Anda di halaman 1dari 20

MAKALAH

FARMAKOLOGI II OBAT-OBAT YANG BERHUBUNGAN DENGAN GLUKOKORTIKOID

Oleh :

Kelompok : 3/kelas B
Novtafia Endri (1001065) Nur Azura (1001066) Nur Azizah (1001067) Nurfeeftein (1001068) Nurmala Sari (1001069) Nurmawita (1001071) Nurul Elisa (1001072) Putri Andini (1001073)
Dosen Pembimbing :
Dra. Syilfia Hasti, M.Farm., Apt

Program Studi S1 Farmasi Sekolah Tinggi Farmasi (STIFAR) Riau Pekanbaru 2012

BAB I PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Glukokortikoid bahasa Inggris Glucocorticoids, glukokortikoid adalah golongan

hormon steroid yang memberikan pengaruh terhadap metabolisme nutrisi. Penamaan glukokortikoid glukosa + korteks + steroid menunjukkan keberadaan golongan ini sebagai regulator glukosa yang disintensis pada korteks adrenal dan mempunyai struktur steroid. Hormon golongan glukokortikoid mengaktivasi konversi protein menjadi glukosa melalui lintasan glukoneogenesis di dalam hati dan menstimulasi konversi lebih lanjut menjadi glikogen. Peningkatan senyawa nitrogen pada urin yang terjadi setelah peningkatan glukokortikoid merupakan akibat dari mobilisasi asam amino dari protein yang mengalami reaksi proteolitik dan adanya senyawa karbon yang terjadi sepanjang lintasan glukoneogenesis. Glukokortikoid juga merupakan hormon steroid dari kelas kortikosteroid, yang memiliki kapasitas untuk membinasakan limfosit, mengembangkan timosit dan menginduksi apoptosis, sehingga sering digunakan untuk penanganan peradangan seperti artritis, collagen vascular diseases, radang paru dan asma, beberapa jenis radang hati, beberapa penyakit kulit dan granulomatous diseases, sub-akut tiroiditis dan amiodarone-associated thyroiditis. Seperti halnya hormon lain dalam golongan kortikosteroid, glukokortikoid juga mempengaruhi fungsi kelenjar tiroid. Pada dosis tinggi, glukokortikoid menurunkan laju konversi hormon T4 ke T3, menurunkan sekresi hormon TSH dari kelenjar hipofisis, menginduksi hiperkatabolisme dan malnutrisi. Kortikosteroid adalah suatu kelompok hormon steroid yang dihasilkan di bagian korteks kelenjar adrenal sebagai tanggapan atas hormon adrenokortikotropik (ACTH) yang dilepaskan oleh kelenjar hipofisis, atau atas angiotensin II. Hormon ini berperan pada banyak sistem fisiologis pada tubuh, misalnya tanggapan terhadap stres, tanggapan sistem kekebalan tubuh, dan pengaturan inflamasi, metabolisme karbohidrat, pemecahan protein, kadar elektrolit darah, serta tingkah laku.
2

Kortikosteroid dibagi menjadi 2 kelompok berdasarkan atas aktivitas biologis yang menonjol darinya, yakni glukokortikoid (contohnya kortisol) yang berperan mengendalikan metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein, juga bersifat anti inflamasi dengan cara menghambat pelepasan fosfolipid, serta dapat pula menurunkan kinerja eosinofil. Kelompok lain dari kortikosteroid adalah mineralokortikoid (contohnya aldosteron), yang berfungsi mengatur kadar elektrolit dan air, dengan cara penahanan garam di ginjal. Beberapa kortikosteroid menunjukkan kedua jenis aktivitas tersebut dalam beberapa derajat, dan lainnya hanya mengeluarkan satu jenis efek. Hormon kortikosteroid dihasilkan dari kolesterol di korteks kelenjar adrenal yang terletak di atas ginjal. Hormon korteks adrenal semuanya tidak menyebabkan efek yang tepat sama dalam tubuh. Dua jenis hormon utama, mineralkortikoid dan glukokrtikoid yang disekresikan oleh korteks adrenal.

