Anda di halaman 1dari 8

BEBERAPA JENIS POHON SEBAGAI SUMBER PENGHASIL BAHAN PENGAWET NABATI NIRA AREN (Arenga pinnata Merr.

)
Oleh : Santiyo Wibowo1) ABSTRAK Penggunaan bahan pengawet pada nira aren sangat diperlukan untuk mencegah terjadinya kerusakan seperti terbentuknya asam, buih putih dan lendir. Nira yang telah rusak kurang baik jika digunakan untuk membuat produk turunannya. Beberapa jenis pohon sebagai sumber penghasil bahan pengawet nabati yang biasa digunakan untuk mengawetkan nira antara lain tuba (Derris eliptica Benth.), kawao (Millettia sericea W. & A.), sesoot (Garcinia picrorrhiza Miq.), funi (Garcinia syzygiifolia Pierre.), kayu nangka (Artocarpus integra Merr.), kulit buah manggis (Garcinia mangostana Linn.), kulit kayu nyirih (Xilocarpus granatum Koen., X. moluccensis M.Roem) dan cengal (Hopea sangal Korth). Kata kunci : Bahan pengawet, nira aren, produk turunan, jenis pohon

I. PENDAHULUAN Nira merupakan hasil penyadapan tandan bunga atau buah palma dari beberapa jenis pohon antara lain aren (Arenga pinnata Merr.), lontar (Borassus flabellifer Linn.), nipah (Nypa fructicans Wurmb) dan kelapa (Cocos nucifera Linn.). Selain itu nira juga dapat diperoleh dari hasil ekstraksi tanaman tebu (Saccharum officinarum Linn.), umbi bit (Beta vulgaris Linn.), stevia (Stevia rebaudiana Bertoni M.), dan dahlia (Dahlia variabilis) (Lutony, 1993). Nira digunakan sebagai bahan baku dalam pembuatan gula, alkohol, minuman tuak, cuka dan nata (bahan pangan berbentuk gel, berwarna putih, kenyal seperti kolang-kaling) Proses pengambilan nira dapat dilakukan dengan cara digiling, diperas, dan disadap, tergantung pada jenis tanaman penghasil. Pada tanaman aren, kelapa, lontar dan nipah, teknik pemanenan nira dilakukan dengan cara memotong tandan bunga. Sementara pada tanaman tebu dan umbi bit, dilakukan dengan cara menggiling dan memeras batang tebu dan umbi bit. Nira segar mempunyai rasa manis, berbau harum, tidak berwarna, dengan pH antara 5,5 6,0. Rasa manis pada nira disebabkan adanya gula (sukrosa, glukosa, fruktosa dan maltosa).

1)

