut pada beberapa masa .. Dalam buku Genom, Kisah Species Manusia oleh Matt Ridley terbitan Gramedia 2005, disebutkan bahwa Genom Manusia seperangkat lengkap gen manusia hadir dalam paket berisi dua puluh tiga pasangan kromosom yang terpisah-pisah. Genom manusia adalah semacam otobiografi yang tertulis dengan sendirinya berupa sebuah catatan, dalam bahasa genetis, tentang semua nasib yang pernah dialaminya dan temuantemuan yang telah diraihnya, yang kemudian menjadi simpul-simpul sejarah species kita serta nenek moyangnya sejak pertama kehidupan di jagad raya. Genom telah menjadi semacam otobiografi untuk species kita

yang merekam kejadian-kejadian penting sesuai dengan keadaan sebenarnya. Kalau genom dibayangkan sebagai buku, maka buku ini berisi 23 Bab, tiap Bab berisi beberapa ribu Gen. Buku ini berisi 1 Milyar kata, atau kira-kira 5.000 buku dengan tebal 400-an halaman. Dan setiap orang mempunyai sebuah buku unik tersendiri Di Zaman Majapahit yang belum terlalu lama (500-an tahun lalu) belum ada istilah agama. Yang ada keyakinan Buddha, Shiva dan lain-lain. Jadi kalau menggunakan istilah agama untuk peninggalan-peninggalan dimaksud dimana istilah agama sendiri belum dikenal, maka bukan hanya tidak tepat tetapi memaksakan. Memang ada oknum yang dengan sengaja menggunakan sentimen agama tersebut untuk peninggalanan-peninggalan yang seharusnya memang tidak memakai istilah agama tetapi lebih tepat memakai istilah siapa penguasa kerajaan saat itu, tetapi dengan menggunakan istilah agama yang membuat kita menjadi alergi dengan warisan leluhur kita sendiri. Borobudur adalah peninggalan leluhur kita Wangsa Syailendra. Masjid Demak adalah warisan Kerajaan Demak! Politik Devide et Impera jangan lagi membuat kita sebagai Satu Bangsa pecah karena urusan apa pun, apalagi agama. Semoga kita sadar kondisi bangsa kita yang telah berada dalam keadaan gawat darurat. Ada kelompok yang tidak peduli dengan keutuhan dan kesatuan bangsa. Hal demikian akan dimanfaatkan oleh para Sir Thomas Babington Macaulay dari berbagai warna. Dan, mereka mencabut akar budaya kita dan peradaban leluhur dari segala sudut.

Serial Pandangan Kebangsaan Anand Krishna no 11

Hipnotis Massal Dalam Kehidupan Sehari-hari


Seorang bayi memiliki karakter bawaan dari kedua orangtuanya. Kemudian diprogram oleh orang tua, oleh pendidikan dan oleh lingkungan. Kebenaran baginya adalah Kebenaran dalam kerangka program yang diberikan. Lain orang tua, lain pendidikan dan lingkungan, pandangan tentang Kebenaran akan berbeda. Kenyataan itu memungkinkan terjadinya indoktrinasi pandangan seseorang sejak kecil. Seseorang merasa beriman dan merasa bertindak benar dengan melakukan kekerasan. Padahal dia hanya melakukannya atas dasar pikiran bawah sadar yang telah diprogram, yang dilakukan berulang-ulang secara repetitive intensive, secara sistematis ditanamkan kepada pikiran bawah sadarnya. Ini yang dilakukan oleh para pencetak teroris. Seorang anak yang sejak kecil sudah diprogram untuk membenci temannya yang berbeda Sara (Suku, Ras dan Agama), akan membawa program tersebut hingga dewasa. Melihat kecenderungan ini, maka bila kita tidak segera melakukan tindakan drastis, di masa mendatang akan semakin banyak terjadi kekerasan berdasar Sara. Kita bisa melihat hasilnya dari negaranegara yang sudah memprogram kebencian terhadap umat lain sejak kecil. Pakar hypnotherapy Bapak Adi W Gunawan dalam salah satu talkshow bersama Bapak Anand Krishna menyatakan bahwa sampai usia 2 tahun gelombang pikiran anak berada dalam keadaan delta yang sangat reseptif sehingga apa pun yang diakatakan oleh orang tua akan dipercayainya. Kemudian dari usia 2 tahun sampai 6 tahun gelombang pikiran seorang anak berada dalam keadaan alpha, sehingga sifat reseptifnya juga sangat besar, sehingga kembali pesan yang disampaikan orang tua dan lingkungan diterima sang anak dan menjadi kebenaran baginya. Sejalan dengan pandangan tersebut Bapak Anand Krishna dalam buku Neospirituality & Neuroscience Puncak Evolusi Kemanusiaan, Anand Krishna & Dr. Bambang Setiawan Ahli Bedah/Bedah Saraf (Neurosurgeon), Gramedia Pustaka Utama, 2010 juga menyampaikan tentang fungsi bagian otak Lymbic dan bagian Neo-Cortex .. Ibarat Super Komputer yang Mahacanggih, ke dua bagian utama otak kita bekerja sesuai dengai fungsinya masing-masing. Bagian Lymbic memuat basic programming, yaitu program dasar untuk menjalankan komputer. Inilah insting insting hewani, atau lebih tepat disebut insting-insting dasar kehidupan. Sedangkan bagiaiNeo-Cortex memuat program/aplikasi yang dibutuhkan manusia. Muatan pada bagian ini dapat ditambah, dikurangi, dihapus,

diperbaiki, atau di-manipulasi. Ketika kita masih kanak-kanak, di bawah usia lima tahun, hal-hal yang diajarkan oleh orang tua atau masyarakat menjadi bagian dari Neo-Cortex. Apa saja yang diamati atau sekadar dilihat oleh seorang anak dalam usia itu akan terekam dengan sendirinya. Kemudian antara usia 5 hingga 12 tahun terjadi muatan-muatan baru lewat sistem pendidikan. Oleh karena itu, hingga usia 12 tahun disebut Golden Years, Usia Emas, karena banyak sekali muatan ditambahkan pada NeoCortex yang kelak digunakan hingga akhir hayat. Pengertian manipulasi di sini hendaknya tidak dikaitkan dengan sesuatu yang bersifat negatif atau jelek karena manipulasi bisa juga untuk sesuatu yang baik. Dan sesungguhnya kita semua telah mengalami manipulasi serupa ketika masih berusia di bawah 12 tahun . Kemudian apakah setelah kita dewasa tidak ada program repetitive intensive yang membuat kita terhipnotis masal? Sadarkah kita bahwa iklan dan pemimpin yang ingin pengikutnya sangat patuh dan militant tidak senang berargumentasi? Dalam buku Neo Spiritual HYPNOTHERAPY, Seni Pemusatan Diri Untuk Bebas Dari Pengaruh Hipnosis Massal, Anand Krishna, Gramedia, 2012 disampaikan .. Tidak ada iklan interaktif. Setidaknya, hingga saat ini belum ada. Semua iklan bersifat satu arah. Ini pula yang membedakan seorang pemimpin sekte yang hendak mempengaruhi anggotanya dan seorang spiritualis yang justru berupaya untuk membuka wawasan siapa saja yang berhubungan dengannya dengan cara berdialog dan tanya jawab. Seorang spiritualis membuka diri untuk bertemu dan berdialog dengan siapa saja. Anda boleh berbeda pandangan dan pendapat dengannya. Ada boleh menerima dan boleh juga tidak menerimanya. Ia tidak terpengaruh oleh penerimaan dan penolakan kita .. Apakah kamu pernah memperhatikan bahwa iklan tidak pernah berargumentasi? Ia tidak berkepentingan dengan argumentasi. Seorang yang ingin mempengaruhimu tidak pernah berargumentasi. Ia akan membombardir dirimu secara halus dengan sugesti-sugesti yang diinginkannya. Karena, ketika orang berargumentasi denganmu, kau pasti akan membela diri. Kau akan menjawab argumentasinya. Jika seorang tidak berargumentasi denganmu tapi secara terus-menerus membombardir dirimu dengan sugesti-sugesti sesuai dengan keinginannya, kau akan mempercayai dia! Dalam sejarah modern, adalah Adolf Hitler (18891945) yang pertama kali menggunakan mind manipulation atau manipulasi pikiran sebagai senjata. Ibarat komputer, mind atau gugusan pikiran manusia dapat dimanipulasi, dapat di-hack, bahkan dapat disusupi virus untuk merusak seluruh jaringannya .. Pandangan Bapak Anand Krishna tersebut, sangat terasa kebenarannya. Dalam otobiografinya Hitler menulis bahwa jika kebohongan diulangi secara terus-menerus, maka pikiran manusia akan mempercayainya. Kebohongan pun diterimanya sebagai kebenaran. Pengulangan adalah

metode hipnosis. Apa yang diulangi secara terus-menerus itu akan terukir pada diri kita. Inilah yang menyebabkan ilusi dalam hidup Industri periklanan sepenuhnya berlandaskan pengulangan. Para pemasang iklan mempercayai ilmu tersebut. Produsen rokok mengulangi terus menerus bahwa mereknyalah yang terbaik. Awalnya, barangkali kita tidak percaya. Tetapi setelah diserang terus menerus dengan pengulangan, kita akan luluh juga. Seberapa lama kita dapat bertahan dan tidak mempercayai iklan yang membombardir pikiran Anda? Ingin bukti? Pada saat kita ke Alfa Mart untuk membeli sabun mandi, odol, sabun cuci, pewangi cucian, roti kaleng pun, sebelum mengambil barang dari rak yang diingat oleh kita adalah iklan yang telah kita lihat beberapa kali di televisi. Bukan hanya anak di bawah usia 6 tahun yang pikirannya sering berada dalam keadaan alpha, akan tetapi orang dewasa pun sering mengalami keadaan seperti trans sehingga mudah dihipnosis. Dalam buku Neo Spiritual HYPNOTHERAPY, Seni Pemusatan Diri Untuk Bebas Dari Pengaruh Hipnosis Massal, Anand Krishna, Gramedia, 2012 Bapak Anand Krishna menyampaikan .. Kenyataannya adalah bahwa setiap hari kita mengalami keadaan-alami (yang menyerupai trans) dalam tahapan yang berbeda. Ini bukanlah khayalan, tapi fakta. Bukankan setiap hari kita menggunakan waktu kita untuk memikirkan berbagai macam rencana dan hasil dari perencanaan itu. Ketika terjadi pemusatan perhatian, pikiran atau kesadaran pada sesuatu, maka kita berada dalam suatu keadaan yang menyerupai trans Banyak kegiatan dalam keseharian hidup kita bersifat hipnotik. Ketika kita mengendarai mobil misalnya, seolah tidak sadar/tidak tahu, dan tiba-tiba sudah sampai ditujuan .. Televisi sangat hipnotik, sebab itu disebut candu .atau, ketika kita sedang menonton film. Sebelum film dimulai, kita masih sepenuhnya sadar akan lingkungan dan teman di sebelah kita. Tetapi, begitu film dimulai apalagi jika film itu bagus dan menarik diperhatikan kita, maka kita seolah terputus dari lingkungan. Seluruh perhatian kita terpusat pada tayangan tersebut. Keadaan-keadaan sebagaimana dijelaskan diatas memang menciptakan keadaan alami yang mirip dengan trans. Tetapi ini bukanlah hypnosis yang sebenarnya. Hypnosis yang sebenarnya adalah ketika seorang hipnotis secara sengaja berusaha untuk mengubah keadaan subjeknya. Ia menarik seorang subjek dari keadaan alami yang menyerupai trans (termasuk kesadaran yang terpusatkan ketika kita sedang menonton televisi, mengendarai mobil, dsb) dan membawanya ke dalam lapisan kesadaran hipnotik, dimana ia dapat mempengaruhi pikiran dan perasaannya dengan memberi sugesti sesuai dengan pilihannya. Kemudian ternyata kala kita berinteraksi dengan orang lain, sering secara tidak sadar kita terhipnotis. Dalam buku Neo Spiritual HYPNOTHERAPY, Seni Pemusatan Diri Untuk Bebas Dari Pengaruh Hipnosis Massal, Anand Krishna, Gramedia, 2012 Bapak Anand Krishna menyampaikan ..

