Anda di halaman 1dari 26

Laporan SGD Rehabilitative Nenekku Sudah Banyak Kehilangan Gigi

Disusun Oleh: SGD 2 1. Ajeng Putri Pertiwi 2. Faizal Reza 3. Fania Mahardini 4. Lita Paramita 5. M. Ridhatul Aslam 6. Mabrorotin B. 7. Risky Hanugrahani Putri K. 8. Rizka Amalia S. 9. Rr. Monika Mahardian 10. Yodia Prisma Anggita 11.208.0001 11.210.0130 11.210.0131 11.210.0146 11.210.0147 11.210.0148 11.210.0162 11.210.0163 11.210.0164 11.210.0173

Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Islam Sultan Agung Semarang 2013

KATA PENGANTAR

Bismillahirrohmanirrohim

Alhamdulillahirobbilalamin, segala puji bagi Allah SWT, Rob seluruh alam yang telah memberikan karunia kepada kami hingga kami dapat menyelesaikan laporan SGD LBM 3 blok Rehabilitative. Laporan SGD LBM 3 blok rehabilitative ini disusun berdasarkan apa yang telah kami bahas pada SGD yang telah kita laksanakan pada hari senin dan jumat berdasarkan sumber belajar yang kami cari pada step belajar mandiri. Dalam menyusun laporan ini, kami menyadari masih banyak kekurangan baik dari segi susunan serta cara penulisan laporan ini. Karenanya saran dan kritik yang sifatnya membangun demi kesempurnaan laporan ini sangat kami harapkan Akhirnya, semoga laporan ini bermanfaat bagi kita semua. amin

Semarang, 14 April 2013

penyusun

DAFTAR ISI
Kata pengantar................................................................................................. 2 Daftar isi.......................................................................................................... 3 Bab I pendahuluan A. Skenario............................................................................................... 4 B. Latar belakang masalah....................................................................... 4 Bab II pembahasan.......................................................................................... 5 Bab III penutup A. Peta konsep........................................................................................ 24 B. Kesimpulan........................................................................................ 25 Daftar pustaka................................................................................................ 26

BAB I PENDAHULUAN
A. Skenario

Seorang lansia berusia 65 tahun dengan jenis kelamin wanita datang ke dokter gigi klinik pribadi mengeluh tidak nyaman dengan gigi tiruan lengkap yang sudah dipasang sejak 2 minggu yang lalu. Pasien ini merasa gigi tiruannya menekan gusi, sehingga menyebabkan timbulnya luka kemerahan. Pasien mempunyai riwayat penyakit jantung sejak usia 50 tahun. Pada pemeriksaan intra oral ditemukan adanya ulcus dan tulang yang tajam (eksostosis) pada region mukosa gingival sebelah labial rahang bawah. Dokter tersebut memutuskan untuk memberikan medikasi secara topical pada area ulcerasi tersebut dan merekomendasikan ke pasien untuk dilakukan perawatan alveolektomi ke spesialis prostodonsia.

B. Latar Belakang Permasalahan 1. Medikasi apa yang digunakan dokter untuk area ulserasi? 2. Mengapa pasien merasa gigi tiruannya menekan gusi dan timbul kemerahan? 3. Diagnosis apa pada luka kemerahan, merupakan ulser apa? 4. Devinisi alveoplasti dan apa bedanya dengan alveolektomi 5. Sebelum dilakukan pembedahan, dilakukan apa pada penyakit jantung? 6. Bagaimana mekanisme terjadinya eksostosis pada labial rahang bawah 7. Kenapa dilakukan alveolektomi? 8. Indikasi kontraindikasi 9. Komplikasi saat dilakukan alveolektomi 10. Tujuan alveolektomi 11. Prosedur alveolektomi 12. Klasifikasi alveolektomi 13. Medikasi pasca bedah alveolektomi 14. Kelainan jaringan keras dan lunak serta penanganannya

BAB II PEMBAHASAN
Plak kontrol mekanik dan kebiasaan mengenakan gigi palsu-yang tepat adalah langkah yang paling penting dalam mencegah dan mengobati penyakit. Juga, sanitasi gigi tiruan merupakan elemen penting dalam pengobatan stomatitis gigi tiruan. Meskipun tidak adanya gejala, pasien dengan maju, kasus kronis, atau sebelumnya tidak diobati harus dirawat karena risiko hiperplasia epitel papiler. Ipeh biasanya perlu pembedahan sebelum gigi tiruan tersebut emplaced atau relined. Dalam kasus-kasus ringan Ipeh, pengobatan antijamur tanpa operasi mungkin menjadi alternatif sebelum gigi palsu yang relined atau diganti. Dengan tidak adanya hiperplasia papillary, memverifikasi gigi-dasar adaptasi terhadap permukaan mukosa alveolar dan palatal dan mengidentifikasi dan memperbaiki ketidakharmonisan oklusal, dimensi vertikal, dan posisi sentris. Kebersihan gigi tiruan teliti adalah wajib, dengan menyeluruh sehari menyikat gigi. Gigi palsu harus direndam semalam dalam larutan antiseptik seperti chlorhexidine atau sodium hypochlorite encer (Duclean (hipoklorit Sodium) adalah senyawa KIMIA Yang Akrab Artikel Baru kehidupan manusia sehari-Hari. Lebih dikenal Artikel Baru NAMA pemutih (Yang memang merupakan salat Satu fungsinya), Duclean JUGA dapat digunakan sebagai pembasmi Kuman, sas pengasam, penghilang bau Dan penghilang Warna Yang baik) (10 tetes pemutih rumah tangga dalam cangkir gigitiruan atau wadah diisi dengan air keran).. Jika basis gigitiruan mengandung logam, pasien harus menghindari menggunakan hipoklorit karena menyebabkan logam untuk menodai. Manfaat lain dari rejimen perendaman gigitiruan semalam adalah bahwa pasien harus menghapus gigi palsu mereka dalam waktu lama. Penghapusan gigi tiruan meminimalkan iritasi tambahan dan merupakan dasar pengobatan.

