Anda di halaman 1dari 15

GAMBARAN FAKTOR-FAKTOR YANG BERKONTRIBUSI TERHADAP INTENSI IBU MERAWAT KESEHATAN GIGI DAN MULUT ANAK DOWN SYNDROME

DI SLB-C KOTA BANDUNG Triandini1, Mamat Lukman1, Raini Diah Susanti1


1

Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Padjadjaran, Bandung, Jawa Barat

ABSTRAK Keberhasilan perawatan gigi dan mulut serta pencegahan penyakit periodontal pada anak down syndrome sangat berpengaruh pada perilaku ibu kepada anak tersebut. Muncul atau tidak nya perilaku dalam menerapkan perawatan kesehatan gigi dan mulut sebenarnya dapat dilihat dari intensi atau kecenderungan ibu untuk melakukan perilaku.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran faktor-faktor yang berkontribusi terhadap intensi ibu merawat kesehatan gigi dan mulut pada anak down syndrome di SLB-C kota Bandung. Penelitian ini dilakukan pada 32 responden ibu yang memiliki anak down syndrome di 9 SLB-C Kota Bandung yang diambil dengan teknik purposive sampling. Alat ukur yang digunakan adalah kuesioner yang dikembangkan dari Theory of Planned Behavior Questionnares: Manual for Researcher (Icek Ajzen :2006). Alat ukur ini telah diuji dan memiliki nilai realibilitas alat ukur 0,715. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh responden ibu memiliki intensi yang kuat untuk merawat kesehatan gigi dan mulut anak down syndrome. Ketiga faktor pembentuk intensi yaitu sikap terhadap perilaku memiliki hasil yang kuat sebesar 100%, norma subjektif kuat sebesar 98,3%, dan persepsi terhadap kontrol kuat sebesar 78,1%. Kata Kunci: Intensi, kesehatan gigi dan mulut, down syndrome
ABSTRACT

The Success dental and mouth treatment as well as the prevention of periodontal disease on child down syndrome is very influential on the behavior of mother. Appear or no her behavior in applying dental and oral health care could actually be seen from a mothers intention or perform the behaivor. The purpose of this reseach is to get decription of determinane factors that contribute to the maternal care of intention dental and mouth health care for down syndrome in SLB-C Bandung. The data of the research was taken from 32 mother who has down syndrome child in Bandung by using incidental sampling technique. The questionaire developed from the theory of Planned Behavior Qustionaires: Manual for Researcher (Icek Ajzen :2006) as measuring instrument. The questionaire has realibility 0,715 .The result of this study 100% of mothers had strong intention caring dental and mouth healty of down syndrome child. The third determinant factor was 100% of mother had strong of attitude toward behavior,93,8%% of mothers had strong subjective norms and 78,1% of mothers had positive perceived control behavior. Keywords : Intention, , down syndrome, health dental and oral care

Triandini, S.Kep Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Padjadjaran (Jl. Raya Bandung-Sumedang Km.21 Jatinangor-Sumedang) Email : triandini0095@gmail.com.

PENDAHULUAN Retardasi mental atau RM merupakan salah satu jenis anak berkebutuhan