Peneliti pada Balai Litbang Kehutanan Sumatera

67

INFO hasil hutan Vol. 12 No. 1, April 2006: 6774

Selain gula, juga terkandung dalam nira bahan lain seperti protein, lemak, air, pati dan abu serta asam-asam organik (sitrat, malat, siksinat, laktat, fumarat, piroglutamat) yang berperan dalam pembentukan cita rasa gula merah yang spesifik (Itoh, 1985 dalam Supardi, 1993). Komposisi nira secara umum terdiri dari : air (80 - 90%), sukrosa (8 -12%), gula reduksi (0,5 1%) dan bahan lainnya (1,5 - 7%). Dengan komposisi tersebut, nira merupakan media yang baik untuk pertumbuhan mikroorganisme seperti bakteri, jamur dan ragi (Malyan, 1994). Kehadiran mikroorganisme dapat mengakibatkan kerusakan nira yang ditandai dengan terbentuknya lendir menjadi keruh, suram, berwarna hijau, berbuih putih dan rasa asam. Untuk mencegah terjadinya kerusakan nira, dilakukan berbagai usaha melalui penambahan bahan pengawet nabati. Tulisan ini dimaksudkan untuk memberikan informasi tentang beberapa jenis dan bagian tumbuhan yang dapat digunakan sebagai bahan pengawet nira. Data dan informasi diperoleh melalui penelusuran pustaka, peninjauan langsung dan wawancara terhadap pengolah di beberapa sentra produksi gula aren dan tuak di Kabupaten Tanah Karo dan Simalungun, Propinsi Sumatera Utara. II. PERUBAHAN SIFAT KIMIA NIRA Proses kerusakan nira dapat terjadi sejak cairan keluar dari bahan yang disadap atau diekstraksi. Ini akibat pemakaian alat penyadap dan atau wadah penampung nira (bumbung) yang kurang bersih. Meskipun demikian nira yang steril pun tidak dapat disimpan lama karena akan mengalami proses fermentasi. Pada proses fermentasi akan terjadi perubahan komposisi kimia nira terutama kandungan sukrosa menjadi gula reduksi (fruktosa/glukosa). Mikroorganisme yang sering menyebabkan kerusakan nira adalah bakteri dan jamur. Jenis bakteri penyebab kerusakan adalah Enterobacter aerogenes, Leuconostoc (menyebabkan terbentuknya zat seperti benang pada nira), Pseudomonas flourescens, Alcaligenes dan Flavobacterium (penyebab keruh, suram dan warna kehijauan), Micrococeus, Escherichia dan Acetobacter sp. (penyebab asam). Jamur terdiri dari jenis khamir (ragi) Saccharomyces cerevisiae dan Monillia. Semua bakteri dan jamur/ragi tersebut dapat tumbuh pada pH nira segar (5,56,7) (Frazier, 1978 dalam Wibowo, 1997). Menurut Buckle (1986) dalam Malyan (1994), kebanyakan mikroorganisme dapat tumbuh pada kisaran pH 6,0-8,0. Sherve (1956) dalam Marzoeki (1993) menyatakan bahwa, monosakarida dalam bentuk glukosa/fruktosa (C6H12O6) dapat langsung terfermentasi, tetapi disakarida seperti sukrosa (C12H22O11) harus dihidrolisa dahulu menjadi glukosa atau fruktosa. Rekasi kimia yang terjadi dalam proses fermentasi nira adalah sebagai berikut : C12H22O11 + H2O sukrosa air
enzim invertase

C6H12O6 + C6H12O6 ............................................... (1) glukosa fruktosa

Apabila pH nira turun (asam) atau terdapat enzim invertase yang berasal dari mikroorganisme, maka akan terjadi inversi sukrosa menjadi glukosa/fruktosa. C6H12O6 Glukosa/fruktosa
ragi

2 C2H5OH + 2 CO2 ........................................... (2) etilalkohol karbondioksida

68

Beberapa jenis pohon sebagai ..... (Santiyo Wibowo)

Pada reaksi ini terjadi proses fermentasi yang menghasilkan alkohol dan dilepaskannya CO2 C2H5OH + O2 etilalkohol CH3COOH + H2O ............................................... (3) asam asetat

Pada reaksi ini terjadi penguraian sejumlah alkohol menjadi asam asetat apabila terjadi oksidasi atau adanya aktivitas Acetobacter sp. Perubahan atau reaksi (1) sampai (2) merupakan kegiatan mikroorganisme (ragi) Saccharomyces sp. Sedangkan produk (C2H5OH) dari proses (2) sampai reaksi (3) merupakan kegiatan bakteri Acetobacter sp. III. JENIS DAN BAGIAN POHON YANG DIGUNAKAN Berdasarkan hasil peninjauan dan penelusuran pustaka, bahan pengawet nabati yang biasa digunakan oleh masyarakat adalah sebagai berikut: 1. Nangka (Artocarpus integra Merr.) Nama daerah, antara lain pana, panah, panaih, panas (Aceh), nangka (Gayo, Sunda & Karo), naka (Simalungun, Ternate, Tidore,), pinasa (Toba), nongko (Jawa). Tanaman nangka termasuk famili Moraceae (murbai-murbaian), tinggi tanaman dapat mencapai 10 - 25 meter. Bagian kayunya mengandung zat aktif tanin, glikosida, alkaloid, saponin, Ca-oksalat dan zat berwarna kuning yang disebut morine. Bagian yang dimanfaatkan untuk pengawetan nira adalah kayunya yang dibuat menjadi serpihan kecil (panjang 3 - 5 cm). Sebanyak 4 - 5 serpihan kayu nangka tersebut kemudian dimasukkan ke dalam wadah penampung nira yang selanjutnya dibuat gula merah (Wibowo, 1997). 2. Manggis (Garcinia mangostana L.) Nama daerah, antara lain manggoita (Aceh), manggisto (Batak), manggus (Karo), manggis (Toba), manggustan (Manado), mangustang (Ternate & Tidore). Termasuk famili Guttiferae, tinggi sampai 25 meter dengan diameter 45 cm. Buah bulat berwarna ungu kemerahan ketika masak. Kayu berwarna merah tua, berat, kasar, tidak mudah dibelah, baik untuk kayu bangunan (Heyne, 1987). Bagian tanaman yang dimanfaatkan adalah kulit batang dan kulit buah yang sudah matang (Malyan, 1994). Zat aktif terdiri dari tanin, triterpenoid, resin, mangostin dan xanton yang merupakan pigmen alami berwarna kuning, larut dalam air dan tahan panas (Winarno, 1989). 3. Batang tuba (Derris eliptica Benth) Nama daerah, antara lain tuba (Melayu), tuwa, tuwa laleur, tuwa leteng (Sunda), besto, oyod ketungkul (Jawa), akar ndupar (Karo). Tanaman ini merupakan liana yang memanjat pada pohon atau menjalar di permukaan tanah dengan panjang mencapai 20 m dan diameter 10 cm.