Memulai terapi antijamur jika organisme jamur diidentifikasi atau jika kondisi gagal untuk menyelesaikan bahkan dengan rejimen dijelaskan di atas. Terapi topikal adalah pengobatan lini pertama. Penggunaan lozenges clotrimazole atau nistatin dan / atau pastilles, dengan gigi tiruan dihapus dari mulut, dianjurkan. Penerapan agen antijamur (misalnya, nistatin bubuk atau krim) pada permukaan jaringan-menghubungi dari gigi tiruan juga dianjurkan.

Menggabungkan pengobatan topikal dengan perawatan yang tepat dari gigi tiruan, seperti dijelaskan di atas. Dalam kasus yang gagal untuk merespon pengobatan yang biasa, mempertimbangkan peran penyakit sistemik dan dampaknya pada fungsi oral dan homeostasis. Kepala di antara kondisi sistemik yang dapat mempengaruhi gigi tiruan stomatitis adalah tipe 2 diabetes mellitus. Pada pasien dengan diabetes mellitus tipe 2, jumlah organisme Candida yang mematuhi sel-sel epitel palatal meningkat secara signifikan, temuan ini mendukung gagasan bahwa bentuk diabetes predisposes pasien untuk Candida terkait stomatitis gigi tiruan. Namun, kelompok studi baru-baru ini menunjukkan bahwa mengurangi resistensi terhadap organisme candida ditetapkan sebelum perkembangan diabetes mellitus tipe 2 berhubungan dengan stomatitis gigi tiruan. Kondisi lain yang mungkin perlu dikecualikan meliputi gangguan imunologi seluler dan humoral kekebalan, infeksi HIV, hipotiroidisme, pola makan yang buruk, dan penggunaan narkoba iatrogenik. Pasien merasa merasa gigi tiruannya menekan gusi dan timbul kemerahan karena adanya eksostosis dan ulcus Gusinya tertekan dan sakit karena adanya eksostosis yang tertekan dari gigi palsunya Ganjalan pada gigi tiruan / mechanical lock mylohioid ridge Dibawah lidah ada mylohioid ridge, torus mandibula bisa terdapat pada area garis tersebut yang berada pada margin alveolarnya

Torus mandibula tidak hanya ditemukan pada permukaan lingual tapi ditemukan juga didalam di area M1 (steven Abraham, artikel dent assoc) Eksostosis menyebabkan gigi tiruan longgar akibat gigi tiruan yang longgar tadi menyebabkan iritasi pada mukosa pasien berupa respon fibro epitel terhadap pemakaian GTL yg longgar tadi dan setelah itu terbentuk ulser pada mukosa dan terjadi hyperplasia, hyperplasia itu dapat terjadi berupa pertumbuhan fibrotic yang disebut epulis fisuratum respon jaringan terhadap GTL

Denture stomatitis : Denture Stomatitis merupakan proses inflamasi dari mukosa rongga mulut, terutama mukosa palatum dan gingiva, terjadi akibat kontak langsung dengan basis gigitiruan lepasan. Hal ini ditandai dengan terjadinya perubahan seperti eritema, dan biasanya ditemukan pada kedua rahang, lebih sedikit pada mandibula. Prevalensi berkisar antara 25-67%, lebih sering pada wanita, dan prevalensinya meningkat sesuai dengan pertambahan umur. Denture stomatitis atau denture sore mouth sering terjadi pada pasien yang menggunakan gigi tiruan dalam waktu lama. Lesi ini biasanya ditemukan pada palatum. Penampakan klinis berupa mukosa yang tertutup plat gigi tiruan edema berwarna merah dengan titik-titik putih yang merupakan akumulasi Candida albicans atau sisa makanan. Beberapa kasus tidak menimbulkan gejala pada pasien, namun ada beberapa yang mengeluhkan sensasi rasa terbakar dan nyeri. Penyebab yang biasa terjadi karena iritasi gigi tiruan, sisa-sisa makanan yang menumpuk di bawah permukaan plat gigi tiruan, dan infeksi C. albicans. Perawatan yang perlu dilakukan adalah memperbaiki gigi tiruan dan menjaga kebersihan mulut dengan baik (Laskaris, 2003). Alveolektomi : adalah suatu tindakan bedah yang radikal untuk mereduksi /mengambil processus alveolaris sehingga bisa dilakukan aposisi mukosa, yaitu suatu prosedur yang dilakukan untuk mempersiapkan lingir sebelum dilakukan terapi radiasi

Alveolplasti : adalah mempertahankan, pembentukan kembali lingir yang tersisa (dengan pembedahan) supaya permukaanya dapat dibebani protesa dengan baik.
. Penyakit kardiovskuler

a.

Endokarditis

Infeksi endokarditis adalah suatu infeksi endokardium yang melibatkan katup jantung, cacat septum atau neural endokardium. Endokarditis akut kebanyakan disebabkan oleh stapilicoccus aureus sedangkan endokarditis subakut karena steptococcus viridians. Kondisi predisposes adalah penyakit jantung kongenital,penyakit rematik katup jantung, katup jantung buatan, dan penyalahahgunaan obat melalui vena. Infeksi mulut dan prosedur bedah mulut yang invasive nampaknya merupakan rute masuknya, khususnya pada endokarditis akibat s.virdans. diperlukan antibiotic propifilaksis sebelum melakukan pembedahan rongga mulut pada pasien dengan kondisi predisposisi terhadap endokarditis. Diamerika serikat obat pilihan pertama adalah penicillin, meskipun terlihat peningkatan resistensi dari s. alfa hemoliticus. Periode bebas penicillin selama 6-8 minggu atau lebih akan meningkatkan efektivitas perlindungan pencegahan dengan penicillin. Di inggris, profilaksis terhadap endokarditis sub akut dilakukan dengan pemberian amoksisilin. 7 b. Penyakit jantung aterosklerosis/angina