khusus, pada keadaan ini ditandai oleh keterbatasan kemampuan yang diakibatkan oleh gangguan yang bermakna dalam intelegensi terukur dan perilaku penyesuaian diri. Asosiasi Retardasi Mental Amerika telah merekomendasikan klasifikasi retardasi mental berdasarkan tingkat IQ, retardasi mental ringan (55-69), sedang (40-54), berat dan sangat berat (dibawah 25). Penyebab retardasi mental bergantung pada beratnya retardasi. Kira-kira 50% kasus RM ringan etiologinya bisa diketahui, kelainan kromosom adalah penyebab yang paling sering teridentifikasi dengan penyebab utama sindrom X fragil dan Down Syndrome. Prevalensi kelahiran anak down syndrome di dunia cukup tinggi sekitar 1:700 kelahiran yang bisa meningkat sesuai dengan umur kehamilan ibu, resiko terjadinya kelainan kromosom pada anak dua kali lebih besar pada ibu di atas umur 35 tahun, meskipun demikian 80% dari penyandang down syndrome masih berusia muda. Kelainan genetik pada down syndrome berdampak pada kondisi kesehatan umum dan pertumbuhan dentokraniofasial penderita. Masalah gigi dan mulut yang timbul akibat kelainan genetik pada penderita down syndrome seperti kelainan gigi dalam hal bentuk, ukuran dan jumlah, keterlambatan erupsi gigi, karies gigi, kebiasaan bernafas melalui mulut. Berbagai perawatan untuk mengatasi masalah gigi dan mulut, seperti perawatan konservasi gigi, periodonsi, bedah mulut serta ortodonsi. Perawatan- perawatan tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan keadaan penderita down syndrome serta kerja sama antara orang tua dan tenaga kesehatan agar perawatan berhasil dengan baik (Eko SY, 2008).

Triandini, S.Kep Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Padjadjaran (Jl. Raya Bandung-Sumedang Km.21 Jatinangor-Sumedang) Email : triandini0095@gmail.com.

Pada penelitian tahun 1987 Storhaug K, dkk mengemukakan keterbatasan anak berkebutuhan khusus pada sampel 415 anak sekolah dengan 10 jenis kebutuhan khusus yang termasuk 62 anak down syndrome dari mulai usia 7-13 tahun dalam hal pengalaman karies gigi sangat rendah misalnya menggunakan menggunakan indeks dalam kehidupan sehari-hari 91% anak berkebutuhan khusus menyikat gigi hanya sekali dan 32% orang tua mengatakan memiliki kesulitan untuk melakukan prosedur menyikat gigi dengan baik dan benar. Hasil penelitian kualitatif yang dilakukan oleh Oliveria AC pada tahun 2010 di Brazil tentang persepsi ibu mengenai kesehatan mulut pada anaknya yang mengalami Down Syndrome yaitu para ibu cenderung memiliki tanggung jawab terbatas dalam status kesehatan anak-anak mereka dan mengenai pengalaman dalam merawat kesehatan mulut anak-anak mereka mengalami kesulitan. Faktor- faktor lain yang menjadi kendala adalah masalah keuangan, waktu, dan akses terhadap pelayanan rujukan kesehatan yang dapat menghambat pencarian dalam perawatan gigi untuk individu dengan kebutuhan khusus. Menurut Eriska Riyanti (2005) keberhasilan perawatan gigi dan mulut serta pencegahan penyakit periodontal pada anak down syndrome sangat berpengaruh pada perilaku orang tua. Artinya para orang tua harus menanamkan kedisiplinan kepada mereka dalam membersihkan rongga mulut. Bila sejak dini sang anak terbiasa membersihkan rongga mulut, dia tidak akan berontak atau teriak sekuat tenaga jika suatu hari dibawa ke pelayanan kesehatan gigi, memang tak bisa sekaligus berhasil dalam menanamkan kebiasaan tersebut, orang tua harus gigih dan terus menerus

memperkenalkan hal itu kepada anak, terlebih lagi membuat mengerti anak yang menderita down syndrome bukanlah hal perkara yang mudah, keluarga di rumah harus

Triandini, S.Kep Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Padjadjaran (Jl. Raya Bandung-Sumedang Km.21 Jatinangor-Sumedang) Email : triandini0095@gmail.com.