69

INFO hasil hutan Vol. 12 No. 1, April 2006: 6774

Tumbuh terpencar di daerah lembab, tepi hutan atau sungai mulai dataran rendah sampai ketinggian 1500 m di atas permukaan laut. Akar berwarna coklat kemerahan. Kandungan aktif ekstrak akar tuba terdiri dari rotenoid, glikosida, anhidroderid, derid, tubatoksin, derin, mulakol, deguelin, tefrosin dan toxicarol (Anonim, 1999). Bagian yang digunakan untuk pengawet nira adalah batang (Wibowo dan Sasmuko, 2005). 4. Areuy kawao (Millettia sericea W & A) Nama daerah, antara lain akar mumbal, bori akar (Manado), areuy kawao, tuwa leleur (Sunda), tuwa pepe (Makasar), kamurut (Ambon). Tumbuhan ini merupakan perdu yang memanjat, panjang 10 - 30 meter, tumbuh di hutan-hutan dan tepi sungai atau sumber mata air mulai dari dataran rendah sampai 1000 m dpl. Akar berwarna coklat kehitaman. Bagian yang dimanfaatkan untuk pengawet nira adalah batang yang dipotong sepanjang 3 - 4 cm lalu ditumbuk dan dimasukkan ke dalam wadah penampung nira (Wibowo, 1997). 5. Sesoot (Garcinia picrorrhiza Miq) Nama daerah, sesoot (Ambon). Sejenis pohon besar (diperkirakan tingginya lebih dari 20 m), terdapat di kepulauan Sulawesi (pegunungan Hitu dan pulau Latimor), tumbuh liar, dengan perakaran timbul di atas permukaan tanah, termasuk famili Guttiferae. Bagian yang dimanfaatkan untuk pengawet nira adalah akar. Akar tersebut dipotongpotong menjadi ukuran kecil, lalu ditumbuk dengan batu (dimemarkan) dan dicampurkan ke dalam nira yang diolah menjadi tuak. Selain sebagai obat tuak (memperlambat pemasaman), juga diperoleh tuak (seguer) yang kental dan berwarna putih seperti susu encer, mempunyai rasa yang enak dan tidak pahit (Sunanto, 1993). 6. Funi (Garcinia syzygiifolia Pierre) Nama daerah, funi (Sulawesi). Sejenis pohon kecil sebesar tanaman jeruk termasuk dalam famili Guttiferae. Tanaman ini tersebar di pulau Sulawesi dan Seram Kecil. Buah berwarna hijau sebesar jeruk nipis, dapat dikonsumsi manusia dan rasanya asam. Kayunya keras dan baik untuk dibuat sebagai tuas (pengungkit). Bagian yang dimanfaatkan adalah akarnya yang berjenis tunjang. Akar tunjang ini dimanfatkan sebagai obat tuak untuk memperlambat pemasaman, tidak menyebabkan rasa pahit (sedangkan tanaman sesoot menyebabkan rasa pahit), tetapi menyebabkan rasa asam (seperti jeruk nipis) dengan sedikit kelat (Heyne, 1987). 7. Cengal (Hopea sangal Korth) Nama daerah, antara lain damar putih atau cengal (Indonesia), selima (Iban), kedemut (Bangka), merawan jangkar (Kalimantan), merawan telor (Sumatera), cengal (Sunda), jempina, kawang (Jawa). Pohon besar (raksasa rimba) dengan diameter 180 cm dan tinggi mencapai 50 m dengan tinggi bebas cabang 15 - 20 m, termasuk dalam famili Dipterocarpaceae. Batang agak lurus sampai lurus, tanpa alur, tidak berpilin, tanpa atau sedikit yang berbonggol. Tersebar di Sumatera (Riau, Bangka), Kalimantan Selatan, Jawa Barat dan Jawa Timur, di Sumatera pohon terdapat hingga 1000 meter dpl. Bagian tanaman yang dimanfaatkan untuk

