Anda di halaman 1dari 5

Nama: Reski Akbar M.

NPM: 140410110086 Fisiologi Tumbuhan Fungsi air dalam sel dan Air yang tersedia pada Tumbuhan Air Di dalam sel, air terdapat dalam dua bentuk, dua bentuk itu yaitu bentuk bebas dan bentuk terikat. Air dalam bentuk bebas mencakup 95% dari total air di dalam sel. Umumnya air berperan sebagai pelarut dan sebagai medium dispersi sistem koloid. Air dalam bentuk terikat mencakup 4-5% dari total air di dalam sel. Kandungan air pada berbagai jenis sel bervariasi diantara tipe sel yang berbeda. Kandungan air (persen dari berat basah total) pada hati tikus 672%, otot rangka tikus 76% , telur bintang laut 77%, E. coli 73%, dan biji jagung 13%tentu berbeda beda karena lingkungan dan perannya. Air merupakan medium tempat berlangsungnya transpor nutrien, reaksi-reaksi enzimatis metabolisme sel dan transpor energi kimia. Di dalam sel hidup, kebanyakan senyawa biokimia dan sebagian besar dari reaksi-reaksinya berlangsung dalam lingkungan cair (Isharmanto, 2008) Air berperan aktif dalam banyak reaksi biokimia dan merupakan penentu penting dari sifatsifat makromolekul seperti protein. Karena struktur Air mempunyai produk ionisasinya seperti ion O+ dan H maka sangat mempengaruhi berbagai sifat komponen penting sel seperti enzim, protein, asam nukleat, dan lipida. Hal yang sering muncul sebagai contoh, aktivitas katalitik enzim sangat tergantung pada konsentrasi ion H+ dan OH-. Karena itulah , semua aspek dari struktur dan fungsi sel harus beradaptasi dengan sifat-sifat fisik dan kimia air. Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa air merupakan komponen sel yang dominan dan berfungsi untuk : * Pelarut berbagai zat organik dan anorganik, misalnya berbagai jenis ion-ion, glukosa, sukrosa, asam amino, serta berbagai jenis vitamin. * Bahan pengsuspensi zat-zat organik dengan molekul besar seperti protein, lemak, dan pati. Dalam hal tersebut, air merupakan medium dispersi dari sistem koloid protoplasma. * Air merupakan media transpor berbagai zat yang terlarut atau yang tersuspensi untuk berdifusi atau bergerak dari suatu bagian sel ke bagian sel yang lain. * Air merupakan media berbagai proses reaksi-reaksi enzimatis yang berlangsung di dalam sel. * Air digunakan untuk mengabsorbsi panas dan mencegah perubahan temperatur yang drastis atau mendadak di dalam sel. * Air sebagai bahan baku untuk reaksi hidrolisis dan sintesis karbohidat . misal dalam fotosintesis (Lehninger, 1988)

Air mempunyai titik lebur, titik didih dan panas penguapan yang lebih tinggi dibandingkan dengan hampir semua cairan. Kenyataan ini menunjukkan adanya gaya tarik yang kuat diantara molekul-molekul air yang berdekatan yang memberikan air gaya kohesi internal yang tinggi. Sebagai contoh, panas penguapan merupakan ukuran langsung dari jumlah energi yang dibutuhkan untuk mengalahkan gaya tarik menarik diantara molekul air yang berdekatan, sehingga molekul tersebut dapat saling berpisah dan masuk ke dalam fase gas (Isharmanto, 2008). Protoplasma Elemen utama sebuah sel adalah protoplasma. Protoplasma pada semua sel terdiri atas dua komponen utama, yaitu air dan komponen anorganik / komponen organik. Dari reaksi reaksi kimia yang terjadi antara senyawa senyawa inilah yang mengakibatkan adanya gejala gejala kehidupan di protoplasma. Gejala kehidupan itu misalnya metabolisme , tumbuh , bergerak , berkembang biak , sirkulasi zat dll. Komponen-komponen anorganik terdiri atas air, garam-garam mineral, gas oksigen, karbon dioksida, nitrogen, dan ammonia. Komponen organik terutama terdiri atas karbohidrat, lipida, protein, dan beberapa komponen-komponen spesifik seperti enzim, vitamin, dan hormone. Pada sel tumbuhan, protoplasma mengandung sekitar: * 75-85% air * 10-20% protein * 2-3% lipida * 1% karbohidrat, dan * 1% zat-zat anorganik lainnya (De Robertis et al., 1975). Jadi air terlihat merupakan komponen utama, dan bila semua senyawa senyawa organik itu diurai menjadi unsur-unsurnya maka terlihat Carbon ,Hidrogen , Oksigen dan Nitrogen ( CHON) merupakan empat unsur utama yang ada di dalam protoplasma / Unsur Makro. Protoplasma pada tumbuhan memiliki tiga lapisan yakni: 1. Ektoplasma/plasmolemma/plasmoderma (lapisan luar): merupakan lapisan yang berbatasan langsung dengan dinding sel tumbuhan. Di bawah mikroskop tampak sebagai lapisan jernih seperti cairan yang agak kental. 2. Tonoplasma: merupakan lapisan yang berada agak ke dalam, berbatasan dengan vakoula-vakoula dan tampak jernih. 3. Polioplasma: merupakan lapisan tengah yang terdapat di antara ektoplasma dan tonoplasma. Di bawah mikroskop tampak berbutir-butir (bergranula) sehingga kelihatan agak keruh jika dibanding ektoplasma atau tonoplasma.