tetap tekun dan bersabar mengajari cara bersikat gigi yang baik dan benar kepada seorang anak down syndrome, sebab pada intinya mereka di pahamkan bahwa rongga mulutnya harus selalu sehat. Peran utama ibu di keluarga sebagai pengarah kesehatan dan pemberi layanan kesehatan utama maka ia berfungsi sebagai model utama dalam pembuat keputusan akan kesehatan, pendidik, konselor, dan pemberi layanan kesehatan pada kelurganya (Litman,1974). Pada model ini seorang ibu dapat membatasi dan menentukan seharusnya pencegahan dari efek sakit yang dialami oleh keluarga, ia juga bisa lebih mengontrol kepada anaknya untuk mendapatkan pencegahan primer atau kuratif ( Aday & Eichhorn, 1972). Menurut hasil studi pendahuluan yang dilakukan pada bulan Desember di SLB Negeri Cileunyi dan beberapa SLB-C lainnya di Kota Bandung , peneliti mengobservasi kebersihan gigi dan mulut 10 anak down syndrom dari total jumlah 24 anak Retardasi Mental dari tingkat TK dan SD. Rata- rata kebersihan mulut mereka kurang dan paling banyak menderita gingivitis dan gigi berlubang, pada saat peneliti menanyakan penyebab karies gigi kepada beberapa orang tua dikarenakan efek mereka

mengonsumsi obat dan perilaku orang tua khususnya ibu yang membiarkan anaknya tidak menyikat gigi sehabis sarapan dikarenakan anaknya tidak suka dengan rasa pasta gigi sehingga membuat anak-anak menjadi malas untuk menyikat gigi. Hasil wawancara dengan beberapa guru di SLB-C di Kota Bandung, mereka mengungkapkan bahwa pengajaran teknik menyikat gigi sudah diajarkan dalam bentuk kurikulum BinaDiri kepada para siswa-siswi di sekolah tersebut , dikarenakan anak down syndrome memiliki kemampuan terbatas dalam hal mengingat pelajaran, para guru tersebut meminta bantuan para orang tua khususnya ibu untuk mempraktekkan

Triandini, S.Kep Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Padjadjaran (Jl. Raya Bandung-Sumedang Km.21 Jatinangor-Sumedang) Email : triandini0095@gmail.com.

kembali atau mengajarkan sesering mungkin cara menyikat gigi kepada anaknya di rumah. Berdasarkan data awal wawancara juga, peneliti mendapati bahwa lima dari sepuluh ibu memiliki sikap positif untuk melakukan perawatan kesehatan gigi dan mulut pada anaknya dikarenakan hal itu dilakukan demi kesehatan anaknya agar tidak bertambah parah dan ada beberapa ibu yang memiliki sikap negatif tentang sulitnya mengajarkan cara menyikat gigi pada anaknya karena anak mereka yang menderita down syndrome memiliki suasana hati yang sulit ditebak, jika harus dipaksakan para ibu akan khawatir anaknya akan berontak. Alasan sulitnya untuk membujuk anaknya untuk ke dokter gigi sering diungkapkan para ibu, jika hal ini terjadi biasanya sang ibu akan membiarkan saja dan tidak berusaha memaksakan anaknya mengontrol gigi ke puskesmas. Menurut uraian tersebut peneliti mendapati bahwa perilaku orang tua yang belum sepenuhnya menerapkan disiplin dalam merawat kesehatan gigi dan mulut pada

anaknya penderita Down syndrome, namun ada pula ibu yang sudah melakukan perilaku merawat kesehatan gigi dan mulut pada anaknya. Muncul atau tidak nya perilaku dalam menerapkan disiplin pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut sebenarnya dapat dilihat dari intensi atau kecenderungan ibu untuk melakukan perilaku tersebut. Intensi perilaku dijelaskan dalam The Theory of Planned Behavior (Ajzen.1998). Menurutnya intensi seseorang untuk melakukan suatu perilaku dibentuk oleh tiga kombinasi faktor yaitu attitude toward behavior (sikap terhadap perilaku), subjective norm (norma subjektif), dan perceived behavioral control (kontrol yang dimiliki terhadap perilaku). Semakin kuat intensi seseorang untuk menampilkan suatu perilaku tertentu diharapkan semakin berhasil ia melakukannya, begitu pula halnya dengan semakin kuat intensi ibu dalam