Hipnosis memiliki banyak wujud dan nama lain .. Salah satu pelopor NLP, penulis, dan presenter (Richard Bandler) mengakui secara terbuka bahwa cara terbaik untuk induksi adalah dengan menatap orang yang hendak diinduksi, menyelaraskan napas dengan dia, dan menginduksi diri untuk memasuki trans. Dengan cara meinduksi diri dan memasuki trans itu, orang yang sedang kita tatap pun akan ikut terinduksi dan masuk ke dalam alam trans. Ini adalah salah satu bentuk hypnosis yang sering terjadi tanpa kita sadari Pergaulan dapat menginduksi kita dengan cara tersebut. Dengan makan, minum, dan bergaul dengan orang baik, kita ikut terinduksi menjadi baik. Jika melakukannya dengan orang yang tidak bermoral, kita juga akan terinduksi dan ikut menjadi orang yang tidak bermoral. Mengapa bisa demikian? Napas kita bisa secara otomatis menjadi selaras dengan orang-orang yang berada di sekitar kita. Apalagi jika orang-orang itu kita anggap sebagai sahabat. Dalam keadaan napas kita selaras, maka kita dapat saling mempengaruhi. Hal yang sama (penyelarasan napas) terjadi ketika kita bernyanyi bersama. Kemudian, muatan pada lirik lagu pun mempengaruhi jiwa kita. Lagu-lagu rohani yang dinyanyikan bersama menginduksi kita untuk bersama-sama memasuki alam rohani. Lagu-lagu disco mengantar kita kealam disco .. Meditasi, latihan olah batin berupaya membebaskan diri seseorang dari perbudakan pikiran, membebaskan diri dari hipnotis masal. Latihan-latihan afirmasi atau menghipnosis diri sendiri agar seseorang bebas dari perbudakan pancaindera dan mengantarnya ke dalam diri untuk mengenal siapa jatidirinya. Meditasi, spiritualitas, metafisika adalah seni pemberdayaan diri. Meditasi membebaskan diri kita dari perbudakan pancaindera. Spiritualitas mengantar kita ke dalam diri, dimana kita mengenal potensi diri. Metafisika mengembangkan diri kita secara holistik. Orang yang sering latihan meditasi tidak mudah terhipnosis oleh dunia.

Serial Pandangan Kebangsaan Anand Krishna no 12

Mengendalikan Keserakahan
Keserakahan tidak pernah dapat dipuaskan. Tidak pernah hilang. Dengan melayani keserakahan itu, kau menjadi semakin serakah. Kau mengejar kekuasaan. Renungkan, setelah kau memperoleh begitu banyak, apa yang kau rasakan saat ini? Puaskah dirimu dengan apa yang telah kau miliki? Puaskah dirimu dengan keberhasilanmu? Kupikir, tidak. Sebab itu, kau masih mencari, masih mengejar, masih ingin menaklukkan yang lain .. Keserakahan kita menyebabkan kegelisahan, dan kegelisahan adalah penyakit yang tidak dapat diobati dengan menimbun harta; tidak dapat diobati dengan memperluas wilayah kekuasaan; tidak dapat diobati dengan menaklukkan orang lain. Belajarlah untuk menaklukkan dirimu sendiri; untuk menaklukkan keserakahan yang bersarang di dalam dirimu. Itulah raksasa yang harus kau usir dari batinmu. Demikian nasehat Bapak Anand Krishna dalam buku Life Workbook Melangkah dalam Pencerahan, Kendala dalam Perjalanan, dan Cara Mengatasinya, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2007. Para psikolog menyimpulkan bahwa makan, minum, tidur dan seks adalah kebutuhan-kebutuhan dasar manusia. Empat hal itu disebut basic instincts. Akan tetapi sebenarnya bukan kebutuhan dasar manusia, melainkan kebutuhan dasar raga manusia, fisik manusia, badan manusia. Dan, bukan hanya manusia tetapi merupakan kebutuhan dasar fisik makhluk hidup. Manusia memang memiliki naluri hewan the basic instincts. Ketika masih bayi, ia masih dipandu oleh nalurinya. Untung ototototnya masih belum kuat, tulang-tulangnya masih rapuh dan ia tidak bisa berbuat banyak. Jika ia bisa langsung jalan sendiri setelah lahir seperti anak anjing dan anak monyet, ia pun akan bertindak seperti binatang. Kalau lapar, la akan merebut makanan dari siapa pun juga. Kalau butuh seks, ia akan melakukannya kapan saja. Manusia mewarisi naluri hewani, animalistic instinct, naluri yang hanya berkepentingan dalam diri sendiri. Naluri yang dapat mendesak manusia berbuat apa saja demi keuntungan pribadi. Memberikan nota sakti, korupsi, suap, aksi teror, intimidasi ideologi, ingin menang sendiri, semua berasal dari naluri hewani. Problem muncul saat manusia berlebihan dalam memenuhi basic instinctnya. Bila manusia tidak dapat mengendalikan nafsunya, maka dia akan dihadapkan pada banyak permasalahan. Ketika nafsunya selalu terpenuhi bisa muncul keangkuhan. Kemudian bila sudah terbiasa dengan pemenuhan tersebut bisa timbul keterikatan. Dan, setelah itu bisa meningkat menjadi keserakahan, tidak puas dengan yang ada dan selalu ingin menambah porsi pemenuhannya. Di pihak lain, apabila nafsunya

tidak terpenuhi maka manusia dapat mengalami frustrasi dan marah. Kemudian ketika melihat orang lain terpenuhi keinginannya sedang dirinya tidak maka muncullah sirik atau iri. Basic instinct terkait dengan bagian otak Lymbic. Akan tetapi ada bagian otak Neo-Cortex untuk memutuskan apa yang tepat bagi diri seorang manusia. Dalam buku Neospirituality & Neuroscience, Puncak Evolusi Kemanusiaan, Anand Krishna & Dr. Bambang Setiawan Ahli Bedah/Bedah Saraf (Neurosurgeon), PT. Gramedia Pustaka Utama, Kompas Gramedia, 2010 Bapak Anand Krishna menjelaskan . Tanpa perkembangan Neo-Cortex, manusia tidak sadar tentang hal-hal yang tepat dan tidak tepat, yang baik dan tidak baik bagi dirinya. Dalam keadaan seperti itu, ia tak akan mampu memahami kebutuhan insting yang diterimanya dari bagian Lymbic lewat jaringan saraf otonom. Bila insting mengirimkan pesan lapar, maka ia bisa saja makan berlebihan, sehingga merusak kesehatannya sendiri. Begitu pula dengan hal-hal lain yang sesungguhnya merupakan kebutuhan dasar dan harus dipenuhinya secara cerdas dan berimbang dengan penuh kesadaran, misalnya memilih makanan yang baik bagi kesehatannya sehingga tidak makan apa saja secara sembarangan. Dengan kata lain, mesti ada kerja sama yang baik antara bagian Lymbic dan Neo-Cortex. Tanpa kerja sama seperti itu, manusia akan mencelakakan dirinya .. Hal ini tidak terkait dengan tubuh atau kesehatan raganya saja, tetapi juga dengan pikiran dan lapisanlapisan kesadarannya yang lain. Jadi Lymbic memberitahu kebutuhan, sedangkan Neo-Cortex menentukan bagaimana dan dengan cara apa memenuhi kebutuhan itu supaya menunjang kesehatan dan kehidupan, bukan merusak atau mematikannya. Ibarat Super Komputer yang mahacanggih, ke dua bagian utama otak kita bekerja sesuai dengai fungsinya masing-masing. Bagian Lymbic memuat basic programming, yaitu program dasar untuk menjalankan komputer. Inilah insting insting hewani, atau lebih tepat disebut insting-insting dasar kehidupan. Sedangkan bagiaiNeo-Cortex memuat program/aplikasi yang dibutuhkan manusia. Muatan pada bagian ini dapat ditambah, dikurangi, dihapus, diperbaiki, atau di manipulasi . Sebagai manusia, kita harus mulai mengembangkan rasa di dalam diri. Ada kaidah emas, golden rule, Jangan melakukan tindakan kepada orang lain, yang kita tidak senang tindakan tersebut dilakukan terhadap kita. Bila kita tidak senang dicubit, jangalah mencubit orang lain. Jika kita sedih rumah kita dirusak dan dibakar, maka janganlah kita merusak dan membakar rumah orang lain. Jika kita tidak ingin dizalimi penguasa, maka saat menjadi penguasa jangalah kita menzalimi orang. Alam akan bertindak adil, tindakan yang kita lakukan dalam keadaan tidak sadar tersebut, pada suatu saat akan menimpa diri kita sendiri. Hanya masalah waktu. Setelah kita menanam benih kejahatan, akan datang saatnya nanti

pohon kejahatan masak dan kita akan menerima buah kejahatan yang dilakukan oleh diri kita sendiri. Oleh karena itu semua agama memberi nasehat untuk peduli terhadap orang lain dan dimulai peduli terhadap tetangga. Dalam buku Bersama Kahlil Gibran Menyelami ABC Kehidupan, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 1999 Bapak Anand Krishna memberi nasehat Jika tetangga tidak bisa tidur karena lapar, energinya yang terganggu itu sudah pasti mempengaruhi pola energi di rumah kita. Itu sebabnya Gibran menganjurkan, Cobalah dengan tetanggamu. Anda tidak serumah dengan dia, tetapi juga tidak jauh dengan dia. Dekat, tapi jauh. Jauh, tapi dekat. Dan, mencintai seorang tetangga sungguh sulit! Kahlil Gibran justru menjadikan cinta dan simpati terhadap tetangga sebagai tolok ukur sederhana mengenai kasih Anda. Ia tidak bicara tentang bantuan. Ia tidak bicara tentang charity, tentang sumbangan atau sedekah. Ia sedang bicara tentang rasa. Sedekah pun dapat anda berikan tanpa rasa kasih. Sumbangan pun dapat anda berikan untuk cari muka. Charity pun dapat anda lakukan untuk menjadi tenar. Melihat kemajuan tetangga, ikut bahagiakah anda? Atau justru iri? Anda harus jujur dengan diri sendiri. Apabila anda ikut berbahagia dan tidak iri, maka betul, anda menaruh simpati terhadap tetangga. Anda mengasihi dia. Dan kasih semacam itulah yang disebut Gibran lebih mulia daripada kebajikan yang anda lakukan di salah satu sudut biara. Lalu, mampukah anda menyebar-luaskan kasih semacam itu? Itulah sebabnya saat terjadi kekerasan terhadap saudara sebangsa sendiri, kita tidak terketuk, bahkan setengah membiarkan. Sedangkan saat terjadi kekerasan terhadap mereka yang jauh dari negara kita, kita justru terketuk dan berupaya membantu. Nampaknya, kita telah melupakan pesan agama untuk peduli dengan tetangga. Selanjutnya, Bapak Anand Krishna memberikan contoh ciri-ciri dari orang yang sudah dapat mengendalikan naluri hewaninya. Dalam buku Otak Para Pemimpin Kita Dialog Carut Marutnya Keadaan Bangsa, Anand Krishna dkk, One Earth Media, 2005 Beliau menyampaikan Pikirannya menjadi lebih jernih. Cara pandangnya meluas. Ialah manusia yang memiliki visi. la dalam perjalanan menuju kesempurnaan diri. Dalam diri mereka insting-insting hewani sudah mereda, tidak menggebu-gebu lagi. la masih harus tetap makan, minum, tidur, bahkan melakukan hubungan seks. Tetapi tidak terbawa, oleh semua itu. Tidak larut di dalamnya. Mereka tidak lagi memikirkan diri dan kelompok, tetapi memikirkan kepentingan yang lebih luas. Bagi mereka keutuhan serta persatuan bangsa hanyalah anak tangga pertama untuk mewujudkan kesatuan dan persatuan dunia - bahkan untuk mencapai Yang Tunggal!

Dalam buku Vedaanta, Harapan Bagi Masa Depan, Anand Krishna, Pustaka Bali Post, 2007 Beliau menyampaikan bahwa . la berkarya bukan bagi dirinya sendiri, bukan bagi keluarganya saja tetapi bagi seluruh umat manusia. Ia berkarya bagi sesama makhluk. la berkarya bagi Semesta. la tidak memikirkan hasil. Seluruh kesadaran dipusatkannya pada apa yang dikerjakannya. Sehingga hasilnya pun sudah pasti baik. Tidak bisa tidak. Maka, tidak perlu dipikirkan. la berkarya dengan semangat persembahan dan pengabdian pada Hyang Maha Kuasa. Maanava Sevaa atau Pelayanan terhadap Sesama Manusia, bahkan Sesama Makhluk, adalah Maadhava Sevaa atau Pengabdian terhadap Hyang Maha Kuasa. Dia tidak beramal-saleh atau berdana-punia demi pahala atau kenikmatan surgawi. Dia melakukan hal itu karena senang melakukannya ..