Penyakit jantung aterosklerosis termasuk dalam golongan penyakit yang mengakibatkan kematian dan sering ditemukan pada pasien usia lanjut. Manifestasi klinis dari ASHD adalah penyakit jantung iskemik, yang disebabkan oleh karena perfusi yang tidak mencukupi dari sebagian miokardium. Penyakit jantung iskemik akan mengarah ke aritmia, gangguan konduksi, gagal jantung, angina pectoris, dan imfark miokardial. Gejala subjektif yang paling nyata adalah angina pectoris, suatu

paroksimal sakit retrosternum yang melilit, yang sering meyebar kepundak kiri, lengan atau mandibula. Mungkin terjadi peningkatan tekanan darah dan denyut nadi sewaktu serangan. Pencegahan dilakukan dengan jalan mengurangi stress sebelum operasi dengan menggunakan sedative, pengontrol rasa sakit yang memadai dengan menggunakan anastesi local dan kadang-kadang dilakukan pemberian senyawa nitrat propifilaktik ( nitrogliserin, 0.03 mg (1/200 gm) sublingual) 5- 10 menit sebelum memulai tindakan bedah. 7 c. Gagal Gagal jantung kongestif disebabkan oleh proses jantung yang

jantung

menyimpang, dan oleh karena itu dipertimbangkan kemungkinannya pada semua pasien usia lanjut dan pada pasien yang mempunyai riwayat tandatanda kelainan jantung. Keadaan ini ditandai dengan adanya dispnea, nafas pendek, ortopnea, batuk kronis, cyanosis, edema dependent, dan kadangkadang bronkospasme. Pasien ini juga diidentifikasi berdasarkan pengobatan yang dialaminya yang biasanya berupa obat-obatan digitalis, atau diuretic. Demam dan infeksi, stress fisik dan mental akan mengakibatkan kekambuhan pada pasien tertentu, dan mengakibatkan iskemia. Untuk mengurangi aliran balik vena, pasien yang menderita gagal jantung kongestif harus diperlakukan dengan hati-hati yaitu dengan pemilihan sedative yang tepat, (hindari barbiturate atau opium, karena dapat mengakibatkan hipotensi ortostatik yang disebabkan oleh thiazidez dan diuretic yang lain), dan pengaturan posisi yang baik yaitu duduk atau setengah berbaring. 7 d. Hipertensi

Hipertensi sering teridentifikasi dari riwayat kesehatan rutin yang diperiksakan sebelum operasi. Pasien hipertensi yang terkontrol dengan baik tidak banyak menimbulkan masalah. Penatalaksanaan untuk pasien

hipertensi dimodifikasi berdasarkan kebutuhan individual, dengan mempertimbangkan hasil pemeriksaan tekanan darah pra-bedah, usia, riwayat kesehatan riwayat pengobatan dibandingkan dengan urgensi dan sifat pembedahan yang akan dilakukan. Tindakan bedah mulut pada pasien yang mempunyai tekanan darah 185 mmHg (sistolik), dan tekanan diastolic 115 mmHg, umumnya merupakan kontraindikasi. Dalam kasus seperti ini sebaiknya dilakukan penundaan perawatan dan dikonsultasikan terlebih dahulu untuk mendapatkan obat antihipertensi yang efektif. Biasanya anastesi yang efektif untuk bedah dentoalveolar diperoleh dengan pemberian mefivakain 3 % (karbokaine). Jika efinefrin digunakan, dosis totalnya dibatasi hanya sampai 0.2 mg atau setara dengan 10 carpules dari efinefrin 1 : 100000. Prinsip penggunaan larutan anatesi local minimal yang efektif dapat diterapkan pada pasien hipertensi seperti yang biasanya diperlakukan terhadap pasien yang lain. Mungkin diperlukan sedative ringan pra bedah tetapi harus sepengetahuan dokternya. Karena banyak pasien hipertensi menderita hipotensi ortostatik (postural), akibat penggunaan obat-obatan antihiperensi baik diuretic ataupun inhibitor adrenergic, maka menaikkan tinggi kursi unit sebaiknya dilakukan perlahan-lahan dan diperlukan seseorang untuk membantu pada waktu pasien berdiri. 7 Eksostosis pada mandibula disebut torus mandibula. Penyebeb ada 3: 1. Genetic: faktor yg paling yg mungkin terkjadi 2. Respon fungsional terhadap superficial injury, defisiensi vitamin, 3. Penggunaan obat yg menyebabkan peningkatan pada kalsium Eksostosis tumbuhnya sangat lambat dan perkembangannya jinak dan tidak ada gejalanya, eksostosis tertutupi mukosa yang tipis Perkembangan torus mengikuti pertumbuhan tulang Dilakukan alveolektomi karena adanya tonjolan tulang / eksostosis yang dapat menyebabkan mengganggu adaptasi geligi tiruan dengan jaringan pendukungnya.

10

Indikasi dilakukan alveoloktomi adalah: Rahang yang perlu dipreparasi untuk tujuan prostetik yaitu untuk memperkuat stabilitas dan retensi gigi tiruan Alveolaris yang runcing yang dapat menyebabkan protesa tidak stabil dan sakit saat dipakai Pada gigi tiruan yang mengalami stabilitas terganggu akibat penonjolan Resorbsi linger yang berlebihan yang dapat menghalnagi gigi tiruan Kasus proyeksi anterior yang berlebih pada alveolar ridge di maxilla (Wray et al, 2003) atau untuk pengurangan prosesus alveolaris yang mengalami elongasi (Thoma, 1969) Gigi dengan abses yang perlu dihilangkan pus nya. Rahang yang perlu dipreparasi untuk tujuan prostetik yaitu untuk memperkuat stabilitas dan retensi gigi tiruan Alveolar ridge yang runcing yang dapat menyebabkan neuralgia, protesa tidak stabil, protesa sakit pada waktu dipakai. Tuberositas yang perlu dihilangkan untuk mendapatkan protesa yang stabil dan enak dipakai Eksisi eksostosis (Thoma, 1969). Penghilangan interseptal bone disease. Perlunya menghilangkan undercut. Perlunya space intermaksilaris yang diharap. Keperluan perawatan ortodontik, bila pemakaian alat ortho tidak maksimal maka dilakukan alveolektomi Penyakit periodontal yang parah yang mengakibatkan kehilangan sebagian kecil tulang alveolarnya. Ekstraksi gigi yang traumatik maupun karena trauma eksternal. Indikasi untuk prosedur ini sangat jarang dilakukan tetapi mungkin dilakukan saat proyeksi gigi anterior dari ridge pada area premaksilaris akan menjadi masalah untuk estetik dan kestabilan gigi tiruan pada masa yang mendatang. Maloklusi klass II divisi I adalah tipe yang sangat memungkinkan untuk dilakukan prosedur ini (Wray, 2003)

Dan kontraindikasinya adalah: Pasien dengan penyakit sisteim dan periodontitis bentuk prosesus alveolaris tidak rata tapi adaptasi gigi tiruan memenuhi stabilisasi dan retensi