Triandini, S.Kep Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Padjadjaran (Jl. Raya Bandung-Sumedang Km.21 Jatinangor-Sumedang) Email : triandini0095@gmail.com.

melakukan perawatan gigi dan mulut anak nya yang menderita down syndrome maka semakin besar peluang dia berhasil melakukannya dan sebaliknya. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui gambaran faktor yang berkontribusi terhadap intensi ibu merawat kesehatan gigi dan mulut anak down syndrome di SLB-C kota Bandung yaitu faktor sikap terhadap perilaku, norma subjektif dan persepsi terhadap kontrol ibu melakukan perawatan gigi dan mulut pada anaknya. METODE PENELITIAN Metode penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif kuantitatif yaitu peneliti menjelaskan mengenai intensi dan gambaran faktor-faktor yang membentuk intensi ibu yamg memiliki anak down syndrome dalam melakukan perilaku merawat kesehatan gigi dan mulut anaknya di SLB-C Kota Bandung. Variabel penelitian ini terdiri dari dua yaitu variabel terikat yaitu intensi ibu dan variabel bebas terdiri dari sikap terhadap perilaku, norma subjektif dan persepsi terhadap kontrol perilaku ibu merawat kesehatan gigi dan mulut pada anaknya. Subjek yang akan diteliti adalah ibu memiliki anak down syndrome yang bersekolah di SLB-C Kota Bandung. Penarikan sampel dilakukan dengan teknik purposive sampling. Pada penelitian ini peneliti mengambil ibu yang memiliki kriteria anak down syndrome yang belum mandiri dalam menyikat gigi baik dan didampingi serta diajarkan cara menyikat gigi oleh orang tua di rumah. Berdasarkan kriteria tersebut peneliti mendapatkan 32 responden ibu yang sesuai pada cakupan sembilan SLB-C di Kota Bandung. Peneliti menggunakan instrumen kuesioner sebanyak 30 pernyataan dan data tambahan seperti identitas ibu, usia ibu, pendapatan keluarga perbulan, dan jenis pekerjaan ibu yang diadaptasi dari teori The Planned Of Behavior Icek Ajzen. Uji

Triandini, S.Kep Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Padjadjaran (Jl. Raya Bandung-Sumedang Km.21 Jatinangor-Sumedang) Email : triandini0095@gmail.com.

validitas telah diujicobakan di SLB Negeri Cileunyi dan SLB-C Bina Kasih Bandung dengan menggunakan rumus korelasi product moment dan content validity dan ke-30 item digunakan secara keseluruhan, total kuesioner diujicobakan ke 17 orang ibu (responden). Hasil uji reliabilitas terhadap alat ukur penelitian ini diujikan menggunakan persamaan alpha cronbach dari 30 pertanyaan semua item tersebut mempunyai nilai alpha 0,715 sehingga semua pertanyaan tersebut dinyatakan reliabel. Analisa data kuesioenr ini menggunakan skala penilaian Likert yang

mencantumkan kategori pilihan yang dibagi atas 5 penilaian , yaitu SS (Sangat Setuju), S (Setuju), R (Ragu-ragu), TS ( Tidak Setuju), STS (Sangat Tidak Setuju). Penghitungan Intensi didapat dari penjumlahan skor total alat ukur, skor intensi setiap responden kemudian dimasukkan ke dalam kategori kuat atau lemah begitu pula dengan ketiga faktor pembentuk intensi tersebut. Semakin kuat angka skor tersebut menunjukkan intensi semakin kuat , sikap terhadap perilaku, norma subjektif, atau persepsi terhadap kontrol semakin kuat pula. Dalam hasil perhitungan skor total intensi dan ketiga faktor yang berkontribusi tersebut kemudian dilakukan kategorisasi. Langkah- langkah dalam menentukan

kategorisasi yaitu menghitung skor total masing-masing responden, menentukan nilai tertinggi dan terendah, menentukan selisih nilai tersebut selanjutnya hasil selisih kedua nilai tersebut adalah rentang dua kategori kuat dan lemah.