Serial Pandangan Kebangsaan Anand Krishna no 13

Ibu dalam Kehidupan Manusia


Pada waktu manusia masih berupa janin, maka 100% kebutuhannya mutlak dicukupi oleh sang ibu. Orang lain termasuk bapak pun tak akan pernah dapat menggantikan peran membesarkan janin dari satu sel telur yang telah dibuahi sampai menjadi janin yang siap lahir di dunia. Setelah sang bayi lahir, payudara ibu adalah sumber kehidupannya. Kasih sayang seorang perempuanlah yang memelihara kehidupan kita di awal kehidupan. Budaya kita menghormati perempuan, karena tanpa perempuan kita tidak dapat eksis sejak awal kehidupan. Peran ibu tak dapat tergantikan. Kita mempunyai genetik kombinasi dari ayah dan ibu. Bagi kita perkawinan antara ayah dan ibu adalah abadi, seabadi genetika yang ada di dalam diri kita. Ilmu pengetahuan bahkan telah membuka mata kita semua bahwa semangat, energi yang kita miliki kita peroleh dari ibu kita. Seorang sahabat pernah menguraikan dengan detail pengaruh ibu kepada kami .. saat terjadi fertilisasi, kedua perangkat kromosom dari ayah dan ibu disatukan. Sel telur ibu yang mendapatkan perangkat kromosom dari sel sperma ayah, kini menjadi sel dengan 2 set kromosom sebagai sel diploid yang disebut sebagai zigot. Dari sebuah sel zigot inilah yang kemudian mulai berkembang menjadi sebuah organisme baru yang utuh melalui proses yang sangat rumit. Pada saat fertilisasi, sel sperma hanya berkontribusi untuk memberikan materi genetiknya pada sel telur, tidak lebih. Setelah terjadi fertilisasi, seluruh bagian sel sperma terdegradasi, sama sekali tidak terlibat dalam proses embriogenesis. Oleh karena itu, seluruh sel yang dimiliki oleh seorang manusia dia warisi sepenuhnya dari Ibu. Tiap sel yang kita miliki, lengkap dengan perangkat organ yang mengatur kehidupan kita, sepenuhnya berasal dari ibunda. dalam ilmu genetika, hal ini disebut sebagai Maternal Inheritance. Seorang ayah bisa memberikan warisan genetik seorang yang cerdas, tetapi tanpa energi sang ibu putranya tidak akan berhasil dalam mengarungi kehidupan ini. Kami ingat sewaktu kecil bahwa seorang dalang wayang kulit saat memerankan Krishna, selalu menyebut Arjuna sebagai putra Kunti. Wahai Arjuna putra Kunti Apakah kita pernah memeriksakan DNA kita? Yang pasti adalah ibu kita. Siapa ayah kita? yang mengetahui adalah ibu kita. Dan itu ternyata didukung ilmu pengetahuan tentang Maternal Inheritance. Budaya kita sangat menghormati wanita, seorang ibu bagi anak manusia. Banyak sekali istilah memakai kata Ibu. Ibu Kota, Ibu Jari, Ibu Pertiwi, Bahasa Ibu, Sel Induk, Pasar Induk yang intinya menghormati

Ibu sebagai pusat kehidupan. Bahkan kita mempunyai istilah Bunda Alam Semesta, Bunda Ilahi. Dalam buku Saptapadi, Tujuh Langkah Menuju Keluarga Bahagia, Anand Krishna, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2006 Bapak Anand Krishna menyampaikan . Adalah kromosom X yang bersifat motorik dan diwarisinya dari induknya yang menggerakkan dia seumur hidup hingga ajal tiba. Kromosom pria, Y, mengandung memori namun tidak dapat melakukan sesuatu tanpa pasangannya X. Sementara itu perempuan dapat hidup dengan X saja. Kromosom Pria XY, angkanya 2322 Perempuan XX, angkanya 23-23. Para pria masih menganggap kaumnya lebih unggul perlu mendalami perkembangan ilmu mutakhir ini .. Pria memiliki energi itu, dan ia paham bahwa energi yang menggerakkan itu, kromosom X-nya berasal dari induknya, dari ibunya, dari seorang perempuan. Ia sadar bahwa energi yang mengalir di dalam tubuhnya berasal dari perempuan. Perempuan adalah sumber energi .. Dalam buku The Gospel Of Obama, Anand Krishna, Koperasi Global Anand Krishna Bekerjasama dengaYayasan Anand Ashram, 2009 Bapak Anand Krishna menyampaikan .. Perempuan lebih bisa merasa, dia lebih bisa mengerti, dia lebih bisa mengasihi dan itulah yang sekarang dibutuhkan dunia. lnilah yang benar-benar dibutuhkan. Perempuan bisa memenuhi kebutuhan ini. Kromosom perempuan adalah X-X, 23-23 - dia sempurna. Kromosom laki-Iaki adalah X-Y, 23-22, dia kehilangan satu poin. Sudah diketahui bersama bahwa kromosom X pada laki-laki diturunkan dari ibunya. X adalah energi Feminin, yang menggerakkan kita. Seorang laki-laki tidak akan tercipta tanpa X, dia tidak bisa hidup hanya dengan kombinasi Y-Y. Sedangkan perempuan bisa hidup tanpa Y, dia bisa hidup hanya dengan kombinasi X-X. Di balik kesuksesan seorang laki-laki ada perempuan yang berperan. Dan pernyataan ini pun memang benar karena perempuan merupakan personifikasi dari Sumber Kekuatan. Dalam tradisi Veda, ini disebut Shakti. Dan, Shakti bermakna Energi, Sumber Kekuatan. Kekuatan perempuan terletak pada kelembutan dan kehalusan budinya, yang membuatnya penuh kasih dan empati. Kaum perempuan oleh, karena itu bisa menjadi perawat yang hebat. Mereka lebih perhatian. Sebagai ibu, dia merawat. Sebagai saudari, dia mendukung. Sebagai istri atau kekasih, dia memperkuat. Saya penasaran dengan mereka yang bersikukuh bahwa kaum perempuan harus tunduk pada lakilaki. Sadarkah mereka akan kenyataan ini? Atau, barangkali justru karena sadar, mereka ingin menundukkan kaum perempuan . Kaum perempuan harus menyadari kekuatannya. Mereka harus memahami perannya dalam membentuk nasib dunia, masa depan dunia. Mereka bukanlah makhluk tak berdaya yang hidup dari belas kasih bumi laki-laki. Mereka hadir di dunia ini untuk secara setara berbagi beban dan berperan serta dalam berbagai urusan. Dunia ini bukan milik laki-laki semata. Ini

adalah milik laki-laki dan perempuan. Milik makhluk-makhluk di darat dan burung di udara .. Kata mutiara surga berada di bawah telapak kaki ibu, mempunyai kaitan erat dengan seorang ibu. Akan tetapi ada ibu lain yang berada di bawah telapak kaki ibu kita, yaitu Bunda Bumi. Kita mempertahankan hidup dengan sari-sari makanan dan oksigen yang kita peroleh dari Bunda Bumi. Pakaian kita, rumah kita, kendaraan kita, perlengkapan kerja kita, semuanya disediakan oleh Bunda Bumi. Bumi yang berada dibawah telapak kaki adalah sumber kehidupan bagi semua makhluk yang hidup di atasnya. Semua makhluk yang hidup di bumi ini dipenuhi kebutuhan hidupnya dari lahir sampai mati oleh Bunda Bumi. Kasih Bunda Bumi terhadap semua makhluk hidup berjalan searah. Dia tidak mengharapkan apa pun dari makhluk yang dihidupinya. Semua makhluk di atas bumi ini dipelihara kehidupannya olehnya. Enam milyar manusia, trilyunan binatang ber sel satu sampai binatang besar, trilyunan tanaman, semuanya dihidupi dengan makan dan nafas oleh Bunda Bumi. Ibunda kandung yang mengandung kita, yang menyebabkan kita ada di dunia pun dipelihara oleh Bunda Bumi. Bunda Bumi adalah pemelihara kehidupan kita semua. Ibu Pertiwi adalah bagian dari Bunda Bumi yang berada dalam pemerintahan Republik Indonesia. Ibu Pertiwi adalah bagian dari Bunda Bumi yang terkait langsung dengan diri kita yang menghidupi kita dan memelihara diri kita, diri putra-putri Indonesia. Ada satu ibu lagi, Dia yang memberikan kehidupan, yang memberikan zat hidup kepada semuanya. Tanpa kehidupan semua segera didaur ulang oleh alam semesta. Alam semesta pun ada karena Dia. Bunda Ilahi adalah yang memberi kehidupan ini. Orang bisa menyebut Bunda Ilahi dengan berbagai nama, seperti yang telah diajarkan kepadanya tentang nama sebutan terhadap-Nya. Akan tetapi sebagai sumber kehidupan, tak ada salahnya menyebut-Nya dengan Bunda karena kasihnya yang tak terkira kepada kita. Bunda Bumi dan Bunda Kandung kita, dapat diibaratkan debu dari kaki Bunda Ilahi yang mewujud untuk memelihara dan mengasihi diri kita. Bunda Bumi dan Bunda Kandung kita adalah wujud kasih dari Bunda Ilahi terhadap kita. Semua makhluk menjadi hidup karena karunia kehidupan dari Bunda Ilahi. Menghormati Bunda Ilahi dilakukan dengan jalan melayani kehidupan semua makhluk yang sama-sama hidup karenaNya. Hubungan kita dengan Ibu kandung kita adalah hubungan darah daging. Darah dan daging ibu dan bapak yang melahirkan kita menuntut tanggungjawab terhadap darah dan daging. Hubungan darah daging adalah hubungan awal kita dengan dunia ini, dimana keluargaku menjadi lebih penting dari keluargamu. Karena bagaimanapun jua aku memiliki hubungan darah/daging dengan keluargaku .. Hubungan kita dengan

Bunda Bumi adalah hubungan air. Air adalah esensi kehidupan. Dari airlah kita semua berasal. 70% dari Bumi berupa air. Kita semua berasal dari zat dan materi yang sama. Setiap lapisan daging dan setiap tetes darah berasal dari materi awal - air yang satu dan sama. Janganlah memikirkan keuntunganmu pribadi saja, pikirkan kebaikan semua orang. Dan, dalam kebaikan semua itu, kebaikan keluarga-ku pun termasuk Hubungan kita dengan Bunda Ilahi adalah hubungan ruh. Kita semua berasal dari ruh yang sama. Kita semua adalah satu saudara yang hidup di atas Satu Bumi, di bawah naungan Satu Langit dan kita mempunyai Satu Kemanusiaan. One Earth One Sky One Humankind.

Serial Pandangan Kebangsaan Anand Krishna no 14

Menghormati Perbedaan
Ada sapi berwarna hitam, ada yang berwarna putih, ada pula yang kecokelat-cokelatan, tetapi susu yang mereka berikan berwarna sama, putih. Mereka yang melihat perbedaan karena warna kulit sapi, belum mencicipi susu sapi. Mereka baru melihat sapi. Mereka belum merasakan manfaat susunya. Mereka yang melihat perbedaan tanpa melihat benang merah kesatuan masih berada dalam kesadaran kulit. Gus Dur menyebut benang merah kesatuan sebagai Kebersamaan Sufi. Bapak Anand Krishna pernah bertemu Gus Dur dan menulis pengalamannya dalam buku Cakrawala Sufi 3, Kembara Bersama Mereka Yang Berjiwa Sufi, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 1999. Di bawah ini adalah tulisan Bapak Anand Krishna tentang salah satu pandangan Gus Dur Kebersamaan Sufi berbeda dari apa yang kita sebut Demokrasi. Demokrasi akan selalu memisahkan masyarakat dalam dua kelompok kelompok mayoritas dan kelompok minoritas. Demokrasi akan menuntut pemungutan suara. Demokrasi akan mementingkan hakhak mereka yang didukung oleh suara terbanyak dan terkeras. Demokrasi tidak akan segan-segan menindas hak-hak mereka yang tidak memiliki suara banyak. Kelompok minoritas akan selalu ditindas oleh kelompok mayoritas. Demokrasi sangat tidak bersifat spiritual. Seseorang yang mengaku dirinya demokrat sebenarnya juga mengakui bahwa dia belum spiritual. Kalau suara terbanyak dan terkeras menghendaki Yesus disalibkan, demokrasi akan merestui penyaliban itu. Apabila suara terkeras menolak Socrates, demokrasi tidak akan berpikir dua kali sebelum meracuninya. Demokrasi akan melindungi kursi kepresidenan seorang Clinton. Apabila 51 orang mengatakan bahwa ia tidak bersalah,suara 49 orang lainnya tidak akan diperhitungkan lagi. Demokrasi sangat-kejam, jelek dan bukanlah harapan bagi dunia yang damai. Gus Dur bukanlah seorang demokrat. la meyakini sesuatu yang lain. Yang ia yakini adalah kebersamaan . Apalagi membuat hubungan harmonis antara kelompok mayoritas dan kelompok minoritas, sedangkan dalam diri seorang manusia saja antara pikiran, ucapan dan tindakan belum dapat seirama. Dalam buku Menemukan Jati Diri I Ching Bagi Orang Modern, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2002 Bapak Anand Krishna menyampaikan . Persatuan juga harus diupayakan dalam diri manusia. Persatuan antara pikiran, ucapan dan tindakannya. Dan, untuk mempersatukan ketiga-tiga unsur tersebut anda membutuhkan bantuan dari lembaga, dari institusi yang berada di atas mereka. Yaitu, institusi