Indeks bias plasma sel lebih besar daripada air. Bahan dasarnya sering juga disebut hialoplasma yang berfungsi menyusun sitoplasma dan plastida serta inti sel (nukleus).Plasma sel (protoplasma) selalu melakukan gerakan-gerakan. Adanya gerakan pada protoplasma atau plasma sel ini menunjukkan bahwa sel yang bersangkutan masih hidup. Istilah visilitas adalah suatu istilah yang mengacu pada daya hidup yang dimiliki oleh plasma sel (protoplasma). Setidaknya dapat diamati dua macam gerakan protoplasma pada sel tumbuhan yang hidup, yaitu gerak sirkulasi dan gerak rotasi. Gerak sirkulasi merupakan gerakan yang arahnya tampak tidak menentu, tidak beraturan. Gerak sirkulasi dapat diamati pada sel-sel tumbuhan yang mempunyai vakoula yang berukuran kecil. Gerak Rotasi Gerak rotasi adalah gerakan plasma sel yang arahnya membentuk lingkaran secara tetap, gerakan rotasi ini terjadi pada sel-sel yang mempunyai vakoula berukuran besar. Jika diamati, nukleus (inti sel) yang berukuran kecil seringkali terpengaruh letaknya oleh gerak melingkar ini (Lucia, 2006). Kebutuhan air suatu tanaman dapat didefinisikan sebagai jumlah air yang diperlukan untuk memenuhi kehilangan air melalui evapotranspirasi (ET-tanaman) tanaman yang sehat, tumbuh pada sebidang lahan yang luas dengan kondisi tanah yang tidak mempunyai kendala (kendala lengas tanah dan kesuburan tanah) dan mencapai potensi produksi penuh pada kondisi lingkungan tumbuh tertentu. Untuk menghitung ET-tanaman direkomendasikan suatu prosedur tiga tahap, yaitu (Campbell, 2004): (1). Pengaruh iklim terhadap kebutuhan air tanaman diberikan oleh ETo (evapotranspirasi tanaman referensi), yaitu laju evapotranspirasi dari permukaan berumput luas setinggi 8-15 cm, rumput hijau yang tingginya seragam, tumbuh aktif, secara lengkap menaungi permukaan tanah dan tidak kekurangan air. Empat metode yang dapat digunakan adalah Blaney-Criddle, Radiasi, Penman dan Evaporasi Panci, dimodifikasi untuk menghitung ETo dengan menggunakan data iklim harian selama periode 10 atau 30 hari. (2). Pengaruh karakteristik tanaman terhadap kebutuhan air tanaman diberikan oleh koefisien tanaman (kc) yang menyatakan hubungan antara ETo dan ET tanaman (ETtanaman = kc . ETo). Nilainilai kc beragam dengan jenis tanaman, fase pertumbuhan tanaman, musim pertumbuhan, dan kondisi cuaca yang ada. (3). Pengaruh kondisi lokal dan praktek pertanian terhadap kebutuhan air tanaman, termasuk variasi lokal cuaca, tinggi tempat, ukuran petak lahan, adveksi angin, ketersediaan lengas lahan, salinitas, metode irigasi dan kultivasi tanaman. Beberapa pendekatan dapat digunakan untuk perencanaan pemanfaatan sumberdaya air secara optimal dalam sistem produksi pertanian. Informasi pokok yang diperlukan adalah mengenai sumberdaya air, lahan dan tanaman. Khusus dalam kaitannya dengan pekarangan, maka informasi yang diperlukan adalah sumberdaya air (air hujan, air tanah dan air irigasi permukaan), sifat dari ciri tanah, dan syarat tumbuh berbagai tanaman pekarangan. Berdasarkan atas informasi ini maka baru dapat disusun alternatif sistem produksi pada lahan pekarangan. Beberapa parameter penting adalah (Lucia, 2006): (1). Pemilihan tanaman: beberapa faktor yang juga harus dipertimbangkan adalah jumlah air yang tersedia, kondisi tanah dan iklim, preferensi petani, kebutuhan tenagakerja dan modal, peluang pasar dan tingkat teknologi. Penyusunan pola tanam dilakukan sesuai dengan neraca lengas lahan.