Komplikasi yang dapat terjadi adalah : (Dym,2001; Petterson, 2003) 1. Perdarahan Perdarahan dapat terjadi selama operasi (perdarahan primer) atau beberapa jam sampai beberapa hari setelah pembedahan (perdarahansekunder). Perdarahan tersebut dapat terjadi oleh sebab
11

lokal atau sistemik. Hal ini dapat dihindari dengan pemeriksaan yang teliti sebelum pembedahan dilakukan. Penanggulangan perdarahan setelah pembedahan adalah pertama-tama dengan melakukan pembersihan daerah luka sertapenekanan dengan gaas yang dibasahi vasokonstriktor lokal, kompres dingindan penjahitan luka atau pemberian coagolation promoting agent atau absorble hemostatik agent seperti gelatin sponge, thrombin, oxidized selulosadan lain-lain. Apabila tindakan tersebut tidak dapat mengatasi perdarahansebaiknya konsulkan ke bagian penyakit dalam. 2. PembengkakkanPembengkakkan biasanya terjadi karena trauma yang berlebihan ataukarena infeksi. Pembengkakkan karena trauma dapat dikontrol dengankompres dingin yaitu dengan kantong es atau kain dingin. 3. Rasa sakit yang berlebihanRasa sakit yang berlebihan umumnya jarang terjadi. Untuk hal ini diberikanobat-obat analgesik, obat kumur anti septik yang hangat. 4. InfeksiUntuk mencegah infeksi, penderita dianjurkan untuk memelihara kebersihanmulut dan diberi obat kumur antiseptik atau larutan garam. Apabila infeksitelah terjadi tindakan lokal yang perlu dilakukan adalah mengirigasi lukadengan NaCl fisiologis hangat serta pengulasan antiseptik pada tepi luka.Diberikan pula obat antibiotik. Drainase harus dilakukan apabila terjadi prosessupurasi. ( makalah bedah dento alveolar, drg arwin kasim SpBm, unpad 2007) Setiap tindakan bedah yang dilakukan selalu ada kemungkina untuk terjadi komplikasi, begitu pula pada tindakan alveolektomi. Beberapa komplikasi yang dapat muncul pasca alveolektomi antara lain rasa sakit, timbulnya rasa tidak enak pasca operasi (ketidaknyamanan), hematoma, pembengkakan yang berlebihan, proses penyembuhan yang lambat, resorbsi tulang berlebihan (Starshak, 1971), tulang yang patah atau pengambilan tulang yang terlalu banyak, dan osteomyelitis (Guernsey, 1979). a. Rasa Sakit dan Ketidaknyamanan Rasa sakit dan tidak nyaman muncul pada waktu kembalinya sensasi (saat kerja obat anestesi telah usai). Oleh karena itu, analgesic diperlukan untuk mengontrol rasa sakit dan tidak nyaman setelah operasi dilakukan (Pedersen, 1996). b. Pembengkakan yang berlebihan Pembengkakan mencapai puncaknya kurang lebih 24 jam sesudah pembedahan. Pembengkakan dapat bertahan 1 minggu. Aplikasi dingin dilakukan pada daerah wajah dekat dengan daerah yang dilakukan pembedahan (Pedersen, 1996).

12

c.

Hematoma Hematoma terjadi akibat adanya hemorrhage kapiler yang berkepanjangan. Pada hematoma, darah berakumulasi di dalam jaringan tanpa bisa keluar dari luka yang tertutup maupun flap yang telah dijahit. Hematoma yang terjadi dapat hematoma submukosal, subperiosteal, intramuskular dan fasial. Terapi untuk hematoma adalah dengan aplikasi dingin pada 24 jam pertama, lalu diikuti dengan aplikasi panas. Kadang pemberian antibiotik dianjurkan untuk mencegah supurasi dari hematoma, dan analgesik untuk mengurangi rasa sakitnya (Fragiskos, 2007). Tulang yang patah atau pengambilan tulang yang terlalu banyak Dalam melaksanakan pembedahan, terutama yang dilakukan sebelum pembuatan gigi tiruan immediate, secara tidak sengaja dapat terjadi pengambilan tulang yang terlalu banyak atau tulang tersebut patah. Karena itu perlu dipertimbangkan untuk melakukan reposisi dengan menggunakan free bone graft. Di mana freebone graft ini dapat mempercepat proses pembentukan tulang baru, serta mengurangi resorbsi tulang (Aditya, 1999). Osteomyelitis Komplikasi berupa osteomyelitis jarang terjadi, biasanya terjadi pada pasien yang immunocompromise atau pasien yang telah mendapat radiasi pada rahang yang menyebabkan berkurangnya suplai darah ke tulang rahang. Prinsip penanganan osteomyelitis sama seperti pada kasus-kasus infeksi pyogenik, yaitu insisi dan drainase pus dan terapi antibiotik. Antibiotik yang biasa digunakan antara lain metronidazole dan amoxicillin yang diberikan bersamaan. Clindamycin yang dapat berpenetrasi dengan baik ke tulang juga efektif untuk mengatasi infeksi bakteri anaerob. Jika fase akut sudah terlewati, dilakukan pengambilan jaringan tulang yang nekrosis dan kuretase. Jika tulang telah mengalami banyak pengurangan, dapat dimungkinkan dilakukan bone grafting setelah infeksi benar-benar sudah dapat ditangani (Wray dkk, 2003).

d.

e.