kesadaran, lembaga rasa. Selama ucapan dan tindakan Anda masih dikendalikan oleh pikiran, jiwa Anda tidak akan pernah utuh. Sering kali tindakan Anda tidak akan klop dengan ucapan Anda. Demikian, Anda akan berjiwa jereng. Kembangkan rasa dalam dirimu. Dan dengar jiwa yang utuh, dengan penuh kesadaran, bertindaklah sesuai tuntunan nurani anda, maka Anda akan berhasil! Para founding fathers kita menerapkan kesadaran dan rasa berbangsa untuk mengatasi perbedaan yang ada. Bahwa kita semua bersaudara, bertanah-air satu tanah air Indonesia, berbangsa satu bangsa Indonesia, berbahasa satu bahasa Indonesia. Kami pernah mendengar pidato Mbak Alissa Wahid, putri Gus Dur Tuhan mengutus Nabi Muhammad SAW untuk menjadi rahmat bagi alam semesta, bukan untuk satu golongan saja. Banyak ayat-ayat Al Quran yang mendukung kebersamaan, Kami telah menciptakan kamu semua dari satu pria dan satu wanita, dan menjadikan kamu pelbagai bangsa dan suku, agar supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di mata Allah adalah orang yang bertaqwa. Alissa Wahid melihat bahwa kesadaran dan rasa takwa sebagai pemersatu perbedaan. Beliau juga menambahkan bahwa dalam salah satu Hadis Nabi juga disebutkan bahwa sebaik-baiknya manusia ialah orang yang memberi manfaat bagi orang-orang di sekitarnya .. Selain takwa maka bermanfaat bagi orang-orang di sekitar juga dapat menjadi pemersatu. Michael Jackson menentang perbedaan black and white karena pada dasarnya kemanusiaan adalah satu. Dalam buku The Gospel Of Michael Jackson, Anand Krishna, Anand Krishna Global Co-Operation bekerja sama dengan Yayasan Anand Ashram, 2009 Bapak Anand Krishna menyampaikan .. Kemanusiaan itu bukan hitam atau putih, atau keduanya. Kemanusiaan adalah satu. Anak adalah anugrah alam, keajaiban dan misteri. Goresan DNA berbeda, namun jika kita menilik cukup jauh ke belakang, kita akan temukan kita semua berasal dari satu sumber yang sama. Atom itu satu. Energi juga satu. Sumber segala kehidupan adalah satu. Perbedaan kita adalah geografis. Perbedaan biologis. Tetapi bukan perbedaan yang prinsipil. Pada dasarnya, kita semua satu. Jadi, kembali lagi pada kita. Bagaimana cara pandang kita? Apakah kita menyadari esensi yang satu dan sama, atau kita hanya melihat perbedaan-perbedaan di permukaan? Tiap orang dari kita adalah unik. Ya benar. Tetapi jangan biarkan keunikan ini memisahkan kita. Marilah kita selalu ingat bahwa pada intinya kita semua satu. Marilah kita rayakan keunikan individual kita. Namun janganlah lupa bahwa lantai dansa adalah satu juga. Kita tidak bisa berdansa tanpa lantai dansa kesatuan ini. Keunikan tarian kita dapat terlihat hanya karena lantai dansa kesatuan. Tanpa lantai dansa ini, tidak mungkin ada tarian.

Sesungguhnya, dalamnya inti, tidak ada hitam atau putih. Hitam dan putih tidak lagi menjadi masalah, atau dipandang sama rata. Melalui lagunya, sebenarnya dia sedang mengundang kita untuk masuk ke dalam diri dan menemukan esensi yang sesungguhnya. Dengan segala cara dia mencoba membuat kita memahami. Sayangnya kita tetap tidak mengerti dan dia jadi frustasi Mereka yang menganggap suku, agama, rasnya, lebih baik daripada milik orang lain baru melihat kulit. Mereka belum menghayati isinya. Zat Kehidupan yang ada di dalam diri saya, tidak dapat dibedakan dari Zat Kehidupan yang ada di dalam diri Anda. Zat itulah Roh, spirit atau apa pun sebutannya. Pun energi di dalam badan saya tidak beda dari energi di dalam badan Anda. Kesadaran di dalam diri saya tidak beda dari kesadaran di dalam diri Anda .. Alam tidak mengenal pengulangan. Tidak ada dua pohon yang bentuknya persis sama. Tidak ada manusia yang wajah dan perilakunya persis sama. 6 Milyar manusia semuanya mempunyai wajah yang berbeda. Segala sesuatu dalam alam ini sangat unik. Jangan mempermasalahkan perbedaan-perbedaan yang ada. Perhatikan hal-hal yang bisa mempersatukan. Perbedaan tidak bisa dihindari. Yang harus kita hindari adalah pertentangan. Pertentangan yang disebabkan oleh kesadaran rendah. Pertentangan yang muncul karena kita mempermasalahkan kulit sapi dan tidak memperhatikan susu sapi. Dalam buku Menemukan Jati Diri I Ching Bagi Orang Modern, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2002 Bapak Anand Krishna menyampaikan bahwa untuk bekerjasama, maka aku saya dan aku orang lain harus berubah menjadi kita . Dalam hal kerja sama dengan pihak lain, hormatilah perbedaan-perbedaan yang ada. Temukan sesuatu yang dapat mempersatukan, tanpa harus mengorbankan ciri khas masingmasing pihak. Demikian, kau akan berhasil! Setiap individu adalah unik. Sepasang anak kembar yang dilahirkan oleh satu ibu bisa mirip-mirip, tetapi tidak bisa sama persis. Lalu, kalau ingin menjalin kerja sama dengan pihak lain, anda tidak bisa egois. Anda tidak bisa mempertahankan aku Anda. Anda harus menghormati aku mitra Anda. Aku Anda dan aku mitra Anda harus berubah menjadi kita. Ya, kita - di mana kedua aku tersebut saling menunjang dan mengisi. Partai-partai yang katanya reformis dan katanya pula siap-sedia bekerja sama dengan partai-partai lain tetapi masih ingin mempertahankan apa yang mereka sebut asas partai mereka tidak akan pernah berhasil menjalin kerja sama dengan pihak mana pun juga. Karena, apa yang mereka sebut asas itu sudah merupakan proyeksi ego mereka. Mereka sudah memiliki keyakinan bahwa asas yang mereka anut itu terbaik, tertinggi, termulia. Pokoknya ter dalam segala bidang. Mereka tidak membuka diri terhadap kemungkinan-kemungkinan lain. Mereka tidak bisa menerima keberadaan yang lain pada ketinggian yang sama. Mereka menganggap langit-nya

paling tinggi. Sungguh bodoh mereka, karena langit kita satu adanya. Sama tinggi dan sama rendah. Asas-asas yang berbeda itu melahirkan konsep-konsep berbeda, pengertian-pengertian dan kepentingankepentingan berbeda. Dan, tertutuplah kemungkinan untuk kerja sama .. Selama kita menggunakan pikiran yang egoistis sebagai pemandu kehidupan dan tidak mempergunakan kesadaran dan rasa, maka kita tidak akan pemah bisa melihat kesatuan dan persatuan di balik hal-hal yang berbeda. Kita harus berwawasan cukup luas, sehingga dapat menerima pandangan-pandangan yang berbeda. Pada saat yang sama, kita juga harus memiliki kesadaran yang cukup tinggi, sehingga bisa melihat keikaan di balik kebhinekaan .

Serial Pandangan Kebangsaan Anand Krishna no 15

Masih Menjadi Budak Belum Merdeka


Kisah tentang Nabi Musa memerdekakan para budak sudah menjadi legenda. Tekansearch images di Google legenda nabi musa dan ribuan gambar kisah sang nabi terpampang di layar monitor. Kita disuguhi kisah para ahli sihir Firaun yang melecehkan Musa yang ingin memerdekakan para budak. Para ahli sihir lupa mengaca, tidak introspeksi diri, bahwa mereka telah berkarya demi harta kekayaan dan kedudukan yang dijanjikan Firaun. Mereka lupa bahwa mereka sejatinya adalah budak Firaun, yang hanya mau mengabdi jika dibayar, dijanjikan sesuatu. Sebaliknya Musa berkarya untuk kepentingan umum tanpa mementingkan dirinya. Karena para ahli sihir telah lama menjadi budak Firaun, mereka menganggap hal tersebut sebagi hal yang biasa. Mereka menganggap membantu Firaun adalah tugasnya. Mari Kita bertanya kepada diri sendiri, apakah selain memenuhi kebutuhan pribadi kita berkarya demi kepentingan umum? Ataukah hanya mau berkarya jika dibayar? Para Hakim Agung yang mengubah hukuman mati gembong narkoba perlu introspeksi, mereka berkarya demi keadilan dan kepentingan masyarakat luas ataukah hanya berkarya jika dibayar ekstra oleh siapa saja. Demikian juga bagi seluruh profesi lainnya. Agar jelas posisi kita sebagai pengikut nabi atau pengikut Firaun? Dalam buku Telaga Pencerahan Di Tengah Gurun Kehidupan, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 1999 Bapak Anand Krishna menyampaikan .. Perbudakan yang berkepanjangan bisa membisukan nurani manusia. Manusia mulai terbiasa dengan keadaan yang menimpanya. la mulai berkompromi dengan keadaan. la menganggap perbudakan itu sebagai kodratnya. Jangan mengira manusia masa kini sudah sepenuhnya bebas dari perbudakan. Manusia masih budak. la diperbudak oleh ideologi-ideologi semu. la diperbudak oleh dogma-dogma yang sudah usang. Ia diperbudak oleh paham-paham dan kepercayaankepercayaan yang sudah kadaluwarsa. Tetapi ia tetap juga membisu. Jiwanya sudah mati. la ibarat bangkai yang kebetulan masih bernapas. Manusia masa lalu masih beruntung. la diperbudak oleh seorang raja atau seorang majikan. Relatif mudah membebaskan manusia dari perbudakan semacam itu. Musa berhasil melakukan hal itu. Keadaan manusia masa kini lebih parah, lebih buruk. la diperbudak oleh suatu sistem-suatu sistem yang membuat dia menjadi mesin Musa pasti juga heran melihat keadaan para budak. Mereka menderita, tetapi mereka diam. Mereka tidak berani bicara. Mereka tidak berani memberontak. Kenapa demikian? Karena mereka sudah terbiasa hidup dalam perbudakan. Mereka tidak tahu, kebebasan itu apa. Harus ada seorang Musa, harus ada seseorang

yang bebas dan memahami arti kebebasan untuk membuat mereka sadar akan perbudakan mereka. Tugas seorang Musa memang sangat berat. la harus membangunkan mereka, membangkitkan mereka, menghidupkan kembali jiwa mereka yang sudah mati. la harus membuat mereka sadar akan arti kebebasan, nilai kemerdekaan Kita juga dalam keadaan yang sama, beberapa kezaliman peradilan kita biarkan, kita manut saja dan berbisik-bisik di belakang, mereka yang punya wewenang keterlaluan, tetapi hanya sekedar berbisik dan tidak ada tindakan nyata dari kita. Tidak demikian dengan Dr. Martin Luther King Jr yang pada saat itu melihat ketidakadilan terhadap masyarakat kulit hitam. Beliau berkata: Kita semua harus tunduk patuh pada hukum manakala hukum itu telah mencerminkan kebenaran dan keadilan. Sebaliknya, jika produk hukum dibuat oleh oknum yang menginjak-injak nilai kebenaran dan keadilan, maka secara moral pula, harus berani melakukan perlawanan .. hasilnya sekarang Presiden Obama yang berkulit hitam dipilih menjadi presiden yang kedua kalinya. Kita tidak boleh diam melihat ketidakadilan, kita harus bersuara Ribuan tahun berlalu sudah, tetapi kondisi ini tidak berubah banyak. Bangsa yang kehilangan rasa percaya dirinya dapat diperbudak dengan sangat mudah. Keadaan negeri kita saat ini kurang lebih sama. Banyak sekali properti yang sudah pindah tangan. Banyak spekulan asing yang mulai menguasai lahan kita. Kita sedang mengalami proses penjajahan. Rakyat kita sedang mengalami proses perbudakan. Dan kita masih tertutup juga. Demikian pandangan Bapak Anand Krishna dalam buku ISA Hidup dan Ajaran Sang Masiha, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2005. Kita harus mulai dengan diri sendiri lebih dahulu, harus sadar lebih dahulu, membebaskan diri dari perbudakan diri dulu baru memerdekakan dari penjajahan orang asing. Dalam legenda Judas dan Nabi Isa AS, Judas ingin segera membebaskan masyarakat dari cengkeraman Romawi dan tidak sabar dengan khotbah-khotbah sang guru. Sedangkan Sang Guru mencoba memberdayakan diri masyarakat, membuat masyarakat sadar akan jati diri mereka. Beliau menyadarkan bahwa perbudakan bukanlah takdir mereka. Beliau tengah berupaya membebaskan jiwa-jiwa mereka. menurut Beliau masyarakat pada waktu itu tidak hanya dijajah oleh Romawi, tetapi juga oleh para pendeta dan apa yang disebut sebagai penguasa. Beliau mengingatkan Judas bahwa kemerdekaan Romawi tidak akan berarti apa-apa. Lepas dari mereka, masyarakat akan diperbudak oleh orang mereka sendiri, oleh kelompok elite masyarakat. Manusia mendambakan kebebasan, tetapi yang dikejarnya justru perbudakan. Keterikatan dan keinginan berlebihan sesungguhnya menjerat