(2). Intensitas pertanaman (Cropping intensity): seringkali intensitas ini bervariasi antar waktu (musim) dan lokasi lahan. Hal ini berkaitan erat dengan tingkat investasi. (3). Tingkat penyediaan air irigasi ditentukan oleh ketersediaan air irigasi, neraca lengas lahan, pola tanam dan intensitas pertanaman. Suplai air tersedia dapat dinyatakan sebagai: - (a) kekurangan irigasi musiman tidak boleh melampaui 50% dari suplai air yang diperlukan selama satu tahun tertentu. - (b) jumlah kekurangan irigasi tidak boleh melebihi 150% dari suplai air yang diperlukan dalam periode 25 tahun. Informasi sangat penting adalah periode-periode kapan kekurangan air sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan produktivitas tanaman. (4). Metode irigasi: Pemilihan metode irigasi harus dilakukan pada awal periode perencanaan. Pertimbangannya meliputi investasi, efisiensi penggunaan air, kemudahan penerapan, dan kesesuaian dengan kondisi lokal, erodibilitas tanah, laju infiltrasi, salinitas air dan lainnya. (5). Drainage dan pencucian. Drainase yang baik sangat diperlukan untuk menunjang keberhasilan program irigasi lahan pekarangan. Untuk menghindari akumulasi garam pada zone perakaran tanaman dan kemungkinan kerusakan tanaman yang diakibatkannya, maka kebutuhan pencucian harus ditentukan secara tepat. Air yang tersedia bagi tumbuhan merupakan air yang terikat antara kapasitas lapang dan titik layu permanen serta dinyatakan dalam persen isi. Biasanya nilai air total untuk tanah dijumlahkan sampai kedalaman akar dan dinyatakan sebagai air yang tersedia dengan jumlah total. Karena air tanah total (ATT) belum menjamin bahwa keseluruhan air yang tersedia dapat dimanfaatkan oleh tumbuhan, maka digunakan pengertian sebagai air tanah total yang besarnya kurang lebih 2/3 ATT (Soepardi, 1979). Jumlah air yang tersedia ditentukan oleh banyaknya air yang ditahan dalam profil tanah yang dapat dijelajahi oleh akar. Begitu pula banyaknya air yang dapat diambil tergantung dari kedalaman tanah yang dijelajahi akar. Jumlah air yang dapat diserap dari seperempat kedalaman akar pertama adalah yang terbanyak. Nilai daya simpan tanah disesuaikan dengan daya tahan tiap kelompok tumbuhan di suatu tempat yang berbeda pada masing-masing luasnya (Notohadiprawiro, 2001).

Daftar Pustaka

Campbell, Reece, & Mitchell. (2004). Biologi edisi kelima-jilid 1. Jakarta: Erlangga. De Roberitis. (1975). Cell biology 6th edition. London: W.B. Saunders Company. Isharmanto. (2008). Air Dalam Sel. http://biologigonz.blogspot.com/2008/12/air-dalam-sel.html Lehninger, Albert L. 1988. Dasar-Dasar Biokimia Jilid 1 Terjemahan Dr. Ir. Maggy Thenawijaya. Jakarta : Penerbit Erlangga. Lucia, MS. (2006). Buku ajar biologi sel. Palembang: Universitas Sriwijaya. Notohadiprawiro, T. 1999. Tanah dan Lingkungan. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan dan Kebudayaaan. Soepardi G. 1983. Sifat dan Ciri Tanah. Bogor. Jurusan Tanah, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.