Glukokrtikoid, mendapat nama tersebut karena mereka menunjukkan efek penting yang meningkatkan konsentraasi glukosa darah. Akan tetapi, glukokortikoid mempunyai efek tambahan pada metabolisme protein dan lemak yang mungkin sama pentingnya dalam fungsi tubuh seperti efeknya pada metabolisme karbohidrat. Pengaruh Sekresi Kortisol Hormon Adrenokortikotropin (ACTH) Tidak seperti sekresi aldosteron oleh korteks adrenal, yang terutama diatur oleh kalium dan angiotensin yang bekerja langsung pada sel korteks adrenal sendiri, hampir tidak ada rangsangan yang berefek langsung pada sel adrenal untuk mengatur sekresi kortisol. Sebagai gantinya, sekresi kortisol hampir seluruhnya diatur oleh hormon adrenokortikotropin (ACTH) yang disekresi oleh kelrnjar hipofisis anterior.

Hormon ini juga dinamakan kortikotropin atau adrenikortikotropin, yang juga meningkatkan pembentukan adrogen adrenal oleh korteks adrenal. ACTH dalam jumlah sedikit dibutuhkan untuk sekresi aldosteron, memberikan peranan primisif yang memungkinkan faktor lain yang lebih penting untuk menimbulkan pengaturannya yang lebih kuat. Dengan cara yang sama seperti hormon-hormon hipofisis anterior diatur oleh releasing factor dari hipotalamus. Releasing factor juga penting dalam pengaturan sekresi ACTH. Corticotropin releasing hormon (CRH) disekresi terutama dalam pleksus kapiler primer sistem portal hipofisis kedalam emenensia mediana hipotalamus yang kemudian diangkut kekelenjar hipofisis asnterior, tempat ia merangsang sekresi ACTH. Kelenjar hipofisis anterior dapat mensekresi ACTH dalam jumlah sedikt tanpa adanya CRH, tetapi sebagian besar keadaan yang menyebabkan timbulnya sekresi ACTH yang tinggi memulai sekresi ini dengan isyarat yang mulai pada hipotalamus yang kemudian dihantarkan oleh CRH ke kelenjat hipofisis anterior. Hampir setiap jenis stres fisik atau mental dapat mengakibatkan peningkatan sekresi ACTH dan akibatnya kortisol dalam jumlah besar dalam beberapa menit. Sering meningkatnya kortisol sebanyak 20 kali. Misalnya, diakui bahwa rangsang nyeri atau isyarat saraf jenis lain yang disebabkan oleh stres mula-mula dihantarkan keberbagai area di hipotalamus dan selanjutnya isyarat in dipancarkan kembali keemenensia mediana, tempat CRH disekresi kedalam sistem porta hipofisis. Dalam beberapa menit seluruh rangkaian pengaturan mengakibatkan kortisol dalam darah meningkat dalam jumlah besar. Kortisol mempunyai efek umpan balik negatif langsung pada hipotalamus untuk menurunkan pembentukan CRH dan kelenjar hipofisis anterior yang menngurangi pembentukan ACTH. Umpan balik ini membantu mengatur konsentrasi kortisol plasma. Yaitu bila konsentrasi terlalu besar, umpan balik ini sevara otomatis mengurangi konsdentrasi ini kembali ketingkat pengaturan normal. Kunci penting pengaturan ini adalah eksitasi hipotalamus oleh berbagai jenis stres. Hal ini mengaktifkan seluruh sistem untuk menyebabkan pengeluaran kortisol dengan cepat, dan kortisol selanjutnya menimbulkan serangkaian efek metabolisme yang diatahkan untuk menghilangkan sifat merusak pada keadaan stres.

Selain itu juga terdapat umpan langsung kortisol terhadap hipotalamus dan kelenjar hipofisis anterior untuk menstabilkan konsentrasi kortisol dalam plasma pada saat tubuh tidak berada dalam kedaan stres. Akan tetapi rangsangan stres merupakan rangsang prepoten mereka selalu dapat merusak pengaturan umpan ballik penghambat langsung kortisol.

1.2 1.

Efek glukokortikoid antara lain : Meningkatkan glukoneogenesis, yaitu pembentukan glukosa dari protein, sehingga beresiko meningkatkan kadar gula darah. Karena itu, orang dengan resiko diabetes dapat mengalami kenaikan kadar gula darah yang nyata.