manusia, memperbudak dirinya, membelenggu jiwanya. Sungguh tragis bila kita tidak menyadari hal itu. Kita perlu sadar dulu, baru dapat menjalankan kebebasan (kemerdekaan dari perbudakan) dan setelah itu baru hidup .. . Sadar, bebas dan hidup. Perhatikan urutan ini. Anda harus mulai dari kesadaran. Sadar dulu, baru memproklamasikan kemerdekaan. Kemerdekaan, kebebasan tanpa kesadaran tidak akan tahan lama. Kesadaran adalah bekal awal. Tanpa bekal itu, kebebasan, kemerdekaan yang anda proklamasikan tidak bermakna sama sekali. Sewaktu-waktu, jiwa anda bisa dijajah kembali. Dulu penjajahnya lain, sekarang penjajahnya lain. Budak tetap budak. Sekali lagi, sadarilah kemampuan diri, potensi diri-keilahian dan kemuliaan diri. Setelah menyadarinya, baru memproklamasikan kemerdekaan. Baru membebaskan diri dari segala sesuatu yang mengikat diri anda, yang merantai jiwa anda. Setelah bebas, kemudian anda baru hidup. Anda baru bisa menikmati hidup ini. Anda baru bisa merayakan kehidupan anda! Demikian pandangan Bapak Anand Krishna dalam buku Bersama Kahlil Gibran Menyelami ABC Kehidupan, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 1999. Kesadaran sangat penting. Selama ini kita menjadi budak dari ambisi dan keinginan-keinginan kita. Kita telah menjadi budak dari nafsu penca indra. Kita terpesona oleh dunia. Padahal dunia adalah bayangan dari Dia Yang Maha Mempesona. Ambisi dan keinginan kita terkait dengan bayangbayang. Kita mengejar bayangan keluarga, kekuasaan, kekayaan, kedudukan, ketenaran dan sebagainya. Ambisi kita adalah ambisi para budak, para pengemis. Kita tidak mengejar Dia tapi mengejar bayanganNya. Dalam salah satu wejangannya Bapak Anand Krishna menyampaikan .. para rasul, para nabi hidup di dunia, berjuang di dunia tetapi tidak meminta imbalan dunia semuanya merupakan persembahan pada-Nya. Kita diingatkan supaya meniru para rasul, para nabi, dan tidak mengharapkan upah dari manusia. Sesungguhnya inilah yang membedakan kita dari para rasul dan khalifatullah. Kita mengharapkan imbalan dari dunia, dan harapan itu membuat kita menjadi wargadunia. Kita menjadi budak dunia. Sementara para rasul dan khalifatullah tetap mempertahankan kewarganegaraan mereka. Mereka tetap menjadi warga surga yang sedang berkunjung ke dunia. Mereka mempertahankan status mereka sebagai tamu .

Serial Pandangan Kebangsaan Anand Krishna no 16

Antara Egois dan Kebersamaan


Di tengah masyarakat, sering dijumpai beberapa orang yang sangat egois, yang hanya memikirkan kepentingan diri dan keluarganya. Banyak pemimpin yang tidak bertindak sebagai pemimpin yang memikirkan kepentingan umum tetapi hanya melakukan aji mumpung. Ada kelompok yang merasa benar sendiri, melakukan kekerasan kepada kelompok masyarakat lain. Mereka semua bertindak demi kelompoknya dan tidak memikirkan kepentingan masyarakat secara keseluruhan. Mereka yang egois dan merasa benar sendiri telah hidup bagi diri mereka sendiri, dan lupa hidup itu sebenarnya terkait dengan kepentingan keseluruhan. Bapak Anand Krishna mengingatkan dalam buku Karma Yoga bagi Orang Moderen, Etos Kerja Transpersonal untuk Zaman Baru, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2011 . Kemandirian manusia tidaklah membuat dirinya menjadi pulau yang terpisah dari pulau-pulau lain. Kemandirian manusia tidaklah berarti ia bisa hidup sendiri, tanpa saling keterkaitan atau interdependency. Kemandirian manusia tetaplah menjunjung tinggi asas kebersamaan, gotong-royong, dan saling bantumembantu. Marilah kita menyadari saling keterkaitan kita. Selama ini, barangkali kita beranggapan bahwa setiap manusia adalah pulau terpisah. Kita tidak memiliki badan yang sama, maupun otak atau hati yang sama. Memang tidak. Dan, kelainan-kelainan seperti itu memang menciptakan kesan terpisah. Tetapi, jangan lupa bahwa perpisahan seperti itu hanyalah sebuah kesan! Alihkan perhatian dari bagian pulau yang terlihat diatas permukaan laut. Perhatikan laut yang mempersatukan ribuan pulau dan tujuh benua. Bayangkan dasar laut yang mempersatukan seluruh planet bumi . Mata bukan bertindak demi kepentingan mata sendiri, tetapi bagi kepentingan keseluruhan tubuh. Kaki bukan berkarya bagi dirinya sendiri, akan tetapi bagi kepentingan keseluruhan tubuh. Mulut mengunyah dan perut mencerna tidak secara egoistis bagi kepentingan mereka sendiri tetapi bagi kepentingan seluruh tubuh. Demikianlah tindakan anggota tubuh adalah bagi kepentingan seluruh anggota tubuh. Tubuh kita adalah satu kesatuan. Pada waktu kita sehat kita akan merasa bahwa kita adalah satu. Akan tetapi pada saat ada bagian tubuh yang sakit, misalnya gigi sedang sakit, kita baru sadar bila ada bagian tubuh yang sakit. Keterpisahan baru dirasakan saat kita tidak sehat, saat kita sedang sakit. Sehingga bila kita merasa terpisah dengan anggota masyarakat yang lain itu adalah tanda bahwa kita sedang sakit. Fisik kita bertindak secara alami, akan tetapi tidak demikian dengan pikiran kita. Dengan patuh buta

pada pikiran, kita sering nekat bekerja walau mata sudah lima watt dan merasa mengantuk, walau tubuh sudah loyo dan minta istirahat. Demi kenikmatan rasa pengecap di lidah yang dinikmati oleh pikiran, kita sering berlebihan mengkonsumsi makanan lezat yang kurang baik bagi keseluruhan tubuh. Sang lidah pun tidak bersalah, dia telah diperintah oleh pikiran yang menikmati rasa kelezatan. Kita telah menjadi budak pikiran (yang tidak sehat) sehingga melupakan kesehatan tubuh. Mari kita belajar pada sel-sel tubuh kita. Kata pakar kesehatan di dalam setiap 1 kg manusia terdapat sekitar 1 trilyun sel. Setiap sel merupakan unit kehidupan tersendiri, dia hidup lahir untuk menjalankan tugas, dia makan sari-sari makanan yang disupply lewat aliran darah, dia bernafas mengambil oksigen yang dibawa darah, membuang sisa-sisa makanan dan karbon dioksida, dan akhirnya mati. Selanjutnya, akan ada sel baru yang menggantikannya. Dalam tubuh kita ada puluhan trilyunan kehidupan .. Setiap sel mempunyai intelegensia. Sel darah putih bisa membedakan antara bakteri musuh yang berbahaya dan sari makanan yang bermanfaat. Informasi rasa manis yang ada pada lidah di bawa ke otak melalui barisan ribuan sel syaraf yang bersedia ber-estafet mengantarkan informasi. Selsel dalam tubuh memahami tugas sel-sel yang lain, saling membantu, bekerjasama bagi keseluruhan. Deepak Chopra memberikan uraian tentang intelegensia sel: 1. Sel tubuh tidak mementingkan diri sendiri. Sel lebih pendek umurnya daripada umur manusia. Ribuan sel kulit mati setiap harinya. Dalam satu tahun hampir 90 % sel yang mati terbaharui. Setiap sel setuju untuk bekerja demi kesejahteraan keseluruhan. Kesejahteraan individual menjadi nomer dua. Kalau perlu ia rela mati demi melindungi tubuh. Demikian juga sel kekebalan tubuh yang memerangi mikroba yang menyerbu. Sikap mementingkan diri bukan pilihan; 2. Rasa menyatu. Sebuah sel berhubungan dengan segala sel lainnya. Molekul-molekul utusan berpacu ke mana-mana untuk memberitahu tentang hasrat atau niat. Menarik diri atau menolak berkomunikasi bukanlah pilihan; 3. Selalu sadar setiap saat. Sel-sel beradaptasi dari saat ke saat. Mereka tetap fleksibel agar dapat memberikan respon terhadap situasi-situasi yang ada. Terperangkap pada kebiasaan kaku bukanlah pilihan; 4. Menerima keberadaan sel lain. Sel-sel saling mengenal satu sama lain sebagai sama pentingnya. Setiap fungsi dalam tubuh saling tergantung satu dengan lainnya. Berfungsi sendirian bukanlah pilihan;

5. Selaras dengan keadaan. Sel-sel itu patuh kepada siklus universal berupa istirahat dan aktif. Hal tersebut diekspresikan seperti gerakan hormon, tekanan darah, irama pencernaan yang berfluktuasi. Ekspresi yang paling jelas adalah tidur. Terjadi ketidakberfungsian total apabila kita tidak tidur. Dalam keheningan istirahat, tubuh berinkubasi. Terlalu aktif atau agresif bukanlah pilihan; 6. Efisien. Sel-sel berfungsi dengan pengeluaran energi yang sekecil mungkin. Umumnya sebuah sel menyimpan hanya tiga detik makanan dan oksigen di dalam dinding selnya. Ia sepenuhnya percaya bahwa dirinya akan dipelihara. Konsumsi makanan, udara atau air yang berlebihan bukanlah pilihan; 7. Pembentukan ikatan. Karena kesamaan warisan genetika, sel-sel itu tahu bahwa mereka itu pada dasarnya sama. Fakta bahwa sel hati itu beda dengan sel jantung tidak meniadakan kesamaan identitas mereka, yang tidak berubah-ubah. Sel-sel yang sehat tetap terikat dengan sumbernya yang sama. Entah seberapa sering pun mereka terbelah. Menjadi sel buangan bukanlah pilihan; 8. Memberi. Kegiatan utama sel adalah memberi, yang akan memelihara integritas sel-sel lainnya. Komitmen total terhadap memberi menjadikan menerima itu otomatis. Menumpuk bukan pilihan; 9. Berbagi. Sel-sel bereproduksi untuk meneruskan pengetahuan, pengalaman dan bakat mereka tanpa menahan apa pun kepada anak-anak mereka. Ini semacam keabadian praktis, tunduk kepada maut di bidang fisik, tetapi mengalahkannya di bidang non fisik. Jurang antara generasi bukan pilihan .. Bagi tubuh, kualitas hanyalah cara kerja kehidupan. Mereka adalah hasil dari intelegensi kosmos yang mengekspresikan diri selama milyaran tahun sebagai biologi. Setiap sel memahami bahwa dirinya merupakan unit dari sistem tubuh manusia dan dia bertindak selaras dengan sistem tersebut. Berasal dari satu sel telur yang telah dibuahi dan kemudian berkembang menjadi beraneka anggota tubuh. Walau kemudian berkembang menjadi beraneka ragam, tetapi tetap berkarya demi kesatuan. Sel yang tidak sesuai dengan keselarasan tubuh dinamakan tumor, atau kanker yang bertindak semaunya sendiri, tidak selaras dengan harmoni tubuh. Tumor atau kanker harus dijinakkan atau diangkat agar tidak mengganggu keselarasan hidup secara keseluruhan. Sudahkah kita belajar dari kehidupan sel tubuh? Sudahkah kita bertindak demi kepentingan keseluruhan? Sudahkah merasa menyatu dengan seluruh kehidupan di bumi, ataukah kita bertindak sesuai kebenaran kita

sendiri tanpa memikirkan keselarasan dengan dunia, apakah kita ini merupakan tumor atau kanker bagi kehidupan dunia? Bapak Anand Krishna mengingatkan dalam buku Karma Yoga bagi Orang Moderen, Etos Kerja Transpersonal untuk Zaman Baru, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2011 . Berkarya tanpa pamrih pribadi menjadi sangat mudah jika kita memperhatikan napas kehidupan yang mempersatukan kita semua. Tidak ada satu pun makhluk yang bisa hidup tanpa napas. Pepohonan dan tumbuh-tumbuhan pun bernapas. Napas kehidupan itulah faktor pemersatu yang sangat nyata. Sesungguhnya para suci dari setiap tradisi - lahir di belahan dunia mana pun jua sudah menyerukan kebersamaan. Itulah pesan utama mereka. Baginda Rasul membentuk ummah; Buddha Gotama membangun sangha; Yesus Kristus mendirikan komunitas. Demikian pula dengan para suci lainnya. Dan, mereka semua, tanpa kecuali, menggunakan spiritualitas, esensi keagamaan, laku batin sebagai landasan ..