70

Beberapa jenis pohon sebagai ..... (Santiyo Wibowo)

pengawet nira adalah kulit batang untuk mencegah pemasaman (Heyne, 1987). 8. Nyirih agung (Xylocarpus granatum Koen) Nama daerah, antara lain nireh (Aceh), niri, nyireh, nyiri, nyiri bunga (Sumut), miri (Sunda), jomba, myiri (Jawa), ciliki gota (Halmahera Utara). Tingga pohon mencapai 20 m dan diameter 75 cm, termasuk dalam famili Meliaceae. Pohon ini membengkok, dekat dengan tanah, bercabang-cabang seperti garpu, dan terdapat pada hutan-hutan payau di Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Nusa Tenggara dan Irian. Bagian tanaman yang dimanfaatkan adalah kulit batang. Di Manado, kulit batang nyirih ditambahkan pada nira yang diolah menjadi tuak. Selain berfungsi sebagai bahan pengawet tuak, bahan ini juga menghasilkan rasa pahit dan sepat. Fungsi lainnya sebagai obat disentri dan kolera (Heyne, 1987). 9. Niri Batu (Xylocarpus moluccensis Roem) Nama daerah, antara lain niri batu (Sumatera Utara), raru (Palembang), nyiri gundik, nyuru (Jawa), moyong tihulu (Minahasa), leleso (Halmahera Utara). Bagian yang dimanfaatkan untuk campuran tuak adalah kulit buah yang sudah dikeringkan (di Kab. Bugis), dan kulit batang (mengandung bahan penyamak/tanin sebesar 24,38 - 27,19%). Kulit buah kering digunakan juga sebagai jamu (Jawa & Bali). Di Makasar dipakai sebagai obat penguat lambung dan penambah nafsu makan (Heyne, 1987). 10. Kesambi (Scheleichera oleosa Merr) Nama daerah, antara lain kasambi (Sunda), kesambi, kusambi, sambi (Jawa), kahembi (Sumba), bado (Makasar). Tinggi pohon 15 40 m dan diameter batang 60 - 175 cm, termasuk famili Sapindaceae. Tersebar di seluruh Asia Tenggara dan di Indonesia terdapat di Jawa, Sulawesi, Maluku dan Nusa Tenggara pada ketinggian kurang dari 1000 m dpl. Bagian yang dimanfaatkan adalah kulit kayu yang mengandung zat penyamak kulit. Di Madura, kulit batang kosambi dicampurkan dalam nira lontar (Borassus flabellifer) untuk menghambat pemasaman nira (Heyne, 1987). 11. Soga (Peltophorum pterocarpum Back). Nama daerah, antara lain soga (Jawa), hau kolo, laru (Timor). Tinggi pohon mencapai 25 m dan diameter 40 - 60 cm, termasuk dalam famili Leguminosae. Di Jawa Tengah dan Jawa Timur, soga dibudidayakan untuk mendapatkan kulit batang sebagai bahan pewarna batik (coklat kekuningan). Selain itu digunakan sebagai obat darah, radang, kompres memar atau bengkak, buang air besar dan serbuk sakit gigi. Di Timor Lorosae kulit kayu soga digunakan untuk campuran tuak (Heyne, 1987).

71

INFO hasil hutan Vol. 12 No. 1, April 2006: 6774

Tabel 1. Bagian tumbuhan yang digunakan dalam pengawetan nira No 1 2 3 Spesies Nangka (Artocarpus integra Merr) Manggis (Garcinia mangostana L.) Batang tuba (Derris eliptica Benth.) Bagian yang digunakan Kayu Kulit batang dan kulit buah Batang Sumber Wibowo (1997) Malyan (1994) Heyne (1987), Wibowo dan Sasmuko (2005) Heyne (1987), Wibowo (1997) Sunanto (1993) Heyne (1987) Heyne (1987) Heyne (1987) Heyne (1987) Heyne (1987) Heyne (1987)

4 5 6 7 8 9 10 11

Areuy kawao (Millettia sericea) Sesoot (Garcinia picrorrhiza Miq.) Funi (Garcinia syzygiifolia Pierre) Cengal (Hopea sangal Korth) Nyirih agung (Xylocarpus granatum Koen.) Niri Batu (Xylocarpus moluccensis M.Roem) Kesambi (Scheleichera oleosa Merr) Soga (Peltophorum pterocarpum Backer).