2.

Efek katabolik, yaitu mengurai protein sehingga mengurangi pembentukan protein, termasuk protein yang diperlukan untuk pembentukan tulang. Akibatnya terjadi osteoporosis atau keropos tulang, karena matriks protein tulang menyusut. Efek ini juga menyebabkan gangguan pertumbuhan jika digunakan pada anakanak dalam jangka waktu lama.

3.

Mempengaruhi

metabolisme

lemak

tubuh

dan

distribusinya,

sehingga

menyebabkan pertambahan lemak di bagian-bagian tertentu tubuh, yaitu di wajah (jadi membulat), bahu, dan perut. 4. Mengurangi menghambat proses radang, sehingga merupakan obat pilihan berbagai penyakit peradangan, 5. Menurunkan fungsi jaringan limfa sehingga menyebabkan berkurangnya dan mengecilnya sel limfosit. Efek ini menyebabkan menurunnya kekebalan tubuh atau imunosupresan.sedangkan efek mineralokortikoid utamanya mengatur keseimbangan garam mineral dan air dalam tubuh 6. Meningkatkan resistensi terhadap stress. Dengan meningkatkan kadar glukosa plasma, glukokortikoid memberikan energi yang diperlukan tubuh untuk melawan stress yang disebabkan, misalnya oleh trauma, ketakutan, infeksi, perdarahan atau infeksi yang melemahkan. Glukokortikoid dapat menyebabkan peningkatan tekanan darah dengan jalan meningkatkan efek vasokontriktor rangsangan adrenergik pada pembuluh darah. adalah

7.

Merubah kadar sel darah dalam plasma. Glukokortikoid menyebabkan menurunnya komponen sel-sel darah putih / leukosit (eosinofil, basofil, monosit dan limfosit). Sebaliknya glukokortikoid meningkatkan kadar hemoglobin, trombosit dan eritrosit.

8.

Efek anti inflamasi.

Glukokortikoid dapat mengurangi respons peradangan

secara drastis dan dapat menekan sistem imunitas (kekebalan). 9. Mempengaruhi komponen lain sistem endokrin. Penghambatan umpan balik produksi kortikotropin oleh peningkatan glukokortikoid menyebabkan

penghambatan sintesis glukokortikoid lebih lanjut. 10. Efek anti alergi. Glukokortikoid dapat mencegah pelepasan histamin. 11. Efek pada pertumbuhan. Glukokortikoid yang diberikan jangka lama dapat menghambat proses pertumbuhan karena menghambat sintesis protein, meningkatkan pertumbuhan. 12. Efek pada sistem lain. Hal ini sangat berkaitan dengan efek samping hormon. Dosis tinggi glukokortikoid merangsang asam lambung dan produksi pepsin dan dapat menyebabkan kambuh berulangnya (eksaserbasi) borok lambung (ulkus). Juga telah ditemui efek pada SSP yang mempengaruhi status mental. Terapi glukokortikoid kronik dapat menyebabkan kehilangan massa tulang yang berat (osteoporosis). Juga menimbulkan gangguan pada otot (miopati) dengan gejala keluhan lemah otot. katabolisme protein dan menghambat sekresi hormon

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Glukokortikoid secara umum Kortikosteroid adalah hormon yang dihasilkan oleh korteks adrenal. Hormon ini