. Penanganan komplikasi pre-prostetik, ortodontik dan konservatif a. Perdarahan Komplikasi ini adalah yang paling sering terjadi dengan insidensi sebesar 1% sampai 2%. Umumnya perdarahan berhenti secara spontan dalam beberapa hari. Dapat pula terjadi perdarahan berat yang membutuhkan transfusi, dengan insidens sebesar kurang dari 1%. Perdarahan ditangani dengan cara yang sama dengan penanganan epistaksis. Bila setelah beberapa lama perdarahan belum berhenti, sumber perdarahan harus dicari. Tampon yang ada harus

13

dikeluarkan dari hidung dan klot darah diisap, lalu diberikan nasal dekongestan topikal dengan menggunakan kapas. b. Nyeri Nyeri pasca bedah bersifat individual, tindakan yang sama pada seorang pasien akan berbeda efeknya pada pasien lain.keluhannyeri akan dirasakan berbeda tergantung beberapa faktor antara lain : 1. tempat pembedahan ( yang ternyeri adalah pembedahan torakotomi ) 2. jenis kelamin 3. umur, ambang rangsang orang tua lebih tinggi 4. kepribadian, pasien neurotik merasa lebih nyeri dari pada pasien normal 5. pengalaman pembedahan sebelumnya 6. suku, ras 7. motivasi pasien Beberapa metode/ cara menanggulangi nyeri pasca pembedahan antara lain :stimulasi ( dilakukan untuk mengalihkan perhatian pada area nyeri ), distraksi (melakukan penekanan syaraf yang menuju ke area nyeri ), obat analgesia. c. Hematoma Penanganan hematoma tergantung pada lokasi dan besar hematoma. Pada hematoma yang kecil, tidak perlu tindakan operatif, cukup dilakukan kompres. Pada hematoma yang besar lebih-lebih disertai dengan anemia dan presyok, perlu segera dilakukan pengosongan hematoma tersebut. Dilakukan sayatan di sepanjang bagian hematoma yang paling terenggang. Seluruh bekuan dikeluarkan sampai kantong hematoma kosong. Dicari sumber perdarahan, perdarahan dihentikan dengan mengikat atau menjahit sumber perdarahan tersebut. Luka sayatan kemudian dijahit. Dalam perdarahan difus dapat dipasang drain atau dimasukkan kasa steril sampai padat dan meninggalkan ujung kasa tersebut diluar. d. Infeksi Menurut Iwan 2008, Pencegahan infeksi pasca bedah pada klien dengan operasi bersih terkontaminasi, terkontaminasi, dan beberapa operasi bersih dengan penggunaan antimikroba profilaksis diakui sebagai prinsip bedah. Pada pasien dengan operasi terkontaminasi dan operasi kotor, profilaksis bukan satu-satunya pertimbangan. Penggunaan antimikroba di kamar operasi, bertujuan mengontrol penyebaran infeksi pada saat pembedahan.Pada pasien

14

dengan operasi bersih terkontaminasi, tujuan profilaksis untuk mengurangi jumlah bakteri yang ada pada jaringan mukosa yang mungkin muncul pada daerah operasi. Tujuan terapi antibiotik profilaksis untuk mencegah perkembangan infeksi dengan menghambat mikroorganisme. CDC merekomendasikan parenteral antibiotik profilaksis seharusnya dimulai dalam 2 jam sebelum operasi untuk menghasilkan efek terapi selama operasi dan tidak diberikan lebih dari 48 jam. Pada luka operasi bersih dan bersih terkontaminasi tidak diberikan dosis tambahan post operasi karena dapat menimbulkan resistensi bakteri terhadap antibiotik .Bernard dan Cole, Polk Lopez-Mayormembuktikan keefektifan antibiotik profilaksis sebelum operasi dalam pencegahan infeksi post operasi elektif bersih terkontaminasi dan antibiotik yang diberikan setelah operasi tidak mempunyai efek profilaksis (Bennet, J.V, Brachman, P, 1992 : 688). Menurut Depkes (1993) dalam Iwan 2008 ,antibiotik profilaksis diberikan secara sistemik harus memenuhi syarat : Tepat dosis Tepat indikasi (hanya untuk operasi bersih terkontaminasi, pemakaian implant dan protesis, atau operasi dengan resiko tinggi seperti bedah vaskuler, atau bedah jantung). Tepat cara pemberian harus diberikan secara I.V. 2 jam sebelum insisi dilakukan . Tepat jenis (sesuai dengan mikroorganisme yang sering menjadi penyebab Infeksi Luka Operasi). Kondisi Luka. Pada pre operasi ikut berperan dalam terjadinya infeksi. Luka terbuka karena adanya kecelakaan maka lebih beresiko terjadinya infeksi luka operasi. e. Fraktur Cara terbaik unuk menghindari fraktur disamping tekanan terkontrol adalah dengan menggunakan gambar sinar-X sebelum melakukan pembedahan. Akar yang mengalami delaserasi atau getas atau yang dirawat endodontic sering mengharuskan dilakukannya perubahan pada rencana pembedahan, biasanya dimulai dari prosedur pencabutan dengan tang (close prosedure) sampai melakukan pembukaan flap. Apabila sesudah dilakukan pencabutan dengan tang menggunakan tekanan terkontrol tidak terjadi luksasi dan dilatasi alveolus, ini menunjukkan perlunya dilakukan pembedahan.

15

Pengenalan adanya fraktur biasanya secara klinik dan mudah terlihat, kecuali untuk fraktur mandibula (Pedersen, 1996) f. Neuralgia, dapat ditangani dengan dilakukan microvascular decompression secara benar, keluhan akan hilang. Pada umumnya kerusakan saraf akan mengalami perbaikan secara spontan terutama saraf alveolaris inferior karena terletak dalam kanalis mandibula sehingga ujung-ujung saraf yang rusak dapat dengan lebih baik mendekat secara spontan (Pogrel, 1990).

Tujuan alveolektomi adalah: Membuang alveolaris yang tajam dan menonjol Membuat kontur tulang yang memudahkan pasien dalam melaksanakan pengendalian plak yang efektif Mempersiapkan alveolar ridge sehinga dapat menerima gigi tiruan Untuk mebentuk kontur tulang dengan jaringan gingival pasca penyembuhan Membuang ridge alveolus yang tajam dan menonjol Membuang gingivektomy Untuk membuat kontur tulang yang memudahkan pasien dalam melaksanakan pengendalian plak yang efektif. Untuk membentuk kontur tulang yang sesuai dengan kontur jaringan gingival setelah penymbuhan. Untuk memudahkan penutupan luka primer. Utuk membuka mahkota klinis tambahan agar dapat dilakukan restorasi yang sesuai. Teknik untuk alveolektomi maksila dan mandibula: 1. Jika kasus salah satu dari gigi yang tersisa baru dicabut, mukoperiosteum harus dicek untuk memastikan bahwa telah terdapat kedalaman minimum sebesar 10mm.Dari semua tepi gingival yang mengelilingi area yang akan dihilangkan tulang interseptal yang sakit sewaktu dilakukan