HASIL DAN PEMBAHASAN Dalam penelitian ini, intensi ibu berperilaku merawat kesehatan gigi dan mulut pada anak down syndrome merupakan kemungkinan subyektif ibu untuk menampilkan perilaku merawat kesehatan gigi dan mulut pada anaknya, bentuk perilaku disini adalah ibu mengajarkan cara menyikat gigi yang benar secara berulang-ulang setiap hari serta

Triandini, S.Kep Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Padjadjaran (Jl. Raya Bandung-Sumedang Km.21 Jatinangor-Sumedang) Email : triandini0095@gmail.com.

menenangkan anaknya yang tidak kooperatif pada kunjungan ke pelayanan kesehatan gigi dan mulut. Kemungkinan subyektif disini adalah seberapa kuat ibu menampilkan perilaku merawat kesehatan gigi dan mulut pada anaknya tersebut. Intensi dalam penelitian ini dikategorikan dalam dua kriteria ,yaitu kuat dan lemah. Ketiga faktor yang berkontribusi terhadap intensi yaitu sikap terhadap perilaku, norma subjektif dan persepsi terhadap kontrol juga dikategorikan pada kuat dan lemah . Tabel 1 Distribusi Frekuensi Intensi dan ketiga faktor yang berkontribusi (n=32) Komponen Intensi Sikap terhadap perilaku Norma subjektif Persepsi terhadap kontrol Kuat f % 32 100 32 100 30 25 93,8 78,1 Lemah f % 0 0 0 0 2 7 6,2 21,9 Total f % 32 100 32 100 32 32 100 100

Berdasarkan tabel 1 seluruh responden memiliki intensi yang kuat dalam merawat kesehatan gigi dan mulut anak down syndrome. Seluruh responden juga memiliki sikap terhadap perilaku yang kuat untuk merawat kesehatan gigi dan mulut anaknya , hampir seluruh responden ibu memiliki norma subjektif (93,8%) dan persepsi terhadap kontrol perilaku yang kuat (78,1%) untuk merawat kesehatan gigi dan mulut pada anaknya penderita down syndrome di SLB-C Kota Bandung. Menurut Eriska Riyanti (2005) keberhasilan perawatan gigi dan mulut serta pencegahan penyakit periodontal pada anak down syndrome sangat berpengaruh pada perilaku orang tua . Ibu yang melakukan perawatan gigi dan mulut pada anak down syndrome harus benar-benar gigih dan terus menerus memperkenalkan cara menyikat

Triandini, S.Kep Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Padjadjaran (Jl. Raya Bandung-Sumedang Km.21 Jatinangor-Sumedang) Email : triandini0095@gmail.com.

gigi pada anaknya yang terkait dengan ketidakmampuan dalam gerakan motorik pada anak tersebut. Muncul atau tidaknya perilaku tertentu ditandai oleh adanya intensi atau niat individu untuk perilaku. Semakin kuat intensi individu untuk berperilaku tertentu, maka semakin besar pula kemungkinan individu tersebut untuk melakukan perilaku tersebut atau adanya usaha individu untuk melakukan perilaku tersebut (Ajzen,1988). Hasil yang diperoleh terhadap 32 responden ibu yang memiliki anak down syndrome di sembilan SLB-C kota Bandung didapatkan bahwa seluruh ibu memiliki intensi yag tergolong kuat dan tidak ada responden ibu yang memiliki intensi yang lemah untuk berperilaku merawat kesehatan gigi dan mulut pada anak penderita Down syndrome. Dengan hasil intensi yang kuat ini, kemungkinan ibu memiliki keinginan yang kuat dan usaha yang lebih banyak untuk menampilkan perilaku merawat kesehatan gigi dan mulut anaknya mencakup perilaku mengajarkan teknik menyikat gigi yang benar dan berulang-ulang pada anaknya,serta menenangkan anaknya yang tidak kooperatif pada saat dilakukan perawatan gigi oleh petugas kesehatan. Berbagai macam pengalaman yang ditemui orang tua dalam mengajarkan kemandirian pada anak down syndrome, orang tua khususnya ibu mengalami kelelahan karena harus berhadapan dengan banyak hal yang dilakukan anaknya, akan tetapi hal itu tidak membuat orang tua menyerah dan berhenti berusaha untuk terus menerus mencari cara dan tempat untuk kesembuhan anaknya (Jana,2009). Menurut Theory of Planned Behavior, intensi dipengaruhi oleh tiga determinan, yaitu sikap terhadap perilaku (attitude toward behavior), norma subjektif (subjecitve norms), dan presepsi terhadap kontrol perilaku (perceived behavior control). Ketiga
Triandini, S.Kep Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Padjadjaran (Jl. Raya Bandung-Sumedang Km.21 Jatinangor-Sumedang) Email : triandini0095@gmail.com.