dapat mempengaruhi volume dan tekanan darah, kadar gula darah, otot dan resistensitubuh. Berbagai jenis kortikosteroid sintetis telah dibuat dengan tujuan utama untuk mengurangi aktivitas mineralokortikoidnya dan meningkatkan aktivitas antiinflamasinya, misalnya deksametason yang mempunyai efek antiinflamasi 30 kali lebih kuat dan efek retensi natrium lebih kecil dibandingkan dengan kortisol. Glukokortikoid (bahasa Inggris: Glucocorticoids, GC) adalah golongan hormon steroid yang memberikan pengaruh terhadap metabolisme nutrisi. Penamaan glukokortikoid (glukosa + korteks + steroid) menunjukkan keberadaan golongan ini sebagai regulator glukosa yang disintensis pada korteks adrenal dan mempunyai struktur steroid. Hormon golongan GC mengaktivasi konversi protein menjadi glukosa melalui lintasan glukoneogenesis di dalam hati dan menstimulasi konversi lebih lanjut menjadi glikogen. Peningkatan senyawa nitrogen pada urin yang terjadi setelah peningkatan glukokortikoid merupakan akibat dari mobilisasi asam amino dari protein yang mengalami reaksi proteolitik dan adanya senyawa karbon yang terjadi sepanjang lintasan glukoneogenesis. Sedangkan pada metabolisme lipid, glukokortikoid memberikan 2 efek regulasi. Efek yang pertama adalah redistribusi senyawa lipid dan yang kedua adalah aktivasi senyawa lipolitik. Dosis tinggi GC seperti yang terjadi pada hiperkortisisme akan menyebabkan senyawa lipid bergerak menuju upper trunk dan wajah. Hal ini diperkirakan berkaitan dengan jumlah pencerap glukosa yang terdapat pada adiposit. Sel lemak yang memiliki jumlah pencerap GLUT lebih banyak, akan merespon kadar GC yang tinggi dengan menurunkan absorpsi glukosa sehingga tidak terjadi penimbunan trigliserida. Sedang sel dengan pencerap lebih sedikit lebih tidak terpengaruh oleh kadar GC sehingga lebih responsif terhadap insulin dan menyebabkan penumpukan glukosa dan trigliserida. Mobilisasi lipid dari tumpukan glukosa/trigliserida distimulasi oleh hormon adrenalin dengan aktivasi GC.
8

Mekanisme yang terjadi pada jaringan akibat pengaruh GC masih belum jelas benar, namun dosis kronis dapat mengakibatkan atrofi pada jaringan limfatik, jaringan otot, osteoporosis dan penipisan kulit. Hormon Adrenal (Kelenjar Anak Ginjal) Korteks adrenal dibagi dalam tiga zona yang mensintesis berbagai steroid dari kolesterol dan mensekresinya. Bagian paling luar disebut Zona glomerulosa dan bagian ini mensintesa hormone jenis mineralokortikoid (misalnya hormon aldosteron) yang Berperan dalam keseimbangan air dan elektrolit, produksi aldosteron dipengaruhi oleh sistem Renin-Angiotensin. Zona ini tidak begitu dipengaruhi oleh ACTH (kortikotropin) dari kelenjar hipofisis, peningkatan kadar aldosteron tidak

menyebabkan penghambatan ACTH (kebalikan dari hormon kortisol). Bagian tengah disebut Zona fasciculate, mensintesa Glukokortikoid (misalnya hormon kortikol atau hidrokortison), Berperan terutama dalam metabolisme normal dan resistensi terhadap stres. Hormon glukokortikoid ini bertindak sebagai penghambat umpan balik sekresi ACTH (kortikotropin) dan CRH. Sehingga sekresinya sangat dipengaruhi oleh ACTH, peningkatan kortisol menyebabkan penghambatan ACTH. Bagian dalam adalah Zona retikularis, zona ini mengeluarkan androgen adrenal. Androgen (termasuk hormon steroid) dalam jumlah sedikit disintesa di zona faciculata anak ginjal (dan paling banyak disintesa di sel leydig testis). Selain korteks terdapat juga bagian medula adrenal yang mensintesa neurotansmiter adrenalin.

Khasiat glukokortikoid adalah sebagai anti radang setempat, anti- proliferatif, dan imunosupresif. Melalui proses penetrasi, glukokortikoid masuk ke dalaminti selsel lesi, berikatan dengan kromatin gen tertentu, sehingga aktivitas sel-sel tersebutmengalami perubahan. Sel-sel ini dapat menghasilkan protein baru yang dapatmembentuk atau menggantikan sel-sel yang tidak berfungsi, menghambat mitosis (anti- proliferatif), bergantung pada jenis dan stadium proses radang. Glukokotikoid juga dapatmengadakan stabilisasi membran lisosom, sehingga enzim-enzim yang dapat merusak jaringan tidak dikeluarkan. Glukokortikoid topikal adalah obat yang paling banyak dan tersering dipakai. Glukokortikoid dapat menekan limfosit-limfosit tertentu yang merangsang proses radang. Ada beberapa faktor yang menguntungkan pemakaiannya yaitu : 1. Dalam konsentrasi relatif rendah dapat tercapai efek anti radang yang cukup memadai. 2. 3. 4. Bila pilihan glukokortikoid tepat, pemakaiannya dapat dikatakan aman. Jarang terjadi dermatitis kontak alergik maupun toksik. Banyak kemasan yang dapat dipilih : krem, salep, semprot (spray), gel, losion,salep berlemak (fatty ointment).