16

2. Pastikan bahwa insisi telah dibuka mulai dari midpoint dari puncak alveolar pada titik di pertengahan antara permukaan buccal dan lingual dari gigi terakhir pada satu garis, yaitu gigi paling distal yang akan dicabut, menuju ke lipatan mukobukal pada sudut 450 setidaknya 15mm. tarik insisi ke area dimana gigi tersebut sudah dicabut sebelumnya. 3. Angkat flap dengan periosteal elevator dan tahan pada posisi tersebut dengan jari telunjuk tangan kiri atau dengan hemostat yang ditempelkan pada tepi flap atau dengan tissue retactor. 4. Bebaskan tepi flap dari darah menggunakan suction apparatus, dan jaga dari seluruh area operasi. 5. Letakkan bone shear atau single edge bone-cutting rongeur dengan satu blade pada puncak alveolar dan blade lainnya dibawah undercut yang akan dibuang, dimulai pada regio insisivus sentral atas atau bawah dan berlanjut ke bagian paling distal dari alveolar ridge pada sisi yang terbuka. 6. Bebaskan mukoperiosteal membrane dari puncak alveolar dan angkat menuju lingual, sehingga plate bagian lingual dapat terlihat. Prosedur ini akan memperlihatkan banyak tulang interseptal yang tajam. 7. Hilangkan penonjolan tulang interseptal yang tajam tersebut dengan endcutting rongeurs. 8. Haluskan permukaan bukal dan labial dari alveolar ridge dengan bone file. Tahan bone file pada posisi yang sama sebagai straight operative chisel , pada posisi jari yang sama, dan file area tersebut pada dengan gerakan mendorong. 9. Susuri soket dengan small bowl currete dan buang tiap spikula kecil tulang atau struktur gigi atau material tumpatan yang masuk ke dalam soket. Ulangi prosedur ini pada sisi kiri atas dan lanjutkan ke tahap berikutnya. 10. Kembalikan flap pada posisi semula, kurang lebih pada tepi jaringan lunak, dan ratakan pada posisi tersebut dengan jari telunjuk yang lembab. 11. Catat jumlah jaringan yang overlapping, yang notabene bahwa tulang dibawahnya telah dikurangi, yang akhirnya meninggalkan tulang yang lebih sedikit dilapisi oleh jaringan lunak.

17

12. Dengan gunting, hilangkan sejumlah mukoperiosteum yang sebelumnya terlihat overlap. 13. Ratakan jaringan lunak tersebut kembali ketempatnya menggunakan jari telunjuk yang lembab, perkirakan tepi dari mukoperiosteum, lalu catat apakah ada penonjolan tajam yang tersisa pada alveolar ridge. Operator dapat merasakannya dengan jari telunjuk. 14. Jika masih terdapat penonjolan dari tulang yang tersisa, hilangkan dengan bone fie. 15. Jahit mukoperiosteum kembali ketempatnya. Disarankan menggunakan benang jahitan sutra hitam kontinyu nomor 000. Walaupun demikian, jahitan interrupted juga dapat digunakan jika diinginkan a) Simple alvolectomy Setelah dilakukan multiple extractions, lapisan alveolar bukal dan tulang interseptal diperiksa untuk mengetahui adanya protuberansia dan tepi yang tajam. Incisi dibuat melintangi interseptal crests. Mukoperiosteum diangkat dengan hati-hati dari tulang menggunakan Molt curet no.4 atau elevator periosteal. Kesulitan terletak pada permulaan flap pada tepi tulang karena periosteum menempel pada akhiran tulang, tetapi hal ini harus dilatih agar flap tidak lebih tinggi dari dua per tiga soket yang kosong. Jika terlalu tinggi akan dapat melepaskan perlekatan lipatan mukobukal dengan mudah, dengan konsekuensi hilangnya ruang untuk ketinggian denture flange. Flap diekstraksi dengan hati-hati dan tepi dari gauze diletakkan di antara tulang dan flap. Rongeur universal diletakkan pada setengah soket yang kosong, dan lapisan alveolar bukal atau labial direseksi dengan ketinggian yang sama pada semua soket. Rounger diposisikan pada sudut 45 di atas interseptal crest, satu ujung pada masing-masing soket, dan ujung interseptal crest dihilangkan. Prosedur ini dilakukan pada semua interseptal crests. Perdarahan tulang dikontrol dengan merotasi curet kecil pada titik perdarahan. File ditarik secara ringan pada satu arah pemotongan secara menyeluruh sehingga meratakan tulang. Partikelpartikel kecil dihilangkan, gauze juga dilepaskan sehingga awalan flap terletak pada tulang, dan jari digesek-gesekkan (dirabakan) pada permukaan mukosa untuk memeriksa kedataran tulang alveolus. Lapisan bukal harus dibuat kontur kurang lebih setinggi lapisan palatal dan dibuat meluas dan datar. Undercut pada bagian posterior atas dan anterior bawah perlu deperhatikan. Sisa jaringan lunak dan jaringan granulasi kronis juga dihilangkan dari flap bukal dan palatal, kemudian dijahit menutupi area interseptal tetapi tidak menutupi soket yang terbuka. Penjahitan secara terputus atau kontinyu dilakukan tanpa tekanan.
18