Serial Pandangan Kebangsaan Anand Krishna no 17

Manusia yang Egoistis dan Alam yang Selalu Berbagi


Dikatakan bahwa manusia adalah makhluk yang paling tinggi derajatnya, apalagi bila dibandingkan dengan hewan. Akan tetapi, kita belum pernah mendengar hewan menumpuk makanannya berlebihan, hewan makan hanya bila lapar, tidak menumpuk makanannya, sedangkan manusia bisa menumpuk hartanya sampai tujuh turunan. Kita belum pernah mendengar hewan sebagai penyebab bencana, akan tetapi manusia merusak hutan lindung penyebab banjir dan longsor. Kita belum pernah mendengar hewan membunuh hewan lainnya kecuali dagingnya akan dimakan, sedangkan manusia banyak membunuh sesama bukan untuk mengkonsumsinya. Penyebab global warming juga bukan hewan. Hewan hidup lebih selaras dengan alam daripada manusia. Bapak Anand Krishna dalam buku Neospirituality & Neuroscience, Puncak Evolusi Kemanusiaan, Anand Krishna & Dr. Bambang Setiawan Ahli Bedah/Bedah Saraf (Neurosurgeon), Gramedia Pustaka Utama, Kompas Gramedia, 2010menyampaikan . Setelah menjalani proses evolusi yang sangat panjang, manusia berhasil memiliki pikiran (mind), otak (brain), dan pancaindra (senses) yang cukup canggih, melebihi makhlukmakhluk lain di dunia ini. Hal ini merupakan berkah sekaligus serapah bagi dirinya. la memiliki otak dan pancaindra untuk mewujudkan apa yang dikehendakinya termasuk melawan dan menentang hukum alam Manusia memiliki kebebasan, baik untuk menyadari kemanuggalannya dengan alam semesta maupun untuk tidak menyadarinya. Ketika ia memilih untuk tidak menyadari kemanunggalannya maka ia berpikir bahwa dirinyalah yang Maha Kuasa dan dapat berbuat apa saja sesuai dengan kehendaknya. la merusak lingkungan, melawan alam, bertindak sesuai dengan keinginannya karena menganggap dirinya sebagai makhluk yang paling hebat, tinggi, spesial, dan berada di atas seluruh makhluk-makhluk lainnya. Jadi manusia memiliki kebebasan untuk memajukan diri atau menghancurkan dirinya sendiri Manusia yang menuruti keinginannya tanpa mempedulikan manusia lain dan lingkungannya bisa lebih ganas daripada hewan. Kita melihat perang antar manusia, sekelompok manusia menyerang kelompok manusia yang lebih lemah, keganasannya jauh melebihi hewan. Ke-tidakmanusiawiannya di atas hewan. Akan tetapi bagi manusia yang sudah sadar dia diingatkan, bila kau dipukul balaslah yang setimpal, akan tetapi memaafkan itu perbuatan yang lebih mulia. Bagi manusia yang sadar juga diingatkan bahwa tangan yang memberi lebih baik dari tangan yang

menerima, berbagi lebih baik daripada egois. Bahkan kalau bisa tangan kiri tidak perlu tahu apa yang tangan kanan berikan kepada orang lain. Bapak Anand Krishna membagi manusia berdasar kesadarannya. Dalam buku Rahasia Alam, Alam Rahasia, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2003Bapak Anand Krishna menyampaikan . Range pertama, range hewani, instink dan naluri hewani yang bekerja. Bila Anda mati-matian mengejar nama, kedudukan, harta dan sebagainya. Bila napsu Anda selalu membara dan Anda merasa haus terus, sehingga dapat melakukan seks dengan siapa saja. Bila Anda tidak peduli terhadap kenyamanan orang dan bisa mengorbankannya demi kenyamanan diri .. Rangekedua, range insani, bebas dari instink dan naluri hewani. Bisa jadi Anda masih mencari nama, kedudukan, harta dan sebagainya, tetapi Anda tidak mati-matian mengejarnya. Anda tidak akan mengorbankan kepentingan orang demi kepentingan pribadi. Napsu yang bersifat egois di dalam diri Anda berubah menjadi cinta yang siap berbagi Range ketiga, range ilahi, Anda mengikuti nurani, intuisi. Anda ntidak mengejar ataupun mencari nama, kedudukan dan harta, karena Anda sadar bahwa hal-hal itu tak ada yang langgeng. Cinta Anda sudah berubah menjadi kasih, di mana Anda akan memberi dan memberi . Mari kita baca ensiklopedia yang membicarakan tentang lebah. Sumber makanan lebah adalah nektar dari bunga-bungaan. Karena bunga hanya mekar pada musimnya, maka lebah menyimpan nektar yang mereka kumpulkan dengan menambah cairan khusus yang dikeluarkan oleh tubuh mereka untuk dipergunakan sebagai makanan pada saat pohon tidak berbunga. Campuran yang bergizi inilah yang disebut madu. Untuk menjaga kualitasnya, temperatur madu dipertahankan sekitar 35 derajat Celcius. Pada waktu kondisi panas mereka berkumpul untuk mengipasi madu dengan sayapnya. Untuk mencegah makhluk asing masuk mereka mempunyai penjaga yang akan mengusir mereka yang mengganggu. Agar bakteri tidak mengganggu, mereka mengeluarkan resin yang sekaligus dapat mengeraskan sarang mereka. Pertanyaannya adalah mengapa lebah membuat madu berlebihan yang jauh melebihi kebutuhan dirinya? Bahkan menjaga kemurnian madunya yang sebagian besar justru dipersembahkan kepada manusia? Tanaman dan hewan memberikan banyak persembahan kepada makhluk lainnya. Ayam bertelur sebutir setiap hari, dan tidak semuanya dipergunakan untuk meneruskan kelangsungan jenisnya. Sapi juga memproduksi susu melebihi kebutuhan untuk anak-anaknya. Padi di sawah menghasilkan butir-butir gabah yang jauh melebihi kepentingan untuk mempertahankan kelangsungan kehidupan kelompoknya. Pohon mangga juga menghasilkan buah mangga yang jauh lebih banyak dari yang

diperlukan untuk mengembangkan jenisnya. Pohon singkong memberikan pucuk daunnya untuk dimakan manusia, akar ubinya pun juga dipersembahkan, mereka menumbuhkan singkong generasi baru dari sisa batang yang dibuang. Sifat alami alam adalah penuh kasih terhadap makhluk lainnya. Lebih banyak memberi kepada makhluk lainnya. Sikap yang altruistis memikirkan kepentingan orang lain selaras dengan alam. Egolah yang membuat manusia hanya mementingkan dirinya sendiri saja. Dalam buku Life Workbook, Melangkah dalam Pencerahan, Kendala dalam Perjalanan, dan Cara Mengatasinya, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2007 Bapak Anand Krishna menyampaikan Jauh sebelum ilmuwan modern mulai memperhatikan lingkungan, flora dan fauna, jauh sebelum mereka mencetak istilah baru eco system, para bijak sudah memaparkan, menjelaskan hubungan manusia dengan lingkungannya. Sekedar menjaga kebersihan lingkungan saja tidak cukup, kita harus melestarikan alam. Merawat flora dan fauna. Jaman dulu, manusia tidak bisa seenaknya menebang pohon. Adat menentukan usia pohon yang dapat ditebang. Itu pun untuk keperluan tertentu. Ketentuan adat berlaku, Walau pohon itu berada di atas tanah kita sendiri. Kita memiliki tugas, kewajiban serta tanggungjawab terhadap kelestarian alam. Jangan mencemari air dan udara. Berhati-hatilah dengan penggunaan energi. Jangan mengeksploitasi bumi seenaknya. Gunakan ruang juga tanah yang tersedia secara bijak .. Manusia telah dilayani oleh alam, sehingga perlu berterima kasih dan peduli dengan alam. Dalam Bhagavad Gita, Percakapan Ketiga, Karma Yoga, Sri Krishna menyampaikan Persembahanmu akan menjaga kelestarian alam. Alam pada gilirannya akan menjaga kelestarianmu. Dengan saling membantu akan membuatmu bahagia yang tak terhingga. Alam ini akan memberi apa yang kau inginkan sebagai pengganti persembahanmu. Tetapi bagi yang menikmati pemberian alam tanpa mengembalikan sesuatu dipertimbangkan sebagai seorang pencuri Kerusakan terhadap lingkungan disebabkan keegoisan/keserakahan manusia. Manusia mengambil pemberian alam tanpa memeliharanya (dalam Bhagavad Gita diistilahkan pencuri) . Adalah suatu kearifan untuk tidak memotong pohon di daerah tangkapan air. Akar-akar pohon mampu menahan air, sehingga persediaan air di mata air tidak berkurang. Pembabatan pohon membuat persediaan mata air menyusut. Pohon perlu dihormati, tidak ditebang dengan semena-mena. Pada zaman dahulu, semasa gunung masih diselimuti hutan belantara, air krasan singgah di antara akar-akar pohon dan enggan mengalir kesebelah bawah. Perbedaan jumlah air di musim penghujan dan musim kemarau tidak begitu besar. Begitu selimut hutan tersingkap karena dibabat manusia yang serakah, air sudah tidak krasan lagi di gunung, di musim penghujan air

langsung berkumpul di sungai meluap menjadi banjir, dan dimusim kemarau air di gunung sudah tidak tersedia, sehingga kekeringan terjadi dimana-mana. Butir-butir tanahpun terseret banjir dan diendapkan di sungai-sungai yang menyebabkan pendangkalan yang akhirnya mengakibatkan banjir di musim penghujan

Serial Pandangan Kebangsaan Anand Krishna no 18

Kita Ini Bangsa Korawa Atau Bangsa Pandawa?


Kita dapat memahami bahwa potensi Pandawa maupun potensi Korawa ada dalam diri kita. Semua tindakan Korawa ada alasannya. Otak, pikiran, ego kita dapat membenarkan alasan tersebut. Akan tetapi kita juga mempunyai kesadaran bahwa walaupun ada alasan yang dapat diterima akal, akan tetapi sebetulnya hal tersebut tidak tepat. Bila kita menggunakan nafsu keserakahan sebagai kiblat, maka kita akan menjadi Korawa. Sedangkan bila kita berkiblat kepada Kebenaran, maka kita akan menjadi Pandawa. Pandawa dan Korawa selalu berperang di dalam diri, dan kita sendirilah yang memilih siapa yang akan menjadi pemenangnya. Semakin banyak warga negara yang memenangkan sifat Korawa, maka kita akan menjadi bangsa Korawa. Semakin banyak warga Negara yang memilih memenangkan sifat Pandawa, kita menjadi bangsa Pandawa. Pilihan di tangan kita. Dalam buku The Gita Management, Panduan bagi eksekutif muda berwawasan modern, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2007 Bapak Anand Krishna menyampaikan Keterpurukan negeri kita ini dan kebohongan publik yang sering dilakukan oleh para pemimpin kita, terjadi karena kiblat kita yang salah. Kita sudah tidak berkiblat pada Kebenaran, pada Gusti Yang Maha Benar dan Maha Baik adanya. Saat berdoa, hanya badan kita yang menghadap Bait Allah. Pikiran kita berkiblat pada harta benda. Perasaan kita berkiblat pada kenyamanan jasmani dan keuntungan materi bagi diri sendiri, keluarga, dan kelompok sendiri. Bisa saja dalam arena politik menggunakan segala macam cara untuk memenangkan pertarungan. Akan tetapi Keberadaan adalah Kekosongan yang sempurna. Pada waktu kita berteriak di depan goa yang dalam, maka pantulan suara yang sama akan kembali sebagai gema. Demikian pula setiap tindakan penuh tipu muslihat, akhirnya akan kembali pula dengan cara yang sama . Leluhur kita menggambarkan bahwa Cakra Sri Krishna akan mengejar terus, ke mana pun juga, sampai pada suatu saat, ketika lengah, cakra akan datang menyelesaikan hukum sebab-akibat. Kita serig lalai saat kita sedang menanam benih kejahatan, karena tindakan kejahatan itu dapat memuaskan keserakahan kita. Akan tetapi benih tersebut menunggu waktu untuk menjadi pohon dan berbuah. Setelah tiba waktunya, buah kejahatan akan jatuh sendiri menimpa diri kita yang telah menanam benihnya.