Batang Akar Akar Kulit batang Kulit batang Kulit batang Kulit batang Kulit batang

IV. PENGGUNAAN BAHAN PENGAWET DALAM PRODUKSI A. Pembuatan Gula Hasil pengamatan di sentra gula aren, Desa Kuta Raja, Tanah Karo, Sumatera Utara, bahan pengawet yang digunakan adalah batang tuba (D. eliptica) yang tumbuh alami di daerah tersebut. Batang yang digunakan berdiameter 1 - 2 cm, dipotong sepanjang 5 - 7 cm, dimemarkan, kemudian dimasukkan ke dalam bumbung sebelum penyadapan dilakukan. Tanaman tuba mengandung zat rotenone yang bersifat racun terhadap jamur, bakteri, hama dan terkenal sebagai racun/bius ikan. Meskipun tuba mengandung rotenone yang bersifat racun tetapi belum pernah ditemukan kasus keracunan pada manusia akibat mengkonsumsi gula merah yang menggunakan bahan pengawet tuba. Diduga zat rotenone terurai akibat suhu tinggi pada saat pemasakan nira yang dapat mencapai 110 - 120OC. Selain itu diduga kandungan rotenone pada bagian batang tidak sebanyak pada bagian akar.

72

Beberapa jenis pohon sebagai ..... (Santiyo Wibowo)

Penggunaan tuba tidak disarankan pada minuman tuak, karena dikhawatirkan dapat menyebabkan keracunan. Hal ini dapat terjadi karena pembuatan tuak tidak melalui proses pemanasan tetapi langsung dikonsumsi. Bahan lain yang biasa digunakan pengrajin gula adalah tatal kayu nangka (A. integra), kulit kayu/buah manggis (G. mangostana), dan kawao (M. sericea). Berdasarkan studi pustaka bahan tersebut mengandung senyawa tanin. Tanin merupakan senyawa organik terdiri dari campuran senyawa polifenol komplek yang berasal dari tumbuhan, bersifat fungisida dan mampu mengendapkan protein sehingga dapat menghambat aktivitas enzim mikroorganisme (Peterson, 1978 dalam Malyan, 1994). B. Pembuatan Tuak Hasil pengamatan di Kabupaten Simalungun, Propinsi Sumatera Utara, campuran yang digunakan dalam pembuatan tuak adalah kulit kayu raru (Hopea spp.) yang dimasukkan dalam penampungan nira. Beberapa produsen dan konsumen minuman tuak di Sumatera Utara berpendapat bahwa penambahan kulit kayu raru bertujuan untuk meningkatkan kadar alkohol dalam tuak. Dengan kata lain, zat yang terkandung dalam raru dapat meningkatkan kadar akohol. Sedangkan menurut Heyne (1987), penambahan bahan raru berfungsi sebagai bahan pengawet, agar tuak lebih tahan lama, mencegah terbentuknya asam (cuka), dan menimbulkan cita rasa sepat/kelat serta dapat menutupi rasa asam (cuka) yang berasal dari asam organik nira. Kemampuan mengawetkan dan rasa kelat/sepet tersebut disebabkan adanya senyawa tanin (Winarno, 1989), yang mampu mengendapkan protein dan mengikat ion logam yang menghambat aktivitas enzim mikroorganisme. Lebih lanjut Heyne (1987) menyebutkan bahwa kulit kayu cengal, kosambi, soga dan funi juga mengandung zat penyamak (tanin). Demikian juga nyirih X. granatum dan X. moluccens masing masing mengandung tanin 20,3 - 21,1% dan 24,38 - 27,19%. Apabila tidak ada usaha pengawetan setelah nira mengalami pembentukan alkohol (tuak), fermentasi akan berlangsung terus menghasilkan asam asetat, sehingga tuak terasa sangat asam. Asam asetat dihasilkan oleh aktivitas bakteri dari genus Acetobacter, dimana kondisi optimal untuk pertumbuhannya adalah pada konsentrasi alkohol encer (5 - 10%), suhu 30 - 35OC dan bersifat aerobik atau memerlukan adanya oksigen (Fardiaz, 1989). Kondisi tersebut sesuai dengan kondisi tuak yang mengandung alkohol encer (4 - 5%). Dengan demikian, pendapat yang menyatakan bahwa penambahan raru dapat meningkatkan kadar alkohol masih perlu dikaji kebenarannya melalui penelitian dan analisa kimia lebih lanjut. V. PENUTUP Pemanfaatan bahan pengawet nabati untuk nira sudah dikenal oleh masyarakat dan diwariskan secara turun temurun. Penggunaan bahan pengawet nabati pada satu daerah dengan daerah lainnya dapat berbeda, tergantung pada hasil akhir yang dibuat. Bahan pengawet nira yang digunakan oleh masyarakat dalam pembuatan gula merah adalah kayu nangka (A. integra), kulit kayu/buah manggis (G. mangostana), kawao (M. sericea) dan tuba (D.