10

Sekresi Glukokortikoid secara umum

2.2

Jenis obat-obatan yang beredar golongan Glukokortikoid

KORTIKOSTEROID ORAL 1. BENOSONBernofarm

Komposisi Indikasi

: :

Betametason RA, poliarthritis nodosa, lupus eritematosus, dermatomikosis, keadaan-keadaan alergi.

Dosis

0,5-9 mg/hari

11

Kontra Indikasi

Tukak peptik, osteoporosis, psikosis, psikoneurosis berat, tbc aktif/tenang, infeksi akut, vaksin hidup.

Perhatian

Hipertensi, payah jantung kongestif, DM, penyakit infeksi, gagal ginjal kronik, uremia, lansia, kehamilan.

Efek Samping

Retensi cairan dan garam, edema, hipertensi, amenorea, hiperhidrosis, gangguan mental,

pankreatitis akut, osteonekrosis aseptik, kelemahan otot, keadaan intraokular, gangguan penglihatan, atrofi lokal, nafsu makan bertambah, retardasi pertumbuhan. Mekanisme Kerja : Obat dapat mengurangi aktivitas dan volume limfatik, menghasilkan limpositopenia,

menurunkan konsentrasi imunologi reaktivitas jaringan interaksi antigen-antibodi sehingga

menekan respon imun. Betametason juga menstimulasi sel-sel eritroid dari sumsum tulang; memperpanjang masa hidup eritrosit neutrofilia katabolisme dan dan platelet darah; menghasilkan meningkatkan dan

eosinopenia;

protein,

glukoneogenesis

penyebaran kembali lemak dari perifer ke daerah pusat tubuh. Juga mengurangi absorbsi intestinal dan menambah ekskresi kalsium melalui ginjal. Kemasan : Tablet 500 mcg (0,5 mg) 100 tablet

12

2. CETADEXONSoho

Komposisi Indikasi

: :

Dexametason Insufiensi adrenal, termasuk sekunder terhadap hipopituitarisme. Kelainan darah, radang, alergi.

Dosis Kontra Indikasi

: :

1-3 tablet/hari Tukak peptik, osteoporosis, psikosis atau

psikoneurosis berat, tbc aktif/tenang, infeksi akut, vaksin hidup. Perhatian : Hipertensi, payah jantung kongestif, DM, penyakit infeksi, gagal ginjal kronik, uremia, lansia, kehamilan. Efek Samping : Retensi garam dan cairan, edema, hipertensi, amenorea, hiperhidrosis, gangguan mental,

pankreatitis akut, osteonekrosis aseptik, kelemahan otot, keadaan Cushiongoid, peninggian tekanan intraokular, gangguan penglihatan, atrofi lokal, nafsu makan bertambah, kelambatan pertumbuhan. Mekanisme Kerja : Deksametason adalah glukokortikoid sintetik

dengan aktivitas imunosupresan dan anti-inflamasi. Sebagai imunosupresan Deksametason bekerja dengan menurunkan respon imun tubuh terhadap stimulasi rangsang. dengan Aktivitas jalan anti-inflamasi menekan terhadap atau proses

Deksametason mencegah

respon

jaringan

inflamasi dan menghambat akumulasi sel yang mengalami inflamasi, termasuk makrofag dan leukosit.