Bapak Anand Krishna menggambarkan Sun Tzu yang menggunakan segala macam cara untuk memperoleh kemenangan. Dalam buku The Gita Management, Panduan bagi eksekutif muda berwawasan modern, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2007 Bapak Anand Krishna menyampaikan Sun Tzu mewakili manusia primordial, di mana satu-satunya hukum yang berlaku adalah fight or flight, melawan untuk keluar sebagai pemenang atau takut dan melarikan diri dari medan perang, menghindari peperangan. Hukum ini membuat manusia kuno, manusia zaman batu dan besi , menjadi keras, alot. Ya, otot-ototnya menjadi kuat, karena ia sering menggunakannya. Ia mesti menggunakannya. Ia harus menaklukkan binatang-binatang di hutan demi keberlangsungan hidupnya. Ia harus membunuh demi keselamatannya. Sun Tzu adalah nabi bagi para Hitler dan Napoleon, bagi para Genghis Khan dan Alexander, bagi para penguasa yang menempatkan kekuasaan di atas segalanya Sun Tzu adalah masa lalu manusia. Krishna adalah masa kini dan masa depannya. Sun Tzu masih terjebak dalam kegelapan pikirannya sendiri. Cahaya lilin itu tidak mampu menerangi keseluruhan mind-nya. Krishna adalah Cahaya Matahari yang mampu mengubah pikiran menjadi kesadaran. Adalah energi dari cahaya itu yang menjadi gizi, menjadi vitamin, dan kemudian mengubah sifat pikiran yang keras menjadi lembut. Sun Tzu adalah anak tangga pertama dalam kehidupan manusia. Karena itu, jangan membenci dia, tetapi juga jangan terikat padanya. Keterikatan kita akan membuat kita berhenti pada anak tangga tersebut, tidak majumaju. Krishna adalah perjalanan dan pendakian kita saat ini. Krishna adalah anak-anak tangga yang tengah kita tapaki dan akan kita lewati . Seorang Duryudana, Raja Korawa bisa menyerang negara lain hanya karena merasa terancam oleh keberadaannya. Dia bisa merasa terancam dengan keyakinan kelompok lain yang berbeda dengannya. Dia bisa memperbanyak pengikut dengan melakukan intimidasi kepada orang lain. Bagi Shakuni, Patih Korawa nilai persahabatan dan kemitraan tidak berarti apa-apa. Ia melihat potensi permusuhan dalam diri setiap orang, apalagi dalam diri orang yang kuat dan aman. Baginya, seorang tetangga yang kuat, aman, apalagi kaya dan sehat, berpotensi untuk menyerangnya. Maka dia harus mempersiapkan diri. Tidak boleh terlena. Dalam buku The Gita Management, Panduan bagi eksekutif muda berwawasan modern, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2007 Bapak Anand Krishna menyampaikan Ketakselarasan dengan alam membawa bencana. Ketakharmonisan dengan Keberadaan menyebabkan musibah. Ketidakadilan adalah ketidak selarasan, ketidakharmonisan. Kebatilan adalah ketakselarasan dan ketakharmonisan . Keberadaan para koruptor, pengkhianat bangsa, kaum radikal, ekstremis, dan sebagainya telah mengganggu keterpaduan,

kesatuan dan persatuan kita .. Jangan membiarkan para pengkhianat bangsa, kaum radikal, dan orang-orang ekstremis melecehkan hukum, hanya karena Anda membutuhkan suara atau tenaga mereka dalam pemilihan umum yang telah Anda lecehkan pula maknanya. Tidak perlu membenci ilalang, tetapi mereka harus dicabut demi keselamatan keseluruhan taman. Tapi, apakah mereka tidak memiliki hak untuk hidup? Ya, mereka memiliki hak untuk hidup, persis seperti bakteri yang baik di dalam tubuh kita, bukan sebagai virus yang mematikan. Apakah kita tidak melakukan pembunuhan terhadap virus-virus yang mengancam kesehatanmu? Bukankah mereka pun memiliki hak untuk hidup? Dalil seperti ini datang dari mereka yang sok suci, sok moralis. Mereka tidak praktis. Mereka hidup dalam khayalan mereka sendiri. Kesucian dan moralitas mereka semu. Hanya berlaku selama diri mereka tidak terganggu . Untuk mengaktifkan sifat ke-Pandawa-an di dalam diri Bapak Anand Krishna memberi nasehat agar kita mendengarkan suara hati. Dalam buku The Gita Management, Panduan bagi eksekutif muda berwawasan modern, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2007 disampaikan Kita perlu waspada, jangan-jangan apa yang kita anggap suara hati selama ini sesungguhnya bukanlah suara hati. Itu baru tuntutan pikiran dan perasaan. Mereka bergabung untuk menciptakan kebisingan di dalam diri. Kemudian, kebisingan di dalam diri itu membuat kita menjadi berisik. Dan, selama kita masih berisik, suara hati tidak terdengar. Karena itu, tenang dulu .. Bagaimana menenangkan diri, supaya suara hati terdengar jelas? Pertanyaan ini selalu muncul karena ketololan kita dalam memahami mekanisme badan. Kita bisa mulai dengan memperhatikan badan. Perhatikan napas, detak jantung, denyutan otak kita. Dalam keadaan tenang, napas kita teratur; detak jantung harmonis, berirama; dan denyutan otak menjadi sangat pelan. Sebaliknya, dalam keadaan tidak tenang, napas kita tidak teratur. Detak jantung tidak harmonis. Iramanya kacau. Denyutan otak menjadi liar. Untuk menenangkan diri, aturlah napas. As simple as that! Tarik napas dan buang napas 10 menit saja, maka kita menjadi tenang

Serial Pandangan Kebangsaan Anand Krishna no 19

Jangka Jayabaya dan Upaya Memutus Siklus Perbudakan Bangsa


Bagi Seniman WS Rendra, meskipun Negara Indonesia adalah negara merdeka , tetapi Rakyat Indonesia , atau Bangsa Indonesia , belum merdeka. Adapun para penguasa yang membelenggu adalah Pemerintah dan semua partai politik yang ada . Adalah kenyataan kebudayaan sejak dari zaman raja-raja , zaman kolonialisme Belanda , kolonialisme Jepang , penjajahan rezim Orde Lama dan penjajahan rezim Orde Baru, rakyat Indonesia tidak pernah menjadi warga negara dengan hak yang penuh untuk bebas berpartisipasi dalam urusan kemasyarakatan, urusan pemerintahan dan urusan kenegaraan .. Di zaman raja-raja dan kolonialisme Belanda , rakyat adalah kawulo atau hamba Sang Raja . Di zaman kolonialisme Jepang rakyat adalah barisan massa budak yang harus membantu Dai Nippon dalam perang antar imperialis yang disebut Perang Dunia ll. Sedang di zaman rezim Orde Lama, rakyat adalah massa revolusi dan bagi partai-partai politik rakyat sekadar dianggap sebagai barisan massa partai . Kemudian di zaman penjajahan rezim Orde Baru Pemerintah menganggap mereka sebagai massa pembangunan yang harus mendapatkan penataran-penataran .. Gerakan reformasi telah terjadi. Namun, sejak permulaan Gerakan Reformasi sampai kini, kekuatan rakyat, kedaulatan rakyat, kemerdekaan rakyat tidak pernah diperjuangkan secara konkrit dan eksplisit oleh para elite politik di DPR, MPR. Yang secara getol diperjuangkan oleh para elite politik adalah posisi dan kekuatan partai-partai politik dan golongan. Bukan kedaulatan Rakyat .. Demikian pandangan WS Rendra Seniman Besar dalam Buku Rakyat Belum Merdeka pada awal tahun 2000. Bapak Anand Krishna memberi semangat untuk melepaskan diri dari perbudakan dengan menulis buku JANGKA JAYABA, Saatnya Bertindak Tanpa Rasa Takut dan Meraih Kejayaan, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2005. Beliau mengambil jalur yang jarang ditempuh oleh penafsir buku kuno Jangka Jayabaya. Alih-alih menantikan seorang tokoh hebat yang akan memimpin kita, Beliau melihat Jayabaya bicara mengenai kerinduan akan penemuan jatidiri setiap manusia Indonesia. Jangka Jayabaya adalah ajakan untuk mentransformasi diri, mengalahkan ketakutan. Lebih dari sekedar ramalan, naskah kuno ini memaparkan tuntutan waktu supaya kita hidup dalam kekinian, dengan penuh semangat, dan berkarya tanpa rasa takut. Karena itu, kita tak perlu menantikan Herumukti, sebab dia itu adalah kita! Sambut kelahirannya dalam diri kita!

Ramalan tentang besok menjadi basi besok lusa, akan tetapi Jangka tidak pernah menjadi basi. Mengikuti hukum alam, jangka senantiasa berubah dan tidak pernah menjadi basi. Perubahan adalah gerakan, dan gerakan adalah pertanda kehidupan. Selama kita masih berubah, masih bergerak, kita masih hidup. Begitu berhenti berubah, berhenti bergerak, kita mati. Jangka tidak berarti ramalan. Jangka berarti waktu. Jangka adalah waktu yang ikut berubah bersama keberadaan, bersama kita semua. Ramalan boleh jitu, boleh akurat seratus persen, ia tetap menjadi basi. Ramalan hanya menarik bila belum menjadi kenyataan. Bila sudah menjadi kenyataan, ia menjadi bagian dari sejarah. Tidak demikian dengan jangka, dengan jangka jayabaya. Jangka Jayabaya tidak ikut berakhir. Jayabaya, bukanlah ramalan yang dibuat di masa lalu tentang masa depan kita, melainkan Tuntutan waktu supaya kita hidup dalam kekinian, hidup dengan penuh semangat, berkarya tanpa rasa takut dan kemenangan bagi para satria yang telah menaklukan rasa takut. Bapak Anand Krishna mengajak kita untuk bangkit dalam kesadaran, bangkit untuk berkarya bagi Ibu Pertiwi dengan penuh semangat. Bangkit untuk mempersembahkan jiwa dan raga kepadanya. Dalam buku JANGKA JAYABA, Saatnya Bertindak Tanpa Rasa Takut dan Meraih Kejayaan, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2005, Beliau menyampaikan Dunia kita terbagi dalam dua kelompok besar ini. Pertama, kelompok yang malas dan mengharapkan perubahan. Kedua, kelompok yang rajin dan mengakibatkan terjadinya perubahan. Celakanya, kelompok pertama selalu mayoritas. Dominasi mereka tidak pernah surut. Jumlah para pemalas selalu lebih banyak. Banyaknya jumlah pemalas itu telah mempengaruhi seluruh budaya kita. Lebih banyak di antara kita yang berharap daripada yang bekerja untuk mewujudkan harapan itu. Para New-Agers adalah kelompok yang paling malas. Dari sebutan NewAgers itu sendiri kita bisa lihat bahwa mereka tergantung pada age, pada zaman, pada masa, pada sesuatu yang baru, yang didatangkan oleh zaman baru. Mereka belum paham bahwa pembaharuan itu mesti terjadi dari diri sendiri .. Mengutip Syair Jangka Jayabaya, dalam buku tersebut Beliau menafsirkan .. Bila telah terlihat tanda-tanda seperti itu: Pertama, kereta tanpa kuda pancaindra merajalela, dan hidup dikuasai oleh kesadaran rendah. Kedua, berkalung besi kita terbelenggu karena ulah sendiri, dan terlilit utang karena keserakahan dan ketakmampuan kita untuk mengendalikan diri. Ketiga, perahu mengarungi di angkasa segala sesuai telah kehilangan ciri kodratinya. Keempat, sungai kehilangan lubuk air kehidupan sudah mengering, raga berkeliaran tanpa roh, penampilan lebih dipentingkan daripada isi; gengsi lebih diutamakan daripada jati diri. Kelima, pasar kehilangan keramaiannya masyarakat kehilangan dinamikanya karena kita tak berani menyuarakan kebenaran, selalu takut