73

INFO hasil hutan Vol. 12 No. 1, April 2006: 6774

eliptica), sedangkan untuk tuak adalah nyirih (X. granatum, X. moluccensis), sesoot (G. picorrhiza), funi (G. syzygiifolia), kosambi (S. oleosa), soga (P. pterocarpum) dan raru (Hopea spp). Di Sumatera Utara, bahan pengawet alami nira yang biasa digunakan masyarakat sudah mulai langka. Hal ini mungkin disebabkan oleh sistem pemanenan yang kurang baik misalnya dengan cara menebang pohon tanpa ada usaha budidaya tanaman. Dengan mengetahui jenis pohon sebagai sumber bahan pengawet yang dapat digunakan untuk mengawetkan nira, diharapkan produsen nira (gula merah dan tuak) tidak lagi bergantung pada satu jenis bahan saja tetapi dapat mensubstitusinya dengan bahan lain. Selain itu, perlu usaha budidaya tanaman tersebut di atas agar ketersediaan bahan tercukupi. DAFTAR PUSTAKA Anonim. 1999. Medicinal and poisonous plant 1. Prosea (Plant Resources of South East Asia) No. 12 (1) 234 242. Bogor. Indonesia. Fardiaz, S. 1989. Mikrobiologi Pangan. Teknologi Pangan dan Gizi IPB. Bogor. 268 hlm. Heyne, K. 1987. Tumbuhan Berguna Indonesia III. Terjemahan Badan Litbang Departemen Kehutanan. Yayasan Sarana Wana Jaya. Jakarta. Lutony, T.L. 1993. Tanaman Sumber Pemanis. Penebar Swadaya. Jakarta. Malyan. E. 1994. Pengaruh konsentrasi kulit buah manggis (Garcia mangostana L) dan lama simpan nira terhadap sifat fisik kimia dan organoleptik gula merah Aren (Arenga pinnata Merr). Skripsi Sarjana. Faperta. Universitas Lampung. Bandar Lampung. Tidak diterbitkan. Marzoeki, A.A.M. 1993. Studi tentang perubahan kimia nira nipah dari hasil penyadapan sore hari. Majalah Kimia. No. 50, Desember 1993. 27-31. Balai Industri Ujung Pandang. Sunanto, H. 1993. Aren, Budidaya dan Multigunanya. Kanisius. Yogyakarta. Supardi, D. 1993. Mempelajari faktor-faktor yang mempengaruhi kelunakan gula merah : Kasus di daerah Cianjur. Skripsi Sarjana. Institut Pertanian Bogor. Bogor. Tidak diterbitkan. Wibowo, S. 1997. Kajian pengolahan dan inventarisasi mutu gula merah aren (Arenga pinnata Merr.) pada sentra produksi di Lampung Utara dan Lampung Barat. Skripsi Sarjana. Faperta. Universitas Lampung. Bandar Lampung. Tidak diterbitkan. Wibowo, S. dan S.A. Sasmuko. 2005. Kajian pengolahan dan sistem pemasaran gula merah aren di Desa Kuta Raja, Tiga Binanga Tanah Karo, Sumatera Utara. Info Hasil Hutan 11(1): 41-49. Pusat Litbang Hasil Hutan. Bogor. Winarno, F.G. 1989. Kimia Pangan dan Gizi. PT. Gramedia. Jakarta.

74