determinan ini memiliki peranan penting dalam membentuk intensi ibu berperilaku merawat kesehatan gigi dan mulut pada anak penderita down syndrome. Ketika ibu berniat melakukan perilaku tersebut maka secara langsung dipengaruhi oleh tiga hal tersebut. Dalam penelitian ini, didapati bahwa seluruh ibu memiliki sikap positif yang kuat dalam memunculkan perilaku merawat kesehatan gigi dan mulut pada anaknya. Menurut Hurlock (1976) sikap positif pada orang tua khususnya ibu akan memberikan dampak yang positif juga pada perilaku anak karena anak akan mencontoh atau meniru sikap orang tuanya, contohnya dalam bidang kesehatan gigi dan mulut yaitu apabila orang tua berupaya mengajarkan cara menyikat gigi berulang-ulang pada anak down syndrome maka akan memberikan dampak kepada anaknya meniru perbuatan orang tuanya tersebut. Kedua, determinan yang mempengaruhi ibu untuk memunculkan perilaku merawat kesehatan gigi dan mulut pada anaknya penderita down syndrome adalah norma subjektif. Norma subjektif disini adalah ibu merasakan bahwa orang orang yang penting bagi dirinya (significant person) mengharapkannya untuk melakukan perilaku merawat kesehatan gigi dan mulut. Pada penelitian ini orang yang dianggap penting bagi ibu adalah keluarga(suami), guru di SLB-C, dan petugas kesehatan di tempat pelayanan kesehatan. Hasil penelitian pada faktor norma subjektif ini didapati hampir seluruh ibu memiliki norma subjektif yang kuat sebesar 93,8%. Peran keluarga dan lingkungan sangatlah penting dalam membantu perkembangan anak down syndrome ,karena itu

Triandini, S.Kep Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Padjadjaran (Jl. Raya Bandung-Sumedang Km.21 Jatinangor-Sumedang) Email : triandini0095@gmail.com.

10

seluruh keluarga harus saling menguatkan dalam upaya mencapai perkembangan yang baik bagi anak down syndrome (Frieda Mangunsong, 2005). Keinginan untuk mengajarkan anaknya cara menyikat gigi yang benar secara berulang-ulang dan menenangkan anak yang tidak kooperatif pada tindakan dental treatment di pelayanan kesehatan umum timbul adanya motivasi dalam diri ibu sendiri untuk memenuhi keinginan dan harapan dari significant person. Motivasi orang tua atau ibu muncul dikarenakan kesadaran bahwa anak-anak mereka yang mengalami down syndrom butuh perawatan kesehatan gigi dan mulut yang lebih khusus dan berbeda dibandingkan dengan anak normal lainnya (Cullen,1981) Determinan yang ketiga sebagai pembentuk intensi adalah perceived behavior control atau persepsi terhadap kontrol perilaku dimana ibu memiliki persepsi tentang kemampuannya untuk berusaha melakukan perawatan kesehatan gigi dan mulut anaknya. Dalam penelitian ini, didapati bahwa hampir seluruh (78,1%) ibu memiliki persepsi terhadap kontrol perilaku yang kuat ,hal ini berarti ibu bisa mengendalikan faktor-faktor yang menjadi penghambat untuk melakukan perilaku merawat kesehatan gigi dan mulut. Faktor faktor yang dibahas pada penelitian ini adalah faktor dari diri sendiri, faktor waktu yang dimiliki ibu untuk mengajarkan cara menyikat gigi berulangulang dan menenangkan anak yang tidak kooperatif pada saat kontrol ke puskesmas ,dan faktor biaya perawatan khusus bagi anak penderita down syndrome. Akan tetapi, 21,9% dari 32 responden ibu memiliki kontrol perilaku yang lemah dikarenakan adanya alasan kesulitan dalam menerapkan teknik mengajarkan berulang-ulang pada anaknya untuk menyikat gigi dan membujuk anaknya yang sering mengamuk bila diajak ke dokter gigi.