b) Radical alveolectomy Pembentukan kontur tulang bagian radiks dari tulang alveolar diindikasikan karena terdapat undercuts yang sangat menonjol, atau dalam beberapa hal, terdapat perbedaan dalam hubungan horizontal berkenaan dgn rahang atas dan rahang bawah yang disebabkan oleh overjet. Beberapa pasien mungkin memerlukan pengurangan tulang labial untuk mendapatkan keberhasilan dalam perawatan prostetik. Dalam beberapa kasus, flap mukoperiosteal menjadi prioritas untuk melakukan ekstraksi. Ekstraksi gigi, pertama dapat difasilitasi dengan menghilangkan tulang labial diatas akar gigi. Penghilangan tulang ini juga akan menjaga tulang intraradikular. Setelah itu sisa-sisa tulang dibentuk dan dihaluskan sesuai dengan tinggi labial dan oklusal menggunakan chisel, rongeur dan file. Sisa jaringan pada bagian flape labial dan palatal dihaluskan, yang diperkirakan akan menganggu atau melanjutkan kelebihan sutura pada septa (continuoussutures over the septa). Dalam penutupan flap, penting untuk menghilangkan jaringan pada area premolar agar terjadi penuruan pengeluaran dari tulang labial. Dalam pembukaan flap yang besar, harus dilakukan pemeliharaan yang tepat untuk memelihara perlekatan dari lipatan mukobukal sebaik mungkin, atau selain itu penghilangan kelebihan flap yang panjang harus dilakukan pada akhirnya. Jika flap tidak didukung dengan gigi tiruan sementara (immediate denture)dan sisa jaringan tidak dihilangkan, tinggi dari lapisan mukobukal akan berkurang secara drastis. (Kruger, 1984) Alveolektomi pada gigi tunggal dimana gigi yang lain sudah tidak ada. Dilakukan karena daerah yang lama tak bergigi sudah mengalami resorbsi, sehingga bila gigi tersebut dicabut tampak proc alveolaris yang lebih menonjol. Alveolektomi pada gigi tunggal dimana yang lain sudah tidak ada. Tahap tahap : Flap bentuk Envelope Gigi dicabut Flap dibuka dengan rasparatorium Processus alveolaris yang menonjol dipotong dengan knabel tang arah pararel hingga rata dengan bagian yang resorbsi Dihaluskan dengan bone file irigasi dengan PZ Flap dikembalikan dan dijahit Alveolektomi setelah pencabutan multiple (alveolektomi Deans) Dilakukan karena tulang antar akar tampak menonjol setelah gigi-gigi dicabut sehingga dapat dilakukan pencetakan dengan baik. Tahap-tahap Alveolektomi Deans: Pencabutan gigi-gigi Insisi membentuk flap tapesium Flap dibuka dengan rasparatorium

19

Septum tulang yang kelihatan dipotong dengan knabel tang Plate labial ditekan dengan ibu jari kea rah palatinal hingga rapat membentuk Vshape ridge Tulang dihaluskan, irigasi dengan larutan PZ Flap dikembalikan dan dijahit Alveolektomi untuk mengurangi protusi maksila Dilakukan pada kasus labial protrusi dari insisive Rahang Atas dan processus alveolaris yang ekstrim digunakan teknik alveolektomi menurut Obwegeser Tahap-tahap: Pencabutan gigi-gigi anterior Semua soket dari C kanan ke C kiri dihubungkan satu sama lain dengan bone bur Small cutting disk dimasukkan ke tulang melalui soket dan palatal cortex dipotong dan dipatahkan Labial kortek tidak dipotong Kedua bagian palatinal dan labial plate ditekan Gingiva dijahit untuk mempertahankan stabilitas kedua fragmen Alveolektomi pada kortikal atau labial/bukal Dilakukan bila ada eksostosis pada tulang yang dapat mengganggu stabilitas protesa dan memudahkan pencetakan Tahap-tahap: Insisi membentuk flap trapezium Flap dibuka dengan rasparatorium Processus alveolaris yang menonjol dipotong dengan knabel tang arah pararel hingga rata dengan bagian yang normal Dihaluskan dengan bone file Irigasi dengan PZ Flap dikembalikan dan dijahit Kruger, 1984 Medikasi pasca bedah: 1. Analgesic

Perawatan Pasca Operasi

Rasa sakit dan tidak nyaman muncul pada waktu kembalinya sensasi (saat kerja obat anestesi telah usai ). Oleh karena itu, analgesic diperlukan untuk mengontrol rasa sakit dan tidak nyaman setelah operasi dilakukan. (Pedersen,1996). 2. Antibiotik

20

Antibiotik dapat bekerja secara primer dengan menghentikan pembelahan sel (bakteriostat), atau dengan membunuh mikroorganisme secara langsung (bakterisida) (Brooker, 2005). Obat antibiotik digunakan untuk menghilangkan dan mencegah infeksi pasca bedah. 3. Gargarisma Penggunaan Gargarisma secara efektif dianjurkan karena hampir selalu terjadi kondisi di mana kebersihan mulut jelek karena penyikatan gigi masih sakit. 4. Aplikasi dingin untuk mengontrol pembengkakan Pembengkakan mencapai puncaknya kurang lebih 24 jam sesudah pembedahan. Pembengkakan dapat bertahan 1 minggu. Aplikasi dingin dilakukan pada daerah wajah dekat dengan daerah yang dilakukan pembedahan (Pedersen, 1996). Kelainan pada jaringan keras: Torus mandibula akan menyulitkan GTL, karemna mukosa akan jadi tipis dan tidak akan menukung oklusal pada GTL,torus mandibula yang luas pd saat mmbuat cetakan individual akan menyebabkan kesulitan dan akan menyebabkan undercut, alginate yg dipakai menggunakan border molded acrylic, jika menggunakan alginate ini akan lebih bagus Fibrous hyperplasia of the mucosa (formerly known as Epulis fissuratum or inflammatory hyperplasia) is usually due to chronic trauma of the mucosa of the muccobucal fold or muccolabial, due to ill-fitting complete or partial dentures. The lesion may present during initial placement of the dentures, or after a period of time. Treatment is surgical and consists of excision of the hyperplasia Papillary hyperplasia of the palate : papillary hyperplasia is a rare pathologic condition localized most often in the palate. It usually occurs in edentulous patients who have been wearing dentures for a long time and is possibly due to inflammatory hyperplasia of the