13

Kemasan

Tablet 0,5 mg 100tab 1.000tab

0,75 mg 100tab 1.000tab

3. KENACORTBristol-Myesrs-Squibb

Komposisi Indikasi

: :

Triamnicolon RA dan demam reumatoid, asma bronkiale, rhinitis vasomotor, leukemia, limfosarcoma, penyakit

Hodgin, fibrosis paru, bursitis akut. Dosis Kontra Indikasi Perhatian : : : Dewasa : 4-48mg/hari Tbc aktif, laten atau sembuh; psikosis akut. Hipertensi, DM, penyakit ginjal. Konsumsi protein harus cukup selama pengobatan. Divertikulitis, anastomosis intestinal baru,

trombophlebitis, miastenia gravis, penyakit infeksi, kecendrungan psikotik, nefritis kronik, karsinoma metastatik, osteoporosis, infeksi bakteri tidak terkontrol, herpes simpleks okular, gromerulo nefritis akut. Efek Samping : Faktor spontan, tukak peptik, perubahan-perubahan cushingoid, purpura, kemerahan, berkeringat,

jerawat, striae, hirsutisme, vertigo, sakit kepala, tromboembolisme, nekrosis aseptik, angiitis

nekrotik, pankreatitis akut, esophagitis ulseratif,

14

kelemahan otot, peninggian tekanan intrakranial, papiledema, kemungkinan katarak subkapsular. Mekanisme Kerja : Kenacort mengandung yang triamcinolone, Berbeda suatu dengan

kortikosteroid beberapa

poten.

kortikosteroid

alami,

triamcinolone

mempunyai efek antiinflamasi dan pembentukan glikogen yang lebih besar, dan berkurangnya efek samping retensi garam dalam cairan tubuh. Kemasan : Tablet 4 mg 100tablet

4. PEHACORTPhapros

Komposisi Indikasi

: :

Prednisone (mirconized) AR, demam reumatik akut, asma bronkial, alergi dan inflamasi pada kulit.

Dosis

Dosis supresif 4-6tab/hari. Dosis pemeliharaan -4 tab/hari.

Kontra Indikasi

TB aktif, ulkus peptikum, herpes simplex mata, infeksi akut, osteoporosis, infeksi jamur sistemik, psikosis atau psikoneurosis berat, vaksin hidup.

Perhatian

Hipertensi, gagal jantung, DM, penyakit infeksi, gagal ginjal kronik, uremia, usia lanjut, hamil.

Efek Samping

Edema, retensi natrium dan cairan, hipertensi, amenore, hiperhidrosis, gangguan mental,

pankreatitis akut, osteonekrosis aseptik, lemah otot, sindroma Cushing, peningkatan TIO, gangguan
15

penglihatan, atrofi lokal, peningkatan nafsu makan, pertumbuhan terhambat. Mekanisme Kerja : Prednisone merupakan kortikosteroid sistemik dengan efek glukokortikoid dan antiinflamasi. Mekanisme kerja dengan mempengaruhi sintesa protein, kortikosteroid bereaksi dengan reseptor protein yang spesifik dalam sitoplasma sel jaringan dan membentuk kompleks reseptor steroid. Kemasan : Tab 5 mg

5. AMTOCORTPharos

Komposisi Indikasi

: :

Triamcinolone Asma bronkial, rintis alergi, AR, urtikaria,

dermatitis atopik & dermatitis kontak. Kontra indikasi : Infeksi jamur sistemik, TBC, hipersensitif terhadap Kortikosteroid. Efek samping : Gangguan keseimbang cairan tubuh & elektrolit, miopati steroid, kelemahan otot,tukak peptik, osteoporosis, purpura, striae, hiperpigmentasi. Mekanisme Kerja : Triamcinolone mempunyai efek antiinflamasi dan pembentukan glikogen yang lebih besar, dan berkurangnya efek samping retensi garam dalam cairan tubuh.

16

6. BETASONKimia Farma

Komposisi Indikasi Kontra indikasi

: : :

Bethametasone. AR, poliartritis nodosa, alergi, dermatomikosis Tukak peptic, osteoporosis, infeksi akut, TBC aktif atau laten

Efek samping

Hipertensi, edema, amenorea, gangguan mental, lemah otot, pankreatitis akut, gangguan

pertumbuhan. Mekanisme Kerja : Obat dapat mengurangi aktivitas dan volume limfatik, menghasilkan limpositopenia,

menurunkan konsentrasi imunologi reaktivitas jaringan interaksi antigen-antibodi sehingga

menekan respon imun. Betametason juga menstimulasi sel-sel eritroid dari sumsum tulang; memperpanjang masa hidup eritrosit neutrofilia katabolisme dan dan platelet darah; menghasilkan meningkatkan dan

eosinopenia;

protein,

glukoneogenesis

penyebaran kembali lemak dari perifer ke daerah pusat tubuh. Juga mengurangi absorbsi intestinal dan menambah ekskresi kalsium melalui ginjal.