dan tidka hidup sepenuhnya .. Maka ketahuilah bahwa tiba saatnya untuk melampaui rasa takut sebelum ia berhasil mematahkan semangat kita. Dan saat itu bukanlah di masa depan, atau nanti. Saat itu adalah saat ini. Here and now, lampaui rasa takut, dan raihlah kemenangan! .. Bapak Anand Krishna meminta kita semua untuk introspeksi Para pemuka agama, urusilah akhlak umat. Untuk apa memasuki dunia politik? Apakah pekerjaan rumahmu sudah selesai? Apakah umatmu sudah cukup berakhlak, bermoral, dan kehidupan sesuai dengan nilai-nilai yang dapat dibanggakan? Para pendidik, urusi anak didikmu demi perkembangan mereka. Tragedi yang menimpa mereka adalah tragedi masa depan kita. Jangan jadikan pendidikan sebagai arena dagang sapi kepentingan politik sempit, yang dalam jangka panjang akan menjadi bumerang yang menghantam dan meluluhlantakkan Indonesia. Para seniman, sudah cukup berbudayakah kau? Atau Cuma sibuk menjual seni? Dengan senimu apakah kamu yakin dengan mengangkat keluhuran masyarakatmu, dan bukannya membawa mereka berkubang dalam nafsu-nafsu rendahnya? Para pengusaha, capailah keluhuranmu dengan menegakkan etika usaha. Dan kalian, para pejabat urusi negeri ini dengan nilai-nilai keadilan dan kebenaran; jangan cuma sibuk dagang sapi demi kepentingan sempitmu yang hanya akan merusak nama baik dan integritasmu. Manusia Indonesia, bertindak dan berkaryalah sesuai dengan kemampuanmu, didorong oleh keluhuran .. Untuk itu Beliau meminta masyarakat untuk bersuara. Masyarakat yang tak bersuara adalah masyarakat yang mati, masyarakat yang sudah tidak memiliki semangat hidup. Biarlah masyarakat tetap bersuara. Jangan merampas hak mereka untuk bersuara, karena, jangan lupa, diri kita pun merupakan bagian dari masyarakat yang sama. Merampas hak masyarakat untuk bersuara sama dengan merampas hak kita sendiri untuk bersuara. Barangkali kita tidak merasakan pengaruhnya saat ini, tapi kelak kita pasti merasakannya. Bila kita membungkam, kita pun akan dibungkam. Inilah hukum alam yang tak terelakkan. Masyarakat yang tidak bersuara adalah masyarakat yang hidup dalam ketakutan. Dan, masyarakat yang hidup dalam ketakutan, adalah masyarakat yang bersikap tidak adil terhadap diri sendiri, masyarakat yang melakukan kekerasan terhadap diri sendiri. Masyarakat seperti itu menghancurkan dirinya sendiri Kelompok penunggu Ratu Adil, penunggu Herumukti, penunggu Satrio Piningit, penunggu berakhirnya zaman Kalabendu, harus mengubah diri. Setelah banyak yang mengubah diri, maka sesuai hukum Law of Attractionakan muncul dengan sendirinya pemimpin yang selaras dengan hasrat perubahan .

Serial Pandangan Kebangsaan Anand Krishna no 20

Menyelesaikan Konflik Perbedaan Lewat Unit Keluarga


Negara adalah ibarat keluarga besar. Dan keluarga adalah ibarat negara yang kecil. Seorang kepala keluarga adalah kepala pemerintahan rumahnya. Seorang kepala negara adalah kepala keluarga negaranya . Untuk menciptakan kerukunan dalam keluarga, kita membutuhkan perekat. Perekat apa yang kita miliki? Harta benda, uang? Seorang istri menghormati suaminya karena ia masih mampu mencari nafkah dan membiayai keluarga. Suami membutuhkan istri untuk menjaga rumah dan merawat anak-anak mereka. Anak pun menghormati orangtua mereka sadar akan ketergantungan pada mereka. Ujung-ujungnya duit, uang, materi. Posisi suami sebagai Pencari Nafkah bisa diganti oleh siapa saja, bahkan oleh istrinya sendiri. Posisi istri sebagai penjaga rumah dan perawat anak dapat digantikan oleh para pembantu. Dan, bagi seorang anak, posisi kedua orangtuanya sebagai sumber dana, sudah pasti berakhir pada suatu hari Demikian uraian Bapak Anand Krishna dalam buku Jangka Jayabaya, Saatnya Bertindak Tanpa Rasa Takut dan Meraih Kejayaan, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2005. Sebelum meneruskan mengenai perekat dalam keluarga, kita perlu melihat interaksi yang terjadi dalam keluarga. Dalam sebuah talkshow Bapak Anand Krishna pernah menjelaskan bahwa keluarga berasal dari dua kata (bahasa Sansekerta) kula dan warga. Kula itu marga, klan. Seperti di Batak ada Panggabean, Panjaitan. Kula berkaitan dengan orang-orang saya yang barangkali agamanya sama, pekerjaannya sama, atau satu garis keturunan. Tetapi ketika kita berbicara warga, bisa berarti warga sedesa. Begitu kita berbicara warga maka ada interaksi dengan orangorang yang banyak perbedaannya. Kalau kita berbicara dengan warga Indonesia, maka mayoritas beragama Islam, Kristen, Katholik, Hindu, Buddha. Kita berinteraksi dengan orang-orang yang ada perbedaan. Bagaimana kita mengharmoniskan seluruh interaksi ini? Ketika ada perkawinan barangkali satu kula masuk ke kula yang lain, dan disitu ada perbedaan, terjadi interaksi,ada take and give, bagaimana kita mengakomodir perbedaan. Kalau itu terjadi maka akan terjadi keharmonisan. Interaksi antara suami istri tidak lepas dari ego masingmasing.Bagaimana meredam ego? Harus bisamengakomodir perbedaan. Itu penting sekali. Tetapi Beliau bertanya sedikit lebih jauh. Apakah keluarga itu hanya suami, istri dan anak? Celakanya sekarang tidak demikian. Berapa jam anak kita bersama kita, berapa jam bersama pembantu, berapa jam bersama TV. Pengaruhnya luar biasa. Keluarga tidak bisa kita batasi dengan bapak dan ibu saja. Perubahan yang terjadi

cepat sekali. Pada zaman dulu tidak adaplay station sehingga anak-anak harus berinteraksi sejak kecil dengan anak-anak yang status sosialnya berbeda, dan barangkali dari marga lain. Sehingga sudah terjadi interaksi sejak kecil. Sekarang sebatas jam sekolah dan saat mau masuk sekolah, sehingga anak kurang berinteraksi, lebih sering masuk kamar dan kutakkutik dengan komputer, nonton TV sehingga tidak punya kesempatan melihat perbedaan dan belajar bagaimana menyesuaikan perbedaan. Bapak Anand Krishna menambahkan bahwa pada zaman modern ini, kadang kita hidup bersama tapi tidak terjadi interaksi. Beliau mengingatkan bahwa kita harus kembali pada konsep dasar keluarga besar. Sekarang ini kita mengikuti konsep Barat dan keluarga kita semakin sempit. Beliau mengambil contoh temannya di Amerika bercerita bahwa orang tuanya di taruh di panti jompo, dia membayar untuk itu dan kemudian anaknya dia taruh di panti anak, juga dengan membayar. Padahal yang demikian bisa dilakukan di rumah. Bagaimana kita memanfaatkan grand mother-grand father untuk menjaga cucu-cucunya dirumah. Itu memberikan motivasi kepada mereka sehingga lebih bergairah menghadapi kehidupan ini. Di tingkat keluarga, orang tua kadang begitu bingung antara memanjakan dan mendidik. Anak TK sering diberi uang berlebihan. Ini kecelakaan akibat orang tua tidak cerdas dan memanjakan anak. Anak SD sudah dibelikan handphone. Ini masalah psikologis, ada semacam guilty feeling karena orang tua sibuk di kantor, tetapi mereka tidak tahu bagaimana mengatasi ini semua dan memberikan materi berlebihan kepada anak. Ini menjerumuskan si anak, kesalahan yang besar. Bagaimana cara orang tua agar bisa membagi waktu antara mengajar anak-anak dan mencari uang? Kuncinya adalah harus kembali kepada ajaran leluhur, karena intinya adalah keserakahan, keinginan yang bertubitubi. Mahatma Gandhi mengatakan bahwa kebutuhan bisa dipenuhi, tapi keinginan, kemauan tak bisa dipenuhi. Seandainya kita pahami dengan betul, seorang ayah dapat bekerja, dan ibu dapat bekerja pula tetapi yang tidak terikat dengan pekerjaannya, sehingga masih punya waktu terhadap anaknya. Pengaruh ibu terhadap anak sangat besar. Bapak Anand Krishna memandang begitu penting dan strategisnya keluarga dalam kelangsungan peradaban suatu bangsa. Kalau keluarga sudah rapuh, tinggal tunggu waktu peradaban akan hancur. Dan inti dalam peradaban adalah perempuan, Ibu. Kita harus memahami ibu anak dalam konteks memanusiakan manusia. Dalam banyak agama, kita diajarkan bahwa yang kita hormati setelah Tuhan adalah Ibu. Pada awalnya, anggaplah ibu sebagai Tuhan karena kita mengenal dunia ini lewat ibu. Selama 9 bulan kita berada dalam kandungannya. Dan sekarang sudah terbukti dalam medis-biologis bahwa dalam DNA kita kromosom X itu adalah perempuan. Kita mewarisi dari ibu kita kromosom X yang memberi

energi. Kalau kita tidak mempunyai kromosom X maka kita tidak akan bergerak. Mati. Leluhur kita menyebut wanita sebagai shakti, nama lain dari energi. Dan karena wanita memiliki kedudukan yang begitu tinggi, Beliau menyampaikan bahwa kalau mau mengubah situasi, pertama-tama bukan cuma dengan mendapatkan kursi di DPR, akan tetapi mulai berubah dan memberdayakan diri. Bukan saja kursi di DPR, begitu banyak yang bisa ditangani oleh perempuan. Ketika wanita sudah memberdayakan dirinya. Anak akan mewarisi energi dia. Energi spiritualitas yang telah memberdayakan dirinya. Setelah menyadari pentingnya interaksi dalam sebuah keluarga, kita kembali pada perekat dalam keluarga. Dalam buku Jangka Jayabaya, Saatnya Bertindak Tanpa Rasa Takut dan Meraih Kejayaan, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2005 Bapak Anand Krishna menguraikan mengenai perekat harta benda dan uang. Seorang istri menghormati suaminya karena ia masih mampu mencari nafkah dan membiayai keluarga. Suami membutuhkan istri untuk menjaga rumah dan merawat anak-anak mereka. Anak pun menghormati orangtua mereka sadar akan ketergantungan pada mereka. Ujung-ujungnya duit, uang, materi. Posisi suami sebagai Pencari Nafkah bisa diganti oleh siapa saja, bahkan oleh istrinya sendiri. Posisi istri sebagai penjaga rumah dan perawat anak dapat digantikan oleh para pembantu. Selanjutnya diuraikan perekat kewajiban dalam keluarga. Bila perekat yang kita miliki adalah perekat kewajiban, kerukunan yang tercipta bisa lebih langgeng. Selama kita masih merasa bertanggungjawab terhadap anggota keluarga yang lain, kita akan hidup rukun. Kendati demikian, sense of duty, mereka berkewajiban pun hanyalah sebuah perasaan belaka. Dan, rasa adalah emosi, bisa naik turun, dapat mengalami pasang surut. Karena itu, kerukunan yang tercipta karena sense of duty juga tidak stabil. Selanjutnya, Bapak Anand Krishna menguraikan perekat kasih dalam keluarga. Inilah perekat yang langgeng, abadi. Kasih bukanlah cinta yang masih merupakan rasa atau emosi dan sama-sama tidak stabil seperti kewajiban. Kasih berada di atas rasa; ia melampaui emosi. Ia tidak mengalami pasang surut, naik turun. Kasih merupakan jiwa kerukunan. Ia yang mengasihi, tidak bisa hidup tidak rukun, bukan dengan anggota keluarga saja, tapi dengan siapa saya. Kasih merupakan bahan baku utama bagi perekat. Kewajiban hanya sedikit saja menggunakannya, maka daya rekatnya tidak seberapa. Kasih menjamin kerukunan dalam keluarga. Keluarga-keluarga yang rukun menciptakan masyarakat yang harmonis. Masyarakat yang harmonis menjadi pilar utama bagi bangsa yang berbudaya, beradab, dan bangsa-bangsa yang beradab serta berbudaya mampu mendamaikan dunia ..

Diawali kasih dalam keluarga, kemudian kasih dalam bermasyarakat, akhirnya tercapai keharmonisan hubungan dan konflik terhindari

Sumber: http://triwidodo.wordpress.com http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo http://www.kompasiana.com/triwidodo