21

mucosa because of chronic local irritation. In such a case, etiological factors include mechanical and thermal irritation from foods, smoking,etc. treatment is surgical and consists of removal of the lesion with a scalpel or electrosurgical loop. Gingival fibromatosis : this is a benign condition, which is characterized by slow progressive swelling of the gingivae proper (attached gingivae) and alveolar mucosa (loose gingivae). The lesion may be generalized or localized and is due to hereditary or acquired causes. Treatment is surgical and consists of segmental incision of the gingivae. (oral surgery , fragiskos) Bedah Jaringan lunak : Papillary hyperplasia : merupakan suatu kondisi yang terjadi pada daerah palatal yang tertutup oleh protesa, dimana kelihatan adanya papilla yang multipel dan mengalami peradangan. Fibrous hyperplasia dapat terjadi karena adanya trauma dari gigi tiruan dan adanya resorpsi tulang secara patologis atau fisiologis sehingga menyebabkan peradangan dan adanya jaringan fibrous diatas linggir tulang alveolar. Flabby ridge yaitu adanya jaringan lunak yang berlebih dimana terlihat jaringan lunak yang bergerak tanpa dukungan tulang Vestibuloplasty Vestibuloplasty, suatu tindakan bedah yang bertujuan untuk meninggikan sulkus vestibular dengan cara melakukan reposisi mukosa , ikatan otot dan otot yang melekat pada tulang yang dapat dilakukan baik pada maksila maupun pada mandibula dan akan menghasilkan sulkus vestibular yang dalam untuk menambah stabilisasi dan retensi protesa. Vestibulum dangkal dapat disebabkan resorbsi tulang alveolar, perlekatan otot terlalu tinggi,adanya infeksi atau trauma. Tidak semua keadaan sulkus vestibular dangkal dapat dilakukan vestibuloplasty tetapi harus ada dukungan tulang alveolar yang cukup untuk mereposisi N. Mentalis, M. Buccinatorius dan M. Mylohyiodeus. Banyak factor yang harus diperhatikan pada tindakan ini antara lain : Letak foramen mentalis, Spina nasalis dan tulang malar pada maksila. Macam-macam tehnik vestibuloplasty : Vestibuloplaty submukosa

22

Vestibuloplasty dengan cangkok kulit pada bagian bukal Vestibuloplasty dengan cangkok mukosa yang dapat diperoleh dari mukusa bukal atau palatal

Frenektomi. Frenektomi, suatu tindakan bedah untuk merubah ikatan frenulum baik frenulum labialis atau frenulum lingualis. Frenulum merupakan lipatan mukosa yang terletak pada vestibulum mukosa bibir, pipi dan lidah. a. Frenulum labialis Pada frenulum labialis yang terlalu tinggi akan terlihat daerah yang pucat pada saat bibir diangkat ke atas. Frenektomi pada frenulum labialis bertujuan untuk merubah posisi frenulum kalau diperlukan maka jaringan interdental dibuang. Pada frenulum yang menyebabkan diastema sebaiknya frenektomi dilakukan sebelum perawatan ortodonti . Macam-macam frenektomi : - Vertical incision - Cross diamond incision - Tehnik Z Plasty b. Frenulum lingualis yang terlalu pendek. Pada pemeriksaan klinis akan terlihat : Gerakan lidah terbatas, Gangguan bicara , gangguan penelanan dan pengunyahan. Frenektomi frenulum lingualis pada anak-anak dianjurkan sedini mungkin karena akan membantu proses bicara, perkembangan rahang dan menghilangkan gangguan fungsi yang mungkin terjadi. Sedangkan pada orang dewasa dilakukan karena adanya oral hygiene yang buruk. Cara pembedahan dilakukan dengan insisi vertikal dan tindakannya lebih dikenal sebagai ankilotomi

23

BAB III PENUTUP


A. Peta konsep pasien lansia Penyakit kardiovaskular

indikasi

eksostosis

konsul ke internis

kontraindikasi

alveolektomi

klasifikasi

prosedur

komplikasi

medikasi pasca bedah

24

B. Kesimpulan

Alveolectomy adalah pengurangan tulang soket dengan cara mengurangi plate labial/bukal dari prosessus alveolar dengan pengambilan septum interdental dan interadikuler. Atau Tindakan bedah radikal untuk mereduksi atau mengambil procesus alveolus disertai dengan pengambilan septum interdental dan inter radikuler sehingga bisa di laksanakan aposisi mukosa

Alveolektomi termasuk bagian dari bedah preprostetik, yaitu tindakan bedah yang dilakukan untuk persiapan pemasangan protesa. Tujuan dari bedah preprostetik ini adalah untuk mendapatkan protesa dengan retensi, stabilitas, estetik, dan fungsi yang lebih baik. Tindakan pengurangan dan perbaikan tulang alveolar yang menonjol atau tidak teratur untuk menghilangkan undercut yang dapat mengganggu pemasangan protesa dilakukan dengan prinsip mempertahankan tulang yang tersisa semaksimal mungkin. Seringkali seorang dokter gigi menemukan sejumlah masalah dalam pembuatan protesa yang nyaman walaupun kondisi tersebut dapat diperbaiki dengan prosedur bedah minor. Penonjolan tulang atau tidak teratur dapat menyebabkan protesa tidak stabil yang dapat mempengaruhi kondisi tulang dan jaringan lunak dibawahnya. (Ghosh, 2006).

25

DAFTAR PUSTAKA
1. Zarb George A, Bolender Charles L, Hickey Judson C, dan Carlsson Gunnar E. Buku Ajar Prostodonti untuk Pasien Tak Bergigi menurut Boucher. Jakarta : EGC; 2002; p. 2-56. 2. Crispian Scully. Handbook of oral disease, Diagnosis and management. United Kingdom : Martin Dunitz; 1999 3. Ian E Barnes, Angus Walls. Perawatan Gigi Terpadu untuk Lansia. Alih Bahasa : Cornella Hutauruk. Jakarta : EGC; 2006 4. Fragiskos FD. Oral surgery. Springer. Verlag Berlin Heidenberg. 2004 5. Anonim. Kelainan Pada Bibir, Mulut & Lidah. Available from : URL : http://community.um.ac.id/archive/index.php/t-58493.html. Accessed 31 March 2010 6. Anonim. Kesehatan Jiwa pada lanjut usia. Available from : URL : : http://74.125.153.132/search?q=cache:Gw2MIDxLTwgJ:www.lenterabiru.com/2 010/01/masalah-kesehatan-jiwa-pada-lanjutusia.htm+kondisi+psikologis+lansia&cd=10&hl=id&ct=clnk&gl=id. 30 March 2010 7. Pedersen GW. 1996. Buku ajar praktis bedah mulut. EGC: Jakarta 8. Ship AJ. Diabetes and Oral Health. J Am Dent J Assoc, Vol.134 ,2003. Available from : URL : http//www. Jada.ada.org. Accessed on 2 april 2010 9. Raharjo, K., 2006, Pertimbangan Anastasia untuk Usia Lanjut. Available from : URL : http:// 06_PertimbanganAnastasiaUntukUsiaLanjut.html., Accessed 3 April 2010 Accessed

26