17

7. CELESTONESchering-Plough

Komposisi Indikasi

: :

Bethametasone Na phosphate. Insufisiensi kortek adrenal akut, pra- op & trauma berat, syok, terapi tambahan pada gangguan reumatik, gangguan penglihatan, gangguan kulit, gangguan pernafasan, keadaan inflamasi & alergik.

Kontra Indikasi Efek Samping

: :

Infeksi jamur sistemik. Gangguan cairan & elektrolit, kelemahan otot, ulkus pepticum, glaukoma, kerusakan syaraf optik.

Mekanisme Kerja

Obat dapat mengurangi aktivitas dan volume limfatik, menghasilkan limpositopenia,

menurunkan konsentrasi imunologi reaktivitas jaringan interaksi antigen-antibodi sehingga

menekan respon imun.

18

BAB III PENUTUP

3.1

Kesimpulan 1. Hormon glukokortikoid adalah hormon yang dihasilkan pada bagian korteks adrenal. Salah satu bentuk hormon glukokortikoid adalah kortison. Dengan adanya rangsangan stress pada hipotalamus akan mengaktifkan

adrenokortikotropin (ACTH) yang akan mensekresikan kortison pada korteks adrenal. Glukokortikoid sangat berperan dalam metabolime karbohidrat terutama dalam proses glukoneogenesis, selain itu juga berperan dalam metabolisme protein, lemak, dan lisosom. 2. Hormon golongan glukokortikoid mengaktivasi konversi protein menjadi glukosa melalui lintasan glukoneogenesis di dalam hati dan menstimulasi konversi lebih lanjut menjadi glikogen. Peningkatan senyawa nitrogen pada urin yang terjadi setelah peningkatan glukokortikoid merupakan akibat dari mobilisasi asam amino dari protein yang mengalami reaksi proteolitik dan adanya senyawa karbon yang terjadi sepanjang lintasan glukoneogenesis. 3. Efek glukokortikoid antara lain : Meningkatkan glukoneogenesis, yaitu pembentukan glukosa dari protein, sehingga beresiko meningkatkan kadar gula darah. Efek katabolik, yaitu mengurai protein sehingga mengurangi

pembentukan protein, termasuk protein yang diperlukan untuk pembentukan tulang. Mempengaruhi metabolisme lemak tubuh dan distribusinya, sehingga menyebabkan pertambahan lemak di bagian-bagian tertentu tubuh, yaitu di wajah (jadi membulat), bahu, dan perut. Mengurangi menghambat proses radang, sehingga merupakan obat pilihan berbagai penyakit peradangan, Menurunkan fungsi jaringan limfa sehingga menyebabkan

berkurangnya dan mengecilnya sel limfosit.

19

DAFTAR PUSTAKA

Guyton, arthur C. 1987. Guyton fisiologi manusia dan mekanisme penyakit.penerbit buku kedokteran ECG MIMS Indonesia Petunjuk Konsultasi. Edisi 10 2010/2011.BIP KELOMPOK GRAMEDIA. Data Obat di Indonesia (DOI). Edisi 11 2008. PT MULIAPURNA JAYATERBIT.

Source : http://id.wikipedia.org/wiki/Glukokortikoid http://www.scribd.com/doc/13461799/kortikosteroid-topikal http://artikelkedokteran.net/news/jenis2golonganhormongluokortikoid.html Http://id.wikipedia.org/wiki/glukokortikoid http://artikelkedokteran.net/news/hormonglukokortikoiddanjenis2obatglukokortikoid.h tml http://artkelkedokteran.net/news/jurnalsistemendokrinhormonglukokortikoid.pdf.html

20