Triandini, S.Kep Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Padjadjaran (Jl. Raya Bandung-Sumedang Km.21 Jatinangor-Sumedang) Email : triandini0095@gmail.com.

11

Persepsi ibu mengenai kesehatan mulut pada anaknya yang mengalami Down Syndrome yaitu para ibu cenderung memiliki tanggung jawab terbatas dalam status kesehatan anak-anak mereka dan mengenai pengalaman dalam merawat kesehatan mulut anak-anak mereka mengalami kesulitan. Faktor- faktor lain yang menjadi kendala adalah masalah keuangan, waktu, dan akses terhadap pelayanan rujukan kesehatan yang dapat menghambat pencarian dalam perawatan gigi untuk individu dengan kebutuhan khusus (Oliveria,2010). SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian tentang gambaran faktor-faktor yang berkontribusi terhadap intensi ibu dalam merawat kesehatan gigi dan mulut anak down syndrome di SLB-C Kota Bandung dapat disimpulkan bahwa seluruh responden (100%) memiliki sikap terhadap perilaku yang kuat atau sikap setuju untuk menerapkan perilaku merawat kesehatan gigi dan mulut pada anaknya penderita down syndrome di SLB-C Kota Bandung. Hampir seluruh responden (98,3%) memiliki norma subjektif yang kuat, hal ini berarti persepsi ibu tentang orang-orang yang penting atau yang berpengaruh baginya mengharapkannya dan mendukungnya dalam menerapkan perilaku merawat kesehatan gigi dan mulut pada anak down syndrome di SLB-C kota Bandung. Hampir seluruh responden (78,1%) memiliki persepsi terhadap kontrol perilaku kuat yang berarti bahwa ia mampu mengendalikan perilakunya untuk dapat menampilkan merawat kesehatan gigi dan mulut pada anak down syndrome di SLB-C kota Bandung.

Triandini, S.Kep Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Padjadjaran (Jl. Raya Bandung-Sumedang Km.21 Jatinangor-Sumedang) Email : triandini0095@gmail.com.

12

SARAN Bagi para tenaga pendidikan (guru) di SLB-C Kota Bandung, pemanfaatan UKS di SLB-C lebih terfokus pada fasilitas tempat berkonsultasi dan sumber informasi bagi orang tua agar mendapatkan pendidikan kesehatan yang tepat bagi penderita down syndrome. Perlu dilakukannya keikutsertaan orang tua dalam memberikan materi tentang pembinaan mandiri bagi anak down syndrome karena dengan orang tua khususnya para ibu bisa belajar dan praktik bagaimana menghadapi kendala dalam melakukan perilaku merawat kesehatan gigi dan mulut yang nantinya diaplikasikan di rumah. Bagi institusi keperawatan dalam melakukan perawatan kesehatan gigi dan bisa

mulut merupakan tantangan tersendiri dengan pasien down syndrome. Untuk itu perlu diadakan pencegahan sekunder dengan modifikasi perilaku yang bisa diterapkan pada tenaga kesehatan dalam pelayanan kesehatan umum. Bagi penelitian selanjutnya agar dilakukan penelitian lebih lanjut dengan metode kualitatif tentang perilaku ibu merawat kesehatan gigi dan mulut pada penderita down syndrome terkait indikator perilaku ibu mengajarkan cara menyikat gigi pada anak down syndrome di rumah sehingga data yang didapatkan lebih lengkap yang nantinya akan membantu dalam penentuan intervensi yang tepat dan efektif intervensi khusus bagi anak down syndrome di tempat

Triandini, S.Kep Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Padjadjaran (Jl. Raya Bandung-Sumedang Km.21 Jatinangor-Sumedang) Email : triandini0095@gmail.com.

13

DAFTAR PUSTAKA

Johara, A. Oral Hygiene Practice and dietary habits Among Children with Down Syndrome in Riyadh, Saudi Arabia.Journal of Saudi Dental.2006. Vol.18(3) 141142. Ajzen, I .1991. Theory of Planned behavior. Amherst: Academic Press Inc. _____, I . 2006. Constructing a TpB Questionnaires : Conceptual an Methodological Consideration. http:///people.umass.edu/aizen/pdf/tpb.measurement.pdf. (diakses pada tanggal 20 April 2012). American Dental Association. Caries Risk Assessment Form (Age > 6). 2008. http://www.ada.org. (diakses pada tanggal 8 Febuari 2012). Cheng, R, et al. In Tech Oral Health in Individuals With Down Syndrome. Faculty of Dentistry, University of Hongkong. China.2008. http://cdn.intechopen.com (diakses pada tanggal 19 Juni 2012). Jana. Anak Down Sindrome. http:www.anakluarbiasa.com.2009 (diakses pada tanggal 22 Juni 2012). Johansson, I. Snacking Habbits in Caries Young. 2010. Departement of Odontolgy Swedia. Journal of Caries Reseach 2010; 44: 421-430. Lam, M. Coping with a Child With Down Syndrome : The Experiences of Mothers in Hongkong. Departement Of Nursing, The Chinese University of Hongkong. China. 2002. http://paed.hku.hk ( diakses pada tanggal 20 Juni 2012). Nasution, S. Dukungan Sosial Keluarga Terhadap Anak Down Sindrome di YPAC Medan. 2011:Univeristas Sumatera Utara. http//:www.respositury.usu.ac.id (diakses pada tanggal 22 Juni 2012).
Triandini, S.Kep Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Padjadjaran (Jl. Raya Bandung-Sumedang Km.21 Jatinangor-Sumedang) Email : triandini0095@gmail.com.

14

OKDDC. Oral Health Care for Children with Special Health Care.2008. http:///.www.okacaa.org (diakses pada tanggal 20 April 2012).

Oliveira, C. Mothers Perceptions Concerning oral helath of Children an adolescence Down Syndrome : qualitaive approach. Departement of Social an Preventive Dentistry. Faculty of Dentistry Federal University of Minas Gerais. Brazil.2010. 11(1):pages 2730. Riyanti, E. Pengenalan Perawatan Kesehatan Gigi Anak Sejak Dini. Jakarta : seminar Sehari Kesehatan-Psikologi Anak; Mei 29,2005. Ronald, H et al. Oral Health in Individuals with Down Syndrome.Faculty of Dentistry University of Hongkong.China. Noerdin, S. Masalah Penanganan Perawatan Gigi pada Penderita Cacat. Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Indonesia. 1999; 6(1):36-41. http:///.www. repository.usu.ac.id (di akses pada tanggal 8 Desember 2012). Storhaug, K & Holst, D. Caries Experience of Disabled School- age Children. Community Dental Oral Epidemiology. University of Oslo, Norwegia. 1986: 145-152.

Triandini, S.Kep Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Padjadjaran (Jl. Raya Bandung-Sumedang Km.21 Jatinangor-Sumedang) Email : triandini0095@gmail.com.

15